Jumat, 22 Juni 2018

Pornos dan Moichos (15): Bukan Pezinah = Kebanggaan?


Jumat, 22 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Lukas 18:9-14
Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (Luk 18:11)


Pornos dan Moichos (15): Bukan Pezinah = Kebanggaan?


Harus diakui bahwa belakangan ini, banyak orang Kristen yang menjadi bangga akan hidupnya. Rasa bangga itu begitu tingginya hingga tanpa disadari orang tersebut juga meninggikan diri. Saya sendiri pernah terjebak pada kondisi seperti itu, karena merasa “lebih tahu” soal Alkitab sehingga seakan-akan memandang rendah orang lain yang tidak sepaham. Jika saya yang bukan siapa-siapa saja pernah jatuh dalam dosa ini, betapa berbahayanya bagi mereka yang memang memiliki jabatan tertentu di gereja, apalagi sebagai pemimpin gereja atau pemimpin jemaat.

Suka atau tidak suka, dosa kesombongan ini sangat rawan terjadi pada orang-orang yang memang memegang jabatan tertentu di gereja (misal: pengurus, majelis, diaken), serta para pelayan mimbar (yaitu mereka yang tampil di atas mimbar gereja (misal: worship leader, singer, choir, pemusik, bahkan termasuk pembicara). Sangat besar kemungkinan mereka merasa lebih baik, lebih terhormat, dan lebih benar daripada orang lain hingga sampai memandang rendah orang lain (bahkan semua orang lain) (ay. 9).

Terkait hal ini, Tuhan Yesus menyampaikan suatu perumpamaan dimana terdapat 2 orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa, yang satu adalah orang Farisi (yang mengerti hukum Taurat bahkan secara lahiriah dipandang lebih terhormat oleh orang Yahudi karena hidup keberagamaannya yang berusaha memenuhi seluruh tuntutan hukum Taurat), serta seorang lagi adalah pemungut cukai (yang dipandang sebagai pengkhianat oleh kebanyakan orang Yahudi karena dianggap sebagai antek bangsa Romawi yang sedang menjajah mereka) (ay. 10).

Dikatakan bahwa mereka berdua sedang berdoa kepada Tuhan di Bait Allah, tempat suci agama Yahudi. Tentu dalam hal ini mereka sedang sama-sama menjalankan hukum Taurat yang pada waktu itu mengatur bahwa orang Yahudi sebaiknya berdoa di Bait Allah yang merupakan lambang kehadiran Allah di antara bangsa Yahudi. Tuhan Yesus menyampaikan terlebih dahulu apa isi doa orang Farisi (yang untungnya, diucapkannya dalam hati). Orang Farisi tersebut mengucap syukur karena ia tidak sama dengan orang lain (ay. 11a). Dalam hal ini, orang lain yang ia maksud dalam doanya adalah para perampok, orang lalim, dan pezinah (ay. 11b). Lucunya lagi, orang Farisi tersebut dalam doanya juga menyebut pemungut cukai yang sedang berdoa bersama-sama dirinya (ay. 11c). Untungnya, sekali lagi, doanya ia panjatkan di dalam hati dan tidak terucap dari mulutnya.

Dalam ayat 11 ini ada kata “pezinah” yang dalam bahasa aslinya adalah moichoi (μοιχοί) dari akar kata moichos (μοιχός) yang bermakna an adulterer, that is, a man who is guilty with a married woman (seorang pezinah, yaitu seorang laki-laki yang bersalah [karena berzinah] dengan seorang perempuan yang sudah menikah). Kata moichos sendiri memang adalah kata benda (noun) yang bersifat maskulin (lebih digunakan untuk menunjuk laki-laki yang berzinah) jika dibandingkan dengan kata moicheia yang merupakan kata benda yang bersifat feminim (lebih digunakan untuk menunjuk perempuan yang berzinah), dengan moicheuó sebagai kata kerjanya.

Di ayat ini, seorang pezinah dianggap sama dengan pelaku kejahatan lainnya seperti perampok (harpages/harpax, yang dapat diartikan sebagai seorang yang rakus, tamak, serakah, perampok, pemeras), dan orang lalim (adikoi/adikos, yang dapat diartikan sebagai seorang yang tidak adil, tidak benar, jahat, berdosa, keji). Saya sendiri berpendapat bahwa jika dibandingkan dengan perampokan dan kelaliman, suatu perzinahan (moichos) masih dapat disetarakan/disejajarkan. Namun patutkah suatu perzinahan disejajarkan dengan pemungut cukai?

Dalam bahasa aslinya, kata “pemungut cukai” menggunakan kata telónés (τελώνης). Kata ini umum digunakan di Perjanjian Baru (ada sebanyak 21 kali) yang bermakna a publican; a tax-collector, gathering public taxes from the Jews for the Romans (pemungut cukai, pemungut pajak, mengumpulkan pajak publik dari orang Yahudi untuk orang Romawi). Profesi pemungut pajak memang sudah ada sejak zaman Romawi hingga saat ini. Namun dalam konteks masa Perjanjian Baru, profesi ini memiliki peranan yang cukup penting dan unik, yaitu mengumpulkan pajak dari daerah jajahan bangsa Romawi.

Bangsa Yahudi pada masa itu menjadi salah satu daerah jajahan bangsa Romawi. Mereka sendiri sebenarnya sudah memiliki aturan Taurat mengenai persembahan bagi Tuhan, persembahan bagi raja, persembahan bagi orang Lewi, dan lain sebagainya. Namun ketika mereka sedang ada dalam jajahan bangsa lain, tentu aturan Taurat itu tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya, karena ada aturan lain mengenai pajak yang dikenakan oleh bangsa Romawi. Sebagai contoh, bangsa Yahudi sebenarnya tidak telalu masalah dikenakan pajak bagi raja mereka (yang berasal dari orang Yahudi juga), akan tetapi hal itu akan menjadi masalah jika pajak mereka digunakan untuk kegiatan pembangunan kuil-kuil dewa orang Romawi, atau untuk pesta-pesta gubernur Romawi yang menggunakan makanan yang tidak halal/tidak kosher.

Hal ini menempatkan posisi pemungut cukai pada dilema. Mereka tentu lebih aman dan tenang ketika dapat bekerja di dalam pemerintahan orang Romawi dengan tugas memungut cukai/pajak dari orang Yahudi. Tetapi mereka pun dipandang sangat hina oleh orang Yahudi lainnya karena dianggap sebagai pengkhianat bangsa/negara. Di sisi lain, memang ada pemungut cukai yang memungut cukai sesuai ketentuan (seperti Zakheus), dan ada pula pemungut cukai yang memungut cukai lebih dari ketentuan dengan tujuan untuk mendapatkan kehormatan di mata orang Romawi. Namun bahkan pemungut cukai yang sudah memungut cukai sesuai ketentuan pun masih sering dianggap “sama berdosanya” dengan para pezinah atau bahkan para pelacur (karena mereka dianggap melacurkan diri mereka dengan menjadi pegawai bagi bangsa Romawi, bangsa penjajah pada waktu itu).

Tidak heran setelah orang Farisi membandingkan dirinya lebih baik dari orang lain (termasuk pemungut cukai), ia mulai menyebutkan kebaikannya itu, meskipun masih diucapkannya dalam hati, antara lain: berpuasa 2 kali seminggu, bahkan memberikan sepersepuluh dari segala penghasilannya (ay. 12). Memang orang Yahudi memiliki kewajiban untuk berpuasa. Dari beberapa literatur yang saya baca, konteks puasa orang Yahudi di ayat ini adalah berpuasa setiap hari Senin dan Kamis. Sebenarnya hukum Taurat sendiri tidak mengatur mengenai berapa sering mereka berpuasa dalam seminggu, kecuali pada hari-hari tertentu dimana mereka diwajibkan untuk berpuasa. Sehingga puasa 2 kali seminggu ini kemungkinan adalah suatu tradisi yang mulai muncul setelah bangsa Israel pulang dari pembuangan di Babel dan Persia. Tradisi itu kemudian “dibakukan” oleh sejumlah sekte termasuk oleh orang Farisi. Besar kemungkinan, pada waktu Tuhan Yesus berinkarnasi di dunia ini, banyak orang Yahudi (yaitu orang Farisi) yang sudah melakukan puasa 2 kali seminggu dan melakukannya seakan-akan sebagai suatu aturan dari hukum Taurat, padahal itu adalah tradisi tambahan di luar hukum Taurat.

