Senin, 24 Februari 2020

Tidak Hanya Tidak Menerima Upah


Senin, 24 Februari 2020
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 9:13-18
Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. (1 Kor 9:18)


Tidak Hanya Tidak Menerima Upah


Sejak saya masih kecil, saya punya komitmen yang cukup baik, bahwa saya memiliki tekad jika saya mengambil suatu pelayanan di gereja atau di tempat lain, saya tidak akan menerima upah yang pada umumnya berupa suatu amplop berisi uang yang lebih dikenal dengan nama persembahan kasih (PK). Saya mulai melayani di gereja secara serius dan formal ketika menjadi bagian dari tim pelayanan musik di gereja lokal saya. Saat itu saya sangat senang jika harus berkorban pergi ke gereja untuk latihan pada hari Sabtu malam, dengan harus mengorbankan uang jajan saya. Pada waktu itu untuk menuju ke gereja, saya harus naik kendaraan umum 2 kali dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Namun hati saya bahagia karena saya menganggap saya sudah berkorban demi Tuhan melalui pelayanan saya tersebut. Namun keadaan mulai berubah ketika ada perubahan dalam tim pelayanan. Gembala sidang saya menunjuk seorang profesional yang waktu itu bekerja sebagai suatu manajer (atau jabatan lebih tinggi di suatu perusahaan internasional) untuk menjadi ketua tim pelayanan khusus di bidang musik (termasuk worship leader, singer, dan pemusik). Sejak saat itu, tim pelayanan musik dikenal sebagai “Bani Asaf”, merujuk pada istilah dalam Perjanjian Lama.

Memang saya akui bahwa waktu itu, jemaat gereja kami bukanlah orang yang terlalu kaya. Terkadang meskipun sudah dijadwalkan, ada saja orang yang tidak mau latihan sebelum ibadah. Oleh karena itu, ketua Bani Asaf kami kemudian membuat kebijakan bahwa setiap pelayan Bani Asaf akan diberikan suatu amplop ucapan terima kasih. Seingat saya waktu itu jumlahnya Rp10.000. Uang itu bukan berasal dari kas gereja, tapi dari kantong pribadi orang tersebut. Jumlah itu cukup besar pada waktu itu. Namun konsekuensinya, seluruh pelayan harus tunduk kepada ketua tim itu dan harus mau ikut doa sebelum pelayanan, latihan rutin, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Memang niat orang tersebut baik, karena mencoba meningkatkan motivasi pelayan gereja. Namun di sisi lain saya melihat itu sebagai salah satu “cara halus” supaya orang tersebut dapat “menguasai” para pelayan di gereja dan memperoleh posisi yang dihormati.

Namun saya mungkin adalah satu-satunya orang yang tidak mau menerima amplop PK tersebut. Biasanya amplop diberikan setelah selesai pelayanan. Tapi biasanya saya tinggalkan begitu saja. Kalau tidak memungkinkan, amplop itu saya terima namun kemudian saya masukkan lagi ke dalam kantong persembahan. Saya tidak mau pelayanan saya “dibayar” karena saya merasa seharusnya pelayanan adalah memberi kepada Tuhan (tenaga, waktu, pikiran, dan uang), bukannya justru ketika pelayanan kita mendapatkan sesuatu dari Tuhan.

Saya kemudian juga mengambil bagian di suatu persekutuan kampus di mana saya berkuliah. Persekutuan kampus ini pada waktu itu membuat kebijakan yang sangat radikal: Jika pelayan adalah seorang full timer, maka akan diberikan semacam amplop PK yang diambil dari kas persekutuan. Namun jika pelayan bukan seorang full timer, entah itu melayani sebagai pemusik, singer, atau bahkan pembicara dalam retreat yang berhari-hari pun tidak akan diberikan amplop PK, melainkan diberikan semacam kartu ucapan terima kasih atas nama persekutuan tersebut. Saat itu saya sudah mengumpulkan banyak sekali kartu ucapan terima kasih dari segala pelayanan saya di persekutuan kampus tersebut. Saat itu saya merasa, inilah model yang benar.

Singkat cerita, Tuhan menambahkan pelayanan saya. Saya melayani suatu gereja di luar kota, dimana saya biasanya harus berangkat hari Jumat malam, sampai pada hari Sabtu pagi, hari Sabtu malam melayani ibadah pemuda remaja, belum merangkap sebagai pemusik pada ibadah hari Minggu (sehingga juga harus latihan musik hari Sabtu malam), dan hari Minggu sore saya kembali ke kota tempat saya bekerja. Saya juga dipercaya beberapa kali mengisi khotbah di gereja tersebut. Pernah pada suatu waktu, saya harus memimpin ibadah pemuda remaja sekaligus latihan musik di hari Sabtu malam, langsung menjadi pemusik dan sekaligus menjadi pengkhotbah dan menutup ibadah dalam doa. Dengan kondisi yang demikian, saya memang juga tidak mau menerima amplop PK dari gereja tersebut. Bahkan tidak terhitung uang yang sudah saya berikan ke gereja tersebut (yang mungkin nilainya lebih dari 10% penghasilan saya setiap bulannya).

Saat ini saya sudah tidak melayani di gereja tersebut. Saya bukannya mencoba mengingat-ingat jasa saya terhadap gereja tersebut, tapi yang saya ingat adalah setiap selesai pelayanan (umumnya ketika selesai berkhotbah), pendeta atau istri pendeta pasti menyalami saya dan berkata: “PK nya minta sama Tuhan sendiri ya”. Ya, saya memang tidak mencari uang di gereja tersebut. Tapi ucapan kalimat tersebut ternyata mengganggu saya. Ya, karena saya merasa tidak berhak untuk meminta PK kepada Tuhan. Bisa diberi kesempatan melayani saja saya sudah sangat bersyukur karena itu adalah suatu anugerah. Namun belakangan saya tahu bahwa pengelolaan keuangan di gereja tersebut tidak transparan. Bahkan kepada orang-orang tertentu yang melayani dan lebih membutuhkan dari saya, pendeta tersebut tidak pernah memberi PK dengan alasan satu dan lain hal. Pernah juga saya mendengar dari sumbernya secara langsung bahwa ada seorang mahasiswi sekolah tinggi teologi yang magang di gereja itu, dengan pekerjaan yang sangat berat (tidak hanya membersihkan gereja dan menyiapkan segala sesuatu, tetapi juga membersihkan rumah pendeta itu, bahkan mencuci baju pendeta dan keluarga setiap akhir pekan), kemudian hanya diberikan uang Rp2.000 untuk membeli satu bungkus mie instan baginya untuk makan malam (Kejadian ini baru tejadi beberapa tahun yang lalu dimana harga sebungkus mie instan di warung memang pas Rp2.000). Padahal saya tahu bahwa uang yang masuk setiap minggunya jauh lebih banyak, belum termasuk persembahan persepuluhan dan persembahan khusus lainnya.

Saya tidak sedang menyalahkan pendeta tersebut atas kebijakan yang ia lakukan, atau membuat saya terlihat lebih benar. Memang Alkitab pun menekankan bahwa mereka yang melayani dalam pelayanan tempat kudus/mezbah/pemberitaan Injil (dalam hal ini: gereja atau persekutuan), berhak hidup dari pelayanannya (ay. 13-14). Apalagi jika orang tersebut adalah seorang full timer dimana ia tidak mendapatkan sumber penghasilan lain selain penghasilan dari pelayanannya (berkhotbah dan lain sebagainya).

Namun demikian, penulis prinsip ini, yaitu Rasul Paulus (yang kualitas pelayanannya dan komitmen pelayannya sudah tidak perlu diragukan lagi), tidak pernah mengambil haknya tersebut (ay. 15). Paulus merasa bahwa adalah suatu kehormatan baginya untuk dapat memberitakan Injil, sehingga tidak pernah memikirkan upah yang diterima atas pemberitaan Injil yang dilakukannya (ay. 16-17). Rasul Paulus meninggalkan jabatannya yang cemerlang sebagai orang Farisi, dan menjadi pemberita Injil. Seharusnya, ia pun berhak untuk menerima uang dari jemaat yang dilayaninya, terlebih ia telah sudah sangat berjerih lelah dalam pelayanannya.

Paulus berkata bahwa apakah upah dari pelayanannya tersebut? Upahnya adalah ketika ia diperkanankan untuk melayani tanpa upah, dan boleh tidak menggunakan haknya sebagai pelayan Tuhan yang benar (ay. 18). Dalam hal ini, Paulus memberi suatu contoh dan teladan hidup yang luar biasa. Meskipun ia sebenarnya berhak menerima upah dari jemaat yang dilayaninya, ia masih tetap bekerja sebagai pembuat kemah, dan uang yang dihasilkannya itu digunakan untuk menghidupi dirinya (Kis 18:3). Sangat mungkin Paulus tidak lahir dari keluarga pembuat kemah. Ketika menjadi orang Farisi, ia mungkin mendapatkan banyak uang dari hasil “pelayanannya” dalam agama Yahudi. Oleh karena itu, ketika memutuskan menjadi full timer, Paulus sangat mungkin harus belajar teknik membuat kemah untuk mendapatkan uang. Tentu ia mencari peluang usaha dimana kebanyakan orang Romawi atau Yunani tidak memiliki skill yang memadai dalam hal tersebut.

Meskipun Paulus telah menunjukkan suatu keteladanan hidup, ia tidak memaksa atau mewajibkan pelayan lainnya untuk menjadi seperti dia. Baginya, memang ia harus memiliki teladan hidup supaya hidupnya dapat berbicara lebih keras daripada khotbahnya. Lagipula, dengan tidak menerima uang dari jemaat yang ia layani, ia dapat melayani dengan lebih independen, suatu hal yang sangat sulit dilakukan pada masa itu (dan mungkin juga masa sekarang).

Tentu sikap seperti Paulus ini tidak bisa langsung dikenakan menjadi standar para pendeta saat ini. Saya memiliki prinsip itu sejak kecil karena saya memang bekerja di bidang lain, memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang cukup, sehingga saya dapat menopang pelayanan bagi orang-orang yang lebih membutuhkan. Sayangnya, saya melihat bahwa ada beberapa oknum pendeta yang merasa diri lebih miskin, khususnya yang ada di gereja-gereja di pedalaman atau desa-desa (bukan di kota-kota besar). Akibatnya, mereka sering mengharapkan gereja besar di kota untuk membantu mereka dalam hal finansial, atau bantuan lainnya. Mereka sering playing victim dengan membandingkan penghasilan mereka dengan penghasilan pendeta di kota besar. Namun tanpa mereka sadari, untuk ukuran di daerah, sebenarnya penghasilan mereka itu jauh lebih besar daripada upah minimum regional di daerahnya.

Memang tidak semua pendeta seperti itu. Ada pendeta yang memang hidup dalam garis kemiskinan, karena jemaatnya juga adalah orang-orang miskin. Terhadap pendeta semacam itu kita harus bersedia membantu. Tapi alangkah baiknya jika seorang pelayan Tuhan (entah pendeta, pengkhotbah, penginjil, pemain musik, atau apapun) memiliki prinsip ini: bahwa jika memungkinkan kita tidak mengharapkan upah ketika melayani. Ada amplop PK atau tidak ada amplop PK pun tidak menjadi masalah. Dan seharusnya prinsip ini ditanamkan ke jemaat sejak dini, serta harus ada teladan nyata dari pelayan Tuhan tersebut dalam kehidupannya.

Menurut saya, tidak menerima upah saat melayani adalah hal yang bagus. Tetapi itu saja pun belum cukup. Jangan kemudian dijadikan semacam aturan baku bahwa “pelayan di gereja tidak berhak menerima upah”. Yang terpenting adalah pemahaman terhadap pelayanan itu sendiri. Semua kita adalah pelayan Tuhan di bidang dan area kita masing-masing. Seorang pegawai adalah pelayan Tuhan di kantor. Seorang pengusaha/businessman adalah pelayan Tuhan di bidang usahanya. Seorang tenaga medis adalah pelayan Tuhan di rumah sakit. Seorang ibu rumah tangga pun adalah pelayan Tuhan di keluarganya. Pelayanan haruslah dipandang jauh lebih luas dari tembok-tembok gereja. Jika seseorang banyak melayani di gereja sampai larut malam tapi keluarganya berantakan, itu bukanlah pelayanan yang benar.

Kita harus menanamkan prinsip bahwa kita harus siap tidak menggunakan hak kita, atau lebih tepatnya lagi: Rela kehilangan hak ketika memutuskan untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Dengan hal ini, kita tidak akan tergoda untuk menuntut Tuhan mengabulkan doa kita hanya karena alasan bahwa kita sudah berjerih Lelah dalam pelayanan. Bahkan seorang pelayan Tuhan yang sudah dewasa akan sangat berhati-hati dalam meminta sesuatu kepada Tuhan dalam doa. Seorang pelayan Tuhan yang benar harus rela kehilangan hak, dalam artian siap difitnah, diperlakukan tidak adil, dicaci maki bahkan dianiaya, karena Tuhan kita dahulu juga mengalami hal yang demikian. Tapi dalam keadaan yang sesulit apapun, jika kita memiliki prinsip rela kehilangan hak, maka kita akan memperoleh manfaatnya: 1) Kita tidak akan terikat dengan dunia (uang, kekayaan, kedudukan, dan lain sebaginya); 2) Kita semakin menghayati bahwa dunia bukanlah rumah permanen kita; 3) Kita akan semakin berjuang lebih keras untuk berkenan kepada Tuhan; dan 4) Hidup kita akan menjadi suatu “catatan yang terbuka” yang siap dilihat siapa saja. Kalaupun ada upah yang berhak kita terima, seharusnya upah tersebut tidak kita terima di bumi ini, tetapi kita terima nanti di kekekalan.



Bacaan Alkitab: 1 Korintus 9:13-18
9:13 Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?
9:14 Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.
9:15 Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada ...! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!
9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
9:17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
9:18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.

Minggu, 23 Februari 2020

Jangan Mengusik yang Diurapi?


Minggu, 23 Februari 2020
Bacaan Alkitab: 1 Tawarikh 16:19-22
"Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat terhadap nabi-nabi-Ku!" (1 Taw 16:22)


Jangan Mengusik yang Diurapi?


Sebagai seorang yang beragama Kristen sejak kecil, saya sudah cukup sering mendengar ayat ini diucapkan oleh pengkhotbah atau pembicara atau pendeta di atas mimbar gereja. Biasanya ayat ini digunakan untuk melegitimasi status seseorang sebagai pengkhotbah atau pendeta. Tentu alasan yang disampaikan adalah karena seorang pendeta itu pasti adalah orang yang diurapi. Bahkan dalam praktik di sejumlah gereja, ada semacam “pentahbisan” terhadap para pendeta atau pejabat-pejabat yang diangkat oleh suatu sinode gereja dalam suatu “upacara” dimana para pendeta tersebut akan diurapi dengan minyak oleh pendeta-pendeta yang lebih senior atau ketua sinode gereja. Dengan pengurapan tersebut, maka mereka pun sah menjadi semacam pembicara dan berhak berbicara di atas mimbar gereja.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan praktik pengurapan itu, meskipun sebenarnya praktik pengurapan semacam itu tidak ada dalam ayat-ayat Perjanjian Baru (hanya ada dalam praktik bangsa Israel di Perjanjian Lama, itu pun terbatas pada jabatan imam dan raja). Menurut saya, jika itu dijadikan semacam lambang atau simbol dalam gereja, itu tidaklah terlalu masalah. Akan tetapi menjadi masalah jika kemudian praktik pengurapan pendeta/pengkhotah itu dikaitkan dengan ayat-ayat lainnya, khususnya ayat-ayat di Perjanjian Lama yang konteksnya sangat jauh berbeda dengan konteks masa kini.

Jika kita hanya membaca ayat 22 saja, maka kita seakan-akan telah didoktrin bahwa: 1) Pendeta adalah orang yang diurapi Tuhan; 2) Jemaat awam bukanlah orang yang diurapi; 3) Oleh karena itu pendeta tidak boleh diusik oleh siapapun, khususnya oleh jemaat; 4) Pendeta/pengkhotbah adalah nabi yang menyampaikan suara Tuhan; dan 5) Jika ada orang (khususnya jemaat) yang tidak sependapat dengan pendeta, apalagi berani bersuara cukup vokal, maka itu masuk dalam kategori mengganggu nabi Tuhan bahkan berbuat jahat terhadap nabi Tuhan. Oleh karena itu, jabatan pendeta adalah jabatan yang paling aman karena seakan-akan: 1) Pendeta adalah orang yang paling benar; 2) Jemaat harus tunduk kepada pendeta; dan 3) Jika pendeta salah, maka lihat kembali poin nomor 1.

Kelihatannya ini lucu, tetapi kenyataannya hal ini pasti pernah terjadi (atau mungkin memang masih terjadi) di sejumlah gereja. Oleh karena itu, tanpa bermaksud menghakimi para pendeta dan pengkohtbah/pembicara, mari kita melihat dengan jelas konteks mengapa ayat tersebut ditulis. Kita sebaiknya tidak boleh suka-suka mencomot suatu ayat Alkitab suka-suka kita sendiri demi membela kepentingan kita sendiri. Jika memungkinkan kita harus melihat konteks ayat tersebut sehingga dapat  mengerti makna sebenarnya dari ayat itu.

Konteks pasal 16 dari kitab 1 Tawarikh ini sebenarnya berbicara tentang peristiwa dimana Tabut Perjanjian dibawa masuk kembali ke kota Yerusalem. Saat itulah dimana Daud menari-nari karena bersukacita melihat Tabut Allah kembali ke kota Yerusalem (1 Taw 15:29). Ayat mengenai Daud yang menari-nari ini juga sering dijadikan lirik lagu bahkan khutbah, dimana Tuhan senang jika Daud menari-nari, jadi kita harus menari-nari. Padahal dalam kehidupan Daud, hanya tercatat sekali saja Daud menari-nari (ketika Tabut Allah dibawa masuk kota Yerusalem). Selebihnya, Daud sibuk menjalankan tugas memimpin sebagai raja Israel, berperang, mengatur negara, dan lain sebagainya. Adalah hal yang sangat “gila” jika yang ditekankan hanyalah peristiwa Daud menari-nari dan itu harus dicontoh oleh jemaat Tuhan di masa kini dengan selalu menari-nari dalam ibadahnya.

Kembali ke konteks peristiwa tersebut, Daud kemudian menggubah suatu nyanyian pujian yang dinyanyikan oleh orang-orang yang bertugas dalam hal musik dan pujian di kemah Allah (dapat kita lihat mulai pasal 16 dari ayat 7 hingga ayat 36). Dalam bagian awal dari nyanyian pujian tersebut, Daud menuliskan kisah perjalanan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah sejak awal, keluar dari Mesir, mengikat perjanjian dengan Allah di gunung Sinai, janji akan tanah Kanaan, dan proses masuknya bangsa Israel ke tanah Kanaan dengan mengalahkan bangsa-bangsa yang kemungkinan jauh lebih kuat dari mereka. Tentu itu adalah campur tangan Allah yang Maha Kuasa karena tanpa Allah maka tidak mungkin bangsa Israel dapat keluar dari Mesir dan tinggal di tanah Kanaan hingga saat itu (yaitu zaman Daud).

Oleh karena itu kita dapat melihat bahwa Daud menulis peristiwa ketika jumlah bangsa Israel masih belum seberapa, sebagai suatu kumpulan orang yang dulunya diperbudak selama 430 tahun sebagai orang asing (ay. 19). Dikatakan pula bahwa mereka mengembara dari satu tempat ke tempat lain dan perlahan-lahan mengalahkan bangsa-bangsa, dari satu bangsa ke bangsa yang lain, dari satu kota ke kota yang lain (ay. 20). Tentu jika suatu bangsa yang jumlahnya sedikit, dengan mental budak (karena terbiasa diperbudak di Mesir selama ratusan tahun), namun mampu mengalahkan bangsa-bangsa lain yang sudah lebih settle di tanah Kanaan, maka itu adalah akibat penyertaan Allah yang Maha Kuasa.

Memang adalah rencana Allah untuk mengembalikan mereka ke tanah Kanaan sebagaimana janji-Nya kepada para leluhur bangsa Israel (Abraham, Ishak, dan Yakub). Oleh karena itu, setiap bangsa yang kemudian bersepakat untuk melawan bangsa Israel, pasti mengalami kekalahan. Allah tidak membiarkan siapapun melawan bangsa Israel, bahkan raja-raja mereka pun banyak yang mati karena melawan bangsa Israel (ay. 21). Hal ini terjadi hingga bangsa Israel dapat menduduki tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian.

Dalam konteks peristiwa sejarah inilah kemudian Daud menulis kalimat yang kemudian sering disalahartikan itu: “Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat terhadap nabi-nabi-Ku” (ay. 22). Jika kita teliti membaca ayat ini, maka yang dimaksud dengan orang-orang yang diurapi Tuhan adalah bangsa Israel secara kolektif, dan dalam konteks ketika bangsa Israel hendak masuk ke dalam tanah Kanaan. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan nabi-nabi Tuhan tentu kemungkinan besar adalah para pemimpin bangsa Israel pada masa itu, dimana Musa dianggap sebagai nabi, atau Miriam yang juga dianggap sebagai nabiah (Kel 15:20).

Nah, jika demikian, maka kita tentu mengerti bahwa konteks ayat 22 ini sama sekali tidak dapat digunakan pada konteks kehidupan umat Perjanjian Baru. Jangankan untuk dikenakan pada umat Kristen, ayat itu sebenarnya juga sudah tidak tepat digunakan terhadap Raja Daud sendiri. Mengapa demikian? Meskipun Daud adalah seorang raja yang diurapi oleh Tuhan, ia bukanlah seorang nabi. Itulah mengapa Raja Daud pun tidak marah ketika ia ditegur oleh Nabi Natan (2 Sam 12:1-25). Daud tidak menggunakan ayat 22 ini (meskipun ia sendiri yang menulisnya) kepada Nabi Natan karena tidak suka dengan teguran yang disampaikan. Sama juga ketika anaknya, Absalom berencana menduduki tahta kerajaannya, Daud tidak menggunakan ayat 22 tersebut kepada anaknya: “Hai Absalom, jangan kamu mengusik orang-orang yang diurapi Tuhan, dan jangan berbuat jahat terhadapnya”. Pada waktu itu Daud justru mengalah dengan menyingkir dari kota Yerusalem dan menjadi pelarian (2 Sam 15:13-37). Ketika dalam pelarian itu kemudian ada seseorang yang bernama Simei melempari batu dan mengutuki dirinya, Daud tidak menggunakan ayat 22 yang ditulisnya itu kepada Simei. Ia tetap diam dan bahkan berkata “Biarlah ia mengutuk, siapa tahu Tuhan berfirman kepadanya demikian” (2 Sam 16:10).

Jadi sebenarnya untuk konteks ayat 22 ini, Daud sudah memberikan contoh dan teladan yang baik, bahwa konteks tulisan nyanyian yang digubahnya itu adalah konteks pada masa bangsa Israel hendak masuk ke tanah Kanaan. Daud tidak menggunakan ayat 22 itu (meskipun ia sendiri yang menulisnya) sebagai alasan untuk melindungi tahtanya sendiri dari orang-orang yang melawannya, dari kritik orang lain, bahkan dari kutukan dan lemparan batu dari orang yang tak dikenalnya, meskipun sebenarnya ia adalah seorang raja yang sah, diurapi Tuhan, menggubah banyak lagu dan mazmur, dan banyak lagi hal yang telah ia lakukan.

Jika demikian, maka orang-orang yang menggunakan ayat 22 ini di luar konteks yang seharusnya, apalagi dengan tujuan untuk “melindungi” jabatannya di gereja, “mempertahankan dinasti” keluarganya di gereja, atau dengan alasan lain apapun, harus malu kepada Daud. Dan ayat ini sebenarnya sudah tidak relevan lagi dengan konteks jemaat di Perjanjian Baru, karena kita semua adalah orang-orang yang diurapi oleh Tuhan. Petrus (Kefas) sebagai rasul saja pernah ditegur oleh Paulus karena tidak memberikan teladan hidup yang baik (sedikit bersifat munafik) (Gal 2:11-14). Pendeta, pembicara/pengkhotbah atau orang-orang yang sudah ditahbiskan oleh sinode gereja sebagai pejabat gereja tidak boleh semena-mena dan sembarangan menggunakan ayat 22 ini. Jemaat harus dicerdaskan, bukannya ditakut-takuti dan diancam dengan cara yang salah.

Di sisi lain, kita sebagai jemaat (yang tidak menjadi pendeta atau pejabat gereja) juga harus belajar kebenaran dengan lengkap dan utuh. Tentu kita harus menghormati para pendeta dengan patut, apalagi mereka yang sudah bekerja keras hidup untuk kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya. Namun jika ada oknum-oknum yang menyalahgunakan jabatan mereka untuk kepentingan diri mereka sendiri dan “kerajaan” mereka sendiri, maka kita harus berhati-hati dengan orang seperti itu. Jangan sampai kita terlalu percaya dengan perkataan mereka apalagi 100% menaati apa yang diucapkan oleh oknum tersebut. Kita harus lebih taat kepada Tuhan, kita harus belajar lebih mendengar suara Tuhan dan menaatinya, dan kita harus menjaga diri supaya jangan sampai disesatkan dengan perkataan atau khutbah yang tidak benar. Pada umumnya, oknum-oknum seperti ini akan memilih-milih ayat yang melindungi kepentingannya sendiri. Ia menetapkan standar yang berbeda antara dirinya dan jemaat, misalnya jemaat tidak boleh mengkritik pendeta, tetapi pendeta boleh mengkritik jemaat suka-sukanya sendiri (dan jemaat tentu tidak boleh membalas). Berhati-hatilah dengan oknum-oknum seperti itu.



Bacaan Alkitab: 1 Tawarikh 16:19-22
16:19 Ketika jumlah mereka tidak seberapa, sedikit saja, dan mereka orang-orang asing di sana,
16:20 dan mengembara dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain, dan dari kerajaan yang satu ke suku bangsa yang lain,
16:21 Ia tidak membiarkan siapa pun memeras mereka; dihukum-Nya raja-raja oleh karena mereka:
16:22 "Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat terhadap nabi-nabi-Ku!"

Sabtu, 22 Februari 2020

Pornos dan Moichos (57): Tidak Dapat Masuk ke dalam Yerusalem Baru


Sabtu, 22 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 22:12-15
Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar. (Why 22:15)


Pornos dan Moichos (57): Tidak Dapat Masuk ke dalam Yerusalem Baru


Akhirnya kita sampai pada akhir dari serial renungan yang membahas mengenai kata pornos dan moichos. Renungan terakhir dalam seri ini menggunakan ayat dari kitab terakhir dan pasal terakhir dalam Alkitab yaitu kitab Wahyu pasal 22. Ini pun berbicara mengenai Yerusalem Baru, “ibukota” dari kerajaan Allah yang nyata dalam langit yang baru dan bumi yang baru. Kita tentu sudah membahas panjang lebar mengenai siapa-siapa saja orang-orang yang diperkenankan masuk ke dalam langit dan bumi yang baru pada renungan hari sebelumnya. Di dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita akan membahas mengapa orang-orang sundal tidak diperkenankan masuk ke dalam Yerusalem Baru (meskipun secara logika, jika mereka saja tidak dapat masuk ke dalam langit dan bumi yang baru, pastilah mereka juga tidak akan dapat masuk ke dalam Yerusalem Baru).

Bacaan Alkitab kita hari ini dimulai dengan perkataan Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan bahwa Ia akan datang segera (ay. 12a). Mungkin ada beberapa orang di antara para pembaca yang berkata: “Ah kapan Tuhan mau datang? Pada waktu 2.000 tahun yang lalu, Tuhan bilang sudah mau datang segera, sekarang sudah tahun 2.000 sekian kok masih belum datang?”. Kita harus paham bahwa tentu dibandingkan kekekalan yang tak berujung, 2.000 tahun (bahkan jutaan tahun) pun pasti terhitung cepat atau segera. Bagi Yesus yang adalah Alfa dan Omega, yang Pertama dan yang Terkemudian, yang Awal dan yang Akhir, 2.000 tahun itu sangatlah singkat (ay. 13). Di hadapan Tuhan, 1 hari sama seperti 1.000 tahun dan 1.000 tahun itu sama seperti 1 hari (2 Ptr 3:8). maka tidak Lagipula, justru ini menjadi suatu penyemangat bagi kita untuk terus hidup kudus dan meletakkan semua pengharapan kita pada hari kedatangan Tuhan Yesus tersebut (1 Ptr 1:13). Anggaplah ini sebagai kesempatan bagi kita untuk bertobat dan berusaha hidup tak bercacat dan tak bercela (2 Ptr 3:14-15). Lagipula tidak usah menunggu Tuhan Yesus datang, setiap saat kita pun bisa mati, dimana waktu hidup kita akan berakhir dan semua yang kita lakukan dalam hidup harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali harus dipandang sebagai penggenapan janji-Nya untuk membawa upah bagi mereka yang telah bekerja keras di lading Tuhan, termasuk “upah” (dalam konotasi negatif) kepada mereka yang berbuat jahat. Perhatikan ucapan Tuhan Yesus di ayat 12 ini, yaitu Ia datang untuk membawa upah-Nya untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya (ay. 12b). Perhatikan bahwa penghakiman Tuhan ini didasarkan atas perbuatan yang dilakukan seseorang, bukan hanya sekedar “iman” (dalam konteks ini, iman yang hanya dimaknai sebagai keyakinan di dalam pikiran tanpa perbuatan yang nyata seperti yang ditulis di kitab Yakobus). Oleh karena itu, kita akan mengerti mengapa Tuhan Yesus kemudian menyebutkan sejumlah kelompok orang-orang yang tidak dapat masuk Yerusalem Baru, yang didasarkan pada karakter orang tersebut (yang terkait dengan perbuatan jahat dalam hidupnya), dan tidak didasarkan pada kelompok iman yang dimiliki orang tersebut.

Terdapat pula kalimat yang menyatakan bahwa orang yang berbahagia adalah mereka yang membasuh jubahnya (ay. 14a). Apa yang dimaksud dengan kalimat ini? Kata “jubah” dalam ayat ini menggunakan kata stole (στολή). Kata stole ini menggambarkan suatu status social tertentu, yang antara lain dipakai oleh ahli Taurat (Mrk 12:38, Luk 20:46). Kata ini juga digunakan oleh sebagai simbol seorang bapa yang telah mengangkat kembali anak bungsunya yang pernah hilang dengan memberikan sebuah jubah (Luk 15:22). Di kitab Wahyu, jubah sangat umum diberikan kepada orang-orang percaya yang telah mengikut Yesus (Why 7:9), antara lain mereka yang telah menyerahkan jiwanya demi nama Tuhan Yesus (Why 6:11). Dalam hal ini, orang-orang yang mencuci atau membasuh jubah diartikan sebagai mereka yang telah berhasil melewati kesusahan atau kesukaran yang besar (Why 7:13-14). Bisa jadi ini menggambarkan aniaya hebat yang dialami oleh jemaat mula-mula. Sejumlah jemaat di tempat dan waktu tertentu juga mengalami aniaya yang hebat, dan juga tentu termasuk dalam kelompok ini. Tentu mereka bisa melewati kesulitan itu dengan tetap hidup karena perlindungan Tuhan, tetapi sangat mungkin bahwa ada dari mereka yang sampai harus teraniaya bahkan mati karena iman mereka. Inilah yang dimaksud dengan membasuh jubah, yaitu tindakan yang berani menyerahkan nyawa (baik secara harafiah maupun secara ungkapan) bagi Tuhan dan kerajaan-Nya. Mungkin kita tidak perlu mati bagi Tuhan (apalagi mati konyol), tetapi kita harus mau mematikan diri kita sendiri demi melakukan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan demi kerajaan-Nya.

Bagi mereka yang sudah “mati” bagi Tuhan, maka mereka pasti akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk ke dalam kota Yerusalem Baru (ay. 14b). Jika pada langit dan bumi yang pertama, Tuhan menyediakan pohon kehidupan di tengah-tengah Taman Eden (Kej 2:9), supaya jika manusia memakannya mereka akan hidup selamanya, maka pada langit dan bumi yang baru, Tuhan menyediakan pohon-pohon kehidupan untuk dapat dinikmati oleh orang-orang yang telah membasuh jubahnya. Inilah hak istimewa yang diberikan kepada mereka yang sudah membuktikan iman mereka dengan tindakan hidup mereka, bahkan telah menyerahkan nyawa bagi Tuhan.

Di sisi yang lain, akan ada kelompok orang-orang yang tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam Yerusalem Baru. Dikatakan bahwa mereka akan tinggal di luar (ay. 15b). Pada akhirnya, hanya ada 2 pilihan: masuk ke dalam kerajaan Allah (yaitu langit dan bumi yang baru serta Yerusalem baru), atau tidak masuk (tinggal di luar). Namun pilihan yang kedua bukan berarti kita akan tetap tinggal di bumi ini, karena bumi ini akan menjadi lautan api, yang menggambarkan neraka dan hukuman kekal (Why 20:15). Oleh karena itu kita akan melihat kelompok orang-orang yang tidak dapat masuk ke dalam Yerusalem Baru (ay. 15a):

Pertama, kelompok orang-orang yang disimbolkan sebagai anjing-anjing. Dalam bahasa aslinya digunakan kata kynes (κύνες) dari akar kata kuón (κύων). Kata “anjing” ini sudah pernah saya bahas dalam seri renungan khusus, tapi pada intinya menggambarkan binatang buas yang suka menggonggong, menggigit, bahkan menyerang orang lain. Anjing juga adalah gambaran kenajisan (termasuk dalam binatang haram dalam adat istiadat Yahudi), serta juga menggambarkan guru-guru palsu dalam jemaat (2 Ptr 2:22). Kata “anjing” ini tidak terdapat dalam kelompok orang-orang yang tidak dapat masuk ke langit dan bumi yang baru sebagaimana telah kita bahas sebelumnya. Ini sebenarnya merupakan salah satu penekanan khusus bahwa mereka yang suka menjahati orang lain, bahkan tentu termasuk guru-guru palsu, pengajar-pengajar palsu, yang tidak mengajarkan kebenaran yang utuh. Kebenaran yang sejati pasti akan mengubah orang yang mendengarnya. Namun guru-guru palsu ini memilih untuk "menyunat” kebenaran yang disampaikan (bisa jadi karena memang ada kepentingan pribadi, atau karena takut dituntut untuk menyampaikan keteladanan) dan bisa saja tidak membawa jemaatnya mencapai standar yang seharusnya. Oleh karena itulah maka guru-guru palsu seperti ini tentu tidak akan diperkenankan masuk ke dalam kerajaan surga, meskipun mungkin saja mereka sudah berkhotbah, bernubuat, bahkan mengusir setan dalam nama Tuhan Yesus (Mat 7:21-23).

Kedua, kelompok orang-orang yang merupakan tukang-tukang sihir. Dalam bahasa aslinya digunakan kata pharmakoi (φαρμακοὶ) dari akar kata pharmakos (φάρμακος). Kata sama persis dengan yang digunakan dalam kitab Wahyu pasal 21 (sebagaimana telah kita bahas dalam renungan hari sebelumnya). Kata ini dapat diartikan sebagai orang-orang yang melakukan sihir-sihir tertentu (dengan bantuan kuasa kegelapan), atau mungkin saja mereka yang “membohongi” orang-orang dengan mempertontonkan suatu “penyembahan” yang hebat, tetapi pada kenyataannya itu hanyalah “penyembahan” yang semu, karena hanya bersifat lahiriah semata tanpa membawa orang-orang menyembah Allah secara benar sebagaimana telah kita bahas sebelumnya.

Ketiga, kelompok orang-orang sundal. Dalam bahasa aslinya digunakan kata pornoi (πόρνοι) dari akar kata pornos (πόρνος). Seperti kita telah bahas dalam seri renungan ini, kata pornos dapat bermakna orang yang terlibat dalam hubungan seksual yang tidak sah (termasuk dengan orang yang masih menjadi suami/istri dari orang lain), atau orang yang melacurkan dirinya sendiri demi kepuasan hawa nafsu atau materi. Sebagaimana telah kita bahas dalam renungan hari sebelumnya, kelompok ini dapat merupakan orang-orang yang melakukan percabulan secara fisik atau jasmani, atau mereka yang melakukan “percabulan” secara rohani (karena tidak sungguh-sungguh menjadikan Tuhan Yesus sebagai “mempelai” kita).

Keempat, kelompok orang-orang pembunuh. Dalam bahasa aslinya digunakan kata phoneis (φονεῖς) dari akar kata phoneus (φονεύς). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang tentu saja membunuh orang secara fisik dengan sengaja dan niat yang tidak baik (seperti pembunuh bayaran). Namun perhatikan pula bahwa Tuhan Yesus pernah berkata bahwa orang yang marah kepada sesamanya sudah membunuhnya. Redefinisi pembunuhan dalam Perjanjian Baru tidak lagi hanya dipandang secara fisik, tetapi juga secara spirit atau rohani (Mat 5:21). Bahkan dalam contoh yang disampaikan Tuhan Yesus di ayat tersebut, ketika kita menyampaikan kata-kata yang membunuh karakter (semisal menyampaikan kabar bohong yang merugikan orang lain), maka itu sudah masuk ke dalam kategori “pembunuhan” dan akan mendapat hukumannya. Hukumannya adalah tidak dapat masuk ke dalam Yerusalem Baru atau masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala (Mat 5:22).

Kelima, kelompok orang-orang yang merupakan penyembah berhala. Dalam bahasa aslinya digunakan kata eidōlolatrai (εἰδωλολάτραι) dari akar kata eidólolatrés (εἰδωλολάτρης). Sebagaimana telah kita bahas pada renungan hari sebelumnya, penyembah berhala di sini dapat berarti penyembahan berhala secara fisik (khususnya pada masa jemaat mula-mula), namun juga dapat berarti mereka yang menyembah suatu “obyek” lain selain Allah Yang Maha Kudus. Kata “menyembah” dalam hal ini bukan saja menyembah secara fisik (misal: sujud kepada patung), tetapi juga menyembah secara hati. Mungkin kita merasa sudah menyembah Tuhan karena rajin datang beribadah di gereja, menyanyi dan berdoa. Tapi jangan-jangan dalam hati kita, kita lebih memberikan prioritas atas harta dan kekayaan dunia, atau kehormatan dan kedudukan. Itu tandanya kita masih belum menyembah Allah dengan benar dan dapat masuk ke dalam kategori penyembah berhala (karena tidak menyembah Allah sebagai satu-satunya “entitas” yang patut disembah).

Keenam, kelompok orang-orang yang mencintai dusta dan melakukannya. Dalam bahasa aslinya digunakan kata philōn kai poiōn pseudos (φιλῶν καὶ ποιῶν ψεῦδος). Kata yang digunakan dalam ayat ini agak sedikit berbeda dengan kata yang digunakan dalam kitab Wahyu pasal 21, dimana digunakan kata pseudesin (ψευδέσιν) dari akar kata pseudés (ψευδής). Di pasal 22 ini, ditambahkan kata-kata “mencintai dan melakukan dusta/kepalsuan/kebohongan”. Kata “dusta” dalam ayat ini menggunakan kata pseudos (ψεῦδος) yang bermakna a lie, falsehood, untruth, false religion (dusta, kebohongan/pernyataan bohong, ketidakbenaran/kebenaran yang tidak benar, agama yang palsu/salah). Ada makna yang menarik dari kata ini yaitu untruth, yang saya terjemahkan sebagai kebenaran yang tidak benar. Dalam konteks umum, hoax bisa saja masuk dalam kategori ini, dimana seakan-akan yang disampaikan adalah kebenaran, padahal kebenaran itu sudah “dipotong dan disesuaikan”. Berapapun besarnya “potongan” yang dilakukan, meskipun hanya 1%, tetapi 99% kebenaran bukanlah kebenaran. Itu adalah kebenaran yang tidak benar.

Betapa berbahayanya jika ada orang-orang yang suka sekali mencintai untruth seperti ini, bahkan mereka yang suka sekali melakukannya (atau menyebarkannya). Betapa berbahayanya juga jika ada orang-orang seperti ini di gereja, khususnya mereka yang berprofesi sebagai para pengkhotbah dan pembicara di atas mimbar. Mengingat mereka yang menyampaikan khotbah tidak dapat diinterupsi, maka pengaruh para pembicara ini sangat besar terhadap kualitas rohani dan pertumbuhan jemaat yang mendengarkannya. Jika orang-orang yang berdiri di atas mimbar gereja adalah orang-orang yang suka menyampaikan dusta (kebenaran yang tidak benar/untruth), maka dapat dibayangkan suatu saat nanti Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban dari mereka, karena dampaknya bukan hanya bagi diri orang itu sendiri, tetapi juga bagi banyak orang. Dalam konteks lain, mereka yang suka menggunakan mimbar untuk menyebarkan kabar bohong/dusta tentang orang lain, misalnya menyatakan orang lain sesat (padahal belum pernah melakukan kroscek atau dalam bahasa Arab dikenal sebagai tabayyun). Betapa berbahayanya informasi yang keliru tersebut terlebih di zaman digital dimana sangat mudah menyebarkan kabar bohong melalui sekali klik atau sentuhan jari. Kalau dahulu melakukan dusta pada umumnya diartikan dengan mengucapkan dusta melalui mulut, maka sekarang ini melakukan dusta dapat dengan mudah dilakukan melalui tulisan di media sosial atau internet. Tentu hal ini juga berlaku bagi saya sendiri yang menulis renungan di internet. Jika saya dengan menulis dengan niat menyampaikan kabar yang tidak benar, maka saya pun terancam hukuman Allah. Oleh karena itu, saya dan kita semua harus sangat berhati-hati untuk menyampaikan sesuatu. Ingatlah bahwa semua perkataan kita (dalam konteks modern termasuk juga setiap tulisan kita di media sosial/internet) harus kita pertanggungjawabkan pada hari penghakiman (Mat 12:36).

Dalam akhir renungan kita mengenai pornos dan moichos, saya kembali mengingatkan kita semua untuk menjaga kekudusan hidup di hadapan Tuhan. Tentu konteks secara khusus adalah menjaga kekudusan pernikahan (bagi yang sudah menikah), kekudusan tubuh kita (bagi yang belum menikah dan juga sudah menikah). Dan tidak hanya terkait percabulan saja, kita harus berusaha hidup kudus, tak bercacat dan tak bercela di hadapan Tuhan dalam segala hal, mulai dari pikiran (tidak menyembah “obyek” lain selain Allah), dalam perkataan (tidak mengucapkan kata-kata dusta, menyebarkan kabar bohong) dan juga dalam tindakan kita (tidak membunuh, tidak berbuat cabul). Tidak ada kemalangan yang lebih besar daripada kenyataan ditolak Allah untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya yang kekal. Karena Allah adalah Allah yang fair, yang memiliki tatanan yang sempurna, sebenarnya Allah sudah memberi “kisi-kisi” agar kita dapat masuk ke dalam kerajaan-Nya. Namun, persoalannya, mana yang kita pilih? Apakah kita memilih untuk berusaha hidup kudus di hadapan-Nya sehingga kita layak masuk ke dalam Yerusalem Baru, atau kita memilih untuk menikmati hidup di dunia, hidup suka-suka sendiri, namun pada akhirnya ditolak untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya?

  


Bacaan Alkitab: Wahyu 22:12-15
22:12 "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.
22:13 Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir."
22:14 Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.
22:15 Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar.

Jumat, 21 Februari 2020

Pornos dan Moichos (56): Tidak Dapat Masuk ke dalam Langit yang Baru dan Bumi yang Baru

Jumat, 21 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 21:1-8
Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua. (Why 21:8)


Pornos dan Moichos (56): Tidak Dapat Masuk ke dalam Langit yang Baru dan Bumi yang Baru


Dalam bagian akhir dari kitab Wahyu, kita menemukan dua istilah yang seharusnya dipahami oleh semua orang percaya, karena ini adalah tujuan akhir dari pengiringan kita terhadap Tuhan, yaitu: 1) Langit yang baru dan bumi yang baru; serta 2) Yerusalem baru. Mengapa harus ada langit dan bumi yang baru? Jawabannya sederhana: Karena langit dan bumi yang pertama (yang diciptakan Allah sebagaimana tercatat dalam kitab Kejadian) harus dihancurkan akibat dosa manusia (ay. 1). Meskipun langit dan bumi yang pertama harus dihancurkan, tetapi Tuhan menyediakan langit dan bumi yang baru untuk ditempati oleh orang-orang yang mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya.

Di dalam langit dan bumi yang baru ini juga ada Yerusalem baru, suatu kota yang turun dari surga, dari Allah, sebagai suatu “pusat pemerintahan” kerajaan Allah (ay. 2-3). Salah satu ciri dari langit dan bumi yang baru adalah bahwa di sana tidak akan lagi dukacita dan tidak ada lagi kematian (ay. 4). Tidak ada dukacita di sini adlaah dukacita akibat kematian orang-orang yang kita kasihi, serta dukacita karena orang-orang yang berbuat dosa. Karena dosa tidak ada lagi di langit dan bumi yang baru, maka tidak ada lagi orang yang jahat, pembunuh, pencuri, dan lain sebagainya. Inilah dunia yang ideal sebagaimana yang hendak Allah ciptakan bagi manusia pada awalnya (sebelum manusia jatuh ke dalam dosa).

Siapa yang membuat langit dan bumi yang baru? Tentu yang membuat adalah Allah sendiri. Dalam hal ini Tuhan Yesus sebagai Anak Allah juga memiliki peran untuk mempersiapkannya, sebagai tempat bagi orang percaya (ay. 5, bandingkan dengan Yoh 14:2-3). Saya sendiri lebih cenderung berpendapat bahwa Tuhan Yesus sebagai Allah Anak yang akan menyiapkannya, mengingat ada istilah “Alfa dan Omega” (Why 1:8) serta kalimat “memberi minum dari Air Kehidupan” (bandingkan dengan Yoh 4:10-14, Yoh 7:37) pada ayat selanjutnya (ay. 6). Namun sebenarnya itu bukanlah suatu hal yang harus diperdebatkan antar gereja. Justru yang terpenting adalah kepastian bahwa akan ada langit dan bumi yang baru yang disediakan Allah bagi kita, dan kita pun harus berjuang supaya dapat diperkenankan masuk ke sana dan tidak ditolak oleh Tuhan Yesus (Mat 7:21-23).

Perhatikan kata “barangsiapa menang” sebagai syarat untuk memperoleh semua janji ini dan syarat untuk menjadi anak Allah (ay. 7). Istilah “barangsiapa menang” juga ada pada surat kepada 7 jemaat di kitab Wahyu. Ini menunjukkan bahwa adanya suatu perjuangan dan pertandingan yang harus kita menangkan. Itulah pertandingan kehidupan dimana masing-masing dari kita harus mampu menang di dalam hidup kita. Menang atas dosa, menang atas godaan, menang atas segala hal yang tidak berkenan di hadapan Allah. Tuhan Yesus sudah menang ketika Ia berhasil taat hingga akhir, bahkan hingga mati di atas kayu salib. Saatnya kita juga harus berjuang sampai akhir supaya kita dapat menang. Tentu Allah akan membantu kita untuk menang dengan Roh Kudusnya, tetapi ada bagian kita yang harus kita lakukan.

Jika ayat 7 berbicara tentang syarat untuk memperoleh hak masuk ke dalam langit yang baru dan bumi yang baru, maka ayat selanjutnya berbicara tentang “syarat minimal” untuk masuk ke dalamnya yang ditulis dengan contoh-contoh yang praktis. Mengapa saya menyebut ini sebagai syarat minimal? Karena jika kita mengaku diri sebagai orang Kristen, tentu kita harus memiliki standar hidup yang jauh lebih tinggi dan lebih agung. Syarat-syarat di ayat 8 ini hanyalah “syarat minimal” yang harus dimiliki oleh orang-orang yang berhak masuk ke dalam langit dan bumi yang baru. “Syarat-syarat minimal” tersebut adalah: tidak termasuk dalam orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta (ay. 8a). Kita akan mencoba membedah satu persatu yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut.

Pertama, bukan termasuk dalam orang-orang penakut. Dalam bahasa aslinya digunakan kata deilois (δειλοῖς) dari akar kata deilos (δειλός). Kata ini dapat bermakna cowardly, timid, fearful (pengecut, malu, takut). Kata deilos ini hampir selalu merujuk pada makna yang negatif, berlawanan dengan kata phobos yang diartikan sebagai ketakutan atau kegentaran yang positif (seperti takut atau gentar akan Tuhan). Besar kemungkinan bahwa kata deilos ini berkaitan dengan sikap penakut dan pengecut orang percaya menghadapi aniaya (yang umum pada masa gereja mula-mula). Mereka yang takut akan aniaya dan pada akhirnya mengingkari imannya, dipandang tidak layak untuk masuk kepada dunia yang akan datang.

Kedua, bukan termasuk orang-orang yang tidak percaya. Dalam bahasa aslinya digunakan kata apistois (ἀπίστοις) dari akar kata apistos (ἄπιστος). Kata apistos ini merupakan gabungan 2 kata: a (yang berarti tidak atau bukan) dan pistis (yang berarti iman atau percaya). Jadi golongan orang-orang ini adalah orang-orang yang tidak beriman atau tidak percaya. Beberapa orang Kristen mungkin berpikir: “Wah kalau begitu kita aman dong, kan kita sudah percaya kepada Yesus”. Apakah benar demikian?

Menurut saya, permasalahannya terletak pada apakah yang dimaksud dengan iman atau percaya itu? Kita bisa percaya bahwa Yesus lahir di Betlehem dan telah mati di Golgota, namun itu barulah iman sejarah, yaitu ketika kita percaya sejarah Yesus. Kita bisa percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang turun menjadi manusia, dan nanti akan datang kembali. Namun itu pun baru iman atau percaya akan pribadi Yesus. Iman yang benar pasti membawa konsekuensi logis dalam hidup kita, yaitu harus ditunjukkan dengan tindakan kita dalam hidup sehari-hari. Tindakan kita itulah cerminan iman kita.

Abraham dikatakan sebagai bapa orang percaya atau bapa orang beriman. Ketika Abraham disuruh keluar dari Ur Kasdim dan akan dijadikan bangsa yang besar, apakah Abraham berkata kepada Tuhan: “Aku percaya Tuhan, tapi kan nggak usah keluar kota Ur Kasdim bisa juga toh?”. Atau ketika Abraham disuruh menghitung bintang di langit sebagai lambang akan banyaknya keturunanya, apakah Abraham kemudian tidak pernah menyentuh Sara, istrinya? Atau ketika Abraham disuruh mempersembahkan Ishak, apakah Abraham berkata: “Aku percaya kepada-Mu Tuhan, tetapi Ishak biar di rumah saja, nanti saya ganti dengan domba deh”? Tentu dalam segala hal Abraham menunjukkan bagaimana ia melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya. Itulah yang dimaksud Yakobus, bahwa perbuatan kita menunjukkan bagaimana kualitas iman kita (Yak 2:14-26).

Kita bisa saja berkata “Oh, saya sudah percaya Yesus kok, saya pasti sudah selamat meskipun saya masih suka berbuat dosa, masih suka berjudi, mabuk, berzinah, dan lain sebagainya”. Itu adalah pandangan yang sangat salah. Jangankan melakukan tindakan amoral seperti itu, orang yang sudah bernubuat dan mengusir setan demi nama Yesus saja bisa ditolak masuk dalam kerajaan surga (Mat 7:21-23). Oleh karena itu, kita perlu memeriksa diri kita masing-masing, bagaimana kualitas iman kita di hadapan Tuhan? Mungkin kita berkata: “Iman sebesar biji sesawi saja bisa memindahkan gunung kok”. Ya itu memang benar, tetapi apakah iman kita hanya terus-terusan sebesar biji sesawi? Ataukah kita terus berjuang menumbuhkan iman kita hingga mencapai standar iman yang Tuhan kehendaki? Jika kita tidak membuat iman kita bertumbuh, jangan-jangan kita dapat masuk ke dalam kategori orang yang tidak beriman/percaya yang seharusnya.

Ketiga, bukan termasuk dalam kelompok orang-orang keji. Dalam bahasa aslinya digunakan kata ebdelygmenois (ἐβδελυγμένοις) dari akar kata bdelussomai (βδελύσσομαι). Kata ini dapat bermakna to abhor, detest, loathe (benci, jijik, muak), sebagaimana juga digunakan dalam Roma 2:22. Selain itu kata ini dapat pula bermakna to render foul, abominable  (melakukan pelanggaran, mengerikan/sangat buruk sekali), yang mungkin lebih tepat untuk konteks ayat ini (yang diterjemahkan dengan kata keji). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata keji dapat bermakna memiliki moral yang sangat rendah atau hina. Jika melihat arti harafiah ayat tersebut, maka kelompok orang-orang ini adalah mereka yang memiliki moral yang sangat rendah, menjijikkan dalam kelakuan, bahkan sangat hina karena kelakuan mereka jauh di bawah rata-rata orang pada umumnya. Kita tidak tahu bagaimana konteks standar kelakuan manusia pada zaman itu. Tetapi mungkin saja di masa sekarang, orang-orang ini adalah mereka yang melakukan hal-hal yang memalukan demi keuntungan pribadi mereka sendiri, dengan karakter yang sangat jahat (diluar apa yang disebutkan di ayat 8 seperti mencuri, berzinah, dan lain sebagainya).

Keempat, bukan termasuk dalam kelompok orang-orang pembunuh. Dalam bahasa aslinya digunakan kata phoneusin (φονεῦσιν) dari akar kata phoneus (φονεύς). Kata ini dapat bermakna murderer, committing unjustified, intentional homicide (pembunuh, melakukan pembunuhan yang tidak dapat dibenarkan dan dengan sengaja). Tentu ini tidak termasuk orang-orang yang tidak sengaja membunuh atau terpaksa membunuh demi bertahan hidup. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang dengan sengaja melakukan pembunuhan terhadap orang lain, dimana tindakannya sama sekali tidak dapat dibenarkan. Mungkin sekali yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang merupakan pembunuh bayaran (assassin), atau yang melakukan pembunuhan dengan niat jahat dan sengaja (misalnya: membunuh karena dendam, membunuh untuk merampok, atau membunuh untuk menikahi pasangan orang yang dibunuh tersebut)

Kelima, bukan termasuk dalam kelompok orang-orang sundal. Dalam bahasa aslinya digunakan kata pornois (πόρνοις) dari akar kata pornos (πόρνος). Seperti kita telah bahas dalam seri renungan ini, kata pornos dapat bermakna orang yang terlibat dalam hubungan seksual yang tidak sah (termasuk dengan orang yang masih menjadi suami/istri dari orang lain), atau orang yang melacurkan dirinya sendiri demi kepuasan hawa nafsu atau materi. Tingkatan kata pornos ini jauh lebih berbahaya daripada moichos karena tindakan pornos adalah tindakan yang sudah merusak hakekat pernikahan itu sendiri (jika dilakukan oleh orang yang sudah menikah).

Tentu orang-orang sundal ini tidak mungkin dapat masuk ke dalam langit dan bumi yang baru karena karakternya yang buruk dan merusak. Bayangkan jika ada orang yang pikirannya sudah menjurus ke hal-hal yang tidak benar (porno), jika ia masuk ke langit dan bumi yang baru, pastilah pikirannya ini juga akan merusak dirinya sendiri dan juga merusak tatanan surga yang sudah sempurna. Orang-orang seperti ini sangat berbahaya jika memiliki kesempatan masuk ke dalam langit dan bumi yang baru. Oleh karena itu, marilah kita bertobat dari jenis dosa ini, karena dosa ini sangat mengikat dan sulit untuk dihilangkan.

Keenam, bukan termasuk kelompok tukang-tukang sihir. Dalam bahasa aslinya digunakan kata pharmakois (φαρμάκοις) dari akar kata pharmakos (φάρμακος). Kata ini dapat bermakna a poisoner, sorcerer, magician (peracik obat-obatan/racun, tukang sihir, tukang sulap). Kata ini memang dapat diartikan sebagai orang-orang yang melakukan sihir-sihir tertentu (dengan bantuan kuasa kegelapan). Namun demikian, perlu dipahami konteks pada masa itu bahwa ada orang-orang yang ahli menggunakan ramuan tertentu untuk menciptakan suatu ilusi atau halusinasi bagi orang lain, sehingga seakan-akan ia memiliki kuasa sihir dalam bentuk manifestasi-manifestasi tertentu. Kata ini juga merujuk kepada praktik penyembahan dewa-dewa Yunani dan Romawi tertentu yang menggunakan semacam ramuan obat-obatan untuk mencapai tingkatan trance tertentu, yang seakan-akan sudah mencapai tingkat “penyembahan” tertentu.

Apakah praktik ini ada di kalangan orang Kristen? Sebenarnya secara teori, musik dan pencahayaan tertentu dapat membuat semacam “halusinasi” pada sejumlah orang. Hal ini yang umum digunakan pada diskotik dan klub-klub malam yang menggunakan musik dengan beat dan ritme tertentu (tentu dengan suara bass yang sangat keras), serta permainan cahaya yang berkelap-kelip dan cenderung gelap. Tanpa bermaksud menghakimi, saat ini sejumlah gereja juga sudah menggunakan lampu-lampu yang berkelap kelip dan ritme musik yang cenderung cepat ditambah suara bass yang kencang. Saya tidak tahu apakah hal itu membantu membuat orang mencapai suasana hati tertentu atau tidak. Tetapi yang ditakutkan adalah ketika orang merasa sudah menyembah karena suasana musik dan atmosfer “pertunjukan” yang ada di dalam gereja itu sendiri. Kita harus berhati-hati terhadap pseudo-worship ­(penyembahan yang semu) dalam gereja, dimana dengan musik dan suasana ibadah yang meriah, yang membawa jemaat merasa sudah menyembah padahal sebenarnya belum. Sebenarnya penyembahan yang benar tidak hanya terlihat di dalam gedung gereja saja (pada saat ibadah), melainkan juga harus terpancar dalam hidup sehari-hari.

Ketujuh, bukan termasuk golongan penyembah berhala. Dalam bahasa aslinya digunakan kata eidōlolatrais (εἰδωλολάτραις) dari akar kata eidólolatrés (εἰδωλολάτρης). Kata ini memang memiliki makna an image worshiper (penyembah patung atau berhala). Dalam konteks jemaat mula-mula, mereka hidup di dalam dunia yang dikuasai oleh bangsa Romawi, dengan masyarakat yang menyembah dewa-dewa Romawi (dan mungkin beberapa dewa-dewa Yunani) dalam kuil-kuil. Tentu tantangan jemaat mula-mula adalah bagaimana supaya mereka tidak menyembah dewa-dewa tetapi menyembah Allah yang benar. Tidak jarang penguasa Romawi memaksakan penyembahan dewa-dewa tertentu kepada rakyatnya, dan di sini posisi orang Kristen menjadi sulit. Mungkin saja jika mereka tidak mau menyembah dewa-dewa itu, maka mereka akan ditangkap, disiksa, bahkan dihukum mati.

Namun makna lain dari kata eidólolatrés secara umum juga adalah orang-orang yang tidak menyembah Allah yang benar, atau tidak menyembah Allah secara benar. Orang yang mengaku menyembah Allah harus menjadikan Allah sebagai satu-satunya obyek penyembahan, atau memberikan nilai tertinggi kepada Allah. Jika ada obyek apapun yang melebih posisi Allah dalam prioritas seseorang, itu berarti ia sedang tidak menyembah Allah, atau dapat dikatakan bahwa orang tersebut menyembah obyek yang lain. Dalam hal ini, obyek yang lain itu dapat juga dikategorikan sebagai berhala. Jika berhala zaman dahulu dapat berupa patung dewa, gambar dewa, atau semacamnya, maka berhala “zaman now” dapat berupa harta, uang, kekayaan, kedudukan, kehormatan, nama baik, dan lain sebagainya. Mereka yang menilai segala sesuatu dengan uang (yang artinya memberi nilai tinggi pada uang dan harta) maka dapat dikatakan sebagai penyembah berhala (dalam hal ini berhalanya adalah uang). Oleh karena itu, kita harus berhati-hati supaya tidak sampai masuk dalam kategori penyembah berhala, yang tidak hanya sekedar menyembah berhala secara fisik, tetapi juga secara non fisik).

Kedelapan, tidak termasuk dalam kelompok orang-orang pendusta. Dalam bahasa aslinya digunakan kata pseudesin (ψευδέσιν) dari akar kata pseudés (ψευδής). Kata ini dapat bermakna false, deceitful, lying, untrue (salah/palsu/tidak sesuai fakta, menyesatkan, bohong, tidak benar). Saya rasa hampir semua di antara kita pasti pernah berbohong, sejak masa kecil dan hingga saat ini. Mungkin kebohongan kita tidak terlalu tampak nyata, tetapi dengan mengucapkan perkataan yang berkelit sedikit saja itu pun juga sudah merupakan kebohongan. Tanpa kita sadari, kebohongan-kebohongan kecil akan menumpuk menjadi kebohongan besar (karena kebohongan yang baru harus dibuat untuk menutupi kebohongan yang lama).

Jadi, apakah kita semua pasti tidak dapat masuk langit dan bumi yang baru karena sudah pernah berbohong? Tentu jika kita meminta ampun dan bertobat dari kebohongan yang kita lakukan, maka Tuhan akan mengampuni dosa kita. Persoalannya terletak pada karakter kita. Apakah kita suka berbohong atau mengemukakan alasan palsu untuk menyelamatkan diri kita sendiri? Apakah kita lebih memilih menyebarkan berita bohong (hoax) untuk menjatuhkan orang lain atau untuk meninggikan diri kita sendiri? Apakah kita terbiasa berbohong dari hal-hal yang kecil (termasuk juga ketika kita tidak menyampaikan kebenaran yang sebenarnya) untuk keuntungan kita pribadi. Jika jawaban dari pertanyaan di atas kebanyakan adalah “ya”, maka kita harus lebih berhati-hati, karena kebohongan sudah menjadi semacam karakter yang tertanam dalam hidup kita. Terlebih di era teknologi informasi seperti ini, ada banyak sekali kesempatan dan cara untuk berbohong, misalnya dengan menyebarkan hoax yang dapat merusak nama baik orang lain. Sebagai contoh, ada pendeta yang dengan sengaja memotong khotbah pendeta lain sehingga jika didengar sepotong (tidak mendengarkan khotbah keseluruhan) seakan-akan pendeta itu menyampaikan hal yang salah, dan kemudian disebarkan dengan kata-kata: “pendeta ini sesat”. Saya rasa itu termasuk dalam kelompok orang-orang pendusta ini, yang suka berbohong dan menyebarkan kabar bohong (atau informasi yang tidak benar).

Alkitab secara jelas sudah menulis bahwa kelompok orang-orang tersebut pasti tidak diperkenankan masuk ke dalam langit yang baru dan bumi yang baru. Oleh karena itu, mari kita memeriksa diri kita sendiri masing-masing. Jika masih ada dosa-dosa yang perlu kita selesaikan dengan Tuhan, mari kita selesaikan. Jika masih ada karakter buruk terkait dengan persundalan, kebohongan, dan lain-lain, maka mari kita bertobat dan meminta Tuhan untuk membantu kita menghilangkan karakter buruk tersebut. Ada bagian kita yaitu berjuang untuk mematikan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru yang terus menerus dibaharui dalam iman dan kebenaran supaya semakin serupa dengan karakter Kristus. Jika kita memperkarakan hal ini dengan serius dan bertobat senantiasa, barulah kita dapat memiliki keyakinan dan kepastian penuh bahwa kita tidak akan ditolak masuk ke dalam kerajaan surga.




Bacaan Alkitab: Wahyu 21:1-8
21:1 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.
21:2 Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
21:3 Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.
21:4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
21:5 Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."
21:6 Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.
21:7 Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.
21:8 Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."