Jumat, 27 Juli 2012

Memperbaiki Kesalahan


Rabu, 25 Juli 2012
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 26:9-18
Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti.” (Kis 26:16)


Memperbaiki Kesalahan


Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan yang fatal dalam hidupnya. Saya rasa, itulah seni dari kehidupan, yaitu dimana kita pernah “jatuh” dan kemudian kita bangkit dan belajar dari kejatuhan kita tersebut. Walaupun demikian, kita dapat mengelompokkan orang berdasarkan waktu orang tersebut melakukan kesalahan. Ada orang yang melakukan kesalahan di masa awal hidupnya, dan ia kemudian mencoba memperbaikinya dan akhirnya keluar sebagai pemenang. Ada juga orang yang melakukan kesalahan di pertengahan masa hidupnya, bahkan ada yang melakukan kesalahan di akhir masa hidupnya. Jika kita melihat, Yudas Iskariot adalah salah satu yang melakukan kesalahan di masa akhir hidupnya yaitu menjual Tuhan Yesus, dan ia tidak pernah punya kesempatan untuk menjual Yesus. Daud pernah melakukan kesalahan yaitu berzinah dengan Batsyeba, pada pertengahan masa hidupnya, dan ia pun masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Sedangkan Paulus, yang akan kita pelajari pada hari ini, pernah melakukan kesalahan pada masa awal hidupnya, yaitu dengan menganiaya jemaat Tuhan, sebelum akhirnya Tuhan pakai secara luar biasa untuk menjadi hamba Tuhan bagi bangsa-bangsa.

Paulus sendiri, dalam pembelaannya yang disampaikan di hadapan raja Agripa, menyatakan bahwa hidupnya dahulu adalah hidup yang salah. Ia menyangka bahwa dahulu ia harus bertindak keras menentang orang-orang percaya (ay. 9), bahkan menghukum mati orang percaya (ay. 10). Paulus dahulu malah sering menangkap dan menyiksa jemaat, bahkan ketika mereka berada di rumah ibadat, dan mengejar jemaat Tuhan hingga ke kota-kota lain (ay. 11). Ini dilakukan Paulus ketika ia dahulu belum mengenal kasih Tuhan.

Tetapi syukur kepada Allah, bahwa Allah telah mengubahkan hidup Paulus melalui peristiwa yang menimpanya di dalam perjalanan ke Damsyik (ay. 12). Allah memanggil Paulus dengan cara yang ajaib (ay. 13-15), dan setelah itu meminta Paulus untuk menjadi pelayan dan saksi Tuhan (ay. 16), bahkan menjadikan Paulus sebagai utusan Tuhan bagi bangsa-bangsa yang belum pernah mengenal kasih Tuhan (ay. 17), bahkan menjadi alat Tuhan untuk menyelamatkan mereka sehingga bangsa-bangsa tersebut masuk ke dalam kumpulan orang-orang kudus (ay. 18).

Bayangkan, dari dahulu yang penganiaya jemaat Tuhan, sekarang Paulus telah menjadi hamba dan pelayan Tuhan. Paulus yang dahulu mengejar-ngejar jemaat Tuhan untuk dibunuh, kini mengajar jemaat Tuhan untuk bertumbuh. Paulus boleh dibilang telah melakukan kesalahan yang sangat fatal di awal-awal masa hidupnya, bahkan mungkin pernah membunuh jemaat Tuhan dengan cara menyetujui hukuman mati bagi mereka. Akan tetapi Tuhan mengubah Paulus dan membuatnya menyadari kesalahannya sehingga Paulus sadar dan bertobat, berbalik 180 derajat  untuk melayani Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Adakah kita pernah melakukan kesalahan yang fatal dalam kehidupan kita? Selagi masih ada waktu, mari kita menyadari dan bertobat dari kesalahan kita. Mari selagi ada waktu kita berusaha semaksimal mungkin memperbaiki kesalahan kita tersebut, sehingga dampak dari kesalahan kita itu dapat dimaksimalkan. Orang yang hebat bukanlah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan, tetapi orang yang memperbaiki kesalahan yang pernah ia perbuat, orang yang belajar dari kesalahan yang ia perbuat, dan orang yang tidak pernah jatuh pada kesalahan yang sama. Mari kita seperti Paulus, yang walaupun kesalahannya sudah amat fatal, tetapi mau berubah dan mau dipakai Tuhan untuk melakukan kehendakNya,


Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 26:9-18
26:9 Bagaimanapun juga, aku sendiri pernah menyangka, bahwa aku harus keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret.
26:10 Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati.
26:11 Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing."
26:12 "Dan dalam keadaan demikian, ketika aku dengan kuasa penuh dan tugas dari imam-imam kepala sedang dalam perjalanan ke Damsyik,
26:13 tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku.
26:14 Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.
26:15 Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu.
26:16 Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti.
26:17 Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka,
26:18 untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.

Memiliki Sikap Mencukupkan Diri sebagai Bukti Keyakinan Iman Kita


Selasa, 24 Juli 2012
Bacaan Alkitab: Ibrani 13:5-6
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."” (Ibr 13:5)


Memiliki Sikap Mencukupkan Diri sebagai Bukti Keyakinan Iman Kita


Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang sikap mencukupkan diri yang harus dijadikan sebagai salah satu gaya hidup (life style) orang percaya. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh memiliki keinginan untuk hidup berkelimpahan, akan tetapi ketika kita bisa memiliki sikap mencukupkan diri dalam kondisi apapun, maka tidak akan menjadi masalah bagi kita ketika Tuhan membuka keran berkatNya lebar-lebar dan memberkati kita dengan penuh kelimpahan. Akan tetapi orang yang tidak dapat mencukupkan diri dan hanya memiliki pandangan tentang kelimpahan, maka ketika Tuhan menguji orang tersebut dengan mengambil atau menahan sebagian berkatNya, maka orang tersebut akan mudah sekali goyah.

Banyak sekali contoh dalam Alkitab yang secara tidak langsung menunjukkan sikap mencukupkan diri. Yusuf misalnya, dahulu adalah anak orang kaya, akan tetapi ia pernah menjadi budak, menjadi tahanan, sebelum akhirnya menjadi penguasa di Mesir. Daud misalnya, dahulu adalah anak orang kaya (keturunan Boas yang adalah tuan tanah), tetapi Daud mau menggembalakan domba di padang, menjadi buronan raja Saul, sebelum akhirnya ia menanjak hingga menjadi raja Israel. Setelah menjadi raja pun ia pernah menjadi pelarian dan mengungsi bersama rakyat, sebelum akhirnya mendapatkan tahtanya kembali. Ayub misalnya, ia memiliki kekayaan yang luar biasa, tetapi ketika kekayaannya habis, ia tidak mengeluh karena ia memiliki sikap hati yang benar di hadapan Tuhan.

Bacaan Alkitab kita hari ini juga mengingatkan kita  untuk memiliki sikap mencukupkan diri. Apa itu mencukupkan diri? Artinya kita harus belajar untuk hidup sesuai berkat yang Tuhan berikan bagi kita. Jika kita mendapat berkat (dalam konteks ini lebih ke arah materi) banyak, kita harus dapat mengelola berkat tersebut agar kita dapat hidup, sementara jika kita mendapatkan materi sedikit, kita harus memiliki sikap yang mampu mengelola materi yang sedikit tersebut. Intinya sikap mencukupkan diri tidak tergantung pada keadaan, melainkan lebih kepada sikap hati kita ketika melihat berkat Tuhan.

Mencukupkan diri berarti kita menjadi hamba Tuhan, bukan hamba uang (ay. 5a). Ketika kita menjadi hamba Tuhan, itu berarti kita menjadikan Tuhan sebagai tuan kita, dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Seorang hamba menyerahkan seluruh kehidupannya, bahkan kehidupan keluarganya kepada tuannya. Seorang hamba mengandalkan gaji dan pemberian dari tuannya agar ia dan keluarganya dapat hidup. Itulah prinsip menjadi hamba Tuhan. Kita bersyukur memiliki Tuhan sebagai tuan kita, karena Tuhan telah berjanji tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita (ay. 5b).