Tradisi tambahan lainnya yang mungkin sudah umum terjadi pada waktu itu adalah memberikan sepersepuluh dari segala penghasilan (ay. 12b). Jika kita mempelajari aturan persepuluhan di dalam hukum Taurat, kita akan mengerti bahwa persembahan persepuluhan hanya dikenakan dari hasil tanah dan hasil ternak, bukan dari segala penghasilan. Dalam bahasa aslinya, kata “dari segala penghasilanku” menggunakan kata panta hosa ktōmai (πάντα ὅσα κτῶμαι). Kata panta/pas dapat bermakna all, the whole, every kind of (semua, seluruh, setiap jenis). Kata hosa/hosos dapat bermakna how much, how great, how many, as great as, as much (seberapa banyak, seberapa hebat, berapa banyak, sebesar, sebanyak). Sedangkan kata ktōmai/ktaomai dapat bermakna I acquire, win, get, purchase, buy, possess, win mastery over (saya peroleh, menangkan, dapatkan, beli, miliki, memenangkan penguasaan atas sesuatu). Oleh karena itu, di dalam terjemahan lain, ada yang menerjemahkan “segala penghasilan” dengan “semua yang aku peroleh/semua yang aku miliki”.

Jadi jelas bahwa ayat 12b ini tidak dapat dijadikan dasar bahwa persembahan persepuluhan itu harus diberikan dari segala penghasilan (dalam hal ini gaji yang diterima atau omzet usaha). Kata ktōmai/ktaomai sendiri juga dapat berarti apa yang dimiliki, sehingga mungkin juga orang Farisi pada waktu itu memberikan sepersepuluh dari harta miliknya dalam waktu-waktu tertentu (tidak setiap bulan). Namun demikian, perlu dipertegas pula bahwa persepuluhan adalah tradisi orang Yahudi, dan dalam hal ini Tuhan Yesus tidak sedang mengajarkan bahwa para pengikut-Nya juga harus mempersembahkan sepersepuluh dari penghasilannya. Tuhan sendiri mengajarkan bahwa kita harus memberi segenap hidup kita kepada Tuhan dan bukan hanya sepersepuluh dari harta atau penghasilan kita.

Kembali ke pembahasan kita tadi, menarik melihat bahwa orang Farisi tersebut seakan-akan sudah menyimpulkan bahwa pemungut cukai pastilah tidak berpuasa, atau bahkan memberikan persepuluhan seperti apa yang ia lakukan. Orang Farisi tersebut menyimpulkan bahwa hidupnya lebih berkenan kepada Allah karena ia melakukan lebih dari apa yang dituntut oleh hukum Taurat. Ia bahkan melakukan puasa 2 kali seminggu dan memberi persepuluhan dari penghasilan/miliknya meskipun hal tersebut tidak dituntut oleh hukum Taurat. Secara tidak langsung, orang Farisi itu hendak menyatakan bahwa ia lebih beragama dibandingkan dengan orang lain. Hidup keberagamannya menjadi semacam kebanggan bagi dirinya karen-a dengan hal itu ia merasa lebih saleh dibandingkan dengan orang lain.

Di sisi lain, Tuhan Yesus mengemukakan bahwa si pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh (ay. 13a). Mungkin ia berdiri jauh-jauh dari posisi orang Farisi itu berdoa, karena kita tahu bahwa orang Farisi suka menduduki tempat-tempat terhormat, dan mungkin saja ada tempat-tempat khusus yang hanya boleh digunakan oleh mereka yang dipandang lebih saleh dan lebih terhormat secara agama Yahudi. Pemungut cukai tersebut bahkan tidak berani menengadah ke langit (memandang ke atas), yaitu gambaran surga/tempat Allah bertahta yang digambarkan berada di atas bumi (ay. 13b). Ia bahkan memukul dirinya sendiri dan mengaku sebagai orang berdosa dan meminta belas kasihan Allah atas dirinya (ay. 13c).

Sekali lagi saya hendak katakan bahwa sesungguhnya profesi/pekerjaan sebagai pemungut cukai pada waktu itu masih memungkinkan seorang pemungut cukai untuk hidup berkecukupan dengan memungut cukai sesuai aturan (karena mereka memperoleh gaji dari pemerintah Romawi). Sehingga kita tidak tahu apakah gambaran pemungut cukai dalam perumpamaan ini adalah pemungut cukai yang merasa bersalah karena ia sudah memungut cukai melebihi ketentuan dan memeras orang sebangsanya, ataukah pemungut cukai yang merasa bersalah karena pekerjaannya membuat dirinya dipandang hina oleh orang sebangsanya walaupun ia sudah berusaha bekerja dengan benar sesuai aturan.

Apapun itu, kita dapat melihat bahwa Allah membenarkan si pemungut cukai sementara orang Farisi itu tidak dibenarkan (ay. 14a). Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa Allah tidak melihat manisnya kata-kata dalam doa seseorang, tetapi lebih kepada sikap hati orang ketika datang kepada Tuhan. Percuma doa dengan kata-kata yang indah jika doa tersebut justru meninggikan dirinya sendiri (tidak meninggikan Tuhan) dan justru merendahkan orang lain. Saya sendiri dalam beberapa kesempatan di beberapa mimbar gereja atau persekutuan pernah melihat bagaimana doa bisa dimanipulasi dan dipelintir untuk menjatuhkan orang lain. Cukup banyak doa-doa di atas mimbar gereja yang diucapkan dengan tujuan untuk meninggikan diri. Tentu dalam hal ini saya sedang tidak bermaksud menghakimi, tetap adalah baik jika kita dapat dengan obyektif menilai doa-doa yang selama ini sering diucapkan dari atas mimbar gereja, apakah doa-doa tersebut adalah doa yang tulus dari hati ataukah bukan. Kalaupun kita merasa ada doa yang dipenuhi kesombongan bahkan terkesan menjatuhkan orang lain, tugas kita paling banyak hanyalah mengingatkan orang tersebut. Jika orang tersebut tidak mau mendengarkan, biarlah Tuhan yang menjadi hakimnya. Yang jelas Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa mereka yang meninggikan diri suatu saat nanti akan direndahkan, sedangkan mereka yang merendahkan diri suatu saat nanti pasti akan ditinggikan (ay. 14b). Janganlah bangga jika kita tidak merampok dan tidak berzinah. Itu bukanlah kebanggaan. Banggalah hanya untuk satu hal: yaitu jika kita sudah bisa menyenangkan hati Tuhan dan membuat-Nya tersenyum ketika Ia melihat kehidupan kita yang berkenan kepada-Nya.



Bacaan Alkitab: Lukas 18:9-14
18:9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
18:10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."


Sabtu, 16 Juni 2018

Pornos dan Moichos (14): Kawin dengan Janda Cerai = Zinah?


Sabtu, 16 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Lukas 16:16-18
“Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.” (Luk 16:18)


Pornos dan Moichos (14): Kawin dengan Janda Cerai = Zinah?


Membahas mengenai ayat ini, saya teringat akan satu peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan saya, dimana salah seorang pemuda datang kepada saya dan bertanya, apakah menikahi seorang perempuan yang diceraikan oleh suaminya maka ia menjadi berzinah? Pemuda itu ternyata sedang jatuh cinta kepada seorang janda cerai dan ingin menikah dengan janda tersebut. Sayangnya ia datang dalam keadaan yang terlambat karena si janda sudah dihamili oleh pemuda itu, sehingga apapun yang saya katakan pun sebenarnya sudah tidak lagi banyak membantu. Yang menjadi penyesalan saya adalah pada waktu itu saya masih belum memiliki pemahaman teologi sedalam saat ini sehingga penjelasan saya mungkin kurang dalam baginya.

Saat ini ketika bertepatan dengan pembahasan mengenai kata pornos dan moichos, saya mencoba untuk membahas mengenai ayat tersebut. Dalam ayat tersebut ada 2 kali kata zinah disebutkan yaitu moicheuei (μοιχεύει) dari akar kata moicheuó (μοιχεύω).  Kita telah membahas di renungan hari-hari sebelumnya bahwa makna kata moicheuó adalah suatu hubungan seksual yang dilakukan oleh seseorang yang sudah menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya. Tentu jika kita mau fair dan jujur untuk memperoleh makna orisinil ayat tersebut, kita harus melihat konteks dari ayat itu dalam kedudukannya dengan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya.

Konteks dari ucapan Tuhan Yesus di ayat 18 tersebut (ayat-ayat sebelum dan sesudahnya) adalah ketika Tuhan sedang berkhotbah mengenai harta dan kekayaan, dimana harta kekayaan digambarkan sebagai perkara yang kecil dan banyak orang tidak setia mengenainya. Inti dari khotbah Tuhan Yesus tersebut adalah bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, yaitu kepada Allah dan kepada Mamon. Seseorang harus memilih mengabdi kepada salah satu tuan (Luk 16:1-13). Ketika orang Farisi mendengar hal tersebut, maka mereka mencemooh Tuhan Yesus (Luk 16:14-15). Sementara itu dalam ayat-ayat selanjutnya, Tuhan Yesus juga masih menjelaskan tentang akhir hidup orang kaya dan Lazarus, dimana orang kaya tersebut masuk ke dalam hades yang tidak nyaman karena selama hidupnya ia telah menikmati segala yang baik (kekayaan dunia) tanpa pernah peduli terhadap sesamanya, yaitu Lazarus yang ada di dekatnya (Luk 16:19-31). Benang merah apakah yang dapat kita tarik dari hal-hal tersebut?

Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa hukum Taurat dan kitab para nabi (Perjanjian Lama) berlaku sampai kepada zaman Yohanes [Pembaptis] (ay. 16a). Ketika Yohanes Pembaptis muncul, maka ia memberitakan firman bahwa “Bertobat dan berilah dirimu dibaptis, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!”. Sejak masa itu, Yohanes Pembaptis sedang menyiapkan jalan untuk kedatangan Tuhan Yesus di dunia ini, yaitu Tuhan Yesus yang akan menyampaikan Injil kebenaran firman Tuhan. Sejak waktu itulah Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang berebut untuk memasukinya (ay. 16b).

Jadi, apakah kemudian hukum Taurat bisa dibatalkan ketika Tuhan Yesus datang dan memberitakan Injil? Jawabannya harus kita lihat kepada konteks kepada siapa Tuhan berbicara. Tuhan Yesus berbicara kepada orang-orang Farisi yang adalah orang-orang yang sangat paham mengenai hukum Taurat. Namun perlu dicatat juga bahwa ucapan Tuhan Yesus tersebut adalah bernada kemarahan akibat sikap mereka yang mencemoohkan kebenaran. Tuhan tidak sedang membatalkan hukum Taurat (misalnya: dahulu dikatakan jangan membunuh, sekarang boleh membunuh; dahulu dikatakan jangan berzinah, sekarang boleh berzinah; dahulu tidak boleh memakan binatang haram, sekarang boleh makan semaunya; dahulu harus menjaga hari sabat, sekarang setiap hari boleh dinikmati dengan bebas dan suka-suka sendiri; dan lain sebagainya). Tuhan sebenarnya sedang meredefinisi hukum Taurat sehingga tidak lagi hanya sekedar menjadi hukum-hukum dan syariat yang bersifat lahiriah, tetapi harus dilakukan dengan penuh kesadaran batiniah pula, dengan penuh kecerdasan roh, untuk melakukan sesuatu yang berkenan kepada Bapa. Jika dahulu prinsip orang Yahudi di Perjanjian Lama adalah Torah is my law (Taurat adalah hukumku), maka di Perjanjian Baru prinsip tersebut harus diubah menjadi God is my law (Tuhan adalah hukumku).

Tuhan Yesus berkata bahwa lebih mudah langit dan bumi lenyap daripada satu titik dari hukum Taurat batal (ay. 17).  Persoalannya banyak orang Kristen keliru mengartikan kata “batal” di sini. Tidak heran banyak orang Kristen belum dapat move on dari hukum Taurat dan Perjanjian Lama sehingga masih menyibukkan diri dengan aturan-aturan ibadat di Perjanjian Lama. Tidak jarang banyak orang Kristen yang lebih sering membaca dan dikhotbahkan mengenai kitab Perjanjian Lama sehingga hidup mereka justru lebih mirip dengan hidup orang Yahudi (bersifat keyahudi-yahudian).

Kata “batal” di ayat 17 ini dalam bahasa aslinya adalah pesein (πεσεῖν) dari akar kata piptó (πίπτω). Kata pipto di sini memiliki makna to fail/fall, to be prostated, to lose authority, no longer have force (jatuh, gagal, lemah, tumbang, kehilangan otoritas, tidak lagi berdaya/memiliki kekuatan). Dari hal ini sebenarnya kata “batal” yang dimaksud di sini sepertinya kurang tepat. Meskipun demikian, masih cukup banyak terjemahan baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang menggunakan kata void (batal). Ayat 17 ini menurut saya harus dipahami bahwa hukum Taurat memang sebenarnya hanya berlaku sampai zaman Yohanes Pembaptis, dan sejak itu, Injil Kerajaan Allah diberitakan dan manusia harus berjuang untuk hidup menurut Injil. Akan tetapi, hukum Taurat sama sekali tidak dikatakan bahwa sudah batal. Hukum Taurat adalah hukum yang diberikan oleh Allah sendiri kepada bangsa pilihan-Nya yaitu bangsa Israel. Namun kita harus paham kondisi bangsa Israel pada saat diberi hukum oleh Tuhan adalah mereka baru saja hidup sebagai budak selama 430 tahun di Mesir, sehingga tentu standar hukumnya menggunakan bahasa yang sangat sederhana, seperti: jangan membuat patung, jangan membunuh, jangan berzinah, dan lain sebagainya. Standar ini yang sebenarnya sedang diredefinisi oleh Tuhan Yesus dalam Injil Kerajaan Allah, dimana standar hidup umat Perjanjian Baru bukan hanya saja menaati hukum-hukum yang tertulis, tetapi apakah dalam melakukan sesuatu, kita menyukakan hati Allah atau tidak. Lagipula jika hukum Taurat mungkin hanya cocok bagi orang Israel/Yahudi di tempat dan waktu mereka hidup, maka Injil memiliki fleksibilitas yang tinggi yang dapat diterapkan bagi seluruh manusia di segala tempat dan masa.

Jangan dipikir bahwa dengan pemberitaan Injil maka orang Kristen hidupnya lebih mudah daripada orang Yahudi yang hidup menurut hukum Taurat. Justru dengan pemberitaan Injil oleh Tuhan Yesus, maka standar atau ukuran penghakiman manusia bukan lagi adalah hukum Taurat yang tertulis, melainkan standarnya adalah kehendak Allah sendiri (Mat 7:21-23). Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa orang harus berjuang keras untuk dapat memasuki Kerajaan Allah, yang dalam ayat 16 dikatakan sebagai “setiap orang menggagahinya berebut memasukinya”. Dalam bahasa aslinya digunakan kata biazetai (βιάζεται) dari akar kata biazó (βίαζομαι) yang memiliki makna to use force, to use violence, suffer violence, laying hold of something with positive aggressiveness (menggunakan tenaga/kekuatan, dengan kekerasan, menderita kekerasan, meletakkan sesuatu dan menahannya dengan agresivitas yang positif). Jadi dalam hal ini diperlukan usaha keras, kekuatan ekstra, agresivitas (yang positif), bahkan hingga menderita untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini bukan untuk membawa damai sehingga orang Kristen dapat hidup nyaman di dunia ini, tetapi justru membawa pedang yang akan memurnikan orang-orang pilihannya supaya dapat hidup sesuai standar Allah.

Dari kedua ayat di ayat 16 dan 17 tersebut, barulah Tuhan Yesus berkata bahwa setiap orang yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah, dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah (ay. 18) . Apakah ayat ini berlaku secara harafiah atau hanya bersifat figuratif juga? Menurut saya ayat 18 ini dapat dimaknai secara harafiah, karena ayat yang hampir mirip pun juga telah disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam ayat-ayat lainnya (misalnya: Mat 5:31-32, Mat 19:9, Mrk 10:11-12). Namun prinsip ini pun harus dilihat juga konteks peristiwanya, misalnya: mengapa orang tersebut menceraikan istrinya? Apakah alasan hingga terjadinya perceraian? Apakah ia kawin lagi dengan orang lain yang sebenarnya sudah diselingkuhi selama menikah dengan suami/istri yang terdahulu? Apakah ia kawin dengan cara yang benar ataukah karena hamil duluan? Jika ada hukum atau norma yang dilanggar dalam peristiwa perceraian dan pernikahan tersebut, maka sudah pasti ia sedang melakukan zinah, tidak perlu berputar-putar mencari pembenaran. Bahkan bisa jadi peristiwa pernikahan dengan orang yang diceraikan itu memang dipandang sebagai moicheuó tetapi dosa seksual yang dilakukan sebelumnya (misalnya: sudah bersetubuh dengan orang tersebut sejak masih menikah dengan suami/istrinya) bisa jadi dipandang lebih parah yaitu sudah mencapai taraf pornos/porneia. Dalam hal ini saya melihat pentingnya bimbingan pranikah yang benar supaya janji nikah yang berbunyi “sampai maut memisahkan kita” benar-benar diucapkan dari hati dan bukan hanya sekedar ucapan di bibir saja.

Di sisi lain, ayat 18 ini juga dapat bermakna figuratif, yaitu adanya perselingkuhan dengan semangat materialisme dan konsumerisme (yang digambarkan dengan kenikmatan dunia yaitu harta kekayaan dalam ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya). Dalam hal ini orang Farisi digambarkan sebagai mereka yang terlihat menjalankan hukum Taurat dengan ketat, padahal sebenarnya mereka adalah hamba-hamba uang (Luk 16:14). Sebenarnya mereka bisa saja dikatakan sudah terikat dengan Tuhan (sebagai bangsa pilihan) tetapi sebenarnya mereka sedang berbuat zinah dengan melakukan percintaan dengan dunia. Hal ini sebenarnya menjadi pengulangan akan kejadian di Perjanjian Lama, ketika bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan justru berzinah kepada-Nya dengan menyembah dewa-dewa bangsa lain. Di masa Perjanjian Baru, orang-orang Farisi memang tidak menyembah dewa-dewa lain (bahkan sangat radikal terhadap hal ini). Tetapi tanpa sadar mereka sebenarnya sedang berzinah dengan harta, kekayaan dan kenikmatan dunia).

Jadi ayat 18 ini seharusnya tidak perlu dipermasalahkan dan diperdebatkan apakah memang bermakna harafiah atau tidak. Ayat itu pun sangat bagus jika dimaknai secara harafiah (supaya seseorang tidak gampang menikah dan bercerai). Di sisi lain, makna figuratif dari ayat ini pun jauh lebih bagus karena menggambarkan sikap manusia yang seharusnya tidak boleh berselingkuh dengan mamon (harta dan kekayaan dunia). Kita harus menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagian kita, menjadikan Tuhan sebagai mempelai kita dan tidak berzinah dengan mencintai dunia. Menikah dengan janda bisa jadi adalah zinah (moicheuó), tetapi jangan sampai alasan kita menikahi janda adalah karena dosa percabulan yang lebih berat(pornos/porneia). Di sisi lain, percintaan dunia pun bisa jadi lebih “mematikan” bagi kehidupan kita, karena bisa membuat kita berzinah dengan Tuhan, dan jika tidak segera bertobat, maka kita bisa tertawan hingga tidak bisa lagi kembali ke jalan yang benar.



Bacaan Alkitab: Lukas 16:16-18
16:16 Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.
16:17 Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.
16:18 Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah."

Kamis, 14 Juni 2018

Pornos dan Moichos (13): Dapat Menyebabkan Pemborosan Harta


Jumat, 15 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Lukas 15:28-30
Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. (Luk 15:30)


Pornos dan Moichos (13): Dapat Menyebabkan Pemborosan Harta


Perikop yang kita baca adalah perumpamaan mengenai anak yang hilang. Tentu hampir semua orang Kristen sudah pernah mendengar mengenai perumpamaan ini, dimana ada seorang bapa yang memiliki 2 orang anak (sulung dan bungsu). Anak bungsu meminta jatah warisannya lalu pergi meninggalkan bapanya. Ia akhirnya kehabisan harta dan kembali kepada bapanya sementara itu si sulung tetap tinggal di rumah bapanya. Tetapi anak sulung marah begitu tahu adiknya kembali dan bapanya menerima adiknya kembali bahkan mengadakan pesta bagi adiknya.

Kita memang tidak akan membahas seluruh ayat dalam perikop ini, tetapi hanya berfokus pada kata pornos yang ada di dalam perikop ini. Ketika anak sulung marah dan tidak mau masuk ke dalam rumah ayahnya (dimana sedang diadakan pesta menyambut kembalinya anak bungsu), maka ayahnya kemudian keluar dan berbicara dengan anak sulung tersebut (ay. 28). Kemungkinan besar pada saat itu ayahnya hendak membujuk anak sulungnya untuk mau masuk ke dalam rumah dan ikut berpesta menyambut kembalinya sang adik.

Namun anak sulung tersebut menjawab ayahnya, dan berkata bahwa telah bertahun-tahun ia melayani bapa dan belum pernah melanggar perintah bapa, tetapi bapa belum pernah memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatnya (ay. 29). Tetapi ketika adiknya datang, yaitu anak yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan para pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun untuk sang adik (ay. 30).

Menarik melihat bahwa si anak sulung cemburu karena bapanya tidak pernah memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabat si sulung, sementara justru ketika si bungsu pulang, bapanya langsung menyembelih seekor anak lembu tambun menyambut kedatangannya. Padahal, anak bungsu sudah sangat berdosa di hadapan bapanya. Ia telah meminta bagian harta warisan ayahnya kemudian menjualnya, serta menghabiskannya dengan berfoya-foya di negeri orang (Luk 15:13). Dalam ayat 13 memang tidak dijelaskan dengan gamblang mengenai tindakan berfoya-foya yang dilakukan oleh anak bungsu. Namun di ayat 30 ini, anak yang sulung mengatakan bahwa si bungsu telah memboroskan harta kekayaan bapanya dengan pelacur-pelacur.

Kata “harta kekayaan” pada ayat ini dalam bahasa aslinya menggunakan kata bion (βίον) dari akar kata bios (βίος) yang secara harafiah bermakna hidup/kehidupan. Sehingga, dapat dikatakan bahwa si anak bungsu ini sebenarnya sedang menghabiskan “hidup” bapanya, karena harta milik bapanya itu adalah sumber daya (resources) yang menyokong kehidupan keluarga mereka. Kata “memboroskan” pun dalam bahasa aslinya adalah kataphagōn (καταφαγών) dari akar kata katesthió (κατεσθίω) yang memiliki makna eat till it is finished, devour, squander, annoy, injure (makan hingga habis tak bersisa, melahap, menghambur-hamburkan, memboroskan, mengganggu, melukai, merusak, merugikan). Jadi apa yang dilakukan oleh anak bungsu ini adalah menghabiskan bagian warisan ayahnya (kemungkinan besar tanah atau ladang mereka), menjualnya, lalu uangnya dihabiskan sama sekali hingga tak bersisa. Ini paralel dengan deskripsi si anak bungsu yang tidak punya apa-apa bahkan hingga ia harus memakan makanan babi ketika bekerja sebagai penjaga babi, tetapi tidak ada orang yang memberikan makanan babi kepadanya (Luk 15:16).

Lebih lanjut, si anak sulung mengatakan bahwa harta si bungsu habis karena diboroskan dengan para pelacur (ay. 30a). Kita tidak tahu bagaimana anak sulung mengetahui hal ini, apakah ia mendengar cerita dari orang lain yang menyampaikan kepadanya, atau ia hanya sekedar menebak-nebak saja. Tetapi jika mau jujur, memang besar kemungkinan anak bungsu ini masih belum memiliki pengalaman hidup sehingga ketika memiliki uang banyak hasil penjualan bagian warisannya, ia kemudian berfoya-foya dan mencari kepuasan dengan para pelacur. Dalam bahasa aslinya, kata “pelacur” menggunakan kata pornōn (πορνῶν) dari akar kata porné (πόρνη). Kata porné ini memiliki pengertian sebagai a woman who sells her body for sexual uses, a prostitute, a harlot, any woman indulging in unlawful sexual intercourse, whether for gain or for lust (perempuan yang menjual tubuhnya untuk urusan seksual, pelacur, perempuan yang melakukan hubungan seksual yang tidak sah, baik untuk mendapatkan keuntungan atau hanya untuk memuaskan nafsunya).

Tidak dapat dipungkiri bahwa biaya untuk menyewa pelacur dapat menghabiskan biaya yang cukup besar, apalagi jika pelacur tersebut adalah pelacur yang high class. Mengingat uang yang dibawa oleh si bungsu cukup banyak, maka bukan tidak mungkin para pelacur mengetahuinya dan “menjebaknya” untuk mendapatkan uangnya dengan cepat. Tidak heran jika anak bungsu bisa sangat cepat kehilangan seluruh hartanya dengan gaya hidup yang demikian. Herannya mengapa si bungsu tidak mencari wanita yang paling cantik di negeri orang tersebut kemudian menikahinya daripada menghabiskan uang dengan para pelacur.

Salah satu kesalahan si bungsu adalah ia tidak memiliki orang yang bisa memberikan nasehat yang benar kepada dirinya. Ketika ia masih bersama dengan bapanya, ia mungkin masih mendapatkan nasehat dari bapa dan kakaknya. Atau minimal pegawai bapanya masih bisa memberikan masukan kepada si anak bungsu. Namun ketika ia memutuskan untuk pergi ke negeri yang jauh, tanpa adanya orang yang bisa menasehatinya, maka ia sebenarnya sedang terhilang menuju kebinasaan. Kata “hilang” dalam perikop “anak yang hilang” ini pantas dimaknai sebagai tidak berada di tempat yang semestinya, atau terpisah dari keluarganya. Ketika si anak bungsu ini putus hubungan dengan keluarganya, maka tidak ada lagi saran atau masukan yang baik kepadanya sehingga ia akhirnya salah melangkah dan mengambil keputusan. Syukurlah ia masih memiliki kesempatan untuk kembali kepada bapanya dan tidak lagi terhilang dalam dosa dan kegelapan.

Jika mau jujur, banyak orang yang menjadi miskin karena dosa perzinahan ini. Sekali terikat dengan perzinahan, hal itu akan menjadi candu yang kuat dan mengikat sehingga sangat sulit sekali untuk lepas. Ketika sudah terikat, maka uang pun akan banyak habis untuk melakukan perzinahan tersebut. Apalagi jika dilakukan dengan para pelacur-pelacur yang memang mencari menjual tubuhnya demi keuntungan khususnya uang. Jangankan dengan para pelacur, memiliki istri simpanan pun juga dapat menghabiskan banyak uang. Oleh karena itu, satu hal yang perlu ditekankan adalah jangan sampai jatuh ke dalam dosa perzinahan karena hal tersebut adalah jahat di mata Tuhan. Uang dan harta kita adalah titipan Tuhan yang harus kita kelola sebaik-baiknya bagi kemuliaan nama Tuhan, untuk kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya. Jangan biarkan uang kita habis untuk hal-hal yang tidak berguna, apalagi untuk hal-hal yang jelas-jelas merugikan diri kita.  




Bacaan Alkitab: Lukas 15:28-30
15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.

Pornos dan Moichos (12): Dosa yang Sebenarnya Bisa Dihindari


Kamis, 14 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Markus 10: 17-22
“Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!". Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." (Mrk 10:19-20)


Pornos dan Moichos (12): Dosa yang Sebenarnya Bisa Dihindari


Sebenarnya perikop ini juga hampir sama isinya dengan perikop lain seperti di kitab Matius 19 dan Lukas 18. Ayat mengenai kata moichos di Matius 19 juga sudah kita bahas sebagian dalam seri-seri sebelumnya, khususnya mengenai kalimat “Jangan berzinah” yang adalah salah satu perintah Allah. Oleh karena itu pada renungan hari ini kita akan sedikit lebih fokus pada fakta bahwa perzinahan sebenarnya merupakan dosa yang dapat dihindari, bahkan sejak muda.

Perikop ini dimulai dengan tulisan yang menunjukkan setting latar belakang kejadian, dimana Tuhan Yesus hendak berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya (ay. 17a). Pada saat itu, datanglah seorang berlari-lari di hadapan-Nya lalu bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ay. 17b). Pertanyaan ini sangat mirip dengan apa yang ditulis di kitab Matius pasal 19. Namum kita melihat bahwa Markus mencatat orang yang datang ini datang dengan berlari-lari (kemungkinan ia ingin segera mendapatkan jawaban dari Tuhan Yesus sebelum Ia pergi). Orang ini bahkan menyebut Tuhan Yesus sebagai “Guru yang baik” serta bertelut atau berlutut di hadapan Tuhan Yesus. Hanya ada segelintir orang yang tercatat berlutut atau sujud di hadapan Tuhan Yesus dan orang ini termasuk salah satunya. Dalam hal ini Markus hendak menekankan bahwa orang yang datang ini memang benar-benar serius ingin bertanya bagaimana mendapatkan hidup yang kekal kepada Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaannya secara terus terang atau gamblang, melainkan menyatakan bahwa tidak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja (ay. 18). Lho, bukankah Tuhan Yesus adalah Anak Allah, mengapa Ia sendiri berkata bahwa tidak ada seorang pun yang baik? Apakah Tuhan Yesus sendiri tidak baik? Jawaban Tuhan Yesus di ayat 18 ini menarik untuk kita bedah. Sedikitnya ada 2 kemungkinan maksud pernyataan Tuhan Yesus, yaitu: 1) Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa diri-Nya berbeda dengan pribadi Bapa. Memang Tuhan Yesus dan Bapa adalah satu dalam lembaga Allah, tetapi pribadi Yesus dan Bapa berbeda. Itulah mengapa di dunia ini Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa, bahkan berseru kepada Bapa. Ada pula kemungkinan selanjutnya yaitu: 2) Tuhan Yesus tidak berhak menyatakan diri-Nya sebagai pribadi yang baik karena Ia belum menyelesaikan tugas-Nya selama di dunia ini, yaitu hidup dalam ketaatan yang sempurna kepada Bapa hingga mati di kayu salib. Barulah ketika Ia berhasil taat hingga kematian-Nya, maka Tuhan Yesus menjadi pokok keselamatan bagi semua orang yang taat kepada-Nya (Ibr 5:7).

Kembali ke ucapan Tuhan Yesus kepada orang tersebut, Tuhan Yesus baru kemudian menjawab: “Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu” (ay. 19). Apa yang diucapkan oleh Tuhan Yesus ini adalah ringkasan dari 10 Hukum Allah (Dekalog), khususnya hukum yang mengatur mengenai hubungan manusia dengan sesamanya yaitu hukum ke-5 hingga ke-10 (walaupun tidak semua disebutkan dan tidak urut juga). Agak menarik juga mengapa Tuhan Yesus menggunakan hukum ke-5 hingga ke-10 dan bukannya hukum ke-1 hingga ke-4 yang mengatur mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Apakah Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa hukum ke-1 dan ke-4 tidak berguna untuk memperoleh hidup yang kekal?

Tentu tidak. Alasan Tuhan Yesus menggunakan hukum ke-5 hingga ke-10 adalah karena hukum tersebut masih mungkin bisa dilakukan oleh manusia dibandingkan dengan hukum ke-1 hingga ke-4. Jika mau jujur, inti dari hukum ke-5 hingga ke-10 itu juga dimiliki oleh bangsa-bangsa lain selain bangsa Israel/Yahudi (meskipun bisa jadi dalam “kadar” yang lebih rendah). Sebagai contoh, tidak ada satu pun suku bangsa atau agama di dunia ini yang tidak mengajarkan manusia untuk menghormati orang tuanya. Ini menunjukkan bahwa hukum ke-5 hingga ke-10 termasuk hukum yang masih memungkinkan untuk dilakukan oleh manusia, dibanding dengan hukum ke-1 hingga ke-4 yang lebih abstrak lagi dalam pelaksanaannya.

Termasuk di dalam hukum yang disebutkan oleh Tuhan Yesus adalah perintah atau hukum ke-7 yaitu “Jangan berzinah”. Dalam bahasa Yunani, kata “berzinah” menggunakan kata moicheusēs (μοιχεύσῃς) dari akar kata moicheuó (μοιχεύω). Kata ini sejajar dengan kata naaph (נָאַף) dalam bahasa Ibrani. Kata “berzinah” dalam konteks ayat ini dapat diartikan sebagai tindakan melakukan hubungan seksual yang dilakukan oleh seseorang yang sudah menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya. Meskipun di dalam Matius 5 (yaitu dalam khotbah Tuhan Yesus di awal pelayanan-Nya), Tuhan Yesus sudah menjelaskan mengenai definisi “berzinah” yang baru, yaitu tidak sampai melakukan hubungan seksual namun sudah mengingini/tergerak syahwatnya juga sudah masuk kategori berzinah.

Dalam konteks perikop ini, menarik melihat jawaban orang tersebut kepada Tuhan Yesus: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku” (ay. 20). Sangat jarang ada orang yang berani berkata demikian kepada Tuhan Yesus. Jika orang ini sampai berani berkata demikian, berarti orang ini adalah salah satu dari sedikit orang Yahudi yang benar-benar menjaga hidupnya sesuai dengan tuntutan hukum Taurat. Ia tdiak membunuh, tidak mencuri, tidak berbohong, bahkan tidak berzinah. Menariknya, Tuhan Yesus juga tidak membantah ucapan orang tersebut. Ini dapat mengimplikasikan bahwa apa yang diucapkan oleh orang tersebut memang benar. Sejak masa mudanya, orang itu telah berjuang hidup tanpa melanggar hukum Taurat. Tetapi Tuhan Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya (ay. 21a). Tuhan lalu berkata kepada orang tersebut: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (ay. 21b). Sayangnya, orang tersebut yang begitu menggebu-gebu datang kepada Tuhan Yesus, kemudian ia menjadi kecewa lalu pergi dengan sedih sebab banyak hartanya (ay. 22).

Dari percakapan antara Tuhan Yesus dengan orang yang datang kepada-Nya, secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk melakukan hukum Taurat, minimal untuk hukum ke-5 hingga ke-10. Dalam hal ini, manusia juga pasti mampu untuk tidak melakukan dosa perzinahan. Kita dapat melihat bagaimana orang ini bisa menjaga hidupnya dari dosa perzinahan sejak masa mudanya. Prinsip ini yang seharusnya dapat dikenakan kepada setiap orang percaya yang lebih lagi telah diberikan karunia Roh Kudus oleh Allah Bapa.

Seringkali banyak orang Kristen beralasan bahwa dosa perzinahan ini sulit untuk dihindari. Ya, memang di akhir zaman ini teknologi berkembang semakin maju sehingga bahaya pornografi semakin rentan terpapar kepada orang muda bahkan anak-anak. Akan tetapi jika kita tahu bahwa perzinahan adalah suatu dosa (yang sudah dinyatakan sejak zaman Perjanjian Lama dan diredefinisi kembali oleh Tuhan Yesus), maka kita seharusnya dapat menghindarinya. Hal ini sama halnya dengan kita bisa tidak berbohong, tidak mencuri, tidak membunuh, dan lain sebagainya. Tentu hal ini hanya dapat dicapai dengan kesadaran bahwa hal tersebut adalah dosa dan kita memiliki niat tinggi untuk tidak melakukan apapun yang tidak menyukakan hati Tuhan.

Jika orang-orang di luar Kristen saja ada yang bisa menjaga hidupnya bersih dari dosa perzinahan, tentu orang Kristen yang telah menerima karunia penebusan Tuhan Yesus, Injil yang lengkap, serta Roh Kudus dalam hati kita, seharusnya dapat mencapai standar kesucian hidup yang lebih tinggi pula. Dalam hal ini, perlu ditekankan tentang pentingnya menjaga kesucian hidup (khususnya terkait dosa perzinahan) kepada orang Kristen sejak muda. Topik ini seharusnya lebih sering disampaikan kepada para pemuda dan remaja, tentu dengan bahasa yang disesuaikan supaya mereka dapat menghindari dosa dan bukannya semakin penasaran untuk mencoba dosa perzinahan. Sayangnya, banyak gereja dan pendeta yang menghindari pembahasan ini karena alasan tabu. Padahal, pemuda dan remaja Kristen seharusnya menerima pengetahuan tentang seksualitas paling banyak dari gereja dan bukan dari sumber lain. Betapa berbahayanya jika gereja alpa menyampaikan hal ini dan mereka justru lebih banyak mendapatkan informasi (yang salah/keliru) dari sumber lain. Tidak heran jika semakin banyak dosa perzinahan yang terjadi di lingkungan orang Kristen bahkan di dalam gereja.




Bacaan Alkitab: Markus 10: 17-22
10:17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
10:18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja.
10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"
10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Rabu, 13 Juni 2018

Pornos dan Moichos (11): Berlaku Sama untuk Pria dan Wanita


Rabu, 13 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Markus 10:1-12
“Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.” (Mrk 10:12)


Pornos dan Moichos (11): Berlaku Sama untuk Pria dan Wanita


Harus diakui bahwa perikop di Markus 10:1-12 isinya nyaris sama persis dengan apa yang tertulis di Matius 19:1-12, terutama di bagian depan kedua perikop tersebut. Namun demikian, jika kita jeli mengamati kedua perikop tersebut, maka kita akan melihat ada sedikit perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan penekanan dari masing-masing penulis kitab Injil. Hal ini bukan berarti Firman Tuhan tidak konsisten, tetapi justru satu dan yang lainnya saling melengkapi untuk membangun suatu pengertian yang benar.

Ringkasan peristiwa di perikop ini dapat diringkas sebagai berikut: Tuhan Yesus pergi ke daerah Yudea dan seberang sungai Yordan untuk mengajar seperti biasa (ay. 1). Pada saat itu ada orang-orang Farisi yang hendak mencobai Tuhan Yesus dengan pertanyaan yang menjebak, yaitu mengenai apakah seorang suami boleh menceraikan istrinya atau tidak (ay. 2). Tuhan Yesus menanyakan kepada orang Farisi mengenai apa perintah Musa (hukum Taurat) mengenai hal itu, karena orang Farisi adalah orang-orang yang sangat paham mengenai hukum Taurat (ay. 3). Orang Farisi menjawab bahwa hukum Taurat mengizinkan mereka menceraikan istrinya dengan membuat surat cerai (ay. 4).

Intinya, Tuhan Yesus menjawab bahwa hukum Taurat memuat kelonggaran (bukan perintah atau kewajiban) terhadap perceraian, yaitu karena mereka memiliki hati yang tegar (ay. 5), padahal rancangan awal Allah tidaklah demikian terhadap manusia. Pada awal penciptaan, Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan (ay. 6). Lebih tepatnya lagi, satu orang laki-laki (Adam) dan satu orang perempuan (Hawa). Jadi jika memang Allah merencanakan perceraian, maka Adam tidak akan bisa menemukan perempuan lain dan Hawa tidak akan bisa menemukan laki-laki lain. Itulah tatanan Allah yang sangat luar biasa sejak penciptaan manusia, yaitu supaya mereka bersatu menjadi satu daging (ay. 7a). Sehingga ketika mereka menjadi satu, mereka bukan lagi dua tetapi satu (ay. 7b). Apa yang sudah dipersatukan Allah pun tidak boleh diceraikan manusia (ay. 8). Hal ini sudah kita bahas lebih dalam pada pembahasan di Matius 19:1-12 (seri ke-6 dari serial Pornos dan Moichos ini).

Karena apa yang tertulis di ayat 1 hingga 9 relatif sama dengan bagian awal peristiwa yang sama di Matius 19, maka kita akan membahas mulai ayat 10. Dikatakan di Injil Markus ini bahwa murid-murid Tuhan Yesus baru menanyakan mengenai jawaban Tuhan Yesus di ayat-ayat sebelumnya setelah mereka sampai di rumah (bukan di depan orang-orang Farisi pada waktu itu). Alkitab memang tidak menjelaskan mengapa mereka baru menanyakannya di rumah, mungkin karena malu kepada Tuhan Yesus atau takut dengan orang Farisi (atau bisa juga karena baru terpikir pada saat mereka pulang di rumah). Menanggapi pertanyaan murid-murid-Nya, Tuhan Yesus menjawab dengan terus terang kepada mereka inti dari penjelasan-Nya terdahulu kepada orang Farisi: 1) Suami yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, maka ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu; dan 2) Istri yang menceraikan suaminya lalu kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah (ay. 11-12).

Selama ini, harus diakui bahwa hukum Taurat di Perjanjian Lama memang cenderung berfokus pada sisi laki-lakinya karena pola masyarakat Israel/Yahudi yang memang menganut sistem bersifat patrilineal. Artinya tidak banyak ada aturan tentang yang diatur terhadap wanita karena mungkin saja status wanita yang waktu itu masih dianggap sebagai masyarakat kelas dua di di bawah pria/laki-laki. Namun sebenarnya apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus telah mendobrak strata ini. Pengajaran Tuhan Yesus di Perjanjian Baru hampir semua dapat dikenakan baik oleh pria maupun wanita. Dunia pada zaman Tuhan Yesus hidup memang adalah masyarakat Yahudi yang masih memegang teguh adat istiadat mereka. Namun mereka juga sedang dijajah oleh bangsa Romawi membawa kebudayaan baru. Jika dalam budaya bangsa Yahudi biasanya wanita tidak akan berani berzinah (karena hukumannya adalah hukuman mati), tetapi di budaya bangsa Romawi, bisa jadi ada wanita-wanita kaya yang suka bergonta-ganti pasangan dan hal tersebut mungkin sedikit banyak mempengaruhi pandangan bangsa Yahudi pada masa itu.

Oleh sebab itu, Tuhan Yesus hendak menyampaikan kebenaran Injil yang tidak terbatas bagi bangsa Yahudi saja tetapi juga kepada bangsa-bangsa lainnya termasuk bangsa Yunani, Romawi, dan juga bangsa Indonesia di masa kini. Kebenaran yang Tuhan Yesus sampaikan sangat fleksibel dan dapat diterapkan dalam segala kondisi masyarakat dalam segala waktu dan zaman. Ayat 11 intinya adalah jika seorang pria menceraikan istrinya dan kawin (menikah) lagi dengan perempuan lain, maka ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya tersebut.

Dalam bahasa aslinya, kata menceraikan di ayat 11 dan 12 adalah kata apolysē (ἀπολύσῃ) dan apolysasa (ἀπολύσασα) dari akar kata apoluó (ἀπολύω). Kata apoluó di sini memiliki pengertian to set free (membebaskan), release (melepaskan, mengeluarkan), let go (melepaskan), send away (mengirimkan, mengusir), divorce (menceraikan, memisahkan), dismiss (memberhentikan, membubarkan), abandon (mengabaikan, membuang). Singkatnya, menceraikan disini melepaskan diri dari ikatan pernikahan antara suami dan istri. Dalam konteks ayat 11 dan 12 ini pun, bisa dikatakan pihak yang menceraikan sedang membuang pasangannya supaya dapat menikah lagi dengan orang lain.

Tuhan Yesus jelas mengatakan jika ada orang yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, maka ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Pertanyaannya, siapa yang dimaksud dengan istrinya dalam bagian akhir ayat 11 ini? Apakah perempuan yang pertama (yang diceraikan) ataukah perempuan yang kedua (yang sudah dinikahinya). Dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris, hampir semua hanya menulis “commits adultery against her” (berbuat zinah atau hidup dalam perzinahan terhadap dia), sama seperti apa yang ditulis di dalam Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Baru. Namun dalam beberapa Alkitab bahasa Indonesia terjemahan lama dan bahasa suku, ada yang menulis bahwa si laki-laki sedang berzinah terhadap istri yang pertama (yang diceraikan tadi).

Kata hidup dalam perzinahan (atau berbuat zinah) tersebut dalam bahasa aslinya menggunakan kata moichatai (μοιχᾶται) dari akar kata moichaó (μοιχάομαι). Kata moichaó sendiri menunjukkan tindakan seseorang yang sudah menikah (awalnya lebih kepada wanita namun juga dapat berlaku bagi pria) yang melakukan hubungan seksual yang tidak sah dengan orang yang bukan pasangannya, atau dengan pasangan orang lain. Dalam budaya Yahudi dan Romawi pada waktu itu, terdapat pemikiran bahwa orang yang sudah bercerai (diakui oleh negara/pemerintah) dengan bukti surat cerai, maka orang tersebut sudah sah bercerai. Memang di mata negara (Romawi) maupun di pandangan agama (Yahudi) orang tersebut sudah dipandang sah untuk bercerai, tetapi bagaimana dengan status orang tersebut di pandangan Allah? Jika mau jujur, inilah jawaban yang paling logis, yaitu di mata Tuhan, orang tersebut tetap hidup dalam perzinahan terhadap pasangannya yang terdahulu. Kata perzinahan yang dipakai di sini adalah moichaó dan bukan pornos/porneia karena memang perzinahan ini bukan sesuatu yang pasti salah dan tidak dapat diperbaiki lagi. Akan tetapi perzinahan tetaplah perzinahan, sebisa mungkin kita harus menghindari perzinahan karena kita sudah mengucapkan janji suci kita di hadapan Tuhan untuk mengasihi hingga maut memisahkan, dan jika kita menceraikan suami/istri kita, maka kita sedang melanggar janji kita sendiri.

Lebih parah lagi, jika ada orang yang menceraikan pasangannya dengan sudah memiliki niat di dalam hatinya untuk menikah dengan orang lain. Bisa jadi bahwa orang ini sudah menjalin affair dengan “orang ketiga” tersebut sejak masih berstatus sebagai suami istri. Akibatnya, perceraian yang didasarkan pada kondisi seperti ini sebenarnya hanyalah “sandiwara” belaka karena memang tujuan perceraian adalah supaya orang yang berselingkuh ini dapat menikah dengan selingkuhannya setelah bercerai dari suaminya/istrinya yang pertama. Seharusnya pemimpin jemaat (pendeta/gembala sidang) harus dapat peka terhadap suara Roh Kudus sehingga tidak terburu-buru bisa menyetujui perceraian jemaatnya.  Harus ada suatu konseling yang komprehensif terhadap pasangan yang ingin bercerai tersebut supaya tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Dahulu mungkin lebih banyak suami yang menceraikan istrinya (karena status wanita yang dipandang lebih rendah dari pria). Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak wanita yang juga berani menceraikan suaminya dengan berbagai alasan, seperti tidak dinafkahi, tidak cocok, bahkan alasan yang kekinian adalah karena adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Memang jika KDRT tersebut benar terjadi, hal tersebut memang bisa menjadi pertimbangan. Akan tetapi jika KDRT yang dimaksud hanyalah kesalahpahaman dan adu mulut (yang mungkin wajar terjadi dalam pernikahan, apalagi jika yang menikah masih muda atau menikah tanpa adanya persiapan/pengenalan yang cukup), tentu harus dipertanyakan, apakah alasan tersebut cukup kuat untuk dijadikan alasan bercerai? Di sinilah peran penting pendeta dan gembala jemaat, sehingga perceraian itu dapat diminimalisir. Kalaupun perceraian benar-benar terjadi, perlu ditekankan bahwa perceraian itu pun memang adalah solusi terakhir yang tidak dapat dihindari lagi. Jangan sampai setelah bercerai, selang beberapa waktu justru ada pernikahan lagi dengan orang lain, dan kemudian karena pokok masalahnya tidak diselesaikan, maka muncul perceraian kembali. Jangan biarkan kawin cerai menjadi hal yang umum terjadi di gereja, karena gereja harusnya menjadi saksi dalam hal yang benar, bukan justru melegitimasi kesalahan dengan juga melakukan praktik-praktik duniawi di dalamnya.

Terkait dengan perceraian yang dilakukan oleh wanita (yaitu wanita yang mengajukan gugatan cerai), Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, maka ia berbuat zinah. Tentu ayat 11 dan 12 ini harus juga dipandang dalam konteks alasan perceraian yang benar, seperti yang sudah kita bahas di seri sebelumnya yang membahas ayat Mat 5:31-32. Jika si wanita menceraikan suaminya dengan alasan yang dibuat-buat, apalagi supaya bisa kawin dengan laki-laki lain, maka sesungguhnya ia sedang berbuat zinah atau moichatai (μοιχᾶται). Jadi moichatai tidak hanya berlaku bagi wanita yang masih bersuami, tetapi meskipun ia sudah cerai di mata negara/agama, bisa jadi wanita tersebut masih melakukan moichatai.

Jelas bahwa moichatai tidak dapat dipandang sebelah mata. Mungkin moichatai tidak separah pornos/porneia, tetapi jika sikap moichatai tidak segera diperbaiki, maka hal tersebut dapat semakin parah hingga menjadi porneia yang tidak dapat diperbaiki lagi. Dan ini tidak hanya berlaku bagi para laki-laki yang selama ini cenderung lebih sering menceraikan istrinya, tetapi juga berlaku bagi para perempuan/wanita yang juga menceraikan suaminya, apalagi jika tujuan perceraian tersebut adalah supaya bisa menikah dengan orang lain. Itu adalah hal yang jahat di mata Tuhan.



Bacaan Alkitab: Markus 10:1-12

10:1 Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula.
10:2 Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"
10:3 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?"
10:4 Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."
10:5 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.
10:6 Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,
10:7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,
10:8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
10:9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
10:10 Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu.
10:11 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.

10:12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."

Minggu, 10 Juni 2018

Pornos dan Moichos (10): Berbeda dengan Angkatan yang Tidak Setia


Senin, 11 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Markus 8:34-38
“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” (Mrk 8:38)


Pornos dan Moichos (10): Berbeda dengan Angkatan yang Tidak Setia


Konteks dari bacaan Alkitab kita hari ini adalah ketika Tuhan Yesus menyampaikan pemberitahuan pertama mengenai penderitaan yang akan Tuhan Yesus alami dan sekaligus syarat-syarat untuk mengikut Dia. Dalam ayat-ayat sebelumnya kita dapat melihat bagaimana Simon Petrus seakan-akan ingin tampil sebagai pahlawan ketika ia menegor Tuhan Yesus ketika Tuhan menyampaikan bahwa Ia akan mengalami penderitaan dan bahkan mati. Di sini kita melihat bahwa Simon Petrus sebenarnya masih belum mengerti tujuan Tuhan Yesus datang ke dunia. Petrus masih berharap bahwa Tuhan akan menjadi Mesias secara jasmani, dan membawa bangsa Israel/Yahudi mengalahkan musuh mereka yaitu kerajaan Romawi sehingga bangsa Yahudi menjadi bangsa yang besar seperti pada zaman raja Daud.

Itu bukanlah tujuan Tuhan Yesus datang ke dunia. Tuhan Yesus memang adalah Mesias, tetapi bukan dalam artian memulihkan kerajaan Israel secara jasmani, tetapi untuk membuka jalan menuju Bapa. Oleh sebab itu ketika ada orang yang berkata hendak mengikut Tuhan Yesus (terutama karena melihat mujizat-mujizat yang luar biasa), maka Tuhan dengan tegas mengatakan standar yang harus ia kenakan, yaitu menyangkal dirinya, memikul salibnya dan baru bisa mengikut Tuhan dengan benar (ay. 34). Kita akan mengerti bahwa Tuhan tidak pernah menurunkan standar hidup yang harus seseorang kenakan untuk berkenan ke hadapan Bapa. Seseorang tidak dapat mengikut Tuhan tanpa menyangkal diri dan memikul salibnya (akhiran “nya” dengan huruf kecil yang artinya setiap orang memiliki salibnya masing-masing yang harus dipikul).

