Minggu, 30 Agustus 2020

Makna Keterhilangan (2): Milik Kepunyaan yang Hilang

 

Minggu, 30 Agustus 2020

Bacaan Alkitab: Lukas 15:3-4

Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? (Luk 15:3)


Makna Keterhilangan (2): Milik Kepunyaan yang Hilang

 

Setelah kita belajar mengenai latar belakang peristiwa, dimana orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut melihat orang-orang berdosa mendengarkan pemberitaan Injil oleh Tuhan Yesus, maka kita akan mulai masuk ke dalam pembahasan mengenai keterhilangan. Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan yang pertama tentang keterhilangan dengan menggunakan gambaran domba yang hilang. Perhatikan bahwa Lukas menulis ucapan Tuhan Yesus ini ditujukan kepada mereka (ay. 3). Siapakah mereka yang dimaksud? Apakah kepada orang Farisi dan ahli Taurat sebagaimana disebut di ayat 2? Ataukah kepada para pemungut cukai dan orang berdosa yang datang kepada Yesus sebagaimana disebut di ayat 1? Ataukah kepada kedua kelompok tersebut? Saya sendiri lebih cenderung berpendapat bahwa seri perumpamaan ini ditujukan kepada kedua kelompok, karena pada awalnya para pemungut cukai dan orang berdosa sudah datang dahulu, barulah ada kelompok orang Farisi dan ahli Taurat yang bersungut-sungut.

Perumpamaan tentang domba yang hilang itu dimulai dengan perkataan “Siapakah di antara kamu yang mempunyai serratus ekor domba…” (ay. 4a). Ini dapat merujuk kepada domba secara harafiah, yaitu orang-orang Yahudi yang biasa mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus. Namun, jumlah 100 domba ini mungkin dirasa terlalu banyak untuk kebanyakan orang Yahudi pada waktu itu. Hal ini dapat pula merujuk kepada kelompok mereka yang lebih kaya dan memiliki lebih banyak domba(bisa jadi kepada para pemungut cukai, atau bahkan kepada orang Farisi dan ahli Taurat yang pada umumnya lebih terhormat, dan sangat mungkin lebih kaya dari kebanyakan orang pada umumnya).

Dari sudut pandang yang lain, domba di sini dapat berarti domba secara figuratif. Ini berarti orang Farisi dan ahli Taurat yang lebih memahami hukum Taurat, dipandang menjadi “gembala” dan orang Yahudi awam (yang bukan imam, atau bukan pengajar) adalah domba-dombanya. Hal ini dapat dipandang lebih masuk akal mengingat orang Farisi dan ahli Taurat sangat rajin untuk menyebarkan Taurat dan berusaha menjadikan orang non Yahudi untuk masuk ke dalam kelompok orang Yahudi (dengan cara mengikuti baptisan proselit dan disunat) (bandingkan dengan Mat 23:15).

Jika kita menggunakan konsep yang kedua ini, maka kita dapat mengerti bagaimana orang Yahudi sangat mempertahankan murid-murid mereka (yaitu domba-domba mereka). Jika ada murid-murid yang “hilang” atau “mundur”, sangat besar kemungkinan bahwa murid yang hilang itu akan dicari sampai ketemu. Hal ini karena orang Yahudi (apalagi orang Farisi dan ahli Taurat) sangat fanatik dengan agama Yahudi dan hukum Taurat mereka.

Tuhan Yesus menunjukkan bahwa jika ada 100 domba dan ada seekor domba yang hilang, maka sang gembala akan mencari satu domba yang hilang dan sesat itu sampai ia menemukannya (ay. 4c). Bahkan demi satu domba yang hilang itu, 99 domba lain pun akan ditinggalkan di padang gurun (ay. 4b). Domba ini hilang bukan karena disengaja oleh sang gembala, tetapi karena pilihan dari domba yang sesat itu sendiri.

Namun meskipun domba itu tersesat dan hilang karena kesalahannya sendiri, sang gembala memilih untuk mencari domba yang hilang itu dan meninggalkan 99 ekor domba lainnya yang tidak terhilang. Mereka yang tidak terhilang dipandang dapat menjaga diri mereka sendiri, sehingga dapat ditinggalkan, atau mungkin dititipkan ke gembala lainnya. Ingat bahwa ini merupakan gambaran domba dan gembala yang selain dapat dimaknai secara harafiah maupun figuratif. Sang gembala akan mencari domba yang tersesat itu sampai ia menemukannya kembali.

Oleh karena itu kesimpulan yang dapat kita tarik dari bacaan Alkitab kita hari ini adalah bahwa domba yang hilang itu adalah domba milik sang gembala. Domba yang hilang bukanlah domba yang tidak termasuk kawanan. Hilang berarti tidak berada di tempat yang seharusnya (akan kita lihat lagi dalam perumpamaan yang kedua). Namun sesuatu tidak dapat dikatakan sebagai barang yang hilang jika sebelumnya ia tidak termasuk dalam kelompok milik kepunyaan sang gembala.

Siapakah yang dimaksud dengan Tuhan Yesus terhadap mereka yang hilang? Tentu semua manusia adalah milik Allah, karena roh yang ada di dalam diri manusia adalah roh yang berasal dari Allah sendiri (Ibr 12:9, Yak 4:5). Oleh karena itu, secara hukum, Allah berhak untuk mencari domba milik-Nya yang hilang sampai menemukannya. Apakah ada kemungkinan bahwa domba yang hilang itu tidak ditemukan? Sebenarnya faktanya bisa saja. Jika domba hilang itu dimakan binatang buas, misalnya. Akan tetapi, sang gembala tetap mencari domba tersebut selama domba itu masih hidup dan masih bisa ditemukan untuk dikembalikan kepada kawanan milik kepunyaannya. Hal ini menunjukkan bahwa status hak milik dapat membuat orang rela melakukan apa saja untuk memperolehnya kembali (selama domba tersebut masih hidup dan tidak mati).

Oleh karena itu, sebenarnya, selagi masih ada waktu, kita masih memiliki kesempatan untuk ditemukan oleh Sang Gembala Agung. Persoalannya, seberapa jauh kita terhilang dan seberapa rindu kita untuk kembali ke kawanan sebagai milik kepunyaan Gembala kita? Ingat bahwa kita sebenarnya adalah milik Allah yang sudah ditebus oleh-Nya dan sudah tidak memiliki hidup kita sendiri (1 Ptr 1:18). Oleh karena itu hendaknya kita sadar supaya jangan sampai kita terhilang dan tersesat, apalagi dengan sengaja menghilangkan dan menyesatkan diri sendiri dari pandangan Gembala Agung kita.

 

  

Bacaan Alkitab: Lukas 15:3-4

15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:

15:4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?

