Jumat, 31 Agustus 2018

Pornos dan Moichos (16): Perintah Tuhan yang Umum dan Kehendak-Nya yang Khusus


Jumat, 31 Agustus 2018
Bacaan Alkitab: Lukas 18:18-27
“Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu.” (Luk 18:20)

Pornos dan Moichos (16): Perintah Tuhan yang Umum dan Kehendak-Nya yang Khusus


Jika ditanyakan kepada kebanyakan orang Kristen, apakah perintah Tuhan itu? Tentu kebanyakan dari kita akan menjawab bahwa perintah-Nya adalah apa yang tertulis di Alkitab. Jika ditanya lebih rinci lagi apakah perintah Tuhan, mungkin sebagian besar akan ada yang menjawab “sepuluh perintah Allah”, atau “mengasihi Tuhan dan mengasihi manusia”. Jawaban itu sebenarnya tidak salah. Namun orang Kristen yang cerdas harus dapat membedakan manakah perintah Tuhan yang bersifat umum, dan manakah kehendak Tuhan yang bersifat khusus.

Bacaan Alkitab kita pada hari ini sudah beberapa kali kita bahas dalam serial ini maupun pada kesempatan-kesempatan terdahulu. Namun kali ini saya mengajak kita semua untuk belajar melihat manakah perintah Tuhan dan manakah kehendak Tuhan.

Peristiwa ini dimulai ketika ada seorang pemimpin yang datang dan bertanya kepada Tuhan Yesus: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ay. 18). Kata pemimpin hanya digunakan di kitab Lukas sedangkan dalam ayat paralel di kitab Markus hanya ditulis “seseorang” (Mrk 10:20) dan di kitab Matius ditulis sebagai “orang muda” (Mat 19:20). Jika peristiwa di ketiga kitab itu merujuk pada orang yang sama, maka bisa dikatakan orang ini adalah seorang pemimpin muda yang memiliki banyak harta. Kata “pemimpin” di ayat ini dalam bahasa aslinya menggunakan kata archón (ἄρχων) yang memiliki makna a ruler, governor, leader, leading man; with the Jews, an official member (a member of the executive) of the assembly of elders (seorang penguasa, gubernur, pemimpin; dengan orang Yahudi, seorang anggota resmi (anggota eksekutif) dari majelis tua-tua). Sangat mungkin orang ini adalah salah satu pemimpin dengan jabatan tinggih di kalangan orang Farisi.  Hal ini juga didukung dengan fakta bahwa orang tersebut berani berkata bahwa ia sudah melakuan seluruh kewajiban hukum Taurat, seperti yang umum dilakukan oleh orang Farisi (ay. 21).

Kembali ke ayat 19, kita melihat bahwa Tuhan menjawab pertanyaan orang tersebut dengan sangat bijaksana, yaitu bahwa tidak ada seorangpun yang baik selain daripada Allah saja, dan bahwa [salah satu] cara untuk memperoleh hidup yang kekal adalah dengan melakukan segala perintah Allah seperti yang ia telah ketahui (ay. 19-20). Dalam ayat 20 ini, dicantumkan beberapa contoh perintah Allah yang merupakan kutipan dari 10 hukum Taurat (Dasa titah), yaitu “jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, serta menghormati ayah dan ibu” (ay. 20). Apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus itu adalah perintah ke-6 hingga ke-10 yang merupakan perintah Tuhan yang mengatur mengenai hubungan antara manusia dengan sesamanya.

Dalam ayat 20 tersebut terdapat 1 perintah yaitu “jangan berzinah”. Sama seperti ayat paralel di kitab Injil lainnya , kata “berzinah” dalam ayat ini menggunakan kata moicheusēs (μοιχεύσῃς) dari akar kata moicheuó (μοιχεύω) yang secara ringkas memiliki makna sebagai adalah suatu hubungan seksual yang dilakukan oleh seseorang yang sudah menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya. Sebagaimana kita telah membahas dalam renungan-renungan terdahulu, bahwa kalimat “jangan berzinah” ini merupakan salah satu dari 10 perintah yang diberikan Tuhan Allah secara langsung di atas gunung Sinai kepada bangsa Israel. Jika kita mau jujur, perintah tersebut diberikan kepada bangsa Israel dan berlaku penuh bagi seluruh bangsa Israel, termasuk keturunan mereka hingga saat ini (yang kita kenal dengan bangsa Yahudi). Pertanyaannya, mampukah seseorang melakukan hukum dengan ketat dan sempurna?

Dalam jawabannya, sang pemimpin tersebut berkata kepada Tuhan Yesus: “Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku” (ay. 21). Perhatikan respon Tuhan Yesus kemudian terhadap ucapan orang tersebut. Tuhan tidak mengatakan: “Kamu masih belum sempurna menuruti hukum Taurat”. Ini dapat diartikan bahwa orang tersebut dalam hal penurutannya akan tuntutan hukum Taurat mungkin memang benar-benar sudah “sempurna”. Perlu dipahami kata “sempurna” di sini harus dipandang sebagai tidak melanggar hukum Taurat dan juga senantiasa melakukan perintah Tuhan yang tertulis di dalam hukum Taurat.

Terkait dengan hal ini, ada 1 orang lagi yang juga dapat kita pandang sudah dapat memenuhi seluruh tuntutan hukum Taurat, yaitu Paulus. Dalam suratnya kepada jemaat di kota Filipi, Paulus mengatakan bahwa tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat ia sama sekali tidak bercacat (Flp 3:6). Tentu tidak bercacat di sini adalah sampai pada melakukan perintah Tuhan sebagaimana yang tertulis di dalam kitab sucinya (yaitu yang berupa hukum-hukum tertulis). Jadi menurut pendapat saya, masih dimungkinkan adanya orang-orang yang bisa dibenarkan dalam hal menaati syariat agamanya (seperti makanan yang dimakan, hal berpuasa, mengenakan pakaian yang sesuai, merayakan liturgi dalam ibadah mereka). Namun semua hal ibadah secara lahiriah tersebut ternyata di mata Tuhan masih belum cukup.

Perhatikan bagaimana jawaban Tuhan Yesus di ayat 22 tersebut: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan” (ay. 22a). Mengapa Tuhan Yesus mengucapkan hal demikian? Bukankah secara hukum Taurat orang itu sudah bisa dipandang tak bercacat? Mengapa pula masih ada satu hal lagi yang harus ia lakukan?

Kita harus jeli melihat bahwa apa yang diucapkan oleh Tuhan Yesus ini sama sekali tidak ada acuannya di dalam kitab suci orang Yahudi. Memang betul bahwa orang Yahudi juga dituntut untuk memperhatikan orang-orang miskin, termasuk para janda dan anak yatim. Namun aturan mengenai seberapa banyak orang Yahudi harus membantu sesamanya tersebut memang tidak diatur secara rinci. Jelas bahwa jika dikaitkan dengan perintah Tuhan (yang tertulis dalam bentuk hukum atau Kitab Suci), maka orang tersebut tentu tidak bersalah. Akan tetapi, jika dilihat dari sudut pandang Tuhan, orang tersebut masih memiliki suatu “kekurangan”. Kekurangan inilah yang hendak ditunjukkan oleh Tuhan Yesus kepada orang itu, dengan cara memintanya melakukan 1 hal lagi untuk memperoleh hidup yang kekal.

Tidak mengherankan bahwa hal yang diminta oleh Tuhan Yesus adalah untuk menjual segala yang ia miliki, dan membagi-bagikan semuanya itu kepada orang-orang miskin (ay. 22b). Apakah cukup dengan menjual segala sesuatu yaitu harta miliknya? Tentu tidak. Tuhan Yesus mengatakan bahwa itu barulah langkah awal untuk memperoleh harta di surga, baru kemudian setelah itu ia harus datang kepada Tuhan Yesus dan mulai mengikuti-Nya (ay. 22c).

Jika kita perhatikan, Tuhan Yesus hendak menyampaikan kehendak Bapa-Nya supaya orang itu memperoleh hidup yang kekal. Jelas bahwa perintah-perintah di dalam Kitab Suci adalah perintah yang baik adanya. Namun sebenarnya melakukan seluruh perintah Tuhan itu belumlah cukup jika ingin sempurna sesuai standar Tuhan. Hukum Taurat memang mampu membuat orang menjadi baik, akan tetapi belum membuat orang sampai kepada level sempurna di hadapan Tuhan.

Di sini kita harus belajar menjadi orang Kristen yang cerdas. Memang betul bahwa Kitab Suci (Alkitab) adalah firman Tuhan yang adalah panduan hidup kita. Namun firman Tuhan itu adalah firman yang tertulis (logos). Logos tidak akan berdampak banyak jika hanya dibaca atau dihafal serta dipandang sebagai suatu syariat yang wajib dilakukan. Perlu adanya pembaharuan pikiran sehingga logos tersebut dapat menjadi suatu rhema yang hidup. Secara singkat, rhema adalah penerapan logos dalam kehidupan sehari-hari. Jadi jika ada tertulis “jangan berzinah”, maka perlu diperkarakan apakah yang dimaksud dengan berzinah itu. Apakah berzinah hanya dipandang ketika seseorang yang sudah menikah sampai melakukan hubungan seksual dengan orang lain? Untung Tuhan sudah memberi definisi berzinah yang lebih jelas dalam Matius pasal 5. Namun demikian, perlu dipikirkan juga misalnya jika seseorang tidak sampai melakukan hubungan seksual dan hanya berciuman, apakah itu dosa atau bukan? Tentu dalam hal ini jika hendak dicari aturan tertulisnya, mungkin tidak semua dapat termuat di dalam Alkitab.

Namun demikian, Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Cerdas. Tuhan menganugerahkan Roh Kudus sebagai sarana untuk dapat memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Itulah mengapa orang Kristen di masa Perjanjian Baru seharusnya sudah tidak memikirkan mengenai syariat yang tertulis di dalam Alkitab (khususnya di Perjanjian Lama). Satu-satunya perjuangan umat Perjanjian Baru adalah bagaimana dalam segala hidupnya, kita dapat berkenan dan menyenangkan hati Tuhan. Jangan salah, syariat Taurat dalam Perjanjian Lama itu baik. Akan tetapi, kita tidak boleh terpaku pada syarat-syarat syariat yang kaku dan tidak dinamis. Sebagai contoh, Perjanjian Lama tidak mengatur mengenai merokok, apakah halal atau haram. Namun bagi orang Perjanjian Baru, kita harus tahu bahwa tubuh kita adalah Bait Roh Kudus. Baik kita makan atau minum, atau melakukan apapun, kita harus melakukannya bagi kemuliaan nama Tuhan. Itulah bukan hanya saja dalam hal merokok, namun dalam hal apapun, umat Perjanjian Baru harus memperkarakan, apakah hal tersebut berguna dan sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak.

Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang datang kepada Tuhan Yesus adalah seorang pemimpin agama,  seorang yang tidak bercacat dan tidak bercela dalam melakukan hukum Taurat. Apakah ia sudah menjadi umat beragama yang baik? Jika ukurannya hanya sekedar menjadi umat beragama yang baik, maka pemimpin agama ini sudah mencapai standar itu. Akan tetapi jika ukurannya adalah sempurna seperti Bapa di surga adalah sempurna (Mat 5:48), maka tentu saja hukum Taurat tidak akan dapat membuat manusia menjadi sempurna. Perlu dipahami bahwa sempurnanya manusia yang dimaksud di sini tentu saja berbeda dengan kesempurnaan Allah Bapa. Akan tetapi, manusia harus berjuang semaksimal mungkin untuk memiliki pikiran dan perasaan Allah dalam dirinya, sehingga mulai dari hal yang terkecil manusia dapat mengambil keputusan yang selaras dengan kehendak Bapa di surga.

Kembali ke bacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan dengan jelas ingin menunjukkan kepada pemimpin muda yang kaya tersebut bagaimana seharusnya ia mengikut Tuhan Yesus. Seseorang yang mau mengikut Tuhan dengan benar tidak boleh memiliki apapun yang dapat membuat hatinya menyimpang dari satu-satunya tujuan hidup, yaitu sempurna seperti Bapa di surga. Dalam hal ini hal yang dapat menghambat orang tersebut untuk hidup sempurna adalah keterikatan dan ketergantungannya dengan harta bendanya karena ia adalah seorang yang sangat kaya.

Perlu dicatat bahwa pemimpin muda yang kaya ini adalah seseorang yang sebenarnya tulus ingin hidup benar di hadapan Tuhan. Ia telah berjuang menuruti tuntutan hukum Taurat sejak masa mudanya. Namun kesempurnaan menurut standar hukum itu ternyata masih jauh dari kesempurnaan yang Tuhan kehendaki. Oleh karena itu, ia yang awalnya merasa percaya diri dengan keadaan hidupnya, kemudian menjadi sangat sedih ketika mendengar ucapan Tuhan Yesus di ayat 22, karena ia dikatakan sebagai orang yang sangat kaya (ay. 23).

Dalam hal ini, perlu dipahami bahwa idealnya perintah Tuhan pasti menuntun seseorang kepada kehendak Tuhan. Seluruh perintah Tuhan dalam hukum Taurat jika dapat dipahami dengan pola pikir yang benar seharusnya membawa orang ke dalam kesucian hidup. Namun demikian, sejak zaman Perjanjian Baru (yaitu sejak Allah Anak turun menjadi manusia di bumi), maka dimulailah pekabaran Injil yaitu kabar baik. Kabar baik yang disampaikan itu adalah bagaimana manusia dapat menjadi manusia Allah, yaitu manusia yang dalam segala hal selaras, sepikiran, dan seperasaan dengan Allah. Inilah kehendak Allah yang benar itu, yang dicontohkan dalam kehidupan Tuhan Yesus Kristus selama menjadi manusia di bumi ini, hingga Ia mati di atas kayu salib.

Kita harus mengerti bahwa ucapan Tuhan Yesus yaitu orang kaya sukar masuk ke dalam kerajaan surga adalah benar adanya. Orang kaya mungkin tidak memiliki kesulitan dalam melakukan hukum Taurat. Mereka dapat dengan mudah membeli domba atau lembu sebagai korban penghapus dosa. Mereka juga bisa memberikan banyak bantuan kepada orang-orang miskin. Akan tetapi sikap hati mereka sebenarnya sudah terikat dengan harta, kekayaan, dan nafas dunia ini. Inilah yang tidak disentuh dalam hukum Taurat dan baru ditekankan dalam pengajaran Tuhan Yesus di Perjanjian Baru.
Oleh karena itu, sangat benar ucapan Tuhan Yesus bahwa orang kaya sangat sukar masuk ke dalam kerajaan surga (ay. 24). Tentu ini tidak menggambarkan suatu kemustahilan, tetapi orang kaya membutuhkan perjuangan ekstra untuk dapat mencapai taraf sempurna di hadapan Bapa. Orang miskin mungkin lebih mudah memiliki totalitas dalam mengiring Tuhan karena mereka “tidak mempunyai apa-apa” yang harus dipertahankan. Akan tetapi orang kaya memiliki harta, kekayaan, kehormatan, harga diri, posisi, jabatan, dan hal-hal lain yang tidak dapat mereka tinggalkan. Hal tersebut yang membuat orang kaya memang lebih sulit masuk kerajaan surga dibanding orang miskin, walaupun memang ada juga orang miskin yang sombong dan sok kaya, yang juga akan sulit masuk kerajaan surga jika mereka tidak bertobat.

Untuk menjelaskan hal tersebut, Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan yang menyatakan bahwa seekor unta lebih mudah masuk lubang jarum dibanding orang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah (ay. 25). Perlu dipahami di sini, bahwa yang dimaksud dengan “lubang jarum” di sini kemungkinan besar adalah sebuah pintu kecil di sebuah tembok dimana unta harus berjongkok dan didorong dari luar (atau ditarik dari dalam) untuk dapat melaluinya. Pada masa itu, banyak unta dipasangi dengan pelana dan berbagai macam perhiasan dan pernak pernik. Oleh karena itu, agar dapat memasuki “lubang jarum” tersebut, seekor unta harus “dilucuti” dari segala macam perhiasan, pelana, dan pernak pernik lainnya supaya dapat masuk ke dalamnya. Ini merupakan gambaran yang sangat jelas mengenai bagaimana seseorang harus meninggalkan segala sesuatu untuk menjadi murid Tuhan, termasuk di dalamnya segala kesenangan dan kenikmatan hidup, termasuk keterikatan dengan kekayaan dan dunia ini.

Bagi manusia, hal ini nyaris mustahil bahkan dapat dikatakan mustahil. Mungkinkah seseorang bisa melepaskan keterikatan dengan dunia ini selagi dirinya hidup di dunia? Bagi manusia memang hal tersebut terlihat mustahil, akan tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil (ay. 26-27). Di masa Perjanjian Baru ini Tuhan telah memberikan anugerah kepada manusia yang mau percaya kepada-Nya. Anugerah tersebut antara lain: penebusan Tuhan Yesus di atas kayu salib, pembenaran, Firman Allah yang lengkap, serta Roh Kudus sebagai penolong. Kita dapat melihat teladan Tuhan Yesus Kristus yang rela kehilangan hak dan bahkan kehilangan segala sesuatu demi ketaatan-Nya melakukan kehendak Bapa tanpa batas hingga mati di atas kayu salib. Dari Alkitab Perjanjian Baru dan juga sejarah gereja pun kita dapat belajar bagaimana jemaat mula-mula berani kehilangan segala sesuatu demi Tuhan, termasuk kewarganegaraan mereka, harta mereka, rumah mereka, keluarga mereka, bahkan nyawa mereka sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya manusia dimungkinkan untuk sempurna, dalam hal ini melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa di surga.

Dalam konteks perikop ini, kita telah belajar bagaimana Tuhan telah menyingkapkan kehendak Bapa secara khusus kepada pemimpin muda yang kaya tersebut. Ditinjau dari ketaatannya terhadap hukum, pemimpin muda itu tidak bercacat cela. Namun jika dilihat dari sudut pandang Allah, maka hidup orang tersebut masih belum sempurna karena masih ada “bagian” yang ia sisakan bagi dirinya sendiri, yaitu kekayaannya yang masih belum mau ia lepaskan. Oleh karena itu, ketika Tuhan memintanya untuk menjual segala harta miliknya, ia pun pergi dengan sedih. Tanpa bermaksud menghakimi, kira-kira pada hari penghakiman nanti, apakah yang akan ditanyakan Tuhan kepada orang tersebut? Apakah Tuhan akan bertanya: “Berapa banyak hukum Taurat yang sudah kau lakukan?” atau “Berapa banyak kehendak Allah yang sudah kau lakukan?”. Biarlah itu menjadi suatu peringatan bagi kita juga supaya kita hidup dengan takut dan gentar di dunia ini, yaitu dengan senantiasa ingat untuk berjuang melakukan kehendak Allah dalam hidup kita. Kehendak Allah bagi kita mungkin tidak selalu dalam kalimat: “Jual segala milikmu”. Akan tetapi, marilah kita berperkara dengan Tuhan untuk dapat menemukan kehendak Allah secara khusus dalam hidup kita, sehingga kita boleh belajar melakukannya dengan penuh sukacita, karena kita tahu itulah yang menyenangkan hati Bapa di surga.



Bacaan Alkitab: Lukas 18:18-27
18:18 Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
18:19 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja.
18:20 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu."
18:21 Kata orang itu: "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
18:22 Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
18:23 Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya.
18:24 Lalu Yesus memandang dia dan berkata: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.
18:25 Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
18:26 Dan mereka yang mendengar itu berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"
18:27 Kata Yesus: "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah."

Jumat, 22 Juni 2018

Pornos dan Moichos (15): Bukan Pezinah = Kebanggaan?


Jumat, 22 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Lukas 18:9-14
Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (Luk 18:11)


Pornos dan Moichos (15): Bukan Pezinah = Kebanggaan?


Harus diakui bahwa belakangan ini, banyak orang Kristen yang menjadi bangga akan hidupnya. Rasa bangga itu begitu tingginya hingga tanpa disadari orang tersebut juga meninggikan diri. Saya sendiri pernah terjebak pada kondisi seperti itu, karena merasa “lebih tahu” soal Alkitab sehingga seakan-akan memandang rendah orang lain yang tidak sepaham. Jika saya yang bukan siapa-siapa saja pernah jatuh dalam dosa ini, betapa berbahayanya bagi mereka yang memang memiliki jabatan tertentu di gereja, apalagi sebagai pemimpin gereja atau pemimpin jemaat.

Suka atau tidak suka, dosa kesombongan ini sangat rawan terjadi pada orang-orang yang memang memegang jabatan tertentu di gereja (misal: pengurus, majelis, diaken), serta para pelayan mimbar (yaitu mereka yang tampil di atas mimbar gereja (misal: worship leader, singer, choir, pemusik, bahkan termasuk pembicara). Sangat besar kemungkinan mereka merasa lebih baik, lebih terhormat, dan lebih benar daripada orang lain hingga sampai memandang rendah orang lain (bahkan semua orang lain) (ay. 9).

Terkait hal ini, Tuhan Yesus menyampaikan suatu perumpamaan dimana terdapat 2 orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa, yang satu adalah orang Farisi (yang mengerti hukum Taurat bahkan secara lahiriah dipandang lebih terhormat oleh orang Yahudi karena hidup keberagamaannya yang berusaha memenuhi seluruh tuntutan hukum Taurat), serta seorang lagi adalah pemungut cukai (yang dipandang sebagai pengkhianat oleh kebanyakan orang Yahudi karena dianggap sebagai antek bangsa Romawi yang sedang menjajah mereka) (ay. 10).

Dikatakan bahwa mereka berdua sedang berdoa kepada Tuhan di Bait Allah, tempat suci agama Yahudi. Tentu dalam hal ini mereka sedang sama-sama menjalankan hukum Taurat yang pada waktu itu mengatur bahwa orang Yahudi sebaiknya berdoa di Bait Allah yang merupakan lambang kehadiran Allah di antara bangsa Yahudi. Tuhan Yesus menyampaikan terlebih dahulu apa isi doa orang Farisi (yang untungnya, diucapkannya dalam hati). Orang Farisi tersebut mengucap syukur karena ia tidak sama dengan orang lain (ay. 11a). Dalam hal ini, orang lain yang ia maksud dalam doanya adalah para perampok, orang lalim, dan pezinah (ay. 11b). Lucunya lagi, orang Farisi tersebut dalam doanya juga menyebut pemungut cukai yang sedang berdoa bersama-sama dirinya (ay. 11c). Untungnya, sekali lagi, doanya ia panjatkan di dalam hati dan tidak terucap dari mulutnya.

Dalam ayat 11 ini ada kata “pezinah” yang dalam bahasa aslinya adalah moichoi (μοιχοί) dari akar kata moichos (μοιχός) yang bermakna an adulterer, that is, a man who is guilty with a married woman (seorang pezinah, yaitu seorang laki-laki yang bersalah [karena berzinah] dengan seorang perempuan yang sudah menikah). Kata moichos sendiri memang adalah kata benda (noun) yang bersifat maskulin (lebih digunakan untuk menunjuk laki-laki yang berzinah) jika dibandingkan dengan kata moicheia yang merupakan kata benda yang bersifat feminim (lebih digunakan untuk menunjuk perempuan yang berzinah), dengan moicheuó sebagai kata kerjanya.

Di ayat ini, seorang pezinah dianggap sama dengan pelaku kejahatan lainnya seperti perampok (harpages/harpax, yang dapat diartikan sebagai seorang yang rakus, tamak, serakah, perampok, pemeras), dan orang lalim (adikoi/adikos, yang dapat diartikan sebagai seorang yang tidak adil, tidak benar, jahat, berdosa, keji). Saya sendiri berpendapat bahwa jika dibandingkan dengan perampokan dan kelaliman, suatu perzinahan (moichos) masih dapat disetarakan/disejajarkan. Namun patutkah suatu perzinahan disejajarkan dengan pemungut cukai?

Dalam bahasa aslinya, kata “pemungut cukai” menggunakan kata telónés (τελώνης). Kata ini umum digunakan di Perjanjian Baru (ada sebanyak 21 kali) yang bermakna a publican; a tax-collector, gathering public taxes from the Jews for the Romans (pemungut cukai, pemungut pajak, mengumpulkan pajak publik dari orang Yahudi untuk orang Romawi). Profesi pemungut pajak memang sudah ada sejak zaman Romawi hingga saat ini. Namun dalam konteks masa Perjanjian Baru, profesi ini memiliki peranan yang cukup penting dan unik, yaitu mengumpulkan pajak dari daerah jajahan bangsa Romawi.

Bangsa Yahudi pada masa itu menjadi salah satu daerah jajahan bangsa Romawi. Mereka sendiri sebenarnya sudah memiliki aturan Taurat mengenai persembahan bagi Tuhan, persembahan bagi raja, persembahan bagi orang Lewi, dan lain sebagainya. Namun ketika mereka sedang ada dalam jajahan bangsa lain, tentu aturan Taurat itu tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya, karena ada aturan lain mengenai pajak yang dikenakan oleh bangsa Romawi. Sebagai contoh, bangsa Yahudi sebenarnya tidak telalu masalah dikenakan pajak bagi raja mereka (yang berasal dari orang Yahudi juga), akan tetapi hal itu akan menjadi masalah jika pajak mereka digunakan untuk kegiatan pembangunan kuil-kuil dewa orang Romawi, atau untuk pesta-pesta gubernur Romawi yang menggunakan makanan yang tidak halal/tidak kosher.

Hal ini menempatkan posisi pemungut cukai pada dilema. Mereka tentu lebih aman dan tenang ketika dapat bekerja di dalam pemerintahan orang Romawi dengan tugas memungut cukai/pajak dari orang Yahudi. Tetapi mereka pun dipandang sangat hina oleh orang Yahudi lainnya karena dianggap sebagai pengkhianat bangsa/negara. Di sisi lain, memang ada pemungut cukai yang memungut cukai sesuai ketentuan (seperti Zakheus), dan ada pula pemungut cukai yang memungut cukai lebih dari ketentuan dengan tujuan untuk mendapatkan kehormatan di mata orang Romawi. Namun bahkan pemungut cukai yang sudah memungut cukai sesuai ketentuan pun masih sering dianggap “sama berdosanya” dengan para pezinah atau bahkan para pelacur (karena mereka dianggap melacurkan diri mereka dengan menjadi pegawai bagi bangsa Romawi, bangsa penjajah pada waktu itu).

Tidak heran setelah orang Farisi membandingkan dirinya lebih baik dari orang lain (termasuk pemungut cukai), ia mulai menyebutkan kebaikannya itu, meskipun masih diucapkannya dalam hati, antara lain: berpuasa 2 kali seminggu, bahkan memberikan sepersepuluh dari segala penghasilannya (ay. 12). Memang orang Yahudi memiliki kewajiban untuk berpuasa. Dari beberapa literatur yang saya baca, konteks puasa orang Yahudi di ayat ini adalah berpuasa setiap hari Senin dan Kamis. Sebenarnya hukum Taurat sendiri tidak mengatur mengenai berapa sering mereka berpuasa dalam seminggu, kecuali pada hari-hari tertentu dimana mereka diwajibkan untuk berpuasa. Sehingga puasa 2 kali seminggu ini kemungkinan adalah suatu tradisi yang mulai muncul setelah bangsa Israel pulang dari pembuangan di Babel dan Persia. Tradisi itu kemudian “dibakukan” oleh sejumlah sekte termasuk oleh orang Farisi. Besar kemungkinan, pada waktu Tuhan Yesus berinkarnasi di dunia ini, banyak orang Yahudi (yaitu orang Farisi) yang sudah melakukan puasa 2 kali seminggu dan melakukannya seakan-akan sebagai suatu aturan dari hukum Taurat, padahal itu adalah tradisi tambahan di luar hukum Taurat.

Tradisi tambahan lainnya yang mungkin sudah umum terjadi pada waktu itu adalah memberikan sepersepuluh dari segala penghasilan (ay. 12b). Jika kita mempelajari aturan persepuluhan di dalam hukum Taurat, kita akan mengerti bahwa persembahan persepuluhan hanya dikenakan dari hasil tanah dan hasil ternak, bukan dari segala penghasilan. Dalam bahasa aslinya, kata “dari segala penghasilanku” menggunakan kata panta hosa ktōmai (πάντα ὅσα κτῶμαι). Kata panta/pas dapat bermakna all, the whole, every kind of (semua, seluruh, setiap jenis). Kata hosa/hosos dapat bermakna how much, how great, how many, as great as, as much (seberapa banyak, seberapa hebat, berapa banyak, sebesar, sebanyak). Sedangkan kata ktōmai/ktaomai dapat bermakna I acquire, win, get, purchase, buy, possess, win mastery over (saya peroleh, menangkan, dapatkan, beli, miliki, memenangkan penguasaan atas sesuatu). Oleh karena itu, di dalam terjemahan lain, ada yang menerjemahkan “segala penghasilan” dengan “semua yang aku peroleh/semua yang aku miliki”.

Jadi jelas bahwa ayat 12b ini tidak dapat dijadikan dasar bahwa persembahan persepuluhan itu harus diberikan dari segala penghasilan (dalam hal ini gaji yang diterima atau omzet usaha). Kata ktōmai/ktaomai sendiri juga dapat berarti apa yang dimiliki, sehingga mungkin juga orang Farisi pada waktu itu memberikan sepersepuluh dari harta miliknya dalam waktu-waktu tertentu (tidak setiap bulan). Namun demikian, perlu dipertegas pula bahwa persepuluhan adalah tradisi orang Yahudi, dan dalam hal ini Tuhan Yesus tidak sedang mengajarkan bahwa para pengikut-Nya juga harus mempersembahkan sepersepuluh dari penghasilannya. Tuhan sendiri mengajarkan bahwa kita harus memberi segenap hidup kita kepada Tuhan dan bukan hanya sepersepuluh dari harta atau penghasilan kita.

Kembali ke pembahasan kita tadi, menarik melihat bahwa orang Farisi tersebut seakan-akan sudah menyimpulkan bahwa pemungut cukai pastilah tidak berpuasa, atau bahkan memberikan persepuluhan seperti apa yang ia lakukan. Orang Farisi tersebut menyimpulkan bahwa hidupnya lebih berkenan kepada Allah karena ia melakukan lebih dari apa yang dituntut oleh hukum Taurat. Ia bahkan melakukan puasa 2 kali seminggu dan memberi persepuluhan dari penghasilan/miliknya meskipun hal tersebut tidak dituntut oleh hukum Taurat. Secara tidak langsung, orang Farisi itu hendak menyatakan bahwa ia lebih beragama dibandingkan dengan orang lain. Hidup keberagamannya menjadi semacam kebanggan bagi dirinya karen-a dengan hal itu ia merasa lebih saleh dibandingkan dengan orang lain.

Di sisi lain, Tuhan Yesus mengemukakan bahwa si pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh (ay. 13a). Mungkin ia berdiri jauh-jauh dari posisi orang Farisi itu berdoa, karena kita tahu bahwa orang Farisi suka menduduki tempat-tempat terhormat, dan mungkin saja ada tempat-tempat khusus yang hanya boleh digunakan oleh mereka yang dipandang lebih saleh dan lebih terhormat secara agama Yahudi. Pemungut cukai tersebut bahkan tidak berani menengadah ke langit (memandang ke atas), yaitu gambaran surga/tempat Allah bertahta yang digambarkan berada di atas bumi (ay. 13b). Ia bahkan memukul dirinya sendiri dan mengaku sebagai orang berdosa dan meminta belas kasihan Allah atas dirinya (ay. 13c).

Sekali lagi saya hendak katakan bahwa sesungguhnya profesi/pekerjaan sebagai pemungut cukai pada waktu itu masih memungkinkan seorang pemungut cukai untuk hidup berkecukupan dengan memungut cukai sesuai aturan (karena mereka memperoleh gaji dari pemerintah Romawi). Sehingga kita tidak tahu apakah gambaran pemungut cukai dalam perumpamaan ini adalah pemungut cukai yang merasa bersalah karena ia sudah memungut cukai melebihi ketentuan dan memeras orang sebangsanya, ataukah pemungut cukai yang merasa bersalah karena pekerjaannya membuat dirinya dipandang hina oleh orang sebangsanya walaupun ia sudah berusaha bekerja dengan benar sesuai aturan.

Apapun itu, kita dapat melihat bahwa Allah membenarkan si pemungut cukai sementara orang Farisi itu tidak dibenarkan (ay. 14a). Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa Allah tidak melihat manisnya kata-kata dalam doa seseorang, tetapi lebih kepada sikap hati orang ketika datang kepada Tuhan. Percuma doa dengan kata-kata yang indah jika doa tersebut justru meninggikan dirinya sendiri (tidak meninggikan Tuhan) dan justru merendahkan orang lain. Saya sendiri dalam beberapa kesempatan di beberapa mimbar gereja atau persekutuan pernah melihat bagaimana doa bisa dimanipulasi dan dipelintir untuk menjatuhkan orang lain. Cukup banyak doa-doa di atas mimbar gereja yang diucapkan dengan tujuan untuk meninggikan diri. Tentu dalam hal ini saya sedang tidak bermaksud menghakimi, tetap adalah baik jika kita dapat dengan obyektif menilai doa-doa yang selama ini sering diucapkan dari atas mimbar gereja, apakah doa-doa tersebut adalah doa yang tulus dari hati ataukah bukan. Kalaupun kita merasa ada doa yang dipenuhi kesombongan bahkan terkesan menjatuhkan orang lain, tugas kita paling banyak hanyalah mengingatkan orang tersebut. Jika orang tersebut tidak mau mendengarkan, biarlah Tuhan yang menjadi hakimnya. Yang jelas Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa mereka yang meninggikan diri suatu saat nanti akan direndahkan, sedangkan mereka yang merendahkan diri suatu saat nanti pasti akan ditinggikan (ay. 14b). Janganlah bangga jika kita tidak merampok dan tidak berzinah. Itu bukanlah kebanggaan. Banggalah hanya untuk satu hal: yaitu jika kita sudah bisa menyenangkan hati Tuhan dan membuat-Nya tersenyum ketika Ia melihat kehidupan kita yang berkenan kepada-Nya.



Bacaan Alkitab: Lukas 18:9-14
18:9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
18:10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."


Sabtu, 16 Juni 2018

Pornos dan Moichos (14): Kawin dengan Janda Cerai = Zinah?


Sabtu, 16 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Lukas 16:16-18
“Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.” (Luk 16:18)


Pornos dan Moichos (14): Kawin dengan Janda Cerai = Zinah?


Membahas mengenai ayat ini, saya teringat akan satu peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan saya, dimana salah seorang pemuda datang kepada saya dan bertanya, apakah menikahi seorang perempuan yang diceraikan oleh suaminya maka ia menjadi berzinah? Pemuda itu ternyata sedang jatuh cinta kepada seorang janda cerai dan ingin menikah dengan janda tersebut. Sayangnya ia datang dalam keadaan yang terlambat karena si janda sudah dihamili oleh pemuda itu, sehingga apapun yang saya katakan pun sebenarnya sudah tidak lagi banyak membantu. Yang menjadi penyesalan saya adalah pada waktu itu saya masih belum memiliki pemahaman teologi sedalam saat ini sehingga penjelasan saya mungkin kurang dalam baginya.

Saat ini ketika bertepatan dengan pembahasan mengenai kata pornos dan moichos, saya mencoba untuk membahas mengenai ayat tersebut. Dalam ayat tersebut ada 2 kali kata zinah disebutkan yaitu moicheuei (μοιχεύει) dari akar kata moicheuó (μοιχεύω).  Kita telah membahas di renungan hari-hari sebelumnya bahwa makna kata moicheuó adalah suatu hubungan seksual yang dilakukan oleh seseorang yang sudah menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya. Tentu jika kita mau fair dan jujur untuk memperoleh makna orisinil ayat tersebut, kita harus melihat konteks dari ayat itu dalam kedudukannya dengan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya.

Konteks dari ucapan Tuhan Yesus di ayat 18 tersebut (ayat-ayat sebelum dan sesudahnya) adalah ketika Tuhan sedang berkhotbah mengenai harta dan kekayaan, dimana harta kekayaan digambarkan sebagai perkara yang kecil dan banyak orang tidak setia mengenainya. Inti dari khotbah Tuhan Yesus tersebut adalah bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, yaitu kepada Allah dan kepada Mamon. Seseorang harus memilih mengabdi kepada salah satu tuan (Luk 16:1-13). Ketika orang Farisi mendengar hal tersebut, maka mereka mencemooh Tuhan Yesus (Luk 16:14-15). Sementara itu dalam ayat-ayat selanjutnya, Tuhan Yesus juga masih menjelaskan tentang akhir hidup orang kaya dan Lazarus, dimana orang kaya tersebut masuk ke dalam hades yang tidak nyaman karena selama hidupnya ia telah menikmati segala yang baik (kekayaan dunia) tanpa pernah peduli terhadap sesamanya, yaitu Lazarus yang ada di dekatnya (Luk 16:19-31). Benang merah apakah yang dapat kita tarik dari hal-hal tersebut?

Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa hukum Taurat dan kitab para nabi (Perjanjian Lama) berlaku sampai kepada zaman Yohanes [Pembaptis] (ay. 16a). Ketika Yohanes Pembaptis muncul, maka ia memberitakan firman bahwa “Bertobat dan berilah dirimu dibaptis, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!”. Sejak masa itu, Yohanes Pembaptis sedang menyiapkan jalan untuk kedatangan Tuhan Yesus di dunia ini, yaitu Tuhan Yesus yang akan menyampaikan Injil kebenaran firman Tuhan. Sejak waktu itulah Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang berebut untuk memasukinya (ay. 16b).

Jadi, apakah kemudian hukum Taurat bisa dibatalkan ketika Tuhan Yesus datang dan memberitakan Injil? Jawabannya harus kita lihat kepada konteks kepada siapa Tuhan berbicara. Tuhan Yesus berbicara kepada orang-orang Farisi yang adalah orang-orang yang sangat paham mengenai hukum Taurat. Namun perlu dicatat juga bahwa ucapan Tuhan Yesus tersebut adalah bernada kemarahan akibat sikap mereka yang mencemoohkan kebenaran. Tuhan tidak sedang membatalkan hukum Taurat (misalnya: dahulu dikatakan jangan membunuh, sekarang boleh membunuh; dahulu dikatakan jangan berzinah, sekarang boleh berzinah; dahulu tidak boleh memakan binatang haram, sekarang boleh makan semaunya; dahulu harus menjaga hari sabat, sekarang setiap hari boleh dinikmati dengan bebas dan suka-suka sendiri; dan lain sebagainya). Tuhan sebenarnya sedang meredefinisi hukum Taurat sehingga tidak lagi hanya sekedar menjadi hukum-hukum dan syariat yang bersifat lahiriah, tetapi harus dilakukan dengan penuh kesadaran batiniah pula, dengan penuh kecerdasan roh, untuk melakukan sesuatu yang berkenan kepada Bapa. Jika dahulu prinsip orang Yahudi di Perjanjian Lama adalah Torah is my law (Taurat adalah hukumku), maka di Perjanjian Baru prinsip tersebut harus diubah menjadi God is my law (Tuhan adalah hukumku).

Tuhan Yesus berkata bahwa lebih mudah langit dan bumi lenyap daripada satu titik dari hukum Taurat batal (ay. 17).  Persoalannya banyak orang Kristen keliru mengartikan kata “batal” di sini. Tidak heran banyak orang Kristen belum dapat move on dari hukum Taurat dan Perjanjian Lama sehingga masih menyibukkan diri dengan aturan-aturan ibadat di Perjanjian Lama. Tidak jarang banyak orang Kristen yang lebih sering membaca dan dikhotbahkan mengenai kitab Perjanjian Lama sehingga hidup mereka justru lebih mirip dengan hidup orang Yahudi (bersifat keyahudi-yahudian).

Kata “batal” di ayat 17 ini dalam bahasa aslinya adalah pesein (πεσεῖν) dari akar kata piptó (πίπτω). Kata pipto di sini memiliki makna to fail/fall, to be prostated, to lose authority, no longer have force (jatuh, gagal, lemah, tumbang, kehilangan otoritas, tidak lagi berdaya/memiliki kekuatan). Dari hal ini sebenarnya kata “batal” yang dimaksud di sini sepertinya kurang tepat. Meskipun demikian, masih cukup banyak terjemahan baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang menggunakan kata void (batal). Ayat 17 ini menurut saya harus dipahami bahwa hukum Taurat memang sebenarnya hanya berlaku sampai zaman Yohanes Pembaptis, dan sejak itu, Injil Kerajaan Allah diberitakan dan manusia harus berjuang untuk hidup menurut Injil. Akan tetapi, hukum Taurat sama sekali tidak dikatakan bahwa sudah batal. Hukum Taurat adalah hukum yang diberikan oleh Allah sendiri kepada bangsa pilihan-Nya yaitu bangsa Israel. Namun kita harus paham kondisi bangsa Israel pada saat diberi hukum oleh Tuhan adalah mereka baru saja hidup sebagai budak selama 430 tahun di Mesir, sehingga tentu standar hukumnya menggunakan bahasa yang sangat sederhana, seperti: jangan membuat patung, jangan membunuh, jangan berzinah, dan lain sebagainya. Standar ini yang sebenarnya sedang diredefinisi oleh Tuhan Yesus dalam Injil Kerajaan Allah, dimana standar hidup umat Perjanjian Baru bukan hanya saja menaati hukum-hukum yang tertulis, tetapi apakah dalam melakukan sesuatu, kita menyukakan hati Allah atau tidak. Lagipula jika hukum Taurat mungkin hanya cocok bagi orang Israel/Yahudi di tempat dan waktu mereka hidup, maka Injil memiliki fleksibilitas yang tinggi yang dapat diterapkan bagi seluruh manusia di segala tempat dan masa.

Jangan dipikir bahwa dengan pemberitaan Injil maka orang Kristen hidupnya lebih mudah daripada orang Yahudi yang hidup menurut hukum Taurat. Justru dengan pemberitaan Injil oleh Tuhan Yesus, maka standar atau ukuran penghakiman manusia bukan lagi adalah hukum Taurat yang tertulis, melainkan standarnya adalah kehendak Allah sendiri (Mat 7:21-23). Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa orang harus berjuang keras untuk dapat memasuki Kerajaan Allah, yang dalam ayat 16 dikatakan sebagai “setiap orang menggagahinya berebut memasukinya”. Dalam bahasa aslinya digunakan kata biazetai (βιάζεται) dari akar kata biazó (βίαζομαι) yang memiliki makna to use force, to use violence, suffer violence, laying hold of something with positive aggressiveness (menggunakan tenaga/kekuatan, dengan kekerasan, menderita kekerasan, meletakkan sesuatu dan menahannya dengan agresivitas yang positif). Jadi dalam hal ini diperlukan usaha keras, kekuatan ekstra, agresivitas (yang positif), bahkan hingga menderita untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini bukan untuk membawa damai sehingga orang Kristen dapat hidup nyaman di dunia ini, tetapi justru membawa pedang yang akan memurnikan orang-orang pilihannya supaya dapat hidup sesuai standar Allah.

Dari kedua ayat di ayat 16 dan 17 tersebut, barulah Tuhan Yesus berkata bahwa setiap orang yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah, dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah (ay. 18) . Apakah ayat ini berlaku secara harafiah atau hanya bersifat figuratif juga? Menurut saya ayat 18 ini dapat dimaknai secara harafiah, karena ayat yang hampir mirip pun juga telah disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam ayat-ayat lainnya (misalnya: Mat 5:31-32, Mat 19:9, Mrk 10:11-12). Namun prinsip ini pun harus dilihat juga konteks peristiwanya, misalnya: mengapa orang tersebut menceraikan istrinya? Apakah alasan hingga terjadinya perceraian? Apakah ia kawin lagi dengan orang lain yang sebenarnya sudah diselingkuhi selama menikah dengan suami/istri yang terdahulu? Apakah ia kawin dengan cara yang benar ataukah karena hamil duluan? Jika ada hukum atau norma yang dilanggar dalam peristiwa perceraian dan pernikahan tersebut, maka sudah pasti ia sedang melakukan zinah, tidak perlu berputar-putar mencari pembenaran. Bahkan bisa jadi peristiwa pernikahan dengan orang yang diceraikan itu memang dipandang sebagai moicheuó tetapi dosa seksual yang dilakukan sebelumnya (misalnya: sudah bersetubuh dengan orang tersebut sejak masih menikah dengan suami/istrinya) bisa jadi dipandang lebih parah yaitu sudah mencapai taraf pornos/porneia. Dalam hal ini saya melihat pentingnya bimbingan pranikah yang benar supaya janji nikah yang berbunyi “sampai maut memisahkan kita” benar-benar diucapkan dari hati dan bukan hanya sekedar ucapan di bibir saja.

Di sisi lain, ayat 18 ini juga dapat bermakna figuratif, yaitu adanya perselingkuhan dengan semangat materialisme dan konsumerisme (yang digambarkan dengan kenikmatan dunia yaitu harta kekayaan dalam ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya). Dalam hal ini orang Farisi digambarkan sebagai mereka yang terlihat menjalankan hukum Taurat dengan ketat, padahal sebenarnya mereka adalah hamba-hamba uang (Luk 16:14). Sebenarnya mereka bisa saja dikatakan sudah terikat dengan Tuhan (sebagai bangsa pilihan) tetapi sebenarnya mereka sedang berbuat zinah dengan melakukan percintaan dengan dunia. Hal ini sebenarnya menjadi pengulangan akan kejadian di Perjanjian Lama, ketika bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan justru berzinah kepada-Nya dengan menyembah dewa-dewa bangsa lain. Di masa Perjanjian Baru, orang-orang Farisi memang tidak menyembah dewa-dewa lain (bahkan sangat radikal terhadap hal ini). Tetapi tanpa sadar mereka sebenarnya sedang berzinah dengan harta, kekayaan dan kenikmatan dunia).

Jadi ayat 18 ini seharusnya tidak perlu dipermasalahkan dan diperdebatkan apakah memang bermakna harafiah atau tidak. Ayat itu pun sangat bagus jika dimaknai secara harafiah (supaya seseorang tidak gampang menikah dan bercerai). Di sisi lain, makna figuratif dari ayat ini pun jauh lebih bagus karena menggambarkan sikap manusia yang seharusnya tidak boleh berselingkuh dengan mamon (harta dan kekayaan dunia). Kita harus menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagian kita, menjadikan Tuhan sebagai mempelai kita dan tidak berzinah dengan mencintai dunia. Menikah dengan janda bisa jadi adalah zinah (moicheuó), tetapi jangan sampai alasan kita menikahi janda adalah karena dosa percabulan yang lebih berat(pornos/porneia). Di sisi lain, percintaan dunia pun bisa jadi lebih “mematikan” bagi kehidupan kita, karena bisa membuat kita berzinah dengan Tuhan, dan jika tidak segera bertobat, maka kita bisa tertawan hingga tidak bisa lagi kembali ke jalan yang benar.



Bacaan Alkitab: Lukas 16:16-18
16:16 Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.
16:17 Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.
16:18 Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah."

Kamis, 14 Juni 2018

Pornos dan Moichos (13): Dapat Menyebabkan Pemborosan Harta


Jumat, 15 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Lukas 15:28-30
Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. (Luk 15:30)


Pornos dan Moichos (13): Dapat Menyebabkan Pemborosan Harta


Perikop yang kita baca adalah perumpamaan mengenai anak yang hilang. Tentu hampir semua orang Kristen sudah pernah mendengar mengenai perumpamaan ini, dimana ada seorang bapa yang memiliki 2 orang anak (sulung dan bungsu). Anak bungsu meminta jatah warisannya lalu pergi meninggalkan bapanya. Ia akhirnya kehabisan harta dan kembali kepada bapanya sementara itu si sulung tetap tinggal di rumah bapanya. Tetapi anak sulung marah begitu tahu adiknya kembali dan bapanya menerima adiknya kembali bahkan mengadakan pesta bagi adiknya.

Kita memang tidak akan membahas seluruh ayat dalam perikop ini, tetapi hanya berfokus pada kata pornos yang ada di dalam perikop ini. Ketika anak sulung marah dan tidak mau masuk ke dalam rumah ayahnya (dimana sedang diadakan pesta menyambut kembalinya anak bungsu), maka ayahnya kemudian keluar dan berbicara dengan anak sulung tersebut (ay. 28). Kemungkinan besar pada saat itu ayahnya hendak membujuk anak sulungnya untuk mau masuk ke dalam rumah dan ikut berpesta menyambut kembalinya sang adik.

Namun anak sulung tersebut menjawab ayahnya, dan berkata bahwa telah bertahun-tahun ia melayani bapa dan belum pernah melanggar perintah bapa, tetapi bapa belum pernah memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatnya (ay. 29). Tetapi ketika adiknya datang, yaitu anak yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan para pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun untuk sang adik (ay. 30).

Menarik melihat bahwa si anak sulung cemburu karena bapanya tidak pernah memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabat si sulung, sementara justru ketika si bungsu pulang, bapanya langsung menyembelih seekor anak lembu tambun menyambut kedatangannya. Padahal, anak bungsu sudah sangat berdosa di hadapan bapanya. Ia telah meminta bagian harta warisan ayahnya kemudian menjualnya, serta menghabiskannya dengan berfoya-foya di negeri orang (Luk 15:13). Dalam ayat 13 memang tidak dijelaskan dengan gamblang mengenai tindakan berfoya-foya yang dilakukan oleh anak bungsu. Namun di ayat 30 ini, anak yang sulung mengatakan bahwa si bungsu telah memboroskan harta kekayaan bapanya dengan pelacur-pelacur.

Kata “harta kekayaan” pada ayat ini dalam bahasa aslinya menggunakan kata bion (βίον) dari akar kata bios (βίος) yang secara harafiah bermakna hidup/kehidupan. Sehingga, dapat dikatakan bahwa si anak bungsu ini sebenarnya sedang menghabiskan “hidup” bapanya, karena harta milik bapanya itu adalah sumber daya (resources) yang menyokong kehidupan keluarga mereka. Kata “memboroskan” pun dalam bahasa aslinya adalah kataphagōn (καταφαγών) dari akar kata katesthió (κατεσθίω) yang memiliki makna eat till it is finished, devour, squander, annoy, injure (makan hingga habis tak bersisa, melahap, menghambur-hamburkan, memboroskan, mengganggu, melukai, merusak, merugikan). Jadi apa yang dilakukan oleh anak bungsu ini adalah menghabiskan bagian warisan ayahnya (kemungkinan besar tanah atau ladang mereka), menjualnya, lalu uangnya dihabiskan sama sekali hingga tak bersisa. Ini paralel dengan deskripsi si anak bungsu yang tidak punya apa-apa bahkan hingga ia harus memakan makanan babi ketika bekerja sebagai penjaga babi, tetapi tidak ada orang yang memberikan makanan babi kepadanya (Luk 15:16).

Lebih lanjut, si anak sulung mengatakan bahwa harta si bungsu habis karena diboroskan dengan para pelacur (ay. 30a). Kita tidak tahu bagaimana anak sulung mengetahui hal ini, apakah ia mendengar cerita dari orang lain yang menyampaikan kepadanya, atau ia hanya sekedar menebak-nebak saja. Tetapi jika mau jujur, memang besar kemungkinan anak bungsu ini masih belum memiliki pengalaman hidup sehingga ketika memiliki uang banyak hasil penjualan bagian warisannya, ia kemudian berfoya-foya dan mencari kepuasan dengan para pelacur. Dalam bahasa aslinya, kata “pelacur” menggunakan kata pornōn (πορνῶν) dari akar kata porné (πόρνη). Kata porné ini memiliki pengertian sebagai a woman who sells her body for sexual uses, a prostitute, a harlot, any woman indulging in unlawful sexual intercourse, whether for gain or for lust (perempuan yang menjual tubuhnya untuk urusan seksual, pelacur, perempuan yang melakukan hubungan seksual yang tidak sah, baik untuk mendapatkan keuntungan atau hanya untuk memuaskan nafsunya).

Tidak dapat dipungkiri bahwa biaya untuk menyewa pelacur dapat menghabiskan biaya yang cukup besar, apalagi jika pelacur tersebut adalah pelacur yang high class. Mengingat uang yang dibawa oleh si bungsu cukup banyak, maka bukan tidak mungkin para pelacur mengetahuinya dan “menjebaknya” untuk mendapatkan uangnya dengan cepat. Tidak heran jika anak bungsu bisa sangat cepat kehilangan seluruh hartanya dengan gaya hidup yang demikian. Herannya mengapa si bungsu tidak mencari wanita yang paling cantik di negeri orang tersebut kemudian menikahinya daripada menghabiskan uang dengan para pelacur.

Salah satu kesalahan si bungsu adalah ia tidak memiliki orang yang bisa memberikan nasehat yang benar kepada dirinya. Ketika ia masih bersama dengan bapanya, ia mungkin masih mendapatkan nasehat dari bapa dan kakaknya. Atau minimal pegawai bapanya masih bisa memberikan masukan kepada si anak bungsu. Namun ketika ia memutuskan untuk pergi ke negeri yang jauh, tanpa adanya orang yang bisa menasehatinya, maka ia sebenarnya sedang terhilang menuju kebinasaan. Kata “hilang” dalam perikop “anak yang hilang” ini pantas dimaknai sebagai tidak berada di tempat yang semestinya, atau terpisah dari keluarganya. Ketika si anak bungsu ini putus hubungan dengan keluarganya, maka tidak ada lagi saran atau masukan yang baik kepadanya sehingga ia akhirnya salah melangkah dan mengambil keputusan. Syukurlah ia masih memiliki kesempatan untuk kembali kepada bapanya dan tidak lagi terhilang dalam dosa dan kegelapan.

Jika mau jujur, banyak orang yang menjadi miskin karena dosa perzinahan ini. Sekali terikat dengan perzinahan, hal itu akan menjadi candu yang kuat dan mengikat sehingga sangat sulit sekali untuk lepas. Ketika sudah terikat, maka uang pun akan banyak habis untuk melakukan perzinahan tersebut. Apalagi jika dilakukan dengan para pelacur-pelacur yang memang mencari menjual tubuhnya demi keuntungan khususnya uang. Jangankan dengan para pelacur, memiliki istri simpanan pun juga dapat menghabiskan banyak uang. Oleh karena itu, satu hal yang perlu ditekankan adalah jangan sampai jatuh ke dalam dosa perzinahan karena hal tersebut adalah jahat di mata Tuhan. Uang dan harta kita adalah titipan Tuhan yang harus kita kelola sebaik-baiknya bagi kemuliaan nama Tuhan, untuk kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya. Jangan biarkan uang kita habis untuk hal-hal yang tidak berguna, apalagi untuk hal-hal yang jelas-jelas merugikan diri kita.  




Bacaan Alkitab: Lukas 15:28-30
15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.

Pornos dan Moichos (12): Dosa yang Sebenarnya Bisa Dihindari


Kamis, 14 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Markus 10: 17-22
“Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!". Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." (Mrk 10:19-20)


Pornos dan Moichos (12): Dosa yang Sebenarnya Bisa Dihindari


Sebenarnya perikop ini juga hampir sama isinya dengan perikop lain seperti di kitab Matius 19 dan Lukas 18. Ayat mengenai kata moichos di Matius 19 juga sudah kita bahas sebagian dalam seri-seri sebelumnya, khususnya mengenai kalimat “Jangan berzinah” yang adalah salah satu perintah Allah. Oleh karena itu pada renungan hari ini kita akan sedikit lebih fokus pada fakta bahwa perzinahan sebenarnya merupakan dosa yang dapat dihindari, bahkan sejak muda.

Perikop ini dimulai dengan tulisan yang menunjukkan setting latar belakang kejadian, dimana Tuhan Yesus hendak berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya (ay. 17a). Pada saat itu, datanglah seorang berlari-lari di hadapan-Nya lalu bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ay. 17b). Pertanyaan ini sangat mirip dengan apa yang ditulis di kitab Matius pasal 19. Namum kita melihat bahwa Markus mencatat orang yang datang ini datang dengan berlari-lari (kemungkinan ia ingin segera mendapatkan jawaban dari Tuhan Yesus sebelum Ia pergi). Orang ini bahkan menyebut Tuhan Yesus sebagai “Guru yang baik” serta bertelut atau berlutut di hadapan Tuhan Yesus. Hanya ada segelintir orang yang tercatat berlutut atau sujud di hadapan Tuhan Yesus dan orang ini termasuk salah satunya. Dalam hal ini Markus hendak menekankan bahwa orang yang datang ini memang benar-benar serius ingin bertanya bagaimana mendapatkan hidup yang kekal kepada Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaannya secara terus terang atau gamblang, melainkan menyatakan bahwa tidak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja (ay. 18). Lho, bukankah Tuhan Yesus adalah Anak Allah, mengapa Ia sendiri berkata bahwa tidak ada seorang pun yang baik? Apakah Tuhan Yesus sendiri tidak baik? Jawaban Tuhan Yesus di ayat 18 ini menarik untuk kita bedah. Sedikitnya ada 2 kemungkinan maksud pernyataan Tuhan Yesus, yaitu: 1) Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa diri-Nya berbeda dengan pribadi Bapa. Memang Tuhan Yesus dan Bapa adalah satu dalam lembaga Allah, tetapi pribadi Yesus dan Bapa berbeda. Itulah mengapa di dunia ini Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa, bahkan berseru kepada Bapa. Ada pula kemungkinan selanjutnya yaitu: 2) Tuhan Yesus tidak berhak menyatakan diri-Nya sebagai pribadi yang baik karena Ia belum menyelesaikan tugas-Nya selama di dunia ini, yaitu hidup dalam ketaatan yang sempurna kepada Bapa hingga mati di kayu salib. Barulah ketika Ia berhasil taat hingga kematian-Nya, maka Tuhan Yesus menjadi pokok keselamatan bagi semua orang yang taat kepada-Nya (Ibr 5:7).

Kembali ke ucapan Tuhan Yesus kepada orang tersebut, Tuhan Yesus baru kemudian menjawab: “Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu” (ay. 19). Apa yang diucapkan oleh Tuhan Yesus ini adalah ringkasan dari 10 Hukum Allah (Dekalog), khususnya hukum yang mengatur mengenai hubungan manusia dengan sesamanya yaitu hukum ke-5 hingga ke-10 (walaupun tidak semua disebutkan dan tidak urut juga). Agak menarik juga mengapa Tuhan Yesus menggunakan hukum ke-5 hingga ke-10 dan bukannya hukum ke-1 hingga ke-4 yang mengatur mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Apakah Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa hukum ke-1 dan ke-4 tidak berguna untuk memperoleh hidup yang kekal?

Tentu tidak. Alasan Tuhan Yesus menggunakan hukum ke-5 hingga ke-10 adalah karena hukum tersebut masih mungkin bisa dilakukan oleh manusia dibandingkan dengan hukum ke-1 hingga ke-4. Jika mau jujur, inti dari hukum ke-5 hingga ke-10 itu juga dimiliki oleh bangsa-bangsa lain selain bangsa Israel/Yahudi (meskipun bisa jadi dalam “kadar” yang lebih rendah). Sebagai contoh, tidak ada satu pun suku bangsa atau agama di dunia ini yang tidak mengajarkan manusia untuk menghormati orang tuanya. Ini menunjukkan bahwa hukum ke-5 hingga ke-10 termasuk hukum yang masih memungkinkan untuk dilakukan oleh manusia, dibanding dengan hukum ke-1 hingga ke-4 yang lebih abstrak lagi dalam pelaksanaannya.

Termasuk di dalam hukum yang disebutkan oleh Tuhan Yesus adalah perintah atau hukum ke-7 yaitu “Jangan berzinah”. Dalam bahasa Yunani, kata “berzinah” menggunakan kata moicheusēs (μοιχεύσῃς) dari akar kata moicheuó (μοιχεύω). Kata ini sejajar dengan kata naaph (נָאַף) dalam bahasa Ibrani. Kata “berzinah” dalam konteks ayat ini dapat diartikan sebagai tindakan melakukan hubungan seksual yang dilakukan oleh seseorang yang sudah menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya. Meskipun di dalam Matius 5 (yaitu dalam khotbah Tuhan Yesus di awal pelayanan-Nya), Tuhan Yesus sudah menjelaskan mengenai definisi “berzinah” yang baru, yaitu tidak sampai melakukan hubungan seksual namun sudah mengingini/tergerak syahwatnya juga sudah masuk kategori berzinah.

Dalam konteks perikop ini, menarik melihat jawaban orang tersebut kepada Tuhan Yesus: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku” (ay. 20). Sangat jarang ada orang yang berani berkata demikian kepada Tuhan Yesus. Jika orang ini sampai berani berkata demikian, berarti orang ini adalah salah satu dari sedikit orang Yahudi yang benar-benar menjaga hidupnya sesuai dengan tuntutan hukum Taurat. Ia tdiak membunuh, tidak mencuri, tidak berbohong, bahkan tidak berzinah. Menariknya, Tuhan Yesus juga tidak membantah ucapan orang tersebut. Ini dapat mengimplikasikan bahwa apa yang diucapkan oleh orang tersebut memang benar. Sejak masa mudanya, orang itu telah berjuang hidup tanpa melanggar hukum Taurat. Tetapi Tuhan Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya (ay. 21a). Tuhan lalu berkata kepada orang tersebut: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (ay. 21b). Sayangnya, orang tersebut yang begitu menggebu-gebu datang kepada Tuhan Yesus, kemudian ia menjadi kecewa lalu pergi dengan sedih sebab banyak hartanya (ay. 22).

Dari percakapan antara Tuhan Yesus dengan orang yang datang kepada-Nya, secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk melakukan hukum Taurat, minimal untuk hukum ke-5 hingga ke-10. Dalam hal ini, manusia juga pasti mampu untuk tidak melakukan dosa perzinahan. Kita dapat melihat bagaimana orang ini bisa menjaga hidupnya dari dosa perzinahan sejak masa mudanya. Prinsip ini yang seharusnya dapat dikenakan kepada setiap orang percaya yang lebih lagi telah diberikan karunia Roh Kudus oleh Allah Bapa.

Seringkali banyak orang Kristen beralasan bahwa dosa perzinahan ini sulit untuk dihindari. Ya, memang di akhir zaman ini teknologi berkembang semakin maju sehingga bahaya pornografi semakin rentan terpapar kepada orang muda bahkan anak-anak. Akan tetapi jika kita tahu bahwa perzinahan adalah suatu dosa (yang sudah dinyatakan sejak zaman Perjanjian Lama dan diredefinisi kembali oleh Tuhan Yesus), maka kita seharusnya dapat menghindarinya. Hal ini sama halnya dengan kita bisa tidak berbohong, tidak mencuri, tidak membunuh, dan lain sebagainya. Tentu hal ini hanya dapat dicapai dengan kesadaran bahwa hal tersebut adalah dosa dan kita memiliki niat tinggi untuk tidak melakukan apapun yang tidak menyukakan hati Tuhan.

Jika orang-orang di luar Kristen saja ada yang bisa menjaga hidupnya bersih dari dosa perzinahan, tentu orang Kristen yang telah menerima karunia penebusan Tuhan Yesus, Injil yang lengkap, serta Roh Kudus dalam hati kita, seharusnya dapat mencapai standar kesucian hidup yang lebih tinggi pula. Dalam hal ini, perlu ditekankan tentang pentingnya menjaga kesucian hidup (khususnya terkait dosa perzinahan) kepada orang Kristen sejak muda. Topik ini seharusnya lebih sering disampaikan kepada para pemuda dan remaja, tentu dengan bahasa yang disesuaikan supaya mereka dapat menghindari dosa dan bukannya semakin penasaran untuk mencoba dosa perzinahan. Sayangnya, banyak gereja dan pendeta yang menghindari pembahasan ini karena alasan tabu. Padahal, pemuda dan remaja Kristen seharusnya menerima pengetahuan tentang seksualitas paling banyak dari gereja dan bukan dari sumber lain. Betapa berbahayanya jika gereja alpa menyampaikan hal ini dan mereka justru lebih banyak mendapatkan informasi (yang salah/keliru) dari sumber lain. Tidak heran jika semakin banyak dosa perzinahan yang terjadi di lingkungan orang Kristen bahkan di dalam gereja.




Bacaan Alkitab: Markus 10: 17-22
10:17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
10:18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja.
10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"
10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.