Selasa, 06 November 2018

Pornos dan Moichos (19): Membedakan Mana Hal yang Minor dan Hal yang Mayor


Selasa, 6 November 2018
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 15:1-21
Tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. (Kis 15:20)


Pornos dan Moichos (19): Membedakan Mana Hal yang Minor dan Hal yang Mayor


Saya pernah sempat beribadah di sebuah gereja dimana pendeta di gereja tersebut sering berkata: “Kita harus tidak boleh memayorkan hal-hal yang minor dan tidak boleh meminorkan hal-hal yang mayor”. Terkait kalimat tersebut, saya sangat setuju. Masalahnya adalah kita sering tidak mengerti apa saja hal-hal yang mayor dan apa saja hal-hal yang minor. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti hal ini sehingga justru sering salah mengidentifikasi mana hal yang minor dan mana hal yang mayor. Akibatnya kehidupan orang Kristen seringkali tidak memancarkan keagungan Tuhan dan bahkan kehidupan orang Kristen justru lebih parah dari kehidupan orang-orang non Kristen.

Dalam sejarah perkembangan gereja khususnya jemaat mula-mula setelah kenaikan Tuhan Yesus ke surga, terjadi juga perdebatan di kalangan jemaat dan juga pemimpin umat mengenai sunat. Karena orang-orang Kristen pada awalnya juga berasal dari orang-orang Yahudi, ada sekelompok orang yang mengajarkan bahwa jika orang Kristen tidak disunat menurut adat istiadat Yahudi yang diwariskan oleh Musa, maka mereka tidak dapat diselamatkan (ay. 1). Bagi kita yang hidup di zaman modern ini mungkin tidak paham betul mengenai kondisi saat itu. Akan tetapi bisa dibayangkan bahwa ajaran ini pada waktu itu sangatlah populer dan viral. Akibatnya, banyak pro dan kontra akan ajaran tersebut.

Mereka yang pro berpendapat bahwa Tuhan Yesus lahir sebagai manusia dari orang Yahudi, disunat pada hari ke-8, dan juga pernah berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat tetapi untuk menggenapinya. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa hukum Taurat tetap berlaku di dalam kekristenan, termasuk sunat yang merupakan tanda perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel juga harus tetap dilaksanakan (ay. 5).

Mereka yang kontra (seperti Paulus dan Barnabas) mengatakan bahwa sunat atau tidak itu bukanlah suatu kewajiban. Mereka yang sudah terlanjur disunat tidak boleh menghilangkan tanda-tanda tersebut, tetapi yang belum disunat pun tidak wajib disunat (1 Kor 7:18). Mereka mencoba memberi pengertian bahwa perjanjian sunat adalah perjanjian antara Allah dengan Abraham dan keturunannya secara jasmani, sementara orang percaya adalah keturunan Abraham secara rohani. Justru yang penting adalah sunat hati, bukan sunat secara jasmani (Rm 2:25-29, 4:9-12, dan sebagainya).

Paulus dan Barnabas akhirnya pergi ke Yerusalem untuk membahas hal ini guna mewakili kelompok yang kontra tadi guna membahasnya dengan rasul-rasul di Yerusalem (ay. 2-4). Karena perdebatan yang cukup sengit, maka para rasul bersidang untuk membahas hal tersebut (ay. 6). Sidang tersebut berlangsung cukup alot, hingga Petrus (sebagai salah satu rasul yang dianggap paling terkemuka dan menjadi pemimpin jemaat pada waktu itu), menyampaikan pendapatnya bahwa Allah telah menerima orang-orang non Yahudi untuk menjadi umat-Nya, bahkan memberikan Roh Kudus kepada mereka (merujuk kepada peristiwa Kornelius, seorang kepala pasukan Romawi yang menerima Roh Kudus). Oleh karena itu, kekristenan tidak dapat lagi dipandang sebagai salah satu sekte dalam agama Yahudi (dimana keselamatan hanya diberikan kepada orang Yahudi yang percaya), tetapi kekristenan harus bersifat umum dan terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang suku, ras dan golongan (ay. 7-8). Petrus lebih lanjut menekankan bahwa iman jauh lebih penting daripada perkara sunat, sehingga para pemimpin jemaat tidak boleh meletakkan suatu kuk pada murid-murid/jemaat-jemaat yang tidak perlu (ay. 9-10). Petrus juga menekankan jika ia percaya bahwa hanya oleh kasih karunia Tuhan maka mereka semua dan orang-orang lain akan diselamatkan (ay. 11).

Sesudah itu, Paulus dan Barnabas juga menceritakan peristiwa yang mereka alami, dimana mereka menyaksikan banyak orang non Yahudi juga menjadi percaya bahkan menerima Roh Kudus (ay. 12). Apa yang Paulus dan Barnabas saksikan di hadapan orang banyak pada sidang di Yerusalem tersebut menunjukkan bahwa Tuhan juga mencurakan Roh Kudus kepada orang non Yahudi dan tidak hanya bagi orang Yahudi saja. Ini berarti bahwa seharusnya segala adat istiadat Yahudi yang hanya bersifat lahiriah semata seharusnya tidak lagi bisa diterima di dalam kekristenan. Tentu dalam hal ini kita harus cerdas membedakan mana ajaran Yahudi yang bisa diadopsi dalam Kekristenan dan mana ajaran Yahudi yang harus ditinggalkan.
Kemudian Yakobus sebagai salah satu rasul yang terkemuka dan juga dipandang sebagai salah satu pemimpin jemaat pada waktu itu akhirnya berdiri dan menarik kesimpulan bahwa Tuhan ingin memanggil suatu umat yang taat kepada-Nya, tidak hanya dari keturunan Daud (bangsa Israel/Yahudi) tetapi juga dari seluruh bangsa yang mau dan bersedia taat kepada-Nya (ay. 13-18). Di sini jelas bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, bukan hanya dosa orang Yahudi, atau dosa sebagian dunia saja (Yoh 1:29).

Kita harus mencoba memahami kondisi pada saat tersebut dimana kekristenan sedang diuji untuk menentukan sikap dan arahnya, apakah hanya sebatas menjadi salah satu “sekte” dalam agama Yahudi, atau berkembang dan menjadi suatu gerakan baru yaitu jalan hidup yang membawa orang-orang mengenal Allah yang benar. Oleh karena itu, keputusan apapun yang diambil dalam sidang di Yerusalem ini akan menentukan arah kekristenan di masa yang akan datang. Dapat dibayangkan betapa berat dampak dari keputusan yang diambil tersebut, yang tentu saja sebenarnya wajib tetap kita pelihara hingga saat ini. Dan pada akhirnya, arah yang diambil oleh Yakobus adalah keputusan yang tidak menyulitkan orang yang hendak beribadah kepada Allah yang benar (ay. 19).

Hasil keputusan sidang di Yerusalem itu menyebutkan bahwa ada 4 anjuran utama bagi orang Kristen yaitu:
  •         Menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala;
  •         Menjauhkan diri dari percabulan;
  •         Menjauhkan diri dari daging binatang yang mati dicekik; dan
  •         Menjauhkan diri dari darah (ay. 20).

Jika agama (seperti agama Yahudi) pada umumnya penuh dengan hukum dan aturan-aturan ibadah (misal: jangan makan ini, puasa pada hari tertentu, harus disunat, dan lain sebagainya), maka kekristenan sebenarnya tidaklah demikian. Kekristenan adalah jalan hidup (way of life) dan bukan sekedar agama. Oleh karena itu, kekristenan sebenarnya tidaklah identik dengan hukum-hukum tertulis yang bersifat lahiriah seperti agama Yahudi. Namun dalam perikop ini, kita melihat seakan-akan ada aturan hukum yang bersifat mengikat orang Kristen. Namun sebenarnya ini hanya bersifat anjuran, himbauan dan arahan yang tidak mengatur secara rinci seperti syariat. Keempat kalimat di atas tersebut tidak disusun dalam hukum yang rinci seperti: “Tidak boleh makan makanan yang telah dicemarkan berhala, yaitu makanan yang sudah disajikan kepada dewa-dewa lain selain Allah Semesta Alam, kecuali dalam keadaan terpaksa dimana tidak ada makanan lagi dan jika makanan tersebut tidak dimakan maka orang itu akan mati..., dan seterusnya”. Anjuran tersebut hanya sederhana tetapi memiliki makna yang dalam, dan sebenarnya semangat ini juga sudah ada sejak zaman Musa (ay. 21). Ini menunjukkan bahwa kekristenan memang mengadopsi sebagian ajaran agama Yahudi yang dipandang relevan bagi jemaat di masa itu dan bahkan hingga masa kini. Kata “menjauhkan” dalam bahasa aslinya adalah apechesthai (ἀπέχεσθαι) dari akar kata phulassó (φυλάσσω) yang dapat berarti to guard, protect, keep watch over, keep secure, keep what is entrusted (menjaga, melindungi, mengawasi, mengamankan, menjaga sesuatu yang dipercayakan). Jelas bahwa kata “menjauhkan” ini harus diusahakan dan dikerjakan dengan serius oleh yang menerima perintah, dalam hal ini seluruh jemaat atau umat percaya.

Sekilas kita membaca bahwa keempat anjuran tersebut terutama berkaitan dengan makanan (3 aturan) dan seks (1 aturan). Ini berbicara mengenai keinginan daging, yang terutama adalah nafsu makan dan nafsu seksual (1 Yoh 2:16). Bagaimanapun juga keinginan daging memang akan lebih terlihat nyata dibandingkan keinginan mata (yaitu materialisme, konsumerisme, dan sebagainya). Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai 3 anjuran terkait makanan. Cukuplah disimpulkan dengan sederhana bahwa kita harus makan dengan bertanggung jawab, yaitu dengan bahan makanan yang sehat. Ini dapat dilihat dari anjuran untuk menjauhi daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Saya rasa hal ini pun dapat dibuktikan dari sudut pandang keilmuan medis, dimana sebaiknya binatang disembelih daripada hanya dicekik (mati karena tidak dapat bernafas/kehabisan oksigen). Darah binatang pun juga dapat menjadi sumber penyakit jika tidak diolah dengan benar. Anjuran yang ada memang tidak mempermasalahkan makanan yang halal dan yang haram. Tetapi bagi umat Perjanjian Baru, kita perlu juga memperkarakan makanan yang kita masuk supaya membuat tubuh kita sehat. Daging kambing yang halal menurut Taurat, jika diperlukan harus kita anggap haram jika kita menderita kolesterol. Jadi kekristenan tidak mengatur kehalalan atau keharaman suatu makanan dalam suatu hukum tertentu, tetapi kita yang harus dapat mengendalikan keinginan daging yaitu nafsu makan kita supaya tubuh kita sehat dan memuliakan nama Tuhan.

Terkait dengan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, secara medis dan nutrisi tentu hal ini tidak menjadi masalah. Namun hal tersebut berpotensi menjadi “batu sandungan” bagi orang lain, terlebih bagi orang yang imannya lemah (Rm 14:1-2 & 20-21). Dari ayat-ayat tersebut kemungkinan sekali pada waktu itu orang percaya masih merupakan jemaat yang awal dengan iman yang juga masih bervariasi. Ada kemungkinan juga banyak orang percaya yang berasal dari orang Yahudi, dan mereka sangat “anti” terhadap praktik penyembahan dewa-dewa kafir yang dilakukan oleh bangsa lain seperti bangsa Yunani dan bangsa Romawi. Mereka tidak akan mau menyentuh makanan yang sudah “dipersembahkan” kepada dewa lain kepada Elohim Yahweh.

Namun jika kita melihat dalam bahasa aslinya, ada kemungkinan bahwa ketiga anjuran tersebut  juga bisa bermakna lain dan tidak hanya sekedar terkait dengan makanan. Dalam bahasa aslinya, kata-kata di ayat 20 adalah sebagai berikut:

  • Kata “makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala”, dalam bahasa aslinya adalah tōn alisgēmatōn tōn eidōlōn (τῶν ἀλισγημάτων τῶν εἰδώλων). Kata alisgēmatōn memiliki akar kata alisgéma (ἀλίσγημα) yang dapat berarti pollution, polluted thing (especially food), things contaminated (pencemaran, sesuatu yang tercemar (khususnya makanan), sesuatu yang terkontaminasi). Tercemar atau terkontaminasi dari apa? Kata eidōlōn memiliki makna berhala, tuhan yang palsu. Memang frasa tersebut dapat bermakna makanan yang “tercemar” karena telah dipersembahkan kepada berhala. Namun jika mau jujur, frasa ini juga dapat berarti kita harus menjauhkan diri dari pencemaran terhadap berhala. Mungkin ada di antara kita yang berkata: “Kan kita menyembah Tuhan Yesus, tidak menyembah patung, dewa, atau berhala lain”. Tapi kita yang sudah mulai  belajar kebenaran tentu tidak akan sulit untuk menyimpulkan bahwa berhala tidak selalu memiliki bentuk patung dewa atau patung lain. Berhala adalah hal-hal yang menjadi prioritas atau sesuatu yang kita beri nilai tinggi atau sesuatu yang kita idolakan dan banggakan. Jika mau jujur, banyak hal yang mungkin bisa menjadi berhala bagi kita: uang, kekayaan, kedudukan, nama baik, harga diri, dan apapun yang tidak membuat Tuhan menjadi satu-satunya yang terutama dalam hidup kita. Kita harus waspada dan menjauhkan diri dari polusi-polusi itu yang akan mencemari hidup kita dan hubungan kita dengan Tuhan.
  • Kata “daging binatang yang mati dicekik”, dalam bahasa aslinya adalah pniktou (πνικτοῦ) dari akar kata pniktos (πνικτός) yang dapat bermakna strangled, throttled, suffocated, an animal deprived of life without shedding its blood, an animal choked to death (dicekik, mati lemas, binatang yang diambil nyawanya tanpa menumpahkan darahnya, binatang yang dicekik sampai mati). Memang hal ini sangat mungkin terkait dengan makanan, tetapi hal ini juga bicara tentang praktik-praktik penyembelihan binatang yang tidak patut. Kebanyakan budaya di dunia ini telah mempraktikkan cara penyembelihan hewan yang baik, namun memang sebagian kecil kebudayaan yang membunuh binatang dengan cara yang “kurang pantas” seperti mencekik, menenggelamkan, dan lain sebagainya. Mungkin saja pada waktu itu ada praktik membunuh binatang dengan mencekik untuk kemudian dipersembahkan kepada dewa-dewa tertentu dan kemudian dimakan bersama. Jadi hal ini juga bisa diartikan supaya orang percaya tidak mengikuti kebiasaan-kebisaan orang lain (kemungkinan besar khususnya orang Romawi atau Yunani) yang tidak patut ditiru.
  • Kata “darah” dalam bahasa aslinya adalah haimatos (αἵματος) dari akar kata haima (αἷμα) yang secara harafiah berarti darah atau penumpahan darah. Darah di sini tidak harus merujuk pada darah hewan/binatang, tetapi juga digunakan untuk merujuk darah manusia secara umum. Jadi kata darah di sini selain dapat diartikan tidak boleh memakan darah, juga dapat diartikan tidak boleh membunuh atau menumpahkan darah orang lain. Ingat bahwa pada waktu itu orang Kristen hidup di bawah pemerintahan kekaisaran Romawi yang memang memiliki budaya kekerasan yang cukup tinggi. Jika belajar sejarah gereja, orang Romawi tidak segan-segan memancung orang Kristen, menyiksa hingga mati, bahkan membuat orang Kristen menjadi makanan hewan-hewan buas. Anjuran untuk menjauhkan diri dari darah selain dapat berarti menjauhkan diri dari makanan yang mengandung darah, namun juga dapat berarti menjauhkan diri dari penumpahan darah, bahkan tidak boleh membalas penumpahan darah dengan penumpahan darah.

Cukuplah penjelasan di atas sebagai suatu kemungkinan yang patut menjadi pertimbangan, karena sebagian kata-kata dalam ayat 20 tersebut juga dapat memiliki makna selain makanan. Namun karena fokus kita adalah mengenai kata pornos, maka kita juga perlu melihat anjuran ke-4 yaitu supaya kita menjauhi percabulan.

Jika 3 hal sebelumnya dapat diperdebatkan apakah memang hanya terkait makanan atau juga memiliki makna lainnya yang tersirat, maka untuk anjuran supaya umat percaya menjauhi percabulan sebenarnya juga dapat memiliki makna yang tersurat maupun tersirat. Kata percabulan dalam ayat ini menggunakan kata porneias (πορνείας) dari akar kata porneia (πορνεία) yang secara sederhana dapat diartikan sebagai fornication, whoredom (percabulan, persundalan), tetapi secara metafora dapat juga bermakna idolatry (pemujaan berhala, pemberhalaan).

Jika mau jujur, makna sederhana dari keempat anjuran di ayat 20 ini adalah mengenai pengendalian makan/minum dan seks. Secara ringkas hal itu berarti bahwa umat percaya dianjurkan untuk menjauhi makanan/minuman yang tidak sehat serta kehidupan seks yang tidak sehat pula. Jika mau jujur, hal ini sudah mulai langka dikhotbahkan di gereja-gereja pada masa kini. Jarang ada gereja yang dengan tegas berkata: “Kita harus menjaga pola makan kita supaya tubuh kita sehat dan memuliakan Tuhan”. Lebih banyak gereja yang sekarang berkata: “Tuhan memberikan kita karunia untuk menikmati, jadi kita boleh makan apa saja yang penting kita doakan sebelum makan supaya apapun makanan yang masuk ke mulut kita menyehatkan”. Gereja tidak mengajarkan jemaat untuk hidup bertanggung jawab dari hal kecil, yaitu dari makanan dan minuman.

Terkait dengan percabulan (porneia), saat ini jika mau jujur, semakin jarang gereja yang menyuarakan hidup suci dan menjaga kekudusan seks (baik sebelum menikah maupun setelah menikah). Hamil sebelum menikah serta praktik kawin cerai menjadi hal yang dipandang wajar di dalam jemaat. Bahkan tidak jarang hal semacam itu justru dilakukan oleh para “petinggi” gereja (pendeta, majelis, diaken, dan keluarga mereka). Sangat sulit mencari teladan di antara para pemimpin gereja yang dapat dicontoh terkait kehidupan seksual yang suci dan kudus ini. Gereja seperti menutup mata atas tantangan yang dihadapi oleh generasi muda di gereja (pemuda, remaja, sekolah minggu) dan tidak pernah mengajarkan tentang kesucian hidup dalam hal seks kepada orang-orang muda. Begitu mereka salah melangkah dan terlibat dalam percabulan, maka gereja dengan entengnya berkata: “Nasi sudah menjadi bubur, yang penting sekarang bagaimana bubur itu bisa menjadi enak”. Gereja menjadi tumpul dan tidak berdaya, apalagi jika yang tersandung kasus percabulan adalah keluarga “petinggi” gereja.

Jika terkait hal jasmani saja anjuran para rasul tersebut sudah tidak lagi diperhatikan gereja, bagaimana jika ayat 20 tersebut dikaitkan dengan hal rohani? Nyaris tidak ada gereja-gereja yang mau berlelah-lelah memberitakan Injil yang benar supaya orang percaya tidak terikat dengan pemberhalaan. Di masa saat ini, berhala paling kuat adalah materialisme, dimana orang percaya dapat dengan mudah mencintai dunia sehingga mereka tidak lagi mau berjuang sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Jemaat berselingkuh dalam percabulan dengan percintaan dunia, meskipun Alkitab jelas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak 4:4). Perkataan para rasul sekitar 2.000 tahun yang lalu hanya sebatas kata-kata belaka tanpa adanya usaha dari sebagian besar orang percaya untuk menghidupinya di masa modern saat ini.

Saat ini, banyak gereja lebih suka mengkhotbahkan hal-hal minor lainnya seperti kesembuhan, berkat jasmani, perlindungan Tuhan, doa yang dijawab, dan lain sebagainya. Mereka melupakan bahkan mengabaikan hal yang mayor, yang sudah digumulkan dalam sebuah sidang oleh bapa-bapa gereja sekitar 2.000 tahun yang lalu. Hal yang mayor adalah kita menjaga diri kita dari makanan yang haram dan tidak sehat, serta dari percabulan. Hal yang mayor adalah kita menjaga diri kita supaya tidak tercemar oleh hal-hal yang menjadi berhala yang dapat mendukakan hati Tuhan (menjaga kekudusan, menjaga perasaan Tuhan, dan lain sebagainya). Sayangnya, semakin ke sini semakin sedikit gereja yang menyuarakan hal-hal yang mayor, dan mereka lebih suka menyibukkan diri dengan hal-hal yang minor. Tidak jarang karena hal-hal yang minor itu ada banyak perdebatan antar gereja dan pendeta, bahkan sampai timbul perpecahan di antara umat Tuhan.


Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 15:1-21
15:1 Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."
15:2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.
15:3 Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ.
15:4 Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka.
15:5 Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa."
15:6 Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.
15:7 Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya.
15:8 Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita,
15:9 dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman.
15:10 Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?
15:11 Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."
15:12 Maka diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain.
15:13 Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: "Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku:
15:14 Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya.
15:15 Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis:
15:16 Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,
15:17 supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini,
15:18 yang telah diketahui dari sejak semula.
15:19 Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah,
15:20 tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.
15:21 Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."