Sabtu, 29 Agustus 2020

Makna Keterhilangan (1): Latar Belakang Peristiwa

Jumat, 29 Agustus 2020

Bacaan Alkitab: Lukas 15:1-2

Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." (Luk 15:2)


Makna Keterhilangan (1): Latar Belakang Peristiwa


Mulai hari ini, kita akan membahas mengenai makna keterhilangan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam 3 buah perumpamaan. Adapun untuk memahami makna asli dari perumpamaan-perumpamaan tersebut, kita harus mengerti paling tidak latar belakang peristiwa ini. Dengan mengerti latar belakang peristiwa di balik perumpamaan Tuhan Yesus ini, maka kita akan dapat lebih memahami maksud Tuhan Yesus menyampaikan perumpaaan tersebut, dan kita akan memperoleh berkat rohani yang luar biasa.

Latar belakang peristiwa ini adalah ketika para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang kepada Tuhan Yesus untuk mendengarkan perkataan-Nya (ay. 1). Dikatakan orang-orang berdosa dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada mereka yang dipandang sudah berdosa secara hukum Taurat milik orang Yahudi. Pemungut cukai dipandang berdosa karena mereka bekerja bagi penjajah Romawi, yang dianggap sebagai bangsa kafir. Bisa jadi juga dalam kumpulan orang ini ada para perempuan sundal (Mat 21:31).

Namun penggunaan kata orang-orang berdosa ini pada umumnya merujuk pada mereka yang dianggap tidak sesuci orang Farisi dan para ahli Taurat. Akan tetapi, penulis kitab Injil sangat mungkin menulis kata “orang berdosa” ini untuk menunjuk mereka yang dipandang berdosa secara umum oleh masyarakat Yahudi pada saat itu. Jadi dalam hal ini, orang-orang Farisi dan ahli Taurat menganggap orang lain yang tidak segolongan dengan mereka sebagai orang berdosa, apalagi mereka yang berprofesi sebagai pemungut cukai yang sangat tidak disukai oleh kalangan alim ulama Yahudi. Sementara Tuhan Yesus dengan penuh kesabaran justru menjangkau orang-orang yang “terpinggirkan” ini. Itulah sebabnya orang Farisi dan para ahli Taurat bersungut-sungut melihat Tuhan Yesus yang mau menerima orang berdosa, bahkan makan bersama-sama dengan mereka (ay. 2).

Dari sini jelas bahwa mereka yang dipandang sebagai orang berdosa oleh para ahli agama Yahudi justru adalah mereka yang hendak dijangkau oleh Tuhan Yesus. Tentu dalam hal ini Tuhan tidak menghendaki satu orang pun binasa. Itulah mengapa Tuhan Yesus sangat sering berbicara dan menyampaikan firman-Nya kepada orang-orang berdosa ini, yaitu para pemungut cukai dan mereka yang dipandang rendah oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Justru sangat jarang Tuhan Yesus menyampaikan firman kebenaran secara khusus kepada orang Farisi dan ahli Taurat. Sangat besar kemungkinan bahwa orang Farisi dan ahli Taurat mencibir ajaran Tuhan Yesus karena tidak sesuai dengan pemahaman agama Yahudi yang mereka pahami.

Dari latar belakang inilah kemudian Tuhan Yesus menyampaikan 3 buah perumpamaan tentang sesuatu yang hilang, yaitu domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang. Mengapa saya harus menyampaikan latar belakang peristiwa ini? Tentu supaya kita tahu konteks peristiwa ini, sehingga kita dapat memahami siapakah yang dimaksud dengan mereka yang hilang tersebut, dan bagaimana akhir dari mereka yang dianggap hilang itu. Jika kita hanya membaca sekilas, apalagi hanya mengambil sepotong ayat tanpa melihat konteks, sangat mungkin kita dapat tersesat dan tidak menemukan makna orisinil dari perkataan Tuhan Yesus tersebut. Satu hal yang perlu kita catat adalah bahwa Tuhan Yesus tidak membeda-bedakan orang. Selama orang itu mau datang dan mendengar suara-Nya, maka Tuhan Yesus tidak akan melarang dan menghalang-halangi orang itu untuk datang kepada-Nya. Akan tetapi mereka yang tidak mau datang dan menolak Yesus (seperti orang Farisi dan ahli Taurat), maka Tuhan pun tidak akan memaksa mereka untuk datang. Itu semua ada dalam tatanan Allah yang membuat setiap manusia harus mempertanggungjawabkan pilihan yang diambil dalam hidupnya (Rm 14:12).

 


Bacaan Alkitab: Lukas 15:1-2

15:1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.

15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."


Kamis, 27 Agustus 2020

Jangan Menikmati Ketergeletakan Kita

 Kamis, 27 Agustus 2020

Bacaan Alkitab: Mazmur 37:23-24

Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. (Mzm 37:24)


Jangan Menikmati Ketergeletakan Kita


Bacaan Alkitab kita hari ini mungkin sudah sering didengar para pembaca atau bahkan dinyanyikan, karena memang ada lagu pujian yang liriknya diambil dari ayat ini. Ketika saya masih kecil, ayat atau lagu ini sangat saya sukai. Mengapa? Karena ayat ini berbicara mengenai Tuhan yang melindungi umatnya. Bahkan jika hanya dibaca sekilas, maka kita bisa suka mengklaim bahwa Tuhan pasti melindungi langkah hidup anak-anak-Nya.

Memang benar, bahwa Tuhan akan menetapkan langkah-langkah anak-anak-Nya (ay. 23a). Akan tetapi, persoalannya adalah apakah kita sudah benar-benar menjadi anak-anak Allah yang benar? Banyak orang mengaku sebagai anak-anak Allah, sebagai umat pilihan, dan lain sebagainya. Tetapi alangkah baiknya kita tidak memotong ayat tersebut. Menjadi anak-anak Allah yang benar berarti memiliki hidup yang berkenan kepada-Nya (ay. 23b). Jika kita tidak berkenan kepada-Nya, maka janji Tuhan bahwa Ia akan menetapkan langkah kita tentu tidak akan berlaku.

Ketika kita masih kanak-kanak secara rohani, tentu Tuhan pun paham. Sekalipun hidup kita belum benar-benar beres, masih ada dosa, dan masih mencintai dunia, maka Tuhan masih mungkin menetapkan langkah-langkah kita. Akan tetapi, jika kita semakin bertumbuh dewasa secara rohani, maka tentu Tuhan akan berurusan dengan cara yang berbeda dengan kita. Jika dahulu Tuhan masih melindungi kita sekalipun kita tidak hidup benar, maka semakin kita dewasa, maka bisa saja Tuhan akan membiarkan kita jika kita tidak mau berjuang hidup kudus.

Ayat selanjutnya adalah ayat favorit bagi beberapa orang, khususnya mereka yang sedang mengalami masalah. Kata “jatuh” di sini diartikan sebagai masalah (sakit, miskin, dan lain sebagainya), dan mereka memiliki pengharapan bahwa Tuhan pasti akan mengangkat mereka. Tentu hal ini tidaklah salah. Kita yang sudah berniat untuk berjuang hidup kudus dan berkenan di hadapan Tuhan saja bisa berkali-kali jatuh. Akan tetapi, kita pastilah tidak dibiarkan Tuhan sampai tergeletak, karena Tuhan menopang tangan kita (ay. 24).

Persoalannya, seringkali kita salah mengambil keputusan yang kemudian menyebabkan kita jatuh. Ketika kita jatuh, maka sebenarnya ada dua pilihan: 1) bangkit dan berjuang lagi untuk hidup benar; atau 2) memilih untuk tidak bangkit dan menikmati kejatuhan kita, bahkan menikmati ketergeletakan kita. Jika kita memilih untuk menikmati ketergeletakan kita, tentu ayat 24 itu tidak berlaku. Ayat 24 ini berlaku jika kita berusaha untuk bangkit dan kembali hidup berkenan kepada-Nya (lihat ayat sebelumnya, ayat 23). Jika kita memilih untuk tetap tergeletak, mungkin Tuhan masih memberi kesempatan. Tetapi jika kesempatan untuk bangkit ini disia-siakan, maka mungkin akan ada titik dimana kita tidak mungkin bisa bangkit lagi. Hal ini bukan karena Tuhan tidak mampu menopang kita, tetapi karena kita yang sudah terlanjur menikmati ketergeletakan kita. Orang yang sudah terlanjur menikmati ketergeletakannya, akan mencintai ketergeletakannya dan sekalipun ada kesempatan untuk bangkit, maka orang itu pasti tidak akan dapat bangkit lagi.

Oleh karena itu, alangkah baiknya kita melihat hati kita masing-masing, apakah kita sudah memiliki kerinduan untuk hidup berkenan kepada Tuhan. Jika tidak, maka ketika kita jatuh – dan Tuhan sudah menopang tangan kita – maka kita bisa saja tidak meraih tangan Tuhan karena kita lebih mencintai ketergeletakan kita. Ketergeletakan kita ini bisa karena dosa-dosa tertentu (misal dosa seksual), percintaan dunia, atau hal-hal lain yang dianggap lebih berharga. Jangan sampai kita menikmati ketergeletakan kita, karena hal itu dapat membuat kita tidak dapat bangkit lagi.

 

 

Bacaan Alkitab: Mazmur 37:23-24

37:23 TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;

37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Minggu, 28 Juni 2020

Jangan Sampai Kita Menutup Pintu Keselamatan Orang Lain


Minggu, 28 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Matius 23:13
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Mat 23:13)


Jangan Sampai Kita Menutup Pintu Keselamatan Orang Lain


Ketika saya berdoa di suatu malam yang sepi, saya meminta ampun kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan di masa lalu. Saya sendiri memiliki karakter yang buruk, bahkan mungkin jauh lebih buruk daripada sebagian besar pembaca renungan ini. Dalam masa-masa kepicikan dan masa-masa kegelapan saya dahulu, hidup saya benar-benar berantakan. Dapat dikatakan bahwa jika saya meninggal dunia di masa-masa kebodohan saya di masa lalu, saya bisa saja ditolak masuk ke dalam surga oleh Tuhan.

Tentu Tuhan kita adalah Tuhan yang maha pengasih. Ketika kita sungguh-sungguh dan benar-benar bertobat, pasti Tuhan mengampuni dosa-dosa kita. Namun pertobatan kita haruslah pertobatan yang benar, disertai dengan kesungguhan hati dan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan kita, sehingga kita dapat mulai mengubah kodrat hidup kita, dari kodrat manusia yang penuh dosa menjadi kodrat ilahi.

Tetapi dalam malam tersebut, saya kemudian mulai menangis dan menitikkan air mata mengingat kesalahan-kesalahan saya di masa lampau. Saya menangisi keputusan-keputusan saya yang salah, karena itu bukan saja hanya berdampak pada diri saya, tetapi juga berdampak pada orang lain. Yang paling saya sesali adalah ketika saya melihat bahwa keputusan-keputusan saya yang salah, atau bahkan keputusan yang “hanya” tidak tepat, ternyata bisa membuat orang lain tidak diselamatkan.

Ada keputusan-keputusan saya yang tidak mempermuliakan nama Tuhan, sehingga orang-orang di sekitar saya yang beragama lain justru bisa mencibir kekristenan. Mereka bisa berkata: “Kok orang Kristen seperti itu sih? Apa bedanya dengan orang-orang beragama lain?”. Kehidupan saya tidak mencerminkan kehidupan anak-anak Allah yang agung. Kehidupan saya tidak dapat membuat orang lain yang melihat hidup saya kemudian memuliakan Tuhan (Mat 5:16). Justru karena hidup saya yang sangat buruk inilah nama Tuhan justru dihujat oleh orang-orang lain (Rm 2:24).

Dalam penyesalan saya tersebut, saya seakan-akan telah menutup pintu keselamatan bagi orang-orang yang ada di sekitar saya. Seakan-akan karena kesalahan saya yang sangat memalukan di masa lalu, mereka nyaris sudah tidak mungkin bisa diselamatkan, karena mereka pasti melihat bahwa kualitas hidup saya dan kualitas keputusan saya sangat rendah, bahkan mungkin tidak lebih baik dari kualitas keagamaan orang-orang tersebut.

Di sisi yang lain, saya juga pernah mengambil keputusan yang salah yang berdampak pada jemaat di suatu gereja lokal. Keputusan saya yang tidak tepat itu justru membuat konflik di antara jemaat, bahkan hingga sampai membuat konflik antara pendeta/gembala sidang dengan beberapa kelompok jemaat. Oleh karena kurangnya kebijaksanaan yang saya miliki, seakan-akan apa yang saya lakukan menjadi selalu salah. Walaupun saat ini saya sudah lebih bijak, namun kesalahan saya di masa lalu itu seakan-akan membuat apapun yang saya lakukan saat ini itu salah. Tepat sekali suatu peribahasa yang berkata “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Dan jujur, saya sangat menyesali itu.

Dalam penyesalan saya tersebut, saya teringat akan sebuah ayat yang pernah saya baca. Ayat tersebut berbicara tentang perkataan Tuhan Yesus kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dimana Tuhan Yesus mengecam kehidupan mereka yang tidak memancarkan keagungan Allah, padahal mereka sebenarnya adalah orang-orang yang mengerti hukum Taurat. Mereka seharusnya memiliki kehidupan yang lebih agung, setidaknya dalam hal pelaksanaan hukum Taurat. Namun, justru mereka dikatakan sebagai orang-orang yang munafik, karena mereka menutup pintu-pintu kerajaan surga bagi orang lain atau orang banyak (ay. 13a).

Seharusnya sebagai orang-orang yang mengerti hukum Taurat, mereka dapat mengajarkan apa yang mereka pandang benar kepada orang banyak yaitu orang Yahudi di masa itu. Dengan demikian, mereka membuka pintu kerajaan surga kepada orang banyak dan tidak menutup pintunya. Atau jika tidak, mereka seharusnya minimal berjuang memasuki pintu kerajaan surga dan dengan demikian mereka memberikan suatu contoh atau teladan hidup kepada orang banyak. Akan tetapi, dikatakan bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi tidak mau masuk ke dalam pintu kerajaan surga tersebut dan sekaligus tidak mau orang lain masuk ke dalamnya (ay. 13b). Ini adalah suatu Tindakan yang sangat jahat dan keji, karena mereka sebenarnya tahu apa yang baik, tetapi mereka tidak mau melakukannya, bahkan tidak mau orang lain menjadi baik pula (Yak 4:17).

Persis seperti inilah yang saya sesali atas kesalahan-kesalahan saya di masa lalu. Saya sendiri tidak berjuang masuk dalam kerajaan Allah (karena masih tidak mau melakukan apa yang baik dan benar di hadapan-Nya). Bahkan karena sikap saya tersebut, nama Tuhan justru dihujat dan orang lain bisa tidak mau mengenal kebenaran. Jangankan orang-orang di luar Kristen yang seharusnya jangan sampai menghujat Tuhan (karena mereka melihat keburukan dalam hidup saya), bahkan orang-orang di dalam jemaat saja bisa tersandung karena kesalahan saya. Saya ibarat menjadi suatu batu sandungan yang membuat orang-orang tidak dapat mengenal Tuhan dengan benar dan masuk ke dalam proses keselamatan yang benar.

Oleh karena itu, ke depannya saya ingin lebih berhati-hati lagi. Saya mulai belajar untuk menahan diri dalam ucapan, bahkan menahan jari-jari tangan saya supaya jangan sampai saya menulis sesuatu yang tidak menjadi berkat di media sosial. Saya mulai belajar menahan diri untuk tidak membalas, meskipun ada pihak-pihak yang menjelek-jelekkan nama saya, bahkan jika itu pun dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di dalam gereja. Saya menyadari mungkin ada kesalahan yang saya lakukan di masa lalu sehingga mereka melakukan hal itu (merusak nama baik saya). Bagi saya, jika Tuhan menyuruh saya untuk membela diri, maka saya akan membela diri. Jika tidak, maka lebih baik saya diam. Jika Tuhan tidak menyuruh saya untuk membela diri tetapi saya malah membela diri, maka yang ada justru saya kembali melakukan kesalahan yang sama, dan bisa jadi kondisi justru menjadi semakin runyam.

Dalam hari-hari terakhir ini, saya berusaha untuk benar-benar meminta agar saya dapat melakukan apa yang Tuhan kehendaki secara tepat. Hal ini bukan hanya terkait dosa-dosa yang melanggar moral umum (mencuri, membunuh, berzinah, dan lain sebagainya). Tetapi saya rindu memiliki suatu gairah untuk belajar tepat melakukan kehendak Allah dalam hal-hal yang terlihat kecil sekalipun. Saya mulai berjuang untuk memiliki hidup yang teduh dan tenang, sehingga apapun yang saya ucapkan, tulis di media sosial, bahkan yang saya lakukan, tidak menjadi batu sandungan. Saya tidak mau menjadi pihak yang menutup pintu keselamatan bagi orang lain, padahal mungkin jika saya lebih bijak, bisa jadi mereka masih memiliki kesempatan untuk mengenal karya keselamatan yang benar. Pertobatan saya haruslah tidak lagi mengenai pertobatan dari pelanggaran moral secara umum, tetapi bertobat dari kesalahan-kesalahan dalam mengambil keputusan, yang bisa menghambat orang masuk ke dalam kerajaan surga. Saya harus bertobat supaya suatu saat nanti saya jangan sampai ditolak masuk ke dalam kerajaan surga karena saya tidak melakukan kehendak-Nya (Mat 7:21-23).



Bacaan Alkitab: Matius 23:13
23:13 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Rabu, 24 Juni 2020

Memilih Pintu yang Benar di Sepanjang Jalan Kehidupan


Rabu, 24 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Matius 7:13-14
Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya (Mat 7:13)


Memilih Pintu yang Benar di Sepanjang Jalan Kehidupan


Mungkin saya sudah beberapa kali menulis renungan mengenai pintu yang lebar dan pintu yang sesak itu. Kebanyakan dari kita juga sudah pernah mendengar lagu mengenai ini sejak masa-masa sekolah minggu, yang liriknya kira-kira demikian: “Di dalam dunia ada dua jalan, lebar dan sempit, mana kau pilih? Yang lebar api, jiwamu mati. Tapi yang sempit, jiwa berglori”. Mungkin lirik lagunya agak sedikit berbeda di antara denominasi  gereja. Tetapi sejak kecil kita sudah diajarkan mengenai dua jalan ini. Apakah hal itu membawa implikasi yang kuat kepada kita yang saat ini sudah dewasa?

Dahulu, saya berpikir bahwa dua pintu itu adalah memilih agama. Pintu yang sempit atau sesak adalah pintu agama Kristen. Pintu yang lebar adalah pintu agama lain. Kita diharapkan untuk memilih salah satu pintu. Dan tentu saja, kita pasti memilih pintu yang sempit atau sesak itu. Tetapi kenyataannya, kita mungkin tidak pernah memilih, apalagi kita yang sudah lahir di keluarga yang beragama Kristen. Kita menjadi seorang Kristen karena orang tua kita Kristen. Jadi sejak lahir kita sudah beragama Kristen.

Bagi orang-orang yang lebih dewasa, perkataan Tuhan Yesus tersebut mungkin lebih dapat dihayati. Mereka harus memilih tetap menjadi orang Kristen atau memilih pintu yang lain. Tetapi kebanyakan orang Kristen berpikir bahwa pintu tersebut hanya ada satu kali (hanya satu kali memilih). Mereka yang merasa sudah memilih pintu yang sesak merasa sudah selamat. Jika mau diakui, banyak orang beragama Kristen merasa sudah selamat karena mereka sudah mengaku percaya kepada Tuhan.

Persoalannya, apakah pilihan itu hanya sekali? Apakah ketika orang percaya kepada Tuhan maka sepanjang umurnya ia tidak akan berkhianat? Bagaimana dengan para penjahat yang beragama Kristen? Para koruptor yang mengaku beragama Kristen? Mengapa mereka mengaku beragama Kristen tetapi kehidupan mereka tidak memancarkan keagungan kekristenan yang seharusnya dimiliki?

Tuhan Yesus berkata supaya kita masuk melalui pintu yang sesak (ay. 13a). Tuhan juga menyatakan bahwa ada pintu lain yang lebar dan jalan yang luas di balik pintu itu (ay. 13b). Namun jalan yang luas itu menuju kepada kebinasaan dan banyak orang yang masuk melaluinya (ay. 13c). Dalam ayat selanjutnya Tuhan Yesus berkata bahwa pintu yang benar adalah pintu yang sesak, dan ada jalan yang sempit di balik pintu itu. Namun jalan itu menuju kepada kehidupan, dan hanya sedikit orang yang mendapatinya (ay. 14).

Seringkali orang Kristen merasa sudah masuk pintu yang sempit itu. Mereka merujuk kepada orang-orang lain yang tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus dan dengan demikian men-judge­ orang-orang tersebut yang sedang berjalan menuju kepada kebinasaan. Mereka merasa sudah masuk melalui pintu yang benar dan sudah berjalan di jalan yang sempit itu. Namun apakah benar demikian?

Dalam ucapan Tuhan Yesus ini, tentu jelas bahwa di dunia ini hanya ada dua pilihan: pintu dan jalan yang benar atau pintu dan jalan yang salah. Jika ada pepatah “banyak jalan menuju ke Roma”, sesungguhnya hanya ada satu jalan yang benar kepada Bapa, dan selain itu pasti bukan jalan yang benar. Memang dikatakan bahwa orang harus memilih pintu yang mana yang akan ia buka? Ayat ini jika hanya dibaca sekilas seakan-akan mengesankan bahwa pintu itu adalah keputusan memilih agama Kristen atau bukan. Sebenarnya pintu itu adalah pintu iman percaya. Tetapi iman percaya itu tidak boleh hanya dipahami sebagai memilih agama dengan mengaku percaya kepada Tuhan Yesus. Mengaku percaya kepada Tuhan Yesus barulah langkah awal dari proses keselamatan yang panjang, seperti suatu jalan panjang (dalam bahasa Yunan: hodos atau lorong yang panjang).

Konsekuensi logis dari memilih pintu adalah membuka pintu dan melewati jalan yang ada di balik pintu itu. Percuma saja jika orang memilih pintu yang sesak tetapi tidak mau melewati jalan yang sempit itu. Hal itu sama saja dengan tidak memilih pintu yang sesak. Tidak memilih pintu yang sesak juga sama artinya dengan memilih pintu yang lain. Keselamatan harus dipahami sebagai memilih pintu yang sesak, membuka pintu, dan masuk melewati jalan sempit yang ada untuk menuju kepada kehidupan. Dapat dikatakan bahwa membuka pintu sesak adalah langkah awal dari keselamatan yang benar.

Jalan yang harus kita tempuh sebenarnya adalah suatu jalan salib, suatu jalan panjang yang penuh dengan penderitaan ketika kita memilih untuk melakukan kehendak Bapa. Jalan inilah yang sudah dilalui oleh Tuhan Yesus ketika Ia berinkarnasi menjadi manusia sekitar 2.000 tahun yang lalu. Tidak heran Tuhan Yesus berkata bahwa Ia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa jika tidak melalui diri-Nya (Yoh 14:6). Jika Tuhan Yesus adalah Jalan itu sendiri, artinya jalan sempit di balik pintu yang sesak itu adalah jalan kehidupan yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus: bagaimana Ia mengosongkan diri-Nya dan menjadi manusia, bagaimana Ia belajar sejak masa kecilnya, bersedia dibaptis, melakukan pekerjaan yang harus ditunaikan-Nya, hingga ketaatan-Nya yang tanpa batas sampai mati di atas kayu salib. Kehidupan Tuhan Yesus ketika menjadi manusia adalah teladan yang harus kita lakukan. Inilah jalan salib yang menjadi bagian kita. Tuhan Yesus sudah melewatinya hingga garis akhir sekitar 2.000 tahun yang lalu. Sekarang, kita yang mengaku Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, kita juga harus mengikuti jejak Tuhan Yesus yaitu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa berikan secara spesifik dalam hidup kita.

Persoalannya, dahulu saya berpikir bahwa setelah saya memilih pintu yang sesak lalu masuk melaluinya dan mulai berjalan dalam jalan yang sempit dan sukar itu, maka saya tinggal berjalan melaluinya. Ibarat jalan tol yang hanya tinggal menjalaninya saja menuju kemuliaan kekal di akhir jalan itu. Akan tetapi, semakin saya melewati jalan hidup saya, saya merasa jalan ini semakin sempit dan semakin sukar. Dalam perjalanan hidup saya tersebut, saya melihat bahwa sepanjang jalan seakan-akan selalu ada pintu yang lebar. Pintu-pintu yang lebar itu sekaan-akan menggoda saya untuk membukanya karena ada jalan yang lebar di baliknya. Dapat diilustrasikan bahwa sepanjang jalan yang sempit itu, kita selalu dihadapkan pada pilihan: pintu yang sesak dan pintu yang lebar. Mana yang kita pilih?

Ketika kita memilih pintu yang lebar, kita sebenarnya sedang menjauh dari jalan yang benar. Namun jika Tuhan masih memberi kita kesempatan, maka akan ada lagi pilihan: pintu yang lebar atau pintu yang sesak. Jika kita memilih pintu yang sesak, maka kita bisa kembali masuk ke jalan yang benar, yaitu jalan yang sempit. Dan begitu terus berulang di sepanjang jalan kehidupan: dengan level yang semakin tinggi, semakin besar juga godaan untuk memilih pintu yang lebar itu mengingat semakin sempit dan sukar jalan yang harus kita lalui

Dalam ayat yang hampir mirip, Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus berjuang untuk masuk ke dalam pintu yang sesak itu. Banyak orang akan berusaha tetapi tidak dapat (Luk 13:24). Mereka yang berusaha saja belum tentu dapat memasuki pintu itu, apalagi jika pilihan itu ada di sepanjang jalan kehidupan kita. Tentu kita tidak dapat melangkah tanpa kasih karunia dan anugerah Tuhan. Kita membutuhkan tuntunan Roh Kudus dalam melalui jalan yang sempit itu. Tetapi ketika kita dihadapkan pada pilihan, di situ kita harus bertanggung jawab atas pilihan kita. Jika selama ini kita sudah sering memilih pintu yang lebar, maka hendaknya kita dengan rendah hati bertobat dan memohon ampun kepada Tuhan, serta selanjutnya berjuang kembali ke jalan yang benar, dengan memilih pintu yang sesak dan menjalani jalan yang sempit itu. Jika kita masih mengeraskan hati, maka kita akan semakin jauh terhilang dari jalan yang benar. Jika tidak sungguh-sungguh mau bertobat, hampir mustahil kita dapat kembali ke jalan yang benar itu. Mereka yang sudah terbiasa memilih pintu yang lebar, akan sangat sulit bagi mereka untuk memilih pintu yang sesak ketika dihadapkan pada pilihan di sepanjang jalan kehidupan mereka.



Bacaan Alkitab: Matius 7:13-14
7:13 Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;
7:14 karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Kamis, 18 Juni 2020

Tidak Ada yang Berkekurangan, Tetapi Tidak Semua Pasti Berkelimpahan


Jumat, 19 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 4:32-35
Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa (KIs 4:34)


Tidak Ada yang Berkekurangan, Tetapi Tidak Semua Pasti Berkelimpahan


Dalam gereja-gereja masa kini, sedang ada tren mengenai khotbah-khotbah yang menjanjikan hidup berkelimpahan di dalam Tuhan. Alasan yang sering dikemukakan adalah bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang sangat baik dan pasti melindungi anak-anak-Nya. Karena Tuhan baik, tentu Ia ingin agar anak-anak-Nya hidup dalam berkat-berkat-Nya secara bekelimpahan. Dalam hal ini berkat Tuhan sering hanya dipandang sebagai berkat secara materi, dalam hal ini khususnya merujuk kepada uang, kekayaan, jabatan, nama baik, kehormatan, dan lain sebagainya.

Tentu tidak ada orang yang ingin menjadi miskin. Semua orang pasti memiliki keinginan menjadi kaya, banyak harta, terhormat, dan lain sebagainya. Oleh karena itu khotbah-khotbah mengenai janji kelimpahan di dalam Tuhan sangat populer dan terbukti mampu membawa banyak orang datang ke gereja. Tentu patut dipertanyakan apakah motivasi orang-orang ini datang ke gereja, apakah mencari Tuhan, ataukah lebih mencari berkat-Nya (uang dan kekayaan).

Para pengkhotbah dan pembicara yang menyampaikan khotbah-khotbah semacam ini tentu banyak menggunakan ayat-ayat mengenai berkat, kekayaan, dan kelimpahan. Seringkali ayat-ayat yang digunakan memang memuat kata-kata yang dimaksud (misal: kekayaan atau kelimpahan), tetapi ayat tersebut hanya diambil sepotong tanpa melihat konteks (baik konteks dekat maupun konteks jauh). Ayat favorit mereka misalnya Yoh 10:10, Flp 4:19, 1 Tes 3:19, dan mungkin juga ayat di perikop kita hari ini (ay. 33). Mereka hanya mengutip ayat tentang kelimpahan (bahkan mungkin hanya diambil separuh atau sebagian dari ayat tersebut dan dikhotbahkan) tanpa melihat konteksnya dengan proporsional.

Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang kehidupan jemaat mula-mula. Ini adalah kondisi jemaat beberapa saat setelah hari Pentakosta. Pada waktu itu, kehdiupan jemaat mula-mula masih seperti kehidupan orang Yahudi pada umumnya: berdoa di waktu-waktu tertentu dan jika memungkinkan beribadah di Bait Allah. Namun tentu ada ciri-ciri khusus yang membedakan jemaat mula-mula dengan orang Yahudi lain, khususnya karena jemaat mula-mula memiliki kasih yang sangat kuat. Dikatakan bahwa mereka sehati dan sejiwa, bahkan segala sesuatu adalah kepunyaan bersama (ay. 32). Hal ini tentu sangat berbeda dengan kebanyakan orang Yahudi pada waktu itu (khususnya Ahli Taurat dan orang Farisi) yang cenderung pelit, egois, dan tidak mau berbagi.

Jelas bahwa jemaat mula-mula pasti nampak berbeda dari kebanyakan orang lain pada waktu itu. Para rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, sebagai bukti bahwa Yesus memang adalah Mesias yang dijanjikan Allah kepada mereka (ay. 33a). Dalam hal ini mereka hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah (ay. 33b). Ayat 33b inilah yang sering dikutip oleh para pembicara yang saya maksud di awal renungan ini. Mereka mengatakan bahwa jemaat mula-mula adalah contoh yang baik, dan bahkan ada banyak khotbah yang mengatakan supaya kita kembali kepada kasih yang mula-mula, atau seperti jemaat mula-mula. Mereka berkata bahwa karena kita harus kembali kepada kasih yang mula-mula, maka Tuhan akan memberikan kasih karunia dengan berlimpah-limpah.

Sayangnya, pemahaman kasih karunia ini sering dimaknai secara sempit. Kasih karunia hanya dipandang sebagai berkat jasmani, uang, harta, kekayaan, dan lain sebagainya. Intinya para pembicara ini mengatakan bahwa jika kita seperti jemaat mula-mula, maka kita akan diberkati dengan berlimpah-limpah, apalagi jika kita tidak pelit kepada Tuhan, dengan mengacu kepada ayat 32. Konsep “tidak pelit” ini pun sering dimaknai hanya tidak pelit ke gereja (tidak pelit memberikan persembahan, apalagi persembahan persepuluhan yang dapat dinikmati langsung oleh para pendeta). Ayat yang sering digunakan adalah ayat-ayat selanjutnya yang menyatakan bahwa jemaat menjual harta miliknya lalu membawanya kepada rasul-rasul (ay. 35a). Mereka memahami ini sebagai bukti bahwa jemaat harus menjual miliknya lalu membawa kepada para pendeta (yang dianggap sebagai penerus para rasul).

Padahal jika kita mau jujur, kita harus melihat konteks ayat-ayat tersebut secara benar. Memang ayat 33 berbicara mengenai kelimpahan, tetapi sebenarnya kelimpahan dalam kasih karunia, bukan hanya kelimpahan dalam berkat jasmani. Memang benar bahwa jemaat mula-mula banyak yang menjual harta miliknya lalu memberikannya kepada para rasul. Akan tetapi, uang hasil penjualan harta tersebut tidak untuk dinikmati para rasul, melainkan untuk dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya (ay. 35b). Oleh karena itu perhatikan bahwa jemaat mula-mula memiliki ciri yang khas: tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka (ay. 34).

Kalimat tidak ada yang berkekurangan di dalam jemaat bukan berarti semua jemaat hidup dalam kelimpahan. Kalimat tersebut harus dimaknai bahwa tidak ada jemaat yang sampai jatuh miskin, karena semua orang bersedia menolong jemaat yang lemah. Mereka menanggung jemaat yang berkekurangan dari jemaat-jemaat yang berkelebihan. Tidak heran bahwa prinsip persembahan dalam Alkitab bukanlah supaya ada orang lain yang berkelimpahan, tetapi supaya terdapat keseimbangan (2 Kor 8:13-14). Sebenarnya prinsip ini pun sudah ada di dalam Perjanjian Lama. Misalnya saja konsep persembahan persepuluhan tidak dimaksudkan supaya kaum Lewi menjadi kaya (lebih kaya dari suku-suku lainnya), tetapi supaya ada keseimbangan, sehingga 11 suku yang lain yang bisa memiliki tanah dan bercocok tanam serta berternak, juga memperhatikan suku Lewi yang tidak memiliki tanah (tidak bisa bercocok tanam dan berternak).

Sayangnya, prinsip keseimbangan ini sering diabaikan di gereja-gereja masa kini. Para pendeta sibuk mengkhotbahkan tentang kelimpahan jasmani, dengan syarat jemaat harus rajin memberi persembahan kepada gereja. Seringkali pendeta sibuk memperkaya diri sendiri, tetapi ketika jemaat ada yang kesulitan, mereka seperti menutup mata. Saya pernah mendengar dari salah seorang Kristen yang datang ke pendetanya/gembala sidangnya dan berkata bahwa ada jemaat lain yang kesusahan, dan bahkan memiliki hutang yang cukup besar hingga dikejar-kejar oleh debt collector. Akan tetapi pendetanya tidak mau membantu dan berkata bahwa harusnya jemaatlah yang harus membantu. Memang benar bahwa jemaat harus saling membantu satu sama lain. Tetapi jika demikian, apakah guna gereja? Apakah guna kolekte, kantong persembahan, dan kas gereja yang berjumlah banyak? Kalaupun memang gereja tidak bisa membantu semua jemaatnya, paling tidak seharusnya ada kontribusi dari pemimpin gereja untuk membantu sebagian dari kebutuhan jemaat yang berkekurangan tersebut.

Tentu kita harus membuka mata bahwa terkadang ada orang-orang yang memanfaatkan dana sosial seperti ini. Oleh karena itulah pengelolaan keuangan gereja harus diserahkan kepada mereka yang memang berkompeten, berkualitas, dan berintegritas. Akan tetapi seharusnya prinsip ini sudah jelas: bahwa sebisa mungkin jangan sampai ada jemaat yang berkekurangan. Khotbah-khotbah di atas mimbar gereja seharusnya tidak lagi menekankan mengenai janji-janji bahwa jemaat akan hidup dalam kelimpahan, tetapi harus mendorong agar tidak ada lagi jemaat yang hidup berkekurangan. Mereka yang sedang mengalami masa-masa sulit harus dibantu agar dapat melewatinya. Mereka yang salah mengambil keputusan khususnya terkait keuangan (misal: berhutang kepada rentenir) juga harus dibantu agar tidak lagi jatuh ke dalam kesalahan yang sama. Jika mungkin, gereja harus memberdayakan jemaatnya supaya bisa mandiri secara finansial. Namun pada kenyataannya, seringkali gereja justru “memperdaya” jemaatnya supaya memberi lebih banyak kepada pihak-pihak tertentu, sehingga jurang antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin malah semakin lebar.



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 4:32-35
4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
4:33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
4:34 Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Menyadari Posisi Kita sebagai Tanah Liat di Tangan Penjunan


Kamis, 18 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Yeremia 18:1-4
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. (Yer 18:4)


Menyadari Posisi Kita sebagai Tanah Liat di Tangan Penjunan


Sudah sangat sering kita sebagai orang Kristen mendengar khotbah atau membaca renungan mengenai tanah liat dan penjunan. Kita juga tentu sudah banyak menyanyikan lagu rohani mengenai hal ini. Akan tetapi, banyak di antara kita yang belum mengerti makna dari ayat-ayat ini secara proporsional. Saya sendiri sudah bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun memahami ayat ini secara kurang tepat.

Tentu sebagai orang yang lahir di keluarga Kristen, saya sudah mendengar ayat ini sejak kecil. Yang saya pahami, Tuhan itu ibarat seorang pembuat periuk yang sedang mengerjakan tanah liat. Saya memahami bahwa kita adalah tanah liat di tangan Tuhan. Oleh karena itu, sejak kecil saya memahami bahwa Tuhan adalah Tuhan yang baik, sehingga setiap ada masalah yang saya hadapi, saya selalu berkata bahwa Tuhan mengetahui rencana yang baik dalam hidup saya, dan pasti nanti Tuhan memberikan jalan keluar. Ayat yang seringkali saya ucapkan pada saat saya menghadapi masalah (baik itu masalah karena kesalahan saya sendiri ataupun karena penyebab lainnya) adalah “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yer 29:11).

Namun ternyata selama ini saya memahami hubungan antara tanah liat dan penjunan masih kurang tepat. Dalam konteks ayat yang sering dikutip oleh para pembicara dan pengkhotbah ini, kita melihat bagaimana Tuhan berfirman kepada Yeremia untuk pergi ke tempat tukang periuk yang sedang bekerja (Yer 18:1-3). Di sana ia melihat tukang periuk yang mengerjakan tanah liat di tangannya. Jika tanah liat yang sedang diproses itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menurut apa yang baik pada pemandangannya (ay.4).

Sampai disini kita mungkin sudah merasa paham mengenai maksud ayat ini. Tetapi saya hendak menunjukkan dua kutub ekstrem terkait pemahaman ayat ini. Kutub pertama berpendapat bahwa Tuhan itu baik, jadi kita cukup diam saja menunggu pembentukan Tuhan (kelompok pasif). Kelompok ini sering menggunakan lagu-lagu semacam “Aku berserah” tanpa memahami konteks lirik lagu itu. Yang dipikirkan oleh mereka adalah setiap orang Kristen cukup diam tanpa bertindak dan menunggu Tuhan melakukan bagian-Nya.

Saya tidak mengatakan bahwa jika kita diam maka kita salah. Tetapi di satu sisi ada bagian yang harus kita lakukan. Kelompok ini cenderung berkata bahwa kita sudah diselamatkan oleh kasih karunia, sehingga kita tidak perlu berbuat apa-apa. Dalam kondisi ekstrem, mereka yang ada di kutub ini tidak akan merasa perlu berbuat baik karena berpikir mereka sudah percaya kepada Tuhan. Mereka masih suka hidup dalam dosa, misalnya: masih suka berjudi, mabuk, berkata kasar, dan lain sebagainya. Tetapi dalam pikiran mereka, yang penting mereka sudah merasa selamat, dan nanti Tuhan pasti membawa mereka ke surga.

Sementara kutub kedua berpendapat bahwa yang penting kita bekerja keras (kelompok aktif). Jika nanti Tuhan tidak suka pasti nanti Tuhan akan menghambat jalan kita, sehingga kita nanti akan diarahkan pada jalan yang benar. Kelompok ini dalam kondisi ekstrem sering melupakan Tuhan. Mereka baru mengingat Tuhan kalau ada masalah berat yang dihadapi. Kalau tidak, mereka melupakan Tuhan. Atau ketika mereka sudah menyelesaikan masalah, mereka sudah melupakan Tuhan kembali.

Yang saya pahami, kita jangan sampai terjebak dalam ekstremitas kedua kutub tersebut. Kita tidak boleh terlalu pasif atau terlalu aktif namun melupakan Tuhan. Yang benar adalah kita harus seperti tanah liat di tangan penjunan. Kita harus berusaha mencari tahu panggilan kita, yaitu apa maksud Sang Penjunan dalam diri kita. Seorang penjunan atau tukang periuk yang baik pasti tidak sembarangan mengambil tanah liat dan membentuk tanpa maksud. Ketika seorang penjunan sudah mengambil tanah liat untuk dibentuk, ia pasti sudah memiliki pandangan akan apa yang hendak ia buat (ay. 4).

Bayangkan jika tanah liat adalah tanah liat yang pasif, ia tentu tidak akan mempersoalkan hendak dijadikan apa dirinya. Ia hanya bersikap pasif, mungkin seperti tanah liat yang lembek, yang setiap kali mau dibentuk tetapi selalu gagal karena terlalu pasif. Pada akhirnya orang-orang seperti ini tidak akan mampu dibentuk hingga menjadi apa yang dikehendaki oleh sang penjunan. Sikap ini sebenarnya bukan sikap yang tepat terhadap sang penjunan.

Jika tanah liat adalah tanah liat yang terlalu aktif, maka tanah liat itu biasanya mempunyai pandangan bahwa ia harus menjadi suatu bentuk tertentu. Ia tidak mau mempersoalkan apa kehendak sang penjunan atas dirinya. Ia sudah memiliki pola pikir yang terbentuk sejak awal dan sulit diubah. Jika tanah liat itu sudah terlalu keras, ia tidak akan dapat menerima pembentukan dari sang penjunan. Hingga akhirnya, bisa jadi bentuk dirinya tidak akan sama dengan apa yang diinginkan sang penjunan.

Yang terpenting dalam hal ini adalah bagaimana kita memiliki kelenturan di hadapan Sang Penjunan Agung, Tuhan kita. Jika kita paham posisi kita sebagai tanah liat, kita seharusnya mempersoalkan apa kehendak penjunan atas diri kita, bagaimana bentuk akhir yang diinginkan sang penjunan tersebut, dan bagaimana kita bisa memiliki kesediaan untuk dibentuk oleh sang penjunan menjadi bentuk akhir yang diinginkan sang penjunan tersebut. Kita tidak bisa hanya pasif, tetapi kita harus benar-benar merespon setiap proses pembentukan sang penjunan itu.

Bayangkan jika tanah liat tidak tahu apa bentuk yang diinginkan, atau tanah liat sudah memiliki konsep mengenai bentuk akhirnya. Tentu ketika sang penjunan membentuk tanah liat tersebut, respon yang dihasilkan tanah liat tidak akan tepat: bisa terlalu lembek atau terlalu keras. Namun jika tanah liat mengerti bentuk akhir yang diinginkan sang penjunan, yang dapat menyenangkan hati sang penjunan, maka kita juga akan berusaha aktif mencapai bentuk itu. Jika ada proses pembentukan yang mungkin menyakitkan, kita akan dengan cepat mengerti bahwa semua itu dilakukan sang penjunan karena ingin membentuk kita dengan sesempurna mungkin.

Inilah sikap yang benar, yaitu tanah liat yang mengerti kehendak penjunannya, yang juga mau aktif berjuang untuk mencapai bentuk tersebut, tetapi mengizinkan tangan penjunannya membentuk dirinya. Inilah sikap yang benar sebagai orang-orang Kristen. Namun seringkali kita tidak pernah memperkarakan secara proporsional apa kehendak Allah dalam diri kita. Dalam doa-doa yang kita ucapkan, kita seringkali banyak meminta ini dan itu, mengingini ini dan itu, tanpa pernah mempersoalkan apa sebenarnya yang Allah kehendaki dalam hidup kita.

Oleh karena itu, saya mengajak kita semua mulai memperkarakan kehendak Allah dalam diri kita masing-masing. Tentu ada maksud Allah mengapa kita lahir di negara ini, dari suku ini, dari keluarga ini, atau lahir di waktu ini. Mengapa Allah membuat kita lahir sebagai pria atau wanita, mengapa kita memiliki karakter seperti ini, bakat dan talenta seperti ini, bahkan memiliki kelemahan-kelemahan seperti ini. Semua tentu ada maksud Allah dalam hidup kita. Dan kita harus menemukan posisi kita yang unik dan special dalam pekerjaan-Nya, yang tidak mungkin bisa digantikan oleh orang lain. Kita harus menemukan maksud Allah yang khusus dalam diri kita, yang harus kita kerjakan dan kita selesaikan.

Seharusnya kita paham bahwa tujuan akhir hidup kita bukanlah di dunia ini, tetapi dalam kerajaan-Nya yang kekal: di langit yang baru dan bumi yang baru (Why 21-22). Jadi proses akhir dari pembentukan Sang Penjunan Agung itu bukanlah di dunia ini. Waktu hidup kita adalah waktu dimana Sang Penjunan Agung masih memproses kita. Jika waktu kita sudah habis, maka hanya ada dua kemungkinan: 1) Kita sudah mencapai bentuk yang diinginkan oleh Sang Penjunan, dan kita akan menjadi perabot bagi-Nya dalam kekekalan (2 Tim 2:20-21); atau 2) Kita tidak mencapai bentuk yang Allah kehendaki, sehingga kita harus dibuang dari hadapan-Nya dan ditolak masuk ke dalam kerajaan-Nya (Mat 7:21-23). Oleh sebab itu, hendaknya kita senantiasa belajar dari teladan Tuhan Yesus yang telah menyelesaikan tugas-Nya selama menjadi manusia. Kita harus dapat berkata di akhir hidup kita bahwa kita telah melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan yang dikehendak-Nya dalam hidup kita (Yoh 4:34).



Bacaan Alkitab: Yeremia 18:1-4
18:1 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:
18:2 "Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu."
18:3 Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan.
18:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.