Senin, 23 September 2019

Pornos dan Moichos (39): Harus Mengejar Kekudusan


Senin, 23 September 2019
Bacaan Alkitab: Ibrani 12:14-17
Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. (Ibr 12:16)


Pornos dan Moichos (39): Harus Mengejar Kekudusan


Setelah sekian banyak pembahasan dimana kata pornos dan moichos memang bermakna harafiah dalam ayat Alkitab, maka hari ini kita akan melihat bagaimana kata pornos juga digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi lain (tidak secara harafiah). Sebelum membahas hal tersebut, sebagai pengantar maka kita harus mengerti bahwa kitab Ibrani ini ditulis oleh seseorang pemimpin Kristen (kemungkinan adalah Paulus) yang ditujukan kepada jemaat Kristen yang berasal dari bangsa Yahudi. Oleh karena itu, kitab ini banyak sekali mengutip ayat-ayat di Perjanjian Lama, termasuk nama tokoh-tokoh Perjanjian Lama.

Dalam bagian bacaan Alkitab kita hari ini, kita memulai pembahasan dari ayat yang menyerukan agar orang percaya harus berjuang untuk dapat hidup damai dengan semua orang dan juga harus mengejar kekudusan (ay. 14a). Hal ini sebenarnya juga dapat dilihat dari 2 aspek utama dalam hidup, yaitu mengasihi Tuhan dan juga mengasihi sesama. Hal ini juga ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus sendiri bahwa intisari dari hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Mat 22:37-40). Oleh sebab itu, memang benar bahwa kita harus hidup dalam kekudusan karena tanpa kekudusan maka tidak ada seorang pun yang dapat melihat Tuhan (ay. 14b).

Itulah sebabnya di ayat 14 ini, penulis kitab Ibrani mencoba mengingatkan jemaat agar mereka “berusaha” dan “mengejar”. Di dalam bahasa aslinya, sebenarnya hanya ada satu kata perintah (imperative) yaitu diōkete (διώκετε) dari akar kata diókó (διώκω) yang bermakna to pursue, to aggressively chase (memburu, mengejar secara agresif). Kata ini dapat bermakna positif (mengejar sesuatu yang positif) namun juga bermakna negative (semisal: memburu dan mengejar-ngejar orang percaya). Oleh karena itu, untuk mengerti makna kata diókó ini harus dilihat dalam konteks pemakaiannya. Namun yang pasti, kata diókó tersebut mengandung unsur dimana ada suatu usaha keras dalam memburu/mengejar sesuatu demi mendapatkannya. Dalam hal ini kita harus berusaha keras untuk dapat hidup damai dengan semua orang, dan terlebih supaya kita dapat mengejar kekudusan supaya dapat melihat Tuhan.

Selanjutnya, terkait dengan hubungan kepada Tuhan dan manusia, penulis kitab Ibrani ini juga mengingatkan supaya kita menjaga diri kita. Sebenarnya dalam bahasa asli, tidak ada kalimat imperatif dalam ayat ini (yaitu “jagalah”). Kata yang digunakan untuk kata “jagalah” tersebut adalah episkopountes  (ἐπισκοποῦντες) dari akar kata episkopeó (ἐπισκοπέω) yang berjenis kata partisipatif (bukan imperatif). Kata ini bermakna to look upon, to observe, to care for, to visit (melihat, memperhatikan, merawat, memedulikan, menilik, mengunjungi). Kata ini juga sejajar dengan kata episkopos yang diterjemahkan sebagai penilik jemaat atau gembala (Kis 20:28, Flp 1:1, 1 Tim 3:2, Tit 1:7, dan 1 Ptr 2:25). Dari kata episkopos inilah muncul istilah uskup sebagai pemimpin jemaat di suatu wilayah.

Jadi jelas bahwa jemaat harus bejuang untuk hidup damai dengan semua orang dan mengejar kekudusan, antara lain dengan cara menjaga dan memperhatikan. Apa saja yang dijaga dan diperhatikan? Dalam ayat 15-17 ini setidaknya ada 3 hal yang harus kita jaga dan perhatikan yaitu:

Pertama, supaya jangan ada orang yang menjauhkan diri dari kasih karunia Allah (ay. 15a). Apakah ada orang yang bisa menjauhkan diri dari kasih karunia Allah? Apakah kasih karunia Allah itu tidak sempurna sehingga masih dapat membuat orang lari dari kasih karunia Allah? Kata menjauhkan diri di sini dalam bahasa aslinya adalah hysteron (ὑστερῶν) dari akar kata hustereó (ὑστερέω) yang bermakna to come late, to be behind, to come short, to be lacking (terlambat, berada di belakang, ketinggalan, kekurangan). Oleh karena itu, yang saya pahami adalah ada orang tidak merespon kasih karunia Allah dengan benar sehingga ia tidak mencapai “standar yang seharusnya” dalam pertumbuhan rohani. Sebagai akibatnya, orang tersebut lambat laun akan “mati rohani” karena tidak bertumbuh. Hal ini sangat relevan dengan perintah yang disampaikan dalam ayat sebelumnya yang meminta jemaat untuk terus berjuang dan berusaha. Jika kita tidak berusaha bertumbuh dengan benar, maka hal tersebut dapat membuat kita kerdil bahkan mati secara rohani.

Kedua, supaya jangan tumbuh akar yang pahit yang dapat menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang (ay. 15b).    Ada banyak sekali tafsiran mengenai akar yang pahit, tetapi menurut saya, istilah ini juga merujuk pada istilah dalam Perjanjian lama, yaitu Ul 29:18. Di situ tertulis istilah “janganlah di antaramu ada akar yang menghasilkan racun atau ipuh” (Ul 29:18b). Jika kita membaca ayat-ayat sebelumnya, maka kita akan mengerti bahwa istilah ini juga menunjuk kepada orang-orang yang memberi pengaruh buruk, bahkan menghasilkan buah yang buruk, yang dapat merusak orang lain dalam suatu komunitas. Dalam kitab Ulangan, komunitas yang dimaksud tentu adalah orang Israel, sedangkan di kitab Ibrani ini komunitas yang dimaksud adalah jemaat (orang percaya) khususnya kepada mereka yang berasal dari latar belakang Yahudi.

Kita harus mengamati dan memperhatikan apakah ada akar yang pahit yang mulai tumbuh. Jangan sampai akar pahit tersebut tumbuh besar bahkan sampai mengeluarkan buah, karena hal itu akan menimbulkan kerusuhan. Jika sampai menimbulkan kerusuhan, tentulah akar pahit ini merujuk kepada orang-orang yang mengajak untuk murtad atau mengajak untuk meninggalkan ajaran sehat (menjauhkan diri dari kasih karunia Allah). Inilah sebabnya Paulus menasehati supaya kita memperhatikan supaya jangan sampai muncul akar yang pahit, karena akan berdampak masif bagi jemaat.

Kata “menimbulkan kerusuhan” dalam bahasa aslinya adalah enochleó (ἐνοχλέω) yang bermakna to disturb, to annoy to cause tumult, to trouble, (mengganggu, mengacaukan, menyebabkan keributan/huru-hara, menyusahkan). Oleh karena itu kita benar-benar harus memperhatikan jangan sampai jemaat sibuk mengurusi kekacauan/keributan yang disebabkan oleh orang-orang tertentu yang diistilahkan dengan akar yang pahit tersebut. Tidak hanya sampai kepada kerusuhan/kekacauan, namun hal tersebut dapat membuat banyak orang (di dalam jemaat) menjadi tercemar.

Jelas bahwa akar yang pahit ini adalah orang-orang yang hidupnya rusak, yang juga ingin membuat orang lain menjadi rusak. Dalam hal ini, mereka seakan-akan memberi contoh hidup yang buruk, dan jika tidak hati-hati maka jemaat lain juga dapat terseret olehnya. Itulah sebabnya “akar pahit” ini harus diberantas sebelum berbuah, sehingga tidak sampai mencemari/mempengaruhi orang lain dalam arti negatif.

Sebagai contoh, jika ada orang yang melakukan kesalahan fatal (katakanlah jelas-jelas mencuri uang gereja), namun ternyata orang tersebut dibiarkan saja bahkan kemudian dijadikan pengurus, diaken, bahkan majelis, maka dapat dibayangkan teladan macam apa yang sedang diajarkan di jemaat tersebut. Jangan sampai nanti ada jemaat yang berkata: “Oh, jadi kalau gitu kita nggak apa-apa mencuri uang gereja, karena toh pasti dimaafkan. Nanti juga kita masih bisa jadi pengurus, aktivis, bahkan majelis”. Tanpa disadari, sikap ketidaktegasan terhadap dosa sekecil apapun di dalam jemaat bisa mendorong tumbuhnya akar pahit ini, yang pada akhirnya akan menghancurkan jemaat tersebut dari dalam.

Akar pahit ini tidak hanya berbicara mengenai kepahitan, luka batin, dan juga masalah-masalah psikologis dan interpersonal. Jika penulis kitab Ibrani ini sampai menuliskan akar pahit, berarti memang ada ancaman yang jauh lebih besar dibandingkan dengan masalah kepahitan antar anggota jemaat (walau tidak bisa dipungkiri, bahwa mungkin saja permasalahan tersebut dimulai dari luka batin tersebut). Bagaimanapun juga, ketika ada kerusuhan atau kekacauan di dalam jemaat, maka pihak yang paling diuntungkan adalah iblis karena jemaat hanya akan sibuk mengurusi kekacuaan tersebut dan tidak punya waktu lagi untuk berjuang mengubah karakter dari karakter dunia menjadi karakter ilahi.

Sedangkan poin yang ketiga adalah supaya jangan ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau (ay. 16a). Kata “cabul” dalam ayat ini menggunakan kata pornos (πόρνος) yang juga berarti adalah seorang pelacur pria, atau seorang laki-laki yang melakukan hubungan seksual yang tidak sesuai dengan hukum. Apakah Esau melakukan perzinahan? Dari Alkitab kita dapat melihat bahwa yang dilakukan Esau adalah mengambil 2 perempuaan Kanaan (orang Het) menjadi istri-istrinya (Kej 26:34-35). Apakah hal tersebut termasuk perzinahan? Jawabannya bisa ya dan bisa juga tidak. “Ya”, karena orang tua (Ishak dan Ribka) tentu sudah menekankan panggilan Allah terhadap Abraham dan Ishak, dan tentunya Esau harus pintar dalam memilih istri. Juga “Ya”, karena Esau langsung memiliki 2 istri (walaupun ini dapat diperdebatkan juga, karena Abraham dan Yakub juga memiliki lebih dari 1 istri). Tetapi bisa juga jawabannya “Tidak” karena memang tidak ada pelanggaran hukum atau moral dalam hal ini (karena hukum Taurat belum diturunkan, dan memang Esau juga mengambil kedua perempuan tersebut dalam hubungan perkawinan yang jelas).

Oleh karena itu, ayat 16 ini memang masih dapat dipersoalkan, apakah Esau di sini digunakan sebagai contoh orang yang mempunyai nafsu yang rendah (yang sejajar dengan orang yang melakukan percabulan), atau Esau juga digunakan sebagai contoh orang cabul dan sekaligus orang yang rendah. Namun terlepas dari Esau sebagai contoh, kita memang harus memperhatikan supaya jangan ada orang yang menjadi cabul. Jangan sampai ada jemaat yang sudah mencapai taraf yang sangat parah, yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi, seperti jemaat di Korintus misalnya.

Selain mengenai percabulan, jemaat juga diingatkan supaya tidak memiliki nafsu yang rendah. Kata yang digunakan dalam bahasa aslinya adalah bebélos (βέβηλος), yaitu suatu kata yang dapat berarti godless, profane, worldly (murtad/jahat/tak beriman, kotor/najis/tidak suci, duniawi). Dari kata ini, jelas bahwa Esau memang sangat bersifat duniawi dan hampir tidak percaya kepada Allah. Bagaimana mungkin dia dengan sembrononya menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan (ay. 16). Masih lebih baik jika ia menjual hak kesulungannya untuk hal yang lebih besar, semisal untuk tanah yang luas. Ini menunjukkan pola pikirnya yang sangat dangkal dan tidak berpikir panjang. Jangankan memikirkan kekekalan, atas hal yang ada di dunia ini saja ia tidak dapat memilih prioritas yang tepat.

Tidak heran kemudian ditulis bahwa Esau ditolak ketika ia hendak menerima berkat itu (ay. 17a). Ia tidak dapat lagi memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang pernah ia lakukan tersebut, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata (ay. 17b). Ini menunjukkan bagaimana Esau menyesal karena telah menganggap sepele hal yang sangat penting baginya pada waktu itu. Akibat kesalahannya itu, sudah tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya. Ia memang juga diberkati secara luar biasa oleh Allah, tetapi Ia sebenarnya bisa saja memperoleh jauh lebih banyak lagi jika ia berhati-hati terhadap ucapannya.

Pelajaran bagi kita adalah kita harus memperhatikan sungguh-sungguh ketiga hal di atas. Menurut saya, poin yang terpenting adalah poin ketiga, dimana jangan sampai kita melakukan kesalahan yang tidak dapat diperbaiki selama kita hidup. Betapa berbahayanya jika kita tidak berhati-hati dan berdampak akan hidup kita, bahkan hingga kepada kekekalan. Hal ini tentu termasuk dalam hal percabulan. Ke depannya kita akan belajar bahwa tidak ada orang cabul yang diizinkan Tuhan masuk ke dalam kekekalan. Betapa berbahayanya jika selama ini kita masih hidup dalam percabulan dan tidak bertobat. Selagi kita masih hidup, mari kita mengejar kekudusan supaya kita dapat berkenan dan layak di pemandangan-Nya.


Bacaan Alkitab: Ibrani 12:14-17
12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.
12:15 Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
12:16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.
12:17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Sabtu, 21 September 2019

Pornos dan Moichos (38): Tertulis dalam Sejarah Kehidupan


Minggu, 22 September 2019
Bacaan Alkitab: Ibrani 11:30-31
Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik. (Ibr 11:31)


Pornos dan Moichos (38): Tertulis dalam Sejarah Kehidupan


Kita tentu sudah familiar mengenai kisah Yosua ketika merebut kota Yerikho, misalnya bagaimana tembok Yerikho runtuh setelah dikelilingi sebanyak 7 kali. Tapi di balik kisah itu, tentu ada sosok pahlawan yang luar biasa bagi bangsa Israel (meskipun jika mau fair, sebenarnya orang tersebut adalah “pengkhianat” bagi orang sekotanya), yaitu Rahab. Rahab adalah orang yang menyembunyikan mata-mata Israel di atas sotoh rumahnya sehingga tidak tertangkap tantara Yerikho. Sebagai balasannya, Rahab sekeluarga diselamatkan oleh bangsa Israel dan kemungkinan besar diperhitungkan untuk masuk ke dalam kelompok orang Israel (Yos 2:1-24, Yos 6:1-27).

Menariknya lagi, Alkitab berterus terang mengenai siapakah Rahab itu. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Rahab adalah seorang perempuan sundal (Yos 2:1). Bahkan di ayat tersebut ditulis bahwa para pengintai tersebut tidur di situ. Kata “tidur” di ayat tersebut adalah וַיִּשְׁכְּבוּ־ (way·yiš·kə·ḇū-) yang selain dapat berarti berbaring (secara harafiah), juga dapat berarti lodged (tinggal). Memang masih bisa diperdebatkan apakah para pengintai tersebut “menggunakan jasa” Rahab ataukah hanya menyamar supaya tidak diketahui oleh tentara Yerikho. Tetapi menurut pemahaman saya, apapun yang dilakukan oleh kedua pengintai tersebut bukanlah hal yang mayor, tetapi justru apa pekerjaan Rahab inilah yang merupakan hal yang mayor.

Rahab memang berprofesi sebagai perempuan sundal. Dalam Yos 2:1 kata “perempuan sundal” menggunakan kata zō·nāh (זוֹנָ֛ה) dari akar kata zanah (זָנָה) yang berarti “orang yang melakukan percabulan, pelacur). Dalam kitab Ibrani, kata “perempuan sundal” menggunakan kata pornē (πόρνη) yang berarti pelacur perempuan. Jelas bahwa Rahab memang adalah seorang pelacur atau perempuan sundal di kota Yerikho pada waktu itu. Dalam hal ini, tindakan dan profesi Rahab sama sekali tidak patut untuk dicontoh. Namun demikian, nama Rahab disebutkan sebanyak 8 kali dalam Alkitab (5 dalam Perjanjian Baru dan 3 dalam Perjanjian Lama). Rahab bahkan menjadi salah satu nenek moyang dalam silsilah Yesus (Mat 1:5). Apa yang menyebabkan Rahab menerima kehormatan seperti itu?

Dalam konteks kitab Ibrani, khususnya di pasal 11, kita menemukan bahwa perikop ini berbicara banyak mengenai iman. Apakah iman itu? Secara sederhannya, iman artinya percaya terhadap sesuatu. Tetapi dari contoh-contoh yang disajikan, ternyata iman tidak sesederhana itu. Iman tidak hanya berupa keyakinan dalam pikiran saja, tetapi harus sampai pada tindakan yang nyata yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh iman.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat 2 contoh, bagaimana iman yang ditunjukkan oleh orang Israel, yaitu ketika mengelilingi tembok Yerikho selama 7 hari lamanya hingga tembok tersebut runtuh (ay. 30). Namun demikian, di ayat setelahnya, kita melihat bagaimana iman Rahab yang nyata-nyata adalah seorang perempuan sundal di kota Yerikho. Muncul pertanyaan, “Jika demikian, apakah Rahab beriman? Karena jelas-jelas ia telah bersundal?”

Menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat bahwa kehidupan Rahab dahulu memang sangat salah. Tetapi ketika ia mendengar mengenai Allah orang Israel (karena berita mengenai kemenangan orang Israel pastilah sudah tersebar luas di kalangan bangsa-bangsa Kanaan), ia lalu menjadi percaya kepada Allah. Dalam hal ini, iman Rahab awalnya memang baru iman berupa keyakinan dalam pikiran. Namun ketika para pengintai Israel itu datang, dan Rahab menyadari bahwa kedua orang tersebut adalah musuh bangsanya, maka ia dihadapkan pada 2 pilihan: membela bangsanya, ataukah melakukan sesuatu bagi bangsa pilihan Allah.

Iman Rahab nyata dan lengkap ketika ia pada akhirnya memilih untuk menyembunyikan kedua pengintai tersebut. Jelas bahwa pada akhirnya pilihan yang diambilnya itu tidak  keliru karena ia tidak jadi ikut binasa bersama-sama dengan orang Yerikho, tetapi justru diselamatkan karena telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik (ay. 31). Lebih lanjut lagi, ia diterima masuk ke dalam kelompok orang Israel, menjadi istri dari salah satu orang Israel yang pada akhirnya nanti menjadi nenek moyang Daud hingga juga masuk ke dalam silsilah Yesus Kristus.

Namun demikian, ingat bahwa setiap kesalahan pasti membawa konsekuensi. Rahab memang sudah menjadi pahlawan bagi orang Israel. Ia juga menjadi salah satu contoh pahlawan iman atau tokoh iman. Namun, sejarah tetap mencatat bahwa ia adalah seorang perempuan sundal, suatu profesi yang mungkiin sangat memalukan dan bahkan menjijikkan. Sampai kapanpun di dunia ini, mungkin Rahab akan tetap identic dengan hal tersebut, kecuali mungkin setelah di surga dimana kita akan diberikan nama yang baru oleh Tuhan.

Oleh karena itu, perhatikanlah kehidupan kita dengan sungguh-sungguh. Jangan pernah sekalipun melakukan tindakan yang memalukan, apalagi jika terkait dengan percabulan dan perzinahan. Sejarah manusia akan mencatat bagaimana kehidupan kita. Apakah kita memiliki sejarah yang baik, ataukah pernah memiliki sejarah yang kelam. Apalagi di zaman digital seperti sekarang ini. Jangan sampai suatu saat nanti anak cucu kita mencoba mencari tahu nama kita di mesin pencari, dan menemukan bahwa kita pernah melakukan percabulan yang memalukan. Bahkan kalaupun tidak ada yang mengetahui, suatu saat nanti kita semua akan telanjang di hadapan-Nya dalam penghakiman Tuhan. Sudah siapkah kita mempertanggungjawabkan perbuatan kita kepada-Nya?



Bacaan Alkitab: Ibrani 11:30-31
11:30 Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya.
11:31 Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.

Pornos dan Moichos (37): Bertentangan dengan Ajaran Sehat


Sabtu, 21 September 2019
Bacaan Alkitab: 1 Timotius 1:8-11
Bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat (1 Tim 1:10)


Pornos dan Moichos (37): Bertentangan dengan Ajaran Sehat


Sejak dahulu kala, Allah telah menuntun umat-Nya di Perjanjian Lama (yaitu bangsa Israel) dengan memberikan tuntunan berupa hukum Taurat kepada mereka. Tentu pemberian hukum ini dimaksudkan untuk membentuk karakter bangsa Israel yang terkenal keras kepala dan juga masih bermental budak karena baru saja keluar dari perbudakan selama 430 tahun di tanah Mesir. Oleh karena itu, Allah memberikan hukum yang sangat rinci yang mengatur tidak hanya bagaimana mereka harus hidup dan menjalin relasi dengan Allah, tetapi juga bagaimana mereka hidup bersama-sama dengan masyarakat yang lain.

Dengan hukum Taurat yang diberikan sekitar 3.200 tahun yang lalu (sekitar tahun 1.300 sampai 1.200 SM), maka hukum itu menjadi sumber utama dari hukum-hukum dalam agama samawi lainnya yang muncul setelah agama Yahudi lahir. Tidak heran bahwa ada beberapa kesamaan di antara hukum Taurat dengan hukum di agama lain seperti misalnya: tidak boleh memakan makanan yang haram, tidak boleh melakukan percabulan, dan lain sebagainya.

Ketika Paulus menulis surat pertamanya kepada Timotius, kita harus menyadari bahwa Timotius adalah separuh Yahudi. Ayah Timotius adalah orang Yunani, sementara ibunya adalah orang Yahudi. Oleh karena itu, tentu ia pasti pernah diajar mengenai hukum Taurat oleh ibunya. Ia pasti mengenal 10 hukum (dasa titah) dan juga kitab-kitab Taurat serta kisah mengenai para nabi. Oleh karena itu, Paulus yang mengerti bahwa Timotius memang mengenal hukum Taurat tanpa ragu mengatakan bahwa hukum  Taurat itu baik, jika digunakan dengan tepat (ay. 8).

Kalimat ini jika dibaca sekilas akan menimbulkan keraguan, apakah ada penggunaan hukum Taurat yang tepat dan yang tidak tepat? Jika ditarik ke kehidupan orang Kristen, akan muncul pula keraguan: Jadi apakah jangan-jangan Alkitab dapat digunakan dengan tepat dan tidak tepat pula? Untuk memahami hal ini, mari kita melihat dalam bahasa aslinya, dimana digunakan kata nomimós (νομίμως) yang berarti “rightly, lawfully, conformable to law” (sepatutnya, sah, sesuai hukum). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya hukum Taurat itu cocok bagi orang-orang yang memang menjadi tujuan pemberian hukum Taurat tersebut.

Dalam hal ini, hukum Taurat sebenarnya diberikan kepada bangsa Israel pada waktu mereka keluar dari tanah Mesir, yaitu suatu bangsa yang memiliki mental budak karena sudah 430 tahun diperbudak, dan membutuhkan suatu hukum dan tatatanan yang mengatur bagaimana mereka hidup. Jelas bahwa Paulus menulis kalimat selanjutnya: “yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar” (ay. 9a). Hukum Taurat diberikan kepada orang-orang yang masih belum benar, di antaranya adalah mereka yang masih durhaka, lalim, fasik, berdosa, duniawi, tak beragama, pembunuh, cabul, penculik, pendusta, dan lain sebagainya (ay. 9b-10). Apa maksudnya kalimat tersebut?

Menurut pendapat saya secara pribadi, hal ini memperkuat pendapat bahwa hukum Taurat memang dapat membuat orang jahat menjadi baik. Orang yang dahulu membunuh sekarang dapat menjadi tidak membunuh lagi ketika mengetahui bahwa hukum Taurat berkata “Jangan membunuh”. Orang yang dahulu tidak beragama, maka dapat mengenal Allah dalam hukum Taurat sehingga mereka menjadi beragama dan seharusnya menjadi orang baik karena menaati hukum Taurat.

Dalam ayat 10 juga digunakan istilah orang cabul dan pemburit. Kata “orang cabul” dalam ayat ini adalah pornois (πόρνοις) yang berasal dari akar kata pornos (πόρνος). Kata ini dapat bermakna “a man who prostitutes his body to another's lust for hire, a male prostitute”, yaitu seseorang (umumnya pria) yang melacurkan tubuhnya kepada hawa nafsu orang lain dengan cara disewakan/untuk menerima bayaran, atau seorang pelacur pria. Kata pornos ini juga dapat berarti “a man who indulges in unlawful sexual intercourse, a fornicator, a whoremonger” (seorang pria yang melakukan/terlibat dalam hubungan seksual yang tidak sah/melanggar hukum, seorang pezinah, orang yang banyak berhubungan dengan para pelacur).

Dari penjelasan di atas jelas bahwa seorang pornois/pornos adalah orang-orang yang sudah sangat rusak. Ia tidak melakukan percabulan hanya sesekali saja, tetapi sudah menjadi habit atau kebiasaan yang mengikat. Bahkan sampai taraf tertentu, orang ini dapat menjadi seorang pelacur pria, yang memberikan tubuhnya untuk memuaskan nafsu orang lain. Dalam hal ini, bagaimana menyadarkan orang yang sudah jatuh ke dalam dosa percabulan atau perzinahan tersebut?

Salah satu caranya adalah membuat orang yang berdosa itu sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan. Tentu orang yang sudah jatuh dalam dosa seperti ini, harus ditunjukkan bukti bahwa apa yang dilakukannya itu adalah salah. Itulah gunanya hukum Taurat, dimana hukum Taurat mengatur secara rinci mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Hal yang sama juga diatur tentang pemburit, yaitu tindakan homoseksual (pria dengan pria). Jelas bahwa hukum Taurat melarang tegas tindakan ini. Dan semua tindakan yang dilakukan di ayat 9 dan 10 ini adalah bertentangan dengan ajaran yang sehat.

Ajaran sehat bukan hanya sekedar moral umum yang sering diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya. Di Indonesia, beberapa tindakan di ayat 9 dan 10 tersebut adalah suatu hal yang melanggar norma umum, seperti tindakan cabul, pemburit (homoseksual), dan pembunuh. Namun di beberapa negara lain, tindakan homoseksual misalnya, sudah dipandang sebagai suatu tindakan yang wajar, bahkan mereka memiliki hak yang sama dengan yang lain, termasuk dalam hal melangsungkan pernikahan sesama jenis.

Oleh karena itu ajaran yang sehat harus didefinisikan ulang menurut standar yang benar. Selama ini seringkali pengajaran Kristen tidak jauh berbeda dengan pengajaran moral etika secara umum. Namun seharusnya pengajaran Kristen didasarkan pada pikiran dan perasaan Bapa, yang mengarah kepada kehendak-Nya untuk dilakukan. Oleh karena itu, Paulus dengan tegas mengatakan bahwa hukum Taurat itu sebenarnya sudah tidak lagi relevan bagi orang percaya/orang Kristen, karena orang percaya seharusnya sudah tidak lagi hidup di dalam dosa-dosa seperti yang dijelaskan dalam ayat 9-10, seperti membunuh, berzinah, dan menculik. Orang Kristen seharusnya juga sudah tidak lagi berdusta, tidak fasik, bahkan seharusnya juga sudah tidak lagi duniawi.

Itulah sebabnya orang Kristen seharusnya sudah tidak lagi sibuk memikirkan tentang hukum Taurat (Perjanjian Lama), karena kurikulum orang Kristen seharusnya adalah Injil (Perjanjian Baru). Injil itulah anugerah dari Allah yang memungkinkan orang percaya tidak hanya berkelakuan baik tetapi juga sampai kepada tingkat berkenan kepada Bapa di surga (ay. 11). Injil adalah anugerah yang dipercayakan Allah kepada manusia, dan oleh sebab itu manusia juga harus mempertanggungjawabkan anugerah yang telah diberikan Allah tersebut. Tidak ada anugerah tanpa tanggung jawab. Memang bukan karena perbuatan baik, manusia dapat diselamatkan. Tetapi karena anugerah dari pengorbanan Kristus di kayu salib, maka manusia dapat diselamatkan.

Oleh karena itu, setelah menerima anugerah keselamatan tersebut, manusia seharusnya tidak lagi melakukan tindakan apapun yang mendukakan hati Allah. Manusia harus berjuang mengerti kehendak Bapa dan berjuang pula untuk melakukannya. Seharusnya, orang Kristen yang benar (yang sudah menerima anugerah keselamatan), tidak lagi melakukan dosa. Tidak boleh lagi ada orang Kristen yang masih melakukan dosa-dosa yang mendukakan hati Bapa, apalagi yang tidak sesuai dengan nilai moral umum. Mereka yang masih berdusta, harus berjuang untuk berkata jujur dan benar. Mereka yang masih hidup dalam keduniawian, maka harus berjuang meninggalkan keduniawian dan mengarahkan pandangannya kepada kekekalan. Mereka yang masih melakukan percabulan dan perzinahan, harus meninggalkannya dan hidup dalam kekudusan. Dengan demikian, orang percaya akan memiliki kualitas hidup yang luar biasa, tidak hanya di mata manusia, tetapi juga di mata Allah. Inilah yang dimaksud dengan ajaran yang sehat dalam kekristenan.



Bacaan Alkitab: 1 Timotius 1:8-11
1:8 Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan,
1:9 yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya,
1:10 bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat
1:11 yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku.

Kamis, 15 Agustus 2019

Pornos dan Moichos (36): Menjauhkan Diri dari Percabulan dan Hidup dalam Pengudusan


Kamis, 15 Agustus 2019
Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 4:1-7
Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan (1 Tes 4:3)


Pornos dan Moichos (36): Menjauhkan Diri dari Percabulan dan Hidup dalam Pengudusan


Dari penelusuran saya selama membuat serial mengenai kata pornos dan moichos ini, saya melihat bahwa hampir semua jemaat di zaman Perjanjian Baru yang mendapatkan surat dari Paulus, sedikit banyak ada kaitannya dengan praktik percabulan di dalamnya. Salah satu yang “terparah” adalah jemaat di Korintus, dimana kita sudah membahasnya dengan lengkap dalam renungan-renungan sebelumnya. Namun demikian, jemaat di Tesalonika juga memperoleh perhatian Paulus dalam hal ini.

Paulus menulis 2 surat kepada jemaat di Tesalonika, yang pada intinya Paulus meminta jemaat tersebut untuk hidup berkenan kepada Allah (ay. 1a). Dalam pasal-pasal sebelumnya Paulus telah banyak menulis mengenai bagaimana orang percaya harus hidup dan menjauhi dosa serta hal-hal duniawi lainnya. Memang jemaat di Tesalonika telah menurutinya selama ini, tetapi Paulus meminta agar jemaat Tesalonika melakukan dengan lebih sungguh-sungguh lagi. Dalam hal ini Paulus mengingatkan jemaat agar mereka hidup berkenan bukan karena ada Paulus yang mengingatkan, atau karena sungkan dengan para pemimpin jemaat. Setiap orang harus berusaha hidup berkenan di hadapan Bapak arena mereka sadar bahwa itu memang yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya.

Paulus sudah berusaha keras mengingatkan jemaat-jemaat di berbagai daerah untuk dapat hidup berkenan di hadapan Bapa. Paulus bahkan memberikan petunjuk-petunjuk kepada jemaat Tesalonika untuk membantu mereka hidup dalam kebenaran. Kata petunjuk dalam ayat 2 ini menggunakan kata paraggelia (παραγγελία) yang memiliki arti “a command, charge, injunction, instruction, precept, rule of living” (perintah, komando, tuntutan, keputusan, instruksi, petunjuk, pedoman, aturan hidup). Jelas bahwa di sini Paulus tidak hanya berbicara mengenai hal-hal yang bersifat samar, tetapi tentu dengan hal-hal yang bersifat jelas bahkan sangat praktis. Tidak mungkin petunjuk yang disampaikan hanyalah berupa konsep-konsep teologi, tetapi pastilah merupakan suatu petunjuk atau pedoman mengenai hal-hal yang harus dilakukan oleh jemaat dalam hidup mereka sehari-hari.

Oleh karena itu Paulus melanjutkan kalimatnya dengan menyatakan bahwa adalah kehendak Allah bagi jemaat-Nya agar mereka melakukan pengudusan diri atau hidup dalam kekudusan (ay. 3a). Kata pengudusan di sini menggunakan kata hagiasmos (ἁγιασμός) yang tidak hanya memiliki makna the process of making or becoming holy (proses untuk membuat atau menjadikan kudus), tetapi juga  bermakna set apart (dipisahkan dari yang lain). Tentu dalam hal ini Tuhan ingin membentuk suatu umat yang kudus, artinya adalah umat yang dipisahkan dari hal-hal yang biasa dan digunakan untuk hal-hal yang luar biasa, yaitu untuk memuliakan Tuhan.

Dalam Perjanjian Lama, kita melihat adanya benda-benda yang menjadi kudus, misalnya pakaian kudus (Kel 28:2), mezbah kudus( Kel 29:38), minyak urapan kudus (Kel 30:24, bahkan Bait Kudus atau Bait Suci. Semua benda yang disebutkan sebagai benda kudus adalah benda-benda yang sudah tidak lagi digunakan untuk hal-hal lain seperti pada umumnya. Minyak urapan yang kudus misalnya, sudah tidak boleh lagi digunakan untuk mengurapi orang biasa. Minyak itu hanya digunakan untuk hal-hal khusus, walaupun bahan dari minyak itu sebenarnya sama dengan minyak lainnya (minyak biasa). Demikian pula dengan kita. Ketika Tuhan menginginkan kita untuk hidup kudus, maka Tuhan ingin kita tidak lagi melakukan hal-hal yang sama dengan orang lain, tetapi kita harus hidup menurut standar Tuhan meskipun secara manusia kita mungkin masih sama dengan yang lain (masih makan 3 kali sehari, masih sekolah, masih bekerja di kantor, dan lain sebagainya). Namun dalam setiap aspek hidup kita: makan, sekolah, bekerja, dan lain sebagainya, semua kita lakukan demi kemuliaan nama Tuhan.

Itulah sebabnya Paulus menambahkan lagi apakah pengertian pengudusan dalam konteks yang lebih spesifik, dengan contoh yang jelas. Dalam hal ini Paulus mengambil contoh mengenai percabulan (porneia/πορνεία) yang menunjukkan tingkatan percabulan yang sudah sangat parah, jauh melebihi tingkatan moicheuo/moichos. Terhadap porneia ini Paulus menulis dengan tegas supaya kita menjauhinya (ay. 3b). Apakah kita cukup menjauhi percabulan, misalnya bagi para pria dengan cara meminta para wanita menutup tubuhnya dengan rapat supaya kita tidak tergoda terhadap wanita tersebut? Ataukah para pria harus pergi menyendiri di gua supaya tidak bertemu dengan lawan jenis? Ataukah supaya apan para pria harus duduk terpisah dengan wanita sehingga tidak ada godaan percabulan?

Dalam bahasa aslinya, kata “menjauhi” dalam ayat 3 ini menggunakan kata apechesthai (ἀπέχεσθαι) dari akar kata apechó (ἀπέχω) yang memiliki makna “to hold back, keep off, to be away, be distant” (menahan diri, menghindari, menjauhi, pergi dari, menjaga jarak). Paulus merasa bahwa salah satu tantangan jemaat mula-mula pada zamannya adalah mengenai praktik percabulan yang mungkin juga sudah masuk ke dalam jemaat. Kita sudah melihat hal ini terutama pada jemaat di Korintus. Namun ternyata jemaat di kota-kota lain juga memiliki permasalahan yang hampir sama, seperti Galatia, Efesus, dan juga kota Tesalonika ini. Hal ini berarti Paulus memandang percabulan sebagai hal yang berpotensi sangat  merusak jemaat, karena membuat  jemaat menjadi tidak kudus. Jika jemaat pada waktu itu masih hidup dalam percabulan, maka apa bedanya dengan orang lain pada umumnya? Jika jemaat masih hidup dalam percabulan maka kata “kekudusan” yang digaungkan oleh Paulus dan jemaat hanya akan menjadi slogan kosong biasa yang tidak memiliki makna.

Oleh karena itu, terkait dengan petunjuk yang diberikan oleh Paulus tersebut, Paulus dalam ayat selanjutnya menulis bagaimana jemaat (khususnya jemaat pria) harus hidup menjauhi percabulan. Salah satu petunjuk praktis yang disampaikan oleh Paulus adalah supaya setiap orang mengambil seorang perempuan menjadi istri mereka sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan (ay. 4). Salah satu solusi menjauhi percabulan adalah dengan cara setiap laki-laki harus memiliki seorang perempuan (bukan dua, tiga atau empat orang) menjadi istri mereka masing-masing. Mereka harus sadar akan hakikat pernikahan sehingga tidak akan mengganggu dan tergoda dengan wanita lain apalagi yang sudah menjadi istri orang lain.

Menariknya, dalam ayat 4 ini, kalimat “mengambil seorang perempuan menjadi istrimu sendiri” masih memiliki makna yang membingungkan. Dalam sejumlah terjemahan bahasa Inggris seperti NIV, KJV, NASB dan terjemahan lainnya, sama sekali tidak ada kata “perempuan” maupun “istri”. Sejumlah Alkitab terjemahan bahasa Inggris menggunakan kalimat sebagai berikut: “that each of you know how to possess his own vessel” atau “that each of you should learn to control his own body”. Jika saya melakukan terjemahan bebas, maka kalimat itu akan berbunyi demikian: “sehingga masing-masing dari antaramu harus mengerti bagaimana menguasai/mengendalikan tubuhnya/bejananya”.

Dapat dibayangkan bagaimana orang yang tidak belajar Alkitab dengan dalam dapat “terjebak” ketika membaca ayat 4 ini. Saya yakin para penerjemah LAI pada waktu membuat terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia juga tidak bermaksud menyesatkan. Karena kata istri dalam ayat ini tidak menggunakan kata yang umum digunakan yaitu guné (γυνή) tetapi menggunakan kata skeuos (σκεῦος) yang selain bermakna harafiah “a vessel, implement, utensil” (wadah, bejana, peralatan, perlengkapan, barang perabot), namun juga dapat memiliki makna figuratif yaitu “specially, a wife as contributing to the usefulness of the husband” (secara khusus, menggambarkan seorang istri yang ‘menambah’ daya guna dari suaminya).

Selain kata skeuos yang sudah saya uraikan di atas, dalam ayat 4 ini juga ada suatu kata ktasthai (κτᾶσθαι) dari akar kata ktaomai (κτάομαι) yang memiliki makna harafiah berupa “to acquire, to win, to possess, to win mastery over” (memperoleh, menang, memiliki, menguasai, memenangi penguasaan atas sesuatu). Walaupun memang kata skeuos dan ktaomai ini dapat merujuk kepada peran istri sebagai “bejana atau perabot” bagi seorang suami, namun saya sendiri cenderung lebih condong memaknai ayat 4 ini dalam kaitannya bagiamana seseorang mengendalikan atau menguasai tubuhnya dalam pengertian tubuh itu sebagai suatu bejana.

Dalam konteks percabulan, memang salah satu solusi untuk menguasai diri adalah dengan cara menikahi seorang mperempuan menjadi istrinya, dan bukan dengan cara melakukan percabulan dengan para pelacur. Dalam hal ini pernikahan menjadi salah satu contoh untuk menguasai diri dan bukan satu-satunya jalan keluar untuk tidak terlibat dalam percabulan. Oleh karena itu saya secara pribadi sangat menentang jika ada orang yang mau menikah hanya karena alasan: “supaya tidak jatuh dalam dosa”, “supaya tidak berbuat percabulan”, “supaya sudah sah kalau mau berhubungan seks”, dan alasan-alasan semacam itu. Seorang yang sudah menikah sekalipun, kalau tidak bisa menguasai tubuhnya (atau bejananya) maka sangat mungkin bisa jatuh dalam dosa percabulan juga. Oleh karena itu ayat 4 ini menurut saya harus lebih dilihat dari penekanan terhadap penguasaan diri dan bukan sekedar digunakan untuk melegalisasi suatu pernikahan, supaya hidup kudus dan jauh dari percabulan. Suatu pernikahan yang dibangun atas dasar yang tidak jelas, berpotensi rusak di masa yang akan datang.

Tidak ada jaminan bahwa orang yang pernikahannya diberkati di gereja, dengan acara resepsi yang mewah maka pernikahan tersebut pasti bebas dari masalah, apalagi masalah percabulan. Itulah sebabnya Paulus menambahkan kalimat di ayat 4 (yang sering luput dari perhatian jemaat) yaitu agar jemaat melakukannya di dalam pengudusan dan penghormatan (ay. 4b). Jika kalimat sebelumnya hanya dipandang sesuai apa yang tertulis dalam Alkitab Bahasa Indonesia, maka kita mungkin hanya terpaku pada prinsip bahwa: supaya tidak jatuh dalam percabulan, maka orang sebaiknya menikah. Lalu jika seseorang sudah menikah, maka hiduplah dalam pernikahan yang disertai dengan pengudusan dan saling menghormati satu sama lain antara suami dan istri.

Prinsip tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Hal itu juga sudah merupakan hal yang luar biasa dan sudah sangat  baik dikhotbahkan di atas mimbar, apalagi dalam acara pemberkatan nikah. Namun jika kita mau melihat kepada makna aslinya dimana kita harus menguasai diri (dan tidak harus dalam bentuk menikah, karena menikah adalah salah satu bentuk penguasaan diri tersebut), maka kita akan mengerti bahwa sesungguhnya kita harus menguasai diri kita sendiri dalam pengudusan dan penghormatan. Apa yang dimaksud dalam pengudusan dan penghormatan di ayat ini?

Kata pengudusan di ayat 4 ini menggunakan kata hagiasmos, kata yang sama yang digunakan di ayat 3 (ayat sebelumnya yang berbicara mengenai kehendak Tuhan) dan juga nanti digunakan pula di ayat 7. Jelas bahwa Tuhan ingin akita sebagai anak-anak-Nya untuk menjadi anak-anak atau umat yang kudus, yang dipisahkan dari dunia. Oleh karena itu, tentu dalam konteks menguasai diri dari percabulan, tubuh kita harus kita kuasai dengan kesadaran bahwa kita harus menjaga hidup kita sebagai hidup yang kudus. Sedangkan kata penghormatan menggunakan kata timé (τιμή) yang bermakna “a valuing, price, honor, preciousness” (nilai/penilaian, harga, kehormatan, keberhargaan). Jadi kita menguasai diri kita dalam pengudusan (misalnya dengan cara menjauhi percabulan), adalah karena kita menghormati Tuhan dan memberi nilai tertinggi bagi Tuhan. Oleh karena itu, saya secara pribadi lebih melihat ayat 4 ini dalam konteks menghormati Tuhan, dan bukan hanya sekedar menghormati pasangan kita. Tentu orang yang menghormati Tuhan dengan benar pasti juga akan menghormati orang lain (termasuk pasangannya) secara proporsional.

Dalam ayat selanjutnya hal itu akan nampak lebih jelas lagi. Dalam ayat 5 tertulis bahwa “bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah” (ay. 5). Jika ayat 4 hanya diartikan dalam penekanan pernikahan sebagai satu-satunya solusi, dan orang harus hidup dalam pengudusan dan penghormatan dengan pasangannya, maka ayat 5 ini akan menjadi lebih sulit untuk dijelaskan. Jika ayat 4 dipandang sebagai cara untuk menguasai diri supaya dapat hidup kudus di hadapan Bapa (khususnya dalam hal menjauhi percabulan), maka ayat 5 ini tidak hanya berbicara tentang konteks di dalam pernikahan saja, tetapi dalam segenap hidup kita supaya kita tidak hidup dalam hawa nafsu, karena ada banyak orang yang tidak mengenal Allah, yang masih hidup di dalam hawa nafsunya sendiri.

Kata hawa nafsu di ayat 5 ini menggunakan 2 kata yaitu pathos (πάθος) dan epithumia (ἐπιθυμία). Dua kata ini juga digunakan dalam pembahasan renungan sebelumnya terkait Kol 3:5. Namun dalam ayat 1 Tes 4:5 ini, kita akan melihat bahwa Paulus lebih menekankan mengenai pengudusan, yaitu pemisahan orang percaya dari orang-orang lain secara umum. Orang percaya harus mampu menguasai dirinya dari hawa nafsu, dan tidak bisa menyamakan diri dengan orang lain yang hidup dalam hawa nafsu sesuka diri mereka sendiri.

Ada yang menarik dalam ayat 6 ini dimana Paulus menulis supaya orang percaya dalam hal ini tidak memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya (ay. 6a). Kata memperlakukan dengan tidak baik ini menggunakan kata huperbainó (ὑπερβαίνω) yang berasal dari gabungan 2 kata yaitu huper (ὑπέρ) yang artinya melebihi, melewati, melampaui, di atas; serta kata basis (βάσις) yang memiliki arti kaki atau berjalan. Jadi kata huperbainó secara harafiah dapat diartikan sebagai “berjalan melewati” atau “melangkahi” (to step over). Menjadi persoalan ketika kaki kita jauh melampaui daerah yang menjadi bagian kita. Hal tersebut dapat dimaknai sebagai suatu pelanggaran wilayah (to transgress) karena kita melampaui batas yang telah ditentukan (to overreach).

Mengingat kata ini adalah kata yang hanya disebutkan satu kali di Alkitab Terjemahan Baru, sehingga kita memang tidak dapat membandingkan dengan penggunaan kata tersebut dalam ayat lainnya. Oleh karena itu kita sebaiknya melihat kata satunya lagi yaitu memperdayakan, yang dalam Bahasa aslinya menggunakan kata pleonekteó (πλεονεκτέω). Kata pleonekteó ini berasal dari gabungan 2 kata yaitu kata pleión (πλείων) yang berarti lebih (lebih besar, lebih banyak, lebih tinggi); dan kata echo (ἔχω) yang berarti memiliki, menyimpan, dan menguasai. Jadi kata pleonekteó ini secara harafiah dapat diartikan sebagai memiliki/menguasai lebih banyak lagi (to have more). Namun kata ini juga dapat berarti “to take advantage of, overreach, defraud” (mengambik keuntungan dari, melampaui batas, menipu, memperdaya).

Kata pleonekteó ini juga digunakan di ayat-ayat lainnya seperti 2 Kor 2:11 (beroleh keuntungan), 2 Kor 7:2 (cari untung), 2 Kor 12:17 & 18 (mengambil untung). Kata pleonekteó yang merupakan kata kerja ini erat kaitannya dengan kata pleonexia dan pleonektés yang merupakan kata benda. Kata pleonexia ini dapat berarti ketamakan, keserakahan, kekikiran, mengambil milik orang lain dengan kekerasan/paksaan, keinginan/bernafsu untuk mendapatkan keuntungan (Ef 5:3, Kol 5:3). Sementara kata pleonektés lebih menunjuk kepada orang yang melakukan tindakan pleonekteó atau yang memiliki sifat/karakter pleonexia yaitu orang yang tamak, kikir dan serakah (1 Kor 5:10-11).

Jelas bahwa kedua kata ini (huperbainó dan pleonekteó) merujuk kepada suatu tindakan yang: 1) mengambil apa yang bukan menjadi haknya; 2) merugikan orang lain; dan 3) disebabkan karena ketamakan atau keserakahan. Apakah ada orang-orang seperti ini? Jawabannya; Banyak. Tentu banyak sekali orang-orang seperti ini yang tidak segan-segan memperdaya orang lain demi keuntungan pribadinya. Persoalannya, jika kita  membaca dengan lebih teliti lagi, sebenarnya ayat ini lebih ditujukan kepada orang di dalam jemaat, karena adanya penggunaan kata “saudara” (adelphon) yang sebagian besar merujuk kepada saudara seiman di dalam jemaat Tuhan.

Oleh karena itu, jika dalam ayat-ayat sebelumnya Paulus menekankan mengenai kekudusan dalam hal menjauhi percabulan (yaitu bagaimana kita menguasai diri kita dan tidak hidup dalam hawa nafsu seperti orang-orang di luar jemaat), maka mulai ayat 6 ini Paulus hendak menyatakan bahwa orang percaya juga harus hidup dalam kekudusan di dalam jemaat. Jika orang luar dapat mengambil keuntungan dari orang lain, maka orang percaya haruslah hidup benar dan tidak boleh mengambil keuntungan dari saudaranya, apalagi memperdaya mereka. Dalam hal ini tidak boleh ada jemaat yang memperdaya jemaat, jemaat yang memperdaya pendeta, pendeta yang memperdaya jemaat, apalagi pendeta yang memperdaya sesama pendeta. Ingat bahwa Tuhan pasti memperhitungkan segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup kita (ay. 6b). Tuhan akan membalaskan (atau menghakimi dan memutuskan dengan adil) atas setiap apa yang kita lakukan, katakan, maupun pikirkan.

Akhirnya, Paulus kembali menekankan prinsip yang sangat luar biasa, yang jika kita hayati maka akan berdampak besar dalam kehidupan kita, yaitu: Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (ay. 7). Tuhan memanggil kita untuk keluar dari dosa dan memiliki hidup yang kudus di hadapan Bapa. Kita sudah tidak boleh lagi hidup dalam dosa dan melakukan kecemaran. Kekudusan yang sejati  berarti tidak boleh ada setitik pun kecemaran dalam hidup kita. Lalu bagaimana supaya kita dapat mencapai tingkatan seperti itu?

Satu-satunya cara adalah melatih diri kita setiap hari. Kita harus bisa seakan-akan menaruh Tuhan di depan mata kita. Sehingga setiap saat kita tergoda untuk berbuat dosa, maka kita ingat bahwa ada Tuhan di depan mata kita. Selain itu kita juga harus memperkarakan hidup kita setiap hari bahkan setiap saat. Memperkarakan apakah ada hal-hal yang kita lakukan yang tidak menyenangkan hati Tuhan meskipun itu adalah hal kecil seperti candaan kita ketika berkumpul dengan teman. Kita harus dapat menggelar pengadilan atas diri kita setiap hari sebelum kita suatu saat menghadap penghakiman Tuhan. Biasakan diri kita masuk dalam pengadilan setiap hari sesuai dengan standar Tuhan supaya kita siap menghadapi penghakiman Tuhan ketika kita meninggal nanti.





Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 4:1-7
4:1 Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.
4:2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus.
4:3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,
4:4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,
4:5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,
4:6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.
4:7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.

Selasa, 13 Agustus 2019

Pornos dan Moichos (35): Harus Dimatikan


Selasa, 13 Agustus 2019
Bacaan Alkitab: Kolose 3:1-6
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala (Kol 3:5)


Pornos dan Moichos (35): Harus Dimatikan


Salah satu prinsip dasar orang Kristen adalah mengenai kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Hal ini penting karena jika Kristus tidak benar-benar bangkit, maka sia-sialah segala iman dan pengharapan kita (1 Kor 15:14). Oleh karena itu, bapa-bapa gereja memandang hal ini sebagai hal yang penting dan masuk dalam poin-poin pada pengakuan iman rasuli. Saya rasa semua gereja yang benar pasti memiliki pengakuan iman atas hal ini, baik itu menggunakan pengakuan iman rasuli maupun membuat pengakuan iman mereka sendiri.

Kebangkitan Kristus ini menjadi hal yang sangat penting dalam dimensi iman kekristenan karena jika Kristus tidak dibangkitkan, maka kita pun juga tidak akan dibangkitkan. Oleh karena itu pengakuan iman rasuli dan pengakuan iman gereja lain yang memiliki ajaran benar pasti akan memasukkan poin mengenai kebangkitan kita (kebangkitan tubuh/kebangkitan orang mati) di dalamnya. Karena hal ini adalah hal yang sangat prinsip, maka tidak mengherankan bahwa hal kebangkitan Kristus ini adalah hal yang paling sering diserang oleh orang lain. Agama Yahudi misalnya, mencatat dan mengakui bahwa Yesus memang sudah mati di atas kayu salib, tetapi mereka tidak mengakui bahwa Yesus dibangkitkan oleh Allah Bapa. Mereka menyebarkan cerita bohong (hoax) mengenai tubuh  Yesus yang dicuri oleh murid-murid-Nya (Mat 28:11-15). Padahal sangat tidak mungkin prajurit yang menjaga kubur Yesus lari hanya karena “diserang” oleh murid-murid-Nya. Mereka sampai harus mengarang cerita bohong ini karena memang kebangkitan Kristus ini bisa membuat banyak orang percaya kepada-Nya dan meninggalkan agama Yahudi. Oleh karena itu, iblis melalui roh antikristus sejak saat itu hingga saat ini mencoba membuat orang-orang menjadi tidak percaya akan kebangkitan Yesus, sehingga Yesus hanya dianggap orang biasa atau paling tinggi dianggap sebagai nabi yang tidak pernah mati, apalagi dibangkitkan.

Padahal, kebangkitan Kristus ini memiliki makna yang luar biasa bagi kita, karena kita pun harus juga dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus (ay. 1a). Tentu supaya kita bisa dibangkitkan Bersama dengan Kristus, kita pun harus mati bersama dengan Kristus, supaya kita hidup dan bangkit bersama dengan-Nya. Ciri orang yang sudah bangkit bersama dengan Kristus adalah mencari perkara yang diatas, yaitu perkara surgawi dan bukan hal-hal duniawi lagi (ay. 1b-2). Kita harus mematikan diri kita dari hal-hal duniawi dan hidup hanya bagi kepentingan kerajaan Allah.

Bagi dunia, kita harus sudah mematikan diri kita sendiri (ay. 3a). Kita tidak boleh lagi tertarik dengan hal-hal duniawi seperti keinginan daging maupun keinginan mata. Kita tidak boleh lagi tergoda akan keindahan dunia seperti harta, tahta, maupun wanita. Artinya bukan kita tidak boleh lagi memiliki harta, menduduki posisi tinggi di perusahaan, atau memiliki istri. Namun apapun yang kita miliki, berapapun harta yang kita miliki, seberapa tinggi posisi kita di pekerjaan, maupun seberapa cantik istri kita, semua itu hanyalah sarana untuk menemukan Tuhan dan hidup bagi-Nya.

Orang yang sudah mati terhadap dunia, maka hidupnya tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah Bapa (ay. 3b). Maksud dari kata “tersembunyi” ini adalah kita Allah Bapa melindungi kita sama seperti Allah Bapa melindungi Kristus ketika ia berhasil mati bagi dunia. Tentu ayat 3b ini tidak bisa dikenakan kepada semua orang yang beragama Kristen, karena belum tentu orang yang beragama Kristen sudah mati terhadap dunia dan hidup bagi Allah. Namun bagi orang-orang yang sudah mematikan hidupnya secara duniawi, tentu akan mendapatkan suatu perlindungan Allah yang istimewa.

Oleh karena itu, menjadi pertanyaan, apa saja yang harus kita matikan? Apakah kita tidak boleh memiliki rumah, mobil, deposito, dan lain sebagainya? Apakah kita tidak boleh kaya? Justru orang percaya harus memaksimalkan potensinya demi kerajaan Tuhan. Dalam hal ini alangkah baiknya orang percaya memiliki karakter yang baik dalam marketplace atau tempat kerjanya (perusahaan, sekolah, atau bisnis/usaha yang dirintis) yaitu: bekerja keras, jujur, bisa dipercaya, bertanggung jawab dan lain sebagainya. Kita harus berjuang menjadi orang yang berhasil, tetapi segala keberhasilan itu harus kita gunakan demi memuliakan Tuhan.

Oleh karena itu, hal yang harus dimatikan adalah segala sesuatu yang duniawi (ay. 5a). Paulus menuliskan sejumlah hal duniawi yang harus kita matikan, antara lain: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala (ay. 5b). Perhatikan bahwa Paulus sekali lagi menyamakan hal-hal duniawi tersebut dengan penyembahan berhala (eidólolatria) dalam ayat ini, yang memilki makna yang hampir sama seperti yang Paulus tulis dalam suratnya ke jemaat Efesus yaitu kata eidólolatrés (Ef 5:5).

Dalam ayat 5 ini, Paulus menggunakan 5 buah kata untuk menggambarkan hal-hal duniawi yang harus dimatikan oleh orang percaya. Tiga dari lima kata tersebut memiliki kesamaan dengan kata yang digunakan dalam Ef 5:3 maupun Ef 5:5 yaitu percabulan (porneia), kenajisan (akatharsia) (yang di ayat lain diterjemahkan sebagai kecemaran), dan keserakahan (pleonexia). Memang Selain 3 kata tersebut, ada pula tambahan 2 kata lain yaitu hawa nafsu (pathos) dan nafsu jahat (epithymian kakēn dari kata epithumia dan kakos).

Kata pathos (πάθος) berbicara tentang suatu perasaan yang kuat atau emosi yang tidak dipimpin oleh Allah, seperti hal-hal yang menggunakan nafsu (strong feelings (emotions) which are not guided by God (like consuming lust)). Kata pathos ini juga dapat berarti depraved passion (gairah atu nafsu yang jahat/bejat). Jelas bahwa hawa nafsu ini juga pasti terkait dengan tindakan cabul, kecemaran, serta keserakahan. Manusia memang memiliki keinginan, akan tetapi jika keinginan tersebut tidak berada dalam tuntunan Allah dan manusia cenderung untuk tidak mengendalikan keinginan tersebut, maka hal tersebut dapat berubah menjadi hawa nafsu yang membahayakan. Contoh kecil misalnya manusia memiliki keinginan untuk sukses, naik pangkat/karir, dan menjadi pemimpin. Keinginan tersebut tentu adalah keinginan yang netral dan tidak menyalahi aturan. Namun apabila tidak dikendalikan, maka keinginan ini dapat menjadi ambisi yang liar, dengan cara menyingkirkan siapa saja dengan cara apapun demi kesuksesan karir orang tersebut.

Sementara itu kata nafsu jahat menggunakan 2 kata yaitu epithumia (ἐπιθυμία) dan kakos (κακός). Kata epithumia secara umum bermakna desire, eagerness for, inordinate desire, lust (keinginan, kehendak, gairah, hasrat, keinginan yang banyak, nafsu). Sementara kata kakos bermakna bad, evil, base, wrong, wicked (buruk, jahat, rendah, salah, durjana). Jadi hal ini menunjukkan suatu gairah/hasrat yang jahat. Kemungkinan besar kata ini juga merujuk kepada nafsu cabul, nafsu serakah, dan juga nafsu untuk melakukan kecemaran.

Oleh karena itu, kita yang mau hidup di dalam Tuhan harus mematikan semuanya itu. Tidak boleh lagi ada percabulan, kecemaran/kenajisan, keserakahan, hawa nafsu dan nafsu jahat, karena semuanya itu tidak menyenangkan hati Allah. Hal-hal yang tadi disebutkan justru membuat Allah murka (ay. 6a), karena manusia yang sudah ditebus oleh Allah sudah tidak pantas lagi melakukan hal-hal seperti itu. Jika kita yang mengaku percaya kepada Allah masih melakukan hal tersebut, maka kita dipandang sebagai orang-orang durhaka (bahasa Yunani: apeitheia/ἀπείθεια yang berarti: willful unbelief, obstinacy, disobedience, rebellious atau ketidakpercayaan yang disengaja, bandel, keras kepala, membangkang, tidak taat, tidak tunduk, mengabaikan perintah, memberontak, suka melawan, suka menentang). Jika kita sampai dipandang sebagai pemberontak oleh Allah, maka bagaimana mungkin kita dapat bisa tetap yakin bahwa Allah akan menerima kita masuk ke dalam kerajaan-Nya? Mungkin inilah yang dimaksudkan Tuhan Yesus ketika suatu saat nanti Ia akan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat 7:23).

Kita harus sadar bahwa apa yang kita lakukan selama hidup kita di dunia ini adalah suatu “taburan”, dimana suatu saat nanti kita pasti akan “menuainya”. Oleh karena itu, jika kita masih belum bersedia mematikan diri kita dari hal-hal duniawi seperti percabulan, kecemaran, keserakahan, hawa nafsu dan nafsu jahat, maka kita sesungguhnya belum mati bersama Kristus. Jika kita belum mati bersama Kristus, maka jangan harapkan kita juga akan dibangkitkan bersama Kristus.

Paulus dengan tegas mengatakan bahwa jika Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, maka kita pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan (ay. 4). Ayat ini sekilas susah dimengerti. Bagaimana mungkin Paulus berkata Kristus yang adalah hidup kita? Bukankah pribadi kita berbeda dengan pribadi Kristus? Satu-satunya penjelasan yang logis atas hal ini adalah bahwa orang percaya atau orang Kristen harus mengenakan pribadi Kristus dalam hidupnya. Hal ini dapat dilihat dari tulisan Paulus yang meminta kita untuk  mengenakan pikiran dan perasaan Kristus dalam hidup kita (Flp 2:5).

Jika kita sudah hidup dan memancarkan keagungan pribadi yang mulia seperti pribadi Kristus, maka barulah kita dapat berkata bahwa Kristus adalah hidup kita. Apakah mungkin kita bisa mencapai tingkatan seperti itu? Jawabannya adalah bisa. Paulus sendiri mengatakan bahwa baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp 1:21). Paulus mungkin belum sempurna, tetapi ia belajar untuk menjadi berkenan di hadapan Bapa dan pada titik ketika ia menulis surat tersebut, ia berani berkata: “Hidupku adalah Kristus”. Berapa banyak dari kita yang berani berkata demikian? Jangankan kita, orang yang sudah menjadi pendeta besar saja belum tentu berani berkata seperti itu. Mengapa kita sulit untuk mencapai level seperti Paulus? Karena kita masih belum rela melepaskan dan mematikan hal-hal duniawi tersebut.

Dalam hal percabulan misalnya, berapa banyak dari kita yang jika tanpa sengaja membuka gambar di internet yang sedikit vulgar, lalu langsung menutupnya? Atau jangan-jangan kita masih suka melihat hal-hal yang berbau pornografi, atau malah ada di antara kita yang memiliki selingkuhan. Dalam hal keserakahan, berapa banyak orang yang berani untuk menolak suap? Berapa banyak orang yang berani untuk tidak mengambil bahkan tidak menyentuh apapun yang bukan menjadi miliknya? Dalam hal ini justru banyak pendeta masih belum bisa menjadi teladan. Ketika persembahan dan persepuluhan dari jemaat menjadi semakin banyak, maka jika tidak berhati-hati akan muncul keserakahan di dalam gereja. Tidak heran ada sejumlah pendeta yang berebut kursi di dalam gereja hanya karena urusan uang. Tidak heran juga jika ada orang-orang tertentu di dalam gereja yang kaya dan mampu “menyetir” pendeta untuk melakukan apa yang mereka kehendaki dan pendeta tersebut tidak bisa melawannya karena keluarga kaya itu adalah sumber penghasilan pendeta. Terlalu banyak contoh lain yang bisa kita sebutkan dan tuliskan. Tetapi intinya kita harus belajar untuk mengenakan pribadi Kristus dalam hidup kita, supaya jika Kristus menyatakan diri, maka kita pun akan menyatakan diri bersama-sama dengan Dia di dalam kemuliaan (ay. 4b).

Dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia, kita menemukan bahwa kalimat di ayat 4 seakan-akan menunjukkan bahwa Kristus akan menyatakan diri kelak (di masa yang akan datang), barulah kita menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan. Namun saya mencoba melihat dalam hampir semua terjemahan bahasa Inggris, kalimat yang digunakan tidak menunjukkan tenses di masa depan atau future. Kebanyakan terjemahan bahasa Inggris menggunakan kalimat: “When Christ, who is your live, appears” atau “When Christ, who is y our live, is revealed”. Terjemahan bebas dari kalimat tersebut adalah: “Ketika Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri/dinyatakan”. Sehingga saya secara pribadi berpendapat bahwa kalimat tersebut tidak secara langsung merujuk kepada peristiwa penyataan Kristus pada kedatangan-Nya yang kedua kali, tetapi sudah berlangsung saat ini yaitu ketika kita hidup.

Dalam bahasa aslinya juga digunakan kata phanerōthē (φανερωθῇ) dari akar kata phaneroó (φανερόω) dimana kata phanerōthē ini bersifat verb – aorist subjunctive passive – 3rd person singular. Jelas bahwa kata ini tidak bersifat future sehingga penyataan Kristus dalam hidup kita itu tidak dapat dipandang sebagai peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Kita harus bisa mengenakan pribadi Kristus dalam hidup kita saat ini juga, hingga pribadi Kristus dapat dinyatakan dalam hidup kita dan dapat dilihat bahkan dirasakan oleh orang lain. Jadi jika Kristus dimusuhi oleh orang banyak (khususnya orang Farisi), difitnah, dihina, dan bahkan dilukai namun tidak membalas, maka kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus juga harus siap untuk tidak membalas jika diperlakukan seperti itu.

Barulah setelah kita bisa menghadirkan pribadi Kristus dalam hidup kita, maka kita akan dapat menyatakan diri kita bersama-sama dengan Kristus dalam kemuliaan (ay. 4b). Tentu klausul ini akan terjadi  nanti di masa yang akan datang, yaitu pada saat Kristus dating untuk kedua kalinya dan menjadi Raja dalam kerajaan-Nya yang kekal. Kata “akan menyatakan diri” dalam bahasa aslinya menggunakan kata phanerōthēsesthe (φανερωθήσεσθε) dari akar kata yang sama yaitu phaneroó (φανερόω). Namun kata phanerōthēsesthe ini menggunakan bentuk kata verb – future indicative passive – 2nd person plural atau kata kerja di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, ayat 4 jika salah dimengerti oleh orang Kristen pada umumnya, hanya akan menjadi bermakna dangkal. Hal tersebut terjadi karena orang Kristen hanya akan menunggu Kristus menyatakan diri kelak, yaitu pada saat hari terakhir atau hari kedatangan-Nya. Namun jika kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh kalimat di ayat 4 tersebut, jelas bahwa kita harus berjuang mengenakan pribadi Kristus sampai pada level kita dapat memancarkan pribadi Kristus tersebut dalam hidup kita sehari-hari (atau pribadi Kristus tersebut dapat dinyatakan melalui kehidupan kita). Hal ini tentu saja hanya bisa dicapai jika kita lebih dahulu mematikan diri kita dari hal-hal duniawi. Tidak mungkin ada orang bahkan pendeta sekalipun yang dapat berkata: “Saya hamba Tuhan lho. Saya wakil Tuhan lho. Ada pribadi Kristus dalam diri saya”, tetapi pada kenyataannya ia belum mematikan hal-hal duniawi dalam dirinya, seperti percabulan, kecemaran, hawa nafsu, apalagi keserakahan. Sudah menjadi tugas kita untuk mematikan semuanya itu sehingga kita bisa mengenakan pribadi Kristus, supaya suatu saat nanti kita juga dimuliakan bersama-sama dengan Kristus dalam kerajaan-Nya.




Bacaan Alkitab: Kolose 3:1-6
3:1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
3:3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
3:4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.
3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].