Senin, 19 Maret 2012

Dipilih Sebelum Dijadikan


Selasa, 20 Maret 2012
Bacaan Alkitab: Yeremia 1:4-8
Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yer 1:5)


Dipilih Sebelum Dijadikan


Kemarin adalah hari jadi pernikahan kedua orang tua saya yang ke-30. Saya iseng-iseng menghitung tanggal pernikahan kedua orang tua saya dan membandingkannya dengan tanggal lahir saya. Ternyata, saya lahir tepat sembilan bulan setelah kedua orang tua saya menikah. Suatu kebetulan yang luar biasa bukan? Dan saya berandai-andai, jika demikian, seharusnya kemarin atau hari ini saya merayakan hari jadi saya di dalam rahim ibu saya yang ke-30.

Pernahkah kita berpikir bahwa mengapa kita dilahirkan di dunia ini? Mengapa kita lahir di Indonesia dan bukannya di Amerika atau di Afrika? Mengapa kita dilahirkan di keluarga kita yang seperti ini? Mengapa kita dilahirkan di keluarga Kristen, atau mungkin di keluarga yang berlatar belakang non Kristen? Mengapa kita kemudian menempuh pendidikan seperti ini? Mengapa kita akhirnya menikah dengan pasangan kita? Dan seterusnya banyak sekali pertanyaan “mengapa” yang kita tidak tahu jawabannya. Tetapi satu hal kita mengerti, bahwa ada rencana Tuhan bagi kita dengan membuat kita lahir di dunia ini.

Ketika Tuhan memanggil Yeremia untuk menjadi hambaNya, Tuhan tidak berkata dalam suara menakutkan, “Yeremia, jadilah hamba Tuhan, kalau tidak maka kamu akan kena hukuman”. Bukan seperti itu yang Tuhan lakukan, tetapi Tuhan menyampaikan dengan kalimat yang luar biasa, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (ay. 4-5). Apa yang kita dapat pelajari dari panggilan Tuhan ini?

Pertama, Tuhan telah mengenal kita jauh sebelum kita dibentuk Tuhan (ay. 5a). Apa maksudnya ini? Memang banyak penafsiran tentang ayat ini, terutama terkait dengan teori predestinasi. Tetapi saya tidak akan membahas tentang teori-teori teologi, namun saya hanya ingin mengatakan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang luar biasa. Ia mengenal semua yang diciptakanNya. Ia bukan Tuhan yang menciptakan sesuatu lalu lupa dengan ciptaanNya. Tuhan mengenal orang-orang yang diciptakanNya, bahkan dikatakan, sebelum Ia menciptakan kita, Tuhan telah terlebih dahulu mengenal kita. Jika demikian, mengapa kita harus kuatir akan kehidupan kita? Jika Tuhan saja selalu ingat akan kita, orang-orang yang diciptakanNya?

Kedua, Tuhan telah menetapkan tujuan (destiny) kita sebelum kita lahir (ay. 5b). Apa lagi maksud dari kalimat ini? Tuhan tidak menjadikan kita begitu saja tanpa tujuan yang jelas. Jika kita pernah membaca buku dengan judul “Purpose Driven Life”, maka kita akan semakin menyadari bahwa kita seharusnya hidup di dunia ini dengan digerakkan oleh tujuan Ilahi, yaitu tujuan Tuhan membentuk kita. Kita tidak dapat hidup sembarangan saja tanpa tujuan di dunia ini. Banyak pendapat tentang tujuan hidup kita di dunia ini, tetapi menurut saya, secara ringkas tujuan utama kita adalah memuliakan nama Tuhan melalui kehidupan kita (2 Tes 1:12).

Dengan demikian, sesungguhnya ketika suatu saat kita mendengar panggilan Tuhan dalam kehidupan kita, sudah tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya. Yeremia awalnya menolak panggilan Tuhan dengan beralasan bahwa ia tidak pandai bicara (ay. 6), tetapi Tuhan mengatakan bahwa hal itu bukanlah alasan. Kita harus mau melakukan kehendak Tuhan, kemanapun kita diutus kita harus siap untuk pergi, dan apapun yang Tuhan perintahkan kita harus lakukan (ay. 7). Kita harus menjadi orang-orang Kristen yang militan. Militan bukan berarti fanatik yang membabi buta, tetapi militan berarti kita harus sama seperti militer. Seorang prajurit militer akan melakukan apapun yang diperintahkan komandannya. Ketika komandannya menyuruh prajurit tersebut maju berperang, ia harus siap untuk maju. Di sisi lain, ketika komandannya menyuruh prajurit tersebut untuk tinggal dan menjaga markas, ia pun harus siap untuk tinggal. Kita tidak boleh takut menghadapi hal-hal yang akan kita hadapi ketika kita mau menjadi “prajurit Tuhan”. Mungkin saja akan banyak masalah atau persoalan yang akan ada dalam kehidupan kita, tetapi Tuhan sudah memerintahkan kita untuk tidak takut akan apapun juga, karena Tuhan telah berjanji untuk selalu menyertai kita (ay. 8). Sudah siapkah kita untuk melakukan apapun yang Tuhan perintahkan kepada kita?


Bacaan Alkitab: Yeremia 1:4-8
1:4 Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:
1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."
1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."
1:7 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.
1:8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

Kamis, 15 Maret 2012

Pesan Allah Melalui Orang-orang yang Tidak Mengenal Allah


Senin, 19 Maret 2012
Bacaan Alkitab: 2 Tawarikh 35:20-27
Tetapi Yosia tidak berpaling dari padanya, melainkan menyamar untuk berperang melawan dia. Ia tidak mengindahkan kata-kata Nekho, yang merupakan pesan Allah, lalu berperang di lembah Megido.” (2 Taw 35:22)


Pesan Allah Melalui Orang-orang yang Tidak Mengenal Allah


Yosia adalah salah satu raja Yehuda yang dikatakan sebagai raja yang “baik”. Dalam kitab sejarah raja-raja Israel dan Yehuda (Kitab Raja-raja dan Kitab Tawarikh), salah satu kriteria yang menentukan apakah raja tersebut merupakan raja yang “baik” atau “jahat” adalah melihat saat kematiannya. Penulis kitab tersebut biasanya menjelaskan bahwa sang raja adalah raja yang baik dan takut akan Tuhan, dan dimakamkan di pekuburan raja-raja, di sebelah nenek moyangnya. Sedangkan untuk raja yang jahat, biasanya penulis menjelaskan bahwa raja tersebut adalah raja yang tidak takut akan Tuhan dan dimakamkan di luar pekuburan raja-raja, bahkan di luar kota Daud, yaitu Yerusalem.

Jika kita perhatikan kisah hidup raja Yosia, maka sesungguhnya raja Yosia termasuk dalam golongan raja yang “baik”. Hal ini terlihat pada ayat 27 dan 28, dimana penulis kitab Tawarikh ini menyatakan bahwa Yosia melakukan perbuatan-perbuatan yang saleh. Sebagai tambahan, ketika wafat pun raja Yosia dikuburkan di pekuburan nenek moyangnya di Yerusalem, serta dikatakan pula bahwa seluruh Yehuda dan Yerusalem berkabung atas kematian Yosia (ay. 24). Bahkan, nabi Yeremia, salah satu nabi besar dalam sejarah bangsa Israel dan Yehuda, membuat suatu syair ratapan mengenai raja Yosia (ay. 25).

Sebenarnya apa yang terjadi dengan raja Yosia? Bukankah Ia adalah seorang raja yang besar? Bahkan di masa pemerintahannya, Yosia menghidupkan kembali ibadah Paskah, yang selama ini tidak pernah dirayakan oleh raja-raja sebelumnya. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa ibadah dan perayaan Paskah seperti yang dilakukan oleh raja Yosia belum pernah dilakukan sejak zaman nabi Samuel, dan raja-raja lainnya pun tidak ada yang pernah merayakan Paskah seperti apa yang raja Yosia rayakan (2 Taw 35:18). Alkitab pun bahkan mengatakan bahwa Yosia juga memperbaiki rumah Tuhan (ay. 20a).

Tetapi sangat disayangkan, walaupun raja Yosia merupakan raja yang takut akan Tuhan, tetapi ia terpancing untuk berperang menghadapi Nekho, raja Mesir, yang hendak berperang di Karkemis di tepi sungai Efrat (ay. 20b). Jika kita perhatikan peta Alkitab di bagian belakang Alkitab kita masing-masing, kita akan mengerti bahwa lokasi bangsa Yehuda terletak di jalan yang menghubungkan Mesir dengan daerah sekitar sungai Efrat. Logikanya, raja Mesir tentu akan membawa tentaranya melewati daerah Yehuda untuk menuju daerah Karkemis, yang terletak jauh di sebelah utara Yehuda, di dekat hulu sungai Efrat. Dan sebetulnya tidak ada masalah jika saja raja Yosia membiarkan raja Mesir tersebut lewat, toh raja Mesir juga sudah mengatakan bahwa saat itu ia sedang tidak melawan raja Yosia dan bangsa Yehuda, dan hanya bertujuan untuk melawan musuhnya yang ada di Karkemis tersebut (ay. 21a).

Yosia ternyata tidak sadar bahwa ucapan raja Mesir tersebut merupakan suara Tuhan. Walaupun raja Mesir berkata kepada Yosua, “Allah memerintahkan aku supaya segera bertindak. Hentikanlah niatmu menentang Allah yang menyertai aku, supaya engkau jangan dimusnahkan-Nya!” (ay. 21b), namun entah kenapa Yosia tidak mengindahkannya dan tetap berperang melawan Nekho (ay. 22). Akibatnya fatal, Yosia akhirnya tewas terbunuh di medan perang (ay. 23-24). Hal tersebut terjadi karena raja Yosia tidak mengindahkan pesan Allah, yang disampaikan oleh raja Mesir tersebut (ay. 22).

Memang sulit membedakan mana yang merupakan pesan Allah dan mana yang bukan merupakan pesan Allah. Apalagi ketika yang menyampaikan pesan itu merupakan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Bagaimanakah kita tahu bahwa apa yang disampaikan orang tersebut memang benar-benar pesan Allah dan bukan sekedar pesan manusia yang penuh dengan tipu muslihat? Memang saya akui sulit, tetapi ketika kita dekat dengan Tuhan, kita akan peka untuk mendengar mana suara Tuhan dan mana yang bukan merupakan suara Tuhan. Mungkin saja Tuhan memakai orang-orang yang belum percaya untuk menyampaikan maksud Tuhan. Oleh karena itu, mari kita meminta hikmat dari Tuhan agar kita dapat mengetahui maksud Tuhan. Mari kita menjadi domba-domba Tuhan yang taat, karena seekor domba pastilah mengenal suara gembalanya, sama seperti kita yang harus mengenal suara Tuhan (Yoh 10:4), walaupun itu disampaikan melalui orang-orang yang tidak mengenal Tuhan.


Bacaan Alkitab: 2 Tawarikh 35:20-27
35:20 Kemudian dari pada semua ini, setelah Yosia memperbaiki rumah TUHAN, majulah Nekho, raja Mesir, hendak berperang di Karkemis di tepi sungai Efrat. Yosia keluar menghadapinya.
35:21 Ia mengirim utusan kepada Yosia, dengan pesan: "Apakah urusanmu dengan aku, raja Yehuda? Saat ini aku tidak datang melawan engkau, tetapi melawan keluarga raja yang sedang kuperangi. Allah memerintahkan aku supaya segera bertindak. Hentikanlah niatmu menentang Allah yang menyertai aku, supaya engkau jangan dimusnahkan-Nya!"
35:22 Tetapi Yosia tidak berpaling dari padanya, melainkan menyamar untuk berperang melawan dia. Ia tidak mengindahkan kata-kata Nekho, yang merupakan pesan Allah, lalu berperang di lembah Megido.
35:23 Maka pemanah-pemanah menembaki raja Yosia, dan raja berseru kepada orang-orangnya: "Bawa aku dari sini, karena aku luka parah!"
35:24 Orang-orangnya mengangkatnya dari keretanya, lalu mengangkutnya dengan kereta cadangannya lalu membawanya ke Yerusalem. Kemudian matilah ia, lalu dikuburkan di pekuburan nenek moyangnya. Seluruh Yehuda dan Yerusalem berkabung karena Yosia.
35:25 Yeremia membuat suatu syair ratapan mengenai Yosia. Dan sampai sekarang ini semua penyanyi laki-laki dan penyanyi perempuan menyanyikan syair-syair ratapan mengenai Yosia, dan mereka jadikan itu suatu kebiasaan di Israel. Semuanya itu tertulis dalam Syair-syair Ratapan.
35:26 Selebihnya dari riwayat Yosia dan perbuatan-perbuatannya yang saleh yang sesuai dengan yang ada tertulis dalam Taurat TUHAN,
35:27 yakni, riwayatnya dari awal sampai akhir, sesungguhnya semuanya itu tertulis dalam kitab raja-raja Israel dan Yehuda.

Ketika Tuhan Menuntun Kita Melalui Jalan yang Tidak Biasanya


Minggu, 18 Maret 2012
Bacaan Alkitab: Keluaran 13:17-18
Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun.” (Im 10:9)


Ketika Tuhan Menuntun Kita Melalui Jalan yang Tidak Biasanya


Pernahkah kita naik taksi dan kemudian supir taksi tersebut mengantarkan kita melewati jalan yang tidak biasanya? Apa yang kita rasakan saat itu? Kesal karena kita terpaksa harus memutar jauh dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai tujuan kita? Marah karena kita harus membayar lebih mahal dari tarif yang biasanya? Takut karena barangkali supir taksi mempunyai niat jahat terhadap kita? Atau mencoba menenangkan diri dan menikmati suasana jalan yang berbeda dari apa yang sering kita lihat?
Saya tidak tahu jawaban anda apa, dan saya juga tidak tahu jawaban mana yang terbaik bagi kita, tetapi  satu hal yang saya perhatikan, bahwa seringkali dalam kehidupan kita, Tuhan membawa kita melewati jalan-jalan yang tidak biasa kita lalui. Ketika kita sudah berada dalam zona nyaman kita,  tiba-tiba Tuhan melakukan sesuatu yang tidak biasanya. Kita biasanya protes karena kita harus keluar dari zona nyaman kita, padahal jika kita mau jujur, pasti ada rencana Tuhan ketika Dia mengajak kita berjalan melewati jalan yang tidak biasa kita lewati.

Demikian juga yang dialami oleh bangsa Israel. Mereka sudah hidup 430 tahun di Mesir (Kel 12:40), dan tentunya mereka mungkin sudah merasa nyaman dengan kondisi di Mesir, walaupun mereka harus menjadi budak di sana. Mereka sudah merasa nyaman dengan suasana di padang Gosyen, mereka mungkin sudah merasa nyaman tinggal di tengah-tengah budaya Mesir, dengan penyembahan banyak dewa yang dilakukan oleh masyarakat Mesir, mereka mungkin sudah nyaman untuk paham dan mengerti bahasa Mesir dan hal-hal lainnya yang berbau Mesir.

Tetapi ketika Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, Tuhan tidak membawa bangsa Israel melalui jalur yang biasa, yaitu jalan yang melewati negeri orang Filistin, walaupun jalan ini merupakan jalur perdagangan utama, jalur yang paling pendek jaraknya, dan jalur yang paling mulus (ay. 17a). Tuhan justru membawa bangsa Israel berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau atau Laut Merah (ay. 18a). Saya berpikir, tentulah ada alasan Tuhan mengapa Tuhan justru seakan-akan memutar-mutarkan jalur perjalanan bangsa Israel, dan Alkitab kita dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan tidak ingin bangsa Israel menyesal ketika mereka harus bertempur dan menghadapi peperangan, sehingga mereka meminta kembali ke Mesir (ay. 17b). Memang Alkitab juga mengatakan bahwa bangsa Israel keluar dari Mesir dengan siap sedia berperang (ay. 18b), tetapi menurut saya kelihatan siap berperang dan memiliki mental siap berperang merupakan dua hal yang jauh berbeda, dan itulah alasan utama Tuhan akhirnya membiarkan bangsa Israel melewati jalan berputar.

Bisa dikatakan bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik bagi bangsa Israel. Walaupun harus berputar-putar lebih dari 40 tahun lamanya (Bil 32:13), tetapi akhirnya bangsa Israel memiliki mental yang siap untuk merebut tanah Kanaan. Bisa dikatakan bahwa di padang gurun inilah Tuhan mengubah mental bangsa Israel dari mental budak menjadi mental prajurit, yang siap untuk merebut tanah yang dijanjikan Tuhan kepada nenek moyang mereka. Demikian juga dengan kita, di saat Tuhan sepertinya sedang membawa kita berputar-putar tanpa tujuan yang jelas, justru di situ pasti ada maksud Tuhan untuk membentuk kita. Rancangan Tuhan tidak pernah gagal. Justru kita yang sering tidak mengerti apa maksud Tuhan bagi kita, karena rancanganNya terlalu dalam untuk kita selami (Mzm 92:6). Oleh karena itu, mari kita tetap percaya kepada Tuhan, ketika Tuhan membawa kita melalui jalan berputar, karena kita tahu bahwa segala sesuatu pasti mendatangkan kebaikan bagi kita, ketika kita mau taat kepada Tuhan (Rm 8:28).


Bacaan Alkitab: Keluaran 13:17-18
13:17 Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir."
13:18 Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir.

Rabu, 14 Maret 2012

Menjaga Kekudusan sebelum Melayani Tuhan


Sabtu, 17 Maret 2012
Bacaan Alkitab: Imamat 10:8-11
Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun.” (Im 10:9)


 
Menjaga Kekudusan sebelum Melayani Tuhan


Saya tidak tahu apakah ayat Alkitab dalam bacaan kita hari ini masih relevan bagi sebagian besar orang Kristen atau tidak, tetapi saya melihat bahwa Firman Tuhan yang ditulis dalam Alkitab tentunya masih relevan dengan kondisi di zaman ini, sepanjang kita dapat menarik makna dari ayat Alkitab tersebut. Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, dikatakan bahwa Tuhan berfirman kepada Harun agar Harun dan anak-anaknya tidak minum anggur atau minuman keras (minuman beralkohol) sebelum masuk ke dalam kemah pertemuan (ay. 8-9a). Saya berpikir, ya kalau di Indonesia, rasa-rasanya nggak ada gereja yang punya peraturan seperti itu ya, mungkin kalau di Amerika atau Eropa baru ada, toh minum anggur pun kan bisa untuk menghangatkan badan.

Tetapi jika kita perhatikan, bahwa sesungguhnya apa yang diinginkan Tuhan bukanlah sekedar tidak minum anggur dan minuman keras lainnya, tetapi dalam arti luas adalah menjaga kekudusan sebelum melakukan pelayanan bagi Tuhan. Hal ini terlihat jelas dalam ayat selanjutnya yang mengatakan bahwa Tuhan ingin agar Harun dan anak-anaknya (yang akan melayani Tuhan dalam kemah pertemuan) dapat mengetahui dan membedakan antara yang kudus dan yang tidak kudus, antara yang najis dan yang tidak najis (ay. 10). Hal ini terutama terkait kenyataan bahwa mereka akan melayani Tuhan yang kudus, dan tentunya mereka juga harus menjaga kekudusan agar mereka dapat layak di hadapan Tuhan, sebab tanpa kekudusan, tidak ada seorang pun yang dapat melihat Tuhan (Ibr 12:14).

Hal tersebut berarti pantangan Harun dan anak-anaknya sebelum melayani Tuhan sebetulnya bukan hanya soal minuman keras, tetapi juga hal-hal lainnya yang tidak kudus di hadapan Tuhan. Intinya, Tuhan ingin Harun dan anak-anaknya menjaga diri mereka sebelum mereka menggunakan diri mereka untuk melayani Tuhan. Tidak hanya cukup sampai di situ, Tuhan juga meminta Harun mengajarkan prinsip ini kepada orang-orang Israel, sehingga prinsip tersebut tidak hanya dimengerti oleh Harun, tetapi juga dipahami oleh seluruh bangsa Israel (ay. 11).

Bayangkan saja, misalkan kita diundang oleh Presiden dan akan bertemu dengan beliau di Istana Negara, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita akan datang dengan pakaian yang kumal dan kucel, apakah kita akan datang dengan kondisi belum mandi selama tiga hari? Bukankah kita akan memakai pakaian kita yang terbaik dan menyisir rambut kita agar rapi, atau bahkan ke salon terlebih dahulu agar kita terlihat lebih ganteng atau lebih cantik dari biasanya? Jika untuk bertemu dengan manusia saja kita sampai melakukan hal-hal seperti itu, mengapa jika untuk menghadap Tuhan kita tidak mau menyiapkan diri kita dan menjaga kekudusan?

Pada zaman dahulu, orang-orang yang tidak menghormati hadirat dan kekudusan Tuhan, hukumannya adalah mati (ay. 9b). Nadab dan Abihu, anak-anak Harun juga harus mati karena mereka tidak menghormati kekudusan Tuhan dengan cara membawa api yang asing ke dalam kemah pertemuan (Im 10:1-2), Miryam kena kusta ketika mengatai Musa di hadapan Tuhan (Bil 12:10), Raja Uzia tidak menghormati Tuhan dengan membakar ukupan yang seharusnya dilakukan oleh Imam sehingga raja Uzia terkena penyakit kusta (2 Taw 26:19). Memang mungkin Tuhan tidak langsung membunuh orang tersebut, tetapi memberikan hukuman penyakit kusta dan masih memberikan kesempatan kedua.

Bagaimana dengan kita? Ketika kita melayani Tuhan sudahkah kita menjaga kekudusan kita? Menjaga kekudusan bukan hanya berarti menjauhkan diri dari dosa-dosa kita, tetapi juga mempersiapkan pelayanan kita dengan sebaik-baiknya. Melalaikan mempersiapkan pekerjaan Tuhan juga bisa berarti kita tidak menguduskan diri kita untuk melayani Tuhan. Bagaimana mungkin seorang pendeta dapat berkhotbah dengan baik jika ia tidak mempersiapkan khotbahnya terlebih dahulu? Bagaimana mungkin tim musik bisa memainkan musik dengan indah jika mereka tidak pernah berlati sebelumnya? Jagalah kekudusan sebelum kita melayani Tuhan, karena Tuhan sendiri telah berfirman “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:16).


Bacaan Alkitab: Imamat 10:8-11
10:8 TUHAN berfirman kepada Harun:
10:9 "Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun.
10:10 Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis,
10:11 dan haruslah kamu dapat mengajarkan kepada orang Israel segala ketetapan yang telah difirmankan TUHAN kepada mereka dengan perantaraan Musa."

Pilih Hidup atau Mati?


Jumat, 16 Maret 2012
Bacaan Alkitab: Filipi 1:21-24
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21)


Pilih Hidup atau Mati?


Suatu ketika saya pernah melewati jalan tempat markas salah satu organisasi masyarakat yang cukup “menakutkan” bagi orang-orang Kristiani. Ketika saya melewati jalan tersebut, organisasi itu sedang mengadakan acara dan banyak sekali anggotanya yang berada di sepanjang jalan. Saya dengan agak was-was melewati jalan tersebut, karena ada stiker bernuansa Kristiani di motor saya. Saat itu saya berpikir, “Kalau mereka sweeping dan saya tertangkap, ya sudah mau gimana lagi”. Tapi untungnya saya berhasil lewat dari jalan tersebut dan sampai dengan selamat di rumah. Tapi satu hal yang saya cukup terkesan adalah bahwa banyak dari anggota organisasi tersebut yang mengenakan kaos dengan tulisan “Hidup mulia atau mati syahid” di bagian belakangnya.

Saya merenung, sebetulnya prinsip organisasi ini sungguh baik, dan jika saja semua orang di dunia ini memiliki prinsip hidup seperti itu, pastilah tidak ada kejahatan. Walaupun demikian, memang ada beberapa perbedaan penafsiran makna dari prinsip tersebut sehingga bagi kita, sepertinya apa yang dilakukan orang-orang tersebut berbeda dengan kata-kata prinsip mereka (walaupun mungkin bagi mereka, mereka merasa bahwa apa yang dilakukan memang sudah sesuai dengan prinsip mereka). Saya kemudian teringat tentang salah satu prinsip Paulus yang menurut saya beda-beda tipis dengan prinsip organisasi tersebut, yaitu “Hidup adalah (bagi) Kristus dan mati adalah keuntungan” (ay. 21).

Jika kita membaca tentang kisah Paulus dan isi dari surat-surat yang ditulis oleh Paulus, kita dapat melihat bagaimana prinsip ini dipegang teguh oleh Paulus dan bagaimana hidupnya boleh dijiwai oleh prinsip hidupnya tersebut. Dari kehidupan lamanya yang merupakan penganiaya jemaat, Paulus berjumpa dengan Tuhan secara pribadi, bertobat, dibaptis, dan sejak itu berbalik 180 derajat menjadi pemberita Injil yang paling luar biasa dalam sejarah Gereja. Paulus adalah salah satu pelopor pemberita Injil kepada bangsa-bangsa di luar bangsa Yahudi, sehingga banyak orang (termasuk kita) boleh mendengar Injil keselamatan dalam Yesus Kristus.

Prinsip yang dianut Paulus tersebut menunjukkan bahwa hidup ataupun mati, dua-duanya adalah bagi Kristus. Hal tersebut membuat Paulus kadang-kadang seperti berada dalam dilema, yaitu ia ingin mati agar segera masuk surga dan bertemu dengan Tuhan, tetapi di sisi lain, Paulus juga masih ingin memberitakan kabar baik kepada orang-orang yang ada di dunia ini. Paulus mengatakan bahwa kalaupun ia mati, memang hal tersebut akan jauh lebih baik bagi Paulus (ay. 23), karena ia akan masuk ke dalam surga yang mulia, sebuah tempat yang tidak ada dosa lagi di dalamnya. Tapi di sisi lain, Paulus juga masih merasa dibutuhkan di dunia ini, untuk menyampaikan kabar baik, menggembalakan jemaat-jemaat yang dirintisnya (ay. 24). Mana yang Paulus pilih, Paulus pun bingung dan tidak tahu. Tetapi Paulus pun tahu bahwa selama ia masih diberikan kesempatan untuk hidup dalam dunia ini, berarti itulah kesempatan bagi dia untuk dapat melakukan pekerjaan di ladang Tuhan dan memberi buah dalam pelayanannya (ay. 22). Jika Paulus egois, mungkin Paulus akan memilih untuk mati dan masuk surga, tetapi karena Paulus tidak egois, maka Paulus merasa bahwa dirinya lebih perlu untuk hidup di dunia ini agar dapat menggembalakan jemaat-jemaat dan menyampaikan kabar baik kepada lebih banyak orang.

Kita mungkin masih belum memiliki prinsip sehebat Paulus, tetapi saya rindu kita semua minimal tetap berusaha untuk memiliki prinsip hidup yang benar, yaitu untuk memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang kita katakan dan perbuat. Dunia ini sedang membutuhkan lilin-lilin kecil yang mampu menerangi dunia yang gelap ini, dan lilin-lilin itu tidak lain dan tidak bukan adalah orang-orang percaya yang diutus Tuhan untuk menerangi dunia ini. Maukah kita menjadi pelaku-pelaku Firman dalam kehidupan kita, sehingga orang lain yang melihat kita juga dapat melihat bahwa kita hidup untuk Kristus, dan kalaupun kita mati, orang akan melihat bahwa kita pun mati untuk Kristus?


Bacaan Alkitab: Filipi 1:21-24
1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.
1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus -- itu memang jauh lebih baik;
1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.

Apa yang Dicari Orang?


Kamis, 15 Maret 2012
Bacaan Alkitab: Yohanes 6:22-24
Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya.” (Yoh 6:23)


Apa yang Dicari Orang?


Saya teringat akan sebuah lagu yang pernah saya dengar ketika saya masih ikut sekolah minggu, kurang lebih 15 tahun yang lalu, dan saya yakin lagu ini mungkin berusia jauh lebih tua lagi. Liriknya kira-kira seperti ini: “Apa yang dicari orang? Uang... Apa yang dicari orang? Uang... Apa yang dicari orang pagi petang siang malam? Uang uang uang, bukan Tuhan Yesus”. Lagu ini ternyata masih relevan dengan kehidupan kita di zaman sekarang ini. Bahkan saya melihat kecenderungan bahwa banyak orang datang ke gereja dengan tujuan mencari berkat Tuhan, dan justru lupa untuk mencari Tuhan. Mereka datang ke KKR-KKR kesembuhan Ilahi untuk mencari kesembuhan, namun kadang-kadang lupa untuk mencari Tuhan yang menyembuhkan mereka. Banyak orang datang ke kebaktian-kebaktian dengan tujuan meminta berkat Tuhan atas usaha mereka, tapi mereka justru lupa meminta Tuhan untuk hadir dalam hati mereka.

Sama halnya dengan apa yang disampaikan Tuhan dalam bacaan Alkitab kita hari ini. Jika kita membaca ayat-ayat sebelumnya, secara ringkas dapat saya katakan bahwa Yesus telah membuat mujizat dengan memberi makan 5.000 orang hanya dari lima roti dan dua ikan saja. Karena itu banyak orang ingin menjadikan Yesus sebagai raja (Yoh 6:15), tetapi Yesus menyingkir dan akhirnya menyusul murid-muridNya dengan berjalan di atas air, kemudian mereka pun menuju ke seberang danau. Yesus menyusul murid-muridNya tersebut adalah pada saat malam hari, sehingga ketika pada pagi hari keesokan harinya, orang-orang banyak yang tadinya ingin menjadikan Yesus sebagai raja mereka, tidak menemukan Yesus, dan mereka tidak menemukan perahu selain perahu yang telah digunakan oleh murid-muridNya untuk menyeberang danau. Orang-orang tersebut tentu saja tahu bahwa Yesus tidak naik ke dalam perahu tersebut, dan hanya murid-muridNya saja yang pergi menggunakan perahu (ay. 22).

Apa sebenarnya yang dicari oleh orang banyak itu dari Yesus? Mereka beranggapan bahwa Yesus yang bisa membuat mujizat melipatgandakan makanan, tentu saja mereka berpikir bahwa jika Yesus menjadi raja, tentunya mereka tak akan kuatir lagi soal makanan. Mereka hanya berpikir secara duniawi dan hanya memikirkan soal makanan saja. Mereka tidak sadar bahwa yang Yesus inginkan adalah mereka mencari Tuhan, dan bukan mencari berkat dan mujizat dari Tuhan. Selanjutnya diceritakan bahwa kabar tentang mujizat Yesus tersebut menyebar dengan cepat hingga orang-orang dari Tiberias datang ke lokasi Yesus membuat mujizat tersebut (ay. 23). Saya sangat yakin bahwa orang-orang ini (yang berjumlah cukup banyak karena Alkitab mengatakan mereka datang dengan beberapa perahu), datang ke tempat tersebut karena mengharapkan mujizat dari Tuhan, bukan karena mencari Tuhan Yesus. Namun karena mereka tidak dapat menemukan Yesus di situ, mereka pun akhirnya naik ke perahu-perahu dan pergi ke Kapernaum untuk mencari Yesus (ay. 24).

Sangat disayangkan bahwa orang-orang tersebut justru mencari Yesus karena mengharapkan berkatnya, dan bukan untuk mendengar kabar baik yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tapi kadang-kadang kita pun juga seperti itu bukan? Kita datang ke gereja karena gadis yang sedang kita incar juga datang ke gereja tersebut. Kita datang ke gereja dengan harapan bisa bertemu dengan jemaat lain yang berpotensi menjadi rekan bisnis kita. Kita datang ke gereja agar doa-doa kita dijawab Tuhan. Ingat, bahwa Tuhan ingin agar kita mengasihi Tuhan lebih daripada kita mengasihi berkat-berkat Tuhan. Ketika kita mengasihi Tuhan lebih dari apapun, maka segala berkat-berkatNya pun akan menjadi milik kita, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33).


Bacaan Alkitab: Yohanes 6:22-24
6:22 Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat.
6:23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya.
6:24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.



Selasa, 13 Maret 2012

Hidup Dekat dengan Kasih Karunia Tuhan


Rabu, 14 Maret 2012
Bacaan Alkitab: Ibrani 12:15-17
Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” (Ibr 12:15)


Hidup Dekat dengan Kasih Karunia Tuhan


Beberapa kali saya berbincang-bincang dengan teman-teman yang baru menikah (masih sekitar satu tahun menikah). Mereka mengatakan bahwa ketika masa pacaran dulu, masih tidak apa-apa jika mereka harus terpisah jarak karena kesibukan atau pekerjaan mereka. Tetapi ternyata setelah menikah, mereka merasa sangat berat jika harus berpisah walau hanya sehari saja. Ada sesuatu yang membuat mereka selalu ingin dekat dengan pasangan mereka, terlebih bagi teman-teman saya yang  telah memiliki anak.

Demikian juga dengan kehidupan kita sebagai orang percaya. Jika kita mengaku bahwa diri kita adalah orang-orang percaya, seharusnya kita juga memiliki kerinduan yang sama yaitu selalu ingin dekat dengan Tuhan. Firman Tuhan dalam bacaan Alkitab kita hari ini berkata agar kita tidak menjauhkan diri dari kasih karunia Allah (ay. 15). Apa itu kasih karunia Allah? Inti dari kasih karunia Allah bagi manusia berarti keselamatan dan penebusan dosa oleh Tuhan Yesus Kristus bagi setiap orang yang mau percaya kepada Yesus (Yoh 1:17). Kita diselamatkan karena kasih karunia Allah, dan bukan karena hasil usaha kita (Ef 2:8). Ketika kita sadar bahwa kita diselamatkan bukan karena usaha kita, maka seharusnya kita pun semakin bersyukur kepada Allah dan tidak akan menjauhkan diri kita dari Allah. Orang yang pergi menjauh dari Allah akan mendapati hidupnya semakin hancur dan berantakan.

Alkitab memberi contoh tentang kisah hidup Esau. Mungkin kita semua pernah membaca tentang bagaimana Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub, adiknya. Kira-kira, mengapa Esau sampai menjual hak kesulungannya dengan hanya seharga semangkuk sup kacang merah? Mungkinkah Esau sangat lapar? Saya rasa keluarga Ishak dan Ribka adalah keluarga yang kaya, Esau bisa saja meminta para pembantu untuk menyiapkan makanan dan pasti Esau akan makan kenyang dan enak. Saya rasa Esau tidak menganggap hak kesulungan itu sebagai sesuatu yang penting. Alkitab mengatakan bahwa Esau mempunyai nafsu yang rendah (ay. 16), dan akibat dari kesalahannya itu, ia pun akhirnya tidak menerima berkat yang sebetulnya sudah disiapkan Tuhan baginya (ay. 17). Memang penyesalan itu selalu datang kemudian.

Tetapi jika kita perhatikan, ada benang merah antara ayat 15 dengan kisah Esau tersebut. Saya merasa salah satu sebab Esau sampai menjual hak kesulungannya adalah karena ia tidak dekat dengan Ishak dan Ribka sebagai orang tua yang nantinya akan memberi berkat kepada dirinya. Alkitab mengatakan bahwa Esau tumbuh menjadi seorang pemburu, yang suka tinggal di padang, sementara Yakub lebih suka tinggal di rumah (Kej 25:27). Esau merupakan gambaran dari manusia yang suka hidup jauh dari sumber berkat, yaitu Tuhan. Manusia yang seperti ini akan mudah sekali memiliki akar pahit dan akhirnya memandang rendah berkat Tuhan. Mereka tidak hidup dekat dengan Tuhan sehingga mereka tidak mengetahui apa yang Tuhan inginkan bagi mereka.

Ini merupakan peringatan bagi kita untuk tidak menjauh dari kasih karunia Tuhan. Apa yang kita bisa lakukan untuk tidak jauh dari kasih karunia Tuhan? Pertama, miliki sikap seperti Maria yang duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan Tuhan (Luk 10:39). Hal ini dapat diartikan bahwa kita harus memiliki waktu khusus bagi Tuhan, yaitu dalam saat teduh dan jam-jam doa kita secara pribadi kepada Tuhan. Kedua, kita tidak boleh menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita (Ibr 10:25). Bagaimanapun juga, dengan menghadiri ibadah dan bersekutu dengan orang lain, hal tersebut akan membantu iman kita untuk bertumbuh. Ingatlah, bahwa semakin jauh kita dari Tuhan, maka semakin dekat kita dengan kebinasaan.


Bacaan Alkitab: Ibrani 12:15-17
12:15 Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
12:16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.
12:17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.