Minggu, 18 Desember 2011

Tuhan Menyediakan Apa yang Tak Pernah Kita Pikirkan


Selasa, 20 Desember 2011
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 2:1-9
"Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Kor 2:9)


Tuhan Menyediakan Apa yang Tak Pernah Kita Pikirkan


Ketika saya pertama kali menulis renungan ini, saya tak menyangka bahwa Tuhan masih memampukan saya menulis hingga saat ini. Ketika saya melihat di blog saya, ternyata tulisan hari ini adalah tulisan ke-100 yang saya tulis. Sungguh saya bersyukur kepada Tuhan, karena saya yang bukan siapa-siapa, tidak pernah belajar theologia, namun Tuhan masih mampukan saya untuk menulis beberapa tulisan sederhana, yang saya harap dapat bermanfaat bagi orang lain yang membacanya. Dalam beberapa masa memang saya sempat ragu, apa bisa saya terus menulis di sela-sela kesibukan lagi, tetapi ternyata Tuhan memang Tuhan yang memperlengkapi, ketika laptop saya rusak, Tuhan memberikan berkatnya kepada saya sehingga saya dapat membeli laptop baru. Ketika saya agak kesulitan untuk meng-upload ke internet, Tuhan pun memberikan berkat sehingga saya dapat membeli modem. Terlebih Tuhan pun masih memberikan hikmat dan kemampuan kepada saya untuk dapat terus menulis renungan ini. Entah sampai kapan, saya sendiri tidak tahu, tetapi saya tahu bahwa selama Tuhan masih mengijinkan saya untuk terus melayaniNya, saya akan tetap menulis renungan ini.

Hal yang hampir sama juga dialami Paulus dan jemaat di kota Korintus. Kota Korintus adalah salah satu kota dimana Paulus cukup lama tinggal, yaitu satu setengah tahun lamanya (Kis 18:11), oleh karena itu jemaat di Korintus menjadi salah satu jemaat kesayangan Paulus, hal tersebut dapat dilihat dari panjangnya surat yang ditujukan kepada jemaat Korintus jika dibandingkan dengan surat-surat Paulus yang lain. Ketika Paulus datang ke Korintus, ia tidak menyampaikan kata-kata yang indah, tetapi menyampaikan Firman hanya berdasar kekuatan Roh Kudus yang memimpin Paulus (ay. 1 & 4). Bahkan dikatakan bahwa Paulus datang ke jemaat Korintus dengan segala kelemahan, ketakutan dan kegentaran (ay. 3).

Walaupun demikian, Paulus tetap menyampaikan Firman Tuhan dan mengajar jemaat di Korintus dengan segala keterbatasannya, dengan harapan jemaat Korintus juga semakin bertumbuh dan mereka pun dapat melihat Paulus yang dalam segala kelemahannya tetapi tetap setia mengerjakan panggilan pelayananannya. Paulus mengharapkan agar iman mereka tidak bergantung kepada hikmat manusia, tetapi bergantung pada kekuatan Allah (ay. 5). Dalam mengabarkan Injil kepada jemaat, Paulus pun memberitakan Injil dengan hikmat Allah, bukan karena kepandaian Paulus.

Dalam segala kelemahan tersebut, ternyata Paulus menyadari bahwa Tuhan selalu menyediakan apa yang diperlukan oleh Paulus dalam melakukan pelayanannya (ay. 9). Paulus menyadari bahwa Tuhan telah memperlengkapi Paulus dan menyiapkan Paulus untuk melayani. Apa yang Tuhan berikan justru adalah hal-hal yang selama ini tidak terpikirkan oleh Paulus. Tuhan memberikan hikmat, Tuhan memberikan perlindungan, dan Tuhan juga memberikan kemampuan kepada Paulus untuk dapat memberitakan Injil.

Jika Tuhan dapat memberikan apa yang tidak pernah dipikirkan oleh Paulus, tentunya Tuhan juga dapat  memberikan hal-hal kepada kita yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Banyak hal yang sebetulnya kita tidak pernah pikirkan, tetapi justru itu yang diberikan Tuhan kepada kita. Banyak hal yang sebenarnya kita tak pernah meminta, tetapi disediakan Tuhan bagi kita. Sama seperti saya yang sama sekali tidak pernah terpikir untuk mampu menulis renungan, tetapi Tuhan mampukan dan tetap berikan hikmat kepada saya untuk tetap menulis. Saya yakin bahwa selama kita memiliki motivasi yang benar di hadapan Tuhan, pasti Tuhan akan memperlengkapi kita dan tetap memberkati kita dengan berkat-berkat yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. Yang penting adalah satu, motivasi kita adalah motivasi yang benar, yaitu untuk mengasihi Tuhan dan memuliakan Tuhan.



Bacaan Alkitab: 1 Korintus 2:1-9
2:1 Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.
2:2 Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
2:3 Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.
2:4 Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,
2:5 supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.
2:6 Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan.
2:7 Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.
2:8 Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.
2:9 Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."

Hidup Sehat ala Daniel


Senin, 19 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Daniel 1:11-17
"Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum;" (Dan 1:12)


Hidup Sehat ala Daniel


Siapa di antara kita yang tidak mau hidup sehat? Tentunya semua di antara kita mau hidup sehat, tidak sakit-sakitan dan berumur panjang. Tetapi jika kita perhatikan, semakin modern peradaban manusia, semakin aneh-aneh penyakit yang diderita oleh manusia. Orang yang tinggal di desa pada umumnya lebih sehat dan berumur lebih panjang daripada orang yang tinggal di kota besar, padahal penghasilan orang di kota pasti jauh lebih besar daripada penghasilan orang yang tinggal di desa. Nampaknya faktor kesehatan sangat dipengaruhi oleh makanan yang kita makan, lingkungan, serta gaya hidup kita.

Alkitab menceritakan bagaimana Daniel dan kawan-kawannya yang dibuang ke Babel mendapat kesempatan untuk menjadi pegawai di kerajaan Babel. Mereka pun harus mengikuti pendidikan yang diadakan di Babel dan makan makanan yang menurut orang Babel adalah makanan yang bergizi. Tetapi Daniel dan kawan-kawan tidak mau memakan makanan tersebut karena mereka tidak mau menajiskan diri mereka dengan makanan Raja. Ada kemungkinan bahwa makanan tersebut telah dipersembahkan kepada dewa-dewa Babel, namun ada juga kemungkinan bahwa Daniel dan kawan-kawan telah bernazar untuk pantang makan daging dan anggur. Daniel pun menantang untuk melakukan percobaan, dimana Daniel dan kawan-kawan hanya memakan sayur dan air, sementara orang lain memakan daging dan anggur.

Setelah percobaan selama sepuluh hari, hasilnya ternyata menakjubkan. Daniel dan kawan-kawan yang hanya makan sayur dan minum air, memiliki perawakan yang lebih baik dan justru mereka menjadi lebih gemuk dari orang lain (ay. 15). Terlebih lagi, Tuhan memberikan pengetahuan dan kepandaian kepada Daniel dan kawan-kawannya (ay. 17).

Memang Tuhan berkata bahwa bagi orang percaya, semua makanan adalah halal, tidak ada makanan yang haram. Tetapi juga dikatakan bahwa walaupun semuanya diperbolehkan, ternyata tidak semuanya berguna (1 Kor 10:23). Termasuk makanan, tentunya ada makanan-makanan yang bergizi, dan ada pula makanan-makanan yang kurang bergizi, bahkan ada makanan yang tidak menyehatkan. Masalahnya, kebanyakan makanan yang enak itu adalah makanan yang tidak sehat. Junk food, jeroan, dan lain sebagainya merupakan contoh makanan-makanan yang tidak menyehatkan walaupun enak di mulut.

Jadi, haruskah kita makan sayur dan hanya minum air saja? Semuanya kembali kepada kita. Sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa memang makan sayur itu menyehatkan. Bahkan jika kita baca di dalam Alkitab, awalnya Tuhan memberikan tumbuhan berbiji dan pohon-pohonan yang buahnya berbiji sebagai makanan manusia (Kej 1:29). Tetapi yang terpenting adalah bagaimana sikap kita ketika kita makan. Ketika kita hidup, kita harus hidup untuk Tuhan, termasuk ketika kita makan, kita pun harus makan untuk Tuhan. Ketika kita sadar bahwa kita hidup untuk Tuhan, tentunya kita tidak akan mau memakan makanan-makanan yang merusak tubuh kita bukan? Jika kita tahu bahwa kita menderita darah tinggi, kita pun harus menghindari makanan yang berlemak dan berkolesterol tinggi. Jika kita memiliki gejala diabetes misalnya, kita pun harus mengurangi makanan yang manis. Semua itu kita lakukan karena kita ingin hidup kita berguna bagi Tuhan. Bagaimana kita bisa mengatakan “hidupku bagi Tuhan” ketika kita saja sakit-sakitan karena kita makan sembarangan? Muliakanlah Tuhan dengan tubuh kita (1 Kor 6:20).


Bacaan Alkitab: Daniel 1:11-17
1:11 Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya:
1:12 "Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum;
1:13 sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu."
1:14 Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari.
1:15 Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.
1:16 Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka.
1:17 Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.


Yesus pun Membayar Bea Bait Allah


Minggu, 18 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Mat 17:24-27
"Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga." (Mat 17:27)


Yesus pun Membayar Bea Bait Allah


Dalam ibadah raya pada hari Minggu, biasanya Gereja memberikan semacam tabloid kecil yang berisi informasi-informasi tentang jadwal ibadah Gereja, termasuk beberapa tulisan renungan atau khotbah yang ditulis agar dapat dibaca jemaat. Di kebanyakan Gereja, memang tabloid tersebut gratis dan dibagikan kepada jemaat-jemaat. Tetapi di beberapa Gereja, ada yang “menjual” tabloid semacam itu, karena memang tabloid yang diterbitkan adalah tabloid yang tebal, hampir mirip seperti koran dengan gambar yang full color. Saya pernah datang ke Gereja dimana dalam tabloid tersebut tertulis harganya adalah Rp1.500,- per eksemplarnya. Saya rasa ini adalah harga yang wajar mengingat tabloidnya terdiri dari sekitar 16 halaman dan full colour. Tetapi saya perhatikan, ada saja jemaat yang langsung mengambil tanpa membayar, padahal sudah disediakan kotak untuk menaruh uang di samping tempat tabloid tersebut diletakkan.

Saya berpikir, kenapa ya kok ada jemaat yang bersikap seperti itu? Toh menurut saya, isi dari tabloid tersebut juga cukup berbobot dengan renungan-renungan yang ditulis oleh hamba-hamba Tuhan yang terkenal. Saya yakin harga yang dicantumkan sebenarnya bertujuan untuk membantu meringankan ongkos cetak saja, tidak untuk mencari keuntungan. Tetapi cukup banyak jemaat yang tidak mau mengganti biaya cetak tersebut, padahal saya yakin sekali mereka bukan jemaat-jemaat yang kekurangan, malah mungkin ada beberapa yang datang ke Gereja dengan mengendarai mobil pribadi.

Saya menceritakan hal ini bukan untuk menghakimi mereka dan berkata bahwa saya lebih baik daripada mereka, tetapi saya ingin membandingkan dengan sikap Tuhan Yesus saat ia akan masuk ke Bait Allah bersama Petrus, tetapi petugas yang menjaga Bait Allah meminta agar Tuhan Yesus membayar bea Bait Allah. Besarnya bea yang harus dibayar adalah dua dirham per orang (ay. 24). Dalam kamus Alkitab yang berada di bagian belakang Alkitab, dikatakan bahwa dirham adalah mata uang Yunani yang nilainya hampir sama dengan satu dinar, atau upah seorang pekerja dalam satu hari. Dengan demikian, Yesus dan Petrus harus membayar bea Bait Allah sebear empat dirham.

Entah dari mana peraturan tersebut mulai berlaku dan ditetapkan, tetapi yang jelas pada saat itu Yesus meminta Petrus untuk memancing dan mengambil uang dari mulut ikan yang pertama kali dipancing oleh Petrus untuk membayar bea Bait Allah itu (ay. 27). Walaupun Yesus adalah Anak Allah, dan Ia pun pernah menyucikan Bait Allah dari para pedagang-pedagang (Yoh 2:13-17), tetapi akhirnya Yesus pun memutuskan untuk membayar bea tersebut.

Apa yang kita pelajari di sini adalah bahwa Tuhan Yesus pun mau taat terhadap peraturan-peraturan yang ditetapkan di Bait Allah, termasuk membayar apa yang menjadi kewajibannya. Tuhan Yesus melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan, tetapi karena Tuhan Yesus tidak ingin menjadi batu sandungan (ay. 27a). Tuhan Yesus ingin agar kehidupanNya pun tidak menjadi batu sandungan terutama bagi orang-orang yang imannya tidak kuat.

Bagaimana dengan kita? Saya tidak tahu bagaimana sistem di Gereja anda. Mungkin saja Gereja anda sedang mengumpulkan dana untuk acara Natal, sehingga setiap jemaat diminta kontribusinya untuk membantu dana Natal. Atau mungkin ada semacam iuran bulanan untuk dana sosial di Gereja anda. Walaupun mungkin kita sendiri tidak pernah memanfaatkan dana sosial tersebut, tak ada salahnya kita pun ikut membayar iuran tersebut. Mari kita belajar dari Tuhan Yesus yang tetap mau membayar bea Bait Allah, walaupun Ia adalah Anak Allah itu sendiri. Mari kita belajar untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, tetapi kita mau melalui tindakan kita, orang lain dapat memuliakan Tuhan. Marilah kita menjadi teladan bagi orang lain, melalui perkataan dan tindakan kita, dalam hal-hal yang kecil terlebih dahulu, dan juga dalam hal-hal yang besar kemudian (1 Tim 4:12).


Bacaan Alkitab: Mat 17:24-27
17:24 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?"
17:25 Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?"
17:26 Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya.
17:27 Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga."

Gehazi, Hamba Nabi Elisa yang Tamak


Sabtu, 17 Desember 2011
Bacaan Alkitab: 2 Raja-Raja 5:19-27
"Berpikirlah Gehazi, bujang Elisa, abdi Allah: "Sesungguhnya tuanku terlalu menyegani Naaman, orang Aram ini, dengan tidak menerima persembahan yang dibawanya. Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya aku akan berlari mengejar dia dan akan menerima sesuatu dari padanya."" (2 Raj 5:20)


Gehazi, Hamba Nabi Elisa yang Tamak


Gehazi adalah bujang/hamba yang mengikuti Nabi Elisa. Nama Gehazi mulai disebut di Alkitab ketika Elisa bertemu dengan perempuan Sunem (2 Raj 4:12). Sejak itu nama Gehazi cukup sering disebut dalam Alkitab. Gehazi pun menyaksikan dengat mata kepala sendiri bagaimana Elisa membuat mujizat-mujizat yaitu membangkitkan anak perempuan Sunem yang telah mati tersebut, dan juga bagaimana Elisa memberi makan 100 orang. Terakhir, Gehazi meihat bagaimana Naaman datang kepada Elisa dan disembuhkan dari penyakit kustanya dengan berendam di sungai Yordan sebanyak tujuh kali. Setelah sembuh, Naaman pun datang kepada Elisa untuk memberi sesuatu kepada Elisa. Namun Elisa sama sekali  tidak mau menerima pemberian Naaman, hingga akhirnya Naaman pun pergi kembali ke bangsanya.

Namun Gehazi ternyata kurang suka dengan sikap Elisa. Gehazi merasa bahwa seharusnya Elisa mau menerima pemberian Naaman. Gehazi berpikir bahwa tidak apa-apa menerima sesuatu dari Naaman, toh karena Elisa maka Naaman akhirnya disembuhkan dari penyakit kustanya. Akhirnya Gehazi mengejar Naaman dari belakang dan berbohong serta mengatakan bahwa ada dua orang nabi yang datang, sehingga Elisa meminta emas dan pakaian untuk mereka (ay. 22). Naaman tentu saja dengan senang hati memberikan emas dan pakaian tersebut kepada Gehazi.

Gehazi pun akhirnya pulang ke rumah dimana Elisa tinggal. Gehazi berpikir bahwa apa yang ia lakukan tidak apa-apa  Ia pun berpikir bahwa Elisa tidak akan tahu apa yang ia lakukan. Tetapi ternyata salah, ketika Elisa bertanya, "Dari mana, Gehazi?" dan Gehazi menjawab bahwa ia tidak pergi ke mana-mana, Elisa kemudian berkata bahwa ia tahu apa yang Gehazi lakukan. Elisa tidak meminta Gehazi untuk mengembalikan emas yang telah ia terima dari Naaman, tetapi sebagai konsekuensi tindakannya, akhirnya penyakit kusta Naaman pun pindah ke Gehazi, bahkan hingga ke anak cucunya (ay. 27).

Apa yang dapat kita pelajari dari Firman Tuhan hari ini? Sebenarnya tidak salah bagi Elisa untuk menerima pemberian dari Naaman. Firman Tuhan di bagian yang lain pun berkata bahwa suku Lewi sebagai suku yang dikuduskan untuk melayani Tuhan mendapat bagian dari persembahan perpuluhan yang dibawa 11 suku bangsa Israel lainnya (Bil 18:21). Dalam Perjanjian Baru pun Paulus mengatakan bahwa “seorang pekerja patut mendapat upahnya” (1 Tim 5:18). Memang uang dan harta benda duniawi juga penting bagi para pelayan Tuhan, tetapi bukan itu hal yang terpenting. Yang lebih penting lagi adalah sikap kita dalam melayani Tuhan.

