Senin, 28 Mei 2012

Nobody’s Perfect


Selasa, 29 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Matius 7:1-5
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Mat 7:3)


Nobody’s Perfect


Ada salah seorang teman saya berkata, “Kalau mau mencari pasangan hidup, lihat dulu pekerjaan orang tuanya. Kalau orang tuanya auditor atau pendeta, harus benar-benar siap mental untuk menghadapinya”. Karena saya juga berprofesi sebagai auditor, saya merenungkan makna kalimat tersebut. Iya juga sih, karena auditor itu pada intinya adalah membandingkan kondisi yang ada dengan kondisi yang seharusnya, jadi mata auditor itu sangat teliti melihat kekurangan-kekurangan atau kesalahan-kesalahan yang ada. Bayangkan jika calon mertua kita adalah seorang auditor, sebagian besar mereka akan mencari-cari kekurangan dari sang calon menantunya. Yang penampilannya kurang sopan, yang pekerjaannya kurang bonafid, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana jika memiliki calon mertua seorang pendeta? Jika seorang auditor memang terlatih untuk mengamati apa yang tidak sesuai dengan standar, seorang pendeta (atau pengkhotbah) cenderung terbiasa menyampaikan kebenaran, sehingga mereka cenderung menganggap apa yang dikatakan adalah kebenaran, termasuk juga mereka cenderung menganggap bahwa pandangan atau pikiran mereka tersebut adalah kebenaran, termasuk sering menggunakan ayat-ayat Alkitab. Bayangkan ketika kita sedang mengapeli anak pendeta, kemudian orang tuanya yang pendeta itu datang dan bertanya, “Mengapa anda pacaran dengan anak saya?”. Apa yang akan kita katakan? Mau jawab dengan kata-kata “Karena saya sayang sama anak Om”, kok rasanya kurang Alkitabiah ya. Mau jawab sedikit alkitabiah dengan kata-kata “Karena anak Om itu adalah tulang rusuk saya yang hilang”, takutnya nanti calon mertua merasa tersinggung. Serba salah bukan?

Ya walaupun demikian, saya juga sependapat bahwa para auditor dan para pendeta belum tentu semuanya akan bersikap seperti itu, bisa saja mereka justru sangat ramah kepada calon menantunya. Tetapi yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa manusia, terutama kedua profesi yang saya sebutkan di atas, memiliki kecenderungan untuk mengukur orang lain sesuai dengan sudut pandangnya. Sangat mudah bagi manusia untuk menghakimi sesamanya, padahal sebenarnya dirinya sendiri pun belum tentu lebih baik dari orang tersebut.

Yesus sendiri berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (ay. 1). Apa maksudnya menghakimi? Secara singkat, menghakimi berarti menjadi hakim terhadap orang lain, padahal kita sebenarnya tidak seharusnya berada dalam posisi hakim. Contoh yang paling sederhana, ketika ada orang yang mengalami musibah, tanpa pikir panjang kita kemudian berkata, “Ah itu pasti karena ia sudah berdosa terhadap Tuhan”. Padahal, Tuhan sendiri juga bisa saja memberikan cobaan kepada seseorang walaupun orang tersebut adalah orang benar, contohnya Ayub.

Kita tidak boleh menghakimi orang lain, karena ketika kita melakukan hal tersebut, maka Tuhan akan menggunakan ukuran yang kita pakai untuk menghakimi kita (ay. 2). Dengan menghakimi maka kita seakan-akan bertindak sebagai Tuhan sendiri. Seringkali kita meihat kesalahan orang lain yang sebetulnya kecil, contohnya “Eh, kok pendeta kita kalau lagi khotbah suka kebanyakan pake kata Amin ya?”, atau “Ternyata si anu kalau jadi worship leader kakinya suka gerak-gerak sendiri”. Pantaskah kita berbicara seperti itu, atau lebih parah lagi menggosipkan orang lain? Padahal mungkin kita sendiri belum tentu bisa lebih baik dari mereka ketika kita menggantikan pelayanan mereka.

Bukan berarti kita tidak boleh melihat kekurangan orang lain. Kita boleh saja memperhatikan orang lain dan memberi masukan-masukan atas kekurangan mereka, selama kita tidak berniat menghakimi. Perbedaan antara menghakimi atau tidak terlihat dalam contoh seperti ini: Ketika kita menghakimi, kita akan berkata, “Saudara, ada debu dalam matamu, ayo cepat keluarkan, soalnya kamu nanti nggak bisa lihat yang benar lho”, padahal ada balok kayu besar di dalam mata kita (ay. 3-5). Sementara sikap yang “agak” tidak menghakimi antara lain, “Saudara, aku melihat ada debu di dalam matamu, tetapi tolong kamu juga bantu lihat, apakah di mataku juga ada debu atau justru kotoran yang lebih besar? Kalau ada mari kita sama-sama mengeluarkan debu itu dari mata kita masing-masing agar kita dapat melihat lebih jelas lagi”. Singkatnya, menghakimi cenderung lebih menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain, sedangkan tidak menghakimi adalah sikap kita yang berpikir untuk mendorong kita dan orang lain menjadi lebih baik lagi.


Bacaan Alkitab: Matius 7:1-5
7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Jumat, 25 Mei 2012

Mengecap dan Melihat Kebaikan Tuhan


Senin, 28 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Mazmur 34:9-11
Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” (Mzm 34:9)


Mengecap dan Melihat Kebaikan Tuhan


Ayat-ayat pada bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang mengecap dan melihat betapa baiknya Tuhan itu. Ya, memang sejak kecil, sejak masa saya masih sekolah minggu, saya juga selalu diajarkan bahwa Tuhan itu baik, sungguh amat baik. Tetapi pernahkah kita berada dalam satu kondisi di dalam hidup kita, sehingga kita bisa sungguh-sungguh berkata, “Ya Tuhan, memang Engkau sungguh sangat baik bagiku”? Seorang hamba Tuhan pernah berkata kepada saya, “Jika kita belum sungguh-sungguh mengiring Tuhan, pasti kita tidak akan bisa merasakan kebaikan Tuhan. Tetapi semakin kita hidup sungguh-sungguh dan mengiring Tuhan, kita akan semakin merasakan kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita setiap harinya, bahkan kita dapat melihat kebaikan Tuhan dalam hal-hal yang paling sederhana sekalipun.

Logika sederhana, pernahkah kita bangun tidur dan kemudian mengucap syukur bahwa kita diberikan hidup satu hari lagi, kita dapat merasakan sinar matahari pagi, menghirup udara segar di pagi hari, melihat isteri atau anak kita yang tidur di samping kita? Bukankah itu semua adalah kebaikan Tuhan yang Tuhan berikan di dalam kehidupan kita? Ketika kita belum dapat bersyukur atas segala hal-hal sederhana yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita, mungkin kita sendiri belum mengiring dan berjalan bersama Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Pemazmur mengatakan agar kita mengecap dan melihat kebaikan Tuhan (ay. 9a). Mengecap dan melihat merupakan kegiatan yang menggunakan indera kita. Mungkin kita pun perlu menambahkan kata kerja lain selain mengecap dan melihat kebaikan Tuhan, yaitu mendengar dan merasakan kebaikan Tuhan. Ketika kita menjadi orang yang percaya kepada Tuhan, kita pun mau tidak mau harus mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Tuhan sendiri tidak pernah menjanjikan jalan yang selalu mulus dan lancar, Tuhan juga tidak pernah menjanjikan bahwa kita tidak akan memilki musuh. Tetapi janji Tuhan adalah bahwa walaupun musuh kita banyak, Tuhan akan melindungi kita dan memampukan kita untuk tampil menjadi pemenang. Oleh karena itu pemazmur pun mengatakan bahwa “Berbahagialah orang yang berlindung pada Tuhan (ay. 9b).

Satu hal lagi yang dapat kita pelajari dari bacaan Alkitab kita pada hari ini adalah bahwa kebaikan Tuhan tidak hanya dapat kita rasakan melalui perlindunganNya, tetapi juga karena berkatNya yang diberikanNya kepada kita. Pemazmur mengatakan bahwa tidak berkekurangan orang yang takut kepada Tuhan (ay. 10b). Ini merupakan pengalaman pemazmur sendiri (Raja Daud yang menulis mazmur ini), bahwa walaupun ia sampai menjadi pelarian bahkan hingga mengungsi ke negeri orang Filistin, Tuhan tetap menyertai dia dan tidak pernah berkekurangan, padahal sangat banyak orang-orang yang ikut mengungsi bersama-sama dengan dia. Ada dua kunci utama untuk mendapatkan berkat Tuhan, yaitu:

Pertama, takut akan Tuhan (ay. 10a). Takut akan Tuhan berarti memiliki sikap hormat, dan juga berusaha untuk tidak melakukan apa yang Tuhan tidak sukai. Kita memposisikan Tuhan sebagai Tuhan yang berkuasa, sehingga kita sebagai ciptaanNya pun harus takut akan Tuhan. Ketika kita takut akan Tuhan maka Tuhan akan menggenapi janji-janjiNya yaitu: memiliki umur panjang (Ul 6:2, Ams 10:27), keadaan kita baik (Ul 6:24), mendapatkan hikmat (Ay 28:28), mendapatkan kemuliaan dari Tuhan (Mzm 15:4), hidup suci (Mzm 19:10), ditunjukkan jalan oleh Tuhan (Mzm 25:12), berbahagia (Mzm 112:1), diberkati Tuhan (Mzm 115:13), hidup tentram dan terhindar dari jerat maut (Ams 14:26-27), penuh kekayaan, kehormatan, dan kehidupan (Ams 22:4), dan dapat mengambil keputusan yang tepat (Yes 11:3).

Kedua, mencari Tuhan (ay. 11). Mencari Tuhan bukan berarti Tuhan itu bersembunyi sehingga harus dicari, tetapi memiliki kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan, memiliki kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, sama seperti rusa yang begitu haus akan air sehingga mencari sumber air tersebut (Mzm 42:2). Ketika kita mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh maka Tuhan juga pasti akan berkenan untuk ditemui. Ketika kita mencari Tuhan, maka Tuhan juga akan menggenapi janji-janjiNya yaitu: menemukan Tuhan (Ul 4:29), bersuka hati (1 Taw 16:10), memiliki negeri (2 Taw 14:7), segala usaha kita berhasil (2 Taw 26:5), dijawab Tuhan (Mzm 34:5), mengerti segala sesuatu (Ams 28:5), mendapatkan keadilan (Hos 10:12), mendapatkan hidup (Am 5:6), dilindungi dari murka Tuhan (Zef 2:3).

Jadi, sudahkah kita tidak hanya mengecap dan melihat kebaikan Tuhan, melainkan juga berusaha hidup menyenangkan Tuhan dengan cara hidup takut akan Tuhan dan mencari Tuhan dengan segenap hati kita? Ingat janji-janji Tuhan di atas, dan saya yakin Tuhan pasti akan menggenapi apa yang dijanjikannya, asal kita juga mau membayar harga untuk hidup berkenan di hadapan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Mazmur 34:9-11
34:9 Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!
34:10 Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!
34:11 Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik.

Kasih yang Terimplementasikan


Minggu, 27 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Matius 25:31-46
Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Mat 25:45)


Kasih yang Terimplementasikan


Jika kita perhatikan bacaan Firman Tuhan pada hari ini, kita akan menemukan bahwa Firman Tuhan ini berada dalam konteks khotbah Tuhan Yesus tentang akhir zaman. Bacaan Alkitab kita hari ini juga diawali dengan peristiwa Tuhan Yesus datang kembali di dalam kemuliaan (ay. 31). Ketika Ia datang kembali, maka semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya, dan dipisahkan seorang demi seorang, mana yang termasuk kelompok domba akan ditempatkan di sebelah kanan dan yang masuk kelompok kambing akan ditempatkan di sebelah kiri (ay. 32-33). Pertanyaan yang sampai sekarang juga masih mengusik saya, bagaimana Tuhan menentukan seseorang masuk dalam kelompok domba atau kelompok kambing? Bukankah seharusnya Tuhan melihat dari sisi apakah orang tersebut sudah percaya kepada Yesus atau belum? Bukankah jika demikian maka kelompok domba berisi orang-orang yang telah percaya kepada Yesus dan kelompok kambing berisi orang-orang yang belum percaya kepada Yesus?

Awalnya saya juga berpikiran seperti itu, tetapi sepertinya Firman Tuhan membahas tentang hal lain. Kelompok domba adalah orang-orang yang nantinya akan mendapat bagian dalam Kerajaan Surga (ay. 34), sedangkan kelompok kambing adalah orang-orang yang nantinya akan mendapat bagian dalam hukuman kekal di neraka, dengan api yang kekal bersama-sama dengan Iblis dan malaikat-malaikatnya (ay. 41). Apa dasar pemisahan tersebut? Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa orang-orang di kelompok domba telah memberi Tuhan makan ketika Ia lapar, memberi Tuhan minum ketika Ia haus, memberi Tuhan tumpangan ketika Ia menjadi seseorang yang asing, memberi Tuhan pakaian ketika Ia telanjang, melawat Tuhan ketika Ia sakit, dan menjenguk Tuhan ketika Ia berada dalam penjara (ay. 35-36), sementara orang-orangdi kelompok kambing justru melakukan hal yang sebaliknya (ay. 42-43).

Apa yang Tuhan sampaikan itu pastinya akan membuat kita terkejut. Jangankan kita, orang-orang yang berada di kelompok domba saja heran dan bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kapankah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapankah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapankah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?” (ay 37-39). Mereka sendiri juga merasa tidak pernah secara langsung memberi makan atau minum kepada Tuhan. Tetapi jawaban Tuhan dengan tegas dinyatakan dalam ayat 40 yaitu “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.

Hal yang sama terjadi pada orang-orang di kelompok kambing, mereka juga mempertanyakan, “Kapan kami melihat Engkau lapar dan haus Tuhan? Kalau kami melihat Tuhan sedang lapar ya pastilah kami akan memberi Tuhan makanan kan?” (ay. 44). Dan jawaban Tuhan sama persis dengan jawaban di ayat 40 tadi, yaitu “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (ay. 45).

Tuhan kita memang Tuhan yang luar biasa, Ia tidak pernah berkekurangan karena Ia sendiri adalah pemiliki dunia beserta isinya, bahkan emas dan perak juga adalah milikNya (Hag 2:9). Jika demikian, bagaimanakah kita bisa memberi makan kepada Tuhan? Ingatlah bahwa orang-orang yang menderita itu menjadi fokus Tuhan Yesus ketika ia datang untuk melayani di bumi ini. Memang keselamatan ada di dalam nama Yesus, tetapi keselamatan itu pun bukan hanya kita simpan sendiri. Orang yang telah diselamatkan dan menerima kasih Tuhan juga harus menjadi saluran kasih dan saluran berkat bagi sesama. Firman Tuhan berkata, “Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih" (Luk 7:47). Dalam ayat lain juga dikatakan bahwa “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu” (Ams 19:17).

Saya tidak akan menghakimi kita, tetapi saya rindu kita masing-masing menginstropeksi diri kita sendiri. Apakah selama ini kita sudah berbuat baik kepada sesama? Apakah perbuatan kita sudah memuliakan Tuhan? Apakah kita sudah mengasihi orang-orang lain, yang mungkin berkekurangan, sakit, terlebih orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan? Jika kita sama sekali belum memiliki kasih seperti itu, patut kita renungkan, jangan-jangan sebenarnya kita sendiri belum merasakan kasih Tuhan dan belum menerima keselamatan dari Tuhan. Mari kita mulai hari ini berusaha untuk menjadi saluran kasih Tuhan bagi orang lain, mengasihi orang lain sama seperti Tuhan juga lebih dulu mengasihi kita, sehingga kita ketika Tuhan datang maka kita akan masuk ke dalam kelompok domba, dan bukannya menjadi kelompok kambing, karena kelompok domba akan masuk ke dalam hidup yang kekal di Surga yang mulia, sedangkan kelompok kambing akan masuk ke tempat siksaan yang kekal di neraka (ay. 46)


Bacaan Alkitab: Matius 25:31-46
25:31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
25:44 Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."


Halal dan Haram


Sabtu, 26 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Imamat 11:45-47
Yakni untuk membedakan antara yang najis dengan yang tahir, antara binatang yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh dimakan.” (Im 11:47)


Halal dan Haram


Jika kita sepintas melihat judul renungan ini, sepertinya bakal banyak yang protes, “Hari gini masih bahas makanan yang halal dan haram? Bukannya di dalam Tuhan sudah tidak ada lagi makanan yang halal dan haram?”.  Memang betul, Tuhan sendiri memberikan penglihatan kepada Petrus tentang makanan haram dan meminta Petrus untuk memakannya. Tuhan sendiri menyatakan bahwa “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram” (Kis 10:15). Tuhan Yesus sendiri juga secara eksplisit pernah mengatakan bahwa segala makanan adalah halal (Mrk 7:18-19). Paulus juga mengatakan bahwa di dalam Kristus memang segala seuatu adalah halal (1 Kor 6:12), tetapi ingat bahwa di ayat yang sama juga ada lanjutannya, yaitu “Tetapi bukan semuanya berguna”.

Saya memiliki pola pikir sepert ini, jika memang Tuhan Yesus sendiri menyatakan segala sesuatu adalah halal, mengapa kita tidak pernah membaca bahwa Tuhan Yesus makan sesuatu yang haram? Atau jika ditarik lebih jauh lagi, mengapa di ayat-ayat pada Perjanjian Lama yang kita baca ini, bangsa Israel dilarang makan makanan-makanan tertentu, sedangkan di Perjanjian baru kemudia dinyatakan bahwa segala sesuatu adalah halal? Apakah kemudian Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama itu berarti tidak berlaku lagi ketika ada Firman Tuhan di Perjanjian Baru? Saya sendiri berpendapat bahwa seluruh Firman Tuhan, mau itu di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru, masih tetap relevan hingga saat ini. Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan atau menghilangkan atau membatalkan hukum Taurat (Perjanjian Lama), tetapi untuk menggenapinya (Mat 5:17).

Saya meyakini, bahwa tujuan Allah memberikan perintah bagi bangsa Israel untuk menghindari hewan-hewan tertentu yang haram alias tidak boleh dimakan, adalah untuk menjaga agar bangsa Israel selalu dalam kondisi sehat. Saya rasa alasan utamanya bukan karena Firman tersebut diberikan di padang gurun dan di padang gurun tidak ada babi, lalu kemudian bangsa Israel dilarang makan babi. Toh, nanti begitu masuk ke tanah Kanaan, mereka akan mendapatkan makanan yang berlimpah, termasuk babi dan segala hewan yang dinyatakan haram. Jadi menurut saya, dengan perintah mengenai apa yang halal dan haram, Tuhan sebenarnya ingin membuat bangsa Israel menjadi bangsa yang kudus, sebab Tuhan itu adalah kudus (ay. 45).

Apa artinya kudus? Secara sederhana, kudus berarti “dipisahkan keluar”. Persembahan yang dikuduskan adalah persembahan yang dipisahkan karena akan dipersembahkan khusus kepada Tuhan. Demikian juga bangsa Israel juga adalah bangsa yang kudus, karena dipisahkan keluar dari bangsa-bangsa lain untuk menjadi bangsa kesayangan Tuhan. Bangsa Israel memiliki peraturan yang khusus yang membedakan dari bangsa-bangsa lain. Jika bangsa lain memiliki banyak dewa, bangsa Israel hanya memiliki satu Tuhan, Tuhan yang esa dan Tuhan yang berkuasa, pencipta langit dan bumi. Demikian juga dengan hal-hal lainnya, bahkan Tuhan sampai mengatur pola makan bangsa Israel, apa yang boleh dimakan, dan apa yang tidak boleh.

Jika kita melihat dan memperhatikan daftar hewan yang tidak boleh dimakan oleh bangsa Israel, sesungguhnya kita pun akan mengerti alasannya. Hampir semua hewan yang dinyatakan haram, memang sebenarnya tidak baik bagi kesehatan karena pada umumnya mengandung lemak dan kolesterol yang tinggi, walaupun bagi orang-orang yang pernah memakannya, mereka pasti berkata bahwa makanan-makanan yang dilarang itu adalah makanan yang enak-enak, contohnya saja: babi (karena berkuku belah), udang, kepiting, kerang (karena tidak bersirip dan bersisik), katak, siput, belut (karena merayap), dan lain-lain. Kita pasti setuju bahwa makanan tersebut sebenarnya adalah makanan yang enak walaupun memang mengandung lemak dan kolesterol yang tinggi.

Saya melihat seperti ini, perintah Tuhan tentang makanan adalah agar kita bisa membedakan mana yang najis dengan yang tahir, mana yang haram dan yang halal, mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak boleh dimakan (ay. 46-47), semata-mata adalah agar kita dapat hidup sehat. Perintah Tuhan untuk menjauhi makanan-makanan yang haram memang berguna agar kita bisa hidup sehat. Malah jika kita membaca Perjanjian Lama, ketika orang Israel mempersembahkan hewan sebagai korban maka seluruh isi perut (jeroan) dari hewan tersebut harus dipersembahkan kepada Tuhan, dan hanya dagingnya yang boleh dimakan. Sedangkan di budaya kita, justru jeroan yang menjadi makanan favorit, walau kita tahu bahwa jeroan itu adalah makanan yang “berbahaya” terutama terkait kolesterolnya yang tinggi. Salah seorang teman saya pernah bercanda, “Pantas saja orang Indonesia banyak yang sakit, lha wong seharusnya jeroan itu dipersembahkan kepada Tuhan, kok malah dimakan sama orang Indonesia. Makanan Tuhan kok ya malah dimakan manusia, ya makanya nggak heran kalau banyak penyakit-penyakit baru karena makanan”. Ingatlah, tubuh kita adalah Bait Tuhan, dan kita harus menjaga tubuh kita sebagai Bait Tuhan ini dengan cara makan makanan yang sehat, sehingga kita juga bisa memuliakan Tuhan dengan tubuh kita. Renungan kita hari ini, bagaimana kita bisa melayani Tuhan jika tubuh kita sakit? Walaupun tidak ada halal dan haram lagi di dalam Tuhan, usahakanlah kita makan makanan yang sehat dan berimbang, agar kita pun dapat melayani Tuhan dengan maksimal.


Bacaan Alkitab: Imamat 11:45-47
11:45 Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.
11:46 Itulah hukum tentang binatang berkaki empat, burung-burung dan segala makhluk hidup yang bergerak di dalam air dan segala makhluk yang mengeriap di atas bumi,
11:47 yakni untuk membedakan antara yang najis dengan yang tahir, antara binatang yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh dimakan."


Ketika Umat Ditinggal Pemimpinnya Terlalu Lama


Jumat, 25 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Keluaran 32:1-6
Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: "Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir -- kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia."” (Kel 32:1)


Ketika Umat Ditinggal Pemimpinnya Terlalu Lama


Ketika membaca Kitab Suci, terutama tentang bagaimana Allah menolong bangsa Israel namun kemudian bangsa Israel justru meninggalkan Tuhan, saya menjadi gemas dan penasaran, mengapa sih bangsa Israel itu sampai sedemikian bebal ya? Saya rasa tidak ada suku bangsa di dunia ini yang mengalami mujizat sebanyak bangsa Israel, dan juga tidak ada suku bangsa di dunia ini yang mempunyai banyak nabi yang diutus Tuhan selain bangsa Israel. Salah satu peristiwa yang akan kita pelajari adalah ketika bangsa Israel menyembah patung anak lembu emas.

Apa yang membuat saya lebih heran lagi adalah bahwa bangsa Israel baru saja melihat kemuliaan Tuhan di gunung Sinai (Kel 20:18), tetapi secepat itu mereka berpaling kepada dewa buatan manusia. Menurut saya, hal tersebut tidak terlepas dari fakta bahwa Musa sudah berada di sana selama 40 hari 40 malam (Kel 24:18), dan bangsa Israel tidak tahu kabar Musa, sehingga bangsa Israel pun mulai goyah dan akhirnya meminta Harun untuk membuat allah untuk mereka sembah (ay.1). Memang saat itu Musa juga sudah berbicara kepada tua-tua agar ketika bangsa Israel memiliki perkara, mereka dapat menanyakannya kepada Harun dan Hur (Kel 24:14), tetapi saya rasa ada dua hal yang Musa agak lupakan pada peristiwa itu.

Pertama, Musa tidak menginstruksikan Harun dan Hur tentang apa yang harus mereka lakukan. Walaupun Harun dan Hur adalah mungkin wakil Musa dalam memimpin bangsa Israel, mereka tetap saja bukan Musa. Mereka juga punya kelemahan, dan mungkin saja karena Musa terlalu bersemangat untuk berjumpa dengan Tuhan, Musa agak terlupa untuk mendelegasikan dan menjelaskan secara rinci tentang apa yang harus mereka lakukan sebagai pengganti dirinya. Alkitab hanya mencatat bahwa Musa justru memberi arahan kepada tua-tua agar jika terjadi sesuatu, mereka dapat bertanya kepada Harun dan Hur, tetapi Alkitab tidak mencatat tentang apa yang diinstruksikan Musa kepada Harun dan Hur.

Ini pun menjadi perhatian bagi kita yang memiliki posisi sebagai pemimpin, terutama dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Kita perlu menyiapkan wakil-wakil kita, karena kita pun tidak selalu dapat berada di dekat orang-orang yang kita layani. Seorang gembala wajib membagi visi kepada wakil gembalanya, sehingga ketika gembala tersebut harus pergi (mungkin karena ada pelayanan di tempat lain), ada orang yang siap untuk menggantikan, atau minimal mem-back up pelayanannya, dengan standar serta visi yang sama dengan gembala tersebut. Jika kita lihat dalam peristiwa ini, justru ketika bangsa Israel datang kepada Harun untuk memintanya membuat allah, Harun justru mengumpulkan perhiasan mereka dan membuat anak lembu tuangan (ay. 2-4). Harun yang seharusnya menjadi imam besar bagi bangsa Israel, justru mengatakan hal yang salah kepada bangsa Israel dengan berkata bahwa anak lembu emas itu adalah allah yang menuntun engkau keluar dari Mesir. Harun bahkan berkata bahwa mereka akan mengadakan hari raya bagi allah anak lembu emas tersebut (ay. 5).

Kedua, Musa lupa bahwa bangsa Israel itu adalah bangsa yang bebal, bangsa yang tegar tengkuk. Mereka sebenarnya sudah melihat dengan mata kepala mereka sendiri sepuluh tulah yang menimpa orang Mesir. Mereka sudah melihat bagaimana laut terbelah dan mereka dapat lewat di tengah-tengahnya. Mereka sudah melihat bagaimana Tuhan memberi manna setiap hari. Tetapi ternyata bangsa Israel justru dengan mudahnya membuat berhala dan menyembah berhala tersebut hanya karena ditinggal Musa (ay. 6). Musa mungkin tidak menyangka bahwa bangsa Israel akan berbuat demikian, tetapi seharusnya sebagai pemimpin bangsa Israel, Musa harus dapat membaca karakter bangsa Israel dan melakukan apa yang perlu untuk mendisiplinkan bangsa Israel, bukan karena ingin memerintah tetapi agar mereka taat kepada Tuhan, yang telah memilih bangsa Israel menjadi bangsa pilihan yang dikasihi Tuhan.

Apakah ada di antara kita yang saat ini dipercayakan Tuhan menjadi pemimpin atau gembala atas orang lain, entah hanya beberapa orang dalam kelompok kecil ataukah sejumlah besar orang, misalnya dalam komisi pemuda remaja? Bagaimana keadaan orang-orang yang kita pimpin? Sudahkah kita melakukan yang terbaik sehingga mereka tetap pada jalurnya dan tetap taat akan Firman Tuhan? Memang kita pun butuh waktu khusus untuk bersama Tuhan, tetapi jangan lupa bahwa mereka pun juga membutuhkan waktu dengan kita, karena jika tidak mereka dapat menjadi domba-domba yang terhilang.


Bacaan Alkitab: Keluaran 32:1-6
32:1 Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: "Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir -- kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia."
32:2 Lalu berkatalah Harun kepada mereka: "Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku."
32:3 Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun.
32:4 Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!"
32:5 Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: "Besok hari raya bagi TUHAN!"
32:6 Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.

Rabu, 23 Mei 2012

Anugerah di dalam Penjara


Kamis, 24 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 16:23-34
Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.” (Kis 16:34)


Anugerah di dalam Penjara


Pernahkah kita berpikir, bagaimana rasanya jika kita dijebloskan ke dalam penjara? Mungkin jika kita dimasukkan ke dalam penjara karena kesalahan kita, mungkin karena kita korupsi, menyalahgunakan narkoba atau melakukan tindak kejahatan, paling tidak kita dapat merasa bahwa hukuman tersebut memang sudah seharusnya kita terima. Tetapi bagaimana jika kita dimasukkan ke dalam penjara bukan karena kesalahan kita? Apa yang kita rasakan saat itu? Apakah kita masih bisa tetap mengucap syukur kepada Tuhan?

Hari ini kita membaca tentang peristiwa dimana Paulus dan Silas dimasukkan ke dalam penjara. Bahkan tidak hanya itu saja, sebelum dimasukkan ke dalam penjara, mereka terlebih dahulu disiksa dan didera berkali-kali (ay. 23a). Jika kita mambaca ayat-ayat sebelumnya, kita akan mengerti bahwa Paulus dan Silas menderita karena mereka mengabarkan Injil kepada orang-orang di kota Filipi. Saat itu mungkin karena begitu hebohnya kejadian tersebut, kepala penjara mendapatkan perintah untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh (ay. 23b). Saat itu biasanya kepala penjara bertanggung jawab penuh terhadap tahanan, mereka bisa melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan terhadap tahanan tersebut, namun di satu sisi jika mereka kabur, maka nyawa kepala penjaralah yang akan menjadi taruhannya. Oleh karena itu kepala penjara pun memasukkan Paulus dan Silas ke ruang penjara yang paling dalam atau paling tengah, serta  membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. Dengan demikian, sangat mustahil mereka dapat lepas dari penjara tersebut.

Dalam kondisi seperti itu, sebagai manusia biasa, seharusnya Paulus dan Silas tidak dapat mengucap syukur. Tapi ternyata mereka tetap bisa mengucap syukur dan justru memanfaatkan kondisi di penjara tersebut untuk menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan melalui pujian mereka tersebut, para tahanan yang lain pun juga ikut mendengarkan (ay. 25). Dampak dari apa yang mereka lakukan, Tuhan membuat gempa bumi yang hebat namun tidak sampai menghancurkan penjara tersebut (karena jika penjara tersebut hancur atau runtuh, maka Paulus, Silas, dan seluruh tahanan juga akan mati), sehingga sendi-sendiri penjara goyah dan semua pintu serta belenggu terlepas (ay. 26).

Gempa tersebut sangat kuat sehingga kepala penjara terbangun dari tidurnya dan melihat semua pintu penjara terbuka. Menyangka bahwa semua tahanannya telah melarikan diri, ia pun bermaksud untuk bunuh diri (ay. 27). Akan tetapi Paulus melihat kejadian tersebut dan berseru agar kepala penjara tidak melaksanakan niatnya (ay. 28). Mendengar hal itu, kepala penjara sadar bahwa Paulus dan Silas bukanlah orang biasa, melainkan mereka adalah orang-orang yang berbeda, karena mereka adalah orang percaya (ay. 29). Mungkin saja tahanan lain sudah melarikan diri, tetapi karena pada saat itu Paulus dan Silas merupakan tahanan “khusus”, yang harus dijaga ekstra ketat, maka mungkin saja kepala penjara tidak terlalu memikirkan tahanan yang lain selain Paulus dan Silas.

Di sisi lain, mungkin saja kepala penjara sadar bahwa ia juga akan tetap dihukum karena tahanan yang lain juga telah melarikan diri (walaupun sebenarnya itu juga bukan murni kesalahan kepala penjara), sehingga ia pun bertanya kepada Paulus dan Silas, “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” (ay. 30). Pertanyaan yang sederhana, tetapi Paulus dan Silas menggunakan kesempatan itu untuk menjelaskan keselamatan yang sesungguhnya, yaitu selamat dari kematian kekal dengan percaya kepada Yesus Kristus, tidak hanya kepada kepala penjara tetapi juga kepada keluarga dari kepala penjara tersebut (ay. 31-34).

Bisa kita perhatikan bahwa Tuhan bisa memakai keadaan seburuk apapun untuk mendatangkan kebaikan. Paulus dan Silas menderita dalam penjara, tetapi karena mereka tidak memikirkan penderitaan mereka tetapi tetap memuji Allah dan bersyukur kepadaNya, Tuhan pun membuat mujizat dan membebaskan mereka. Tidak hanya itu saja, melalui penahanan Paulus dan Silas tersebut, satu keluarga kepala penjara pun ikut diselamatkan. Adakah hidup kita saat ini sedang mengalami masa-masa yang sukar? Ingat bahwa Tuhan mampu menjadikan sesuatu yang baik dari keadaan yang tidak baik, selama kita mau tetap mengucap syukur dalam segala hal.



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 16:23-34
16:23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh.
16:24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.
16:25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.
16:26 Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.
16:27 Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri.
16:28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: "Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!"
16:29 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas.
16:30 Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?"
16:31 Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."
16:32 Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya.
16:33 Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.
16:34 Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.

Tak Masuk Logika


Rabu, 23 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Imamat 25:1-7
Tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi.” (Im 25:4)


Tak Masuk Logika


Ketika saya membaca bagian Alkitab ini, saya agak terheran-heran. Bagaimana mungkin Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk bercocok tanam selama enam tahun dan pada tahun yang ketujuh, selama satu tahun penuh tanah tersebut tidak boleh ditanami? Bahkan jika kita baca ayat-ayat selanjutnya, kita akan menemukan bahwa pada tahun ke-50 (yaitu tahun Yobel), tanah tersebut juga harus harus dibiarkan, dan bahkan tanah tersebut harus diserahkan kembali ke pemilik aslinya dan semua orang juga harus kembali ke tanahnya masing-masing. Masihkah Firman Tuhan tersebut relevan dengan kondisi kita di masa kini yang menilai segala sesuatu dari untung dan ruginya?

Jika saya bayangkan kondisi tersebut pada masa modern, berarti pabrik-pabrik yang beroperasi harus beroperasi penuh selama enam tahun dan kemudian pada tahun yang ketujuh berhenti beroperasi. Mungkinkah itu terjadi? Atau jikalau hal itu diterapkan pada petani-petani zaman sekarang, masih adakah petani yang mau menerapkan hal tersebut? Bukankah mereka akan dibilang sebagai petani yang gila oleh orang-orang di sekitarnya?

Saya rasa, Firman Tuhan yang ada di dalam Alkitab kita memang penuh berisi dengan hal-hal yang tidak masuk di akal kita. Bagi orang di luar orang percaya, bisa saja mereka mengatakan bahwa Alkitab berisi tentang hal-hal yang gila, atau menyebutkan Alkitab sebagai buku orang gila. Tetapi bagi kita yang merupakan orang percaya, segala yang tertulis di dalam Alkitab, walaupun bagi kita sepertinya tidak masuk akal, tetapi itu adalah iman. Semua tokoh dalam Alkitab, yang melakukan hal-hal di luar nalar, sepertu Nuh yang membangun bahtera, Abraham yang mengorbankan anaknya, Gideon yang melawan musuh dengan hanya 300 orang pasukan, dan lain-lain, semua itu adalah tindakan yang didasarkan pada iman.

Iman kadang-kadang (atau bahkan sering) membuat orang melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak masuk logika. Tuhan pun sering mengadakan sesuatu yang tidak masuk logika. Tuhan melakukan mujizat, menyembuhkan orang sakit, dan lain sebagainya, bukankah itu tidak masuk logika? Ketika dokter angkat tangan tetapi Tuhan menyembuhkan, atau ketika kita tetap memberikan perpuluhan dan Tuhan memberikan berkat yang entah darimana asalnya sehingga kita tetap berkecukupan bahkan berkelimpahan hingga saat ini, itulah hukum Tuhan yang seringkali memang tidak masuk akal kita.

Menurut saya, jika Tuhan melakukan hal-hal yang biasa saja, justru Tuhan bukanlah Tuhan, karena apa yang dilakukan Tuhan juga dapat dilakukan oleh manusia. Justru hukum Tuhan yang tidak dapat dimengerti oleh logika manusia, seperti hukum tabur tuai, itulah yang membedakan Tuhan dari manusia. Kita tidak dapat mengerti rencana Tuhan. Kita hanya debu di hadapan Tuhan, bagaimana mungkin kita dapat mengerti rencana Tuhan dalam kehidupan kita? Bagaimana mungkin juga kita menjadi sok tahu dengan meminta dan memaksa Tuhan melakukan apa yang kita mau.

Saya tidak akan terlalu membahas tentang ayat Alkitab pada hari ini, tetapi saya rindu kita semua menyadari bahwa ketika Tuhan meminta kita melakukan sesuatu yang kadang-kadang tidak masuk logika kita, itulah kesempatan bagi kita untuk mengalami janji-janji Tuhan. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mengatasi segala logika manusia. Kita sebagai manusia ciptaanNya tidak punya hak apapun untuk menggugat Tuhan. Semua yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan kita sudah dipersiapkan Tuhan karena itu adalah yang terbaik bagi kita, walaupun mungkin kita merasa sebaliknya. Bukan Tuhan yang salah ketika ada perintah Tuhan yang tidak masuk logika kita, tetapi kita yang salah karena kita tidak dapat mengerti logika Tuhan.


Bacaan Alkitab: Imamat 25:1-7
25:1 TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai:
25:2 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN.
25:3 Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu,
25:4 tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi.
25:5 Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu.
25:6 Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu.
25:7 Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.

Pengangkatan


Selasa, 22 Mei 2012
Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 4:13-18
Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.” (1 Tes 4:17)


Pengangkatan


Bagi saya, masa-masa sekarang ini adalah masa-masa terakhir menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Saya rasa semua aliran atau denominasi Kristen mengakui bahwa Tuhan Yesus akan datang untuk yang kedua kali. Pertanyaannya adalah kapan? Tidak ada yang tahu kapan Tuhan Yesus akan datang untuk yang kedua kali, karena hanya Bapa di Surga yang tahu (Mat 24:36). Tetapi kita sebagai orang percaya wajib untuk berjaga-jaga akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali (Mat 25:13). Mengapa kita harus berjaga-jaga?

Memang ada begitu banyak ayat di Alkitab yang membahas tentang kedatangan Tuhan. Dan saking banyaknya ayat tersebut menjadikan banyak pula penafsiran tentang kedatangan Tuhan yang kedua kali. Tetapi saya mau melihat dari sudut pandang Paulus yang menuliskan hal ini kepada jemaat di kota Tesalonika.

Kedatangan Tuhan Yesus untuk yang kedua kali tersebut sebetulnya merupakan hal yang sangat dinanti-nantikan oleh orang percaya. Perbedaan utama antara orang percaya dengan orang yang belum percaya adalah bahwa orang yang telah percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit (ay. 14) memiliki pengharapan di dalam Kristus (ay. 13), sehingga kita pun akan percaya juga bahwa semua orang yang telah meninggal dalam Yesus (meninggal dalam keadaan sudah percaya kepada Yesus), akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia, menerima kehidupan kekal. Nah, lalu bagaimana dengan orang-orang yang masih hidup ketika Tuhan Yesus datang untuk yang kedua kalinya?

Dengan segala keterbatasan yang saya miliki (karena saya juga bukan seorang ahli teologi apalagi teologi akhir zaman), saya merujuk ke ayat-ayat selanjutnya dari bacaan Alkitab kita hari ini. Hal terpenting yang dapat kita simpulkan adalah bahwa ketika Tuhan Yesus datang kembali, ada peristiwa kebangkitan orang mati, yaitu mereka yang mati di dalam Kristus akan dibangkitkan (ay. 15-16). Lalu setelahnya barulah kita yang masih hidup pada saat Tuhan Yesus datang kembali, akan diangkat bersama-sama ke awan untuk menyongsong Tuhan di angkasa dan kemudian kita akan berada bersama-sama dengan Tuhan (ay. 17). Hal ini bagi gereja Tuhan, terutama gereja-gereja beraliran Pentakosta dan Karismatik dikenal dengan peristiwa pengangkatan atau rapture.

Ada banyak pendapat tentang peristiwa pengangkatan ini, sama seperti dengan peristiwa kedatangan Yesus yang kedua kali. Ada yang berpendapat bahwa orang percaya akan diangkat Tuhan sebelum Antikristus muncul, sebagian lagi berpendapat bahwa pengangkatan akan terjadi setelah masa Antikristus. Di sisi lain ada yang berpendapat bahwa orang-orang yang diangkat adalah orang-orang yang percaya kepada Yesus dan menjaga hidup kudus mereka, sementara ada juga yang berpendapat bahwa orang yang diangkat adalah semua orang yang telah percaya kepada Yesus. Saya sendiri tidak tahu mana yang benar, karena memang mungkin tidak ada orang yang tahu kecuali Tuhan Yesus dan Allah Bapa sendiri. Paulus pun tidak menulis secara jelas dan rinci mengenai proses dan kronologis pengangkatan ini.

Walaupun demikian, ada satu hal yang dapat kita lakukan, yaitu berjaga-jaga. Kita harus berjaga-jaga karena kita tidak tahu kapan waktunya, dan jangan sampai ketika Tuhan datang justru kita sedang meninggalkan Tuhan. Tuhan ingin agar kita setia sampai akhir. Bagi orang-orang yang belum percaya, kedatangan Tuhan yang kedua kali adalah peristiwa yang menakutkan, karena mereka belum yakin akan keselamatan mereka. Tetapi bagi kita orang-orang percaya, justru peristiwa kedatangan Tuhan yang kedua kali dan juga peristiwa pengangkatan adalah hal yang kita harapkan dan kita nanti-nantikan. Oleh sebab itu Paulus menasehatkan agar kita sebagai jemaat Tuhan saling menguatkan satu sama lain dengan Firman Tuhan yang kita baca hari ini (ay. 18). Bukan masalah kapan dan bagaimana proses pengangkatan dan kedatangan Tuhan yang kedua kali tersebut, tetapi yang lebih penting lagi, apakah kita sudah siap untuk diangkat ketika Tuhan Yesus datang kembali? Percayalah kepada Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita, Jagalah hidup kita dari dosa dan kejarlah kekudusan.


Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 4:13-18
4:13 Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.
4:14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.
4:15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.
4:16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;
4:17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.
4:18 Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.


Bahaya Percabulan


Senin, 21 Mei 2012
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 6:15-20
Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.” (1 Kor 6:18)


Bahaya Percabulan


Ketika saya menulis renungan saya di hari ini, ada semacam pertentangan di dalam diri saya. Hari ini adalah tepat satu tahun usia pernikahan saya dengan isteri saya, dan saya bersyukur bahwa dalam satu tahun pernikahan kami, Tuhan telah memberikan seorang anak yang luar biasa dalam kehidupan saya. Jujur, melalui renungan ini saya juga membagikan hidup saya, bahwa saya sendiri pun bukanlah orang yang sempurna. Saya pun pernah jatuh dalam dosa, yaitu menjalin hubungan yang lebih dari yang seharusnya dengan wanita lain. Saya tahu bahwa mungkin anda yang membaca renungan ini menganggap saya sebagai orang yang munafik, di satu sisi menulis renungan rohani tetapi di sisi lain ternyata memiliki masa lalu yang tidak baik. Bagi saya tidak apa-apa jika ada di antara para pembaca yang berpandangan seperti itu, tetapi bagi saya justru lebih baik demikian karena memang tidak ada yang sempurna, dan saya berharap bahwa apa yang saya alami dapat menjadi pelajaran, tidak hanya bagi saya tetapi juga bagi orang lain yang membaca renungan ini.

Memang bahaya percabulan itu sangat luar biasa mengintai kita, termasuk orang-orang percaya bahkan hamba-hamba Tuhan. Jujur, tidak mudah untuk bisa mengatasi bahaya percabulan ini. Sebagai orang percaya, saya juga dididik sejak kecil dalam ajaran Kristen untuk hidup kudus, tetapi memang benar apa yang dikatakan Firman Tuhan bahwa kita pun harus berjaga-jaga, dan kita yang merasa lebih teguh dan kuat, justru harus lebih berhati-hati (1 Kor 10:12).

Kita adalah anggota tubuh Kristus (ay. 15). Lebih lagi tubuh kita pun adalah Bait Allah, tempat dimana Roh Kudus diam di dalam kita (ay. 19). Tetapi sering kali kita tidak menyadari hal tersebut dan justru menggunakan tubuh dan hidup kita untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna. Firman Tuhan mengatakan bahwa percabulan adalah hal yang sangat tidak baik, karena ketika seseorang mengikatkan diri dengan perempuan cabul, maka orang tersebut pun menjadi satu tubuh dengan dia (ay. 16). Setiap orang yang melakukan percabulan, melakukan dosa itu di dalam dirinya (ay. 18). Berbeda dengan dosa lain semisal berbohong atau mencuri, dimana dosa tersebut terjadi di luar dirinya (walaupun sebenarnya hati dan pikirannya juga ikut berdosa).

Bagaimana mencegah dosa percabulan? Yang pertama kita harus ingat bahwa diri kita adalah Bait Allah, anggota tubuh Kristus. Tetapi memang hal tersebut tidak cukup, kita pun harus mampu melawan godaan-godaan yang ada. Dalam suatu pertandingan olahraga, tim yang menjadi juara adalah tim yang mampu bertahan dan menyerang sama baiknya. Tetapi jika harus memilih, untuk menang, kita perlu lebih banyak menyerang daripada bertahan. Oleh karena itu, kita tidak boleh hanya bersikap pasif saja. Kita juga harus bertindak aktif. Di satu sisi kita harus sadar bahwa tubuh kita adalah tubuh yang telah lunas dibayar oleh Tuhan melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib, tetapi di sisi lain kita pun perlu untuk bertindak dan memuliakan Allah melalui kehidupan kita (ay. 20). Dengan hidup menjauhi perempuan cabul itu pun bagus, tetapi adalah lebih baik lagi untuk hidup mengikatkan diri dengan Tuhan, sehingga kita menjadi satu roh dengan Tuhan (ay. 17), karena bersama Tuhan kita akan mampu mengalahkan apapun yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Saya menyampaikan hal ini bukan karena saya telah menang, atau karena saya kuat dan mampu mengalahkan hawa nafsu saya. Tetapi saya menyampaikan ini karena memang hal ini penting dan sangat sulit dilakukan, terutama bagi kaum pria. Sungguh tidak mudah untuk melawan bahaya percabulan dalam kehidupan kita, tetapi kita harus tahu dan sadar bahwa ketika Tuhan memerintahkan kita untuk melawan sesuatu, itu berarti Tuhan juga akan memperlengkapi kita untuk mampu melakukannya. Persoalannya terletak pada kemauan kita, apakah kita mau meninggalkan segala hal-hal yang enak namun tidak berkenan kepada Tuhan? Jika jawabannya adalah ya, maka Tuhan pasti akan memampukan kita untuk hidup kudus di hadapanNya.


Bacaan Alkitab: 1 Korintus 6:15-20
6:15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!
6:16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu daging."
6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.
6:18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.
6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Hidup Bergaul dengan Allah


Minggu, 20 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Kejadian 6:9-12
Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” (Kej 6:9)


Hidup Bergaul dengan Allah


Dalam Alkitab, hanya ada dua orang yang dikatakan hidup bergaul dengan Allah, yaitu Henokh (Kej 5:21-24), dan Nuh, yang kita baca dalam bacaan Firman Tuhan pada hari ini. Tentunya ada alasan mengapa kedua orang tersebut sampai dikatakan hidup bergaul dengan Allah. Menurut saya, bergaul dengan Allah merupakan tingkatan yang tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia. Mengapa saya berpendapat demikian? Karena Henokh sebagai orang yang bergaul dengan Allah, memiliki keistimewaan yaitu diangkat oleh Allah tanpa melalui proses kematian, karena hidupnya berkenan kepada Allah (Ibr 11:5).

Lalu, apa sih definisi bergaul dengan Allah? Apakah ketika kita mau hidup bergaul dengan Allah maka kita harus meninggalkan segala kehidupan duniawi kita? Melepas pekerjaan kita dan menjadi hamba Tuhan secara full time? Ataukah kita harus menjual seluruh harta kita kemudian pergi ke biara dan mencari Tuhan di sana? Ataukah kita harus menganut hidup selibat (tidak menikah) agar kita menjadi semakin dekat dengan Tuhan? Saya sendiri memiliki pendapat, bahwa bergaul dengan Allah itu berarti dalam segala hal dan dalam segala keadaan, kita perlu memiliki hubungan yang intim dan erat dengan Tuhan. Adalah sangat baik jika kita menjadi hamba Tuhan full timer, tetapi bergaul dengan Tuhan juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bergaul dengan Tuhan berarti membawa hadirat Allah ke dalam kehidupan kita sehari-hari, baik itu di rumah, di kantor, dan dimana saja.

Alkitab menyatakan bahwa Nuh adalah seorang yang benar dan  tidak bercela di antara orang-orang sezamannya (ay. 9). Itulah definisi dari hidup bergaul dengan Allah secara sederhana. Nuh bukan orang yang kemudian hidup menyendiri. Nuh memiliki keluarga, isteri dan tiga orang anak (ay. 10). Demikian juga Henokh, yang memiliki anak yang bernama Metusalah (Kej 5:21). Walaupun demikian, karena bergaul dengan Allah, maka Nuh memiliki kehidupan yang berbeda dengan orang-orang lain yang berada di sekitarnya (ay. 9), yang telah begitu rusak dan penuh dengan kekerasan (ay. 11). Bahkan dikatakan pada masa tersebut bumi sudah sangat rusak, karena semua manusia (kecuali Nuh dan keluarganya) menjalankan hidup yang rusak dan semaunya sendiri (ay. 12). Mereka tidak takut lagi kepada Tuhan. Alkitab Perjanjian Baru menjelaskan secara lebih rinci tentang apa yang terjadi di zaman Nuh tersebut yaitu manusia makan dan minum, kawin dan mengawinkan, karena mereka sudah tidak peduli lagi dengan Tuhan (Mat 24:37-38).

Jika kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, kehidupan manusia di masa kini sudah hampir mendekati kehidupan manusia pada zaman Nuh. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk hidup dengan sungguh-sungguh dan hidup bergaul dengan Tuhan. Perhatikanlah pergaulan kita. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan baik (1 Kor 15:33). Oleh karena itu, kita pun perlu bergaul dengan pihak yang benar, dan siapa lagi pihak yang benar selain Tuhan kita? Dampak dari orang yang bergaul dengan Tuhan adalah diselamatkan dari segala marabahaya. Sama seperti Henokh diangkat Tuhan sebelum mengalami banjir besar pada zaman Nuh, serta Nuh yang diselamatkan Tuhan dari banjir besar tersebut. Selain itu, dengan hidup bergaul dengan Allah, bukan hanya Nuh saja yang diselamatkan, tetapi juga isteri, ketiga anaknya dan ketiga menantunya. Hidup bergaul dengan Allah juga membuat Allah tidak merahasiakan apapun kepada Nuh, tetapi menyampaikan segala rencanaNya sehingga Nuh pun mengerti dan mampu menyiapkan bahtera. Pertanyaan bagi kita saat ini, sudahkah kita hidup bergaul dengan Allah?


Bacaan Alkitab: Kejadian 6:9-12
6:9 Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.
6:10 Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet.
6:11 Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.
6:12 Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.

Selasa, 22 Mei 2012

Kuasa Ilahi yang Memberi Kita Kodrat Ilahi


Sabtu, 19 Mei 2012
Bacaan Alkitab: 2 Petrus 1:3-4
Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” (2 Ptr 1:4)


Kuasa Ilahi yang Memberi Kita Kodrat Ilahi


Ketika saya membaca bagian Alkitab ini, saya agak berpikir sebentar, kira-kira apa yang dimaksud Rasul Petrus dengan “kuasa ilahi” dan “kodrat ilahi” ya? Tentunya jika kita mencoba merenungkan kata per kata, kita pun perlu mengerti apa yang dimaksud dengan kata “ilahi” terlebih dahulu. Kata ilahi memiliki makna “terkait dengan Allah”. Yang jelas, sesuatu yang ilahi bukanlah sesuatu yang duniawi atau manusiawi. Kita sebagai manusia duniawi tidak dapat mengerti tentang hal-hal ilahi. Dengan demikian, kuasa ilahi yang dimaksudkan dalam ayat 3 berarti kuasa yang dimiliki Tuhan itu sendiri. Bayangkan betapa besar Tuhan kita, yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya, tentu saja kuasa Tuhan juga tidak terbayangkan.

Namun justru dalam kuasa ilahiNya tersebut, kita telah mendapatkan anugerah berupa segala sesuatu yang berguna untuk hidup saleh dan mengenal Tuhan (ay. 3). Bukan karena perbuatan baik kita ataupun kecakapan kita, melainkan karena anugerah dan kasih karunia Tuhan sajalah kita diselamatkan dan diangkat menjadi anak-anakNya (Ef 2:8). Keselamatan adalah hal yang paling berharga yang kita miliki. Apa gunanya kita memperoleh seisi dunia ini tetapi jiwa kita tidak selamat alias binasa (Mrk 8:36)? Tetapi ternyata Tuhan itu adalah Tuhan yang sangat baik. Ia tidak hanya memberi keselamatan saja, tetapi juga memberi segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup saleh di hadapan Tuhan serta mengenal Tuhan. Kuasa Tuhan itu jugalah yang memanggil kita dan memilih kita untuk dapat mengenal Dia.

Oleh karena itu, kita sudah sepatutnya bersyukur kepada Tuhan. Tuhan sudah memberikan segala sesuatu, antara lain janji-janjiNya yang semuanya sudah tercatat di dalam Kitab Suci (ay. 4a). Semua janji-janji Tuhan itu akan menjadi milik kita, selama kita mau menggunakanNya. Sayangnya kadang-kadang kita lupa akan janji-janji Tuhan itu, entah karena kita terlalu sibuk dengan kehidupan kita atau mungkin juga karena banyaknya tekanan hidup yang kita rasakan. Tetapi saya harap melalui bacaan Alkitab kita hari ini, kita boleh mengerti, bahwa sekian banyak janji-janji Tuhan yang ada di dalam FirmanNya tersebut, sudah tersedia bagi kita dan oleh janji-janji tersebut, kita dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi (ay. 4b).

Apa maksudnya kodrat ilahi? Menurut saya, secara sederhana kodrat ilahi tersebut adalah kodrat kita sebagai manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, kemudian dipulihkan sehingga manusia kembali kepada kodratnya yang semula. Sejak awal manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, tetapi dosa merusaknya sehingga semakin lama manusia semakin jauh dari Tuhan. Dengan penebusan Yesus, maka kita pun dipulihkan kembali sehingga menjadi layak di hadapan Tuhan.

Kodrat ilahi itu adalah tujuan akhir dan selama kita masih hidup di dunia ini, kita pun masih berjuang untuk bisa sepenuhnya mengambil bagian dalam kodrat ilahi tersebut. Oleh karena itu kita membutuhkan kuasa Tuhan untuk bisa luput dari segala dosa-dosa dan hawa nafsu duniawi. Memang selama kita berada di dalam dunia ini, kita pasti akan terus berjuang melawan hawa nafsu duniawi kita. Tetapi ada perbedaan bagi orang yang telah menerima kuasa Tuhan, apalagi yang telah memiliki kodrat ilahi, yaitu kita pasti dapat memenangkan perjuangan melawan hawa nafsu. Mengapa demikian? Karena ketika kita menerima kuasa ilahi dari Allah, kuasa tersebut jauh lebih besar daripada kuasa yang ada di dunia ini. Kita diberi kuasa ilahi oleh Tuhan, sudahkah kita menggunakannya untuk mengambil bagian dalam kodrat ilahi?


Bacaan Alkitab: 2 Petrus 1:3-4
1:3 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
1:4 Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.