Senin, 19 Mei 2014

Privasi dengan Tuhan (1): Memberi



Senin, 19 Mei 2014
Bacaan Alkitab: Matius 6:1-4
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Mat 6:4)


Privasi dengan Tuhan (1): Memberi


Apa yang dimaksud dengan privasi? Privasi secara sederhana dapat dikatakan sebagai sesuatu hal yang bukan merupakan konsumsi publik. Suatu hal yang bersifat privasi berarti adalah hal yang tidak dapat dilihat atau dinikmati oleh banyak orang selain orang-orang tertentu yang memang berhak atau diijinkan untuk melihat dan menikmatinya. Contoh paling baik dari privasi ini adalah hubungan suami isteri, yang memang hanya boleh dilakukan oleh suami dan isteri yang sah, dan seharusnya tidak boleh menjadi konsumsi publik alias dilihat oleh orang lain atau dilakukan dengan orang lain.

Dalam Alkitab, Tuhan pun menggambarkan hubungan antara Tuhan dengan jemaatNya bagaikan suami dan isterinya. Beberapa kali jemaat Tuhan digambarkan sebagai mempelai perempuan yang harus selalu siap sedia menyongsong kedatangan sang mempelai pria, yaitu Tuhan sendiri. Dalam Alkitab, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan secara privasi dengan Tuhan, artinya hal yang kita lakukan bukan merupakan konsumsi publik melainkan harus menjadi urusan kita antara kita dengan Tuhan secara pribadi.

Hal pertama yang harus kita jaga privasinya adalah tentang bersedekah atau memberi. Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang “kritikan” Yesus mengenai kebiasaan kebanyakan orang-orang Yahudi pada waktu itu, yaitu  mereka suka memberi dengan memamerkan kepada orang lain. Orang Yahudi pada waktu itu memiliki kecenderungan untuk memberikan persembahan di rumah ibadat dengan kebiasaan yang unik, yaitu sebelum memberi mereka mencanangkan pemberian mereka (ay. 2a). Mereka bahkan mencanangkan dengan suara keras sehingga orang lain bisa mendengarnya. Sangat mungkin pada waktu itu orang yang mendengarkan “pencanangan pemberian” tersebut akan memuji orang-orang yang mencanangkan pemberian dalam jumlah yang besar. Yesus berkata dengan sangat keras mengenai hal tersebut: “Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya” (ay. 2b).

Ketika kita memberi sesuatu bagi sesama kita apalagi ketika kita memberi bagi Tuhan, maka saya sangat percaya Tuhan pasti melihat pemberian kita. Jangankan dalam ajaran Kristiani, dalam agama manapun di dunia, ketika kita memberi kepada sesama, kepada orang yang membutuhkan, bahkan kepada Tuhan, maka Tuhan pasti mencatat perbuatan kita tersebut. Namun demikian, jika kita memberi dengan motivasi yang salah, yaitu agar kita dipuji orang, maka di hadapan Tuhan upah kita tersebut sebenarnya sudah kita terima, yaitu pujian dari orang lain. Oleh karena itu Tuhan mengajarkan kepada kita agar ketika kita memberi (baik dalam hal memberi sedekah maupun memberi persembahan kepada Tuhan), kita melakukannya dengan cara yang benar. Tidak perlu orang lain mengetahui berapa jumlah yang kita berikan. Dalam bahasa kiasan, Tuhan Yesus bahkan mengatakan agar tangan kiri kita tidak perlu mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanan kita (ay. 3).

Sayangnya, banyak orang Kristen masih belum mengerti prinsip ini. Contoh paling mudah, berapa banyak ketika kita memberikan persembahan persepuluhan di gereja, atau persembahan lainnya dalam rangka pelayanan pekerjaan Tuhan, kita mencantumkan nama lengkap kita? Padahal kita tahu bahwa gereja akan menerbitkan laporan penerimaan persembahan dan nama kita akan tercantum di buletin gereja atau laporan persembahan tersebut. Apa motivasi kita melakukan hal tersebut? Jika kita melakukannya hanya agar orang lain mengetahui berapa jumlah persembahan yang kita berikan, maka sesungguhnya kita sudah menerima upah kita dan Tuhan tidak akan berkenan kepada persembahan kita.

Jika kita ingin agar penerimaan persembahan kita dapat dilacak misalnya, kita cukup memberikan kode nama kita atau kode apapun yang kita ingin tuliskan. Misal nama saya Randite, saya cukup memberi inisial Rd atau bahkan inisial lain yang tidak berhubungan dengan nama saya dalam amplop persembahan. Bahkan saya cenderung lebih suka tidak menulis kode atau inisial apapun dalam amplop persembahan saya. Yang terpenting Tuhan tahu bahwa saya sudah memberi kepada Tuhan. Urusan apakah persembahan saya “ditilep” atau “disalahgunakan” oleh pihak yang mengelola persembahan, itu adalah urusan mereka dengan Tuhan. Bagian saya hanyalah memberi apa yang menjadi kewajiban saya kepada Tuhan, atau memberi apa yang saya ingin berikan kepada Tuhan.

Memang tidak mudah, terlebih beberapa suku atau daerah pada umumnya terbiasa untuk menuliskan nama dalam amplop yang kita berikan (misal amplop yang kita berikan pada saat pernikahan kerabat kita). Akan tetapi, mari kita berusaha minimal ketika kita memberikan persembahan bagi Tuhan, kita memberikan dengan tersembunyi (ay. 4), dengan motivasi yang benar, yaitu bukan agar kita dipuji Tuhan, tetapi agar persembahan kita berkenan di hadapan Tuhan (ay. 1).


Bacaan Alkitab: Matius 6:1-4
6:1 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Rabu, 05 Februari 2014

Tanda-tanda Hari Kedatangan Tuhan



Rabu, 5 Februari 2013
Bacaan Alkitab: Lukas 17:20-35
Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. (Luk 17:26-27)


Tanda-tanda Hari Kedatangan Tuhan


Bicara tentang hari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, sudah cukup banyak pembahasan yang disampaikan oleh para hamba-hamba Tuhan, bahkan yang disampaikan oleh orang-orang awam. Bahkan ada yang berusaha menghitung (dengan menggunakan cara dan metode-metode tertentu) untuk menentukan tanggal berapa Tuhan akan datang kembali. Kenyataannya semua prediksi itu tidak ada yang tepat, karena memang hanya Allah Bapa sendiri yang tahu kapan waktu tersebut akan tiba (Mat 24:36). Walaupun demikian, Tuhan Yesus sendiri menyampaikan Firman Tuhan yang spesial tentang tanda-tanda hari kedatangan Tuhan tersebut. Oleh karena itu, kita harus bijaksana dalam melihat tanda-tanda tersebut. Jangan menjadi sok pintar dengan menghitung-hitung hari, tetapi belajarlah dari tanda-tanda yang ada agar hari Tuhan itu tidak datang seperti pencuri tetapi kita boleh siap sedia menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali.

Firman Tuhan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ini secara khusus disampaikan kepada murid-muridNya (ay.22), padahal jika kita membaca 2 ayat sebelumnya, Yesus baru saja menjawab pertanyaan orang Farisi mengenai kapan kerajaan Allah akan datang (ay. 20-21). Hal ini menunjukkan bahwa tanda-tanda kedatangan Tuhan ini bukan sesuatu yang dapat dilihat dan dipahami oleh orang-orang di luar Tuhan. Meskipun orang-orang di luar Tuhan tersebut mungkin sudah membaca Alkitab dan ayat-ayat terkait kedatangan Tuhan tersebut tetapi hanya murid-murid Tuhan yang dapat mengerti tanda-tandanya yaitu sebagai berikut:

Pertama, akan timbul banyak penyesatan. Hal iin dapat terlihat ketika Yesus mengingatkan murid-muridNya untuk tidak langsung percaya apabila ada yang mengatakan bahwa “ada Mesias di sini atau di sana” (ay. 23). Akan ada banyak sekali nabi-nabi palsu dan mesias-mesias palsu. Bahkan mungkin saya dapat mengatakan bahwa akan ada banyak sekali pendeta-pendeta palsu yang menyeret jemaat yang tidak kuat iman untuk berpaling dari iman yang benar. Yang jelas, orang-orang percaya yang sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan akan dapat melihat dengan bijaksana, yaitu kedatangan Tuhan akan seperti kilat yang memancar di langit (ay. 23-24). Janganlah kita membiarkan diri kita tersesat oleh pengajaran-pengajaran yang salah yang disampaikan oleh para nabi-nabi palsu tersebut.

