Selasa, 21 Mei 2013

Melakukan Pekerjaan yang Lebih Besar



Senin, 20 Mei 2013
Bacaan Alkitab: Yohanes 14:12-14
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.” (Yoh 14:12)


Melakukan Pekerjaan yang Lebih Besar dari Pekerjaan Yesus


Bagi umat Tuhan, seringkali kita terkagum-kagum ketika membaca Alkitab dan menemui bagaimana Tuhan Yesus membuat mujizat yang luar biasa, seperti memberi makan 5.000 orang, berjalan di atas air, mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang buta, dan lain sebagainya. Memang tidak salah kagum terhadap apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Tetapi jika kita hanya berhenti untuk mengagumi pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, berarti ada sesuatu yang masih kurang dalam diri kita.

Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang bagaimana kita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari apa yang Tuhan Yesus pernah lakukan (ay. 12a). Tentu hal ini bukan berarti bahwa kita akan disalib dan kemudian bisa bangkit sendiri pada hari yang ketiga. Tetapi ayat ini berbicara bahwa segala mujizat dan pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, sebenarnya kita pun bisa melakukannya. Mengapa demikian?

Pertama, karena Tuhan Yesus pergi kepada Bapa di Surga (ay. 12b). Apa hubungannya? Karena ketika Tuhan Yesus pergi kepada Bapa, maka Ia mengutus Roh Kudus yang memampukan kita melakukan segala macam pekerjaan yang pernah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Tanpa Roh Kudus, segala pelayanan kita akan menjadi hambar dan tidak ada artinya.

Kedua, karena kita pada umumnya memiliki waktu lebih banyak di dunia ini. Tuhan Yesus hanya melakukan pelayanannya selama 3,5 tahun, karena sampai dengan usia 30 tahun Tuhan Yesus pun bekerja mencari nafkah sebagai tukang kayu. Kita yang saat ini membaca renungan ini, mungkin sudah punya waktu untuk melayani lebih banyak dari Tuhan Yesus, sehingga sebenarnya kita memiliki potensi untuk melakukan jauh lebih banyak dan jauh lebih besar dari apa yang dahulu dilakukan oleh Tuhan Yesus. Pertanyaannya, sudahkah kita memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya bagi kemuliaan nama Tuhan?

Ketiga, karena Tuhan sudah memberikan janji kepada kita (ay. 13-14). Janji Tuhan ini sangat luar biasa. Tuhan menjanjikan bahwa apa saja yang kita minta dalam namaNya, maka Tuhan akan melakukannya. Memang motivasi kita dalam meminta itu pun harus benar, yaitu agar nama Tuhan dipermuliakan (ay. 13b).

Kita sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa untuk melakukan perkara-perkara besar. Seringkali masalahnya ada di kita, yaitu kita tidak menyadari potensi itu, atau kita sadar tetapi tidak mau untuk berusaha mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita. Ingat bahwa kita ini adalah ciptaan Allah yang dipersiapkan untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya (Ef 2:10). Tuhan ingin agar kita melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dalam hidup kita, termasuk melakukan pelayanan bagi kemuliaan nama Tuhan.

Jika kita sudah menyadari hal ini, alasan apa lagi yang dapat kita kemukakan di hadapan Tuhan? Tuhan ingin kita melakukan perkara-perkara besar, bahkan yang jauh lebih besar dari apa yang pernah dilakukan Tuhan Yesus. Tuhan sudah memberi kita potensi yang luar biasa? Maukah kita menggunakannya? Jadilah hamba yang baik dan setia, yang mau menggunakan talenta yang diberikan dan mengembangkannya (Mat 25:21 & 23).


Bacaan Alkitab: Yohanes 14:12-14
14:12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;
14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.
14:14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."

Jumat, 17 Mei 2013

Iman yang Melebihi Sains



Minggu, 19 Mei 2013
Bacaan Alkitab: Kejadian 30:37-43
Jika kambing domba itu berkelamin dekat dahan-dahan [yang berbelang-belang] itu, maka anaknya bercoreng-coreng, berbintik-bintik dan berbelang-belang.” (Kej 30:39)


Iman yang Melebihi Sains


Kita pasti pernah belajar tentang ilmu pengetahuan alam (IPA) pada saat kita sekolah di SD, atau minimal pernah belajar tentang Biologi pada saat kita duduk di bangku SMP dan SMA. Atau mungkin saja kita pernah belajar lebih mendalam tentang biologi di tingkat perguruan tinggi. Dalam ilmu pengetahuan yang diajarkan (dan yang sudah diuji kebenarannya), dikatakan bahwa yang mempengaruhi keturunan itu adalah gen dari kedua orang tua (bagi manusia) atau induk (bagi hewan dan tumbuhan), dan bukan faktor lingkungan (kecuali jika ada mutasi gen pada tubuh organisme tersebut). Akan tetapi, hari ini kita akan belajar bagaimana Yakub saat itu melakukan suatu hal yang sama sekali bertentangan dengan ilmu pengetahuan (sains) modern.

Sebelumnya, Yakub dan Laban (mertuanya) membuat kesepakatan. Yakub bekerja sebagai penggembala domba Laban, dan upahnya adalah hewan-hewan yang bercoreng-coreng, berbintik-bintik, dan berbelang-belang. Hewan lain yang tidak seperti itu adalah milik Laban. Memang pada umumnya domba atau kambing yang hidup di masa tersebut adalah yang berwarna putih. Kambing domba yang berwarna putih terlihat sebagai kambing domba kualitas no.1, sementara yang tidak putih (yaitu yang memiliki bintik-bintik dan belang) biasanya terlihat sebagai kambing domba dengan kualitas no.2.

Tetapi itu semua bukan masalah bagi Yakub. Dengan imannya, Yakub pun melakukan tindakan ekstrem. Ia mengambil dahan dari pohon hawar, badam, dan berangan, lalu mengupas dahan tersebut hingga berbelang-belang, yaitu sampai yang bagian dalamnya yang berwarna putih terlihat (ay. 37). Ia kemudian meletakkan dahan yang berbelang-belang itu ke dalam palungan, karena kambing domba pada saat minum juga sering berkelamin (ay. 38). Alkitab menulis bahwa jika kambing domba tersebut berkelamin dekat dengan dahan-dahan tersebut maka anak-anak yang dilahirkannya akan bercoreng-coreng, berbintik-bintik, dan berbelang-belang (ay. 39).

Yakub pun melakukan apa yang dapat ia lakukan untuk membuat kumpulan ternaknya sendiri. Ia mengumpulkan hewan-hewan yang bercoreng-coreng dan berbelang-belang (ay. 40), dan ketika ada kambing domba yang kuat yang berkelamin, ia pun meletakkan dahan yang berbelang-belang tersebut di dekat palungan, tempat kambing domba berkelamin (ay. 41). Sebaliknya, jika ada kambing domba yang lemah yang berkelamin, maka ia tidak meletakkan dahan yang berbelang-belang itu (ay. 42). Dengan demikian, Alkitab mengatakan bahwa kawanan kambing domba Yakub (yaitu yang berbelang-belang, bercoreng-coreng, dan berbintik-bintik) semakin banyak. Selain itu, kambing domba Yakub adalah kambing domba yang kuat-kuat, sedangkan kambing domba yang dimiliki Laban adalah kambing domba yang lebih lemah.

Secara lmu pengetahuan, sebenarnya hal ini agak tidak masuk di akal. Jika hal ini diterapkan kepada manusia, apa iya jika seorang berhubungan seksual di dekat dahan yang berbelang-belang, atau mungkin dalam konteks manusia, di kamar dengan sprei yang bemotif belang-belang maka anaknya juga akan menjadi belang-belang? Jika demikian maka sprei bermotif tidak akan laku. Saya sendiri tidak mengetahui apakah sudah pernah dilakukan pengujian terhadap hal ini oleh para ilmuwan dan bagaimana hasilnya. Tetapi berdasarkan ilmu yang saya pelajari, hal tersebut tidak sesuai dengan buku teks yang saya baca di sekolah.

Walaupun tidak masuk logika, tetapi saya percaya bahwa Tuhan mampu melakukan sesuatu yang jauh di luar ilmu pengetahuan. Alkitab berisi dengan banyak hal-hal yang ajaib, mujizat-mujizat, kesembuhan-kesembuhan, dan lain sebagainya. Apa yang menyebabkan hal itu dapat terjadi? Tak lain dan tak bukan adalah iman. Iman kepada Tuhan membuat kita mampu melakukan hal-hal yang sepertinya mustahil untuk terjadi. Tetapi bukankah bagi Tuhan  tidak ada perkara yang mustahil (Yer 32:17, Luk 1:37)? Tuhan mampu melakuakan segala sesuatu yang melebihi ilmu pengetahuan yang kita pernah pelajari. Apakah kita ingin hal itu terjadi? Caranya mudah saja. Apakah kita mampu membawa dan menjaga iman kita untuk tetap lebih besar daripada masalah kita? Jika ya, maka apa yang kita imankan pasti terjadi, karena iman kita sudah bisa mengatasi segala hal yang menjadi masalah kita.



Bacaan Alkitab: Kejadian 30:37-43
30:37 Lalu Yakub mengambil dahan hijau dari pohon hawar, pohon badam dan pohon berangan, dikupasnyalah dahan-dahan itu sehingga berbelang-belang, sampai yang putihnya kelihatan.
30:38 Ia meletakkan dahan-dahan yang dikupasnya itu dalam palungan, dalam tempat minum, ke mana kambing domba itu datang minum, sehingga tepat di depan kambing domba itu. Adapun kambing domba itu suka berkelamin pada waktu datang minum.
30:39 Jika kambing domba itu berkelamin dekat dahan-dahan itu, maka anaknya bercoreng-coreng, berbintik-bintik dan berbelang-belang.
30:40 Kemudian Yakub memisahkan domba-domba itu, dihadapkannya kepala-kepala kambing domba itu kepada yang bercoreng-coreng dan kepada segala yang hitam di antara kambing domba Laban. Demikianlah ia beroleh kumpulan-kumpulan hewan baginya sendiri, dan tidak ditempatkannya pada kambing domba Laban.
30:41 Dan setiap kali, apabila berkelamin kambing domba yang kuat, maka Yakub meletakkan dahan-dahan itu ke dalam palungan di depan mata kambing domba itu, supaya berkelamin dekat dahan-dahan itu.
30:42 Tetapi apabila datang kambing domba yang lemah, ia tidak meletakkan dahan-dahan itu ke dalamnya. Jadi hewan yang lemah untuk Laban dan yang kuat untuk Yakub.
30:43 Maka sangatlah bertambah-tambah harta Yakub, dan ia mempunyai banyak kambing domba, budak perempuan dan laki-laki, unta dan keledai.

Mencari Muka kepada Siapa?



Sabtu, 18 Mei 2013
Bacaan Alkitab: Amsal 29:25-26
Banyak orang mencari muka pada pemerintah, tetapi dari TUHAN orang menerima keadilan.” (Ams 29:26)


Mencari Muka kepada Siapa?


Di bangsa Indonesia, budaya “mencari muka” sepertinya sudah menjadi budaya nasional. Seorang bawahan akan mencari muka kepada atasannya, berharap atasannya akan membuatnya cepat naik pangkat alias promosi. Ada pula orang-orang yang selalu mendukung kepala daerah yang baru terpilih, dengan harapan mereka mendapatkan jabatan dalam jajaran kepala daerah tersebut. Tidak jarang di gereja  juga terjadi budaya seperti ini. Pendeta mencari muka ke gembala agar ia dipercaya pelayanan yang lebih besar, atau jemaat yang mencari muka ke pendeta, pendeta yang mencari muka ke jemaat dan lain sebagainya.

Pertanyaan saya, mengapa tidak ada yang mau mencari muka ke Tuhan? Jawabannya mungkin juga sesederhana pertanyaan saya. Sebenarnya tidak apa-apa mencari muka ke hadapan Tuhan. Tentunya mencari muka di sini adalah dalam arti positif, bukan negatif. Mencari muka di hadapan Tuhan berarti mencari wajah Tuhan, mencari kehendakNya, dan bukan “menjilat” dan merayu Tuhan agar Ia mau untuk hanya sekedar mengabulkan permintaan kita.

Terkait dengan hal tersebut, bacaan Alkitab kita hari ini juga sedikit menyinggung hal tersebut. Kitab Amsal yang hari ini kita baca adalah salah satu kitab yang berisi wejangan-wejangan hikmat bagi orang yang membacanya. Oleh karena itu, isi dari kitab Amsal ini sangat luar biasa. Bagian Alkitab kita hari ini berbicara tentang bagaimana takut kepada orang (bukan kepada Tuhan) mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada Tuhan, justru akan dilindungi oleh Tuhan (ay. 25). Ini adalah kebenarasn yang pertama, yaitu lebih baik percaya dan mengandalkan Tuhan daripada percaya dan mengandalkan manusia.

Kebenaran kedua adalah bahwa kita harus berani tampil beda. Ketika banyak orang mencoba mencari muka kepada pemerintah (dalam hal ini pemegang kekuasaan di tempat kita tinggal), maka kita justru harus mencari muka Tuhan (ay. 26). Orang yang mencari muka kepada orang lain (termasuk kepada orang yang berkuasa) maka ia mungkin hanya akan mendapatkan jabatan, posisi, uang, proyek, harta benda, dan lain sebagainya. Tetapi orang yang mencari muka Tuhan akan mendapatkan keadilan dari Tuhan. Keadilan Tuhan ini adalah keadilan yang seadil-adilnya karena Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Adil. Justru ketika kita mencari muka kepada atasan kita atau kepada pemerintah, maka kita bersikap tidak adil karena akan ada orang lain yang dirugikan. Jika demikian, karena Tuhan adalah Tuhan yang adil, maka siap-siaplah kita menerima konsekuensi dari Tuhan.

Tidak ada untungnya mencari muka kepada atasan atau orang lain, siapapun itu. Jika kita menginginkan promosi di kantor, mungkin manusia berpikir untuk menjilat dan mencari muka kepada atasan. Tetapi Tuhan kita adalah Tuhan yang sanggup membuat kita promosi dan naik pangkat. Tuhan kita jauh lebih hebat daripada atasan kita. Ketimbang mencari muka kepada atasan, bukankah lebih baik mencari muka dan wajah Tuhan?



Bacaan Alkitab: Amsal 29:25-26
29:25 Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi.
29:26 Banyak orang mencari muka pada pemerintah, tetapi dari TUHAN orang menerima keadilan.

Siap untuk Menderita



Jumat, 17 Mei 2013
Bacaan Alkitab: Yohanes 16:1-4a
Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” (Yoh 16:4a)


Siap untuk Menderita


Ketika kita sekolah atau kuliah, salah satu hal yang paling tidak kita sukai adalah ketika guru atau dosen memberikan semacam ujian atau kuis mendadak, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Mengapa demikian, karena dengan demikian kita tidak sempat melakukan persiapan untuk belajar terlebih dahulu. Jika saat itu kita tidak masuk (misal karena sakit atau alasan lain), maka kita pun kehilangan kesempatan untuk mendapatkan nilai dari ujian atau kuis yang mendadak tersebut. Beda halnya jika guru atau dosen sudah memberitahukan terlebih dahulu kepada kita, tentu kita akan dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu sehingga andaikata nilai kita jelek, maka itu sepenuhnya adalah tanggung jawab kita.

Sama halnya dengan Tuhan Yesus yang telah mengatakan sejumlah hal sebelum kita mengalaminya. Salah satunya adalah hal yang kita pelajari hari ini. Dalam bagian bacaan Kitab Suci kita hari ini, kita melihat bahwa hal yang dimaksud Tuhan adalah tentang penganiayaan yang akan dialami oleh jemaat Tuhan. Memang tidak semua jemaat Tuhan harus merasakan penganiayaan (khususnya secara fisik). Tetapi sesungguhnya perjuangan kita untuk hidup benar di dunia ini juga adalah salah satu bentuk “harga yang harus kita bayar” ketika kita memutuskan untuk mengiring Yesus.

Ingat bahwa Yesus sudah mengatakan bahwa kita akan dikucilkan, bahkan beberapa di antara kita akan dibunuh, dan orang yang membunuh kita itu pun menyangka bahwa mereka sedang berbuat baik bagi allah mereka (ay. 2). Itu adalah risiko yang harus kita tanggung ketika kita percaya kepada Yesus. Jika kita dianiaya karena iman kita kepada Allah, maka mereka menganiaya kita karena mereka tidak mengenal Allah, baik Allah Bapa maupun Tuhan Yesus (ay. 3). Mereka menganggap apa yang mereka lakukan itu adalah ibadah menurut kepercayaan mereka.

Apakah semua dari kita akan mengalami hal tersebut? Bisa ya dan bisa tidak. Hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Akan tetapi, andai kita mengalaminya sekalipun, ingatlah bahwa Tuhan sudah pernah mengatakannya kepada kita. Mengapa Tuhan mengatakan hal ini kepada kita?

Pertama, supaya kita tidak kecewa kepada Tuhan dan menolak Tuhan (ay. 1). Jika Tuhan telah terlebih dahulu mengatakannya, dan kita menolak untuk menerima penderitaan atau penganiayaan tersebut, berarti sama saja dengan kita menolak Tuhan. Ingat bahwa mengiring Yesus itu bukan saja kita menerima yang enak-enak saja, tetapi juga harus siap menerima yang tidak enak. Tetapi percayalah bahwa yang tidak enak sekalipun itu pada akhirnya akan berujung sesuatu yang baik bagi kita.

Kedua, agar dalam keadaan apapun kita tetap selalu ingat kepada Tuhan (ay. 4a). Jika aniaya atau penderitaan itu tiba, maka kita akan ingat bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengatakannya. Dengan demikian kita pun akan mengingat Tuhan dan bukannya lupa kepada Tuhan dalam penderitaan yang kita alami. Kita tidak boleh hanya mengingat Tuhan dalam keadaan yang baik saja, tetapi dalam segala hal kita harus tetap ingat Tuhan, bahkan dalam kondisi yang tidak baik sekalipun.

Bersyukurlah ketika kita tidak (atau belum) mengalami penderitaan karena nama Tuhan. Tetapi jika kita sudah pernah merasakannya (atau sedang merasakannya), tetaplah bersyukur, karena itu adalah anugerah Tuhan dalam hidup kita. Tuhan yang paling tahu batas maksimal kekuatan kita, dan segala penderitaan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita. Bagi kita yang belum menderita, mari kita siapkan diri kita agar kita pun boleh mengambil bagian dalam penderitaan tersebut dengan sebaik-baiknya.




Bacaan Alkitab: Yohanes 16:1-4a
16:1 "Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.
16:2 Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.
16:3 Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.
16:4a Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu."