Rabu, 11 April 2012

Mendengarkan Didikan agar Mendapat Hikmat


Kamis, 12 April 2012
Bacaan Alkitab: Amsal 8:32-36
“Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak; janganlah mengabaikannya.” (Ams 8:33)


Mendengarkan Didikan agar Mendapat Hikmat


Saya melihat bahwa di masa sekarang ini, sudah jarang ada orang yang mau mendengarkan nasehat orang lain. Orang cenderung menganggap diri mereka sendiri adalah orang yang benar. Contohnya adalah ketika demo menentang kenaikan BBM. Banyak orang yang berdemo sebenarnya juga kurang tepat. Mereka menentang kenaikan harga BBM yang diperkirakan sebesar Rp1.500,- per liter, tetapi di satu sisi mereka sendiri juga tidak mempermasalahkan harga rokok yang mencapai Rp12.000,- per bungkus. Padahal rokok tersebut adalah rokok buatan luar negeri, yang dapat dikatakan bahwa uang tersebut dikeluarkan hanya untuk hal-hal yang tidak berguna dan uang tersebut lari ke perusahaan di luar negeri.

Seringkali kita bertindak tanpa mempertimbangkan dan melihat diri kita sendiri, apakah kita sudah lebih baik dari orang yang kita kritisi. Kita mengkritisi pemerintah, kita mengkritisi anggota DPR, kita mengkritisi pendeta kita, bahkan mengkritisi orang tua kita, padahal kita sendiri tidak mau dikritisi. Bacaan Alkitab kita hari ini berkata agar kita mendengarkan didikan, maka kita akan menjadi bijak (ay. 33). Ada beberapa hal positif yang dapat kita rasakan ketika kita mau mendengarkan didikan, yaitu:

Pertama, kita akan berbahagia (ay. 32). Berbahagia di sini digambarkan seperti anak-anak yang sedang bermain dengan senang dan bahagia (ay. 31). Kebahagiaan yang dimaksud di sini bukanlah kebahagiaan yang semu, melainkan kebahagiaan yang sejati, ketika kita mau mendengarkan suara Tuhan. Orang yang mendengarkan didikan Tuhan, yang setiap hari menunggu-nunggu, akan berbahagia (ay. 34).

Kedua, kita juga akan menjadi bijak, selama kit atidak mengabaikannya (ay. 33). Bijaksana berarti kita memiliki hikmat yang dari Tuhan, untuk dapat membedakan mana yang baik dan tidak baik, mana yang berkenan dan tidak berkenan kepada Tuhan, serta mana yang benar dan salah. Bijaksana pun bukan berarti hanya membedakan mana yang baik dan tidak baik, tetapi juga memampukan diri kita untuk bertindak sesuai dengan jalan yang benar.

Ketiga, kita tidak akan dirugikan (ay. 36). Ketika kita tidak mendengarkan didikan, maka kita tidak akan menjadi rugi. Ketika kita justru membenci didikan, maka justru kita akan mencintai maut. Memang didikan Tuhan itu kadang-kadang menyakitkan, tetapi justru didikan Tuhan itulah yang membuat hidup kita menjadi lebih baik lagi (Ibr 12:5).

Bagaimanakah kita merespon tentang didikan Tuhan? Walau kadang kala menyakitkan, bukankah didikan Tuhan itu adalah yang terbaik bagi kita? Mari kita bersikap bijaksana ketika kita sedang dididik Tuhan. Kita akan menjadi bijak jika kita mau mendengarkan dan instropeksi diri kita ketika kita sedang merasakan didikan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Amsal 8:32-36
8:31 aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.
8:32 Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, karena berbahagialah mereka yang memelihara jalan-jalanku.
8:33 Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak; janganlah mengabaikannya.
8:34 Berbahagialah orang yang mendengarkan daku, yang setiap hari menunggu pada pintuku, yang menjaga tiang pintu gerbangku.
8:35 Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan TUHAN berkenan akan dia.
8:36 Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya; semua orang yang membenci aku, mencintai maut."

Selasa, 10 April 2012

Pentingnya Follow-Up


Rabu, 11 April 2012
Bacaan Alkitab: Matius 12:43-45
“Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini."” (Mat 12:45)


Pentingnya Follow-Up


Bacaan Alkitab kita pada hari ini rasa-rasanya cukup mudah dimengerti. Tuhan Yesus pun tidak menggunakan perumpamaan dengan kata-kata yang sulit dimengerti. Tuhan Yesus mengatakan bahwa ketika seorang manusia dibebaskan dari roh jahat, maka proses tersebut tidak berhenti sampai di situ saja. Roh jahat yang keluar itu mengembara ke tempat-tempat lain untuk mencari perhentian, atau mencari tujuan baru (ay. 43). Roh jahat selalu mencari manusia sebagai tempat perhentiannya.

Walaupun demikian, ada kalanya roh jahat tersebut tidak menemukan tempat yang baru sehingga memutuskan untuk kembali ke manusia yang dulunya telah ia tinggalkan. Ketika kembali, ternyata rumah (gambaran dari manusia itu sendiri) itu kosong, tidak ada yang menempati (ay. 44). Memang selama roh jahat menempati rumah tersebut, kondisi rumah pasti sangat berantakan. Tetapi ketika roh jahat tersebut diusir keluar, maka rumah tersebut pun dirapikan sehingga menjadi bersih dan teratur.

Apa yang kurang dari rumah yang bersih dan teratur tersebut? Satu-satunya kekurangannya adalah tidak ada yang menempati rumah tersebut. Rumah yang sudah bersih dan rapi itu tidak ada yang menempati, sehingga roh jahat tersebut kembali ke rumah itu, dan bahkan mengajak roh-roh jahat lain untuk datang dan tinggal di situ (ay. 45). Hal tersebut mengakibatkan keadaan orang tersebut lebih buruk dari keadaan sebelumnya.

Hal ini sebetulnya merupakan “sindiran” Tuhan Yesus kepada bangsa Israel, dimana awalnya Tuhan yang memilih bangsa Israel menjadi bangsa pilihan. Namun seiring berjalannya waktu, mereka pun berbalik dari Tuhan dan menyembah dewa-dewa lain, sehingga mereka dibuang ke Babel. Sekembalinya dari Babel, sebenarnya Tuhan juga sudah “memurnikan” bangsa Israel. Akan tetapi ternyata bangsa Israel sama seperti rumah yang kosong, yang kemudian justru menjadi lebih jahat dari sebelumnya, bahkan mereka pun meyalibkan Tuhan Yesus, sang Mesias yang diutus Allah Bapa kepada mereka.

Apa yang menyebabkan bangsa Israel menjadi seperti itu? Kuncinya adalah satu, tidak adanya follow up setelah “roh jahat diusir keluar”. Tidak ada yang mengisi rumah setelah rumah tersebut dibersihkan. Jika kita melihat sejarah bangsa Israel, banyak nabi muncul sebelum pembuangan ke Babel, tetapi setelah kembali ke pembuangan, sangat jarang nabi muncul hingga kelahiran Tuhan Yesus. Akibatnya berkembanglah ajaran-ajaran dari ahli Taurat dan orang Farisi, yang sebetulnya muncul dari penyelidikan yang mendalam tentang Taurat, tetapi melupakan esensi menjadi “pelaku Firman”.

Hal tersebut juga menjadi perhatian bagi orang percaya di masa saat ini. Sering kali kita juga melupakan prinsip ini. Kita hanya fokus kepada bagaimana menjaring jiwa-jiwa baru untuk percaya kepada Kristus, tetapi kita melupakan follow-up terhadap mereka. Mereka memang percaya kepada Yesus Kristus, tetapi hanya memiliki pemahaman dan pengertian yang dangkal tentang Firman Tuhan. Kita sibuk mengadakan KKR di sana-sini tetapi lupa untuk melakukan langkah selanjutnya yaitu memuridkan mereka. Di beberapa gereja pun, jemaat tidak didorong untuk menjadi jemaat yang melayani, tetapi gereja sepertinya cukup senang jika jemaat hanya menjadi jemaat yang pasif. Gereja tidak menyiapkan wadah bagi jemaat untuk mulai menjadi jemaat yang melayani, dan nantinya menjadi pemimpin gereja.

Kita harus ingat, bahwa jika selama ini kita menuju ke barat, padahal seharusnya kita menuju ke timur, cara  menyelesaikan masalah itu bukan hanya berbalik 180 derajat dan kemudian masalah tersebut selesai, tetapi kita harus berbalik 180 derajat dari awalnya menghadap barat sehingga kita menghadap timur, dan kemudian kembali melangkah di tujuan yang benar, yaitu ke timur. Demikian juga dengan perjalanan orang percaya, tidak hanya cukup sampai “mengusir roh jahat dan membuat rumah bersih”, tetapi juga bagaimana “mengisi rumah dan menjaga rumah tersebut” sehingga ketika ada roh jahat kembali, kita dapat “mempertahankan rumah tersebut”.


Bacaan Alkitab: Matius 12:43-45
12:43 "Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya.
12:44 Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur.
12:45 Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini."

Senin, 09 April 2012

Jabatan yang Diberikan Tuhan


Selasa, 10 April 2012
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 3:19-21
“Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.” (1 Sam 3:20)


Jabatan yang Diberikan Tuhan


Saya sering mengamati, bahwa di Indonesia ini, semakin panjang gelar yang diperoleh seseorang, maka semakin terhormat kedudukan orang tersebut. Itulah mengapa banyak para pejabat di pemerintahan yang mati-matian mencari gelar S1, S2, hingga S3. Orang merasa sangat terhormat jika pada namanya tercantum gelar sarjana, master, hingga doktoral. Bahkan ada yang memiliki lebih dari satu gelar sarjana atau master. Dan ternyata fenomena tersebut juga terjadi dalam pelayanan. Bukannya mengkritik, tetapi saya pernah membaca suatu renungan harian dimana penulis renungan harian tersebut disebutkan lengkap dengan gelar-gelarnya, seperti Pdt. Dr. [nama orang], S.Th., S.PAK, M.Th, dan seterusnya.

Memang tidak ada yang salah dengan mencari banyak ilmu. Tetapi memang kadang-kadang batas antara ilmu yang dimiliki seseorang dengan kesombongan itu sangatlah tipis. Dalam kasus di atas, saya sendiri tidak menyalahkan hamba Tuhan yang menulis renungan tersebut. Justru saya bangga, karena renungan tersebut memang ditulis oleh hamba-hamba Tuhan yang kompeten. Tetapi ketika saya coba membandingkan dengan salah satu renungan terbitan luar negeri yang cukup terkenal bahkan hingga ke Indonesia, ternyata nama penulis renungan tersebut tidak mencantumkan gelar si penulis, cukup nama depan dan nama belakang.

Sekali lagi saya katakan bahwa Alkitab tidak pernah mengharamkan penulisan nama beserta gelar yang panjang. Akan tetapi dalam bacaan Alkitab kali ini, kita dapat melihat bagaimana Samuel mendapatkan jabatan nabi, bahkan salah satu nabi yang paling besar dalam sejarah bangsa Israel karena Samuel adalah nabi terakhir yang memimpin kedua belas suku Israel sebelum akhirnya mereka memiliki raja seperti bangsa-bangsa lain.

Ketika Samuel diserahkan ibunya kepada imam Eli sebagai bentuk nazar yang telah diucapkannya, Tuhan sendiri telah memanggil Samuel semenjak dia kecil. Dan ketika ia semakin besar, Alkitab mengatakan bahwa Tuhan senantiasa menyertai Samuel (ay. 19a). Apa bentuk penyertaan Tuhan kepada Samuel? Alkitab mengatakan bahwa dari seluruh Firman Tuhan yang disampaikan Tuhan kepada Samuel, tidak ada satupun dari FirmanNya tersebut yang dibiarkanNya gugur (ay. 19b). Hal ini berarti bahwa segala Firman yang disampaikan kepada Samuel, seluruhnya adalah suara Tuhan dan benar-benar dilakukan Tuhan. Samuel bukan hamba Tuhan yang menyampaikan khotbah atau nubuatan dengan tingkat keberhasilan 99%, melainkan benar-benar 100% karena tidak ada satu pun Firman yang dibiarkan Tuhan gugur.

Apapun Firman yang disampaikan Samuel memang benar-benar Firman yang berasal dari Tuhan. Hal tersebut terjadi karena sejak kecil, Samuel memang sudah peka terhadap suara Tuhan. Ketika di masa tersebut, sangat jarang Tuhan menyampaikan FirmanNya secara langsung, dan juga sangat jarang orang mendapatkan penglihatan, tetapi justru dari kecil Samuel memiliki hubungan pribadi yang sangat intim dengan Tuhan. Alkitab selanjutnya mengatakan bahwa ketika Tuhan menampakkan diri di Silo, Tuhan telah terlebih dulu menyatakannya kepada Samuel dengan perantaraan FirmanNya (ay. 21).

Apa konsekuensinya bagi Samuel? Samuel tidak perlu mengiklankan diri bahwa ia adalah nabi Tuhan. Samuel tidak perlu banyak berbicara bahwa Firman yang disampaikan Samuel adalah memang benar-benar suara Tuhan. Seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba tahu bahwa Samuel memang telah diberi jabatan nabi oleh Tuhan (ay. 20). Memang Samuel juga pernah mendapatkan didikan langsung dari Imam Eli. Tetapi terlepas dari pendidikan keimaman yang diterimanya, Samuel memiliki jabatan nabi karena memang ia memiliki karunia dan kompetensi dari Tuhan sendiri.

Adakah di antara kita yang saat ini sedang melayani Tuhan namun dengan motivasi yang kurang benar? Kita bisa saja mengambil kuliah S1 atau S2, atau bahkan S3 Teologi dengan maksud agar ketika kita melayani Tuhan, orang lain dapat lebih menghormati kita. Tetapi sebenarnya di mata Tuhan, kita semua adalah sama saja. Gelar bukan hal yang menentukan kita selamat atau tidak. Gelar juga bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah pelayanan kita akan menjadi pelayanan yang hebat atau tidak, atau apakah jemaat akan menghargai kita atau tidak. Ketika kita memang benar-benar melayani karena perintah Tuhan, maka Tuhan akan memberikan jabatan pelayanan tersebut kepada kita, dan ketika kita telah dipercayakan jabatan tersebut, maka tanpa harus kita banyak “mengiklankan diri kita sendiri”, orang lain akan mengerti bahwa kita memang adalah pelayan yang dipilih Tuhan.


Bacaan Alkitab: 1 Samuel 3:19-21
3:19 Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.
3:20 Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.
3:21 Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.

Sabtu, 07 April 2012

Makna Kebangkitan Kristus


Senin, 9 April 2012
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 15:12-19
“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Kor 15:14)


Makna Kebangkitan Kristus


Kemarin kita merayakan hari Paskah, sebagai hari ketika Yesus bangkit dari kematian. Dengan kebangkitan Tuhan Yesus, maka semua penderitaan dan kematian Yesus menjadi sempurna, karena jika Yesus tidak bangkit, maka kematian Yesus hanya menjadi kematian yang biasa saja, dan tidak akan ada faedahnya bagi kita. Tanpa kebangkitanNya dari antara orang mati, maka Yesus tidak ada bedanya dengan para nabi.

Pada saat surat ini ditulis oleh Paulus, ada banyak ajaran-ajaran yang mencoba untuk mengaburkan kematian dan juga kebangkitan Yesus sehingga menyesatkan para jemaat. Ada ajaran yang mengatakan bahwa pada saat Yesus disalib, Allah tidak tega dan akhirnya menggantikan posisi Yesus dengan Yudas Iskariot. Ada pula ajaran yang mengatakan bahwa sebenarnya Yesus mati, namun murid-murid Yesus mencuri mayat Yesus sehingga seakan-akan Yesus bangkit (Mat 28:11-15). Tetapi Paulus dengan tegas mengatakan bahwa Yesus telah mati dan dibangkitkan sesuai dengan kitab suci (1 Kor 15:3-4).

Itulah inti dari pengajaran yang hendak Paulus sampaikan dalam bacaan kita hari ini. Paulus di awal menekankan bahwa ada kebangkitan orang mati (ay. 12). Hal ini penting karena jika seseorang tidak percaya tentang kebangkitan orang mati, maka ia juga tidak akan percaya bahwa Kristus juga bangkit dari antara orang mati (ay. 13 & 16). Itulah mengapa salah satu poin dalam pengakuan iman rasuli adalah “kebangkitan orang mati” atau di beberapa versi disebutkan sebagai “kebangkitan tubuh” atau “kebangkitan daging”. Mengapa hal ini penting? Karena seluruh kehidupan Yesus, sejak kelahiranNya, pelayananNya, penderitaanNya, kematianNya, kebangkitanNya, kenaikanNya ke surga,  serta nanti kedatanganNya kembali ke dunia ini untuk kedua kali, merupakan satu alur yang tidak dapat dipisahkan bagian per bagiannya. Kelahiran Yesus tanpa pelayananNya akan menjadi sia-sia. PelayananNya tanpa penderitaanNya juga akan menjadi sia-sia. PenderitaanNYa tanpa kematianNya juga akan menjadi sia-sia. KematianNya tanpa kebangkitanNya juga akan menjadi sia-sia (ay. 14). KebangkitanNya tanpa kenaikanNya ke surga juga akan sia-sia. Terakhir, kenaikanNya tanpa kedatanganNya kembali juga akan menjadi sia-sia belaka.

