Kamis, 22 Mei 2014

Menjadi Saudara Yesus



Jumat, 23 Mei 2014
Bacaan Alkitab: Matius 12:46-50
Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku. (Mat 12:50)


Menjadi Saudara Yesus


Mungkin sebagian besar orang akan bertanya-tanya ketika membaca judul renungan ini, “Apa iya kita harus menjadi saudara Yesus? Bukankah Yesus sudah lahir 2.000 tahun yang lalu dan kita saat ini juga hidup di Indonesia, dan tidak ada hubungan darah antara kita dan Yesus?”. Memang betul bahwa kita sesungguhnya tidak memiliki hubungan persaudaraan secara jasmani dengan Yesus, kecuali fakta bahwa kita sama-sama dilahirkan dari keturunan Adam dan Hawa. Akan tetapi, sebenarnya secara rohani kita pun memiliki hubungan saudara (bahkan harus memiliki hubungan saudara) dengan Yesus.

Bacaan Alkitab kita hari ini dimulai dengan kedatangan ibu Yesus dan para saudara-saudaraNya (saudara Yesus secara jasmani, mungkin adalah adik-adikNya, saudara-saudara sepupuNya, atau mungkin kerabat dari keluarga besarNya) ketika Yesus sedang berbicara dengan orang banyak (ay. 46). Saat itu ada orang yang memberitahukan kepada Yesus bahwa ibuNya dan saudara-saudaraNya sedang berdiri di luar dan ingin menemuiNya (ay. 47). Namun demikian, menarik melihat reaksi Yesus yang seakan-akan tidak menghormati atau menghargai keluargaNya secara jasmani. Saat itu Yesus mengucapkan “Siapa ibuKu? Dan siapa saudara-saudaraKu?” (ay. 48). Sepintas apa yang diucapkan Yesus adalah suatu ketidakhormatan Yesus kepada ibu dan saudara-saudaraNya.

Namun jika kita perhatikan sungguh-sungguh, bahwa saat itu Yesus sedang menyampaikan kebenaran Firman Tuhan kepada orang banyak. Oleh karena itu ketika keluarga Yesus (ibu dan saudara-saudaraNya) datang kepada Yesus, hal tersebut digunakan Yesus untuk menekankan tentang siapa yang dapat disebut sebagai saudara Yesus, khususnya dalam konteks saudara secara rohani. Ingat bahwa yang datang adalah saudara jasmani Tuhan Yesus. Oleh karena itu, dengan kata lain Yesus ingin mengatakan bahwa walaupun ia memiliki saudara secara jasmani, yang lebih penting lagi adalah menjadi saudara Yesus secara rohani. Alkitab kita di bagian lain juga mengatakan bahwa Yesus adalah saudara yang sulung dan kita adalah saudara-saudara yang lainnya (Rm 8:29).

Oleh karena itu, tidak salah jika Yesus menunjuk murid-muridNya sebagai saudara-saudaraNya (tentu dalam konteks secara rohani), karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengikuti Yesus (ay. 49). Bahkan secara lebih terang-terangan lagi, disebutkan bahwa orang yang pantas disebut sebagai saudara Yesus adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa di surga (ay. 50). Oleh karena itu, jika kita sebagai orang percaya sudah melakukan apa kehendak Bapa di surga, maka kita pun secara otomoatis akan menjadi anak-anak Allah dan sekaligus menjadi saudara Yesus (secara rohani).

Hanya kita sendiri yang tahu apakah kita sudah melakukan kehendak Bapa atau belum. Hanya kita snediri pula yang tahu apakah kita sudah pantas disebut sebagai saudara-saudara Yesus. Bahkan walaupun kita saat ini belum pantas disebut sebagai saudara Yesus (karena masih belum sepenuhnya melakukan kehendak Bapa kita di surga), mari kita juga tetap dan sama-sama berusaha untuk semakin hari kita boleh semakin menyenangkan hati Tuhan, sehingga suatu saat nanti kita boleh layak disebut dan menjadi saudara-saudara Yesus.


Bacaan Alkitab: Matius 12:46-50
12:46 Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia.
12:47 Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau."
12:48 Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?"
12:49 Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!
12:50 Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Rabu, 21 Mei 2014

Ketika Tuhan Tidak Menjawab Kita



Kamis, 22 Mei 2014
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 28:3-6
Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi. (1 Sam 28:6)


Ketika Tuhan Tidak Menjawab Kita


Sebagai seorang manusia biasa, pastilah kita semua pernah mengalami masalah dalam kehidupan kita, baik masalah-masalah yang “biasa” maupun masalah yang dapat kita katakan sebagai “luar biasa”. Bagi kita yang adalah orang percaya kepada Tuhan, tentu kita juga sering berdoa dan bertanya kepada Tuhan ketika kita menghadapi masalah. Pada umumnya, setiap orang Kristen, baik jemaat Tuhan maupun hamba Tuhan, pasti akan meminta Tuhan untuk memberikan jalan keluar, atau setidaknya bertanya bagaimana ia boleh melalui masalah-masalah tersebut.

Akan tetapi, dalam kenyataannya, cukup sering doa-doa dan pertanyaan kita kepada Tuhan tidak dijawab Tuhan. Ketika kita bertanya kepada Tuhan, justru Tuhan diam. Apa yang harus kita lakukan jika berada dalam keadaan seperti itu?

Kita akan belajar dari Firman Tuhan, yaitu dari seorang raja yang dahulu diurapi Tuhan serta dipakai Tuhan secara luar biasa, namun pada saat-saat terakhir hidupnya, justru ia meninggalkan dan ditinggalkan Tuhan. Orang tersebut adalah Raja Saul.

Saul adalah raja pertama orang Israel yang diurapi oleh Samuel. Jika kita membaca ayat-ayat dan pasal-pasal sebelumnya, maka kita akan melihat bahwa selama Samuel masih hidup, maka Raja Saul pada umumnya hidup menurut jalan Tuhan. Samuel menyampaikan apa yang menjadi suara Tuhan kepada Saul. Akan tetapi, pada bagian Alkitab yang kita baca, Samuel sudah mati sehingga tidak dapat menjadi perpanjangan mulut Tuhan bagi Saul lagi (ay.3).

Saat itu, Saul sedang menghadapi masalah yang begitu berat, yaitu peperangan dengan orang Filistin (ay. 4). Memang selama hidupnya, orang Filistin selalu menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa Israel. Walaupun demikian dalam peperangan yang akan dihadapi Saul, peperangan itu adalah salah satu peperangan terbesar karena orang Filistin dan orang Israel sama-sama mengerahkan segenap kemampuannya. Bahkan ketika Saul (yang adalah raja Israel) melihat segenap tentara Filistin, ia menjadi takut dan hatinya sangat gemetar (ay. 5). Bayangkan jika hati seorang raja saja sangat gemetar, bagaimana dengan hati para rakyatnya?

Saat itulah Saul mencoba mencari jawaban dari Tuhan. Tetapi terlambat sudah. Tuhan tidak menjawab Saul. Bahkan Alkitab menuliskan tentang 3 cara bagaimana Tuhan pada umumnya menjawab seseorang pada masa itu: dengan mimpi, dengan Urim, ataupun dengan perantaraan para nabi (ay. 6). Pada waktu itu sangat umum Tuhan menjawab doa seseorang melalui mimpi (ada banyak contoh tokoh Alkitab yang dijawab Tuhan melalui mimpi atau penglihatan, misalnya Daniel (Dan 2:18-19). Tuhan juga juga dapat menyatakan kehendakNya melalui perantaran urim dan tumim yang dipakai oleh Imam Tuhan, bahkan Saul sendiri pun pernah menggunakan urim dan tumim ketika mencari jawaban dari Tuhan (1 Sam 14:41). Selain itu, Tuhan juga lebih banyak lagi menyatakan jawabanNya melalui suara nabi-nabiNya yang dapat kita baca di seluruh Alkitab.

Tentu saja ada alasan mengapa Tuhan tidak mau menjawab doa Saul bahkan melalui ketiga metode yang umum digunakan pada saat itu. Jika kita mau membaca ayat-ayat lain tentang jawaban Tuhan terhadap doa yang kita naikkan, maka kita akan menemukan setidaknya 3 alasan mengapa Tuhan tidak mendengar apalagi menjawab doa kita.

Pertama, karena dosa-dosa kita (Yes 59:1-2). Ketika doa-doa kita yang kita naikkan tidak dijawab oleh Tuhan, bisa jadi hal tersebut karena masih ada dosa-dosa yang belum kita bereskan di hadapan Tuhan. Mungkin orang lain tidak ada yang tahu dosa kita, mungkin pasangan kita pun tidak, orang tua kita pun tidak, bahkan pendeta atau gembala sidang kita tidak tahu. Akan tetapi, jangan lupakan bahwa Tuhan tahu dan mengerti setiap perbuatan kita termasuk dosa-dosa kita. Bereskan segera dan lihatlah bagaimana Tuhan akan segera menjawab doa-doa kita.

Kedua, karena kehidupan keluarga kita tidak beres (1 Ptr 3:7). Dalam ayat tersebut digambarkan suami-suami yang tidak menghormati isteri mereka. Menghormati isteri sepadan dengan frasa mengasihi isteri. Bahkan isteri pun juga seharusnya menghormati suami (Ef 5:25-28). Jika masih ada permasalahan dalam kehidupan keluarga, khususnya antara suami dengan isteri, mungkin ada sesuatu perkara yang masih disembunyikan antara suami dengan isterinya, barangkali itulah penyebab doa-dpa kita masih belum dijawab.

Ketiga, karena memang itu bukan kehendak Tuhan dalam hidup kita (Mat 26:39). Kita bisa melihat hal ini dari teladan Yesus sendiri. Yesus yang adalah Anak Allah saja pernah mengalami doaNya tidak dijawab oleh Allah Bapa. Saat akan menghadapi penderitaanNya, Yesus berdoa di taman Getsemani agar “cawan murka Allah” dilalukan dari padaNya. Akan tetapi, ternyata Allah tidak menjawab doaNya, karena memang menurut kehendak Allah, Yesus harus menderita, mati disalibkan, dikubur dan bangkit demi umat manusia. Jika kita merasa bahwa hidup kita sudah benar, tidak ada dosa yang belum beres, kehidupan keluarga juga sudah harmonis, namun ternyata masih ada doa-doa kita yang tidak dijawab oleh Tuhan, maka sangat mungkin hal tersebut dikarenakan memang ada kehendak khusus dari Allah Bapa kita di surga.

Ketiga hal di atas menunjukkan bagaimana kita sebagai manusia sangat tergantung kepada Allah Bapa kita di surga. Oleh karena itu, jika doa-doa kita tidak dijawab oleh Tuhan, perhatikanlah bagaimana kita hidup selama ini, atau mungkin saja ada rencana atau kehendak Tuhan yang lain bagi hidup kita.



Bacaan Alkitab: 1 Samuel 28:3-6
28:3 Adapun Samuel sudah mati. Seluruh orang Israel sudah meratapi dia dan mereka telah menguburkan dia di Rama, di kotanya. Dan Saul telah menyingkirkan dari dalam negeri para pemanggil arwah dan roh peramal.
28:4 Orang Filistin itu berkumpul, lalu bergerak maju, dan berkemah dekat Sunem. Saul mengumpulkan seluruh orang Israel, lalu mereka berkemah di Gilboa.
28:5 Ketika Saul melihat tentara Filistin itu, maka takutlah ia dan hatinya sangat gemetar.
28:6 Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi.

Selasa, 20 Mei 2014

Privasi dengan Tuhan (3): Berpuasa

Rabu, 21 Mei 2014
Bacaan Alkitab: Matius 6:16-18
Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. (Mat 6:16)


Privasi dengan Tuhan (3): Berpuasa


Bagian ketiga mengenai hal privasi dengan Tuhan adalah tentang hal berpuasa. Puasa adalah bagian dari adat orang Yahudi, dan juga merupakan adat yang umum di hampir semua suku bangsa di dunia ini (kecuali mungkin di dunia barat). Puasa adalah suatu bentuk dari penyangkalan diri yang pada umumnya ditujukan sebagai bentuk pertobatan, sebagai salah satu bentuk untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, dan lain sebagainya.

Dalam hal berpuasa, ternyata cukup banyak orang Yahudi pada masa itu yang memiliki pandangan yang salah tentang berpuasa. Puasa yang seharusnya menjadi suatu bentuk ibadah manusia kepada Tuhan, justru dijadikan sebagai suatu kebiasaan yang harus dipamerkan dan ditunjukkan kepada orang lain. Deskripsi kesalahan dalam berpuasa yang dilakukan oleh orang Yahudi adalah mereka menunjukkan muka muram serta mengubah air mukanya (wajahnya) sehingga dari jauh mereka terlihat seperti orang yang berpuasa (ay. 16). Mungkin mereka terlihat sangat lemas, pucat, dan sebagainya sehingga dari jauh pun orang akan bertanya, “Kenapa kok kamu terlihat lemas?” dan dijawab “Saya sedang berpuasa”.

Hal tersebut di mata Tuhan bukanlah sesuatu yang baik, karena di mata Tuhan berpuasa adalah salah satu hal yang seharusnya menjadi privasi antara kita dengan Tuhan. Berpuasa adalah lebih spesifik dibandingkan dengan berdoa, karena orang lain masih mungkin melihat kita saat kita berdoa, tetapi orang lain tidak akan mengetahui kita sedang berpuasa kecuali jika kita mengubah raut muka kita seperti orang yang sedang berpuasa.

Yesus tidak suka dengan sikap tersebut. Yesus ingin agar hanya Tuhan saja dan diri kita sendiri saja  yang tahu tentang hal puasa. Mengapa demikian? Karena puasa (dalam hal ini doa dan puasa) adalah tingkatan tertinggi dari doa kita kepada Tuhan (Mat 17:21). Oleh karena itu jika kita sampai melakukan puasa, maka itu harus menjadi urusan kita pribadi dengan Tuhan.

Oleh karena itu, jika kita berpuasa, Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita harus berlaku seolah-olah kita tidak berpuasa. Dalam artian, raut muka kita harus kita jaga agar tampak seperti biasa (ay. 17). Dengan demikian, puasa kita akan menjadi puasa yang berkenan kepada Tuhan (ay. 18). Jangan sampai kita sibuk dengan menunjukkan raut muka yang lemas ketika kita berpuasa, tetapi seharusnya saat kita berpuasa, kita harus lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Ketika kita berpuasa, waktu yang kita gunakan untuk makan harusnya kita pakai untuk berdoa atau untuk bersaat teduh, bukan digunakan untuk hal-hal lain yang tidak bermanfaat secara rohani.

Ketiga hal yang privasi sebagaimana saya tulis sebelumnya (memberi, berdoa, dan berpuasa), adalah 3 hal yang penting dalam hidup seorang Kristen. Walaupun seseorang mengaku bahwa ia adalah seorang Kristen, sudah percaya Yesus, sudah dibaptis bahkan sudah ke gereja, kalau ia tidak pernah melakukan ketiga hal diatas, maka status kekristenannya diragukan. Bahkan jikalaupun orang tersebut sudah memberi, berdoa, dan berpuasa, namun jika dilakukan dengan cara yang tidak tepat, itu pun tidak akan berkenan di mata Tuhan.


Bacaan Alkitab: Matius 6:16-18
6:16 "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,
6:18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Privasi dengan Tuhan (2): Berdoa



Selasa, 20 Mei 2014
Bacaan Alkitab: Matius 6:5-15
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Mat 6:6)


Privasi dengan Tuhan (2): Berdoa


Bagian kedua terkait dengan privasi antara kita dengan Tuhan yaitu mengenai doa atau hal berdoa. Orang Yahudi pada zaman Yesus hidup juga sering melakukan kesalahan dalam berdoa. Hal inilah yang dikritik dan ditegur Yesus melalui ucapanNya pada bagian bacaan Alkitab kita hari ini. Orang Yahudi pada saat itu cenderung suka berdoa di tempat-tempat umum, dengan cara yang menarik perhatian orang lain, misalnya dengan menengadahkan tangan di tempat-tempat strategis yang mudah terlihat orang, atau berdoa dengan suara keras-keras. 

Sebenarnya Tuhan Yesus tidak mengkritik cara berdoa kebanyakan orang Yahudi. Apa yang dikritik Tuhan adalah sikap munafik yang dilakukan oleh kebanyakan orang Yahudi (para pemuka agama) pada waktu itu. Mereka suka berdoa denganberdiri di tempat-tempat strategis agar dilihat dan dipuji orang (ay. 5a). Sama seperti dengan hal memberi, Tuhan Yesus berkata bahwa orang-orang seperti itu sudah menerima upahnya (ay. 5b). Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa ketika kita berdoa sebaiknya kita berdoa di dalam kamar, dengan menutup pintu, agar doa kita didengarkan oleh Bapa kita (ay. 6).

Hal tersebut bukan berarti kita tidak boleh berdoa bersama-sama dengan orang lain. Kita tentu harus berdoa bersama-sama di gereja atau di persekutuan, atau dalam kondisi-kondisi tertentu. Tetapi yang lebih penting lagi adalah motivasi kita dalam berdoa, yaitu agar kita tidak berdoa agar dipuji orang, tetapi tujuan utama kita adalah agar doa kita didengar Tuhan. Bahkan selain mengajarkan agar kita berdoa di tempat tersembunyi, Tuhan Yesus juga mengajar kita suatu konsep doa yang sangat luar biasa, yang kita lebih kenal dengan nama “Doa Bapa Kami” (ay.9-15).

Walaupun demikian, ada sejumlah orang Kristen yang salah menangkap makna atau esensi dari Doa Bapa Kami ini. Mereka menjadikannya hanya sebagai hafalan semata atau suatu doa yang harus sering diulang-ulang setiap saat. Padahal Tuhan ingin agar kita berdoa dengan motivasi yang benar. Doa Bapa Kami harus dimaknai sebagai suatu contoh doa dengan prinsip-prinsip yang benar, antara lain yang memuliakan Bapa (ay. 9), meminta kehendak Bapa terjadi dalam kehidupan kita (ay. 10), bahkan meminta hal-hal yang cukup (bukan berkelimpahan) dalam hidup kita (ay. 11). Ini suatu konsep doa yang luar biasa, dan konsep ini yang harus kita lakukan dan aplikasikan dalam doa-doa pribadi kita kepada Tuhan, bukan hanya sekedar mengulang kata-kata yang sama dari Doa Bapa Kami.

Ingatlah bahwa bukan dari banyaknya kata-kata atau banyaknya pengulangan doa maka doa kita dikabulkan (ay. 7). Banyak agama lain di luar agama Kristen mengajarkan bahwa doa-doa yang diulang-ulang secara terus menerus hingga 100 kali bahkan lebih, maka hal itu akan mampu menjadi suatu doa yang akan dijawab oleh Tuhan. Namun Alkitab tidak pernah mengajarkan seperti itu. Kita harus menyadari bahwa Tuhan kita sudah mengerti apa yang menjadi keperluan kita bahkan sebelum kita berdoa dan meminta kepadaNya (ay. 8). Oleh karena itu, menurut pendapat saya, doa yang benar bukan saja hanya doa yang dijawab oleh Tuhan, tetapi doa yang benar adalah doa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kalau doa kita sudah sesuai dengan kehendak Tuhan, mau doa kita dijawab atau tidak dijawab sekalipun, tidak akan menjadi masalah bagi kita. Bukankah Yesus sendiri juga memiliki doa yang tidak dijawab oleh Allah Bapa ketika ia berdoa di taman Getsemani?

Kita harus belajar memiliki suatu privasi dalam doa-doa pribadi kita, khususnya doa-doa terkait pergumulan pribadi kita. Jangan pernah kita berdoa agar orang lain memuji kata-kata doa kita yang terdengar indah, padahal doa kita tidak berkuasa karena kita lebih fokus terhadap kata-kata doa kita dibandingkan dengan fokus kepada Tuhan yang mendengarkan doa kita. Belajarlah dari Tuhan Yesus, ketika ia berdoa pagi-pagi benar, ia berdoa sendirian tanpa murid-muridNya (Mrk 1:35). Bahkan ketika menaikkan doaNya di taman Getsemani, Yesus berdoa sendiri meninggalkan murid-muridNya yang tertidur (Mat 26:36-39). Doa yang dilakukan dengan motivasi yang benar, akan menjadi doa yang berkenan di hadapan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Matius 6:5-15
6:5 "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.
6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."