Minggu, 20 Agustus 2017

Persepuluhan di dalam Alkitab (11): Disimpan di Bilik-bilik dan Diawasi



Selasa, 22 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: Nehemia 12:44-47
Pada masa itu beberapa orang diangkat untuk mengawasi bilik-bilik perbendaharaan, bilik-bilik untuk persembahan khusus, untuk hasil pertama dan untuk persembahan persepuluhan, supaya sumbangan yang menurut hukum menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi dikumpulkan di bilik-bilik itu sesuai dengan ladang setiap kota. Sebab Yehuda bersukacita karena para imam dan orang-orang Lewi yang bertugas. (Neh 12:44)

 
Persepuluhan di dalam Alkitab (11): Disimpan di Bilik-bilik dan Diawasi


Sebagaimana telah saya sampaikan dalam renungan sebelumnya, sejak zaman Raja Hizkia, di Bait Allah dibangun sejumlah bilik yang digunakan untuk menyimpan persembahan, khususnya persembahan hasil pertama, persembahan khusus, dan persembahan persepuluhan. Hal tersebut berlanjut terus pada masa setelah pembuangan, dimana bangsa Yehuda membangun Bait Allah yang kedua (karena Bait Allah yang pertama yang dibangun pada zaman Raja Salomo telah dihancurkan oleh tentara Babel). Nehemia yang memimpin bangsa Yehuda ketika mereka kembali ke Yerusalem, telah mengangkat beberapa orang untuk mengawasi bilik-bilik perbendaharaan (ay. 44a).

Sekali lagi saya sampaikan bahwa persembahan persepuluhan pada hakekatnya adalah persembahan berupa hasil tanah dan hasil ternak, sehingga dibutuhkan bilik-bilik atau ruangan-ruangan untuk menyimpan persembahan tersebut. Memang hukum Taurat juga mengatur mengenai persembahan yang bisa diuangkan dengan menambah seperlima. Namun jika kebanyakan persembahan persepuluhan dibawa dalam bentuk uang, rasa-rasanya tidak perlu dibangun bilik-bilik untuk menyimpannya. Justru hal tersebut lebih diperjelas dalam lanjutan ayat 44 tersebut, dimana bilik-bilik tersebut digunakan untuk menyimpan berbagai jenis persembahan (di antaranya termasuk persembahan persepuluhan), supaya apa yang menjadi bagian orang Lewi dan para imam dikumpulkan di bilik-bilik tersebut sesuai dengan ladang setiap kota (ay. 44b). Artinya adalah bilik-bilik tersebut kemungkinan besar digunakan untuk menyimpan hasil ladang (hasil tanah) dari masing-masing kota.

Bangsa Yehuda bersukacita dalam memberikan persembahan tersebut karena para imam dan orang-orang Lewi yang bertugas, yaitu melakukan tugas pelayanan di Bait Allah (ay. 44c & 45). Sebenarnya pembagian tugas orang Lewi dan para imam sudah diatur sejak zaman Raja Daud, dimana masing-masing bani (kelompok keluarga) di suku Lewi mendapatkan tugas khusus dalam pelayanan, misalnya bani Asaf yang ditugaskan untuk melayani puji-pujian kepada Tuhan (ay. 46). Dan tidak hanya bagi para pemimpin pujian saja seperti bani Asaf, tetapi sejak zaman Zerubabel dan Nehemia semua orang Israel memberikan sumbangan bagi para penyanyi dan para penunggu pintu gerbang (ay. 47a). Artinya di sini ruang lingkup orang-orang yang menerima bagian dari persembahan persepuluhan tersebut adalah mereka yang mendapatkan tugas di dalam ibadah mereka.

Itulah sebabnya perlu ada orang-orang khusus yang diangkat untuk mengawasi bilik-bilik perbendaharaan. Kata mengawasi di sini bisa berarti ada orang-orang yang bertanggung jawab atas bilik-bilik tersebut, minimal mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta memastikan isi bilik tersebut digunakan sesuai dengan tujuannya (karena setiap jenis persembahan memiliki penggunaan pembagian tertentu). Dalam hal ini ada prinsip yang luar biasa di sini bahwa persembahan persepuluhan adalah sesuatu hal yang penting sehingga harus ada orang-orang yang mengawasi supaya persembahan persepuluhan tersebut digunakan dengan tepat sasaran.

Hal ini sekilas seperti suatu hal yang sepele. Namun demikian, sebenarnya persembahan persepuluhan adalah sesuatu hal yang penting, bahkan sejak zaman Perjanjian Lama, sehingga perlu diatur dan diawasi oleh orang-orang tertentu. Sangat kontras jika dibandingkan dengan sebagian gereja yang saat ini juga menekankan mengenai ajaran persepuluhan tetapi sistem pengelolaannya tidak jelas. Persembahan persepuluhan sebenarnya adalah sebagian milik jemaat yang diberikan kepada orang Lewi untuk dikelola dan digunakan bagi kepentingan pekerjaan Tuhan. Namun di beberapa gereja, jemaat tidak pernah mengerti penggunaan persembahan apalagi persembahan persepuluhan. Jemaat selalu diajar bahwa persepuluhan adalah hak pendeta atau gembala dan jemaat tidak perlu tahu berapa dana yang terkumpul dan sistem pembagiannya. Masih lebih baik jika di gereja tersebut ada bendahara gereja yang memegang dan mengelola persembahan persepuluhan, tetapi di sejumlah gereja, persembahan langsung diambil alih oleh pendeta atau gembala sidang dengan berkata: “Ini milikku”.

Akibatnya, tidak ada pengawasan yang memadai terhadap penggunaan uang persembahan sesuai dengan prinsip Alkitab. Hal ini bisa dilihat ketika pendeta menekankan bahwa jemaat harus memberi persembahan persepuluhan supaya diberkati berlipat ganda. Namun ketika ada jemaat gereja yang meninggal, maka pendeta berkata: “wah uang kas gereja sudah sedikit, kita tidak bisa membelikan karangan bunga untuk jemaat yang meninggal”. Padahal semasa hidupnya, jemaat tersebut dan keluarganya sudah memberikan persembahan (termasuk persembahan persepuluhan dengan setia). Hal ini bisa terjadi karena tidak ada orang-orang tertentu yang diangkat untuk mengawasi penggunaan persembahan tersebut. Atau hal tersebut bisa terjadi karena pendeta atau gembala tidak mau ada orang yang ikut campur terhadap penggunaan dana persembahan persepuluhan (karena sejak dahulu sudah didoktrin bahwa persembahan persepuluhan adalah hak pendeta atau gembala). Padahal jika kita mau  belajar kebenaran dengan hati dan pikiran yang terbuka (tanpa mempertahankan premis yang sudah kita miliki), maka kita akan dibukakan mengenai prinsip persembahan persepuluhan dengan benar.

Kembali lagi, persoalan utamanya adalah uang. Alkitab menulis bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta akan uang (1 Tim 6:10). Jadi gereja-gereja yang lebih bersifat tertutup terkait pengelolaan dana persembahan jemaat (termasuk persepuluhan) bisa jadi adalah gereja-gereja yang masih bersifat duniawi, atau minimal sejumlah oknum di sana masih bersifat duniawi. Tidak heran ada para pendeta yang saling menuntut di pengadilan, saling berebut posisi di gereja, karena ujung-ujungnya adalah uang dan kekuasaan (karena semakin berkuasa maka akan semakin banyak uang yang bisa didapat). Padahal Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa persembahan persepuluhan tersebut dikelola untuk diberikan kepada pelayan-pelayan dari orang Lewi untuk keperluan hidup sehari-hari mereka, atau dalam ayat tersebut ditulis dengan istilah “sekadar yang perlu tiap-tiap hari” (ay. 47b). Kalaupun ada dari persembahan persepuluhan tersebut yang menjadi hak para imam sebagai pemimpin umat dan pemimpin pelayanan, itu adalah sebesar 10% dari persembahan persepuluhan yang diterima oleh orang Lewi (atau 1% dari persembahan orang Yehuda). Namun demikian dalam hal ini bukan berapa persennya yang penting, namun selama hati “oknum” di gereja tersebut masih duniawi dan berfokus pada uang, maka mau berapa persen yang diberi oleh jemaat atau berapa nominal persembahan yang diterima dari jemaat tidak akan pernah cukup. Jika demikian, bagaimana jemaat bisa diajarkan kebenaran yang murni jika yang mengajarkan saja masih memiliki motivasi yang tidak lurus dalam hatinya?