Dalam Alkitab sudah cukup banyak dituliskan tentang orang mati yang dibangkitkan. Nabi Elisa pernah membangkitkan anak yang sudah mati (2 Raj 4:32-35). Petrus pernah membangkitkan Dorkas yang sudah mati (Kis 9:37-41). Paulus pernah membangkitkan Euthikus yang mati karena jatuh dari tingkat tiga (Kis 20:9-12). Yesus sendiri pernah tiga kali membangkitkan orang mati, yaitu anak kepala rumah ibadat (Mat 9:18-26), anak muda di Nain (Luk 7:11-17), serta Lazarus (Yoh 11:39-44). Jika dalam Perjanjian Lama maupun Baru juga tertulis tentang kisah kebangkitan orang mati, bagaimana mungkin kita juga tidak percaya bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati? Jika Yesus tidak bangkit dari antara orang mati, maka Paulus dan juga semua penginjil dan semua hamba Tuhan akan menjadi seorang pendusta (ay. 15), segala iman dan kepercayaan kita adalah sia-sia (ay. 17), dan semua orang akan menjadi binasa (ay. 18).

Kebangkitan Yesus menunjukkan kemenanganNya atas maut, sehingga kita bisa berkata “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1 Kor 15:15). Kebangkitan Yesus membuat segala penderitaan dan kematianNya menjadi sempurna. Memang Yesus telah mati dengan menanggung seluruh dosa-dosa dan kutuk yang seharusnya kita terima, tetapi kebangkitanNya menyempurnakan sehingga sama seperti kita yang percaya kepada Yesus menjadi satu dalam kematianNya, kita juga menjadi satu dalam kebangkitanNya (Rm 6:5). Dengan kita menjadi satu dalam kebangkitanNya, maka setiap orang yang percaya kepada Yesus akan hidup, karena Yesus adalah kebangkitan dan hidup (Yoh 11:25), dan maut tidak akan lagi berkuasa dalam hidup kita (Rm 6:9). Ketika kita mengenal dia dan menjadi satu dalam kematian dan kebangkitanNya, maka kita pun juga akan memperoleh kebangkitan dari antara orang mati (Flp 3:10-11). Oleh karena itu, dalam kehidupan kita, kita tidak boleh hanya memikirkan perkara-perkara duniawi saja. Iman dan pengharapan kita kepada Kristus tidak boleh hanya terbatas pada berkat-berkat duniawi, harta benda dan rejeki di dunia ini saja. Jika demikian, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia (ay. 19). Mengapa demikian? Karena Yesus adalah Tuhan yang berkuasa di bumi dan di surga (Mat 28:18), dan karena kita hidup tidak hanya untuk di bumi saja, tetapi juga kehidupan kekal setelah kita nanti mati, maka kita pun perlu mempersiapkan diri kita untuk perkara-perkara surgawi. Kita harus menaruh iman dan pengharapan kita kepada Kristus untuk hidup di dunia ini dan hidup di surga nanti. Karena kebangkitan Kristus telah membuat kita juga memiliki kebangkitan dan kehidupan kekal di surga kelak, maka sudah seharusnya kita menyenangkan hati Tuhan dan mengumpulkan harta di surga (Mat 6:20).


Bacaan Alkitab: 1 Korintus 15:12-19
15:12 Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?
15:13 Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
15:14 Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.
15:15 Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus -- padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan.
15:16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
15:17 Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
15:18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.
15:19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.

Jumat, 06 April 2012

Belajar dari Para Wanita pada Saat Kebangkitan Yesus


Minggu, 8 April 2012
Bacaan Alkitab: Lukas 24:1-11
“Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.” (Luk 24:11)


Belajar dari Para Wanita pada Saat Kebangkitan Yesus


Di masa Tuhan Yesus hidup, kaum wanita tidak memiliki akses untuk maju dan tampil di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu cukup unik jika Alkitab memberi ruang untuk menulis tentang para wanita yang hidup di zaman itu. Lebih unik lagi ketika para wanita tersebut disebutkan dalam kisah Paskah ini, mulai dari wanita yang mengurapi kaki Yesus, wanita-wanita yang menyaksikan kematian Yesus di atas kayu salib, dan wanita yang mendapat kesempatan pertama melihat kebangkitan Yesus seperti  bacaan Alkitab kita pada hari ini. Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kisah kebangkitan Yesus yaitu:

Pertama, kita harus bangun pagi untuk mencari Tuhan (ay. 1). Memang Tuhan sendiri pernah berfirman bahwa Ia akan mati namun akan bangkit pada hari yang ketiga, dan saya yakin bahwa para wanita itu juga mendengar apa yang Yesus katakan tentang kematian dan kebangkitanNya. Sehingga menurut saya, apa yang dilakukan oleh para wanita tersebut dengan membawa rempah-rempah untuk merempah-rempahi tubuh Yesus adalah juga kurang tepat. Namun kita dapat melihat bahwa para wanita tersebut pergi ke kubur pada pagi-pagi benar. Tidak seperti murid-murid Yesus yang bersikap lebih pasif, para wanita justru lebih aktif dan mau membayar harga bangun pagi-pagi benar untuk merempahi tubuh Yesus. Hal ini pun patut kita contoh, yaitu bagaimana kita harus bangun pagi untuk mencari Tuhan. Pemazmur mengatakan bahwa ia bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janjiMu (Mzm 119:148).

Kedua, kita harus memiliki sikap takut akan Tuhan dan rendah hati (ay. 5). Ketika para wanita sampai di kubur Yesus, mereka menemukan batu sudah terguling (ay. 2), dan tak mungkin para wanita itu sanggup menggulingkan batu, apalagi kubur Yesus pun telah dimeterai dan dijaga oleh sekumpulan orang (Mat 27:63-66). Sehingga mereka pun semakin terkejut karena tidak menemukan mayat Tuhan Yesus (ay. 3), dan lebih terkejut lagi ketika tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan (ay. 4). Apa yang mereka lakukan, mereka takut dan menundukkan kepala (ay. 5). Ini merupakan gambaran sikap yang Tuhan inginkan yaitu takut dan rendah hati, walau saya yakin bahwa saat itu para wanita lebih cenderung ke rasa takut yang berlebihan, tetapi hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk dapat bersikap takut yang benar kepada Tuhan.

Ketiga, kita harus percaya kepada Firman Tuhan, dan lebih baik lagi jika kita dapat menyimpan Firman tersebut dalam hati dan pikiran kita, serta tidak melupakannya (ay. 6-8). Saat itu, kedua orang tersebut (kemungkinan adalah malaikat Tuhan) mengatakan kebenaran Firman Tuhan bahwa Yesus akan mati dan bangkit pada hari yang ketiga. Saya cukup yakin saat itu para wanita (dan juga murid-murid Yesus) sudah lupa akan apa yang pernah diucapkan Tuhan Yesus tentang hal ini. Kita harus menyiapkan hati kita sedemikian rupa sehingga ketika kita mendengar Firman Tuhan, maka Firman tersebut dapat tumbuh subur dan berbuah hingga 100 kali lipat. Jangan sampai masalah dan ketakutan dunia membuat kita menjadi lupa akan Firman Tuhan tersebut.

Keempat, kita harus bersaksi dan menyampaikan Firman kepada orang lain (ay. 9-11). Setelah para wanita menemukan bahwa Yesus telah bangkit, mereka tidak tinggal diam, melainkan kembali ke kota dan menceritakan hal tersebut kepada para murid dan juga semua saudara yang lain, serta para rasul (ay. 9-10), walaupun orang yang mereka sampaikan itu justru menganggap apa yang diucapkan para wanita adalah omong kosong belaka (ay. 11). Demikian juga apa yang harus kita lakukan, yaitu bersaksi (terutama kepada saudara seiman) dan menyampaikan Firman Tuhan kepada orang lain. Kita tidak bisa menyimpan Firman tersebut untuk diri kita sendiri, tetapi kita juga memiliki kewajiban untuk menyampaikan Firman tersebut kepada orang lain.

Mari di hari kebangkitan Tuhan Yesus ini, kita memiliki sikap seperti para wanita. Bukan masalah perbedaan antara pria atau wanita, tetapi bagaimana kita boleh mencontoh hal-hal baik yang dilakukan oleh para wanita dalam bacaan Alkitab hari ini. Yesus sudah bangkit dari kematian demi menyelamatkan kita. Masihkah kita berdiam diri terhadap kabar sukacita ini? Bukankah sudah seharusnya kita menyampaikan kabar tersebut kepada orang lain?

Bacaan Alkitab: Lukas 24:1-11
24:1 tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.
24:2 Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu,
24:3 dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.
24:4 Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.
24:5 Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?
24:6 Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea,
24:7 yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga."
24:8 Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu.
24:9 Dan setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain.
24:10 Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul.
24:11 Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.

Yusuf orang Arimatea


Sabtu, 7 April 2012
Bacaan Alkitab: Matius 27:57-60
“Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.” (Mat 27:57)


Yusuf orang Arimatea


Nama Yusuf orang Arimatea mungkin memang tidak pernah disebutkan dalam Alkitab selain bahwa ia adalah salah satu pihak yang “berjasa” dalam menguburkan Yesus. Namanya pun disebutkan dalam keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Hari ini kita akan melihat mengapa nama Yusuf dari Arimatea sangat penting hingga keempat penulis Injil pun tidak melupakan namanya.

Pertama, Yusuf orang Arimatea adalah seorang yang kaya namun telah menjadi murid Yesus (ay. 57). Ini mungkin menjadi alasan pertama mengapa nama Yusuf orang Arimatea disebut dalam keempat Injil tersebut. Yusuf memang orang kaya, tetapi ia adalah orang kaya yang mau menjadi murid Yesus juga. Ingatkah tentang orang muda yang kaya yang sedih ketika Yesus memintanya untuk menjual seluruh hartanya dan membagi-bagikan kepada orang miskin? Tidak demikian dengan Yusuf dari Arimatea. Ketika Alkitab mengatakan bahwa ia adalah murid Yesus, pastilah ia juga telah melakukan apa yang Tuhan Yesus ajarkan.

Kedua, Yusuf orang Arimatea adalah seseorang yang sangat berpengaruh (ay. 58). Ia dapat dengan mudah pergi menghadap Pilatus (yang merupakan penguasa daerah Yudea saat itu) dan meminta mayat Yesus. Hebatnya lagi, Pilatus pun dengan segera memerintahkan agar mayat Yesus diserahkan kepada Yusuf dari Arimatea. Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena Injil Markus mencatat bahwa Yusuf dari Arimatea tersebut adalah anggota Majelis Besar yang terkemuka (Mrk 15:43). Namun tidak seperti rekan-rekannya, Yusuf dari Arimatea adalah anggota Majelis Besar yang takut akan Tuhan. Ia tidak setuju dengan pendapat dan tindakan dari rekan-rekan seprofesinya (Luk 23:51). Hal ini menunjukkan bahwa Yusuf dari Arimatea bisa tetap memegang prinsip hidupnya walau berada di tengah-tengah lingkungan dan pekerjaan yang memiliki prinsip yang berbeda.

Ketiga, Yusuf mau membayar harga untuk memakamkan Yesus (ay. 59-60). Setelah mendapatkan ijin dari Pilatus, maka Yusuf pun mengambil mayat itu, mengafani dengan kain lenan yang putih bersih, serta membaringkan dalam kubur yang baru, yang digali di dalam bukit batu. Yusuf dari Arimatea tidak meletakkan mayat Yesus di dalam kubur biasa, bercampur dengan mayat orang lain. Alkitab mengatakan bahwa Yusuf dari Arimatea membaringkan mayat Yesus dalam kuburnya yang baru (ay. 60a). Apa artinya ini? Saya yakin bahwa Yusuf dari Arimatea bukanlah orang yang berprofesi sebagai makelar makam, sehingga bisa dibilang bahwa kubur tersebut sebenarnya merupakan kubur yang awalnya disiapkan bagi dirinya sendiri. Sebagai orang yang kaya, Yusuf dari Arimatea tentu ingin dikuburkan dengan layak di tempat yang khusus. Tetapi apa yang terjadi, kematian Yesus di atas kayu salib mengubah rencana Yusuf dari Arimatea. Kini ia pun harus merelakan makamnya ditempati oleh Yesus. Saya sendiri pernah melihat brosur pemakaman modern dengan sistem hak milik, dimana kita akan bayar sekali seumur hidup dan akan mendapatkan fasilitas selamanya tanpa perlu membayar biaya apapun lagi selanjutnya), dan harga paling murah dari tanah berukuran 2 meter x 1 meter adalah Rp20 juta. Bayangkan harga kubur Yesus, yang masih baru dan terletak di dalam bukit batu. Harga itulah yang dibayar Yusuf untuk memakamkan Yesus, walaupun sebagai murid Tuhan, tentu Yusuf pernah mendengar bahwa Yesus akan mati namun pada hari ketiga akan bangkit kembali.

Di masa Paskah ini, mari kita instropeksi apakah kita telah bersikap seperti Yusuf dari Arimatea? Apakah segala kekayaan, harta benda, dan berkat-berkat Tuhan tidak menjauhkan kita dari Tuhan, melainkan semakin membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan? Apakah kita tetap dapat memegang iman dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari kita, walaupun lingkungan kita melakukan apa yang sebaliknya? Apakah kita sudah membayar harga untuk mengiring Tuhan dan menyenangkan hatiNya? Saya rindu kita semua semakin bertumbuh dan hidup semakin kudus sehingga kita menyenangkan hati Tuhan. Tuhan sudah memberikan yang terbaik bagi kita melalui pengorbanan, kematian, dan kebangkitan Yesus, sudahkah kita memberikan yang terbaik bagiNya?


Bacaan Alkitab: Matius 27:57-60
27:57 Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.
27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.
27:59 Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,
27:60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.

Sudah Selesai


Jumat, 6 April 2012
Bacaan Alkitab: Yohanes 19:28-30
“Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” (Yoh 19:30)


Sudah Selesai


Ketika kita bekerja, tentunya kita mempunyai target-target tertentu yang harus kita capai. Entah pekerjaan kita merupakan pekerjaan rutin, ataukah pekerjaan kita lebih ke arah project based. Akan ada kondisi dimana kita diminta memenuhi suatu target tertentu yang diberikan atasan kita. Lalu bagaimana misalkan kita telah menyelesaikan pekerjaan kita atau target yang diberikan kepada kita? Ketika kita berkata kepada pimpinan kita “Sudah selesai”, sebenarnya hal tersebut bukanlah suatu penyelesaian yang sebenarnya, karena suka atau tidak suka pasti akan ada pekerjaan, proyek, atau target baru yang diberikan atasan kita di masa yang akan datang.

Tetapi tidak demikian halnya dengan apa yang diucapkan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Tuhan Yesus menyadari bahwa apa yang ia lakukan ini memang merupakan tujuan hidupNya. Ia turun dari tahta sebagai Anak Allah ke dunia ini dan menjadi manusia biasa seperti kita, semuanya dilakukanNya demi menyelesaikan tujuan hidupNya. Hal ini bahkan tetap disadari Tuhan Yesus hingga ia berada di atas kayu salib. Alkitab mengatakan bahwa setelah mengalami penderitaan dan penyaliban yang amat berat, Yesus masih tahu bahwa ia harus menyelesaikan hingga akhir. Saat menjelang akhir pun Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai (ay. 28). Apakah arti dari “selesai” itu? Selesai di sini dapat berarti bahwa apa yang dilakukan Yesus telah menggenapi apa yang tertulis dalam kitab Suci, yaitu menyelesaikan tugasNya sebagai Mesias, Juruselamat dunia.  

Bahkan ucapan Yesus sebelum mengucapkan “Sudah selesai”, yaitu ketika Ia mengatakan “Aku haus”, juga dilakukanNya untuk menggenapi apa yang tertulis dalam kitab suci (ay. 28b), yaitu sebagaimana yang telah tertulis di kitab Mazmur 69:22. Yesus pun akhirnya meminum angggur asam, yang diberikan oleh para prajurit dengan cara mencucukkan bunga karang ke anggur tersebut dan mengunjukkannya ke mulut Yesus (ay. 29). Alkitab pun mengatakan bahwa Yesus meminum anggur asam tersebut (ay. 30).

Barulah setelah ia meminum anggur asam tersebut (yang artinya menggenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci), Yesus berkata “Sudah selesai”. Itulah perkataan terakhir Kristus menurut Injil Yohanes (yang ditulis oleh Yohanes, murid yang sangat dikasihi Yesus). Sesudah Ia mengucapkan kalimat tersebut, maka Tuhan Yesus menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya (ay. 30). Yesus mati bukan karena kehabisan darah atau karena rasa sakit yang amat sangat, tetapi Yesus mati karena Ia menyerahkan nyawaNya kepada Allah. Yesus mati dengan penuh kesadaran, karena tahu bahwa misinya di dunia ini adalah untuk mati di atas kayu salib demi menebus dosa dunia.

Ucapan Yesus yaitu “sudah selesai”, memberikan kepastian kepada kita bahwa dosa kita pun telah diselesaikan oleh Yesus, sepanjang kita mau percaya kepadaNya. Segala permasalahan kita pun juga sudah diselesaikan oleh Yesus, sepanjang kita juga mau berusaha dan berserah kepadaNya. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk berkata kepada diri kita sendiri bahwa “permasalahan yang kita hadapi kok nggak selesai-selesai”, atau “hidup kok kayaknya sulit sekali, nggak ada jalan keluar”. Ingat, bahwa kematian Yesus di kayu salib itu bertujuan untuk menebus kita dari anak-anak yang hidup di bawah perhambaan dosa menjadi anak-anak Allah, dan ketika kita menjadi anak-anak Allah, maka kita mendapatkan fasilitas yang luar biasa. Jika keselamatan saja diberikan Allah kepada kita, apalagi hal-hal duniawi yang lain, entah itu uang, rejeki, jodoh, kesehatan, dan lain sebagainya, sepanjang kita mencari dulu Kerajaan Allah dan segala kebenarannya, maka hal-hal lain akan ditambahkan ke dalam kehidupan kita (Mat 6:33).


Bacaan Alkitab: Yohanes 19:28-30
19:28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia -- supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci --: "Aku haus!"
19:29 Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.