Bahkan dalam ayat selanjutnya, Tuhan berkata bahwa semua orang yang hendak mengikut Tuhan harus berani kehilangan nyawanya (ay. 35). Nyawa di sini dapat berarti jiwa, kehormatan, bahkan segala kesenangan hidupnya demi kerajaan Tuhan. Ini berarti bahwa tidak ada sesuatu yang dipertahankan dalam kehidupan ketika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan. Ingat bahwa kehilangan nyawa di sini bukan sembarang kehilangan nyawa tetapi harus kehilangan nyawanya karena Tuhan dan karena Injil. Tidak mungkin orang Kristen yang benar kemudian berani mati dengan membawa bom dan meledakkan diri. Itu adalah kehilangan nyawa secara konyol. Kehilangan nyawa di sini berarti berani kehilangan segala sesuatu demi Tuhan dan kebenaran Firman Tuhan. Ada orang-orang tertentu yang mungkin bisa tidak masalah memberikan uang kepada orang lain, tetapi siapkah ia ketika harus kehilangan kehormatan, harga diri, bahkan nama baik ketika ia difitnah? Kehilangan nyawa di sini berarti harus siap mengiring Tuhan secara ekstrem dan berani melepaskan apapun demi Tuhan.

Masih banyak orang Kristen yang berkata hendak mengikut Tuhan tetapi di sisi lain ia masih mencoba memegang dunia dengan segala harta dan keindahannya. Dalam ayat selanjutnya Tuhan Yesus jelas berkata bahwa apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan nyawanya (ay. 36). Di sini jelas bahwa tidak mungkin orang bisa kehilangan nyawa ketika ia masih ingin mendapatkan kenikmatan dari dunia. Kita tidak dapat berdiri di kedua sisi, tetapi harus memilih salah satu: Tuhan dan kerajaan-Nya, atau dunia dan kerajaannya (yaitu diri sendiri dan kerajaan kita sendiri). Orang harus memilih salah satu, kehilangan nyawa di dunia ini dan memperoleh nyawa di kekekalan, atau mempertahankan/menyelamatkan nyawa di dunia ini tetapi kehilangan nyawa di kekekalan.

Prinsip ini sebenarnya sederhana tetapi banyak orang Kristen belum memahaminya sampai level yang benar. Kebanyakan orang Kristen hanya menganggap bahwa ketika ia menjadi orang Kristen dan pergi beribadah ke gereja (apalagi sudah melayani di gereja), maka mereka sudah merasa berkorban bagi Tuhan dan itu sudah sama dengan kehilangan nyawa demi pekerjaan Tuhan. Padahal itu sama sekali bukan kehilangan nyawa. Jika kehilangan nyawa hanya dimaknai secara dangkal seperti itu, maka Tuhan tidak perlu berkata kepada murid-murid-Nya dan kepada orang banyak yang mau mengikut Tuhan untuk menyangkal diri dan memikul salib. Kehilangan nyawa berarti rela kehilangan segala sesuatu bahkan apa yang dipandang berharga demi Tuhan.

Sikap kehilangan nyawa ini mungkin baru disadari ketika seseorang sudah berada di ujung maut, misalnya ketika di ruang ICU rumah sakit dengan nafas yang sudah tersengal-sengal ketika menghadapi kematian. Ketika seseorang sudah di ujung maut, maka ia baru menyadari bahwa mungkin ia selama ini masih belum sepenuhnya rela kehilangan nyawa dalam artian belum melakukan apa yang pantas bagi Tuhan. Di situ akan muncul penyesalan yang luar biasa namun semua sudah terlambat.

Banyak orang tidak mau kehilangan nyawa selama di dunia ini. Mereka bisa malu karena Tuhan dan karena perkataan Tuhan di tengah-tengah dunia ini (ay. 38a). Kata “malu” di ayat ini dalam bahasa aslinya adalah epaischynthē (ἐπαισχυνθῇ) dari akar kata epaischunomai (ἐπαισχύνομαι) selain berarti be ashamed, disgraced, personally humiliated (malu, ternoda, dihina secara pribadi), tetapi juga dapat memiliki makna being disgraced, like someone "singled out" because they misplaced their confidence or support, being disgraced, bringing on "fitting" shame that matches the error of wrongly identifying (aligning) with something (malu seperti seseorang yang diasingkan/dikucilkan karena dianggap berbeda prinsip dengan keyakinan atau dukungan orang banyak, atau malu dengan dipandang berbeda/tidak cocok/tidak sesuai dengan sesuatu hal).

Kata malu di sini di ayat 38 ini jelas berbicara mengenai sikap malu karena berbeda dengan kebanyakan orang. Jika dikaitkan dengan ajaran Tuhan Yesus mengenai syarat-syarat mengikut Tuhan, maka malu di sini tidak hanya berarti malu karena menjadi orang Kristen kemudian menyembunyikan “kekristenannya” di kalangan masyarakat yang mayoritas bukan orang Kristen. Jika kita mau menggali lebih dalam, maka sikap malu di sini juga dapat berarti menjadi malu ketika berbeda pandangan dengan orang-orang beragama Kristen lainnya yang ingin hidup secara wajar, dalam hal ini misalnya adalah masih mencintai dunia dengan segala kenikmatannya. Padahal Alkitab jelas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak 4:4). Ketika kita memiliki sikap untuk rela kehilangan nyawa, maka kita akan dipandang aneh oleh orang-orang Kristen lainnya. Dalam kondisi tertentu, kita bisa menjadi malu karena dipandang berbeda dan pada akhirnya bersikap kompromistis dengan prinsip-prinsip keberagamaan Kristen yang sesungguhnya bukan Injil yang benar.

Untuk lebih mengerti kata “malu” di ayat ini, kita perlu melihat kalimat selanjutnya dimana Tuhan Yesus mengatakan “angkatan yang tidak setia dan berdosa”. Kata tidak setia dalam ayat ini menggunakan kata moichalidi (μοιχαλίδι) dari akar kata moichalis (μοιχαλίς) yang sejajar dengan seorang wanita yang sudah menikah yang kemudian berzinah dengan orang lainnya. Jadi yang dimaksud dengan angkatan yang tidak setia dan berdosa ini bukanlah mereka yang tidak percaya Tuhan Yesus (atau secara sederhana adalah mereka yang bukan orang Kristen), melainkan mereka yang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi masih “berselingkuh” dengan Tuhan yaitu ketika mereka masih mengharapkan kebahagiaan dunia dan tidak mau melepaskan percintaan dengan dunia.

Di sinilah kesungguhan orang-orang Kristen yang mau hidup benar akan diuji, yaitu ketika mereka diperhadapkan dengan orang-orang yang mengaku beragama Kristen tetapi hidupnya tidak sejalan dengan hidup Kristus, karena masih tidak mau melepaskan percintaan dengan dunia. Ujian bagi kita yang mau hidup benar adalah apakah kita masih bersikap kompromistis dengan hal-hal seperti itu atau berani berkata benar dan mengambil sikap benar di hadapan Tuhan. Jika kita tidak mau menyangkal diri, maka kita dapat menjadi “malu” di hadapan angkatan yang tidak setia ini tetapi tidak malu di hadapan Tuhan.

Kita harus sadar bahwa pembuktian kita hanyalah satu, yaitu ketika Tuhan datang untuk yang kedua kalinya dan menjadi Hakim yang Agung, yang Adil dan yang Benar (ay. 38b). Di situlah segala kehidupan kita akan dihakimi dan tidak ada yang tersembunyi. Di situlah Tuhan akan membuktikan apakah kita benar-benar telah menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Tuhan dengan cara rela kehilangan nyawanya, ataukah sebenarnya masih belum benar-benar rela kehilangan nyawa karena malu terhadap angkatan yang tidak setia tersebut.

Inilah ujian kita yang sebenarnya bagi kita yang mengaku menjadi orang Kristen. Kita harus berjuang untuk tidak hanya bersikap sebagai angkatan yang tidak setia, tetapi juga untuk siap kehilangan nyawa kita dan tidak malu di hadapan manusia. Kita harus memiliki prinsip lebih malu di hadapan Tuhan daripada malu di hadapan manusia, termasuk tidak ingin terhormat di hadapan manusia dibandingkan di hadapan Tuhan. Kita harus siap untuk berbeda dari angkatan yang tidak setia dengan menunjukkan kualitas hidup kita yang benar di hadapan Tuhan. Tuhan tidak akan menghilangkan orang-orang yang tidak setia ini, tetapi mereka akan menjadi semacam ujian bagi kita untuk membuktikan apakah kita siap kehilangan nyawa di hadapan Tuhan (dengan sikap berbeda dengan kebanyakan orang lain) ataukah kita menyerah dan menjadi malu di hadapan orang banyak.



Bacaan Alkitab: Markus 8:34-38
8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
8:35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
8:36 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.
8:37 Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
8:38 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus."