Selasa, 22 Mei 2012

Iman yang Tidak Tergantung pada Latar Belakang Kita


Jumat, 18 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Matius 15:21-28
Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.” (Mat 15:28)


Iman yang Tidak Tergantung pada Latar Belakang Kita


Jika kita sepintas membaca bacaan Alkitab kita pada hari ini, kita akan merasa, “Kok Tuhan Yesus gitu amat sih, kok tega ngomong agak kasar kepada ibu-ibu yang meminta tolong kepadaNya ya?”. Memang sepintas demikian, tetapi jika kita perhatikan, ada sejumlah hal menarik yang dapat kita lihat dalam peristiwa ini.

Peristiwa ini dimulai ketika Yesus pergi untuk menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon (ay. 21), dimana daerah Tirus dan Sidon tersebut sebenarnya bukan termasuk daerah orang Yahudi. Mengapa Yesus menyingkir ke sana? Ada banyak pendapat, tetapi saya melihat ada dua kemungkinan utama, yaitu untuk menyingkir dari para imam-imam kepala, ahli Taurat dan orang Farisi yang mencoba membunuhNya (karena memang belum saatnya Yesus mati), atau karena memang Yesus ingin pergi menyendiri. Hal ini terutama dilakukan Yesus untuk mengambil waktu bersekutu dengan BapaNya, atau juga untuk menjauhi orang-orang Yahudi yang mencoba menjadikanNya sebagai raja duniawi.

Saat di daerah tersebut, datanglah seorang perempuan asli Kanaan yang berseru-seru meminta Tuhan untuk menyembuhkan anak perempuannya yang sedang kerasukan setan (ay. 22). Herannya, Tuhan Yesus sama sekali tidak menjawab permintaan perempuan Kanaan tersebut. Padahal kita mengenal Yesus sebagai orang yang ramah yang tidak segan-segan menolong orang  yang meminta tolong kepadaNya. Justru dengan diamnya Tuhan Yesus, murid-muridNya datang kepada Yesus karena merasa terganggu dengan teriakan teriakan perempuan Kanaan tersebut (ay. 23). Barulah setelah itu Yesus pun menjawab perempuan Kanaan tersebut, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (ay. 24).

Bagaimana jika kita berdoa kemudian dijawab Tuhan dengan perkataan seperti itu? Kita mungkin kita akan putus asa dan menyerah. Tetapi tidak dengan perempuan Kanaan ini, ia justru mendekat dan menyembah Tuhan serta berkata “Tuhan, tolonglah aku” (ay. 25). Bahkan dalam ayat paralel di kitab Markus, dikatakan bahwa perempuan tersebut datang dan tersungkur di depan kaki Yesus (Mrk 7:25). Ucapan Yesus yang selanjutnya justru lebih keras menyindir perempuan Kanaan tersebut, yaitu “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (ay. 26). Secara tidak langsung, Yesus mengatakan bahwa bangsa Israel adalah anak-anak dan bangsa di luar Israel merupakan anjing. Bukankah perkataan tersebut adalah hal yang kasar, bahkan bagi kita yang hidup di zaman ini? Saya tidak tahu mengapa Tuhan Yesus sampai mengatakan hal tersebut, apakah hanya untuk menguji iman dari perempuan Kanaan tersebut atau karena ada alasan lain.

Tetapi menarik apa jawaban perempuan Kanaan tersebut. Ia tidak membantah Tuhan, tetapi berkata, “Benar Tuhan” (ay. 27a). Ia memposisikan dirinya sebagai “anjing” yang sebenarnya tidak layak menerima mujizat dari Tuhan. Tetapi perempuan Kanaan tersebut melanjutkan bahwa walaupun ia sebenarnya tidak layak, sebenarnya ia tidak meminta remah-remah atau sisa yang jatuh dari meja tuan dan anak-anak tersebut (ay. 27b). Ia tidak membantah Tuhan tetapi tetap meminta jatah dari Tuhan Yesus walaupun mungkin jatah yang diberikan hanya sisa-sisa, tetapi perempuan Kanaan tersebut yakin bahwa sisa-sisa dari Tuhan Yesus pun sudah cukup bagi dirinya. Itulah mengapa akhirnya Tuhan Yesus pun memuji iman dari perempuan Kanaan tersebut, dan berkata, “Jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (ay. 28). Saat itulah anaknya juga langsung sembuh.

Iman seperti inilah yang Tuhan ingin. Tuhan tidak memandang apapun latar belakang kita, suku bangsa kita, pendidikan kita, pekerjaan kita, dan lain sebagainya. Tuhan melihat iman kita. Yang penting adalah seberapa besar kita memiliki iman kepada Tuhan. Mungkin saja Tuhan seperti seakan-akan mengulur waktu untuk menolong kita, tetapi ketika kita tetap beriman dan tidak menyerah, maka tidak akan ada hal yang mustahil untuk terjadi. Sudahkah kita memiliki iman dan keteguhan seperti perempuan Kanaan tersebut?


Bacaan Alkitab: Matius 15:21-28
15:21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
15:22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
15:23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
15:24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
15:25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
15:26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
15:27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
15:28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Pembacaan Firman Tuhan dari Generasi ke Generasi


Kamis, 17 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Yosua 8:30-35
Sesudah itu dibacakannyalah segala perkataan hukum Taurat, berkatnya dan kutuknya, sesuai dengan segala apa yang tertulis dalam kitab hukum.” (Yos 30:34)


Pembacaan Firman Tuhan dari Generasi ke Generasi


Mungkin ketika kita membaca bacaan Alkitab kita hari ini, kita merasa heran, ah masa peristiwa membacakan Firman Tuhan saja sampai ditulis di Alkitab. Sekarang saja kita sudah biasa membaca Alkitab setiap hari, bahkan mungkin hingga tiga kali sehari. Kita dengan mudah membeli Alkitab di toko-toko buku Kristen, bahkan kita bisa mengunduh Alkitab secara elektronik (softcopy) dan menyimpannya di komputer kita, bahkan di handphone atau gadget kita. Tetapi pernahkah kita membayangkan kondisi sekitar 50 tahun yang lalu? Pada masa itu Alkitab sangat sulit didapat di Indonesia. Bahkan jika mendapatkannya pun Alkitab itu mungkin masih menggunakan terjemahan lama. Bayangkan lagi kondisi 500 tahun lalu, ketika percetakan belum ada, Alkitab disalin dengan tangan dan karena sangat eksklusif, maka Alkitab hanya bisa dimiliki oleh pemimpin gereja, sehingga umat atau jemaat hanya dapat mendengar Firman Tuhan ketika menghadiri ibadah di gereja.

Jika kita tarik mundur hingga ke zaman Musa (yang kurang lebih sekitar 3.000 s.d. 3.500 tahun yang lalu, kita akan menyadari bahwa orang Israel mungkin hanya dapat mendengar Firman Tuhan ketika dibacakan oleh pemimpin mereka, yang antara lain Musa, Harun, dan juga Yosua. Ketika Musa telah meninggal, maka Yosua pun menjadi pemimpin bangsa Israel untuk menaklukkan tanah Kanaan. Saat itu Yosua mendirikan mezbah bagi Tuhan di atas gunung Ebal (ay. 30). Pada waktu itu, sesuai dengan Firman Tuhan kepada Musa, bangsa Israel harus mendirikan mezbah dari batu-batu yang tidak dipahat, yang artinya mezbah tersebut adalah mezbah yang asli dari alam (ay. 31), dimana di atas mezbah tersebut kemudian dipersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan  bagi Tuhan.

Mungkin bagi kita, peristiwa ibadah tersebut adalah ibadah yang biasa saja. Tetapi bagi Yosua pada saat itu, ibadah tersebut adalah kesempatan bagi bangsa Israel untuk dapat mendengar Firman Tuhan. Oleh karena itu, Yosua pun menulis salinan hukum Musa dan meletakkannya di atas batu-batu tersebut (ay. 32). Kemudian setelah seluruh orang Israel melakukan ibadah mereka sesuai dengan perintah Musa sebelumnya (ay. 33), Yosua kemudian membacakan segala perkataan hukum  Taurat, segala yang tertulis dalam kitab hukum, termasuk janji berkat apabila bangsa Israel setia, dan janji kutuk apabila bangsa Israel tidak setia dan meninggalkan Tuhan (ay. 34). Bahkan Alkitab menyatakan bahwa tidak ada sepatah kata pun dari perintah Musa yang tidak dibacakan oleh Yosua kepada seluruh bangsa Israel. Pada saat itu pun tidak hanya kaum laki-laki dari bangsa Israel yang hadir mendengarkan pembacaan tersebut, tetapi juga seluruh perempuan dan anak-anak, bahkan termasuk orang asing dan pendatang di antara bangsa Israel (ay. 35).

Saya tidak tahu berapa banyak hukum yang dibacakan oleh Yosua, tetapi saya membayangkan jika satu kitab di antara kitab Kejadian sampai Ulangan, butuh waktu sekitar satu jam untuk selesai membacakannya. Belum lagi dengan segala keterbatasan dimana pada saat itu belum ada microphone dan sound system. Tetapi dengan segala keterbatasan tersebut, Yosua tetap membacakan Firman Tuhan tersebut kepada orang Israel. Ini adalah mungkin peristiwa yang sangat langka bagi bangsa Israel untuk mendengar Firman Tuhan. Dan jika kita membaca di dalam Alkitab terutama Perjanjian Lama, kita akan menemukan bahwa pembacaan hukum Taurat merupakan hal yang sangat penting bagi bangsa Israel.

Kita yang hidup di zaman modern sekarang ini mungkin merasa biasa saja ketika membaca kisah ini. Tetapi saya rindu kita semua menghargai Firman Tuhan. Minimal ketika hamba Tuhan sedang membacakan Firman Tuhan di gereja, kita pun mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Bisa juga dengan cara membawa Alkitab tiap kali kita menghadiri ibadah, walau mungkin ayat Alkitab tersebut sudah ditayangkan dengan menggunakan proyektor. Bukankah kita seharusnya sudah bersyukur dengan kondisi kita saat ini, dimana kita dapat dengan mudah memperoleh dan membaca Alkitab? Tunjukkanlah rasa syukur kita tersebut dengan menghargai dan menghormati Firman Tuhan.


Bacaan Alkitab: Yosua 8:30-35
8:30 Pada waktu itulah Yosua mendirikan mezbah di gunung Ebal bagi TUHAN, Allah Israel,
8:31 seperti yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN, kepada orang Israel, menurut apa yang tertulis dalam kitab hukum Musa: suatu mezbah dari batu-batu yang tidak dipahat, yang tidak diolah dengan perkakas besi apa pun. Di atasnyalah mereka mempersembahkan korban bakaran kepada TUHAN dan mengorbankan korban keselamatan.
8:32 Dan di sanalah di atas batu-batu itu, dituliskan Yosua salinan hukum Musa, yang dituliskannya di depan orang Israel.
8:33 Seluruh orang Israel, para tua-tuanya, para pengatur pasukannya dan para hakimnya berdiri sebelah-menyebelah tabut, berhadapan dengan para imam yang memang suku Lewi, para pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu, baik pendatang maupun anak negeri, setengahnya menghadap ke gunung Gerizim dan setengahnya lagi menghadap ke gunung Ebal, seperti yang dahulu diperintahkan oleh Musa, hamba TUHAN, apabila orang memberkati bangsa Israel.
8:34 Sesudah itu dibacakannyalah segala perkataan hukum Taurat, berkatnya dan kutuknya, sesuai dengan segala apa yang tertulis dalam kitab hukum.
8:35 Tidak ada sepatah kata pun dari segala apa yang diperintahkan Musa yang tidak dibacakan oleh Yosua kepada seluruh jemaah Israel dan kepada perempuan-perempuan dan anak-anak dan kepada pendatang yang ikut serta.

Rabu, 16 Mei 2012

Seperti Bapa Sayang Anaknya


Rabu, 16 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Mazmur 103:8-13
Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” (Mzm 103:13)


Seperti Bapa Sayang Anaknya


Saya bersyukur dilahirkan di keluarga yang mengenal Tuhan. Walaupun kedua orang tua saya bukan jenis orang tua yang pandai untuk mengekspresikan diri, tetapi saya tahu bahwa orang tua saya adalah orang tua yang selalu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Saya ingat bagaimana ayah saya berusaha mati-matian agar dapat membelikan saya komputer baru untuk keperluan kuliah saya. Dan setelah anak saya lahir, saya pun jadi semakin mengerti betapa seorang ayah memang selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya, walaupun mungkin seorang ayah jarang dapat cukup dekat dengan anak-anaknya (pada umumnya seorang ibu akan cenderung lebih dekat kepada anak-anaknya karena biasanya memiliki waktu lebih banyak bertemu dengan anak-anaknya).

Saya tidak mempermasalahkan siapa yang lebih dekat, apakah ayah atau ibu, yang jelas Tuhan kita pun juga memiliki sifat yang hampir mirip dengan orang tua. Itulah mengapa kita disebut anak-anak Allah (Ef 1:5). Walaupun kita tidak diperanakkan oleh Allah secara jasmani, tetapi dalam roh, kita memiliki status sebagai anak-anak Allah. Allah sendiri memiliki sifat penyayang dan pengasih,  panjang sabar dan berlimpah kasih setia (ay. 8). Memang dalam banyak hal, Allah juga memiliki sifat adil, ia akan menghukum manusia atas dosa-dosanya, tetapi ternyata Allah juga tidak selamanya menuntut dan mendendam kepada manusia (ay. 9).

Coba kita bayangkan, apabila Tuhan benar-benar langsung menghukum manusia ketika manusia berdosa. Apa yang akan terjadi? Saya yakin bahwa manusia di muka bumi ini akan langsung habis. Misalnya saja, ketika orang berdosa karena membunuh, maka ia akan langsung mati. Ketika orang berdosa karena mencuri, maka ia akan langsung mati. Siapa yang sanggup hidup benar tanpa dosa? Tidak ada bukan? Bahkan jika demikian, maka Adam dan Hawa akan langsung mati karena mereka telah memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, jadi jika Tuhan memang bertindak benar-benar adil, maka tidak akan ada keturunan Adam dam Hawa di dunia ini.

Tetapi Tuhan adalah Tuhan yang sangat baik, bahkan terlalu baik bagi kita. Ia tidak membalas kepada kita setimpal dengan dosa dan kesalahan kita (ay. 10). Walaupun demikian, itu bukan berarti kita kemudian memiliki kebebasan untuk berbuat dosa, karena sesungguhnya upah dosa adalah maut (Rm 6:23). Justru karena Tuhan masih memberikan kita kasih setiaNya, serta pengampunanNya yang begitu besar (ay. 11-12), maka kita pun seharusnya bersyukur kepada Tuhan dan membalasNya dengan cara hidup lebih benar dan mengasihi Tuhan senantiasa.

Tuhan kita adalah Tuhan yang penyayang, seperti seorang bapa yang sayang kepada anak-anaknya (ay. 13). Walaupun saya yakin bahwa semua anak pasti akan disayang oleh bapanya, tetapi anak mana yang akan lebih disayang, anak yang nakal ataukah anak yang penurut? Saya rasa semua bapa-bapa akan sepakat bahwa mereka akan jauh lebih senang apabila anaknya hidup sebagai anak yang penurut, yang tidak nakal, yang selalu ingin menyenangkan bapanya. Seorang bapa akan memberikan apa saja kepada anak yang dikasihinya, bahkan jikalau harus berjuang keras sekalipun untuk mendapatkannya. Jika bapa kita secara jasmani saja tahu bagaimana memberi yang terbaik kepada anak-anaknya, apalagi Bapa kita yang ada di surga, Ia pasti akan memberikan yang terbaik kepada kita sebagai anak-anakNya (Mat 7:11).


Bacaan Alkitab: Mazmur 103:8-13
103:8 TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
103:9 Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.
103:10 Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,
103:11 tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;
103:12 sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.
103:13 Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

Selasa, 15 Mei 2012

Menjaga Rumput Sendiri agar Tidak Tergoda Rumput Tetangga


Selasa, 15 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Amsal 5:15-18
Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu.” (Ams 5:18)


Menjaga Rumput Sendiri agar Tidak Tergoda Rumput Tetangga


Salah satu sifat dasar manusia yang kurang baik adalah selalu ingin membanding-bandingkan apa yang dimiliki dengan apa yang orang lain miliki. Manusia memang memiliki sifat dasar yang selalu tidak puas dan selalu ingin lebih. Ketika sudah memiliki sepeda motor, melihat tetangganya ada yang punya mobil, kemudian ingin mobil. Ketika sudah punya mobil, melihat tetangganya ada yang membeli mobil yang lebih mahal, kemudian ingin mobil yang lebih mahal. Dan begitu seterusnya, apa yang sudah kita miliki seakan-akan tidak akan ada cukupnya.

Pada bacaan Kitab Suci kita hari ini, kita diingatkan untuk tidak mudah tergoda dengan rumput tetangga yang selalu terlihat lebih hijau daripada rumput di halaman kita sendiri. Firman Tuhan mengatakan agar kita meminum air dari sumur kita sendiri (ay. 15). Mengapa kita tidak boleh meminum air dari sumur orang lain? Karena masing-masing orang telah memiliki sumur masing-masing, dan mengapa kita harus minum dari sumur orang lain ketika kita sendiri telah memiliki sumur sendiri-sendiri? Kita tidak boleh mengingini apa yang telah dimiliki orang lain (Kel 20:17).

Bukan saja kita tidak boleh minum dari sumur tetangga, tetapi kita juga harus menjaga agar sumur kita juga kita nikmati sendiri, dan bukan untuk orang lain (ay. 16). Ini tentu saja dalam konteks hubungan suami isteri, yang seharusnya dinikmati oleh suami dan isteri itu sendiri. Hal-hal yang bersifat personal tentu saja bukan untuk diceritakan kepada orang lain di arisan ibu-ibu rumah tangga, atau diceritakan kepada rekan-rekan di kantor. Justru kita harus menjaga sumur kita, agar tetap menjadi kepunyaan kita dan tidak menjadi kepunyaan orang lain (ay. 17).

Apa artinya hal tersebut? Dalam konteks hubungan antara suami dengan isteri, bagi kita yang telah menikah, ingatlah akan janji pernikahan kita, bahwa kita dengan pasangan kita (suami atau isteri kita), sudah dipersatukan menjadi satu hingga maut memisahkan kita (Mat 19:5), sehingga apapun yang terjadi, kita sudah tidak boleh mengingini orang lain. Kita harus tetap bersukacita dan menikmati pernikahan kita dengan pasangan kita, entah itu dalam kondisi susah maupun senang, sakit maupun sehat, atau miskin maupun kaya. Terutama bagi laki-laki, isteri masa muda adalah isteri yang menemani kita sejak kita masih muda (ay. 18), mungkin sejak kita memulai usaha kita dari nol, sejak kita belum punya apa-apa. Isteri masa muda kita sudah mendampingi kita dari awal pernikahan, masa iya ketika kita sudah sukses, sudah kaya, harta melimpah, posisi tinggi di kantor, kemudian tergoda dengan wanita lain.

Ada hukuman Allah bagi orang-orang yang tidak setia terhadap isteri masa mudanya (Mal 2:14-16), dimana dalam konteks isteri, berarti juga berlaku terhadap suami masa mudanya. Tuhan yang telah mempersatukan, masa justru kita yang tidak setia? Oleh karena itu perhatikan bagaimana kita hidup. Godaan pasti ada. Rumput tetangga pasti selalu terlihat lebih hijau. Tetapi yang penting adalah jika kita sudah mulai tergoda dengan rumput tetangga, perhatikanlah rumput kita sendiri, ingatkah ketika pertama kali kita  menanam rumput tersebut? Ingatkah ketika kita merawat rumput tersebut? Atau dalam kondisi ekstrim, mungkin kita perlu membuat pagar tinggi agar tidak melihat rumput tetangga tersebut, dan di sisi lain kita perlu merawat rumput kita sendiri sehingga kita pun bisa menikmati rumput kita tanpa harus tergoda oleh rumput tetangga.


Bacaan Alkitab: Amsal 5:15-18
5:15 Minumlah air dari kulahmu sendiri, minumlah air dari sumurmu yang membual.
5:16 Patutkah mata airmu meluap ke luar seperti batang-batang air ke lapangan-lapangan?
5:17 Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan juga menjadi kepunyaan orang lain.
5:18 Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu:

Kamis, 10 Mei 2012

Waspada terhadap Ajaran yang Tidak Meninggikan Yesus


Senin, 14 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Kolose 2:16-19
Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi.” (Kol 2:18)


Waspada terhadap Ajaran yang Tidak Meninggikan Yesus


Kita sebagai orang percaya, memiliki iman dan pengharapan kita kepada Tuhan. Sayangnya, cukup banyak orang percaya yang tidak memanfaatkan iman kita kepada Tuhan secara maksimal. Maksud saya adalah, sebagai orang percaya kita seharusnya sudah dibebaskan dari segala dosa kita dan juga dari segala hal-hal yang bersifat lahiriah. Akan tetapi, justru diri kita sendiri yang sering mengekang diri kita sendiri. Apa contohnya? Bacaan Alkitab kita hari ini memberi contoh tentang bagaimana jemaat di kota Kolose menghadapi ajaran-ajaran yang mengekang kehidupan orang Kristiani pada zaman Paulus hidup.

Saat itu di kota Kolose, ada sekelompok orang yang mengajarkan bahwa orang percaya harus menghindari makanan atau minuman tertentu. Ada juga yang mengajarkan bahwa orang percaya harus mengutamakan hari-hari raya tertentu, seperti bulan baru dan hari Sabat (ay. 16). Bukannya tidak penting, tetapi kesemua liturgi atau ajaran itu sebenarnya merupakan gambaran dari Kristus itu sendiri (ay. 17). Liturgi itu memang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah Kristus, Tuhan yang kita sembah, Tuhan yang memberi jalan keselamatan pada semua orang yang percaya kepadaNya.

Demikian juga kita pada masa sekarang ini, banyak sekali ajaran-ajaran yang menyimpang. Ayat selanjutnya dari bacaan Kitab Suci kita hari ini bercerita tentang beberapa ciri-ciri ajaran-ajaran yang menyimpang, antara lain:

Pertama, pura-pura merendahkan diri (ay. 18a). Kita sebagai anak-anak Tuhan memang perlu merendahkan diri di hadapan Tuhan, tetapi merendahkan diri di sini adalah dalam konteks meninggalkan ego kita dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Yang salah adalah merendahkan diri dalam konteks ekstrim, yaitu dengan menyiksa diri sendiri, misalnya dengan melakukan puasa yang berlebihan untuk mencapai tingkat spiritual tertentu.

Kedua, beribadah kepada malaikat (ay. 18a). Sudah jelas bahwa kita harus beribadah kepada Allah, yang Maha Kuasa, yang menciptakan dunia ini beserta isinya. Akan tetapi beberapa ajaran yang menyimpang mengajarkan kita untuk memuja malaikat, yang notabene adalah ciptaan Allah. Kita tidak boleh menyembah ciptaan Allah, karena Allah sendirilah yang harus disembah. Ada ajaran tertentu yang menyembah dan mengagungkan manusia-manusia tertentu sebagai nabi atau orang-orang suci. Kita harus tetap ingat bahwa kita seharusnya menyembah Allah, dan bukan menyembah yang lain, termasuk patung-patung, berhala, dan bahkan malaikat atau orang yang diciptakan Allah.

Ketiga, berkanjang pada penglihatan (ay. 18b). Memang kadang-kadang Tuhan berbicara melalui penglihatan-penglihatan. Tetapi seharusnya kita tidak hanya berfokus kepada penglihatan-penglihatan. Kita harus lebih berpegang pada Firman Tuhan, bukan kepada penglihatan-penglihatan itu sendiri.

Keempat, membesar-besarkan diri oleh pikiran yang duniawi (ay. 18b). Kita seharusnya mencari hal-hal yang ada di atas, atau yang bersifat rohani. Akan tetapi, ajaran-ajaran tertentu mengajarkan bahwa kita harus lebih fokus kepada hal-hal duniawi. Segala hal-hal yang bersifat duniawi adalah sementara, sementara hal-hal rohani justru bersifat kekal. Dengan demikian, bukankah kita seharusnya lebih melihat secara rohani?

Ajaran yang benar adalah ajaran yang berfokus kepada Yesus sebagai kepala dan kita sebagai tubuh. Kita sebagai jemaat harus berada dalam satu tubuh, dengan Yesus sebagai kepala agar kita dapat bertumbuh (ay. 19). Janganlah kita seperti anak kecil yang diombang-ambingkan oleh angin pengajaran yang menyesatkan (Ef 4:14), melainkan haruslah kita menjadi kuat dan dewasa agar kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang menyimpang.


Bacaan Alkitab: Kolose 2:16-19
2:16 Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat;
2:17 semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.
2:18 Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi,
2:19 sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya.

Bukan Perkataan tetapi Perbuatan, Bukan yang Pertama tetapi yang Terakhir


Minggu, 13 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Matius 21:28-32

Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.”” (Mat 21:31)

Bukan Perkataan tetapi Perbuatan, Bukan yang Pertama tetapi yang Terakhir


Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang dua orang anak. Jika kita membaca ayat-ayat sebelumnya, maka kita akan mengerti bahwa perumpamaan ini sebenarnya lebih ditujukan kepada orang Farisi dan ahli Taurat.

Yesus sendiri memberi perumpamaan tentang seseorang yang memiliki dua anak laki-laki. Ia meminta anak yang sulung untuk bekerja di kebun anggurnya. Anak yang sulung pun berkata “Ya”, tetapi ia tidak pergi. Kemudian orang tersebut pergi kepada anak yang bungsu dan meminta hal yang sama. Anak yang bungsu berkata “Tidak”, tetapi kemudian ia menyesal dan akhirnya pergi juga bekerja ke kebun anggur (ay. 28-30). Saya rasa, jika Tuhan Yesus menanyakan hal yang sama kepada kita, “Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” (ay. 31a), kita pun akan menjawab sama dengan jawaban orang Farisi dan ahli Taurat, yaitu anak bungsu, karena walaupun ia berkata “tidak”, tetapi ia akhirnya melakukan apa yang diminta bapanya.

Hal ini merupakan gambaran orang-orang Israel pada waktu itu, terlebih orang Farisi dan ahli Taurat. Tuhan memilih bangsa Israel sebagai bangsa kesayanganNya, menuntun mereka dari tanah perbudakan di Mesir hingga ke tanah perjanjian. Namun kemudian mereka memberontak dan dibuang dari tanah perjanjian tersebut. Tetapi Tuhan masih menyayangi bangsa Israel, Tuhan mengembalikan mereka ke tanah perjanjian, bahkan menjadikan bangsa Israel sebagai bangsa dimana Mesias akan diutus. Namun walaupun Tuhan Yesus turun ke dunia ini kepada bangsa Israel, mereka justru tidak percaya kepadaNya.

Setelah dibaptis oleh Yohanes dan kemudian dicobai oleh Iblis di padang gurun, selanjutnya Tuhan Yesus pertama kali menyampaikan Firman Tuhan di dalam rumah-rumah ibadat (Luk 4:15). Bahkan ketika masih berumur 12 tahun, Yesus sudah berdiskusi dan bertanya jawab dengan para imam di Bait Suci di Yerusalem (Luk 2:46). Oleh karena itu, Yesus awalnya memang menyampaikan kabar baik lebih dulu kepada para imam, orang Farisi, dan ahli Taurat, karena merekalah sebenarnya yang lebih mengerti tentang Kitab Suci. Tetapi di satu sisi, mereka tidak mau mendengarkan ajaran Yesus, justru para pemungut cukai, perempuan sundal, dan orang berdosa lainnyalah yang mau mendengarkan ajaran Yesus. Oleh karena itu, Tuhan Yesus berkata bahwa “sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (ay. 31b), karena merekalah yang lebih dulu percaya kepada Tuhan. Walaupun Tuhan telah mengutus nabi-nabiNya (terakhir adalah nabi Yohanes Pembaptis) kepada orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi justru para pemungut cukai dan perempuan sundallah yang percaya kepadanya. Walaupun orang Farisi dan ahli Taurat melihat, namun mereka tidak percaya. Mereka pun tidak menyesal atas dosa-dosa mereka, berbeda dengan pemungut cukai dan perempuan sundal, yang menyesal atas dosa-dosa mereka dan bertobat dari segala dosa mereka (ay. 32).

Jika kita tarik perumpamaan tersebut ke konteks masa kini, Tuhan tidak butuh orang-orang yang hanya berkata “Ya Tuhan” tetapi tidak mau melangkah. Seringkali Tuhan memanggil orang-orang percaya untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan, tetapi banyak orang percaya yang hanya berkata “Ya” tetapi tidak mau. Di sisi lain, juga banyak orang percaya yang jelas-jelas menolak panggilan  penuh dengan pertimbangan semisal, “Tuhan, kalau aku jadi hamba Tuhan full time nanti anak-anakku makan apa?” atau “Tuhan, aku masih belum pintar main musik, nanti saja kalau aku sudah pintar baru aku melayani di gereja deh”. Tuhan butuh tindakan nyata dari kita semua. Jangan sampai kita yang sudah lama menjadi orang percaya di gereja, bahkan mungkin sudah berjemaat di gereja kita sejak kita kecil, justru kalah oleh orang-orang yang baru bertobat, yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan dan tidak pernah menolak apa yang Tuhan ingin mereka lakukan. Marilah kita instropeksi diri kita masing-masing. Sudahkah kita menjadi pelaku Firman? Dan sudahkah kita berlomba-lomba untuk melayani Tuhan dengan sebaik-baiknya?


Bacaan Alkitab: Matius 21:28-32
21:28 "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.
21:29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.
21:30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.
21:31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.
21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."

Membela Bangsa Kita di Hadapan Tuhan


Sabtu, 12 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Amos 7:1-6
Maka menyesallah TUHAN karena hal itu. "Itu tidak akan terjadi," firman TUHAN.” (Am 7:3)


Membela Bangsa Kita di Hadapan Tuhan


Amos adalah seorang nabi yang hidup pada masa kerajaan Israel dan Yehuda. Ia tampil untuk menyampaikan Firman Tuhan yang cukup keras karena dosa-dosa bangsa Israel dan Yehuda. Setelah menyampaikan Firman Tuhan, Amos pun mendapatkan penglihatan dari Tuhan. Dalam penglihatan yang pertama dan kedua, Tuhan memberikan penglihatan yang cukup mengerikan terkait dengan bangsa Israel dan Yehuda.

Penglihatan pertama adalah adanya kawanan belalang yang datang menyerbu rerumputan pada waktu rumput-rumput akhir mulai tumbuh (ay. 1). Belalang tersebut menghabisi tumbuhan-tumbuhan yang ada di tanah (ay. 2a). Hal tersebut merupakan gambaran yang mengerikan bagi bangsa Israel dan Yehuda, yaitu mereka akan dimakan habis oleh belalang-belalang. Hal ini dapat diartikan sebagai pertanda bahwa nantinya akan ada bangsa lain yang datang dan menyerang dan memusnahkan bangsa Israel dan Yehuda.

Penglihatan kedua adalah adanya api yang dipanggil Tuhan untuk memakan habis air di samudera dan juga tanah ladang (ay. 4). Hal tersebut juga merupakan gambaran akan hukuman Tuhan bagi bangsa Israel dan juga Yehuda yaitu akan dimusnahkan hingga habis tanpa sisa.

Melihat dua penglihatan tersebut, apa yang akan dilakukan oleh Amos sebagai salah satu nabi Tuhan? Apakah Amos bersikap pasrah, toh memang Tuhan memiliki kuasa yang luar biasa dan tak mungkin terbantahkan? Tidak, Amos justru mencoba untuk membela bangsa Israel dan Yehuda, bahkan ketika Amos juga tahu bahwa bangsa Israel dan Yehuda telah banyak berdosa di hadapan Tuhan. Menarik melihat apa yang dikatakan Amos kepada Tuhan tentang penglihatan yang pertama: “Tuhan Allah, berikanlah kiranya pengampunan! Bagaimanakah Yakub dapat bertahan? Bukankah ia kecil?”. Dalam penglihatan yang pertama, Amos meminta agar Tuhan memberikan pengampunan kepada bangsa Israel dan Yehuda, keturunan Yakub. Jika Tuhan memusnahkan bangsa Israel dan Yehuda, tentu saja keturunan Yakub akan musnah begitu saja.

Dalam penglihatan yang kedua, Amos pun mencoba membela bangsanya, yaitu meminta Tuhan untuk menghentikan rencanaNya untuk memusnahkan bangsa Israel dan Yehuda, karena jika Tuhan sudah memusnahkan, maka tidak akan ada suatu bangsapun yang mampu bertahan di hadapan Tuhan. Dan menariknya, Tuhan sendiri pun akhirnya menyesal dengan rancanganNya tersebut. Karena pembelaan Amos bagi bangsanya, Tuhan menjanjikan bahwa apa yang ditunjukkanNya kepada Amos dalam penglihatan tidak akan terjadi.

Amos hanyalah seorang biasa walaupun ia memang seorang nabi Tuhan. Tetapi Amos mau berdiri di antara Tuhan dan bangsanya yang telah berdosa, untuk membela bangsanya di hadapan Tuhan dan meminta pengampunan dari Tuhan. Bagaimana dengan kita? Bangsa kita pun merupakan bangsa yang penuh dosa di hadapan Tuhan. Pernahkah kita membela bangsa kita dalam doa-doa syafaat kita? Bangsa kita butuh pembelaan kita. Kota kita butuh pembelaan kita. Firman Tuhan berkata “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer 29:7). Sudahkah kita berdoa bagi kota, bangsa dan negeri kita, membela dan meminta pengampunan dari Tuhan bagi kota dan negara yang kita cintai ini?


Bacaan Alkitab: Amos 7:1-6
7:1 Inilah yang diperlihatkan Tuhan ALLAH kepadaku: Tampak Ia membentuk kawanan belalang, pada waktu rumput akhir mulai tumbuh, yaitu rumput akhir sesudah yang dipotong bagi raja.
7:2 Ketika belalang mulai menghabisi tumbuh-tumbuhan di tanah, berkatalah aku: "Tuhan ALLAH, berikanlah kiranya pengampunan! Bagaimanakah Yakub dapat bertahan? Bukankah ia kecil?"
7:3 Maka menyesallah TUHAN karena hal itu. "Itu tidak akan terjadi," firman TUHAN.
7:4 Inilah yang diperlihatkan Tuhan ALLAH kepadaku: Tampak Tuhan ALLAH memanggil api untuk melakukan hukuman. Api itu memakan habis samudera raya dan akan memakan habis tanah ladang.
7:5 Lalu aku berkata: "Tuhan ALLAH, hentikanlah kiranya! Bagaimanakah Yakub dapat bertahan? Bukankah ia kecil?"
7:6 Maka menyesallah TUHAN karena hal itu. "Ini pun tidak akan terjadi," firman Tuhan ALLAH.