Senin, 29 Desember 2014

Sampai Saat Terakhir



Senin, 29 Desember 2014
Bacaan Alkitab: Mazmur 119:111-112
Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.(Mzm 119:112)


Sampai Saat Terakhir


Tidak terasa sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2014 dan akan memasuki tahun 2015. Pernahkah kita berpikir, apa yang akan kita lakukan di hari-hari terakhir tahun 2014 ini? Saya sungguh bersukacita jika kita masing-masing dapat menjaga iman kita hingga garis akhir hidup kita. Bahkan di akhir tahun 2014 ini saya sungguh berharap kita masing-masing dapat menutup tahun ini dengan suatu hal yang indah, sehingga tahun 2014 ini tidak akan kita sesali tetapi akan selalu kita ingat sebagai tahun dimana kita sungguh-sungguh hidup berjalan bersama Tuhan.

Bacaan Alkitab kita berbicara tentang bagaimana pemazmur sungguh-sungguh menjaga hidupnya hingga saat-saat terakhir. Bahkan pemazmur menulis bahwa peringatan-peringatan Tuhan selalu menjadi milik pusakanya untuk selama-lamanya (ay. 111a). Peringatan-peringatan Tuhan atau Firman Tuhan memang harus menjadi milik pusaka, alias milik kita yang paling berharga sampai selama-lamanya. Seharusnya milik kita yang paling berharga bukanlah segala kekayaan kita, bukanlah keluarga kita, tetapi adalah hubungan kita dengan Tuhan. Keselamatan diri dan jiwa kita adalah hal yang paling berharga dan harus kita jaga. Keselamatan tersebut haruslah menjadi suatu kegirangan yang meluap-luap dari dalam hati kita (ay. 111b).

Bahkan pemazmur tidak hanya mengakui Firman Tuhan sebagai milik pusakanya, akan tetapi sepanjang hidupnya ia berusaha untuk mencondongkan hatinya untuk senantiasa melakukan ketetapan-ketetapan Tuhan (ay. 112a). Pemazmur ingin agar dalam setiap aspek kehidupannya, ia senantiasa memiliki fokus dan tujuan yang benar, yaitu sesuai dengan Firman Tuhan. Ia ingin ketika ia bangun pagi, ia berpaut dan pandangannya tertuju sesuai dengan Firman Tuhan. Bahkan dalam segala aktivitasnya, dalam segala sesuatu yang ia lakukan senantiasa berpedoman dan sesuai dengan Firman Tuhan. 

Dan yang terakhir, pemazmur ingin agar sampai saat terakhirnya, Firman Tuhan tetap menjadi pegangan hidupnya (ay. 112b). Ketika mungkin usianya sudah sangat tua dan sepuh, ketika kesehatannya sudah tidak prima lagi, atau ketika ia mungkin tergolek lemah di tempat tidur menanti saat-saat terakhirnya, ia tetap senantiasa berpegang teguh kepada Firman Tuhan. Ia tidak ingin menjadi orang yang dari awal hidup hingga dewasa tetap memegang teguh Firman Tuhan, tetapi di saat-saat terakhirnya justru ia berpaling dari Firman Tuhan. Ia ingin menjadi orang yang setia kepada Tuhan sejak Tuhan memanggil dirinya hingga akhir hidupnya.

Ini menjadi suatu dorongan yang bagus bagi kita. Kita pun harus memiliki pola pikir yang sama seperti yang dimiliki oleh pemazmur. Jangan hanya puas dan bangga memegang Firman Tuhan hingga saat ini. Jangan hanya puas dan bangga jika kita sudah melayani Tuhan hingga hari ini. Tetapi tetaplah berusaha untuk tetap setia hingga akhir. Kita hanya dapat dikatakan setia jika dan hanya jika hingga akhir hidup kita, kita terbukti dapat setia. Akan menjadi sangat indah jika Firman Tuhan tetap menjadi milik pusaka kita dan pusat dari segala hati dan pikiran kita selama kita hidup, bahkan hingga saat-saat terakhir kita. Tidak hanya seperti tulisan ayat di pengumuman kematian kita di surat kabar, atau seperti tulisan ayat di batu nisan kita, tetapi seharusnya Firman Tuhan menjiwai segenap  kehidupan kita dari awal hingga akhir, sehingga justru hidup kita yang menjadi kesaksian yang hidup dan bukti bahwa kita telah mampu setia hingga saat-saat terakhir kita.


Bacaan Alkitab: Mazmur 119:111-112
119:111 Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.
119:112 Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.

Kamis, 25 Desember 2014

Penyerahan Anak Bukan Berarti Melepaskan Tanggung Jawab Kita sebagai Orang Tua



Minggu, 28 Desember 2014
Bacaan Alkitab: Lukas 2:22-24, 39-40
Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. (Luk 2:39)


Penyerahan Anak Bukan Berarti Melepaskan Tanggung Jawab Kita sebagai Orang Tua


Suatu ketika ada seorang perempuan yang hamil di luar nikah akibat hubungan yang dilakukan orang yang tidak seiman. Oleh pendetanya, mereka dinikahkan di gereja dengan cara Kristen. Singkat cerita anak tersebut lahir dan sebagaimana tradisi gereja mereka, anak tersebut pada usia sekian bulan diserahkan kepada Tuhan oleh kedua orang tuanya. Seiring berjalannya waktu ternyata pernikahan mereka bermasalah hingga akhirnya mereka bercerai dan si anak diasuh oleh ayahnya (yang tidak seiman tadi). Ketika  beberapa orang bertanya mengapa si ibu tidak ngotot untuk mempertahankan anaknya untuk berada dalam asuhannya, dengan enteng si ibu berkata “Kan dulu saya sudah menyerahkan anak saya kepada Tuhan, berarti anak saya sekarang milik Tuhan. Jadi saya percaya bahwa walaupun dia dididik dengan cara non Kristen, Tuhan pasti akan menyelamatkan jiwa anak saya”.

Apa yang salah dari cerita saya di atas? Si ibu ternyata tidak memahami sepenuhnya makna dari penyerahan anak. Seperti judul renungan saya hari ini, yang mungkin adalah salah satu judul yang terpanjang dari renungan di website ini, saya ingin mengatakan bahwa penyerahan anak kepada Tuhan bukan berarti kita melepaskan tanggung jawab kita sebagai orang tua dan membiarkan si anak begitu saja, tetapi justru di balik makna penyerahan anak, ada suatu tanggung jawab besar bagi para orang tua yang menyerahkan anaknya kepada Tuhan.

Saya mengambil bacaan Alkitab kita dari Lukas 2, yaitu Firman Tuhan mengenai Yesus yang diserahkan oleh orang tuanya (Yusuf dan Maria) kepada Tuhan. Ada beberapa kebenaran Firman Tuhan yang perlu kita pahami sehingga kita tidak memiliki pandangan yang salah seperti si ibu dalam cerita saya di atas.

Pertama, setiap anak adalah milik Tuhan, sama seperti kita semua adalah milik Tuhan. Saya percaya bahwa ketika kita boleh memiliki anak, maka anak kita sebenarnya adalah milik Tuhan. Sama seperti hidup kita adalah milik Tuhan, dengan demikian, anak-anak kita juga adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk kita didik sesuai Firman Tuhan. Oleh karena itu kita tidak boleh berpendapat bahwa kita punya hak penuh terhadap anak-anak kita. Pandangan yang salah tentang poin pertama ini membuat orang tua dapat bertindak sewenang-wenang kepada anak-anaknya, bahkan dapat melakukan tindakan ekstrem, seperti melakukan aborsi karena berpikir bahwa anak di dalam kandungan adalah miliknya sendiri dan ia punya hak untuk menentukan apa yang akan terjadi pada anaknya tersebut.

Kedua, penyerahan anak dimulai dari ajaran Yahudi, yang kemudian diteruskan di dalam Kekristenan (ay. 22-23). Penyerahan anak sudah dimulai sejak zaman Musa, dimana hal tersebut tertulis di kitab hukum Taurat. Bahkan untuk anak laki-laki sulung ada suatu ketentuan khusus yaitu dikuduskan bagi Tuhan, untuk mengingat bagaimana Tuhan menyelamatkan anak sulung bangsa Israel ketika  tulah ke-10 terjadi di Mesir. Adat ini kemudian diteruskan di dalam Kekristenan, karena dasar iman yang sama yaitu bahwa setiap anak memang milik Tuhan dan harus diserahkan kepada Tuhan (lihat poin pertama).

Ketiga, penyerahan anak merupakan suatu pemenuhan Firman Tuhan (ay. 24). Firman Tuhan yang mengatur mengenai penyerahan anak pada masa Yesus lahir sudah diatur dalam Kitab Taurat, antara lain dalam Keluaran 13 dan Imamat 12. Dengan diteruskannya ajaran mengenai penyerahan anak di dalam Kekristenan, maka hal tersebut pun juga menjadi suatu pemenuhan terhadap Firman Tuhan, meskipun sudah hampir ribuan tahun hingga saat ini. Saya percaya bahwa Firman Tuhan mengenai penyerahan anak ini masih berlaku hingga era modern saat ini.

Keempat, Tuhan Yesus sendiri memberikan teladan mengenai penyerahan anak (ay.22-24, Luk 18:15-17). Tuhan Yesus bukan saja diserahkan kepada Tuhan menurut hukum Taurat ketika ia masih kecil, tetapi ketika Tuhan Yesus sudah dewasa, ia pun tidak menolak anak-anak yang dibawa oleh orang tuanya kepada diriNya (Luk 18:15-17). Dalam segala kesibukan pelayananNya, Yesus memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk datang kepdaNya dan memberkati anak-anak tersebut. Oleh karena itu jika Tuhan Yesus sendiri saja tidak pernah menghalangi anak-anak untuk datang kepadaNya, siapa kita sehingga kita melarang orang-orang untuk menyerahkan anak-anak mereka kepada Tuhan?

Kelima, tanggung jawab orang tua tidak berkurang sedikitpun karena penyerahan anak kepada Tuhan (ay. 39-40). Ini adalah kebenaran paling penting dari kelima poin yang saya tulis pada renungan hari ini. Banyak orang berpikir sama seperti si ibu yang saya ceritakan di atas. Itu adalah suatu pemahaman yang sangat salah. Ketika Tuhan Yesus diserahkan kepada Tuhan di Yerusalem, setelah itu kedua orang tuanya tetap membawa Yesus kembali ke kota kediamannya di Nazaret dan tetap bertanggung jawab mendidik Yesus (ay. 39). Sebagai hasil dari tanggung jawab yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria, Yesus tumbuh besar dan kuat, bahkan penuh akan hikmat dan kasih karunia Allah (ay. 40). Kondisi tersebut tidak akan terjadi apabila Yusuf dan Maria membiarkan begitu saja Yesus untuk bertumbuh sendirian.

Ketika Tuhan memberkati anak-anak yang dibawa orang tuanya kepadaNya, itu pun tidak berarti anak-anak tersebut ditinggalkan kepada Tuhan Yesus. Setelah menerima anak-anak itu dan memberkati mereka, anak-anak tersebut pun kembali kepada orang tua mereka masing-masing (Mat 19:13-15). Bahkan dalam contoh penyerahan anak “paling ekstrem” di Alkitab, yaitu ketika Hana menyerahkan Samuel kepada Tuhan dalam didikan Imam Eli, Hana tidak pernah melalaikan Samuel yang sudah diserahkan kepada Tuhan untuk menjadi pelayan Tuhan di Rumah Tuhan. Hana tetap melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, minimal dengan membawakan jubah bagi Samuel setiap tahun (1 Sam 2:18-19).

Sekali lagi saya katakan dengan tegas, penyerahan anak kepada Tuhan memang adalah suatu keharusan, sebagai tanda bahwa kita mengakui anak kita berasal dari Tuhan, dan agar Tuhan menjaga dan memiliki hidup anak-anak kita. Tetapi bukan berarti setelah itu tanggung jawab kita lepas begitu saja. Itu adalah suatu pemikiran yang sangat picik dan bodoh! Setelah menyerahkan anak kepada Tuhan, tanggung jawab kita sebagai orang tua tidak berkurang sedikitpun tetapi justru bertambah. Ya, tanggung jawab kita bertambah karena kita memiliki tanggung jawab untuk mendidiknya di dalam jalan Tuhan dengan segala kemampuan kita. Anak-anak yang telah diserahkan kepada Tuhan memang telah menjadi milik Tuhan, tetapi jika kita justru melalaikan tanggung jawab kita, dan membiarkan anak kita masuk kepada jurang kehancuran karena jiwanya tidak pernah mengerti tentang kebenaran Firman Tuhan, maka kita sendiri sebagai orang tua yang berdosa di hadapan Tuhan. Tuhan pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas setiap hal yang sudah berikan kepada kita, termasuk anak-anak kita yang Tuhan telah percayakan kepada kita.


Bacaan Alkitab: Lukas 2:22-24, 39-40
2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",
2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
2:39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Siapa yang Boleh Memakan Roti dan Anggur Perjamuan Kudus?



Sabtu, 27 Desember 2014
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 11:26-32
Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. (1 Kor 11:27)


Siapa yang Boleh Memakan Roti dan Anggur Perjamuan Kudus?


Saya dibesarkan di gereja aliran pentakosta dan karismatik, dimana sepengetahuan saya, perjamuan kudus biasa diadakan satu kali sebulan, dan biasanya pada minggu pertama setiap bulannya. Sepengetahuan saya sendiri, ajaran gereja saya mensyaratkan bahwa orang-orang yang boleh mengikuti sakramen perjanjian kudus adalah mereka yang telah mengaku percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Juruselamat pribadi mereka. Oleh karena itu, hanya orang yang telah dibaptis (gereja saya menganut baptis selam) yang boleh mengikuti sakramen perjamuan kudus. Saya membandingkan di beberapa gereja lain yang menganut baptis percik, bahwa hanya orang yang telah disidi (karena yang dibaptis adalah bayi, dan ketika mereka cukup dewasa untuk mengaku iman percaya, mereka disidi) yang boleh mengikuti sakramen perjamuan kudus.

Namun belakangan di kalangan gereja aliran saya pun mulai terjadi perbedaan paham-paham di antara hamba-hamba Tuhan. Saya melihat di gereja saya sendiri,  bahwa ketika roti dan anggur perjamuan diedarkan, para pelayan perjamuan memberikan roti dan anggur itu juga kepada anak-anak kecil, termasuk anak saya yang berusia 2,5 tahun pada saat ini. Bahkan jika tidak diberikan, seringkali anak saya juga dikasih cicip roti dan anggur perjamuan yang telah diberkati oleh pendeta oleh keluarga besar saya. Saat itu muncul pertanyaan dalam diri saya, apakah roti dan anggur perjamuan kudus memang dibolehkan dimakan dan diminum oleh orang-orang (anak-anak) yang masih kecil? Atau dalam konteks lebih besar, apakah roti dan anggur perjamuan kudus boleh diberikan kepada orang-orang di luar gereja, misalnya supaya mereka yang memakannya bisa sembuh dari sakit penyakit?

Saya mencoba mencari di dalam Alkitab dan menemukan ayat bahasan kita hari ini. Dengan segala keterbatasan saya sebagai manusia, saya mencoba membagikan apa yang telah saya dapat kepada para pembaca renungan ini.

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat Korintus, Paulus menegaskan bahwa perjamuan kudus (makan roti dan minum cawan anggur) bukan hanya sekedar seremonial ibadah lahiriah semata. Perjamuan kudus bukan hanya sekedar upacara keagamaan, apalagi sekedar momen dimana jemaat duduk dan makan bersama. Namun Paulus menegaskan bahwa melalui perjamuan kudus, itu berarti jemaat memberitakan kematian Tuhan sampai ia datang (ay. 26). Oleh karena itu Paulus menjelaskan lebih lanjut dalam ayat selanjutnya bahwa barangsiapa dengan cara yang tidak layak mengikuti sakramen perjamuan kudus, maka ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan (ay. 27).

Hal ini secara jelas dapat diartikan bahwa perjamuan kudus bukanlah suatu prosesi yang sembarangan dan dapat diikuti oleh semua orang dengan cara sesuka hati mereka. Perhatikan ayat 27 yang menyatakan bahwa kita harus berusaha mangambil bagian dalam perjamuan kudus dengan cara yang layak. Apa artinya cara yang layak? Salah satu penjelasannya adalah kita harus sudah mengakui tubuh Tuhan sebelum makan roti dan minum anggur perjamuan kudus (ay. 29). Tentu saja dari ayat-ayat di atas, jelas bahwa seorang anak kecil belum dapat memahami arti tubuh Tuhan. Perlu ada suatu pemahaman dan kesadaran pribadi bahwa Tuhan Yesus sudah menderita dan mati di atas kayu salib demi menebus dan menyelamatkan diri kita. Jika orang yang belum memahami dan menghayati konsep tersebut tetapi mengambil bagian dalam perjamuan kudus, berarti ia sudah berdosa kepada Tuhan, karena mendustai Tuhan Yesus sendiri.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk menguji diri kita masing-masing apakah kita benar-benar layak untuk mengikuti sakramen perjamuan kudus (ay. 28). Kita harus melihat ke dalam hati kita apakah kita sudah siap memberitakan kematian Tuhan Yesus. Kita harus melihat apakah hidup dan hati kita sudah beres, sudah tidak ada dendam atau kepahitan dalam diri kita, supaya kita layak dan boleh mengambil bagian dalam perjamuan kudus tersebut. Paulus bahkan mengambil contoh bahwa di masa jemaat mula-mula, banyak orang yang terkena hukuman Tuhan karena hal ini, banyak yang lemah dan sakit, bahkan tidak sedikit yang meninggal karena mengikuti perjamuan kudus dengan cara yang tidak layak (ay. 30). Bagian kita sebagai jemaat adalah menguji diri kita sendiri agar kita tidak terkena hukuman dari Tuhan (ay. 31 & 32). Bagian kita sebagai pelayan Tuhan (antara lain yang membagikan roti dan anggur perjamuan kudus), adalah menguji diri kita dan meminta hikmat dari Tuhan agar roti dan anggur perjamuan kudus tersebut benar-benar diserahkan kepara mereka yang telah siap menerima perjamuan kudus, dan bukan kepada orang-orang yang memang pada dasarnya tidak layak menerimanya (misal: anak-anak kecil, atau orang di luar Tuhan yang belum percaya kepada Tuhan Yesus).

Oleh karena itu, kembali kepada cerita saya di atas, sudah hampir setahun lebih saya pun berpikir keras bagaimana caranya anak saya tidak harus memakan roti dan anggur perjamuan yang telah diberkati oleh Pendeta. Tentu jika saya menegur majelis yang membagikan anggur agar tidak memberikan kepada anak saya juga kurang bijaksana. Apalagi jika saya menegur anggota keluarga besar saya yang memberikan roti dan anggur perjamuan kepada anak saya.

Ada beberapa alternatif yang terpikirkan oleh saya. Alternatif pertama, saya meminta roti dan anggur yang disisihkan secara khusus (yang belum diberkati oleh Pendeta/hamba Tuhan) dari orang yang bertugas menyiapkan roti dan anggur tersebut. Atau alternatif kedua, saya membawa gelas sendiri dari rumah, membawa roti sendiri dari rumah, dan membawa sirup/jus anggur sendiri dari rumah yang kemudian saya berikan kepada anak saya pada saat saya mengikuti perjamuan kudus. Dan sepertinya, nanti pada perjamuan kudus selanjutnya setelah ini saya akan mencoba alternatif kedua, dan semoga hal tersebut dapat berhasil.


Bacaan Alkitab: 1 Korintus 11:26-32
11:26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.
11:27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.
11:28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.
11:29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.
11:30 Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.
11:31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.
11:32 Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.

Selasa, 23 Desember 2014

Hari Natal dan Kedewasaan Rohani



Jumat, 26 Desember 2014
Bacaan Alkitab: 2 Timotius 2:7-8


Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.(2 Tim 2:8)


Hari Natal dan Kedewasaan Rohani


Siapa tak kenal hari Natal? Bahkan orang non Kristiani pun mengerti bahwa hari Natal adalah hari dimana Yesus Kristus lahir. Dan kita sendiri dapat melihat bahwa pada hari Natal dan sekitar hari Natal, suasana di rumah bahkan di gereja selalu meriah. Tidak kurang dari lagu-lagu bernuansa natal yang diputar, memasang pohon natal dan segala pernak-pernik natal lainnya, akan membuat suasana natal terlihat begitu hidup.

Sayangnya, masih banyak orang Kristen yang menganggap Natal sebagai hari terbesar umat Kristiani, dan menganggap bahwa di hari Natal mereka harus habis-habisan  menghias rumah dan gereja dan menyambut kelahiran Sang Juruselamat.

Masalahnya adalah ketika seseorang menganggap bahwa Natal adalah hari yang paling penting dalam sejarah kekristenan, sesungguhnya orang tersebut adalah orang yang sulit untttuk move on. Natal memang hari yang penting karena merupakan hari lahirnya Juruselamat, tetapi Juruselamat itu pun tidak hanya cukup lahir di dunia ini, Ia harus menyampaikan kebenaran Firman Tuhan, menderita, mati di atas kayu salib, bangkit dan kemudian naik ke surga. Natal hanyalah awal dari rentetan rencana keselamatan yang dirancang Allah bagi manusia.

Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus pun menegaskan bahwa adalah sangat penting bagi Timotius untuk mendapatkan pengertian dalam segala sesuatu (ay. 7). Maksud Paulus adalah agar Timotius semakin hari semakin mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan. Paulus ingin Timotius bertumbuh secara rohani dan semakin hari semakin memiliki kualitas rohani yang semakin tinggi. Itulah mengapa menarik melihat ayat selanjutnya bahwa Paulus mengingatkan kembali Timotius bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati (ay. 8a), yaitu Ia yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud (ay. 8b).

Paulus menekankan bahwa walaupun kelahiran Yesus adalah hal yang penting (karena Paulus menjelaskan  tentang kelahiran Yesus sebagai keturunan Daud untuk memenuhi nubuatan Kitab Suci di Perjanjian Lama), namun Paulus lebih menekankan tentang kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Karena kematian dan kebangkitanNyalah kita memperoleh keselamatan kekal. Meskipun begitu, kelahiranNya juga tidak dapat kita lupakan karena kematian dan kebangkitan Kristus pun harus didahului oleh kelahiranNya yang kita peringati setiap hari Natal.

Namun demikian, ingat bahwa Injil bukan hanya berbicara tentang kelahiran Yesus. Injil berbicara tentang seluruh proses penyelamatan manusia di dalam nama Tuhan Yesus Kristus (ay. 8c). Oleh karena itu, sangat tepat jika kita tidak hanya berhenti pada momen Natal saja, tetapi harus terus melangkah dan bertumbuh. Saya teringat sebuah lagu Natal yang menurut saya adalah salah satu yang terindah:

Waktu kecil kita merindukan Natal
Hadiah yang indah dan menawan
Namun tak menyadari seorang Bayi t'lah lahir
Nawa keselamatan 'tuk manusia

Reff:
Karena kita dia menderita
Karena kita dia disalibkan
Agar dunia yang hilang diselamatkan
Dari hukuman kekal

Waktu pun berlalu dan kita pun tahu
Anugerah yang ajaib dari Bapa
Yang relakan Anak-Nya disiksa dan disalibkan
Di bukit kalvari kar'na kasih

Lagu tersebut adalah salah satu lagu Natal yang mendewasakan, karena berbicara tentang seseorang yang ketika kecil merindukan Natal karena hadiah-hadiah dan hal-hal yang menawan hati. Namun semakin ia beranjak dewasa, maka ia pun semakin menyadari bahwa Natal adalah suatu peristiwa yang tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa lain termasuk Paskah. Oleh karena itu, ini mungkin adalah salah satu lagu yang dapat dinyanyikan ketika Natal dan juga Paskah. Dan saya sendiri menyukai fakta bahwa lirik lagu tersebut lebih banyak berbicara tentang peristiwa Paskah dibanding Natal, meskipun lagu ini sering dinyanyikan pada saat Natal.

Jangan hanya terpaku dan terpukau pada momen Natal. Ingatlah bahwa Yesus pun mati dan bangkit bagi kita. Yesus pun naik ke surga dan akan datang kembali ke bumi ini bagi kita, anak-anakNya yang mau hidup kudus sesuai dengan kehendak Tuhan. Jadikan momen Natal ini sebagai momen pertobatan, bukan hanya sekedar momen pesta pora dan momen untuk berhura-hura semata.


Bacaan Alkitab: 2 Timotius 2:7-8
2:7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.
2:8 Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.