Rabu, 15 Oktober 2014

Bagaimana Kualitas Seorang Pengajar?



Kamis, 16 Oktober 2014
Bacaan Alkitab: Yohanes 3:1-10
“Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?”” (Yoh 3:10)


Bagaimana Kualitas Seorang Pengajar?


Peribahasa yang kita kenal mengatakan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya kualitas seorang guru atau pengajar dan bagaimana dampaknya terhadap murid-muridnya atau orang-orang yang diajarnya. Oleh karena itu, jika kita melihat bagaimana begitu kompleksnya permasalahan dalam dunia pendidikan di Indonesia, mungkin kita perlu melihat dan menginstropeksi bagaimana kualitas guru/pendidik/pengajar di negara kita ini.

Dalam Alkitab juga pernah disebutkan tentang seorang pengajar agama Yahudi yang bernama Nikodemus. Alkitab menulis Nikodemus sebagai seorang Farisi dan seorang pemimpin agama Yahudi (ay. 1). Walaupun ia adalah seorang Farisi (dimana mayoritas orang Farisi adalah mereka yang tidak suka dengan Yesus), akan tetapi Nikodemus tetap mau menjumpai Yesus, walaupun dilakukan pada malam hari (supaya ia tidak ketahuan bertemu dengan Yesus). Dalam pertemuannya dengan Yesus, Nikodemus mengakui Yesus sebagai guru yang diutus oleh Allah (ay. 2).

Perhatikan bahwa pada awalnya Nikodemus tidak mengakui Yesus sebagai Mesias, melainkan hanya sebagai guru yang diutus oleh Allah. Sama seperti Nikodemus sendiri yang adalah guru/pengajar agama Yahudi, Nikodemus menganggap bahwa Yesus pun sama seperti dirinya. Akan tetapi, dalam percakapannya dengan Yesus, ternyata apa yang selama ini menjadi pengetahuan yang dibanggakan oleh Nikodemus, ternyata masih jauh dari apa yang seharusnya ia pahami. Ketika Yesus berkata tentang kelahiran baru untuk dapat melihat Kerajaan Allah (ay. 3), Nikodemus justru bertanya bagaimana caranya orang tersebut dapat dilahirkan (ay. 4). Ketika Yesus menjelaskan bahwa orang tersebut harus dilahirkan dari air dan Roh, dan mengapa orang harus lahir dari Roh (ay. 5-8), Nikodemus masih juga tidak mengerti.

Bahkan Nikodemus kembali menanyakan “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” (ay. 9). Dua kali Nikodemus bertanya kepada Tuhan Yesus, hingga Yesus pun menjadi heran dan berkata, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?” (ay. 10). Pernyataan dan pertanyaan Yesus ini mengandung makna yang sangat dalam, yaitu bahwa seorang pemimpin agama Yahudi, seorang guru dan pengajar agama Yahudi yang dihormati pun tidak mengerti kebenaran dasar dari kelahiran baru yang menjadi syarat untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (ay. 5). Jika seorang Nikodemus saja tidak mengerti tentang hal ini, bagaimana dengan orang-orang Yahudi yang diajar oleh dirinya? Bukankah jika kualitas pengajarnya saja seperti ini, tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari kualitas orang-orang yang diajarnya?

Walaupun demikian, Alkitab mencatat bahwa Yesus cukup sabar meladeni Nikodemus dan mengajarkan kebenaran-kebenaran yang prinsip kepada Nikodemus. Bahkan Nikodemus secara diam-diam juga menjadi pengikut Kristus, dan ialah salah satu orang yang membawa minyak dan rempah-rempah ketika Yesus mati disalib (Yoh 19:39). Meskipun Alkitab tidak mencatat bagaimana kehidupan Nikodemus secara rinci, tetapi banyak yang beranggapan bahwa Nikodemus menjadi bagian dari orang percaya, walaupun mungkin ia melakukannya secara diam-diam karena posisinya yang sudah cukup tinggi di kalangan orang Farisi.

Apa yang dapat kita pelajari dari hal ini? Kita belajar bagaimana Nikodemus tidak sungkan-sungkan untuk datang kepada Yesus dan bertanya kepada Yesus. Artinya sebagai pengajar agama Yahudi, Nikodemus sadar bahwa mungkin ilmu yang ia milik masih kurang, apalagi dibandingkan dengan apa yang Yesus miliki. Oleh karena itu Nikodemus mau berlelah-lelah belajar kepada Yesus bahkan hingga malam hari, supaya ia dapat lebih mengerti kebenaran Firman Tuhan dan nantinya dapat mengajarkan apa yang benar kepada orang-orang Yahudi.

Jika kita adalah hamba Tuhan, khususnya pendeta, pengkhotbah, guru agama atau guru sekolah minggu, jangan pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki. Milikilah kehausan untuk terus menambah kapasitas kita sehingga kita boleh mengerti lebih tentang kebenaran dan boleh menyampaikan apa yang benar kepada orang-orang yang kita ajar. Bahkan jika kita “hanyalah” jemaat biasa (tidak memiliki pelayanan yang tetap di suatu gereja/persekutuan), tidak ada salahnya untuk terus menerus belajar dan belajar tentang kebenaran Firman Tuhan, karena siapa tahu suatu saat nanti, Tuhan akan mengizinkan kita untuk dapat menyampaikan Firman Tuhan dalam suatu kesempatan. Siap sedialah, sehingga kita boleh dipandang setia oleh Tuhan kita, Yesus Kristus.


Bacaan Alkitab: Yohanes 3:1-10
3:1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.
3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."
3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."
3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"
3:5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."
3:9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"
3:10 Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?

Senin, 13 Oktober 2014

Jangan Sombong dan Lupa akan Sejarah


Rabu, 15 Oktober 2014
Bacaan Alkitab: Roma 11:13-21
“Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!” (Rm 11:20)


Jangan Sombong dan Lupa akan Sejarah


Banyak orang sekarang ini sudah menjadi semakin sombong dan lupa akan sejarah. Mengapa demikian? Ketika keadaan tidak mengenakkan, mereka menyalahkan generasi pendahulu mereka dan berkata bahwa jika mereka yang berada pada masa itu (masa hidup generasi pendahulu), maka mereka pasti akan berbuat lebih baik. 

Sayangnya, hal tersebut juga bisa terjadi di gereja, dan bahkan sudah terjadi sejak zaman dahulu yaitu minimal pada zaman Paulus. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menekankan kepada bangsa-bangsa non Yahudi untuk tidak menyombongkan diri. Paulus menyadari bahwa ia diutus Tuhan lebih kepada bangsa-bangsa non Yahudi, dan itu adalah suatu kemuliaan baginya (ay. 13). Meskipun demikian, dalam hatinya Paulus tetap merasa sebagai orang Yahudi (karena memang ia adalah orang Yahudi asli walaupun diutus terutama kepada bangsa-bangsa non Yahudi), dan Paulus sangat ingin jika orang Yahudi juga dapat bertobat dan diselamatkan (ay. 14).

Sayangnya, bangsa Yahudi (secara umum) menolak Yesus Kristus sebagai Mesias (ay. 15). Bahkan sampai dengan saat ini mayoritas orang Yahudi (orang Israel) tetap tidak percaya dan tidak mengakui Yesus Kristus sebagai Mesias. Oleh karena itu beberapa orang non Yahudi yang telah percaya kepada Yesus Kristus, mencibir bahwa bangsa Yahudi yang merupakan bangsa pilihan Allah justru telah menyia-nyiakan keselamatan, dan membanggakan diri mereka yang telah percaya kepada Kristus.

Akan tetapi Paulus mengingatkan bahwa bangsa Yahudi adalah awal dari keselamatan. Yesus Kristus sendiri adalah orang Yahudi, sehingga orang Kristen non Yahudi seharusnya tetap bersyukur dan memberkati orang Yahudi, bukan malah menyalahkan orang Yahudi atau menyombongkan diri (ay. 16). Bahkan Paulus menasehatkan orang Kristen non Yahudi bahwa ketidakpercayaan bangsa Yahudi kepada Kristus dan hukuman Allah kepada bangsa Yahudi, menunjukkan bahwa Allah tidak pernah main-main dalam urusan keselamatan. Paulus menggambarkan orang Kristen non Yahudi sebagai tunas liar yang dicangkokkan ke dalam bangsa Yahudi yang digambarkan sebagai pohon zaitun (ay. 17). Oleh karena itu, orang Kristen sudah seharusnya tidak boleh memegahkan dan menyombongkan diri lebih daripada orang Yahudi, karena dari sisi teologis, bangsa Yahudi sudah meletakkan pondasi/dasar dari kekristenan, meskipun tentu ada perbedaan yang sangat jelas dari agama Yahudi (Yudaisme) dengan kekristenan (ay. 18).

Jika kita masih memegahkan diri dan menganggap  bahwa karena kebaikan dan kecakapan kita maka kita dicangkokkan Tuhan (ay. 19), maka sesungguhnya kita harus menyadari bahwa semua adalah karena kasih karunia semata. Bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan Allah, dan karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan mereka, maka mereka dibuang dan kita yang sebetulnya tidak punya hak sebagai bangsa pilihan  Tuhan, dapat menikmati anugerah keselamatan dari Tuhan (ay. 20a). Oleh karena itu, janganlah kita sombong dan menyombongkan diri, tetapi hal tersebut harus membuat kita lebih takut dan taat kepada Allah (ay. 20b), karena jika Tuhan sendiri tidak menyayangkan bangsa Israel yang Tuhan pilih sendiri, maka pasti Tuhan juga tidak akan menyayangkan kita apabila kita tidak percaya dan tidak taat kepadaNya.

Renungan hari ini mengingatkan kita bahwa keselamatan adalah hanya oleh anugerah Tuhan semata. Siapa kita sehingga Tuhan mau menyelamatkan kita? Siapa kita sehingga kita boleh mendapatkan kasih karunia untuk datang menghadap Tuhan? Siapa kita sehingga Tuhan mau mengangkat kita menjadi anak-anakNya? Oleh karena itu, mari kita merendahkan diri kita dan mengucap syukur kepada Tuhan atas keselamatan yang kita terima, dan jangan pernah menyombongkan diri kita karena alasan apapun, terlebih karena alasan keselamatan jiwa kita.


Bacaan Alkitab: Roma 11:13-21
11:13 Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku,
11:14 yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka.
11:15 Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati?
11:16 Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.
11:17 Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah,
11:18 janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu.
11:19 Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas.
11:20 Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!
11:21 Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu.

Visa ke Surga?



Selasa, 14 Oktober 2014
Bacaan Alkitab: Wahyu 22:3-5
“Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” (Why 22:5)


Visa ke Surga?


Pagi ini, saya melihat sebuah spanduk yang dibentangkan di sebuah jalan besar di kota saya, yang memuat sebuah istilah yang sangat menarik perhatian, yaitu: “Visa ke surga”. Adapun jika kita membaca tulisan lain dalam spanduk itu, sebenarnya maksud dari spanduk itu adalah mengajak orang-orang untuk bersedekah sehingga bisa menjadi semacam “visa” bagi kita untuk masuk surga.

Saya tergelitik dengan istilah “visa” tersebut. Setahu saya, visa adalah dokumen yang dikeluarkan oleh suatu negara kepada warga negara lain (warga negara asing) yang datang ke wilayah negara tersebut. Setahu saya pula, visa harus diurus sebelum kita pergi ke negara tujuan tersebut. Adalah kewenangan negara tersebut apakah akan memberikan visa atau tidak, dan tiap-tiap negara memberi syarat yang berbeda-beda untuk pengurusan visa tersebut, tergantung pada tujuan si pemohon visa. Ada visa sebagai turis, visa untuk belajar, visa untuk bekerja, dan lain sebagainya. Beberapa negara bahkan menerapkan syarat deposit uang dengan jumlah tertentu dan tiket pulang ke negara asal. Yang jelas, visa tersebut memiliki batas waktu maksimal dan jika si pemohon akan  berada di negara tersebut lebih lama, maka ia harus mengurus perpanjangan visa tersebut.

Beberapa negara memberikan kebijakan khusus yaitu memberikan visa on arrival kepada warga dari negara tertentu, yang artinya warga negara yang mendapatkan visa on arrival, tidak harus mengurus visa sebelum ia masuk ke negara tersebut, tetapi ketika tiba ia secara otomatis mendapatkan visa, tentu dengan batas waktu sekian hari. Hal ini biasanya dilakukan oleh negara-negara dalam satu komunitas, misal negara-negara ASEAN yang memberlakukan visa on arrival kepada warga negara dari negara-negara anggota ASEAN. Tentu saja harus ada semacam MoU antara negara-negara yang memberikan visa on arrival tersebut. Yang jelas, visa tersebut adalah kewenangan mutlak dari suatu negara kepada warga negara lainnya.

