Senin, 30 Januari 2023

Makna Keterhilangan (17): Hilangnya Suatu Hubungan

 Senin, 30 Januari 2023

Bacaan Alkitab: Lukas 15:29

Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. (Luk 15:29)


Makna Keterhilangan (17): Hilangnya Suatu Hubungan


Setelah dalam renungan sebelumnya kita melihat suatu respon yang mengejutkan khususnya dari si anak sulung, maka dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita dapat melihat salah satu alasan di balik respon yang mengejutkan dari si anak sulung tersebut. Kita tahu bahwa sosok seorang anak sulung biasanya adalah sosok anak yang cukup dekat bahkan sangat dekat dengan orang tuanya. Hal itu adalah suatu hal yang wajar, karena bagi keluarga manapun, anak sulung adalah anak yang sangat diharapkan kehadirannya oleh kedua orang tuanya sebagai penerus mereka nantinya. Si anak sulung juga biasanya mendapatkan perhatian yang lebih, waktu, serta sumber daya yang lebih banyak ketimbang adik-adiknya.

Oleh karena itu, pada umumnya seorang anak sulung memiliki suatu hubungan yang baik dengan orang tuanya. Bahkan setelah beranjak dewasa, seorang anak sulung pada umumnya memiliki pemikiran yang lebih dewasa, dimana dalam beberapa kondisi, anak sulung tersebut dituntut untuk mulai berpikir seperti orang tuanya berpikir. Seperti contoh, seorang anak sulung dari pengusaha akan mulai berpikir mengenai usaha orang tuanya karena kemungkinan besar ia akan meneruskan usaha tersebut di masa depan.

Oleh karena itu, sosok anak sulung yang digambarkan di dalam perumpamaan ini menunjukkan seorang anak sulung yang tidak menyadari posisinya yang sebenarnya di dalam keluarga. Kita tahu bahwa sang ayah adalah orang yang sangat kaya, dengan segala harta benda dan juga ternaknya. Tentu sang ayah nanti akan berpikir bahwa si anak sulunglah yang akan meneruskan kehidupannya dan usahanya tersebut. Ketika selama ini anak sulung bekerja bagi usaha ayahnya, sang ayah berpikir bahwa ia akan menjadi penerusnya. Apalagi setelah si anak bungsu pergi meninggalkan sang ayah, maka sebenarnya harta sang ayah seluruhnya nantinya akan menjadi hak dari si anak sulung. Artinya, harta sang ayah saat ini sudah dapat dianggap sebagai harta si anak sulung tersebut (karena bagian adiknya, si anak bungsu, sudah diminta lebih dahulu).

Oleh karena itu, alasan bagi si anak sulung untuk marah adalah tidak masuk di akal. Ia berkata kepada ayahnya bahwa telah bertahun-tahun ia melayani dan bekerja bagi ayahnya, dan sampai saat ini ia belum pernah melanggar perintah ayahnya (ay. 29a). Namun demikian, belum pernah ayahnya memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatnya (ay. 29b). Hal ini menunjukkan pola pikir anak sulung yang sangat dangkal. Seorang anak sulung yang bekerja bagi ayahnya (dimana hal itu adalah hal yang wajar pada masa itu) mungkin tidak mendapat upah secara khusus. Ia adalah anak, yaitu penerus usaha ayahnya. Ia bukan seorang pegawai, budak, ataupun orang upahan yang mendapat gaji dari apa yang ia kerjakan. Oleh karena itu, sebenarnya ia dapat saja dengan mudah berkata kepada ayahnya untuk meminta seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabatnya. Tetapi justru dari jawaban si anak sulung, kita dapat melihat bahwa walaupun ia adalah anak (terlebih adalah anak sulung), ia justru memposisikan dirinya tidak sebagai anak yang benar. 

Si anak sulung juga memiliki hubungan yang “terhilang” dengan ayahnya, karena ia menyebutkan dirinya yang tidak pernah melanggar perintah ayahnya. Apakah hubungan anak dengan orang tua yang sehat itu hanya mengenai perkara bahwa si anak tidak melanggar perintah ayahnya saja? Tentu tidak. Hubungan anak dan orang tua yang sehat itu meliputi banyak hal. Ketika anak masih kecil, tentu orang tua memberikan arahan dan juga termasuk larangan.  Akan tetapi, ketika anaknya bertumbuh semakin dewasa, larangan sudah seharusnya diketahui oleh si anak, dan si anak harus lebih lagi mengerti apa yang ada di dalam pemikiran orang tuanya. 

Dari penjelasan di atas, dapat terlihat bahwa si anak sulung ini dapat dikatakan “terhilang” di dalam rumahnya sendiri. Ia mengalami hilangnya suatu hubungan yang harmonis antara dirinya dengan ayahnya sendiri. Ia tidak mampu menjalin hubungan yang baik dengan ayahnya untuk dapat memahami apa yang ayahnya mau. Ia memposisikan dirinya bukan seperti anak sulung yang sudah dewasa, tetapi sebagai seorang anak yang masih kecil, yang hanya berpikir untuk tidak melanggar perintah ayahnya, dan mengharapkan hadiah atau reward atas ketaatannya tersebut. Bahkan jika mau jujur, ia justru bersikap seperti seorang upahan di rumah ayahnya yang mengharapkan gaji atau upah dari ayahnya atas apa yang ia lakukan.

Di sini kita melihat bahwa terhilangnya si anak sulung di dalam rumahnya sendiri itu dimulai dari ketika si anak sulung tidak dapat memahami posisinya yang sebenarnya di dalam rumahnya tersebut. Ia tidak memahami bagaimana hubungan yang seharusnya antara seorang ayah dengan anak. Mungkin ia tidak memiliki komunikasi yang baik dengan ayahnya. Mungkin saja ia terlalu sering bergaul dengan sahabat-sahabatnya yang tidak dewasa, sehingga ia tidak dapat mengerti posisi dan perannya yang seharusnya dalam keluarga. 

Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, dimana kita mungkin sering kali menganggap orang-orang di luar gereja adalah orang yang terhilang. Atau jika kita adalah pendeta maupun pelayan di dalam gereja, maka kita dapat dengan mudah mencap orang lain yang tidak mengambil bagian dalam pelayanan sebagai orang-orang yang terhilang. Padahal, orang Kristen sangat mudah terhilang di dalam gereja, bahkan jika kita sekalipun adalah pelayan di gereja, atau bahkan seorang pembicara atau pendeta. Kita dapat terhilang ketika kita memiliki pemikiran yang berbeda dengan pemikiran Tuhan (Flp 2:5). Oleh karena itu, marilah masing-masing kita mengecek diri kita sendiri, apakah kita masih memiliki hubungan yang harmonis dengan Dia, ataukah hubungan kita tersebut telah lama hilang tanpa kita sadari.




Bacaan Alkitab: Lukas 15:29

Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. (Luk 15:29)