Kamis, 13 Juni 2013

Waspada Risiko Selingkuh



Jumat, 14 Juni 2013
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 6:15-18
Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!” (1 Kor 6:15)


Waspada Risiko Selingkuh


Saya bekerja sebagai auditor di sebuah instansi. Ketika saya mengobrol dengan teman-teman yang lebih senior, ternyata saya mendengar bahwa ada beberapa orang di instansi saya yang akhirnya terlibat cinta lokasi (cinlok) dan berlanjut ke hubungan gelap antar mereka. Mungkin tidak masalah jika sesama pegawai saling cinlok apabila mereka sama-sama masih bujangan, tetapi ternyata ada beberapa pegawai yang sebenarnya sudah menikah dan memiliki pasangan tetapi masih berselingkuh. Malah beberapa waktu yang lalu, ada 2 orang pegawai yang berselingkuh dan kemudian mati keracunan di dalam mobil di daerah Ancol. Untungnya kasus itu pun tidak terlalu diekspose oleh media.

Tidak hanya di instansi saya, hampir di setiap pekerjaan ada saja risiko selingkuh. Mengapa demikian? Jika mau jujur, rata-rata pegawai menghabiskan waktu minimal 8 jam berada di kantor. Di kota-kota besar seperti Jakarta, mungkin kita menghabiskan hampir 12 jam berada di kantor dengan teman sekerja kita. Tentunya jika tidak hati-hati, godaan untuk berselingkuh akan sangat besar. Apalagi untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu yang menuntut kita untuk sering bersama-sama dengan orang lain dalam waktu yang lama.
Semua pasti tahu bahwa selingkuh itu tidak baik. Bagi saya, selingkuh itu sama saja dengan dosa percabulan. Bacaan Alkitab kita berbicara tentang bagaimana anak-anak Tuhan harus menjaga tubuhnya dari bahaya percabulan. Apa dasarnya? Bagi kita yang telah percaya kepada Tuhan, sesungguhnya hidup kita sekarang sudah menjadi milik Tuhan (ay. 15). Artinya kita pun adalah bagian (anggota) dari tubuh Kristus. Apa iya kita membiarkan tubuh Kristus digunakan untuk pecabulan? Bukankah seharusnya kita menjaga tubuh kita dengan sungguh-sungguh agar nama Tuhan yang dipermuliakan?

Ingat Firman Tuhan yang manyatakan bahwa ketika kita berhubungan intim dengan orang lain, maka kita sesungguhnya menjadi 1 tubuh dengan orang itu (ay. 16a). Ini adalah rahasia yang besar. Itulah mengapa ketika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan, Tuhan menyebutkan bahwa mereka bukan lagi 2 melainkan 1 (Mat 19:6). Lalu, bagaimana jika kita berhubungan intim dengan seorang perempuan (atau seorang laki-laki) cabul? Jawabannya sudah jelas, kita akan menjadi satu tubuh dengan orang itu (ay. 16b). Oleh karena itu perhatikan dengan baik-baik Firman Tuhan hari ini. Apakah kita akan menyerahkan tubuh kita kepada orang lain yang adalah orang cabul? Kata cabul di sini bukan hanya dimaknai sebagai pelacur, tetapi juga sikap orang yang tidak menjaga kekudusan hidup, dalam artian mau berhubungan intim dengan orang yang bukan merupakan pasangannya. Orang yang [gemar] berselingkuh pun bisa dikatakan sebagai orang yang cabul.

Oleh karena itu Firman Tuhan hari ini ditutup dengan perintah (perhatikan tanda seru yang digunakan Paulus di pasal ini untuk menekankan pentingnya hal ini) agar kita menjaga diri kita dari percabulan (ay. 18a). Paulus menekankan bahwa dosa-dosa lain dilakukan di luar tubuh. Mencuri, berbohong, dan lain sebagainya adalah dosa-dosa yang dilakukan di luar tubuh, walau mungkin berdampak secara tidak langsung terhadap tubuh kita. Akan tetapi percabulan/perzinahan/perselingkuhan adalah dosa yang terjadi di dalam tubuh kita (ay. 18). Kita melakukan dosa itu di dalam tubuh kita. Dan hal itu bukan hal yang bisa dianggap sepele.

Tuhan sebenarnya ingin agar kita mengikatkan diri kita kepada Tuhan, agar kita menjadi 1 (dalam roh) dengan Tuhan (ay. 17). Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita untuk memiliki kehidupan yang intim dan dekat dengan Tuhan. Otomatis jika kita dekat dengan Tuhan, maka kita pun akan lebih kuat bertahan terhadap godaan percabulan. Tetapi jika kita menjauh dari Tuhan, kita akan semakin rentan terhadap godaan dan bisa saja suatu saat kita jatuh ke dalam dosa perselingkuhan/percabulan.

Perselingkuhan atau percabulan tidak hanya bisa terjadi di kantor dimana kita bertemu dengan rekan kerja lawan jenis dalam waktu lama. Perselingkuhan bisa terjadi di sekolah, di kampus, di lingkungan tetangga kita, bahkan juga di gereja. Perselingkuhan dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan menimpa orang dengan usia berapa saja. Acara televisi dan akses internet yang semakin “vulgar” membuat banyak orang menganggap  bahwa perselingkuhan adalah suatu hal yang wajar. Tetapi Firman Allah pada hari ini dengan jelas menyatakan bahwa hal itu adalah dosa. Oleh karena itu mari kita jauhi percabulan atau perselingkuhan atau apapun namanya. Mari kita jaga kekudusan tubuh kita karena tubuh kita ini adalah Bait Allah. Biarlah kita mempersembahkan tubuh kita hanya kepada Tuhan saja, dan biarlah kita menjadi 1 dalam persekutuan dengan Tuhan.


Bacaan Alkitab: 1 Korintus 6:15-18
6:15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!
6:16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu daging."
6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.
6:18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.

Kemanisan Bibir yang Menipu



Kamis, 13 Juni 2013
Bacaan Alkitab: Amsal 5:1-9
Karena bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak, tetapi kemudian ia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua.” (Ams 5:3-4)


Kemanisan Bibir yang Menipu


Alkisah di sebuah gereja, terdapat seorang pemuda yang masih perjaka. Ia adalah seorang pemuda yang tampan dan rupawan. Banyak gadis jatuh hati kepadanya dan ingin menjadi pacarnya. Tetapi karena keluarganya masih merupakan keluarga yang terpandang di gereja itu, banyak gadis yang akhirnya tidak berani melangkah. Tetapi ternyata ada seorang wanita yang sudah lama hidup terpisah dengan suaminya, dan saat ini sedang dalam proses cerai dengan suaminya karena satu dan lain hal. Wanita ini juga berada di gereja yang sama dengan si pemuda.

Akhirnya wanita ini pun menjadi cukup dekat dengan si pemuda, apalagi mereka juga sering melakukan pelayanan bersama dan rumah si wanita tidak terlalu jauh dari gereja, sementara si pemuda ini dipercaya oleh orang tuanya untuk tidur di gereja (sekalian menjaga gereja). Akan tetapi, tanpa sepengetahuan siapapun, si wanita ini ternyata jatuh hati kepada pemuda tersebut dan akhirnya memikirkan cara untuk dapat memiliki pemuda tersebut. Akhirnya dengan segala macam rayuan yang keluar dari bibirnya (dan mungkin rayuan yang ditulis melalui SMS, BBM, chat, ataupun media sosial lainnya), si pemuda pun akhirnya takluk. Bahkan si wanita bisa mengajak pemuda tersebut untuk tidur dengannya. Si wanita ini pun tidak mau kehilangan pemuda tersebut, sehingga ia pun mengambil sejumlah foto dan video mereka berdua sebagai “alat” agar si pemuda terikat dan tidak berani meninggalkan wanita tersebut, karena wanita itu mengancam akan menyebarkan foto dan video mereka jika si pemuda meninggalkannya. Si pemuda pun akhirnya berada dalam posisi sulit dan mau tidak mau terpaksa menurut kepada keinginan wanita tersebut.

Hal ini cukup sering terjadi di dunia nyata. Cukup banyak para pemuda yang “jatuh” karena rayuan bibir wanita. Saya tidak merendahkan kaum wanita, karena sebenarnya juga mungkin lebih banyak wanita yang “jatuh” karena rayuan para laki-laki. Akan tetapi, tanpa mempersoalkan pihak mana yang merayu lebih banyak, kita akan belajar apa kata Firman Tuhan terkait dengan hal ini.

Kitab Amsal adalah kitab yang berisi kata-kata hikmat dan nasehat-nasehat yang luar biasa bagi kehidupan kita. Bagian Alkitab kita hari ini berbicara tentang nasehat seorang ayah (atau seorang yang lebih tua) kepada anaknya (atau kepada seorang yang lebih muda). Apa isi nasehat tersebut? Penulis Amsal ini mengingatkan anaknya agar senantiasa berpegang kepada hikmat, selalu mengarahkan telinga, serta berpegang senantiasa kepada kebijaksanaan dan memelihara pengetahuan (ay. 1-2). Mengapa hal ini penting, khususnya bagi anak muda? Ingat bahwa Amsal ini ditujukan kepada orang-orang yang lebih muda daripada usia si penulis Amsal.

Orang muda memiliki tantangan yang lebih berat, karena mereka pada umumnya masih kurang dalam pengalaman hidup. Salah satu tantangan terberat yang dihadapi adalah mengenai nafsu duniawi, khususnya nafsu antara laki-laki dan perempuan. Penulis amsal ini menasehatkan agar orang muda menjauhi perempuan jalang (atau perempuan yang tidak benar). Memang perkataan perempuan jalang ini sangat menarik perhatian, bahkan mungkin perkataannya (atau tulisannya) semanis madu (ay. 3). Ini menunjukkan bahwa mereka sekilas terlihat sangat menarik, tetapi pada kenyataannya, akhirnya pahit seperti empedu (ay. 4). Bahkan dalam kata-kata yang lebih jelas lagi, mereka hanya cantik di luarnya saja, tetapi hatinya sangat busuk. Kehidupan mereka menuju ke dunia orang mati, bukan ke jalan kehidupan (ay. 5).

Oleh karena itu penulis amsal menasehatkan agar anak-anak muda menjauhi orang-orang seperti ini (ay. 7). Bahkan dikatakan agar orang-orang muda ini menjauhi jalan mereka, bahkan jangan sampai menghampiri pintu rumahnya (ay. 8). Perhatikan ayat berikutnya: Penulis amsal mengingatkan orang-orang muda agar tidak menyerahkan keremajaannya kepada orang lain yang tidak berhak menerimanya (ay. 9). Cinta yang indah adalah cinta yang diberikan kepada orang yang tepat pada saat yang tepat pula. Kesalahan orang-orang muda dalam hal berpacaran dan memilih pasangan hidup, mengakibatkan permasalahan yang sangat rumit dan kompleks, bahkan dapat melibatkan keluarga besar, bahkan melibatkan gereja.

Saat ini, banyak sekali anak-anak muda di gereja yang jatuh dalam dosa perzinahan. Dosa itu pada umumnya dimulai dari rayuan salah satu pihak, entah melalui perkataan ataupun melalui tulisan yang “memancing”. Hati-hatilah agar kita tidak terjebak pada rayuannya. Memang nafsu seksual itu sangat menarik, khususnya bagi anak muda yang memang belum pernah mengerti dan merasakan. Tetapi ingatlah perkataan Firman Tuhan bahwa ujung dari hal tersebut tidak menuju pada jalan kehidupan tetapi pada jalan kematian.

Bagi kita yang masih menjaga kekudusan hingga saat ini, tetaplah pertahankan kekudusan kita. Jagalah itu dengan sepenuh hati sehingga nanti kita bisa memberikan yang terbaik kepada pasangan hidup kita di dalam pernikahan yang kudus dan yang diberkati oleh Tuhan. Walaupun demikian, jika ada di antara kita yang saat ini masih terjebak dalam kehidupan yang penuh dengan rayuan menyesatkan, selalu ada kesempatan bagi kita untuk berbalik dari kesalahan kita. Hanya ada 1 cara: segera tinggalkan dosa dan kembali pada kasih karunia Kristus, selagi masih ada kesempatan bagi kita untuk kembali kepadaNya. Memang tidak mudah apalagi jika selama ini kita sudah terbiasa dengan dosa yang nikmat tersebut. Tetapi jika kita mau sungguh-sungguh bertobat, maka tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita untuk hidup kudus.

Walaupun berat rasanya, ingatlah akan bacaan Alkitab kita hari ini. Mana yang kita pilih? Rayuan bibir yang manis tetapi ujungnya sangat pahit, atau kita mau mengekang diri kita sendiri dan meninggalkan segala kenikmatan duniawi ini dengan tujuan agar kita memperoleh hidup yang kekal di surga nanti? Bukankah lebih baik bersakit-sakit dahulu di dunia ini tetapi kita akan bersenang-senang di surga nantinya? Ingatlah Pencipta kita pada masa muda kita (Pkh 12:1). Lebih baik kita bertobat sekarang daripada penyesalan itu baru akan datang ketika kita mati, dan kita akan menyesal selama-lamanya.


Bacaan Alkitab: Amsal 5:1-9
5:1 Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan,
5:2 supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan.
5:3 Karena bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak,
5:4 tetapi kemudian ia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua.
5:5 Kakinya turun menuju maut, langkahnya menuju dunia orang mati.
5:6 Ia tidak menempuh jalan kehidupan, jalannya sesat, tanpa diketahuinya.
5:7 Sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, janganlah kamu menyimpang dari pada perkataan mulutku.
5:8 Jauhkanlah jalanmu dari pada dia, dan janganlah menghampiri pintu rumahnya,
5:9 supaya engkau jangan menyerahkan keremajaanmu kepada orang lain, dan tahun-tahun umurmu kepada orang kejam;

Harus Sempurna, Tidak Hanya Sekedar Baik



Rabu, 12 Juni 2013
Bacaan Alkitab: Matius 5:43-48
Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:48)


Harus Sempurna, Tidak Hanya Sekedar Baik


Ketika kita menyatakan diri sebagai orang Kristen, sadarkah kita apa sebenarnya arti menjadi sebagai seorang Kristen itu? Kata “Kristen” dapat diartikan sebagai “pengikut Kristus”. Menjadi pengikut Kristus bukan hanya sekedar memasang foto Kristus lalu seseorang sudah dapat mengaku diri sebagai pengikut Kristus. Menjadi pengikut Kristus berarti kita harus mengikuti dan meneladani Kristus dalam segala aspek kehidupan kita.

Salah satu sifat Kristus yang harus kita teladani adalah kasih yang dimiliki oleh Yesus Kristus. Kristus sangat mengasihi manusia sehingga ia rela mengorbankan diriNya untuk mati di atas kayu salib dan menebus dosa-dosa manusia yang mau percaya kepadaNya. Oleh karena itu, Yesus Kristus menyampaikan standar yang luar biasa yaitu: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (ay. 44). Ini adalah standar yang luar biasa. Sebelumnya bangsa Yahudi (dulu bangsa Israel) mendapatkan perintah agar mereka mengasihi sesama manusia dan membenci musuh mereka (ay. 43). Tetapi Yesus dengan jelas menyatakan suatu standar baru yang harus diikuti oleh para pengikutNya.

Yesus menyatakan bahwa jika mereka mau menjadi anak-anak Bapa, maka mereka harus memiliki sikap seperti Bapa di surga, yang tetap memberikan matahari dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar (ay. 45). Jika Bapa mau, bisa saja Bapa hanya memberikan matahari dan hujan kepada orang-orang benar. Tetapi Allah Bapa adalah Allah yang penuh kasih, dan tetap memberikan kesempatan kepada orang-orang jahat sekalipun.

Inilah standar yang ditetapkan Kristus sendiri. Jika kita mengasihi orang lain yang juga mengasihi kita dan baik kepada kita, apa artinya itu? Semua orang di dunia ini juga bisa melakukannya, termasuk pemungut cukai, para penjahat, dan orang-orang ateis yang tidak percaya kepada Tuhan (ay. 46-47). Tetapi Tuhan mau kita hidup dengan standar yang lebih tinggi. Inilah standar surgawi, yaitu standar yang harus kita capai dalam kehidupan kita di dunia ini.

Jika kita perhatikan, dalam Perjanjian Lama, Tuhan memberi standar agar bangsa Israel harus bisa menjadi bangsa atau orang yang baik. Lihat saja 10 Hukum Allah yang diberikan di Gunung Sinai. Semua itu adalah larangan-larangan yang memang baik untuk dilakukan: Jangan mencuri, jangan berbohong, jangan berzinah, dan lain sebagainya. Akan tetapi di dalam Perjanjian Baru, Tuhan menuntut agar kita bisa hidup sempurna, karena Bapa di surga adalah Bapa yang sempurna (ay. 48). Ini berarti menjadi baik saja tidak cukup. Kita harus sempurna di hadapan Tuhan.

Bisakah kita sempurna? Tentu Tuhan tidak akan memberi perintah yang tidak mungkin dapat dilakukan manusia. Walaupun demikian, kita pun wajib mengetahui bagaimana cara kita untuk bisa menjadi sempurna di hadapan Tuhan. Salah satu kuncinya adalah dengan meneladani Yesus Kristus. Mengapa? Karena Yesus Kristus adalah pribadi yang memiliki kehidupan sempurna. Kristus hidup tanpa dosa, taat akan perintah Allah Bapa, dan juga memiliki kasih yang luar biasa. Itulah yang harus kita teladani dalam kehidupan kita.

Banyak gereja dan hamba Tuhan yang “lupa” akan hal ini. Mereka menyampaikan Firman Tuhan yang menyatakan agar umat Tuhan harus menjadi orang-orang yang baik. Mereka harus hidup baik menurut standar dunia. Padahal sesungguhnya standar yang harus dicapai oleh setiap anak Tuhan adalah standar surgawi, yaitu dimana setiap anak-anak Tuhan harus bisa sempurna di hadapan Tuhan. Banyak gereja dan hamba Tuhan yang hanya menyampaikan Firman tentang berkat-berkat Tuhan. Itu tidak salah. Tetapi jika kita mau meneladani Kristus, berapa banyak ajaran Kristus yang menyampaikan tentang berkat-berkat Tuhan? Sangat sedikit dibandingkan dengan ajaran Kristus tentang kasih atau tentang pertobatan terhadap dosa.

Mungkin kita saat ini berjemaat di gereja yang mungkin tidak pernah membahas tentang Firman Tuhan yang keras. Selama ini kita terbuai dalam zona nyaman dimana kita merasa bahwa kita sudah hidup baik, setiap hari Minggu kita ke gereja, kita berdoa sebelum makan, dan lain sebagainya. Saya tidak meminta kita untuk pindah gereja. Tetaplah beribadah di gereja tersebut, tetapi naikkan standar rohani kita sesuai dengan standar Tuhan (standar surgawi) sehingga hidup kita bukan hanya sekedar baik, bukan hanya sekedar berkenan, tetapi hidup kita mencapai tingkatan sempurna di hadapan Allah. Tidak ada yang mustahil. Dengan tekad yang kuat dan juga dengan bantuan Roh Kudus, kita pasti dapat mencapainya. Pertanyaannya kemudian, apakah kita mau untuk mencapainya?


Bacaan Alkitab: Matius 5:43-48
5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?
5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Rabu, 12 Juni 2013

Jangan Mendua Hati terhadap Tuhan



Selasa, 11 Juni 2013
Bacaan Alkitab: Yesaya 66:1-4
Orang menyembelih lembu jantan, namun membunuh manusia juga, orang mengorbankan domba, namun mematahkan batang leher anjing, orang mempersembahkan korban sajian, namun mempersembahkan darah babi, orang mempersembahkan kemenyan, namun memuja berhala juga. Karena itu: sama seperti mereka lebih menyukai jalan mereka sendiri, dan jiwanya menghendaki dewa kejijikan mereka. ” (Yes 66:3)


Jangan Mendua Hati terhadap Tuhan


Suatu saat, saya pernah memberikan saran kepada seorang wanita yang saat ini sedang berpacaran dengan seorang pria. Sayangnya wanita ini dulu pernah memiliki pacar (sekarang sudah menjadi mantan pacar), tetapi wanita ini masih sering menjalin hubungan dengan mantan pacarnya. Wanita ini sebenarnya masih mengharapkan mantan pacarnya kembali, tetapi ia melakukan kesalahan dengan cara memiliki pacar baru lagi. Saya sudah sering menasehati, jika mau pacaran, pilihlah salah satu dan seriuslah. Tetapi wanita ini tidak mau mendengarkan dan sampai saat ini ia pun masih galau karena hal ini ternyata diketahui oleh pacarnya yang sekarang dan akibatnya ia diputuskan oleh pacarnya. Sekarang ia tidak mempunyai pacar. Mantan pacarnya juga sudah memiliki pacar baru sedangkan pacar yang terakhir juga sudah tidak mau lagi karena wanita tersebut mendua. Ia sering memposisikan diri sebagai korban, tetapi sesungguhnya ia sendiri adalah pelaku, bukan korban, karena pacarnya sendiri adalah korban dari sikap mendua hati wanita tersebut.

Kisah di atas rasanya cukup familiar di antara para remaja atau pemuda masa kini. Akan tetapi, jauh sebelum tren ini muncul di masyarakat, Tuhan sudah lebih dulu mengkritik sikap bangsa Israel yang mendua hati. Memang mereka tidak mendua sama seperti wanita yang saya ceritakan tadi, tetapi mereka mendua hati secara rohani. Hal ini justru lebih parah dan lebih menyakitkan Tuhan.

Mari kita baca bagian Alkitab kita hari ini. Firman Tuhan mengatakan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang luar biasa besarnya. Dikatakan bahwa langit adalah tahta Tuhan dan bumi adalah tumpuan kakiNya (ay. 1). Tuhan menekankan bahwa Tuhanlah yang membuat segala sesuatunya tersebut, oleh karena itu manusia pun seharusnya hanya beribadah dan menyembah kepada Tuhan saja (ay. 2a).

Akan tetapi bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan, justru melakukan hal yang menyakitkan hati Tuhan. Mereka memang beribadah kepada Tuhan. Mereka menyembelih lembu jantan, mempersembahkan domba, mempersembahkan korban sajian, dan mempersembahkan dupa yang harum kepada Tuhan. Akan tetapi, di samping itu mereka juga  melakukan hal yang merupakan kekejian bagi Tuhan. Mereka membunuh manusia, membunuh anjing, mempersembahkan darah babi, memuja berhala, dan lain sebagainya (ay. 3). Ini adalah sikap bangsa Israel yang sangat “kurang ajar” kepada Tuhan. Oleh sebab itu, Tuhan pun akhirnya “membiarkan” bangsa Israel melakukan apa yang mereka suka, dan ketika mereka akhirnya tertindas dan memanggil-manggil nama Tuhan dalam kesulitan mereka, Tuhan pun diam dan tidak mau mendengarkan (ay. 4).

Tuhan sangat membenci sikap bangsa Israel yang “mendua hati” kepada Tuhan. Mereka terlihat tetap beribadah kepada Tuhan, tetapi di sisi lain mereka juga beribadah kepada dewa-dewa lain. Ketika Tuhan menghukum mereka atas dosa-dosanya, mereka lalu protes kepada Tuhan, “Mengapa Tuhan begitu jahat kepada kita? Mengapa kita yang selalu menjadi korban?”. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka alami adalah karena kesalahan mereka sendiri. Lalu apa bedanya mereka dengan wanita yang saya sebutkan tadi?

Tuhan benci orang-orang seperti itu. Akibatnya, Tuhan akan memalingkan mukaNya dari orang-orang yang mendua hati seperti bangsa Israel. Sebaliknya, Tuhan akan menunjukkan wajahNya kepada orang-orang yang tertindas dan orang-orang yang takut dan gentar kepada FirmanNya (ay. 2). Orang-orang seperti ini mungkin secara dunia terlihat sebagai orang-orang yang menjalankan ibadah mereka. Tetapi pada kenyataannya, ibadah mereka tidak berkenan di hadapan Tuhan, karena mereka mendua hati di hadapan Tuhan.

Apakah kita termasuk orang-orang seperti itu? Mungkin kita pergi ke gereja setiap hari Minggu. Kita beribadah dan memuji  Tuhan setiap hari Minggu. Tetapi dari hari Senin hingga Sabtu, kita melakukan apa yang jahat. Kita melakukan korupsi, kita melakukan kejahatan, dan lain sebagainya. Pantaskah kita menyebut diri kita sebagai orang Kristen? Hari ini, jika masih ada hal-hal seperti itu yang kita lakukan, saatnya kita bertobat dan kembali kepada Tuhan. Saya yakin kita masih memiliki suara hati dan suara Roh Kudus yang akan mengingatkan kita apabila apa yang kita lakukan itu salah. Tinggalkan itu semua, dan berusahalah hidup dalam kebenaran Firman Tuhan. Jangan kita sama seperti bangsa Israel, tetapi mari kita menjadi orang-orang yang mau taat dan tunduk kepada Tuhan.


Bacaan Alkitab: Yesaya 66:1-4
66:1 Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku?
66:2 Bukankah tangan-Ku yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi? demikianlah firman TUHAN. Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku.
66:3 Orang menyembelih lembu jantan, namun membunuh manusia juga, orang mengorbankan domba, namun mematahkan batang leher anjing, orang mempersembahkan korban sajian, namun mempersembahkan darah babi, orang mempersembahkan kemenyan, namun memuja berhala juga. Karena itu: sama seperti mereka lebih menyukai jalan mereka sendiri, dan jiwanya menghendaki dewa kejijikan mereka,
66:4 demikianlah Aku lebih menyukai memperlakukan mereka dengan sewenang-wenang dan mendatangkan kepada mereka apa yang ditakutkan mereka; oleh karena apabila Aku memanggil, tidak ada yang menjawab, apabila Aku berbicara, mereka tidak mendengarkan, tetapi mereka melakukan yang jahat di mata-Ku dan lebih menyukai apa yang tidak Kukehendaki.uu