Kedua, masa-masa akhir zaman mirip seperti masa (zaman) Nuh dan Lot (ay.26-30). Apa inti dari zaman Nuh dan Lot? Pada masa itu hari penghukuman Allah (banjir di masa Nuh dan hujan api serta belerang di masa Lot) sudah ditentukan Allah sebelumnya. Tuhan bahkan sudah mengingatkan Nuh dan Lot dan masih memberi kesempatan kepada orang-orang untuk bertobat (yaitu selama waktu Nuh membangun bahtera dan ketika utusan Allah tiba di kota Sodom). Akan tetapi karena mereka tidak mau bertobat, Tuhan hanya menyelamatkan sedikit orang yaitu mereka yang percaya kepadaNya. Dalam kisah Nuh maupun Lot, hanya sedikit orang yang diselamatkan. Dalam kisah Nuh, hanya 8 orang selamat dan seisi dunia lainnya tidak ada yang selamat. Dalam kisah Lot, hanya 3 orang selamat dan sisa penduduk kota Sodom dan  Gomora tidak ada yang selamat. Ini menunjukkan bahwa pintu keselamatan memang dibuka lebar oleh Tuhan, tetapi pada kenyataannya manusia sendiri yang memilih untuk tidak diselamatkan juga masih sangat banyak. Berjaga-jagalah agar jangan sampai kita menjadi orang yang tidak selamat, dan agar hari Tuhan tidak datang seperti pencuri.

Ketiga, akan ada orang-orang yang kembali ke dosa dan membuat mereka tidak selamat (ay. 31-32). Dalam ayat ini Yesus mengingatkan agar mereka yang sudah seakan-akan sudah berada di atas rumah, jangan sampai ia turun untuk mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah. Hal ini menggambarkan orang yang sebenarnya sudah siap masuk ke dalam kerajaan surga, tetapi karena teringat dengan segala harta yang  dimiliki di dunia ini, ia justru berpaling dan berbalik ke dunia ini. Ingatlah akan isteri Lot (ay. 32). Isteri Lot yang sebenarnya sudah hampir selamat (sudah keluar dari kota Sodom), akan tetapi karena teringat hartanya maka ia berpaling ke belakang dan justru menjadi tiang garam (Kej 19:26).

Jika kita sudah menerima keselamatan, jangan biarkan keselamatan itu hilang. Pegang terus dan kerjakan keselamatan kita hingga kita tetap setia sampai akhir. Jangan biarkan keselamatan kita tergantikan oleh hal lain bahkan oleh nyawa kita di dunia ini (ay. 33). Ingat bahwa keselamatan itu bersifat kekal sementara apapun yang ada di dunia ini termasuk nyawa kita sekalipun hanya bersifat sementara. Ingat bahwa ketika kedatangan Tuhan, maka  Tuhan akan membawa anak-anakNya masuk ke dalam tempat yang indah. Namun perlu diperhatikan juga bahwa tidak semua orang yang mengaku Kristen akan dibawa oleh Tuhan, akan ada juga orang-orang Kristen yang tertinggal (ay. 34-35). Jangan sampai kita menjadi orang yang tertinggal, tetapi berusahalah agar hidup kita boleh berkenan di hadapan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Lukas 17:20-35
17:20 Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah,
17:21 juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu."
17:22 Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.
17:23 Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut.
17:24 Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya.
17:25 Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.
17:26 Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia:
17:27 mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.
17:28 Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun.
17:29 Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.
17:30 Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya.
17:31 Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.
17:32 Ingatlah akan isteri Lot!
17:33 Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.
17:34 Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
17:35 Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan."

Selasa, 04 Februari 2014

Ketika Tuhan Menuntun Kita untuk Mundur



Selasa, 4 Februari 2013
Bacaan Alkitab: Keluaran 14:1-4
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian: "Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut." (Kel 14:1-2)


Ketika Tuhan Menuntun Kita untuk Mundur


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tentu ingin hari ini lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Contoh saja dalam hal usaha kita, tentu kita ingin agar penghasilan kita hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Sehingga kita akan memutar otak kita bagaimana agar bisnis atau usaha kita semakin berkembang dan bertambah banyak. Demikian pula dengan pelayanan, tentu banyak pendeta ingin agar jemaatnya semakin harir semakin bertambah banyak, dengan jumlah gereja yang semakin banyak pula.

Hal itu tidak salah, semua orang memang harus berpikiran positif dan memiliki semangat untuk selalu maju. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, ketika kita ingin maju dan meraih lebih banyak lagi, justru Tuhan yang meminta kita untuk mundur atau menarik diri. Ketika hal ini terjadi dalam kehidupan kita, kita seringkali protes kepada Tuhan. Kita seringkali menganggap Tuhan  tidak adil karena tidak mau melihat anak-anakNya untuk maju dan sukses. Lalu bagaimana sikap kita seharusnya ketika hal itu terjadi?

Hari ini kita akan belajar hal yang sama seperti yang bangsa Israel alami ketika mereka keluar dari tanah Mesir. Jika kita membaca bagian awal kitab Keluaran, kita akan tahu bagaimana bangsa Israel diperbudak di tanah Mesir, dan bagaimana Tuhan mengutus Musa dan Harun untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dengan tulah-tulah yang Tuhan timpakan kepada orang Mesir. Singkat cerita, Musa dan Harun berhasil membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah Kanaan. Jika kita melihat peta Alkitab (ada di bagian belakang Alkitab yang dicetak oleh Lembaga Alkitab Indonesia/LAI), mereka pun sudah “nyaris masuk” ke tanah Kanaan. Akan tetapi, pada kondisi dimana mereka tinggal “maju dan masuk” tersebut, Tuhan justru memerintahkan Musa agar bangsa Israel berbalik kembali dan berkemah di tepi laut, di antara daerah Migdol dan laut (ay. 1-2).

Bayangkan perasaan bangsa Israel pada waktu itu, apalagi perasaan Musa ketika ia harus memerintahkan bangsa Israel untuk kembali mundur dan malah berkemah di tepi laut. Tentu sempat muncul rasa kebimbangan dalam diri Musa “apa benar Tuhan menyuruh untuk kembali, padahal kan tinggal maju saja kita sudah bisa masuk ke Kanaan”. Apalagi Firaun yang mendengar kabar tersebut, justru menyangka bangsa Israel tersesat di padang gurun dan akan mencoba untuk mengejar bangsa Israel. Tetapi jika kita membaca ayat-ayat selanjutnya, kita akan mengerti bahwa sebenarnya itulah tujuan Tuhan membawa bangsa Israel untuk mundur, yaitu agar Firaun akhirnya mengejar bangsa Israel dan Tuhan kemudian membinasakan Firaun beserta segala tentaranya (ay. 3-4). Ayat ini pun tergenapi karena jika kita membaca kelanjutan pasal ini, kita melihat bagaimana Tuhan membuat mujizat untuk membuat air laut Merah menjadi kering sehingga bangsa Israel dapat berjalan menyeberanginya namun justru ketika Firaun beserta tentaranya menyeberangi laut, justru laut tersebut berbalik dan menenggelamkan mereka semua.

Perhatikan kalimat saya berikut ini: Tuhan tidak akan mungkin membawa kita mundur, kecuali untuk menyatakan kuasaNya dan membawa kita maju lebih jauh lagi. Tuhan tidak mungkin membiarkan kita mundur untuk menjatuhkan kita dan membuat kita tidak dapat  bangkit lagi. Ingat bagaimana Tuhan membawa bangsa Israel mundur kembali ke arah Mesir, namun justru mundurnya bangsa Israel tersebut adalah agar Tuhan menyatakan kemuliaanNya dengan mujizat yang dibuatNya, serta bagaimana Tuhan memusnahkan musuh-musuh bangsa Israel yaitu Firaun beserta segenap pasukannya.

Jika ada di antara kita saat ini yang merasa bahwa Tuhan meminta kita untuk mundur sejenak, jangan langsung menuduh Tuhan tidak mau melihat kita sukses. Coba kita renungkan baik-baik mengapa Tuhan membawa kita mundur.  Bisa saja karena memang apa yang kita lihat sebagai jalan yang lurus ternyata justru jalan menuju maut. Bukan tanpa alasan Tuhan meminta kita mundur, yaitu karena Dia begitu mengasihi kita, dan dia ingin agar kita dapat meraih apa yang lebih besar lagi di masa yang akan datang. Di dalam pimpinan Tuhan, lebih baik mundur selangkah jika itu memang mau Tuhan, karena Tuhan pasti akan membawa kita melangkah bahkan melompat jauh ke depan ketika kita mau taat kepadaNya.


Bacaan Alkitab: Keluaran 14:1-4
14:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian:
14:2 "Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut.
14:3 Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka.
14:4 Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN." Lalu mereka berbuat demikian.

Jumat, 17 Januari 2014

“Jika Tuhan Dapat?”




Senin, 20 Januari 2013
Bacaan Alkitab: Markus 9:20-29
Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"” (Mrk 9:23)


“Jika Tuhan Dapat?”


Berapa kali kita pernah berdoa ketika kita mengalami masalah? Berapa kali dalam doa-doa kita, kita berdoa namun dengan penuh keragu-raguan di dalam hati kita. Mungkin dalam pikiran kita, “Ah, jika Tuhan bisa menyembuhkan, tolong sembuhkan saya ya Tuhan”. Hari ini kita akan melihat apakah doa semacam itu sudah sesuai dengan doa yang dikehendaki Tuhan atau belum.

Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang bagaimana seorang anak yang sering dirasuk roh jahat, dibawa kepada Yesus (ay. 20a). Waktu roh jahat (di dalam tubuh anak itu) melihat Yesus, Alkitab menulis bahwa anak itu segera diguncang-guncangkan hingga anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling serta mulutnya berbusa (ay. 20b). Sepertinya roh jahat itu sudah menguasai anak tersebut cukup lama, karena sejak masa kecil, anak itu sudah sering mengalami kejadian di atas, bahkan seringkali roh jahat tersebut membuat anak kecil tersebut masuk ke dalam api atau air (ay. 21-22a).

Dari gambaran di atas jelas bahwa roh jahat yang ada dalam diri anak tersebut bukanlah roh jahat yang biasa-biasa saja, bahkan dapat saya katakan bahwa roh jahat yang ada di dalam tubuh anak tersebut sudah roh jahat “kelas tinggi”. Si orang tua anak tersebut mungkin sudah berkali-kali mencoba meminta tolong kepada orang-orang yang ia rasa sanggup menyembuhkan anaknya, mulai dari tabib, dukun, bahkan mungkin para imam. Mungkin sudah sangat banyak biaya dan uang yang sudah dikeluarkan untuk anak tersebut, tetapi hasilnya sia-sia belaka. Oleh karena itu, orang tua anak tersebut datang kepada Yesus dengan perkataan “jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami” (ay. 22b).

Orang tua anak tersebut menganggap Yesus sama seperti orang-orang lain yang sudah ia mintai tolong sebelumnya, dengan hasil nol besar. Oleh karena itu, Yesus menjawab dengan tegas, “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (ay. 23). Perhatikan tanda seru yang diucapkan Yesus, menunjukkan intonasi yang tegas dan keras. Sangat jarang Yesus mengucapkan sesuatu dengan menggunakan tanda seru. Oleh karena itu, kebenaran Firman Tuhan bahwa “Tiada yang mustahil bagi orang yang percaya!” adalah sesuatu yang benar dan perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh kita semua.

Untunglah si orang tua anak tersebut menyadari kekeliruannya, dan langsung berteriak “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (ay. 24). Segera sesudah orang tua anak tersebut mengucapkan kepercayaannya, Yesus pun mengusir roh jahat tersebut (ay. 25). Roh jahat tersebut kemudian keluar dari tubuh anak  tersebut sambil menggoncang-goncangkan tubuh anak itu dengan hebat hingga si anak jatuh lemas, sehingga orang-orang mengira anak tersebut sudah mati (ay. 26).

Walaupun demikian, Tuhan Yesus adalah penyembuh yang sempurna. Ia tidak mengusir roh tersebut kemudian membiarkan anak tersebut mati, tetapi Ia membangunkan anak tersebut hingga dapat bangkit sendiri (ay. 27). Ternyata sebelum orang tua anak tersebut datang kepada Yesus, ia sudah membawa si anak kepada murid-murid Yesus. Hal ini terlihat dari percakapan Yesus dan murid-muridNya selanjutnya, dimana murid-muridNya bertanya mengapa mereka tidak dapat mengusir roh jahat tersebut (ay. 28). Yesus pun menjawab, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa” (ay. 29). Dalam ayat paralel di kitab Matius perkataan Yesus ini ditambahkan menjadi “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa” (Mat 17:21).

Sebenarnya Tuhan sudah memberikan kuasa kepada kita, orang-orang yang telah percaya kepada Yesus. Akan tetapi seringkali dalam doa-doa kita, sepertinya kita kurang yakin dengan kuasa doa kita. Seringkali kita berdoa seperti ucapan si orang tua anak tersebut. Ketika doa kita sepertinya “tidak manjur”, ada 3 kemungkinan yang dapat terjadi: 1) doa kita salah sehingga Tuhan tidak menjawab doa kita; 2) belum waktu Tuhan untuk menjawab doa kita; atau 3) doa kita benar tetapi tingkat iman dan kerohanian kita tidak cukup untuk membuat doa kita terjawab. Dalam pilihan ketiga tersebut, khususnya untuk doa-doa yang sudah “tinggi” tingkatannya, seperti doa peperangan melawan roh jahat, doa syafaat untuk memenangkan jiwa-jiwa, atau doa pergumulan yang sangat berat, kita tidak dapat menghadapinya dengan persiapan yang biasa-biasa saja. Perlu ada jam doa dan puasa yang rutin kita lakukan untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan, sehingga iman kita semakin dikuatkan, dan kita semakin mengerti apa sebenarnya kehendak Tuhan bagi kita. Oleh karena itu, ketika doa kita tidak dijawab-jawab Tuhan, masalahnya sebenarnya bukan terletak pada Tuhan, karena Tuhan selalu dapat menjawab doa kita, tetapi seringkali permasalahannya ada pada kita sendiri. Kita belum menyiapkan diri kita sungguh-sungguh untuk berdoa, atau mungkin iman kita tidak cukup kuat sehingga kita berdoa, “Tuhan jika Engkau dapat, tolong sembuhkan saya”.

Doa “Jika Tuhan dapat” itu sebenarnya menunjukkan bahwa kita belum sungguh-sungguh mengerti apa kehendak Tuhan dalam hidup kita. Sehingga kita berdoa, “jika Tuhan dapat, tolong berikan saya mobil baru”, “Jika Tuhan dapat, tolong berikan saya pacar baru”, dan lain sebaginya. Justru yang harus kita lakukan adalah memiliki waktu-waktu pribadi kita dengan Tuhan dalam doa dan puasa, sehingga ketika kita berdoa kita sudah tahu terlebih dahulu apa yang kita doakan, dan apa yang kita doakan suah sesuai dengan kehendak Tuhan, serta kita yakin bahwa Tuhan pasti akan menjawab doa kita yang sudah sesuai kehendak Tuhan tersebut.


Bacaan Alkitab: Markus 9:20-29
9:20 Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa.
9:21 Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: "Sudah berapa lama ia mengalami ini?" Jawabnya: "Sejak masa kecilnya.
9:22 Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami."
9:23 Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"
9:24 Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"
9:25 Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: "Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!"
9:26 Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya  seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: "Ia sudah mati."
9:27 Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.
9:28 Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?"
9:29 Jawab-Nya kepada mereka: "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa."