Kamis, 28 Juni 2012

Abigail, Wanita yang Bijaksana


Jumat, 29 Juni 2012
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 25:23-31
Ketika Abigail melihat Daud, segeralah ia turun dari atas keledainya, lalu sujud menyembah di depan Daud dengan mukanya sampai ke tanah.” (1 Sam 25:23)


Abigail, Wanita yang Bijaksana


Dalam sinetron dan juga dalam kehidupan nyata, kadang-kadnag kita menemukan adanya pasangan suami isteri yang “njomplang”. Apa maksud saya dengan “njomplang”? Kadang-kadang kita menemukan adanya suami yang kerjanya nggak jelas, muka juga nggak ganteng, tetapi justru mendapatkan isteri yang cantik. Alkitab juga memberikan salah satu contoh bagaimana ada seorang laki-laki yang bebal, yang tidak takut akan Tuhan tetapi memiliki isteri yang cantik dan takut akan Tuhan. Orang tersebut adalah Nabal yang memiliki isteri bernama Abigail (1 Sam 25:3). Alkitab mengatakan bahwa Nabal adalah seseorang yang kaya, memiliki peternakan dengan 3.000 ekor domba dan 1.000 ekor kambing. Jika harga domba dan kambing dirata-rata adalah Rp500 ribu per ekornya, maka kekayaan Nabal dari ternaknya saja sudah mencapai Rp2 miliar.

Akan tetapi karena kelakuannya yang bebal dan tidak takut akan Tuhan, ia justru melakukan hal yang bodoh dan berbahaya. Ketika Daud meminta roti dan air kepada Nabal karena selama ini Daud dan orang-orangnya juga tinggal bersama-sama dengan gembala-gembala Nabal dan tidak pernah mengganggu mereka. Apalagi Nabal baru saja mengadakan pengguntingan bulu domba, seharusnya Nabal membagi roti dan air kepada orang-orang Daud. Oleh karena itu Daud marah dan ingin menyerang Nabal dengan membawa 400 orang. Mendengar hal tersebut, pegawai-pegawai Nabal tentu saja juga ketakutan, tetapi mereka tidak mungkin menyampaikan hal tersebut kepada Nabal, sehingga salah seorang pegawai Nabal menyampaikan hal tersebut kepada Abigail, isteri Nabal.

Mendengar hal tersebut, Abigail segera bertindak untuk menemui Daud dengan membawa makanan bagi Daud dan orang-orangnya. Ketika Abigail kemudian bertemu dengan Daud, Abigail menunjukkan sikap sebagai isteri yang luar biasa dengan cara turun dari keledainya dan sujud menyembah di hadapan Daud (ay. 23), lalu berkata kepada Daud agar dirinyalah saja yang menanggung kesalahan suaminya (ay. 24). Memang saat itu Abigail menyampaikan bahwa suaminya adalah orang yang dursila dan bebal (ay. 25), tetapi Abigail mengatakan hal tersebut bukan untuk menghina atau menjelek-jelekkan suaminya, tetapi justru untuk menyelamatkan nyawa suaminya dan orang-orang bawahan yang ada di peternakan suaminya.

Dalam ayat 26-31, Abigail pun mengucapkan kata-kata yang menenteramkan dan menyejukkan hati Daud, yang antara lain mengatakan bahwa jika Daud membunuh Nabal dan orang-orangnya, hal itu justru malah akan menambah hutang darah, namun jika Daud membiarkan mereka hidup, justru Tuhan akan berkenan kepada Daud. Abigail pun membawa beberapa persembahan makanan untuk menenangkan hati Daud dan orang-orangnya (ay. 27). Memang benar bahwa jika ingin berbicara dengan laki-laki, usahakan laki-laki itu dalam posisi kenyang, maka mood laki-laki akan lebih baik. Abigail tahu hal itu sehingga ia pun membawa makanan bagi Daud dan orang-orangnya.

Saya rasa hal ini bukan hal yang hanya dilakukan Abigail pada saat itu, tetapi hal ini merupakan hal yang memang menjadi karakter Abigail. Bayangkan hidup menjadi isteri seseorang yang bebal dan dursila, padahal Abigail sendiri adalah seseorang yang cantik, pastilah tidak mudah bukan? Akan tetapi Abigail mampu tetap menjadi isteri yang baik bagi Nabal. Daud sendiri mengakui kebijaksanaan Abigail dan berkata, jika Abigail tidak turun menemui Daud dan meredakan amarahnya, mungkin Daud sudah membinasakan seisi rumah Nabal (1 Sam 25:34). Kisah ini pun berakhir dengan indah, ketika Tuhan akhirnya menghukum Nabal dan membuat ia meninggal dunia, lalu Daud pun mengambil Abigail menjadi isterinya.

Apa yang dapat kita tarik dari bacaan Alkitab kita hari ini? Saya melihat bagaimana seorang isteri yang hebat tidak cukup dilihat dari kecantikan luar (fisik) saja, melainkan juga harus cantik secara hati (rohani). Banyak perempuan yang cantik secara fisik, tetapi tidak memiliki hati yang cantik juga. Di sisi lain, ada perempuan yang mungkin secara fisik biasa-biasa saja, tetapi memiliki hati yang luar biasa. Saya sendiri bersyukur sudah diberikan Tuhan seorang isteri yang luar biasa, yang mampu menjadi pendamping hidup saya dan penolong saya yang sepadan. Satu pelajaran bagi kita yang adalah wanita, bagaimana kita menjadi orang yang cantik di hadapan manusia dan di hadapan Tuhan, dengan perkataan-perkataan yang lembut dan menyejukkan hati. Di sisi lain, bagi kita yang pria juga mendapat pelajaran agar kita memperlakukan wanita dengan bijaksana, agar kita tidak hidup bebal dan dursila. Bagi kita yang telah menikah, tentunya kita juga mendapatkan pelajaran bagaimana agar suami dan isteri dapat saling mengasihi dan mendukung. Saya rasa kunci kesuksesan Nabal sebagai pengusaha ternak itu terletak pada Abigail, isterinya. Sayangnya Nabal tidak sadar akan hal itu dan boleh dikatakan “menyia-nyiakan” Abigail. Oleh karena itu Tuhan pun akhirnya memberkati Abigail dengan memberikan kesempatan kepada Abigail untuk menjadi isteri Daud, yang nantinya akan menjadi raja atas bangsa Israel. Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anakNya yang hidup benar di hadapan Tuhan, Ia akan mengangkat anak-anakNya ke tempat yang lebih tinggi lagi, ketika kita sudah berbuat yang benar dalam tingkat yang sedang kita lalui saat ini.


Bacaan Alkitab: 1 Samuel 25:23-31
25:23 Ketika Abigail melihat Daud, segeralah ia turun dari atas keledainya, lalu sujud menyembah di depan Daud dengan mukanya sampai ke tanah.
25:24 Ia sujud pada kaki Daud serta berkata: "Aku sajalah, ya tuanku, yang menanggung kesalahan itu. Izinkanlah hambamu ini berbicara kepadamu, dan dengarkanlah perkataan hambamu ini.
25:25 Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal, orang yang dursila itu, sebab seperti namanya demikianlah ia: Nabal namanya dan bebal orangnya. Tetapi aku, hambamu ini, tidak melihat orang-orang yang tuanku suruh.
25:26 Oleh sebab itu, tuanku, demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu yang dicegah TUHAN dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan, biarlah menjadi sama seperti Nabal musuhmu dan orang yang bermaksud jahat terhadap tuanku!
25:27 Oleh sebab itu, pemberian yang dibawa kepada tuanku oleh budakmu ini, biarlah diberikan kepada orang-orang yang mengikuti tuanku.
25:28 Ampunilah kiranya kecerobohan hambamu ini, sebab pastilah TUHAN akan membangun bagi tuanku keturunan yang teguh, karena tuanku ini melakukan perang TUHAN dan tidak ada yang jahat terdapat padamu selama hidupmu.
25:29 Jika sekiranya ada seorang bangkit mengejar engkau dan ingin mencabut nyawamu, maka nyawa tuanku akan terbungkus dalam bungkusan tempat orang-orang hidup pada TUHAN, Allahmu, tetapi nyawa para musuhmu akan diumbankan-Nya dari dalam salang umban.
25:30 Apabila TUHAN melakukan kepada tuanku sesuai dengan segala kebaikan yang difirmankan-Nya kepadamu dan menunjuk engkau menjadi raja atas Israel,
25:31 maka tak usahlah tuanku bersusah hati dan menyesal karena menumpahkan darah tanpa alasan, dan karena tuanku bertindak sendiri dalam mencari keadilan. Dan apabila TUHAN berbuat baik kepada tuanku, ingatlah kepada hambamu ini."


Hamba Tuhan atau Hamba Manusia?


Kamis, 28 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Galatia 1:6-10
Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” (Gal 1:10)


Hamba Tuhan atau Hamba Manusia?


Jika kita ditanya, apakah kita ini lebih taat kepada Tuhan atau kepada manusia? Pasti kita akan menjawab, “Ya pastilah kita pasti lebih taat kepada Tuhan”. Tetapi coba kita tanya, sejauh apa kita lebih taat kepada Tuhan, kepada Injil dan kebenaran Firman Tuhan daripada taat kepada manusia dan kepada ajaran-ajaran manusia. Contoh paling gampang saja, ketika kita bangun tidur, apakah yang pertama kali kita lakukan? Apakah kita akan berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan lalu kemudian membaca Firman Tuhan, ataukah ketika bangun kita langsung menyalakan televisi, mencari berita atau membaca surat kabar?

Jika kita membaca kitab Galatia yang ditulis oleh Rasul Paulus, maka kita akan tahu betapa Rasul Paulus bersikap sangat keras kepada jemaat Galatia. Hal ini terlihat dari banyaknya tanda seru yang ada di kitab ini. Apa yang menyebabkan Paulus begitu “marah” kepada jemaat Galatia? Salah satu hal adalah karena jemaat Galatia yang sudah mendengar Injil yang disampaikan oleh Paulus dan hamba-hamba Tuhan yang lain, ternyata begitu mudah berbalik dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan injil, melainkan ajaran yang memutarbalikkan Injil Kristus yang sebenarnya (ay. 6-7). Begitu kesalnya Paulus terhadap sikap dan perilaku jemaat Galilea sehingga muncul kalimat dari Paulus yang mengatakan bahwa andaikata ada orang ataupun malaikat yang menyampaikan injil yang menyesatkan, maka orang itu maupun malaikat itu akan terkutuk (ay. 8). Hal ini pun dikatakan sampai dua kali (ay. 9), yang berarti penekanan yang sangat penting.

Apa maksud Paulus dengan mengatakan seperti itu? Paulus ingin mengatakan bahwa walaupun ia memiliki hak untuk menyampaikan Injil, tetapi Paulus pun lebih suka menyampaikan Injil yang benar walaupun keras daripada “injil” yang palsu, yang membuat jemaat lebih senang. Hal itu pun terlihat pada ayat selanjutnya, yaitu Paulus menekankan mana yang ia pilih, apakah ia lebih memilih kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Apakah ia lebih memilih berkenan kepada manusia atau berkenan kepada Allah? (ay. 10).

Paulus sadar, bahwa sebagai hamba Tuhan, terlebih sebagai hamba Tuhan yang menyampaikan kebenaran Firman Tuhan, sudah seharusnya Paulus lebih mementingkan apa yang Tuhan mau, bukan apa yang jemaat mau. Paulus adalah hamba Tuhan yang tegas, yang tidak kompromi. Jika jemaat telah melakukan yang benar, Paulus pun tidak segan-segan memuji. Tetapi jika jemaat melakukan hal yang salah, maka Paulus pun tidak segan-segan menegur, bahkan menggunakan kata atau kalimat yang keras. Paulus bisa saja menyampaikan Firman Tuhan yang “enak”, yang menyenangkan hati jemaat, yang membuat Paulus bisa mendapatkan banyak jemaat dan tidak akan takut untuk kehilangan jemaat. Tetapi Paulus tidak mau mengatakan demikian, bagi Paulus lebih baik ia menyampaikan Firman Tuhan (Injil) yang sesungguhnya dengan risiko ada beberapa jemaat (yang belum dewasa) meninggalkan dirinya.

Adakah kita yang saat ini menjadi hamba-hamba Tuhan? Sudahkah kita lebih berkenan kepada Tuhan daripada kepada manusia? Ketika dahulu melayani di persekutuan kampus, ketika terjadi kekurangan pemusik karena sulitnya mencari pemusik pada saat itu, salah seorang pengurus persekutuan pernah berkata kepada saya, “Lebih baik kita persekutuan tanpa musik, daripada saya harus menurunkan standar pelayan pemusik, dan membiarkan orang-orang yang jago main musik untuk melayani, padahal orang-orang itu belum memiliki hati untuk melayani”. Saya melihat bahwa pengurus tersebut lebih mementingkan hati daripada skill.
Sayangnya, jika kita mau jujur, masih cukup banyak orang yang mengaku hamba Tuhan tetapi kadang-kadang masih takut melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Hamba-hamba Tuhan ini masih takut kehilangan jemaat, sehingga agar jemaat tidak hilang dan pindah ke gereja lain, mereka memberi jatah pelayanan kepada orang-orang yang sesungguhnya belum siap. Mereka memberikan jabatan sebagai pengurus gereja atau sebagai pelayan gereja. Atau mungkin ada hamba Tuhan yang memberikan “perlakuan khusus” kepada jemaat-jemaat yang kaya, yang selama ini menjadi “sumber dana” bagi gereja dan hamba Tuhan itu sendiri.

Bagi kita yang adalah hamba Tuhan, mari kita instropeksi diri kita sendiri, apakah kita sudah sungguh-sungguh melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan. Justru karena posisi kita adalah hamba Tuhan, kita harus jauh lebih taat kepada Tuhan. Tuhanlah yang empunya jemaat, jadi seharusnya kita tidak perlu takut kehilangan jemaat atau kekurangan persembahan dari jemaat, karena jika kita benar-benar menyampaikan Injil yang benar, pasti Tuhan juga akan mengirim jemaat dan berkat Tuhan. Jika kita yang belum menjadi hamba Tuhan, sudahkah kita juga mengikuti Injil yang benar, yang mungkin kadang-kadang berat dan sulit untuk dilakukan?


Bacaan Alkitab: Galatia 1:6-10
1:6 Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,
1:7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.
1:8 Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.
1:9 Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.
1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

Selasa, 26 Juni 2012

Tanda 666


Rabu, 27 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Wahyu 13:16-18
Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” (Why 13:18)


Tanda 666


Saya sendiri agak takut menulis renungan yang terkait dengan akhir zaman dan khususnya kitab Wahyu, karena memang kitab Wahyu penuh dengan perkataan-perkataan nubuatan dan simbol-simbol yang tidak dapat diartikan secara sembarangan. Tuhan sendiri sudah mewanti-wanti agar jangan ada orang yang menambah-nambahi maupun mengurang-ngurangi Firman yang terdapat di dalam kitab ini (Why 22:18-19). Akan tetapi saya merasa perlu untuk membagikan Firman Tuhan tentang ayat Alkitab kita hari ini, karena saya yakin bahwa memang hal ini sudah terjadi (sebagian) di bumi ini.

Jika kita membaca ayat-ayat sebelumnya dari bacaan Alkitab kita pada hari ini, ayat-ayat tersebut berbicara tentang adanya binatang yang keluar dari dalam bumi (Why 13:11). Jika kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, binatang ini berbicara tentang iblis atau antikristus. Ketika binatang ini keluar, maka ia menyebabkan semua orang diberi tanda pada tangan kanan atau pada dahi (ay. 16). Jelas bahwa tanda yang disebutkan di ayat 16 ini adalah tanda binatang tersebut. Apa maksud dari pemberian tanda itu? Alkitab pun menyebutkan bahwa tanda itu berfungsi sebagai alat untuk dapat membeli dan menjual. Tidak ada seorang pun yang bisa membeli dan menjual selain mereka yang memakai tanda tersebut, yaitu nama binatang atau bilangan namanya (ay. 17). Tanda tersebut adalah tanda yang tanda yang diberikan binatang tersebut sebagai pengikutnya, dan orang yang tidak mau memakai tanda tersebut akan terkucilkan, karena mereka tidak dapat membeli atau menjual, sehingga mau tidak mau, orang-orang akan memakai tanda tersebut di tangan kanan atau dahinya. Tanda semacam apakah itu? Alkitab mengatakan bahwa kita harus bijaksana untuk mengetahui tanda tersebut, karena tanda itu adalah bilangan manusia yaitu 666 (ay. 18).

Sudah banyak orang Kristen mengetahui bahwa angka 666 adalah angka yang menggambarkan iblis, tetapi tidak banyak orang Kristen yang mengetahui hubungan angka 666 dengan tanda binatang tersebut. Saya akui bahwa saya memang belum ahli dalam pengajaran akhir zaman, dan Alkitab juga tidak berbicara secara gamblang mengenai tanda ini. Tetapi jika kita perhatikan ayat demi ayat, maka kita akan menyadari bahwa tanda tersebut digunakan iblis dan antikristus untuk mengendalikan perekonomian dunia, dan tanpa tanda tersebut maka orang tersebut tidak akan dapat menjual dan membeli (perdagangan), walaupun demikian Alkitab juga mengatakan bahwa tanda tersebut hanya dapat dilihat dengan hikmat dan kebijaksanaan.

Menurut saya, salah satu bentuk tanda ini adalah barcode, yang terdiri dari garis-garis tebal dan tipis yang membentuk kombinasi angka tertentu. Jika dipindai dengan alat tertentu (scanner), maka komputer akan dapat membaca barcode tersebut dan langsung mendata jenis barang tersebut. Hal ini sudah menjadi hal yang umum dijumpai, di supermarket, di mini market, bahkan di Jakarta juga sudah ada toko buku rohani yang memakai sistem barcode karena sistem memang memudahkan untuk menginput barang yang dijual. Di sisi lain, hampir semua produk rumah tangga, makanan, minuman, dan lain-lain juga sudah memiliki barcode sebagai kode produk tersebut. Tanpa barcode pada kemasan produk tersebut, maka produk tersebut akan sulit untuk dijual bukan? Lalu mengapa saya mengatakan bahwa barcode adalah salah satu bentuk tanda binatang ini? Coba kita ambil satu barang saja yang ada kode barcode-nya, entah sabun, pasta gigi, atau apapun dan kita lihat ke dalam kode barcode-nya. Pada umumnya di bawah dari garis-garis barcode tersebut terdapat angka bukan? Tetapi jika kita perhatikan dengan seksama, maka ada dua garis tipis yang sejajar di tiga tempat, yaitu di sebelah kiri, tengah, dan kanan yang di bawahnya tidak ada angkanya. Jika kebetulan ada produk yang mengandung angka 6, maka kita akan menemukan bahwa dua garis tipis yang sejajar tersebut adalah kode untuk angka 6. Maka, dalam barcode manapun, akan ada kode 6 di sebelah kiri, kode 6 di tengah, dan kode 6 di belakang, yang membentuk angka 666.

Suatu kebetulan kah? Saya rasa tidak. Tetapi saya merasa bahwa masih ada hal lainnya yang terkait dengan tanda tersebut, mengapa tanda tersebut diletakkan di tangan kanan atau di dahi. Sederhana saja, karena tangan kanan merupakan anggota tubuh utama yang digunakan oleh manusia, termasuk untuk berbelanja. Tangan kanan dapat kita gunakan secara fleksibel. Tapi andaikata seseorang tidak memiliki tangan, atau kaki, paling tidak ia pasti memiliki kepala, sehingga tanda tersebut juga dapat dipasang di dahi manusia. Jadi, hal apakah yang dapat mengambarkan tanda binatang ini?

Jika kita perhatikan perkembangan teknologi, kita akan melihat bahwa dunia sedang berkembang secara pesat. Dahulu orang membayar dengan uang tunai, kemudian muncullah cek, selanjutnya juga muncul kartu debit yang memungkinkan orang untuk membayar dengan cara memasukkan PIN atau menandatangani struk. Saat saya menulis tulisan ini, di Jakarta saja sudah marak penggunaan kartu berbasis chip yang memungkinkan orang untuk membayar hanya dengan mendekatkan kartu mereka ke alat pembaca (scanner) khusus dan secara otomatis saldo dalam kartu kita akan berkurang. Ya, menurut saya chip adalah salah satu lagi bentuk tanda binatang tersebut.

Saya percaya bahwa chip (atau apapun bentuknya pada masa depan), adalah salah satu bentuk tanda antikristus tersebut. Saat ini di Indonesia pun sedang marak program e-KTP, dimana KTP nantinya akan ditambahkan chip yang mengandung informasi-informasi kita. Bukan tidak mungkin di masa depan, nantinya kita hanya akan memiliki satu kartu saja, yang berisi segala informasi kita termasuk data rekening bank kita yang dapat digunakan untuk membayar di supermarket maupun di minimarket. Walaupun demikian, kartu chip dirasa masih menyulitkan, karena ada kemungkinan kartu tersebut rusak ataupun hilang, sehingga nantinya chip tersebut akan ditanam dalam tubuh manusia, entah di tangan kanan maupun di dahi manusia.

Sebagai informasi, saat tulisan ini ditulis, saya pernah membaca bahwa sudah dikembangkan chip yang berukuran kecil namun mampu menyimpan data cukup banyak, dan di luar negeri chip ini bahkan sudah umum digunakan untuk binatang, sehingga pemilik binatang dapat mengetahui kondisi binatang tersebut dan bahkan memantau posisinya melalui sistem GPS. Saya pun pernah mendengar dari salah seorang hamba Tuhan, bahwa ketika sedang mengantri imigrasi di salah satu bandara di luar negeri, ia melihat dengan matanya sendiri bahwa ternyata sudah ada orang-orang yang memasang chip tersebut di tangan kanannya, sehingga mereka tidak perlu mengantri imigrasi melainkan hanya memasukkan tangan mereka di scanner dan otomatis komputer akan membaca data orang tersebut, dan jika memang telah sesuai maka orang tersebut dapat lewat dari imigrasi tanpa harus repot-repot menunjukkan paspor.

Apa yang saya sampaikan panjang lebar di atas, intinya adalah kita harus berjaga-jaga dan waspada. Saya sendiri berharap agar barang siapapun yang membaca tulisan saya ini bisa lebih hati-hati sehingga tidak sampai memasang tanda tersebut di tangan atau dahi kita. Mengapa demikian? Tanda tersebut adalah tanda bagi orang-orang yang menyembah binatang itu. Ketika kita memakai tanda tersebut, suka tidak suka berarti kita menjadi pengikut binatang itu. Ayat lain di dalam kitab Wahyu berbicara bahwa orang yang menerima tanda tersebut akan mengalami murka Allah (Why 14:9-11, 16:2, 19:20). Tetapi kita yang tidak mau menerima tanda tersebut (dengan segala konsekuensinya yaitu tidak dapat menjual dan membeli, dikucilkan, bahkan mungkin dibunuh), akan masuk dan memerintah bersama-sama dengan Yesus dalam kerajaan seribu tahun (Why 20:4). Intinya, mari kita berjaga-jaga, karena dengan melihat kondisi zaman ini, kita tahu bahwa masanya sudah dekat. Sudah saatnya kita lebih sungguh-sungguh mengiring Tuhan.


Bacaan Alkitab: Wahyu 13:16-18
13:16 Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya,
13:17 dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.
13:18 Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.

Melakukan Kehendak Tuhan 100%


Selasa, 26 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Bilangan 20:7-12
Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka."” (Bil 20:12)


Melakukan Kehendak Tuhan 100%


Jika kita membaca Alkitab, khususnya kitab Keluaran hingga Ulangan, kita akan menemukan bahwa Musa adalah sosok yang sangat penting dan sentral dalam kehidupan bangsa Israel. Sejak peristiwa pemanggilan Musa oleh Tuhan (Kel 3:1-4:17), hingga ia mampu membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir (Kel 12:37-42), bahkan hingga Musa membawa bangsa Israel berperang melawan sejumlah bangsa-bangsa sepanjang perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, semua menunjukkan bahwa Musa memang pemimpin yang hebat. Secara manusia, saya sendiri berpikir bahwa Musa sangat pantas menjadi pemimpin bangsa Israel setelah mereka masuk ke dalam tanah Kanaan.

Akan tetapi, dari sekian banyak keberhasilan Musa, ada satu titik noda saja yang membuat Musa tidak dapat memasuki tanah Kanaan, padahal tanah itulah tanah yang dijanjikan Tuhan sendiri kepada bangsa Israel. Apa sebenarnya kesalahan Musa sehingga ia tidak dapat menikmati tanah perjanjian tersebut?

Jika kita membaca ayat-ayat sebelumnya dari bacaan Alkitab kita pada hari ini, kita akan menemukan bahwa bangsa Israel bersungut-sungut karena tidak ada air bagi mereka (Bil 20:2-3). Saya tidak tahu mengapa bangsa Israel tetap bersungut-sungut karena masalah air dan makanan, padahal selama perjalanan di padang gurun, Tuhan selalu mencukupkan kebutuhan bangsa Israel khususnya makanan dan minuman. Pada saat itu, Tuhan memerintahkan Musa untuk mengumpulkan bangsa Israel dan berbicara kepada bukit  batu supaya keluar airnya dan memberi minum kepada seluruh bangsa Israel (ay. 7-8).

Akan tetapi Musa mungkin saat itu sudah sangat jengkel dan kesal kepada kelakuan bangsa Israel (ay. 9-10), sehingga bukannya berbicara kepada bukit batu tersebut, Musa justru memukul bukit  batu tersebut dengan tongkatnya sebanyak dua kali, sehingga keluarlah banyak air bagi bangsa Israel dan segala ternak mereka (ay. 11). Jika kita perhatikan, Musa sampai memukul bukit batu itu sebanyak dua kali. Apa maksudnya ini?

Ada yang berpendapat bahwa mungkin saja Musa ketika memukul bukit batu untuk yang pertama kali, ternyata airnya tidak keluar (karena Tuhan sebenarnya memerintahkan Musa untuk berbicara, bukan untuk memukul). Mungkin saat itu Musa panik dan memukul lagi bukit batu tersebut untuk yang kedua kali, dan walaupun apa yang dilakukan Musa itu salah, tetapi Tuhan memang tidak pernah mempermalukan hambaNya, sehingga akhirnya Tuhan membuat air keluar dari bukit batu tersebut. Tetapi ada juga pendapat lain (dan saya lebih cenderung setuju akan pendapat ini) yang mengatakan bahwa Musa memukul bukit tersebut hingga dua kali karena Musa terlalu jengkel dan kesal terhadap sikap bangsa Israel. Musa tidak dapat mengendalikan kekesalannya tersebut sehingga akhirnya ia tidak dapat mengendalikan diri dan tidak taat kepada suara Tuhan.

Ternyata, hanya karena Musa tidak melakukan perintah Tuhan itulah maka akhirnya Tuhan tidak mengijinkan Musa masuk ke dalam tanah Kanaan. Ada dua kesalahan yang diperbuat Musa pada kejadian tersebut, yaitu tidak percaya kepada Tuhan dan tidak menghormati kekudusan Tuhan (ay. 12), akibatnya Musa hanya dapat melihat tanah yang dijanjikan tersebut dari jauh, dari atas gunung (Ul 34:1-6). Tuhan ingin agar anak-anakNya, terlebih hamba-hambaNya, melakukan apa yang Tuhan perintahkan dengan sungguh-sungguh. Tuhan tidak ingin kita melakukan perintahNya setengah-setengah, tetapi Tuhan ingin kita benar-benar 100% melakukan apa yang Tuhan perintahkan.

Saya tidak tahu apa yang Tuhan sedang perintahkan kepada masing-masing dari kita pada saat ini. Apakah Tuhan sedang ingin kita untuk melayani Tuhan, atau Tuhan sedang ingin kita mengambil bagian dalam suatu pekerjaan Tuhan, atau mungkin sedang ada satu ayat Alkitab yang berbicara dengan sangat kuat kepada kita, sudahkah kita melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan? Ataukah masih ada banyak pertimbangan dalam hati kita? Ataukah justru kita masih hitung-hitungan dengan Tuhan? Atau mungkin masih ada ganjalan dan emosi dalam kehidupan kita sehingga  bukannya melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan, tetapi kita justru lebih memilih melakukan yang lain? Ingatlah bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang sempurna, jangan sampai ketidaktaatan kita melakukan perintah Tuhan tersebut menjadi batu sandungan bagi kita. Ijinkan saya mengutip apa yang dikatakan Tuhan Yesus, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21).


Bacaan Alkitab: Bilangan 20:7-12
20:7 TUHAN berfirman kepada Musa:
20:8 "Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya."
20:9 Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.
20:10 Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?"
20:11 Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.
20:12 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka."

Mengelola Persembahan dari Jemaat


Senin, 25 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Nehemia 12:44-47
Pada masa itu beberapa orang diangkat untuk mengawasi bilik-bilik perbendaharaan, bilik-bilik untuk persembahan khusus, untuk hasil pertama dan untuk persembahan persepuluhan, supaya sumbangan yang menurut hukum menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi dikumpulkan di bilik-bilik itu sesuai dengan ladang setiap kota. Sebab Yehuda bersukacita karena para imam dan orang-orang Lewi yang bertugas.” (Neh 12:44)


Mengelola Persembahan dari Jemaat


Ada sebuah lelucon menarik tentang tiga orang yang sedang memberi persembahan kepada Tuhan. Orang pertama membuat garis di tanah, kemudian melemparkan uangnya ke atas. Ketika uang itu jatuh ke tanah, orang tersebut berkata, “Uang yang di sebelah kanan garis tersebut akan saya persembahkan kepada Tuhan, sedangkan uang yang di sebelah kiri garis tersebut adalah milik saya”. Orang kedua membuat lingkaran di atas tanah, kemudian melemparkan uangnya ke atas. Orang tersebut mengatakan bahwa uang yang ada di dalam lingkaran aakan dipersembahkan untuk Tuhan dan yang di luar lingkaran akan menjadi miliknya. Orang ketiga tidak menggambar apa-apa di tanah tetapi langsung melemparkan uangnya ke atas, dan akhirnya uang tersebut berhamburan ke tanah dan langsung dipungut kembali oleh orang ketiga. Orang pertama dan kedua bingung, lalu bertanya kepada orang ketiga, “Kok begitu? Bagaimana caranya kamu menentukan berapa yang dipersembahkan?”. Dengan entengnya orang ketiga menjawab, “Saya melemparkan uang ke atas, biar Tuhan mengambil yang diperlukan, yang tidak diperlukan dan jatuh ke bumi menjadi milik saya”.

Memang hanya lelucon, tetapi kadang-kadang kita juga bersikap sama seperti orang-orang di atas. Apa dasar kita untuk menentukan berapa besar persembahan yang kita berikan? Minimal, apakah ketika kita memberikan persembahan, kita sudah memberikannya dengan penuh sukacita? Bagaimana jika suatu saat pendeta kita berkata, “Kita akan membangun gereja kita menjadi empat lantai, ada ruang-ruang khusus untuk pemuda dan sekolah minggu, bahkan ada ruangan khusus untuk jemaat yang ingin mengadakan pernikahan di gereja? Maukah kita mengambil bagian dalam hal tersebut?

Bangsa Yehuda pada zaman Nehemia (setelah kembali dari pembuangan), menemukan bahwa kondisi negara mereka, khususnya kota Yerusalem, sangat membutuhkan dana untuk membangunnya kembali, khususnya membangun Bait Allah. Saat itu kondisi bangsa Yehuda sendiri pun saya yakin tidak lebih makmur dari sebelum pembuangan. Mereka yang kembali dari pembuangan mungkin hanya memiliki harta seadanya. Akan tetapi bangsa Yehuda tetap memberikan persembahan kepada Tuhan. Untuk mengelola persembahan tersebut, Nehemia mengatur agar ada orang-orang tertentu yang diangkat untuk mengawasi persembahan yang diterima dari segenap bangsa Yehuda tersebut (ay. 44a). Apa tujuannya? Agar persembahan yang diberikan rakyat dapat disampaikan kepada para imam dan orang-orang Lewi sesuai dengan hukum Taurat  (ay. 44b).

Saat itu, Nehemia mengatur agar hamba-hamba Tuhan dan pelayan-pelayan Tuhan yang melayani Tuhan, entah sebagai penyanyi, penunggu gerbang, dan lain sebagainya (ay. 45-46), mendapatkan penghasilan yang layak baginya. Sedangkan persembahan kudus dari rakyat diberikan kepada orang Lewi dan orang Lewi pun memberikan persembahan juga kepada anak-anak Harun (ay. 47). Apa inti dari ini semua?

Saya melihat bahwa di gereja, perlu ada suatu mekanisme yang jelas mengenai persembahan yang dikumpulkan dari jemaat Tuhan. Saya sendiri masih belum pernah masuk dan mengelola keuangan gereja, tetapi saya melihat perlu adanya aturan yang jelas dan fair mengenai keuangan gereja. Sebagai contoh, persembahan mana saja yang masuk ke kas gereja dan mana yang masuk ke kas gembala sidang? Selanjutnya, bagaimana mekanisme dari para pendeta dan hamba-hamba Tuhan yang melayani di gereja tersebut? Apakah semua persembahan diberikan kepada gembala sidang lalu gembala sidang memberikan “honorarium” kepada pendeta dan pelayan yang lain, ataukah dilakukan sistem proporsional, misal gembala sidang memiliki hak 50% dari persembahan yang masuk, wakil gembala 20%, dan seterusnya? Masing-masing gereja tentu memiliki karakteristik tersendiri, tetapi saya melihat, perlu adanya aturan yang jelas mengenai keuangan gereja. Jangan sampai terjadi hal-hal yang justru membuat jemaat tidak kondusif.

Nehemia sendiri mengatur bagaimana persembahan itu harus dikelola, walaupun tidak ditulis secara detail di Alkitab. Tetapi kita tahu bahwa ada pembagian antara pelayan Tuhan, orang Lewi, serta imam (anak-anak Harun). Saya yakin Tuhan sendiri juga suka dengan keteraturan bukan? Jika gereja mampu mengelola berkat-berkat Tuhan dengan profesional namun tetap sesuai koridor Firman Tuhan, saya yakin Tuhan pasti akan senang dan tidak segan-segan lagi memberikan berkatNya kepada gereja tersebut.  Tetapi gereja (dan hamba Tuhan) yang tidak rapi, yang sering teledor mengelola keuangan gereja, bahkan jika sampai ada korupsi atau mark up di dalam gereja, apakah gereja (dan hamba Tuhan) tersebut akan disukai Tuhan?


Bacaan Alkitab: Nehemia 12:44-47
12:44 Pada masa itu beberapa orang diangkat untuk mengawasi bilik-bilik perbendaharaan, bilik-bilik untuk persembahan khusus, untuk hasil pertama dan untuk persembahan persepuluhan, supaya sumbangan yang menurut hukum menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi dikumpulkan di bilik-bilik itu sesuai dengan ladang setiap kota. Sebab Yehuda bersukacita karena para imam dan orang-orang Lewi yang bertugas.
12:45 Karena merekalah yang melakukan tugas pelayanan bagi Allah mereka dan tugas pentahiran, demikian juga para penyanyi dan para penunggu pintu gerbang, sesuai dengan perintah Daud dan Salomo, anaknya.
12:46 Karena sudah sejak dahulu, pada zaman Daud dan Asaf, ada pemimpin-pemimpin penyanyi, ada nyanyian pujian dan nyanyian syukur bagi Allah.
12:47 Pada zaman Zerubabel dan Nehemia semua orang Israel memberikan sumbangan bagi para penyanyi dan para penunggu pintu gerbang sekadar yang perlu tiap-tiap hari dan mempersembahkan persembahan kudus kepada orang-orang Lewi. Dan orang-orang Lewi mempersembahkan persembahan kudus kepada anak-anak Harun.


Berdoa dengan Tidak Jemu-jemu


Minggu, 24 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Lukas 18:1-8
Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk 18:7)


Berdoa dengan Tidak Jemu-jemu


Pernahkah kita menghitung, untuk satu pokok doa, berapa kali kita berdoa kepada Tuhan sebelum akhirnya kita menyerah? Satu kali? Dua kali? Tiga kali? Atau sampai Tuhan menjawab doa kita? Dalam bacaan Alkitab kita hari ini kita akan mencoba untuk mempelajari Firman Tuhan tentang bagaimana kita berdoa dengan tidak jemu-jemu, karena Tuhan Yesus sendiri yang mengajarkan, bahkan menegaskan bahwa kita sebagai murid-muridNya harus berdoa dengan tidak jemu-jemu (ay. 1).

Apa itu berdoa dengan tidak jemu-jemu? Berdoa dengan tidak jemu-jemu adalah berdoa secara terus menerus hingga Tuhan menjawab doa kita. Berdoa dengan tidak jemu-jemu adalah berdoa dengan konsisten, tanpa batas waktu jika diperlukan, hingga doa kita dijawab. Memang jawaban doa kita bisa “ya”, bisa “tidak”, atau juga bisa “tunggu”. Nah tentu saja kita harus berdoa dengan doa yang benar, karena jika kita berdoa dengan motivasi yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, pasti kita tidak mendapatkan apa-apa (Yak 4:3). Ketika kita berdoa dengan benar di hadapan Tuhan, pasti Tuhan akan memberikan jawaban antara “ya” atau “tunggu”. Inilah inti dari berdoa dengan tidak jemu-jemu, yaitu berdoa hingga Tuhan mengubah jawabanNya dari “tunggu” menjadi “ya”.

Tuhan Yesus sendiri memberikan perumpamaan, bahwa ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapapun (ay. 2). Di sisi lain, ada janda yang selalu datang kepada hakim tersebut dan selalu meminta hakim itu untuk membela perkaranya (ay. 3). Hakim tersebut awalnya menolak (ay. 4), tetapi karena janda tersebut terus menerus meminta dan mengganggu hakim itu maka akhirnya hakim itu pun membela perkaranya (ay. 5). Tuhan Yesus juga menjelaskan makna dari gambaran tadi, yaitu jika seorang hakim (manusia) yang lalim akhirnya bisa luluh karena permohonan yang terus menerus dari janda tersebut, apalagi Allah pasti tidak akan mengulur-ulur waktu sebelum menolong orang-orang pilihanNya yang berseru kepadaNya siang dan malam (ay. 6-7).

Sepintas bacaan Alkitab tersebut hanya berbicara tentang ketekunan doa, tanpa memperhatikan esensi inti dari gambaran Tuhan Yesus tersebut. Sering kali orang Kristen terjebak pada kesalahan yang sama, yaitu menyangka bahwa doa yang salah sekalipun, asal kita berdoa secara terus menerus pasti akan dijawab dan dikabulkan Tuhan. Benarkah demikian? Mari kita lihat dan perhatikan dengan seksama. Siapa yang dikatakan lalim dalam bacaan Alkitab tersebut? Hakim atau janda? Alkitab menyebutkan bahwa hakim tersebut lalim, sementara si janda tidak disebutkan sebagai janda yang lalim. Tentu saja janda ini juga adalah janda yang benar, karena jika si janda adalah janda yang lalim dan si hakim juga lalim, lalu apa bedanya si janda dengan si hakim.

Perhatikan pula bahwa Tuhan Yesus sering sekali memakai perumpamaan janda. Mengapa harus janda? Mengapa Tuhan tidak memberi contoh seorang gadis? Janda adalah orang yang sudah tidak punya apa-apa. Ketika janda tersebut datang ke hakim yang lalim, tentu saja ia tidak datang dengan sekarung uang untuk “menyogok” hakim tersebut agar mau membela perkaranya. Tetapi ia hanya mengandalkan usahanya untuk terus-menerus meminta, karena hanya itu yang ia mampu. Janda itu mempertaruhkan segala sesuatunya kepada hakim yang lalim tersebut.

Inilah kunci dari berdoa dengan tidak jemu-jemu. Pertama, isi doa kita haruslah doa yang benar, dengan motivasi yang benar untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk diri kita sendiri. Kedua, kita harus bersikap seperti janda, yang benar-benar hanya menggantungkan jawaban doa kita pada Tuhan, bukan pada kekayaan atau pada koneksi kita. Ketika itu kita lakukan dengan tidak jemu-jemu, maka saya sangat yakin bahwa Tuhan pasti akan menjawab doa-doa kita. Itulah inti iman yang benar di hadapan Tuhan, yang tergambar dari doa yang kita naikkan ke hadapan Tuhan. Permasalahannya adalah, apakah kita sudah berdoa yang benar dengan tidak jemu-jemu? Atau justru kita hanya berdoa dengan terus menerus padahal isi doa kita adalah doa yang salah? Jika demikian, wajar jika Tuhan bertanya kepada kita, “Adakah kudapati iman di bumi ini?” (ay. 8).


Bacaan Alkitab: Lukas 18:1-8
18:1 Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
18:2 Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.
18:3 Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
18:4 Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun,
18:5 namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku."
18:6 Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!
18:7 Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
18:8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"