Gehazi dihukum Tuhan karena hanya karena harta duniawi ia berdusta kepada Naaman, bahkan sampai membawa-bawa nama Elisa untuk meminta harta dari Naaman, padahal saya sangat yakin bahwa Tuhan pasti juga memberkati Gehazi jika ia tetap jujur dan takut akan Tuhan. Demikian juga dengan kita, tentunya harus lebih takut akan Tuhan. Mungkin di antara kita ada yang telah mengambil bagian dalam pelayanan Tuhan di Gereja kita masing-masing. Tidak salah jika kita menerima uang atau harta dari pelayanan yang kita lakukan, tetapi alangkah baiknya kita tidak hanya terjebak dengan harta duniawi saja, tetapi kita harus melayani Tuhan karena kita mengasihi Tuhan. Jangan kita menjadi seperti Gehazi, tetapi kita harus menjadi seperti Elisa, yang melayani tanpa memasang tarif, yang melayani tanpa membeda-bedakan siapa orang yang kita layani.


Bacaan Alkitab: 2 Raja-Raja 5:19-27
5:19 Maka berkatalah Elisa kepadanya: "Pergilah dengan selamat!" Setelah Naaman berjalan tidak berapa jauh dari padanya,
5:20 berpikirlah Gehazi, bujang Elisa, abdi Allah: "Sesungguhnya tuanku terlalu menyegani Naaman, orang Aram ini, dengan tidak menerima persembahan yang dibawanya. Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya aku akan berlari mengejar dia dan akan menerima sesuatu dari padanya."
5:21 Lalu Gehazi mengejar Naaman dari belakang. Ketika Naaman melihat ada orang berlari-lari mengejarnya, turunlah ia dengan segera dari atas kereta untuk mendapatkan dia dan berkata: "Selamat!"
5:22 Jawabnya: "Selamat! Tuanku Elisa menyuruh aku mengatakan: Baru saja datang kepadaku dua orang muda dari pegunungan Efraim dari antara rombongan nabi. Baiklah berikan kepada mereka setalenta perak dan dua potong pakaian."
5:23 Naaman berkata: "Silakan, ambillah dua talenta." Naaman mendesak dia, dan membungkus dua talenta perak dalam dua pundi-pundi dan dua potong pakaian, lalu memberikannya kepada dua bujangnya; mereka ini mengangkut semuanya di depan Gehazi.
5:24 Setelah mereka sampai ke bukit, disambutnyalah dari tangan mereka, disimpannya di rumah, dan disuruhnya kedua orang itu pergi, maka pergilah mereka.
5:25 Baru saja Gehazi masuk dan tampil ke depan tuannya, berkatalah Elisa kepadanya: "Dari mana, Gehazi?" Jawabnya: "Hambamu ini tidak pergi ke mana-mana!"
5:26 Tetapi kata Elisa kepadanya: "Bukankah hatiku ikut pergi, ketika orang itu turun dari atas keretanya mendapatkan engkau? Maka sekarang, engkau telah menerima perak dan dengan itu dapat memperoleh kebun-kebun, kebun zaitun, kebun anggur, kambing domba, lembu sapi, budak laki-laki dan budak perempuan,
5:27 tetapi penyakit kusta Naaman akan melekat kepadamu dan kepada anak cucumu untuk selama-lamanya." Maka keluarlah Gehazi dari depannya dengan kena kusta, putih seperti salju.


Yunus, Orang yang Membawa Pertobatan bagi Bangsa Lain


Jumat, 16 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Yunus 1:1-16
" Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar." (Yun 1:16)


Yunus, Orang yang Membawa Pertobatan bagi Bangsa Lain


Siapa di antara kita yang belum pernah mendengar tentang kisah Yunus? Minimal kita pasti pernah mendengar kisah Yunus ketika masih di sekolah minggu. Yunus adalah seorang yang dipanggil Allah untuk berseru kepada kota Niniwe (ay. 2). Tetapi Yunus justru melarikan diri dan pergi ke Tarsis dengan menggunakan kapal (ay. 3). Tetapi Tuhan menurunkan angin badai sehingga kapal tersebut terombang-ambing, dan orang-orang di kapal mencoba membuang undi untuk mengetahui siapakah penyebab badai ini, dan ternyata Yunuslah orang yang kena undian tersebut (ay. 7).

Walaupun demikian, orang-orang di kapal tersebut tidak langsung menghukum Yunus, tetapi mereka mencoba untuk mencari tahu siapa Yunus dan apa yang dilakukannya sehingga Tuhan murka dan menurunkan badai kepada mereka (ay. 8-10). Mengetahui bahwa Yunus melarikan diri dari hadapan Tuhan, mereka pun bertanya apa yang harus mereka lakukan terhadap Yunus. Entah mengapa Yunus pun saat itu  menjadi sadar dan meminta agar dirinya dilemparkan ke laut sehingga badai akan berhenti dan orang-orang di kapal menjadi selamat (ay. 12). Sadar atau tidak, saat itu Tuhan mulai membentuk Yunus menjadi orang yang peduli dengan orang lain. Ketika awalnya Yunus tidak mau mengikuti panggilan Tuhan, saat ini, melalui badai yang menghantam kapalnya, Yunus pun mulai menjadi peduli dengan orang lain.

Walaupun setelah itu orang-orang di kapal masih mencoba untuk mendayung demi menyelamatkan Yunus, tetapi mereka pun tak kuasa untuk melawan kekuatan Tuhan, sehingga mereka pun berkata, “Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki.” (ay. 14), dan mereka pun akhirnya melempar Yunus ke laut. Ajaibnya, begitu Yunus dilempar ke laut, badai pun langsung berhenti (ay. 15)

Apa yang terjadi selanjutnya, orang-orang di kapal itu pun menjadi sangat takut kepada Tuhan, mereka pun akhirnya mempersembahkan korban kepada Tuhan dan bahkan mengikrarkan nazar. Saya membayangkan orang-orang di kapal ini adalah orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Sangat mungkin mereka adalah orang-orang yang masih percaya kepada dewa-dewa mereka. Hal ini terlihat ketika Yunus memperkenalkan diri sebagai orang Ibrani (ay. 9). Jika orang-orang di kapal adalah juga orang Israel, mungkin Yunus akan mengenalkan sukunya kepada mereka.

Dalam bacaan ini terlihat bagaimana Yunus memang dipanggil Tuhan untuk memberitakan kabar tentang Tuhan kepada bangsa-bangsa lain. Bagaimana tidak, di kapal pun, walaupun ia harus dilempar ke laut, keberadaan Yunus telah membuat orang-orang di kapal menjadi percaya kepada Tuhan, bahkan dikatakan mereka pun sampai bernazar kepada Tuhan. Mungkin bagi Yunus itu adalah kebetulan, tetapi bagi Tuhan tidak ada sesuatu hal yang bersifat kebetulan. Tuhan sanggup mengubah hal yang tidak baik menjadi baik.

Mungkin kita pun seringkali bersikap seperti Yunus, ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani Tuhan, kita seringkali menghindar dengan alasan ini dan itu. Tetapi bahkan ketika kita tidak mau, Tuhan sanggup membuat keberadaan kita menjadi berkat bagi orang lain. Walaupun demikian, bukankah lebih baik kita memilih untuk tunduk dan taat akan panggilan Tuhan? Jika Tuhan memanggil kita, tentunya Tuhan pasti memperlengkapi kita agar kita menjadi berkat bagi orang lain.


Bacaan Alkitab: Yunus 1:1-16
1:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian:
1:2 "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."
1:3 Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.
1:4 Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.
1:5 Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak.
1:6 Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: "Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa."
1:7 Lalu berkatalah mereka satu sama lain: "Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini." Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi.
1:8 Berkatalah mereka kepadanya: "Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?"
1:9 Sahutnya kepada mereka: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan."
1:10 Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: "Apa yang telah kauperbuat?" -- sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka.
1:11 Bertanyalah mereka: "Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora."
1:12 Sahutnya kepada mereka: "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu."
1:13 Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka.
1:14 Lalu berserulah mereka kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki."
1:15 Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk.
1:16 Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar.

Menghormati Orang yang Diurapi Tuhan


Kamis, 15 Desember 2011
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 24:1-8
"Lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: "Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN."" (1 Sam 24:7)


Menghormati Orang yang Diurapi Tuhan


Bacaan kita pada hari ini berkata tentang Daud yang terpaksa pergi dan mengungsi karena dikejar-kejar oleh Saul. Saul ingin membunuh Daud karena ia iri kepada Daud (1 Sam 18:6-9). Akibatnya Daud pun harus berpindah-pindah tempat demi bersembunyi dari kejaran Saul. Suatu saat, Daud dan orang-orang yang bersamanya pindah ke gurun En-Gedi (ay. 1). Ketika Saul mendengar tentang hal tersebut, Saul pun mencoba mengejar Daud dengan 3.000 orang pasukan yang terpilih. Saul dan pasukan yang dibawanya memburu Daud hingga ke gunung-gunung batu yang ada di situ. Hingga suatu saat Saul pun masuk ke gua untuk membuang hajat, padahal Saul tidak tahu bahwa di dalam gua tersebut ada Daud dan orang-orangnya yang bersembunyi di situ (ay. 4).

