Selasa, 12 Agustus 2014

Jika Pemimpin Malah “Cuci Tangan”



Kamis, 14 Agustus 2014
Bacaan Alkitab: Matius 27:23-26
Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" (Mat 27:24)


Jika Pemimpin Malah “Cuci Tangan”


Siapa di antara kita yang mau menjadi seorang pemimpin? Saya yakin hampir semua dari kita pasti mau kalau jadi pemimpin. Entah di kantor maupun dalam lingkungan sekitar kita, mayoritas orang pasti ingin menjadi pemimpin. Memang kita melihat bahwa menjadi seorang pemimpin itu enak, karena kita memiliki power untuk dapat “memerintah” orang lain. Akan tetapi, sayangnya memang tidak semua orang memiliki “bakat” menjadi pemimpin. Walaupun pemimpin itu dapat dilatih (oleh karena itu ada training kepemimpinan/leadership), tetapi tidak begitu mudah untuk mengubah karakter seseorang untuk dapat menjadi pemimpin yang baik.

Menjadi pemimpin tidak hanya melulu bicara tentang hak, fasilitas dan keuntungan yang diterima pemimpin tersebut. Menjadi pemimpin juga membutuhkan komitmen dan tanggung jawab yang besar. Pemimpin bertanggung jawab tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk setiap orang yang dipimpinnya. Setiap keputusan atau kebijakan yang diambil pun harus dipikirkan matang-matang setiap untung ruginya.

Banyak contoh pemimpin yang disebutkan di Alkitab,  tetapi hari ini kita akan belajar dari apa yang dilakukan Pilatus saat menjadi pemimpin di Yerusalem. Pontius Pilatus adalah Gubernur di daerah Yudea (yang mencakup Yerusalem) pada saat itu. Yesus yang telah ditangkap oleh orang-orang suruhan Imam Kepala Bait Allah, diserahkan kepada Pilatus. Pada saat itu Pilatus tahu bahwa Yesus tidak melakukan kesalahan apapun yang pantas dihukum mati, Oleh karena itu, Pilatus balik bertanya kepada orang Yahudi yang membawa Yesus “Kejahatan apakah yang telah dilakukanNya?” karena ia tidak menemukan kesalahan yang layak untuk diberikan hukuman mati (ay. 23a). Tetapi saat itu, orang Yahudi justru semakin keras menekan Pilatus untuk menyalibkan Yesus (ay. 23b).

Pilatus sendiri sudah mencoba untuk membebaskan Yesus, tetapi di sisi lain sudah mulai timbul kekacauan akibat orang Yahudi yang menghendaki Yesus disalibkan (ay. 24a). Pilatus tahu bahwa jika terjadi kekacauan atau huru-hara di Yerusalem, dan hal tersebut sampai terdengar ke Kaisar di Roma, maka karir dan jabatannya berada dalam ancaman. Oleh karena itu, Pilatus melakukan tindakan yang menurutnya paling aman, yaitu “mencuci tangan” dan menyerahkan masalah ini kepada bangsa Yahudi (ay. 24b). Pilatus menyerahkan Yesus kepada bangsa Yahudi, dengan catatan bahwa Pilatus tidak bersalah dan apapun  yang  terjadi terkait Yesus, itu akan menjadi tanggung jawab mereka (bangsa Yahudi) itu sendiri. Pilatus bahkan memberikan bonus kepada mereka yaitu membebaskan Barabas (yang sebenarnya adalah benar-benar penjahat) bagi bangsa Yahudi, tetapi Yesus justru disesah lalu diserahkan kepada bangsa Yahudi untuk disalibkan (ay. 26).

Memang sepintas Pilatus tidak bersalah karena ia sudah lepas tangan dan cuci tangan. Tetapi sebenarnya apa yang dilakukan Pilatus tetap harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Pilatus tidak dapat begitu saja cuci tangan dan menyerahkan tanggung jawabnya kepada orang lain/ bahkan ketika orang Yahudi sudah menyanggupi menanggung darah Yesus, bahkan menyanggupi anak-anak mereka dan keturunan mereka menanggungnya juga (ay. 25), hal tersebut tetap tidak membuat Pilatus terbebas dari tanggung jawabnya. Hingga saat ini, Pilatus dikenal sebagai orang yang membuat Yesus disalibkan. Bahkan sejarah menyatakan bahwa Pilatus tetap saja dicopot dari jabatannya sebagai Gubernur Yudea beberapa waktu setelah penyaliban Yesus.

Sangat disayangkan bahwa Pilatus akhirnya cuci tangan karena ingin menyelamatkan jabatannya, tetapi justru tetap kehilangan jabatannya. Pilatus sebenarnya adalah salah satu orang yang beruntung, karena ia memiliki waktu khusus untuk bercakap-cakap dengan Yesus ketika Yesus masih ada di dunia ini. Bahkan Alkitab menulis bahwa Pilatus sempat menanyakan apa arti kebenaran kepada Yesus (Yoh 18:38a). Tinggal sedikit lagi Pilatus dapat mengenal kebenaran dan keselamatan kekal melalui Yesus. Sayangnya, Paulus memilih untuk melakukan hal yang populer di mata orang banyak untuk mengamankan jabatannya.

Seringkali kita melihat para pemimpin kita bertindak seperti itu juga. Ketika keadaan genting, pemimpin yang kita harapkan menjadi penolong justru malah cuci tangan dan menyelamatkan dirinya sendiri. Atau mungkin kita yang sudah menjadi pemimpin (entah pemimpin di keluarga, di gereja, di lingkungan, atau di kantor) juga pernah bersikap seperti itu. Jika kita pernah bertindak seperti itu, mungkin sudah saatnya kita mengevaluasi diri kita sendiri. Apakah kita benar-benar sudah layak dan mampu menjadi seorang pemimpin, atau hanya “terlihat mampu” menjadi pemimpin. Pemimpin yang baik  tidak pernah cuci tangan seperti Pilatus. Ia harus mampu membuat keputusan yang benar di tengah tekanan sebesar apapun. Saat itulah, kepemimpinan seorang pemimpin diuji, apakah ia memang benar-benar pemimpin sejati, atau hanya pemimpin yang “gampangan”.


Bacaan Alkitab: Matius 27:23-26
27:23 Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!"
27:24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!"
27:25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"
27:26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Senin, 11 Agustus 2014

Proses Rohani



Rabu, 13 Agustus 2014
Bacaan Alkitab: Matius 4:3-4
Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Mat 4:4)


Proses Rohani


Dalam dunia akademis maupun dunia kerja, kita tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah proses, yang terdiri Input, Process, Output, atau biasa disingkat dengan IPO. Sesungguhnya inti dari konsep IPO tersebut adalah bagaimana dalam segala hal yang terjadi di dunia ini, ada hal-hal yang masuk (dinamakan input), kemudian diproses, dan dikeluarkan sebagai output. Contohnya, dalam suatu pabrik, maka pabrik tersebut akan memproses bahan baku dan kemudian menghasilkan produk jadi untuk dijual. Ibu-ibu yang memasak juga akan mengolah bahan bakunya (input), diproses (bisa digoreng, direbus, dikukus, atau diolah sedemikian rupa) untuk menghasilkan makanan atau masakan yang diinginkan (output).

Sebagai suatu organisme, manusia juga memiliki banyak sekali proses IPO. Otak kita memproses sinyal-sinyal yang masuk untuk menghasilkan respon atau tindakan kita. Makanan yang kita makan pun akan diproses dan diolah oleh tubuh kita untuk menghasilkan energi, dan sisanya dibuang dalam bentuk kotoran. Inilah bukti bahwa tubuh kita juga merupakan suatu proses yang dapat dipecah menjadi sub-sub proses atau proses yang lebih kecil lagi, dimana sub proses tersebut saling berkaitan satu sama lain membentuk proses utama tubuh kita.

Tetapi tahukah kita bahwa dalam hal rohani, juga dikenal adanya istilah proses? Tentu bukan proses fotosintesis atau proses elektrolisis seperti yang kita pelajari di bangku akademik, tetapi adalah bagaimana kita belajar untuk dapat menghasilkan output yang baik, tentu harus diawali dengan input yang baik dan proses yang baik pula.

Tuhan Yesus pernah dicobai Iblis untuk mengubah batu yang tidak dapat dimakan menjadi roti yang dapat dimakan ketika Ia sedang berpuasa 40 hari 40 malam (ay. 3). Hal ini tentu adalah hal yang wajar bagi manusia, karena dari makananlah (dan juga minuman) kita memperoleh energi untuk dapat beraktivitas sebagaimana mestinya. Tetapi saat itu Yesus yang sedang lapar tidak menghiraukan godaan Iblis,tetapi justru menjawab dengan Firman Tuhan yaitu “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (ay. 4). Ayat 4 ini adalah ayat yang ada di Taurat, tepatnya di Ulangan 8:3. Jadi Yesus melawan Iblis dengan mengutip Firman Tuhan (pada waktu itu, Yesus dan bangsa Yahudi hanya memiliki kitab-kitab yang kita kenal sekarang dengan Perjanjian Lama, karena kitab-kitab di Perjanjian Baru belum ditulis dan disusun).

Menjadi menarik bagaimana Tuhan Yesus dapat “mengcounter” godaan Iblis dengan Firman Tuhan juga. Tentu jika kembali kepada prinsip IPO di atas, maka kita akan mengerti bagaimana Tuhan Yesus dapat mengucapkan Firman Tuhan adalah karena Dia telah terbiasa mengisi tubuhNya, jiwaNya dan rohNya dengan Firman Tuhan. Oleh karena itu ayat yang dikutip Yesus adalah ayat yang berbicara tentang Firman Tuhan sebagai makanan rohani alias input yang dibutuhkan manusia (ay. 4). Manusia memang butuh makanan jasmani (roti, nasi, daging, sayuran, buah, dan lain sebagainya). Tetapi jika kita tidak pernah mengisi diri kita dengan makanan rohani alias Firman Tuhan (sebagai input) dan merenungkannya siang dan malam (sebagai proses), bagaimana bisa kita mengucapkan Firman Tuhan atau bertindak menurut Firman Tuhan (sebagai output kehidupan kita)?

Saya pun pernah mengalami suatu kondisi dimana saya merasa lesu secara rohani. Karena kesibukan saya, saya mulai lupa untuk membaca Firman Tuhan secara rutin, apalagi untuk merenungkan dalam waktu khusus saya (saat teduh). Saat itu membaca Firman Tuhan pun saya lakukan hanya dengan sambil lalu. Apa dampaknya? Saya tidak memiliki ide untuk menulis sesuatu di renungan saya ini, akibatnya, renungan ini sempat terlantar selama beberapa waktu, dan baru beberapa hari ini saya kembali mencoba aktif untuk menulis.

Jika saya saja tidak dapat mengeluarkan output karena tidak ada input dan proses, hal yang sama mungkin juga terjadi pada kita yang saat ini membaca renungan ini. Ketika hidup kita menjadi lebih sulit, mungkin hal itu disebabkan karena kita tidak punya “output” untuk menghadapi begitu banyak masalah dalam hidup kita, yang antara lain karena kita juga tidak pernah mengisi hidup kita dengan “input” yang baik. Oleh karena itu, evaluasilah proses rohani kita. Bagaimana kita bisa menang berperang melawan Iblis jika kita saja tidak pernah menyiapkan diri kita sendiri dalam hal rohani? Salah satu cara adalah dengan rutin membaca Firman Tuhan serta merenungkannya siang dan malam, hingga Firman Tuhan itu menjadi kekuatan bagi kita, sehingga akan menjiwai seluruh kehidupan kita.


Bacaan Alkitab: Matius 4:3-4
4:3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Menyukai Hidup



Selasa, 12 Agustus 2014
Bacaan Alkitab: Mazmur 34:12-15
Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? (Mzm 34:13)


Menyukai Hidup


Siapa di antara kita yang  tidak menyukai hidup? Walaupun memang hidup kita di dunia ini hanya sementara (dibandingkan dengan kekekalan yang akan kita alami nanti setelah kita mati), tetapi bagaimanapun pasti kita menyukai hidup kita dan akan berusaha untuk membuat hidup kita lebih bermakna dan berarti (ay. 13a). Tidak salah memang kita menyukai hidup (atau lebih tepatnya menyukai kehidupan), tetapi jangan jadikan hidup kita ini sebagai hal yang lebih penting dari Sang Pemberi Hidup, yaitu Tuhan. Kita juga boleh-boleh saja berdoa agar umur kita panjang, tetapi gunakan umur panjang kita itu untuk melakukan dan menikmati hal-hal yang baik (ay. 13b). Percuma jika kita memiliki umur panjang tetapi sepanjang umur kita yang panjang itu hanya kita habiskan untuk hal-hal yang tidak baik. 

Bacaan kitab suci kita dalam kitab Mazmur hari ini berbicara tentang nasehat yang diberikan oleh Daud kepada para pembaca Mazmur. Bagian yang menjadi bacaan Alkitab kita hari ini ditujukan kepada orang-orang yang lebih muda dari Daud, yang disebut juga sebagai “anak-anak”. Daud yang sudah mengalami begitu banyak pengalaman hidup, mencoba untuk mengajarkan apa artinya menyukai hidup itu. Inti dari menyukai hidup sesungguhnya terdapat pada kalimat “takut akan Tuhan” (ay. 12). Menyukai hidup artinya menggunakan hidup kita dengan takut akan Tuhan, bukan untuk memuaskan hawa nafsu duniawi kita. Minimal ada tiga hal yang Daud ingin sampaikan agar kita dapat menikmati hidup kita.

Pertama, jaga perkataan kita dari segala ucapan yang jahat dan hal-hal yang tidak benar (ay. 14). Lidah adalah anggota tubuh kita yang sangat rentan untuk berbuat dosa (Yak 3:5-6). Kita mungkin tidak mencuri, kita mungkin tidak membunuh, kita mungkin tidak berzinah, tetapi melalui perkataan kita, kita bisa mengutuk orang atau mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepada orang lain. Itu pun sama saja hukumnya dengan berbuat dosa (Mat 5:21-22). Bahkan jika kita sudah terbiasa mengucapkan kata-kata dusta, hal tersebut pun dapat menjadi suatu kebiasaan yang jika tidak segera dihentikan, akan merusak diri kita sendiri. Kita akan menjadi orang yang tidak dapat dipercayai, dan juga akan merusak “image” orang Kristen (orang percaya) dimana orang lain akan menganggap bahwa orang Kristen di mana-mana juga sama penipunya.

Kedua, menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik (ay. 15a). Ini tentu saja adalah suatu hukum yang berlaku umum. Setiap agama atau ajaran pasti mengajarkan orang untuk menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, kecuali mungkin beberapa ajaran-ajaran ekstrem yang mengajarkan untuk membunuh orang lain yang tidak sepaham dengan  kita. Walaupun demikian, satu hal yang mungkin kita harus ingat adalah bahwa hal-hal yang jahat itu pastilah enak untuk dilakukan, sedangkan hal-hal baik biasanya lebih sulit untuk dilakukan. Walaupun demikian, sebagai salah satu syarat untuk dapat menyukai hidup, kita harus belajar untuk boleh melakukan hal baik yang berkenan kepada Tuhan.

Ketiga, berusaha mencari perdamaian (ay. 15b). Tentu saja hidup kita tidak akan tenang jika kita memiliki banyak musuh. Oleh karena itu, carilah perdamaian dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Contoh paling mudah adalah keluarga kita sendiri. Jangan sampai kita justru tidak pernah hidup rukun dan damai dengan keluarga kita sendiri (misal suami dengan isteri, orang tua dengan anak, saudara dengan saudara, dan lain sebagainya). Jika keluarga saja tidak damai, bagaimana kita bisa damai dengan orang lain? Dengan jemaat di gereja kita? Bahkan dengan orang-orang yang memusuhi kita? Ingat bahwa kita juga punya tugas untuk menjadi pembawa damai di dunia ini. 

