Rabu, 30 Januari 2013

Mata Rohani yang Dapat Melihat Apa yang Tidak Bisa Dilihat Mata Jasmani



Rabu, 30 Januari 2013
Bacaan Alkitab: Kejadian 21:14-19
Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.” (Kej 21:19)


Mata Rohani yang Dapat Melihat Apa yang Tidak Bisa Dilihat Mata Jasmani


Sebagai manusia yang hidup dengan panca indera, kita cenderung mengandalkan satu indera utama yaitu mata untuk melihat, dibandingkan dengan indera-indera lainnya. Memang mata pun bisa dikatakan sebagai indera utama manusia. Bahkan dalam ayat lainnya pun Alkitab menyebutkan mata sebagai pelita tubuh (Mat 6:22). Begitu besarnya ketergantungan manusia terhadap mata sehingga saat ini pun kita bisa melihat bagaimana dokter mata sangat laris, jika dibandingkan dengan dokter telinga, dokter hidung, dokter kulit, atau dokter lidah.

Sayangnya, manusia hanya mengandalkan mata secara jasmani saja, dan tidak bisa melihat secara rohani. Hal ini terbukti ketika Hagar dan Ismael diusir oleh Abraham, dan mengembara di padang gurun Bersyeba, saat itu Hagar sudah kehabisan air sehingga Hagar pun putus asa dan membuang Ismael ke bawah semak-semak (ay. 14-15). Ketika itu, Hagar pun berseru dan menangis kepada Tuhan karena ia tidak tega melihat anak tersebut mati (ay. 16).

Memang di padang gurun sangat susah mendapatkan air. Sejauh mata memandang pun hanya ada hamparan gurun pasir dimana-mana. Apalagi saat itu Hagar dan Ismael hanya membawa sekirbat air, suatu jumlah yang tidak cukup banyak bagi dua orang untuk mengembara di padang gurun. Tetapi justru pada kondisi yang nyaris mustahil mendapatkan air itulah, Tuhan menunjukkan kuasaNya kepada Hagar. Tuhan yang berinisiatif untuk memanggil Hagar, dan berkata agar ia tidak takut (ay. 17a). Bahkan sebenarnya suara yang didengar Tuhan adalah suara Ismael yang sedang  terbaring karena kehausan (ay. 17b). Mengapa Tuhan sampai peduli kepada Hagar dan kepada Ismael? Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah karena Ismael pun adalah anak Abraham, sehingga ia pun termasuk dalam keturunan Abraham, dan berhak mendapatkan janji Tuhan juga, yaitu akan menjadi bangsa yang besar (ay. 18).

Saat itu secara manusia, Hagar tidak dapat  melihat jalan keluar atas masalahnya. Ia hanya mampu melihat bagaimana anaknya terbaring kehausan, dan sejauh ia memandang hanya tampak gurun dan mungkin sedikit semak belukar. Selama menggunakan mata jasmani, Hagar tidak akan dapat melihat bagaimana Tuhan akan menolong dirinya dan anaknya. Akan tetapi, Tuhan membuka mata [rohani] Hagar (ay. 19a), sehingga Hagar pun dapat melihat bahwa ada sumur di dekat tempat ia berada saat itu. Ia pun segera berlari dan mengisi kirbatnya dengan air untuk memberi minum Ismael, anaknya (ay. 19b).

Apa yang terjadi pada Hagar adalah karena Hagar hanya mengandalkan mata jasmaninya saja. Ia tidak menggunakan mata rohaninya untuk melihat jalan keluar yang Tuhan sediakan. Ketika Tuhan membuka matanya (dalam hal ini Tuhan membuka mata rohani Hagar), ia pun bisa melihat ada sumur di dekatnya. Sumur itu memang dari awalnya sudah ada, tetapi mata jasmani Hagar tidak dapat melihatnya karena ia terlalu terfokus kepada pasir, gurun, semak, dan anaknya yang terbaring kehausan.

Seringkali masalah yang kita hadapi membuat kita lebih mengandalkan mata jasmani kita yang tidak dapat melihat jalan keluar, daripada menggunakan mata rohani kita. Padahal Tuhan selalu sudah menyediakan jalan keluar bagi setiap masalah yang kita hadapi (1 Kor 10:13). Masalahnya adalah pada kita, selama kita lebih menggunakan mata jasmani kita daripada mata rohani, maka kita tidak akan menemukan jalan keluar tersebut. Kita pun perlu senantiasa mengasah mata rohani kita, yaitu mata iman kita, karena sesungguhnya orang benar akan hidup oleh iman (Rm 1:17), sedangkan iman adalah ketika kita percaya walaupun kita tidak melihat (Ibr 11:1). Jadi, iman berarti kita mengutamakan mata rohani kita daripada mata jasmani kita. Sudahkah kita melakukannya?




Bacaan Alkitab: Kejadian 21:14-19
21:14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.
21:15 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,
21:16 dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring.
21:17 Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.
21:18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar."
21:19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.

Selasa, 29 Januari 2013

Ketika Tuhan Menutup Pintu, Tak Ada yang Dapat Membukanya



Selasa, 29 Januari 2013
Bacaan Alkitab: Kejadian 7:13-16
Dan yang masuk itu adalah jantan dan betina dari segala yang hidup, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh.” (Kej 7:16)


Ketika Tuhan Menutup Pintu, Tak Ada yang Dapat Membukanya


Saya yakin para pembaca renungan ini pasti sudah pernah membaca atau minimal mendengar tentang cerita Nuh di dalam Alkitab. Sederhananya, Nuh diperintahkan Tuhan untuk membuat bahtera, kemudian setelah bahtera tersebut selesai, Tuhan membuat para binatang masuk ke dalam bahtera tersebut, lalu Nuh dan keluarganya masuk ke dalam bahtera tersebut, dan selanjutnya air bah datang dan menenggelamkan seisi bumi sehingga makhluk hidup yang selamat hanyalah mereka yang masuk ke dalam bahtera tersebut (kecuali mungkin makhluk hidup yang hidup di air seperti ikan).

Tetapi ketika saya membaca bagian Alkitab tersebut, ternyata ada satu hal yang mungkin selama ini tidak kita sadari. Kita membaca di Alkitab bahwa air bah itu muncul karena Allah membuka tingkap-tingkap air di langit (hujan deras) dan juga terbelah mata air di samudera raya (air keluar dari dalam bumi). Berarti air tidak langsung memenuhi bumi secara tiba-tiba, tetapi bertahap air naik dari pantai hingga menenggelamkan gunung-gunung. Pastilah ketika hujan tidak berhenti selama beberapa hari, orang-orang selain Nuh berusaha untuk naik ke dalam bahtera Nuh tersebut. Tetapi mengapa mereka tidak dapat masuk ke dalam  bahtera Nuh itu?

Bacaan Alkitab kita hari ini menulis tentang bagaimana pada hari ketika hujan dan air bah mulai datang, Nuh dan keluarganya (termasuk isteri Nuh, ketiga anaknya dan ketiga menantunya) masuk ke dalam bahtera (ay. 13). Selain Nuh dan keluarganya tersebut, masuk juga para binatang dengan berpasangan ke dalam bahtera Nuh, entah itu adalah binatang liar, binatang ternak, binatang melata, burung yang bersayap, atau apapun, yang jelas mereka masuk berdua-dua, jantan dan betina, ke dalam bahtera Nuh (ay. 14-16a).

Jadi, mengapa orang-orang selain Nuh dan keluarganya tidak dapat masuk ke dalam bahtera, padahal mereka jelas-jelas memiliki waktu untuk pergi ke tempat bahtera Nuh berada? Tentu jawabannya ada di ayat selanjutnya, yaitu karena Tuhan telah menutup pintu bahtera Nuh tersebut (ay. 16b). Ketika Nuh, keluarganya, dan juga para binatang telah masuk ke dalam bahtera, Tuhan telah menutup pintu bahtera tersebut. Tuhan sudah memberikan kesempatan bagi manusia untuk bertobat, tetapi  mereka tidak mau mendengarkan suara Tuhan. Nuh pasti membuat bahtera tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama, mungkin bertahun-tahun, karena hanya delapan orang (empat orang laki-laki dan empat orang perempuan) yang membangun bahtera tersebut. Masa iya dalam waktu bertahun-tahun itu tidak ada orang yang percaya kepada omongan Nuh? Orang-orang pasti lebih banyak yang mencemooh Nuh, yang mengatakan “Nuh gila”, dan lain sebagainya. Akan tetapi Nuh tetap sabar dan tetap mengerjakan apa yang Allah perintahkan kepada dirinya.

Ketika kesabaran Tuhan sudah habis, maka Tuhan pun akan menutup pintu. Arti dari menutup pintu ini adalah tidak ada kesempatan lagi bagi manusia untuk masuk ke dalam pintu tersebut. Kesempatan hanya ada ketika Tuhan masih membuka pintu. Di sisi lain, ketika Tuhan berbicara tentang menutup pintu, hal tersebut berarti tidak akan ada orang yang dapat membuka pintu. Sebaliknya, ketika Tuhan sudah  membuka, tidak akan ada orang yang dapat menutupnya (Yes 22:22). Ini adalah hak prerogatif Tuhan dalam menentukan siapa yang Tuhan bukakan pintunya atau siapa yang Tuhan tutup pintunya. Ketika Tuhan sudah berkehendak, maka tidak ada satu pun oknum di alam semesta ini yang bisa membatalkannya.

Ini adalah suatu hak yang luar biasa yang didapatkan kita sebagai anak-anak Tuhan. Kesempatan untuk masuk ke dalam pintu tersebut diberikan kepada orang-orang yang hidup benar dan bergaul dengan Tuhan, sama seperti Nuh (Kej 6:9). Selama kita hidup benar dan memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, maka Tuhan pun sanggup membuka pintu-pintu berkat bagi kita. Tuhan pun pasti sanggup menutup pintu bagi kita, untuk melindungi kita dari orang-orang jahat, dan ketika Tuhan sudah menutup pintu, maka tidak ada orang lain yang akan dapat membukanya. Bukankah itu adalah suatu hal yang sangat istimewa bagi kita selaku anak-anakNya?


Bacaan Alkitab: Kejadian 7:13-16
7:13 Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu,
7:14 mereka itu dan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata yang merayap di bumi dan segala jenis burung, yakni segala yang berbulu bersayap;
7:15 dari segala yang hidup dan bernyawa datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu.
7:16 Dan yang masuk itu adalah jantan dan betina dari segala yang hidup, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh.

[Not] Like Father, [Not] Like Son



Senin, 28 Januari 2013
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 7:15-8:3
Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.” (1 Sam 8:3)


[Not] Like Father, [Not] Like Son


Kita pasti pernah mendengar istilah atau peribahasa dalam bahasa Inggris yang berbunyi “Like father, like son”. Dalam bahasa Indonesia sederhana, istilah tersebut bisa diartikan sebagai “seorang anak biasanya akan sama atau mirip dengan ayah (orang tua) nya”. Memang seorang anak pasti akan mewarisi gen dari kedua orang tuanya. Tetapi bisa jadi (dan sangat mungkin terjadi) bahwa seorang anak memiliki sifat atau karakter yang  jauh berbeda dari kedua orang tuanya.

Hal yang sama terjadi dengan Samuel. Samuel adalah salah satu nabi Tuhan yang paling luar biasa. Mengapa demikian? Kita bisa membaca dalam Alkitab bahwa hampir tidak ada dosa yang dilakukan oleh Samuel. Ketika ia bertindak sebagai pelayan Allah, ia berani tampil beda dibandingkan dengan anak-anak Imam Eli yang telah banyak berdosa di hadapan Tuhan. Samuel yang hidup semasa dengan anak-anak Imam Eli bisa menjaga hidupnya tetap bersih di hadapan Tuhan.

Alkitab mengatakan bahwa Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya (ay. 15).  Tentu hal ini karena Samuel benar-benar hidup sesuai dengan Firman Tuhan dan seluruh orang Israel pun dapat melihatnya. Dalam menjalankan pekerjaannya sebagai hakim maupun nabi yang menyuarakan suara Tuhan, Samuel berkeliling ke daerah-daerah di Israel dan ia pun memerintah orang Israel dimanapun ia berada (ay. 16). Walaupun demikian, di masa tuanya ia pun memerintah orang Israel dari Rama, kota asalnya (ay. 17).

Akan tetapi masalah justru timbul ketika Samuel sudah tua dan harus ”lengser keprabon”. Sebagaimana kebiasaan dan budaya pada masa itu, seorang pemimpin biasanya mewariskan jabatannya kepada anak-anaknya. Demikian juga yang dilakukan oleh Samuel, yaitu mengangkat anak-anaknya yang laki-laki (Yoel dan Abia) menjadi hakim atas orang Israel (ay. 1-2). Sebenarnya Samuel pun sudah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Imam Eli tidak bisa mendidik anak-anaknya, sehingga anak-anak Imam Eli pun berdosa kepada Tuhan. Akan tetapi ternyata Samuel juga “gagal” mendidik anak-anaknya untuk bisa hidup takut akan Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa anak-anak Samuel tidak hidup seperti Samuel, mereka mengejar laba, menerima suap, dan memutarbalikkan keadilan.

Apa yang kita dapat pelajari dari hal ini? Pertama, kita sebagai orang tua harus hidup takut akan Tuhan. Jika Samuel yang adalah seorang hamba Tuhan dan nabi Tuhan yang luar biasa saja bisa memiliki anak-anak yang tidak takut akan Tuhan, bagaimana mungkin kita masih mau hidup jauh dari Tuhan? Memang Tuhan pun bisa saja membuat seseorang menjadi takut akan Tuhan walaupun orang tuanya tidak takut akan Tuhan. Tetapi alangkah baiknya apabila kita sebagai orang tua harus hidup dalam kekudusan dan ketaatan kepada Tuhan.

Kedua, kita harus dapat belajar dari pengalaman. Mungkin saja ada anggota keluarga kita (entah orang tua, kakek nenek, atau yang lainnya) yang memiliki pengalaman hidup yang sangat baik, atau justru yang sangat buruk. Bagian kita adalah bagaimana kita bisa belajar dan meniru cara hidup orang lain yang baik dan bagaimana kita bisa belajar dan menghindari kesalahan-kesalahan yang dilakukan orang lain. Pengalaman adalah guru yang paling berharga, jadi kita pun harus benar-benar belajar dari pengalaman, baik pengalaman kita sendiri di masa lalu maupun belajar dari pengalaman (kesuksesan dan kegagalan) orang lain.

Ketiga, kita harus dapat memfilter faktor-faktor eksternal yang berdampak negatif bagi kita dan juga bagi anak-anak kita. Jika kita perhatikan kehidupan Samuel, saya yakin pasti anak-anak Samuel mendapatkan pengajaran dari Samuel yang keras dan ketat. Samuel saja tidak kompromi terhadap dosa raja Saul, tentu saja ia pasti mendidik anak-anaknya dengan Firman Tuhan. Akan tetapi sangat mungkin anak-anak Samuel tersebut terpengaruh dari hal-hal  eksternal, seperti kebiasaan bangsa Israel pada saat itu, sehingga mereka pun melakukan apa yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Jika demikian, kita pun harus hidup sungguh-sungguh dan senantiasa berdoa bagi anak-anak kita. Zaman yang akan dilalui anak-anak kita pun pasti jauh lebih keras dan lebih sulit, serta lebih  banyak godaannya dibandingkan dengan zaman kita. Saatnya kita mulai mendidik anak-anak kita dalam kebenaran. Status kita sebagai hamba Tuhan pun bukan merupakan jaminan. Banyak kasus dimana anak-anak pendeta pun terlibat narkoba atau seks bebas. Oleh karena itu, mari kita menjaga hidup kita dan anak-anak kita di dalam Firman Tuhan, agar mereka pun selalu hidup sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.


Bacaan Alkitab: 1 Samuel 7:15-8:3
7:15 Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya.
7:16 Dari tahun ke tahun ia berkeliling ke Betel, Gilgal dan Mizpa, dan memerintah atas orang Israel di segala tempat itu,
7:17 lalu ia kembali ke Rama, sebab di sanalah rumahnya dan di sanalah ia memerintah atas orang Israel; dan di sana ia mendirikan mezbah bagi TUHAN.
8:1 Setelah Samuel menjadi tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel.
8:2 Nama anaknya yang sulung ialah Yoël, dan nama anaknya yang kedua ialah Abia; keduanya menjadi hakim di Bersyeba.
8:3 Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.

Sabtu, 26 Januari 2013

Menyerahkan Anak Kita kepada Tuhan



Minggu, 27 Januari 2013
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 1:24-28
Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN." Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.” (1 Sam 1:28)


Menyerahkan Anak Kita kepada Tuhan


Dalam kebiasaan di denominasi gereja saya, kami tidak mengenal adanya baptisan bagi anak kecil. Pandangan yang dianut gereja saya adalah bahwa baptisan hanya untuk orang yang sudah mengerti kebenaran Firman Tuhan dan mau menerima Yesus secara pribadi sebagai Tuhan dan Juruselamat di dalam hidupnya (dimana hampir tidak mungkin seorang anak kecil sudah memiliki pandangan seperti itu), oleh karena itu anak kecil hanya bisa “diserahkan kepada Tuhan”, sehingga muncul istilah “penyerahan anak” di dalam gereja saya. Dalam tulisan saya, saya tidak mempermasalahkan masalah baptisan karena itu kembali lagi kepada kita masing-masing dan gereja kita masing-masing. Dalam hal ini saya hanya menulis berdasarkan kebiasaan di gereja saya dan membagikannya kepada para pembaca renungan ini.

Ketika anak saya lahir, saya pun melakukan penyerahan anak bagi anak saya tersebut. Saat itu saya dan isteri saya membawa anak saya (waktu itu masih berusia di bawah satu bulan), kemudian Pendeta mendoakan anak saya dan meminta Tuhan menyertai hidup anak saya, karena anak saya sudah menjadi milik Tuhan.

Saat itulah saya berdoa juga, dan meminta Tuhan agar Tuhan pun boleh memakan anak saya bagi kemuliaan nama Tuhan, sehingga melalui anak saya, banyak orang dapat mengenal Tuhan. Saya tidak membatasi kuasa Tuhan, tentang apakah anak saya nantinya akan menjadi seorang pendeta atau tidak, akan saya hanya meminta Tuhan boleh memakai anak saya bagi kerajaanNya, soal bagaimana caranya itu terserah Tuhan.

Hal yang serupa terjadi juga dalam bacaan Alkitab kita hari ini, tetapi dengan cara yang jauh lebih ekstrem. Hana, yang berdoa meminta anak, sebelumnya telah berjanji bahwa apabila ia memperoleh anak, maka anak tersebut akan diserahkan kepada Tuhan (dan memang benar-benar diserahkan kepada Tuhan untuk menjadi pelayan Tuhan di rumah Tuhan). Ketika Tuhan memberikan anak kepada Hana, maka Hana pun menepati janjinya. Setelah anak tersebut disapih, Han pun mengantarkan anak tersebut dengan segala persembahan yang dibawanya (lembu jantan, tepung dan anggur) dan mengantarkan anak tersebut ke rumah Tuhan (ay. 24). Alkitab bahkan mengatakan bahwa saat itu sang anak (Samuel) masih sangat kecil. Perkiraan saya saat itu Samuel masih di bawah dua tahun (sesuai perkiraan pada usia berapa anak tersebut disapih).

Setelah Hana melakukan kewajiban agamanya, yaitu menyembelih lembu yang ia bawa, Hana pun membawa Samuel kepada Imam Eli (ay. 25). Hana pun menjelaskan terlebih dahulu bagaimana Tuhan telah mendengarkan doanya dan kemudian ia telah berjanji untuk menyerahkan anaknya tersebut kepada Tuhan, dan saat ini ia pun menepati janjinya untuk membawa anaknya, Samuel, kepada Tuhan (ay. 26-27).

Perhatikan kalimat Hana pada saat itu: “Seumur hidup, terserahlah ia kiranya kepada Tuhan” (ay. 28). Ini adalah kalimat yang sungguh luar biasa. Tidak mudah bagi orang tua (apalagi seorang ibu) untuk dapat mengucapkan kalimat tersebut. Bagaimana ia boleh menyerahkan anaknya bagi Tuhan, dan selanjutnya terserah Tuhan mau apakan anak tersebut. Hana sadar bahwa ia sudah tidak memiliki hak lagi atas Samuel, anaknya, tetapi Tuhanlah yang memiliki hak tersebut. Alkitab menulis bahwa Hana kemudian sujud menyembah kepada Tuhan setelah ia menyerahkan anak tersebut. Ini adalah penundukan dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan.

Bagi Hana, Samuel sebenarnya sangat berharga karena ini adalah anak pertamanya. Akan tetapi karena ia sudah terlanjur berjanji kepada Tuhan maka ia pun harus menepati janjinya dengan memberikan anak tersebut kepada Tuhan. Walaupun demikian, Tuhan adalah Tuhan yang sungguh luar biasa. Ia tidak meninggalkan Hana begitu saja, tetapi Tuhan justru memberkati Hana dengan cara memberikan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan kepada Hana (1 Sam 2:21). Ketika Hana menabur dengan memberikan Samuel kepada Tuhan, Hana pun menuai hasil taburannya tersebut, yaitu anak laki-laki dan perempuan bagi dirinya.

Hari ini kita belajar bagaimana seharunsnya sikap kita sebagai orang tua terhadap anak kita. Ingat bahwa anak itu bukan milik kita. Anak yang diberikan Tuhan itu adalah milik  Tuhan yang hanya dititipkan kepada kita. Tugas kita adalah merawat, menjaga dan mendidik anak kita dalam kebenaran Firman Tuhan sehingga ia pun bisa melakukan segala sesuatunya sesuai dengan Firman Tuhan. Sama seperti Tuhan memiliki hidup kita, demikian Tuhan memiliki hidup anak-anak kita, sehingga kita pun harusnya berkata, “semua terserah Tuhan”. Bagian kita adalah melakukan yang terbaik bagi anak-anak kita, sehingga nama Tuhan pun dimuliakan. Sudahkah kita melakukan bagian kita?


Bacaan Alkitab: 1 Samuel 1:24-28
1:24 Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu.
1:25 Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli;
1:26 lalu kata perempuan itu: "Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN.
1:27 Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya.
1:28 Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN." Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.