Jumat, 14 Oktober 2011

Firman Tuhan vs Adat Istiadat

Sabtu, 15 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Markus 7:1-8

“Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Mrk 7:7-8)


Firman Tuhan vs Adat Istiadat

Di Indonesia, kita pasti hidup dengan berbagai adat-istiadat. Hampir setiap suku memiliki adat-istiadatnya masing-masing. Ada adat terkait dengan kehidupan keluarga, adat terkait hubungan kemasyarakatan, dan lain sebagainya. Mungkin di kota-kota besar seperti Jakarta, adat sudah mulai ditinggalkan, tetapi di beberapa daerah tertentu, adat masih dipertahankan, bahkan mungkin sangat kuat pengaruhnya bagi masyarakat. Lalu, bagaimanakah pendapat Alkitab mengenai adat istiadat?

Dalam bacaan kita kali ini, orang Farisi dan ahli Taurat digambarkan sebagai orang yang memegang teguh adat Yahudi mereka. Adat istiadat ini sebenarnya tidak ada di dalam kitab Taurat, tetapi merupakan tradisi turun temurun dari manusia. Kebanyakan tradisi malah kelihatan mengurusi hal-hal yang sebenarnya tidak penting, seperti yang disebutkan dalam bacaan kita kali ini, antara lain membasuh tangan sebelum makan, membersihkan diri sepulang dari pasar, mencuci cawan, kendi, dan perkakas-perkakas tembaga (ay. 3 dan 4).

Sebetulnya kalau kita pikir-pikir, adat-adat tersebut masuk akal juga. Bukankah memang sebaiknya makan dengan membasuh tangan terlebih dahulu supaya tidak ada kuman di tangan kita yang ikut masuk ke tubuh bersama makanan? Bukankah pasar juga kotor dan banyak debu dan kotoran (apalagi pasar 2000 tahun yang lalu), sehingga sebaiknya membersihkan diri setelah pulang dari pasar sebelum makan? Bukankah cawan, kendi, dan lain sebagainya memang harus dicuci agar bersih? Memang logis, tetapi dalam bacaan kita hari ini, orang Farisi dan ahli Taurat bukan mempersoalkan esensi adat, tetapi ingin menjebak Yesus dengan mengatakan bahwa Yesus tidak mengikuti adat-istiadat orang Yahudi (ay. 5).

Tapi Yesus dengan tegas mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang munafik. Mereka lebih mementingkan adat ketimbang dengan mendengarkan ajaran Yesus. Ketika Yesus mengajar (yang merupakan ajaran Allah sendiri), mereka tidak mau mendengar dan berpendapat bahwa ajaran mereka adalah yang paling benar. Tetapi terhadap adat istiadat yang tidak jelas sumbernya (karena bersifat turun temurun dan merupakan ajaran dari manusia), mereka mau melaksanakannya. Itulah yang Yesus benci dari sikap orang Farisi. Mereka bersikap munafik karena mereka mau bersusah payah melaksanakan adat, tetapi mereka tidak mau mendengarkan kebenaran Firman Tuhan (ay. 6 s.d. 8).

Terhadap adat, menurut saya memang kita harus melihat konteks dari adat itu sendiri. Ada adat yang sesuai dengan Firman Tuhan, semisal menghormati orang tua, menjaga kesopanan dan kesusilaan, dan seterusnya. Terhadap adat seperti ini kita tidak perlu menghindarinya karena dengan melakukan Firman Tuhan pun kita juga sudah menjalankan adat. Ada pula adat yang tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, seperti menggunakan tangan kanan untuk memberi salam, mencuci tangan sebelum makan. Terhadap adat yang seperti ini, hal ini juga tidak apa-apa untuk dilakukan, tetapi jangan lupa juga melakukan Firman Allah. Seperti contoh, jangan sampai kita mencuci tangan sebelum makan tetapi malah kita lupa berdoa sebelum makan.

Selain dua tipe adat di atas, juga ada adat yang bertentangan dengan Firman Tuhan, misalnya melakukan ritual untuk memanggil arwah orang yang sudah mati untuk mendapatkan petunjuk, atau menyimpan benda-benda pusaka sebagai pelindung kita, dan sebagainya. Terhadap adat-adat yang bertentangan dengan Firman Tuhan ini, kita harus berani menolak, karena memang jelas-jelas bertentangan dengan Firman Tuhan, walaupun memang dibutuhkan hikmat agar dapat melakukannya. Sebagai orang percaya, seharusnya kita bertanya kepada Tuhan dan bukan kepada arwah orang yang sudah mati (Yes 8:19), dan juga seharusnya kita mengandalkan Tuhan sebagai Tuhan yang melindungi kita (Mzm 3:4). Tentunya tidak ada cara lain mengetahui apakah suatu adat bertentangan dengan Firman Tuhan kecuali kita membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari. Ketika kita secara rutin membaca dan merenungkan Firman Tuhan, maka kita akan mengerti manakah adat yang tidak bertentangan dengan Firman Tuhan dan manakah adat yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Ketika ada kondisi di mana adat istiadat bertentangan dengan Firman Tuhan, lakukanlah Firman Tuhan, karena Firman Tuhan itu berasal dari Allah sendiri, bahkan Firman itu adalah Allah sendiri (Yoh 1:1).

Bacaan Alkitab: Markus 7:1-8

7:1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.

7:2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.

7:3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;

7:4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.

7:5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"

7:6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

7:7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.

7:8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."

Kamis, 13 Oktober 2011

Terbuka dan Kritis

Jumat, 14 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 17:10-12

“… karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.” (Kis 17:11b)


Terbuka dan Kritis

Paulus dalam perjalanannya mengabarkan Injil, sudah melalui banyak kota dan daerah. Ciri khas Paulus dalam menginjil adalah dengan cara masuk ke dalam rumah ibadat Yahudi dan memberitakan tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus di sana. Tentunya hal tersebut tidak mudah mengingat bangsa Yahudi kebanyakan tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Seringkali Paulus beradu argumen dengan para ahli-ahli Taurat di dalam rumah ibadat tersebut.

Tetapi apa yang kita baca pada hari ini menunjukkan sesuatu yang sedikit berbeda. Dikatakan bahwa ketika Paulus dan Silas tiba di kota Berea, mereka menemukan orang-orang Yahudi yang lebih baik hatinya dibandingkan dengan kebanyakan orang Yahudi yang mereka temui sebelumnya (ay. 2). Kalau kita baca Alkitab khususnya di Perjanjian Baru, di sana dikatakan bahwa hampir semua orang Yahudi adalah orang yang keras kepala. Para ahli Taurat, misalnya, selalu menganggap diri mereka lebih tinggi dari orang lain. Belum lagi kelompok Farisi dan Saduki. Mungkin hanya Nikodemus, Yusuf dari Arimatea, dan orang Yahudi di Berea ini yang digambarkan sebagai “orang Yahudi yang baik hatinya” dalam Alkitab.

Apa yang membuat orang-orang Yahudi di Berea ini lebih baik hatinya? Alkitab mengatakan ada dua hal yang membuat orang-orang Yahudi di Berea ini dikatakan lebih baik hatinya:

Pertama, orang-orang Yahudi di Berea menerima firman dengan segala kerelaan hati. Orang Yahudi di Berea tidak menutup diri terhadap Firman Tuhan, bahkan terhadap Firman yang disampaikan Paulus, yang mungkin sedikit “bertentangan” dengan apa yang mereka percaya selama ini. Mereka menerima setiap Firman yang ada dengan segala kerelaan hati. Kerelaan hati di sini menunjukkan sikap terbuka dari orang Yahudi di Berea tersebut. Mereka terbuka terhadap Firman yang mungkin menegor mereka, mendidik mereka ataupun mengajar mereka.

Kedua, orang-orang Yahudi di Berea setiap hari menyelidiki Kitab Suci. Jadi, walaupun orang Yahudi di Berea ini seakan-akan menerima Firman tersebut dengan bulat-bulat, namun sesungguhnya mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah memang seperti itu yang tertulis di Kitab Suci. Mereka membandingkan ajaran Paulus dengan Kitab Suci. Hebatnya lagi, mereka melakukannya setiap hari, bukan setiap minggu atau bahkan sebulan sekali. Orang Yahudi di Berea ini adalah orang-orang yang rajin menyelidiki Kitab Suci.

Dampak dari sikap orang-orang Yahudi di Berea ini akhirnya banyak di antara mereka yang percaya kepada Tuhan. Bahkan tidak hanya orang Yahudi yang percaya, tetapi juga ada beberapa orang Yunani, bahkan termasuk perempuan-perempuan yang terkemuka. Sikap terbuka namun kritis dari orang-orang Yahudi di Berea ini membawa mereka mengenal kasih Kristus. Saya rasa, karena mereka memang menyelidiki Kitab Suci dengan tekun dan teliti, mereka dapat dengan mudah memahami bahwa Yesus adalah Mesias, tidak hanya bagi bangsa Yahudi tetapi juga bagi semua bangsa.

Bagaimana dengan kita? Berapa sering kita menyelidiki Kitab Suci kita? Atau jangan-jangan kita hanya membaca Alkitab pada saat hari minggu saja di Gereja? Kalau kita sendiri jarang membaca Kitab Suci, bagaimana kita dapat memiliki iman yang baik? Kalau kita tidak memiliki iman, bagaimana kita dapat bertahan di tengah-tengah dunia ini? Membaca Kitab Suci juga bermanfaat agar kita tidak terpengaruh akan ajaran-ajaran yang sesat atau yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan (tidak alkitabiah). Tuhan Yesus mengingatkan kita agar kita waspada terhadap nabi-nabi palsu (Mat 7:15). Di akhir zaman ini juga akan semakin banyak nabi palsu yang menyesatkan orang (Mat 24:11). Satu-satunya cara agar kita tidak disesatkan adalah dengan memiliki iman yang teguh dengan cara menyelidiki Kitab Suci. Bukan berarti kita sombong, tetapi kita juga perlu mengkritisi Firman yang kita terima. Jangan menerima Firman Tuhan mentah-mentah, tetapi selidikilah apakah memang tertulis seperti itu di Alkitab. Bahkan jika perlu, saya akan sangat senang sekali jika ada yang mengkritisi tulisan saya apabila ada yang dirasa kurang pas dengan apa yang tertulis dalam Alkitab. Mari mulai hari kita menjadi orang-orang percaya yang terbuka terhadap penyampaian Firman Tuhan, namun tetap kritis agar kita tidak disesatkan, terlebih di masa-masa akhir zaman seperti saat ini.

Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 17:10-12

17:10 Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di situ pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi.

17:11 Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.

17:12 Banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani.

Iman Percaya Abraham

Kamis, 13 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Kejadian 15:1-6

“Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Kej 15:6)


Iman Percaya Abraham

Sejak kecil, saya diajarkan bahwa Abraham adalah Bapa dari segala orang beriman. Abraham merupakan salah satu nabi yang diakui tiga agama sekaligus, Yahudi, Kristen, dan Islam. Dan hebatnya lagi, dalam ketiga agama tersebut pun, Abraham tetap dianggap sebagai Bapa orang beriman. Tentunya ada sesuatu yang hebat dalam kehidupan Abraham, terutama tentang iman Abraham, yang salah satunya akan kita renungkan hari ini.

Iman Abraham pertama kali terlihat ketika Tuhan memanggil Abraham (dulu masih bernama Abram) dari tanah kelahirannya untuk pergi ke tanah yang akan ditunjukkan Tuhan (Kej 12:1). Padahal dalam ayat tersebut, Tuhan masih belum menyebutkan dengan spesifik tujuan Abraham, tanah itu baru akan ditunjukkan Tuhan ketika Abraham mau untuk pergi. Selain itu Tuhan juga menjanjikan Abraham akan menjadi bangsa yang besar (Kej 12:2), padahal saat itu Abraham dan isterinya masih belum memiliki anak walaupun usia Abraham saat itu sudah mencapai 75 tahun (Kej. 12:4).

Dalam perjalanannya mengiring Tuhan, ternyata Tuhan tidak langsung memberikan tanah tersebut kepada Abraham. Abraham pernah mengungsi ke Mesir karena kelaparan yang melanda tanah itu. Jika saya membayangkan diri saya ada dalam posisi Abraham, mungkin saat itu juga saya menyerah untuk berharap. Tapi tidak dengan Abraham, ia terus mempercayai Tuhan, walaupun mungkin keadaan masih belum seperti apa yang Tuhan janjikan kepadanya.

Saya rasa, dalam bacaan kita hari ini, Abraham digambarkan sedikit goyah, walaupun secara iman, ia masih tetap percaya akan janji-janji Allah. Kalau dikira-kira berdasarkan umur Abraham ketika Ismael lahir yaitu 86 tahun (Kej 16:16), mungkin saat itu sudah sepuluh tahun berlalu sejak ia meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi mengikut Tuhan. Selama sepuluh tahun itu pula Abraham masih belum menerima tanah yang dijanjikan Tuhan. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, Abraham juga masih belum memiliki anak. Mungkin saat itu Abraham pun berpikir, “Okelah kalau tanah mungkin Tuhan bisa kasih, tetapi kalau nggak ada anak, ya buat apa tanah seluas beribu-ribu hektar…” Saat itu, Abraham seakan-akan sudah memiliki “rencana B” yaitu membiarkan Eliezer, hambanya menjadi ahli warisnya, jika ternyata “rencana A” milik Tuhan tidak terlaksana.

Namun di saat Abraham mulai terlihat sedikit goyah, Firman Allah datang kepada Abraham. Allah selalu datang tepat waktu di saat Abraham membutuhkan sedikit suntikan semangat dari Tuhan. Tuhan kembali menegaskan bahwa walaupun Abraham mengusulkan “rencana B”, tetapi dalam pandangan Tuhan, “rencana A” adalah rencana yang terbaik bagi Abraham. Sehingga, dalam ayat 1 kita dapat melihat bahwa ada tiga hal penting yang Tuhan katakan kepada Abraham:

Pertama, jangan takut. Ketika kita mulai merasa takut, itu berarti kita mulai tidak percaya kepada Tuhan. Tuhan berfirman “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yer 41:10)

Kedua, Allah adalah perisai kita. Perisai berguna untuk melindungi kita dari segala macam hal yang tidak baik, termasuk dari si Jahat (Mzm 3:4, Ef 6:16). Ketika Allah menjadi perisai kita, itu berarti semua kehidupan kita ada dalam perlindungan dan penyertaan Allah senantiasa.

Ketiga, Allah memberikan upah yang besar. Upah yang besar ini tentunya diberikan kepada mereka yang percaya, sama seperti Tuhan menjanjikan upah kepada Abraham. Alkitab mengatakan agar kita juga jangan sampai melepaskan iman percaya kita, karena ada upah besar yang menanti kita di Surga (Ibr 10:35).

Dalam ayat selanjutnya (ay. 4), Tuhan kembali menegaskan bahwa anak kandung Abraham yang akan menjadi pewaris Abraham, bukan Eliezer, hamba Abraham. Bahkan Tuhan pun menjanjikan bahwa keturunannya akan banyak jumlahnya seperti bintang-bintang (ay. 5). Padahal waktu itu apa yang dijanjikan Tuhan sebelumnya (tanah dan anak) belum terlaksana, tetapi Abraham tetap percaya terhadap janji Tuhan yang baru ini (keturunan yang banyak). Luar biasa, mungkin jika saya berada di posisi Abraham, saya akan berkata kepada Tuhan, “Ah Tuhan, janji yang kemarin saja belum terjadi, masa sudah janji yang lain lagi sih…” Tetapi Abraham berbeda, ia percaya sepenuhnya akan janji Allah, dan Allah pun memperhitungkan sebagai kebenaran. Bahkan, sebagai dampak dari iman percayanya, nama Abraham pun disebutkan dalam daftar saksi-saksi iman (Ibr 11:8-12).

Semuanya itu berangkat dari iman percaya Abraham yang total kepada Allah. Dalam konteks hari ini, bagaimana cara kita dapat memiliki iman seperti itu? Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika kita memiliki iman sebesar biji sesawi saja, kita dapat memindahkan gunung (Mat 17:20). Tetapi tentunya kita tidak boleh hanya memiliki iman yang sebesar biji sesawi saja, iman kita harus kita tumbuhkan sehingga biji sesawi itu pun dapat tumbuh menjadi pohon iman yang besar (Mat 13:32). Bagaimana caranya? Rasul Paulus mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus (Rm 10:17). Jadi marilah kita belajar untuk semakin percaya sepenuhnya kepada Allah, sama seperti Abraham yang percaya kepada Allah, kita pun juga harus semakin bertumbuh dalam iman percaya kita.

Bacaan Alkitab: Kejadian 15:1-6

15:1 Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar."

15:2 Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu."

15:3 Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku."

15:4 Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu."

15:5 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."

15:6 Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

Rabu, 12 Oktober 2011

Standar yang Benar

Rabu, 12 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Imamat 19:35-37

“Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan, mengenai ukuran, timbangan dan sukatan.” (Im 19:35)


Standar yang Benar


Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul pada pasal 19 dari Kitab Ulangan ini dengan kalimat “Kudusnya umat Tuhan”. Kalau kita membaca seluruh ayat dalam pasal 19 ini, dapat kita simpulkan bahwa Tuhan ingin bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan, berani tampil beda dengan bangsa-bangsa di sekitarnya. Tuhan ingin agar umat pilihanNya tidak mengikuti cara-cara dunia, tetapi umat pilihanNya harus mampu mempengaruhi dunia dengan cara-caranya Tuhan.

Di zaman sekarang ini, banyak hal yang telah diputarbalikkan. Banyak orang yang curang, dan sedihnya lagi, kecurangan biasanya dimulai saat di sekolah. Murid terbiasa mencontek, bahkan beberapa waktu yang lalu, ada keluarga yang melaporkan praktek mencontek massal di sekolah justru dimusuhi oleh warga lainnya. Mencontek dan berbuat curang sepertinya sudah menjadi hal yang biasa di masyarakat saat ini.

Tapi dalam ayat kita kali ini, Tuhan melarang umatNya untuk berbuat curang. Tuhan ingin agar kita sebagai umatNya juga berani tampil beda. Walaupun sekitar kita curang, tetapi kita harus belajar untuk hidup jujur. Alkitab mengatakan kita tidak boleh berbuat curang dalam beberapa hal, yaitu:

Pertama, tidak berbuat curang dalam hal peradilan. Seharusnya yang peradilan adalah menghukum yang salah dan membela yang benar, tetapi kenyataannya sering kali justru yang dibela adalah orang-orang yang kaya, yang memiliki harta. Orang miskin ditindas walau benar. Alkitab mengatakan agar kita tidak memutarbalikkan keadilan (Ul 16:19).

Kedua, tidak berbuat curang dalam hal ukuran, neraca, dan sukatan. Hal ini biasanya berbicara dalam konteks berdagang atau dalam konteks kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita yang berdagang menggunakan timbangan yang tidak benar. Kita mengatakan bahwa kita menjual gula 1 kilogram, tetapi kenyataannya hanya berisi 900 gram. Kita mengatakan bahwa biaya yang kita keluarkan adalah Rp1 juta, tetapi kenyataannya hanya Rp500 ribu, sisanya masuk kantong pribadi kita. Atau ketika bos kita bertanya kepada kita tentang pekerjaan apa saja yang sudah kita kerjakan, tetapi kita malah melebih-lebihkan, atau mengakui pekerjaan orang lain sebagai pekerjaan kita. Hal itu pun juga termasuk dalam konteks curang bukan?

Tuhan ingin agar kita menggunakan standar yang benar, yaitu sesuai dengan standar Allah. Allah tidak pernah curang, ia menghukum orang yang salah dan membela orang yang benar. Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan diukurkan juga kepada kita (Luk 6:38b). Kalau kita sendiri sudah tidak jujur dan berbuat curang dalam hal-hal kecil di kehidupan kita, jangan salahkan Tuhan jika kita sendiri mengalami perlakuan curang dari orang lain. Apa yang kita tabur, itulah juga yang akan kita tuai (Gal 6:7).

Tuhan kita adalah Tuhan yang mulia, Tuhan yang perkasa, Tuhan yang telah membawa bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (ay. 26b), dan Tuhan yang sama adalah Tuhan yang kita sembah saat ini. Jadi kalau Tuhan kita adalah Tuhan yang adil, bagaimana kita bisa menyebut diri kita adalah anak-anak Tuhan jika kita bersikap tidak adil dan tidak jujur bahkan dalam hal-hal sederhana? Mungkin bagi kita yang berbisnis, ada kekhawatiran bahwa jika kita bersikap jujur, maka kita tidak akan mungkin mendapat keuntungan yang sama dengan orang lain yang berbuat curang. Tetapi saya yakin bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan kepada orang yang jujur (Ams 2:7). Bagian kita adalah berlaku dengan jujur dan tidak curang, sehingga dengan demikian, kita dapat memuliakan nama Tuhan.



Bacaan Alkitab: Imamat 19:35-37

19:35 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan, mengenai ukuran, timbangan dan sukatan.

19:36 Neraca yang betul, batu timbangan yang betul, efa yang betul dan hin yang betul haruslah kamu pakai; Akulah TUHAN, Allahmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir.

19:37 Demikianlah kamu harus berpegang pada segala ketetapan-Ku dan segala peraturan-Ku serta melakukan semuanya itu; Akulah TUHAN."

Multi Level Sin

Selasa, 11 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 5:16-20

“Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.” (1 Yoh 5:17)


Multi Level Sin


Ada dua orang bermain tebak-tebakan. “Hewan apa yang haram?” tentunya orang yang ditanya akan menjawab “Babi”. Kemudian orang tersebut bertanya lagi “Apa yang lebih haram daripada babi?”. Lalu orang yang satunya menjawab “Babi yang sedang hamil, karena babi tersebut sedang mengandung babi, jadinya haramnya dobel”. Tapi orang yang memberi pertanyaan masih belum puas, ia lalu bertanya “Apa yang lebih haram daripada babi yang sedang mengandung babi?”. Setelah berpikir agak lama, orang satunya menjawab, “Babi yang sedang hamil tetapi tanpa ayah, karena selain babinya sudah haram, ditambah lagi mengandung babi, ditambah lagi bayi babi tersebut adalah anak haram karena tidak ada ayahnya, jadinya haramnya tripel”.

Ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa segala hal ada tingkatannya. Jika haramnya babi saja ada tingkatannya, bagaimana dengan dosa? Memang di dalam Alkitab tidak disebutkan secara eksplisit bahwa ada dosa yang bertingkat, tetapi dalam ayat 16-17 bacaan kita hari ini, disebutkan bahwa ada dosa yang tidak mendatangkan maut. Semua dosa tentunya tidak menyenangkan hati Tuhan, itu benar. Tetapi dosa sendiri pun ada tingkatan-tingkatannya. Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa ada dosa yang tak terampuni yaitu dosa menghujat Roh Kudus (Mrk 3:29 dan Luk 12:10).

Setiap dosa adalah tetap dosa di hadapan Allah. Tapi jangan sampai kita melakukan dosa bertingkat alias multi level sin. Salah satu contohnya ada Firman Tuhan yang mengatakan “Jangan mencuri” (Kel 20:15). Mencuri apapun adalah dosa, tetapi menurut saya, mencuri di gereja tentunya adalah dosa yang lebih besar. Salah satu contohnya lagi ada Firman Tuhan yang mengatakan “Jangan berzinah” (Kel 20:14). Berzinah dengan siapapun adalah dosa, tetapi menurut saya, berzinah dengan orang yang tidak seiman tentunya adalah dosa yang lebih besar. Jika seseorang berzinah dengan orang yang seiman, andaikata mereka berdua belum menikah tentunya mereka dapat dinikahkan. Tetapi bagaimana jika orang tersebut berzinah dengan orang yang tidak seiman? Andai mereka berdua belum menikah pun mereka tidak dapat dinikahkan (2 Kor 6:14). Terlebih jika orang tersebut telah memiliki isteri/suami tetapi berzinah dengan orang yang tidak seiman, tentunya dosanya sudah menjadi tiga kali lipat.

Jadi jika demikian, bolehkah kita melakukan dosa yang sederhana? Toh kita cuma melakukan dosa-dosa kecil saja, dan nggak mungkin sampai melakukan dosa besar… Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, setiap dosa itu mendukakan hati Tuhan. Jika kita telah lahir baru, maka seharusnya kita sudah tidak berbuat dosa lagi (ay. 18). Kita pun harus mati bagi dosa, tetapi hidup bagi Allah (Rm 6:11).

Saya tidak tahu apakah anda pernah melakukan dosa yang besar, mungkin dosa yang dobel, atau bahkan yang tripel, atau mungkin lebih hingga empat atau lima kali lipat. Tetapi satu hal yang Alkitab katakan adalah bahwa ketika kita mengaku dosa kita, Tuhan adalah setia dan adil, dan Tuhan akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yoh 1:9). Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Tuhan akan mengampuni segala dosa kita, berarti apapun tingkatan dosa kita, sepanjang kita mau mengakuinya di hadapan Tuhan, dan meminta ampun atas segala dosa-dosa kita. Apakah multi level sin kita masing-masing? Hanya kita dan Tuhan yang tahu, tetapi marilah kita belajar untuk hidup lebih kudus lagi, agar hidup kita menjadi sempurna dan tak bercela.

Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 5:16-20

5:16 Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.

5:17 Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.

5:18 Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.

5:19 Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.

5:20 Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.

Bejana di Tangan Tukang Periuk

Senin, 10 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Yeremia 18:1-17

“Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (Yer 18:6)

Bejana di Tangan Tukang Periuk


Saya rasa semua di antara kita pernah belajar menggambar ketika kita masih duduk di sekolah dasar. Saat itu biasanya kita membuat sketsa dengan menggunakan pensil, sebelum akhirnya diwarnai. Apa yang kita lakukan saat gambar yang kita buat ternyata hasilnya kurang bagus atau tidak sesuai dengan harapan kita? Tentunya tergantung dengan gambar yang kita buat. Jika kita masih menggunakan pensil, dengan mudah kita dapat menghapusnya dan memulai gambar yang baru. Tetapi ketika gambar yang kita buat sudah diwarnai atau sudah hampir jadi tetapi ternyata hasilnya kurang bagus, tentunya kita akan membuangnya dan membuat gambar yang baru lagi.

Ilustrasi di atas mirip dengan gambaran Tuhan sebagai tukang periuk yang tertulis dalam bacaan kita hari ini. Kepada nabi Yeremia, Tuhan mengatakan bahwa tukang periuk akan melakukan apa saja asalkan bejana yang sedang dikerjakannya menjadi bejana yang terbaik (ay. 4). Dan dalam hal ini, Tuhan mengibaratkan bangsa Israel sebagai bejana yang sedang dibentuk menurut cara Tuhan. Tentunya apabila Tuhan bertindak sebagai tukang periuk, pastinya Tuhan akan menjadi seorang tukang periuk yang terbaik, yang akan menghasilkan bejana yang terbaik juga. Tuhan ingin membuat bejana yang sempurna, karena Tuhan adalah tukang periuk yang sempurna juga (Mat 5:48).

Sebagai tukang periuk, tentunya Tuhan punya hak prerogatif untuk membuat periuk atau bejana sesuai dengan kehendaknya. Dalam ayat 7 sampai 11 dikatakan bahwa mungkin awalnya Tuhan berencana untuk membinasakan suatu bangsa karena dosa-dosanya, namun ketika bangsa tersebut akhirnya bertobat dari kejahatannya, maka Tuhan pun dapat menyesal dan memberi kesempatan kepada bangsa tersebut. Salah satunya adalah kota Niniwe, dimana awalnya Tuhan berencana untuk membinasakan kota Niniwe tersebut, tetapi karena mereka bertobat karena seruan nabi Yunus, maka akhirnya Tuhan tidak jadi melakukan rencananya untuk membinasakan kota Niniwe tersebut (Yun 3:10).

Di lain pihak, bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah, dan Allah telah berjanji untuk memberkati bangsa Israel. Tuhan telah memilih bangsa Israel dari bangsa-bangsa lainnya untuk menjadi bangsa pilihan Allah, dan itu merupakan hak prerogatif Allah. Tuhan sendiri yang memilih Abraham dan keturunannya, Ishak dan keturunannya, Yakub dan keturunannya, untuk menjadi suatu bangsa yang dipilih Allah. Tuhan menyertai bangsa Israel di padang gurun, memberikan manna setiap hari, bahkan menolong bangsa Israel melawan bangsa-bangsa lainnya di Kanaan. Tapi ketika bangsa Israel akhirnya berbalik daripada Tuhan, Tuhan pun sanggup menyiapkan rencana malapetaka bagi bangsa Israel, bangsa pilihan Tuhan (ay. 11). Tuhan tidak segan-segan mendatangkan malapetaka kepada bangsa pilihanNya ketika bangsa pilihanNya tersebut tidak berbalik dari jalan-jalannya yang jahat.

Tentunya hal ini pun tetap berlaku kepada kita di zaman sekarang ini. Di satu sisi memang Tuhan menjanjikan berkat yang melimpah kepada setiap orang yang percaya kepadaNya, tetapi di satu sisi ada ancaman malapetaka yang akan menimpa kita ketika kita meninggalkan Tuhan. Jika kita membaca dalam kitab Ulangan 28:1-46, berkat Tuhan dan kutuk dari Tuhan ditulis berdampingan. Jika dibandingkan jumlah ayatnya, berkat Tuhan ditulis dalam 14 ayat, sementara kutuk Tuhan ditulis 32 ayat. Jumlah ayat mengenai kutuk lebih dari dua kali jumlah ayat mengenai berkat. Ini tentunya harus membuat kita berhati-hati untuk tidak menyimpang dari jalan Tuhan.

Apakah saat ini kita sedang menyimpang dari jalan Tuhan? Apakah saat ini kita sedang jatuh ke dalam dosa yang mendukakan hati Tuhan? Sesungguhnya ketika kita bertobat dan berbalik dari jalan-jalan kita yang jahat, Tuhan akan mendengar dan mengampuni dosa kita (2 Taw 7:14). Selagi masih ada kesempatan, mari kita berusaha untuk bertobat dan meminta Tuhan untuk memulihkan kita (1 Yoh 1:9). Seperti bejana di tangan periuk, mari kita minta Tuhan untuk membentuk kita menjadi apa yang Tuhan inginkan. Kadang kita tidak mengerti apa maksud Tuhan ketika Ia membentuk hidup kita. Tetapi satu hal yang kita harus percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana yang terindah, walau mungkin hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan (Yer 29:11).

Bacaan Alkitab: Yeremia 18:1-17

18:1 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:

18:2 "Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu."

18:3 Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan.

18:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

18:5 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya:

18:6 "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!

18:7 Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya.

18:8 Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka.

18:9 Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanam mereka.

18:10 Tetapi apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka.

18:11 Sebab itu, katakanlah kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem: Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku ini sedang menyiapkan malapetaka terhadap kamu dan merancangkan rencana terhadap kamu. Baiklah kamu masing-masing bertobat dari tingkah langkahmu yang jahat, dan perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu!

18:12 Tetapi mereka berkata: Tidak ada gunanya! Sebab kami hendak berkelakuan mengikuti rencana kami sendiri dan masing-masing hendak bertindak mengikuti kedegilan hatinya yang jahat."

18:13 Sebab itu beginilah firman TUHAN: "Cobalah tanyakan di kalangan bangsa-bangsa: siapakah yang telah mendengar hal seperti ini? Anak dara Israel telah melakukan hal-hal yang sangat ngeri!

18:14 Masakan salju putih akan beralih dari gunung batu Siryon? Masakan air gunung akan habis; air yang sejuk dan mengalir?

18:15 Tetapi umat-Ku telah melupakan Aku, mereka telah membakar korban kepada dewa kesia-siaan; mereka telah tersandung jatuh di jalan-jalan mereka, yakni jalan-jalan dari dahulu kala, dan telah mengambil jalan simpangan, yakni jalan yang tidak diratakan.

18:16 Maka mereka membuat negerinya menjadi kengerian menjadi sasaran suitan untuk selamanya. Setiap orang yang melewatinya akan merasa ngeri, dan akan menggeleng-gelengkan kepalanya.

18:17 Seperti angin timur Aku akan menyerakkan mereka di depan musuhnya. Belakang-Ku akan Kuperlihatkan kepada mereka dan bukan muka-Ku pada hari bencana mereka."

Jangan Lemah

Minggu, 9 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: 1 Petrus 5:8-11

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Pet 5:8)

Jangan Lemah

Mungkin kita pernah menonton tayangan di televisi tentang kehidupan satwa di Afrika. Saya waktu itu pernah melihat tayangan dokumenter bagaimana seekor singa berburu kawanan rusa, zebra, atau banteng liar. Singa-singa tersebut biasanya akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengamati mangsa mana yang terlihat lemah. Singa memilih menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih mangsa, dibandingkan dengan waktu sekitar lima menit yang dibutuhkan untuk mengejar dan menangkap mangsanya tersebut.

Demikian juga dengan iblis. Iblis selalu mengincar orang-orang percaya yang lemah, yang akan menjadi mangsanya. Oleh karena itulah Rasul Petrus mengingatkan orang percaya untuk sadar dan berjaga-jaga (ay. 8). Seorang pencuri tentu saja akan berpikir dua kali apabila daerah yang diincarnya untuk melakukan aksinya ternyata penuh dengan orang yang bertugas ronda. Demikian juga iblis, ketika orang percaya berjaga-jaga, dan Allah mengirimkan malaikat-malaikatNya untuk menjaga kita, tentunya Iblis juga akan berpikir untuk menyerang kita. Walaupun demikian, iblis tentu tidak akan mundur begitu saja, tetapi ia akan terus berusaha mencari celah untuk bisa menyerang kita.

Bagaimana kita dapat melawan iblis? Salah satunya kita harus memiliki iman yang teguh (ay. 9). Dalam bagian lain, Paulus mengatakan agar kita selalu mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (Ef 6:10-18). Dalam bagian tersebut, dikatakan bahwa salah satu perlengkapan senjata Allah adalah perisai iman, dan dengan perisai tersebut kita akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat alias iblis (Ef 6:16). Jadi iman kita kepada Tuhan sangat penting agar kita dapat melawan iblis. Bagaimana cara kita agar memiliki iman yang mampu melawan iblis? Tentu tidak ada cara lain selain membiarkan iman kita bertumbuh, dan iman yang bertumbuh itu pun hanya dapat terjadi ketika kita rajin mendengar Firman (Rm 10:17). Dengan membaca Firman Tuhan dengan rutin, tentunya iman kita akan semakin bertumbuh. Dalam Efesus 6:17, dikatakan pula bahwa salah satu senjata yang harus kita miliki adalah pedang Roh, yaitu Firman Allah. Dengan kata lain, Firman yang kita dengar, kita baca, kita renungkan, dan kita aplikasikan dalam kehidupan kita, tidak hanya bersifat pasif sebagai perisai iman yang melindungi kita dari panah api iblis, tetapi di sisi lain Firman tersebut juga mampu menjadi pedang yang memungkinkan kita untuk menyerang dan melawan iblis.

Tidak hanya kita, semua orang percaya pasti mendapat serangan dari iblis yang bertujuan untuk menjatuhkan iman kita, walaupun tentunya dengan porsi yang berbeda-beda bagi setiap orang. Kalau Yesus saja dicobai iblis, apalagi kita? Kita sebagai murid Tuhan, tentunya tidak mungkin untuk tidak mengalami apa yang Yesus alami. Seorang murid tidak akan lebih daripada gurunya (Mat 10:24). Tetapi dalam ayat 10 dan 11 dari bacaan kita hari ini, Tuhan berjanji bahwa Allah akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita. Tuhan tidak pernah menjanjikan kehidupan kita akan bebas dari cobaan iblis, tetapi Tuhan menjanjikan bahwa Ia akan menguatkan kita senantiasa, sekalipun kita harus menderita sementara akibat serangan iblis.

Bacaan Alkitab: 1 Petrus 5:8-11

5:8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

5:9 Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.

5:10 Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.

5:11 Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.