Minggu, 28 Juni 2020

Jangan Sampai Kita Menutup Pintu Keselamatan Orang Lain


Minggu, 28 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Matius 23:13
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Mat 23:13)


Jangan Sampai Kita Menutup Pintu Keselamatan Orang Lain


Ketika saya berdoa di suatu malam yang sepi, saya meminta ampun kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan di masa lalu. Saya sendiri memiliki karakter yang buruk, bahkan mungkin jauh lebih buruk daripada sebagian besar pembaca renungan ini. Dalam masa-masa kepicikan dan masa-masa kegelapan saya dahulu, hidup saya benar-benar berantakan. Dapat dikatakan bahwa jika saya meninggal dunia di masa-masa kebodohan saya di masa lalu, saya bisa saja ditolak masuk ke dalam surga oleh Tuhan.

Tentu Tuhan kita adalah Tuhan yang maha pengasih. Ketika kita sungguh-sungguh dan benar-benar bertobat, pasti Tuhan mengampuni dosa-dosa kita. Namun pertobatan kita haruslah pertobatan yang benar, disertai dengan kesungguhan hati dan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan kita, sehingga kita dapat mulai mengubah kodrat hidup kita, dari kodrat manusia yang penuh dosa menjadi kodrat ilahi.

Tetapi dalam malam tersebut, saya kemudian mulai menangis dan menitikkan air mata mengingat kesalahan-kesalahan saya di masa lampau. Saya menangisi keputusan-keputusan saya yang salah, karena itu bukan saja hanya berdampak pada diri saya, tetapi juga berdampak pada orang lain. Yang paling saya sesali adalah ketika saya melihat bahwa keputusan-keputusan saya yang salah, atau bahkan keputusan yang “hanya” tidak tepat, ternyata bisa membuat orang lain tidak diselamatkan.

Ada keputusan-keputusan saya yang tidak mempermuliakan nama Tuhan, sehingga orang-orang di sekitar saya yang beragama lain justru bisa mencibir kekristenan. Mereka bisa berkata: “Kok orang Kristen seperti itu sih? Apa bedanya dengan orang-orang beragama lain?”. Kehidupan saya tidak mencerminkan kehidupan anak-anak Allah yang agung. Kehidupan saya tidak dapat membuat orang lain yang melihat hidup saya kemudian memuliakan Tuhan (Mat 5:16). Justru karena hidup saya yang sangat buruk inilah nama Tuhan justru dihujat oleh orang-orang lain (Rm 2:24).

Dalam penyesalan saya tersebut, saya seakan-akan telah menutup pintu keselamatan bagi orang-orang yang ada di sekitar saya. Seakan-akan karena kesalahan saya yang sangat memalukan di masa lalu, mereka nyaris sudah tidak mungkin bisa diselamatkan, karena mereka pasti melihat bahwa kualitas hidup saya dan kualitas keputusan saya sangat rendah, bahkan mungkin tidak lebih baik dari kualitas keagamaan orang-orang tersebut.

Di sisi yang lain, saya juga pernah mengambil keputusan yang salah yang berdampak pada jemaat di suatu gereja lokal. Keputusan saya yang tidak tepat itu justru membuat konflik di antara jemaat, bahkan hingga sampai membuat konflik antara pendeta/gembala sidang dengan beberapa kelompok jemaat. Oleh karena kurangnya kebijaksanaan yang saya miliki, seakan-akan apa yang saya lakukan menjadi selalu salah. Walaupun saat ini saya sudah lebih bijak, namun kesalahan saya di masa lalu itu seakan-akan membuat apapun yang saya lakukan saat ini itu salah. Tepat sekali suatu peribahasa yang berkata “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Dan jujur, saya sangat menyesali itu.

Dalam penyesalan saya tersebut, saya teringat akan sebuah ayat yang pernah saya baca. Ayat tersebut berbicara tentang perkataan Tuhan Yesus kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dimana Tuhan Yesus mengecam kehidupan mereka yang tidak memancarkan keagungan Allah, padahal mereka sebenarnya adalah orang-orang yang mengerti hukum Taurat. Mereka seharusnya memiliki kehidupan yang lebih agung, setidaknya dalam hal pelaksanaan hukum Taurat. Namun, justru mereka dikatakan sebagai orang-orang yang munafik, karena mereka menutup pintu-pintu kerajaan surga bagi orang lain atau orang banyak (ay. 13a).

Seharusnya sebagai orang-orang yang mengerti hukum Taurat, mereka dapat mengajarkan apa yang mereka pandang benar kepada orang banyak yaitu orang Yahudi di masa itu. Dengan demikian, mereka membuka pintu kerajaan surga kepada orang banyak dan tidak menutup pintunya. Atau jika tidak, mereka seharusnya minimal berjuang memasuki pintu kerajaan surga dan dengan demikian mereka memberikan suatu contoh atau teladan hidup kepada orang banyak. Akan tetapi, dikatakan bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi tidak mau masuk ke dalam pintu kerajaan surga tersebut dan sekaligus tidak mau orang lain masuk ke dalamnya (ay. 13b). Ini adalah suatu Tindakan yang sangat jahat dan keji, karena mereka sebenarnya tahu apa yang baik, tetapi mereka tidak mau melakukannya, bahkan tidak mau orang lain menjadi baik pula (Yak 4:17).

Persis seperti inilah yang saya sesali atas kesalahan-kesalahan saya di masa lalu. Saya sendiri tidak berjuang masuk dalam kerajaan Allah (karena masih tidak mau melakukan apa yang baik dan benar di hadapan-Nya). Bahkan karena sikap saya tersebut, nama Tuhan justru dihujat dan orang lain bisa tidak mau mengenal kebenaran. Jangankan orang-orang di luar Kristen yang seharusnya jangan sampai menghujat Tuhan (karena mereka melihat keburukan dalam hidup saya), bahkan orang-orang di dalam jemaat saja bisa tersandung karena kesalahan saya. Saya ibarat menjadi suatu batu sandungan yang membuat orang-orang tidak dapat mengenal Tuhan dengan benar dan masuk ke dalam proses keselamatan yang benar.

Oleh karena itu, ke depannya saya ingin lebih berhati-hati lagi. Saya mulai belajar untuk menahan diri dalam ucapan, bahkan menahan jari-jari tangan saya supaya jangan sampai saya menulis sesuatu yang tidak menjadi berkat di media sosial. Saya mulai belajar menahan diri untuk tidak membalas, meskipun ada pihak-pihak yang menjelek-jelekkan nama saya, bahkan jika itu pun dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di dalam gereja. Saya menyadari mungkin ada kesalahan yang saya lakukan di masa lalu sehingga mereka melakukan hal itu (merusak nama baik saya). Bagi saya, jika Tuhan menyuruh saya untuk membela diri, maka saya akan membela diri. Jika tidak, maka lebih baik saya diam. Jika Tuhan tidak menyuruh saya untuk membela diri tetapi saya malah membela diri, maka yang ada justru saya kembali melakukan kesalahan yang sama, dan bisa jadi kondisi justru menjadi semakin runyam.

Dalam hari-hari terakhir ini, saya berusaha untuk benar-benar meminta agar saya dapat melakukan apa yang Tuhan kehendaki secara tepat. Hal ini bukan hanya terkait dosa-dosa yang melanggar moral umum (mencuri, membunuh, berzinah, dan lain sebagainya). Tetapi saya rindu memiliki suatu gairah untuk belajar tepat melakukan kehendak Allah dalam hal-hal yang terlihat kecil sekalipun. Saya mulai berjuang untuk memiliki hidup yang teduh dan tenang, sehingga apapun yang saya ucapkan, tulis di media sosial, bahkan yang saya lakukan, tidak menjadi batu sandungan. Saya tidak mau menjadi pihak yang menutup pintu keselamatan bagi orang lain, padahal mungkin jika saya lebih bijak, bisa jadi mereka masih memiliki kesempatan untuk mengenal karya keselamatan yang benar. Pertobatan saya haruslah tidak lagi mengenai pertobatan dari pelanggaran moral secara umum, tetapi bertobat dari kesalahan-kesalahan dalam mengambil keputusan, yang bisa menghambat orang masuk ke dalam kerajaan surga. Saya harus bertobat supaya suatu saat nanti saya jangan sampai ditolak masuk ke dalam kerajaan surga karena saya tidak melakukan kehendak-Nya (Mat 7:21-23).



Bacaan Alkitab: Matius 23:13
23:13 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Rabu, 24 Juni 2020

Memilih Pintu yang Benar di Sepanjang Jalan Kehidupan


Rabu, 24 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Matius 7:13-14
Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya (Mat 7:13)


Memilih Pintu yang Benar di Sepanjang Jalan Kehidupan


Mungkin saya sudah beberapa kali menulis renungan mengenai pintu yang lebar dan pintu yang sesak itu. Kebanyakan dari kita juga sudah pernah mendengar lagu mengenai ini sejak masa-masa sekolah minggu, yang liriknya kira-kira demikian: “Di dalam dunia ada dua jalan, lebar dan sempit, mana kau pilih? Yang lebar api, jiwamu mati. Tapi yang sempit, jiwa berglori”. Mungkin lirik lagunya agak sedikit berbeda di antara denominasi  gereja. Tetapi sejak kecil kita sudah diajarkan mengenai dua jalan ini. Apakah hal itu membawa implikasi yang kuat kepada kita yang saat ini sudah dewasa?

Dahulu, saya berpikir bahwa dua pintu itu adalah memilih agama. Pintu yang sempit atau sesak adalah pintu agama Kristen. Pintu yang lebar adalah pintu agama lain. Kita diharapkan untuk memilih salah satu pintu. Dan tentu saja, kita pasti memilih pintu yang sempit atau sesak itu. Tetapi kenyataannya, kita mungkin tidak pernah memilih, apalagi kita yang sudah lahir di keluarga yang beragama Kristen. Kita menjadi seorang Kristen karena orang tua kita Kristen. Jadi sejak lahir kita sudah beragama Kristen.

Bagi orang-orang yang lebih dewasa, perkataan Tuhan Yesus tersebut mungkin lebih dapat dihayati. Mereka harus memilih tetap menjadi orang Kristen atau memilih pintu yang lain. Tetapi kebanyakan orang Kristen berpikir bahwa pintu tersebut hanya ada satu kali (hanya satu kali memilih). Mereka yang merasa sudah memilih pintu yang sesak merasa sudah selamat. Jika mau diakui, banyak orang beragama Kristen merasa sudah selamat karena mereka sudah mengaku percaya kepada Tuhan.

Persoalannya, apakah pilihan itu hanya sekali? Apakah ketika orang percaya kepada Tuhan maka sepanjang umurnya ia tidak akan berkhianat? Bagaimana dengan para penjahat yang beragama Kristen? Para koruptor yang mengaku beragama Kristen? Mengapa mereka mengaku beragama Kristen tetapi kehidupan mereka tidak memancarkan keagungan kekristenan yang seharusnya dimiliki?

Tuhan Yesus berkata supaya kita masuk melalui pintu yang sesak (ay. 13a). Tuhan juga menyatakan bahwa ada pintu lain yang lebar dan jalan yang luas di balik pintu itu (ay. 13b). Namun jalan yang luas itu menuju kepada kebinasaan dan banyak orang yang masuk melaluinya (ay. 13c). Dalam ayat selanjutnya Tuhan Yesus berkata bahwa pintu yang benar adalah pintu yang sesak, dan ada jalan yang sempit di balik pintu itu. Namun jalan itu menuju kepada kehidupan, dan hanya sedikit orang yang mendapatinya (ay. 14).

Seringkali orang Kristen merasa sudah masuk pintu yang sempit itu. Mereka merujuk kepada orang-orang lain yang tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus dan dengan demikian men-judge­ orang-orang tersebut yang sedang berjalan menuju kepada kebinasaan. Mereka merasa sudah masuk melalui pintu yang benar dan sudah berjalan di jalan yang sempit itu. Namun apakah benar demikian?

Dalam ucapan Tuhan Yesus ini, tentu jelas bahwa di dunia ini hanya ada dua pilihan: pintu dan jalan yang benar atau pintu dan jalan yang salah. Jika ada pepatah “banyak jalan menuju ke Roma”, sesungguhnya hanya ada satu jalan yang benar kepada Bapa, dan selain itu pasti bukan jalan yang benar. Memang dikatakan bahwa orang harus memilih pintu yang mana yang akan ia buka? Ayat ini jika hanya dibaca sekilas seakan-akan mengesankan bahwa pintu itu adalah keputusan memilih agama Kristen atau bukan. Sebenarnya pintu itu adalah pintu iman percaya. Tetapi iman percaya itu tidak boleh hanya dipahami sebagai memilih agama dengan mengaku percaya kepada Tuhan Yesus. Mengaku percaya kepada Tuhan Yesus barulah langkah awal dari proses keselamatan yang panjang, seperti suatu jalan panjang (dalam bahasa Yunan: hodos atau lorong yang panjang).

Konsekuensi logis dari memilih pintu adalah membuka pintu dan melewati jalan yang ada di balik pintu itu. Percuma saja jika orang memilih pintu yang sesak tetapi tidak mau melewati jalan yang sempit itu. Hal itu sama saja dengan tidak memilih pintu yang sesak. Tidak memilih pintu yang sesak juga sama artinya dengan memilih pintu yang lain. Keselamatan harus dipahami sebagai memilih pintu yang sesak, membuka pintu, dan masuk melewati jalan sempit yang ada untuk menuju kepada kehidupan. Dapat dikatakan bahwa membuka pintu sesak adalah langkah awal dari keselamatan yang benar.

Jalan yang harus kita tempuh sebenarnya adalah suatu jalan salib, suatu jalan panjang yang penuh dengan penderitaan ketika kita memilih untuk melakukan kehendak Bapa. Jalan inilah yang sudah dilalui oleh Tuhan Yesus ketika Ia berinkarnasi menjadi manusia sekitar 2.000 tahun yang lalu. Tidak heran Tuhan Yesus berkata bahwa Ia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa jika tidak melalui diri-Nya (Yoh 14:6). Jika Tuhan Yesus adalah Jalan itu sendiri, artinya jalan sempit di balik pintu yang sesak itu adalah jalan kehidupan yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus: bagaimana Ia mengosongkan diri-Nya dan menjadi manusia, bagaimana Ia belajar sejak masa kecilnya, bersedia dibaptis, melakukan pekerjaan yang harus ditunaikan-Nya, hingga ketaatan-Nya yang tanpa batas sampai mati di atas kayu salib. Kehidupan Tuhan Yesus ketika menjadi manusia adalah teladan yang harus kita lakukan. Inilah jalan salib yang menjadi bagian kita. Tuhan Yesus sudah melewatinya hingga garis akhir sekitar 2.000 tahun yang lalu. Sekarang, kita yang mengaku Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, kita juga harus mengikuti jejak Tuhan Yesus yaitu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa berikan secara spesifik dalam hidup kita.

Persoalannya, dahulu saya berpikir bahwa setelah saya memilih pintu yang sesak lalu masuk melaluinya dan mulai berjalan dalam jalan yang sempit dan sukar itu, maka saya tinggal berjalan melaluinya. Ibarat jalan tol yang hanya tinggal menjalaninya saja menuju kemuliaan kekal di akhir jalan itu. Akan tetapi, semakin saya melewati jalan hidup saya, saya merasa jalan ini semakin sempit dan semakin sukar. Dalam perjalanan hidup saya tersebut, saya melihat bahwa sepanjang jalan seakan-akan selalu ada pintu yang lebar. Pintu-pintu yang lebar itu sekaan-akan menggoda saya untuk membukanya karena ada jalan yang lebar di baliknya. Dapat diilustrasikan bahwa sepanjang jalan yang sempit itu, kita selalu dihadapkan pada pilihan: pintu yang sesak dan pintu yang lebar. Mana yang kita pilih?

Ketika kita memilih pintu yang lebar, kita sebenarnya sedang menjauh dari jalan yang benar. Namun jika Tuhan masih memberi kita kesempatan, maka akan ada lagi pilihan: pintu yang lebar atau pintu yang sesak. Jika kita memilih pintu yang sesak, maka kita bisa kembali masuk ke jalan yang benar, yaitu jalan yang sempit. Dan begitu terus berulang di sepanjang jalan kehidupan: dengan level yang semakin tinggi, semakin besar juga godaan untuk memilih pintu yang lebar itu mengingat semakin sempit dan sukar jalan yang harus kita lalui

Dalam ayat yang hampir mirip, Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus berjuang untuk masuk ke dalam pintu yang sesak itu. Banyak orang akan berusaha tetapi tidak dapat (Luk 13:24). Mereka yang berusaha saja belum tentu dapat memasuki pintu itu, apalagi jika pilihan itu ada di sepanjang jalan kehidupan kita. Tentu kita tidak dapat melangkah tanpa kasih karunia dan anugerah Tuhan. Kita membutuhkan tuntunan Roh Kudus dalam melalui jalan yang sempit itu. Tetapi ketika kita dihadapkan pada pilihan, di situ kita harus bertanggung jawab atas pilihan kita. Jika selama ini kita sudah sering memilih pintu yang lebar, maka hendaknya kita dengan rendah hati bertobat dan memohon ampun kepada Tuhan, serta selanjutnya berjuang kembali ke jalan yang benar, dengan memilih pintu yang sesak dan menjalani jalan yang sempit itu. Jika kita masih mengeraskan hati, maka kita akan semakin jauh terhilang dari jalan yang benar. Jika tidak sungguh-sungguh mau bertobat, hampir mustahil kita dapat kembali ke jalan yang benar itu. Mereka yang sudah terbiasa memilih pintu yang lebar, akan sangat sulit bagi mereka untuk memilih pintu yang sesak ketika dihadapkan pada pilihan di sepanjang jalan kehidupan mereka.



Bacaan Alkitab: Matius 7:13-14
7:13 Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;
7:14 karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Kamis, 18 Juni 2020

Tidak Ada yang Berkekurangan, Tetapi Tidak Semua Pasti Berkelimpahan


Jumat, 19 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 4:32-35
Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa (KIs 4:34)


Tidak Ada yang Berkekurangan, Tetapi Tidak Semua Pasti Berkelimpahan


Dalam gereja-gereja masa kini, sedang ada tren mengenai khotbah-khotbah yang menjanjikan hidup berkelimpahan di dalam Tuhan. Alasan yang sering dikemukakan adalah bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang sangat baik dan pasti melindungi anak-anak-Nya. Karena Tuhan baik, tentu Ia ingin agar anak-anak-Nya hidup dalam berkat-berkat-Nya secara bekelimpahan. Dalam hal ini berkat Tuhan sering hanya dipandang sebagai berkat secara materi, dalam hal ini khususnya merujuk kepada uang, kekayaan, jabatan, nama baik, kehormatan, dan lain sebagainya.

Tentu tidak ada orang yang ingin menjadi miskin. Semua orang pasti memiliki keinginan menjadi kaya, banyak harta, terhormat, dan lain sebagainya. Oleh karena itu khotbah-khotbah mengenai janji kelimpahan di dalam Tuhan sangat populer dan terbukti mampu membawa banyak orang datang ke gereja. Tentu patut dipertanyakan apakah motivasi orang-orang ini datang ke gereja, apakah mencari Tuhan, ataukah lebih mencari berkat-Nya (uang dan kekayaan).

Para pengkhotbah dan pembicara yang menyampaikan khotbah-khotbah semacam ini tentu banyak menggunakan ayat-ayat mengenai berkat, kekayaan, dan kelimpahan. Seringkali ayat-ayat yang digunakan memang memuat kata-kata yang dimaksud (misal: kekayaan atau kelimpahan), tetapi ayat tersebut hanya diambil sepotong tanpa melihat konteks (baik konteks dekat maupun konteks jauh). Ayat favorit mereka misalnya Yoh 10:10, Flp 4:19, 1 Tes 3:19, dan mungkin juga ayat di perikop kita hari ini (ay. 33). Mereka hanya mengutip ayat tentang kelimpahan (bahkan mungkin hanya diambil separuh atau sebagian dari ayat tersebut dan dikhotbahkan) tanpa melihat konteksnya dengan proporsional.

Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang kehidupan jemaat mula-mula. Ini adalah kondisi jemaat beberapa saat setelah hari Pentakosta. Pada waktu itu, kehdiupan jemaat mula-mula masih seperti kehidupan orang Yahudi pada umumnya: berdoa di waktu-waktu tertentu dan jika memungkinkan beribadah di Bait Allah. Namun tentu ada ciri-ciri khusus yang membedakan jemaat mula-mula dengan orang Yahudi lain, khususnya karena jemaat mula-mula memiliki kasih yang sangat kuat. Dikatakan bahwa mereka sehati dan sejiwa, bahkan segala sesuatu adalah kepunyaan bersama (ay. 32). Hal ini tentu sangat berbeda dengan kebanyakan orang Yahudi pada waktu itu (khususnya Ahli Taurat dan orang Farisi) yang cenderung pelit, egois, dan tidak mau berbagi.

Jelas bahwa jemaat mula-mula pasti nampak berbeda dari kebanyakan orang lain pada waktu itu. Para rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, sebagai bukti bahwa Yesus memang adalah Mesias yang dijanjikan Allah kepada mereka (ay. 33a). Dalam hal ini mereka hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah (ay. 33b). Ayat 33b inilah yang sering dikutip oleh para pembicara yang saya maksud di awal renungan ini. Mereka mengatakan bahwa jemaat mula-mula adalah contoh yang baik, dan bahkan ada banyak khotbah yang mengatakan supaya kita kembali kepada kasih yang mula-mula, atau seperti jemaat mula-mula. Mereka berkata bahwa karena kita harus kembali kepada kasih yang mula-mula, maka Tuhan akan memberikan kasih karunia dengan berlimpah-limpah.

Sayangnya, pemahaman kasih karunia ini sering dimaknai secara sempit. Kasih karunia hanya dipandang sebagai berkat jasmani, uang, harta, kekayaan, dan lain sebagainya. Intinya para pembicara ini mengatakan bahwa jika kita seperti jemaat mula-mula, maka kita akan diberkati dengan berlimpah-limpah, apalagi jika kita tidak pelit kepada Tuhan, dengan mengacu kepada ayat 32. Konsep “tidak pelit” ini pun sering dimaknai hanya tidak pelit ke gereja (tidak pelit memberikan persembahan, apalagi persembahan persepuluhan yang dapat dinikmati langsung oleh para pendeta). Ayat yang sering digunakan adalah ayat-ayat selanjutnya yang menyatakan bahwa jemaat menjual harta miliknya lalu membawanya kepada rasul-rasul (ay. 35a). Mereka memahami ini sebagai bukti bahwa jemaat harus menjual miliknya lalu membawa kepada para pendeta (yang dianggap sebagai penerus para rasul).

Padahal jika kita mau jujur, kita harus melihat konteks ayat-ayat tersebut secara benar. Memang ayat 33 berbicara mengenai kelimpahan, tetapi sebenarnya kelimpahan dalam kasih karunia, bukan hanya kelimpahan dalam berkat jasmani. Memang benar bahwa jemaat mula-mula banyak yang menjual harta miliknya lalu memberikannya kepada para rasul. Akan tetapi, uang hasil penjualan harta tersebut tidak untuk dinikmati para rasul, melainkan untuk dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya (ay. 35b). Oleh karena itu perhatikan bahwa jemaat mula-mula memiliki ciri yang khas: tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka (ay. 34).

Kalimat tidak ada yang berkekurangan di dalam jemaat bukan berarti semua jemaat hidup dalam kelimpahan. Kalimat tersebut harus dimaknai bahwa tidak ada jemaat yang sampai jatuh miskin, karena semua orang bersedia menolong jemaat yang lemah. Mereka menanggung jemaat yang berkekurangan dari jemaat-jemaat yang berkelebihan. Tidak heran bahwa prinsip persembahan dalam Alkitab bukanlah supaya ada orang lain yang berkelimpahan, tetapi supaya terdapat keseimbangan (2 Kor 8:13-14). Sebenarnya prinsip ini pun sudah ada di dalam Perjanjian Lama. Misalnya saja konsep persembahan persepuluhan tidak dimaksudkan supaya kaum Lewi menjadi kaya (lebih kaya dari suku-suku lainnya), tetapi supaya ada keseimbangan, sehingga 11 suku yang lain yang bisa memiliki tanah dan bercocok tanam serta berternak, juga memperhatikan suku Lewi yang tidak memiliki tanah (tidak bisa bercocok tanam dan berternak).

Sayangnya, prinsip keseimbangan ini sering diabaikan di gereja-gereja masa kini. Para pendeta sibuk mengkhotbahkan tentang kelimpahan jasmani, dengan syarat jemaat harus rajin memberi persembahan kepada gereja. Seringkali pendeta sibuk memperkaya diri sendiri, tetapi ketika jemaat ada yang kesulitan, mereka seperti menutup mata. Saya pernah mendengar dari salah seorang Kristen yang datang ke pendetanya/gembala sidangnya dan berkata bahwa ada jemaat lain yang kesusahan, dan bahkan memiliki hutang yang cukup besar hingga dikejar-kejar oleh debt collector. Akan tetapi pendetanya tidak mau membantu dan berkata bahwa harusnya jemaatlah yang harus membantu. Memang benar bahwa jemaat harus saling membantu satu sama lain. Tetapi jika demikian, apakah guna gereja? Apakah guna kolekte, kantong persembahan, dan kas gereja yang berjumlah banyak? Kalaupun memang gereja tidak bisa membantu semua jemaatnya, paling tidak seharusnya ada kontribusi dari pemimpin gereja untuk membantu sebagian dari kebutuhan jemaat yang berkekurangan tersebut.

Tentu kita harus membuka mata bahwa terkadang ada orang-orang yang memanfaatkan dana sosial seperti ini. Oleh karena itulah pengelolaan keuangan gereja harus diserahkan kepada mereka yang memang berkompeten, berkualitas, dan berintegritas. Akan tetapi seharusnya prinsip ini sudah jelas: bahwa sebisa mungkin jangan sampai ada jemaat yang berkekurangan. Khotbah-khotbah di atas mimbar gereja seharusnya tidak lagi menekankan mengenai janji-janji bahwa jemaat akan hidup dalam kelimpahan, tetapi harus mendorong agar tidak ada lagi jemaat yang hidup berkekurangan. Mereka yang sedang mengalami masa-masa sulit harus dibantu agar dapat melewatinya. Mereka yang salah mengambil keputusan khususnya terkait keuangan (misal: berhutang kepada rentenir) juga harus dibantu agar tidak lagi jatuh ke dalam kesalahan yang sama. Jika mungkin, gereja harus memberdayakan jemaatnya supaya bisa mandiri secara finansial. Namun pada kenyataannya, seringkali gereja justru “memperdaya” jemaatnya supaya memberi lebih banyak kepada pihak-pihak tertentu, sehingga jurang antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin malah semakin lebar.



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 4:32-35
4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
4:33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
4:34 Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Menyadari Posisi Kita sebagai Tanah Liat di Tangan Penjunan


Kamis, 18 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Yeremia 18:1-4
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. (Yer 18:4)


Menyadari Posisi Kita sebagai Tanah Liat di Tangan Penjunan


Sudah sangat sering kita sebagai orang Kristen mendengar khotbah atau membaca renungan mengenai tanah liat dan penjunan. Kita juga tentu sudah banyak menyanyikan lagu rohani mengenai hal ini. Akan tetapi, banyak di antara kita yang belum mengerti makna dari ayat-ayat ini secara proporsional. Saya sendiri sudah bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun memahami ayat ini secara kurang tepat.

Tentu sebagai orang yang lahir di keluarga Kristen, saya sudah mendengar ayat ini sejak kecil. Yang saya pahami, Tuhan itu ibarat seorang pembuat periuk yang sedang mengerjakan tanah liat. Saya memahami bahwa kita adalah tanah liat di tangan Tuhan. Oleh karena itu, sejak kecil saya memahami bahwa Tuhan adalah Tuhan yang baik, sehingga setiap ada masalah yang saya hadapi, saya selalu berkata bahwa Tuhan mengetahui rencana yang baik dalam hidup saya, dan pasti nanti Tuhan memberikan jalan keluar. Ayat yang seringkali saya ucapkan pada saat saya menghadapi masalah (baik itu masalah karena kesalahan saya sendiri ataupun karena penyebab lainnya) adalah “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yer 29:11).

Namun ternyata selama ini saya memahami hubungan antara tanah liat dan penjunan masih kurang tepat. Dalam konteks ayat yang sering dikutip oleh para pembicara dan pengkhotbah ini, kita melihat bagaimana Tuhan berfirman kepada Yeremia untuk pergi ke tempat tukang periuk yang sedang bekerja (Yer 18:1-3). Di sana ia melihat tukang periuk yang mengerjakan tanah liat di tangannya. Jika tanah liat yang sedang diproses itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menurut apa yang baik pada pemandangannya (ay.4).

Sampai disini kita mungkin sudah merasa paham mengenai maksud ayat ini. Tetapi saya hendak menunjukkan dua kutub ekstrem terkait pemahaman ayat ini. Kutub pertama berpendapat bahwa Tuhan itu baik, jadi kita cukup diam saja menunggu pembentukan Tuhan (kelompok pasif). Kelompok ini sering menggunakan lagu-lagu semacam “Aku berserah” tanpa memahami konteks lirik lagu itu. Yang dipikirkan oleh mereka adalah setiap orang Kristen cukup diam tanpa bertindak dan menunggu Tuhan melakukan bagian-Nya.

Saya tidak mengatakan bahwa jika kita diam maka kita salah. Tetapi di satu sisi ada bagian yang harus kita lakukan. Kelompok ini cenderung berkata bahwa kita sudah diselamatkan oleh kasih karunia, sehingga kita tidak perlu berbuat apa-apa. Dalam kondisi ekstrem, mereka yang ada di kutub ini tidak akan merasa perlu berbuat baik karena berpikir mereka sudah percaya kepada Tuhan. Mereka masih suka hidup dalam dosa, misalnya: masih suka berjudi, mabuk, berkata kasar, dan lain sebagainya. Tetapi dalam pikiran mereka, yang penting mereka sudah merasa selamat, dan nanti Tuhan pasti membawa mereka ke surga.

Sementara kutub kedua berpendapat bahwa yang penting kita bekerja keras (kelompok aktif). Jika nanti Tuhan tidak suka pasti nanti Tuhan akan menghambat jalan kita, sehingga kita nanti akan diarahkan pada jalan yang benar. Kelompok ini dalam kondisi ekstrem sering melupakan Tuhan. Mereka baru mengingat Tuhan kalau ada masalah berat yang dihadapi. Kalau tidak, mereka melupakan Tuhan. Atau ketika mereka sudah menyelesaikan masalah, mereka sudah melupakan Tuhan kembali.

Yang saya pahami, kita jangan sampai terjebak dalam ekstremitas kedua kutub tersebut. Kita tidak boleh terlalu pasif atau terlalu aktif namun melupakan Tuhan. Yang benar adalah kita harus seperti tanah liat di tangan penjunan. Kita harus berusaha mencari tahu panggilan kita, yaitu apa maksud Sang Penjunan dalam diri kita. Seorang penjunan atau tukang periuk yang baik pasti tidak sembarangan mengambil tanah liat dan membentuk tanpa maksud. Ketika seorang penjunan sudah mengambil tanah liat untuk dibentuk, ia pasti sudah memiliki pandangan akan apa yang hendak ia buat (ay. 4).

Bayangkan jika tanah liat adalah tanah liat yang pasif, ia tentu tidak akan mempersoalkan hendak dijadikan apa dirinya. Ia hanya bersikap pasif, mungkin seperti tanah liat yang lembek, yang setiap kali mau dibentuk tetapi selalu gagal karena terlalu pasif. Pada akhirnya orang-orang seperti ini tidak akan mampu dibentuk hingga menjadi apa yang dikehendaki oleh sang penjunan. Sikap ini sebenarnya bukan sikap yang tepat terhadap sang penjunan.

Jika tanah liat adalah tanah liat yang terlalu aktif, maka tanah liat itu biasanya mempunyai pandangan bahwa ia harus menjadi suatu bentuk tertentu. Ia tidak mau mempersoalkan apa kehendak sang penjunan atas dirinya. Ia sudah memiliki pola pikir yang terbentuk sejak awal dan sulit diubah. Jika tanah liat itu sudah terlalu keras, ia tidak akan dapat menerima pembentukan dari sang penjunan. Hingga akhirnya, bisa jadi bentuk dirinya tidak akan sama dengan apa yang diinginkan sang penjunan.

Yang terpenting dalam hal ini adalah bagaimana kita memiliki kelenturan di hadapan Sang Penjunan Agung, Tuhan kita. Jika kita paham posisi kita sebagai tanah liat, kita seharusnya mempersoalkan apa kehendak penjunan atas diri kita, bagaimana bentuk akhir yang diinginkan sang penjunan tersebut, dan bagaimana kita bisa memiliki kesediaan untuk dibentuk oleh sang penjunan menjadi bentuk akhir yang diinginkan sang penjunan tersebut. Kita tidak bisa hanya pasif, tetapi kita harus benar-benar merespon setiap proses pembentukan sang penjunan itu.

Bayangkan jika tanah liat tidak tahu apa bentuk yang diinginkan, atau tanah liat sudah memiliki konsep mengenai bentuk akhirnya. Tentu ketika sang penjunan membentuk tanah liat tersebut, respon yang dihasilkan tanah liat tidak akan tepat: bisa terlalu lembek atau terlalu keras. Namun jika tanah liat mengerti bentuk akhir yang diinginkan sang penjunan, yang dapat menyenangkan hati sang penjunan, maka kita juga akan berusaha aktif mencapai bentuk itu. Jika ada proses pembentukan yang mungkin menyakitkan, kita akan dengan cepat mengerti bahwa semua itu dilakukan sang penjunan karena ingin membentuk kita dengan sesempurna mungkin.

Inilah sikap yang benar, yaitu tanah liat yang mengerti kehendak penjunannya, yang juga mau aktif berjuang untuk mencapai bentuk tersebut, tetapi mengizinkan tangan penjunannya membentuk dirinya. Inilah sikap yang benar sebagai orang-orang Kristen. Namun seringkali kita tidak pernah memperkarakan secara proporsional apa kehendak Allah dalam diri kita. Dalam doa-doa yang kita ucapkan, kita seringkali banyak meminta ini dan itu, mengingini ini dan itu, tanpa pernah mempersoalkan apa sebenarnya yang Allah kehendaki dalam hidup kita.

Oleh karena itu, saya mengajak kita semua mulai memperkarakan kehendak Allah dalam diri kita masing-masing. Tentu ada maksud Allah mengapa kita lahir di negara ini, dari suku ini, dari keluarga ini, atau lahir di waktu ini. Mengapa Allah membuat kita lahir sebagai pria atau wanita, mengapa kita memiliki karakter seperti ini, bakat dan talenta seperti ini, bahkan memiliki kelemahan-kelemahan seperti ini. Semua tentu ada maksud Allah dalam hidup kita. Dan kita harus menemukan posisi kita yang unik dan special dalam pekerjaan-Nya, yang tidak mungkin bisa digantikan oleh orang lain. Kita harus menemukan maksud Allah yang khusus dalam diri kita, yang harus kita kerjakan dan kita selesaikan.

Seharusnya kita paham bahwa tujuan akhir hidup kita bukanlah di dunia ini, tetapi dalam kerajaan-Nya yang kekal: di langit yang baru dan bumi yang baru (Why 21-22). Jadi proses akhir dari pembentukan Sang Penjunan Agung itu bukanlah di dunia ini. Waktu hidup kita adalah waktu dimana Sang Penjunan Agung masih memproses kita. Jika waktu kita sudah habis, maka hanya ada dua kemungkinan: 1) Kita sudah mencapai bentuk yang diinginkan oleh Sang Penjunan, dan kita akan menjadi perabot bagi-Nya dalam kekekalan (2 Tim 2:20-21); atau 2) Kita tidak mencapai bentuk yang Allah kehendaki, sehingga kita harus dibuang dari hadapan-Nya dan ditolak masuk ke dalam kerajaan-Nya (Mat 7:21-23). Oleh sebab itu, hendaknya kita senantiasa belajar dari teladan Tuhan Yesus yang telah menyelesaikan tugas-Nya selama menjadi manusia. Kita harus dapat berkata di akhir hidup kita bahwa kita telah melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan yang dikehendak-Nya dalam hidup kita (Yoh 4:34).



Bacaan Alkitab: Yeremia 18:1-4
18:1 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:
18:2 "Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu."
18:3 Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan.
18:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

Jumat, 12 Juni 2020

Harus Menderita Aniaya


Jumat, 12 Juni 2020
Bacaan Alkitab: 2 Timotius 3:10-13
Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya (2 Tim 3:12)


Harus Menderita Aniaya


Jika kita mendengar kata “aniaya”, apakah yang ada dalam pikiran kita? Kebanyakan kita akan membayangkan sesuatu yang menyakitkan, sulit, mengalami penderitaan, atau kondisi yang tidak menyenangkan. Sebagian kita akan langsung membayangkan kondisi jemaat mula-mula yang mengalami aniaya dengan hebat. Sebagian lagi akan membayangkan kondisi beberapa gereja di negara atau daerah tertentu yang mengalami aniaya karena iman percaya mereka kepada Tuhan.

Saya yakin hampir sebagian besar orang yang membaca renungan ini sedang dalam kondisi yang tidak mengalami aniaya karena iman kita kepada Tuhan Yesus. Mungkin kita sedang ada dalam kondisi yang tenang, aman, nyaman, atau paling tidak kita masih dapat menjalankan ibadah kita tanpa gangguan. Kita masih dapat pergi ke gereja tanpa ada tekanan dan aniaya. Kita masih dapat membaca Alkitab dan berdoa tanpa larangan. Hal ini dianggap sebagai suatu kehidupan kekristenan yang nampak normal dan wajar, khususnya bagi kita yang hidup di zaman ini.

Hari ini kita belajar dari kitab 2 Timotius, yang merupakan surat terakhir dari Paulus sebelum kematiannya. Ia menuliskan suatu surat personal kepada Timotius, anak rohaninya, yang antara lain menyiapkan Timotius untuk melanjutkan pekerjaannya, antara lain untuk memberitakan Injil dan menggembalakan jemaat Tuhan. Dalam suratnya ini Paulus menulis bahwa Timotius telah mengenal Paulus dan kehidupannya. Paulus sudah memberikan suatu teladan yang sangat luar biasa, dimana Timotius dapat meneladani hidup Paulus tersebut nyaris dalam segala hal: dalam hal ajaran yang sehat, cara hidup yang mulia, pendirian yang teguh, iman yang tak tergoyahkan, kesabaran, kasih yang tanpa batas, dan ketekunannya (ay. 10).

Selain semua hal positif itu, Paulus juga menyampaikan bahwa ia telah meninggalkan teladan dalam hal aniaya dan sengsara yang dialami olehnya. Paulus menyampaikan bagaimana ia telah mengalami begitu banyak aniaya, sengsara dan penderitaan sebagai pengikut dan hamba Kristus selama hidupnya, seperti yang tertulis di suratnya kepada jemaat Korintus (2 Kor 11:23-28). Tidak dapat dipungkiri, bahwa dalam hal aniaya dan sengsara ini, hidup Paulus ibarat suatu buku atau catatan yang terbuka. Dikatakan bahwa Timotius sebagai anak rohaninya juga sudah mengalami aniaya dan sengsara, seperti yang Paulus alami di Antiokhia, Ikonium dan Listra (ay. 11a). Sepertinya mengikut Tuhan Yesus pada saat itu sangatlah berat. Sebenarnya bukan saja berat, tetapi sangat berat dan nyaris mustahil dengan kekuatan sendiri. Akan tetapi, Paulus berkata bahwa semua penganiayaan itu telah ia derita di dalam kasih karunia Tuhan, dan Tuhan pun telah berkenan melepaskan Paulus dari segala penderitaan tersebut (ay. 11b).

Sekilas terlihat bahwa Tuhan pasti melepaskan anak-anak-Nya dari kesulitan dan marahabaya. Banyak orang Kristen hanya melihat ayat 11b, khususnya bagian terakhir dimana Tuhan melepaskan Paulus dari segala masalah. Tetapi jangan lupakan bahwa semua penganiayaan itu memang benar-benar telah Paulus alami, dan Paulus benar-benar menderita karenanya. Kata “kuderita” dalam ayat 11b tersebut menggunakan kata hypēnenka (ὑπήνεγκα) dari akar kata hupopheró (ὑποφέρω). Kata ini dapat berarti to bear by being under, to endure, to bear patiently (menanggung/memikul di bawah suatu hal, bertahan/menderita, menanggung dengan sabar). Dengan demikian, semua penderitaan dan aniaya itu tidak serta merta dilepaskan Tuhan begitu saja, tetapi ada bagian yang tetap harus ditanggung oleh Paulus. Dalam beberapa terjemahan Alkitab bahasa inggris, digunakan tanda seru setelah kata “kuderita” ini, yang menunjukkan bahwa Paulus benar-benar mengalami aniaya dan sengsara yang hebat dan bukan hanya mengalami sebagian, lalu Tuhan membebaskan. Dalam hal ini kita dapat melihat keteguhan iman Paulus yang tidak tergoncangkan meskipun dalam aniaya sehebat apapun, bahkan hingga ia menyerahkan nyawanya bagi Tuhan yang dicintainya. Dalam ayat selanjutnya Paulus menuliskan suatu prinsip yang luar biasa: “Setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (ay. 12). Muncul pertanyaan, apakah ayat ini masih relevan dengan hidup sebagian orang Kristen di masa modern ini?

Untuk menjawabnya, setidaknya kita harus membedah 2 kata dalam ayat ini, yaitu “beribadah” dan “aniaya”. Kata “beribadah” di ayat ini tidak boleh dipandang sebagai ibadah secara sempit. Banyak orang Kristen berpikir bahwa ibadah dalam kekristenan hanyalah pergi ke gereja, berdoa menyanyi lagu pujian, mendengarkan Firman, dan memberikan persembahan. Hal itu sebenarnya kurang tepat. Memang di gereja kita dapat beribadah. Tetapi ibadah di gereja sebenarnya barulah sebagian kecil dari ibadah kita yang sebenarnya. Ibadah kita adalah kehidupan kita setiap hari yang kita persembahkan bagi kemuliaan Allah. Ibadah di gereja (yang hanya sekitar 2 jam), hanyalah sebagian kecil dari seluruh ibadah yang harus kita persembahkan setiap waktu: yaitu seluruh kehidupan kita sebagai suatu persembahan yang hidup kepada Allah (Rm 12:1).

Sementara itu kata “aniaya” hendaknya tidak hanya dipandang sebagai aniaya secara fisik (seperti yang dialami oleh jemaat mula-mula, atau sebagian jemaat di daerah-daerah tertentu). Kata “aniaya” di sini menggunakan kata diōchthēsontai (διωχθήσονται) dari akar kata diókó (διώκω). Kata ini dapat berarti to put to flight, pursue, to persecute, to press on (diharuskan lari/kabur, dikejar/diburu, dianiaya, ditekan). Kata ini umum digunakan pada seorang pemburu yang mengejar mangsanya. Selain itu, kata diókó juga memiliki makna tambahan yaitu to seek after eagerly, earnestly endeavor to acquire (mencari dengan penuh semangat, sungguh-sungguh berusaha untuk memperoleh sesuatu). Hal ini memang masih terkait dengan makna pemburu yang mengejar mangsanya, seakan-akan pemburu itu harus mendapatkan mangsa tersebut supaya ia dapat hidup (jika tidak dapat mangsa maka ia dapat mati). Makna seperti ini dapat dilihat pada sejumlah ayat dalam Perjanjian Baru, yang umumnya diterjemahkan dengan kata “mengejar” (Rm 9:30, 1 Tim 6:11, 2 Tim 2:22).

Menjadi persoalan jika kata aniaya dalam hal ini hanya dipandang sebagai aniaya secara fisik, karena jika demikian, orang-orang Kristen di negara-negara barat atau negara yang mayoritas beragama Kristen tidak akan mengalami aniaya secara fisik. Sementara Paulus mengatakan bahwa semua orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya (ay. 12). Hal ini juga akan menjadi masalah ketika kata beribadah hanya dipandang sebagai pergi ke gereja sekali seminggu saja, atau lebih parah lagi, hanya dipandang percaya Yesus dalam pikiran maka sudah beribadah. Jika demikian, makna kata aniaya dalam ayat 12 ini tidak akan dapat kita pahami secara proporsional.

Jika kita memahami bahwa ibadah adalah mempersembahkan seluruh kehidupan kita sebagai suatu persembahan yang hidup, kudus, dan yang berkenan kepada Allah, maka itu adalah suatu proses yang panjang dan membutuhkan usaha dan ketekunan yang serius. Kita akan belajar untuk menjaga hidup kita dari segala dosa dan kemelesetan. Kita akan belajar untuk menjaga setiap perbuatan kita, bahkan setiap perkataan kita supaya tidak berdosa kepada Tuhan. Kita akan belajar menghargai arti kehidupan kita dan bahkan menghayati kekudusan Allah yang luar biasa, dan berusaha untuk selalu hidup kudus dan berkenan di hadapan-Nya.

Jika demikian, maka aniaya itu bukan lagi merupakan suatu perbuatan yang menyakitkan yang orang lain lakukan terhadap kita (misalnya: dipukul atau difitnah karena kita orang Kristen atau mengalami ucapan yang tidak menyenangkan karena kita percaya kepada Tuhan Yesus). Aniaya itu adalah aniaya yang harus kita lakukan terhadap manusia lahiriah kita, yang penuh dengan kodrat dosa. Kitalah yang harus “menganiaya” manusia lama kita, bahkan harus mematikan manusia lama kita supaya kita mengenakan manusia baru di dalam Tuhan. Ini tidak hanya berbicara mengenai meninggalkan dosa-dosa umum (mencuri, membunuh, berzinah), tetapi juga meninggalkan segala percintaan dunia (sikap materialisme, kesombongan, dan lain sebagainya) yang lebih bersifat batiniah dan mungkin tidak melanggar hukum atau norma umum.

Selain hal tersebut, aniaya dalam hal ini juga dapat berarti kita akan terganggu ketika kita berusaha hidup benar, tetapi orang-orang jahat di sekitar kita justru sepertinya hidupnya tenang-tenang saja, bahkan seakan-akan tambah makmur dan diberkati. Dikatakan bahwa orang jahat dan mereka yang menipu akan semakin bertambah jahat. Mereka bukan hanya sudah disesatkan, tetapi mereka juga menyesatkan orang lain (ay. 13). Ini dapat merujuk pada kondisi orang dunia (di luar orang Kristen) yang semakin jahat di akhir zaman ini. Namun hal ini juga dapat merujuk pada “saudara-saudara palsu”, yaitu mereka yang beragama Kristen, ada di dalam gereja, bahkan mungkin sudah terlibat pelayanan, tetapi kehidupan mereka penuh dengan dosa dan kejahatan (dan pada umumnya sudah sangat sulit untuk dapat bertobat). Mereka ini justru adalah orang-orang yang berpotensi untuk menyesatkan orang percaya (karena sangat sulit bagi orang di luar jemaat untuk dapat menyesatkan orang percaya yang benar, sehingga besar kemungkinan ini juga merujuk kepada orang di dalam jemaat sendiri, bahkan mungkin pemimpin-pemimpin rohani yang palsu).

Bayangkan jika kita beribadah di suatu jemaat atau komunitas Kristen, kemudian kita berusaha sungguh-sungguh untuk hidup benar di hadapan-Nya. Kita belajar untuk hidup jujur, takut akan Tuhan dalam segala hal, dan lain sebagainya. Akan tetapi, ada beberapa orang di dalam jemaat tersebut yang dengan jelas-jelas melakukan dosa, korupsi, dan lain sebagainya tetapi hidupnya malah aman-aman saja, bahkan tidak jarang mereka justru mendapatkan posisi tertentu dalam jemaat (misalnya karena kekuatan dari uang dan kekayaan mereka). Di situlah kita mengalami aniaya, karena kita seakan-akan dikejar-kejar untuk hidup benar, tetapi justru orang yang tidak hidup benar semakin maju dan makmur. Hal ini hampir sama dengan apa yang pemazmur pergumulkan dalam Mazmur 73.

Jika kata beribadah dan aniaya dalam ayat 12 ini dipahami dengan benar, maka kita akan dapat lebih menghayati kebenaran yang ada dalam tulisan Paulus ini. Apa yang Paulus tulis sangat relevan dengan kondisi 2.000 tahun yang lalu, dan bahkan masih tetap relevan dengan kondisi kita di masa sekarang ini, dengan bentuk aniaya yang mungkin agak sedikit berubah (tidak harus aniaya secara fisik, tetapi aniaya secara batin/psikis). Hal ini juga dapat berarti bahwa kalaupun aniaya dari orang lain tidak ada (baik secara fisik atau psikis), kita lah yang harus “menganiaya” diri kita sendiri supaya kitab oleh berkenan kepada Allah. Tidak ada orang yang tidak mengalami aniaya yang dapat beribadah dengan benar kepada Tuhan. Oleh karena itu, jangan kita terlena jika hidup kita tenang-tenang saja, aman dan nyaman. Justru dalam kondisi itu kita harus memperkarakan dengan Tuhan, apakah ada bagian dalam diri kita yang masih merupakan kesenangan/kenikmatan kita tetapi Tuhan tidak berkenan? Jika ya, maka kitalah yang harus berani mengambil keputusan untuk “menganiaya” diri kita sendiri supaya hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan tersebut (meskipun justru merupakan kesenangan/kenikmatan bagi kita) dapat kita buang dari hidup kita.



Bacaan Alkitab: 2 Timotius 3:10-13
3:10 Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku.
3:11 Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.
3:12 Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,
3:13 sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.

Rabu, 10 Juni 2020

Lebih Taat kepada Allah daripada kepada Manusia


Selasa, 09 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 5:26-29
Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. (Kis 5:29)


Lebih Taat kepada Allah daripada kepada Manusia


Bagian bacaan Alkitab kita pada hari ini berbicara mengenai bagaimana Petrus dan Yohanes yang ditangkap dan kemudian dibawa untuk menghadap Mahkamah Agama Yahudi (ay. 26-27a). Kita tentu perlu mengetahui latar belakang peristiwa ini, yaitu ketika Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang yang lumpuh kakinya, dan kemudian memberitakan Yesus Kristus kepada orang banyak yang terheran-heran kepadanya (Kis 3:1-26). Sebelum peristiwa di ayat 26-29 ini, kita juga dapat melihat bahwa setelah peristiwa penyembuhan orang lumpuh tersebut, Petrus dan Yohanes sudah ditangkap dan dibawa kepada suatu sidang dimana terdapat Imam Besar dan ahli-ahli Taurat, dan mereka diperingatkan untuk tidak memberitakan nama Yesus di Bait Allah (Kis 4:5-22).

Dalam hal ini kita harus mengerti bahwa konteks keadaan pada waktu peristiwa ini ditulis adalah ketika jemaat masih sangat awal, bahkan sangat mula-mula. Pada waktu itu, para pengikut Kristus masih dianggap sebagai salah satu mazhab atau sekte dalam agama Yahudi (Kis 24:5 & 14, Kis 28:22). Tidak mengherankan karena Yesus sendiri dipandang sebagai seorang guru atau rabi, bahkan yang menyebutkan ini tidak hanya rakyat biasa tetapi juga Nikodemus, seorang pengajar Yahudi yang sangat dihormati (Yoh 3:2). Posisi kekristenan pada saat itu sebagai suatu mazhab dalam Yudaisme dapat dipahami karena pada waktu itu, para rasul masih mengadakan pertemuan di Bait Allah, bahkan masih bersembahyang di Bait Allah (Kis 2:46, 3:1).

Suatu agama pada umumnya (seperti agama Yahudi) setidaknya memiliki tiga ciri utama: 1) adanya liturgi, seremonial, atau upacara agama; 2) adanya penokohan orang-orang tertentu dan dominasi tokoh tersebut dalam ibadah; serta 3) adanya hukum dan syariat tertulis yang mengatur kehidupan umat beragama. Dalam hal ini, kekristenan pada masa awal-awal masih memiliki ciri-ciri seperti ini. Petrus dan Yohanes masih datang ke Bait Allah pada waktu sembahyang (Kis 3:1). Jemaat mula-mula juga dikatakan berkumpul setiap hari di dalam Bait Allah, yang kemungkinan besar adalah untuk bersembahyang sesuai adat dan tradisi agama Yahudi (Kis 2:46). Jemaat mula-mula juga masih terbatas memberitakan Injil kepada orang Yahudi, dan baru berani mendobrak tradisi ketika Petrus bertemu Kornelius. Hal ini berarti saat itu, para rasul pun masih memposisikan diri mereka sendiri sebagai bagian dari agama Yahudi, hanya saja mereka mengikuti ajaran Tuhan Yesus.

Dengan memahami kondisi dan latar belakang ini maka kita akan dapat mengerti posisi Petrus dan Yohanes pada waktu itu. Mereka dihadapkan kepada Imam Besar, yaitu pemimpin tertinggi agama Yahudi (ay. 27b). Ingat bahwa pada waktu itu, pengikut Yesus masih dipandang sebagai bagian dari agama Yahudi. Oleh karena itu, sebenarnya Petrus dan Yohanes sedang berhadapan dengan pemimpin agama mereka secara de jure. Imam Besar kemudian mengulangi keputusan yang telah mereka ambil dalam pertemuan sebelumnya, yaitu melarang para rasul mengajar dalam nama Yesus, akan tetapi ternyata para rasul tetap memberitakan kematian dan kebangkitan Yesus (ay. 28). Dengan bahasa lain, Imam Besar hendak menyatakan bahwa, ia adalah Imam Besar, pemimpin tertinggi agama Yahudi yang mewakili Allah, dan seharusnya para rasul juga taat dan tunduk kepada keputusannya. Akan tetapi, Petrus dan Yohanes menjawab: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (ay. 29). Apa artinya ini?

Hal tersebut sebenarnya merujuk pada mulainya pemisahan Kekristenan dari agama Yahudi. Kekristenan adalah jalan hidup, yaitu hidup dengan ketaatan mutlak kepada Allah. Oleh karena itu, jika ada suatu benturan antara apa yang Allah inginkan dan apa yang manusia inginkan, seharusnya orang Kristen berani dengan tegas berkata: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia”. Dalam hal ini, para rasul seakan-akan berani menantang para pemimpin dan tokoh agama tersebut: “Kami ada di pihak Allah karena kami mengikuti Allah. Di pihak manakah kamu berada?”. Tentu kalimat ini bukanlah hanya kalimat kosong, melainkan kalimat yang memiliki konsekuensi yang sangat besar. Dengan mengucapkan kalimat tersebut, mereka seakan-akan menaruh leher mereka di bawah pedang, karena pastilah mereka juga akan mendapat ancaman aniaya bahkan pembunuhan (Kis 5:33).

Prinsip ini yang seharusnya juga dimiliki oleh orang percaya di zaman ini. Kita dapat melihat bagaimana orang-orang Kristen setelah peristiwa ini mengalami aniaya hebat dari bangsa Yahudi (karena dianggap menghujat Allah) dan dari bangsa Romawi (karena dianggap sebagai penjahat dan pemberontak negara). Mereka dikejar-kejar, ditangkap, dianiaya, bahkan dibunuh dengan cara yang keji. Mereka tentu tidak dapat lagi memiliki liturgi atau cara ibadah seperti agama lain. Mereka bahkan harus beribadah di rumah-rumah, bahkan di dalam kuburan-kuburan batu dengan sembunyi-sembunyi. Mereka tidak memiliki struktur organisasi yang jelas (seperti di agama Yahudi yang memiliki Imam Besar, imam lainnya, ahli Taurat, dan lain sebagainya) karena para pemimpinnya pun banyak yang ditangkapi. Mereka juga tidak memiliki hukum atau syariat, seperti tata cara berpakaian, tata cara beribadah, dan lain sebagainya karena kondisi tidak memungkinkan. Sesungguhnya, dalam aniaya inilah kekristenan benar-benar berbeda dengan agama pada umumnya dan menjadi jalan hidup yang tidak terikat dengan liturgi/seremonial agama, hukum/syariat, dan dominasi tokoh-tokoh tertentu sebagai pemimpin agama. Kekristenan menjadi suatu jalan hidup yang dituntun oleh ketaatan terhadap perintah Allah melalui Roh Kudus yang dimeteraikan di hati orang percaya.

Sebenarnya, konsep inilah yang paling ideal, yaitu dimana orang percaya harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, ketika kekristenan mulai menjadi agama di kekaisaran Romawi pada akhir abad ke-4, justru di situ kekristenan kehilangan kekuatannya. Kekristenan mulai berbentuk sebagai agama, dengan liturgi dan seremonial, hukum-hukum dan syariat-syariat yang ketat, bahkan dominasi tokoh, yang menyebabkan adanya pembedaan antara para imam dan jemaat awam. Sejarah mencatat bahwa pada abad-abad selanjutnya, ketika kekristenan sudah menjadi agama negara, justru di situlah muncul abad kegelapan selama berabad-abad. Kitab suci hanya menjadi milik para imam dan rohaniawan, sementara mereka yang tidak termasuk golongan rohaniawan hanya menjadi jemaat yang pasif dan didoktrin untuk tunduk kepada para rohaniawan tersebut. Kelompok rohaniawan memposisikan diri mereka sebagai wakil Allah dan hamba Allah yang merasa berhak mengatur orang lain yang bukan rohaniawan.

Pola keberagamaan seperti ini sempat direformasi oleh Martin Luther dan para reformis lainnya. Akan tetapi, pola ini masih sedikit banyak terbawa hingga saat ini. Gereja penuh dengan orang-orang yang merasa dirinya sebagai rohaniawan, pelayan, pendeta, dan lain sebagainya. Dalam pengalaman saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai denominasi gereja, saya menemukan adanya gereja-gereja tertentu yang membuat sistem (atau bahkan semacam rezim) yang menunjukkan dominasi tokoh-tokoh agama ini. Misalnya saja, ada gereja dimana jemaat harus bertanya kepada pendetanya jika mau menikah, dan harus disetujui oleh pendeta tersebut. Tentu hal ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi sebenarnya pendeta juga harus membuat jemaat menjadi cerdas dan lebih taat kepada Allah. Pendeta harus membuat jemaatnya menjadi dewasa sehingga mereka dapat dewasa dan mandiri secara rohani. Akan tetapi, sebagian pendeta tidak mau melakukan hal ini dan justru mem-“bonsai” jemaat sehingga mereka terus menerus menjadi “kerdil” secara rohani.

Tentu setiap orang Kristen harus diajarkan untuk menemukan Allah dan memiliki waktu-waktu khusus untuk dapat bertemu dengan Allah setiap hari. Mereka harus dapat hidup dalam tuntunan Allah dan mengerti kehendak Allah. Bagaimana mungkin jemaat diajarkan bertanya kepada pendetanya dan selalu minta didoakan pendeta supaya doanya manjur, sementara seharusnya setiap orang percaya dapat langsung bertemu Tuhan tanpa perantara. Akhirnya kekristenan lama-lama menjadi sama seperti apa yang terjadi di Kisah Para Rasul 5 ini. Jemaat yang mulai belajar menemukan kebenaran, mulai memiliki jam doa khusus untuk bertemu Allah, dipandang sebagai “ancaman” oleh para rohaniawan. Tidak jarang cap “sok pintar”, “sok tahu”, “pemberontak”, bahkan “sesat” bisa saja dikenakan kepada jemaat-jemaat ini.

Tentu kita harus menghormati hamba-hamba Tuhan yang bekerja keras mengambil bagian dalam pelayanan. Akan tetapi, dalam segala hal, kita harus lebih tunduk kepada Allah daripada kepada manusia, sekalipun mereka mengaku sebagai wakil Allah atau hamba Allah. Dalam hal ini setiap orang percaya harus memiliki kecerdasan rohani yang baik, sehingga mereka dapat membedakan manakah kehendak Allah yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna (Rm 12:1). Idealnya, jika pendeta atau pemimpin jemaat adalah orang yang tunduk kepada Allah, tentu ia tidak akan membuat keputusan atau kebijakan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Namun jika dalam praktiknya terjadi perbedaan, maka orang percaya wajib lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Tentu sebisa mungkin prinsip taat kepada Allah ini jangan sampai dibenturkan sehingga menimbulkan perpecahan dalam gereja atau jemaat. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu mungkin memang orang percaya harus mulai berani mengambil sikap. Dalam hal ini yang terpenting adalah sikap yang diambil harus sudah digumulkan dengan sungguh-sungguh dalam doa-doa dan perenungan kita, sehingga kita tidak salah mengambil posisi taat kepada siapa. Ini adalah pergumulan pribadi dan harus kita pertanggungjawabkan nanti pada hari penghakiman. Adalah sangat konyol jika kita merasa sudah berdiri di pihak Allah, merasa sudah taat kepada Allah, tetapi sesungguhnya kita hanya ingin tampil dan mendirikan kerajaan kita sendiri. Jika demikian, suatu saat nanti kita dapat ditolak oleh-Nya (Mat 7:21-23).



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 5:26-29
5:26 Maka pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil kedua rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka.
5:27 Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam Besar mulai menanyai mereka,
5:28 katanya: "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami."
5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.