Cukup aneh memang, mengapa Saul dan pasukannya tidak mencari Daud di dalam gua itu. Dan cukup aneh pula mengapa Saul sampai harus membuang hajat di dalam gua itu sendirian. Tapi memang Tuhan mampu membuat segala sesuatu yang nampak tidak mungkin menjadi mungkin. Bagi Daud, sebenarnya ini adalah kesempatan emas untuk membunuh Saul. Sangat mudah bagi Daud untuk membunuh Saul yang sedang sendirian di gua tersebut. Bahkan beberapa orang yang ada dalam kelompok Daud menyarankan agar Daud membunuh Saul selagi bisa, mereka pun mengatakan bahwa ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada Daud (ay. 5). Apa yang Daud lakukan? Daud tidak mendengarkan apa omongan orang-orangNya. Ia pun hanya memotong punca jubah Saul secara diam-diam. Dengan melakukan ini saja, Daud sudah sangat berdebar-debar hatinya (ay. 6).

Daud sangat menghormati Saul, dan ia pun sangat menghormati Tuhan. Daud tidak ingin membunuh orang yang telah diurapi Tuhan. Saul adalah raja bangsa Israel yang telah diurapi oleh Samuel (1 Sam 10:1). Walaupun Daud sendiri pun telah diurapi oleh Samuel untuk menjadi raja menggantikan Saul (1 Sam 16:13), tetapi Daud tidak bertindak mendahului waktu Tuhan. Memang suatu saat nanti Daud pasti akan menggantikan Saul menjadi raja atas bangsa Israel, tetapi Daud tahu bahwa ia tidak boleh menjamah orang yang telah diurapi Tuhan (ay. 7). Daud bahkan melarang orang-orangnya untuk bangkit dan melawan Saul (ay. 8).

Bagaimana dengan kita? Jujur, belakangan saya merasa bahwa ada penurunan moral yang terjadi di negara kita. Zaman dahulu, kita sangat menghormati orang-orang yang lebih tua, terutama orang-orang yang telah berjasa kepada kita, seperti kedua orang tua kita, guru di sekolah, dan juga pimpinan kita di kantor. Selama ini bangsa Indonesia pun terkenal dengan sikap sopan santun dan menghargai orang lain. Tapi belakangan sepertinya sikap tersebut semakin memudar. Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar berita bagaimana siswa menjelek-jelekkan gurunya melalui status Facebooknya. Malahan ada saya juga pernah membaca ada remaja ABG yang juga melakukan hal yang lebih parah, yaitu (maaf) mengumpat kedua orang tuanya di status Facebooknya hanya karena ia tidak dibelikan sesuatu yang ia inginkan.

Saya berharap sikap ini tidak tertular di Gereja atau lingkungan persekutuan. Bagaimanapun juga, kita harus menghormati orang-orang yang telah diurapi Tuhan, termasuk para Gembala Sidang, Pendeta, Pengerja, hamba-hamba Tuhan, dan juga sesama jemaat. Kita harus menghargai apa yang mereka lakukan, bagaimanapun mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang telah terpanggil untuk melayani Jemaat Tuhan. Sebagai manusia, kadang mereka pun tidak sempurna, dan mungkin mereka juga melakukan kesalahan. Tetapi tugas kita adalah tetap menghormati mereka. Andaipun mereka telah benar-benar menyimpang dari jalan Tuhan, mungkin apa yang kita lakukan hanyalah menyerahkannya kepada Tuhan, biar Tuhan saja yang membalas, dan bukan kita. Biarlah kita memiliki hati yang bersih di hadapan Tuhan, yang tidak menjamah orang-orang yang telah diurapi Tuhan.


Bacaan Alkitab: 1 Samuel 24:1-8
24:1 Daud pergi dari sana, lalu tinggal di kubu-kubu gunung di En-Gedi.
24:2 Ketika Saul pulang sesudah memburu orang Filistin itu, diberitahukanlah kepadanya, demikian: "Ketahuilah, Daud ada di padang gurun En-Gedi."
24:3 Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan.
24:4 Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu.
24:5 Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: "Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam.
24:6 Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul;
24:7 lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: "Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN."
24:8 Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. Sementara itu Saul telah bangun meninggalkan gua itu hendak melanjutkan perjalanannya.

Jangan Takut, Sebab Tuhan Menyertai Kita


Rabu, 14 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Yesaya 41:8-10
"Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yes 41:10)


Jangan Takut, Sebab Tuhan Menyertai Kita


Ayat 10 dari Yesaya pasal 41 ini adalah salah satu ayat yang paling berkesan dalam kehidupan saya. Saya ingat ketika saya akan menghadapi sidang skripsi di kampus beberapa tahun yang lalu, pacar saya (yang saat ini telah menjadi isteri saya) mengirimkan sms yang berisi ayat ini. Saya awalnya cukup tegang menghadapi sidang skripsi ini mengingat skripsi saya membutuhkan waktu dua semester untuk disusun, dan itulah salah satu penyebab saya lulus 4,5 tahun dibandingkan teman-teman saya yang lulus 3,5 hingga 4 tahun. Saya pun mengamini ayat tersebut, dan akhirnya saya lulus dengan nilai yang memuaskan.

Apa yang dapat kita pelajari dari bacaan kita pada hari ini adalah apa yang Tuhan janjikan kepada orang-orang pilihan Tuhan. Ayat ini sebenarnya merupakan Firman Tuhan yang disampaikan melalui nabi Yesaya kepada bangsa Israel, bangsa pilihan Tuhan. Tuhanlah yang telah memilih bangsa Israel dari segala bangsa lainnya di muka bumi ini (ay. 8). Prinsip Tuhan adalah sekali Tuhan telah memilih orang-orang pilihanNya, Tuhan tidak akan pernah menolak kita (ay. 9). Memang bangsa Israel pun pernah menolak Tuhan hingga akhirnya dibuang ke Babel, tetapi Tuhan selalu mengingat bangsa Isreal, dan hingga kini bangsa Israel pun tetap menjadi bangsa pilihan Tuhan. Demikian kita pun yang percaya kepada Tuhan adalah orang-orang pilihan Tuhan (Rm 8:29-30).

Ketika kita menjadi orang-orang pilihan Tuhan, maka Tuhan memberikan janjiNya untuk selalu menyertai kita. Dalam ayat 10, ada beberapa prinsip yang dapat kita pelajari dari Firman Tuhan tersebut:

Pertama, kita tidak boleh takut. Banyak ayat di Alkitab yang menyebutkan Tuhan berkata, “Jangan takut” kepada manusia, kepada Gideon (Hak 6:23), kepada murid-murid Tuhan Yesus (Mat 14:27), kepada Maria, ibu Yesus (Luk 1:30), dan juga kepada gembala-gembala di padang saat kelahiran Tuhan Yesus (Luk 2:10). Apa yang membuat kita tidak takut adalah karena Tuhan menyertai kita. Jika Tuhan menyertai kita dan ada di pihak kita, siapakah yang dapat melawan kita? (Rm 8:31).

Kedua, kita tidak boleh bimbang. Kita tidak boleh menjadi bimbang karena Tuhan itu adalah Allah yang berkuasa atas apapun. Untuk apakah kita menjadi bimbang? Ketika kita berseru kepada Tuhan, jangan sampai kita merasa bimbang, karena orang bimbang adalah orang yang diombang-ambingkan, sama seperti gelombang laut yang diombang-ambingkan oleh angin (Yak 1:6).

Ketiga, Tuhan akan meneguhkan dan menolong kita. Dalam kondisi apapun dan dalam keadaan seburuk apapun, Tuhan berjanji akan meneguhkan dan menolong kita. Tuhan akan meneguhkan kita sehingga sekalipun kita jatuh, kita tidak akan sampai tergeletak (Mzm 37:23-24). Tuhan pun akan memberikan pertolongan kepada kita tepat pada waktunya.

Keempat, Tuhan akan memegang kita dan membawa kemenangan. Sesulit apapun kehidupan kita, pada akhirnya Tuhan telah menjanjikan kemenangan kepada kita. Kemenangan yang terutama adalah kemenangan atas dosa dan kemenangan atas kematian kekal. Barangsiapa yang telah percaya kepada Tuhan telah menang atas dosa dan menang atas maut (1 Kor 15:54-57).

Luar biasa janji Tuhan kepada kita, orang-orang pilihanNya. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, saya sangat yakin bahwa Tuhan sangat mengasihi kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang setia dengan perjanjianNya kepada kita. Tidak akan pernah Tuhan meninggalkan kita begitu saja, tetapi kebanyakan malah kita yang meninggalkan Tuhan. Oleh karena itu, ketika kita menghadapi keadaan yang sukar, ingatlah janji Tuhan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Marilah kita berdiri teguh, tidak takut dan bimbang, tetapi percaya kepada Tuhan dan Ia akan memberikan kemenangan kepada kita.


Bacaan Alkitab: Yesaya 41:8-10
41:8 Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi;
41:9 engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: "Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau";
41:10 janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.