Kamis, 21 Juni 2012

Mertua vs Menantu Versi Alkitab


Sabtu, 23 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Rut 4:13-15
“Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.” (Rut 4:15)


Mertua vs Menantu Versi Alkitab


Menurut anda, siapakah wanita yang paling berbahagia di dalam Alkitab? Mungkin ada yang menjawab bahwa Maria, Ibu Yesus sebagai wanita yang paling berbahagia. Mungkin ada juga yang menjawab Maria Magdalena. Mungkin ada juga di antara kita yang menjawab Sara, Debora, atau nama-nama wanita lain dalam Alkitab. Tetapi saya pernah membaca di suatu artikel, bahwa wanita yang paling berbahagia dalam Alkitab adalah Hawa. Mengapa demikian? Artikel tersebut memberi alasan bahwa Hawa adalah wanita yang paling berbahagia karena tidak memiliki mertua. Memang ini hanya suatu lelucon saja, tetapi memang barangkali ada benarnya juga walaupun tidak dapat dikatakan 100% benar.

Sejak dahulu, hubungan antara mertua dengan menantu (khususnya ibu mertua dengan menantu wanita) memang sangat riskan. Hal ini memang sudah naluri manusia, khususnya bagi seorang ibu yang merasa anak laki-lakinya “diambil” oleh menantu perempuannya, padahal ia sudah membesarkan anak laki-lakinya dengan susah payah sejak dari dalam kandungan, melahirkannya, mendidiknya hingga besar, dan ternyata sang anak harus meninggalkannya dan bersatu dengan isteri dan keluarga barunya. Memang dalam Alkitab juga disebutkan bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya serta bersatu dengan isterinya (Kej 2:24). Lalu, apakah memang hubungan mertua dan menantu memang tidak dapat akur? Alkitab kita sendiri ternyata sudah memberi contoh bahwa ada satu pasang mertua dan menantu yang justru sangat akur dan rukun, yaitu Naomi dan Rut.

Jika kita membaca ayat-ayat sebelumnya dari kitab Rut ini, maka kita akan menemukan fakta bahwa Naomi adalah orang Israel sedangkan Rut adalah orang  Moab. Secara logika manusia saja sudah tidak mungkin bahwa mereka berdua bisa akur, tetapi ada satu titik dimana hubungan Naomi dan Rut akhirnya naik ke tingkatan yang lebih tinggi lagi, yaitu ketika Rut berkata kepada Naomi, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut” (Rut 1:16-17).

Sejak saat itu hubungan Naomi dengan Rut menjadi begitu erat, bahkan Naomi pun membantu mengatur agar Rut dapat menikah dengan Boas. Setelah mereka berdua menikah, Tuhan pun memberikan seorang anak laki-laki kepada Rut (ay. 13), sesuatu yang belum ia dapatkan selama ini. Karena anak laki-laki itulah, Naomi pun tidak lagi menjadi janda yang tidak  berpengharapan, melainkan menjadi janda yang berbahagia, karena ia sekarang telah memiliki keturunan, bahkan dari keturunannya akan muncul Yesus, Mesias yang akan menyelamatkan tidak hanya bangsa Israel tetapi juga semua bangsa yang mau percaya kepadaNya.

Walaupun renungan hari ini cukup sederhana, tetapi saya rindu kita boleh mengambi suatu kesimpulan, bahwa di dalam Tuhan Yesus, seharusnya tidak akan ada permasalahan antara mertua dan menantu, atau permasalahan antar keluarga bahkan antar jemaat. Jika kedua belah pihak sudah merupakan orang-orang yang telah lahir baru, yang telah memiliki karakter baru di dalam Tuhan Yesus, seharusnya sudah tidak ada lagi perselisihan. Ketika kita memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka seharusnya kita juga akan memiliki hubungan yang baik dengan sesama kita. Naomi sendiri, telah menganggap menantunya, Rut, sebagai wanita yang sangat berharga, bahkan lebih berharga daripada tujuh anak laki-laki (ay. 15).

Pertanyaannya bagi kita hari ini, apakah kita sudah memiliki kasih dalam kehidupan kita? Bagi kita yang sudah memiliki peran sebagai mertua ataupun menantu, sudahkah kita juga mengasihi menantu atau mertua kita? Bagaimana dengan mengasihi kedua orang tua kita, saudara kita, anak kita, mengasihi jemaat lain bahkan mengasihi orang yang membenci kita (Luk 6:27)? Marilah kita belajar dari tokoh-tokoh Alkitab seperti Naomi dan Rut ini, menjadi orang-orang yang luar biasa yang memiliki kasih yang luar biasa juga, karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita.


