Selasa, 20 Agustus 2013

Nasehat bagi Orang yang Lebih Tua


Kamis, 22 Agustus 2013
Bacaan Alkitab: Titus 2:1-5
Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.” (Tit 2:2)


Nasehat bagi Orang yang Lebih Tua


Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, ditulis dalam konteks budaya orang Israel atau orang Yahudi. Dalam hal ini, orang Yahudi hampir mirip dengan orang Indonesia atau orang Asia, yaitu menghargai senioritas. Inti dari budaya tersebut sebenarnya sangat sederhana: orang yang muda harus tunduk kepada orang yang lebih tua dan menghargai serta menghormati mereka. Budaya ini memang adalah budaya yang sangat baik jika dibandingkan dengan budaya bebas atau budaya liberal yang ada di negara-negara barat. Namun sayangnya, budaya ini juga mengandung beberapa kelemahan, yaitu orang yang lebih tua umumnya enggan untuk dinasehati oleh orang yang lebih muda. Orang yang lebih tua merasa bahwa mereka lebih banyak tahu dibandingkan orang yang lebih muda sehingga jika generasi tua ini melakukan hal yang salah, dampaknya akan dengan mudah menurun kepada generasi muda.

Hal yang sama terjadi kepada bangsa Israel atau bangsa Yahudi. Ketika satu generasi tidak taat kepada Tuhan, biasanya generasi di bawahnya juga akan tidak taat kepada Tuhan. Oleh karena itu dalam suratnya kepada Titus, Paulus memberi suatu nasehat kepada Titus, yaitu suatu ajaran yang sehat yang harus disampaikan Titus kepada jemaat yang dipimpinnya (ay. 1). Isi dari nasehat Paulus itu sebenarnya adalah hal yang biasa saja, yaitu:

Pertama, orang (laki-laki) yang lebih tua harus hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih, dan dalam ketekunan (ay. 2). Ayat 2 ini sebenarnya jika mau dibahas satu persatu dan mendalam akan sangat luar biasa. Tetapi karena di renungan ini saya tidak memiliki banyak tempat untuk menjelaskan semuanya, saya menyimpulkan ayat 2 ini dengan satu kalimat sederhana: orang (laki-laki) yang lebih tua harus mampu hidup dengan memberi teladan yang benar, yaitu teladan Kristus. Mengapa Paulus menulis ayat 2 ini untuk terutama untuk laki-laki? Karena laki-laki yang tua pada umumnya adalah para ayah. Mereka menjadi pemimpin bagi keluarganya. Salah satu tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin adalah memimpin para anggotanya ke arah yang benar. Sama seperti Kristus telah memimpin jemaat dan memberikan teladan yang benar, maka laki-laki tua juga harus bertindak yang demikian. Cara hidup mereka harus mencerminkan cara hidup yang benar, jika memungkinkan tanpa cela sedikitpun, sehingga generasi di bawahnya dapat mencontoh kehidupan mereka.

Kedua, orang (perempuan) yang lebih tua, selain harus hidup sebagai orang yang beribadah, tidak memfitnah, hidup bijaksana dan suci, rajin, baik hati, dan lain sebagainya, tetapi juga harus cakap mengajar hal-hal yang baik kepada generasi muda (ay. 3 & 5). Mengapa Paulus menulis ayat 3 ini terutama untuk para perempuan? Karena dalam kebudayaan Israel atau Yahudi, perempuan umumnya tinggal di rumah dan mendidik anak-anak mereka. Pendidikan iman Kristiani yang paling penting bukanlah pendidikan agama Kristen di sekolah, bukanlah ibadah sekolah minggu di gereja-gereja, tetapi adalah pendidikan secara informal oleh orang tua (baca: ibu) kepada anak-anaknya, bahkan si anak masih berusia dini sekalipun. Oleh karena itu, seorang perempuan yang lebih tua tidak hanya dituntut untuk hidup benar, tetapi juga untuk cakap mengajarkan kebenaran tersebut. Hal ini diperkuat juga bahwa tugas perempuan yang lebih tua adalah untuk mendidik perempuan-perempuan muda agar hidup dalam kasih (ay. 4).

Ini adalah suatu nasehat dari Paulus yang luar biasa, mengingat Paulus sendiri tidak pernah menikah. Walaupun demikian, Paulus mampu memberikan nasehat yang sangat bijaksana, dan pertama-tama ditujukan kepada orang-orang yang lebih tua. Orang yang lebih tua harus dapat memberi teladan dan juga mendidik orang yang lebih muda agar hidup dalam jalan kebenaran Firman Tuhan. Tentunya semua itu harus dilakukan dengan motivasi yang benar, yaitu agar nama Tuhan tidak dihujat orang (karena hidup kita tidak sesuai dengan Firman Tuhan dan kita justru menjadi batu sandungan bagi orang lain), tetapi justru agar nama Tuhan dimuliakan lewat hidup kita.

Bagaimana dengan kita? Seberapapun mudanya usia kita, pasti ada generasi di bawah kita yang harus kita didik bukan? Walaupun kita belum memiliki anak sekalipun, ada adik-adik kita, atau orang-orang yang lebih muda dari kita. Merekalah tanggung jawab kita. Kita harus hidup  benar sehingga mereka juga dapat mencontoh kehidupan kita. Terlebih kita yang diberi tanggung jawab berupa anak dari Tuhan. Kita pun perlu mendidik anak kita dalam kebenaran Firman Tuhan sedari kecil. Sudahkah kita melakukannya?


Bacaan Alkitab: Titus 2:1-5
2:1 Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat:
2:2 Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.
2:3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik
2:4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya,
2:5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.

Menjadi “Pelari Jarak Jauh”

Rabu, 21 Agustus 2013
Bacaan Alkitab: Yeremia 12:1-5
Jika engkau telah berlari dengan orang berjalan kaki, dan engkau telah dilelahkan, bagaimanakah engkau hendak berpacu melawan kuda? Dan jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan?” (Yer 12:5)


Menjadi “Pelari Jarak Jauh”


Ada suatu perbedaan yang besar antara pelari jarak jauh (maraton) dan juga pelari jarak dekat (sprint). Pelari jarak jauh tidak akan menghabiskan energinya untuk berlari cepat, karena ia tahu bahwa jarak yang harus ditempuh cukup jauh dan percuma jika ia menghabiskan energinya hanya untuk memimpin di awal perlombaan tetapi akhirnya kehabisan stamina di akhir (atau bahkan tidak mampu mencapai garis akhir). Sementara itu pelari jarak dekat akan menggunakan seluruh energinya untuk dapat mencapai garis akhir secepat-cepatnya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tetapi kira-kira, gambaran mana yang  paling cocok dengan hidup anak-anak Tuhan?

Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang Yeremia yang bercakap-cakap dengan Tuhan. Awalnya Yeremia mengeluh kepada Tuhan tentang keadilan di negeri Israel dan Yehuda. Ia melihat bahwa hidup orang-orang fasik dan orang-orang yang tidak setia justru menjadi mujur (ay. 1). Yeremia melihat juga bahwa orang-orang fasik justru tumbuh subur dan berakar, bahkan berbuah lebat (ay. 2).

Hal itu membuat nabi Yeremia gusar. Ia ingin berbantah dengan Tuhan. Ia protes kepada Tuhan, “Mengapa justru orang fasik tidak langsung dihukum tetapi malah sepertinya dibiarkan dan bahkan diberkati oleh Tuhan?”. Yeremia pun menceritakan kondisi dirinya kepada Tuhan bahwa selama ini ia telah memiliki hati yang luar biasa kepada Tuhan (ay. 3a). Yeremia bahkan meminta Tuhan untuk segera memusnahkan orang-orang fasik di negerinya, dan berharap justru orang-orang yang baik (seperti Yeremia) itulah yang akan disisakan Tuhan di negerinya (ay. 3b-4).

Saya sebelumnya pernah menulis renungan tentang ini juga, tetapi berhenti di ayat 4. Saat saya membaca jawaban Tuhan di ayat 5, saya justru semakin kagum dengan jawaban Tuhan tersebut (Ketika saya membaca ayat 5, walaupun tidak disebutkan dengan jelas bahwa itu adalah suara Tuhan, tetapi saya membaca bahwa ayat 5 tersebut bukanlah suara Yeremia, tetapi jawaban Tuhan kepada Yeremia). Di saat Yeremia sepertinya mengeluh tentang kondisinya dan membandingkan dengan kondisi orang fasik, di situ Tuhan menjawab dengan tegas, “Jika engkau telah berlari dengan orang yang berjalan kaki dan engkau sudah lelah, bagaimana engkau hendak berpacu melawan kuda?” (ay. 5).

Ayat 5 ini sangat menarik, karena di situ Tuhan menjelaskan suatu kebenaran yang luar biasa kepada Yeremia. Dalam bahasa sederhana, sebenarnya Tuhan ingin berkata demikian, “Yeremia, untuk apa kamu menyusahkan dirimu dengan melihat dan membanding-bandingkan hidupmu dengan orang fasik. Itu sama saja kamu menghabiskan energimu untuk berkeluh kesah tentang hal-hal kecil, padahal ada banyak hal-hal besar menanti di depanmu”. Dan jujur saja, ayat ini juga sangat mengingatkan saya, bahwa seringkali saya menghabiskan energi saya untuk hal-hal yang sepele, yang sebenarnya tidak perlu saya pikirkan terlalu dalam.

Seringkali ketika kita mau melakukan hal besar yang Tuhan ingin kita lakukan, kita justru disibukkan dengan hal-hal kecil yang mengganggu stamina iman kita. Ingat kisah Maria dan Marta? Marta disibukkan dengan hal-hal kecil yang menguras “stamina” Marta. Akibatnya Marta tidak bisa melihat bahwa dekat dengan Tuhan itu adalah hal yang penting yang harus ia lakukan. Ia kehilangan prioritas yang seharusnya ia lakukan terlebih dahulu.

Bagaimana dengan kita? Ingat bahwa Tuhan menjadikan kita anak-anakNya sebagai seorang “pelari jarak jauh”. Oleh karena itu penting untuk menjaga dan juga meningkatkan “stamina rohani” kita alias iman kita. Seorang pelari jarak jauh mungkin tidak berlari secepat pelari sprinter, tetapi umumnya mereka berlari dengan kecepatan yang konstan dan “mengatur strategi” agar tidak kehabisan stamina sebelum mencapai garis akhir. Itulah juga yang Allah ingin kita lakukan. Orang yang selamat bukanlah orang yang bertobat kemudian tiba-tiba murtad dan berbalik menolak Yesus. Orang-orang murtad semacam ini akan binasa (Ibr 6:6). Tetapi orang yang selamat adalah orang yang mampu memelihara imannya hingga garis akhir (2 Tim 4:7).

Oleh karena itu, latihlah diri kita beribadah (1 Tim 4:7-8). Jangan biarkan hal-hal kecil mengurangi stamina rohani kita atau malah justru membuat kita kehabisan stamina rohani sebelum waktunya. Ketika kita mulai berjemaat di gereja, atau mulai melayani Tuhan di gereja, kita akan melihat banyak hal-hal kecil yang mungkin secara tidak sadar menghabiskan stamina rohani kita. Kita terjebak dengan membicarakan kejelekan orang lain, atau terlalu sibuk mengurusi segala macam tetek bengek yang sebenarnya tidak perlu kita urusi. Biarkan kita melakukan bagian kita yang seharusnya, dan mempercayakan bagian orang lain kepada orang lain yang memang bertugas untuk itu. Jangan habiskan stamina kita hanya untuk hal-hal sepele yang tidak penting. Tetapi fokuslah kepada Tuhan, sehingga kita mampu berlari dan menempuh jarak jauh guna mencapai garis akhir kehidupan kita.


Bacaan Alkitab: Yeremia 12:1-5
12:1 Engkau memang benar, ya TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! Tetapi aku mau berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia?
12:2 Engkau membuat mereka tumbuh, dan mereka pun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga. Memang selalu Engkau di mulut mereka, tetapi jauh dari hati mereka.
12:3 Ya TUHAN, Engkau mengenal aku, Engkau melihat aku, dan Engkau menguji bagaimana hatiku terhadap Engkau. Tariklah mereka ke luar seperti domba-domba sembelihan, dan khususkanlah mereka untuk hari penyembelihan. --
12:4 Berapa lama lagi negeri ini menjadi kering, dan rumput di segenap padang menjadi layu? Karena kejahatan penduduknya binatang-binatang dan burung-burung habis lenyap, sebab mereka telah mengira: "Ia tidak akan melihat tingkah langkah kita!"
12:5 "Jika engkau telah berlari dengan orang berjalan kaki, dan engkau telah dilelahkan, bagaimanakah engkau hendak berpacu melawan kuda? Dan jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan?

Senin, 19 Agustus 2013

Anak Sah yang Dikasihi Tuhan



Selasa, 20 Agustus 2013
Bacaan Alkitab: 2 Samuel 12:24-25
Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini.” (2 Sam 12:24)


Anak Sah yang Dikasihi Tuhan


Dalam renungan hari sebelumnya, saya menulis tentang dosa yang dilakukan Daud dan Batsyeba dan bagaimana Tuhan menghukum Daud dan Batsyeba sehingga anak mereka yang pertama mati. Walaupun demikian, ketika kemudian Daud bertobat, maka Alkitab menulis bahwa Tuhan memberikan seorang anak laki-laki kepada Daud dan Batsyeba. Daud memberi nama Salomo kepada anak itu (ay. 24a).

Jika kita membaca sampai di sini, sepertinya cerita berakhir begitu saja. Daud dan Batsyeba melakukan kesalahan, anak mereka mati, mereka lalu menyesal dan bertobat, lalu Daud dan Batsyeba mendapatkan anak lagi, dan semua berakhir bahagia. Memang akhir dari kisah ini adalah kisah bahagia. Bahkan Alkitab menulis bahwa Tuhan mengasihi anak kedua daud dan Batsyeba ini (ay. 24b), dan Tuhan sendiri memberi nama Yedija, yang artinya adalah kekasih Tuhan atau dikasihi oleh Tuhan (ay. 25).

Apa yang membuat Tuhan sangat mengasihi Salomo? Padahal ketika anak yang pertama lahir, anak itu pun mati karena hukuman Tuhan?

Pertama, jika kita memperhatikan Alkitab dengan sungguh-sungguh, kita akan mengerti bahwa ketika Batsyeba mengandung anak pertama, ia melakukannya dalam dosa perzinahan. Saat Batsyeba tidur dengan Daud, status Batsyeba masih merupakan isteri sah Uria. Di mata Tuhan, apa yang dilakukan oleh Batsyeba adalah dosa besar. Sebaliknya, ketika akhirnya Uria mati (walaupun mati dibunuh raja Daud secara tidak langsung), maka Daud mengambil Batsyeba menjadi isterinya (2 Sam 11:27). Memang pada saat Daud menikahi Batsyeba, saat itu Batsyeba sedang mengandung anak pertamanya dari Daud, sehingga saya dapat mengatakan dengan jelas bahwa anak pertama Batsyeba itu dikandung di luar nikah. Akan tetapi anak kedua Batsyeba ini (Salomo) dikandung ketika Daud sudah sah menikahi Batsyeba.

Walaupun Uria (suami Batsyeba terdahulu) mati karena “dibunuh” Daud secara tidak langsung, tetapi di mata Tuhan, memang pernikahan Daud dan Batsyeba sah karena Batsyeba menikah lagi bukan karena diceraikan oleh suaminya, tetapi karena suaminya mati. Pernikahan Kristen tidak mengenal kata cerai, melainkan suami dan isteri di mata Tuhan tetap merupakan satu kesatuan hingga maut memisahkan (baca 1 Kor 7:10-16).

Oleh karena Salomo lahir dari suatu pernikahan yang sah, sehingga Tuhan pun mengasihi anak tersebut. Saya pun sangat yakin bahwa setiap anak yang lahir dari suatu pernikahan yang sah, Tuhan pasti sangat mengasihi anak tersebut (jika dibandingkan dengan anak yang lahir di luar pernikahan yang sah di mata Tuhan). Oleh karena itu, perhatikan sungguh-sungguh hidup kita. Jangan sampai kita melakukan perzinahan, apalagi jika perzinahan tersebut sampai menghasilkan anak. Walaupun memang Tuhan pun bisa memakai anak yang lahir di luar pernikahan, akan tetapi alangkah baiknya jika kita memiliki anak yang memang lahir di dalam pernikahan yang sah di mata Tuhan. Itu akan jauh mendatangkan sukacita bagi Tuhan dan juga bagi kita selaku orang tuanya.

Jagalah baik-baik pergaulan kita. Ingat bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan baik. Jangan bergaul dengan orang-orang yang memandang rendah pernikahan. Bagaimanapun justru Tuhan sangat memandang tinggi suatu pernikahan yang kudus. Bahkan jemaat Tuhan diibaratkan sebagai mempelai wanita Tuhan. Bukankah itu adalah suatu gambaran yang luar biasa tentang pernikahan? Jagalah kekudusan pernikahan dan nikmatilah pernikahan kita. Saya sangat percaya bahwa sunguh-sungguh ada berkat Tuhan yang luar biasa di dalam setiap pernikahan, dan ada kasih Tuhan yang sungguh-sungguh besar bagi setiap keluarga yang mau taat terhadap kebenaran Firman Tuhan.


Bacaan Alkitab: 2 Samuel 12:24-25
12:24 Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini
12:25 dan dengan perantaraan nabi Natan Ia menyuruh menamakan anak itu Yedija, oleh karena TUHAN.

Dosa Daud dan Juga Dosa Batsyeba



Senin, 19 Agustus 2013
Bacaan Alkitab: 2 Samuel 11:1-5
Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya.” (2 Sam 11:4)


Dosa Daud dan Juga Dosa Batsyeba


Ketika saya membaca tentang kisah “kejatuhan” raja Daud (kejatuhan di sini bukan berarti raja Daud jatuh dan tersingkir dari tahta kerajaannya, tetapi terkait dengan dosa raja Daud), saya menemukan banyak sekali penyebab dari kejatuhan raja Daud tersebut.

Pertama, Alkitab menulis bahwa pada pergantian tahun, ketika raja-raja biasanya maju berperang, justru Daud sendiri tidak ikut berperang, melainkan menyuruh Yoab dan orang-orangnya dan seluruh orang Israel untuk berperang melawan bani Amon, sedangkan Daud sendiri tinggal di Yerusalem (ay. 1). Mungkin ada di antara kita yang berkata, “Kan Daud itu raja, ya suka-suka dia dong mau maju berperang atau tidak”. Memang betul Daud adalah raja dan dia pun berhak bertindak dan melakukan apa saja. Tetapi apa yang dilakukan Daud adalah diluar kebiasaannya, dan hal itu menjadi awal dari kejatuhannya.

Ketika seharusnya ia berperang, ia malah “bersantai-santai” di istana. Dan saat itulah datang godaan kepadanya. Ia melihat seorang perempuan yang elok rupanya sedang mandi (ay. 2). Saya juga bingung bagaimana seorang raja dari atas istana bisa melihat kamar mandi rakyatnya? Apakah ini sesuatu yang disengaja atau tidak, Alkitab memang tidak menjelaskan secara pasti. Tetapi yang jelas peristiwa ini sangat membekas di hati Daud hingga ia pun mencari informasi mengenai perempuan itu, dan diketahui bahwa perempuan itu adalah Batsyeba, isteri Uria orang Het (ay. 3).

Entah bagaimana, Daud tidak berpikir mengenai dosa atau segala hal lainnya. Ia justru mengambil Batsyeba (dalam bahasa lain berarti Daud mengundang Batsyeba datang ke istana). Padahal sebagai raja Israel saat itu, Daud tentu sudah memiliki permaisuri dan juga sejumlah selir. Ia tentu dapat melakukan apa saja dengan permaisuri dan para selirnya. Akan tetapi Daud tergoda untuk “mencoba” mengambil apa yang menjadi milik orang lain. Daud pun tidur dengan Batsyeba (ay. 4a). Ini adalah dosa Daud yang sangat fatal yang dicatat dalam Alkitab.

Tetapi, ketika saya mencoba mendalami bagian Alkitab ini, saya menemukan bahwa sebenarnya bukan hanya Daud yang bersalah (atau berdosa). Batsyeba pun juga memiliki peran yang sama dalam perbuatan dosa mereka.

Pertama, Batsyeba mandi di tempat yang terbuka dan dapat dilihat orang lain (ay. 2b). Saya tidak memiliki gambaran sama sekali mengenai bagaimana bentuk tempat mandi bangsa Israel pada saat itu. Tetapi seharusnya sebagai seorang perempuan yang telah memiliki suami, ia harus menjaga tubuhnya agar tidak terlihat oleh orang lain selain suaminya.

Kedua, setelah tidur dengan Daud, Batsyeba memang membersihkan diri dari kenajisannya. Tetapi ia sama sekali tidak memberitahu hal tersebut kepada Uria, suaminya (ay. 4b). Memang Uria sedang ada di medan perang. Akan tetapi seharusnya pada masa itu pun Batsyeba segera memberitahu suaminya tentang peristiwa tersebut, apapun reaksi Uria setelah itu. Justru Alkitab mencatat hal yang menarik, yaitu ketika Batsyeba akhirnya mengandung anak dari Daud (dari hasil hubungan zinahnya tersebut), Batsyeba tidak memberitahu Uria terlebih dahulu, tetapi justru memberitahu Daud (ay. 5).

Ini juga adalah kesalahan Batsyeba yang sangat fatal. Ia tidak memilikii komunikasi yang baik dengan suaminya. Seharusnya Batsyeba harus tetap memberitahukan apa yang terjadi dan bukannya menyembunyikan apa yang terjadi. Dengan tidak memberitahu kepada suaminya, berarti Batsyeba pun menyetujui perzinahan yang ia lakukan dengan raja Daud.

Akibat dari dosa mereka berdua, yaitu melakukan perzinahan, maka Tuhan pun menghukum mereka berdua. Anak hasil perzinahan itu pun ditulahi Tuhan dan akhirnya mati. Walaupun sebenarnya anak itu tidak bersalah, tetapi anak tersebut pun jadi ikut menanggung akibat dari dosa ayah dan ibunya.

Ini adalah kebenaran Tuhan yang luar biasa. Jangan biarkan diri kita jatuh ke dalam dosa, apalagi dosa perzinahan. Jagalah kekudusan hubungan suami isteri. Jangan juga melakukan hubungan seks dengan orang yang belum menjadi pasangan kita. Terlebih lagi, apabila kita melakukan hubungan seks dengan orang lain yang masih berstatus sebagai suami/isteri orang lain. Dampak dari dosa kita akan sangat berat di mata Tuhan.

Walaupun demikian, apabila kita sudah pernah melakukan dosa tersebut dan kita sungguh-sungguh sadar, menyesal, dan bertobat, maka Tuhan pun akan mengampuni dosa kita. Memang mungkin saja masih ada dampak atau konsekuensi dari dosa kita tersebut. Tetapi bagaimanapun juga konsekuensi itu harus mau kita terima, karena kita sendirilah yang melakukan dosa itu. Bagian kita hanyalah sungguh-sungguh bertobat dan tidak jatuh ke dalam dosa yang sama lagi. Dan bagian Tuhan adalah mengampuni kita dan memulihkan kita, tentu saja jika kita memang benar sungguh-sungguh bertobat dan menyesal akan dosa-dosa kita.


Bacaan Alkitab: 2 Samuel 11:1-5
11:1 Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem.
11:2 Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya.
11:3 Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: "Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu."
11:4 Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya.
11:5 Lalu mengandunglah perempuan itu dan disuruhnya orang memberitahukan kepada Daud, demikian: "Aku mengandung."