Senin, 24 Juli 2017

Iblis Gemetar?



Senin, 24 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Yakobus 2:18-23
Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. (Yak 2:19)


Iblis Gemetar?

Pada ibadah hari Minggu kemarin di gereja saya, dinyanyikan sebuah lagu yang kira-kira liriknya seperti ini:
“Bangkit, serukan nama Yesus
Maju, nyatakan kuasa-Nya
Kita buat iblis gemetar
Kalahkan tipu dayanya
Dalam kuasa nama-Nya”

Saya sendiri sudah mengenal lagu rohani ini cukup lama. Saya juga selama ini merasa bahwa lagu ini adalah lagu yang bagus, dengan tempo dan irama yang cepat sehingga cocok digunakan untuk ibadah khususnya di gereja aliran pentakosta/karismatik. 

Namun setelah saya mulai belajar kebenaran, saya mulai terusik dengan salah satu kalimat yang ada di lagu tersebut, yaitu ketika kita bangkit dan maju untuk membuat iblis gemetar. Apakah iblis bisa gemetar ketika mendengar kita bernyanyi? Untuk menjawab hal tersebut, saya mencoba mencari ayat yang menyatakan bahwa iblis gemetar dan tidak menemukan ayat yang dimaksud. Namun saya merasa bahwa pencipta lagu ini mungkin mendasarkan kalimat tersebut dari ayat Yakobus 2:19, yang berbunyi demikian: “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (ay. 19).

Dalam bahasa aslinya ayat tersebut berbunyi “σὺ πιστεύεις ὅτι εἷς ἐστιν ὁ Θεός; καλῶς ποιεῖς· καὶ τὰ δαιμόνια πιστεύουσιν καὶ φρίσσουσιν” atau “sy pisteueis hoti heis estin ho Theos kalōs poieis kai ta daimonia pisteuousin kai phrissousin”. Dalam hal ini saya ingin menekankan bahwa ada kata “δαιμόνια” atau “daimonia” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “setan-setan”. Dalam hal ini ada ketidakkonsistenan penerjemahan istilah “setan”, “iblis”, dan “roh-roh jahat” dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia. Mayoritas orang Kristen berpendapat bahwa ketiga nama tersebut adalah sama. Padahal iblis (διάβολος atau diabolos) dan setan (Σατανᾶς atau satanas) adalah nama yang merujuk kepada Lucifer sebagai pribadi. Iblis inilah yang berani datang dan mencobai Tuhan Yesus (Mat 4:1-11). Sementara itu daimonia lebih tepat diterjemahkan sebagai roh-roh jahat (evil spirit) yaitu para malaikat yang ikut memberontak kepada Allah dan dibuang ke bumi bersama-sama dengan Lucifer. Para malaikat ini juga dikenal sebagai fallen angels

Jadi iblis atau setan adalah pribadi tunggal yang merujuk kepada Lucifer, sedangkan daimonia adalah roh-roh jahat yang bisa masuk ke dalam tubuh seseorang dan menyebabkan penyakit. Roh-roh jahat inilah yang diusir oleh Tuhan Yesus dan juga para murid dalam pelayanan mereka. Namun demikian, Lucifer tidaklah serendah itu. Lucifer saja berani memberontak terhadap pemerintahan Allah Bapa dan berani mencobai Tuhan Yesus (berhadapan muka-dengan muka). Apakah iya, iblis akan begitu saja gemetar tanpa sebab? Apalagi jika kita membaca ayat 19, seakan-akan bahwa hanya dengan tahu bahwa ada satu Allah (yaitu Allah yang benar), maka setan pun sudah gemetar. Hal ini tentu saja tidak konsisten dengan penggambaran iblis/setan dalam ayat-ayat lain, sehingga ayat 19 harus diterjemahkan menjadi: “tetapi roh-roh jahat pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar”.

Namun jika kita melihat konteks ayat tersebut dengan lebih luas, maka sebenarnya Yakobus sedang membicarakan tentang iman yang benar. Pada waktu itu, terdapat pandangan jemaat yang bermacam-macam, bahkan ada perdebatan mengenai mana yang lebih penting: iman atau perbuatan. Oleh karena itu Yakobus menekankan bahwa iman dan perbuatan tidak dapat dipisahkan melainkan merupakan sebuah kesatuan (ay. 18). Lebih lanjut lagi Yakobus menekankan bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong atau bukan iman yang benar (ay. 20). 

Jadi iman tidak hanya bisa dipandang sebagai suatu sikap percaya dalam pikiran/akal semata, melainkan harus sampai bisa dinyatakan melalui perbuatan-perbuatan kita (ay. 22). Sama seperti Abraham yang disebutkan sebagai “Bapa orang beriman” dan “Sahabat Allah”, hal tersebut disebabkan karena Abraham menunjukkan imannya kepada Tuhan dengan ketaatan melakukan perintah-Nya. Bahkan ketika Tuhan meminta Abraham mempersembahkan Ishak, Abraham tidak ragu sedikitpun dan tetap taat kepada perintah Tuhan tersebut (ay. 21). Sikap percaya Abraham bukan saja percaya dalam pikiran tanpa perbuatan, tetapi sikap percaya hingga melakukan kehendak Allah. Itulah kebenaran yang diperhitungkan Allah kepada Abraham (ay. 23). 

Jadi jika iman hanya dianggap sebagai percaya terhadap keberadaan Allah saja, maka itu bukanlah iman yang sesungguhnya. Jika ada manusia yang memiliki iman seperti itu maka itu sama saja dengan “iman” roh-roh jahat (daimonia) yang juga percaya dan gemetar terhadap keberadaan Allah. Jadi hubungan antara gemetarnya roh-roh jahat itu tidak terkait sama sekali dengan nyanyian kita yang bersorak-sorai. Setiap orang percaya dapat mengusir roh-roh jahat di dalam nama Tuhan Yesus. Namun demikian, bukan itu kebanggaan kita. Jangan kita bersukacita ketika roh-roh jahat takluk kepada kita, tetapi bersukacitalah karena nama kita ada terdaftar di surga (Luk 10:20). Berjuanglah untuk memiliki iman yang benar, yaitu ukuran iman yang akan dicari oleh Tuhan Yesus ketika suatu saat nanti Ia akan datang kembali (Luk 18:8).



Bacaan Alkitab: Yakobus 2:18-23
2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku."
2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.
2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?
2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.
2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah."

Jumat, 14 Juli 2017

Menang dengan Teriakan Orang Banyak

Minggu, 16 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Lukas 23:13-25
Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhirnya mereka menang dengan teriak mereka. (Luk 23:23)


Menang dengan Teriakan Orang Banyak


Hari ini kita juga akan belajar mengenai kejadian ketika Tuhan Yesus dihadapkan kepada Pontius Pilatus oleh orang Yahudi. Setelah melakukan pemeriksaan, Pilatus sebagai Gubernur Yudea pada waktu itu kemudian mengumpulkan imam-imam kepala (pemimpin agama Yahudi pada waktu itu), serta pemimpin masyarakat dan juga rakyat banyak (ay. 13). Pilatus kemudian berkata bahwa ia telah memeriksa Tuhan Yesus yang telah mereka serahkan kepadanya, namun tidak mendapati kesalahan yang dituduhkan kepada-Nya (ay. 14). Bahkan Herodes selaku Raja wilayah Galilea pun tidak menemukan kesalahan Tuhan Yesus yang setimpal dengan hukuman mati seperti yang dituduhkan kepada Tuhan Yesus (ay. 15). 

Pilatus pun mencoba mencari “jalan tengah” untuk menyenangkan massa orang banyak (yaitu pemimpin dan rakyat Yahudi) yang datang kepadanya, dengan cara mengusulkan suatu penyiksaan kepada Tuhan Yesus lalu melepaskan-Nya (ay. 16). Pilatus berpendapat demikian karena pada hari raya Paskah, adalah suatu kebiasaan bagi Pilatus untuk memberikan “remisi” dan membebaskan seorang penjahat kepada rakyat Yahudi (ay. 17). Tetapi rakyat yang menghadap Pilatus langsung berteriak bersama-sama: “Enyahkanlah Dia (Tuhan Yesus), lepaskanlah Barabas bagi kami!” (ay. 18). Padahal Barabas adalah seorang penjahat yang melakukan pemberontakan di Yerusalem dan melakukan pembunuhan (ay. 19).  Tentu rakyat tahu Barabas ini sudah terkenal sebagai orang jahat yang mungkin sebenarnya sudah dijatuhi hukuman mati dan tinggal menunggu tanggal eksekusi saja. Namun demikian, karena begitu benci dan iri kepada Tuhan Yesus, maka prinsip mereka hanya satu: “Yang penting Tuhan Yesus mati, dengan cara apapun”.

Oleh karena itu para pemimpin agama dan pemimpin rakyat (yang datang menghadap Pilatus) sudah tidak memiliki akal sehat lagi. Mereka rela menukar seorang Tuhan Yesus yang mengadakan banyak mujizat untuk digantikan dengan seorang penjahat. Tentu kita harus paham bahwa “rakyat” yang datang menghadap Pilatus bukanlah rakyat Yerusalem pada umumnya. Mereka mungkin adalah para ahli Taurat dan orang Farisi (dan kelompoknya) yang datang kepada Pilatus dan mengaku sebagai “rakyat” untuk menekan Pilatus agar mengambil keputusan sesuai dengan prinsip demokrasi, dimana “rakyat” memegang kekuasaan tertinggi (karena pada waktu itu Romawi pun sudah menganut prinsip demokrasi).

Kita tahu bahwa ada salah satu prinsip demokrasi yang berkata bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan” (Vox populi, vox dei). Hal ini sebenarnya tidak bisa dijadikan suatu generalisasi dan harus diuji lagi untuk setiap kondisi. Sebagai contoh dalam konteks rakyat Yahudi yang menghadap Pilatus ini, apakah iya suara “rakyat” yang datang adalah suara Tuhan? Apakah Tuhannya orang Yahudi membolehkan untuk menghukum orang yang tidak bersalah bahkan menukar orang benar dengan orang jahat? Di situ tampak kualitas agama Yahudi yang pada waktu itu mungkin berada di salah satu titik terendah karena berani menukar keadilan karena para pemimpinnya iri hati dan terancam dengan kehadiran Tuhan Yesus di tengah-tengah mereka.

Menanggapi respon “rakyat” tersebut, Paulus mencoba untuk melepaskan Tuhan Yesus karena sebagai pemimpin ia tahu betul hukum Romawi yang berlaku pada saat itu (ay. 20). Namun “rakyat” dengan suara lebih keras berteriak: “Salibkan Dia!” (ay. 21). Pilatus sampai berkata kembali bahwa Tuhan Yesus tidak bersalah atau melakukan tindakan yang setimpal dengan hukuman mati, sehingga Pilatus akan menghajar lalu melepaskan-Nya (sebagai jalan tengah) (ay. 22). Namun demikian, “rakyat” tetap kukuh dengan aspirasinya dan dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Tuhan Yesus disalibkan (ay. 23a).

Saya membayangkan kondisi di depan istana Pilatus mungkin sudah sangat chaos. Ada banyak orang Yahudi berkumpul di depan istana Pilatus dan mengaku sebagai perwakilan rakyat lalu berteriak-berteriak meminta Tuhan Yesus disalibkan. Pasukan Romawi yang menjaga istana Pilatus juga sudah kalah jumlah menghadapi kumpulan orang tersebut. Suasana menjadi semakin tegang. Pilatus takut jika terjadi kerusuhan di Yerusalem yang bisa berdampak pada jabatannya sebagai Gubernur Yudea. Dan Alkitab mencatat bahwa pada akhirnya, kumpulan orang banyak tersebut (yang mengaku sebagai mereka yang mewakili rakyat Yudea) menang dengan teriakan mereka (ay. 23b). Pilatus kemudian mengabulkan tuntutan mereka dan membebaskan penjahat Barabas, tetapi Yesus diserahkan kepada para pemimpin Yahudi tersebut untuk diperlakukan sesuai keinginan mereka (ay. 24-25).

Hari ini kita belajar bahwa orang dunia ini sering memaksakan kehendaknya dengan mengatasnamakan kelompok atau golongannya. Semakin banyak anggota kelompok mereka, maka semakin besar suara mereka dan mereka merasa bisa menekan orang-orang tertentu dengan “teriakan” mereka. Hal ini sudah pernah terjadi 2.000 tahun yang lalu, dan mungkin akan lebih sering terjadi di akhir zaman ini. Tetapi satu hal yang harus kita ingat, bahwa setiap orang harus mempertanggungjawabkan perkataan dan perbuatannya masing-masing di hadapan Tuhan (Mat 12:36, Rm 14:12, Ibr 4:13). “Rakyat” Yahudi yang pada waktu itu menuntut Yesus dihukum mati, bahkan dengan entengnya berkata bahwa “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” (Mat 27:25), mungkin tidak berpikir panjang atas ucapan mereka. Tetapi Tuhan pun pada akhirnya tetap menghukum bangsa Yahudi sesuai dengan ucapan mereka. Tidak sampai 40 tahun, Yerusalem akhirnya diserang dan dihancurkan oleh bangsa Romawi. Bait Allah pun dibakar dan hancur, banyak orang Yahudi dibunuh, dan sisasnya harus mengembara ke negeri-negeri lain. Mereka baru bisa kembali ke Yerusalem pada tahun 1948 (hampir 1900 tahun lamanya berada di negeri lain) sebagai hukuman Tuhan atas mereka.

Oleh karena itu, jangan bangga jika kita bisa menekan orang lain karena anggota kelompok kita banyak. Jangan bangga jika kita bisa memutarbalikkan kebenaran hanya karena kita bisa menekan pengambil keputusan dengan teriakan kita atau kelompok kita. Suatu saat nanti, kita harus mempertanggungjawabkan perkataan dan perbuatan kita pada hari penghakiman. Jika hari itu tiba, sanggupkah kita berdiri di depan Tuhan Yesus yang bertindak sebagai Hakim yang Adil? Mampukah kita mendapat pujian dari-Nya dan masuk ke dalam kemuliaan kerajaan surga yang kekal? Ataukah kita justru akan dibuang dari hadapan-Nya ke dalam lautan api yang kekal? Pilihan kita di bumi akan menentukan nasib kita di kekekalan nanti.



Bacaan Alkitab: Lukas 23:13-25
23:13 Lalu Pilatus mengumpulkan imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin serta rakyat,
23:14 dan berkata kepada mereka: "Kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya.
23:15 Dan Herodes juga tidak, sebab ia mengirimkan Dia kembali kepada kami. Sesungguhnya tidak ada suatu apa pun yang dilakukan-Nya yang setimpal dengan hukuman mati.
23:16 Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya."
23:17 [Sebab ia wajib melepaskan seorang bagi mereka pada hari raya itu.]
23:18 Tetapi mereka berteriak bersama-sama: "Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami!"
23:19 Barabas ini dimasukkan ke dalam penjara berhubung dengan suatu pemberontakan yang telah terjadi di dalam kota dan karena pembunuhan.
23:20 Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin melepaskan Yesus.
23:21 Tetapi mereka berteriak membalasnya, katanya: "Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!"
23:22 Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka: "Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya."
23:23 Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhirnya mereka menang dengan teriak mereka.
23:24 Lalu Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan.
23:25 Dan ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, tetapi Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.

Rabu, 12 Juli 2017

Pesan kepada Ketujuh Jemaat di Kitab Wahyu: (7) Hanya bagi yang Menang



Sabtu, 15 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Wahyu 2:7
“... Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” (Why 2:7b)


Pesan kepada Ketujuh Jemaat di Kitab Wahyu: (7) Hanya bagi yang Menang


Bagian terakhir yang akan kita bahas mengenai pesan Tuhan kepada ketujuh jemaat di kitab Wahyu pasal 2 dan 3 adalah mengenai upah atau hadiah bagi yang menang. Sebagai contoh, untuk jemaat di Efesus, Tuhan berkata bahwa barangsiapa yang menang maka ia akan diberi makan Tuhan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah (ay. 7).

Jika kita melihat kepada jemaat-jemaat lainnya, maka hadiah bagi mereka yang menang pun berbeda-beda. Ini adalah hak prerogatif Tuhan bagi setiap jemaat-Nya. Namun jika kita memperhatikan dengan lebih seksama, maka sebenarnya inti dari hadiah yang diberikan kepada mereka yang menang tersebut sama sekali tidak ada yang dijanjikan untuk dinikmati di dunia ini. Kita bisa melihat hadiah/upah tersebut antara lain:

  • Jemaat Efesus: Diberi makan oleh Tuhan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah (Why 2:7)
  • Jemaat Smirna: Tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua (Why 2:11).
  • Jemaat Pergamus: Diberikan Tuhan dari manna yang tersembunyi dan dikaruniakan batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru (Why 2:17).
  • Jemaat Tiatira: Dikaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa untuk memerintah mereka dengan tongkat besi, serta dikaruniakan bintang timur (Why 2:26-28)
  • Jemaat Sardis: Akan mengenakan pakaian putih, tidak akan dihapus namanya dari kitab kehidupan oleh Tuhan, melainkan Tuhan akan mengaku namanya di hadapan Bapa dan di hadapan para malaikat (Why 3:5).
  • Jemaat Filadelfia: Akan dijadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah, dan Tuhan akan menuliskan nama Allah-Nya, nama kota Allah-Nya, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Nya, dan nama-Nya yang baru (Why 3:12)
  • Jemaat Laodikia: akan didudukkan bersama-sama dengan Tuhan di atas takhta-Nya (Why 3:21).

Dari ketujuh hadiah bagi jemaat yang menang di atas, semuanya merujuk kepada apa yang akan terjadi di Langit yang baru dan Bumi yang baru, bahkan di Yerusalem Baru. Ini adalah hadiah yang akan diterima oleh orang benar di dalam kekekalan, bukan di dunia ini yang bersifat fana. Inilah harta kita sendiri yang akan kita terima di dunia yang akan datang jika kita setia mengelola harta orang lain (Luk 16:12). Harta orang lain ini dapat diartikan bahwa apa yang kita miliki di dunia ini sesungguhnya bukanlah harta kita sendiri. Itu adalah harta Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Bagian kita adalah mengelola harta tersebut dengan baik dan setia sebagai seorang hamba (Mat 25:21).

Secara lebih spesifik lagi, kata menang ini tidak dapat diartikan secara sederhana. Seringkali kita diajarkan di gereja bahwa kita adalah orang-orang pemenang. Pertanyaannya, menang dari siapa? Saya setuju jika Tuhan Yesus sudah menang. Akan tetapi kemenangan Tuhan Yesus itu tidak serta merta membuat kita menang sehingga kita tidak perlu berjuang lagi. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita perlu mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (Flp 2:12). Lagipula jika semua orang yang percaya kepada Kristus sudah dianggap menang, maka mengapa Tuhan masih harus berkata di kitab Wahyu: “Barangsiapa menang...”? Jika semua orang Kristen sudah menang maka Tuhan tidak perlu mengucapkan perkataan “Barangsiapa menang...”.

Hal ini menunujukkan bahwa setiap orang percaya harus berjuang untuk bisa menang. Apakah definisi menang itu? Alkitab memberikan petunjuk tambahan mengenai definisi menang di kitab Wahyu pasal 2 dan 3 ini. Menang adalah melakukan pekerjaan Tuhan sampai pada kesudahannya (Why 2:26). Ini sejajar dengan perkataan Tuhan Yesus yang menyatakan bahwa “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Jemaat Tuhan akan dinilai oleh Tuhan dari apakah kita sudah melakukan kehendak Tuhan dan menyelesaikan pekerjaan-Nya atau tidak. Jika kita setia hingga akhir, maka kita dapat dikatakan menang. Namun jika kita tidak pernah mempersoalkan kehendak Tuhan dalam hidup kita, maka bagaimana kita bisa menyelesaikan pekerjaan Tuhan?

Pekerjaan Tuhan pasti terkait dengan kehendak Tuhan. Jika kita melakukan pekerjaan-pekerjaan di gereja, misalnya pelayanan atau bahkan menjadi pendeta dan berkhotbah di gereja, maka belum tentu itu adalah kehendak Tuhan. Tuhan Yesus sendiri yang berkata bahwa pada hari terakhir banyak orang akan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” (Mat 7:22). Jadi pelayanan pun belum tentu melakukan kehendak Bapa, karena bisa saja pelayanan dilakukan bukan untuk kemuliaan Tuhan tetapi untuk kemuliaan diri sendiri.

Di sini Tuhan mengingatkan bahwa masing-masing kita harus benar-benar mengecek diri kita sendiri. Jika range nilai adalah dari 1 s.d. 100, berapa nilai kita di hadapan Tuhan? Jika ambang batas “kelulusan” adalah 90, sudahkah kita mencapai nilai tersebut sehingga kita dapat dikatakan sebagai pemenang? Ingat bahwa hadiah dari Tuhan hanya diberikan kepada mereka yang menang. Berjuanglah untuk menjadi seorang pemenang, bukan pemenang di mata kita sendiri atau di mata orang lain, tetapi berjuanglah untuk menjadi pemenang di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, perkarakan setiap hari apakah kita sudah ada di arah yang benar untuk menjadi pemenang di hadapan Tuhan. Tanpa itu, kita berpotensi tersesat dan terhilang di hadapan Tuhan ketika hari penghakiman terakhir akan tiba. Saat itu, sudah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kita.



Bacaan Alkitab: Wahyu 2:7
2:7 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."