Jumat, 20 Februari 2015

Janda yang Mau Bekerja Keras



Jumat, 20 Februari 2015
Bacaan Alkitab: Rut 2:1-7
Tadi ia (Rut) berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia (Rut) datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketika pun ia (Rut) tidak berhenti. (Rut 2:7)


Janda yang Mau Bekerja Keras


Sebelumnya saya mau meminta maaf kepada para pembaca renungan ini karena sudah hampir 2 bulan saya tidak  menulis renungan ini. Memang saya cukup banyak kesibukan di awal tahun,  bahkan pelayanan yang dulu saya tidak pernah saya pikirkan, kemarin sempat beberapa kali saya lakukan. Ke depannya, saya mungkin tidak dapat menulis renungan ini setiap hari, tetapi saya akan usahakan untuk tetap menulis. Dan saya butuh dukungan doa dari para pembaca agar Tuhan memberi hikmat kepada saya dan kemampuan untuk dapat menulis renungan ini secara rutin kembali.

Hari ini kita berbicara tentang seorang janda yang sangat luar biasa yang bernama Rut. Jika kita baca kisah Rut dari awal, maka kita akan mengetahui bahwa Rut adalah seorang Moab yang kemudian mengikuti mertuanya (Naomi) kembali ke Israel karena suaminya sudah meninggal. Ia adalah seorang janda. Ketika banyak janda dipandang negatif dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang, Rut tetap mencoba untuk menjadi janda yang baik.

Rut pun mencoba untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan cara memungut bulir jelai ladang Boas, yang masih saudara dari suami Naomi (ay. 1-2).  Rut pun bekerja keras dengan cara memungut bulir-bulir jelai yang jatuh di belakang para penyabit yang sedarng bekerja (ay. 3). Ia melakukan itu dengan tekun dan setia.

Bahkan ketika Boas, sang pemilik ladang datang (ay. 4), mata Boas pun langsung tertuju kepada Rut hingga ia bertanya “Dari manakah perempuan ini?” (ay. 5). Saya percaya Boas berkata demikian bukan disebabkan karena Rut adalah orang yang cantilk. Sebagai orang kaya saya yakin tentu saja Boas sering melihat gadis-gadis atau perempuan-perempuan yang cantik. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa Boas melihat kesungguhan hati dari seorang Rut yang bekerja keras.

Tidak hanya Boas yang berpendapat demikian, pegawai (bujang) Boas yang mengawasi para penyabit pun berkata bahwa ia adalah seorang perempuan Moab yang pulang bersama-sama dengan Naomi mertuanya (ay. 6). Bahkan bujang itu berkata bagaimana Rut datang kepadanya dengan sopan dan setelah ia diberi ijin, maka ia terus sibuk dari pagi sampai sekarang tanpa berhenti sedikitpun (ay. 7).

Kita bisa belajar banyak dari Rut yang dengan tidak malu melakukan bagiannya yaitu mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhannya. Di saat kita melihat banyak orang yang bermalas-malasan dalam bekerja (tidak hanya janda yang malas, bahkan orang yang bukan janda/duda pun sering menjadi orang yang bermalas-malasan), justru Rut memberikan teladan yaitu bekerja dengan tidak henti dari pagi hingga siang/sore. Rut memberikan teladan bahwa seseorang memang harus bekerja keras untuk dapat hidup, dan bukan hanya menggantungkan diri pada tangan orang lain.

Alkitab Perjanjian Baru juga  berkata bahwa jika ada orang yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tes 3:10). Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan ingin setiap dari kita bekerja keras untuk mencari nafkah. Memang betul rejeki itu datangnya dari Tuhan, tetapi jangan ada di antara kita yang mempermalukan nama Tuhan dengan berkata bahwa “Aku tidak mau bekerja, tetapi aku mau menerima berkat dari Tuhan karena Tuhan itu Maha Baik”.

Kepada orang-orang yang seperti itu, saya berani katakan bahwa seorang hamba Tuhan (pendeta) atau seorang pelayan Tuhan pun dapat dianggap bekerja ketika ia sungguh-sungguh melayani Tuhan dengan sepenuh hatinya. Pekerjaan mereka adalah melayani Tuhan dan seorang hamba Tuhan full timer pun pasti diberkati oleh Tuhan. Tetapi jika ada di antara kita tidak mau bekerja dan hanya duduk diam menanti berkat Tuhan, saya ragu bahwa orang tersebut mengerti kebenaran Firman Tuhan. Belajarlah dari Rut, sang janda yang rajin dan mau bekerja keras, belajarlah juga dari semut yang juga bekerja keras (Ams 6:6), belajarlah dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus yang terus menerus bekerja (Yoh 5:17), bahkan jika itu semua tidak mempan, maka belajarlah pula dari Iblis, yang sampai hari ini dia bekerja untuk menyesatkan orang dan memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apapun untuk menyesatkan orang (Why 20:7-8).



Bacaan Alkitab: Rut 2:1-7
2:1 Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas.
2:2 Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku."
2:3 Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.
2:4 Lalu datanglah Boas dari Betlehem. Ia berkata kepada penyabit-penyabit itu: "TUHAN kiranya menyertai kamu." Jawab mereka kepadanya: "TUHAN kiranya memberkati tuan!"
2:5 Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: "Dari manakah perempuan ini?"
2:6 Bujang yang mengawasi penyabit-penyabit itu menjawab: "Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab.
2:7 Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketika pun ia tidak berhenti."

Selasa, 30 Desember 2014

Makna Anggur dalam Pernikahan



Jumat, 2 Januari 2015
Bacaan Alkitab: Yohanes 2:7-10
Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang." (Yoh 2:9-10)


Makna Anggur dalam Pernikahan


Saya yakin kita semua pasti pernah membaca tentang mujizat pertama yang dilakukan Yesus pada perjamuan kawin/pesta pernikahan di Kana. Dalam peristiwa tersebut, Yesus membuat mujizat yaitu mengubah air menjadi anggur. Yesus pada awalnya meminta pelayan untuk mengisi tempayan penuh dengan air (ay. 7) dan memerintahkan para pelayan untuk mencedok air (yang telah berubah menjadi anggur) kepada pemimpin pesta (ay. 8). Ketika pemimpin pesta mencicipinya, ia bersukacita karena anggur yang ia cicipi adalah anggur yang terbaik (ay. 9-10).

Memang secara umum, anggur adalah minuman yang sangat umum diminum di daerah Israel pada masa itu. Bahkan hingga saat ini, di budaya barat, anggur adalah minuman yang cukup umum dikonsumsi, karena menghangatkan (dan juga sebenarnya memabukkan). Pada masa itu, anggur merupakan suatu minuman yang wajib dihidangkan dalam pesta, termasuk pesta pernikahan. Tingkat kemewahan suatu pesta tergantung pada mutu atau kualitas anggur yang dihidangkan. Tingkat sosial dari pihak yang mengadakan pesta juga dapat terlihat dari anggur yang dihidangkan.

Anggur melambangkan sukacita, prestige, dan juga berkat Tuhan. Anggur juga bisa berbicara tentang urapan Roh Kudus. Banyak hal yang dapat dilambangkan dengan anggur. Akan tetapi, khususnya terkait pernikahan, kita akan melihat apa saja makna anggur, yang sesungguhnya penting untuk dapat dimengerti oleh setiap pasangan. Kita akan melihat dalam kitab paling romantis di Alkitab, yaitu Kidung Agung.

Pertama, anggur berbicara tentang kenikmatan cinta dalam pernikahan (Kid 1:1). Bagi para pecinta minuman anggur, maka anggur adalah minuman yang sangat nikmat. Kenikmatan dalam minum anggur diibaratkan sama dengan kenikmatan cinta. Oleh karena itu, dalam pernikahan harus ada suatu kenikmatan cinta yang dinikmati bersama antara suami dengan isteri. Jika cinta tersebut sudah tidak dapat dinikmati oleh salah satu pihak, berarti ada sesuatu yang salah atau keliru dalam pernikahan tersebut.

Kedua, anggur berbicara tentang gairah hidup dalam pernikahan (Kid 2:13). Bahkan dalam ayat ini dikatakan bahwa hanya dengan mencium bunga pohon anggur yang berbau semerbak (belum menjadi minuman anggur), ada suatu gairah dan semangat untuk segera bangun. Ini berbicara tentang suatu semangat dan gairah hidup yang harus ada dalam pernikahan. Pernikahan adalah suatu komitmen yang seharusnya membuat kedua belah pihak menjadi lebih baik lagi dan lebih bersemangat menjalani hidup. Jika pernikahan justru membuat kita semakin sering murung bahkan menangis sedih, maka kita perlu instropeksi tentang apakah ada hal yang salah dalam pernikahan kita.

Ketiga, anggur berbicara tentang kehidupan seks yang kudus dalam pernikahan (Kid 7:8). Dalam ayat ini disebutkan bahwa mempelai pria mengibaratkan buah dada mempelai wanita seperti gugusan anggur. Tentu hal ini tidak berbicara secara harafiah,  tetapi tentang bagaimana mempelai pria ingin menikmati keindahan tubuh mempelai wanita yang telah diciptakan Tuhan untuk menjadi isterinya. Ini berbicara tentang suatu kehidupan seks yang kudus dalam pernikahan. Dimana dalam pernikahan yang kudus, seks bukanlah sesuatu yang tabu tetapi harus menjadi suatu hal yang indah bagi suami dan isteri. Walaupun seks bukanlah segala-galanya dalam pernikahan, tetapi seks memegang peranan yang sangat penting dalam pernikahan. 

Keempat, anggur berbicara tentang komunikasi yang indah dalam pernikahan (Kid 7:9). Seks memang penting dalam pernikahan, tetapi seiring bertambahnya usia, seks akan semakin terganti dengan komunikasi dalam pernikahan. Semakin tua usia pasangan suami isteri, maka komunikasi akan memegang peranan yang lebih penting dalam pernikahan tersebut. Seks mungkin hanya dilakukan beberapa kali dalam satu minggu, tetapi komunikasi dilakukan berkali-kali dalam satu hari. Oleh karena itu, sangatlah penting ada komunikasi yang indah dan keterbukaan antara suami dan isteri, sehingga pernikahan mereka menjadi suatu pernikahan yang hidup, dan bukan pernikahan yang mati karena tidak ada komunikasi di antara suami isteri.

Kelima, anggur berbicara tentang hal-hal yang intim dan pribadi dalam pernikahan (Kid 8:12). Ayat ini berbicara tentang kebun anggur yan merupakan kepunyaan sendiri. Tentu kebun anggur milik sendiri tidak boleh dinikmati oleh orang lain. Jika perlu kita harus memagari kebun anggur kita sehingga hanya kita sendiri yang boleh menikmatinya. Ini tidak bicara tentang keegoisan, tetapi dalam pernikahan memang ada hal-hal yang intim dan pribadi, yang seharusnya hanya untuk konsumsi diri sendiri dan pasangan kita. Sayangnya belakangan ini ada kecenderungan bagi orang-orang untuk mengekspose hal-hal yang pribadi ke ranah publik. Melalui ayat ini kita diingatkan bahwa khusus untuk hal-hal pribadi, biarkan hanya kita dan pasangan yang tahu, dan tidak perlu diketahui oleh orang lain.

Dalam kelima poin di atas, saya memasukkan kata-kata “dalam pernikahan”, karena jika hal ini dilakukan di luar pernikahan, justru memberikan dampak negatif kepada kita. Kidung Agung pun berbicara tentang bagaimana kita tidak boleh membangkitkan cinta sebelum waktunya (Kid 2:7, 3:5, 8:4). Hanya di dalam pernikahan yang kudus dan diberkati oleh Tuhan, kita akan dapat menghayati makna anggur dan mengaplikasikannya dalam pernikahan kita, sehingga kita boleh merasakan bagaimana pernikahan kita menjadi pernikahan yang diberkati oleh Tuhan.


Bacaan Alkitab: Yohanes 2:7-10
2:7 Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan mereka pun mengisinya sampai penuh.
2:8 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya.
2:9 Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil mempelai laki-laki,
2:10 dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."

Hasil Pertama



Kamis, 1 Januari 2015
Bacaan Alkitab: Imamat 23:9-11
Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu sampai ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, dan kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam.  (Im 23:10)


Hasil Pertama


Hari ini adalah hari pertama di tahun 2015. Hari ini adalah langkah awal kita berjalan bersama Tuhan di tahun 2015. Saya tidak tahu apa yang kita semua lakukan di awal hari ini. Mungkin ada di antara kita yang hanya berada di rumah dan bermalas-malasan seharian karena hari libur. Mungkin ada juga yang baru saja tiba di rumah karena merayakan pesta pergantian tahun sepanjang malam hingga dini hari. Atau mungkin juga ada di antara kita yang sedang bersiap-siap pergi ke gereja untuk beribadah di awal tahun ini.

Terkait dengan hal tersebut, apa yang hendak saya tulis pada renungan hari ini adalah tentang bagaimana Tuhan berbicara kepada Musa terkait dengan kewajiban bangsa Israel kepada Tuhan (ay. 9). Pada saat itu Tuhan berfirman kepada bangsa Israel (melalui Musa) bahwa apabila bangsa Israel sampai di tanah perjanjian (tanah Kanaan), dan mereka sudah menuai hasil dari tanah tersebut, maka bangsa Israel harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaian tersebut kepada imam (ay. 10). Selanjutnya imam akan mengunjukkan berkas tersebut di hadapan Tuhan pada hari sesudah sabat supaya Tuhan berkenan kepada bangsa Israel (ay. 11).

Sepintas Firman Tuhan hari ini hanya berbicara tentang bagaimana bangsa Israel diwajibkan membawa persembahan hasil pertama mereka kepada Tuhan. Tetapi jika mau jujur, hal ini juga menjadi teguran bagi kita, tentang apakah kita mau memberikan hasil pertama kita kepada Tuhan. Dan berbicara tentang hasil pertama, banyak orang berpikir bahwa hasil pertama adalah gaji pertama, penghasilan pertama, atau secara harafiah, hasil bumi pertama yang dibawa kepada Tuhan (jika kita adalah seorang  petani).

Tetapi jika mau kita telusuri lebih dalam, hasil pertama tidak harus berbicara tentang persembahan secara fisik (seperti hasil bumi, gaji, dan lain sebagainya). Hasil pertama juga berbicara tentang waktu pertama, tentang prioritas pertama, tentang hal-hal pertama lainnya yang ada dalam hidup kita. Dan di awal tahun 2015 ini, alangkah baiknya jika kita pun mempersembahkan hari pertama kita kepada Tuhan. Alangkah indahnya jika kita memulainya dengan doa (bisa doa pribadi maupun doa bersama dengan keluarga kita) meminta penyertaan Tuhan di tahun 2015 ini. 

Dari 365 hari dalam tahun 2015, beranikah kita mempersembahkan dan mendedikasikan hari pertama kita di tahun 2015 ini (yaitu 1 Januari 2015) untuk Tuhan? Bukan berarti kita harus ada di gereja selama 24 jam pada hari ini. Tetapi paling tidak kita mencoba untuk membuat suasana hati kita maupun suasana rumah kita seperti suasana surgawi. Kita bisa mengisi waktu kita dengan membaca Firman Tuhan, atau seharian menyetel lagu-lagu rohani di rumah kita, disamping kita juga beribadah kepada Tuhan jika gereja kita mengadakan ibadah awal tahun. Usahakan kita juga mengisi hari pertama tersebut tanpa aktivitas-aktivitas yang bernuansa du niawi, seperti pergi ke mal/pusat perbelanjaan, jalan-jalan ke tempat wisata, menonton acara televisi yang tidak membangun iman, dan lain sebagainya.

Saya percaya bahwa jika kita mau berkomitmen melakukan hal tersebut, maka kita akan merasakan suatu suasana yang sangat berbeda dari biasanya. Dan semoga dengan mempersembahkan hari pertama kita di tahun 2015 ini untuk Tuhan, maka hari-hari kita selanjutnya, akan senantiasa berada dalam penyertaan Tuhan. Kita akan melihat bagaimana tahun 2015 akan begitu bermakna dalam kehidupan kita.


Bacaan Alkitab: Imamat 23:9-11
23:9 TUHAN berfirman kepada Musa:
23:10 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu sampai ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, dan kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam,
23:11 dan imam itu haruslah mengunjukkan berkas itu di hadapan TUHAN, supaya TUHAN berkenan akan kamu. Imam harus mengunjukkannya pada hari sesudah sabat itu.

Senin, 29 Desember 2014

Alfa dan Omega



Rabu, 31 Desember 2014
Bacaan Alkitab: Wahyu 22:12-13
Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir. (Why 22:13)


Alfa dan Omega


Tidak terasa akhirnya kita sampai di penghujung tahun 2014. Saya tidak tahu apa rencana para pembaca renungan ini di akhir tahun 2014 ini. Mungkin ada di antara kita yang berencana untuk ikut acara ibadah tutup tahun di gereja. Mungkin juga ada di antara kita yang berencana untuk mengikuti acara pergantian tahun di alun-alun kota, atau di sejumlah kafe. Ada juga yang berencana untuk hanya menghabiskan waktu di rumah saja dengan menonton televisi.

Apapun pilihan kita, setiap tahun kita diingatkan bahwa pasti ada awal dari setiap tahun, dan pasti ada akhir dari setiap tahun. Setiap tahun, entah tahun 2014 maupun tahun 2015 pasti diawali di tanggal 1 Januari dan diakhiri di tanggal 31 Januari. Demikian pula dengan kehidupan kita sebagai manusia di bumi ini, kita pasti memiliki tanggal kelahiran dan juga nantinya tanggal kematian.

Dalam Alkitab, hanya ada satu pribadi yang tidak terbatas oleh waktu yaitu Allah Tritunggal. Dalam Natal kita memperingati lahirnya Tuhan Yesus Kristus di dunia. Dan Natal tersebut berarti bahwa Allah yang tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi ruang dan waktu, masuk ke dalam tubuh manusia yang terbatas secara ruang dan waktu. Namun kita patut bersyukur bahwa karena Allah mau turun ke dunia dalam rupa manusia, sehingga setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).

Dalam momen Natal memang kita diingatkan tentang lahirnya Yesus Kristus ke dunia. Namun kita harus ingat bahwa Yesus Kristus saat ini sudah naik ke surga dan suatu saat nanti akan datang kembali ke dunia ini. Bahkan kita membaca bahwa Yesus Kristu akan datang segera (ay. 12a), dan membawa upahNya untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya (ay. 12b). Kita yang telah percaya kepada Yesus Kristus tentu saja tidak akan mendapatkan hukuman atau pembalasan Tuhan, tetapi kita telah ditebus dengan darahNya yang sangat mahal (1 Ptr 1:18-19).

Tentu saja terkait dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali ke dalam dunia ini, kita tidak perlu menghitung-hitung kapan Tuhan Yesus akan datang kembali. Ingat bahwa Tuhan Yesus tidak dapat dibatasi oleh waktu manusia. Firman Tuhan berkata bahwa satu hari di mata Tuhan sama dengan seribu tahun di mata manusia (2 Ptr 3:8). Oleh karena itu yang terpenting adalah kita sadar bahwa Tuhan kita dapat datang sewaktu-waktu, dan kita harus selalu siap sedia menyambut kedatanganNya yang kedua kali.

Ingat bahwa Tuhan adalah Alfa dan Omega. Dalam abjad Yunani, Alfa adalah abjad pertama dan Omega adalah abjad terakhir (sama dengan A dan Z dalam susunan abjad kita). Oleh karena itu, kita percaya bahwa Tuhan ada sebelum waktu manusia ditentukan. Ia sendiri tidak terbatas oleh waktu. Tuhan kita adalah Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir (ay. 13). Ia tidak berawal dan tidak berakhir. Waktu diciptakan oleh Tuhan sendiri sehingga Ia tidak bisa dibatasi oleh waktu.

Oleh sebab itu, di hari terakhir di tahun 2014 ini sudah sepatutnya kita bersyukur kepadaNya yang menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan kita. Kita patut bersyukur bahwa Tuhan kita tidak terbatas oleh waktu, dan jika Ia tidak terbatas oleh waktu, maka Ia pun tidak akan terbatas oleh apapun. Ia sanggup menyembuhkan kita, Ia sanggup memberkati kita, namun di sisi lain Ia pun sanggup menghukum kita jika kita menyimpang dari jalanNya. Jika di akhir tahun 2014 ini kita mengevaluasi hidup kita masing-masing, maka kita akan mengerti bahwa dalam segala kondisi Tuhan pasti memperhatikan kita. Kita tidak mungkin dapat lari daripadaNya.

Oleh karena itu daripada kita lari dan bersembunyi dari Tuhan, bukankah lebih baik kita percaya kepadaNya dan berada di pihakNya? Jika selama tahun 2014 ini kita lebih banyak menjadi seteru Tuhan, lebih banyak berbuat dosa dan pelanggaran, maka sudah saatnya di tahun yang akan datang, mulai tahun 2015, kita harus berani untuk melangkah dan berada di sisi Tuhan, mencoba menjadi orang-orang yang taat kepadaNya, menjadi orang-orang yang mau melakukan kehendakNya. Saya percaya, jika kita mau berada di sisi Allah yang benar, kita tidak akan pernah ditinggalkan, tetapi kita akan selalu disertai dan senantiasa diberkati menyambut tahun-tahun yang akan datang.


Bacaan Alkitab: Wahyu 22:12-13
22:12 "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.
22:13 Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir."