Senin, 23 Januari 2012

Penjagaan Tuhan


Sabtu, 21 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Mazmur 121:1-8
TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.” (Mzm 121:5)


Penjagaan Tuhan


Saat ini banyak orang, terutama orang-orang kaya mengandalkan keamanan pada CCTV dan Satpam. Tidak salah memang mengingat kejahatan di Indonesia, terutama di Jakarta cukup tinggi. Akan tetapi banyak orang yang melupakan bahwa ada satu penjaga yang luar biasa, yang tidak hanya menjaga kita dari ancaman-ancaman yang bersifat duniawi, tetapi juga dari ancaman-ancaman spiritual dan rohani.

Sekitar tiga ribu tahun yang lalu, penulis Mazmur 121 menggubah nyanyian ziarah yang cukup terkenal. Barangkali penulis mazmur tersebut sedang menempuh perjalanan ziarah menuju Yerusalem dan di sepanjang perjalanan ia menyadari bahwa ketika sedang menempuh perjalanan tersebut, dirinya sangat rentan terhadap ancaman perampok, dan lain sebagainya. Sangat mungkin ketika pemazmur melihat barisan gunung-gunung, ia mencari-cari apakah akan ada orang-orang yang muncul dari balik gunung tersebut yang menolongnya ketika ia diserang perampok (ay. 2)? Ternyata dalam perenungannya, pemazmur ini kemudian menyadari bahwa bukan dari gunung-gunung tersebut pertolongan akan datang, tetapi justru dari Tuhan yang menciptakan gunung-gunung tersebut, dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya, termasuk yang menciptakan dirinya sendiri  (ay. 2).

Pemazmur menyadari bahwa Tuhan adalah penolong dan penjaga yang paling hebat. Tuhan bukan seperti CCTV yang hanya dapat melihat ketika kita dalam bahaya tetapi tidak dapat berbuat apa-apa, Tuhan bukan seperti satpam yang tidak mampu melawan perampok yang bersenjata dan berjumlah lebih banyak, Tuhan pun bukan seperti alarm yang hanya memberikan peringatan tapi tidak dapat memberikan pertolongan. Dalam Mazmur 121 ini kita dapat melihat beberapa hal yang hanya dapat dilakukan Tuhan sebagai penjaga hidup kita.

Pertama, Tuhan tidak akan membiarkan kaki kita goyah (ay. 3a). Dalam ayat lain, Alkitab mengatakan bahwa “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya, dan apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya” (Mzm 37:23-24). Artinya bahwa Tuhan adalah penjaga yang bertindak preventif, bukan korektif. Penjagaan Tuhan dimulai dengan memegang tangan kita dengan tangan kananNya (ay. 5), sehingga dalam melangkah pun kita tidak akan goyah.

Kedua, Tuhan tidak pernah terlelap dan tertidur dalam menjaga kita (ay. 3b & 4). Tuhan tidak seperti Satpam atau anjing penjaga yang membutuhkan istirahat ketika bertugas menjaga. Tuhan menjaga kita setiap saat, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, dan 365 hari setahun. Tuhan menjaga kita non-stop dalam kondisi apapun. Apakah matahari sedang bersinar terik atau malam sedang sangat dingin (ay. 6), Tuhan akan selalu setia menjaga kita.

Ketiga, Tuhan tidak hanya menjaga hal-hal duniawi yang kita miliki, ia juga akan menjaga nyawa kita (ay. 7). Hal ini berkaitan dengan keselamatan yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang percaya kepada Yesus. Tuhan tidak akan menjaga kita dari segala kecelakaan, tetapi Tuhan akan melindungi kita, bahkan melindungi nyawa kita. Bukankah nyawa kita jauh lebih berharga daripada segala kekayaan yang kita miliki?

Keempat, Tuhan akan menjaga kita selama-lamanya (ay. 8). Penjagaan Tuhan tidak hanya terbatas pada saat kita hidup di dunia ini, tetapi juga bersifat kekal. Tuhan akan menjaga kita ketika kita masuk, dan juga ketika kita keluar, ketika kita bangun dan ketika kita tidur, ketika kita hidup dan juga nanti ketika kita telah mati. Tuhan kita adalah Allah yang kekal, yang akan senantiasa menyertai kita sampai selama-lamanya.

Bukankah luar biasa penjagaan Tuhan bagi orang-orang yang percaya kepadaNya? Penjagaan tersebut merupakan fasilitas yang diberikan kepada orang-orang yang percaya dan berserah kepada Tuhan. Elisa pernah dilindungi pasukan malaikat Tuhan yang berbentuk seperti kuda dan kereta berapi yang menjaga Elisa (2 Raj 6:17). Tuhan mengirim malaikat Tuhan ketika Daniel dimasukkan ke dalam gua singa untuk mengatupkan mulut singa-singa tersebut (Dan 6:23). Saya pun sangat percaya bahwa perlindungan dan penjagaan Tuhan atas anak-anakNya masih berlaku sampai dengan saat ini. Permasalahannya adalah, apakah kita telah menjadikan Tuhan penjaga hidup kita? Marilah saat ini kita menyerahkan seluruh hidup kita ke tangan Tuhan yang menjaga kita. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita (Rm 8:31)?


Bacaan Alkitab: Mazmur 121:1-8
121:1 Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?
121:2 Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
121:3 Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.
121:4 Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.
121:5 TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.
121:6 Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.
121:7 TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.
121:8 TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.




Jumat, 20 Januari 2012

Batas Umur


Jumat, 20 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Mazmur 39:5-6
Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!” (Mzm 39:5)


Batas Umur


Pernahkah kita menempuh perjalanan jauh antar kota atau mungkin antar propinsi dengan mengendari kendaraan pribadi, entah mobil atau sepeda motor? Apa yang kita harapkan di sepanjang perjalanan? Mungkin kita mengharapkan akan melihat pemandangan yang indah di sepanjang jalan. Mungkin juga kita berharap akan menemukan tempat makan yang enak di sepanjang jalan sehingga kita bisa menikmati wisata kuliner sepanjang perjalanan. Tetapi menurut saya apa yang paling orang harapkan ketika menempuh perjalanan itu adalah agar perjalanan kita akan lancar sehingga kita cepat sampai di tempat tujuan. Misalkan saja ada orang yang menempuh perjalanan darat dari Jakarta ke Surabaya, pasti akan semakin senang ketika ia telah sampai di daerah Cirebon, kemudian memasuki daerah Semarang, dan seterusnya hingga tiba di tujuannya di kota Surabaya.

Demikian juga dalam perjalanan hidup kita. Jika kita memiliki tujuan hidup yang jelas, pasti kita akan sangat ingin mengetahui kapan perjalanan hidup kita akan berakhir. Sedangkan untuk orang-orang yang belum memiliki tujuan hidup yang jelas, mereka akan ketakutan menjelang perjalanan hidup mereka berakhir. Oleh karena itu kita dapat melihat bahwa dalam prinsip orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, mereka akan melakukan apapun agar mereka dapat selalu sehat, dapat terlihat awet muda dan sebagainya.

Daud dalam Mazmur yang ditulisnya berkata kepada Tuhan untuk memberitahukan kepada dirinya tentang kapan ajalnya akan tiba (ay. 5a). Daud meminta Tuhan menunjukkan batas umurnya kepada dirinya. Apa tujuannya? Bukan karena Daud ingin hidup bersenang-senang dan berfoya-foya selagi ajalnya masih jauh lalu kemudian bertobat ketika sudah dekat dengan batas umurnya, tetapi karena Daud ingin selalu menyadari bahwa hidup manusia ini adalah fana, dan oleh karena itu dalam kehidupan kita perlu melakukan sesuatu yang berkenan di hadapan Allah (ay. 5b). Yakobus pun berkata bahwa hidup manusia itu hanyalah seperti uap yang hanya sebentar kelihatan dan sesudah itu lenyap (Yak 4:14).

Hidup manusia pada umumnya hanyalah sekitar 70 sampai dengan 80 tahun saja (Mzm 90:10), tentunya masa 70 atau 80 tahun itu adalah waktu yang sangat singkat jika dibandingkan dengan kekekalan yang akan kita alami setelah kita meninggal dunia. Oleh karena itu sangat disayangkan jika masih ada orang yang hanya berpikir bahwa hidup itu hanya ada di dunia saja. Mereka mempersiapkan diri untuk dapat menikmati hidup yang sementara ini tetapi lupa untuk mempersiapkan diri untuk hidup kekal nantinya. Mereka berfoya-foya, berbuat dosa ini dan itu, dan tidak sadar bahwa hal tersebut tidak akan ada gunanya dalam hidup kekal. Semua itu membuat hidup mereka menjadi sia-sia (ay. 6b).

Sadarkah kita bahwa hidup kita hanya sebentar? Bahkan mungkin hanya beberapa telempap (ukuran dengan menggunakan telapak tangan) saja usia kita di hadapan Tuhan (ay. 6a). Sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk hidup dalam kekekalan? Maukah kita membayar harga dan mempersiapkan diri kita, bukan hanya untuk kehidupan di dunia ini, tetapi juga untuk kehidupan kekal setelahnya? Sudah bukan saatnya untuk kita masih main-main dalam mengiring Tuhan, tetapi inilah saatnya untuk kita serius dan berani membayar harga untuk mengiring Tuhan dan mengumpulkan harta di surga (Mat 6:20).


Bacaan Alkitab: Mazmur 39:5-6
39:5 "Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
39:6 Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! S e l a

Kamis, 19 Januari 2012

Menjauhi Takhayul


Kamis, 19 Januari 2012
Bacaan Alkitab: 1 Timotius 4:1-7
Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.” (1 Tim 4:7)


Menjauhi Takhayul


Ketika isteri saya sedang hamil, saya menemukan bahwa banyak sekali nasehat-nasehat yang diberikan orang lain, baik termasuk dalam keluarga maupun di luar keluarga, kepada kami berdua. Ada beberapa nasehat yang alkitabiah, ada juga nasehat-nasehat yang walaupun tidak alktiabiah tetapi masuk akal, dan ada juga sejumlah nasehat-nasehat yang menurut saya aneh. Keanehan ini mungkin sebenarnya masih bisa dijelaskan dengan akal sehat, tetapi bagi saya yang sering menggunakan logika, terkadang saya pun harus merenung terlebih dahulu tentang maksud dari nasehat-nasehat tersebut.

Ada salah satu anggota keluarga besar saya yang berkata jika nanti anak saya lahir, jangan sampai ditaruh di dalam boks bayi. Saya berpikir bahwa mungkin alasannya adalah agar anak atau bayi tersebut bisa lebih dekat dengan kedua orang tuanya. Tetapi ternyata ketika saya tanyakan ke orang tersebut, alasan utamanya adalah agar saya dan isteri saya tidak cepat-cepat membuat adik bagi anak saya tersebut. Saya sampai heran mendengarnya, apalagi hal tersebut disampaikan oleh anggota keluarga besar yang cukup senior. Salah satu contoh lagi adalah larangan bagi isteri saya untuk memotong rambut ketika hamil. Hal ini merupakan kepercayaan yang cukup kuat di kalangan keluarga besar kami. Walaupun saya dan isteri saya tidak terlalu percaya akan mitos-mitos, tetapi untuk menjaga perasaan keluarga besar kami, akhirnya kami berdua mengalah untuk tidak memotong rambut isteri saya. Setelah saya pikir-pikir, mungkin saja hal itu ada benarnya, karena zat-zat yang ada di dalam obat keriting atau obat rebonding tidak baik bagi bayi. Walaupun kita ke salon hanya untuk memotong rambut, tetapi ada juga kemungkinan bahwa bayi akan terkontaminasi zat-zat berbahaya tersebut ketika si ibu menghirup udara di salon tersebut.

Masih banyak hal lain yang mungkin kita pernah alami. Bagi orang dari suku Jawa, mungkin ada begitu banyak upacara adat yang sebenarnya tidak alkitabiah. Atau mungkin bagi orang dari suku Tionghoa, ada feng shui yang mengatur tata letak tempat tinggal kita. Percaya atau tidak percaya, memang ada beberapa prinsip adat yang masuk akal, tetapi kita pun perlu waspada karena bisa saja ajaran-ajaran tersebut sebenarnya merupakan ajaran-ajaran yang menyimpang. Alkitab mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, akan ada orang-orang percaya yang murtad dan sesat (ay. 1). Apa saja contohnya, Alkitab menyatakan antara lain adalah ajaran-ajaran yang melarang orang menikah, melarang orang makan makanan tertentu, dan lain sebagainya (ay. 3).

Bagaimana seharusnya prinsip orang percaya terhadap hal ini? Saya akui memang sulit untuk menentukan sikap yang pasti terhadap hal-hal tersebut, karena bagaimanapun kita memang hidup di masyarakat dan bangsa yang memiliki adat istiadat yang kuat. Tetapi prinsip yang harus kita pegang adalah bahwa semua yang telah diciptakan Allah itu adalah baik, jika diterima dengan ucapan syukur (ay. 4). Selain itu, segala sesuatu yang ada dikuduskan oleh Firman Allah dan doa (ay. 5). Itulah sebabnya, sangat penting bagi kita untuk berdoa sebelum melakukan segala sesuatu. Sebelum makan, jangan lupa berdoa agar makanan yang kita makan dikuduskan oleh Tuhan. Sebelum kita melayani Tuhan, kita pun perlu berdoa agar pelayanan kita dan hidup kita dikuduskan dan kita dilayakkan untuk melayani Tuhan.

Selanjutnya Paulus menasehati Timotius agar Timotius menjauhi takhayul dan dongeng nenek-nenek tua (ay. 7). Sebaliknya, Paulus menekankan agar Timotius melatih diri untuk beribadah. Ibadah tersebut penting agar Timotius dapat menjadi pelayan Kristus Yesus yang baik, dan terdidik dalam soal-soal pokok iman dan dalam ajaran yang sehat (ay. 6). Jika kita aplikasikan diri kita untuk di masa sekarang ini, mungkin kita pun perlu menjauhi ajaran-ajaran yang tidak alkitabiah termasuk adat-adat yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Bukan berarti kita tidak menghormati orang tua atau keluarga besar kita, tetapi kita pun harus dapat menjauhi adat-adat yang dirasa sudah menyimpang jauh dari kebenaran Firman Tuhan.

Kita pun perlu memiliki dasar yang kuat dalam ajaran-ajaran Kristiani yang “sehat”. Bagaimana caranya? Tidak lain dan tidak bukan dengan membaca Firman  Tuhan setiap hari agar Firman Tuhan tersebut menuntun kita dalam segala kebenaran. Seseorang yang tidak mengerti kebenaran, tidak akan dapat mengetahui apakah sesuatu hal adalah benar atau salah, karena ia tidak memiliki standar yang benar itu seperti apa. Tetapi orang yang rajin membaca Firman Tuhan, akan mengerti tentang kebenaran, sehingga ketika ada hal-hal yang menyimpang, ia dapat langsung mengenali bahwa hal itu adalah salah, karena tidak sesuai dengan kebenaran yang telah ia mengerti sebelumnya. Jadi, kita pun perlu melakukan apa yang Paulus perintahkan kepada Timotius, yaitu menjauhi ajaran-ajaran yang kurang baik, serta melatih diri kita beribadah melalui pembacaan Firman, persekutuan dengan Roh Kudus, dan menjaga hubungan pribadi kita dengan Tuhan setiap saat.


Bacaan Alkitab: 1 Timotius 4:1-7
4:1 Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan
4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.
4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.
4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur,
4:5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.
4:6 Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.
4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

Hukuman dari Tuhan


Rabu, 18 Januari 2012
Bacaan Alkitab: 2 Samuel 12:1-14
Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: ... Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon.” (2 Sam 12:7 & 9)


Hukuman dari Tuhan


Saat Raja Daud berbuat dosa dengan meniduri Batsyeba hingga mengandung, kemudian secara tidak langsung membunuh Uria, suami Batsyeba, serta akhirnya mengambil Batsyeba sebagai isterinya, akhirnya Tuhan mengutus nabi Natan kepada Daud untuk memperingatkan Daud (ay. 1). Nabi Natan menyampaikan perumpamaan kepada Daud yang menyatakan bahwa ada orang kaya yang walaupun memiliki banyak domba dan sapi namun ketika ada tamu datang kerumahnya, orang kaya tersebut justru mengambil domba satu-satunya milik orang miskin sebagai makanan bagi tamu orang kaya tersebut (ay. 2-4).

Ternyata Daud marah dengan perumpamaan yang disampaikan oleh nabi Natan tersebut (ay. 5). Saat itu Daud masih belum sadar, bahwa orang yang dimaksud dalam perumpamaan tersebut adalah raja Daud sendiri. Daud justru berkata bahwa orang kaya yang mengambil domba orang miskin tersebut harus dihukum mati dan harus membayar ganti rugi kepada orang miskin tersebut (ay. 6). Ketika Daud berkata seperti itu, barulah nabi Natan menunjukkan bahwa orang kaya dalam kisah tersebut adalah gambaran raja Daud sendiri, dan dengan segala dosa yang ia telah perbuat (ay. 8-9).

Selanjutnya, nabi Natan menyampaikan akibat yang harus ditanggung Daud karena dosanya itu. Pertama, pedang tidak akan menyingkir dari keturunan Daud, yang dapat berarti bahwa keturunan Daud selalu hidup dalam peperangan dan pertikaian (ay. 10); Kedua, akan ada orang lain yang tidur dengan isteri-isteri Daud, sebagai hukuman karena Daud telah meniduri Batsyeba secara diam-diam, tetapi Tuhan menghukum Daud dengan membiarkan orang lain tidur dengan isteri-isterinya secara terang-terangan (ay. 11-12); dan ketiga, anak yang lahir hasil dari hubungan gelap Daud dan Batsyeba akhirnya akan mati (ay. 14).

Sebenarnya, jika kita perhatikan, ada jeda minimal 9 bulan sejak Daud berzinah dengan Batsyeba hingga Tuhan mengutus nabi Natan. Jika kita membaca ayat-ayat selanjutnya, maka kita dapat membaca bahwa setelah nabi Natan menyampaikan hukuman dari Tuhan tersebut kepada raja Daud dan pulang ke rumahnya, barulah Tuhan menulahi anak Daud dan Batsyeba itu (2 Sam 12:15). Dengan kata lain, Tuhan baru menghukum Daud setelah anak tersebut lahir. Mungkin ada beberapa di antara kita yang merasa mengapa kok Tuhan menghukum Daud baru 9 bulan sejak ia melakukan dosa? Apakah itu tidak terlalu lama? Mengapa Tuhan tidak langsung saja menghukum Daud atas dosa-dosanya?

Menurut saya, bisa saja Tuhan langsung menghukum Daud begitu Daud berbuat dosa. Tetapi pernahkah kita merenung, jika Tuhan memiliki prinsip seperti itu, bisa-bisa semua orang di dunia ini akan habis karena menerima hukuman dari Tuhan. Bayangkan jika setiap dosa langsung diganjar dengan hukuman Tuhan, pasti tidak akan ada manusia yang bertahan hidup di dunia ini. Tetapi di sisi lain, kita pun tidak boleh berpikir bahwa Tuhan tidak akan langsung menghukum dosa-dosa kita sehingga kita bebas berbuat dosa. Itu pun merupakan pandangan yang salah. Di sisi lain, kita juga tidak boleh berpikir bahwa setiap penderitaan orang merupakan hukuman dari Tuhan. Contohlah Ayub yang walaupun ia tidak berdosa tetapi diijinkan Tuhan mengalami penderitaan. Janganlah kita menghakimi orang lain menurut apa yang kita lihat, karena sesungguhnya Tuhan jauh lebih mengetahui segala sesuatu daripada kita.

Alkitab mengatakan bahwa jika kita mengaku dosa kita, maka Tuhan adalah Tuhan yang setia dan adil, dan Tuhan akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yoh 1:9). Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh Daud. Ketika ia mengakui segala dosa dan kesalahan atas apa yang telah diperbuatnya, maka Alkitab mengatakan bahwa Tuhan telah menjauhkan segala dosa-dosa Daud dan ia tidak akan mati (ay. 13). Walaupun ada konsekuensi atas dosa Daud, tetapi tetap ada pengampunan dari Tuhan ketika Daud menyadari dan mengakui dosanya, serta bertobat di hadapan Tuhan. Mungkin ada di antara kita yang sedang mengalami teguran dari Tuhan, saya berharap agar kita tidak mengeraskan hati, tetapi kita harus siap menanggung konsekuensi teguran dari Tuhan, karena teguran dan hukuman dari Tuhan itu adalah bentuk kasih Tuhan kepada kita agar kita bertobat dari kesalahan-kesalahan kita (Why 3:19).


Bacaan Alkitab: 2 Samuel 12:1-14
12:1 TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin.
12:2 Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi;
12:3 si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya.
12:4 Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu."
12:5 Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.
12:6 Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan."
12:7 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.
12:8 Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.
12:9 Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon.
12:10 Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.
12:11 Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari.
12:12 Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan."
12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.
12:14 Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati."


Selasa, 17 Januari 2012

Jangan Memandang Muka


Selasa, 17 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Yakobus 2:1-4
Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” (Yak 2:1)


Jangan Memandang Muka


Suka atau tidak suka, seringkali kita sebagai manusia justru lebih sering menilai seseorang dari penampilan luarnya. Pernahkah kita mencoba datang ke mal hanya menggunakan kaos oblongf, celana pendek dan sandal jepit kemudian kita datang melihat-lihat barang yang ada? Mungkin saja tidak akan ada penjaga toko yang mendatangi kita dan menawarkan barang kepada kita. Tetapi coba kita datang dengan berdasi rapi, sambil menenteng handphone canggih, pasti ketika kita masuk ke dalam toko, para penjaga toko langsung menyambut kita. Seperti itulah kondisi manusia yang memang secara kodrat lebih melihat penampilan luar saja.

Alkitab mengatakan bahwa kita sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita tidak boleh mengamalkan iman kita dengan memandang muka (ay. 1). Kita harus meneladani Yesus Kristus yang dalam melakukan pelayananNya tidak pernah memandang muka. Jika kita perhatikan, kedua belas murid Yesus berasal dari latar belakang yang sangat berbeda, mulai dari nelayan yang mungkin adalah orang yang miskin, pemungut cukai yang pastinya kaya walaupun mungkin uangnya berasal dari hal-hal yang tidak baik, pemberontak Zelot, dan lain sebagainya. Bahkan dalam pelayananNya, Tuhan Yesus tidak pernah menolak orang-orang dari status sosialnya. Ia memang dekat dengan orang-orang miskin, tetapi Tuhan Yesus pun juga pernah menyembuhkan anak seorang perwira, dan bahkan banyak perempuan-perempuan kaya yang pernah disembuhkan oleh Tuhan Yesus (Luk 8:1-3). Pelayanan yang dilakukan Tuhan Yesus tidak melihat status sosial dari orang yang menerima pelayananNya.

Demikian juga seharusnya kita di Gereja. Terutama bagi kita yang sering menjadi penerima tamu atau usher. Sayangnya, masih ada beberapa Gereja yang menyediakan kursi khusus kepada orang-orang yang dianggap spesial. Mungkin tidak terlalu masalah jika orang yang dianggap spesial tersebut adalah hamba Tuhan yang diundang untuk memberitakan Firman Tuhan di gereja tersebut, tetapi akan cukup menjadi masalah jika gereja mulai membeda-bedakan tempat duduk jemaat berdasarkan status sosial jemaat tersebut. Saya tidak bisa membayangkan jika ada suatu gereja yang mempunyai pengaturan tempat duduk, misalkan yang paling depan adalah jemaat-jemaat yang perpuluhannya paling besar, yang tengah adalah jemaat yang perpuluhannya sedang-sedang saja, dan yang paling belakang adalah jemaat yang perpuluhannya paling sedikit. Semoga tidak ada gereja yang menerapkan sistem tempat duduk seperti itu.

Tuhan tidak ingin kita sebagai murid-murid Tuhan dan orang percaya membuat perbedaan seperti itu, terlebih membeda-bedakan orang dalam pelayanan (ay. 4). Mungkin bagi kita yang sudah melayani Tuhan, pernahkah kita menolak untuk melayani hanya karena isi “amplop”nya kecil? Atau justru sebaliknya kita memasang tarif jika ada orang lain yang membutuhkan pelayanan kita? Saya sendiri juga tidak mau menghakimi, tetapi saya percaya bahwa sebagai orang percaya, terlebih jika kita sendiri sudah mengambil bagian dalam pelayanan Tuhan, kita tidak boleh memandang muka dan membeda-bedakan orang yang kita layani hanya karena penampilan luar. Di mata Tuhan, semua jiwa berharga, bukan karena penampilan dari luarnya, tetapi justru karena apa yang ada di hati orang tersebut. Jangan sampai kita justru memandang muka dan menghakimi orang karena pikiran kita hanya melihat tampilan luarnya saja.


Bacaan Alkitab: Yakobus 2:1-4
2:1 Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.
2:2 Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk,
2:3 dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!",
2:4 bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?

Jangan Berkhianat seperti Yudas Iskariot


Senin, 16 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Matius 10:1-4
Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan ... dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.” (Mat 10:1 & 4)


Jangan Berkhianat seperti Yudas Iskariot


Hampir semua orang Kristen di Indonesia dan juga di dunia ini tidak ada yang menamai anaknya atau memakai nama baptis “Iskariot”. Bahkan mungkin nama “Yudas” pun menjadi kurang diminati walaupun dalam Alkitab terdapat satu “Yudas” yang merupakan orang yang baik dan bahkan menulis sebuah kitab di Perjanjian Baru. Gara-gara Yudas Iskariotlah nama “Yudas” akhirnya menjadi kurang populer di kalangan orang-orang Kristen. Terkait dengan Yudas Iskariot ini, pernahkah kita berpikir mengapa sampai Yudas menjadi orang yang berkhianat kepada Tuhan Yesus?

Alkitab tidak menceritakan bagaimana awalnya Tuhan Yesus memanggil Yudas Iskariot. Berbeda dengan kisah pemanggilan rasul Petrus, Yohanes, Yakobus, dan juga Matius oleh Tuhan Yesus yang dicatat dalam Alkitab, kisah pemanggilan Yudas Iskariot oleh Tuhan Yesus sama sekali tidak tercatat di Alkitab. Ketika dulu saya masih kecil, saya pernah berpikir, apakah Tuhan Yesus salah memilih murid-muridNya ya? Mengapa kok Tuhan memilih Yudas Iskariot sebagai muridNya? Apa Tuhan Yesus tidak tahu bahwa Ia akan dikhianati oleh Yudas Iskariot? Apakah Tuhan Yesus ingin mencoba mengajar Yudas Iskariot agar bertobat?

Saya sendiri tidak mengetahui secara pasti jawabannya, tetapi dari bacaan kita hari ini, kita menemukan beberapa fakta yaitu Tuhan sendiri yang berinisiatif untuk memilih dan memanggil orang-orang yang menjadi kedua belas muridNya (ay. 1a). Tanpa ragu saya boleh menyimpulkan bahwa pemanggilan Yudas Iskariot menjadi salah satu dari kedua belas rasul tersebut memang benar-benar adalah pilihan Tuhan. Bahkan sebagai salah satu dari kedua belas rasul, Yudas Iskariot diberi kuasa oleh Tuhan Yesus untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan penyakit dan kelemahan (ay. 1b).

Mungkin kita harus membayangkan bahwa Yudas Iskariot pun pernah memiliki kuasa Tuhan untuk mengadakan mujizat, mengusir roh jahat dan menyembuhkan orang. Bagaimana jika kita merupakan salah satu dari kedua belas rasul tersebut? Akankah kita tega untuk mengkhianati Tuhan Yesus? Apalagi kita sendiri sudah diberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, masa iya sih kita tega untuk menjual Tuhan Yesus yang sudah membuat kita bisa menyembuhkan orang sakit?

Yudas Iskariot memang unik, tetapi bukan untuk kita tiru kesalahannya. Justru kita harus belajar bagaimana seorang murid Tuhan Yesus yang selalu berjalan bersama-sama dengan Tuhan Yesus, yang selalu melihat bagaimana Tuhan Yesus mengajar orang banyak dan membuat mujizat bisa jatuh dan akhirnya mengkhianati Tuhan Yesus. Kita tidak boleh sampai jatuh seperti itu. Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Tuhan. Orang yang dosanya banyak diampuni, pasti akan lebih banyak pula mengucap syukur daripada orang yang dosanya sedikit diampuni. Berhati-hatilah, jangan sampai kita jatuh seperti Yudas Iskariot yang sudah melihat mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus, bahkan mampu mengadakan mujizat dengan kuasa Tuhan, tetapi justru menjadi orang yang menjual Yesus. Janganlah kita mengkhianati Tuhan seperti Yudas Iskariot.


Bacaan Alkitab: Matius 10:1-4
10:1 Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.
10:2 Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya,
10:3 Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus,
10:4 Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.


Tuhan Tak Pernah Ingkar Janji


Minggu, 15 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Yosua 21:43-45
Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.” (Yos 21:45)


Tuhan Tak Pernah Ingkar Janji


Mungkin beberapa dari pembaca renungan ini pernah mendengar suatu lagu lawas yang berjudul “Merpati Tak Pernah Ingkar Janji”. Saya sendiri juga tidak tahu mengapa penulis lagu tersebut memilih judul sepert itu. Saya sendiri belum pernah mengamati burung merpati apakah burung tersebut termasuk tipe burung yang suka berjanji dan menepatinya atau tidak. Tapi menurut saya judul lagu tersebut hanyalah kiasan yang membandingkan sikap manusia yang sering ingkar janji dan binatang (dalam hal ini burung merpati) yang justru terkadang lebih setia daripada manusia.

Memang janji manusia itu adalah janji yang sering dilanggar. Namanya saja manusia, semakin dilarang justru semakin dilanggar. Bahkan apa yang diucapkan juga seringkali dilupakan. Coba lihat saja para wakil rakyat dan pemimpin-pemimpin kita yang kita pilih dalam pemilihan umum. Coba lihat sekarang, apakah saat ini mereka masih ingat akan janji-janjinya dalam kampanye? Apakah mereka masih memperjuangkan hak-hak rakyat yang memilih mereka? Begitulah janji manusia yang sangat jarang ditepati, bahkan sangat jarang diingat oleh manusia.

Tapi tidak begitu dengan Tuhan. Tuhan selalu ingat akan janjiNya. Bahkan setelah lewat generasi lepas generasi, janji Tuhan tidak pernah berubah. Tuhan dulu pernah berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan memberikan tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian bagi Abraham, dan hal tersebut benar-benar ditepati oleh Tuhan, walaupun harus menunggu beberapa ratus tahun kemudian. Saat Musa membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan kemudian Yosua membawa bangsa Israel masuk ke dalam tanah perjanjian tersebut, saat itulah Tuhan menepati janjiNya kepada nenek moyang bangsa Israel (ay. 43).

Tuhan pun tidak hanya memberikan tanah perjanjian tersebut kepada bangsa Israel. Tuhan juga memberikan keamanan kepada bangsa Israel kepada bangsa Israel tersebut, sehingga bangsa Israel dapat mendiami tanah tersebut degan tenang. Tuhan melindungi bangsa Israel dari ancaman bangsa-bangsa di sekitarnya. Alkitab mengatakan bahwa tidak ada seorang pun dari musuh bangsa Israel yang tahan berdiri menghadapi mereka. Tuhan menyerakkan seluruh musuh-musuh bangsa Israel. Tembok tebal yang dimiliki kota Yerikho dihancurkan Tuhan dengan cara yang ajaib (Yos 6:20). Tuhan pun menghentikan matahari dan bulan ketika Yosua berperang di daerah Gibeon (Yos 10:13).

Bukankah luar biasa Tuhan Allah bangsa Israel yang sekarang juga telah menjadi Tuhan kita? Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan kita adalah Tuhan yang selalu menepati janji-janjiNya. Apa saja janji Tuhan bagi kita? Jika kita ingin mengerti apa saja hal-hal yang Tuhan janjikan kepada kita, cobalah baca Alkitab kita dari kitab Kejadian sampai dengan Wahyu. Di situ kita akan menemukan ratusan bahkan ribuan janji-janji Tuhan bagi orang-orang yang takut akan Tuhan, termasuk kita. Bukankah hal itu sangat luar biasa? Kita tinggal menantikan janji Tuhan tersebut digenapi dalam kehidupan kita, dengan iman percaya kita kepada Tuhan. Sesungguhnya dari semua janji-janji tersebut, segala yang baik yang dijanjikan Tuhan, tidak ada yang tidak dipenuhi, semuanya terpenuhi. Jadi masihkah kita meragukan Tuhan? Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah ingkar janji.


Bacaan Alkitab: Yosua 21:43-45
21:43 Jadi seluruh negeri itu diberikan TUHAN kepada orang Israel, yakni negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka. Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana.
21:44 Dan TUHAN mengaruniakan kepada mereka keamanan ke segala penjuru, tepat seperti yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka. Tidak ada seorang pun dari semua musuhnya yang tahan berdiri menghadapi mereka; semua musuhnya diserahkan TUHAN kepada mereka.
21:45 Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.