Senin, 20 November 2017

Anjing dan Babi dalam Alkitab (30): Anjing Hidup Lebih Baik dari Singa Mati



Rabu, 22 November 2017
Bacaan Alkitab: Pengkhotbah 9:1-6
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. (Pkh 9:4)


Anjing dan Babi dalam Alkitab (30): Anjing Hidup Lebih Baik dari Singa Mati


Kitab Pengkhotbah adalah kitab yang ditulis oleh raja Salomo. Kitab ini berisi ajaran hikmat yang disampaikan oleh raja Salomo terkait dengan sikap yang benar terhadap kehidupan. Memang kitab ini adalah kitab di Perjanjian Lama, dimana isinya juga masih berorientasi pada prinsip-prinsip di Perjanjian  Lama. Namun demikian, ada sejumlah mutiara kebenaran yang masih tetap relevan untuk dikenakan bagi umat Tuhan di Perjanjian Baru.

Raja Salomo adalah raja yang sangat berhikmat dan bijaksana. Ia telah mengamat-amati dan memperhatikan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Fakta yang ia temukan adalah bahwa hidup setiap orang ada di tangan Allah. Manusia sama sekali tidak mengetahui apa pun yang dihadapinya di dunia ini (ay. 1). Artinya adalah kita sebagai manusia tidak akan bisa mengerti masa depan kita, seberapapun berhikmat manusia tersebut.

Semua orang memiliki nasib yang sama di hadapan Tuhan, baik orang benar maupun orang fasik, baik orang baik maupun orang jahat, baik orang yang tahir maupun orang yang najis, baik orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak, baik orang baik maupun orang berdosa, baik orang bersumpah maupun yang tidak (ay. 2). Tentu nasib di sini bukan berarti bahwa orang jahat juga akan tetap diberkati dibandingkan dengan orang benar, karena jika demikian maka manusia akan lebih memilih menjadi jahat daripada baik. Nasib yang sama di sini berbicara tentang akhir dari kehidupan semua manusia, yaitu ketika semua orang harus mati dan meninggalkan dunia ini.

Inilah kecelakaan yang dimaksud oleh raja Salomo, yaitu bahwa nasib semua orang adalah sama ketika mereka harus menghadapi kematian sebagai suatu kepastian (ay. 3a). Tentu pemahaman raja Salomo belum mengerti tentang adanya penebusan dosa melalui kematian Tuhan Yesus Kristus, sehingga umat Perjanjian Lama belum mengenal adanya rencana Allah bagi manusia yaitu keselamatan kekal. Oleh karena itu kita bisa menjadi paham jika kebanyakan tokoh Alkitab di Perjanjian Lama hanya berbicara sampai dengan kematian, dan tidak mengerti ada apa di balik kematian tersebut. Dalam hal ini jika orang memilih untuk hidup jahat dan bebal selama umur mereka, maka mereka dapat dipandang sebagai orang-orang yang celaka ketika mereka menuju alam orang mati (ay. 3b).

Jika seseorang sudah mati maka mereka sama sekali tidak dapat memperbaiki hidup mereka tersebut. Maka kesempatan untuk memperbaiki hidup adalah selama seseorang masih memiliki kesempatan untuk hidup. Itulah mengapa dikatakan bahwa anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati (ay. 4). Kita sudah belajar bahwa kata “anjing” dalam budaya Israel sering merujuk kepada binatang yang najis dan haram. Namun demikian ternyata raja Salomo berkata bahwa anjing yang hidup lebih baik dari singa yang mati. Fokus ayat ini bukan pada anjing dan singa, tetapi pada hidup dan mati. Seseorang yang najis dan penuh dosa masih lebih berharga ketika ia hidup karena ia masih memiliki kesempatan untuk bertobat dari dosa dan kenajisannya. Namun seekor singa yang mati sudah tidak berarti lagi karena sudah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Hal ini lebih diperjelas dalam ayat selanjutnya dimana dikatakan bahwa orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang sudah mati tidak tahu lagi akan kehidupan (ay, 5). Semua kenangan yang ada terhadap orang mati sudah tidak ada artinya, karena sudah tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahannya. Kesempatan yang ada hanyalah selagi manusia masih hidup di bawah matahari (ay. 6). Ketika manusia sudah mati dan berada di bawah tanah, maka semua sudah tidak berarti lagi.

Jadi apakah jika demikian kita harus hidup sebagai anjing yang melambangkan hidup dalam dosa dan kejahatan? Tentu tidak demikian. Kalaupun ada di antara kita yang saat ini masih hidup dalam dosa maka seharusnya ayat tersebut lebih membuat kita meninggalkan dosa dan kejahatan tersebut. Anjing hidup memang lebih baik daripada singa yang mati, tetapi jangan hal tersebut membuat kita tetap menjadi anjing hingga mati. Jangan biarkan diri kita hidup seperti anjing dan juga mati sebagai anjing. Tetapi bertobatlah supaya walaupun di masa lalu kita hidup sebagai anjing, suatu saat nanti kita akan mati sebagai anak-anak Allah yang telah bertobat, yang meninggalkan dosa dan kejahatan serta didapati setia berjuang melakukan kehendak Bapa di surga.



Bacaan Alkitab: Pengkhotbah 9:1-6
9:1 Sesungguhnya, semua ini telah kuperhatikan, semua ini telah kuperiksa, yakni bahwa orang-orang yang benar dan orang-orang yang berhikmat dan perbuatan-perbuatan mereka, baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah; manusia tidak mengetahui apa pun yang dihadapinya.
9:2 Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban. Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah.
9:3 Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusia pun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.
9:4 Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.
9:5 Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.
9:6 Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di ba

Minggu, 19 November 2017

Anjing dan Babi dalam Alkitab (29): Seperti Menangkap Telinga Anjing yang Berlalu



Selasa, 21 November 2017
Bacaan Alkitab: Amsal 26:17-21
Orang yang ikut campur dalam pertengkaran orang lain adalah seperti orang yang menangkap telinga anjing yang berlalu. (Ams 26:17)


Anjing dan Babi dalam Alkitab (29): Seperti Menangkap Telinga Anjing yang Berlalu


Dalam kehidupan ini, pasti setiap kita pernah mengalami konflik dengan orang lain. Bahkan konflik tersebut lebih sering terjadi di dalam keluarga, misalnya antara suami dengan istri, antara orang tua dengan anak, serta antara saudara dengan saudara. Konflik juga tidak hanya terjadi di kantor tetapi juga mulai timbul di sekolah atau kampus. Bahkan jika mau jujur, konflik sangat mungkin terjadi di lingkungan gereja, yaitu antara jemaat dengan jemaat, antara pendeta dengan jemaat, bahkan antara pendeta dengan pendeta.

Konflik lebih disebabkan karena adanya perbendaan pendapat dan pandangan antara dua pihak. Perbedaan itu sebenarnya tidaklah selalu salah, karena dalam segi positif hal tersebut dapat saling melengkapi sudut pandang kedua belah pihak tersebut. Sayangnya, di dunia yang sudah rusak ini, perbedaan tersebut sering disikapi sebagai konflik, bahkan hal tersebut dapat menimbulkan pertengkaran antara pihak-pihak yang berbeda pandangan. Bayangkan jika pertengkaran itu terjadi di gereja yang seharusnya menjadi suatu gambaran yang ideal akan orang-orang yang mengasihi Tuhan. Gereja yang harusnya menampilkan gambaran suasana surgawi justru bisa menampilkan suasana neraka ketika pertengkaran itu mulai membesar dan memuncak.

Pertengkaran antara kedua belah pihak itu dapat menjadi lebih tidak terkendali ketika ada orang-orang yang kemudian ikut campur dalam pertengkaran. Jika awalnya hanyalah perbedaan pandangan antara 2 pihak saja, maka pihak yang ikut campur dapat menambah runyam suasana. Amsal menulis bahwa orang-orang yang ikut campur dalam pertengkaran orang lain adalah seperti orang yang menangkap telinga anjing yang berlalu (ay, 17). Apakah artinya itu?

Jika ada anjing yang berjalan atau berlalu, sebenarnya orang tidak perlu repot-repot menangkap telinga anjing tersebut. Orang bisa saja membiarkan anjing tersebut berjalan tanpa mencoba mengusiknya apalagi menangkapnya. Namun ada orang-orang yang memang suka ikut campur dalam masalah orang lain. Mereka bisa melakukannya karena iseng, karena terpancing hasutan salah satu pihak, atau justru karena ingin masalah dan konflik tersebut menjadi lebih besar lagi. Tentu alternatif terakhir ini bisa terjadi karena yang bersangkutan memiliki kepentingan pribadi terhadap konflik tersebut. Sebagai contoh, jika ada konflik yang terjadi antara pendeta, mungkin ada orang-orang tertentu yang menginginkan konflik tetap terjadi karena ia mengincara jabatan pendeta di gereja tersebut.

Jika demikian yang terjadi, berarti orang tersebut memang sengaja mencari gara-gara atau mencari masalah. Anjing yang sedang berjalan atau berlalu dan tidak membahayakan, justru ditangkap telinganya oleh orang tersebut. Akibatnya tentu anjing akan menyalak, menggonggong bahkan menggigit. Ini sama saja dengan orang gila yang menembakkan panah api kepada orang lain supaya api semakin besar dan berkobar lama (ay. 18). Perhatikan bahwa orang-orang semacam ini memang membuat api membesar tetapi kemudian ia akan berkelit dan berkata bahwa ia tidak sengaja melakukannya. Ia akan membuat alasan bahwa ia tidak bermaksud membuat konflik menjadi lebih besar atau ia akan berkata bahwa ia tidak tahu bahwa tindakannya bisa mengakibatkan masalah (ay. 19). Padahal alasan itu hanyalah alasan yang dibuat-buat karena sebenarnya ia memiliki kepentingan pribadi di balik konflik yang terjadi. Kita harus berhati-hati terhadap orang-orang seperti ini, karena mereka pun juga ada di dalam gereja atau persekutuan.

Oleh karena itu kita harus memperhatikan apa yang menyebabkan api konflik atau api pertengkaran itu tetap menyala. Kita harus menjadi orang-orang yang berusaha memadamkan konflik dan pertengkaran yang terjadi. Dalam teori mengenai api ada 3 unsur yang membuat api tetap menyala, yaitu: panas, bahan bakar, dan oksigen. Jadi untuk memadamkan api, salah satu unsur harus dihilangkan. Untuk ukuran kitab Amsal yang ditulis sekitar 3.000 tahun yang lalu, hikmatnya sudah sangat luar biasa karena juga membenarkan teori tentang api tersebut. Amsal di ayat selanjutnya berkata bahwa bila kayu habis, maka padamlah api (ay. 20a). Tentu pemahaman manusia 3.000 tahun yang lalu belum secerdas di zaman modern ini. Mereka berpikir bahwa api hanya akan dapat padam jika bahan bakarnya (yang digambarkan sebagai kayu) sudah habis. Oleh karena itu, cara untuk memadamkan api adalah dengan menghilangkan faktor-faktor yang menjadi bahan bakar api tersebut.

Lanjutan ayat tersebut menguraikan apa yang dimaksud dengan kayu dan api. Jika api adalah suatu pertengkaran atau konflik yang terjadi, maka kayu adalah orang-orang yang menjadi “bahan bakar” sehingga api konfik terus menyala. Dalam ayat tersebut jelas bahwa kayu adalah gambaran dari orang-orang yang bertindak sebagai pemfitnah (ay. 20b). Kata pemfitnah dalam bahasa aslinya (bahasa Ibrani) adalah נִרְגָּן (nirgan) yang dapat diartikan sebagai  a slanderer, talebearer, whisperer” (seorang pemfitnah, pengadu/penggosip, atau pembisik). Jadi orang tipe ini bukan saja hanya orang yang suka memfitnah, tetapi ia juga memiliki ciri-ciri suka mengadu domba, menggosipkan orang lain (di belakang), dan membisik-bisikkan hal-hal yang dapat memicu konflik. Apa keuntungan bagi orang-orang seperti ini? Tentu karena konflik yang terjadi dapat menimbulkan keuntungan baginya, seperti ia dapat tampil seakan-akan sebagai seorang pahlawan, atau justru berakting sebagai seorang “korban”. Intinya semua itu dilakukan karena ada kepentingan atau ambisi pribadi.

Orang-orang seperti ini tentu menyukai pertengkaran dan perbantahan yang semakin panas. Orang seperti ini ibarat arang yang membuat bara terus menyala dan kayu yang membuat api  tetap menyala (ay. 21). Meskipun bara terlihat sudah padam di bagian luarnya, tetapi di di bagian dalamnya bara itu tetap menyala. Orang-orang yang menyukai pertengkaran dan perbantahan pasti tidak sungguh-sungguh ingin memadamkan bara tersebut. Mereka boleh terlihat memadamkan api tetapi dari dalam mereka menjaga supaya bara tersebut tetap menyala sehingga sewaktu-waktu dapat disulut kembali.

Penting bagi kita untuk menguji diri kita sendiri di pihak manakah kita berdiri. Apakah kita masih merupakan orang-orang yang menyukai konflik tetap terjadi? Ataukah kita adalah orang-orang yang berusaha memadamkan konflik yang sudah terlanjur terjadi? Menjadi pemadam kebakaran bukan berarti setuju terhadap penyebab kebakaran. Kita harus tetap memiliki idealisme tinggi mengenai standar kebenaran. Jangan hanya karena tidak ingin konflik terjadi maka kita harus menurunkan standar kebenaran Tuhan dan firman-Nya.

Standar kebenaran tetap harus dipasang setinggi mungkin, yaitu sesuai dengan kesempurnaan Allah. Ketika Tuhan Yesus hidup pun tetap terjadi konflik antara Tuhan Yesus dengan orang Farisi. Ketika jemaat mula-mula hidup pun tetap terjadi konflik antara mereka dengan orang Farisi dan juga dengan pihak kekaisaran Romawi. Dalam hal ini, Tuhan Yesus, para rasul dan jemaat mula-mula tetap memegang teguh standar yang seharusnya. Mereka tetap memerangi nabi-nabi palsu dan para pengajar-pengajar palsu. Namun demikian, mereka tidak menjadi orang-orang yang dengan sengaja membuat konflik tetap menyala bahkan semakin berkobar. Mereka tidak mau mengambil keuntungan pribadi dari konflik tersebut dan juga tidak membuat konflik demi kepentingan pribadi. Jika konflik tersebut harus terjadi karena membela kebenaran Tuhan, maka mereka siap menghadapinya. Tetapi selain karena kepentingan kerajaan surga, mereka berusaha untuk hidup damai dengan semua orang.



Bacaan Alkitab: Amsal 26:17-21
26:17 Orang yang ikut campur dalam pertengkaran orang lain adalah seperti orang yang menangkap telinga anjing yang berlalu.
26:18 Seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut,
26:19 demikianlah orang yang memperdaya sesamanya dan berkata: "Aku hanya bersenda gurau."
26:20 Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran.
26:21 Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan.

Sabtu, 18 November 2017

Anjing dan Babi dalam Alkitab (28): Seperti Anjing Kembali ke Muntahnya



Senin, 20 November 2017
Bacaan Alkitab: Amsal 26:7-11
Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya. (Ams 26:11)


Anjing dan Babi dalam Alkitab (28): Seperti Anjing Kembali ke Muntahnya


Bagian pertama dari kitab Amsal di pasal 26 ini memuat kata orang bebal dalam setiap ayatnya. Tentu penulis amsal ingin membandingkan antara orang yang bebal dengan orang yang benar. Apakah definisi orang bebal itu? Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan bebal sebagai “sukar mengerti, tidak cepat menanggapi sesuatu (tidak tajam pikiran), bodoh”. Sementara itu kata bebal yang digunakan di Amsal pasal 26 ini dalam bahasa aslinya adalah כְּסִיל (kesil) yang dapat berarti “stupid fellow, dullard, fool”. Dalam bahasa Indonesia, ketiga kata tersebut dapat diartikan sebagai orang yang bodoh. Namun kata “dullard” juga dapat diartikan sebagai orang yang lamban, dan kata “fool” juga dapat diartikan sebagai orang yang menipu atau mengelabuhi.

Dari ayat 1, pasal ini mengemukakan sifat-sifat dari orang bebal dan bagaimana kita harus bersikap terhadap orang bebal. Memang kita tidak membahas dari ayat 1 tetapi langsung ke ayat 7 saja untuk meringkas renungan ini. Orang bebal bukanlah orang yang bodoh karena IQ-nya rendah atau berpendidikan rendah. Justru orang bebal ini bisa jadi adalah orang yang pintar, mungkin dengan gelar S-1, S-2, bahkan S-3, tetapi kelakuannya justru berlawanan dengan tingkat pendidikan yang dimilikinya. Alkitab bahkan jelas menulis bahwa orang bebal pun bisa memiliki amsal di mulutnya (ay. 7a). Ini artinya orang bebal itu juga bisa menulis atau mengucapkan kata-kata yang terlihat bijak. Namun sebenarnya kata-kata bijak atau amsal tersebut ibarat kaki yang dimiliki oleh orang lumpuh, artinya tidak dapat dipergunakan sebagaimana mestinya (ay. 7b). Jadi meskipun orang yang lumpuh mempunyai kaki, tetapi kaki tersebut hanya akan menjadi semacam “hiasan” tanpa fungsi. Demikian pula amsal-amsal yang diucapkan oleh orang bebal itu hanya semacam pemanis saja tanpa dampak yang berarti.

Sayangnya, ada saja orang-orang yang merasa kagum dengan ucapan-ucapan orang bebal. Mereka bahkan mengagung-agungkan orang bebal tersebut karena memiliki amsal-amsal yang indah (ay. 8b). Tidak jarang mereka menghormati si orang bebal bahkan mengangkatnya melebihi orang-orang lain. Padahal orang yang benar tentu dapat membedakan manakah ucapan yang benar dan manakah amsal yang palsu. Tetapi orang-orang yang telah dibutakan mata hatinya tidak dapat melihat hal ini. Mereka justru menyanjung orang bebal setinggi langit bahkan memberi kehormatan kepada orang bebal tersebut. Itu sama saja dengan tindakan bunuh diri seperti menaruh batu di umban yang kemudian ternyata mengenai diri sendiri (ay. 8a).

Amsal di mulut orang bebal itu ibarat duri yang menusuk tangan si pemabuk (ay. 9). Orang-orang yang sedang mabuk tentu tidak sadar bahwa ucapan-ucapan orang bebal itu manis tetapi mematikan. Hanya orang-orang yang sadar dan tidak tidur yang tahu betapa duri bisa membahayakan jika menusuk tangannya. Oleh karena itu kita harus senantiasa bangun dan berjaga-jaga. Jangan sampai kita tertidur dan kemudian dininabobokan oleh ucapan orang bebal tersebut. Amsal yang benar pasti membangun orang kepada karakter ilahi. Amsal yang benar tidak menjilat dan menyanjung orang yang salah. Amsal yang benar pasti menegor kesalahan dan pasti menyakitkan bagi orang-orang berdosa. Oleh sebab itu kita perlu melatih telinga kita supaya tidak tertipu dengan ucapan-ucapan manis yang ujungnya justru akan mencelakakan kita.

Bahkan lebih lanjut, penulis amsal ini mengemukakan bahwa siapa yang mempekerjakan orang bebal dan orang-orang yang lewat itu ibarat pemanah yang melukai tiap orang (ay. 10). Ini berarti kita tidak boleh sembarangan menilai orang apalagi menilai semua orang adalah sama. Ibarat seorang tuan yang mencari pekerja, apakah mungkin kita sembarangan memilih karyawan di perusahaan kita? Tentu mereka harus dites dan diuji dulu sebelum dipercaya melakukan sesuatu yang penting. Memang kita tidak boleh menghakimi, tetapi kita harus berani untuk menguji dan menilai. Menghakimi secara sederhana adalah tahap menguji dan menilai sampai menjatuhkan hukuman kepada mereka. Kita tidak perlu menghakimi, tetapi kita berhak untuk menguji dan menilai. Jika memang hasil ujian dan nilai seseorang tidak sesuai dengan standar kita, kita berhak untuk menjaga jarak dengan orang tersebut. Karena jika kita sembarangan dalam memberi kesempatan kepada orang bebal tanpa mempertimbangkan risikonya, justru hal tersebut akan menjadi malapetaka bagi kita dan orang lain.

Sebagai contoh, jika ada seorang yang dikenal bebal, tidak mau diatur, masih suka hidup dalam dosa, tetapi memang ia memiliki talenta di bidang pelayanan, apakah gembala sidang atau pendeta harus memberikan kesempatan kepada orang bebal tersebut? Dalam hal ini kita harus bersikap bijaksana. Tentu orang bebal itu harus diberi kesempatan tetapi di sisi lain pendeta harus mendampingi dan mengarahkan. Betapa bahayanya jika karena faktor kedekatan saja maka orang yang bebal itu langsung diberikan jabatan wakil gembala sidang tanpa diuji terlebih dahulu dari hal-hal kecil dan sederhana. Mungkin sang pemimpin merasa memiliki hak prerogatif memilih orang-orang yang terlibat dalam pelayanan di gereja. Namun jika orang bebal dipekerjakan tanpa meminta hikmat dari Tuhan, apalagi jika langsung diberikan posisi yang tinggi dan terhormat, maka hal tersebut dapat menjadi bumerang baginya.

Salah satu ciri orang bebal yang akan kita bahas hari ini diilustrasikan dengan menggunakan binatang anjing. Sebagaimana telah kita bahas di atas, orang bebal bukanlah orang yang bodoh atau memiliki IQ rendah, akan tetapi adalah mereka yang terus menerus mengulangi kebodohannya tanpa mau mendengarkan nasehat dan tidak mau memperbaiki diri (ay. 11b). Kita paham bahwa semua manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Namun jika kesalahan demi kesalahan terus dilakukan tanpa adanya niat untuk mau berubah, itu menunjukkan kebebalan seseorang sehingga ia pantas disebut sebagai orang bebal.

Oleh karena itulah digunakan istilah “anjing yang kembali ke muntahnya” (ay. 11a). Saya sendiri tidak pernah memiliki binatang peliharaan anjing sehingga saya tidak tahu apakah memang anjing kembali ke muntahannya. Namun anjing sendiri dipandang sebagai binatang yang haram dan najis. Muntahan pun adalah sesuatu yang kotor dan menjijikkan, jadi muntahan anjing itu menggambarkan sesuatu yang kotor, menjijikkan, bahkan najis, dan itulah dosa-dosa di hadapan Tuhan. Orang bisa berdosa lalu bertobat dan minta ampun kepada Tuhan. Setelah bertobat pun, tidak menutup kemungkinan orang tersebut dapat berdosa lagi dan meminta ampun lagi kepada Tuhan dan terus menerus demikian. Tetapi orang bebal adalah orang yang sudah menikmati dosa-dosanya dan tidak memiliki niat untuk meninggalkan dosa-dosanya. Ia bisa saja berkata di depan orang banyak, “aku sudah bertobat, aku sudah berusaha menjadi lebih baik lagi”, tetapi sebenarnya kata-kata yang diucapkannya tersebut hanyalah bualan belaka. Ingat ayat di atas yang berkata bahwa di mulut orang bebal pun bisa terdapat “amsal” (walaupun sebenarnya adalah amsal yang palsu)? Oleh karena itu kita perlu berhati-hati terhadap orang bebal supaya kita tidak sampai ditipu olehnya.

Jika ada orang yang pernah meminjam uang kepada kita namun tidak pernah mengembalikan, tentu kita akan berhati-hati dalam meminjamkan uang lagi kepada orang tersebut. Misal orang tersebut berkali-kali meminjam Rp100 ribu tetapi ternyata tidak mau mengembalikan, tentu kalaupun meminjam lagi mungkin kita hanya akan memberi pinjaman maksimal sebesar Rp100 ribu pula. Tidak mungkin jika orang tersebut tidak pernah membayar pinjaman Rp100 ribunya dan terus menerus meminjam lagi, kemudian ia meminjam uang Rp10 juta dan kita berikan begitu saja. Ini adalah contoh bagaimana kita harus bersikap terhadap orang bebal supaya kita tidak salah mengambil keputusan. Berikan kesempatan pertobatan dari hal-hal kecil. Jika memang waktu membuktikan kesetiaan dan pertobatannya, barulah percayakan hal-hal yang lebih besar lagi kepadanya. Namun jika dalam hal kecil yang dipercayakan ternyata ia mengkhianati kepercayaan kita, maka tepatlah peribahasa tersebut: “seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya”.




Bacaan Alkitab: Amsal 26:7-11
26:7 Amsal di mulut orang bebal adalah seperti kaki yang terkulai dari pada orang yang lumpuh.
26:8 Seperti orang menaruh batu di umban, demikianlah orang yang memberi hormat kepada orang bebal.
26:9 Amsal di mulut orang bebal adalah seperti duri yang menusuk tangan pemabuk.
26:10 Siapa mempekerjakan orang bebal dan orang-orang yang lewat adalah seperti pemanah yang melukai tiap orang.
26:11 Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.