Senin, 19 Oktober 2020

Makna Keterhilangan (5): Milik Kepunyaan-Nya

 Senin, 19 Oktober 2020

Bacaan Alkitab: Lukas 15:8

"Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?" (Luk 15:8)


Makna Keterhilangan (5): Milik Kepunyaan-Nya

 

Dalam kisah perumpamaan yang pertama yaitu tentang domba yang hilang, memang disebutkan bahwa domba-domba dalam kisah tersebut merupakan milik seseorang, yang dalam hal ini Tuhan Yesus menunjuk salah satu di antara mereka sebagai orang-orang yang memiliki domba tersebut (Luk 15:4). Dalam perumpamaan kedua ini, Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan mengenai sepuluh dirham yang dimiliki oleh seorang perempuan (ay. 8a). Jika dalam perumpamaan pertama, Tuhan Yesus menggunakan gambaran seorang laki-laki (pemilik domba), maka dalam perumpamaan yang kedua, Tuhan Yesus menggunakan gambaran seorang perempuan yang mempunyai sepuluh dirham.

Jelas bahwa uang atau keeping dirham bukanlah benda hidup seperti domba yang dapat memiliki kehendak bebas untuk menjauh dari sang gembala atau pemilik domba. Uang dirham adalah benda mati, yang sebenarnya tidak bisa keluar atas kemauannya sendiri dari dompet atau tempat penyimpanan uang. Jadi, mengapa Tuhan Yesus menggunakan dirham ini dalam perumpamaannya? Bukankah orang bisa tersesat/terhilang karena kemauannya sendiri? Bagaimana dengan uang dirham?

Jika kita mau jujur membaca dan memahami perumpamaan kedua ini, kita akan melihat bahwa perumpamaan yang kedua ini adalah semacam pengulangan dari perumpamaan yang pertama. Meskipun demikian, tentu ada pelajaran rohani penting yang dapat kita petik dari perumpamaan kedua ini. Dalam perumpamaan yang kedua, memang tetap ada penekanan mengenai keterhilangan, yaitu satu uang dirham yang hilang dari 10 yang dimiliki oleh perempuan tersebut (ay. 8b). Dalam hal ini, terdapat penekanan bahwa sesuatu yang hilang adalah sesuatu yang tidak berada di tempat yang semestinya. Uang yang hilang adalah uang yang tidak ada di dompet atau tempat penyimpanan. Dan uang yang hilang itu bukanlah uang milik orang lain, tetapi memang benar-benar milik si perempuan tersebut.

Uang dirham adalah uang Yunani yang nilainya hampir setara dengan uang dinar Romawi. Jika demikian, nilainya kira-kira sama dengan upah seorang pekerja selama satu hari untuk menghidupi keluarganya. Sangat mungkin bahwa inilah “tabungan” si perempuan untuk menghidupi rumah tangganya selama 10 hari ke depan. Jika uang dirham itu hilang, maka dapat dikatakan bahwa perempuan tersebut akan menemukan kesulitan untuk mencukupi kebutuhan selama satu hari. Karena “tabungan” perempuan tersebut tidaklah terlalu besar (hanya untuk 10 hari), maka satu dirham itu pun berharga.

Perempuan itu mengenal berapa uang yang ada di dompetnya, sama seperti Allah yang mengenal milik-milik kepunyaan-Nya (2 Tim 2:19). Jadi ia tahu ketika dirham itu terjatuh dan hilang karena sudah tidak ada di tempat yang seharusnya. Perempuan tersebut kemudian menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya. Bagi sebagian kita, kita akan berpikir, “Halah, demi satu dirham saja sampai harus menyalakan pelita dan menyapu rumah untuk mencari. Lebay deh”. Bagi kita yang kaya, upah sehari (katakanlah Rp100.000) mungkin tidak terlalu berharga. Tetapi bagi mereka yang hidup pas-pasan, mendapatkan upah harian dari hari ke hari, maka upah sehari itu sangat berharga. Tentulah perempuan itu akan berusaha sekeras mungkin mencari uang dirham yang kecil itu, sampai ketemu. Ia akan mencari hingga ke sudut rumah hingga menemukan uang dirham yang hilang tersebut.

Sama seperti uang dirham itu sangat berharga bagi si perempuan dalam perumpamaan yang kedua, demikianlah kita juga sangat berharga di pemandangan Allah (Yes 43:4). Meskipun ayat di dalam kitab Yesaya tersebut konteksnya adalah umat pilihan Allah dalam Perjanjian Lama yaitu bangsa Israel, namun dalam konteks lebih luas kita pun tetap berharga karena kita memiliki roh yang kekal, yang berasal dari Allah, Bapa segala roh (Ibr 12:9). Itulah sebabnya Allah mengingini roh yang ada di dalam diri kita dengan cemburu (Yak 4:5). Kata cemburu di sini menunjuk kerinduan Bapa agar setiap manusia (dengan roh yang kekal di setiap diri manusia) dapat diselamatkan, sehingga roh manusia tersebut dapat kembali kepada Bapa. Akan tetapi, tentu hal ini tidak berarti bahwa Allah lalu “menurunkan standar” dan semua orang lalu diselamatkan. Keselamatan adalah cuma-cuma, tetapi respon manusia terhadap anugerah keselamatan itu tidaklah gratis. Manusia perlu meresponi anugerah keselamatan yang ditawarkan Allah dengan tindakan iman yang proporsional

 

 

Bacaan Alkitab: Lukas 15:8

15:8 "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?

Rabu, 14 Oktober 2020

Makna Keterhilangan (4): Pertobatan yang Benar

 

Rabu, 14 Oktober 2020

Bacaan Alkitab: Lukas 15:7

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. (Luk 15:7)


Makna Keterhilangan (4): Pertobatan yang Benar

 

Ayat bacaan kita pada renungan hari ini cukup sering dikutip oleh para pendeta, para penginjil maupun oleh para pengajar di lingkungan orang Kristen. Ayat ini sering dibaca dan dimaknai di luar konteks aslinya. Sebagai contoh, ketika ada peristiwa kebaktian kebangunan rohani (KKR) dimana orang yang datang kemudian mengangkat tangan atau maju ke depan (altar call), maka hal itu sudah dianggap sebagai suatu pertobatan. Tidak jarang pendeta/pengkhotbah/pembicara di KKR tersebut langsung berkata dan menyimpulkan bahwa surga bersukacita karena sudah ada satu (atau lebih) orang yang bertobat di KKR tersebut.

Nyatanya, sering kali seepulang dari acara KKR itu, tidak jelas apa yang dimaksud dengan pertobatan. Hidup orang-orang itu sepertinya sama saja sebelum dan sesudah datang ke KKR. Mereka bisa jadi masih tetap hidup dalam dosa, dan tidak menunjukkan buah-buah pertobatan yang nyata. Jika demikian, apakah benar surga bersukacita ketika orang maju ke depan dalam altar call di ibadah gereja ataupun KKR? Padahal orang yang maju belum tentu benar-benar bertobat tetapi mungkin hanya ikut-ikutan saja?

Kenyataannya, jika kita membaca konteks ayat ini di dalam perikopnya, maka kita akan mengetahui bahwa sang pemilik domba telah menemukan dombanya yang hilang, dan telah menggendongnya pulang, serta telah tiba di rumahnya (ay. 5-6). Ia tidak bersukacita ketika dombanya baru ditemukan. Ia baru bersukacita ketika dombanya telah dipastikan tiba di rumah dengan selamat. Hal ini yang seringkali luput dari penekanan para pembicara atau pengkhotbah di atas mimbar. Seakan-akan dikesankan bahwa ketika orang maju pada saat KKR, maka orang itu sudah selamat dan surga bersukacita.

Sebenarnya, jika kita mau jujur, surga akan bersukacita ketika seseorang telah menyelesaikan pertobatannya dan telah setia sampai akhir. Pertobatan tidak boleh dipandang sudah selesai ketika seseorang  maju di KKR atau mengangkat tangan pada saat ibadah. Hal itu barulah suatu “titik awal” dari pertobatan yang sesungguhnya. Pertobatan yang benar dimulai sejak seseorang mengenal Tuhan Yesus Kristus dan percaya kepada-Nya, dan kemudian diwujudkan dalam kehidupan keseharian setiap harinya.

Ucapan Tuhan Yesus itu sangatlah benar, bahwa akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, daripada 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan (ay. 7). Ayat ini tidak boleh dipandang bahwa kita adalah 99 orang tersebut yang tidak perlu bertobat, dan justru memandang bahwa orang lain adalah satu orang yang perlu bertobat. Seharusnya, sudut pandang kita diubah. Kita harus senantiasa berpikir bahwa kita adalah satu orang yang perlu bertobat itu. Dengan demikian, kita tidak akan terjebak melihat kehidupan orang lain dan sibuk mengurusi apakah orang itu sudah bertobat atau belum, melainkan akan lebih mempersoalkan dirinya sendiri, jangan-jangan saya adalah orang berdosa yang perlu bertobat.

Jadi jelas bahwa pertobatan yang benar itu bukanlah sesuatu yang mudah dan sederhana. Pertobatan adalah sesuatu yang kompleks, membutuhkan waktu panjang (yaitu seumur hidup), dan harus terlihat buah-buah pertobatan yang nyata (Mat 3:8, Luk 3:8). Pertobatan tidak diukur dari seberapa sering seseorang mengikuti KKR dan maju ke depan. Pertobatan tidak diukur dari seberapa sering seseorang mengangkat tangan. Mengangkat tangan dan maju ke depan bisa jadi adalah awal pertobatan, atau suatu pembaharuan komitmen untuk terus bertobat. Tetapi, tanpa niat dan kerja keras dari orang tersebut, maka pertobatan itu tidak akan terwujud.

Katakanlah ada seseorang yang terikat dosa seksual (berselingkuh, kecanduan film porno, dan lain sebagainya). Ia bisa saja datang ke KKR setiap hari, mengangkat tangan dan maju ke depan. Tetapi jika ia tidak menindaklanjuti komitmennya itu (misalnya: menghindari film-film yang merangsang birahi, atau menjauhi tempat-tempat pelacuran, atau memutuskan kontak dengan orang yang selama ini menjadi selingkuhannya), maka bisa saja pertobatannya tidak akan optimal. Bertobat itu adalah kembali dari keterhilangan, dan berusaha untuk tidak terhilang lagi. Ibarat domba yang terhilang/tersesat dan ditemukan gembala, tetapi jika domba itu masih nakal dan ingin melarikan diri, maka sekalipun ia sudah ditemukan gembala, bisa jadi ia akan melepaskan diri dari genggaman gembala itu. Ia bisa saja terhilang lagi. Oleh karena itu, bertobat berarti menyadari keterhilangan dan ketersesatan kita, serta berusaha untuk tidak terhilang lagi. Memang semua itu tetap dalam anugerah Tuhan, tetapi karena manusia memiliki kehendak bebas, maka seseorang dapat memilih untuk tetap hidup dalam keterhilangan, ataukah mau bertobat dengan benar. Pertobatan yang benar akan dapat dilihat dari buah kehidupannya (yaitu buah pertobatan), serta pertobatan yang terus menerus hingga seseorang menutup mata.

 

Bacaan Alkitab: Lukas 15:7

15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

Kamis, 03 September 2020

Makna Keterhilangan (3): Kegembiraan ketika Menemukan yang Terhilang


Kamis, 3 September 2020
Bacaan Alkitab: Lukas 15:5-6
Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? (Luk 15:3)


Makna Keterhilangan (3): Kegembiraan ketika Menemukan yang Terhilang


Ketika seorang gembala mengetahui bahwa satu dari domba-dombanya sudah hilang, maka pastilah ada kesedihan dan kekuatiran. Apalagi jika gembala itu adalah gembala yang baik dan setia. Gembala yang baik adalah gembala yang mengenal domba-dombanya (Yoh 10:14). Ia pasti sudah menghabiskan banyak waktu bersama domba-dombanya, sehingga ia mengenal satu-persatu domba kepunyaannya. Ketika ada domba yang hilang, pastilah ia mengetahuinya dengan segera. Gembala yang baik tentu akan langsung mencari domba yang hilang tersebut.

Ayat dalam bacaan Alkitab kita hari ini dimulai dengan kalimat “Dan kalau ia telah menemukannya …” (ay. 5a). Dahulu saya tidak suka dengan ayat ini. Mengapa? Karena gambaran domba yang hilang itu sebenarnya menggambarkan perumpamaan tentang manusia yang terhilang. Kalimat “Dan kalau ia telah menemukannya”, mengindikasikan bahwa ada kemungkinan sang gembala tidak dapat menemukan domba yang terhilang tersebut. Dahulu saya tidak suka dengan ayat ini karena saya berpikir, harusnya Tuhan kan maha kuasa dan maha tahu, tidak ada yang mustahil bagi Dia. Bagaimana mungkin Dia tidak dapat menemukan domba yang terhilang itu?

Namun, semakin saya membaca dan memahami ayat-ayat dalam perikop ini, saya justru menyadari kebodohan dan kepicikan saya di masa yang lalu. Kalimat “Dan kalau ia telah menemukannya”, tidak menunjuk bahwa Allah bukanlah pribadi yang tidak maha kuasa. Justru di sini terdapat tatanan Allah yang luar biasa. Memang ada kalanya domba-domba itu nakal dan meninggalkan kawanan serta sang gembala. Tetapi dalam kesesatannya tersebut, domba tersebut juga menghadapi resiko. Jika domba itu masih hidup sampai sang gembala menemukan dirinya, maka dia akan aman. Namun, jika domba tersebut bertemu dengan singa, serigala, atau binatang buas lainnya, maka ia pasti akan langsung mati. Jika ia sudah mati, maka sang gembala tentu tidak dapat menemukannya. Kalaupun menemukannya, kemungkinan besar sudah hanya sisa tulang-tulangnya saja.

Oleh karena itu, ada tatanan Allah yang luar biasa dalam hal ini. Menurut pendapat saya, Allah tidak menentukan bahwa si A adalah domba yang hilang, sementara si B adalah domba yang tidak terhilang. Semua domba memiliki kehendak bebasnya untuk memilih, apakah mau berkeliaran dan menjauh dari sang gembala dan kawanan, ataukah tetap berada dekat sang gembala. Sang gembala tentu sangat rindu supaya tidak ada domba-dombanya yang terhilang. Ia pun pasti mencari yang terhilang. Tetapi  jika sang domba sudah terlalu jauh tersesat, atau lebih parahnya, sudah dimangsa binatang buas, maka tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh sang gembala tersebut. Namun jika sang gembala berhasil menemukan domba yang hilang tersebut sebelum domba itu mati, maka tentu sang gembala akan bersukacita. Ia akan meletakkan domba tersebut di atas bahunya dengan gembira hingga sampai di rumah (ay. 5b).

Sesampainya di rumah, ia akan memanggil sahabat dan tetangganya untuk bersukacita (ay. 6a). Mengapa demikian? Ingat bahwa sang gembala adalah gembala yang baik, yang sangat mengenal domba-dombanya. Tentu ia memiliki ikatan batin yang kuat dengan domba-dombanya. Ketika ia tahu bahwa ada dombanya yang hilang, hatinya pasti sangat susah. Ketika ia menemukan domba tersebut dalam keadaan hidup, pastilah ia akan bersukacita. Kalaupun ada luka, pastilah gembala tersebut akan merawatnya hingga sembuh.

Sukacita sang gembala didasarkan pada hal itu, karena adanya suatu relasi dan ikatan yang sangat erat. Domba yang hilang sudah ditemukannya. Sehingga patutlah ia bersukacita karenanya (ay. 6b). Persoalannya, hal ini bukan berarti kita harus terhilang dulu kemudian berbalik supaya Tuhan bersukacita. Bukan itu maksud dari perumpamaan ini. Ingat bahwa jika kita dengan sengaja menghilangkan diri sendiri, bisa jadi justru kita bertemu binatang buas dan justru mati hingga tidak dapat ditemukan oleh sang gembala. Janganlah kita mencobai Tuhan dengan cara membuat diri kita terhilang dengan sengaja (Mat 4:7). Keterhilangan bukanlah hal yang menyenangkan dan menimbulkan sukacita. Menemukan yang terhilang adalah sumber sukacita. Tetapi kalau ternyata kita terhilang dan sudah tidak dapat ditemukan kembali, bukankah justru itu akan menjadi dukacita abadi?



Bacaan Alkitab: Lukas 15:5-6
15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,
15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

Minggu, 30 Agustus 2020

Makna Keterhilangan (2): Milik Kepunyaan yang Hilang

 

Minggu, 30 Agustus 2020

Bacaan Alkitab: Lukas 15:3-4

Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? (Luk 15:3)


Makna Keterhilangan (2): Milik Kepunyaan yang Hilang

 

Setelah kita belajar mengenai latar belakang peristiwa, dimana orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut melihat orang-orang berdosa mendengarkan pemberitaan Injil oleh Tuhan Yesus, maka kita akan mulai masuk ke dalam pembahasan mengenai keterhilangan. Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan yang pertama tentang keterhilangan dengan menggunakan gambaran domba yang hilang. Perhatikan bahwa Lukas menulis ucapan Tuhan Yesus ini ditujukan kepada mereka (ay. 3). Siapakah mereka yang dimaksud? Apakah kepada orang Farisi dan ahli Taurat sebagaimana disebut di ayat 2? Ataukah kepada para pemungut cukai dan orang berdosa yang datang kepada Yesus sebagaimana disebut di ayat 1? Ataukah kepada kedua kelompok tersebut? Saya sendiri lebih cenderung berpendapat bahwa seri perumpamaan ini ditujukan kepada kedua kelompok, karena pada awalnya para pemungut cukai dan orang berdosa sudah datang dahulu, barulah ada kelompok orang Farisi dan ahli Taurat yang bersungut-sungut.

Perumpamaan tentang domba yang hilang itu dimulai dengan perkataan “Siapakah di antara kamu yang mempunyai serratus ekor domba…” (ay. 4a). Ini dapat merujuk kepada domba secara harafiah, yaitu orang-orang Yahudi yang biasa mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus. Namun, jumlah 100 domba ini mungkin dirasa terlalu banyak untuk kebanyakan orang Yahudi pada waktu itu. Hal ini dapat pula merujuk kepada kelompok mereka yang lebih kaya dan memiliki lebih banyak domba(bisa jadi kepada para pemungut cukai, atau bahkan kepada orang Farisi dan ahli Taurat yang pada umumnya lebih terhormat, dan sangat mungkin lebih kaya dari kebanyakan orang pada umumnya).

Dari sudut pandang yang lain, domba di sini dapat berarti domba secara figuratif. Ini berarti orang Farisi dan ahli Taurat yang lebih memahami hukum Taurat, dipandang menjadi “gembala” dan orang Yahudi awam (yang bukan imam, atau bukan pengajar) adalah domba-dombanya. Hal ini dapat dipandang lebih masuk akal mengingat orang Farisi dan ahli Taurat sangat rajin untuk menyebarkan Taurat dan berusaha menjadikan orang non Yahudi untuk masuk ke dalam kelompok orang Yahudi (dengan cara mengikuti baptisan proselit dan disunat) (bandingkan dengan Mat 23:15).

Jika kita menggunakan konsep yang kedua ini, maka kita dapat mengerti bagaimana orang Yahudi sangat mempertahankan murid-murid mereka (yaitu domba-domba mereka). Jika ada murid-murid yang “hilang” atau “mundur”, sangat besar kemungkinan bahwa murid yang hilang itu akan dicari sampai ketemu. Hal ini karena orang Yahudi (apalagi orang Farisi dan ahli Taurat) sangat fanatik dengan agama Yahudi dan hukum Taurat mereka.

Tuhan Yesus menunjukkan bahwa jika ada 100 domba dan ada seekor domba yang hilang, maka sang gembala akan mencari satu domba yang hilang dan sesat itu sampai ia menemukannya (ay. 4c). Bahkan demi satu domba yang hilang itu, 99 domba lain pun akan ditinggalkan di padang gurun (ay. 4b). Domba ini hilang bukan karena disengaja oleh sang gembala, tetapi karena pilihan dari domba yang sesat itu sendiri.

Namun meskipun domba itu tersesat dan hilang karena kesalahannya sendiri, sang gembala memilih untuk mencari domba yang hilang itu dan meninggalkan 99 ekor domba lainnya yang tidak terhilang. Mereka yang tidak terhilang dipandang dapat menjaga diri mereka sendiri, sehingga dapat ditinggalkan, atau mungkin dititipkan ke gembala lainnya. Ingat bahwa ini merupakan gambaran domba dan gembala yang selain dapat dimaknai secara harafiah maupun figuratif. Sang gembala akan mencari domba yang tersesat itu sampai ia menemukannya kembali.

Oleh karena itu kesimpulan yang dapat kita tarik dari bacaan Alkitab kita hari ini adalah bahwa domba yang hilang itu adalah domba milik sang gembala. Domba yang hilang bukanlah domba yang tidak termasuk kawanan. Hilang berarti tidak berada di tempat yang seharusnya (akan kita lihat lagi dalam perumpamaan yang kedua). Namun sesuatu tidak dapat dikatakan sebagai barang yang hilang jika sebelumnya ia tidak termasuk dalam kelompok milik kepunyaan sang gembala.

Siapakah yang dimaksud dengan Tuhan Yesus terhadap mereka yang hilang? Tentu semua manusia adalah milik Allah, karena roh yang ada di dalam diri manusia adalah roh yang berasal dari Allah sendiri (Ibr 12:9, Yak 4:5). Oleh karena itu, secara hukum, Allah berhak untuk mencari domba milik-Nya yang hilang sampai menemukannya. Apakah ada kemungkinan bahwa domba yang hilang itu tidak ditemukan? Sebenarnya faktanya bisa saja. Jika domba hilang itu dimakan binatang buas, misalnya. Akan tetapi, sang gembala tetap mencari domba tersebut selama domba itu masih hidup dan masih bisa ditemukan untuk dikembalikan kepada kawanan milik kepunyaannya. Hal ini menunjukkan bahwa status hak milik dapat membuat orang rela melakukan apa saja untuk memperolehnya kembali (selama domba tersebut masih hidup dan tidak mati).

Oleh karena itu, sebenarnya, selagi masih ada waktu, kita masih memiliki kesempatan untuk ditemukan oleh Sang Gembala Agung. Persoalannya, seberapa jauh kita terhilang dan seberapa rindu kita untuk kembali ke kawanan sebagai milik kepunyaan Gembala kita? Ingat bahwa kita sebenarnya adalah milik Allah yang sudah ditebus oleh-Nya dan sudah tidak memiliki hidup kita sendiri (1 Ptr 1:18). Oleh karena itu hendaknya kita sadar supaya jangan sampai kita terhilang dan tersesat, apalagi dengan sengaja menghilangkan dan menyesatkan diri sendiri dari pandangan Gembala Agung kita.

 

  

Bacaan Alkitab: Lukas 15:3-4

15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:

15:4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?

Sabtu, 29 Agustus 2020

Makna Keterhilangan (1): Latar Belakang Peristiwa

Jumat, 29 Agustus 2020

Bacaan Alkitab: Lukas 15:1-2

Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." (Luk 15:2)


Makna Keterhilangan (1): Latar Belakang Peristiwa


Mulai hari ini, kita akan membahas mengenai makna keterhilangan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam 3 buah perumpamaan. Adapun untuk memahami makna asli dari perumpamaan-perumpamaan tersebut, kita harus mengerti paling tidak latar belakang peristiwa ini. Dengan mengerti latar belakang peristiwa di balik perumpamaan Tuhan Yesus ini, maka kita akan dapat lebih memahami maksud Tuhan Yesus menyampaikan perumpaaan tersebut, dan kita akan memperoleh berkat rohani yang luar biasa.

Latar belakang peristiwa ini adalah ketika para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang kepada Tuhan Yesus untuk mendengarkan perkataan-Nya (ay. 1). Dikatakan orang-orang berdosa dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada mereka yang dipandang sudah berdosa secara hukum Taurat milik orang Yahudi. Pemungut cukai dipandang berdosa karena mereka bekerja bagi penjajah Romawi, yang dianggap sebagai bangsa kafir. Bisa jadi juga dalam kumpulan orang ini ada para perempuan sundal (Mat 21:31).

Namun penggunaan kata orang-orang berdosa ini pada umumnya merujuk pada mereka yang dianggap tidak sesuci orang Farisi dan para ahli Taurat. Akan tetapi, penulis kitab Injil sangat mungkin menulis kata “orang berdosa” ini untuk menunjuk mereka yang dipandang berdosa secara umum oleh masyarakat Yahudi pada saat itu. Jadi dalam hal ini, orang-orang Farisi dan ahli Taurat menganggap orang lain yang tidak segolongan dengan mereka sebagai orang berdosa, apalagi mereka yang berprofesi sebagai pemungut cukai yang sangat tidak disukai oleh kalangan alim ulama Yahudi. Sementara Tuhan Yesus dengan penuh kesabaran justru menjangkau orang-orang yang “terpinggirkan” ini. Itulah sebabnya orang Farisi dan para ahli Taurat bersungut-sungut melihat Tuhan Yesus yang mau menerima orang berdosa, bahkan makan bersama-sama dengan mereka (ay. 2).

Dari sini jelas bahwa mereka yang dipandang sebagai orang berdosa oleh para ahli agama Yahudi justru adalah mereka yang hendak dijangkau oleh Tuhan Yesus. Tentu dalam hal ini Tuhan tidak menghendaki satu orang pun binasa. Itulah mengapa Tuhan Yesus sangat sering berbicara dan menyampaikan firman-Nya kepada orang-orang berdosa ini, yaitu para pemungut cukai dan mereka yang dipandang rendah oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Justru sangat jarang Tuhan Yesus menyampaikan firman kebenaran secara khusus kepada orang Farisi dan ahli Taurat. Sangat besar kemungkinan bahwa orang Farisi dan ahli Taurat mencibir ajaran Tuhan Yesus karena tidak sesuai dengan pemahaman agama Yahudi yang mereka pahami.

Dari latar belakang inilah kemudian Tuhan Yesus menyampaikan 3 buah perumpamaan tentang sesuatu yang hilang, yaitu domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang. Mengapa saya harus menyampaikan latar belakang peristiwa ini? Tentu supaya kita tahu konteks peristiwa ini, sehingga kita dapat memahami siapakah yang dimaksud dengan mereka yang hilang tersebut, dan bagaimana akhir dari mereka yang dianggap hilang itu. Jika kita hanya membaca sekilas, apalagi hanya mengambil sepotong ayat tanpa melihat konteks, sangat mungkin kita dapat tersesat dan tidak menemukan makna orisinil dari perkataan Tuhan Yesus tersebut. Satu hal yang perlu kita catat adalah bahwa Tuhan Yesus tidak membeda-bedakan orang. Selama orang itu mau datang dan mendengar suara-Nya, maka Tuhan Yesus tidak akan melarang dan menghalang-halangi orang itu untuk datang kepada-Nya. Akan tetapi mereka yang tidak mau datang dan menolak Yesus (seperti orang Farisi dan ahli Taurat), maka Tuhan pun tidak akan memaksa mereka untuk datang. Itu semua ada dalam tatanan Allah yang membuat setiap manusia harus mempertanggungjawabkan pilihan yang diambil dalam hidupnya (Rm 14:12).

 


Bacaan Alkitab: Lukas 15:1-2

15:1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.

15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."


Kamis, 27 Agustus 2020

Jangan Menikmati Ketergeletakan Kita

 Kamis, 27 Agustus 2020

Bacaan Alkitab: Mazmur 37:23-24

Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. (Mzm 37:24)


Jangan Menikmati Ketergeletakan Kita


Bacaan Alkitab kita hari ini mungkin sudah sering didengar para pembaca atau bahkan dinyanyikan, karena memang ada lagu pujian yang liriknya diambil dari ayat ini. Ketika saya masih kecil, ayat atau lagu ini sangat saya sukai. Mengapa? Karena ayat ini berbicara mengenai Tuhan yang melindungi umatnya. Bahkan jika hanya dibaca sekilas, maka kita bisa suka mengklaim bahwa Tuhan pasti melindungi langkah hidup anak-anak-Nya.

Memang benar, bahwa Tuhan akan menetapkan langkah-langkah anak-anak-Nya (ay. 23a). Akan tetapi, persoalannya adalah apakah kita sudah benar-benar menjadi anak-anak Allah yang benar? Banyak orang mengaku sebagai anak-anak Allah, sebagai umat pilihan, dan lain sebagainya. Tetapi alangkah baiknya kita tidak memotong ayat tersebut. Menjadi anak-anak Allah yang benar berarti memiliki hidup yang berkenan kepada-Nya (ay. 23b). Jika kita tidak berkenan kepada-Nya, maka janji Tuhan bahwa Ia akan menetapkan langkah kita tentu tidak akan berlaku.

Ketika kita masih kanak-kanak secara rohani, tentu Tuhan pun paham. Sekalipun hidup kita belum benar-benar beres, masih ada dosa, dan masih mencintai dunia, maka Tuhan masih mungkin menetapkan langkah-langkah kita. Akan tetapi, jika kita semakin bertumbuh dewasa secara rohani, maka tentu Tuhan akan berurusan dengan cara yang berbeda dengan kita. Jika dahulu Tuhan masih melindungi kita sekalipun kita tidak hidup benar, maka semakin kita dewasa, maka bisa saja Tuhan akan membiarkan kita jika kita tidak mau berjuang hidup kudus.

Ayat selanjutnya adalah ayat favorit bagi beberapa orang, khususnya mereka yang sedang mengalami masalah. Kata “jatuh” di sini diartikan sebagai masalah (sakit, miskin, dan lain sebagainya), dan mereka memiliki pengharapan bahwa Tuhan pasti akan mengangkat mereka. Tentu hal ini tidaklah salah. Kita yang sudah berniat untuk berjuang hidup kudus dan berkenan di hadapan Tuhan saja bisa berkali-kali jatuh. Akan tetapi, kita pastilah tidak dibiarkan Tuhan sampai tergeletak, karena Tuhan menopang tangan kita (ay. 24).

Persoalannya, seringkali kita salah mengambil keputusan yang kemudian menyebabkan kita jatuh. Ketika kita jatuh, maka sebenarnya ada dua pilihan: 1) bangkit dan berjuang lagi untuk hidup benar; atau 2) memilih untuk tidak bangkit dan menikmati kejatuhan kita, bahkan menikmati ketergeletakan kita. Jika kita memilih untuk menikmati ketergeletakan kita, tentu ayat 24 itu tidak berlaku. Ayat 24 ini berlaku jika kita berusaha untuk bangkit dan kembali hidup berkenan kepada-Nya (lihat ayat sebelumnya, ayat 23). Jika kita memilih untuk tetap tergeletak, mungkin Tuhan masih memberi kesempatan. Tetapi jika kesempatan untuk bangkit ini disia-siakan, maka mungkin akan ada titik dimana kita tidak mungkin bisa bangkit lagi. Hal ini bukan karena Tuhan tidak mampu menopang kita, tetapi karena kita yang sudah terlanjur menikmati ketergeletakan kita. Orang yang sudah terlanjur menikmati ketergeletakannya, akan mencintai ketergeletakannya dan sekalipun ada kesempatan untuk bangkit, maka orang itu pasti tidak akan dapat bangkit lagi.

Oleh karena itu, alangkah baiknya kita melihat hati kita masing-masing, apakah kita sudah memiliki kerinduan untuk hidup berkenan kepada Tuhan. Jika tidak, maka ketika kita jatuh – dan Tuhan sudah menopang tangan kita – maka kita bisa saja tidak meraih tangan Tuhan karena kita lebih mencintai ketergeletakan kita. Ketergeletakan kita ini bisa karena dosa-dosa tertentu (misal dosa seksual), percintaan dunia, atau hal-hal lain yang dianggap lebih berharga. Jangan sampai kita menikmati ketergeletakan kita, karena hal itu dapat membuat kita tidak dapat bangkit lagi.

 

 

Bacaan Alkitab: Mazmur 37:23-24

37:23 TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;

37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Minggu, 28 Juni 2020

Jangan Sampai Kita Menutup Pintu Keselamatan Orang Lain


Minggu, 28 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Matius 23:13
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Mat 23:13)


Jangan Sampai Kita Menutup Pintu Keselamatan Orang Lain


Ketika saya berdoa di suatu malam yang sepi, saya meminta ampun kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan di masa lalu. Saya sendiri memiliki karakter yang buruk, bahkan mungkin jauh lebih buruk daripada sebagian besar pembaca renungan ini. Dalam masa-masa kepicikan dan masa-masa kegelapan saya dahulu, hidup saya benar-benar berantakan. Dapat dikatakan bahwa jika saya meninggal dunia di masa-masa kebodohan saya di masa lalu, saya bisa saja ditolak masuk ke dalam surga oleh Tuhan.

Tentu Tuhan kita adalah Tuhan yang maha pengasih. Ketika kita sungguh-sungguh dan benar-benar bertobat, pasti Tuhan mengampuni dosa-dosa kita. Namun pertobatan kita haruslah pertobatan yang benar, disertai dengan kesungguhan hati dan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan kita, sehingga kita dapat mulai mengubah kodrat hidup kita, dari kodrat manusia yang penuh dosa menjadi kodrat ilahi.

Tetapi dalam malam tersebut, saya kemudian mulai menangis dan menitikkan air mata mengingat kesalahan-kesalahan saya di masa lampau. Saya menangisi keputusan-keputusan saya yang salah, karena itu bukan saja hanya berdampak pada diri saya, tetapi juga berdampak pada orang lain. Yang paling saya sesali adalah ketika saya melihat bahwa keputusan-keputusan saya yang salah, atau bahkan keputusan yang “hanya” tidak tepat, ternyata bisa membuat orang lain tidak diselamatkan.

Ada keputusan-keputusan saya yang tidak mempermuliakan nama Tuhan, sehingga orang-orang di sekitar saya yang beragama lain justru bisa mencibir kekristenan. Mereka bisa berkata: “Kok orang Kristen seperti itu sih? Apa bedanya dengan orang-orang beragama lain?”. Kehidupan saya tidak mencerminkan kehidupan anak-anak Allah yang agung. Kehidupan saya tidak dapat membuat orang lain yang melihat hidup saya kemudian memuliakan Tuhan (Mat 5:16). Justru karena hidup saya yang sangat buruk inilah nama Tuhan justru dihujat oleh orang-orang lain (Rm 2:24).

Dalam penyesalan saya tersebut, saya seakan-akan telah menutup pintu keselamatan bagi orang-orang yang ada di sekitar saya. Seakan-akan karena kesalahan saya yang sangat memalukan di masa lalu, mereka nyaris sudah tidak mungkin bisa diselamatkan, karena mereka pasti melihat bahwa kualitas hidup saya dan kualitas keputusan saya sangat rendah, bahkan mungkin tidak lebih baik dari kualitas keagamaan orang-orang tersebut.

Di sisi yang lain, saya juga pernah mengambil keputusan yang salah yang berdampak pada jemaat di suatu gereja lokal. Keputusan saya yang tidak tepat itu justru membuat konflik di antara jemaat, bahkan hingga sampai membuat konflik antara pendeta/gembala sidang dengan beberapa kelompok jemaat. Oleh karena kurangnya kebijaksanaan yang saya miliki, seakan-akan apa yang saya lakukan menjadi selalu salah. Walaupun saat ini saya sudah lebih bijak, namun kesalahan saya di masa lalu itu seakan-akan membuat apapun yang saya lakukan saat ini itu salah. Tepat sekali suatu peribahasa yang berkata “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Dan jujur, saya sangat menyesali itu.

Dalam penyesalan saya tersebut, saya teringat akan sebuah ayat yang pernah saya baca. Ayat tersebut berbicara tentang perkataan Tuhan Yesus kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dimana Tuhan Yesus mengecam kehidupan mereka yang tidak memancarkan keagungan Allah, padahal mereka sebenarnya adalah orang-orang yang mengerti hukum Taurat. Mereka seharusnya memiliki kehidupan yang lebih agung, setidaknya dalam hal pelaksanaan hukum Taurat. Namun, justru mereka dikatakan sebagai orang-orang yang munafik, karena mereka menutup pintu-pintu kerajaan surga bagi orang lain atau orang banyak (ay. 13a).

Seharusnya sebagai orang-orang yang mengerti hukum Taurat, mereka dapat mengajarkan apa yang mereka pandang benar kepada orang banyak yaitu orang Yahudi di masa itu. Dengan demikian, mereka membuka pintu kerajaan surga kepada orang banyak dan tidak menutup pintunya. Atau jika tidak, mereka seharusnya minimal berjuang memasuki pintu kerajaan surga dan dengan demikian mereka memberikan suatu contoh atau teladan hidup kepada orang banyak. Akan tetapi, dikatakan bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi tidak mau masuk ke dalam pintu kerajaan surga tersebut dan sekaligus tidak mau orang lain masuk ke dalamnya (ay. 13b). Ini adalah suatu Tindakan yang sangat jahat dan keji, karena mereka sebenarnya tahu apa yang baik, tetapi mereka tidak mau melakukannya, bahkan tidak mau orang lain menjadi baik pula (Yak 4:17).

Persis seperti inilah yang saya sesali atas kesalahan-kesalahan saya di masa lalu. Saya sendiri tidak berjuang masuk dalam kerajaan Allah (karena masih tidak mau melakukan apa yang baik dan benar di hadapan-Nya). Bahkan karena sikap saya tersebut, nama Tuhan justru dihujat dan orang lain bisa tidak mau mengenal kebenaran. Jangankan orang-orang di luar Kristen yang seharusnya jangan sampai menghujat Tuhan (karena mereka melihat keburukan dalam hidup saya), bahkan orang-orang di dalam jemaat saja bisa tersandung karena kesalahan saya. Saya ibarat menjadi suatu batu sandungan yang membuat orang-orang tidak dapat mengenal Tuhan dengan benar dan masuk ke dalam proses keselamatan yang benar.

Oleh karena itu, ke depannya saya ingin lebih berhati-hati lagi. Saya mulai belajar untuk menahan diri dalam ucapan, bahkan menahan jari-jari tangan saya supaya jangan sampai saya menulis sesuatu yang tidak menjadi berkat di media sosial. Saya mulai belajar menahan diri untuk tidak membalas, meskipun ada pihak-pihak yang menjelek-jelekkan nama saya, bahkan jika itu pun dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di dalam gereja. Saya menyadari mungkin ada kesalahan yang saya lakukan di masa lalu sehingga mereka melakukan hal itu (merusak nama baik saya). Bagi saya, jika Tuhan menyuruh saya untuk membela diri, maka saya akan membela diri. Jika tidak, maka lebih baik saya diam. Jika Tuhan tidak menyuruh saya untuk membela diri tetapi saya malah membela diri, maka yang ada justru saya kembali melakukan kesalahan yang sama, dan bisa jadi kondisi justru menjadi semakin runyam.

Dalam hari-hari terakhir ini, saya berusaha untuk benar-benar meminta agar saya dapat melakukan apa yang Tuhan kehendaki secara tepat. Hal ini bukan hanya terkait dosa-dosa yang melanggar moral umum (mencuri, membunuh, berzinah, dan lain sebagainya). Tetapi saya rindu memiliki suatu gairah untuk belajar tepat melakukan kehendak Allah dalam hal-hal yang terlihat kecil sekalipun. Saya mulai berjuang untuk memiliki hidup yang teduh dan tenang, sehingga apapun yang saya ucapkan, tulis di media sosial, bahkan yang saya lakukan, tidak menjadi batu sandungan. Saya tidak mau menjadi pihak yang menutup pintu keselamatan bagi orang lain, padahal mungkin jika saya lebih bijak, bisa jadi mereka masih memiliki kesempatan untuk mengenal karya keselamatan yang benar. Pertobatan saya haruslah tidak lagi mengenai pertobatan dari pelanggaran moral secara umum, tetapi bertobat dari kesalahan-kesalahan dalam mengambil keputusan, yang bisa menghambat orang masuk ke dalam kerajaan surga. Saya harus bertobat supaya suatu saat nanti saya jangan sampai ditolak masuk ke dalam kerajaan surga karena saya tidak melakukan kehendak-Nya (Mat 7:21-23).



Bacaan Alkitab: Matius 23:13
23:13 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.