Bacaan Alkitab: Nehemia 12:44-47
12:44 Pada masa itu beberapa orang diangkat untuk mengawasi bilik-bilik perbendaharaan, bilik-bilik untuk persembahan khusus, untuk hasil pertama dan untuk persembahan persepuluhan, supaya sumbangan yang menurut hukum menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi dikumpulkan di bilik-bilik itu sesuai dengan ladang setiap kota. Sebab Yehuda bersukacita karena para imam dan orang-orang Lewi yang bertugas.
12:45 Karena merekalah yang melakukan tugas pelayanan bagi Allah mereka dan tugas pentahiran, demikian juga para penyanyi dan para penunggu pintu gerbang, sesuai dengan perintah Daud dan Salomo, anaknya.
12:46 Karena sudah sejak dahulu, pada zaman Daud dan Asaf, ada pemimpin-pemimpin penyanyi, ada nyanyian pujian dan nyanyian syukur bagi Allah.
12:47 Pada zaman Zerubabel dan Nehemia semua orang Israel memberikan sumbangan bagi para penyanyi dan para penunggu pintu gerbang sekadar yang perlu tiap-tiap hari dan mempersembahkan persembahan kudus kepada orang-orang Lewi. Dan orang-orang Lewi mempersembahkan persembahan kudus kepada anak-anak Harun.

Persepuluhan di dalam Alkitab (10): Untuk Menyokong Ibadah di Rumah Tuhan



Senin, 21 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: Nehemia 10:36-39
Dan tepung jelai kami yang mula-mula, dan persembahan-persembahan khusus kami, dan buah segala pohon, dan anggur dan minyak akan kami bawa kepada para imam, ke bilik-bilik rumah Allah kami, dan kepada orang-orang Lewi akan kami bawa persembahan persepuluhan dari tanah kami, karena orang-orang Lewi inilah yang memungut persembahan-persembahan persepuluhan di segala kota pertanian kami. (Neh 10:37)


Persepuluhan di dalam Alkitab (10): Untuk Menyokong Ibadah di Rumah Tuhan


Setelah zaman Hizkia, kata persepuluhan tidak muncul lagi hingga kerajaan Israel dihancurkan oleh bangsa Asyur dan kerajaan Yehuda dihancurkan oleh bangsa Babel. Kerajaan Israel utara (10 suku) bisa dikatakan lenyap dari muka bumi ini, sementara kerajaan Yehuda masih diijinkan Tuhan untuk kembali ke tanah Yehuda dengan Yerusalem sebagai ibukotanya. Tokoh yang berperan penting dala proses kembalinya bangsa Yehuda dari pembuangan di Babel adalah Ezra dan Nehemia. Oleh karena itu, kata persepuluhan pada akhirnya muncul lagi di kitab Nehemia, yaitu setelah bangsa Yehuda kembali dari pembuangan mereka.

Dalam perjuangan mereka kembali dari Babel dan membangun Yerusalem (termasuk membangun Bait Allah), mereka pun menaikkan doa yang mengandung ucapan nazar kepada Tuhan. Mereka bahkan menjadikannya sebagai semacam “pembaharuan perjanjian dengan Tuhan”, yang artinya mereka sungguh-sungguh mau bertobat dari kesalahan nenek moyang mereka (generasi sebelumnya) supaya mereka tidak lagi dibuang oleh Tuhan. Pembaharuan perjanjian tersebut bahkan terkesan sangat resmi dengan disebutkannya nama orang-orang yan mengikat perjanjian tersebut (Neh 10:1-27).

