Selasa, 26 Maret 2013

Saat Masalah dan Musuh Datang



Selasa, 26 Maret 2013
Bacaan Alkitab: Yesaya 7:1-9
Berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya: "Baiklah engkau keluar menemui Ahas, engkau dan Syear Yasyub, anakmu laki-laki, ke ujung saluran kolam atas, ke jalan raya pada Padang Tukang Penatu, dan katakanlah kepadanya: Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya." (Yes 7:3-4)


Saat Masalah dan Musuh Datang


Bacaan Alkitab kita hari ini bercerita tentang bagaimana pada bangsa Yehuda pada zaman raja Ahas menghadapi kondisi yang sulit dan sukar, yaitu ketika raja Israel beserta raja Aram maju ke Yerusalem untuk berperang melawan kota itu (ay. 1a). Kerajaan Yehuda pada waktu itu hanya terdiri dari dua suku yaitu Yehuda dan Benyamin, sedangkan kerajaan Israel terdiri dari sepuluh suku lainnya, belum ditambah sekutu mereka yaitu bangsa Aram. Secara jumlah saja bangsa Yehuda sudah kalah. Akan tetapi Alkitab juga menulis bahwa bangsa Israel dan bangsa Aram juga tidak dapat mengalahkan bangsa Yehuda dan merebut ibukotanya yaitu Yerusalem (ay. 1b).

Baru saja mereka menghadapi ancaman seperti itu, kabar selanjutnya yang datang bukan kabar baik, tetapi kabar bahwa bangsa Aram telah berkemah di wilayah Efraim (ay. 2a). Mungkin kabar terebut juga mengatakan bahwa pasukan Aram  yang datang adalah pasukan dalam jumlah besar sehingga ketika bangsa tersebut mendengar dan juga keluarga kerajaan mendengar, hati raja Ahas dan rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon yang bergoyang tertiup angin (ay.2b). Jika kita berada dalam posisi raja Ahas atau bangsa Israel saat itu, mungkin kita akan merasakan hal yang sama dan akan bingung mau meminta pertolongan kepada siapa.

Akan tetapi, di tengah keputusasaan bangsa Yehuda, Tuhan berfirman kepada Yesaya, dan mengutusnya untuk menemui Ahas (ay. 3). Tuhan ingin Yesaya menyampaikan Firman Tuhan yang sungguh indah, yang dapat kita jadikan pedoman ketika kita menghadapi permasalahan yang berat, yaitu: teguhkan hati, tetap tenang, jangan takut, dan jangan hati kita menjadi kecut (ay. 4). Tuhan ingin agar raja Ahas serta segenap bangsa Yehuda mengandalkan Allah, seberat apapun persoalan yang kita hadapi.

Mungkin kita menghadapi masalah yaitu orang-orang yang merancang hal yang jahat atas kita (ay. 5), atau orang-orang yang sudah melakukan (bukan lagi hanya merancang) hal yang jahat kepada kita (ay. 6), atau hal-hal lain yang kita rasa kita tidak sanggup. Tetapi kita tahu bahwa rencana Tuhan selalu adalah rencana yang terbaik, walau menurut kita tidak baik.  Tuhan tahu yang terbaik bagi kita, dan permasalahan yang kita hadapi akan membuat kita semakin dewasa dan naik tingkat ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Walaupun kita melihat musuh semakin mendekat, tetapi kita tahu bahwa Tuhan akan menolong kita, dan segala rancangan jahat musuh-musuh kita pasti tidak akan pernah terjadi.

Saya tidak tahu masalah apa yang anda hadapi saat ini. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan pasti akan menolong kita. Tuhan tidakakan begitu saja menyerahkan kita kepada musuh kita, tetapi Ia akan menyelamatkan kita tepat pada waktunya. Seberat apapun masalah kita, sebanyak apapun musuh kita. Justru bisa jadi Tuhan yang meminta kita untuk melakukan bagian kita membantu dan menguatkan orang lain yang sedarng mengalami masalah. Sama seperti Tuhan mengutus Yesaya kepada raja Ahas, bisa jadi ketika kita sedang mengalami masalah yang berat, di situ Tuhan memakai kita untuk menolong orang lain, yang mungkin mengalami masalah yang sama atau bahkan lebih berat, sehingga kita bisa berbagi dan meringankan bebannya.  



Bacaan Alkitab: Yesaya 7:1-9
7:1 Dalam zaman Ahas bin Yotam bin Uzia, raja Yehuda, maka Rezin, raja Aram, dengan Pekah bin Remalya, raja Israel, maju ke Yerusalem untuk berperang melawan kota itu, namun mereka tidak dapat mengalahkannya.
7:2 Lalu diberitahukanlah kepada keluarga Daud: "Aram telah berkemah di wilayah Efraim," maka hati Ahas dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin.
7:3 Berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya: "Baiklah engkau keluar menemui Ahas, engkau dan Syear Yasyub, anakmu laki-laki, ke ujung saluran kolam atas, ke jalan raya pada Padang Tukang Penatu,
7:4 dan katakanlah kepadanya: Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya.
7:5 Oleh karena Aram dan Efraim dengan anak Remalya telah merancang yang jahat atasmu, dengan berkata:
7:6 Marilah kita maju menyerang Yehuda dan menakut-nakutinya serta merebutnya, kemudian mengangkat anak Tabeel sebagai raja di tengah-tengahnya,
7:7 maka beginilah firman Tuhan ALLAH: Tidak akan sampai hal itu, dan tidak akan terjadi,

Sabtu, 23 Maret 2013

Jangan Mengabaikan Hak Orang Lain



Senin, 25 Maret 2013
Bacaan Alkitab: Ayub 31:13-14
Jikalau aku mengabaikan hak budakku laki-laki atau perempuan, ketika mereka beperkara dengan aku, apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya?” (Ayb 31:13-14)


Jangan Mengabaikan Hak Orang Lain


Ada seseorang yang mempekerjakan supir karena ia tidak berani menyetir mobil sendiri. Dengan upah minimum saat itu sekitar Rp1,4 juta rupiah, orang tersebut kemudian memberi supirnya gaji pokok sebesar Rp600 ribu dan uang harian Rp40 ribu per hari, sehingga jika supir tersebut masuk setiap hari Senin hingga Sabtu, maka ia akan masuk selama rata-rata 25 hari dalam sebulan, dan minimal dapat membawa Rp600 ribu ditambah 25 x Rp40 ribu menjadi sekitar Rp1,6 juta rupiah. Sayangnya pada hari raya lebaran, dimana para pengusaha harus memberikan THR, dan supir ini pun masuk ke dalam kriteria orang yang mendapatkan THR, supir ini hanya diberikan THR sebesar 1 x gaji pokok, atau hanya Rp600 ribu saja. Padahal menurut saya, minimal ia harus mendapatkan THR sebesar Rp1,6 juta, atau minimal mendekati nilai tersebut.

Kadang-kadang kita melalaikan hal-hal kecil seperti ini. Mungkin dalam kasus di atas kita dapat berdalih “Tuhan, kan saya sudah membayar THR sebesar 1 x gaji pokok? Kan saya juga tidak salah toh?”. Pertanyaannya, apakah THR sebesar itu sudah pantas dan cukup baginya? Mungkin kita juga tidak merayakan Lebaran, tetapi alangkah baiknya apabila kita juga menghargai orang yang bekerja dengan kita, minimal memberi THR yang menurut kita memadai bagi anak buah kita untuk bisa merayakan lebaran, ongkos pulang kampung, dan lain sebagainya.

Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang Ayub yang berkata bahwa jika ia mengabaikan hak budak laki-laki atau budak perempuannya ketika mereka berperkara dengan dirinya (ay. 13), maka Allah sendiri yang bangkit berdiri dan melawan Ayub (ay. 14a), Justru menurut saya, kita harus sampai menjaga jangan sampai budak (di masa sekarang mungkin lebih tepat disebut sebagai anak buah kita) tidak sampai memperkarakan hal ini kepada Tuhan. Kita harus berusaha sebaik mungkin memberikan remunerasi yang adil dan memadai kepada anak buah kita. Minimal walaupun kita tidak dapat adil 100%, kita harus menjaga agar hak-hak mereka dipenuhi. Karena jika kita mengabaikan hak-hak mereka, apalagi dengan sengaja, maka ketika Tuhan sendiri yang akan bangkit dan mengusut (ay. 14b). Tuhan sendiri yang akan menjadi hakim bagi kita, bahkan mungkin Tuhan sendiri yang akan menuntut kita. Jika Tuhan sendiri yang sudah menuntut, bagaimana kita bisa memberi jawab kepada Tuhan (ay. 14c).

Berapa banyak di antara orang Kristen yang menjadi pengusaha? Berapa banyak orang Kristen yang memiliki pembantu, supir, pengasuh anak, dan lain sebagainya? Apabila kita termasuk orang-orang  tersebut, sudahkah kita melakukan yang seharusnya kepada anak buah kita? Mereka punya kewajiban, untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka. Tetapi di sisi lain mereka juga punya sejumlah hak. Tidak masalah kita menuntut tinggi kewajiban yang harus mereka selesaikan, tetapi jangan lupa membayarkan hak yang sesuai dan sepadan dengan kewajiban yang kita tuntut.

Memang kadang-kadang kita juga memiliki anak buah yang “bandel”, yang selalu menuntut hak walaupun kewajibannya tidak dipenuhi. Jika demikian, haruskah kita dengan serta merta memenuhi hak mereka? Tentu tidak, karena jika demikian, anak buah kita yang berperkara dengan Tuhan justru tidak akan dibela Tuhan, karena ia sendiri sudah melalaikan kewajibannya tetapi justru menuntut hak-haknya. Posisi kita haruslah bersikap adil dan bijaksana, dengan hikmat Tuhan sehingga kita bisa menjadi pimpinan dan pemimpin yang benar di hadapan Tuhan, karena kita tidak pernah mengabaikan hak-hak anak buah kita. Siapakah yang paling banyak mendoakan kita, perusahaan kita, bisnis kita? Bukankah jawabannya adalah selain keluarga kita, orang-orang tersebut adalah anak buah kita? Jika kita adil dan bijaksana, serta tidak mengabaikan hak-hak mereka, mereka pasti akan mendoakan kita agar kita lebih sukses lagi, perusahaan kita lebih maju lagi, dan seterusnya. Tetapi jika tidak, jangan harap mereka mau mendoakan hal-hal yang baik kepada kita, justru Tuhan yang nanti akan berperkara dengan kita.


Bacaan Alkitab: Ayub 31:13
31:13 Jikalau aku mengabaikan hak budakku laki-laki atau perempuan, ketika mereka beperkara dengan aku,
31:14 apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya?

Ketika Manusia Mencoba Menyamai dan Melebihi Allah



Minggu, 24 Maret 2013
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 12:20-23
Dan rakyatnya bersorak membalasnya: "Ini suara allah dan bukan suara manusia!" dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing.” (Kis 12:22-23)


Ketika Manusia Mencoba Menyamai dan Melebihi Allah


Jujur saja, salah satu sifat jelek manusia adalah keinginan untuk menjadi yang terbaik alias nomor satu. Memang hal tersebut dapat menjadi hal positif ketika digunakan untuk bersaing secara sehat. Akan tetapi, justru seringkali sifat tersebut justru berdampak negatif, karena manusia selalu ingin menjadi yang terhebat, yang teratas, yang terkuat, dan lain sebagainya, dengan cara apapun, bahkan dengan menghalalkan segala cara, yang penting mereka dapat menjadi yang nomor satu.

Hal ini terlihat dari awal, yaitu ketika Adam dan Hawa tergoda dengan bujukan ular untuk menjadi sama dengan Allah, yaitu tahu membedakan yang baik dan yang jahat sehingga mereka pun jatuh ke dalam dosa karena memakan buah terlarang (Kej 3:5). Selanjutnya, manusia mencoba membuat Menara Babel, yaitu membangun suatu menara yang tinggi ke langit (Kej 11:4). Walaupun tidak secara jelas disebutkan, tetapi rencana manusia untuk  membuat menara Babel salah satunya adalah untuk mencapai Tuhan yang menurut mereka ada di langit. Hal ini jelas menggambarkan bagaimana sifat ingin menyamai bahkan melebihi Allah membuat manusia akhirnya jatuh ke dalam dosa.

Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang bagaimana raja Herodes yang selama ini dikenal lalim dan tidak takut akan Tuhan, yang saat itu menjadi pihak yang berkuasa untuk menentukan perdamaian atau perang. Ketika Herodes marah terhadap orang Tirus dan Sidon, mereka mencoba untuk memenangkan hati raja Herodes agar ia berkenan berdamai, karena daerah Tirus dan Sidon sangat bergantung kepada raja Herodes untuk suplai makanan mereka (ay. 20). Setelah usaha mereka berhasil, selanjutnya raja Herodes pun tampil di depan rakyat Tirus dan Sidon. Ia mengenakan pakaian kerajaan yang sangat mewah dan duduk di atas tahta kerajaan untuk berpidato kepada mereka (ay. 21).

Sampai di sini, sebetulnya semua masih baik-baik saja, tetapi selanjutnya rakyat Tirus dan Sidon bersorak “Ini suara allah dan bukan suara manusia” (ay. 22). Sangat mungkin raja Herodes mendengar suara mereka. Tetapi karena raja Herodes lebih suka kepada perkataan manusia yang menyanjungnya berlebihan, dan tidak melarang mereka menganggap dirinya seperti allah, maka saat itu juga malaikat Tuhan menampar raja Herodes sehingga ia mati dimakan cacing (ay. 23). Saya tidak tahu apakah saat itu juga cacing-cacing memakan tubuh raja Herodes, atau tiba-tiba raja Herodes sakit hingga meninggal dan kemudian baru diketahui bahwa ia meninggal karena cacing-cacing tersebut. Tetapi cukup kita lihat bahwa orang-orang yang memiliki sifat yang jelek yaitu untuk menyamai dan melebihi Allah akan menerima hukuman dari Allah.

Pasti kita akan mengelak, “Ah mana mungkin kita mau menyamai bahkan melebihi Allah?”. Tetapi dalam hal-hal kecil, kadang-kadang kita pun sudah bertindak melebihi Allah. Contohnya adalah, kita yang memiliki perusahaan atau kita yang memiliki anak buah, ternyata menyuruh anak buah kita yang beragama Kristen untuk tetap masuk di hari Minggu, bahkan mungkin untuk tetap masuk di hari Natal dan Paskah untuk mengejar target. Dengan bertindak seperti itu saja, kita sudah melebihi pemerintah kita, karena pemerintah saja menyatakan hari Paskah dan Natal sebagai hari libur, masa iya kita malah menyuruh mereka masuk kerja, apalagi jika sama sekali tidak memberi kesempatan untuk pergi ke gereja?

Jika kita bersikap seperti itu, jangan salahkan kita apabila malaikat Tuhan menghukum kita. Anak buah kita mungkin dengan terpaksa harus masuk bekerja di hari dimana mereka seharusnya bisa beribadah di hari Minggu, apalagi pada hari-hari khusus lainnya seperti Paskah dan Natal. Tetapi jeritan hati mereka akan naik ke surga dan didengar Tuhan, dan Tuhan pasti akan membalaskan segala sesuatunya kepada kita. Berhati-hatilah, janganlah kita menjadi orang yang ingin menyamai dan melebihi Allah. Jika kita masih seperti itu, bertobatlah agar kita tidak sampai dihukum oleh Tuhan.



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 12:20-23
12:20 Herodes sangat marah terhadap orang Tirus dan Sidon. Atas persetujuan bersama mereka pergi menghadap dia. Mereka berhasil membujuk Blastus, pegawai istana raja, ke pihak mereka, lalu mereka memohonkan perdamaian, karena negeri mereka beroleh bahan makanan dari wilayah raja.
12:21 Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka.
12:22 Dan rakyatnya bersorak membalasnya: "Ini suara allah dan bukan suara manusia!"
12:23 Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing.

Kamis, 21 Maret 2013

Melayani Tanpa Mengharap Imbalan



Sabtu, 23 Maret 2013
Bacaan Alkitab: Daniel 5:13-17
Kemudian Daniel menjawab raja: "Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku.” (Dan 5:17)


Melayani Tanpa Mengharap Imbalan


Saat saya baru saja bekerja setelah lulus kuliah, tiba-tiba saya ditawari untuk melayani sebagai pemusik di suatu retreat atau kamp bagi para pelajar yang akan diadakan bersamaan waktunya dengan long weekend. Memang pada masa kuliah dahulu, saya cukup sering mengambil bagian dalam pelayanan musik, tetapi saya tidak menyangka bahwa setelah saya lulus kuliah, saya masih ditawari untuk melayani, apalagi ini adalah pelayanan bagi para pelajar.

Saya pun menerima pelayanan tersebut, dan untuk mempersiapkan diri, saya harus berlatih bagi kamp tersebut, dan saat itu panitia kamp benar-benar menjaga kualitas rohani para pelayan yang akan melayani, sehingga untuk satu sesi saja, kami harus berlatih minimal 3 kali bersama tim musik. Saya lupa saat itu persisnya saya melayani di berapa sesi, tetapi saya rasa sekitar 3 atau 4 kali, sehingga minimal saya harus menyiapkan waktu untuk 9 sampai 12 kali latihan untuk kamp tersebut.

Saat kamp tersebut berlangsung, kami juga tidak diberi fasilitas kendaraan sehingga saya pun harus naik kendaraan umum ke sana (dengan waktu tempuh hampir 3 jam lamanya karena long weekend), melayani sejumlah sesi di sana (dan juga wajib hadir di sesi-sesi lain), dan ketika selesai, panitia hanya memberi saya (dan juga para pelayan lainnya) sebuah amplop yang berisi kartu ucapan terima kasih. Memang bagi kebanyakan orang, mereka akan berpikir bahwa itu adalah kegiatan yang sia-sia dan membuang waktu. Akan tetapi bagi saya, banyak hal yang saya dapat dari kamp itu, dan walaupun “tidak dibayar” sekalipun, tetapi setiap kali saya melihat kartu ucapan tersebut, saya kembali teringat akan masa-masa dimana saya boleh melayani dengan motivasi yang tulus di hadapan Tuhan, tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun.

Hal yang sama terjadi juga pada Daniel. Ketika raja Belsyazar melihat tangan yang menulis di dinding istana dan tidak ada seorang pun yang dapat mengartikan tulisan tersebut, maka raja Belsyazar pun memanggil Daniel. Saat itu Daniel pun masih memegang kedudukan yang  tinggi yang diwarisinya sejak zaman Nebukadnezar, ayah Belsyazar.

Saat Daniel datang dan menghadap raja, Belsyazar pun tahu (minimal mendengar) bahwa Daniel adalah orang yang penuh dengan Roh Tuhan, yang memiliki akal budi dan hikmat jauh lebih tinggi daripada segala orang bijaksana, para ahli jampi, dan orang-orang pintar lainnya yang ada di kerajaan tersebut (ay. 13-14). Bahkan segala orang bijaksana yang ada di kerajaan pun tidak mampu mengartikan arti tulisan tersebut (ay. 15).

Karena begitu bingungnya dengan arti tulisan di dinding tersebut, raja Belsyazar sampai mennjanjikan hadiah yang luar biasa bagi Daniel, jika ia dapat mengartikan makna tulisan tersebut. Apa saja hadiah yang dijanjikan? Pakaian dari kain ungu, rantai emas yang akan dikalungkan pada lehernya, dan juga posisi sebagai orang ketiga dalam kerajaan (ay. 16). Itu bukan hadiah yang kecil, tetapi sangat luar biasa dan pasti diingini oleh semua orang yang ada di kerajaan.

Akan tetapi Daniel tahu bahwa Tuhan tidak ingin Daniel hanya mengejar harta. Daniel tahu bahwa Tuhan ingin ia untuk mengartikan tulisan tersebut, karena Tuhan sudah membuat orang-orang lain tidak bisa mengartikannya. Tuhan telah membuat perbedaan antara Daniel dengan orang-orang bijaksana lainnya, dan itu sudah cukup bagi Daniel, sehingga Daniel pun menolak hadiah tersebut dan membiarkan orang lain saja yang menerimanya. Daniel mau mengartikan tulisan di dinding tersebut tanpa diberi hadiah sekalipun, karena Daniel tahu ada maksud Tuhan bagi raja Belsyazar dalam tulisan tersebut (ay. 17).

Bukankah ini adalah sikap luar biasa dari Daniel? Daniel  tahu bahwa ia diberi kemampuan khusus oleh Allah untuk dapat mengartikan berbagai mimpi dan hal-hal lainnya. Ia bahkan sepuluh kali lebih bijaksana dari orang-orang lain yang ada di kerajaan (Dan 1:20). Bahkan karena ia pun mau mengartikan tanpa mengharap imbalan, Alkitab mencatat bahwa Daniel pun justru tetap diberi hadiah oleh raja Belsyazar (Dan 5:29). Dan bahkan Daniel mendapatkan “hadiah” lain, yaitu bahwa pada malam itu ketika raja Belsyazar terbunuh, nyawanya tetap selamat walaupun ia menjabat sebagai orang ketiga di kerajaan tersebut (dimana biasanya raja yang baru akan membunuh raja lama dan orang-orang terdekatnya), bahkan Daniel masih tetap dipercaya oleh raja baru (raja Darius) untuk menjadi orang penting di kerajaannya.

Jujur, saya agak risih dengan para pelayan-pelayan Tuhan yang “memasang tarif” atau “pilih-pilih” dalam pelayanan. Jika pelayanan itu tidak mendatangkan keuntungan baginya, atau jika pelayanan tersebut tidak bisa membuat balik modal, maka orang tersebut akan menolak pelayanan tersebut. Saya sedih dengan orang-orang yang “hitung-hitungan” dengan Tuhan dalam hal pelayanan. Seorang pelayan Tuhan seharusnya sudah jauh lebih dewasa dan siap melayani dimanapun Tuhan menempatkan. Kalau kita “hitung-hitungan” dengan Tuhan, maka Tuhan juga bisa “hitung-hitungan” dengan kita, dan percayalah, tidak ada yang bisa mengalahkan “hitung-hitungan”nya Tuhan. Jika kita sudah katakan “ya” terhadap suatu pelayanan kita, maka lakukanlah itu tanpa perlu memikirkan berapa imbalan yang akan kita terima. Sekiranya kita tidak menerima imbalan apapun juga (dalam bentuk barang atau uang) dari orang yang mengundang kita untuk melayani di sana, percayalah bahwa Tuhan yang akan memberikan imbalanNya kepada kita, sepanjang kita mau memberikan yang terbaik bagiNya.


Bacaan Alkitab: Daniel 5:13-17
5:13 Lalu dibawalah Daniel menghadap raja. Bertanyalah raja kepada Daniel: "Engkaukah Daniel itu, salah seorang buangan yang telah diangkut oleh raja, ayahku, dari tanah Yehuda?
5:14 Telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa, dan bahwa padamu terdapat kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa.
5:15 Kepadaku telah dibawa orang-orang bijaksana, para ahli jampi, supaya mereka membaca tulisan ini dan memberitahukan maknanya kepadaku, tetapi mereka tidak sanggup mengatakan makna perkataan itu.
5:16 Tetapi telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau dapat memberikan makna dan dapat menguraikan kekusutan. Oleh sebab itu, jika engkau dapat membaca tulisan itu dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, maka kepadamu akan dikenakan pakaian dari kain ungu dan pada lehermu akan dikalungkan rantai emas, dan dalam kerajaan ini engkau akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga."
5:17 Kemudian Daniel menjawab raja: "Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku.