Selasa, 20 Mei 2014

Privasi dengan Tuhan (2): Berdoa



Selasa, 20 Mei 2014
Bacaan Alkitab: Matius 6:5-15
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Mat 6:6)


Privasi dengan Tuhan (2): Berdoa


Bagian kedua terkait dengan privasi antara kita dengan Tuhan yaitu mengenai doa atau hal berdoa. Orang Yahudi pada zaman Yesus hidup juga sering melakukan kesalahan dalam berdoa. Hal inilah yang dikritik dan ditegur Yesus melalui ucapanNya pada bagian bacaan Alkitab kita hari ini. Orang Yahudi pada saat itu cenderung suka berdoa di tempat-tempat umum, dengan cara yang menarik perhatian orang lain, misalnya dengan menengadahkan tangan di tempat-tempat strategis yang mudah terlihat orang, atau berdoa dengan suara keras-keras. 

Sebenarnya Tuhan Yesus tidak mengkritik cara berdoa kebanyakan orang Yahudi. Apa yang dikritik Tuhan adalah sikap munafik yang dilakukan oleh kebanyakan orang Yahudi (para pemuka agama) pada waktu itu. Mereka suka berdoa denganberdiri di tempat-tempat strategis agar dilihat dan dipuji orang (ay. 5a). Sama seperti dengan hal memberi, Tuhan Yesus berkata bahwa orang-orang seperti itu sudah menerima upahnya (ay. 5b). Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa ketika kita berdoa sebaiknya kita berdoa di dalam kamar, dengan menutup pintu, agar doa kita didengarkan oleh Bapa kita (ay. 6).

Hal tersebut bukan berarti kita tidak boleh berdoa bersama-sama dengan orang lain. Kita tentu harus berdoa bersama-sama di gereja atau di persekutuan, atau dalam kondisi-kondisi tertentu. Tetapi yang lebih penting lagi adalah motivasi kita dalam berdoa, yaitu agar kita tidak berdoa agar dipuji orang, tetapi tujuan utama kita adalah agar doa kita didengar Tuhan. Bahkan selain mengajarkan agar kita berdoa di tempat tersembunyi, Tuhan Yesus juga mengajar kita suatu konsep doa yang sangat luar biasa, yang kita lebih kenal dengan nama “Doa Bapa Kami” (ay.9-15).

Walaupun demikian, ada sejumlah orang Kristen yang salah menangkap makna atau esensi dari Doa Bapa Kami ini. Mereka menjadikannya hanya sebagai hafalan semata atau suatu doa yang harus sering diulang-ulang setiap saat. Padahal Tuhan ingin agar kita berdoa dengan motivasi yang benar. Doa Bapa Kami harus dimaknai sebagai suatu contoh doa dengan prinsip-prinsip yang benar, antara lain yang memuliakan Bapa (ay. 9), meminta kehendak Bapa terjadi dalam kehidupan kita (ay. 10), bahkan meminta hal-hal yang cukup (bukan berkelimpahan) dalam hidup kita (ay. 11). Ini suatu konsep doa yang luar biasa, dan konsep ini yang harus kita lakukan dan aplikasikan dalam doa-doa pribadi kita kepada Tuhan, bukan hanya sekedar mengulang kata-kata yang sama dari Doa Bapa Kami.

Ingatlah bahwa bukan dari banyaknya kata-kata atau banyaknya pengulangan doa maka doa kita dikabulkan (ay. 7). Banyak agama lain di luar agama Kristen mengajarkan bahwa doa-doa yang diulang-ulang secara terus menerus hingga 100 kali bahkan lebih, maka hal itu akan mampu menjadi suatu doa yang akan dijawab oleh Tuhan. Namun Alkitab tidak pernah mengajarkan seperti itu. Kita harus menyadari bahwa Tuhan kita sudah mengerti apa yang menjadi keperluan kita bahkan sebelum kita berdoa dan meminta kepadaNya (ay. 8). Oleh karena itu, menurut pendapat saya, doa yang benar bukan saja hanya doa yang dijawab oleh Tuhan, tetapi doa yang benar adalah doa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kalau doa kita sudah sesuai dengan kehendak Tuhan, mau doa kita dijawab atau tidak dijawab sekalipun, tidak akan menjadi masalah bagi kita. Bukankah Yesus sendiri juga memiliki doa yang tidak dijawab oleh Allah Bapa ketika ia berdoa di taman Getsemani?

Kita harus belajar memiliki suatu privasi dalam doa-doa pribadi kita, khususnya doa-doa terkait pergumulan pribadi kita. Jangan pernah kita berdoa agar orang lain memuji kata-kata doa kita yang terdengar indah, padahal doa kita tidak berkuasa karena kita lebih fokus terhadap kata-kata doa kita dibandingkan dengan fokus kepada Tuhan yang mendengarkan doa kita. Belajarlah dari Tuhan Yesus, ketika ia berdoa pagi-pagi benar, ia berdoa sendirian tanpa murid-muridNya (Mrk 1:35). Bahkan ketika menaikkan doaNya di taman Getsemani, Yesus berdoa sendiri meninggalkan murid-muridNya yang tertidur (Mat 26:36-39). Doa yang dilakukan dengan motivasi yang benar, akan menjadi doa yang berkenan di hadapan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Matius 6:5-15
6:5 "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.
6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

Senin, 19 Mei 2014

Privasi dengan Tuhan (1): Memberi



Senin, 19 Mei 2014
Bacaan Alkitab: Matius 6:1-4
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Mat 6:4)


Privasi dengan Tuhan (1): Memberi


Apa yang dimaksud dengan privasi? Privasi secara sederhana dapat dikatakan sebagai sesuatu hal yang bukan merupakan konsumsi publik. Suatu hal yang bersifat privasi berarti adalah hal yang tidak dapat dilihat atau dinikmati oleh banyak orang selain orang-orang tertentu yang memang berhak atau diijinkan untuk melihat dan menikmatinya. Contoh paling baik dari privasi ini adalah hubungan suami isteri, yang memang hanya boleh dilakukan oleh suami dan isteri yang sah, dan seharusnya tidak boleh menjadi konsumsi publik alias dilihat oleh orang lain atau dilakukan dengan orang lain.

Dalam Alkitab, Tuhan pun menggambarkan hubungan antara Tuhan dengan jemaatNya bagaikan suami dan isterinya. Beberapa kali jemaat Tuhan digambarkan sebagai mempelai perempuan yang harus selalu siap sedia menyongsong kedatangan sang mempelai pria, yaitu Tuhan sendiri. Dalam Alkitab, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan secara privasi dengan Tuhan, artinya hal yang kita lakukan bukan merupakan konsumsi publik melainkan harus menjadi urusan kita antara kita dengan Tuhan secara pribadi.

Hal pertama yang harus kita jaga privasinya adalah tentang bersedekah atau memberi. Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang “kritikan” Yesus mengenai kebiasaan kebanyakan orang-orang Yahudi pada waktu itu, yaitu  mereka suka memberi dengan memamerkan kepada orang lain. Orang Yahudi pada waktu itu memiliki kecenderungan untuk memberikan persembahan di rumah ibadat dengan kebiasaan yang unik, yaitu sebelum memberi mereka mencanangkan pemberian mereka (ay. 2a). Mereka bahkan mencanangkan dengan suara keras sehingga orang lain bisa mendengarnya. Sangat mungkin pada waktu itu orang yang mendengarkan “pencanangan pemberian” tersebut akan memuji orang-orang yang mencanangkan pemberian dalam jumlah yang besar. Yesus berkata dengan sangat keras mengenai hal tersebut: “Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya” (ay. 2b).

Ketika kita memberi sesuatu bagi sesama kita apalagi ketika kita memberi bagi Tuhan, maka saya sangat percaya Tuhan pasti melihat pemberian kita. Jangankan dalam ajaran Kristiani, dalam agama manapun di dunia, ketika kita memberi kepada sesama, kepada orang yang membutuhkan, bahkan kepada Tuhan, maka Tuhan pasti mencatat perbuatan kita tersebut. Namun demikian, jika kita memberi dengan motivasi yang salah, yaitu agar kita dipuji orang, maka di hadapan Tuhan upah kita tersebut sebenarnya sudah kita terima, yaitu pujian dari orang lain. Oleh karena itu Tuhan mengajarkan kepada kita agar ketika kita memberi (baik dalam hal memberi sedekah maupun memberi persembahan kepada Tuhan), kita melakukannya dengan cara yang benar. Tidak perlu orang lain mengetahui berapa jumlah yang kita berikan. Dalam bahasa kiasan, Tuhan Yesus bahkan mengatakan agar tangan kiri kita tidak perlu mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanan kita (ay. 3).

Sayangnya, banyak orang Kristen masih belum mengerti prinsip ini. Contoh paling mudah, berapa banyak ketika kita memberikan persembahan persepuluhan di gereja, atau persembahan lainnya dalam rangka pelayanan pekerjaan Tuhan, kita mencantumkan nama lengkap kita? Padahal kita tahu bahwa gereja akan menerbitkan laporan penerimaan persembahan dan nama kita akan tercantum di buletin gereja atau laporan persembahan tersebut. Apa motivasi kita melakukan hal tersebut? Jika kita melakukannya hanya agar orang lain mengetahui berapa jumlah persembahan yang kita berikan, maka sesungguhnya kita sudah menerima upah kita dan Tuhan tidak akan berkenan kepada persembahan kita.

Jika kita ingin agar penerimaan persembahan kita dapat dilacak misalnya, kita cukup memberikan kode nama kita atau kode apapun yang kita ingin tuliskan. Misal nama saya Randite, saya cukup memberi inisial Rd atau bahkan inisial lain yang tidak berhubungan dengan nama saya dalam amplop persembahan. Bahkan saya cenderung lebih suka tidak menulis kode atau inisial apapun dalam amplop persembahan saya. Yang terpenting Tuhan tahu bahwa saya sudah memberi kepada Tuhan. Urusan apakah persembahan saya “ditilep” atau “disalahgunakan” oleh pihak yang mengelola persembahan, itu adalah urusan mereka dengan Tuhan. Bagian saya hanyalah memberi apa yang menjadi kewajiban saya kepada Tuhan, atau memberi apa yang saya ingin berikan kepada Tuhan.

Memang tidak mudah, terlebih beberapa suku atau daerah pada umumnya terbiasa untuk menuliskan nama dalam amplop yang kita berikan (misal amplop yang kita berikan pada saat pernikahan kerabat kita). Akan tetapi, mari kita berusaha minimal ketika kita memberikan persembahan bagi Tuhan, kita memberikan dengan tersembunyi (ay. 4), dengan motivasi yang benar, yaitu bukan agar kita dipuji Tuhan, tetapi agar persembahan kita berkenan di hadapan Tuhan (ay. 1).


Bacaan Alkitab: Matius 6:1-4
6:1 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Rabu, 05 Februari 2014

Tanda-tanda Hari Kedatangan Tuhan



Rabu, 5 Februari 2013
Bacaan Alkitab: Lukas 17:20-35
Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. (Luk 17:26-27)


Tanda-tanda Hari Kedatangan Tuhan


Bicara tentang hari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, sudah cukup banyak pembahasan yang disampaikan oleh para hamba-hamba Tuhan, bahkan yang disampaikan oleh orang-orang awam. Bahkan ada yang berusaha menghitung (dengan menggunakan cara dan metode-metode tertentu) untuk menentukan tanggal berapa Tuhan akan datang kembali. Kenyataannya semua prediksi itu tidak ada yang tepat, karena memang hanya Allah Bapa sendiri yang tahu kapan waktu tersebut akan tiba (Mat 24:36). Walaupun demikian, Tuhan Yesus sendiri menyampaikan Firman Tuhan yang spesial tentang tanda-tanda hari kedatangan Tuhan tersebut. Oleh karena itu, kita harus bijaksana dalam melihat tanda-tanda tersebut. Jangan menjadi sok pintar dengan menghitung-hitung hari, tetapi belajarlah dari tanda-tanda yang ada agar hari Tuhan itu tidak datang seperti pencuri tetapi kita boleh siap sedia menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali.

Firman Tuhan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ini secara khusus disampaikan kepada murid-muridNya (ay.22), padahal jika kita membaca 2 ayat sebelumnya, Yesus baru saja menjawab pertanyaan orang Farisi mengenai kapan kerajaan Allah akan datang (ay. 20-21). Hal ini menunjukkan bahwa tanda-tanda kedatangan Tuhan ini bukan sesuatu yang dapat dilihat dan dipahami oleh orang-orang di luar Tuhan. Meskipun orang-orang di luar Tuhan tersebut mungkin sudah membaca Alkitab dan ayat-ayat terkait kedatangan Tuhan tersebut tetapi hanya murid-murid Tuhan yang dapat mengerti tanda-tandanya yaitu sebagai berikut:

Pertama, akan timbul banyak penyesatan. Hal iin dapat terlihat ketika Yesus mengingatkan murid-muridNya untuk tidak langsung percaya apabila ada yang mengatakan bahwa “ada Mesias di sini atau di sana” (ay. 23). Akan ada banyak sekali nabi-nabi palsu dan mesias-mesias palsu. Bahkan mungkin saya dapat mengatakan bahwa akan ada banyak sekali pendeta-pendeta palsu yang menyeret jemaat yang tidak kuat iman untuk berpaling dari iman yang benar. Yang jelas, orang-orang percaya yang sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan akan dapat melihat dengan bijaksana, yaitu kedatangan Tuhan akan seperti kilat yang memancar di langit (ay. 23-24). Janganlah kita membiarkan diri kita tersesat oleh pengajaran-pengajaran yang salah yang disampaikan oleh para nabi-nabi palsu tersebut.

Kedua, masa-masa akhir zaman mirip seperti masa (zaman) Nuh dan Lot (ay.26-30). Apa inti dari zaman Nuh dan Lot? Pada masa itu hari penghukuman Allah (banjir di masa Nuh dan hujan api serta belerang di masa Lot) sudah ditentukan Allah sebelumnya. Tuhan bahkan sudah mengingatkan Nuh dan Lot dan masih memberi kesempatan kepada orang-orang untuk bertobat (yaitu selama waktu Nuh membangun bahtera dan ketika utusan Allah tiba di kota Sodom). Akan tetapi karena mereka tidak mau bertobat, Tuhan hanya menyelamatkan sedikit orang yaitu mereka yang percaya kepadaNya. Dalam kisah Nuh maupun Lot, hanya sedikit orang yang diselamatkan. Dalam kisah Nuh, hanya 8 orang selamat dan seisi dunia lainnya tidak ada yang selamat. Dalam kisah Lot, hanya 3 orang selamat dan sisa penduduk kota Sodom dan  Gomora tidak ada yang selamat. Ini menunjukkan bahwa pintu keselamatan memang dibuka lebar oleh Tuhan, tetapi pada kenyataannya manusia sendiri yang memilih untuk tidak diselamatkan juga masih sangat banyak. Berjaga-jagalah agar jangan sampai kita menjadi orang yang tidak selamat, dan agar hari Tuhan tidak datang seperti pencuri.

Ketiga, akan ada orang-orang yang kembali ke dosa dan membuat mereka tidak selamat (ay. 31-32). Dalam ayat ini Yesus mengingatkan agar mereka yang sudah seakan-akan sudah berada di atas rumah, jangan sampai ia turun untuk mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah. Hal ini menggambarkan orang yang sebenarnya sudah siap masuk ke dalam kerajaan surga, tetapi karena teringat dengan segala harta yang  dimiliki di dunia ini, ia justru berpaling dan berbalik ke dunia ini. Ingatlah akan isteri Lot (ay. 32). Isteri Lot yang sebenarnya sudah hampir selamat (sudah keluar dari kota Sodom), akan tetapi karena teringat hartanya maka ia berpaling ke belakang dan justru menjadi tiang garam (Kej 19:26).

Jika kita sudah menerima keselamatan, jangan biarkan keselamatan itu hilang. Pegang terus dan kerjakan keselamatan kita hingga kita tetap setia sampai akhir. Jangan biarkan keselamatan kita tergantikan oleh hal lain bahkan oleh nyawa kita di dunia ini (ay. 33). Ingat bahwa keselamatan itu bersifat kekal sementara apapun yang ada di dunia ini termasuk nyawa kita sekalipun hanya bersifat sementara. Ingat bahwa ketika kedatangan Tuhan, maka  Tuhan akan membawa anak-anakNya masuk ke dalam tempat yang indah. Namun perlu diperhatikan juga bahwa tidak semua orang yang mengaku Kristen akan dibawa oleh Tuhan, akan ada juga orang-orang Kristen yang tertinggal (ay. 34-35). Jangan sampai kita menjadi orang yang tertinggal, tetapi berusahalah agar hidup kita boleh berkenan di hadapan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Lukas 17:20-35
17:20 Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah,
17:21 juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu."
17:22 Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.
17:23 Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut.
17:24 Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya.
17:25 Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.
17:26 Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia:
17:27 mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.
17:28 Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun.
17:29 Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.
17:30 Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya.
17:31 Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.
17:32 Ingatlah akan isteri Lot!
17:33 Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.
17:34 Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
17:35 Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan."

Selasa, 04 Februari 2014

Ketika Tuhan Menuntun Kita untuk Mundur



Selasa, 4 Februari 2013
Bacaan Alkitab: Keluaran 14:1-4
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian: "Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut." (Kel 14:1-2)


Ketika Tuhan Menuntun Kita untuk Mundur


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tentu ingin hari ini lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Contoh saja dalam hal usaha kita, tentu kita ingin agar penghasilan kita hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Sehingga kita akan memutar otak kita bagaimana agar bisnis atau usaha kita semakin berkembang dan bertambah banyak. Demikian pula dengan pelayanan, tentu banyak pendeta ingin agar jemaatnya semakin harir semakin bertambah banyak, dengan jumlah gereja yang semakin banyak pula.

Hal itu tidak salah, semua orang memang harus berpikiran positif dan memiliki semangat untuk selalu maju. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, ketika kita ingin maju dan meraih lebih banyak lagi, justru Tuhan yang meminta kita untuk mundur atau menarik diri. Ketika hal ini terjadi dalam kehidupan kita, kita seringkali protes kepada Tuhan. Kita seringkali menganggap Tuhan  tidak adil karena tidak mau melihat anak-anakNya untuk maju dan sukses. Lalu bagaimana sikap kita seharusnya ketika hal itu terjadi?

Hari ini kita akan belajar hal yang sama seperti yang bangsa Israel alami ketika mereka keluar dari tanah Mesir. Jika kita membaca bagian awal kitab Keluaran, kita akan tahu bagaimana bangsa Israel diperbudak di tanah Mesir, dan bagaimana Tuhan mengutus Musa dan Harun untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dengan tulah-tulah yang Tuhan timpakan kepada orang Mesir. Singkat cerita, Musa dan Harun berhasil membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah Kanaan. Jika kita melihat peta Alkitab (ada di bagian belakang Alkitab yang dicetak oleh Lembaga Alkitab Indonesia/LAI), mereka pun sudah “nyaris masuk” ke tanah Kanaan. Akan tetapi, pada kondisi dimana mereka tinggal “maju dan masuk” tersebut, Tuhan justru memerintahkan Musa agar bangsa Israel berbalik kembali dan berkemah di tepi laut, di antara daerah Migdol dan laut (ay. 1-2).

Bayangkan perasaan bangsa Israel pada waktu itu, apalagi perasaan Musa ketika ia harus memerintahkan bangsa Israel untuk kembali mundur dan malah berkemah di tepi laut. Tentu sempat muncul rasa kebimbangan dalam diri Musa “apa benar Tuhan menyuruh untuk kembali, padahal kan tinggal maju saja kita sudah bisa masuk ke Kanaan”. Apalagi Firaun yang mendengar kabar tersebut, justru menyangka bangsa Israel tersesat di padang gurun dan akan mencoba untuk mengejar bangsa Israel. Tetapi jika kita membaca ayat-ayat selanjutnya, kita akan mengerti bahwa sebenarnya itulah tujuan Tuhan membawa bangsa Israel untuk mundur, yaitu agar Firaun akhirnya mengejar bangsa Israel dan Tuhan kemudian membinasakan Firaun beserta segala tentaranya (ay. 3-4). Ayat ini pun tergenapi karena jika kita membaca kelanjutan pasal ini, kita melihat bagaimana Tuhan membuat mujizat untuk membuat air laut Merah menjadi kering sehingga bangsa Israel dapat berjalan menyeberanginya namun justru ketika Firaun beserta tentaranya menyeberangi laut, justru laut tersebut berbalik dan menenggelamkan mereka semua.

Perhatikan kalimat saya berikut ini: Tuhan tidak akan mungkin membawa kita mundur, kecuali untuk menyatakan kuasaNya dan membawa kita maju lebih jauh lagi. Tuhan tidak mungkin membiarkan kita mundur untuk menjatuhkan kita dan membuat kita tidak dapat  bangkit lagi. Ingat bagaimana Tuhan membawa bangsa Israel mundur kembali ke arah Mesir, namun justru mundurnya bangsa Israel tersebut adalah agar Tuhan menyatakan kemuliaanNya dengan mujizat yang dibuatNya, serta bagaimana Tuhan memusnahkan musuh-musuh bangsa Israel yaitu Firaun beserta segenap pasukannya.

Jika ada di antara kita saat ini yang merasa bahwa Tuhan meminta kita untuk mundur sejenak, jangan langsung menuduh Tuhan tidak mau melihat kita sukses. Coba kita renungkan baik-baik mengapa Tuhan membawa kita mundur.  Bisa saja karena memang apa yang kita lihat sebagai jalan yang lurus ternyata justru jalan menuju maut. Bukan tanpa alasan Tuhan meminta kita mundur, yaitu karena Dia begitu mengasihi kita, dan dia ingin agar kita dapat meraih apa yang lebih besar lagi di masa yang akan datang. Di dalam pimpinan Tuhan, lebih baik mundur selangkah jika itu memang mau Tuhan, karena Tuhan pasti akan membawa kita melangkah bahkan melompat jauh ke depan ketika kita mau taat kepadaNya.


Bacaan Alkitab: Keluaran 14:1-4
14:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian:
14:2 "Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut.
14:3 Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka.
14:4 Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN." Lalu mereka berbuat demikian.