Rabu, 30 November 2011

Teladan Yohanes Pembaptis

Rabu, 30 November 2011

Bacaan Alkitab: Yohanes 3:25-30

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh 3:30)


Teladan Yohanes Pembaptis


Siapa tidak kenal Yohanes Pembaptis? Ia adalah suara yang yang berseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan (Mat 3:3). Sejak tampil, Yohanes Pembaptis selalu menyerukan tentang pertobatan dan baptisan sebagai tanda pertobatan. (Mrk 1:4). Yohanes Pembaptis pun masih memiliki hubungan saudara dengan Yesus, karena Elisabet, ibu Yohanes Pembaptis adalah sanak dari Maria, ibu Yesus (Luk 1:36). Yohanes Pembaptis adalah orang yang tegas, yang tidak segan menegur orang-orang yang salah, Ia menegur orang Farisi dan Saduki sebagai keturunan ular beludak (Mat 3:7), dan bahkan ia tidak segan menegur Herodes yang saat itu adalah penguasa Romawi di wilayah Israel karena dosa yang dilakukannya (Mat 14:3-4). Luar biasa bukan, bagaimana Yohanes Pembaptis masih dapat menegur seorang pemimpin politik pada saat itu karena dosa yang dilakukannya, padahal resikonya adalah Yohanes Pembaptis akan kehilangan nyawanya.

Ketika di antara murid-murid Yohanes mucul perselisihan dengan orang Yahudi (ay. 25), murid-murid Yohanes datang kepada Yohanes Pembaptis dan berkata bahwa banyak orang telah mengikut Yesus (ay. 26), bahkan mungkin sejumlah murid-murid Yohanes Pembaptis pun akhirnya mengikut Yesus. Hal tersebut mungkin saja terjadi karena Yohanes telah memberi kesaksian tentang Yesus (Yoh 1:29-37). Walaupun demikian, Yohanes Pembaptis tidak merasa iri bahwa Yesus akhirnya mendapat lebih banyak murid daripada dirinya. Yohanes sadar betul bahwa ia hanyalah pendahulu sebelum kedatangan Mesias yang sesungguhnya, yaitu Yesus. Dalam banyak kesempatan, orang banyak menanyakan apakah Yohanes Pembaptis adalah Mesias, tetapi Yohanes Pembaptis selalu berkata bahwa dirinya bukanlah Mesias, tetapi hanyalah orang yang diutus untuk mendahului Mesias tersebut (ay. 28).

Inilah prinsip yang harus kita teladani dari Yohanes Pembaptis. Ia tahu betul posisinya, ia tahu betul bahwa ketika Yesus akhirnya tampil untuk mengabarkan Injil Kerajaan Surga, itulah saat di mana Yohanes Pembaptis akhirnya harus mulai mundur. Prinsip Yohanes Pembaptis yaitu “Ia (Tuhan) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (ay. 30) seharusnya juga berlaku bagi semua orang, termasuk kita yang ada di zaman ini. Yohanes bersukacita ketika ia mendengar bahwa Yesus sudah mulai memberitakan tentang Firman Allah. Ia tidak kuatir bahwa murid-muridnya akan pergi meninggalkannya dan mengikut Yesus. Ia bahkan tidak kuatir jika ia akhirnya pun harus mati karena memberitakan kebenaran. Bagi Yohanes Pembaptis, yang penting adalah ia melakukan tugasnya dengan baik. Oleh karena itulah, Yesus sangat menghargai apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Dalam suatu kesempatan, Yesus berkata bahwa di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis (Luk 7:12). Itulah adalah pujian yang luar biasa yang keluar dari mulut Tuhan Yesus sendiri.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita belajar dari teladan Tuhan Yesus sendiri? Berapa banyak di antara kita yang ketika mendapatkan berkat Tuhan kita bersyukur kepada Tuhan, dan berkata bahwa semua itu adalah karena anugerah Tuhan semata? Ataukah ketika kita sudah mulai diberkati Tuhan, sudah mulai melayani Tuhan di gereja, sudah mulai menjadi pemimpin namun kita justru tidak bersikap rendah hati seperti Yohanes? Bukannya berkata bahwa “Tuhan harus semakin besar” namun justru kita malah berkata “Kita harus semakin besar”. Tidak mudah memang melawan godaan untuk memegahkan diri, terlebih ketika kita telah berada dalam posisi di atas. Tetapi saya rindu kita semua mau sama-sama belajar dari teladan Yohanes Pembaptis, yang tidak mencuri sedikit pun kemuliaan Tuhan, yang mampu berkata apa adanya, berani menegur yang salah, dan tetap rendah hati di hadapan Tuhan. Biarlah prinsip hidup kita dalam segala hal adalah untuk memuliakan Tuhan dalam kehidupan kita, sehingga kita pun dapat berkata “Tuhan harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”.


Bacaan Alkitab: Yohanes 3:25-30

3:25 Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian.

3:26 Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya."

3:27 Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.

3:28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.

3:29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.

3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Pilihan dalam Hidup

Selasa, 29 November 2011

Bacaan Alkitab: Yosua 24:14-15

“… pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah … Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yos 24:15)


Pilihan dalam Hidup


Hidup itu penuh dengan pilihan, mulai dari pilihan yang sederhana hingga pilihan yang rumit. Mungkin di awal hari kita akan memulai dengan pilihan jam berapa kita akan bangun, sarapan apa yang akan kita makan, baju apa yang akan kita pakai, transportasi apa yang akan kita gunakan untuk berangkat, dan seterusnya. Begitu sampai di kantor, kita pun akan mulai membuat pilihan-pilihan dalam pekerjaan kita, hingga kita pulang pun kita akan terus hidup dalam pilihan-pilihan. Memang ada beberapa hal dalam hidup yang tidak dapat kita pilih. Kita tidak bisa memilih hari kelahiran kita, di keluarga mana kita akan dilahirkan, kapan kita akan mati, dan bagaimana kita akan mati. Tetapi selain hal-hal tersebut, dalam hampir semua aspek, kita dituntut untuk membuat pilihan.

Dalam bacaan kita hari ini, kita melihat bagaimana Yosua mengumpulkan bangsa Israel setelah mereka menduduki tanah Kanaan. Yosua mengingatkan akan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib yang telah membawa keluar bangsa Israel secara ajaib dari tanah perbudakan di Mesir. Yosua juga mengingatkan akan campur tangan Tuhan yang membuat bangsa Israel mampu merebut kota-kota di Kanaan, melawan bangsa-bangsa yang diam di sana, dan membuat bangsa Israel mendapatkan kemenangan demi kemenangan (Yos 24:1-13).

Oleh karena itu, Yosua menantang bangsa Israel untuk takut akan Tuhan dan beribadah kepada Tuhan dengan tulus ikhlas dan setia. Yosua ingin agar bangsa Israel hanya takut dan tunduk kepada Tuhan, bukan kepada allah atau dewa yang lain. Yosua ingin agar bangsa Israel beribadah kepada Tuhan dengan tulus ikhlas, bukan dengan rasa terpaksa. Yosua ingin agar bangsa Israel beribadah kepada Tuhan dengan penuh kesadaran, bahwa memang hanya Tuhanlah yang patut disembah. Yosua pun ingin agar bangsa Israel tetap setia beribadah kepada Tuhan, dan tidak tergoda untuk menyembah dewa-dewa bangsa Kanaan (ay. 14).

Yosua pun tidak serta-merta memaksa bangsa Israel untuk tetap setia mengikut Tuhan. Yosua ingin bangsa Israel mengikut Tuhan dengan penuh kesadaran, karena jika bangsa Israel hanya mengikut Tuhan dengan terpaksa maka kesetiaan bangsa Israel itu pun hanya kesetiaan yang semu. Tetapi jika bangsa Israel mengikut Tuhan dengan penuh kesadaran, makakesetiaan mereka pun akan lebih teruji nantinya. Yosua berkata, bahwa jika bangsa Israel menganggap bahwa adalah tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, maka Yosua menawarkan untuk memilih menyembah allah-allah bangsa di seberang sungai efrat (allah nenek moyang zaman dulu), atau menyembah allah-allah bangsa Amori di tanah Kanan, yaitu allah yang disembah bangsa-bangsa di Kanaan pada saat itu (ay. 15a).

Walaupun demikian, Yosua dengan tegas mengatakan, bahwa seandainya bangsa Israel tidak mau mengikuti Tuhan dan memilih untuk beribadah kepada allah-allah atau dewa-dewa lain, Yosua dengan tegas mengatakan bahwa dia dan seisi rumahnya akan tetap beribadah kepada Tuhan (ay. 15b). Yosua dapat berbicara seperti itu bukan hanya karena ia adalah pemimpin Israel, tetapi karena Yosua sendiri telah mengalami pengalaman yang luar biasa dengan Tuhan. Yosua mulai dengan memimpin perang antara bangsa Israel melawan orang Amalek (Kel 17:10), Yosua pun telah mendampingi Musa di gunung Sinai (Kej 24:13), dan karena Yosua dan Kaleb adalah dua orang mata-mata yang tetap percaya kepada janji Tuhan walaupun mereka telah melihat bangsa-bangsa Kanaan adalah bangsa yang besar, maka hanya Yosua dan Kaleb yang dapat masuk ke Kanaan di antara orang-orang segenerasinya (Bil 14:38). Sebagai pemimpin bangsa Israel yang menggantikan Musa pun, ia telah melihat campur tangan Tuhan dalam merebut tanah perjanjian tersebut.

Mungkin kita berpikir, “Ah, kalau Tuhan sudah membuat mujizat seperti yang dilakukan ke bangsa Israel, saya pasti akan tetap memilih untuk beribadah kepada Tuhan”. Tetapi kita pun seharusnya sadar bahwa Tuhan pun masih mengadakan mujizat-mujizat dalam hidup kita. Kita masih hidup sehat sampai dengan saat ini pun semua karena berkat Tuhan. Kita masih dapat menghirup udara pagi yang segar pun adalah anugerah Tuhan. Bukankah kita seharusnya tetap beribadah kepada Tuhan? Ketika dihadapkan pada pilihan: mau tetap setia kepada Tuhan, ataukah berpaling kepada yang lain (demi mendapatkan jabatan yang lebih baik, demi mendapatkan pasangan hidup yang lebih cantik, atau demi hal-hal yang fana lainnya), apakah pilihan kita? Sanggupkah kita berkata “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN”?


Bacaan Alkitab: Yosua 24:14-15

24:14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.

24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

Senin, 28 November 2011

Takut kepada Allah, Bukan kepada Manusia

Senin, 28 November 2011

Bacaan Alkitab: Keluaran 1:15-21

“Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup … Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu.” (Kel 1:17, 20a)


Takut kepada Allah, Bukan kepada Manusia


Ketika Yusuf menjadi penguasa di Mesir, Yakub dan keluarganya pindah ke Mesir akibat kelaparan yang melanda Kanaan waktu itu. Mereka diam di tanah Gosyen, tanah yang paling subur di seluruh Mesir. Namun, setelah beberapa waktu, maka bangkitlah raja baru yang tidak mengenal jasa-jasa Yusuf dan ia menjadikan bangsa Israel (bangsa Ibrani) menjadi budak di Mesir. Walaupun demikian, jumlah bangsa Israel justru bertambah banyak dan hal tersebut membuat raja Mesir (Firaun) khawatir, sehingga ia memerintahkan bidan-bidan yang menolong kelahiran perempuan Ibrani untuk membunuh bayi yang baru lahir tersebut, jika yang lahir adalah bayi laki-laki (ay. 1 & 2).

Tidak diketahui dengan jelas apakah bidan-bidan tersebut adalah orang Mesir ataukah orang Ibrani, ataukah orang dari bangsa lain. Tetapi dari literatur yang saya baca, Sifra dan Pua bukanlah nama Ibrani, sehingga besar kemungkinan bahwa mereka adalah orang Mesir sendiri, atau orang dari bangsa Afrika lainnya. Mereka sebenarnya tidak ada kaitannya dengan bangsa Ibrani. Jika mereka tunduk kepada Firaun, mungkin saja mereka akan cepat naik pangkat. Tetapi dikatakan bahwa para bidan tersebut lebih memilih untuk tunduk kepada Allah, sehingga membiarkan bayi-bayi itu tetap hidup (ay. 17).

Karena itu, mereka dipanggil oleh Firaun. Bayangkan, bidan-bidan tersebut bisa mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan raja Mesir. Saya saja sampai dengan saat ini belum pernah bertemu dengan Presiden. Kedua bidan tersebut punya kesempatan untuk bisa “cari muka” di depan Firaun. Bisa saja setelah bertemu dengan Firaun mereka akhirnya berubah prinsip dan lebih memilih melakukan perintah Firaun. Ingat, bahwa Firaun adalah raja yang sangat berkuasa di Mesir, bahkan mungkin Firaun juga bisa memerintahkan kedua bidan tersebut untuk dihukum mati karena tidak melaksanakan tugasnya. Namun Alkitab menceritakan bahwa Bahkan ketika Firaun memanggil kedua bidan tersebut masih tetap mempertahankan prinsip mereka, sehingga mereka pun berkata bahwa perempuan Ibrani lebih kuat, sehingga ketika bidan datang, mereka telah bersalin (ay. 18-19).

Saya yakin kedua bidan ini mungkin tidak mengenal Allah orang Ibrani secara dalam, tetapi mereka pasti memiliki prinsip bahwa tidakan membunuh pasti adalah tindakan yang salah, terlebih membunuh bayi yang tak berdosa. Akibatnya sungguh luar biasa, bangsa Israel bertambah banyak dan berlipat ganda dengan cepat. Alkitab mengatakan bahwa ketika Yakub sekeluarga pindah ke Mesir, jumlah mereka hanyalah 70 orang (Kej 46:27), tetapi pada saat bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, jumlah mereka sudah mencapai 600 ribu laki-laki, belum terhitung perempuan dan anak-anak (Kel 12:37), dan itu pun hanya dalam 430 tahun (Kel 12:40).

Selain akibat bagi bangsa Israel, Tuhan pun memberkati kedua bidan tersebut. Alkitab mencatat bahwa Tuhan Allah berbuat baik kepada bidan-bidan tersebut (ay. 20). Tidak terlalu sering Alkitab mencatat bahwa Tuhan berbuat baik kepada orang-orang di luar bangsa Israel, tetapi dalam ayat tadi kita melihat bahwa bidan-bidan tersebut diberkati Allah, bahkan dikatakan bahwa karena bidan-bidan tersebut takut akan Allah, maka Allah membuat mereka berumah tangga (ay. 21). Tidak jelas mengapa kalimat “Allah membuat mereka berumah tangga ini” ditulis di Alkitab. Apakah memang mereka selama ini belum berumah tangga sehingga hal tersebut menjadi kerinduan mereka dan Tuhan menjawab doa tersebut, ataukah karena hal lain. Tetapi saya percaya bahwa ketika kita takut akan Tuhan, maka akan ada berkat Tuhan yang melimpah dalam hidup kita. Perhatikanlah bidan-bidan tersebut, Tuhan memberkati mereka ketika mereka mau tunduk dan takut akan Tuhan, walaupun sebenarnya mereka bukan bagian dari bangsa Israel. Jika Tuhan saja begitu memberkati orang-orang yang takut akan Tuhan walaupun mereka bukan bagian dari bangsa Israel (bangsa perjanjian), terlebih Tuhan akan memberkati kita yang adalah ahli waris perjanjian Tuhan (Ef 3:6) dengan luar biasa lagi, ketika kita lebih memilih untuk takut kepada Tuhan daripada kepada manusia.


Keluaran 1:15-21

1:15 Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya:

1:16 "Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup."

1:17 Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup.

1:18 Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka: "Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?"

1:19 Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: "Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin."

1:20 Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda.

1:21 Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga.

Memiliki Dasar yang Kokoh

Minggu, 27 November 2011

Bacaan Alkitab: Matius 7:24-27

“7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Mat 7:26-27)


Memiliki Dasar yang Kokoh


Beberapa waktu yang lalu saya mendengar berita bahwa jembatan di Kalimantan Timur roboh, sehingga ada beberapa korban tewas dan luka-luka. Sebagai lulusan Fakultas Teknik, saya sedikit tergelitik menganalisa mengapa jembatan tersebut bisa roboh. Memang banyak faktor yang mampu membuat jembatan tersebut roboh, misal adanya angin yang kencang, banjir, gempa bumi, atau pun serangan teroris. Tetapi jika semua faktor eksternal di atas tidak ada, berarti mungkin ada kesalahan konstruksi dalam pembangunan jembatan tersebut. Menurut saya, salah satu hal terpenting dalam pembangunan suatu konstruksi adalah dasar atau fondasi. Terlebih untuk jembatan, yang akan selalu dihantam oleh arus air serta banyaknya beban yang harus dipikul oleh jembatan tersebut, maka fondasi jembatan harus cukup kuat untuk menahannya. Percuma kita membangun jembatan yang bagus dan mewah jika fondasinya tidak bagus, maka jembatan itu suatu saat akan roboh. Perhatikan jembatan-jembatan yang dibangun pada masa penjajahan, biasanya fondasinya sangat kuat, tebal, dan dalam, sehingga jembatan tersebut masih dapat digunakan hingga saat ini.

Demikian juga dengan kehidupan rohani kita, perlu ada suatu dasar yang kuat sehingga kita bisa membangun kehidupan rohani yang baik. Dan dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat bagaimana Yesus mengajar dengan menggunakan prinsip teknik bangunan. Yesus mengatakan bahwa “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu” (ay. 24-25).

Yesus mengatakan bahwa orang yang bijaksana, adalah orang yang membangun rumah dengan memiliki dasar yang kokoh, di mana digambarkan bahwa orang tersebut mendirikan rumah di atas batu. Ketika ada hujan, banjir, dan angin, rumah yang didirikan orang tersebut tidak akan roboh, karena rumah tersebut ditopang oleh dasar yang kuat, sehingga faktor dari luar pun tidak akan mampu merobohkan rumah tersebut. Di sisi lain, orang yang bodoh adalah orang yang membangun rumah di atas pasir (ay. 26). Orang bodoh tidak mau berusaha untuk mengambil batu dari tempat lain untuk membuat fondasi rumahnya. Orang bodoh adalah orang yang malas. Ketika di tempat akan dibangun rumah hanya ada pasir, ia tidak mau bekerja membuat fondasi tetapi ingin mencari praktisnya saja, sehingga langsung mendirikan rumah. Dikatakan bahwa ketika ada hujan, banjir, dan angin, maka rumah orang bodoh itu pun langsung hancur (ay. 27).

Dalam konteks kehidupan rohani kita, apakah yang dimaksud dengan membuat fondasi? Yesus dengan cukup jelas mengatakan bahwa dasar atau fondasi tersebut adalah mendengarkan Firman Tuhan dan melakukannya (ay. 24a & 26a). Sebagai orang Kristen, kita tidak cukup hanya mendengarkan Firman Tuhan seminggu sekali di Gereja. Kita perlu Firman Tuhan setiap hari, sama seperti kita membutuhkan makanan setiap hari (Mat 4:4). Dan sama seperti makanan yang kita makan menentukan kualitas kesehatan atau kehidupan jasmani kita, demikian juga kualitas Firman yang kita masuk ke hati kita, juga menentukan kualitas kehidupan rohani kita. Apakah kita selama ini hanya membaca Firman sebanyak satu atau dua ayat setiap hari? Atau sudahkah kita membaca Firman Tuhan yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan rohani bagi diri kita?

Yesus pun mengatakan bahwa kita tidak cukup hanya mendengarkan Firman Tuhan saja, tetapi kita juga harus melakukannya. Melakukan berarti ada tindakan nyata dari Firman yang telah masuk ke dalam diri kita. Kita tidak bisa menjadi orang munafik, yang hanya mendengar atau menyampaikan Firman tanpa melakukannya. Matius 7:21 berkata, bahwa orang yang masuk ke dalam Kerajaan Surga adalah orang yang melakukan kehendak Tuhan (Firman Tuhan). Dalam amanat agungNya, Tuhan Yesus pun berkata agar kita mengajar orang lain untuk melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Yesus kepada kita (Mat 28:20). Kita melakukan Firman Tuhan karena kita mengasihi Tuhan dan ingin menyenangkan Tuhan (Yoh 14:21). Mari kita instropeksi diri, apakah selama ini kita kehidupan rohani kita telah dibangun pada dasar yang benar? Jika belum, selagi belum terlambat, mari kita mulai membangun dasar yang kuat itu, dimulai dari mendengar dan melakukan Firman Tuhan setiap hari.


Bacaan Alkitab: Matius 7:24-27

7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.

7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Sabtu, 26 November 2011

Antara Mempersembahkan Korban atau Mendengarkan Suara Tuhan

Sabtu, 26 November 2011

Bacaan Alkitab: 1 Samuel 15:20-23

“Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Sam 15:22)


Antara Mempersembahkan Korban atau Mendengarkan Suara Tuhan


Saul adalah raja pertama bangsa Israel yang Tuhan tunjuk setelah bangsa Israel menginginkan seorang raja. Awalnya Tuhan sendiri tidak menghendaki bangsa Israel memiliki seorang raja seperti bangsa-bangsa lain. Tuhan ingin agar Tuhan sendirilah yang menjadi raja bagi mereka. Itulah sebabnya sebelum dipimpin oleh Saul, bangsa Israel terlebih dahulu dipimpin oleh para hakim, selanjutnya dipimpin oleh Imam Besar Eli, dan terakhir dipimpin oleh Samuel. Mereka inilah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan untuk memimpin bangsa Israel. Namun karena bangsa Israel bersikeras untuk tetap dipimpin seorang raja, akhirnya Tuhan pun memilih Saul menjadi raja atas bangsa Israel (1 Sam 10:1).

Namun ternyata Saul bukanlah tipe orang yang mau tunduk terhadap perintah Tuhan. Entah mungkin karena ia adalah raja pertama bangsa Israel, akhirnya ia pun merasa bahwa dirinyalah orang yang paling berkuasa di Israel. Akibatnya, ketika Tuhan memerintahkan Saul untuk menumpas bangsa Amalek dengan cara membunuh semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai (1 Sam 15:3), Saul tidak melakukan sepenuhnya apa yang seharusnya ia lakukan. Saul justru menangkap Agag, raja Amalek, secara hidup-hidup. Bahkan yang lebih parah lagi, Saul dan bangsa Israel hanya menumpas ternak-ternak yang buruk dan tidak berharga, tetapi ternak-ternak yang baik dan berharga justru dibawa pulang (1 Sam 15:8-9).

Akibatnya, Tuhan pun berfirman kepada Samuel untuk menanyakan hal tersebut kepada Saul (1 Sam 15:11). Pada posisi ini, seharusnya Saul sadar bahwa memang ia telah melakukan kesalahan, bahkan dua kali melakukan kesalahan. Yang pertama adalah Saul justru menangkap raja Amalek dengan hidup-hidup, dan yang kedua, Saul membiarkan rakyat untuk mengambil ternak-ternak bangsa Amalek. Pada kesalahan yang pertama, Saul bersalah atas tindakannya sendiri, tetapi pada kesalahan yang kedua, Saul bersalah karena membiarkan rakyatnya melakukan apa yang salah di mata Tuhan. Anehnya, Saul justru berkelit dan menyatakan bahwa ia telah menumpas orang Amalek dan hanya membawa satu orang yaitu Agag, raja Amalek (ay. 20), sedangkan mengenai bangsa Israel yang membawa ternak-ternak itu, Saul berkata bahwa ternak tersebut akan dipersembahkan untuk Tuhan (ay. 21). Tetapi jawab Samuel sangat tegas di ayat 22 dan 23: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.”

Sebetulnya, jika kita berpikir secara manusia, kadang-kadang kita melakukan apa yang Saul lakukan, misalnya, “Ah nggak apa-apa lah kita melakukan dosa yang satu itu, toh kita kan biasanya juga melakukan Firman Tuhan, cuma memang ada satu perintah Tuhan itu yang nggak kita lakukan”, atau justru kita melakukan apa yang bangsa Israel lakukan, misalnya “Ah, nggak apa-apa lah korupsi sedikit, toh nanti uangnya saya sumbangkan ke dana Natal, atau nanti saya pakai untuk membangun Gereja deh”. Sikap-sikap seperti itu ternyata tidak berkenan di hadapan Tuhan. Ketika Tuhan berfirman kepada kita, Tuhan ingin agar kita melakukan tepat seperti apa yang Tuhan perintahkan kepada kita. Jika Tuhan berfirman A, maka lakukanlah A, jika Tuhan berfirman B, maka lakukanlah B.

Saul dan bangsa Israel merasa bahwa apa yang mereka lakukan justru bagus, karena mereka dapat mempersembahkan korban kepada Tuhan. Tetapi Tuhan justru lebih suka agar kita sungguh-sungguh mendengarkan, memperhatikan, dan melaksanakan suara Tuhan ketimbang kita mempersembahkan korban-korban kepada Tuhan. Kita tidak mempersembahkan korban dan segala persembahan kita sebagai sarana untuk menyogok Tuhan, tetapi semua itu kita lakukan karena kita mengasihi Tuhan, dan tidak ada cara yang paling baik bagi kita untuk mengasihi Tuhan selain melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan. Ingatlah, ketika kita tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita, itu sama saja dengan penyembahan berhala karena kita bersikap durhaka kepada Tuhan, dan akibatnya sungguh mengerikan, Tuhan bisa menolak kita, seperti dahulu Tuhan telah menolak Saul menjadi raja karena telah melanggar Firman Tuhan. Mari kita belajar untuk dengar-dengaran kepada suara Tuhan dan sungguh-sungguh melakukan dengan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita, tanpa kecuali.


Bacaan Alkitab: 1 Samuel 15:20-23

15:20 Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas.

15:21 Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal."

15:22 Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.

15:23 Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."