Tiga hal di atas adalah tiga hal sederhana yang dapat membuat kita menyukai hidup. Bukan berarti hidup di dunia ini adalah segala-galanya, karena kita juga harus menyiapkan diri kita untuk hidup kekal di surga kelak. Tetapi bagaimanapun juga kita boleh hidup di dunia ini adalah karena anugerah Tuhan, oleh karena itu jangan sia-siakan hidup kita di dunia ini. Isi hidup kita dengan hal-hal yang positif, yang dapat membuat kita semakin berkenan di hadapan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Mazmur 34:12-15
34:12 Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!
34:13 Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?
34:14 Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;
34:15 jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!

Kamis, 07 Agustus 2014

Stop Melakukan Pencitraan di Hadapan Tuhan



Senin, 11 Agustus 2014
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 5:1-11
Kata Petrus: "Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar."  (Kis 5:9)


Stop Melakukan Pencitraan di Hadapan Tuhan


Beberapa waktu yang lalu, ketika menyambut Pemilihan Umum di tahun 2014, istilah “pencitraan” marak kita dengar di berita-berita baik itu di surat kabar, majalah, radio, televisi, bahkan internet. Gampangnya seperti ini, jika figur yang tidak kita sukai melakukan “hal yang baik” dan diliput oleh media, biasanya kita akan mudah mencap figur tersebut sedang melakukan pencitraan, yaitu melakukan hal tersebut hanya demi memperbaiki atau meningkatkan citranya di mata masyarakat.

Padahal dalam Alkitab, sudah ada dua orang yang melakukan pencitraan (walaupun Alkitab kita tidak menggunakan istilah “pencitraan”). Parahnya lagi, kedua orang tersebut melakukan pencitraan di hadapan Tuhan sehingga mereka berdua harus menanggung akibatnya. Kedua orang tersebut adalah Ananias dan Safira, yang akan kita pelajari hari ini.

Alkitab menulis ada sepasang suami isteri yang bernama Ananias dan Safira yang menjual sebidang tanah (ay. 1). Ananias kemudian dengan sepengetahuan isterinya, menahan sebagian hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dai diletakkan di depan kaki rasul-rasul, yaitu saat itu Rasul Petrus (ay. 2). Ingat bahwa pada saat itu (masa jemaat mula-mula), banyak jemaat yang memiliki pola hidup yang unik, yaitu ada jemaat yang menjual harta miliknya lalu membagi-bagi uangnya kepada jemaat yang memerlukan (Kis 2:45, 4:34). Bahkan sebelum tulisan mengenai Ananias dan Safira, Alkitab menulis bahwa ada seorang Lewi dari Siprus yang bernama Yusuf, yang menjual ladang miliknya lalu membawa uangnya di depan kaki rasul-rasul.

Dengan demikian, muncul pertanyaan, apa beda perbuatan yang dilakukan Ananias dan Safira dengan jemaat lain yang menjual tanahnya pada waktu itu? Jangankan dibandingkan dengan jemaat mula-mula, saya yakin jika kita saat ini menjual tanah atau rumah kita, mungkin sebagian besar kita juga tidak akan menyerahkan seluruh hasil uang penjualan tersebut kepada gereja atau hamba Tuhan, karena sebagian (entah kecil atau besar) pasti ada yang kita gunakan untuk keperluan diri kita sendiri kan?

Oleh karena itu, yang terpenting dalam hal ini bukan terletak pada berapa hasil penjualan tanah tersebut, atau berapa uang yang memang kita niat untuk kita berikan kepada Tuhan, tetapi terletak pada motivasi apa yang kita miliki dalam hati. Bandingkan dengan pernyataan Petrus kepada Ananias, tidak ada satu kalimat pun yang menyalahkan jika kita tidak memberi seluruh uang hasil penjualan tanah tersebut (ay. 4). Petrus justru mempermasalahkan Ananias yang memiliki motivasi dalam hati yang tidak benar, yaitu hatinya dikuasai iblis sehingga dengan sengaja menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu (ay. 3).

Lebih jelas lagi dalam ayat-ayat selanjutnya, bahwa yang menjadi masalah utama di sini adalah ketika Petrus kepada Safira yang baru saja datang (ia tidak tahu bahwa suaminya baru  mati karena hal ini), dan menanyakan berapa harga penjualan tanah tersebut kepada Safira, dan Safira tetap berbohong di hadapan Tuhan (ay. 7-8). Saya berpendapat bahwa Ananias dan Safira ini mungkin menjual tanah mereka seharga sekian rupiah, dan menahan sebagian bagi diri mereka sendiri. Sekali lagi, hal ini tidaklah salah. Tidak ada suatu keharusan bagi setiap jemaat Tuhan untuk mempersembahkan seluruh uang hasil penjualan tanah kepada Tuhan. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika mereka hanya memberikan sebagian dari uang tersebut kepada Tuhan, mungkin mereka melakukan dengan motivasi yang tidak benar. Mereka mungkin bersepakat bahwa uang yang mereka bawa kepada para rasul adalah seluruh harga tanah yang mereka jual. Mereka memiliki motivasi agar dipuji oleh orang lain yang melihat, sehingga mereka dianggap sebagai jemaat yang memiliki kedermawanan tinggi karena seluruh uang penjualan tanah diserahkan kepada para rasul. Inilah hal yang tidak boleh dilakukan, karena hal tersebut sama saja melakukan pencitraan di hadapan jemaat lain, di hadapan hamba Tuhan, dan juga di hadapan Tuhan. Akibatnya sungguh luar biasa, Ananias dan Safira mati seketika (ay. 5-6, 9-10), dan jemaat Tuhan ditimpa kegentaran yang luar biasa (ay. 11).

Saya yakin Petrus pun tidak akan semudah itu mendoakan orang lain untuk mati. Akan tetapi dalam kasus Ananias dan Safira ini, masalahnya bukan hanya pada terletak pada besarnya uang yang tidak ditahan oleh Ananias dan Safira, tetapi karena niat dan motivasi dalam hati mereka yang melakukan segala cara agar mereka dipandang baik di hadapan jemaat dan hamba Tuhan. Mereka ingin terlihat sebagai jemaat yang dermawan, yang punya jiwa sosial, yang suka menyumbang dalam jumlah besar, dan lain sebagainya. Mereka lupa bahwa pencitraan semacam itu mungkin saja dapat dilakukan di depan orang lain, tetapi tidak di depan Tuhan.

Persoalannya, apakah selama ini tanpa kita sadari, kita juga pernah (atau malah sering) melakukan pencitraan seperti apa yang dilakukan oleh Ananias dan Safira? Mungkin kita sering memberikan persembahan kepada gereja, tetapi dengan motivasi yang kurang tulus. Atau mungkin kita selama ini sebagai pelayan Tuhan yang sering tampil di atas mimbar (misal worship leader/WL, pemusik, atau bahkan pengkhotbah), tetapi seringkali hidup kita masih penuh dengan dosa-dosa yang selama ini kita lakukan, bahkan di atas mimbar pun kita seringkali hanya melakukan “pencitraan” agar kita dikenal sebagai pribadi yang baik dan tulus, padahal sebenarnya hati kita masih penuh dengan segala kelicikan dan tipu daya semata. Jika hari ini kita membaca renungan ini, jangan tunda untuk bertobat. Jika Tuhan menerapkan standar yang sama dengan Ananias dan Safira, mungkin saat ini juga kita sudah mati. Akan tetapi kesempatan yang Tuhan berikan harus segera kita gunakan untuk bertobat. Tidak ada gunanya lagi melakukan pencitraan di depan jemaat atau di depan hamba Tuhan, karena setiap pencitraan di hadapan Tuhan, itu sama saja dengan mendustai Tuhan dan mendustai Roh Kudus.


Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 5:1-11
5:1 Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah.
5:2 Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
5:3 Tetapi Petrus berkata: "Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
5:4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah."
5:5 Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu.
5:6 Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya.
5:7 Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi.
5:8 Kata Petrus kepadanya: "Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?" Jawab perempuan itu: "Betul sekian."
5:9 Kata Petrus: "Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar."
5:10 Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya.
5:11 Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.