Salah satu poin janji bangsa Yehuda kepada Tuhan antara lain adalah terkait dengan pemberian korban dan persembahan bagi Tuhan. Sepertinya setelah mengalami pembuangan ke Babel selama 70 tahun, sebagian besar bangsa Yehuda sadar akan kesalahan mereka, dimana yang terutama adalah mereka banyak berzinah kepada Tuhan dengan menyembah allah-allah lain, serta mereka melalaikan ibadah mereka kepada Tuhan (kalaupun melakukan, itu hanyalah tindakan secara lahiriah tanpa sikap hati yang benar di hadapan Tuhan). Salah satu unsur atau aspek ibadah tersebut adalah terkait dengan korban dan persembahan kepada Tuhan.

Mereka sebenarnya sudah mengerti mengenai prinsip persembahan sesuai dengan hukum Taurat tersebut. Namun kebanyakan dari nenek moyang mereka mengabaikannya. Oleh karena itu, hal ini merupakan salah satu hal yang direstorasi oleh Nehemia, supaya bangsa Yehuda kembali melakukan hukum Taurat dengan benar dan tidak dihukum oleh Tuhan lagi. Oleh karena itu, mereka pun berjanji bahwa mereka akan membawa korban tebusan anak sulung (baik anak sulung manusia maupun anak sulung hewan ternak) kepada rumah Tuhan (yaitu Bait Suci atau Bait Allah) sesuai denga nhukum Taurat. Mereka juga akan membawa persembahan sulung dan persembahan khusus kepada rumah Allah, yaitu kepada para imam yang menyelenggarakan kebaktian (ay. 37a).

Mereka juga berjanji bahwa mereka akan membawa persembahan persepuluhan dari tanah mereka (karena sebagian dari mereka sudah kembali ke tanah Yehuda dan tinggal di sana) dan memberikannya kepada orang-orang Lewi sebagaimana yang seharusnya yaitu persembahan persepuluhan merupakan hak dari orang-orang Lewi tersebut (ay. 37b). Tidak hanya itu saja, orang Lewi juga berjanji akan memberikan sepersepuluh dari persembahan persepuluhan yang mereka terima kepada para imam, keturunan Harun. Persembahan bagi para imam tersebut juga akan diberikan oleh orang Lewi kepada para imam untuk kemudian dimasukkan ke dalam bilik-bilik rumah perbendaharaan (ay. 38). Ingat bahwa persembahan persepuluhan tersebut adalah atas hasil tanah dan hasil ternak, sehingga untuk hasil tanah perlu disimpan di bilik-bilik sebagaimana yang telah ditetapkan pada zaman Raja Hizkia sebelumnya.

Hal tersebut dapat lebih jelas lagi kita mengerti bahwa persembahan yang disimpan di bilik-bilik tersebut antara lain adalah gandum, anggur dan minyak (ay. 39a). Kegunaan dari persembahan khusus yang disimpan di bilik tersebut antara lain untuk menjamin pelaksanaan ibadah di tempat kudus (ay. 39b). Ini berbicara antara lain mengenai penggunaan minyak untuk menyalakan kandil emas, atau sebagai bahan pembuatan roti di meja sajian yang antara lain menggunakan gandum dan minyak.

Selain digunakan sebagai “material” untuk ibadah di tempat kudus, persembahan khusus yang dibawa ke rumah Tuhan dan disimpan di bilik-bilik juga digunakan untuk menyokong kehidupan para imam yang menyelenggarakan kebaktian, termasuk para penunggu pintu gerbang dan para penyanyi (ay. 39c). Jadi jelaslah bahwa bilik tersebut sebenarnya tidak digunakan untuk menyimpan uang (kalaupun ada kemungkinan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak), melainkan adalah untuk menyimpan persembahan khusus dalam bentuk gandum, minyak, dan anggur, untuk kebutuhan peribadatan dan bagi kehidupan para pelayan kebaktian. Persembahan khusus tersebut juga bukan dimaksudkan supaya para imam dan orang Lewi hidup dalam kemewahan, melainkan adalah sokongan yang secukupnya bagi mereka sehingga mereka dapat melayani kebaktian dengan baik.

Pada momen tersebut, bangsa Yehuda berjanji bahwa mereka tidak akan membiarkan rumah Allah menjadi tak terurus. Mereka berjanji dan berkomitmen supaya ibadah di Bait Allah tetap berjalan sehingga ibadah tidak sampai berhenti. Komitmen ini begitu kuat sehingga sejarah mencatat bahwa sejak saat itu, ibadah di Bait Allah baru berhenti pada tahun 70 Masehi ketika Yerusalem diserang oleh Jenderal Titus dari Romawi dan Bait Allah dihancurkan. Sejak masa itu pula, pemahaman mengenai korban dan persembahan diredefinisikan lagi oleh guru-guru agama sehingga lahirlah berbagai sekte seperti orang Farisi yang mengajarkan bahwa persembahan persepuluhan harus dipungut dari hasil tanah, bahkan dari tanaman-tanaman yang terkecil sekalipun (hal ini akan kita bahas nanti di renungan-renungan selanjutnya). Namun demikian, kita harus sepakat bahwa semangat persembahan persepuluhan di masa setelah pembuangan adalah terutama ditujukan untuk menyokong ibadah yang dilaksanakan di Bait Allah.




Bacaan Alkitab: Nehemia 10:36-39
10:36 Pun kami akan membawa ke rumah Allah kami, yakni kepada para imam yang menyelenggarakan kebaktian di rumah Allah kami, anak-anak sulung kami dan anak-anak sulung ternak kami seperti tertulis dalam kitab Taurat, juga anak-anak sulung lembu kami dan kambing domba kami.
10:37 Dan tepung jelai kami yang mula-mula, dan persembahan-persembahan khusus kami, dan buah segala pohon, dan anggur dan minyak akan kami bawa kepada para imam, ke bilik-bilik rumah Allah kami, dan kepada orang-orang Lewi akan kami bawa persembahan persepuluhan dari tanah kami, karena orang-orang Lewi inilah yang memungut persembahan-persembahan persepuluhan di segala kota pertanian kami.
10:38 Seorang imam, anak Harun, akan menyertai orang-orang Lewi itu, bila mereka memungut persembahan persepuluhan. Dan orang-orang Lewi itu akan membawa persembahan persepuluhan dari pada persembahan persepuluhan itu ke rumah Allah kami, ke bilik-bilik rumah perbendaharaan.
10:39 Karena orang Israel dan orang Lewi harus membawa persembahan khusus dari pada gandum, anggur dan minyak ke bilik-bilik itu. Di situ ada perkakas-perkakas tempat kudus, pula para imam yang menyelenggarakan kebaktian, para penunggu pintu gerbang dan para penyanyi. Kami tidak akan membiarkan rumah Allah kami.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Persepuluhan di dalam Alkitab (9): Hingga Bertimbun-timbun

Minggu, 20 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: 2 Tawarikh 31:1-12
Orang Israel dan orang Yehuda yang tinggal di kota-kota Yehuda juga membawa persembahan persepuluhan yang terdiri dari lembu sapi dan kambing domba, dan persembahan persepuluhan yang terdiri dari persembahan kudus yang telah dikuduskan bagi TUHAN Allah mereka. Semuanya itu diletakkan mereka bertimbun-timbun. (2 Taw 31:6)


Persepuluhan di dalam Alkitab (9): Hingga Bertimbun-timbun


Salah satu ayat lagi yang cukup sering dikutip oleh para pendeta mengenai persembahan persepuluhan adalah ayat dalam bacaan Alkitab kita hari ini. Ayat ini dikutip untuk menunjukkan bagaimana bangsa Israel membawa persembahan persepuluhan mereka ke Rumah Tuhan dalam jumlah banyak hingga bertimbun-timbun (ay. 5-6). Namun sangat jarang orang Kristen (khususnya jemaat) yang menjadi kritis dan mencoba membaca ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, minimal untuk mendapatkan gambaran konteks ayat tersebut. Hari ini kita akan mencoba belajar untuk membedah ayat tersebut dilihat dari konteks latar belakangnya supaya kita mendapatkan gambaran yang utuh dan  tidak sepotong-sepotong.

Kisah di dalam perikop ini berbicara mengenai apa yang dilakukan Raja Hizkia, yaitu raja Yehuda pada waktu itu, yaitu untuk memperbaiki Rumah Tuhan atau Bait Suci (2 Taw 29:3). Itulah hal yang pertama yang dilakukan Hizkia pada bulan pertama dari tahun pertama pemerintahannya. Sebelumnya, Rumah Tuhan sudah terabaikan selama bertahun-tahun. Sebelum direstorasi Hizkia, mungkin Bait Suci tersebut masih berdiri dengan megah, masih ada sejumlah ibadah di sana, namun semuanya tidak ada artinya karena umat Yehuda tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan. Hizkialah yang kemudian merestorasi Bait Suci dan menguduskannya kembali. Bahkan Hizkia merayakan Paskah dengan mengundang orang-orang dari Kerajaan Israel untuk datang ke Yerusalem. Alkitab mencatat bahwa peristiwa perayaan Paskah (yang dipusatkan di Bait Suci) terakhir kali diadakan pada zaman Salomo dan baru diadakan kembali pada zaman Hizkia setelah ratusan tahun.

Jadi jelas bahwa latar belakang perikop di pasal 31 ini adalah peristiwa perayaan Paskah yang diselenggarakan oleh Raja Hizkia di Yerusalem, dimana tidak hanya orang-orang Yehuda (suku Yehuda dan Benyamin) yang datang dan merayakan Paskah, tetapi sejumlah orang-orang Israel (10 suku lainnya) juga ikut datang dan merayakannya di Yerusalem. Baru setelah perayaan Paskah tersebut diakhiri, seluruh orang Israel yang hadir di Yerusalem, pergi ke kota-kota di Yehuda lalu meremukkan segala mezbah dan tugu berhala di daerah kerajaan Yehuda (yaitu suku Yehuda dan Benyamin), serta sampai ke daerah Efraim dan Manasye, barulah mereka pulang ke kota-kota mereka masing-masing (ay. 1).

Pada waktu itu Hizkia mengatur pelayanan orang Lewi dan juga para imam, dan membagi-bagi tugas di antara mereka untuk melayani ibadah bagi Tuhan (ay. 2). Ada di antara mereka yang mendapat tugas mempersembahkan korban, ada yang menyanyikan puji-pujian, serta ada juga yan melayani di pintu-pintu gerbang. Saat itu Raja Israel memberi sumbangan dari harta miliknya untuk korban bakaran baik korban harian maupun korban-korban khusus yang dipersembahkan pada hari raya tertentu sesuai dengan hukum Taurat (ay. 3). Raja Hizkia juga memerintahkan rakyat, khususnya penduduk Yerusalem (dalam konteks lebih luas lagi mungkin memerintahkan kepada seluruh penduduk kerajaan Yehuda) untuk memberikan sumbangan yang menjadi bagian orang Lewi dan para imam supaya mereka dapat mencurahkan tenaganya untuk melaksanakan hukum Taurat (ay. 4).

Dari gambaran tersebut, yaitu Paskah yang sudah lama tidak diadakan, dan selama ini tidak ada pengaturan terhadap orang Lewi dan para imam, maka sangat mungkin bahwa selama puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun, bangsa Yehuda dan bangsa Israel  tidak pernah melakukan hukum Taurat dengan benar, apalagi terkait dengan persembahan persepuluhan. Ingat bahwa salah satu tujuan persembahan persepuluhan yang diberikan kepada orang Lewi dan para imam adalah supaya mereka dapat fokus melaksanakan tugas mereka sesuai dengan hukum Taurat. Ketika bangsa Israel tidak memberikan persembahan persepuluhan bagi orang Lewi, tentu mereka juga tidak akan maksimal melakukan bagian mereka. Inilah yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun di kerajaan Yehuda apalagi di kerajaan Israel, sehingga perlu direstorasi oleh Raja Hizkia.

Setelah setelah perintah itu tersiar, orang Israel datang membawa hasil pertama mereka dalam jumlah besar (ay. 5a). Apakah pada waktu itu mereka baru panen dengan jumlah besar sehingga mereka dapat membawa persembahan dalam jumlah besar? Saya rasa jawabannya bukan itu, tetapi melainkan karena mereka sudah melalaikan hukum Taurat mengenai persembahan hasil pertama dan mereka baru mengkompensasinya atau “merapelnya” pada saat itu, sehingga mereka membawa banyak gandum, anggur, minyak, madu, dan segala macam hasil bumi. Tidak hanya persembahan hasil pertama, mereka juga membawa persembahan persepuluhan mereka dalam jumlah besar (ay. 5b). Hal ini sangat mungkin merupakan “rapelan” persembahan selama bertahun-tahun yang mereka tidak berikan ke Rumah Tuhan.

Tidak hanya orang Israel, tetapi orang Yehuda yang tinggal di kota-kota Yehuda juga akhirnya datang dan membawa persembahan mereka termasuk persembahan persepuluhan dan persembahan khusus ke rumah Tuhan (ay. 6a). Alktab mencatat bahwa semua persembahan tersebut diletakkan Tuhan hingga bertimbun-timbun (ay. 6b). Bahkan Alkitab mencatat bahwa timbunan tersebut dibuat hingga 4 bulan lamanya (ay. 7). Mengapa persembahan mereka sampai bertimbun-timbun? Salah satu kemungkinannya adalah karena mungkin selama ini yang memberikan persembahan ke Rumah Tuhan hanyalah dari bangsa Yehuda (suku Yehuda dan Benyamin), bahkan mungkin hanya sebagian dari bangsa Yehuda yang memberikannya. Sedangkan 10 suku yang lain dari kerajaan Israel selama ini tidak pernah atau jarang membawa ke Rumah Tuhan di Yerusalem karena sudah berbeda wilayah dan raja-raja Israel banyak yang tidak setia kepada Tuhan tetapi justru menyembah dewa-dewa di wilayah mereka. Akibatnya ketika orang Yehuda dan orang Israel bertobat serta mau memberikan persembahan kepada Tuhan di Yerusalem, jumlah persembahan tersebut berlipat ganda hingga jumlahnya bertimbun-timbun.

Raja Hizkia dan para pemimpin yang datang melihat timbunan tersebut merasa terkagum-kagum melihatnya dan kemudian memuji Tuhan dan umat-Nya (ay. 8). Ketika Raja Hizkia bertanya kepada para imam dan orang Lewi mengenai timbunan tersebut, maka dijelaskan oleh Imam Kepala Azarya bahwa persembahan yang dibawa tersebut telah dinikmati oleh orang Lewi, mereka telah makan dan menjadi kenyang tetapi sisanya sangat banyak (ay. 9). Hal ini tentu kemungkinan besar disebabkan karena adanya “rapelan” persembahan dan korban yang baru dilakukan oleh sebagian besar orang Israel pada waktu itu. Jika bangsa Israel dan Yehuda konsisten memberikan persembahan dan korban dengan setia, tentu jumlah persembahan yang dikumpulkan tidak akan tiba-tiba melonjak seperti saat itu.

Kemudian Raja Hizkia memerintahkan untuk membangun bilik-bilik (kamar-kamar atau ruangan-ruangan) sebagai tempat untuk menampung persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus lainnya yang dibawa ke Rumah Tuhan (ay. 11-12). Banyak orang Kristen berpikir bahwa persembahan tersebut dalam bentuk uang, namun demikian saya meragukannya karena sesuai dengan penjelasan di ayat-ayat sebelumnya tentang persembahan persepuluhan, kita telah belajar bahwa persembahan persepuluhan adalah sepersepuluh dari hasil tanah dan setiap hitungan kelipatan sepuluh dari segala hasil ternak mereka (Im 27:30-34). Jadi kemungkinan besar bilik tersebut adalah tempat untuk menyimpan hasil tanah seperti benih, gandum, dan mungkin buah-buahan. Mengapa demikian? Karena dalam ayat sebelumnya dikatakan bahwa sejak persembahan tersebut dibawa oleh bangsa Israel dan bangsa Yehuda ke rumah Tuhan, maka orang Lewi dan para imam telah makan sekenyang-kenyangnya,  namun sisanya masih banyak (ay. 9). Jika persembahan tersebut dalam bentuk uang, maka tentu tidak akan ditekankan mengenai orang Lewi dan para imam yang makan hingga kenyang, karena uang tersebut bisa digunakan untuk hal yang lain. Lagipula, jika persembahan yang dibawa berupa uang hingga bertimbun-timbun, akan terjadi inflasi yang luar biasa di Yerusalem dan akan mengganggu perekonomian di Yerusalem bahkan di seluruh Yehuda.

Namun sejumlah pendeta cukup sering mengutip ayat ini untuk menunjukkan bagaimana bangsa Israel datang membawa persembahan dalam bentuk uang hingga bertimbun-timbun, dan jemaat Tuhan di gereja juga harus meneladani sikap orang Israel tersebut. Padahal jika kita belajar dengan lebih mendalam, kita akan mengerti mengapa persembahan tersebut hingga bertimbun-timbun. Lagipula persembahan yang dimaksud sangat mungkin bukanlah persembahan dalam bentuk uang. Lagipula dalam ayat-ayat selanjutnya kita tidak menemukan adanya kalimat membawa persembahan hingga bertimbun-timbun, yang artinya peristiwa tersebut sangat mungkin hanya terjadi sekali pada zaman Raja Hizkia. Namun setidaknya, bilik-bilik di Rumah Tuhan tetap menjadi suatu “keharusan” sehingga Bait Allah selanjutnya juga memiliki bilik-bilik (dan hal ini akan kita pelajari lebih lanjut dalam renungan selanjutnya).



Bacaan Alkitab: 2 Tawarikh 31:1-12
31:1 Setelah semuanya ini diakhiri, seluruh orang Israel yang hadir pergi ke kota-kota di Yehuda, lalu meremukkan segala tugu berhala, menghancurkan segala tiang berhala, dan merobohkan segala bukit pengorbanan dan mezbah di seluruh Yehuda dan Benyamin, juga di Efraim dan Manasye, sampai musnah semuanya. Kemudian pulanglah seluruh orang Israel ke kota-kotanya, ke miliknya masing-masing.
31:2 Hizkia menetapkan rombongan para imam dan orang-orang Lewi, rombongan demi rombongan, masing-masing menurut tugas jabatannya sebagai imam atau sebagai orang Lewi, untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, untuk mengucap syukur dan menyanyikan puji-pujian dan untuk melayani di pintu-pintu gerbang di tempat perkemahan TUHAN.
31:3 Raja memberi sumbangan dari harta miliknya untuk korban bakaran, yakni: korban bakaran pada waktu pagi dan pada waktu petang, korban bakaran pada hari-hari Sabat dan pada bulan-bulan baru dan pada hari-hari raya, yang semuanya tertulis di dalam Taurat TUHAN.
31:4 Ia memerintahkan rakyat, yakni penduduk Yerusalem, untuk memberikan sumbangan yang menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi, supaya mereka dapat mencurahkan tenaganya untuk melaksanakan Taurat TUHAN.
31:5 Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar.
31:6 Orang Israel dan orang Yehuda yang tinggal di kota-kota Yehuda juga membawa persembahan persepuluhan yang terdiri dari lembu sapi dan kambing domba, dan persembahan persepuluhan yang terdiri dari persembahan kudus yang telah dikuduskan bagi TUHAN Allah mereka. Semuanya itu diletakkan mereka bertimbun-timbun.
31:7 Mereka mulai membuat timbunan itu pada bulan yang ketiga, dan mereka selesai pada bulan yang ketujuh.
31:8 Hizkia dan para pemimpin datang melihat timbunan itu, dan mereka memuji TUHAN dan umat-Nya, orang Israel.
31:9 Hizkia menanyakan para imam dan orang-orang Lewi tentang timbunan itu,
31:10 dan dijawab oleh Azarya, imam kepala keturunan Zadok demikian: "Sejak persembahan khusus mulai dibawa ke rumah TUHAN, kami telah makan sekenyang-kenyangnya, namun sisanya masih banyak. Sebab TUHAN telah memberkati umat-Nya, sehingga tinggal sisa yang banyak ini."
31:11 Kemudian Hizkia menyuruh menyediakan bilik-bilik di rumah TUHAN dan mereka menyediakannya.
31:12 Dan dengan setia mereka membawa segala persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus itu ke sana. Konanya, seorang Lewi, mengawasi semuanya, dan Simei, saudaranya, adalah orang kedua,