Mencukupkan diri itu adalah bukti nyata tindakan iman kita. Ketika kita mau belajar untuk mencukupkan diri, berarti kita percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Kita lebih percaya dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal, bahkan ketika sepertinya berkat Tuhan (secara materi) itu hanya sedikit. Ketika uang kita hanya sedikit dan kita bisa berkata “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut” (ay. 6), itu adalah tanda bahwa kita sudah berhasil mencapai taraf mencukupkan diri. Jika kita sudah mencapai tahap tersebut, maka tidak akan menjadi masalah bagi kita, seberapa banyak berkat yang Tuhan berikan kepada kita, karena yang terpenting adalah iman kepada Tuhan Sang Pemberi Berkat, bukan iman kepada berkat itu sendiri.



Bacaan Alkitab: Ibrani 13:5-6
13:5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
13:6 Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

Risiko yang Harus Ditanggung Lazarus


Senin, 23 Juli 2012
Bacaan Alkitab: Yohanes 12:9-11
Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.” (Yoh 12:10-11)


Risiko yang Harus Ditanggung Lazarus


Saya kadang-kadang kasihan dengan para artis atau selebritis, walaupun mereka memiliki ketenaran, banyak uang, dan banyak hal-hal lainnya yang mereka miliki, akan tetapi mereka sebetulnya kekurangan satu hal, yaitu privasi. Ketika belum menjadi artis, mereka dapat dengan mudah pergi ke mana-mana tanpa gangguan. Mereka bisa pergi ke mal atau plaza tanpa harus diganggu oleh orang lain atau penggemar mereka. Tetapi berdasarkan pengalaman saya bertemu dengan selebritis di mal dan juga di bandara, mereka tidak bisa mengelak ketika ada orang meminta untuk berfoto bersama. Mereka harus menjaga sikap mereka, sehingga walaupun mereka lelah dan capek, mereka harus tetap melayani permintaan penggemar mereka.

Ini yang dinamakan risiko pekerjaan. Setiap pekerjaan yang kita lakukan pasti memiliki risiko yang mau tidak mau harus siap kita tanggung. Demikian juga dengan posisi kita sebagai anak-anak Tuhan, kita juga memiliki risiko yang harus selalu siap kita tanggung. Alkitab berkata bahwa barangsiapa ingin mengikut Tuhan, maka kita harus menyangkal diri dan memikul salib (Mat 16:24). Memikul salib di sini berbicara tentang risiko yang harus kita tanggung ketika kita memutuskan untuk mengiring Tuhan.

Lazarus juga menghadapi hal yang sama. Lazarus adalah saudara Maria dan Marta yang tinggal di Betania (Yoh 11:1). Jika kita baca kelanjutan kisah Lazarus, maka kita akan tahu bahwa Lazarus sakit dan kemudian meninggal dunia. Ia sudah meninggal dan dikubur empat hari lamanya ketika Tuhan Yesus akhirnya datang ke daerah Betania, mengunjungi Maria dan Marta (Yoh 11:39). Akan tetapi akhirnya karena kasih Tuhan Yesus, Lazarus akhirnya dibangkitkan dan hidup kembali setelah empat hari mati.

Seharusnya Lazarus bisa hidup dengan tenang bukan, ia mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup kembali dan memuliakan Allah. Akan tetapi Iblis dan dunia ini memang tidak ingin nama Tuhan dimuliakan, sehingga Alkitab mencatat bahwa sejak saat itu juga, Lazarus menjadi musuh orang Yahudi (ay. 9), dan bahkan para imam kepala juga bermufakat (bersepakat) untuk membunuh Lazarus juga (ay. 10), karena oleh karena Lazaruslah maka banyak orang Yahudi percaya kepada Yesus dan meninggalkan ajaran imam-imam kepala tersebut (ay. 11).

Saya merasa kasihan dengan Lazarus. Mungkin saja Lazarus tidak banyak bicara tentang apa yang dilakukan Yesus. Akan tetapi justru karena mujizat yang dialaminyalah maka banyak orang menjadi percaya kepada Yesus. Lazarus mungkin bukan pengkhotbah yang baik, karena nama Lazarus (bukan pengemis yang bernama Lazarus) hanya ada di Alkitab pada dua pasal di kitab Yohanes ini saja. Kita juga tidak tahu kelanjutan nasib Lazarus, apakah ia masih hidup hingga masa tuanya, atau apakah ia akhirnya dibunuh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi. Akan tetapi, saya percaya bagaimanapun akhir hidupnya, ia pasti mempertahankan iman kepada Tuhan Yesus, yang pernah membangkitkannya dari antara orang mati.

Tidak hanya Lazarus, kita semua pun memiliki risiko yang sama, walaupun mungkin bebannya berbeda-beda satu sama lain. Ada salib yang harus kita pikul. Ada harga yang harus kita bayar untuk mengiring Tuhan. Salib saya dan salib anda tentu berbeda. Kita memiliki salib yang berbeda-beda, tetapi satu hal yang pasti, kita pasti memiliki salib yang menjadi bagian kita. Sudah siapkah kita dengan risiko tersebut? Sudah siapkah kita membayar harga untuk mengiring Tuhan? Tuhan sudah membayar harga penebusan kita dengan pengorbananNya di atas kayu salib, bagaimana mungkin kita tidak mau membayar harga kita untuk Tuhan?


Bacaan Alkitab: Yohanes 12:9-11
12:9 Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati.
12:10 Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga,
12:11 sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

Rabu, 25 Juli 2012

Tanda dari Surga


Minggu, 22 Juli 2012
Bacaan Alkitab: Matius 16:1-4
Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan
tanda selain tanda nabi Yunus." Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi. (Mat 16:4)


Tanda dari Surga


Pernahkah kita meminta suatu tanda dari Tuhan, entah mungkin karena kita ingin peneguhan dari Tuhan bahwa kita harus melakukan suatu hal, atau karena kita hanya iseng-iseng saja meminta tanda dari Tuhan, syukur-syukur dikabulkan oleh Tuhan. Tahukah kita, bahwa ketika Tuhan memberikan tanda dari surga kepada seseorang, itu bukanlah suatu kebetulan belaka, melainkan pasti ada maksud Tuhan bagi orang tersebut? Tidak semua orang pernah mendapatkan tanda dari Tuhan, dan banyak orang ingin mendapatkan tanda dari Tuhan. Akan tetapi banyak orang juga sebenarnya tidak menyadari apa alasan mereka meminta tanda dari Tuhan.

Alkitab kita berisi banyak hal-hal yang tidak dapat dijelaskan dengan logika manusia. Banyak tokoh-tokoh dalam Alkitab yang pernah mendapatkan tanda dari Tuhan. Akan tetapi dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita menemukan bahwa ada orang Farisi dan Saduki yang meminta tanda kepada Tuhan Yesus. Alkitab mengatakan bahwa motivasi mereka meminta tanda tersebut adalah untuk mencobai Yesus (ay. 1). Agak mengherankan memang mengingat orang Farisi dan Saduki tentu saja sudah melihat berbagai mujizat dan tanda-tanda heran yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sebelumnya, di mana jika kita baca pasal sebelumnya saja, kita akan menemukan bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkan banyak orang sakit (Mat 15:29-31) dan bagaimana Tuhan Yesus memberi makan 4.000 orang (Mat 15:32-39).

Tuhan Yesus pun menjawab permintaan orang Farisi dan Saduki tersebut dengan ucapan yang jika dibahasakan dalam bahasa sehari-hari saat ini mungkin akan berbunyi seperti ini, “Kalian bisa melihat tanda alam, kalian bisa membedakan apakah hari akan cerah atau tidak dengan melihat warna langit, akan tetapi mengapa kalian tidak percaya kepadaKu dengan melihat apa yang telah Kulakukan?” (ay. 2-3). Tuhan Yesus sudah menunjukkan banyak tanda kepada orang Yahudi, termasuk kepada orang Farisi dan Saduki. Seharusnya mereka pun mengerti bahwa memang tanda-tanda itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus memang benar-benar adalah Mesias. Akan tetapi mereka buta dan tidak dapat melihat hal tersebut.

Jika kita baca ayat-ayat selanjutnya, Tuhan Yesus tetap mengadakan tanda-tanda dan mujizat setelah peristiwa itu. Pekerjaan Tuhan tidak dibatasi oleh permintaan segelintir orang. Setelah itu Tuhan Yesus memang tidak memberikan tanda secara khusus kepada orang Farisi dan Saduki, karena Tuhan Yesus sendiri memang telah berkata bahwa mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus (ay. 4). Apa yang dimaksudkan Yesus di sini adalah bahwa ada tanda yang bersifat khusus (misal mujizat yang dialami seseorang), dan tanda yang bersifat umum (misal kisah tentang mujizat Yunus, yang pasti sudah diketahui semua orang Yahudi termasuk orang Farisi dan Saduki karena sudah tertulis di dalam kitab Yunus di Perjanjian Lama).

Apakah ada di antara kita yang pernah atau sedang meminta tanda dari Tuhan? Tidak salah memang meminta tanda dari Tuhan, akan tetapi akan jauh lebih baik apabila hidup kita dan iman kita tidak didasari hanya berdasarkan tanda semata. Iman itu secara singkat adalah melihat jauh melalui mata rohani, walaupun secara mata jasmani hal tersebut belum terlihat nyata. Jadi ketika kita meminta tanda dari Tuhan, sesungguhnya iman kita sedang kurang atau lemah, karena jika iman kita kuat, tidak perlu tanda-tanda semacam itu pasti kita sudah yakin bahwa Tuhan pasti akan menjawab dan menolong kita.


Bacaan Alkitab: Matius 16:1-4
16:1 Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka.
16:2 Tetapi jawab Yesus: "Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah,
16:3 dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak.
16:4 Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus." Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi.

Bersaksi di Antara Orang-orang Seiman


Sabtu, 21 Juli 2012
Bacaan Alkitab: Mazmur 111:1-5
Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya.” (Mzm 111:5)


Bersaksi di Antara Orang-orang Seiman


Kita sering mendengar kesaksian orang yang menyatakan bahwa Tuhan itu baik. Benarkah Tuhan itu baik? Saya sendiri tidak ragu sama sekali bahwa Tuhan itu baik. Akan tetapi sayangnya masih ada orang percaya yang belum merasakan kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Atau ada juga orang percaya yang menerima kebaikan Tuhan akan tetapi kurang bersyukur kepada Tuhan. Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat bagaimana pemazmur adalah orang yang sungguh-sungguh merasakan kebaikan Tuhan. Bahkan karena itulah maka pemazmur pun mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati (ay. 1a), bukan hanya sekedar di mulut saja.

Apa yang dilakukan pemazmur adalah bersyukur dalam lingkungan orang-orang benar dan jemaah Tuhan (ay. 1b). Mengapa demikian? Memang tidak ada salahnya bersyukur di antara orang-orang yang belum mengenal Tuhan sekalipun, karena mereka juga akan melihat bagaimana kasih dan penyertaan Tuhan kepada kita. Akan tetapi pemazmur lebih menitikberatkan pada bersyukur di antara orang-orang seiman supaya jemaat juga dapat dibangun oleh kesaksian kita.

Apa yang seharusnya kita saksikan dalam kumpulan jemaat Tuhan? Tidak lain adalah perbuatan-perbuatan Tuhan yang besar (ay. 2), pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang agung dan semarak (ay. 3a), keadilan Tuhan yang selalu tetap untuk selama-lamanya (ay. 3b), perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib dan patut untuk selalu kita ingat (ay. 4a), serta kasih sayang Tuhan yang kita terima dalam kehidupan kita (ay. 4b), dan juga bagaimana Tuhan senantiasa memberikan berkat-berkatNya kepada kita (ay. 5).

Intinya, bersaksi itu sebenarnya mudah dan tidak sulit, karena sebetulnya inti dari bersaksi adalah menceritakan kembali kepada orang lain apa yang Tuhan telah lakukan dalam kehidupan kita. Kita tidak perlu berbohong atau membual dan melebih-lebihkan apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Cukup dengan mengatakan yang sebenarnya, dengan motivasi untuk memuliakan Tuhan, maka kita sudah dapat bersaksi kepada Tuhan. Mungkin pada tahap awal kita tidak perlu memikirkan apakah kata-kata dan kalimat yang kita ucapkan itu sudah baik atau belum, akan tetapi sebenarnya kita seharusnya hanya berpikir bagaimana kita boleh membagikan apa yang kita terima kepada orang lain.

Saya rasa, sekecil apapun pengalaman kita berjalan bersama Tuhan, hal itu selalu dapat kita bagikan kepada orang lain. Tidak harus lewat kesaksian secara formal di gereja misalnya, tetapi dapat dilakukan ketika kita sharing dalam kelompok-kelompok kecil atau ibadah rumah tangga, atau misal dengan meng-update status Facebook dan Twitter kita dengan kesaksian kita yang memuliakan nama Tuhan. Tidak ada batasan bagaimana cara kita bersaksi, yang ada hanyalah batasan apakah kita mau atau tidak untuk menceritakan kasih Tuhan, dan batasan apakah kita malu atau tidak untuk menceritakan kasih Tuhan.


Bacaan Alkitab: Mazmur 111:1-5
111:1 Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.
111:2 Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.
111:3 Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya.
111:4 Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang.
111:5 Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya.


Selasa, 24 Juli 2012

Kesalahan Saul sebagai Pemimpin


Jumat, 20 Juli 2012
Bacaan Alkitab: 1 Tawarikh 10:13-14
Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, dan tidak meminta petunjuk TUHAN.” (1 Taw 10:13-14a)


Kesalahan Saul sebagai Pemimpin


Ketika saya menulis renungan ini, salah seorang hamba Tuhan, gembala sidang saya di gereja saya yang lama, telah dipanggil Tuhan pulang ke rumah Bapa di surga. Memang almarhum adalah seorang yang sudah cukup berumur bahkan dapat dikatakan sudah sepuh, tetapi satu hal yang salut adalah tentang kesetiaannya dalam melayani Tuhan tidak perlu diragukan. Almarhum adalah salah seorang pendiri sinode gereja saya, bahkan sempat menjabat sebagai ketua sinode untuk beberapa periode kepemimpinan, padahal gereja tempat almarhum menggembalakan jemaatnya hanyalah gereja yang dapat dikatakan kecil, di sebuah gang, dan jemaatnya hanya berkisar 200-an orang.

Jujur saja, ketika orang meninggal dunia, maka orang lain akan diingatkan lagi tentang segala hal dan segala jasa-jasa yang telah dilakukan orang yang telah meninggal dunia tersebut. Rasa-rasanya, kecuali yang meninggal adalah seorang penjahat, maka orang akan memberikan kesan positif terhadap orang yang meninggal. Akan tetapi, ketika kita membaca Firman Tuhan pada hari ini, kita melihat bahwa penulis Alkitab, yaitu penulis kitab Tawarikh tidak segan-segan menulis kebenaran ketika ia menceritakan tentang kematian raja Saul.

Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa Saul mati bukan karena ia tidak mampu berperang dan bukan karena musuh lebih hebat dan berhasil mengalahkannya, melainkan Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap Tuhan (ay. 13a). Penulis kitab Tawarikh ini ingin menunjukkan bahwa Saul bukan mati karena musuhnya, tetapi karena kesalahannya sendiri. Saul tidak mati karena kesalahan strategi yang diterapkannya ketika melawan orang Filistin, tetapi karena kesalahannya tidak setia terhadap Tuhan. Padahal dalam sepuluh perintah Allah, Tuhan sudah jelas mengatakan perintah “Jangan ada padamu allah lain dihadapanKu” (Kel 20:3). Alkitab mengatakan dengan jelas apa yang dimaksud dengan tidak setia terhadap Tuhan, yaitu:

Pertama, Saul tidak berpegang pada firman Tuhan (ay. 13b). Firman Tuhan adalah Firman dari Tuhan sendiri. Dalam Firman Tuhan tekandung nasihat-nasihat Tuhan, perintah-perintah, larangan-larangan, dan ajaran-ajaran dari Tuhan yang berguna bagi kita agar kita bisa hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Seseorang tidak dapat mengatakan “Aku setia kepada Tuhan” ketika ia tidak mau melakukan apa yang Tuhan mau. Seseorang tidak dapat melakukan apa yang Tuhan mau ketika ia tidak mau membaca Firman Tuhan. Oleh karena itu, seseorang akan dapat dengan mudah menyimpang, berdosa, bahkan murtad dan meninggalkan Tuhan ketika ia sudah tidak pernah lagi membaca Firman Tuhan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk senantiasa menjadikan Firman Tuhan sebagai kesukaan kita, sebagai makanan rohani kita yang harus kita baca setiap harinya.

Kedua, Saul tidak meminta petunjuk dari Tuhan, melainkan meminta petunjuk dari arwah (ay. 13c-14a). Saya tidak ingin membahas apakah memang kita bisa meminta petunjuk dari arwah, akan tetapi yang ingin saya tekankan adalah bagaimana Saul sebagai raja, justru tidak meminta petunjuk dari Tuhan yang telah mengangkatnya sebagai raja atas bangsa Israel. Ia lebih suka meminta petunjuk dari orang lain, bahkan dalam hal ini Saul justru lebih suka meminta petunjuk kepada arwah. Tidak ada cara lain agar kita menjadi berhasil kecuali kita berdoa kepada Tuhan dan memohon Tuhan menunjukkan kepada kita jalan mana yang harus kita tempuh dan pilihan apa yang harus kita perbuat. Jika kita tidak mau mengandalkan Tuhan sebagai penuntun hidup kita, ya jangan salahkan Tuhan jika hidup kita menjadi berantakan karena kita lebih mengandalkan orang lain dan diri kita sendiri daripada mengandalkan Tuhan.

Itulah inti dari kesalahan yang Saul lakukan, yang dapat diringkas dalam dua hal, yaitu tidak berpegang pada Firman Tuhan dan tidak meminta petunjuk dari Tuhan. Oleh karena dua hal tersebut maka Tuhan menyerahkan kerajaan Israel kepada Daud (ay. 14b). Memang jika kita membaca sejarah raja-raja bangsa Israel, tidak ada raja yang sempurna, semua memiliki kelemahan. Akan tetapi, jika kita perhatikan, apa yang dilakukan oleh Saul ini sungguh fatal. Ketika ia tidak menjadikan Tuhan sebagai pihak yang nomor satu dalam kehidupannya, maka sebagai pemimpin ia sesungguhnya telah membawa seluruh bangsa yang dipimpinnya menuju kehancuran.

Adakah kita saat ini menjadi seorang pemimpin? Jika ya, mari kita belajar dari Saul, dan jangan melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh Saul. Jika tidak, mari belajar juga dari kisah Saul ini, agar kita juga tidak melakukan kesalahan yang sama ketika nantinya kita menjadi seorang pemimpin. Namun di sisi lain, kita juga perlu mendukung pemimpin-pemimpin kita, baik di dalam keluarga, gereja, dan masyarakat agar mereka juga memiliki prinsip yang benar. Entah pemimpin kita adalah orang percaya atau orang yang belum percaya, tugas kita adalah mendukung mereka dalam doa, menyerahkan mereka dalam tangan Tuhan, dan mendoakan agar para pemimpin kita memiliki prinsip hidup yang benar, yang berpegang pada kebenaran Firman Tuhan dan meminta petunjuk kepada Tuhan, bukan kepada yang lain.


Bacaan Alkitab: 1 Tawarikh 10:13-14
10:13 Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah,
10:14 dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai.

Berharga di Mata Tuhan


Kamis, 19 Juli 2012
Bacaan Alkitab: Yesaya 43:4-7
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” (Yes 43:4)


Berharga di Mata Tuhan


Jika kita mau jujur, benda apakah yang kita miliki yang kita anggap paling berharga? Sebagian dari kita mungkin menjawab uang, sebagian mobil, sebagian lagi rumah, dan mungkin ada beberapa yang menganggap handphone adalah benda yang paling berharga, karena dengan handphone kita dapat berkomunikasi dengan orang lain. Ya, semua orang pasti memiliki jawabannya masing-masing, dan saya yakin bahwa semua jawaban itu benar, tergantung dari sudut pandang orang tersebut. Tetapi jika kita perhatikan, bahwa benda tersebut sesungguhnya menjadi berharga ketika benda itu dapat digunakan sesuai keinginan pemiliknya.

Kita dapat mengatakan bahwa handphone kita berharga ketika handphone tersebut dapat kita gunakan untuk menelepon atau mengirim SMS kepada orang lain. Kita dapat mengatakan mobil kita berharga ketika mobil tersebut dapat kita gunakan untuk mengantar kita bepergian dengan baik, dan demikian seterusnya. Nah, ketika bagaimana ketika Tuhan mengatakan bahwa kita itu berharga di mata Tuhan, dan tidak hanya berharga tetapi juga mulia (ay. 4a)? Apakah kita berharga hanya karena kita ciptaan Tuhan?

Ya, di satu sisi memang demikian, Tuhan mengasihi kita karena kita adalah ciptaanNya, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26). Akan tetapi, tidak hanya itu saja, kita juga harus mampu mengerti apa maksud Tuhan menciptakan kita, karena sebenarnya kita tetap berharga di mata Tuhan, apapun kondisi kita, akan tetapi ketika kita sadar apa tujuan Tuhan bagi kita, dan kita mau mengambil bagian dalam tujuan Tuhan tersebut, maka kita akan menjadi milik Tuhan yang paling berharga, karena kita dapat memenuhi harapan Tuhan yang menciptakan dan memiliki kita.

Apa tujuan Tuhan menciptakan kita? Salah satunya adalah untuk memuliakan Tuhan (ay. 7). Semua apa yang Tuhan ciptakan adalah untuk memuliakan Tuhan. Tuhan menciptakan bumi, benda-benda penerang, tumbuhan dan hewan, adalah agar mereka menceritakan kemuliaan Tuhan. Terlebih manusia yang Tuhan ciptakan menurut gambar dan rupaNya.

Ketika kita sudah mengerti apa tujuan Tuhan menciptakan kita dan menjalani hidup dengan tujuan hidup yang benar, maka Tuhan juga akan memberkati kita dengan berlimpah-limpah, bahkan dengan hal-hal yang kita tak pernah bayangkan sebelumnya (ay. 4b-6). Bahkan Firman Tuhan di ayat lain mengatakan bahwa tidak hanya hidup kita saja yang berharga di mata Tuhan, bahkan kematian orang-orang benar yang dikasihi Tuhan juga berharga di mataNya (Mzm 116:15). Ini berarti bahwa segala kehidupan kita, bahkan kematian kita yang berada dalam rancangan dan tujuan Tuhan, semuanya berarti dan berharga di mata Tuhan.

Pertanyaan bagi kita saat ini, sudahkah kita mengerti tujuan Tuhan? Sudahkah kita berjalan dalam tujuan hidup yang Tuhan berikan kepada kita? Memang inti dari tujuan hidup itu adalah untuk memuliakan Tuhan, tetapi cara untuk mencapai tujuan hidup masing-masing kita pasti berbeda-beda. Ada yang Tuhan tetapkan untuk memuliakan Tuhan melalui pekerjaannya di kantor, ada yang Tuhan tetapkan untuk memuliakan Tuhan dengan menjadi hamba Tuhan, atau bahkan juga dengan menjadi ibu rumah tangga yang mendidik anak-anak sehingga menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan. Apapun itu, jalanilah tujuan hidup yang Tuhan telah tetapkan bagi kita sehingga kita juga bisa menjadi orang-orang yang berharga di mata Tuhan.


Bacaan Alkitab: Yesaya 43:4-7
43:4 Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.
43:5 Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau, Aku akan mendatangkan anak cucumu dari timur, dan Aku akan menghimpun engkau dari barat.
43:6 Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Janganlah tahan-tahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi,
43:7 semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!"