Senin, 25 November 2013

Meminta Warisan Sebelum Waktunya



Senin, 25 November 2013
Bacaan Alkitab: Lukas 15:11-14
Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.” (Luk 15:12)


Meminta Warisan Sebelum Waktunya

 
Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman saya mengajukan cuti yang agak mendadak, maksudnya di saat orang lain tidak ada yang cuti, justru teman saya itu mengambil cuti selama seminggu. Saya yang heran mencoba bertanya kepada teman saya yang lain (yang cukup dekat dengan teman saya yang pertama itu). Ternyata saya memperoleh informasi bahwa teman saya mengambil cuti karena ia sedang pindah rumah. Yang cukup membuat saya heran, ia pindah rumah karena rumahnya yang lama (rumah orang tuanya) dijual. Kata teman saya lagi, kedua orang tuanya memutuskan untuk menjual rumah tersebut karena ingin membagikan warisan kepada anak-anaknya sebelum mereka meninggal dunia. Untungnya teman saya ini adalah anak yang bungsu, dan dari hasil “jatah warisannya” itu ia membeli rumah (yang lebih kecil dan lebih jauh) dan tetap mengajak kedua orang tuanya tinggal di rumahnya.

Ketika mendengar cerita itu, saya langsung teringat akan perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus dalam bacaan Alkitab kita hari ini. Tuhan Yesus mengumpamakan ada seorang bapa yang memiliki 2 orang anak, yang sulung dan yang bungsu (ay. 11). Dan ketika bapanya belum meninggal, anak bungsu itu meminta warisan yang menjadi jatahnya (ay. 12a). Pada masa itu (bahkan hingga masa sekarang pun) meminta jatah warisan sebelum orang tuanya meninggal adalah hal yang dianggap kurang ajar atau durhaka. Akan tetapi, si bapa tetap membagi-bagikan harta kekayaan itu kepada kedua anaknya (ay. 12).

Akhirnya apa yang terjadi? Anak bungsu yang telah mendapat bagian warisannya pun pergi ke negeri yang jauh dan berfoya-foya memboroskan dan menghabiskan harta miliknya tersebut (ay.13). Ia berpikir bahwa dengan memiliki harta yang banyak, maka ia bisa melakukan apa saja dengan hartanya tersebut. Memang mungkin pada awalnya benar demikian. Si anak bungsu memiliki banyak teman dan banyak sahabat karena kekayaan yang dimiliki si anak bungsu tersebut. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ketika muncul bencana kelaparan (krisis) di negeri itu, kekayaan yang dimilikinya, teman-temannya yang dahulu banyak, lambat laun mulai hilang satu persatu. Ia mulai melarat dan akhirnya menjadi sangat miskin (ay. 14). Sebenarnya ia menjadi miskin bukan karena krisis yang melanda negeri tersebut, tetapi karena ia tidak bijaksana mengelola kekayaannya tersebut.

Tanpa kita sadari, banyak orang (bahkan termasuk kita) yang berpikir atau memiliki pola sama dengan si bungsu ini. Apa saja kesalahan seperti yang anak bungsu ini lakukan, yang juga sering kita lakukan dalam hidup kita?

Pertama, kita suka meminta apa yang bukan/belum menjadi hak kita. Seringkali ketika kita meminta kepada Tuhan dalam doa, kita meminta sesuatu lebih cepat dari waktunya Tuhan. Kita meminta agar Tuhan segera menjawab doa-doa kita dengan secepatnya. Padahal, mungkin ada maksud Tuhan agar kita menunggu beberapa waktu sebelum Tuhan menjawab doa kita. Atau mungkin saja kita meminta apa yang sebetulnya tidak layak kita terima karena itu adalah bukan hak kita, melainkan sudah menjadi milik orang lain. Padahal Firman Tuhan berkata bahwa kita tidak boleh mengingini apa yang sudah menjadi milik orang lain (Kel 20:17).

Kedua, seringkali kita lebih melihat harta duniawi sebagai sesuatu yang berharga. Si bungsu lebih melihat bahwa uang warisan yang akan diterimanya lebih berharga daripada menikmati indahnya suasana kekeluargaan dengan bapa dan kakaknya. Memang di dunia ini kita sangat membutuhkan uang dan harta duniawi agar kita dapat hidup. Akan tetapi, jangan jadikan harta duniawi itu sebagai segala-galanya. Ketika kita melayani, jangan jadikan uang menjadi motivasi utama, karena jika demikian maka kita akan menjadi hamba uang dan bukan hamba Tuhan.

Ketiga, kita suka hidup jauh dari Bapa kita. Si anak bungsu yang mendapatkan harta, langsung pergi ke negeri yang jauh untuk memboroskannya. Sebenarnya, mengapa si bungsu tidak menggunakan harta itu untuk membeli tanah dekat bapanya dan memulai usaha dengan uang hasil warisannya tersebut? Tanpa kita sadari kita pun sering melakukan hal itu. Kita suka hidup jauh dari jalan Bapa kita di surga. Kita suka menempuh jalan kita sendiri yang ternyata justru menjerumuskan kita. Ingat, kita akan jauh lebih kuat apabila kita hidup dekat dengan Bapa kita di surga, tetapi kita akan menjadi lemah jika kita hidup jauh dari jalan Tuhan.

Keempat, kita sering berpikir jangka pendek daripada berpikir jangka panjang. Si bungsu tidak memikirkan bahwa uang yang ia peroleh itu jika dikelola dengan benar maka akan memberi dampak yang luar biasa. Ia pun dapat menjadi jauh lebih kaya jika mengelola modal uang warisannya tersebut dengan bijaksana. Akan tetapi, si bungsu lebih suka melakukan hal yang salah. Ia memboroskan uangnya di negeri yang jauh. Ia lebih berpikir bagaimana bisa memuaskan hawa nafsunya, memiliki teman-teman baru (walau mungkin hanya teman “sementara” ketika ia masih kaya), dan lain sebagainya. Ia tidak pernah menabung dan mengembangkan uang tersebut sehingga ketika krisis melanda, ia sudah memiliki cadangan. Sama dengan kita, seringkali kita lebih berpikir jangka pendek daripada jangka panjang. Berapa banyak kesempatan emas yang kita abaikan begitu saja karena kita lebih memandang ke jangka pendek daripada melihat ke jangka panjang?

Keempat hal di atas menunjukkan hal-hal yang dapat kita pelajari dari bagian awal perumpamaan tentang anak yang hilang. Tuhan Yesus sering menyampaikan prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan melalui perumpamaan. Oleh karena itu, tugas kita adalah belajar dan mendalami perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus agar kita bisa hidup lebih baik lagi di hadapan Allah. Jangan menjadi orang bebal yang tidak mau berubah, tetapi jadilah orang-orang yang dengan rendah hati mau dibentuk oleh Tuhan sehingga hidup kita semakin berkenan kepadaNya.


Bacaan Alkitab: Lukas 15:11-14
15:11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.

Jumat, 11 Oktober 2013

Hari Tuhan, Berkat atau Bencana?



Sabtu, 12 Oktober 2013
Bacaan Alkitab: Amos 5:18-20
Bukankah hari TUHAN itu kegelapan dan bukan terang, kelam kabut dan tidak bercahaya?” (Am 5:20)


Hari Tuhan, Berkat atau Bencana?


Jika kita berbicara tentang Hari Tuhan, dalam konteks akhir zaman, berarti kita sedang berbicara tentang waktu atau saat dimana Tuhan akan datang untuk kedua kalinya. Namun khususnya di dalam Perjanjian lama, frasa “Hari Tuhan” sebenarnya lebih ditujukan kepada saat dimana Tuhan akan melaksanakan keputusanNya untuk menghukum bangsa Israel dan bangsa Yehuda (terkait dengan kejahatan mereka di hadapan Tuhan). Walaupun demikian, secara profetik, ayat-ayat di Perjanjian Lama ini juga dapat merujuk kepada Hari Tuhan yang akan datang, yaitu ketika Tuhan akan datang lagi untuk yang kedua kalinya.

Bagi anak-anak Tuhan, Hari Tuhan adalah suatu hari yang sangat istimewa, karena pada hari itu kita akan dapat melihat Tuhan dan bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Akan tetapi, bagi orang-orang fasik dan orang yang hidup dalam dosa, Hari Tuhan itu sebenarnya adalah suatu ketakutan, kegentaran dan suatu hari yang penuh dengan kegelapan. Tidak percaya? Tanyalah orang-orang di sekitar kita, apakah mereka siap menghadapi kiamat (bahasa sehari-hari untuk Hari Tuhan)? Hanya orang di dalam Kristus dan orang yang yakin akan keselamatannya saja yang menyongsong kiamat dengan sukacita. Yang lain? Mereka akan  ketakutan dan pasti belum siap menghadapi kiamat tersebut.

Sama halnya dengan kondisi bangsa Israel dan Yehuda di dalam konteks kitab nabi Amos ini. Saat itu, kehidupan bangsa Israel dan Yehuda secara rohani tidaklah baik. Mereka hidup dalam dosa-dosa yang biasa mereka lakukan. Mereka menindas orang lain, mereka hanya mencari untung dalam kehidupan mereka tanpa berpikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang salah, dan lain sebagainya. Intinya hidup mereka bukanlah hidup yang benar, walau mungkin secara agamawi, mereka tetap melaksanakan kegiatan ibadah mereka semisal mempersembahkan korban. Oleh karena itu, banyak orang Israel dan Yehuda yang merasa bahwa gaya hidup mereka sudah benar dan tidak ada yang salah dengan kehidupan mereka.

Akan tetapi, nabi Amos mengkritik habis-habisan pola pikir bangsa Israel dan Yehuda tersebut. Amos mengkritik pandangan yang menyatakan bahwa hari Tuhan adalah hari yang baik. Ya memang hari Tuhan adalah hari yang baik bagi mereka yang hidup sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang tidak sungguh-sungguh hidup benar di hadapan Tuhan, maka bagi mereka, hari Tuhan sesungguhnya bukanlah hari yang penuh dengan sukacita dan terang, melainkan hari yang penuh dengan kegelapan (ay. 18). Bahkan hari Tuhan itu diibaratkan dengan datangnya hewan-hewan buas seperti singa, beruang, dan ular yang akan menyerang manusia (ay. 19).

Ini adalah gambaran yang tepat sekali tentang Hari Tuhan yang akan datang kepada orang-orang berdosa yang hidup di luar Tuhan. Hari Tuhan akan datang seperti bencana yang tiba-tiba dan sangat menakutkan. Oleh karena itu, selagi belum terlambat, hiduplah dengan benar di hadapan Tuhan dan terimalah Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita, agar Hari Tuhan yang datang pada kita bukanlah hari yang penuh dengan kegelapan, melainkan hari yang penuh dengan sukacita, karena kita akan bertemu muka dengan muka dengan Tuhan kita.kita


Bacaan Alkitab: Amos 5:18-20
5:18 Celakalah mereka yang menginginkan hari TUHAN! Apakah gunanya hari TUHAN itu bagimu? Hari itu kegelapan, bukan terang!
5:19 Seperti seseorang yang lari terhadap singa, seekor beruang mendatangi dia, dan ketika ia sampai ke rumah, bertopang dengan tangannya ke dinding, seekor ular memagut dia!
5:20 Bukankah hari TUHAN itu kegelapan dan bukan terang, kelam kabut dan tidak bercahaya?

Doa Pertobatan



Jumat, 11 Oktober 2013
Bacaan Alkitab: Hosea 14:2-4
Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada TUHAN! katakanlah kepada-Nya: "Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami.”” (Hos 14:3)


Doa Pertobatan


Di dalam Alkitab, ada banyak doa yang disebutkan. Ada doa syafaat Abraham, ada doa Yabes, ada doa Salomo, doa Nehemia, doa Daniel, doa Bapa Kami, doa Tuhan Yesus di Taman Getsemani, dan mungkin doa-doa lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan semua di sini. Walaupun begitu, hari ini saya tidak akan menulis tentang doa-doa tersebut, tetapi saya akan menulis tentang sebuah doa yang sederhana, yaitu doa pertobatan yang ada di kitab Hosea, sebagaimana bacaan Alkitab kita hari ini.

Firman Tuhan kita pada hari ini berbicara tentang bagaimana Allah melalui Hosea menyampaikan FirmanNya kepada bangsa Israel. Inti dari Firman Tuhan tersebut adalah bahwa agar bangsa Israel mau bertobat kepada Tuhan Allah, karena selama ini mereka telah berbuat salah kepada Tuhan (ay. 2). Memang bangsa Israel adalah bangsa yang bebal dan tegar tengkuk. Mereka sudah mendapatkan tanah perjanjian, sudah diberkati dengan begitu melimpah, tetapi dalam kelimpahannya itu mereka justru melupakan Tuhan dan meninggalkan Tuhan. Mereka begitu mudahnya menyembah dewa-dewa bangsa lain dan meninggalkan Tuhan begitu saja.

Oleh karena itu, Firman Tuhan kali ini agak unik karena di dalam perintah Tuhan agar bangsa Israel bertobat, Tuhan mengajarkan bagaimana mereka harus berdoa (ay. 3a). Sangat sedikit ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengajarkan bagaimana kita harus berdoa (ayat lain antara lain ketika Tuhan Yesus mengajar murid-muridNya tentang Doa Bapa Kami). Dan hari ini, kita akan coba untuk belajar bagaimana inti dari suatu doa pertobatan itu.

Pertama, Doa pertobatan berarti meminta ampun kepada Tuhan atas setiap kesalahan dan pelanggaran kita (ay. 3b). Dalam ayat 3b tersebut tertulis kata-kata “ampunilah segala kesalahan”. Hal tersebut berarti salah satu inti dari pertobatan adalah meminta ampun kepada Tuhan agar Ia mau mengampuni kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan di hadapan Tuhan.

Kedua, Doa pertobatan berarti mengakui kesalahan kita (ay. 3c). Hal ini sangat terkait dengan poin pertama di atas. Kita tidak mungkin mau meminta Tuhan mengampuni segala kesalahan kita, kalau kita tidak mau membuat pengakuan di hadapan Tuhan, atau mengakui bahwa kita salah. Seringkali permasalahannya itu ada di sini, dimana kita dengan segala ego kita, tidak mau mengakui bahwa kita salah. Padahal, apa sih susahnya mengaku di hadapan Tuhan bahwa kita salah? Tetapi seringkali kita masih mempertahankan harga diri kita dan tetap bersikukuh bahwa kita benar.

Permasalahannya adalah bahwa Tuhan itu adalah Hakim yang adil. Tuhan bukan manusia yang bisa “ditipu” dengan omongan-omongan manis kita yang memutarbalikkan fakta. Tuhan sanggup melihat isi hati kita, bukan hanya mendengar ucapan-ucapan di bibir kita. Oleh karena itu, syarat kedua ini mau tidak mau harus kita lakukan jika kita memang sungguh-sungguh bertobat. Mungkin pengakuan atas dosa-dosa yang relatif “besar” memang harus kita akui di depan jemaat, atau minimal di depan pendeta. Tetapi yang terpenting di depan Tuhan kita harus mengakui kesalahan kita, karena tanpa pengakuan dosa, tidak ada yang namanya pertobatan.

Ketiga, Doa pertobatan berarti mengakui bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya pihak yang dapat menyelamatkan kita (ay. 4). Doa pertobatan harus kita naikkan kepada Tuhan, karena Tuhan kita adalah Tuhan yang berkuasa menyelamatkan kita. Jika doa pertobatan itu kita naikkan kepada dewa-dewa lain, maka percuma saja, karena itu namanya tidak bertobat kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu mengampuni dosa kita, hanya Tuhan yang mampu menyelamatkan kita dan mengasihi kita. Oleh karena itu, jangan lupa, naikkan doa pertobatan ke alamat yang benar, yaitu kepada Tuhan Allah kita di surga.

Doa pertobatan adalah salah satu tahap yang mau tidak mau kita lakukan ketika kita telah melakukan kesalahan. Terlebih jika kesalahan itu adalah kesalahan yang “besar dan fatal”, perlu ada doa pertobatan yg benar-benar nyata, karena jika tidak sungguh-sungguh bertobat, maka kita bisa saja jatuh lagi ke dalam kesalahan yang sama, atau justru melakukan kesalahan yang lebih parah lagi. Ketika kita sedang menaikkan doa pertobatan, mungkin kita akan mengeluarkan air mata, dan saya rasa itu wajar. Tetapi yang terpenting adalah air mata di dalam hati kita alias penyesalam yang sungguh-sungguh dari dalam hati kita, serta tekad untuk benar-benar bertobat dan tidak mengulangi apa yang menjadi kesalahan kita tersebut. Ingat, pertobatan hanya dapat dikatakan sebagai pertobatan jika kita sungguh-sungguh menyesal, mengaku dosa, meminta Tuhan untuk mengampuni, dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan kita lagi, serta meminta Tuhan untuk memampukan kita agar kita melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Hosea 14:2-4
14:2 Bertobatlah, hai Israel, kepada TUHAN, Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu.
14:3 Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada TUHAN! katakanlah kepada-Nya: "Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami.
14:4 Asyur tidak dapat menyelamatkan kami; kami tidak mau mengendarai kuda, dan kami tidak akan berkata lagi: Ya, Allah kami! kepada buatan tangan kami. Karena Engkau menyayangi anak yatim."

Kamis, 10 Oktober 2013

Orang Tua Harus Membuat Anak-anaknya Taat dan Hormat kepada Mereka

Kamis, 10 Oktober 2013
Bacaan Alkitab: Efesus 6:1-3
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.” (Ef 6:1)


Orang Tua Harus Membuat Anak-anaknya Taat dan Hormat kepada Mereka


Sepertinya, ini adalah ayat andalan guru-guru sekolah minggu. Ketika mereka sudah bingung mau menyampaikan apa di sekolah minggu, biasanya mereka kembali kepada ayat ini dan mengatakan bahwa anak-anak sekolah minggu harus mau menaati orang tua, supaya umurnya panjang dan hidupnya diberkati. Saya sendiri sudah lupa berapa kali saya mendengar khotbah tersebut dari guru-guru sekolah minggu saya, tapi yang pasti sudah sangat sering saya mendengarnya.

Hingga saya dewasa pun, saya menganggap ayat ini adalah ayat yang ditujukan kepada anak-anak. Intinya Paulus meminta anak-anak untuk menaati orang tuanya di dalam Tuhan (ay. 1a & 2). Mengapa demikian? Ya karena memang sudah seharusnya demikian (ay. 1b). Hampir setiap budaya di dunia ini mengajarkan anak-anaknya untuk hormat dan taat kepada orang tua. Entah itu di Indonesia (baik suku Jawa, Batak, Dayak, Papua, dan lain sebagainya), maupun di luar negeri entah di Eropa, Amerika, Asia, bahkan Afrika. Ayat-ayat selanjutnya bahkan seperti menjadi “pembenaran” bahwa jika anak-anak mau taat kepada orang tua, mereka akan bahagia dan panjang umur (ay. 3).

Tetapi, mari kita perhatikan 1 fakta sederhana, bahwa Paulus menulis suratnya itu tidak ditujukan kepada anak-anak. Paulus menulis kitab Efesus yang begitu agung, dengan penjelasan yang luar biasa mengenai doktrin keselamatan dan kasih karunia (baca Efesus 2), tentu hal itu tidak ditujukan kepada anak-anak yang mungkin masih belum bisa memahami doktrin keselamatan itu. Apa artinya hal ini? Artinya adalah bahwa surat Efesus ini memang ditujukan kepada jemaat di kota Efesus, tetapi tidak khusus bagi anak-anak melainkan kepada jemaat-jemaat dewasa di kota tersebut. Perhatikan ayat pertama dari surat Efesus ini, di situ tertulis bahwa surat ini ditujukan kepada orang-orang percaya di dalam Kristus Yesus. Siapakah orang-orang yang percaya? Tentu mereka yang telah mengaku Yesus sebagai Juruselamat pribadinya, dan tentu saja hanya orang dewasa yang sungguh-sungguh sadar akan dosanya dan menyadari bahwa mereka memerlukan Yesus dalam hidup mereka. Lalu mengapa Paulus menulis ayat yang sepertinya ditujukan kepada anak-anak?

Di sini ada suatu kebenaran yang penting yang seringkali terlupakan. Sesungguhnya ayat 1-3 dari pasal 6 kitab Efesus ini ditujukan kepada para orang tua. Ya, ayat-ayat ini memang ditujukan kepada para orang tua! Maksud saya adalah Paulus mengingatkan para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka agar mereka mau taat dan hormat kepada orang tua mereka. Paulus sendiri tidak menikah dan tidak memiliki anak jasmani, namun Paulus menyadari betul prinsip kebenaran ini. Oleh karena itu, prinsip ini dibagikan kepada para jemaat di Efesus (dan juga berlaku bagi kita) yaitu agar kita mendidik anak-anak kita agar mereka mau taat dan hormat kepada orang tuanya.

Jadi, masalah taat dan hormat itu bukan saja tugas anak-anak, tetapi tugas orang tuanya dalam hal ini ayah dan ibunya. Seringkali para orang tua berdalih dengan mengatakan, “Kan ayat 4 juga sudah membahas tentang peran orang tua (dalam hal ini bapa)”. Padahal, jika kita mau jujur, apa mungkin Paulus dan Tuhan memberikan perintah sebanyak 3 ayat kepada anak-anak dan hanya 1 ayat kepada orang tua? Bukankah seharusnya porsi orang tua harus lebih besar daripada anak-anak? Oleh karena itu saya berani berkata bahwa sebenarnya ayat 1-3 (dan juga ayat 4) adalah tugas dari orang tua juga.

Hal yang terjadi, seringkali ketika anak-anak kita nakal, ketika anak-anak kita tidak taat dan tidak menghormati kita, atau ketika anak-anak kita kurang ajar kepada kita, kita langsung men-judge anak kita bahwa ia tidak taat dan sudah melanggar Firman Tuhan yaitu di ketiga ayat tersebut. Padahal jika kita mau jujur, mungkin saja ada (dan ada banyak) andil kita sebagai orang tua dalam membentuk karakter anak-anak kita sehingga mereka menjadi anak-anak yang bandel dan tidak mau menurut kepada orang tua. Jika anak-anak kita sampai menjadi seperti itu siapakah yang salah? Anak kita jelas juga salah. Tetapi kita sebagai orang tua juga salah, mengapa kita tidak mendidik anak kita dengan benar? Mungkin kita terlalu memanjakan atau membiarkan anak-anak kita melakukan hal yang salah mulai dari hal-hal yang kecil (misalnya anak berbohong malah dibela, atau anak mulai mencuri hal-hal kecil malah dibiarkan). Justru karena pembiaran kita itulah anak kita akan merasa, “Ah, orang tua saya saja nggak menegur kok, berarti apa yang saya lakukan itu tidak salah”. Dan akibatnya anak kita akan mengulangi perbuatannya yang salah bahkan dengan tingkatan yang lebih tinggi lagi, dan lambat laun anak kita akan menjadi anak yang bandel dan tidak mau taat dan hormat kepada orang tuanya, apalagi kepada Tuhan.

Jika hal itu yang terjadi dengan kita saat ini, segeralah bertobat dan mengakui kesalahan dan kegagalan kita sebagai orang tua. Namun, jangan berhenti sampai di situ saja, tetapi kita harus mau berusaha keras untuk mengembalikan anak-anak kita ke jalan yang benar. Jangan semakin membiarkan anak-anak kita semakin jauh dari Tuhan, tetapi tariklah dengan penuh kasih agar mereka kembali ke jalan Tuhan. Ingat bahwa anak-anak kita itu ibarat anak panah di tangan kita (Mzm 127:4). Anak-anak kita akan pergi ke arah yang kita tunjukkan kepada mereka. Jika kita menunjukkan arah yang benar, anak kita akan pergi melesat ke arah yang benar. Jika kita menunjukkan arah yang salah, anak kita juga akan pergi ke arah yang salah. Oleh karena itu, hai para orang tua, perhatikan sungguh-sungguh Firman Tuhan hari ini. Bentuklah dan didiklah anak-anak kita menurut jalan Tuhan, bahkan sejak mereka kecil, agar di kemudian hari mereka tidak menyimpang dari jalan Tuhan tersebut (Ams 22:6).


Bacaan Alkitab: Efesus 6:1-3
6:1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.
6:2 Hormatilah ayahmu dan ibumu -- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:
6:3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.