Lalu, apakah Kerajaan Surga juga menggunakan visa? Jika kita melihat dari sudut pandang sempit, bahwa harus ada semacam “tiket” bagi kita untuk dapat masuk ke dalam kerajaan surga, tentu bisa dibilang memang ada “visa” untuk masuk ke sana. Tetapi jika melihat natur dari visa yang memiliki jangka waktu tertentu, maka sebetulnya hal itu tidaklah benar. Surga (dan juga neraka) adalah hal yang kekal. Sekali masuk ke surga, kita tidak akan perlu mengurus perpanjangan “visa” kita agar kita bisa tetap berada di surga. Lagipula, kalaupun dianggap sebagai “visa”, maka harganya adalah sangat mahal, dan tidak ada manusia yang mampu membeli “visa” tersebut dengan kemampuannya sendiri.

Alkitab berbicara bahwa dalam kerajaan Surga, tidak akan ada lagi laknat  (ay. 3a). Ini adalah syarat pertama dari bagaimana kita bisa masuk ke dalam surga. Tidak boleh ada laknat dan dosa di dalam surga. Dan seperti yang telah saya tulis dalam renungan sebelumnya, korban sebanyak apapun di dunia ini (termasuk sedekah) tidak akan mampu menghapus dosa manusia dan menjadikan manusia itu untuk masuk ke dalam surga.

Lalu siapa saja orang-orang yang dapat masuk ke dalam surga? Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa hamba-hamba Tuhan akan berada di dalamnya, mereka akan beribadah kepada Allah dan Anak Domba (Yesus Kristus) di surga nanti (ay. 3b). Kita harus sadar bahwa surga bukanlah tempat dimana kita akan mendapatkan bidadari-bidadari yang cantik-cantik untuk memuaskan nafsu kita, tetapi adalah tempat dimana kita bertemu muka dengan Allah, pencipta kita dan beribadah kepadaNya (ay. 4).

Surga adalah tempat yang mulia, penuh dengan kemuliaan Tuhan (ay. 5a). Dan Surga adalah tempat yang kekal. Tuhan akan membuat hamba-hambaNya memerintah bersamaNya di dalam kekekalan, selama-lamanya (ay. 5b). Hal ini  tentu saja membuat logika mengenai “visa ke surga” menjadi kurang relevan, karena sekali Tuhan memberikan kita ijin untuk masuk ke surga, maka kita akan berada di surga untuk selama-lamanya dalam kekekalan. Kita tidak perlu memperpanjang visa tersebut setiap tahun sekali.

Lalu bagaimana agar kita dapat memperoleh ijin untuk masuk surga? Seperti telah saya katakan di atas, “visa ke surga” tidak dapat diperoleh dengan sedekah ataupun perbuatan baik. Kita hanya dapat masuk ke surga oleh karena anugerah dan kasih karunia Allah saja. “Visa ke surga” tersebut  tidak akan dapat kita beli dengan uang dan harta kita di dunia ini, tetapi harus diberikan dengan cuma-cuma oleh Allah sendiri, yaitu melalui Yesus Kristus, sehingga setiap orang yang percaya kepadaNya, akan diselamatkan. Bukankah hal tersebut adalah hal yang sangat luar biasa? Bukan karena perbuatan baik kita dapat masuk surga, tetapi hanya dengan percaya kepada Allah melalui Yesus Kristus dan mengikuti teladan Yesus Kristus, maka kita akan diijinkan untuk masuk surga, dan untuk selama-lamanya.


Bacaan Alkitab: Wahyu 22:3-5
22:3 Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya,
22:4 dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.
22:5 Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.

Jumat, 10 Oktober 2014

Belajar Mengenal Kristus



Senin, 13 Oktober 2014
Bacaan Alkitab: Efesus 4:17-24
“Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.” (Ef 4:20)


Belajar Mengenal Kristus


Pernahkah kita berpikir, apa tujuan kita belajar di sekolah? Kebanyakan dari kita mungkin menjawab bahwa kita belajar agar kita mendapatkan ilmu, menjadi pintar, lalu lulus dan mendapatkan ijazah, naik ke jenjang yang lebih tinggi lagi, kuliah dan mendapatkan gelar, sehingga kita bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi dan kemudian bisa mengumpulkan harta banyak, mendapatkan isteri cantik, punya anak-anak yang hebat, dan menjadi keluarga yang bahagia. Jawaban tersebut memang adalah jawaban yang sangat baik. Akan tetapi, dalam hal rohani, kita ternyata juga harus belajar. Sama dengan belajar di sekolah, kita pun perlu senantiasa belajar dalam hal rohani, tetapi bukan untuk sekedar mendapatkan ijazah atau gelar, atau mendapatkan kekayaan di dunia ini, tetapi agar kita dapat mengenal Kristus dengan pengenalan yang dewasa dan benar. Lho, kok demikian?

Bacaan Alkitab hari ini berbicara tentang nasehat Paulus kepada jemaat di kota Efesus agar mereka tidak hidup seperti orang-orang di luar Tuhan yang tidak mengenal Tuhan (ay. 17). Paulus mengatakan bahwa kehidupan orang-orang tersebut adalah kehidupan yang sia-sia dan bodoh (ay. 18), bahkan mereka justru dikuasai oleh hawa nafsu dan kecemaran yang menarik mereka ke dalam kegelapan dunia ini (ay. 19). Akan tetapi Paulus menekankan bahwa orang-orang percaya haruslah belajar dalam hal rohani agar mereka tidak menjadi sama dengan orang-orang di luar Tuhan. Mereka harus belajar mengenal Kristus (ay. 19), bahkan Paulus menggunakan istilah “telah belajar mengenal Kristus”, yang artinya ketika kita memutuskan untuk percaya kepada Allah melalui Yesus Kristus, itulah langkah awal kita dalam proses belajar mengenal Kristus.

Proses belajar tersebut melibatkan seluruh panca indera kita dan melibatkan latihan dalam hidup kita sehari-hari. Kita harus mau mendengar Firman tentang Kristus dan menerima pengajaran yang benar di dalam Kristus (ay. 21), supaya kita dapat menanggalkan manusia lama kita sehingga kita dibaharui terus menerus di dalam roh dan pikiran kita (ay. 22-23). Proses belajar adalah proses yang kontinyu dan terus menerus. Belajar tidak hanya berhenti sampai tingkatan TK atau SD, tetapi jika memungkinkan harus diteruskan hingga SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi bahkan gelar S1, S2, S3 dan Profesor jika mungkin. 

Oleh karena itu, dalam proses belajar mengenal Kristus, kita pun harus memandang jauh ke depan, tidak hanya belajar dalam konteks atau sudut pandang yang sempit. Kita harus belajar mengenal Kristus agar hidup kita diperbaharui, menjadi manusia baru yang diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (ay. 24). Kita yang telah belajar mengenal Kristus harus mampu tampil beda dan hidup beda dibandingkan dengan orang-orang yang  belum mengenal Kristus, yaitu mereka yang tidak pernah (atau tidak mau) belajar mengenal Kristus.

Jika dipikir-pikir, berapa lama kita telah belajar mengenal Kristus? Jika kita sudah menjadi Kristen sejak kita lahir, tentunya kita sudah belajar selama usia kita. Coba kita renungkan, apakah kita sudah sungguh-sungguh diperbaharui? Apakah masa belajar kita yang sekian tahun itu sudah membuat kita menjadi lebih bijaksana dan mengerti kehendak Allah? Jika belum, mungkin sudah saatnya kita lebih sungguh-sungguh lagi belajar mengenal Kristus, agar kita pun belajar mengenal siapa pribadi Kristus, belajar mengenal apa kehendak Kristus, dan belajar melakukan apa yang Kristus kehendaki bagi kita. Ingat, jangan sampai sudah sekian lama kita belajar mengenal Kristus, tetapi justru Kristus sendiri tidak mengenal kita. Jangan jadi murid yang malas, tetapi belajarlah dengan rajin, sehingga ketika Kristus datang kembali, ia juga mengenal kita sebagai murid-muridNya.


Bacaan Alkitab: Efesus 4:17-24
4:17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia
4:18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.
4:19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
4:20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.
4:21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,
4:22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,
4:23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,
4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.