Minggu, 10 Juni 2018

Pornos dan Moichos (9): Keluar dari Dalam Hati


Minggu, 10 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Markus 7:20-23
Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. (Mrk 7:20-22)


Pornos dan Moichos (9): Keluar dari Dalam Hati


Sebelumnya saya minta maaf karena lebih dari 3 bulan saya off menulis renungan ini dikarenakan kesibukan saya yang benar-benar menyita waktu sehingga tidak sempat lagi menulis renungan. Namun saya harap secara bertahap saya juga bisa mulai kembali menulis renungan dengan rutin supaya kita semakin paham akan kebenaran.

Harus diakui, bacaan Alkitab kita hari ini adalah ayat-ayat yang paralel dengan apa yang ditulis di kitab Injil lainnya, yaitu di Matius 15:15-20, sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya. Tentu isi dari kedua perikop tersebut hampir sama (hanya ada perbedaan minor di beberapa kata, namun esensinya tetap sama). Namun demikian dalam renungan kita hari ini, saya hendak mengajak para pembaca untuk melihat satu hal yang penting, yang seringkali terabaikan oleh para pembicara di atas mimbar-mimbar gereja.

Tentu konteks ayat ini adalah ketika Tuhan Yesus adalah dalam hal makanan yang menajiskan. Bangsa Yahudi khususnya ahli Taurat dan orang Farisi sangat menjaga betul “kehalalan” (atau ke-kosher-an) makanan mereka.  Namun sayangnya mereka sangat memfokuskan akan kehalalan makanan tetapi lupa mempersoalkan apakah hidup mereka sudah “halal” di hadapan Tuhan.

Itulah sebabnya, Tuhan Yesus jelas berkata bahwa makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak menajiskan orang, tetapi apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya (ay. 20). Tentu dalam hal ini kita dapat mengerti bahwa dalam kekristenan, sudah tidak diperlukan lagi adanya syariat atau hukum mengenai makanan apa yang halal dan makanan apa yang haram. Semua halal, tetapi tidak semua berguna. Ini justru membuat orang Kristen menjadi cerdas, karena ukurannya bukan lagi adalah hukum yang tertulis, tetapi Tuhan akan menjadi hukum kita. Dalam segala hal kita akan berjuang untuk menentukan apakah apa yang kita makan itu memuliakan Tuhan atau tidak.

Satu hal yang menarik adalah penggunaan kata “keluar dari seseorang” yang diucapkan oleh Tuhan Yesus. Dalam bahasa aslinya di ayat ini, kata “keluar” menggunakan kata ekporeuomenon (ἐκπορευόμενον) dari akar kata ekporeuomai (ἐκπορεύομαι). Kata ini secara harafiah berarti go out from (pergi keluar dari). Namun kata ini juga memiliki penekanan yaitu emphasizing the outcome (end-impact) of going through a particular process or passage – i.e. the influence on the person (or thing) which comes forth. It links the source to the outcome (influence) on the object (as specified by the individual context) (menekankan hasil akhir/dampak akhir dari sesuatu yang melalui proses atau jalan/lorong tertentu, sebagai contoh adanya pengaruh dari orang/benda yang keluar. Kata ini juga menghubungkan antara sumber dengan hasil akhir/pengaruh terhadap objek (yang ditentukan oleh konteks secara individu)).

Jadi jelas bahwa kata “keluar” di ayat ini tidak memiliki makna sederhana seperti orang yang keluar ruangan begitu saja. Kata “keluar” di sini erat kaitannya dengan adanya suatu sumber, melalui suatu proses, dan hasil akhir yang pada akhirnya muncul. Oleh karena itu, jika kita melihat ayat-ayat berikutnya, disebutkan beberapa hal jahat yang dapat keluar dari diri seseorang, yaitu pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebebalan (ay. 21b-22). Ada 2 kata di ayat 21 dan 22 ini yaitu “percabulan” (porneiai dari kata dasar pornos) dan “perzinahan” (moicheiai dari akar kata moichos). Semua hal itu berasal dari dalam, yaitu dari hati seseorang (ay. 21a) dan kemudian keluar dalam bentuk suatu tindakan nyata yang terlihat oleh orang lain.

Dalam hal ini, Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa orang yang jelas melakukan hal-hal jahat tersebut tidak mungkin melakukannya tanpa sengaja atau secara tiba-tiba. Semua ada tatanan dan ada prosesnya. Dalam konteks percabulan dan perzinahan, seseorang tidak mungkin tiba-tiba bisa melakukan percabulan dan perzinahan (misal: berselingkuh dengan orang lain) secara tiba-tiba. Perselingkuhan tersebut pasti dimulai dari kebiasaan buruk semisal menonton film porno, membaca artikel-artikel yang menjurus ke percabulan dan perzinahan, atau bergaul dengan orang yang salah. Itulah sebabnya, jika ada seseorang yang sampai melakukan hal jahat yang nyata-nyata terlihat, maka semua itu adalah rangkaian proses panjang yang dimulai dari hal-hal yang kecil.

Oleh karena itu kita perlu bersikap jujur terhadap diri kita sendiri, mengenai isi hati kita. Kita mungkin belum sampai pada tahapan dimana kita berzinah atau berselingkuh dengan orang lain. Akan tetapi jika hidup kita masih penuh dengan segala hal yang merusak hati dan pikiran kita, maka sebenarnya perbuatan jahat tersebut adalah bom waktu yang siap “meledak” pada waktunya. Tuhan Yesus jelas menyatakan bahwa segala hal jahat itu muncul dari dalam hati seseorang (yaitu dari dalam pikiran) yang kemudian diwujudnyatakan dalam tindakan nyata.

Menjadi persoalan karena ayat 21 dan 22 juga memuat hal-hal yang sulit untuk dibuktikan secara nyata, misal hal keserakahan, kelicikan, iri hati, kesombongan, dan kebebalan (jika dibandingkan dengan percabulan, pembunuhan, perzinahan, dan lainnya). Namun saya percaya bahwa segala hal jahat yang disebutkan di ayat 21 dan 22 tersebut sebenarnya tidak dapat disimpan rapat-rapat. Suatu saat pasti keserakahan, iri hati, dan kesombongan akan menjadi nyata dari perkataan dan perbuatan hidupnya. Seorang yang memiliki hati serakah mungkin bisa saja tidak terlalu terlihat selama beberapa saat lamanya. Akan tetapi, pada momen-momen tertentu, keserakahan itu bisa nampak dan terlihat jelas, misalnya pada saat pembagian warisan, dimana orang tersebut bisa tiba-tiba menjadi ingin mendapatkan bagian warisan yang terbesar.

Hal ini justru lebih berbahaya bagi orang-orang yang terlibat dalam pelayanan di gereja atau persekutuan, terlebih mereka yang selama ini menjadi “pelayan mimbar” atau orang yang tampil di atas mimbar gereja (seperti pemimpin pujian/worship leader, pemusik, bahkan pembicara/pendeta). Mereka selama ini mungkin terlihat saleh bahkan dipandang baik di mata masyarakat apalagi di mata jemaat. Akan tetapi, pasti terdapat momen-momen tertentu yang dapat menunjukkan keserakahan, iri hati, bahkan kesombongan. Hal tersebut dapat terlihat ketika misalnya ada pemilihan ketua wilayah atau bahkan ketua sinode, maka para pendeta dapat bisa saling bersaing dan saling menjatuhkan. Bisa juga ketika ada jemaat yang kritis maka pendeta bisa merasa “terganggu” dan kemudian mencoba mempertahankan posisi dan kehormatannya di mata jemaat dengan menunjukkan bahwa dirinya adalah orang spesial di hadapan Tuhan, bahkan bisa mengatakan bahwa dirinya lebih hebat dibandingkan orang lain.

Dalam konteks percabulan dan perzinahan, saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa mereka yang sudah melayani sebagai “pelayan mimbar” justru sangat rawan jatuh dalam dosa seksual ini. Dalam pengalaman saya sebagai orang Kristen, tidak terhitung jumlah para pelayan gereja/persekutuan yang akhirnya hamil duluan sebelum menikah, berzinah, berselingkuh, dan lain sebagainya. Dan herannya lagi, dengan posisi mereka yang selama ini sering tampil di depan jemaat, mereka bisa mempertahankan diri mereka dengan segala macam dalih dan ayat-ayat Alkitab yang sebenarnya diputarbalikkan.

Saya tidak ingin menyalahkan mereka yang sudah jatuh dalam dosa percabulan dan perzinahan di gereja. Akan tetapi, seseorang yang menyadari kesalahannya seharusnya tidak perlu membela diri secara berlebihan tetapi cukup mengakui kesalahannya dan bertobat untuk menjadi lebih baik lagi. Ini juga menjadi peringatan keras bagi kita untuk menjaga hati kita dengan sangat hati-hati. Kita perlu benar-benar menjaga hati dan pikiran kita supaya tidak ada celah sedikit pun untuk melakukan kejahatan. Dosa besar biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang dibiarkan.

Ingat bahwa semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang (ay. 23). Kata “timbul dari dalam” dalam bahasa aslinya adalah esōthen (ἔσωθεν) yang berarti dari dalam, dari bagian dalam manusia (yaitu hati manusia) dan ekporeuetai (ἐκπορεύεται) dengan makna yang sama dengan kata di ayat 20 di atas. Semakin jelas bahwa Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa cara untuk mencegah kejahatan tersebut adalah dengan cara menjaga hati. Menjaga hati di sini bukan hanya berkata “Tuhan, jagalah hatiku”, tetapi dengan berjuang untuk berkenan kepada Tuhan setiap saat, dari jam ke jam dan dari menit ke menit. Menjaga hati dimulai dari hal-hal yang kecil dimana kita berusaha untuk hidup berkenan kepada Tuhan. Sama seperti orang tidak mungkin dapat melakukan kejahatan besar tanpa dimulai dari kejahatan-kejahatan kecil, maka orang pun tidak mungkin dapat hidup berkenan kepada Tuhan dalam perkara-perkara besar tanpa berjuang berkenan dari hal-hal yang kecil.
Kejahatan itulah yang sebenarnya akan menajiskan orang. Kata “menajiskan” dalam bahasa aslinya adalah koinoi (κοινοῖ) dari akar kata koinoó (κοινόω) yang memiliki makna “make unclean, pollute, desecrate, treating what is sacred as common or ordinary” (membuat najis, mencemari/mengotori, menodai, memperlakukan apa yang sakral/kudus sebagai hal yang biasa/wajar). Makna ini begitu dalam karena selama ini saya berpikir bahwa kata “menajiskan” di ayat ini sama halnya dengan menjadikan kotor. Tetapi menajiskan di sini juga dapat berarti ketika kita memperlakukan sesuatu yang seharusnya kudus sebagai hal yang biasa saja. Oleh karena itu hal-hal jahat yang ada di ayat 21 dan 22 ini sebenarnya memang menajiskan/mengotori hidup. Namun demikian, ini pun dapat menjadi warning bagi kita bahwa ketika kita menganggap sesuatu yang kudus sebagai hal yang biasa, maka itu pun adalah suatu hal yang menajiskan. Betapa berbahayanya kita pada akhirnya menjadi immune (kebal) terhadap Firman Tuhan dan menganggap bahwa kejahatan adalah hal yang biasa. Betapa berbahayanya juga ketika kita menjadi kebal dan tidak pernah mempersoalkan isi hati kita di hadapan Tuhan. Justru Firman Tuhan di sini harus menjadi peringatan keras bagi kita untuk tidak hanya menjaga kelakuan dan image di hadapan manusia, tetapi justru kita harus menjaga hati kita supaya tetap bersih dan berkenan di hadapan Allah Bapa, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap saat.



Bacaan Alkitab: Markus 7:20-23
7:20 Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,
7:21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,
7:22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
7:23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Minggu, 04 Maret 2018

Pornos dan Moichos (8): Bisa Mendahului Masuk ke dalam Kerajaan Surga



Minggu, 4 Maret 2018
Bacaan Alkitab: Matius 21:28-32
Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (Mat 21:31b-32)


Pornos dan Moichos (8): Bisa Mendahului Masuk ke dalam Kerajaan Surga


Perikop yang akan kita bahas dalam renungan kita hari ini mungkin lebih dikenal dengan perumpamaan 2 orang anak. Dikisahkan bahwa ada seorang bapa yang memiliki 2 orang anak laki-laki, yaitu yang sulung dan yang bungsu. Sang bapa menyuruh anak sulungnya untuk pergi dan bekerja di dalam kebun anggur. Anak yang pertama menjawab “Ya Bapa”, tetapi ia tidak pergi (ay. 28). Selanjutnya sang Bapa pun berkata kepada anaknya yang bungsu dengan kalimat yang sama, tetapi anak yang bungsu menjawab bahwa ia tidak mau pergi. Namun demikian si bungsu kemudian menyesal dan akhirnya pergi juga (ay. 29). Dari perumpamaan tersebut, Tuhan Yesus kemudian bertanya kepada orang yang mendengarkan-Nya (termasuk imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi yang datang kepada-Nya (Mat 21:23), selain orang banyak yang sudah ada di situ), siapakah dari kedua anak tersebut yang melakukan kehendak ayahnya (ay. 30a).

Mereka pun serempak menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu yang terakhir (ay. 30b), yaitu si anak bungsu yang walaupun berkata “tidak” tetapi pada akhirnya ia mau juga melakukan kehendak ayahnya. Jelas di sini semua orang sepakat bahwa tindakan nyata lebih baik daripada sekedar perkataan yang hanya menjadi wacana. Tentu selama ini kita berpikir bahwa makna perumpamaan tersebut hanya berhenti sampai di situ. Tetapi ternyata Tuhan Yesus tidak berhenti sampai di situ. Tuhan Yesus melanjutkan ucapan-Nya bahwa sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah (ay. 30c).

Lho, mengapa Tuhan Yesus tiba-tiba berkata seperti itu? Jika kita cermat membaca ayat-ayat sebelumnya dan juga sesudahnya, maka kita akan mengerti bahwa yang dimaksud dengan anak sulung adalah orang Israel/Yahudi, khususnya mereka yang mengaku sebagai pemimpin Yahudi, seperti para imam, ahli Taurat, dan orang Farisi/Saduki. Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa mereka adalah seperti anak sulung, yaitu mereka yang sebenarnya “terpilih” untuk mendapatkan hak istimewa (karena dalam  budaya Yahudi anak sulung menerima warisan 2 bagian sementara adik-adiknya masing-masing hanya menerima 1 bagian). Hal istimewa itu adalah kesempatan untuk mengenal Allah yang benar, memperoleh hukum langsung dari Allah, dan kesempatan untuk menjadi bangsa yang akan melahirkan Mesias.

Bangsa Israel sungguh mendapatkan kesempatan yang luar biasa dalam rencana penyelamatan Allah bagi manusia. Sayangnya, mereka menjadi sombong dan terjebak pada suatu rutinitas keagamaan yang hampa dan kosong. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan perumpamaan yang demikian. Bangsa Israel/Yahudi diibaratkan sebagai anak sulung yang seharusnya lebih dewasa (karena lebih lama mengenal ayahnya dibandingkan dengan anak bungsu) tetapi ternyata mereka tidak mengerti apa kehendak ayahnya. Ketika sang ayah berkata kepada anak sulung itu, anak sulung hanya berkata “ya” tetapi tidak mau melakukannya. Ini menunjukkan bagaimana orang Israel/Yahudi tidak pernah menunjukkan hidup seperti anak sulung yang seharusnya ditunjukkan, sebagai calon penerus pekerjaan ayahnya atau calon penerima warisan ayahnya (yang berupa kebun anggur).

Sebagai dampak dari tidak dilakukannya kehendak ayahnya, kemudian sang ayah berpaling kepada anak bungsu. Anak bungsu pada umumnya bersifat lebih cuek dan lebih bandel. Hal ini tentu karena umur mereka lebih sedikit daripada anak sulung, dan tentu lebih sedikit waktu untuk belajar mengenal kehendak ayahnya. Dalam perumpamaan yang lain, ditunjukkan adanya anak bungsu yang meminta bagian warisan lalu pergi meninggalkan ayahnya (Luk 15:11-32). Hal yang sama nyaris ditunjukkan oleh si anak bungsu dalam perumpamaan ini, dimana ia menjawab “tidak mau” ketika ayahnya memintanya untuk pergi dan bekerja di kebun anggur. Akan tetapi ternyata kemudian si anak bungsu menyesal dan pergi juga ke kebun anggur untuk bekerja di sana walaupun sebelumnya ia berkata “tidak mau”.

Jadi dalam hal ini kita harus menyadari bahwa anak yang menyenangkan hati ayahnya adalah ia yang melakukan kehendak ayahnya, bukan hanya sekedar perkataan di mulut semata. Semua orang yang mendengar khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu juga menyetujui bahwa anak yang melakukan kehendak ayahnya adalah yang terakhir. Ini tentu menjadi peringatan keras kepada mereka yang mengaku lebih dahulu mengenal Tuhan tetapi tidak mau berubah dan bertobat. Bertobat di sini dapat diartikan sebagai menyadari kesalahannya dan kemudian melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa kita. Anak yang sulung tidak bertobat meskipun berkata “ya” karena ia tidak mau melakukan ucapannya. Anak yang bungsu, jika ia berkata “tidak” dan kemudian menyesal, itu bukanlah pertobatan sampai jika ia mau melakukan kehendak ayahnya. Jika ia hanya menyesal dengan ucapannya, lalu kembali tidur lagi tanpa pergi ke ladang, itu bukanlah pertobatan. Jadi jelas bahwa pertobatan adalah hal yang sangat pribadi, dimana mungkin hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu apakah kita benar-benar bertobat atau  hanya ucapan pertobatan di mulut saya.

Saya pun baru menyadari bahwa dalam perikop ini ternyata ada kata perempuan sundal, yang dalam bahasa aslinya menggunakan kata pornai (πόρναι) dari akar kata porné (πόρνη). Kata porné adalah kata feminim dari kata pornos. Itulah sebabnya dalam Alkitab, kata porné seluruhnya diterjemahkan sebagai perempuan sundal atau pelacur dan tidak digunakan untuk merujuk kepada gender laki-laki. Kata porné sendiri dapat  bermakna a woman who sells her body for sexual uses (seorang perempuan yang menjual tubuhnya untuk keperluan seksual) atau any woman indulging in unlawful sexual intercourse, whether for gain or for lust (Setiap perempuan yang melakukan hubungan seksual yang tidak sah, baik untuk mendapatkan sesuatu atau hanya untuk nafsu semata). Perempuan sundal dan pelacur ini sudah ada sejak zaman nenek moyang bangsa Israel, dan tetap ada di masa Tuhan Yesus hidup, bahkan tetap ada sampai saat ini.

Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu (secara khusus kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, namun secara umum juga kepada orang Yahudi yang mendengarkan-Nya) masuk ke dalam kerajaan Allah (ay. 31b). Oleh karena itu yang penting adalah bukan pada masa lalu kita. Saya yakin bahwa ada di antara kita yang memiliki masa lalu yang kelam. Seburuk apapun masa lalu kita di hadapan Tuhan, ketika kita mau sungguh-sungguh bertobat, maka Tuhan pasti menghargai pertobatan kita.

Menarik melihat penggunaan kata pornai/pornos dalam ayat ini, dimana kita tahu bahwa kata pornos ini menunjukkan tingkatan dosa yang lebih parah dari sekedar moichos. Saya melihat bahwa dalam ayat ini Tuhan hendak menunjukkan bahwa walaupun seseorang dahulu adalah orang yang berdosa, bahkan sampai benar-benar menjadi pelacur atau perempuan sundal, tetapi jika ia sungguh-sungguh bertobat, maka pertobatannya tersebut akan menyelamatkan dirinya. Tentu di sini pertobatan tidak sekedar datang ke gereja/KKR lalu menangis tersedu-sedu dan esoknya kembali ke dosa yang lama. Di sini pertobatan harus dimaknai sebagai suatu tindakan nyata yang berbalik 180 derajat dari dosa kepada kebenaran, dari kejahatan kepada kebaikan, dari persundalan/pelacuran kepada kekudusan hidup.

Pelacur atau perempuan sundal adalah pihak yang dipandang hina oleh orang Yahudi, dan juga oleh sebagian besar suku bangsa di dunia ini. Tidak hanya di masa lalu, di masa kini pun orang dengan dosa seksual apalagi mereka yang berprofesi sebagai pelacur/perempuan sundal pasti dianggap najis oleh orang lain. Tentu kita harus membedakan antara penggunaan kata pornos dalam kaitannya dengan pernikahan dan perceraian dengan kata pornos dalam ayat ini yang menunjukkan contoh tindakan dosa yang ekstrem tetapi mereka masih dapat diselamatkan jika benar-benar bertobat. Penggunaan kata pornos di ayat ini bukan berarti Tuhan Yesus hendak membolehkan orang percaya melakukan dosa pornos dan kemudian bertobat. Tetapi penggunaan kata pornos di ayat ini merujuk pada orang-orang yang sebelum mendengar berita Injil memang sudah berkeadaan sebagai pelacur/perempuan sundal. Setelah mereka mendengar Injil, maka mereka akan dihakimi menurut respon mereka terhadap Injil. Jika mereka sungguh-sungguh bertobat setelah mendengar Injil, maka mereka dapat masuk ke dalam kerajaan surga, bahkan bisa mendahului orang Farisi dan ahli Taurat.

Mengapa orang Farisi dan ahli Taurat bisa didahului oleh para pemungut cukai dan perempuan sundal? Karena orang Farisi dan ahli  Taurat sudah mendengar kebenaran (yang dimulai sejak Yohanes Pembaptis mengajak orang banyak bertobat dan memberi diri dibaptis) tetapi mereka tidak mau percaya kepadanya (ay. 32a). Kata “percaya” di ayat ini dalam bahasa aslinya menggunakan kata episteusate (ἐπιστεύσατε) dari akar kata pisteuó (πιστεύω) yang tidak hanya berarti sekedar yakin, tetapi sampai benar-benar menyerahkan diri kepada objek yang kita percayai. Secara singkat, pisteuó tidak hanya cukup sampai di tingkat keyakinan pikiran saja, tetapi harus sampai ditunjukkan dengan tindakan yang nyata. Orang farisi dan ahli Taurat tidak dapat dikatakan percaya kepada jalan kebenaran yang ditunjukkan/diajarkan oleh  Yohanes Pembaptis karena mereka saja tidak mau dibaptis olehnya (Luk 7:30).

Hal sebaliknya ditunjukkan oleh orang-orang berdosa seperti pemungut cukai dan perempuan sundal yang percaya kepada Yohanes Pembaptis dan mau dibaptis olehnya (ay. 32b). Jadi jelas bahwa ukuran percaya seseorang tidak mungkin tidak terlihat, tetapi pasti terlihat dari sikap dan perbuatan sehari-hari. Orang yang percaya kepada Tuhan dengan benar, pasti kualitas hidupnya akan memancarkan keagungan Tuhan. Memang kita juga tidak tahu apakah mereka yang dibaptis oleh Yohanes itu sungguh-sungguh bertobat atau tidak. Tetapi setidaknya mereka memiliki niat untuk bertobat, dibandingkan dengan orang Farisi dan ahli Taurat yang memandang rendah Yohanes Pembaptis dan tidak mau dibaptis (karena merasa diri mereka sudah benar).  

Bahkan lebih parah lagi, orang Farisi dan ahli Taurat yang melihat sendiri pertobatan pemungut cukai dan perempuan sundal (yaitu mereka yang bersedia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis), mereka tidak menyesal sama sekali. Hati mereka sekaan-akan sudah membatu melihat pertobatan orang lain dan tetap tidak merasa harus bertobat juga. Kata “menyesal” dalam ayat ini adalah metemelēthēte (μετεμελήθητε) dari akar kata metamelomai (μεταμέλομαι). Kata ini berasal dari 2 kata yaitu kata metá (μετά) yang bermakna change after being with (berubah setelah bersama-sama dengan) dan kata mélō (μέλει) yang bermakna care, be concerned with (perhatian, peduli dengan). Jadi kata metamelomai di sini menunjukkan adanya suatu perubahan (khususnya di pikiran) setelah ia bersama-sama dengan pihak lain dan memperhatikan pihak lain tersebut.

Kata metamelomai ini juga digunakan di ayat 30 sebagai untuk menunjukkan bahwa anak bungsu menyesal dan kemudian pergi juga ke ladang melakukan kehendak ayahnya. Si anak tentu saja tidak menyesal begitu saja, tetapi karena adanya interaksi antara dirinya dengan ayahnya. Mungkin saja setelah si bungsu menolak, ia kemudian melihat ayahnya bersiap-siap pergi ke ladang atau melihat raut muka ayahnya yang sedih. Adanya interaksi antara si bungsu dengan ayahnya (walaupun interaksi tersebut mungkin hanya melihat dari kejauhan tanpa adanya komunikasi verbal), membuat si anak bungsu menyesal dan melakukan apa yang dikehendaki ayahnya. Jelas bahwa anak bungsu melakukan tindakan nyata sebagai bukti nyata dari penyesalannya.

Kata metamelomai ini juga digunakan untuk menunjukkan penyesalan Yudas setelah ia melihat Tuhan Yesus pada akhirnya dijatuhi hukuman mati (Mat 27:3). Jika Yudas saja bisa menyesal dan berubah pikiran (walau pada akhirnya ia bunuh diri juga dan tidak memperbaiki kesalahannya), maka tentu orang Farisi dan ahli Taurat yang sudah melihat pertobatan pemungut cukai dan perempuan sundal, bahkan berinteraksi langsung dengan Tuhan Yesus melalui ajaran dan khotbah-Nya, seharusnya lebih mudah bertobat. Nyatanya tidak demikian, orang Farisi dan ahli Taurat tidak mau bertobat dan tidak mau percaya. Ini menunjukkan bahwa mereka memang tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang sudah disediakan Tuhan melalui peristiwa-peristiwa di sekitar mereka. Ada banyak kesempatan untuk bertobat melalui orang-orang di sekitar mereka, tetapi mereka tidak memedulikannya. Tidak salah jika Tuhan Yesus berkata bahwa pada akhirnya, para pemungut cukai dan perempuan sundal (yang benar-benar bertobat) akan mendahului orang Farisi dan ahli Taurat masuk ke dalam kerajaan surga.

Persoalannya, di sisi mana kita berdiri saat ini? Apakah kita ada di pihak anak sulung yang tidak mau melakukan kehendak ayahnya dan orang Farisi yang tidak mau bertobat? Atau kita ada di pihak anak bungsu yang walaupun sempat menolak ayahnya atau seperti perempuan sundal punya masa lalu yang kurang baik tetapi pada akhirnya sungguh-sungguh bertobat dan melakukan kehendak Bapa di surga. Manfaatkan sisa waktu hidup kita di dunia ini selagi masih ada kesempatan. Ingat bahwa hanya perempuan sundal yang bertobat yang masuk ke dalam kerajaan surga, sementara perempuan sundal yang tidak mau bertobat tentu tidak akan dapat masuk ke dalam kerajaan surga.



Bacaan Alkitab: Matius 21:28-32
21:28 "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.
21:29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.
21:30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.
21:31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.
21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."

Minggu, 25 Februari 2018

Pornos dan Moichos (7): Salah Satu Perintah Allah



Senin, 26 Februari 2018
Bacaan Alkitab: Matius 19:16-19
Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Mat 19:18-19)


Pornos dan Moichos (7): Salah Satu Perintah Allah


Bagian bacaan Alkitab kita pada hari ini memang sengaja saya tidak ambil keseluruhan perikop, karena luasnya pembahasan kita mengenai kata pornos dan moichos. Perikop ini sebenarnya berbicara tentang seorang yang datang kepada Tuhan Yesus dan bertanya, “perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ay. 16). Tentu kalimat di atas bisa menjadi bahan ejekan bagi orang Kristen: “Mau hidup kekal kok lewat perbuatan baik? Kalau mau hidup kekal ya percaya saja sama Tuhan Yesus pasti selamat”.

Akan tetapi, menarik melihat jawaban Tuhan Yesus bahwa Ia tidak menyalahkan orang tersebut yang bertanya demikian kepada Tuhan Yesus. Tuhan bahkan tidak bilang kepada orang tersebut: “perbuatan baik itu tidak bisa menyelamatkan, percaya saja kepada-Ku supaya selamat”. Mengapa Tuhan Yesus tidak menyalahkan orang yang bertanya tersebut?

Setidaknya ada 2 kemungkinan: Kemungkinan pertama, konteks masa itu adalah dimana Tuhan Yesus sedang melakukan pelayanan-Nya. Ia belum mati di atas kayu salib. Oleh karena itu, masa-masa itu adalah masa-masa transisi dari Perjanjian Lama (yaitu hukum Taurat atau agama Yahudi) kepada Perjanjian Baru (yaitu kekristenan). Kemungkinan pertama ini memperkirakan Tuhan Yesus masih memaklumi hidup orang Yahudi pada waktu itu yang mencari hidup yang kekal melalui perbuatan baik.

Namun ada pula kemungkinan kedua, yaitu bahwa perbuatan baik adalah bukti nyata dari iman yang benar. Alkitab berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). Jadi iman yang benar harus terlihat dari perbuatan yang benar. Orang yang beriman dengan benar pasti juga berbuat benar. Tidak mungkin orang yang memiliki iman yang benar kepada Tuhan, tetapi hidupnya masih suka mencuri, merampok, membunuh, berzinah, dan lain sebagainya. Iman yang benar pasti terwujud melalui karakter kehidupan yang benar. Tetapi hal ini tentu tidak boleh dibalik, dalam artian hanya berusaha terlihat baik dari luar tetapi hatinya busuk (seperti yang dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat).

Dalam bahasa aslinya, kata “perbuatan baik” adalah agathon (ἀγαθὸν) dari akar kata agathos (ἀγαθός). Kata agathos ini adalah kata adjective (keterangan) yang tidak hanya bermakna good (baik) tetapi juga upright, honorable (jujur, tulus, lurus, terhormat, luhur, mulia). Jadi kata agathos di sini sebenarnya lebih tepat diterjemahkan “hal-hal yang baik” atau “kebaikan” dan tidak hanya “perbuatan yang baik” saja. Orang tersebut sadar bahwa ia merindukan hidup yang kekal, dan tentu untuk memperolehnya, ia harus melakukan apa ayang baik. Orang tersebut hendak bertanya kepada Tuhan: “Kebaikan apakah yang harus kulakukan supaya memperoleh hidup yang kekal Tuhan?”. Ia sadar bahwa untuk memperoleh hidup yang kekal, harus ada suatu kebaikan yang sampai kepada level berkenan kepada Tuhan, sampai kepada level yang sesuai dengan standar Tuhan.

Kata “hidup yang kekal” dalam ayat ini menggunakan 2 kata, yaitu kata zóé (ζωή) dan aiónios (αἰώνιος). Kata zóé di sini bermakna life (hidup), tetapi berbeda dengan kata lain yaitu bios (βίος) yang juga bermakna life (hidup). Kata bios lebih merujuk pada kehidupan secara fisik di bumi, seperti kehidupan binatang. Sementara kata zóé lebih merujuk kepada kehidupan baik fisik maupun spiritual (jiwa/roh). Jadi zóé bermakna lebih luas daripada bios, karena juga merujuk pada kehidupan jiwa/roh yang tidak hanya di bumi ini tetapi juga nanti di dalam kekekalan. Menarik bahwa orang yang bertanya kepada Tuhan Yesus tadi sudah menggunakan kata zóé dan bukannya kata bios. Ini menunjukkan bahwa orang tersebut memang sudah berjuang untuk hidup benar demi hidup (zóé). Itulah sebabnya ia bertanya kepada Tuhan untuk mendapat petunjuk.

Ada tambahan kata aiónios dalam ayat tersebut yang bermakna eternal, unending (abadi, kekal, tanpa ujung, tanpa akhir). Kata aiónios tidak hanya berbicara mengenai lamanya waktu/masa (seperti yang dibayangkan kebanyakan orang, bahwa kekekalan itu adalah suatu waktu yang tak terbatas), tetapi juga berbicara mengenai kualitas dari waktu/masa itu. Jadi hidup kekal tidak dimulai nanti ketika kita mati, tetapi sudah dimulai dan dipersiapkan sejak saat ini. Hidup kekal adalah hidup yang berkualitas, yaitu memiliki kualitas seperti yang Tuhan ingini. Mungkin saja orang yang bertanya kepada Tuhan ini sudah merasa hidup benar secara hukum Taurat, tetapi ia ingin memastikan apakah yang harus ia lakukan supaya bisa mendapatkan hidup yang kekal, yaitu hidup yang berkualitas?

Dalam menanggapi pertanyaan orang tersebut, Tuhan Yesus tidak langsung menjawabnya, tetapi justru berbalik bertanya kepadanya: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah” (ay. 17). Dalam ayat ini Tuhan Yesus mempersoalkan mengapa ia bertanya kepada-Nya mengenai apa yang baik? Hanya Satu yang baik, yaitu Allah. Oleh karena itu standar kebaikan harus dilihat dari standar Allah. Suatu tindakan bisa dikatakan baik menurut manusia, tetapi harus dipersoalkan apakah itu juga baik dari sudut pandang Allah?

Sebenarnya kalimat tersebut merupakan pengantar kepada jawaban atas pertanyaan orang tersebut. Tuhan Yesus hendak menekankan bahwa perbuatan baik tidak menyelamatkan jika perbuatan baik itu hanya dilakukan menurut hukum. Akan tetapi jika seseorang menyadari bahwa Allah itu adalah baik, dan satu-satunya yang baik (yaitu satu-satunya standar kebaikan yang benar), maka ia harus mencari tahu apakah kebaikan yang dikehendaki oleh Allah untuk dilakukan manusia. Beruntungnya bagi orang Israel/Yahudi, mereka telah memiliki hukum Taurat yang diberikan oleh Allah sendiri kepada nenek moyang mereka.

Sebenarnya, perintah Allah (dalam konteks dekalog) juga dimiliki oleh banyak bangsa di dunia ini (selain bangsa Yahudi). Pastilah di seluruh bangsa ada aturan untuk menghormati orang tua, untuk tidak membunuh, untuk tidak mencuri, dan lain sebagainya. Ini tentu saja menunjukkan bahwa manusia setelah jatuh dalam dosa tidak rusak sepenuhnya, tetapi masih memiliki nurani yang baik (walaupun tentu tidak sempurna). Namun dalam konteks orang Israel/Yahudi, mereka sudah memiliki hukum yang  jelas, khususnya dalam hal dekalog/10 perintah Allah. Itulah sebabnya ketika orang tadi bertanya, perintah Allah yang mana? (ay. 18a).

Tuhan Yesus menjawab dengan lugas: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ay. 18b-19). Itu adalah perintah-perintah yang ada di dalam 10 Perintah Allah (dekalog), khususnya mulai perintah ke-5 sampai ke-10 (walaupun tidak semua disebutkan oleh Tuhan Yesus). Bahkan sebenarnya kesimpulan dari perintah ke-5 sampai ke-10 ini sudah termuat dalam satu kalimat, yaitu: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Ringkasan hukum tersebut juga sudah diucapkan oleh Tuhan Yesus dalam sejumlah kesempatan lain (Mat 22:39, Mrk 12:31, Luk 10:27). Paulus dan Yakobus juga mengemukakan hal yang sama dalam tulisan mereka (Rm 13:9, Gal 5:14, Yak 2:8).

Dalam bahasa yang lain, kesimpulan hukum Taurat tersebut juga dapat dibahasakan seperti ini: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Intinya adalah bahwa jika kita tidak mau disakiti, jangan menyakiti. Jika kita tidak mau dibunuh, jangan membunuh. Jika harta kita tidak mau dicuri, jangan mencuri. Ini juga berlaku dalam hal perzinahan (atau lebih tepatnya persetubuhan dengan orang lain), dimana jika kita tidak ingin ada anggota keluarga kita yang disetubuhi orang lain di luar lembaga pernikahan, maka kita pun jangan melakukan hal itu.

Perintah “jangan berzinah” yang dikutip oleh Tuhan Yesus sebenarnya juga sudah ada sejak Perjanjian Lama, lebih tepatnya di dalam kitab Keluaran (Kel 20:14). Kita telah belajar dari seri-seri sebelumnya bahwa tingkatan kata pornos jauh lebih parah dibandingkan dengan moichos. Menariknya, dalam ayat 18 ini, kata yang digunakan dalam kalimat “jangan berzinah” justru adalah kata moicheuseis (μοιχεύσεις) dari akar kata moicheuó (μοιχεύω), yang juga adalah kata yang sama yang digunakan Tuhan Yesus dalam Mat 5:27. Mengapa kalimat “jangan berzinah” menggunakan kata moicheuó dan bukannya pornos atau porneuó yang bermakna lebih parah daripada kata moicheuó?

Tentu dalam hal ini, kita harus sadar bahwa orang tidak bisa langsung atau secara tiba-tiba menjadi sangat jahat atau sebaliknya secara tiba-tiba menjadi sangat baik. Seperti contoh, orang yang melakukan korupsi hingga miliaran atau triliunan Rupiah tidak mungkin tiba-tiba melakukannya tanpa terlebih dahulu melakukan korupsi ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta. Sikap ini mungkin dimulai sejak zaman kanak-kanak dimana ia sudah terbiasa mencontek, mengambil barang milik orang lain, dan sebagainya. Karena tidak ketahuan, maka setelah bekerja ia juga sering mengambil apa yang bukan menjadi haknya mulai dari hal kecil dan kemudian berkembang menjadi lebih besar, hingga ia tertangkap.

Dalam hal perzinahan, tentu seseorang tidak akan menjadi pornos jika tidak didahului dengan moichos-moichos yang selama ini dilakukannya. Orang tidak mungkin bisa menjadi pelacur jika ia di masa lalu tidak mencoba-coba menonton film porno, lalu melakukan dengan pacarnya, kemudian mulai melakukannya dengan orang lain, sampai akhirnya melakukan dengan siapa saja dengan imbalan uang/kenikmatan. Itulah sebabnya Allah begitu cerdas hingga memberikan hukum yang berbunyi jangan berzinah (jangan melakukan moicheuó. Hal ini mengandung makna supaya umat percaya tidak terbiasa melakukan moicheuó hingga nanti menjadi porneuó dan tidak dapat diperbaiki lagi. Selain itu perintah Allah tersebut juga mengandung makna bahwa Allah adalah Maha Kudus dan Maha Suci. Walaupun moicheuó tidak terlalu membahayakan dibandingkan dengan porneuó, namun bagi Allah yang Maha Suci, satu tindakan moicheuó pun sudah merupakan kemelesetan di hadapan Allah.

Ingat bahwa ini adalah perintah dari Allah sendiri. Kata “perintah” dalam bahasa aslinya adalah entolas (ἐντολάς) dari akar kata entolé (ἐντολή) yang dapat berarti an injunction, order, command, commandment (perintah, keputusan, pesan/pesanan, titah, firman, hukum). Kata yang sama juga digunakan dalam Yohanes 14:15. Ini menunjuk pada suatu hukum atau perintah yang memang mengikat dan harus dilakukan oleh setiap umat yang mengaku percaya kepada Allah. Bagi umat Israel/Yahudi, karena mereka mengaku bahwa mereka adalah umat Allah, maka mereka mau tidak mau harus tunduk dan terikat bahkan melakukan hukum Taurat yaitu perintah (entolé) yang diberikan Allah kepada nenek moyang mereka. Adalah aneh jika kemudian orang Kristen menganggap bahwa kita tidak perlu melakukan hukum Taurat karena merasa sudah tidak terikat dengan hukum Taurat.

Memang kita tidak lagi melakukan hukum Taurat secara lahiriah, dalam artian berdoa dengan berkiblat ke Yerusalem, mempersembahkan korban-korban binatang, dan lain sebagainya. Akan tetapi esensi dari hukum Taurat ini harus tetap kita lakukan, karena bagaimanapun itu adalah perintah (entolé) dari Allah sendiri yang mengikat setiap orang yang berkata bahwa ia memercayai Allah. Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa jika seseorang hendak masuk ke dalam hidup, maka ia harus menuruti segala perintah Allah. Kata “menuruti” dalam bahasa aslinya adalah tērēson (τήρησον) dari akar kata téreó (τηρέω) yang bermakna to keep, guard, observe, watch over (menjaga, menyimpan, memelihara, memegang, mematuhi, menepati, mempertahankan, memperhatikan, menuruti, mengawasi). Segala perintah Tuhan tersebut harus kita anggap sebagai barang yang sangat berharga, yang kita pegang, jaga, bahkan lakukan dengan hati-hati supaya berkenan di hadapan Tuhan.  

Bagi orang percaya yang adalah umat pilihan Tuhan di Perjanjian Baru, setiap hari kita harus hidup dalam kesucian di hadapan Allah. Kita harus bisa memilih untuk melakukan yang berkenan di hadapan Allah, muali dari hal-hal kecil. Bahkan ketika kita makan atau minum pun, kita harus melakukannya bagi kemuliaan Allah. Tentu apalagi dalam hal kekudusan hidup seksual kita. Umat percaya seharusnya tidak boleh lagi memiliki celah moichos yang masih dilakukannya. Jangan menunggu sampai kita sudah sampai taraf pornos yang mengganggu hakekat pernikahan, tetapi kita perlu menjaga hidup kita supaya tidak melakukan moichos-moichos seperti menonton film porno, melakukan chat kepada lawan jenis yang bukan pasangan kita, dan lain sebagainya. Ini adalah perjuangan yang berat, apalagi di akhir zaman ini dimana teknologi semakin berkembang dan godaan semakin nyata. Di sinilah perjuangan kita harus dibuktikan, apakah kita sungguh-sungguh mau melakukan apa yang baik di pandangan Allah atau apakah kita benar-benar mengasihi Allah. Karena mereka yang mengasihi Allah, pasti akan menuruti segala perintah-Nya (Yoh 14:15).



Bacaan Alkitab: Matius 19:16-19
19:16 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
19:17 Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."
19:18 Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,
19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."