Jumat, 14 September 2012

Tempat yang Dipilih Tuhan


Kamis, 6 September 2012
Bacaan Alkitab: Ulangan 12:13-14
Tetapi di tempat yang akan dipilih TUHAN di daerah salah satu sukumu, di sanalah harus kaupersembahkan korban bakaranmu, dan di sanalah harus kaulakukan segala yang kuperintahkan kepadamu.” (Ul 12:14)


Tempat yang Dipilih Tuhan


Jika kita ingin membeli rumah, apakah kita akan sembarangan saja membeli rumah? Tentu saja tidak. Kita pasti akan berusaha mencari tempat yang terbaik bukan? Minimal dari segi lokasi, kualitas, walaupun memang harga sangat berpengaruh dalam pemilihan tersebut. Kita pasti akan mencari tahu apakah tempat tersebut merupakan tempat langganan banjir, atau dahulu bekas kuburan, dan lain sebagainya. Bahkan orang keturunan Tionghoa sangat percaya dengan ilmu Feng Shui dalam menentukan tempat tinggal mereka.

Jika untuk hal-hal yang duniawi saja manusia rela untuk bersusah-susah mencari tempat terbaik bagi mereka untuk tinggal atau bekerja, bagaimana dengan hal-hal yang bersifat rohani? Mungkin ada yang berpikir, “Ah bukankah sama saja berdoa di mana saja, toh Tuhan juga pasti mendengar?”. Memang benar, Tuhan kita memang tidak dibatasi oleh apapun. Tuhan pasti bisa mendengar doa yang kita naikkan di manapun, bahkan mungkin ketika kita sedang di toilet dan sedang sakit perut, Tuhan pun pasti bisa mendengar doa kita yang minta kesembuhan.

Tetapi dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan tidak ingin agar umatNya melakukan ibadah dengan sembarangan. Tuhan ingin agar umatNya beribadah di tempat yang ditentukan Tuhan (ay. 14). Tuhan tidak ingin agar umatNya beribadah atau membersembahkan korban bakaran di sembarang tempat (ay. 13). Apa maksud Tuhan dengan menyampaikan Firman seperti ini? Menurut pendapat saya, hal ini bukan berarti Tuhan ingin agar kita mengeramatkan tempat-tempat tertentu sebagai tempat beribadah. Akan tetapi Tuhan ingin agar dimana Tuhan ingin kita beribadah, di situlah kita beribadah.

Ada dua hal yang dapat kita pelajari dari hal ini. Pertama, kita yang terpanggil untuk mendirikan gereja atau jemaat di suatu tempat, hendaklah sungguh-sungguh menggumulkannya. Hal ini penting karena jangan sampai kita mendirikan gereja atau jemaat di suatu tempat yang sebenarnya Tuhan tidak kehendaki. Bukan berarti bahwa mendirikan gereja itu salah. Tuhan tentu ingin agar gereja berkembang sehingga semakin banyak orang yang percaya dan diselamatkan. Akan tetapi, perlu disadari bahwa mendirikan gereja bukan berarti bisa dilakukan oleh semua orang yang bergelar Pdt. atau S.Th. Mendirikan gereja bukan berarti hanya sebatas punya uang dan bisa membangun gedung atau menyewa gedung lalu kita bisa membuat gereja. Gereja yang sejati sesungguhnya dibangun di atas dasar pergumulan yang sungguh-sungguh, bukan hanya karena beda pendapat dengan pendeta lain lalu kita keluar dan mendirikan gereja baru.

Di sisi lain, kita sebagai orang percaya juga harus menggumulkan dengan sungguh-sungguh di mana kita harus beribadah dan berjemaat. Kita tidak bisa menjadi jemaat yang suka “berjalan-jalan” alias suka berpindah-pindah gereja untuk mencari khotbah yang sesuai dengan kehendak kita. Kita harus benar-benar menggumulkan di mana Tuhan ingin kita beribadah dan berjemaat. Mungkin saja hal itu berarti kita harus pindah dari gereja kita dan pergi ke gereja lain yang lebih kecil hanya agar kita bisa membantu jemaat tersebut dan melayani di sana. Jika itu adalah kehendak Tuhan, ya bagian kita adalah melakukannya dengan setia.

Hal ini menjadi pelajaran bagi kita agar dalam hal yang terlihat sederhana, seperti di mana kita akan beribadah pun kita memerlukan hikmat agar kita dapat mengerti di mana Tuhan ingin kita beribadah. Hal yang sama juga berlaku dalam aspek kehidupan kita lainnya. Kita memerlukan Tuhan agar kita tidak salah melangkah dan mengambil keputusan, khususnya yang terkait dengan hal-hal rohani.


Bacaan Alkitab: Ulangan 12:13-14
12:13 Hati-hatilah, supaya jangan engkau mempersembahkan korban-korban bakaranmu di sembarang tempat yang kaulihat;
12:14 tetapi di tempat yang akan dipilih TUHAN di daerah salah satu sukumu, di sanalah harus kaupersembahkan korban bakaranmu, dan di sanalah harus kaulakukan segala yang kuperintahkan kepadamu.


Rabu, 12 September 2012

Diperdamaikan di Dalam Kristus


Rabu, 5 September 2012
Bacaan Alkitab: Kolose 1:20-23
Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.” (Kol 1:20)


Diperdamaikan di Dalam Kristus


Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang hal yang penting, yaitu tentang bagaimana kita diperdamaikan di dalam Kristus. Mungkin ada di antara kita yang berpikir, “Lho, memangnya siapa yang sedang bertengkar sehingga saya harus diperdamaikan? Bukankah dari dulu saya tidak merasa punya musuh? Saya sejak kecil sudah ke gereja dan bahkan sudah melayani, apa masih perlu diperdamaikan?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu muncul pada sebagian dari kita.

Permasalahannya adalah bukan apakah kita mengerti bahwa kita sebenarnya sudah menjadi musuh Allah? Jika seseorang belum menyadari akan hal ini, tentu wajar saja ketika mereka merasa tidak pernah menjadi musuh Allah. Jika kita melihat sejumlah negara atau kelompok yang saling bermusuhan dan berperang, bagaimana cara menyelesaikan perselisihan tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan melakukan perdamaian antara kedua belah pihak yang bermusuhan tersebut.

Kita menjadi musuh Allah karena sejak zaman Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, semua manusia telah berdosa. Manusia yang dahulu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26), kini telah kehilangan kemuliaan Allah akibat dosa (Rm 3:23). Kitab Kolose menggunakan frasa “hidup jauh dari Allah” sebagai dampak dari dosa manusia (ay. 21a). Memang sangat wajar karena dosa membuat kita tidak merasa nyaman berada di dekat Allah, itulah sebabnya Adam dan Hawa yang sudah berdosa karena memakan buah dari pohon terlarang, langsung bersembunyi ketika Tuhan memanggil mereka (Kej 3:10). Dosa pun membuat kita melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat, yang tentu saja bersumber dari hati kita yang telah hidup di dalam dosa, yang menjadi musuh Tuhan (ay. 21b).

Oleh karena itulah kita butuh diperdamaikan oleh Kristus. Kematian Kristus memperdamaikan segala sesuatu antara bumi dengan surga (ay. 20), termasuk kita, anak-anakNya, yang walaupun saat ini masih hidup dalam tubuh jasmani kita di bumi ini, tetapi oleh karena kematianNya di atas kayu salib, Ia telah menjadikan kita kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan Tuhan (ay. 22).

Pertanyaannya sekarang, apa yang harus kita lakukan setelah kita diperdamaikan? Apakah kita lalu hidup biasa lagi, hidup dalam dosa seperti yang kita lakukan? Jika itu yang kita lakukan, maka kita adalah orang-orang yang sangat kurang ajar. Kita seharusnya bersyukur kepada Tuhan dan juga melakukan apa yang Tuhan inginkan. Paulus menggunakan kata-kata yang sangat indah dalam suratnya ke jemaat Kolose ini, yaitu bertekun dalam iman, tetap teguh di dalam Tuhan, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil (ay. 23). Intinya adalah bagaimana kita bisa hidup dengan mempermuliakan Tuhan, dan satu-satunya cara agar hidup kita bisa mempermuliakan Tuhan adalah dengan cara mengisi hidup kita dengan Firman Tuhan, sehingga apa yang kita lakukan dalam hidup kita pun sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita harus menjadi saksi-saksi Tuhan di dunia ini. Jangan sampai kita yang sudah diperdamaikan dengan Tuhan justru tidak bisa  berdamai dengan orang di sekitar kita.


Bacaan Alkitab: Kolose 1:20-23
1:20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
1:21 Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,
1:22 sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.


Bangun dari Tidur


Selasa, 4 September 2012
Bacaan Alkitab: Roma 13:10-11
Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.” (Rm 13:11)


Bangun dari Tidur


Saya yakin semua dari kita pasti pernah bermimpi pada waktu tidur. Kadang-kadang kita mengalami mimpi yang seram atau sedih, sementara di sisi lain kita juga bisa mengalami mimpi yang menyenangkan dan membahagiakan. Akan tetapi seindah-indahnya mimpi yang kita alami, hal itu tetap adalah sebuah mimpi dan bukan kenyataan. Realita yang sesungguhnya adalah kehidupan kita yang nyata. Kita akan dapat melihat kenyataan ketika kita sudah bangun dari tidur kita. Jika kita masih tertidur, maka apa yang kita lihat dalam tidur tersebut bukanlah kenyataan hidup melainkan hanya mimpi semata.

Memang terkadang bermimpi itu perlu, karena dari mimpi itulah kita bisa memikirkan tentang apa yang harus kita lakukan di dalam hidup kita. Akan tetapi adalah sangat berbahaya jika kita lebih suka bermimpi tanpa mau melakukan apa yang seharusnya kita lakukan di kehidupan nyata kita. Alkitab memberikan contoh bahwa kasih itu harus menjadi ciri khas bagi orang percaya (ay. 10). Bagaimana cara kita menunjukkan kasih kita kepada orang lain? Apakah harus ditunjukkan hanya di dalam mimpi? Tentu tidak. Kasih itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Akan tetapi, bangun dari tidur tidak hanya sekedar bangun dari mimpi dan hidup dalam dunia nyata saja. Bangun dari tidur juga bermakna bahwa kita harus bangun karena memang sudah saatnya kita bangun (ay. 11a). Jika kita adalah seorang karyawan atau seorang pelajar, tentu saja setiap pagi kita harus bangun agar kita bisa berangkat pagi ke kantor atau sekolah kita.

Hal yang sama berlaku dalam kehidupan rohani kita. Kita pun perlu bangun karena memang sudah saatnya kita bangun dan bangkit secara rohani. Kehidupan rohani kita tidak boleh hanya tidur dan tidur saja. Kita harus bangun dan bertindak. Mengapa demikian? Karena waktunya sudah dekat. Alkitab mengatakan bahwa saat ini keselamatan sudah lebih dekat dibandingkan dengan pada saat kita percaya (ay. 11b). Dengan kata lain, Alkitab mencoba untuk mengatakan bahwa waktu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali pun sudah semakin dekat. Itulah mengapa kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang tidur, melainkan orang Kristen yang harus bangun dan melakukan kehendak Bapa kita yang di surga. Ingatlah bahwa bukan orang yang berseru-seru “Tuhan, Tuhan” yang akan diselamatkan, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa di surga (Mat 7:21).

Ketika kita sadar waktunya sudah semakin dekat, apa yang harus kita lakukan? Bekerjalah di ladang Tuhan dengan giat. Lakukan bagian kita sesuai dengan panggilan Tuhan bagi kita. Alkitab mengatakan agar kita senantiasa mengerjakan pekerjaan Tuhan, selagi hari masih siang, selagi kita masih dapat bekerja, selagi malam belum tiba (Yoh 9:4). Mari kita bangun dari tidur dan bekerja bagi Tuhan, yaitu melakukan kehendak Tuhan, dan melakukannya dengan sebaik-baiknya bagi Tuhan, agar nama Tuhan dipermuliakan.




Bacaan Alkitab: Roma 13:10-11
13:10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
13:11 Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.


Jangan Seperti Demas


Senin, 3 September 2012
Bacaan Alkitab: 2 Timotius 4:9-11
Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika...” (2 Tim 4:10a)


Jangan Seperti Demas


Jika kita perhatikan dengan teliti, nama Demas hanya muncul tiga kali di dalam Alkitab. Selain dalam bacaan Alkitab kita hari ini di kitab 2 Timotius, Alkitab menyebutkan Demas sebagai rekan sekerja Paulus, bersama-sama dengan Lukas (Kol 4:14) dan juga Markus dan Aristarkhus (Flm 1:24). Dengan dituliskannya nama Demas dalam ayat yang sama dengan Lukas (padahal Lukas adalah salah satu orang yang melayani Tuhan dengan luar biasa, bahkan kemungkinan besar merupakan penulis kitab Lukas dan Kisah Para Rasul), hal tersebut menunjukkan bahwa Paulus menganggap Demas dan Lukas adalah orang yang setara dalam hal pelayanan. Paulus tentu saja menganggap Demas sebagai orang yang spesial, yang sudah membantunya dengan sangat baik.

Akan tetapi, dalam bacaan Alkitab kita hari ini, yaitu di dalam kitab 2 Timotius (yang merupakan kitab terakhir yang ditulis Paulus sebelum ia mati syahid di kota Roma), Paulus menuliskan hal yang mengejutkan bahwa Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan dirinya (ay. 10a). Paulus menulis bahwa hanya Lukas yang ada bersama-sama dengannya (ay. 11). Memang selain Lukas dan Demas, ada orang lain yaitu Kreskes dan Titus, tetapi mereka pun sedang pergi ke kota lain untuk melayani (ay. 10b). Oleh karena itu Paulus meminta Timotius agar berusaha untuk segera datang menemui Paulus (ay. 9) dengan menjemput Markus karena pelayanannya penting bagi Paulus (ay. 11b).

Apa yang kita bisa pelajari dari tiga buah ayat dalam bacaan kita hari ini?
Pertama, kita bisa belajar bahwa seseorang bisa berbalik begitu cepat dari jalan Tuhan kepada jalan dunia ini. Saya yakin bahwa Demas adalah seseorang yang luar biasa, bahkan mungkin ia melayani juga sebagai pengkhotbah dan mungkin juga ia dapat membuat mujizat bagi orang lain. Akan tetapi, ternyata pelayanannya diletakkan atas dasar yang salah. Demas mungkin memiliki banyak karunia, tetapi ia tidak memiliki dasar iman yang kuat, yang dapat membuatnya tetap teguh berdiri dan melayani Tuhan.

Kedua, kita harus memilih apakah kita mau mencintai Tuhan atau mencintai dunia. Alkitab mengatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan sekaligus (Mat 6:24). Demas telah memilih untuk lebih mencintai dunia daripada mencintai Tuhan dan akibatnya ia meninggalkan pelayanannya. Memang Alkitab tidak mengatakan dengan jelas apa yang dimaksud dengan mencintai dunia, ada yang mengatakan bahwa Demas lebih memilih cari aman agar ia tidak dianiaya (pada saat itu jemaat Kristen seringkali dianiaya), atau juga Demas ingin mendapatkan banyak harta sehingga ia meninggalkan pelayanannya bersama Paulus. Walaupun kita tidak tahu apa tindakan Demas yang dikatakan sebagai mencintai dunia, tetapi kita tahu bahwa memang ada banyak hal yang dapat kita cintai di dunia ini dan membuat kita meninggalkan cinta kita kepada Tuhan.

Kita harus berhati-hati, terlebih bagi kita yang adalah seorang hamba Tuhan. Iblis pasti akan berusaha keras untuk membuat kita menjauh dari Tuhan. Iblis akan berusaha membuat kita mencintai dunia, mencintai uang, mencintai pekerjaan kita lebih daripada pekerjaan Tuhan, dan lain sebagainya. Kita harus tetap berhati-hati agar kita tidak jatuh dalam jebakan Iblis. Jika Iblis saja mencobai Tuhan Yesus dengan menawarkan isi dunia ini kepadaNya (Mat 4:8-9), bukankah kita juga dapat mengalami hal yang sama? Oleh karena itu belajarlah dari Alkitab, dan jangan sampai kita menjadi seperti Demas yang mencintai dunia ini.


Bacaan Alkitab: 2 Timotius 4:9-11
4:9 Berusahalah supaya segera datang kepadaku,
4:10 karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia.
4:11 Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku.

Jumat, 31 Agustus 2012

Setia Sampai Akhir


Minggu, 2 September 2012
Bacaan Alkitab: Wahyu 2:8-11
... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Why 2:10b)


Setia Sampai Akhir


Saya cukup menyukai sepakbola walaupun saya sendiri tidak mahir bermain sepakbola dan saya juga bukan pengamat yang banyak mengerti tentang sepakbola. Klub favorit saya adalah AC Milan yang bermain di Seri A Liga Italia. Memang prestasi klub tersebut tidaklah terlalu bagus dan belakangan justru agak menurun, tetapi saya menemukan satu hal yang unik di klub tersebut, yaitu klub tersebut telah beberapa kali memensiunkan sejumlah nomor punggung bagi para pemain yang telah mengabdikan hidupnya bagi klub tersebut, sebut saja Franco Baresi (no punggung 6), Allesandro Costacurta (no punggung 5), dan Paolo Maldini (no punggung 3). Sejumlah pemain lain yang boleh dikatakan pernah berperan besar mengangkat klub tersebut tidak mendapatkan kehormatan tersebut karena mereka pernah pindah dari klub itu, sebut saja Andriy Shevchenko atau Kaka.

Hal ini menjadi menarik karena memang di era modern seperti saat ini, kesetiaan pun sepertinya menjadi hal yang semakin langka. Dalam olahraga sepakbola misalnya, seorang pemain bisa pindah ke klub lain dengan iming-iming gaji, bonus, dan fasilitas yang lebih baik. Dalam karier misalnya, sudah umum seorang pegawai pindah-pindah pekerjaan untuk mencari gaji atau posisi yang lebih baik. Jika dalam karier memang tidak terlalu masalah, akan tetapi cukup banyak juga orang yang tidak setia dengan isteri atau suaminya karena tergoda oleh orang lain. Hal ini yang tidak diinginkan Tuhan. Oleh karena itu kesetiaan pun termasuk salah satu buah Roh seperti yang ditulis oleh Paulus (Gal 5:22).

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat salah satu surat kepada tujuh jemaat, yaitu surat kepada jemaat di kota Smirna (ay. 8). Ada sesuatu yang menarik dalam surat tersebut. Memang semua surat sepertinya sama, yaitu menegur kesalahan jemaat (ay. 9) dan memberikan nasehat kepada jemaat tersebut (ay. 10a). Akan tetapi perhatikan sebuah kalimat di ayat 10b, “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan”. Kata “setia” diikuti dengan kata “mati”, yang artinya kesetiaan itu akan teruji setelah kita mati. Kita tidak dapat dikatakan setia pada pertengahan hidup kita atau tiga perempat hidup kita. Sama seperti dalam sepakbola, seorang pemain dikatakan setia terhadap suatu klub ketika ia hanya membela klub tersebut hingga gantung sepatu, demikian juga kita akan dikatakan setia oleh Tuhan setelah kita mengakhiri kehidupan kita di dunia ini.

Jika kita didapati menang oleh Tuhan, yaitu mampu setia sampai akhir, kita akan mendapatkan reward dari Tuhan, yaitu jika kita baca di dalam surat ini berarti kita tidak akan menderita oleh kematian yang kedua (ay. 11) . Sama seperti ketika dalam perumpamaan tentang talenta, sang tuan memuji hambanya yang baik dan setia. Tuan tersebut tidak memuji hamba yang setia pada awalnya, tetapi ia memuji hamba yang setia pada akhirnya, yaitu ketika ia datang untuk mengambil talenta yang dulu pernah diberikannya kepada hambanya (Mat 25:21 & 23).

Pertanyaan bagi kita hari ini, apakah kita sudah menjadi orang yang setia? Eits, jangan dijawab dulu, karena kesetiaan kita hanya bisa kita lihat pada akhirnya, bukan pada awal atau bagian tengah kehidupan kita. Lagipula hanya Tuhan yang dapat menilai kesetiaan kita. Akan tetapi, biarlah hal ini menjadi perhatian bagi kita, agar kita bisa hidup dengan kesetiaan di hadapan Tuhan, karena Tuhan kita pun adalah Tuhan yang setia (1 Kor 1:9). Jika Tuhan saja setia, masa iya kita tidak bisa setia? Jika perlu, belajarlah kepada hewan, khususnya anjing yang bisa menjadi teman yang setia bagi manusia. Jika anjing saja bisa setia kepada tuannya, bukankah kita juga seharusnya bisa lebih setia kepada Tuhan kita?


Bacaan Alkitab: Wahyu 2:8-11
2:8 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali:
2:9 Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu -- namun engkau kaya -- dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis.
2:10 Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.
2:11 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua."

Apa yang Mendorong Kita?


Sabtu, 1 September 2012
Bacaan Alkitab: Ibrani 10:19-25
 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” (Ibr 10:24)


Apa yang Mendorong Kita?


Salah satu hal yang saya benci dari bus umum (kecuali bus Trans Jakarta mungkin) dan angkutan kota (angkot) di Jakarta adalah kebiasaan mereka untuk ngetem mencari penumpang. Sebagian besar bus dan angkot di Jakarta biasanya menunggu di tempat-tempat strategis untuk menunggu penumpang. Mereka tidak akan berangkat kecuali tempat duduk sudah terisi penuh atau khususnya bagi bus umum, ada bus lain yang terlihat sudah dekat dan akan menyusul mereka. Jika demikian, bus tersebut yang sebelumnya berjalan pelan-pelan atau berhenti, akan langsung tancap gas dan mengemudi dengan ugal-ugalan agar tidak disusul bus di belakangnya. Jika boleh saya simpulkan, supir bus kota melakukan pekerjaannya bukan karena ia ingin mengantarkan penumpangnya cepat sampai, melainkan karena takut disusul bus belakangnya. Itulah yang mendorong bus itu akhirnya dapat berjalan setelah beberapa waktu lamanya ngetem.

Ketika saya memperhatikan fenomena ini (karena saya cukup sering naik bus kota atau angkot), saya melihat bahwa hal seperti ini juga terjadi dalam kehidupan orang percaya. Apa buktinya? Masih cukup banyak orang percaya yang hidup dalam kondisi stagnan, diam, tidak bergerak, dan tidak maju-maju. Mereka ingin berada di zona nyaman dan tidak mau melakukan hal-hal yang membuat mereka tidak merasa tidak nyaman. Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satunya menurut saya adalah karena mereka memiliki faktor pendorong yang salah dalam kehidupan mereka, khususnya dalam kehidupan rohani mereka.

Bacaan Alkitab kita hari ini mengatakan bahwa dasar dari segala iman dan kepercayaan kita adalah oleh karena pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Dengan pengorbanan Kristus tersebut, kita dapat masuk ke jalan yang baru yaitu masuk tempat kudus (ay. 19-20). Dalam Alkitab, tempat kudus merupakan gambaran tempat di mana Tuhan hadir. Dengan kata lain, Tuhan Yesuslah yang menjadi jalan sehingga kita bisa datang ke hadirat Allah (Yoh 14:6). Yesus telah menjadi Imam Besar bagi kita, untuk memperdamaikan kita yang berdosa ini dengan Allah (Ibr 2:17).

Selanjutnya, setelah kita memiliki keselamatan melalui iman, kita pun tidak boleh hanya bersikap pasif begitu saja. Kita harus memiliki kerinduan untuk selalu datang kepada Allah dan menghadap Allah, karena kita telah disucikan oleh Tuhan (ay. 22). Orang yang belum diperdamaikan oleh Tuhan tentu saja adalah musuh Tuhan, oleh karena itu mereka pasti memiliki ketakutan untuk menghadap Tuhan, sama seperti Adam dan Hawa ketika jatuh dalam dosa lalu bersembunyi ketika Allah datang (Kej 3:8). Akan tetapi kita yang telah diperdamaikan, terlebih telah disucikan Tuhan, kita harus memiliki keberanian untuk datang kepada Tuhan, dan bahkan justru berpegang pada iman dan pengharapan kita tersebut (ay. 23).

Lalu, apakah hal itu sudah cukup untuk mengisi kehidupan kita sebagai orang percaya? Tidak. Masih ada hal lain yang harus kita lakukan yaitu juga mendorong orang lain dalam kasih dan hal-hal baik yang kita lakukan (ay. 24). Kita diselamatkan bukan hanya bagi diri kita sendiri, tetapi juga bagi orang lain agar mereka juga memiliki mengenal keselamatan tersebut. Kita yang sudah ditebus oleh Kristus, tidak boleh hidup bagi diri kita sendiri, tetapi harus hidup bagi Tuhan dan melakukan kehendakNya (2 Kor 5:15). Oleh karena itu, kita pun  tidak boleh melalaikan pertemuan ibadah-ibadah kita, tetapi justru harus semakin sering melakukannya agar kita dapat saling menasihati dan membangun satu sama lain (ay. 25).

Inilah yang seharusnya mendorong setiap orang percaya dalam kehidupan rohaninya. Kita pun perlu memiliki faktor pendorong yang benar, yaitu yang dilandasi oleh kebenaran Firman Tuhan. Jangan sampai kita memiliki mental seperti bus kota, yang harus “diingatkan” atau “diancam” dulu baru mau melangkah di dalam Tuhan. Apa iya kita harus mengalami masalah dulu baru kita berdoa? Atau apa iya kita harus diberi kesusahan oleh Tuhan dulu baru kita datang ke gereja? Siapa yang memerlukan? Kita yang memerlukan Tuhan atau Tuhan yang memerlukan kita? Oleh karena itu, mari kita juga memiliki dasar yang benar, sehingga hal tersebut dapat mendorong kita untuk melakukan apa yang benar sesuai dengan Firman Tuhan.


Bacaan Alkitab: Ibrani 10:19-25
10:19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,
10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,
10:21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.
10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.
10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.


Mencari Pasangan Hidup untuk Ishak


Jumat, 31 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Kejadian 24:34-49
 Di sini aku berdiri di dekat mata air ini; kiranya terjadi begini: Apabila seorang gadis datang ke luar untuk menimba air dan aku berkata kepadanya: Tolong berikan aku minum air sedikit dari buyungmu itu, dan ia menjawab: Minumlah, dan untuk unta-untamu juga akan kutimba air, -- dialah kiranya isteri, yang telah TUHAN tentukan bagi anak tuanku itu.” (Kej 24:43-44)


Mencari Pasangan Hidup untuk Ishak


Suka atau tidak suka, saat ini mencari jodoh pun bukan perkara yang gampang. Entah kita adalah orang yang masih lajang dan sedang mencari pasangan hidup, ataukah kita sebagai orang tua yang ingin pasangan yang terbaik bagi anak kita, atau kita adalah hamba Tuhan yang mungkin memiliki jemaat dengan banyak permasalahan tentang pasangan hidup di gereja kita masing-masing. Memang jika dahulu orang tua kita atau kakek nenek kita menganut prinsip 3B yaitu bibit, bebet, dan bobot dalam mencari jodoh. Tetapi Alkitab kita memberikan sebuah contoh yang menurut saya cukup bagus untuk diambil intinya dalam mencari jodoh di zaman sekarang ini, yaitu ketika Abraham mencarikan pasangan hidup untuk Ishak.

Jika kita membaca bacaan Alkitab kita hari ini dan ayat-ayat sebelumnya, kita akan menemukan bahwa Abraham ingin agar Ishak mendapatkan pasangan dari kaum keluarganya (ay. 38), bukan dari daerah Kanaan tempat Abraham dan Ishak tinggal pada saat itu (ay. 37). Padahal jika kita perhatikan Abraham saat itu tinggal di tanah Kanaan sementara kaum keluarganya ada di daerah Mesopotamia (Kej 24:10). Ketika hamba Abraham melakukan apa yang diminta oleh Abraham, ia pun mencari jodoh bagi Ishak. Ketika ia sudah sampai di tempat yang dituju, apa yang dilakukan oleh hamba Abraham? Ia berdoa meminta petunjuk dari Tuhan (ay. 42-44) agar ia Tuhan menunjukkan kepadanya wanita yang Tuhan tunjuk untuk menjadi isteri Ishak.

Setelah meminta, hamba Abraham pun tidak bersikap pasif, melainkan justru ia melakukan tindakan iman yaitu meminta minum kepada gadis yang ada di sana. Ini merupakan tindakan iman karena terkait dengan permintaan yang tadi ia naikkan ke hadapan Tuhan (ay. 45-48). Hamba Abraham tidak meminta kemudian ia berdiam diri saja, melainkan ia melangkah di dalam iman. Ada usaha yang harus dilakukan hamba Abraham tersebut.

Tidak cukup dengan meminta kepada Tuhan dan mengambil tindakan, hamba Abraham juga melakukan konfirmasi kepada Ribka dan keluarganya. Itulah mengapa dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita menemukan bahwa ia pun menceritakan seluruhnya, mulai dari posisinya sebagai hamba Abraham yang kaya raya (ay. 34-35) dan bagaimana Abraham memintanya untuk mencari pasangan hidup bagi anaknya, Ishak (ay. 36). Hamba Abraham menceritakan semuanya, hingga akhirnya tiba pada kesimpulan akhir, yaitu bertanya kepada keluarga Ribka, “Jadi sekarang, apabila kamu mau menunjukkan kasih dan setia kepada tuanku itu, beritahukanlah kepadaku; dan jika tidak, beritahukanlah juga kepadaku, supaya aku tahu entah berpaling ke kanan atau ke kiri” (ay. 49).

Jika kita perhatikan, prinsip ini dalam garis besar dapat kita sebut sebagai prinsip “minta, cari, dan ketuk”, sama seperti apa yang diajarkan Tuhan Yesus dalam Matius 7:7. Walaupun ayat tersebut memang bersifat general dan tidak khusus berbicara tentang mencari pasangan hidup. Akan tetapi justru karena ayat tersebut bersifat general atau umum sehingga prinsip tersebut juga pasti bisa diterapkan dalam kondisi sehari-hari. Khususnya bagi kita yang belum memiliki pasangan hidup, pertama-tama kita harus meminta kepada Tuhan, bukan kepada orang lain apalagi kepada mbah dukun. Kedua kita pun harus mau untuk mencari, dan tentu saja kita harus mencari di tempat yang tepat. Tempat yang paling baik menurut saya adalah gereja atau persekutuan orang percaya, karena kita akan lebih mudah menemukan orang yang seiman di sana. Memang ada banyak orang percaya yang mendapatkan jodoh di sekolah, di kampus, di tempat kerja atau di lingkungannya. Akan tetapi akan jauh lebih baik mencari di tempat yang tepat daripada mencari jodoh di cafe, diskotik, ataupun klub malam bukan? Terakhir, yang ketiga, lakukan konfirmasi sekali lagi, jangan sampai kita merasa bahwa ia adalah jodoh kita, tetapi ia tidak merassakan hal yang sama. Lakukan konfirmasi sehingga kita tidak salah pilih dan kita melangkah dengan tepat, sama seperti Ribka yang menjadi pasangan hidup Ishak.



Bacaan Alkitab: Kejadian 24:34-49
24:34 Lalu berkatalah ia: "Aku ini hamba Abraham.
24:35 TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya; TUHAN telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu sapi, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai.
24:36 Dan Sara, isteri tuanku itu, sesudah tua, telah melahirkan anak laki-laki bagi tuanku itu; kepada anaknya itu telah diberikan tuanku segala harta miliknya.
24:37 Tuanku itu telah mengambil sumpahku: Engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan, yang negerinya kudiami ini,
24:38 tetapi engkau harus pergi ke rumah ayahku dan kepada kaumku untuk mengambil seorang isteri bagi anakku.
24:39 Jawabku kepada tuanku itu: Mungkin perempuan itu tidak mau mengikut aku.
24:40 Tetapi katanya kepadaku: TUHAN, yang di hadapan-Nya aku hidup, akan mengutus malaikat-Nya menyertai engkau, dan akan membuat perjalananmu berhasil, sehingga engkau akan mengambil bagi anakku seorang isteri dari kaumku dan dari rumah ayahku.
24:41 Barulah engkau lepas dari sumpahmu kepadaku, jika engkau sampai kepada kaumku dan mereka tidak memberikan perempuan itu kepadamu; hanya dalam hal itulah engkau lepas dari sumpahmu kepadaku.
24:42 Dan hari ini aku sampai ke mata air tadi, lalu kataku: TUHAN, Allah tuanku Abraham, sudilah kiranya Engkau membuat berhasil perjalanan yang kutempuh ini.
24:43 Di sini aku berdiri di dekat mata air ini; kiranya terjadi begini: Apabila seorang gadis datang ke luar untuk menimba air dan aku berkata kepadanya: Tolong berikan aku minum air sedikit dari buyungmu itu,
24:44 dan ia menjawab: Minumlah, dan untuk unta-untamu juga akan kutimba air, -- dialah kiranya isteri, yang telah TUHAN tentukan bagi anak tuanku itu.
24:45 Belum lagi aku habis berkata dalam hatiku, Ribka telah datang membawa buyung di atas bahunya, dan turun ke mata air itu, lalu menimba air. Kataku kepadanya: Tolong berikan aku minum.
24:46 Segeralah ia menurunkan buyung itu dari atas bahunya serta berkata: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum. Lalu aku minum, dan unta-unta itu juga diberinya minum.
24:47 Sesudah itu aku bertanya kepadanya: Anak siapakah engkau? Jawabnya: Ayahku Betuel anak Nahor yang dilahirkan Milka. Lalu aku mengenakan anting-anting pada hidungnya dan gelang pada tangannya.
24:48 Kemudian berlututlah aku dan sujud menyembah TUHAN, serta memuji TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang telah menuntun aku di jalan yang benar untuk mengambil anak perempuan saudara tuanku ini bagi anaknya.
24:49 Jadi sekarang, apabila kamu mau menunjukkan kasih dan setia kepada tuanku itu, beritahukanlah kepadaku; dan jika tidak, beritahukanlah juga kepadaku, supaya aku tahu entah berpaling ke kanan atau ke kiri."