Senin, 30 Maret 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (6) Untuk Pribadi yang Berkenan kepada Allah


Senin, 30 Maret 2020
Bacaan Alkitab: Ibrani 1:8-9
Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu. (Ibr 1:9)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (6) Untuk Pribadi yang Berkenan kepada Allah


Dalam renungan-renungan sebelumnya kita telah belajar bagaimana Tuhan Yesus adalah Mesias, yaitu Ia yang diurapi oleh Allah Bapa sebagai satu-satunya utusan Allah untuk menyelamatkan manusia. Kita juga telah belajar bagaimana Allah Bapa juga mengurapi orang percaya dengan Roh Kudus, yang telah digenapi pada hari Pentakosta. Dengan demikian, pengurapan disediakan oleh Allah Bapa untuk setiap orang yang mau percaya kepada-Nya, dan kepada Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus yang telah menjadi Juruselamat bagi kita.

Memang pengurapan tersebut adalah anugerah. Jika di masa Perjanjian Lama, Roh Allah dapat tinggal di dalam diri seseorang secara temporer, maka di masa Perjanjian Baru, Allah memungkinkan Roh-Nya untuk tinggal secara permanen di dalam diri seseorang. Roh itulah yang akan menuntun pribadi orang tersebut kepada seluruh kebenaran, supaya ia dapat mengerti kehendak Bapa dan melakukannya dalam kehidupannya.

Namun kita tidak boleh menganggap remeh atau menganggap rendah anugerah Allah dalam pengurapan-Nya atas kita. Karena Allah adalah kudus, maka tentu saja Roh-Nya juga pasti bersifat kudus. Itulah mengapa dalam Perjanjian Baru Roh Allah juga lebih sering disebut dengan Roh Kudus. Karena karakter kekudusan yang dimiliki oleh Allah, tentu hal tersebut juga harus kita perhatikan dengan seksama. Dengan demikian kita harus menjaga diri kita dalam kekudusan supaya pengurapan-Nya atas kita tidak kita sia-siakan.

Pribadi Yesus Kristus sebagai Mesias atau Yang diurapi oleh Allah juga demikian. Saya berpikir bahwa pasti Allah Bapa mengurapi Yesus Kristus pada saat pembaptisan-Nya (Mat 3:16-17, Mrk 1:10, Luk 3:22, Yoh 1:32) bukanlah tanpa alasan. Kita harus mengerti bahwa Allah kita adalah Allah yang Maha Besar, yang tentu memiliki tatanan ilahi dalam diri-Nya. Artinya, pengurapan Allah atas diri Tuhan Yesus (yang waktu itu berinkarnasi sebagai manusia) tentu tidaklah diberikan secara sembarangan. Ingat bahwa ketika menjadi manusia, Tuhan Yesus benar-benar disamakan dengan manusia (Ibr 2:17). Memang Yesus adalah Tuhan, yang telah bertahta dari sebelum dunia dijadikan dan selamanya (ay. 8a). Ini paralel dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa Ia adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir (Why 1:8, 1:17, 21:6, 22:13). Dalam pemerintahan-Nya sejak dahulu kala, Ia telah memerintah dengan kebenaran sebagai tongkat kerajaan-Nya (ay. 8b).

Ketika menjadi manusia, tentu “hak istimewa” Yesus Kristus sebagai Raja yang telah memerintah sejak dahulu kala “dicabut”. Ia benar-benar menjadi manusia yang merasakan apa yang kita alami. Ia merasakan rasa sakit, rasa sedih, bahkan Ia harus belajar dalam segala hal untuk menjadi pribadi yang menykakan hati Bapa. Saya rasa, sejak masa kecilnya, Tuhan Yesus terus belajar Firman dan berjuang untuk tidak berbuat dosa. Hingga suatu hari di usia-Nya yang ke 30 tahun, Ia pun menyerahkan diri-Nya untuk dibaptis oleh Yohanes, padahal Yohanes sendiri berkata bahwa seharusnya dirinyalah yang dibaptis oleh Tuhan Yesus (Mat 3:13-15). Setelah dibaptis itulah maka Roh Kudus turun ke atas diri Tuhan Yesus yang melambangkan pengurapan dari Allah dengan suara dari surga yang berkata “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah aku berkenan”(Mat 3:16-17).

Tentu bukan tanpa alasan Allah Bapa berkata seperti itu. Dalam hidup-Nya sebagai manusia sampai dengan saat itu, Yesus Kristus telah menunjukkan pribadi yang agung dan menyukakan hati Bapa-Nya. Hal itu digambarkan dengan “mencintai keadilan dan membenci kefasikan” (ay. 9a). Ingat bahwa ayat 8 dan 9 ini merupakan kutipan dari Perjanjian Lama, tepatnya Mazmur 45:7-8, sehingga di ayat 8 dan 9 ini digunakan kata-kata yang lebih bersifat puitis, namun tetap dapat dikenakan kepada pribadi Yesus Kristus. Oleh karena itulah, maka Allah mengurapi sebagai tanda bahwa pribadi Yesus Kristus adalah pribadi yang menyukakan hati Allah Bapa (atau berkenan kepada-Nya) (ay. 9b). Perhatikan bahwa memang ada perbedaan medium pengurapan, dimana ayat di Perjanjian Lama menggunakan kata “minyak” sebagai cara pengurapan yang wajar pada waktu itu, sementara di Perjanjian Baru tentu pengurapan yang terjadi menggunakan Roh Kudus. Kalimat “melebihi teman-teman sekutumu” juga merupakan kutipan langsung dari ayat di Perjanjian Lama, yang mungkin tidak perlu kita permasalahkan lebih jauh dalam pembahasan kali ini.

Namun saya ingin menekankan bahwa pengurapan Allah atas diri Yesus Kristus tentu karena Ia telah berjuang untuk menjadi pribadi yang berkenan. Dari lahir hingga umur 30 tahun, Ia telah membuktikan perjuangan-Nya untuk senantiasa hidup dalam kehendak Allah Bapa. Itulah sebabnya Allah Bapa mengurapi-Nya pada peristiwa pembaptisan-Nya dan selanjut-Nya Yesus pun memulai pelayanan-Nya di bumi ini. Sampai pada kematian-Nya di atas kayu salib, Ia telah membuktikan ketaatan-Nya yang mutlak dan sempurna kepada Bapa-Nya, hingga kemudian Ia dibangkitkan dan naik ke surga untuk duduk kembali di tahta-Nya yang seharusnya.

Dalam hal ini kita pun perlu mengikuti teladan yang telah diberikan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Kita secara kolektif (sebagai bagian dari jemaat Tuhan atau orang percaya) telah diurapi sejak hari Pentakosta. Namun secara pribadi, kita perlu mempersoalkan apakah hidup kita sudah sejalan dengan pengurapan tersebut. Kita perlu memeriksa diri kita sendiri apakah kita sudah hidup dalam kekudusan sejalan dengan kekudusan pribadi Allah dan Roh Kudus. Itulah sebabnya sebagai orang percaya, kita perlu sungguh-sungguh bertobat, yang selama ini dikenal sebagai kelahiran baru.

Kelahiran baru bukan sekedar keputusan untuk bersedia dibaptis atau sidi. Memang idealnya orang yang dibaptis atau sidi adalah orang yang benar-benar bertobat. Namun pada praktiknya, seringkali orang dibaptis atau sidi hanya karena usianya dipandang sudah akil balik, atau karena akan menikah di gereja, sehingga sebagai salah satu persyaratan ia harus dibaptis. Oleh karena itu, kelahiran baru sejatinya tidak dapat hanya diukur dari tanggal baptisan atau sidi di gereja. Kelahiran baru berarti seseorang berubah dari kodrat dosa (yaitu pribadi yang masih menyenangi dosa dan hidup di dalamnya) menjadi kodrat ilahi (yaitu pribadi yang berusaha terus menghindari dosa dan kemelesetan, dan berusaha hidup dalam kehendak Bapa). Tentu orang yang lahir baru sudah tidak boleh lagi hidup dalam dosa-dosa umum seperti pelanggaran moral (mencuri, membunuh, berzinah), tetapi sudah harus memperkarakan kehendak Bapa dalam segala hal. Seiring pertumbuhan rohaninya, orang yang lahir baru harus semakin membenci kefasikan dan mencintai keadilan dan kekudusan. Ia akan semakin mengerti kemelesetan-kemelesetan yang semakin tipis perbedaannya, dan dapat semakin dibentuk menuju pribadi yang berkenan kepada Allah Bapa.

Oleh karena itu, mari kita berperkara dengan diri kita sendiri dan dengan Tuhan. Apakah dalam hidup kita sehari-hari kita sudah membenci dosa, kefasikan, kemunafikan, dan hal-hal lain yang tidak menyenangkan hati Bapa? Apakah hidup kita sehari-hari sudah mencintai kasih, keadilan, dan kekudusan? Apakah kita sudah memperkarakan apa kehendak Bapa dalam hidup kita, dan berusaha untuk melakukan bagian kita? Di situ kita akan semakin diteguhkan bahwa pengurapan-Nya dalam hidup kita telah menjadi nyata, karena kita tidak menyia-nyiakan anugerah pengurapan tersebut. Namun jika tidak, berhati-hatilah supaya kita tidak terus menerus mendukakan Roh Kudus dalam hati kita, yang jika tidak segera diperbaiki maka akan sampai pada taraf menghujat atau menyangkal Roh Kudus, yaitu suatu kondisi dimana orang tersebut sudah tidak bisa lagi diperbaiki kepada kebenaran.



Bacaan Alkitab: Ibrani 1:8-9
1:8 Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.
1:9 Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu."


Minggu, 29 Maret 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (5) Allah yang Telah Mengurapi


Minggu, 29 Maret 2020
Bacaan Alkitab: 2 Korintus 1:21-22
Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi (2 Kor 1:21)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (5) Allah yang Telah Mengurapi


Kita telah belajar bagaimana Allah Bapa telah mengurapi Allah Anak yaitu Yesus Kristus sebagai utusan yang sah untuk melaksanakan karya penyelamatan-Nya bagi seluruh umat manusia. Demikian pula Allah Bapa juga telah mengurapi Yesus dengan Roh Kudus atau Roh Allah yang menyertai-Nya dalam segala pelayanan-Nya, termasuk dalam hal mengadakan mujizat, mengajar, memberitakan kabar baik, dan lain sebagainya. Kini, kita perlu mempersoalkan apakah orang percaya juga dapat menerima pengurapan dari Allah Bapa atau tidak. Jika jawabannya adalah ya, kepada siapakah pengurapan itu diberikan? Kepada semua orang ataukah hanya kepada orang-orang tertentu saja?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita akan belajar dari bacaan Alkitab kita pada hari ini. Dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di kota Korintus, Paulus menyatakan bagaimana Allah berkarya dalam hidupnya dan hidup orang percaya, yaitu dengan cara meneguhkan Paulus dan jemaat di dalam Kristus (ay. 21a). Dalam hal ini Paulus mengatakan pula bahwa Allah yang telah meneguhkan bersama (atau menyatukan) juga adalah Allah yang mengurapi (ay. 21b).

Sepintas dalam bahasa Indonesia, kita melihat kalimat di bagian awal dan akhir dari ayat 21 ini adalah ayat yang sejajar. Namun jika kita melihat dalam bahasa aslinya, kata “meneguhkan” di ayat 21 ini bersifat present participle active sementara kata “mengurapi” bersifat aorist participle active. Apa artinya? Kata kerja yang bersifat aorist secara sederhana menunjukkan suatu peristiwa yang terjadi di masa lalu pada suatu waktu tertentu yang tidak berkelanjutan. Kata kerja yang bersifat aorist juga digunakan pada kata “memeteraikan” dan “memberikan” pada ayat 22. Sehingga dalam terjemahan bebas khususnya terkait dengan bentuk kata kerjanya, ayat 21 dan 22 dapat dilihat sebagai: “Sebab Dia yang meneguhkan (present) kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi (aorist), telah memeteraikan (aorist) tanda milik-Nya atas kita, dan yang telah memberikan (aorist) Roh Kudus dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Dengan demikian, di masa kini (present) Allah memang sedang berkarya untuk mempersatukan orang percaya di dalam Kristus. Allah yang sama adalah Allah yang telah mengurapi kita, yang telah memeteraikan tanda milik-Nya atas kita, dan yang telah memberikan Roh Kudus di dalam hati kita. Ketiga hal yang disebutkan terakhir bersifat aorist yang artinya telah terjadi pada suatu waktu di masa lalu. Dalam hal ini, terjadinya peristiwa pengurapan yang dimaksud dalam ayat 21 ini tentu sudah terjadi di masa lampau ditinjau dari lini masa dimana surat ini ditulis oleh Paulus.

Tentu jika kita menyelidiki peristiwa di lini masa Perjanjian Baru, kita akan mengerti bahwa peristiwa pengurapan yang dimaksud sangat mungkin merujuk kepada kejadian pencurahan Roh Kudus kepada para murid pada hari Pentakosta. Kita telah melihat dalam renungan-renungan hari sebelumnya bagaimana Allah Bapa mengurapi Yesus Kristus dengan Roh Kudus (Roh Allah) dalam pelayanan-Nya di dunia ini. Sama seperti pengurapan kepada Yesus Kristus, Allah Bapa juga mengurapi orang percaya (yaitu para murid) dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Kita melihat bagaimana setelah Pentakosta, para murid dan jemaat mula-mula melakukan pemberitaan Injil dengan berani, bahkan memiliki karunia Roh yang luar biasa seperti membuat mujizat. Kata mengurapi di ayat 21 ini juga menggunakan akar kata yang sama yaitu chrió (χρίω), yang juga digunakan dalam Luk 4:18, Kis 4:27, dan Kis 10:38 sebagaimana yang telah kita bahas dalam renungan sebelumnya.

Saya kemudian berpikir, mengapa dalam ayat ini kata “mengurapi” menggunakan jenis kata kerja aorist? Mengapa tidak digunakan kata kerja jenis present saja? Dalam perenungan dan pergumulan saya secara pribadi, saya menemukan jawabannya. Menurut pendapat saya, Allah Bapa sudah mengurapi umat-Nya dengan memberikan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Sejak saat itu, jemaat adalah bait Roh Kudus, tempat Roh Allah berdiam di dalam diri manusia. Artinya, setiap orang yang percaya kepada Allah dimungkinkan untuk memiliki kehidupan seperti hidup yang Tuhan Yesus miliki selama mengenakan tubuh daging di dunia ini.

Hal ini berarti bahwa, jika Tuhan Yesus mampu melakukan perbuatan baik sepanjang hidupnya, melakukan pekerjaan yang menjadi bagian-Nya, dan mampu memiliki ketaatan yang sempurna hingga kematian-Nya, maka kita yang telah percaya kepada-Nya juga dimungkinkan untuk memiliki hidup seperti Tuhan Yesus hidup. Memang tingkat kesempurnaan kita tentu berbeda dengan tingkat kesempurnaan Tuhan Yesus. Akan tetapi, menarik bahwa pada hari terakhir, kita akan dihakimi berdasarkan apa yang kita lakukan dalam hidup ini, yaitu apakah kita sudah melakukan kehendak Bapa dalam hidup kita (Mat 7:21-23). Oleh karena itu, pengurapan yang Allah berikan tentu bertujuan untuk memampukan kita mengerti kehendak Bapa dan juga untuk melakukan-Nya.

Namun demikian, keputusan untuk memilih melakukan kehendak Bapa atau memilih untuk melakukan keinginan kita ada di tangan kita masing-masing. Di situlah kita harus memilih, mau masuk melalui pintu yang lebar atau masuk melalui pintu yang sempit. Kita harus memilih apakah kita bersedia hidup untuk kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya ataukah hidup untuk kepentingan diri kita sendiri dan membangun kerajaan kita sendiri. Setiap pilihan dan keputusan yang kita ambil itulah yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan ketika suatu saat kita menutup mata.

Dalam hal ini saya tidak mengerdilkan peran Roh Kudus dalam hidup orang percaya. Harus diakui ada saat-saat tertentu dimana Roh Kudus memberikan karunia-Nya kepada orang percaya yang dapat dilihat oleh orang lain, seperti berkata-kata dengan bahasa roh, bernubuat, membuat mujizat, dan lain sebagainya (1 Kor 12:1-11). Namun karunia Roh yang nampak tersebut tidak dapat dimaknai sebagai pengurapan yang terjadi berkali-kali. Menurut pemahaman yang saya miliki, sama seperti para imam dan raja di Perjanjian Lama cukup diurapi satu kali, dan Tuhan Yesus juga diurapi satu kali (yaitu setelah peristiwa pembaptisan, dimana Roh Allah turun kepada-Nya (Mat 3:16-17, Mrk 1:10, Luk 3:22, Yoh 1:32)), maka sebenarnya sejak hari Pentakosta Allah sudah memberikan pengurapan kepada manusia yang percaya kepada-Nya melalui Tuhan Yesus Kristus. Manifestasi-manifestasi terkait dengan karunia Roh sebaiknya tidak disamakan dengan pengurapan, karena ketika kita bertobat dan mengaku percaya kepada Yesus Kristus (dan mulai belajar menjadi murid-Nya dengan cara mengenakan hidup-Nya), di situ kita sudah diurapi dan diberikan Roh Kudus dalam hidup kita.

Demikian pula pengurapan dalam Perjanjian Baru tidak dapat dilihat sebagai suatu peristiwa yang hanya terjadi kepada orang-orang tertentu. Setiap orang percaya adalah anak-anak Allah, yang tentu berhak menerima pengurapan Allah sebagai anak-Nya. Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa ada orang-orang tertentu yang diberikan karunia lebih banyak dengan tanggung jawab yang lebih besar pula seperti Paulus, Petrus, dan banyak lagi hamba-hamba Tuhan dan pemimpin jemaat dari masa jemaat mula-mula hingga saat ini. Namun demikian, karunia yang lebih banyak dari yang lain sebenarnya tidak terkait langsung dengan pengurapan dalam konteks kata chrió tersebut. Karunia Roh yang diberikan kepada seseorang tentu saja terkait dengan pelayanan atau tanggung jawab yang harus dipikul orang tersebut. Para pemimpin jemaat atau para pengkhotbah/pembicara tentu membutuhkan karunia Roh yang lebih dari jemaat awam misalnya, namun hal tersebut bukan berarti ia lebih diurapi daripada jemaat yang mendengarkan.



Bacaan Alkitab: 2 Korintus 1:21-22
1:21 Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi,
1:22 memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Sabtu, 28 Maret 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (4) Isi Pemberitaan Injil yang Benar


Sabtu, 28 Maret 2020
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 10:34-43
yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia. (Kis 10:38)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (4) Isi Pemberitaan Injil yang Benar


Tidak dapat dipungkiri, pemberitaan Injil yang benar berarti pemberitaan mengenai karya keselamatan di dalam Yesus Kristus. Jadi, apakah yang seharusnya diberitakan? Tentu pemberitaan yang benar harus berpusat pada kehidupan Yesus Kristus yang taat sampai mati kepada Allah Bapa hingga kematian-Nya di atas kayu salib. Jadi semua pemberitaan Injil haruslah berpusat pada pekerjaan Yesus Kristus dan karya keselamatan-Nya bagi umat manusia.

Konteks bacaan Alkitab kita adalah ketika Petrus menyampaikan pemberitaan Injil kepada Kornelius. Dalam perkembangan jemaat mula-mula pada saat itu, Kornelius dapat dikatakan sebagai orang non-Yahudi pertama yang menerima pemberitaan Injil dari para rasul. Sebelum Kornelius, para murid Yesus hanya memberitakan Injil kepada bangsa Yahudi. Namun ketika Petrus diperintahkan Roh Kudus untuk memberitakan Injil kepada Kornelius, seorang yang bukan berasal dari bangsa Yahudi, maka mengertilah Petrus bahwa Allah tidak membeda-bedakan orang dan karya keselamatan di dalam Yesus Kristus bukanlah sesuatu yang hanya eksklusif bagi orang Yahudi, tetapi juga bagi semua orang yang mau percaya dan mengikut jejak hidup-Nya (ay. 34-35).

Sangat mungkin Petrus kemudian teringat masa-masa bersama Tuhan Yesus atau perkataan Tuhan Yesus kepadanya terkait dengan hal ini. Mungkin saja ia teringat perintah untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya (Mat 28:19). Mungkin saja ia juga teringat bagaimana Tuhan Yesus menyampaikan perintah kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke surga, agar mereka menjadi saksi, tidak hanya di Yerusalem dan Samaria, tapi bahkan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8). Perkataan Tuhan Yesus mungkin saja selama ini tersembunyi, dan baru kemudian dimengerti oleh Petrus pada saat ia harus datang ke rumah Kornelius. Tentu Petrus teringat bahwa Tuhan Yesus menyampaikan firman yang memberitakan damai sejahtera kepada semua orang (meskipun awalnya memang hanya kepada orang-orang Israel/Yahudi), karena Yesus adalah Tuhan atas semua orang (ay. 36).

Jadi, dalam pemberitaan Injil ini, apakah yang disampaikan oleh Petrus kepada Kornelius? Apakah isi pemberitaan Injil kepada Kornelius berbeda dengan pemberitaan Injil kepada orang lain yang dilakukan oleh Petrus sebelumnya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu kita harus tahu bahwa teknik pemberitaan Injil mungkin saja berbeda-beda pada kondisi yang berbeda pula. Kita dapat melihat bagaimana Petrus berkhotbah kepada khalayak banyak pada hari Pentakosta (Kis 2:14-40), berkhotbah kepada orang banyak di Bait Allah (Kis 3:11-26), berkhotbah dalam kelompok-kelompok kecil maupun secara personal seperti yang dilakukan oleh Filipus kepada sida-sida dari Etiopia (Kis 8:26-40). Dapat dikatakan bahwa metode maupun teknis pemberitaan Injil tentu saja sangat dinamis.

Namun jika berbicara mengenai isi dari pemberitaan Injil, tentu yang harus diberitakan adalah Injil yang benar. Apakah Injil itu? Jika kita mengerti bahwa ada kitab-kitab Injil dalam Alkitab kita, maka itu adalah keempat kitab yang ditulis oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Apakah yang mereka tulis? Tentu tak lain dan tak bukan adalah kehidupan Tuhan Yesus, sejak kelahiran-Nya, pelayanan-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya hingga kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Jadi dapat disimpulkan bahwa Injil adalah karya keselamatan Yesus Kristus yang dari kelahiran-Nya hingga kebangkitan-Nya (dan tentu juga termasuk kenaikan-Nya ke surga dan kedatangan-Nya kembali suatu saat nanti).

Pada masa itu, berita mengenai apa yang terjadi pada Yesus Kristus tentu sudah diketahui oleh khalayak banyak. Tidak terkecuali oleh Kornelius, seorang kepala pasukan Romawi (atau pasukan Italia) yang tinggal di kota Kaisarea (ay. 37). Petrus kemudian menyampaikan bagaimana karya keselamatan Yesus Kristus dimulai sejak Yohanes mengajak orang-orang untuk dibaptis, serta karya pelayanan Yesus dari Nazaret termasuk semua perbuatan yang dilakukan-Nya dan mujizat-mujizat-Nya (ay. 38). Perhatikan di sini bahwa ada suatu kata “mengurapi” dalam ayat 38. Oleh karena itu kita akan mencoba melihat makna kata tersebut dalam konteks pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Petrus.

Kata “mengurapi” dalam ayat ini menggunakan kata kerja echrisen (ἔχρισέν) yang juga digunakan dalam Luk 4:18. Kata echrisen berasal dari akar kata chrió (χρίω) yang berarti mengurapi, dengan cara menggosokkan atau menuangkan minyak zaitun kepada seseorang. Jika kita melihat hubungan ayat 38 ini dengan Luk 4:18, jelaslah bahwa pengurapan Allah Bapa kepada Yesus Kristus dimaksudkan untuk memberikan legitimasi melalui pengurapan Roh Kudus (Roh Allah) terhadap pemberitaan Injil (kabar baik) yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam pelayanan-Nya. Bagaimana bentuk dari pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Tuhan Yesus?

Mengingat pengurapan juga dapat dimaknai sebagai penunjukan seseorang sebagai utusan yang sah, maka tentu saja Allah mengurapi Yesus Kristus dengan Roh Kudus (Roh Allah) supaya Ia dapat melakukan karya pelayanan-Nya melalui setiap perbuatan dan mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya. Ingat bahwa mujizat adalah bagian dari perbuatan (yang ditulis sebagai perbuatan baik) yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Dalam hal ini mujizat tidak dapat dipisahkan dari perbuatan baik. Adalah sangat aneh jika ada orang yang bisa punya karunia mujizat yang luar biasa tetapi ia tidak memiliki karakter yang baik dalam hidupnya (yang tercermin melalui perkataan dan perbuatannya). Mujizat memang penting, khususnya dalam pemberitaan Injil kepada orang non Kristen (seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan para murid di awal masa-masa jemaat mula-mula). Namun mengingat mujizat adalah bagian dari perbuatan baik (atau karakter ilahi yang harus dimiliki orang percaya), maka seiring pertumbuhan rohani, orang percaya harus mulai beralih dari mujizat kepada perbuatan baik, yaitu karakter seperti yang dimiliki oleh Tuhan kita Yesus Kristus.

Selain pengurapan Yesus Kristus serta segala karya dan perbuatan baik yang dilakukan oleh Yesus Kristus, isi dari pemberitaan Injil yang benar juga haruslah mencakup penderitaan dan kematian-Nya di atas kayu salib (ay. 39) dan kebangkitan-Nya (ay. 40-41). Tentu kita harus paham bahwa konteks peristiwa dalam perikop ini adalah ketika para saksi mata yang menyaksikan kematian dan kebangkitan Tuhan (termasuk kenaikan-Nya ke surga) masih hidup. Mereka inilah (termasuk Petrus di dalamnya) adalah orang-orang yang melihat dengan mata mereka sendiri bagaimana Yesus mati, bangkit, menampakkan diri, dan naik ke surga. Mereka ini adalah saksi mata otentik dari karya keselamatan Yesus Kristus. Oleh karena itu, mereka tentu adalah orang-orang yang sangat legitimate untuk menyampaikan pemberitaan Injil tersebut.

Namun kita perlu melihat bahwa pemberitaan Injil tersebut tidak hanya berfokus pada apa yang sudah Yesus lakukan selama hidup-Nya di dunia ini. Pemberitaan Injil yang benar juga berbicara mengenai apa yang akan Yesus lakukan di masa yang akan datang. Dalam hal ini, Petrus tidak lupa menyampaikan pemberitaan mengenai Yesus Kristus yang akan menjadi Hakim yang adil, yang akan mengadili semua orang, baik yang hidup maupun yang sudah mati pada saat hari penghakiman kelak (ay. 42). Jelas bahwa pemberitaan Injil harus diisi dengan berita Injil yang benar dan proporsional, yaitu dalam hal ini tidak hanya menekankan pada salah satu sisi saja dan melupakan hal yang lain.

Adalah tidak bijak jika misalnya pemberitaan Injil saat ini hanya menekankan pada mujizat yang dilakukan oleh Tuhan, tanpa menekankan pada perubahan karakter manusia. Adalah tidak bijak juga jika pemberitaan Injil saat ini hanya menekankan pada urapan Roh Kudus (dalam konteks urapan kepada orang-orang tertentu dalam gereja yang dikesankan memiliki posisi khusus dan spesial) dan tidak menekankan pada urapan Roh Kudus dalam diri Tuhan Yesus yang nampak dalam karya penyelamatan-Nya. Adalah tidak bijak juga jika pemberitaan Injil saat ini hanya menekankan mujizat yang dilakukan Yesus tapi tidak memberitakan kedatangan-Nya kelak, dan apa yang harus manusia persiapkan supaya layak berdiri di hadapan-Nya pada saat hari penghakiman nanti.

Memang dalam hal ini, kita harus memberitakan bahwa tidak ada pengampunan dosa di luar Kristus (ay. 43). Artinya tidak ada keselamatan di luar Kristus. Namun hal tersebut bukan berarti bahwa kita harus mnejelek-jelekkan orang yang beragama lain. Ingat bahwa Kristus mati untuk semua orang, Ia adalah Anak Allah yang menghapus (mengangkat) dosa dunia (Yoh 1:29). Bagian kita adalah memberitakan Injil kepada semua orang, selain melalui perkataan kita, tetapi lebih penting lagi melalui sikap dan perbuatan hidup kita yang nyata dalam hidup keseharian kita. Akan sangat sulit jika kita memberitakan Injil melalui perkataan kita tetapi hidup kita tidak menjadi teladan bagi orang lain. Pemberitaan Injil yang benar haruslah berfokus pada pribadi Yesus Kristus yang diurapi oleh Allah, dimana kita juga meneladani hidup-Nya dalam tindakan nyata di hidup kita masing-masing. Jangan sampai kita merasa sudah memberitakan Injil, padahal “injil” yang diberitakan sebenarnya bukanlah Injil yang benar. Bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan hal tersebut di hadapan pengadilan Tuhan nanti?



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 10:34-43
10:34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.
10:35 Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.
10:36 Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.
10:37 Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,
10:38 yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.
10:39 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib.
10:40 Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri,
10:41 bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati.
10:42 Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati.
10:43 Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya."

Rabu, 18 Maret 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (3) Yesus Yang Diurapi Allah Bapa


Rabu, 18 Maret 2020
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 4:23-31
Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya. Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi (Kis 4:26-27)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (3) Yesus Yang Diurapi Allah Bapa


Bacaan Alkitab kita hari ini sudah beralih dari masa ketika Tuhan Yesus hidup, kepada masa dimana Tuhan Yesus telah naik ke surga dan Roh Kudus telah dicurahkan pada hari Pentakosta. Singkat cerita, Petrus dan Yohanes telah melakukan mujizat yang sangat luar biasa yaitu menyembuhkan seorang yang telah lumpuh sejak lahir selama sekitar 40 tahun. Karena itulah rakyat banyak sangat bersukacita atas mujizat tersebut. Dalam hal ini Petrus dan Yohanes memanfaatkan kesempatan ini untuk memberitakan Injil keselamatan melalui karya Yesus Kristus. Oleh karena itu para pemimpin Yahudi termasuk para imam, tua-tua dan ahli Taurat kemudian menangkap dan menyidang kedua murid tersebut. Para pemimpin agama Yahudi tersebut merasa tidak suka dengan pemberitaan Injil yang dilakukan, karena hal itu akan mengancam posisi mereka sebagai pemimpin agama yang terhormat.

Namun karena takut kepada orang banyak akibat mujizat yang luar biasa – dan yang dilakukan oleh orang biasa pula, mengingat mereka dahulu hanyalah seorang nelayan – maka para pemimpin Yahudi ini pun tidak dapat menyiksa maupun menangkap mereka (setidaknya untuk konteks pada waktu itu). Kemudian setelah Petrus dan Yohanes dilepaskan, maka mereka pun pergi kepada teman-teman mereka dan menceritakan apa yang mereka alami (termasuk ancaman para imam dan tua-tua) (ay. 23). Ketika murid-murid yang lain mendengar hal tersebut, mereka kemudian berseru (bisa jadi juga dalam bentuk berdoa) (ay. 24a). Adapun isi seruan mereka adalah bahwa mereka sadar bahwa Tuhanlah yang menjadikan langit dan bumi ini beserta isinya (ay. 24b).

Dalam hal ini mereka kemudian mengutip apa yang telah ditulis oleh Daud dalam kitab Perjanjian Lama (ay. 25a), yang berbunyi demikian: “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya” (ay. 25b-26). Jika kita menelusuri kalimat tersebut, kita akan mengerti bahwa ayat tersebut dikutip dari kitab Mazmur pasal 2 ayat 1-2. Kalimat tersebut ditulis oleh pemazmur (yang mungkin adalah Raja Daud) untuk menunjukkan bagaimana bangsa-bangsa dan raja-raja dunia selalu berusaha untuk menyerang umat Tuhan dan yang diurapi oleh-Nya. Tentu konteks tulisan di kitab Mazmur tersebut dipandang relevan dengan kondisi yang dialami oleh jemaat mula-mula yang baru saja “ditinggalkan Tuhan Yesus ke surga”. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dahulu kala, memang dunia selalu memusuhi kebenaran yang sejati.

Selanjutnya mereka pun berkata dengan merujuk konteks kejadian yang mereka alami, yaitu bagaimana raja-raja (dalam hal ini Herodes dan Pilatus) serta bangsa-bangsa (baik bangsa Romawi maupun bangsa Israel sendiri) berusaha melawan Yesus Kristus yang telah Engkau urapi (ay. 26). Sebenarnya, ada beberapa kata yang berpotensi menimbulkan kebingungan dalam ayat-ayat ini, antara lain:

Pertama, di ayat 24 dikatakan bahwa para murid berdoa kepada Tuhan, namun di ayat 27, mereka berkata bahwa raja-raja dan bangsa-bangsa melawan Yesus, hamba-Mu yang kudus yang Engkau urapi. Ayat ini berpotensi membingungkan pemahaman mengenai Allah Tritunggal, karena seakan-akan mereka berdoa kepada Tuhan di ayat 24, lalu di ayat 27 mereka berkata bahwa Yesus telah Engkau urapi (yang dapat mengesankan bahwa Yesus bukanlah Tuhan). Apakah benar demikian?

Tentu untuk memahami hal ini kita harus melihat ayat dalam bahasa aslinya. Dalam bahasa aslinya, kata Tuhan di ayat 24 menggunakan kata despota (Δέσποτα) dari akar kata despotés (δεσπότης). Kata ini memang dapat bermakna lord (tuan) atau Lord (Tuhan). Namun kata despotés ini berbeda dengan kata Tuhan di ayat 27 yang menggunakan kata kurios (κύριος). Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kata kurios ini sangat identik dengan Tuhan Yesus. Namun kata despotes ini dapat memiliki makna yang bermacam-macam (tidak spesifik merujuk kepada Tuhan Yesus). Jika kita perhatikan, dikatakan bahwa mereka berdoa kepada Allah (theos) yang merujuk kepada Allah Bapa. Namun mengapa kemudian mereka menggunakan kata despotés dalam isi doanya?

Kata despotés ini secara harafiah juga memiliki hubungan dengan kata posis yang berarti seorang suami. Pada masa itu, dalam kondisi masyarakat yang sangat patrilineal, seorang suami adalah kepala rumah tangga yang memiliki kedudukan sangat tinggi dan terhormat. Dalam keluarga, seorang suami bertindak sebagai kepala, sebagai raja (dalam pengambilan keputusan), sebagai imam, dan peran-peran lainnya. Tentu pada masa itu apa yang dikatakan oleh suami haruslah dilakukan oleh istri dan anak-anaknya. Jadi penggunaan kata despotés di sini hendak menunjukkan bagaimana entitas atau pribadi yang dimaksud ini memiliki suatu otoritas atau kekuasaan yang mutlak yang apapun kehendaknya harus dilakukan.

Kata despotés ini digunakan beberapa kali dalam Perjanjian Baru. Dalam Terjemahan Bahasa Inggris kata ini ditulis sebagai (Sovereign) Lord, Master, Masters (Tuhan, Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuan, Tuan-tuan). Dalam Alkitab Terjemahan Baru Bahasa Indonesia, kata despotés ini ditulis sebagai Penguasa, Tuhan, dan Tuan. Bahkan dalam Yud 1:4 kata despotés disandingkan dengan kata kurios (Master and Lord atau Penguasa dan Tuan). Dalam sebagian terjemahan Alkitab bahasa Inggris, kata despotés dalam ayat 24 ini diterjemahkan sebagai Lord, Master, dan juga Sovereign Lord. Jadi, ada kemungkinan juga kata despotés ini bisa merujuk kepada pribadi Tuhan Yesus sebagai Anak Allah, atau lembaga Allah Tritunggal (yang di dalamnya terdapat Allah Bapa dan Allah Anak juga).

Sementara itu penggunaan kata “Tuhan dan Yang Diurapi-Nya” dalam ayat 26 memang sekilas terkesan bahwa ada dua pribadi di sini: yaitu Tuhan, dan Yang Diurapi-Nya. Apalagi Alkitab terjemahan bahasa Indonesia menggunakan huruf tebal untuk kedua pribadi tersebut, sehingga terkesan ada dua pribadi dalam ayat 26 ini. Perhatikan bahwa ayat ini adalah kutipan langsung dari Mzm 2:2 yang berbunyi demikian: “Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya”. Dalam kitab Mazmur, kata “yang diurapi-Nya” menggunakan huruf kecil, karena memang merujuk kepada umat Israel secara umum, atau tokoh-tokoh tertentu yang mendapatkan pengurapan dalam Perjanjian Lama seperti para imam dan raja.

Jika demikian, apakah terjemahan Alkitab kita salah karena menggunakan huruf besar? Dengan membandingkan Alkitab terjemahan lain khususnya bahasa Inggris, ditemukan bahwa dalam ayat 26 kata Yang Diurapi-Nya memang menunjuk pada pribadi ilahi yang menggunakan huruf besar. Jelas bahwa bukan manusia biasa (misal: jemaat Tuhan, atau para rasul) yang dimaksud dengan “Yang Diurapi-Nya” dalam ayat 26 ini. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh, kita perlu melihat ayat ini dalam bahasa aslinya. Dalam bahasa Yunani, frasa “untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya” menggunakan frasa kata tou Kyriou kai kata tou Christou autou. Terjemahan secara bebas atas frasa tersebut adalah “against the Lord and against the Christ of Him” (melawan Tuhan dan melawan Kristus yang adalah Dia/yang berasal dari-Nya).

Dari bahasa aslinya jelas bahwa sebenarnya Tuhan dan Kristus itu adalah pribadi yang sama, tetapi digunakan pengulangan untuk menunjukkan bahwa Tuhan (Yesus) itu adalah Kristus atau Mesias yang dimaksud. Penggunaan kata autou dalam ayat 26 juga dapat menekankan bahwa Kristus/Mesias yang dimaksud adalah Dia (Tuhan Yesus) sendiri atau Kristus/Mesias yang dimaksud adalah berasal dari Dia (artinya tidak ada orang lain yang merupakan Mesias selain Yesus). Jadi penggunaan kata “Yang Diurapi-Nya” tentu merujuk kepada Yesus Kristus, bukan dalam artian Yesus diurapi oleh diri-Nya sendiri, tetapi Yesus itulah Mesias atau pribadi yang diurapi (oleh Allah Bapa).

Pertanyaan kedua yang mungkin muncul berkaitan dengan ayat selanjutnya. Ayat 27 memang berbicara tentang kondisi paralel yang dihadapi oleh jemaat mula-mula yang hampir mirip dengan kondisi yang dialami oleh pemazmur dalam Mzm 2:1-2 tersebut. Namun ada frasa di akhir ayat yang cukup sulit dimengerti yaitu “melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi”. Jika di ayat 24, mereka berseru kepada Tuhan (kurios), maka di ayat 27 ini akan menjadi aneh jika doa yang sama ditujukan kepada kurios yang umum ditujukan kepada pribadi Anak Alah.

Salah satu kemungkinan adalah bahwa doa atau seruan ini ditujukan kepada pribadi Allah Tritunggal karena di awal menggunakan kata despotés, dan bukan kata Theos (yang umum merujuk kepada pribadi Allah Bapa) atau kata kurios (yang umum merujuk kepada pribadi Allah Anak). Ada kemungkinan bahwa ayat 24-26 sebenarnya lebih ditujukan kepada pribadi Allah Anak, sementara ayat 27 ini lebih ditujukan kepada pribadi Allah Bapa. Salah satu pertimbangan adalah peristiwa ini terjadi di awal jemaat mula-mula, sehingga mereka mungkin masih perlu belajar membedakan mana ucapan doa mereka yang seharusnya ditujukan kepada Allah Bapa (Theos), mana yang ditujukan kepada Allah Anak (kurios), dan mana yang ditujukan kepada pribadi Allah Tritunggal. Orang percaya yang memiliki kehidupan doa yang benar, tentu akan mengetahui saat-saat dimana ucapan doanya lebih ditujukan kepada pribadi Allah Bapa atau ditujukan kepada pribadi Allah Anak, atau bahkan mungkin kepada pribadi Allah Tritunggal. Tentu mereka yang sudah sampai pada level ini pasti mengerti bahwa isi doa kepada Allah Bapa tentu berbeda dengan isi doa kepada Allah Anak, serta ada pula doa yang lebih “umum” ditujukan kepada Allah Tritunggal.

Jika melihat frasa “melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi” dalam ayat 27, besar kemungkinan bahwa ayat 27 ini adalah doa atau seruan yang ditujukan kepada pribadi Allah Bapa (Theos). Dalam ayat 27 ini, tidak ada lagi kata Mesias dalam bahasa aslinya tetapi digunakan kata kerja echrisas (ἔχρισας) dari akar kata chrió (χρίω) yang berarti mengurapi, dengan cara menggosokkan atau menuangkan minyak zaitun kepada seseorang untuk menggambarkan aliran Roh Kudus. Pengurapan di sini juga dapat berarti suatu pernyataan yang menyatakan bahwa orang yang diurapi tersebut adalah orang yang benar-benar ditunjuk atau disahkan (authorized) oleh Allah. Ibarat dealer mobil atau bengkel mobil, ada dealer/bengkel yang memang merupakan authorized dealer (dealer resmi yang ditunjuk oleh pabrikan), dan ada pula dealer lain yang sama-sama bisa menjual mobil, tetapi tidak ditunjuk langsung oleh pabrikan. Pengurapan Yesus Kristus oleh Allah Bapa menunjukkan bahwa Yesus Kristus inilah pribadi yang memang ditunjuk dan disahkan untuk menjadi utusan Allah yang menyelamatkan. Dan karena Yesus Kristus inilah pribadi yang diurapi Allah Bapa, maka Ia adalah satu-satunya pribadi yang dapat menyelamatkan manusia, sehingga tidak ada keselamatan di luar Kristus (Yoh 17:3).

Tentu sebagai utusan yang sah, maka Yesus harus mampu melakukan/melaksanakan tugas-Nya selama di dunia ini (ay. 28). Inkarnasi Tuhan Yesus ke dalam tubuh manusia juga diiringi dengan suatu tugas yang maha mulia untuk menyelamatkan manusia. Ia tidak boleh melakukan dosa sekecil apapun, rela mengosongkan diri, rela teraniaya, bahkan harus mampu taat sampai mati di atas kayu salib. Barulah dengan ketaatan-Nya yang sempurna, ia dapat menjadi Juruselamat bagi manusia, yang kemudian tidak hanya memikul dosa dunia, tetapi juga memberikan teladan hidup yang harus dikenakan oleh orang-orang yang mengaku percaya kepada-Nya. Itulah pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Tuhan Yesus selama dalam hidup-Nya di dunia ini (Yoh 4:3-4).

Dalam ayat selanjutnya, kita dapat memperhatikan bahwa ucapan mereka kemudian lebih ditujukan kepada pribadi Allah Anak karena penggunaan kata Kurios. Mereka berseru kepada Tuhan Yesus bahwa ada ancaman yang mereka terima sebagai konsekuensi dari memberitakan dan melakukan Injil (ay. 29). Ancaman ini sebenarnya juga sudah diterima oleh Tuhan Yesus selama hidup-Nya di dunia. Namun bedanya, Tuhan Yesus sudah menang karena Ia sudah menerima segala ancaman dan aniaya, bahkan kematian sebagai bagian dari “tugas” yang harus Ia lakukan. Persoalannya adalah para murid pada masa itu masih belum sampai pada level tersebut. Namun pada dasarnya mereka sudah tahu bahwa mereka pasti akan menerima ancaman dan aniaya sebagai konsekuensi logis iman mereka kepada Tuhan. Perhatikan bahwa mereka tidak meminta supaya Tuhan menghalaukan ancaman dan aniaya tersebut. Namun isi doa mereka adalah supaya mereka memperoleh keberanian untuk tetap memberitakan Injil.

Dan tidak hanya itu juga, merek ajuga meminta supaya mereka tetap memiliki karunia untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat (ay. 30). Ayat ini juga perlu diperhatikan konteksnya. Pada masa itu, pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Tuhan Yesus memang penuh dengan mujizat. Bahkan di masa awal jemaat Tuhan terbentuk, mujizat juga masih ada dan banyak dilakukan oleh para rasul. Mengapa mujizat penting? Karena mujizat inilah salah satu tanda yang menunjukkan bahwa para rasul memang adalah orang-orang yang diutus oleh Allah yang benar. Salah satunya adalah bagaimana mujizat yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes di dalam Bait Allah membuat banyak orang Yahudi percaya kepada mereka, dan membuat mereka mau mendengar apa yang disampaikan oleh Petrus dan Yohanes.

Dalam hal ini, mujizat adalah tanda bahwa para rasul (dan juga orang-orang Kristen) adalah orang yang benar. Orang lain yang belum percaya (baik itu orang Yahudi maupun orang non Yahudi) banyak yang menjadi percaya karena melihat mujizat. Namun perlu diingat bahwa di masa jemaat mula-mula pun, masa-masa yang penuh dengan mujizat itu hanya terjadi di awal-awal saja. Setelah itu, yang ada hanyalah penganiayaan tanpa henti, dimana orang percaya disiksa, dijadikan santapan binatang buas, disalib, dibakar hidup-hidup, bahkan dibunuh dengan cara-cara yang sadis lainnya. Jelas bahwa mujizat itu penting, khususnya bagi mereka yang bertugas sebagai pemberita Injil di daerah yang tidak mengenal Injil, atau di masa-masa awal kekristenan. Namun seiring berjalannya waktu, bagi mereka yang telah bertahun-tahun menjadi Kristen seharusnya tidak berhenti sampai di mujizat saja, tetapi harus terus bertumbuh dan tidak menganggap mujizat sebagai hal yang paling penting. Sayangnya sejumlah gereja dan pendeta masih “memarkir” jemaat mereka dalam urusan mujizat, sehingga meskipun sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun menjadi Kristen, mereka tetap saja seperti anak-anak rohani dan mengabaikan pentingnya pertumbuhan rohani. Sebagai penutup, Alkitab kemudian menulis ketika mereka berdoa, turunlah Roh Kudus memenuhi mereka dan kemudian mereka memberitakan firman Allah dengan berani (ay. 31).

Jadi apa kesimpulan dari bacaan Alkitab kita hari ini? Mengingat konteks renungan kita adalah mengenai pengurapan dalam Perjanjian Baru, maka dari ayat-ayat tersebut kita dapat melihat dua hal penting mengenai pengurapan oleh Allah Bapa. Pertama, Yesus adalah Mesias, yaitu pribadi yang diurapi oleh Allah menjadi satu-satunya utusan Allah untuk menyelamatkan manusia. Kedua, pengurapan dari Allah berarti pengesahan dan penunjukan Allah terhadap seseorang sebagai pihak yang telah diotorisasi (authorized) sebagai utusan Allah. Dalam konteks ayat ini, Yesuslah pribadi yang sudah diotorisasi oleh Allah Bapa sendiri melalui pengurapan atas diri-Nya. Dalam renungan selanjutnya, kita akan melihat lebih dalam lagi mengenai pengurapan Allah dalam diri Tuhan Yesus ini, khususnya terkait dengan kehidupan dan pelayanan-Nya.



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 4:23-31
4:23 Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.
4:24 Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
4:25 Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?
4:26 Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.
4:27 Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi,
4:28 untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.
4:29 Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
4:30 Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus."
4:31 Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.

Sabtu, 14 Maret 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (2) Verifikasi oleh Tuhan Yesus Sendiri


Sabtu, 14 Maret 2020
Bacaan Alkitab: Lukas 4:14-21
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (Luk 4:18)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (2) Verifikasi oleh Tuhan Yesus Sendiri


Setelah kita melihat kata “pengurapan” dalam Perjanjian Baru yang pertama kali digunakan pada waktu kelahiran Tuhan Yesus, maka kita akan melihat bagaimana kata tersebut digunakan untuk yang kedua kalinya pada saat awal-awal pelayanan-Nya. Jika kita melihat ayat-ayat sebelumnya, kita akan tahu bahwa peristiwa sebelumnya adalah pembaptisan Tuhan Yesus oleh Yohanes Pembaptis dan pencobaan di padang gurun, dimana Tuhan Yesus telah dapat melewatinya. Setelah peristiwa pencobaan di padang gurun itu, Tuhan Yesus mulai mengajar di rumah-rumah ibadat. Dalam hal ini, besar kemungkinan bahwa Tuhan Yesus selama masa mudanya (sejak usia 12 tahun hingga 30 tahun), Ia telah belajar hukum Taurat secara formal hingga Ia memperoleh suatu “izin” untuk mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan juga dipanggil sebagai “Guru/Rabi”. Tidak hanya orang biasa yang memanggil-Nya dengan sebutan “Guru” atau “Rabi”, tetapi juga Nikodemus, seorang pengajar Farisi yang terkenal yang juga memanggil Tuhan Yesus dengan sebutan “Rabi” (Yoh 3:2).

Hal yang menguatkan adalah bahwa kemungkinan besar hanya orang-orang yang telah mengenyam pendidikan agama Yahudi secara formal yang boleh berkhotbah di rumah-rumah ibadat Yahudi. Dikatakan bahwa Tuhan Yesus kembali ke Galilea dan mengajar di rumah-rumah ibadat (ay. 14-15). Menurut pendapat saya, sangat besar kemungkinan Ia telah belajar pendidikan agama Yahudi secara formal dan telah diangkat sebagai semacam “Guru” agama Yahudi yang berhak memberikan pengajaran. Jika tidak demikian, tentu Tuhan Yesus sudah dilempari batu oleh orang Yahudi ketika Ia mengajar, apalagi ketika ajaran-Nya sangat berbeda dengan adat-istiadat dan tradisi Yahudi.

Dalam aktivitas pengajaran-Nya secara berkeliling di rumah-rumah ibadat, Tuhan Yesus kemudian kembali ke Nazaret, tempat Ia dibesarkan oleh orang tuanya (ay. 16a). Meskipun sebenarnya Ia lahir di Betlehem, tetapi karena sejak kecil Ia tinggal di Nazaret, maka banyak orang menyebut-Nya dengan kalimat “Yesus dari Nazaret” atau “Yesus orang Nazaret”. Dari kata “Nazaret” inilah muncul istilah “Nasrani” yang umum dikenakan sebagai salah satu panggilan kepada orang percaya. Karena Tuhan Yesus lebih terkenal sebagai orang Nazaret, maka banyak orang Yahudi tidak percaya bahwa Ia adalah Mesias, karena nubuatan kitab Suci mengatakan bahwa Mesias lahir di kota Betlehem (yang sebenarnya sudah digenapi pada saat kelahiran Yesus).

Kembali ke kota Nazaret, Tuhan Yesus kemudian masuk ke dalam rumah ibadat pada hari sabat, dan ia hendak membaca dari Alkitab (dalam hal ini adalah kitab Perjanjian Lama sebagai kitab orang Yahudi yang berisi kitab-kitab Taurat, Mazmur, dan kitab para nabi) (ay. 16b). Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya (yang sangat mungkin berbentuk semacam gulungan perkamen). Ia membuka kitab tersebut dan menemukan suatu nas yang berbunyi demikian: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (ay. 17-19). Ayat yang dibaca oleh Tuhan Yesus tersebut dapat kita temukan dalam kitab Yesaya pasal 61 ayat 1 dan 2.

Sangat besar kemungkinan bahwa pada masa itu, mereka yang sudah memperoleh predikat sebagai “Guru” diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengajaran pada saat ibadah di rumah-rumah ibadat agama Yahudi atau sinagog. Tentu logikanya tidak semua orang diizinkan untuk mengajar di sana. Karena Tuhan Yesus sudah sah sebagai seorang “Guru” pada masa itu, adalah hal yang wajar bagi mereka untuk memberikan kesempatan berbicara dan mengajar di rumah ibadat tersebut. Setelah membaca nas ayat tersebut, Tuhan Yesus mengembalikan gulungan kitab Yesaya kepada pejabat di rumah ibadat tersebut. Ketika mata semua orang tertuju kepada-Nya, Ia berkata dengan tegas: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (ay. 20-21).

Apakah yang dimaksud dengan Tuhan Yesus bahwa nas dari kitab Yesaya tersebut telah digenapi? Tentu kita harus melihat ayat atau nas yang dikutip oleh Tuhan Yesus tersebut. Dalam bagian awal dikatakan bahwa: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku” (ay, 18a). Jika kita melihat bahwa nas yang dikutip oleh Tuhan Yesus adalah sebuat nubuatan mengenai keselamatan bagi Sion. Kata “Sion” ini tidak hanya berarti bukit Sion atau kota Yerusalem, melainkan juga dapat melambangkan bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah dalam Perjanjian Lama. Inilah nubuatan yang dirindukan oleh segenap bangsa Yahudi pada waktu itu, dimana mereka berharap akan ada Mesias yang datang dan memulihkan kerajaan Israel kembali seperti pada zaman Daud. Padahal keselamatan yang dimaksudkan oleh Allah tidak hanya bersifat jasmani, tetapi lebih bersifat rohani yaitu terkait pemulihan manusia menjadi anak-anak Allah.

Dalam ayat aslinya di Perjanjian Lama, digunakan juga kata “mengurapi”. Pasal 61 dari kitab Yesaya masuk ke dalam bagian kedua, yang lebih banyak merupakan nubuatan setelah masa Yesaya hidup. Tentu kata “mengurapi” yang digunakan di Yesaya 61:1 tersebut bisa ditujukan kepada Yesaya sendiri (karena bosa jadi Allah telah mengurapi-Nya sebagai nabi yang menyampaikan suara Tuhan, meskipun sebenarnya konteks pengurapan lebih kepada para imam dan raja), dan juga bisa dipandang dalam konteks penggenapan keselamatan yang digenapi oleh Yesus Kristus. Namun mengingat ayat ini diucapkan langsung oleh Tuhan Yesus Kristus, maka kita dapat melihat bagaimana Ia melakukan verifikasi terhadap nubuatan nabi Yesaya ini. Dengan kata lain, Tuhan Yesus memverifikasi bahwa Ia adalah “Yang Diurapi Allah” atau Mesias itu sendiri. Mengapa demikian? Setidaknya sejumlah kalimat selanjutnya juga telah digenapi oleh Tuhan Yesus sendiri.

Sebagai contoh, Tuhan Yesus menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, yaitu orang-orang yang tertindas. Dalam konteks nabi Yesaya, mungkin yang dimaksud dengan orang miskin adalah bangsa Yehuda yang dikalahkan oleh musuh mereka dan dibuang ke Babel sehingga menjadi miskin. Namun dalam konteks Perjanjian Baru, Tuhan Yesus datang untuk semua orang, termasuk orang yang miskin secara jasmani (yang sering terabaikan oleh para pemuka agama) dan juga mereka yang miskin di hadapan Allah (Mat 5:3). Tuhan Yesus juga jelas merupakan utusan dari Allah Bapa, yang membawa hidup kekal bagi mereka yang percaya (Yoh 17:3).

Oleh karena itu, berbicara tentang pengurapan Allah dalam Perjanjian Baru, memang tidak bisa dilepaskan dari Tuhan Yesus sebagai pribadi yang diurapi oleh Allah. Tuhan Yesus adalah penggenapan dari segala nubuatan mengenai pengurapan di Perjanjian Lama. Jika di dalam Perjanjian Lama hanya imam dan raja yang diurapi, maka di Perjanjian Baru, Tuhan Yesus adalah penggenapannya, karena Ia adalah Imam (bandingkan dengan Ibr 2:17, 3:1, 4:14, 5:10, dan lain sebagainya) dan juga sebagai Raja. Melalui Tuhan Yesuslah maka jabatan imam dan raja kembali “disatukan”, dan akan dinyatakan dengan mutlak pada hari terakhir, dimana kerajaan Allah akan datang dengan Tuhan Yesus sebagai Raja dan sekaligus sebagai Imam Besar kita.



Bacaan Alkitab: Lukas 4:14-21
4:14 Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu.
4:15 Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.
4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
4:18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."