Bacaan Alkitab: Rut 4:13-15
4:13 Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki.
4:14 Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: "Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel.
4:15 Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki."

Tetap Bertumbuh di dalam Tuhan


Jumat, 22 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Kolose 2:6-7
“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” (Kol 2:6)


Tetap Bertumbuh di dalam Tuhan


Dalam Alkitab, khususnya di Perjanjian Baru, seringkali kehidupan orang percaya diibaratkan sebagai sebuah tanaman. Tuhan Yesus sendiri dalam perumpamaan-perumpamaan yang disampaikanNya, beberapa kali menggambarkan kehidupan orang percaya seperti benih tanaman yang ditabur orang (Mat 13:1-8), tanaman anggur (Yoh 15:1-8), tanaman sesawi (Mat 13:31-32), dan lain sebagainya. Terkadang saya berpikir, mengapa ya kok iman orang percaya sangat sering digambarkan dalam bentuk tanaman? Menurut saya, ada kesamaan antara kehidupan orang percaya dengan tanaman yang dapat diringkas dalam satu kata, yaitu pertumbuhan.

Tanaman atau tumbuhan apapun di dunia ini, berasal dari hal yang kecil seperti biji atau spora. Dari biji atau spora yang sangat kecil itulah, tanaman bertumbuh, semakin bertambah besar, dan pada akhirnya berkembang biak lagi dengan menghasilkan generasi selanjutnya. Inilah esensi pertumbuhan. Tanaman tidak hanya bertumbuh besar kemudian mati, tetapi juga memiliki tujuan yaitu berbuah dan menghasilkan generasi selanjutnya. Itulah juga esensi pertumbuhan bagi orang percaya. Ketika seseorang telah menerima Kristus sebagai Juruselamatnya, kehidupan orang Kristen tidak hanya berhenti sampai di situ. Ada tanggung jawab yang besar bagi orang tersebut untuk hidup tetap di dalam Tuhan.

Apa maksudnya hidup tetap di dalam Tuhan? Jika kita ingat ucapan Tuhan Yesus bahwa Ia adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya (Yoh 15:5), maka kita sebagai ranting agar bisa tetap hidup dan bertumbuh, kita perlu “menempel” pada pokok anggur yang benar, yaitu Tuhan sendiri, karena di luar Tuhan kita tidak akan dapat berbuat apa-apa. Hal yang sama akan juga terjadi ketika kita sebagai ranting “menempel” pada pokok yang salah, misalnya menempel pada kekayaan kita, pada koneksi yang kita miliki, dan melupakan Tuhan. Itulah pentingnya bertumbuh dengan benar, bukan asal bertumbuh tanpa memikirkan kepada siapa kita bertumbuh.

Itulah sebabnya ayat selanjutnya menekankan pentingnya kita berakar di dalam Dia (Tuhan) dan dibangun di atas Dia (ay. 7a). Perhatikan kata Dia yang menjadi pokok penekanan pada ayat ini. Kita perlu bertumbuh di atas dasar yang benar. Tanaman yang asal-asalan ditanam, misalnya kita menanam tanaman beringin di pot kecil, maka tanaman beringin itu tidak akan dapat bertumbuh dengan baik. Demikian juga orang percaya juga harus melihat, apakah selama ini kita sudah bertumbuh di atas dasar yang benar? Kita juga harus bertambah teguh dan bertumbuh di dalam iman yang benar (ay. 7b). Paulus menulis hal ini karena pada masa surat Kolose ini ditulis, ada banyak orang-orang yang menyampaikan “Firman” yang bukan berasal dari Tuhan tetapi sudah tercampur dengan ajaran-ajaran lainnya.

Terakhir tetapi juga adalah hal yang terpenting, kita harus bertumbuh dengan penuh sukacita (ay. 7c). Tanaman dan juga makhluk hidup lain termasuk manusia, memiliki naluri untuk bertumbuh, menjadi lebih besar setiap harinya hingga mencapai kedewasaan maksimal. Bedanya, tanaman dapat tumbuh terus menerus semakin besar dan semakin tinggi selama tidak ada hal yang membatasinya. Inilah mengapa tanaman dijadikan gambaran yang sangat tepat bagi kehidupan orang percaya. Tidak ada tanaman yang merasa terpaksa untuk tumbuh. Jika memungkinkan, tanaman akan sangat senang untuk tumbuh setiap harinya menjadi lebih besar dan lebih lebat.

Hal yang harus kita instropeksi hari ini, apakah kita sudah bertumbuh di dalam Tuhan? Apakah kita justru semakin hari semakin jauh dari Tuhan? Bertumbuh itu adalah proses yang terus menerus. Hasil dari pertumbuhan tidak dapat terlihat dalam waktu singkat, tetapi hasilnya mungkin baru terlihat dalam jangka waktu yang lama. Kita harus bertumbuh di atas dasar yang benar, ke arah pertumbuhan yang benar, sehingga pada waktunya nanti kita dapat menghasilkan buah yang benar. Bukankah itu yang diinginkan Tuhan? Jangan sampai kita tidak bertumbuh, atau bertumbuh dalam arah yang salah sehingga hidup kita tidak berbuah, karena pohon yang tidak berbuah akan ditebang Tuhan dan dilemparkan ke dalam api (Mat 7:19).


Bacaan Alkitab: Kolose 2:6-7
2:6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.
2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.


Rabu, 20 Juni 2012

Menyukai Rumah Tuhan Sejak Kecil


Kamis, 21 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Lukas 2:41-52
“Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"” (Luk 2:49)


Menyukai Rumah Tuhan Sejak Kecil


Saya bersyukur telah dikaruniakan Tuhan seorang anak yang sehat dan pintar. Saat tulisan ini saya buat, usia anak saya adalah tepat dua bulan. Satu hal yang unik dari anak saya, jika berada di rumah, walaupun ia sedang tidur, ketika ada suara yang cukup keras, entah itu saya sedang batuk atau bersin, atau ada orang yang menyalakan kran air, bahkan menyalakan kompor gas, biasanya anak saya kaget dan terbangun. Akan tetapi berbeda halnya ketika saya mengajak anak saya ke gereja. Sekeras apapun musik di gereja itu (gereja saya adalah gereja aliran karismatik sehingga menggunakan musik full band termasuk drum beserta sound system yang cukup keras tentunya), tetapi anak saya ketika tidur sama sekali tidak terganggu. Paling-paling ia hanya membuka mata sebentar dan menangis jika meminta susu, akan tetapi musik gereja yang cukup keras dan khotbah pendeta sama sekali tidak mengganggunya.

Melihat hal tersebut, saya bersyukur karena Tuhan telah menanamkan hati yang cinta akan Rumah Tuhan kepada anak saya. Secara logika manusia, jika di rumah anak saya pasti terbangun (dan biasanya menangis) jika saya batuk, tentunya anak saya akan terbangun dengan suara musik yang cukup keras di gereja. Tetapi anak saya tidak seperti itu, sehingga saya pun sungguh bersyukur dan berharap nantinya anak saya juga akan menjadi orang yang mencintai Rumah Tuhan dan terlebih mencintai Tuhan sendiri.

Demikian juga yang terjadi pada Tuhan Yesus pada waktu ia masih kecil. Kedua orang tuanya telah melakukan ibadah seperti biasa, yaitu pergi ke Yerusalem setiap hari raya Paskah (ay. 41). Sesuai tradisi, ketika Yesus berumur 12 tahun, Yesus juga turut serta dalam ibadah tersebut (ay. 42). Setelah melakukan semua tradisi dan ibadah, maka mereka pun pulang ke kampung halamannya di Nazaret. Pada saat itu ternyata Yesus tidak turut pulang melainkan tinggal di Yerusalem tanpa diketahui siapapun (ay. 43). Ketika kedua orang tua Yesus menyadari bahwa Yesus tidak ada bersama-sama mereka, maka mereka pun kembali ke Yerusalem (ay. 44-45), dan coba tebak di manakah Yesus ditemukan? Alkitab mengatakan bahwa mereka menemukan Yesus di dalam Bait Allah, sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, berdiskusi dengan mereka (ay. 46).

Saya sangat yakin bahwa sebelum Yesus berumur 12 tahun sekalipun, Yesus sudah menunjukkan kecintaanNya pada Rumah BapaNya. Dan ketika Yesus sudah berumur 12 tahun (ukuran seorang anak sudah dianggap dewasa untuk melaksanakan ibadah menurut tradisi Yahudi), Yesus pun akhirnya berani untuk tinggal dan berdiskusi dengan para alim ulama di sana. Semua orang yang berdiskusi pada saat itu memiliki satu kesimpulan, yaitu Yesus sangat cerdas dalam hal Kitab Suci (ay. 47). Semua orang yang melihatnya tercengang, termasuk orang tua Yesus (ay. 48).

Ketika kedua orang tua Yesus meminta Yesus untuk pulang, Yesus sempat mengatakan suatu kalimat yang menjadi pedoman kita hari ini, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (ay.49). Melalui jawabanNya ini, Yesus ingin mengatakan bahwa Yesus memiliki kerinduan untuk selalu ada di Rumah Bapa, bukan untuk bersenang-senang di sana, tetapi untuk bersekutu dengan BapaNya yang di surga. Kedua orang tua Yesus pun akhirnya pulang bersama-sama dengan Yesus, dan terutama Maria, ibu Yesus, menyimpan segala hal tersebut di dalam hatiNya (ay. 50-51). Tentu Maria tahu bahwa Yesus adalah Mesias, karena Malaikat Tuhan sendiri yang menyampaikan kepada Maria (Luk 1:26-33). Akan tetapi menurut saya sepertinya Maria ingin menyimpan hal ini karena ia tidak ingin Yesus tampil sebelum waktunya. Maria tetap merawat dan mendidik Yesus agar pada saatnya nanti Ia dapat menjadi Mesias bagi bangsa Israel. Memang Alkitab sendiri mengatakan bahwa Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (ay. 52).

Apa yang dapat kita pelajari dari bacaan Alkitab kita pada hari ini? Memang sepertinya ayat ini lebih banyak berbicara tentang bagaimana kita menumbuhkan kecintaan terhadap Tuhan kepada anak kita sejak kecil. Tetapi bagi kita yang belum memiliki anak atau belum menikah sekalipun, hal ini menjadi penting untuk kita persiapkan sejak saat ini, sehingga ketika nantinya kita memiliki anak, kita sudah memiliki motivasi untuk mendidik anak kita agar nantinya menjadi orang yang mengasihi Tuhan lebih dari apapun, dan terlebih kita sendiri juga harus memiliki kecintaan akan Rumah Tuhan (Mzm 84:11), dan akan Tuhan itu sendiri (Mat 22:37).


Bacaan Alkitab: Lukas 2:41-52
2:41 Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah.
2:42 Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.
2:43 Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.
2:44 Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.
2:45 Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.
2:46 Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
2:47 Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.
2:48 Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
2:49 Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
2:50 Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
2:51 Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
2:52 Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Mengasihi Tuhan Lebih daripada Apapun


Rabu, 20 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Matius 10:37-39
“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Mat 10:37)


Mengasihi Tuhan Lebih daripada Apapun


Ketika kita menanyakan kepada seseorang, “Siapakah di dunia ini yang paling anda kasihi?”, apakah jawabannya? Saya rasa jawabannya tergantung kepada siapa orang yang kita tanya. Jika orang yang kita tanya adalah orang yang belum pacaran, jawabannya biasanya adalah orang tuanya. Jika orang yang kita tanya adalah orang yang sudah pacaran, maka biasanya jawabannya adalah pacarnya. Jika orang yang kita tanya adalah orang yang sudah menikah, maka jawabannya biasanya adalah suami atau isterinya. Jika orang yang kita tanya adalah orang yang sudah memiliki anak, maka umumnya jawabannya adalah anaknya. Walaupun memang ada juga orang yang menjawab bahwa di dunia ini mereka sangat mengasihi diri mereka sendiri.

Jawaban-jawaban di atas memang tidak salah. Wajar jika kita mengasihi orang tua kita, pacar kita, suami atau isteri kita, anak-anak kita, atau orang lain yang spesial dalam kehidupan kita. Tetapi pernahkah kita berpikir ketika kita dihadapkan pada pilihan, antara mengasihi Tuhan dengan mengasihi orang-orang tersebut, manakah yang akan kita pilih? Bukan saya yang mengatakan bahwa kita harus memilih salah satu, tetapi Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan bahwa Ia akan membawa pemisahan, bahkan di antara anggota keluarga sekalipun (Mat 10:34-36). Terlebih lagi Ia pun mengatakan bahwa siapa yang mengasihi orang lain lebih daripada mengasihi Tuhan, maka orang tersebut tidak layak bagi Tuhan (ay. 37).

Suatu ayat yang sangat keras bukan? Memang ayat tersebut bukan berarti setiap hari kita harus “berantem” dengan keluarga kita. Akan tetapi mungkin saja kita akan mengalami suatu kondisi dimana kita harus memilih, lebih mengasihi keluarga kita atau lebih mengasihi Tuhan. Mungkin saja keluarga kita adalah keluarga yang belum percaya kepada Tuhan, lalu kemudian keluarga kita meminta kita untuk meninggalkan Tuhan, jika tidak maka nama kita akan dihapus dari daftar keluarga dan tidak akan mendapatkan warisan. Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan lebih memilih keluarga kita daripada memilih Tuhan?

Hal tersebut dapat dikatakan sebagai “salib” yang harus kita pikul. “Salib” ini berbeda-beda antar orang. Tetapi saya yakin bahwa dalam kehidupan kita, ada “salib” yang harus kita tanggung, dan itulah tanggung jawab kita sebagai pengikut Tuhan. Barangsiapa yang tidak mau memikul salibnya dan mengikut Tuhan, maka orang tersebut juga tidak layak bagi Tuhan (ay. 38). Tuhan menuntut suatu pengabdian yang total dari orang-orang yang mau mengikutNya. Bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi atau lebih ekstrim lagi, Tuhan Yesus berkata bahwa siapa yang lebih memilih nyawanya daripada memilih Tuhan, maka ia akan kehilangan nyawanya, dan sebaliknya siapa yang kehilangan nyawanya karena Tuhan, maka ia akan mendapatkan nyawanya (ay. 39).

Mana yang akan kita pilih? Memilih orang-orang yang kita kasihi atau memilih Tuhan? Memang kita pun memiliki tanggung jawab untuk mengasihi orang-orang terdekat kita, entah orang tua kita, saudara kita, pasangan hidup kita, anak-anak kita, dan juga orang-orang lainnya, karena itu memang juga merupakan tanggung jawab kita, dan jika kita lalai maka Tuhan pun akan menuntutnya dari kita. Akan tetapi kita juga memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi, yaitu untuk mengasihi Tuhan lebih daripada apapun. Maukah kita mengasihi Tuhan secara total, lebih daripada kita mengasihi yang lainnya?


Bacaan Alkitab: Matius 10:37-39
10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Ketika Tuhan Mengeringkan Sungai Sumber Berkat Kita


Selasa, 19 Juni 2012
Bacaan Alkitab: 1 Raja-raja 17:5-9
“Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan."” (1 Raj 17:8-9)


Ketika Tuhan Mengeringkan Sungai Sumber Berkat Kita


Elia adalah salah satu nabi Tuhan yang luar biasa. Ia mampu berdoa dan hujan pun tidak turun selama 3,5 tahun (Yak 5:17). Bayangkan saja jika di kota kita tidak turun hujan selama satu bulan penuh, pasti rasanya sangat panas, bahkan di beberapa tempat terutama di daerah pedesaan tanaman akan kering, termasuk sungai-sungai. Tapi di awal masa kekeringan itu, Tuhan memerintahkan Elia untuk pergi dan bersembunyi di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Elia pun melakukan dengan tepat seperti Firman Tuhan (ay.5). Jika kita perhatikan, kehidupan Elia di tepi sungai Kerit sudah sangat aman dan nyaman. Ada air yang mengalir di sungai tersebut sehingga ia pun tidak kekurangan air. Selain itu, Tuhan pun mengirim burung gagak membawa roti dan daging kepada Elia, sehingga ia pun tidak kekurangan makanan (ay. 6).

Sepintas kita melihat bahwa pada posisi tersebut, Elia sudah merasa aman dan tenang. Ada perlindungan Tuhan dan ia pun tidak kekurangan makanan dan minuman di sana. Akan tetapi, beberapa waktu kemudian, terjadi suatu kondisi yang membuat Elia harus mengubah haluan. Sungai Kerit yang selama ini diandalkan Elia sebagai sumber air ternyata juga menjadi kering, karena hujan tidak turun di negeri tersebut (ay. 7). Alkitab tidak mengatakan apakah burung gagak itu juga masih tetap memberi makan Elia atau tidak, tetapi pada saat itu Tuhan pun berfirman kepada Elia untuk pergi dari sungai Kerit tersebut ke daerah Sarfat di Sidon dan diam di kota tersebut, karena Tuhan akan memerintahkan seorang janda untuk memberi Elia makan (ay. 8-9).

Jika kita berada dalam posisi Elia, apakah kita akan menuruti Firman Tuhan tersebut? Ingat bahwa Elia adalah seorang nabi yang doanya didengar Tuhan. Kalau Elia berdoa agar hujan tidak turun dan hujan benar-benar tidak turun selama bertahun-tahun, bukankah sangat mungkin bagi Elia untuk meminta kepada Tuhan agar sungai Kerit tidak kering dan burung gagak tetap memberinya makan? Saya rasa jika Elia berdoa seperti itu pasti Tuhan juga akan mendengarnya bukan? Lalu mengapa Elia justru mau bersusah-susah pergi dari sungai Kerit ke Sarfat, terlebih Tuhan mengatakan bahwa nanti akan ada janda yang akan memberinya makan? Bukankah ia harus berjalan berhari-hari di tengah kondisi alam yang kering karena hujan sudah tidak turun lagi? Bukankah sepertinya diberi makan oleh burung gagak terlihat lebih rohani ketimbang diberi makan oleh seorang janda?

Walaupun demikian, Alkitab mengatakan bahwa Elia taat akan kehendak Tuhan. Ia mau taat kepada kehendak Tuhan, walau ia harus meninggalkan zona nyamannya di tepi sungai Kerit. Ia berani mempertaruhkan risiko dengan pergi mengikuti kehendak Tuhan, walau mungkin bagi orang lain, lebih mustahil seorang janda bisa memberi makan. Demikian juga kadang-kadang dalam kehidupan kita, Tuhan seperti meminta kita untuk meninggalkan kehidupan kita yang sudah nyaman dengan berkat-berkat Tuhan, dan meminta kita untuk pergi memulai suatu siklus yang baru bersama Tuhan. Kadang-kadang akan ada masa dimana kita harus belajar percaya kepada Tuhan, melihat jauh ke depan dan tidak melihat ke belakang lagi. Pada saat itu, iman kita akan diuji, apakah kita mau meninggalkan keinginan diri sendiri dan mengikuti keinginan Tuhan, yang mungkin tidak masuk logika kita?

Mungkin saja suatu saat nanti, atau bahkan saat ini Tuhan berbicara kepada kita untuk meninggalkan segala pekerjaan dan karir kita dan mengikut Tuhan secara total. Saya tahu bahwa hal tersebut tidaklah mudah, saya sendiri pun mungkin masih akan pikir-pikir jika Tuhan meminta hal tersebut kepada saya. Akan tetapi pertanyaannya tetap sama, apakah kita mau meninggalkan zona nyaman kita dan pergi ke tempat yang baru yang Tuhan inginkan bagi kita? Memang sulit, tetapi kita akan sanggup melakukannya jika saja kita ingat bahwa Tuhanlah yang memberikan berkat bagi kita selama ini, dan jika Tuhan yang meminta kita untuk pergi ke tempat yang baru dan meninggalkan segala berkat dan fasilitas yang telah kita terima di tempat yang lama, pasti Tuhan juga akan memberikan berkat bagi kita di tempat yang baru. Kuncinya adalah yakin bahwa itu adalah suara Tuhan, taat kepada suara Tuhan, dan mengikuti kehendak Tuhan, maka segala hal yang lain akan ditambahkan kepada kita. Jika kita membaca kelanjutan kisah Elia dalam Alkitab, kita akan tahu bahwa Elia pun akhirnya tetap mendapatkan makanan dengan cara yang ajaib. Tuhan kita akan memenuhi segala yang kita perlukan, ketika kita terlebih dahulu mencari Tuhan, bukan mencari berkatNya. Justru ketika “sungai” yang biasa kita andalkan menjadi kering, itu adalah salah satu pertanda bagi Tuhan bahwa Ia akan membuka “jalan” yang baru untuk memberkati kita.


Bacaan Alkitab: 1 Raja-raja 17:5-9
17:5 Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan.
17:6 Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.
17:7 Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu.
17:8 Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia:
17:9 "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan."

Senin, 18 Juni 2012

Godaan Ketika Berpuasa


Senin, 18 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Matius 4:1-11
“Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.” (Mat 4:2)


Godaan Ketika Berpuasa


Beberapa waktu yang lalu, saya pernah melakukan doa dan puasa terkait sesuatu hal. Saya sendiri mengimani bahwa ketika ada suatu masalah atau pergumulan yang menurut saya levelnya sudah lebih tinggi dari yang biasa saya hadapi, maka itulah saatnya saya harus berdoa dan berpuasa di hadapan Allah, memohon belas kasihanNya bagi kehidupan saya. Pada saat hari pertama saya memutuskan untuk berdoa dan berpuasa, ternyata di kantor diadakan acara seminar hampir sehari penuh. Dan muncullah godaan yang sangat sulit bagi saya, karena dalam acara tersebut terdapat makan siang dan menu-menunya adalah makanan yang menjadi favorit saya seperti bakwan malang, pempek palembang, dan juga siomay bandung. Jujur saja, makanan-makanan tersebut merupakan target utama saya ketika ada acara, entah itu acara resepsi pernikahan atau acara-acara seperti di kantor ini. Saya sendiri waktu itu sempat sedikit protes kepada Tuhan, “Kok hari pertama udah digoda dengan makanan favorit saya sih Tuhan?”. Tetapi ketika saya membaca perikop Alkitab kita hari ini, saya sadar bahwa Tuhan sendiri juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang saya rasakan.

Tuhan Yesus berpuasa 40 hari dan 40 malam di padang gurun, dan akhirnya Yesus pun menjadi lapar (ay. 1-2). Kemungkinan besar puasa Yesus adalah puasa tidak makan, karena secara medis tidak mungkin orang mampu tidak minum selama 40 hari. Di samping itu Alkitab juga mengatakan bahwa Yesus lapar, tetapi tidak haus. Bayangkan jika kita puasa seharian saja, pagi sampai sore, pastilah pada saat sore (saat akan mengakhiri puasa), kita pasti akan berada dalam kondisi kelaparan, dan tidak dapat berpikir jernih bukan? Demikian juga dengan Yesus, pada saat itulah Iblis datang dan berkata, mungkin jika dibahasakan dengan bahasa sekarang akan seperti ini: “Yesus, Engkau kan pasti lapar? Mengapa Engkau tidak mengubah batu-batu ini menjadi roti? Engkau kan Anak Allah yang punya kuasa?” (ay. 3).

Sepintas apa yang disampaikan Iblis adalah rohani. Pada pencobaan pertama, iblis tidak meminta Yesus menyembah kepada iblis, tetapi Iblis mencoba untuk mengarahkan Yesus agar ia lupa dengan tujuan puasa yang semula. Iblis ingin agar Yesus mengakhiri puasa dengan cara membuat batu menjadi roti, suatu hal yang mudah bagi dilakukan oleh Yesus. Tetapi Yesus menolak usulan iblis tersebut dengan mengutip Firman Tuhan (ay. 4). Memang godaan iblis paling ampuh dilawan dengan Firman Tuhan.

Iblis juga tahu bahwa saat berpuasa, pada umumnya manusia tidak akan dapat berpikir panjang. Oleh karena itu setelah gagal dengan usaha pencobaan pertamanya, iblis kemudian mencobai Yesus dengan meminta Ia menjatuhkan diri ke bawah, karena Allah Bapa pasti akan mengutus malaikat-malaikatNya untuk menjaga agar Yesus tidak jatuh (ay. 5-6). Ini merupakan pencobaan kedua, yaitu pencobaan popularitas. Saat ini pun banyak orang Kristen yang ingin populer melaui jejaring sosial. Ketika seseorang mau berpuasa saja, masih sempat update status di Facebook atau Twitter. Apa sih tujuan orang berpuasa? Tuhan Yesus sendiri jika mau menjatuhkan diri dari atas Bait Suci dan malaikat Tuhan menangkap dan menjagaNya agar tidak jatuh, tentu Yesus akan langsung terkenal di antara orang Israel. Tetapi Yesus tidak mau melakukannya (ay. 7), karena esensi berpuasa sendiri adalah menahan dan mengendalikan diri sendiri.

Terakhir, iblis pun menggunakan cara ketiga, yaitu menjanjikan seisi dunia kepada Yesus asal Ia mau menyembahnya (ay. 8-9). Iblis sebenarnya tahu, bahwa Yesus itu adalah Tuhan sendiri, dan berkuasa atas seluruh dunia beserta isinya. Lalu mengapa pula iblis mencobai Yesus dalam hal kekayaan dunia? Ada yang mengatakan bahwa iblis sudah putus asa. Tetapi mungkin saja ini adalah usaha iblis yang terakhir, berharap Yesus lengah dan dalam kondisi lapar akhirnya menyembah iblis. Akan tetapi Yesus masih mampu menguasai diriNya dan mengusir Iblis (ay. 10). Setelah lulus dari pencobaan tersebut, Allah Bapa pun mengutus malaikat-malaikatNya untuk melayani Yesus (ay. 11).

Apa implikasinya bagi kita saat ini? Sederhana saja menuruut saya, apakah selama ini kita sudah sering berpuasa? Berpuasa dalam ajaran Kristen bukan berpuasa untuk menyiksa diri, atau berpuasa untuk mendapatkan amal ibadah. Berpuasa yang benar adalah merendahkan diri kita di hadapan Tuhan dan mempersilahkan Tuhan berkuasa dalam kehidupan kita (Im 23:29). Berpuasa juga berarti merendahkan diri karena menyadari segala dosa-dosa dan kesalahan kita (1 Sam 7:6). Berpuasa juga dapat dilakukan ketika kita memohon kemurahan hati serta belas kasihan Tuhan dalam permasalahan yang kita hadapi (2 Sam 12:22), atau menanyakan kehendak Tuhan bagi kita (2 Taw 20:3). Dalam ayat lain berpuasa tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga agar kita bisa membawa pembebasan bagi orang-orang yang tertindas (Yes 58:3-6). Ketika kita berpuasa, kita pun tidak boleh mencari pujian dari orang lain, misalnya dengan cara berkoar-koar bahwa kita sedang berpuasa, atau menampakkan wajah yang kelaparan sehingga orang lain memuji kita karena kita berpuasa (Mat 6:16-17). Pertanyaannya, sudahkah kita menjadikan puasa sebagai lifestyle kita? Berpuasa bukan menjadi beban, melainkan sebagai anugerah, karena doa dan puasa akan jauh lebih dashyat dampaknya dibandingkan doa biasa (Mat 17:21), tentunya kita pun harus melakukan doa dan puasa dengan motivasi yang benar di hadapan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Matius 4:1-11
4:1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
4:3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
4:5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,
4:6 lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
4:7 Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
4:9 dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."
4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
4:11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

Kamis, 14 Juni 2012

Beban Berat atau Kuk Tuhan?


Minggu, 17 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Matius 11:28-30
“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Mat 11:29)


Beban Berat atau Kuk Tuhan?


Banyak orang kadang-kadang suka mencomot ayat dari satu bagian tertentu, kemudian mencoba menghubungkan dengan ayat lain di bagian Alkitab lainnya tanpa memperhatikan konteks dari ayat tersebut dengan ayat-ayat sebelumnya. Memang tidak sepenuhnya salah, karena kadang-kadang Tuhan bisa berbicara dari satu ayat kepada kita. Akan tetapi jika ingin mengerti makna sebenarnya dari suatu ayat, tentu kita perlu membaca ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Demikian juga dengan ayat Alkitab yang kita baca hari ini. Banyak orang Kristen hanya mau membaca ayat 28: “Marilah kepada-Ku [Tuhan Yesus], semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku [Tuhan Yesus] akan memberi kelegaan kepadamu”. Ayat yang luar biasa bukan? Memang Tuhan kita adalah Tuhan yang luar biasa, ketika kita letih lesu dan memiliki beban berat dalam kehidupan kita, maka Tuhan akan memberi kelegaan kepada kita?

Banyak orang hanya melihat kata “kelegaan” pada ayat 28 tersebut dan menganggap bahwa ketika kita mengalami masalah dan datang kepada Tuhan Yesus, pasti masalah kita selesai dan kita akan bisa menjalani hidup kita tanpa masalah lagi. Benarkah demikian? Tentu jika kita membaca ayat-ayat selanjutnya, kita akan lebih mengerti makna dari ayat 28 tersebut. Tuhan memang akan memberikan kelegaan kepada kita, akan tetapi Tuhan juga meminta kita untuk memikul kuk dari Tuhan dan belajar kepada Tuhan (ay. 29a). Kuk adalah semacam alat yang dipasang pada hewan ternak (umumnya sapi, kerbau, kuda, atau keledai) sehingga hewan tersebut dapat menarik sesuatu yang dipasang di belakangnya (umumnya bajak atau gerobak).

Jika kita perhatikan, sepertinya ada kontradiksi antara ajakan Tuhan kepada manusia untuk mendapatkan kelegaan dari Tuhan (ay. 28), dengan perintah Tuhan agar kita memikul kuk yang Tuhan pasang (ay. 29a). Walaupun demikian, jika kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, ada perbedaan antara memikul beban yang bukan dari Tuhan dengan memikul kuk yang dari Tuhan. Kuk dari Tuhan itu adalah kuk yang enak dan bebannya ringan (ay. 30). Inilah harga yang harus dibayar oleh setiap orang percaya, yaitu sangkal diri, pikul salib dan ikut Yesus (Mat 16:24). Mengiring Tuhan bukan berarti bebas dari masalah dan beban dunia, tetapi tetap ada harga yang harus dibayar. Walaupun demikian, kita pun harus belajar percaya bahwa beban dari Tuhan pasti jauh lebih baik daripada beban di luar Tuhan.

Tuhan kita adalah Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati (ay. 29b). Ketika kita mau taat kepada Tuhan, maka jiwa kita pun akan mendapatkan ketenangan (ay. 29c). Namun seringkali kita hanya mau enaknya saja. Kita meminta kelegaan dan ketenangan dari Tuhan, tetapi kita tidak mau membayar harga. Ibaratnya, kita menuntut hak kita kepada Tuhan padahal kewajiban kita tidak kita lakukan sama sekali. Bukankah itu sama saja dengan tidak menghargai Tuhan? Coba hitung, dalam hari ini saja, berapa banyak kita bersyukur kepada Tuhan atas segala berkat-berkatNya dalam kehidupan kita? Di sisi lain, berapa banyak kita meminta kepada Tuhan melalui doa-doa kita? Ingat, ajakan Tuhan Yesus memang berlaku bagi semua orang, dan ketika kita datang kepadaNya maka  Tuhan pasti akan memberikan kelegaan kepada kita. Akan tetapi, ketika Tuhan memasang kuk pada diri kita, maukah kita tetap tunduk dan melakukan tanggung jawab dan bagian kita, sama seperti lembu yang tetap berjalan membajak sawah ketika dipasang kuk pada lehernya?


Bacaan Alkitab: Matius 11:28-30
11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."