Jumat, 20 Februari 2015

Tanda dan Mujizat itu Untuk Siapa?



Senin, 23 Februari 2015
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 5:12-16
Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat. (Kis 5:12)


Tanda dan Mujizat itu Untuk Siapa?


Sekarang ini, banyak gereja berlomba-lomba membuat kebaktian kebangunan rohani (KKR). Entah apa makna dari kata “KKR” tersebut, tetapi sepertinya kebanyakan gereja saat ini menganggap bahwa KKR adalah ibadah dimana ada mujizat Tuhan dan tanda-tanda heran dinyatakan dalam ibadah itu. Tidak heran banyak gereja mengambil tema tentang mujizat. Ada gereja yang memiliki tema “gereja yang penuh mujizat Tuhan”, tema “Mujizat untuk anda”, dan lain sebagainya.

Saya tentu saja tidak anti dengan mujizat, karena memang sejak zaman rasul-rasul di gereja mula-mula, mujizat sudah ada. Bahkan Alkitab Perjanjian Lama pun penuh dengan mujizat dan pertolongan Tuhan. Tuhan Yesus selama di dunia ini pun sering mengadakan mujizat, sebut saja mujizat air menjadi anggur, mujizat 5 roti dan 2 ikan cukup untuk 5.000 orang, mujizat menyembuhkan orang, mujizat membangkitkan orang mati, dan lain sebagainya.

Namun saya melihat dari sisi yang agak luas. Kata “tanda”, menggunakan bahasa Yunani “shmeia” yang berasal dari kata “shmeion” atau “semeion”, yang salah satu artinya adalah petunjuk atau isyarat. Bahasa kita  pun menggunakan kata “tanda” yang hampir sama maknannya dengan “rambu penunjuk”. Kata “mujizat” menggunakan bahasa Yunani “terata” yang berasal dari kata “terav” atau “teras”, yang juga dapat berarti suatu “pertanda sebelum terjadinya sesuatu”.

Oleh karena itu, saya sendiri melihat bahwa tanda dan mujizat itu memang penting dan memang ada di seluruh masa gereja, mulai dari gereja mula-mula, gereja di abad pertengahan, gereja di abad ke-21 dan juga di gereja akhir zaman. Akan tetapi tanda dan mujizat ini justru lebih berperan dalam pelayanan gereja keluar, yaitu supaya orang percaya kepada Tuhan. Tentu jika kita mengadakan KKR kesembuhan illahi atau kita mendoakan orang sakit dan orang itu sembuh, maka orang itu yang belum percaya kepada Tuhan akan percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang menyembuhkan. Sampai di sini sesungguhnya saya melihat belum ada masalah.

Masalahnya mulai muncul pada saat gereja-gereja Tuhan justru menganggap tanda dan mujizat adalah yang terutama, bahkan bagi jemaat yang sudah rutin beribadah di  gereja tersebut. Gereja tersebut merasa bahwa jika ada ibadah tanpa ada jemaat yang disembuhkan atau tanpa ada mujizat Tuhan dinyatakan, maka ibadah tersebut terasa kurang Roh atau kurang rohani. Hal ini yang saya coba luruskan dalam renungan hari ini.

Jika kita membaca ayat dalam Kisah Para Rasul ini, maka kita akan melihat bahwa rasul-rasul mengadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak (ay. 12a). Orang banyak yang dimaksud di sini bukanlah jemaat Tuhan, melainkan orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang beribadah di Bait Suci, dan mereka melihat  tanda dan mujizat yang dilakukan oleh para rasul. Dalam ayat yang sama dinyatakan bahwa semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat (ay. 12b). Jadi jelas bahwa orang banyak dan orang percaya tidak ada kaitannya dalam hal ini.

Bahkan ayat selanjutnya  berbicara tentang apa yang dilakukan oleh orang-orang percaya. Walaupun banyak orang masih takut atau ragu-ragu masuk ke kumpulan orang percaya, tetapi mereka sangat dihormati orang banyak (ay. 13). Mengapa mereka sangat dihormati? Karena tanda-tanda dan mujizat yang dibuat oleh para rasul. Dan meskipun banyak orang yang masih takut bergabung, tetapi banyak juga di antara mereka yang percaya kepada Tuhan (ay. 14), meskipun mereka belum berani berkumpul dan bertekun dalam kumpulan orang percaya.

Orang-orang yang baru percaya ini (belum menjadi jemaat karena mereka belum berkumpul dalam persekutuan orang percaya) membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan dengan harapan disembuhkan oleh para rasul, antara lain rasul Petrus. Bahkan mereka percaya bahwa jika kena bayangan Petrus saja, maka orang yang sakit dapat disembuhkan (ay. 15). Selain orang-orang itu (yang memang tinggal di Yerusalem), banyak juga orang-orang yang masih belum percaya dari kota-kota sekitar Yerusalem yang datang untuk membawa orang-orang yang sakit dan diganggu roh jahat untuk disembuhkan (ay. 16).

Pertanyaannya, apakah ada tanda dan mujizat yang dinyatakan kepada kumpulan orang percaya? Jika kita membaca kitab Kisah Para Rasul, saya merasa bahwa hampir semua tanda dan mujizat yang dilakukan oleh para rasul ataupun hamba-hamba Tuhan ditujukan kepada orang-orang yang belum percaya. Tanda-tanda dan mujizat adalah sebagai suatu “petunjuk awal” kepada orang yang belum tahu tentang Tuhan Yesus Kristus, agar mereka dapat percaya kepadaNya.

Bagaimana dengan kumpulan orang percaya yang hidup bertekun dalam pengajaran rasul-rasul? Sepengetahuan saya, hampir tidak ada berita tentang tanda-tanda dan mujizat yang dilakukan dalam kumpulan orang percaya tersebut. Para rasul berfokus pada adanya persekutuan yang indah di dalam Tuhan, bagaimana mereka melayani janda-janda dan orang-orang miskin, bertumbuh dalam pengajaran yang benar, dan tentu saja memberitakan Firman. Tetapi hampir tidak ada tanda dan mujizat yang dilakukan secara khusus oleh para rasul kepada jemaat mula-mula. Tanda dan mujizat itu hanya sebagai “pengantar” agar orang-orang datang dan percaya kepada Tuhan.

Jika gereja saat ini sangat fokus dan peduli dengan tanda dan mujizat, itu memang bagus, selama tanda dan mujizat itu lebih diarahkan kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus. Jemaat-jemaat Tuhan yang sudah cukup lama menjadi orang Kristen harusnya dapat menjadi seseorang  yang dewasa rohani, yang mampu berkata “jika aku hidup, aku hidup untuk Tuhan, dan jika aku mati, aku mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, aku adalah milik Tuhan” (Rm 14:8).

Memang setiap orang pasti pernah terserang penyakit, masalah dan lain sebagainya. Tetapi “mengobral” tanda dan mujizat dalam setiap ibadah juga kurang tepat. Jangan salah, jika orang sakit selalu dianggap orang yang membutuhkan mujizat, bukankah setiap orang pada nantinya harus mati? Bagaimana jika pendeta yang selalu mengagung-agungkan mujizat pada nantinya mati karena sakit penyakit? Mau dibawa kemana muka dari gereja Tuhan jika gereja Tuhan hanya mementingkan tanda dan mujizat, dimana setiap orang yang sakit pasti disembuhkan?

Kita harus menjadi lebih dewasa dan lebih bijaksana. Paulus pun memiliki duri dalam daging (yang ditafsirkan oleh sejumlah hamba Tuhan sebagai penyakit dalam dirinya). Paulus pun meminta agar Tuhan mengambil duri tersebut, tetapi Tuhan menjawab “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:7-9). Jika Paulus yang adalah seorang rasul Tuhan yang dipakai Tuhan luar biasa saja tidak mementingkan tanda dan mujizat dalam setiap pengajarannya, dan juga menekankan akan pemahaman yang benar tentang Firman Allah, beranikah kita bersikap lebih dari Paulus? Tanda dan mujizat memang penting, tetapi menurut pendapat saya, itu bukan yang utama. Yang lebih utama adalah bagaimana kita dapat hidup menurut kehendak Bapa, menurut standar Bapa, dan menyukakan hati Bapa. Saya takut jika kita hanya mementingkan tanda dan mujizat, tapi kita tidak dikenal oleh Bapa di Surga, maka kita akan dienyahkan Tuhan dan ditolak masuk ke dalam surga yang mulia (Mat 7:22-23).


Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 5:12-16
5:12 Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.
5:13 Orang-orang lain tidak ada yang berani menggabungkan diri kepada mereka. Namun mereka sangat dihormati orang banyak.
5:14 Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan,
5:15 bahkan mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka.
5:16 Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan.

Ketika Imam Lewi Digantikan oleh Nabi Non-Lewi



Minggu, 22 Februari 2015
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 3:19-21
Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN. (1 Sam 3:20)


Ketika Imam Lewi Digantikan oleh Nabi Non-Lewi


Orang Israel yang merupakan keturunan Yakub dibagi menjadi 13 suku sesuai dengan anak-anak Yakub, yaitu: Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Efraim, Manasye, dan Benyamin. Memang tanah perjanjian itu (tanah Kanaan) dibagi-bagi hanya kepada 12 suku dari Israel, karena suku Lewi adalah suku yang dikuduskan oleh Tuhan untuk melayani Tuhan sebagai imam Tuhan di antara suku-suku Israel lainnya.

Oleh karena itu, suku Lewi sangatlah spesial, karena mereka hidup di tengah-tengah kedua belas suku lainnya dengan memegang jabatan sebagai imam. Hanya orang dari suku Lewi yang boleh menjabat sebagai Imam. Sejak masa Harun yang diangkat sebagai Imam Besar dan anak-anaknya serta keturunannya yang menjadi imam bagi bangsa Israel, bahkan hingga zaman Tuhan Yesus dimana Imam besar dan para imam lainnya harus berasal dari suku Lewi.

Pada masa Samuel hidup, yang menjadi Imam Besar adalah Eli, yang dibantu oleh kedua anaknya yang bernama Hofni dan Pinehas (1 Sam 1:3). Seorang Imam Besar tentu saja memiliki posisi yang sangat terhormat. Tidak hanya dari posisi, tetapi juga secara ekonomi dan penghasilan, keluarga imam tentu sudah sangat berkecukupan. Mereka juga mendapatkan hak dari setiap korban yang dipersembahkan oleh segenap bangsa Israel. Mereka tidak perlu menabur dan menanam, membajak dan menuai, atau beternak dan bedagang untuk hidup. Mereka hanya cukup melayani bangsa Israel sebagai imam dan semua kebutuhan hidupnya pasti berkecukupan bahkan berkelimpahan.

Seharusnya dengan kondisi seperti itu, para imam di masa itu menjadi imam yang hidup benar di hadapan Tuhan. Sayangnya, Alkitab menulis bahkan para imam pun melakukan tindakan yang sangat keji dan memalukan Tuhan. Anak-anak Eli (dan mungkin saja imam-imam lainnya juga melakukannya) mengambil garpun untuk memakan daging yang sedang dipersembahkan/dikorbankan kepada Allah (1 Sam 2:12-14), meminta kepada jemaat Tuhan yang datang dengan kekerasan (1 Sam 2:16), bahkan tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan kemah Tuhan (1 Sam 2:22). Kejahatan yang terakhir ini sungguh sangat keji. Saya mengandaikan jika hal ini masih terjadi di masa sekarang ini, maka hal itu dapat digambarkan sebagai “anak-anak Pendeta/Gembala sidang yang melakukan hubungan seks dengan sesama pelayan Tuhan, yaitu perempuan-perempuan yang melayani sebagai Worship Leader/Singer/Choir/Pemusik/Pendoa, dan mereka melakukan hubungan seks itu di depan (atau di dalam) gereja”. Semoga di masa sekarang ini hal tersebut tidak pernah terjadi karena sungguh-sungguh memalukan nama Tuhan.

Namun Tuhan tidak tinggal diam. Dia membangkitkan seorang nabi yang menyuarakan kebenaran Firman Tuhan, yaitu Samuel. Tuhan menyertai Samuel sedemikian rupa sehingga Alkitab menulis bahwa tidak ada satu pun dari FirmanNya yang dibiarkan Tuhan gugur (ay. 19). Arti dari kalimat ini sungguh sangat dalam karena setiap Firman yang disampaikan oleh Samuel benar2 tertanam di hati setiap orang yang mendengarnya. Bahkan hal tersebut juga dapat diartikan bahwa setiap nubuatan yang disampaikan Samuel, semuanya digenapi oleh Tuhan.

Samuel memang bukan berasal dari keturunan imam yaitu keturunan suku Lewi. Ia adalah seorang dari suku Efraim karena ayahnya, Elkana, adalah orang Efraim (1 Sam 1:1). Oleh karena itu dia tidak dapat menjadi seorang imam. Akan tetapi Samuel tidak mempermasalahkan latar belakangnya. Ia tetap berusaha menjadi seorang pelayan Tuhan sesuai dengan posisinya. Samuel tidak ngotot untuk menjadi imam, tetapi ia belajar dan menekuni agar dapat menjadi seorang  nabi, yaitu seorang nabi yang menyampaikan suara-suara Tuhan kepada segenap bangsa Israel. Dari ketekunannya itulah, seluruh Israel pun tahu dan mengakui bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan (ay. 20). Bukan Samuel yang mengangkat diri sebagai nabi, tetapi Tuhan sendiri yang mengangkat Samuel sebagai nabiNya. Bahkan pada masa itu, Tuhan memilih Samuel sebagai perantara yang menyampaikan Firman Tuhan (ay. 21). Ia tidak memilih imam besar, ia tidak memilih imam-imam lainnya dari suku Lewi yang seharusnya lebih pantas memimpin bangsa Israel, tetapi kita dapat melihat bahwa segenap bangsa Israel menganggap Samuel menjadi pemimpin mereka, dan bukan Imam Besar, sampai dengan bangsa Israel memiliki seorang raja yaitu Saul.

Oleh karena itu, saya berharap para pembaca renungan ini tidak mempermasalahkan latar  belakang kita, segala kelemahan dan kekurangan kita dalam melayani Tuhan. Bagian kita adalah senantiasa belajar dan bertekun dalam panggilan kita masing-masing. Kita juga mungkin tidak berasal dari keluarga pendeta atau keluarga hamba Tuhan. Mungkin keluarga besar kita justru belum mengenal Tuhan. Tetapi Tuhan tidak mau melihat latar belakang kita. Ia mau kesungguhan hati kita. Jika kita mau seperti Samuel, yang berjuang agar menjadi seorang nabi yang benar, bukankah kita juga seharusnya seperti itu? Yaitu berjuang melakukan yang terbaik bagi Tuhan, untuk kepentingan Tuhan dan kerajaanNya.



Bacaan Alkitab: 1 Samuel 3:19-21
3:19 Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.
3:20 Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.
3:21 Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.

Dampak Negatif Poligami



Sabtu, 21 Februari 2015
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 1:1-8
Tetapi madunya (Penina) selalu menyakiti hatinya supaya ia (Hana) gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya. (1 Sam 1:6)


Dampak Negatif Poligami


Poligami. Satu kata yang sering kali diperdebatkan, tidak hanya di kalangan non-Kristen tetapi juga di kalangan Kristen sendiri. Beberapa orang Kristen menganut paham bahwa karena banyak tokoh-tokoh Alkitab yang berpoligami (sebut saja Abraham, Daud, Salomo, dan lain sebagainya) maka sesungguhnya Tuhan tidak melarang laki-laki berpoligami. Mereka bahkan berkata bahwa Tuhan Yesus sendiri pun tidak pernah melarang orang untuk berpoligami.

Saya sendiri tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa poligami itu tidak dibolehkan. Mengapa demikian? Karena pada awalnya Tuhan menciptakan satu Hawa untuk satu Adam. Tuhan tidak menciptakan banyak Hawa untuk satu Adam. Dan kita manusia yang hidup di dunia ini setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, juga harus menyadari posisi kita yang penuh dosa dan kelemahan. Kita harus mengerti bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib adalah untuk menebus dosa-dosa kita dan membuat kita mampu berjalan mengikuti jejak Tuhan di dunia ini.

Kita harus dikembalikan kepada rancangan Tuhan yang semula seperti di taman Eden sebelum manusia jatuh dalam dosa. Oleh karena itu, kita yang lahir di masa Perjanjian Baru, harus betul-betul memegang hal itu sehingga hidup kita boleh menjadi hidup yang berkenan bahkan sempurna di hadapan Bapa di Surga.

Terkait dengan Poligami, saya mengambil satu contoh dalam Alkitab Perjanjian Lama. Contoh ini bukan saya gunakan untuk membenarkan praktek Poligami (karena jika Poligami itu benar dan sesuai standar Allah, maka saya yakin Yesus pasti sudah berpoligami juga). Alkitab menulis contoh tentang seorang laki-laki dari Efraim yang bernama Elkana (ay. 1). Elkana memiliki dua orang isteri yang sah, yang pertama bernama Hana, yang kedua bernama Penina. Alkitab menulis bahwa Penina memiliki anak tetapi Hana tidak memiliki anak (ay. 2).

Dari ayat 2 tersebut saya mengambil kesimpulan saya sendiri bahwa kemungkinan besar Elkana ini sudah menikah dengan Hana tetapi mereka tidak memiliki anak. Karena anak (keturunan) adalah hal yang sangat penting bagi orang Israel pada masa itu (dan bahkan juga penting bagi sejumlah suku/kebudayaan di masa sekarang ini), akhirnya Elkana mengambil isteri kedua (isteri muda) yang bernama Penina. Kebetulan Elkana ini bisa memiliki keturunan dari Penina, isteri mudanya tersebut.

Saya yakin Elkana sudah mencoba bertindak seadil mungkin kepada kedua isterinya. Ketika mereka datang ke rumah Tuhan di kota Silo untuk beribadah dan mempersembahkan korban setiap tahunnya, Elkana membagi-bagi korban persembahannya per orang, dimana Penina mendapatkan banyak bagian (karena anak-anak yang dilahirkan Penina), sementara Hana hanya satu bagian saja (karena Hana tidak melahirkan anak bagi Elkana) (ay. 3-4).

Hana tahu bahwa Elkana suaminya sangat mengasihinya (ay. 5), dan Elkana berusaha untuk tetap seadil mungkin kepada kedua isterinya. Akan tetapi ternyata persoalan di rumah tangga mereka tidak hanya berhenti sampai di situ. Memang setiap rumah tangga pasti memiliki persoalan dan masalahnya sendiri-sendiri. Tetapi masalah yang dialami Hana adalah ketika madunya (Penina) selalu membuatnya gusar (ay. 6). Saya yakin yang dimaksud di sini adalah Penina senantiasa mengejek bahwa Hana tidak dapat memberikan keturunan kepada suaminya, sehingga suaminya pasti lebih sayang kepada Penina.

Hal tersebut membuat Hana sangat sedih. Bahkan ketika setiap tahun mereka sekeluarga datang ke Rumah Tuhan dan mempersembahkan korban, Penina senantiasa menyakiti hati Hana (ay. 7). Suatu hari raya yang sebetulnya adalah momen untuk para keluarga bersukacita, tidak dapat dirasakan oleh Hana karena kesedihannya itu. Meskipun Elkana suaminya mencoba untuk menenangkannya dan menghiburnya (ay. 8), tetapi Hana tetap sedih karena kondisinya yang tidak dapat memberi anak bagi suaminya.

Memang pada akhirnya nanti Tuhan membela Hana dengan cara memberi anak yang dinamakan Samuel untuk menghapus kesedihan Hana. Akan tetapi kita melihat di sini bahwa poligami tidak memberikan “kesenangan” kepada seorang suami, tetapi justru memberikan “kesedihan” bagi para isteri, khususnya isteri-isteri yang dimadu. Bahkan saya berani berkata bahwa poligami hanya memberikan “kesenangan” sesaat kepada si suami karena pada akhirnya, dia sendiri akan direpotkan oleh segala macam permasalahan yang terjadi. Belum lagi harus menafkahi lebih dari satu isteri dan anak-anak yang banyak, permasalahan harta warisan, dan lain sebagainya

Oleh karena itu sebagai anak-anak Tuhan yang hidup dalam kebenaran, kita mesti menyadari betul tentang hal ini dan menolak prinsip Poligami, Poliandri, dan sebagainya. Kita harus mengerti bahwa Tuhan menciptakan satu orang pasangan hidup bagi kita. Oleh sebab itu janji nikah kita di gereja adalah mengasihi isteri satu-satunya (bagi suami) atau mengasihi suami satu-satunya (bagi isteri), sampai maut memisahkan kita. Jika Tuhan sudah memisahkan suami atau isteri kita dengan kematian, memang sesungguhnya adalah hak kita untuk menikah kembali (bahkan kita juga masih boleh memilih untuk tetap melajang sepanjang sisa umur kita). Tetapi di luar alasan itu, kita hanya boleh memiliki satu pasangan yang sah di hadapan Tuhan. Bagi saya, tidak ada kompromi tentang hal ini.



Bacaan Alkitab: 1 Samuel 1:1-8
1:1 Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim.
1:2 Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak.
1:3 Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas.
1:4 Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-masing sebagian.
1:5 Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya.
1:6 Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya.
1:7 Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.
1:8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: "Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?"


Sabtu, 21 Februari 2015
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 1:1-8
Tetapi madunya (Penina) selalu menyakiti hatinya supaya ia (Hana) gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya. (1 Sam 1:6)

Dampak Negatif Poligami

Poligami. Satu kata yang sering kali diperdebatkan, tidak hanya di kalangan non-Kristen tetapi juga di kalangan Kristen sendiri. Beberapa orang Kristen menganut paham bahwa karena banyak tokoh-tokoh Alkitab yang berpoligami (sebut saja Abraham, Daud, Salomo, dan lain sebagainya) maka sesungguhnya Tuhan tidak melarang laki-laki berpoligami. Mereka bahkan berkata bahwa Tuhan Yesus sendiri pun tidak pernah melarang orang untuk berpoligami.
Saya sendiri tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa poligami itu tidak dibolehkan. Mengapa demikian? Karena pada awalnya Tuhan menciptakan satu Hawa untuk satu Adam. Tuhan tidak menciptakan banyak Hawa untuk satu Adam. Dan kita manusia yang hidup di dunia ini setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, juga harus menyadari posisi kita yang penuh dosa dan kelemahan. Kita harus mengerti bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib adalah untuk menebus dosa-dosa kita dan membuat kita mampu berjalan mengikuti jejak Tuhan di dunia ini.
Kita harus dikembalikan kepada rancangan Tuhan yang semula seperti di taman Eden sebelum manusia jatuh dalam dosa. Oleh karena itu, kita yang lahir di masa Perjanjian Baru, harus betul-betul memegang hal itu sehingga hidup kita boleh menjadi hidup yang berkenan bahkan sempurna di hadapan Bapa di Surga.
Terkait dengan Poligami, saya mengambil satu contoh dalam Alkitab Perjanjian Lama. Contoh ini bukan saya gunakan untuk membenarkan praktek Poligami (karena jika Poligami itu benar dan sesuai standar Allah, maka saya yakin Yesus pasti sudah berpoligami juga). Alkitab menulis contoh tentang seorang laki-laki dari Efraim yang bernama Elkana (ay. 1). Elkana memiliki dua orang isteri yang sah, yang pertama bernama Hana, yang kedua bernama Penina. Alkitab menulis bahwa Penina memiliki anak tetapi Hana tidak memiliki anak (ay. 2).
Dari ayat 2 tersebut saya mengambil kesimpulan saya sendiri bahwa kemungkinan besar Elkana ini sudah menikah dengan Hana tetapi mereka tidak memiliki anak. Karena anak (keturunan) adalah hal yang sangat penting bagi orang Israel pada masa itu (dan bahkan juga penting bagi sejumlah suku/kebudayaan di masa sekarang ini), akhirnya Elkana mengambil isteri kedua (isteri muda) yang bernama Penina. Kebetulan Elkana ini bisa memiliki keturunan dari Penina, isteri mudanya tersebut.
Saya yakin Elkana sudah mencoba bertindak seadil mungkin kepada kedua isterinya. Ketika mereka datang ke rumah Tuhan di kota Silo untuk beribadah dan mempersembahkan korban setiap tahunnya, Elkana membagi-bagi korban persembahannya per orang, dimana Penina mendapatkan banyak bagian (karena anak-anak yang dilahirkan Penina), sementara Hana hanya satu bagian saja (karena Hana tidak melahirkan anak bagi Elkana) (ay. 3-4).
Hana tahu bahwa Elkana suaminya sangat mengasihinya (ay. 5), dan Elkana berusaha untuk tetap seadil mungkin kepada kedua isterinya. Akan tetapi ternyata persoalan di rumah tangga mereka tidak hanya berhenti sampai di situ. Memang setiap rumah tangga pasti memiliki persoalan dan masalahnya sendiri-sendiri. Tetapi masalah yang dialami Hana adalah ketika madunya (Penina) selalu membuatnya gusar (ay. 6). Saya yakin yang dimaksud di sini adalah Penina senantiasa mengejek bahwa Hana tidak dapat memberikan keturunan kepada suaminya, sehingga suaminya pasti lebih sayang kepada Penina.
Hal tersebut membuat Hana sangat sedih. Bahkan ketika setiap tahun mereka sekeluarga datang ke Rumah Tuhan dan mempersembahkan korban, Penina senantiasa menyakiti hati Hana (ay. 7). Suatu hari raya yang sebetulnya adalah momen untuk para keluarga bersukacita, tidak dapat dirasakan oleh Hana karena kesedihannya itu. Meskipun Elkana suaminya mencoba untuk menenangkannya dan menghiburnya (ay. 8), tetapi Hana tetap sedih karena kondisinya yang tidak dapat memberi anak bagi suaminya.
Memang pada akhirnya nanti Tuhan membela Hana dengan cara memberi anak yang dinamakan Samuel untuk menghapus kesedihan Hana. Akan tetapi kita melihat di sini bahwa poligami tidak memberikan “kesenangan” kepada seorang suami, tetapi justru memberikan “kesedihan” bagi para isteri, khususnya isteri-isteri yang dimadu. Bahkan saya berani berkata bahwa poligami hanya memberikan “kesenangan” sesaat kepada si suami karena pada akhirnya, dia sendiri akan direpotkan oleh segala macam permasalahan yang terjadi. Belum lagi harus menafkahi lebih dari satu isteri dan anak-anak yang banyak, permasalahan harta warisan, dan lain sebagainya
Oleh karena itu sebagai anak-anak Tuhan yang hidup dalam kebenaran, kita mesti menyadari betul tentang hal ini dan menolak prinsip Poligami, Poliandri, dan sebagainya. Kita harus mengerti bahwa Tuhan menciptakan satu orang pasangan hidup bagi kita. Oleh sebab itu janji nikah kita di gereja adalah mengasihi isteri satu-satunya (bagi suami) atau mengasihi suami satu-satunya (bagi isteri), sampai maut memisahkan kita. Jika Tuhan sudah memisahkan suami atau isteri kita dengan kematian, memang sesungguhnya adalah hak kita untuk menikah kembali (bahkan kita juga masih boleh memilih untuk tetap melajang sepanjang sisa umur kita). Tetapi di luar alasan itu, kita hanya boleh memiliki satu pasangan yang sah di hadapan Tuhan. Bagi saya, tidak ada kompromi tentang hal ini.

Bacaan Alkitab: 1 Samuel 1:1-8
1:1 Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim.
1:2 Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak.
1:3 Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas.
1:4 Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-masing sebagian.
1:5 Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya.
1:6 Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya.
1:7 Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.
1:8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: "Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?"