Jumat, 04 Oktober 2019

Pornos dan Moichos (46): Keberatan Tuhan kepada Jemaat-Nya


Jumat, 4 Oktober 2019
Bacaan Alkitab: Wahyu 2:12-16
Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah. (Why 2:14)


Pornos dan Moichos (46): Keberatan Tuhan kepada Jemaat-Nya


Jika kita bekerja di suatu perusahaan atau kantor, kita tentu mempunyai seorang atasan atau bos. Pernahkah kita mendapat suatu keberatan dari bos kita? Tentu keberatan yang disampaikan pasti terkait dengan kesalahan atau kemelesetan yang kita lakukan di pandangan bos kita tersebut. Jika sampai ada bos yang menyampaikan keberatan kepada kita, sesungguhnya bos itu adalah bos yang baik, karena ia tidak langsung menghukum dan memecat kita ketika kita melakukan kesalahan. Bos kita itu masih mengingatkan kita dan menyampaikan keberatan sebelum kita benar-benar melakukan kesalahan yang lebih fatal lagi.

Demikian juga dengan Tuhan. Jika kita memandang Tuhan sebagai majikan kita, maka kita harus siap menerima keberatan dari Tuhan ketika kita melakukan hal yang salah, atau bahkan ketika kita baru akan melakukan hal yang salah. Hendaknya keberatan dari Tuhan itu tidak dipandang sebagai suatu hukuman atau suatu kebencian dari-Nya kepada kita. Justru tingkatan dari keberatan itu masih berada di bawah teguran, karena ia belum sampai menegur kita tetapi baru menyampaikan keberatan-Nya kepada kita. Itu adalah semacam peringatan dini dari-Nya sebelum kita sampai melakukan kesalahan atau dosa yang lebih fatal lagi.

Hari ini kita akan belajar bagaimana Tuhan pun memiliki keberatan kepada salah satu jemaat yang tercatat di kitab Wahyu, yaitu jemaat di kota Pergamus. Sebagai salah satu dari tujuh jemaat yang disebutkan dalam kitab Wahyu, secara umum kita dapat melihat kondisi kota Pergamus yang cukup “berbahaya” bagi orang percaya pada waktu itu. Dikatakan bahwa jemaat Pergamus seakan-akan tinggal di tempat tahta Iblis, atau tempat dimana  iblis diam (ay. 13a & 13d). Bahkan Tuhan digambarkan sebagai sosok yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua (ay. 12). Ini menunjukkan bahwa jemaat Pergamus menghadapi tantangan yang tidak mudah, karena mereka harus berhadapan langsung untuk melawan kuasa kegelapan.

Salah satu tantangan yang dihadapi mereka antara lain adalah aniaya, dimana salah satu hamba-Nya yang bernama Antipas, dibunuh di hadapan jemaat (ay. 13c). Ini merujuk pada tindakan Iblis yang mencoba untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan kekristenan di kota tersebut, antara lain dengan membunuh para pemimpin jemaat pada waktu itu. Namun demikian, di tengah tantangan aniaya yang begitu hebat, jemaat Pergamus tetap diberi pujian dari Tuhan karena mereka tidak menyangkal iman mereka kepada Tuhan (ay. 13b).

Namun demikian, Tuhan ternyata memiliki beberapa keberatan terhadap jemaat Pergamus ini (ay. 14a). Keberatan Tuhan yang dimaksud antara lain adalah karena ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam (ay. 14b). Apakah ajaran Bileam itu? Jika kita membaca kisah dalam Perjanjian Lama, kita akan melihat bagaimana Bileam adalah seorang yang memiliki “karunia” untuk memberkati dan mengutuk orang lain (Bil 22:6). Sebenarnya jika kita teliti membaca ayat di kitab Bilangan, memang Bileam memiliki suatu hubungan yang spesial dengan Allah (Elohim Yahweh) (Bil 22:7-20). Ini menunjukkan bahwa sebenarnya Allah tidak hanya berurusan dengan bangsa Israel saja tetapi juga dapat berurusan dengan orang lain di luar orang Israel. Kita juga melihat bahwa pada akhirnya Bileam tidak jadi mengutuki bangsa Israel tetapi pada akhirnya memberkati mereka. Bileam tidak lagi peduli akan upah tenung yang besar yang dijanjikan Balak kepadanya.

Tetapi dalam perjalanannya ketika hendak bertemu dengan Balak, ada satu peristiwa di mana Allah sempat murka kepada Bileam (Bil 22:22). Alkitab memang tidak menceritakan dengan rinci mengenai hal ini, tetapi ada kemungkinan bahwa Bileam berubah hatinya ketika ia sedang dalam perjalanan untuk menemui  Balak. Meskipun awalnya Bileam sudah bertekad bahwa ia hanya akan mengatakan apa yang Allah firmankan (Bil 22:20), tetapi  mungkin saja ketika ia pergi bersama-sama dengan pemuka Moab yaitu utusan Balak, hatinya mulai goyah dan mulai memikirkan upah yang besar yang dapat ia terima. Ketika hatinya sudah mulai serong, untungnya Allah masih memperingatkan dan menegurnya, sehingga ia pun bertobat dan tidak mengutuk bangsa Israel.

Kemungkinan hal inilah yang dipersoalkan dalam ayat 14 ini, dimana Bileam (sebelum ia bertobat) sempat memberi nasehat kepada Balak untuk menyesatkan orang Isreal (ay. 14c). Sebenarnya kata “ajaran” di ayat ini menggunakan kata didaché (διδαχή) dan kata “memberi nasehat” menggunakan kata didaskó (διδάσκω) yang merupakan dua kata yang memiliki makna yang hampir sama, hanya berbeda jenis katanya saja. Saya pikir kita tidak perlu terlalu lama membahas Bileam dan Balak, tetapi kita harus menyadari bahwa yang lebih penting lagi adalah bagaimana adanya suatu nasehat/ajaran yang salah, yang diajarkan oleh orang-orang yang tidak mengerti, sehingga orang yang menerima ajaran itu menjadi tersesat. Dalam hal ini contoh kesesatan yang digunakan adalah supaya orang Israel makan persembahan berhala dan berbuat zinah (kemungkinan berhala yang dimaksud adalah berhala orang Moab dan supaya orang Israel berzinah/kawin dengan orang-orang Moab) (ay. 14d).

Dalam Bahasa aslinya, kata berzinah di sini adalah kata porneusai (πορνεῦσαι) dari akar kata porneuó (πορνεύω). Meskipun kata porneuó ini dapat bermakna perzinahan secara harafiah (berzinah secara fisik), seperti yang tertulis dalam kitab 1 Korintus (1 Kor 6:18, 1 Kor 10:8), tetapi kata ini juga dapat bermakna sebagai suatu perzinahan rohani, yang dicontohkan umat Israel ketika mereka menyembah dewa-dewa Moab (meskipun harus diakui bahwa sangat mungkin penyembahan berhala itu dimulai dari perzinahan antara umat Israel dengan bangsa Moab, yang ujung-ujungnya membawa hati umat Israel condong untuk menyembah dewa-dewa Moab dan dewa lainnya).

Dalam ayat selanjutnya, dapat dilihat bahwa kalimat “orang-orang yang menganut ajaran Bileam” itu adalah gambaran dari orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus (ay. 15). Siapakah Nikolaus ini? Saya sendiri belum mendapatkan jawaban pasti mengenai apakah ajaran dari “sekte” Nikolaus ini meskipun di internet cukup banyak beredar informasi mengenai hal tersebut. Hal ini disebabkan saya masih belum tahu pasti mana penjelasan yang benar (atau minimal bisa dianggap benar) terkait ajaran Nikolaus ini. Namun karena kata ini digunakan juga dalam tulisan kepada jemaat di Efesus, maka kemungkinan besar ajaran Nikolaus ini sudah beredar cukup luas di kalangan jemaat pada waktu itu (Why 2:6). Yang jelas ajaran Nikolaus ini adalah ajaran sesat yang dibenci oleh Tuhan (Why 2:6), sehingga cukup memalukan jika ada jemaat di kota Pergamus yang masih memegang ajaran Nikolaus ini.

Mengingat kitab Wahyu adalah kitab yang penuh dengan simbol, maka kita tidak dapat meyakini dengan pasti apa yang dimaksudkan oleh Yohanes mengenai ajaran Nikolaus ini. Namun demikian, karena sebenarnya jemaat Pergamus dan 6 jemaat lainnya merupakan penggambaran jemaat Tuhan yang ada di seluruh dunia, maka bisa jadi “ajaran Nikolaus” ini juga dialami oleh sekelompok jemaat Tuhan. Jika ciri-ciri ajaran Nikolaus hampir sama dengan ajaran Bileam, maka bisa disimpulkan bahwa ajaran Nikolaus tersebut membawa jemaat Tuhan untuk mencintai “obyek lain” dan mengajak melakukan perzinahan (bisa perzinahan jasmani maupun perzinahan rohani).

Sangat besar kemungkinan bahwa “obyek lain” yang dimaksud ini adalah dunia dengan segala keindahannya. Iblis mencoba untuk merayu orang percaya supaya tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati tetapi membuat mereka terpikat dengan percintaan dunia. Tidak hanya kekayaan dan keindahan dunia (dalam hal ini harta maupun kedudukan) yang digunakan, tetapi juga sangat mungkin adalah pemuasan hawa nafsu seksual. Hal ini sangat mungkin digunakan iblis karena jika jemaat sudah terpikat oleh godaan hawa nafsu seksual, maka mereka dapat dikatakan sudah berzinah secara jasmani dan selangkah lagi untuk berzinah secara rohani.

Oleh karena itu, Tuhan berkata kepada jemaat Pergamus: “Bertobatlah!” dengan menggunakan tanda seru (!). Memang di dalam pesan kepda keenam jemaat lainnya, ada juga penggunaan kata “bertobat” dan juga penggunaan tanda seru. Namun dengan kata perintah yang sangat singkat (Sebab itu bertobatlah!), hendaknya kita dapat belajar satu hal bahwa apa yang dilakukan oleh jemaat Pergamus itu tidak disukai oleh Tuhan. Pertobatan yang dimaksud adalah pertobatan pikiran atau pertobatan pola pikir (metanoeó/μετανοέω). Semua pertobatan harus dimulai dari pikiran, karena jika pikiran seseorang masih belum diubah, maka pertobatan secara tindakan itu hanyalah suatu pertobatan yang semu dan sangat mudah untuk kembali kepada dosa yang dilakukan.

Jika tidak ada pertobatan, maka Tuhan berkata bahwa Dia akan segera datang kepada mereka (ay. 16b). Menurut saya ayat ini tidak berbicara tentang kedatangan-Nya yang kedua kali, melainkan lebih kepada kehadiran-Nya yang akan menjadi “lawan” bagi orang-orang yang hidupnya tidak benar. Bahkan kepada mereka yang menjadi musuh Allah (karena mencintai dunia dengan segala keindahannya), maka Tuhan akan memerangi mereka pedang yang ada di mulut-Nya (ay. 16c). Dalam banyak ayat di kitab lain selain Wahyu, kata “pedang” menggunakan kata machaira (μάχαιρα) yang pada umumnya memiliki makna sebagai “a short sword, dagger” pedang pendek, belati, yang umum digunakan untuk menusuk. Namun di kitab Wahyu, kata “pedang” hanya menggunakan satu kata yaitu rhomphaia (ῥομφαία) yang pada umumnya memiliki makna “a sword, scimitar” pedang, pedang yang melengkung yang umum digunakan pada masyarakat timur tengah, yang pada umumnya digunakan untuk menebas dan memotong (walaupun bisa juga digunakan untuk menusuk).

Kata pedang ini sangat mungkin menunjukkan suatu hukuman dari Tuhan, seperti yang umum digunakan di dalam kitab Wahyu (Bandingkan dengan Why 6:8, Why 19:15, Why 19:21). Oleh karena itu, kedatangan Tuhan yang dimaksud di ayat 16 ini sungguh menakutkan. Kita sebagai orang Kristen yang normal tentu rindu melihat Tuhan datang di dalam ibadah kita, Tuhan datang di dalam gereja, bahkan Tuhan datang di rumah dan di hati kita. Tetapi jika Tuhan datang sebagai musuh yang akan memerangi kita dengan pedang dari mulut-Nya. Oleh karena itu jagalah diri kita dan bertobatlah selagi masih ada kesempatan. Jika Tuhan masih menyampaikan keberatan-Nya kepada kita, maka biarlah kita dengar-dengaran dan segera menginstropeksi diri kita dengan benar. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan sehingga kita sampai pada tahap dimana tidak dapat diubah lagi. Jika sampai kita menjadi musuh Allah, siapakah yang akan mampu menyelamatkan kita dari murka-Nya yang dahsyat?



Bacaan Alkitab: Wahyu 2:12-16
2:12 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua:
2:13 Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam.
2:14 Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.
2:15 Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus.
2:16 Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini.

Kamis, 03 Oktober 2019

Pornos dan Moichos (45): Belajar dari Sodom dan Gomora


Kamis, 3 Oktober 2019
Bacaan Alkitab: Yudas 1:3-7
Sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang. (Yud 1:7)


Pornos dan Moichos (45): Belajar dari Sodom dan Gomora


Ada banyak kejadian percabulan yang ditulis dalam Alkitab, baik yang melibatkan orang-orang awam hingga orang-orang yang terpandang seperti pemimpin umat, raja, dan lain sebagainya. Namun saya rasa tidak ada kisah yang lebih dramatis selain apa yang terjadi di kota Sodom dan Gomora. Begitu parahnya praktik percabulan di kota Sodom dan Gomora sehingga pada akhirnya kedua kota tersebut dihukum Tuhan dengan cara yang tidak terbayangkan oleh manusia. Begitu parahnya praktik percabulan di sana sehingga nama kota tersebut dijadikan menjadi nama salah satu praktik homoseksual, yaitu sodomi.

Semua kisah mengenai percabulan, orang yang melakukannya, dalam beberapa hal juga latar belakang kejadian, serta hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang tersebut yang tercatat di dalam Alkitab, seharusnya menjadi peringatan dan pelajaran bagi kita semua supaya kita jangan sampai melakukan kesalahan di hadapan-Nya supaya kita jangan sampai menerima murka-Nya. Dalam kitab ini Yudas (yang bukan Yudas Iskariot tetapi Yudas saudara Yakobus) menulis kepada para pembaca (yaitu jemaat Tuhan) mengenai keselamatan (ay. 3a).

Jelas bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada orang-orang pilihan-Nya untuk dapat mengenakan hidup yang berkualitas karena kehadiran Yesus Kristus di dalam hidup orang percaya. Keselamatan apa yang hendak ditekankan oleh Yudas dalam suratnya yang singkat ini? Yudas menulis dan menasehati jemaat supaya mereka tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus, yaitu orang-orang percaya (ay. 3b). Apakah dengan demikian maka keselamatan bisa hilang?

Jika memandang keselamatan sebagai suatu anugerah, tentu kita akan dapat mengerti bahwa manusia tidak dapat memperoleh keselamatan dengan usahanya sendiri, dengan perbuatan baik sebaik apapun. Manusia hanya bisa diselamatkan melalui anugerah Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib yang menebus dosa dunia. Oleh karena itu, memang tidak ada keselamatan di luar Tuhan Yesus Kristus. Akan tetapi, karena keselamatan adalah anugerah, maka perlu ada respon yang memadai dari manusia yang menerima anugerah. Kalau Tuhan sudah memberikan keselamatan, bukan berarti kita kemudian berdiam diri dan berkata “Yes, saya sudah selamat, jadi saya bebas melakukan apapun dan saya pasti tetap selamat”. Keselamatan adalah suatu hal yang progresif, yang harus dipertahankan dengan penuh perjuangan dalam hidup kita masing-masing. Salah satu contoh yang diberikan kepada jemaat mula-mula adalah ketika mereka terancam aniaya, apakah mereka tetap berjuang sampai akhir atau “menyerah di tengah jalan”.

Salah satu hal yang berbahaya adalah adanya orang-orang tertentu yang menyelusup di tengah-tengah jemaat (ay. 4a). Inilah guru-guru palsu atau saudara-saudara palsu yang membuat orang percaya tidak dapat bertumbuh dalam iman yang benar. Mereka akan mempengaruhi orang percaya sehingga mereka yang tidak bertumbuh akan dapat terseret ke dalam hukuman Allah. Mereka adalah kelompok orang-orang yang sudah disiapkan hukuman oleh Tuhan (ay. 4b). Ciri-ciri kelompok orang ini adalah mereka yang disebut sebagai orang fasik, yaitu mereka yang menyalahgunakan kasih karunia Allah (ay. 4c). Apakah kasih karunia dapat disalahgunakan? Apakah itu berarti kasih karunia Allah tidak sempurna?

Tentu anugerah dan kasih karunia Allah adalah anugerah dan kasih karunia yang sempurna. Namun anugerah itu memerlukan iman yang sempurna juga untuk meresponinya. Ibarat beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa dimana semua biaya kuliah, biaya hidup, dan lain sebagainya sudah diberikan secara penuh kepada mahasiswa tersebut. Bukan berarti si mahasiswa pasti akan lulus karena beasiswa yang diberikan, tetapi perlu ada respon yang memadai dari mahasiswa itu untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan setiap mata kuliah hingga akhir sehingga beasiswa itu dapat terealisasi dengan sempurna dalam hidupnya. Apakah beasiswa itu bisa disalahgunakan? Tentu bisa, dimana uang yang diberikan bisa dipakai untuk hal-hal yang tidak benar, misal untuk berfoya-foya atau untuk dibelikan narkoba.

Dalam analogi di atas, siapakah yang salah ketika mahasiswa yang mendapat beasiswa penuh namun ternyata gagal dalam studinya? Apakah beasiswanya yang salah, pemberi beasiswanya yang salah, atau mahasiswanya yang salah? Kesalahan dalam contoh di atas terjadi karena adanya “penyalahgunaan” atas anugerah atau kasih karunia yang diberikan. Oleh karena itu pantas bahwa mereka disebut sebagai orang-orang yang fasik karena mereka melampiaskan hawa nafsu mereka dan dengan demikian menyangkal Tuhan Yesus Kristus (ay. 4d). Ini berbicara mengenai bagaimana orang fasik tersebut tidak mengendalikan hawa nafsu mereka dan dengan demikian menjadikan hawa nafsu mereka sebagai “Tuhan” mereka dan dengan demikian menyangkal Yesus Kristus sebagai Tuhan.

Tetapi walaupun sebenarnya jemaat Tuhan sudah mengetahui semuanya itu (melalui khotbah dan pengajaran para rasul dan pemimpin jemaan) dan tentu tidak meragukannya lagi, Yudas kembali mengingatkan mengenai prinsip keselamatan sekali lagi. Dalam hal ini, Yudas memberi contoh bagaimana Tuhan menyelamatkan umat Israel dari tanah Mesir, tetapi pada akhirnya mereka yang tidak percaya akan binasa (ay. 5). Lalu apakah hubungan dari keselamatan dengan iman percaya? Bukankah jika Allah memberi anugerah keselamatan maka orang yang diberi anugerah pasti percaya kepada-Nya?

Dalam hal ini kita harus mengerti benar makna kata percaya yang sama sekali tidak sederhana. Tingkat percaya yang benar adalah percaya yang ditunjukkan melalui hidup kita yang berbuah. Tidak mungkin orang bisa berkata “Saya percaya kok kepada Tuhan Yesus, sehingga saya percaya sudah menerima keselamatan” tetapi hidupnya masih terus hidup di dalam dosa. Jika orang mengaku percaya, ia harus menunjukkan percayanya tersebut dalam hidupnya dengan buah-buah pertobatan dan buah Roh yang nyata dan dapat dinikmati sesama terlebih dinikmati Tuhan. Jangan seperti orang Israel yang ketika diselamatkan dari tanah Mesir memuji Tuhan tetapi ketika berjalan di padang gurun justru menyembah patung dewa lain dan mengkhianati Tuhan sebagai bukti ketidakpercayaan mereka. Hidup ini adalah pembuktian apakah kita dapat mempertahankan iman percaya kita sampai akhir, ataukah kita akhirnya akan gugur di tengah jalan.

Dalam hal ini Yudas memberi contoh yaitu malaikat-malaikat yang tidak taat terhadap batas kekusasaan mereka dan meninggalkan tempat kediaman mereka (ay. 6a). Ini kemungkinan merujuk ketika ada malaikat-malaikat yang jatuh karena mengikuti pemberontakan iblis/lucifer. Dalam ayat lain juga dikatakan bahwa malaikat pun bisa didapati tersesat (Ayb 4:18). Dan kepada malaikat-malaikat yang tersesat dan dengan demikian menunjukkan ketidakpercayaan mereka atas pemerintahan Allah, maka Tuhan pun menyiapkan hukuman bagi mereka berupa belenggu abadi dalam dunia kekelaman hingga pada datangnya hari penghakiman tersebut (ay. 6b).

Contoh lain yang disampaikan oleh Yudas adalah mengenai penduduk kota Sodom dan Gomora yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan yang tidak wajar, dimana mereka pada akhirnya dihukum dengan siksaan api kekal sebagai peringatan bagi orang-orang (ay. 7). Perhatikan frasa “dengan cara yang sama”, di mana hal ini menunjukkan contoh yang sama atas ketidakpercayaan yang mendatangkan hukuman, sama seperti orang Israel yang berguguran di tengah padang gurun, maupun malaikat yang akhirnya jatuh dan tersesat.

Apakah yang dilakukan oleh para penduduk Sodom dan Gomora? Ayat 7 ini menunjukkan dosa mereka yaitu melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tidak wajar (ay. 7a). Kata percabulan dalam hal ini adalah ekporneuó (ἐκπορνεύω) yang berarti menyerahkan diri mereka sendiri kepada percabulan. Untuk dapat mengerti kata ini, kita perlu melihat contoh lain yaitu mengejar kepuasan-kepuasan yang tidak wajar. Tentu ayat ini merujuk kepada tindakan amoral yang tidak wajar pada masa itu, yaitu melakukan hubungan seksual antara laki-laki dengan laki-laki. Hal ini terlihat jelas dalam perikop mengenai Sodom dan Gomora, dimana mereka ingin “memperkosa” malaikat Tuhan yang datang ke kota Sodom dan Gomora untuk menyelamatkan Lot (Kej 19:1-29). Betapa sudah rusaknya moral Sodom dan Gomora, dan suka atau tidak suka, hal itu mempengaruhi pemikiran orang-orang yang tinggal di sana termasuk anak-anak perempuan Lot yang akhirnya tidur dan mempunyai anak dengan ayahnya sendiri.

Berbicara tentang kepuasan seksual, tentu ada kepuasan seksual yang kudus, yaitu di dalam hubungan seksual antara suami dan istri yang diberkati Tuhan. Di luar itu adalah kepuasan seksual yang tidak wajar. Dewasa ini ada banyak berita mengenai hubungan seksual yang tidak wajar, antara lain: melakukan hubungan seksual dengan orang lain (di luar suami/istri yang sah), melakukan hubungan seksual sesama jenis, melakukan hubungan seksual dengan orang sedarah (kakak-adik, orang tua-anak), dan lain sebagainya yang tidak pantas disebutkan di sini. Betapa berbahayanya jika kita terikat akan hal yang salah dan terus mengejar hal yang salah itu.

Ingat bahwa para penduduk kota Sodom dan Gomora pada akhirnya menerima hukuman Allah. Tidak hanya nanti pada saat penghakiman akhir, tetapi mereka juga sudah menerima hukuman ketika di bumi ini karena tindakan dan kelakuan mereka yang sangat jahat. Ketika Alkitab menulis mengenai hukuman yang tidak wajar yang diterima oleh orang-orang tertentu, hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa dosa-dosa mereka adalah di luar batas kewajaran dalam konteks masyarakat pada zaman tersebut. Kita dapat melihat hukuman Allah atas manusia pada zaman Nuh yang mati karena air bah, hukuman atas penduduk Sodom dan Gomora, hukuman atas Korah, Datan, dan Abiram, termasuk hukuman kepada Raja Herodes serta Ananias dan Safira. Sebenarnya semua hukuman tersebut memiliki maksud yang baik yaitu supaya orang lain yang melihatnya memiliki kesempatan untuk bertobat.

Menjadi persoalan sekarang ini ketika seakan-akan Tuhan diam dan tidak menghukum orang-orang yang melakukan dosa. Kita melihat bagaimana di sejumlah negara praktik homoseksual menjadi sesuatu yang wajar bahkan dilegalkan secara hukum sebagai bagian dari “hak asasi manusia”. Akan tetapi kita melihat justru negara-negara tersebut seakan-akan tidak ada masalah dan malah bertambah makmur dan maju. Hal ini bukan berarti bahwa Tuhan tidak bekerja. Justru kita tidak boleh terlena dengan kondisi ini dan berpendapat bahwa “Oh, berarti kalau tidak ada hukuman Tuhan, maka itu adalah hal yang benar ya”. Kita harus cukup belajar dari Alkitab mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Contoh-contoh dalam Alkitab sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan apa yang salah dan apa yang benar. Tidak perlu lagi berbagai alasan untuk membenarkan diri.

Ketika kita diingatkan menganai respon manusia terhadap anugerah keselamatan, serta bagaimana contoh kesalahan manusia dan hukuman yang diterima mereka, maka cukuplah itu menjadi peringatan bagi kita. Tidak perlu kita mengerti bahaya narkoba dengan mencoba menggunakan narkoba. Cukuplah kita belajar dari orang-orang di masa lalu maupun orang-orang di sekitar kita, di mana Tuhan akan menuntun kita dan mengingatkan kita supaya kita tidak melakukan kesalahan yang sama. Tidak perlu iri terhadap orang fasik yang sepertinya mujur, karena di balik itu semua, masih ada satu penghakiman lagi yang maha adil, dimana setiap kita akan menerima upah kita atas kehidupan kita, entah baik maupun jahat.



Bacaan Alkitab: Yudas 1:-7
1:3 Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.
1:4 Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus.
1:5 Tetapi, sekalipun kamu telah mengetahui semuanya itu dan tidak meragukannya lagi, aku ingin mengingatkan kamu bahwa memang Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari tanah Mesir, namun sekali lagi membinasakan mereka yang tidak percaya.
1:6 Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar,
1:7 sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.

Senin, 30 September 2019

Pornos dan Moichos (44): Salah Satu Ciri Guru-Guru Palsu


Senin, 30 September 2019
Bacaan Alkitab: 2 Petrus 2:10:14
Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk! (2 Ptr 2:14)


Pornos dan Moichos (44): Salah Satu Ciri Guru-Guru Palsu


Renungan ini pernah membahas mengenai topik tentang guru-guru palsu dari bacaan ayat kita hari ini. Akan tetapi, karena kita saat ini sedang fokus membahas mengenai kata pornos dan moichos, maka tentu penekanan dalam renungan hari ini adalah mengenai konteks kata tersebut dalam ayat yang menjadi bagian bacaan kita pada hari ini.

Sekali lagi, konteks bacaan Alkitab kita hari ini adalah mengenai guru-guru palsu. Jika di masa Perjanjian Lama kita mengenal nabi-nabi palsu, maka di dalam Perjanjian Baru terdapat pula guru-guru palsu. Di Perjanjian Lama, belum ada Roh Kudus yang turun sehingga umat Israel membutuhkan nabi-nabi untuk mendengar suara Tuhan. Nabi adalah orang-orang tertentu yang diberikan karunia untuk menyampaikan suara Tuhan. Dalam praktiknya, muncul pula orang-orang yang mengaku sebagai nabi padahal tidak diangkat oleh Tuhan sebagai nabi. Nabi-nabi palsu ini mengangkat dirinya sendiri sebagai nabi untuk mendapatkan keuntungan dari posisinya tersebut (biasanya keuntungan karena dihormati orang banyak, diangkat sebagai penasehat oleh raja, dan juga tentunya keuntungan finansial).

Di masa Perjanjian Baru, hanya belasan atau puluhan tahun dari kenaikan Tuhan Yesus ke surga, muncul pula sejumlah guru-guru palsu. Ingat bahwa di masa Perjanjian Baru, setelah Tuhan Yesus naik ke surga maka ada pencurahan Roh Kudus sehingga sejak saat itu Roh Kudus dapat tinggal secara permanen dalam diri orang-orang percaya untuk menuntun mereka hidup dalam kebenaran. Oleh karena itu, di masa Perjanjian Baru ini meskipun memang ada orang-orang yang memiliki tugas sebagai nabi (sama seperti ada peran rasul. pengajar/guru (1 Kor 12:28), pemberita Injil dan gembala (Ef 4:11) dalam jemaat), tetapi justru peran yang lebih penting sekarang ini adalah peran pengajar/guru, pemberita Injil, dan gembala.

Kita melihat bahwa peran Rasul pun hanya terbatas di dalam jemaat mula-mula, dan di masa kini sudah tidak ada rasul lagi, karena semua sudah tertulis di dalam Alkitab yang kita miliki hari ini. Demikian juga dengan peran nabi. Sebenarnya di masa Perjanjian Baru ini peran nabi dapat dilakukan oleh para pengajar/guru, pemberita Injil dan gembala, karena mereka pun menyuarakan suara Tuhan dalam tugas pelayanannya. Dalam Alkitab sendiri, masih ada sejumlah nabi di zaman Perjanjian Baru seperti nabi Agabus (Kis 21:10) yang menyampaikan suara Tuhan kepada Paulus bahwa Paulus akan ditangkap di Yerusalem. Meskipun demikian, secara implisit Paulus pun sudah mengerti kehendak Tuhan bahwa ia akan ditangkap di Yerusalem. Hal itu dapat menunjukkan bahwa peran nabi yang menyampaikan suara Tuhan secara spesifik kepada seseorang atau sekelompok orang tertentu mulai bergeser kepada peran pengajar/guru yang menyampaikan suara Tuhan kepada sekelompok orang secara umum. Walau pengajaran yang disampaikan bersifat umum, tetapi Tuhan telah menaruh Roh Kudus dalam hati orang percaya sehingga mereka tentu dapat mendengar suara Tuhan yang spesifik bagi diri mereka masing-masing.

Oleh karena peran pengajar/guru yang sangat penting pada jemaat mula-mula, maka iblis pun mulai memunculkan guru-guru palsu sejak zaman gereja mula-mula. Kita telah membahas mengenai guru-guru palsu dalam renungan dengan tema khusus. Namun pada renungan hari ini, cukuplah kita membahas mengenai ciri-ciri guru-guru palsu yang antara lain mereka menuruti hawa nafsunya (ay. 10a). Mereka tidak pernah mencari kehendak Allah tetapi berusaha memuaskan hawa nafsu duniawinya. Tidak heran mereka pun mulai mencemarkan diri mereka sendiri dan menghina/merendahkan/mengabaikan pemerintahan Allah (ay. 10b). Hal ini berarti walaupun mereka mengajarkan ayat-ayat Alkitab kepada jemaat, tetapi hidupnya penuh dengan kecemaran dan dengan demikian menunjukkan bahwa mereka hidup di luar pemerintahan Allah yang berlandaskan kesucian dan kekudusan.

Mereka pun begitu berani dan angkuh sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan (ay. 10c). Tentu guru-guru palsu ini tidak dengan langsung menghujat Allah dan kerajaan-Nya. Tetapi dari pengajaran yang disampaikan, secara tidak langsung mereka sedang menghujat Allah dan kerajaan-Nya. Sebagai contoh, jika salah satu standar kerajaan Allah adalah kekudusan, maka apa yang diajarkan oleh guru-guru palsu itu tidak akan menyentuh standar kekudusan tersebut karena hidup mereka masih belum kudus, bahkan mereka masih hidup dalam kecemaran dosa dan hawa nafsu. Oleh karena itu, hampir tidak mungkin mereka menyampaikan khotbah atau pengajaran mengenai kekudusan hidup. Mereka akan sebisa mungkin menghindari dan bersembunyi di balik topik-topik lain yang ‘aman’ bagi mereka.

Salah satu ciri lain dari guru-guru palsu itu adalah perkataan mereka yang tidak membawa damai dan keteduhan. Perkataan mereka pada umumnya kasar dan menyerang pihak lain. Jangankan pihak luar, seringkali mereka menyerang pihak internal, bahkan pimpinan mereka sendiri dengan kata-kata yang sebenarnya tidak pantas diucapkan oleh seorang pengajar di depan mimbar. Padahal malaikat-malaikat yang lebih berkuasa dari mereka, tidak menggunakan kata-kata yang kasar dan jahat ketika menuntut penghakiman atas guru-guru palsu tersebut (ay. 11).

Dalam hal ini Petrus menyamakan guru-guru palsu dengan hewan yang tidak memiliki akal, karena mereka tidak menggunakan akal atau logika berpikir yang jernih (ay. 12). Padahal seorang guru seharusnya memiliki logika berpikir yang baik, sehingga mereka akan mencerdaskan orang-orang yang diajar supaya juga memiliki logika berpikir yang baik. Semua yang ditulis mengenai guru-guru palsu tersebut adalah hal yang jahat, dan suatu saat nanti mereka akan menerima upah atas kejahatan mereka (ay. 13a). Kalaupun di dunia ini mereka tidak menuai apa yang mereka tabur, maka suatu saat nanti mereka tidak akan dapat menghindar lagi, ketika Tuhan meminta pertanggungjawaban mereka dalam pengadilan-Nya yang maha adil.

Beberapa ciri lagi telah dituliskan oleh Petrus supaya kita dapat membedakan guru-guru yang benar dan guru-guru palsu. Ciri dari guru-guru palsu adalah berfoya-foya dan menganggapnya sebagai suatu kenikmatan (ay. 13b). Ciri lain akan nampak juga dengan jelas ketika dalam suatu persekutuan atau perjamuan. Lihatlah ketika mereka makan dan minum bersama-sama dengan kita, maka akan nampak ciri-ciri guru palsu yang seperti kotoran dan noda. Bahkan ketika makan dan minum Bersama, kita dapat melihat bagaimana mereka masih mencoba memanfaatkan orang lain untuk memuaskan hawa nafsunya dalam hal makanan dan minuman (ay. 13c). Adalah sungguh memalukan jika dalam hal yang bersifat jasmani saja (persekutuan atau makan minum bersama), kelakuan guru-guru palsu tersebut sudah menunjukkan nafsu yang sangat rendah, yang sibuk dengan urusan mengisi perut saja.

Ciri lain adalah mata mereka yang penuh dengan nafsu zinah dan tidak pernah jemu berbuat dosa (ay. 14a). Dalam bahasa aslinya, kata “nafsu zinah” adalah moichalis (μοιχαλίς) yang berarti seorang pelacur wanita, perempuan sundal, seorang perempuan yang sudah menikah namun hidup dalam perzinahan. Jika diterjemahkan bebas, maka kalimat tersebut dapat berbunyi: “mata yang terus memandang wanita cabul (atau mata yang penuh percabulan) dan tidak henti-hentinya berdosa/meleset”. Saya tidak tahu mengapa digunakan kata moichalis (yang merupakan kata benda feminin) dalam ayat ini dan bukan kata benda lain yang umum (tidak bersifat maskulin/feminin) seperti moicheia. Sehingga saya sempat berpikir mungkin saja guru-guru palsu itu adalah orang-orang yang masih hidup dalam percabulan. Memang mungkin saja saat ini mereka belum sampai melakukan perbuatan zinah, tetapi mata mereka terus memandang wanita-wanita yang tidak pantas (wanita yang berzinah, pelacur, perempuan sundal). Dalam hal ini, bisa jadi ia tidak akan berani berkhotbah mengenai bahaya percabulan dan bagaimana jemaat harus melawan dan menghindarinya, karena ia sendiri juga masih suka hidup dalam percabulan itu (minimal masih suka memandang wanita-wanita yang tidak pantas).

Perlu diperjelas bahwa mata yang penuh nafsu zinah/percabulan tidak harus sampai pada tindakan berbuat dosa. Kata “dosa” yang dipakai dalam ayat ini adalah hamartia (ἁμαρτία) yang juga dapat berarti failure, missing the mark (kegagalan, meleset dari sasaran). Jadi guru-guru palsu ini benar-benar terikat dengan hawa nafsunya sehingga mereka tidak dapat berhenti berbuat dosa. Tidak ada kemauan yang kuat dalam diri mereka untuk melawan hawa nafsu kedagingan tersebut. Lambat laun mereka akan merasa hal itu sebagai hal yang wajar, dan tanpa disadari akan memberikan contoh yang salah kepada jemaat yang mereka ajar. Tidak heran jika di suatu gereja atau persekutuan dimana ada guru-guru palsu yang diberi posisi dan kesempatan untuk mengajar, maka banyak jemaat yang juga jatuh dalam dosa perzinahan dan percabulan.

Yang parah lagi adalah ketika mereka memikat orang-orang yang lemah supaya ikut dalam kejahatan yang mereka lakukan (ay. 14b). Kata “memikat” dalam ayat ini adalah deleazó (δελεάζω) yang dapat bermakna to lure, to entice with bait (memancing, memikat dengan umpan/menarik hati/menimbulkan hasrat). Jelas bahwa mereka tidak dapat memikat orang-orang benar di dalam jemaat, sehingga mereka mengalihkan “sasaran” mereka kepada orang-orang (atau jiwa-jiwa) yang lemah. Dalam bahasa aslinya, kata “lemah” menggunakan kata astériktos (ἀστήρικτος) yang bermakna unstable, unsettled, unsteadfast (goyah/goncang/labil/tidak stabil, resah/tidak pasti/tidak menentu, limbung). Jelas bahwa orang-orang ini bukanlah mereka yang sudah bertumbuh dan berakar kuat dalam kebenaran. Kemungkinan besar orang-orang lemah ini adalah jiwa-jiwa baru, yang masih belum memiliki pemahaman yang utuh dan akar yang kuat. Betapa jahatnya guru-guru palsu ini karena mereka mengambil keuntungan dari orang-orang yang masih polos, yang sebenarnya masih perlu untuk diajar dan dibimbing, tetapi malah dimanfaatkan oleh guru-guru palsu tersebut untuk kepentingan diri mereka sendiri.

Bahkan Petrus menulis bahwa hati guru-guru palsu ini telah terlatih dalam keserakahan (ay. 14c). Kata “keserakahan” di dalam ayat ini adalah pleonexia (πλεονεξία), sebuah kata yang sudah umum kita bahas dalam renungan-renungan sebelumnya karena memiliki keterkaitan dengan kata pornos maupun moichos di ayat-ayat sebelumnya. Kata pleonexia memiliki makna covetousness, avarice, desire for advantage, desire to have more (ketamakan, keserakahan/kekikiran, keinginan untuk memperoleh keuntungan, keinginan untuk memiliki lebih). Seharusnya orang percaya diajar untuk melatih hatinya dalam kekudusan, kesucian hidup, dan hal-hal baik lainnya. Akan tetapi guru-guru palsu ini telah melatih hatinya terhadap keserakaan. Betapa berbahayanya spirit ini jika dibawakan di atas mimbar kepada jemaat. Tanpa disadari, jemaat akan terpengaruh dengan spirit tersebut dan akan merasa bahwa ketika ia selalu ingin lebih, maka hal itu adalah suatu hal yang wajar.

Itulah sebabnya di akhir kalimatnya Petrus menulis bahwa mereka adalah orang-orang yang terkutuk (ay. 14d). Hal ini menunjukkan bagaimana Petrus yang juga adalah Rasul, pemberita Injil, pengajar/guru dan sekaligus gembala sangat menyadari bahayanya guru-guru palsu ini. Petrus hanya hidup selama sekian puluh tahun, dan suka atau tidak suka, pelayanan jemaat akan diteruskan di tangan generasi selanjutnya. Dapat dibayangkan jika guru-guru palsu ini masuk ke dalam jemaat, maka apa yang sudah dirintis oleh para murid dan rasul mula-mula akan menjadi sia-sia belaka. Itulah sebabnya Petrus dengan tegas mengingatkan jemaat untuk berhati-hati terhadap guru-guru palsu dengan memperhatikan ciri-cirinya.

Saya yakin di akhir zaman ini akan semakin banyak guru-guru palsu yang akan muncul dan menyesatkan orang-orang Kristen. Kita memang tidak boleh menghakimi orang lain, tetapi kita harus dapat menilai orang lain, apakah ada guru-guru palsu di jemaat atau persekutuan yang kita ikuti. Bahkan jika mau fair, para pembaca renungan ini juga harus dapat menilai apakah saya selaku penulis renungan ini juga adalah guru palsu atau bukan. Ada ciri-ciri yang disampaikan dalam kitab 2 Petrus yang dapat menjadi acuan bagi kita untuk dapat melakukan penilaian. Tetapi lebih dari semuanya, adalah lebih baik kita menjaga diri kita sendiri dan orang-orang yang kita kasihi dari pengajaran yang menyimpang yang disampaikan oleh guru-guru palsu tersebut, yaitu dengan cara belajar kebenaran langsung dari sumbernya dan berjuang untuk hidup dalam kebenaran tersebut dalam pimpinan Roh Kudus.



Bacaan Alkitab: 2 Petrus 2:10:14
2:10 terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan,
2:11 padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah.
2:12 Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar,
2:13 dan akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka. Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap kenikmatan. Mereka adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka kalau mereka duduk makan minum bersama-sama dengan kamu.
2:14 Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk!

Sabtu, 28 September 2019

Pornos dan Moichos (43): Tercermin dari Doa dan Keinginan yang Tidak Tepat


Sabtu, 28 September 2019
Bacaan Alkitab: Yakobus 4:1-4
Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. (Yak 4:4)


Pornos dan Moichos (43): Tercermin dari Doa dan Keinginan yang Tidak Tepat


Jika dalam dua renungan sebelumnya kita telah melihat bagaimana Yakobus menggunakan kata moicheuó  dan kata porné dalam konteks perzinahan, percabulan maupun pelacuran, maka dalam ayat ini kita akan melihat bagaimana Yakobus menggunakan kata moichalis (μοιχαλίς) yang dalam yang diluar konteks perzinahan secara jasmani. Kata ini secara harafiah berarti adulteress, that is a married woman who commits adultery (seorang pezinah wanita, seorang wanita yang sudah menikah namun melakukan perzinahan). Namun demikian, dalam Perjanjian Baru, ayat ini seringkali digunakan secara figuratif untuk menggambarkan suatu ‘perzinahan rohani’, yaitu orang yang tidak setia dengan Allah yang benar, yang juga menyembah obyek lain. Hal ini bisa dilihat dalam ayat-ayat lain yang menggunakan kata ini (sebagaimana telah kita bahas dalam renungan-renungan sebelumnya), antara lain Mat 12:39, Mat 16:4, Mrk 8:38, dan Rm 7:38 (meskipun di ayat terakhir ini, konteksnya masih sedikit berhubungan dengan makna harafiah dari kata tersebut).

Yakobus memulai penjelasannya dengan pernyataan tentang adanya sengketa dan pertengkaran di antara jemaat (ay. 1a). Pertengkaran dan sengketa tersebut muncul karena adanya hawa nafsu di dalam diri manusia yang kemudian muncul dan saling berjuang atau saling bersaing satu sama lain (ay. 1b). Saya mencoba membayangkan, kira-kira hawa nafsu apa yang mungkin muncul dalam jemaat mula-mula? Jika yang dimaksud adalah hawa nafsu secara seksual, mungkin hal itu cukup kecil kemungkinannya, karena sejak awal diajarkan bahwa jemaat harus hidup kudus termasuk dalam perkawinan. Kemungkinan besar orang dewasa di jemaat pada waktu itu sudah memiliki pasangan (suami/istri) masing-masing. Kalaupun ada hawa nafsu terkait ini mungkin di antara para pemuda yang memperebutkan wanita untuk dijadikan istri. Dan menurut pendapat saya, kemungkinan hal itu menimbulkan sengketa dan pertengkaran yang luas adalah kecil.

Sangat besar hawa nafsu yang dimaksud oleh Yakobus dalam ayat ini adalah mengenai kedunawian. Lebih spesifik lagi, hal ini mungkin saja terkait dengan uang/harta serta kedudukan atau posisi di dalam jemaat. Hal ini nampak dari ayat selanjutnya, dimana Yakobus menulis bahwa jemaat menginginkan sesuatu dan tidak memperolehnya, lalu orang itu bisa membunuh (ay. 2a). Membunuh di sini mungkin tidak hanya membunuh secara fisik (menghilangkan nyawa orang) tetapi juga membunuh secara karakter (merusak nama baik orang, mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, dan lain sebagainya). Hal ini juga terlihat dari kalimat selanjutnya yang menulis bahwa ada orang-orang yang tidak mencapai tujuan atau ambisi pribadinya, lalu ia menjadi iri hati dan bertengkar serta berkelahi (ay. 2b).

Apakah yang sebenarnya mereka ingini dan apakah tujuan mereka? Menurut pendapat saya, hal itu sangat mungkin adalah suatu kedudukan di dalam jemaat yang juga dalam beberapa kasus, ujung-ujungnya juga adalah uang dan kekayaan dunia. Dan fakta serta sejarah gereja menunjukkan bahwa konflik di dalam gereja sudah muncul ribuan tahun lalu, sehingga berujung pada perpecahan dan pembentukan aliran/sinode gereja yang baru. Konflik juga muncul hingga saling menyebutkan bahwa pendapat lain adalah sesat, bahkan hingga ke tindakan mengucilkan orang yang tidak sepaham dengan mereka. Yang lebih parah lagi, konflik juga dapat berujung pada perintah membunuh orang yang memiliki pandangan yang berbeda.

Namun pada akhirnya Yakobus menuliskan bahwa mereka tidak memperoleh apa-apa karena mereka tidak berdoa (ay. 2c). Kita juga dapat melihat dari sejarah bahwa konflik yang terjadi di dalam lingkungan orang Kristen pada akhirnya juga tidak menghasilkan apa-apa. Katakanlah ada konflik yang berujung saling mengucilkan lalu salah satu pihak keluar dan membentuk aliran gereja baru. Apakah hasil akhirnya? Tidak ada manfaat dari konflik yang ada. Lebih baik jika memang sudah berbeda pandangan, salah satu pihak keluar baik-baik sehingga tidak muncul konflik yang dapat menyeret hingga jemaat awam. Lebih sedihnya lagi, konflik yang terjadi dapat diliput oleh media sehingga justru memberikan kesan negatif terhadap bagaimana kehidupan orang Kristen di mata orang lain.

Perlu diperjelas mengenai makna doa dalam ayat 2 dan ayat 3 ini. Yakobus menulis bahwa mereka tidak menerima apa-apa karena tidak berdoa (ay. 2c), atau mereka tidak menerima apa-apa meskipun mereka sudah berdoa karena mereka salah berdoa (ay. 3a). Doa adalah suatu dialog dengan Allah. Oleh karena itu, doa harusnya memberi kesempatan yang sama kepada kedua belah pihak (dalam hal ini manusia dan Allah) untuk memiliki pikiran dan perasaan yang sama, sehingga pada ujungnya ada kesamaan kehendak yang terjadi. Tentu karena Allah adalah pribadi yang sempurna, maka doa seharusnya menjadi sarana bagi kita untuk berjuang memiliki pikiran dan perasaan Allah, sehingga kita dapat mengerti kehendak Allah supaya kita dapat melakukannya dalam hidup kita masing-masing.

Persoalannya, selama ini kita hampir selalu diajarkan mengenai cara berdoa yang salah, termasuk saya sendiri. Sejak kecil saya sudah diajarkan bahwa jika berdoa harus diawali dengan menyanyi, seakan-akan menyanyi itu adalah suatu hal wajib sebelum mengucapkan kata-kata doa. Padahal menyanyi atau tidak, menaikkan lagu-lagu penyembahan atau tidak, itu bukanlah hal yang mayor. Hal yang lebih penting lagi apakah hidup kita sesungguhnya adalah penyembahan yang sejati kepada Allah atau bukan. Ketika kita berjuang dalam hidup kita untuk selalu hidup menurut kehendak-Nya, itulah penyembahan yang sejati. Kita tidak selalu butuh nyanyian sebelum berdoa, karena hidup kita sudah merupakan penyembahan, dan kapan pun kita bisa bercakap-cakap dengan Bapa.

Kesalahan lain yang umum terjadi adalah doa dijadikan sarana untuk meminta-minta. Sering kali pendeta berkata: jika doa kita belum didengar, maka berdoalah terus sampai dijawab oleh Tuhan. Ini memang ada benarnya dan ada tidaknya. Memang terkadang ada masalah dan pergumulan yang membutuhkan waktu lama untuk dapat selesai. Dalam hal ini, kita memang harus tekun dalam berdoa, yaitu dalam hal mencari tahu apakah kehendak Allah dalam hal ini, menggumulkannya dengan serius, sehingga kita siap untuk mengambil keputusan yang tepat dalam persoalan yang besar ini.

Tetapi dalam hal lain, sebenarnya doa itu adalah dialog, sehingga mungkin saja ketika kita datang dan membawa masalah kita kepada Allah, maka setelah kita berdoa kita akan sadar bahwa hal itu sebenarnya bukan masalah yang harus diselesaikan oleh-Nya dengan cara yang ajaib. Masalah itu sebenarnya adalah masalah biasa yang dapat kita selesaikan sendiri dengan hikmat Tuhan. Sebagai contoh, jika kita  sakit flu, maka kita tidak perlu berdoa terus-terusan kepada Tuhan. Kita sudah diberi hikmat, kita dapat minum obat flu secara rutin dan beristirahat, atau jika perlu datang ke dokter dan meminta nasehat. Saya tidak yakin para pendeta yang sering mengatakan kepada jemaat untuk berdoa meminta mujizat kesembuhan dari Tuhan, dirinya sendiri juga tidak pernah pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. Saya bukan tidak percaya mujizat, tetapi ada tatanan Allah mengenai bagaimana kita hidup bertanggung jawab termasuk dalam kesehatan. Oleh karena itu, bisa saja di dalam doa kita diberikan hikmat untuk pergi ke dokter dan bukannya terus berdoa meminta kesembuhan. Ingat bahwa dokter dan obat-obatan juga adalah sarana Tuhan menyembuhkan diri kita.

Sedangkan kesalahan terbesar dalam berdoa yang saya temukan adalah ketika doa menjadi monolog, bukan dialog. Berapa banyak kita berdoa dengan mengucapkan kata-kata secara terus menerus dan sebelum Tuhan berbicara, kita sudah menutup doa dengan kata “Amin”? Berapa banyak kita berdoa dengan menyodorkan daftar kebutuhan dan keinginan kita kepada Tuhan dan lalu menutup doa dengan kalimat “Di dalam nama Tuhan Yesus kami percaya Tuhan mendengar, Amin”? Padahal kalimat “di dalam nama Tuhan Yesus” itu sendiri memiliki makna yang sangat dalam dan seharusnya tidak boleh diucapkan dengan sembarangan. Kita sering kali tidak memberikan waktu kepada Tuhan untuk berbicara kepada kita. Doa menjadi percakapan 1 arah tanpa memberi kesempatan Tuhan berbicara dan mungkin mengoreksi permintaan kita. Bisa kita bayangkan jika ada suami istri dan kemudian istri hanya berbicara kepada suaminya ketika ia meminta uang belanja, pakaian baru, perhiasan baru, dan lain sebagainya? Apakah itu adalah suatu hubungan yang sehat antar 2 orang?

Seringkali doa juga dijadikan sarana untuk meminta sesuatu yang bersifat duniawi, seakan-akan kebahagiaan kita diukur dari seberapa banyak harta duniawi yang kita miliki. Kita hendak memuaskan hawa nafsu kita (yaitu khususnya hawa nafsu kedudukan dan harta benda), sehingga kita menyampaikannya dalam doa. Mengapa saya tidak memasukkan hawa nafsu seksual dalam hal ini, karena hampir tidak mungkin kita berdoa: “Ya Tuhan, tolong saya supaya saya dapat pergi ke rumah selingkuhan saya dengan selamat dan tidak ketahuan istri saya. Amin”. Oleh karena itu yang sering kita ucapkan dalam doa adalah untuk memuaskan hawa nafsu kedudukan dan harta benda dunawi (ay. 3b).

Itulah sebabnya Yakobus menggunakan kata-kata: “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia!” (ay. 4a). Kata tidak setia dalam ayat ini menggunakan kata moichalis sebagaimana telah kita bahas di awal renungan ini. Hal ini menunjukkan bahwa kata moichalis tersebut digunakan secara figuratif. Memang bisa menjadi persoalan, dimana letak ketidaksetiaan yang dimaksud oleh Yakobus? Bukankah mereka tetap berdoa dan beribadah? Mereka juga tidak disebutkan menyembah allah lain atau dewa lain.

Namun demikian, Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa seseorang tidak dapat mengasihi dan mengabdi kepada dua tuan, karena ia pasti akan cenderung untuk mengasihi salah satu dan membenci yang lain (Mat 6:24, Luk 16:13), apalagi jika harus mencintai dua suami atau dua istri. Karena itu ketika kita mencintai dunia (atau bahkan hanya bersahabat dengan dunia), ia sebenarnya sedang menjadi musuh Allah (ay. 4b). Jangankan sudah bersahabat dengan dunia, ketika kita ingin menjadi sahabat dunia (baru merupakan keinginan), kita sudah menjadi musuh Allah (ay. 4c). Betapa berbahayanya jika kita sudah menjadi musuh Allah, karena tidak mungkin Allah akan membuat kita masuk ke dalam kerajaan-Nya. Itulah sebabnya Yakobus sangat marah ketika mengetahui ada orang-orang Kristen yang mengaku mengasihi Tuhan, tetapi doa mereka tidak mencerminkan kasih mereka tersebut. Kalau orang Kristen mengasihi Tuhan dengan benar dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kekasih jiwa mereka, maka tidak mungkin ada lagi doa-doa yang dinaikkan dengan cara dan isi yang salah, dan tidak mungkin lagi ada pertengkaran atau perselisihan yang terutama disebabkan karena perebutan kekuasaan (kedudukan) dan juga disebabkan karena perebutan uang/persembahan dalam jemaat.

Di situlah letak ketidaksetiaan kebanyakan orang Kristen yang dimaksud, dimana mereka tidak sungguh-sungguh mengasihi Tuhan karena mereka juga masih mencintai dunia ini dengan segala kekayaan, kemuliaan, kesenangan dan kehormatannya. Sebenarnya hidup itu adalah pilihan. Dalam hidup ini kita harus mengambil keputusan: memilih Tuhan menjadi kekasih jiwa kita, atau memilih yang lain (dunia dan bahkan diri kita sendiri) menjadi kekasih jiwa kita. Kita harus memilih, apakah kita mau hidup untuk kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya, ataukah kita mau hidup untuk kepentingan diri sendiri dan kerajaan kita sendiri.

Persoalannya menjadi lebih kompleks karena setiap pilihan kita menimbulkan konsekuensi. Jika kita memilih Tuhan menjadi kekasih jiwa kita, maka kita harus memusuhi dunia dan bahkan diri kita sendiri. Kita harus berani menyangkal diri kita sendiri demi mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita. Namun jika kita memilih dunia menjadi kekasih jiwa kita, maka kita akan menjadi musuh Tuhan. Tidak ada opsi ketiga dimana kita mau mencintai Tuhan tetapi juga mencintai dunia. Di akhir zaman ini, penampian akan semakin nyata untuk menunjukkan siapakah mereka yang mengasihi Tuhan dan siapakah yang mengasihi dunia. Sudah siapkah kita memutuskan pilihan kita saat ini juga?



Bacaan Alkitab: Yakobus 4:1-4
4:1 Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?
4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.
4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.
4:4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.