Rabu, 26 Oktober 2011

Maria dan Marta

Selasa, 1 November 2011

Bacaan Alkitab: Lukas 10:38-42

“Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya” (Luk 10:39)


Maria dan Marta


Dahulu, ketika pacar saya (yang sekarang tentunya sudah menjadi isteri saya) masih berkuliah di kota Semarang, saya pernah datang menjumpainya tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Pokoknya, saya merahasiakan kedatangan saya dan tiba-tiba saja pacar saya sudah melihat saya sudah berada di depan pintu kos-kosannya. Apa yang terjadi saat itu adalah pacar saya terkejut luar biasa. Mungkin karena terlalu terkejut, ia sampai sibuk menyiapkan minuman, bahkan memasak makanan (karena ia tahu bahwa saya belum makan siang padahal saat saya datang sudah hampir pukul 13.00 WIB), dan melakukan segala hal lainnya. Berapa kali ia bolak balik dari ruang tamu (tempat saya duduk), ke kamar kos, kemudian ke dapur, dan kembali lagi ke ruang tamu, dan begitu seterusnya untuk beberapa saat. Mungkin saat itu ia lupa bahwa tujuan utama saya datang ke tempatnya adalah untuk bertemu dengannya.

Demikian juga apa yang dilakukan Marta ketika Tuhan Yesus datang ke rumahnya. Ketika Marta menerima Yesus di rumahnya, Marta sibuk sekali melayani. Mungkin saja Marta menyiapkan makanan dan minuman bagi Yesus dan murid-muridnya, dan tentunya hal tersebut sangat merepotkan Marta dan menyita waktunya. Hingga akhirnya Marta kesal dan berkata kepada Tuhan Yesus untuk meminta Maria membantunya untuk melayani Tuhan (ay. 40).

Menurut saya, apa yang Marta lakukan memang tidak salah, karena memang dibutuhkan orang-orang yang mau melayani Tuhan seperti Marta. Misalkan pada saat ada persekutuan, komsel, ataupun dalam ibadah di Gereja, kita pasti memerlukan orang-orang yang mau membantu menyiapkan alat musik, menyiapkan makanan, atau mengurus hal-hal sederhana seperti merapikan kursi-kursi dan lain sebagainya. Tetapi dalam melakukan pelayanan seperti itu, kita juga tidak boleh lupa akan hal yang penting, yaitu duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan Firman Tuhan, seperti apa yang Maria lakukan (ay. 39).

Duduk dekat kaki Tuhan artinya kita memiliki hubungan yang intim dan dekat dengan Tuhan, serta memiliki waktu khusus bersama Tuhan. Jika Tuhan Yesus saja mau untuk bangun pagi-pagi benar untuk berdoa kepada Allah Bapa (Mrk 1:35), bukankah kita juga harus melakukan hal yang demikian? Kita pun harus memiliki waktu khusus kita dengan Tuhan yang tidak terganggu oleh kesibukan kita sehari-hari.

Mendengarkan Firman Tuhan tentunya dapat dilakukan dengan cara menghadiri ibadah-ibadah yang ada, ataupun mungkin mendengarkan khotbah melalui media televisi, radio, kaset, atau CD, ataupun dengan membaca Firman Tuhan sendiri. Apapun caranya, Firman Tuhan harus menjadi santapan rohani kita setiap hari, karena manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat 4:4).

Hal ini harus menjadi perhatian bagi kita, terutama bagi kita yang saat ini sudah banyak melakukan pelayanan di Gereja maupun di tempat-tempat lain. Jangan sampai karena kita terlalu terfokus kepada pelayanan kita, akibatnya kita waktu pribadi kita dengan Tuhan pun menjadi tersita. Sebagai contoh, misalkan kita adalah guru sekolah minggu, jangan sampai kita sibuk mengajar anak-anak sekolah minggu di berbagai jam kebaktian sekolah minggu, tetapi kita sendiri lupa untuk mendengarkan khotbah Firman Tuhan. Atau misalkan kita adalah pengkhotbah, tetapi kita hanya membaca Firman saat menyiapkan khotbah kita. Kita harus mengerti dan mengutamakan hal-hal apa saja yang penting bagi kita, sama seperti Tuhan Yesus memuji Maria karena Maria telah mengambil bagian yang terbaik bagi dirinya (ay. 42).

Hal tersebut bukan berarti sibuk melayani Tuhan itu tidak penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita mengenal Tuhan yang kita layani. Jangan sampai pelayanan kita hanya sekedar pelayanan biasa, tanpa kita mengenal Tuhan yang kita layani. Ingat, dalam Matius 7:21-23, dikatakan bahwa akan banyak orang yang telah melayani Tuhan tetapi justru Tuhan mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah mengenal mereka. Lalu, siapakah yang selama ini mereka layani?

Marilah kita belajar dari Marta dan Maria dalam kisah yang kita baca. Tuhan tidak pernah melarang kita untuk melakukan pelayanan bagi Tuhan, melainkan Tuhan akan sangat senang ketika kita mau melayaniNya. Tetapi kita harus mengingat satu hal, yaitu bagaimanapun sibuknya kita dalam pelayanan, tentunya kita harus memiliki waktu khusus dengan Tuhan. Selain itu kita pun harus tetap memiliki kerendahan hati untuk mendengar Firman Tuhan, dan melakukannya juga dalam kehidupan kita sehari-hari.


Bacaan Alkitab: Lukas 10:38-42

10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.

10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,

10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."

10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,

10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Menjangkau Seluruh Dunia

Senin, 31 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Markus 16:15-20

“Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:15)


Menjangkau Seluruh Dunia


Siapa yang belum pernah mendengar perintah agung Tuhan Yesus? Pastinya minimal kita pernah mendengar perintah agung tersebut dalam Matius 28:18-20 yang berbunyi, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Ini adalah perintah terakhir Tuhan Yesus sebelum Ia naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Sama seperti kita pasti melakukan permintaan terakhir seseorang yang akan meninggal, tentunya kita harus melakukan apa yang Tuhan Yesus inginkan kepada kita untuk kita lakukan, terlebih hal tersebut adalah permintaan terakhir Tuhan Yesus.

Demikian juga dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil kepada segala makhluk (ay. 15). Jadi, bagaimana cara kita untuk pergi ke seluruh dunia? Haruskah kita menjadi seorang misionaris? Haruskah kita menjadi seorang penginjil yang pergi ke daerah-daerah terpencil di Afrika misalnya? Atau kita pergi ke suku-suku terpencil di Papua, di mana mungkin mereka masih menggunakan koteka, atau malah masih suka memakan daging manusia?

Jika itu memang benar-benar panggilan Tuhan bagi kita, mau tak mau kita harus menurut kepada kehendak Tuhan. Atau mungkin saja kita belum bisa meninggalkan pekerjaan dan keluarga kita saat ini, kita dapat membantu pelayanan pengabaran Injil melalui dukungan doa dan dana. Tetapi menurut saya, jika kita benar-benar ingin menjangkau ke seluruh dunia, saat ini ada sebuah metode yang menurut saya sangat bermanfaat untuk keperluan pengabaran Injil, yaitu dengan menggunakan internet.

Internet saat ini sudah sangat umum digunakan, bahkan menjangkau ke desa-desa di Indonesia. Kita dapat dengan mudah mengetahui berita terbaru hanya dengan membuka situs di internet, entah menggunakan komputer atau menggunakan handphone kita. Banyak contoh orang yang menjadi terkenal akibat internet, sebut saja video klip “Keong racun”, “Udin sedunia”, dan “Briptu Norman” yang populer lewat situs Youtube, belum lagi hal-hal lain yang populer melalui situs seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya. Tapi, pernahkah kita membayangkan untuk misalnya mengupload video khotbah di Youtube, atau jika kita berbakan dalam hal musik, kita memainkan lagu-lagu rohani dan menguploadnya di Youtube? Atau misalnya kita menulis kesaksian kita di akun Facebook dan Twitter kita atau menulisnya di blog kita? Dengan internet kita dapat menjangkau banyak jiwa bukan? Memang masih ada keterbatasan, tetapi coba kita pikirkan, jika Sinta dan Jojo, Udin, maupun Briptu Norman bisa terkenal lewat internet, mengapa kita juga tidak memikirkan dan melakukan sesuatu paling tidak supaya orang lain juga dapat mengenal keselamatan dari Tuhan Yesus? Bukankah itu sama saja dengan pengabaran injil?

Tuhan sendiri telah berjanji kepada murid-muridNya bahwa Tuhan akan memberikan tanda-tanda kepada orang percaya yang mau melakukan pekerjaanNya. Tuhan akan membuat kita mampu mengusir setan, berbicara dalam bahasa baru, selamat dari marabahaya, maupun menyembuhkan orang sakit (ay. 17-18). Jika tanda-tanda heran seperti ini saja telah dijanjikan oleh Tuhan, apalagi alasan kita untuk tidak mau mengabarkan Injil? Kita harus mengabarkan Injil agar orang lain yang kita kasihi juga diselamatkan dan tidak dihukum (ay. 16). Inilah motivasi utama kita, bukan untuk kepentingan kita sendiri, tetapi karena kita ingin agar orang lain juga dapat mengerti maksud Tuhan. Kita pun harus dapat mengikuti teladan murid-murid Yesus yang langsung mengerjakan perintah Tuhan tersebut setelah Tuhan Yesus terangkat ke surga (ay. 20).

Saya tidak mempermasalahkan bagaimana cara kita mengabarkan Injil, apakah menjadi misionaris, menjadi pendeta atau pengkhotbah, ataukah membagi kehidupan kita ke orang-orang terdekat kita, ataukah mendukung doa dan dana bagi pekerjaan pengabaran Injil, ataukah membagi ayat-ayat maupun tulisan-tulisan yang mengandung kebenaran Firman Tuhan melalui media internet, apapun yang anda dan saya pilih, selama kita lakukan dengan motivasi yang benar pasti berkenan di hadapan Tuhan. Mari kita memberitakan Firman Tuhan ke seluruh penjuru dunia, selagi masih ada kesempatan, karena akan ada waktunya di mana manusia tidak akan mau menerima Firman Tuhan karena mereka lebih memilih menuruti hawa nafsu mereka untuk mendengarkan hal-hal yang menyenangkan telinga mereka (2 Tim 4:2-3).


Bacaan Alkitab: Markus 16:15-20

16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

16:16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

16:17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,

16:18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."

16:19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.

16:20 Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Cemburu

Minggu, 30 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Keluaran 20:1-6

“…sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu…” (Kel 20:5)


Cemburu


Siapa yang sudah menikah atau minimal pernah pacaran pasti pernah mengalami cemburu. Kalau bukan kita yang cemburu kepada pasangan kita, mungkin justru pasangan atau pacar kita yang cemburu kepada kita. Sebagian orang yang menganggap cemburu itu adalah hal yang wajar, sebagian lagi menganggap cemburu adalah hal yang tidak wajar, bahkan mungkin beberapa orang yang menganggap cemburu adalah dosa. Sebenarnya apa sih yang Alkitab katakan tentang cemburu ini? Memang jika kita baca dalam 1 Korintus 13:4 dikatakan bahwa kasih itu tidak cemburu. Tetapi di dalam bacaan Alkitab kita pada hari ini justru dikatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang cemburu. Jadi mana yang harus kita ikuti?

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami dulu arti cemburu itu sendiri. Cemburu adalah salah satu tanda bahwa seseorang ingin selalu menjadi yang terutama bagi orang lain. Jika ada seorang suami yang lebih mengutamakan wanita lain ketimbang isterinya sendiri, tentunya wajar sang isteri cemburu kepada suaminya. Tetapi kalau dibalik, jika ada seorang wanita yang cemburu kepada suami dari orang lain, menurut saya hal tersebut adalah salah alamat. Demikian juga, dalam 1 Korintus 13 memang Rasul Paulus sedang menjelaskan tentang prinsip dasar kasih. Dalam kasih yang sempurna memang seharusnya tidak ada cemburu. Mengapa demikian? Karena jika ada dua pihak yang saling mengasihi dengan sempurna, maka masing-masing pihak akan mengutamakan pasangannya tersebut dan tidak akan terdistraksi dengan adanya orang lain selain pasangannya. Dalam kasih yang sempurna tidak ada cemburu, tetapi kalau kita baca dalam kitab Keluaran pasal 20 ini, Tuhan menegaskan bahwa ia adalah Tuhan yang cemburu, karena Tuhan tidak ingin bangsa Israel menomorduakan Tuhan dan berpaling kepada berhala-berhala lainnya.

Dalam ayat 2, Tuhan menegaskan bahwa Dialah yang telah membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Perbuatan Tuhan yang melepaskan bangsa Israel tersebut sesungguhnya telah dikatakan Tuhan kepada Abraham jauh sebelum bangsa Israel diperbudak di tanah Mesir (Kej 15:13-14). Perkataan Tuhan tersebut merupakan bagian dari perjanjian Tuhan dengan Abraham, sehingga dengan menegaskan bahwa Tuhan telah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, sesungguhnya Tuhan sedang menegaskan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang menepati janjiNya kepada Abraham.

Tuhan mengasihi bangsa Israel karena merekalah umat perjanjian yang telah dipilih Tuhan. Oleh karena itu Tuhan ingin menegaskan agar bangsa Israel tidak memiliki allah-allah lain (ay. 3). Tuhan ingin bangsa Israel juga mengasihi Tuhan dengan segenap hati mereka. Tuhan melarang bangsa Israel untuk membuat patung atau berhala-berhala lain apalagi untuk beribadah kepada patung dan berhala tersebut (ay. 4-5). Di mata Tuhan, ketika Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abraham yang selanjutnya diwakili oleh bangsa Israel sebagai keturunan Abraham, Tuhan ingin bangsa Israel menjadikan Tuhan sebagai Tuhan yang paling utama dalam kehidupan bangsa Israel. Tuhan, Allah kita adalah Allah yang cemburu. Jangan sampai membuat Tuhan kita cemburu dan marah. Ketika Tuhan sampai marah, maka Tuhan pun dapat membalaskan kesalahan kita hingga keturunan keempat kita (ay. 5). Akan tetapi bagi orang-orang yang setia, Tuhan berjanji akan menunjukkan kasih setianya kepada kita (ay. 6).

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadikan Tuhan sebagai yang utama dalam kehidupan kita? Atau mungkin kita masih menjadikan kepintaran kita, harta kita, keluarga kita, atau hal-hal lain sebagai yang utama dalam hidup kita? Segala sesuatu yang menggeser Tuhan dari kedudukan yang utama dalam kehidupan kita adalah berhala bagi Tuhan. Tuhan hanya ingin menjadi yang utama dalam kehidupan kita, entah kita dalam keadaan senang maupun sedih, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, Tuhan harus tetap menjadi yang terutama. Tuhan Yesus sendiri mengatakan hukum yang paling utama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37)




Bacaan Alkitab: Keluaran 20:1-6

20:1 Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

20:2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

20:6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

Menjadi Pemimpin seperti Nehemia

Sabtu, 29 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Nehemia 5:14-19

“Pula sejak aku diangkat sebagai bupati di tanah Yehuda, yakni dari tahun kedua puluh sampai tahun ketiga puluh dua pemerintahan Artahsasta jadi dua belas tahun lamanya, aku dan saudara-saudaraku tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati.” (Neh 5:14)


Menjadi Pemimpin seperti Nehemia


Nehemia adalah salah satu tokoh dalam Alkitab yang memiliki peran penting dalam pembangunan kembali Yerusalem serta Bait Allah setelah pembuangan bangsa Yahudi ke Babel. Nehemia adalah tokoh utama dalam pembangunan kembali Yerusalem. Ia adalah juru minuman raja Persia, Artahsasta yang bertugas untuk menyediakan anggur dan menyampaikannya kepada raja (Neh 1:11b, 2:1). Sebagai seorang buangan Yahudi, kedudukan Nehemia sudah cukup tinggi karena ia memiliki akses langsung ke raja. Namun Nehemia lebih memilih untuk pergi ke Yerusalem untuk membangun kembali Yerusalem, daripada menikmati kedudukannya yang nyaman di istana raja (Neh 2:5).

Nehemia pun akhirnya diangkat sebagai bupati di Yehuda selama 12 tahun dari tahun ke-20 sampai dengan tahun ke-32 pemerintahan raja Artahsasta. Satu hal yang membuat kita kagum adalah pernyataannya bahwa selama 12 tahun itu Nehemia dan juga saudara-saudaranya tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati (ay. 14). Padahal sebagai bupati, tentunya Nehemia mendapatkan sejumlah fasilitas dan hak-hak istimewa yang memang berhak untuk diterima atau dinikmati. Tetapi Nehemia tidak mau mengambil hak-haknya karena ia melihat kondisi rakyat pada saat pemerintahan bupati sebelumnya.

Dalam ayat 15 disebutkan bahwa bupati sebelum Nehemia sangat memberatkan rakyat. Mereka mengambil 40 syikal perak sehari hanya untuk makanan dan minuman bupati, belum lagi untuk anak buah bupati. Jika dikonversi ke perhitungan saat ini, 40 syikal perak setara dengan setengah kilogram perak. Bayangkan, jika harga perak saat ini sekitar seratus ribu rupiah per gramnya, maka untuk makanan dan minuman bupati sehari mencapai lima puluh juta rupiah. Belum lagi kebutuhan lain dari bupati beserta segenap anak buahnya. Itulah mengapa Nehemia memutuskan untuk meringankan beban rakyat dengan cara tidak mengambil apa yang menjadi haknya. Nehemia lebih memilih untuk menggunakan haknya tersebut untuk dana pembangunan kembali Yerusalem.

Nehemia hanya memilih makanan yang secukupnya yaitu seekor lembu, enam ekor kambing, dan beberapa ekor unggas sehari, serta anggur setiap 10 hari sekali (ay, 18). Apakah itu kelihatan berlebihan? Tentu tidak, karena Nehemia juga memiliki tanggungan di mejanya minimal sebanyak 150 orang Yahudi dan para penguasa lainnya, yang tentunya harus diberi makan setiap hari (ay. 17). Selain itu saya rasa harga seekor lembu dan enam ekor kambing dan beberapa unggas tersebut tidak akan melebihi harga 40 syikal perak. Bandingkan saja, pada zaman bupati sebelumnya, 40 syikal perak sehari hanya untuk makanan dan minuman bupati, sementara di zaman Nehemia, dengan biaya kurang dari 40 syikal perak sudah cukup untuk memberi makan 150 orang.

Nehemia tidak mau mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Bahkan jika kita baca di keseluruhan kitab, Nehemia selalu mengutamakan kepentingan rakyat banyak. Yang terpenting adalah bagaimana tembok Yerusalem dapat dibangun dengan baik. Nehemia melakukan hal tersebut karena ia adalah seorang yang takut akan Allah (ay. 15b). Pemimpin seperti Nehemia sangat langka kita temukan di masa-masa saat ini. Kebanyakan pemimpin ketika sudah menjabat sebagai pemimpin justru lupa dengan rakyat yang harusnya dipimpin dengan bijaksana. Mari kita belajar sebagai pemimpin yang mengutamakan kepentingan orang lain seperti Nehemia. Sama seperti apa yang dikatakan Yesus “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:11-12).


Bacaan Alkitab: Nehemia 5:14-19

5:14 Pula sejak aku diangkat sebagai bupati di tanah Yehuda, yakni dari tahun kedua puluh sampai tahun ketiga puluh dua pemerintahan Artahsasta jadi dua belas tahun lamanya, aku dan saudara-saudaraku tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati.

5:15 Tetapi para bupati yang sebelumnya, yang mendahului aku, sangat memberatkan beban rakyat. Bupati-bupati itu mengambil dari mereka empat puluh syikal perak sehari untuk bahan makanan dan anggur. Bahkan anak buah mereka merajalela atas rakyat. Tetapi aku tidak berbuat demikian karena takut akan Allah.

5:16 Aku pun memulai pekerjaan tembok itu, walaupun aku tidak memperoleh ladang. Dan semua anak buahku dikumpulkan di sana khusus untuk pekerjaan itu.

5:17 Duduk pada mejaku orang-orang Yahudi dan para penguasa, seratus lima puluh orang, selain mereka yang datang kepada kami dari bangsa-bangsa sekeliling kami.

5:18 Yang disediakan sehari atas tanggunganku ialah: seekor lembu, enam ekor kambing domba yang terpilih dan beberapa ekor unggas, dan bermacam-macam anggur dengan berlimpah-limpah setiap sepuluh hari. Namun, dengan semuanya itu, aku tidak menuntut pembagian yang menjadi hak bupati, karena pekerjaan itu sangat menekan rakyat.

5:19 Ya Allahku, demi kesejahteraanku, ingatlah segala yang kubuat untuk bangsa ini.

Menjadi Terang di Tengah Kegelapan

Jumat, 28 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: 1 Raja-Raja 18:3-8

“Sebab itu Ahab telah memanggil Obaja yang menjadi kepala istana. Obaja itu seorang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN.” (1 Raj 18:3)


Menjadi Terang di Tengah Kegelapan


Beberapa waktu yang lalu, saya merenung, mengapa banyak anak-anak Tuhan yang tidak mau menjadi pegawai negeri. Apakah karena gajinya yang kecil dibandingkan dengan bekerja di sektor swasta? Apakah karena godaan yang cukup besar untuk berbuat dosa sehingga banyak anak-anak Tuhan yang benar-benar takut akan Tuhan pun tidak tertarik untuk bekerja di sektor pemerintahan? Apakah karena sulitnya untuk menjaga iman mereka di tengah-tengah tawaran kenaikan pangkat dan lain-lain yang ditawarkan kepada anak-anak Tuhan apabila mereka meninggalkan imannya? Saya tidak tahu pasti alasannya, tetapi terkait dengan hal tersebut, kali ini kita mau belajar dari kisah Obaja dalam bacaan Alkitab kita hari ini.

Obaja adalah kepala istana pada sahat Ahab menjadi raja Israel. Saya rasa kita semua tahu bahwa Ahab adalah salah satu dari raja yang jahat yang diceritakan dalam Alkitab. Alkitab mengatakan bahwa Ahab melakukan apa yang jahat di mata TUHAN lebih dari pada semua orang yang mendahuluinya (1 Raj 16:30). Bahkan selanjutnya dikatakan bahwa Ahab pun mengambil Izebel yang akhirnya mempengaruhi Ahab dan bahkan orang Israel untuk menyembah dewa Baal (1 Raj 16:31). Karena kejahatan dan dosa-dosa Ahab itulah akhirnya melalui perantaraan nabi Elia, Tuhan menahan hujan selama tiga tahun atas tanah Israel, sehingga terjadi kekeringan yang luar biasa di Israel (1 Raj 17:1).

Jika kita membayangkan kejahatan raja Ahab yang demikian besar di hadapan Tuhan, tentunya kita menyangka bahwa hampir semua orang Israel juga bersikap seperti itu, terlebih pegawai-pegawai Ahab yang pastinya akan mendapat tekanan juga untuk ikut menyembah Baal. Bisakah kita bayangkan posisi Obaja sebagai kepala istana di zaman raja Ahab berkuasa? Sebagai kepala istana tentunya ia harus melayani segala kebutuhan raja Ahab beserta keluarganya, dan mungkin ia pun harus berhadapan dengan penyembahan dewa Baal yang dilakukan oleh Ahab. Sangat mudah bagi Obaja untuk menyerah dan akhirnya ikut menyembah dewa Baal, tetapi Alkitab mengatakan bahwa Obaja tidak mau ikut-ikutan arus. Dalam hal imannya kepada Allah, Obaja tetap tidak kompromi. Disebutkan bahwa Obaja adalah seseorang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan (ay. 3).

Dalam ayat 4 bahkan disebutkan bahwa Obaja selaku kepala istana justru melindungi nabi-nabi Tuhan ketika Izebel melenyapkan nabi-nabi Tuhan dari tanah Israel. Dengan dananya sendiri, Obaja menyembunyikan seratus nabi-nabi Tuhan dan memberi mereka makanan dan minuman, padahal saat itu adalah saat-saat kekeringan besar dimana mungkin makanan dan minuman menjadi sangat langka. Obaja mau mengambil resiko untuk melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan. Mungkin caranya memang tidak frontal, tetapi ia melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan nabi-nabi Tuhan.

Ketika Ahab menyuruh Obaja untuk mencari rumput untuk ternak, di mana Ahab dan Obaja saling pergi berlawanan arah, Tuhan berkenan kepada Obaja untuk ditemui oleh Elia. Tuhan memakai Obaja untuk menyampaikan kabar bahwa Elia ingin bertemu dengan Ahab (ay. 7-8). Tuhan tahu bahwa Obaja adalah orang yang sungguh-sunguh takut akan Tuhan, dan dengan demikian seakan-akan kinerja Obaja pun menjadi baik di mata Ahab. Jika kita takut akan Tuhan pun, Tuhan dapat membuat hal-hal sederhana menjadi berpihak kepada kita, sehingga atasan kita pun dapat melihat bahwa kita memang dapat dipercaya untuk mengerjakan tugas-tugas kita dengan baik.

Di satu sisi memang kita tidak boleh kompromi terhadap dosa. Tetapi di sisi lain kita juga harus menjadi garam dan terang bagi dunia (Mat 5:13-17). Dunia ini memang sudah penuh dengan dosa dan kejahatan, tetapi untuk itulah kita dipanggil, supaya kita menjadi saksi-saksi Kristus di dunia yang penuh dosa. Biarlah kita menjadi lilin-lilin kecil yang menerangi dunia yang gelap ini. Kita tidak bisa hanya diam di Gereja, memuji dan menyembah Tuhan sementara dunia semakin jauh dari Tuhan. Kita diutus Tuhan seperti seekor domba diutus ke tengah-tengah serigala, sehingga kita pun harus dapat cerdik seperti ular namun tulus seperti merpati (Mat 10:16). Sama seperti Obaja yang mampu menjadi kepala istana yang takut akan Tuhan di tengah-tengah kekuasaan raja Ahab yang jahat, atau seperti Daniel dan kawan-kawannya yang mampu menjadi pejabat tinggi di Babel, di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Tuhan, kita pun harus mampu menjadi saksi-saksi Tuhan yang memuliakan namaNya, apapun pekerjaan kita dan dimanapun kita berada.


Bacaan Alkitab: 1 Raja-Raja 18:3-8

18:3 Sebab itu Ahab telah memanggil Obaja yang menjadi kepala istana. Obaja itu seorang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN.

18:4 Karena pada waktu Izebel melenyapkan nabi-nabi TUHAN, Obaja mengambil seratus orang nabi, lalu menyembunyikan mereka lima puluh lima puluh sekelompok dalam gua dan mengurus makanan dan minuman mereka.

18:5 Ahab berkata kepada Obaja: "Jelajahilah negeri ini dan pergi ke segala mata air dan ke semua sungai; barangkali kita menemukan rumput, sehingga kita dapat menyelamatkan kuda dan bagal, dan tidak usah kita memotong seekor pun dari hewan itu."

18:6 Lalu mereka membagi-bagi tanah itu untuk menjelajahinya. Ahab pergi seorang diri ke arah yang satu dan Obaja pergi ke arah yang lain.

18:7 Sedang Obaja di tengah jalan, ia bertemu dengan Elia. Setelah mengenali dia, ia sujud serta bertanya: "Engkaukah ini, hai tuanku Elia?"

18:8 Jawab Elia kepadanya: "Benar! Pergilah, katakan kepada tuanmu: Elia ada."

Sahabat Sejati

Kamis, 27 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: 1 Samuel 18:1-4

“Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.” (1 Sam 18:1)


Sahabat Sejati


Saat saya masih bekerja di perusahaan produsen sepeda motor, saya memiliki banyak teman dan juga sahabat, tetapi dari sekian banyak sahabat saya, ada satu orang sahabat wanita yang paling berkesan dalam kehidupan saya. Pertama kali saya mengenal dirinya ketika saya dan dia sama-sama menumpang mobil teman saya yang lain karena ia masih kos di daerah dekat rumah saya, jadi kami pun pulangnya searah. Waktu itu ia sedang menempuh pendidikan S2 di salah satu universitas di daerah dekat rumah saya. Seiring berjalannya waktu, ia pun mulai sukses dalam pekerjaan dan kehidupannya. Ia mulai dipindahkan ke bagian yang lebih baik, dan juga akhirnya memiliki kendaraan sendiri dan tempat tinggal sendiri, bahkan ia telah beberapa kali bepergian ke luar negeri termasuk pergi ke Israel. Ia pun melayani Tuhan secara luar biasa dengan talenta menyanyi yang dimilikinya. Ia sering mengirimkan saya sms-sms atau email yang berisi pengalaman pribadinya yang menguatkan saya, bahkan saya suka membaca blog-blognya yang berisi kisah hidupnya yang menjadi berkat bagi saya. Tapi di balik semua keberhasilan itu, yang paling membuat saya berkesan adalah sikapnya yang rendah hati. Walau telah memiliki mobil sendiri, tak terhitung berapa kali ia memberikan tumpangan kepada saya. Dalam hal pekerjaan, ketika saya mengalami banyak masalah terkait produksi, ia juga selalu siap membantu saya dan memberikan saya jalan keluar, karena kebetulan memang bagian produksi saya sangat terkait dengan material yang menjadi tanggung jawabnya.

Saat saya mengalami masa-masa sulit ketika saya dan pacar saya pun bergumul untuk mendapatkan izin menikah dari orang tua saya, sahabat saya tersebut selalu menguatkan saya. Ia bahkan rela meluangkan waktu weekendnya untuk bertemu dengan saya dan memberikan beberapa nasihat yang sampai saat ini masih saya ingat. Hingga akhirnya saya akhirnya memperoleh izin untuk menikah, ia adalah salah satu dari beberapa orang yang saya beritahu pada kesempatan pertama. Dan yang membuat saya salut adalah menjelang saya menikah, ia seperti sedikit menjauh dari saya. Awalnya saya berpikir apa saya pernah berbuat salah dengan dirinya, tapi ternyata ia menjauh karena ia ingin memberikan kesempatan kepada saya untuk fokus dengan pernikahan yang akan saya lalui.

Tidak mudah bagi saya memiliki seorang sahabat, apalagi seorang wanita yang benar-benar tulus menjadi sahabat bagi saya. Sama seperti Yonatan dengan Daud, walau sebetulnya Yonatan pun baru saja mengenal Daud, tetapi saat itu Yonatan menyadari ada suatu chemistry antara dirinya dengan Daud (ay. 1). Yonatan pun akhirnya mengikat perjanjian dengan Daud, dan memberikan jubah serta perlengkapan perangnya kepada Daud (ay. 2 & 4). Apakah ciri-ciri sahabat yang sejati itu? Alkitab menunjukkan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, sahabat sejati mengasihi sahabatnya seperti dirinya sendiri (ay. 1 & 3). Yonatan mengasihi Daud walaupun ia tahu ayahnya, Raja Saul, membenci Daud karena Daud telah memperoleh kepopuleran lebih daripada Saul. Di satu sisi Yonatan memang anak dari Saul, tapi karena Daud adalah sahabatnya, Yonatan lebih memilih untuk memihak Daud, karena ia tahu bahwa apa yang diperbuat ayahnya adalah salah.

Kedua, sahabat sejati bersikap ramah kepada sahabatnya. Dalam 2 Samuel 1:26, ketika Daud meratapi Yonatan yang tewas ketika berperang dengan orang Filistin, ia mengatakan bahwa “engkau (Yonatan) sangat ramah kepadaku”. Sikap ramah ini tentunya tidak dapat datang begitu saja. Kita pasti sulit dapat bersikap ramah kepada orang yang tidak kita sukai. Tetapi ketika kita menjalin persahabatan, perlu ada kasih yang ramah antara kita dengan sahabat kita tersebut.

Ketiga, sahabat sejati rela berkorban bagi sahabatnya. Dalam 1 Samuel 20:1-43, Yonatan pun membela Daud di hadapan Saul, ayahnya. Dalam peristiwa itu bahkan Yonatan nyaris dibunuh oleh Saul karena membela Daud (1 Sam 20:33). Yesus sendiri mengatakan bahwa “tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Dunia ini membutuhkan orang-orang yang tulus menjadi sahabat. Bukan sahabat yang pura-pura dan penuh kelicikan dengan maksud tertentu. Terlebih dalam persekutuan atau Gereja, kita memerlukan sahabat-sahabat yang mau mendukung kita ketika kita mengalami masalah, yang mau mendoakan kita ketika kita mengalami pergumulan, yang mau membantu kita ketika kita mengalami kesulitan. Dengan demikian, Gereja akan menjadi tempat yang indah dimana kasih Tuhan dapat dinyatakan. Bukankah jika kita memiliki banyak sahabat maka akan ada kerukunan yang indah? Dan ketika ada kerukunan di antara umat Tuhan, maka Tuhan akan memberikan berkatNya dengan melimpah (Mzm 133:1-3).



Bacaan Alkitab: 1 Samuel 18:1-4

18:1 Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.

18:2 Pada hari itu Saul membawa dia dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya.

18:3 Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri.

18:4 Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya.

Belajar untuk Mengasihi dan Memperhatikan Orang Lain

Rabu, 26 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: 3 Yohanes 1:1-6

“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” (3 Yoh 1:4)


Belajar untuk Mengasihi dan Memperhatikan Orang Lain


Surat ketiga Rasul Yohanes ini ditujukan kepada Gayus, yang adalah salah satu anak rohani dari Rasul Yohanes. Rasul Yohanes sangat mengasihi Gayus sehingga ia menulis surat khusus kepada Gayus, setelah sebelumnya Rasul Yohanes menulis surat kepada anak-anak rohaninya secara umum (Kitab 1 Yohanes) serta kepada seorang “ibu yang terpilih dan anak-anaknya” (Kitab 2 Yohanes). Ini berarti Gayus sangat spesial dalam kehidupan Rasul Yohanes. Dalam awal kitab ini, sesuai dengan bacaan kita hari ini, kita dapat melihat bagaimana sikap Yohanes yang sungguh sangat memperhatikan Gayus sebagai anak rohaninya.

Pertama, Rasul Yohanes sangat mengasih Gayus dalam kebenaran (ay. 1). Kasih itu memang harus dimiliki oleh setiap orang percaya, namun kasih dalam kebenaran. Kasih dalam kebenaran berarti bukan kasih yang buta, melainkan kasih yang tetap berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Kasih bukan berarti membiarkan jika orang yang kasihi berbuat salah, tetapi menegor dan menasihati agar orang yang kita kasihi dapat kembali kepada jalan kebenaran.

Kedua, Rasul Yohanes sangat memperhatikan Gayus dan selalu berdoa untuknya (ay. 2). Kita pun seharusnya mendoakan dengan setia orang-orang yang ada di sekitar kita, terlebih anak-anak rohani kita. Mereka membutuhkan doa-doa kita. Selain itu kita pun perlu memperhatikan mereka secara khusus, seperti bagaimana keadaan mereka, baik secara jasmani terlebih secara rohani.

Ketiga, Rasul Yohanes bersukacita atas setiap kabar yang menceritakan bahwa Gayus telah hidup dalam kebenaran (ay. 3-4). Pernahkah kita bertanya kepada orang tua kita, apa yang paling membahagiakan mereka? Saya yakin salah satu jawabannya adalah ketika mereka melihat kita tumbuh, belajar, dan akhirnya berhasil mencapai apa yang kita cita-citakan, entah itu mungkin lulus kuliah, menikah, ataupun mencapai sesuatu yang lain. Setiap orang tua pastilah bangga ketika anaknya berhasil, demikian juga kita juga harus bersukacita ketika kita mendengar orang-orang yang kita kasihi juga telah berhasil, terlebih berhasil hidup dalam kebenaran Firman Tuhan serta memuliakan Tuhan.

Keempat, Rasul Yohanes tetap memberikan nasihat dan bimbingan kepada Gayus, serta mengapresiasi Gayus yang telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan (ay. 5-6). Menurut saya, Gayus ini adalah salah satu murid Yohanes yang telah dipakai Tuhan secara luar biasa. Tidak ada catatan negatif mengenai Gayus dalam Alkitab. Tetapi Rasul Yohanes tetap memberikan arahan kepada Gayus, antara lain berbuat baik kepada saudara-saudara seiman lainnya yang merupakan orang asing (dalam hal ini berasal dari tempat lain dan sedang berkunjung ke tempat Gayus). Rasul Yohanes pun tetap memuji dan mengapresiasi Gayus, karena ia telah melakukan apa yang baik dan berkenan kepada Allah.

Bagaimana dengan kita? Mungkin kita memiliki beberapa orang yang menjadi anak rohani kita, atau mungkin ada beberapa orang yang menjadi teman dekat kita atau sahabat kita. Sudahkah kita mengasihi mereka seperti Rasul Yohanes mengasihi Gayus? Sudahkah kita memperhatikan, mendoakan, mengasihi, bahkan memberikan dukungan kepada mereka? Mungkin apa yang kita lakukan seperti mengirimkan sms yang berisi ayat-ayat Alkitab, atau mendoakan mereka dalam doa syafaat kita kelihatannya hanyalah hal sepele, tetapi dalam Tuhan, apapun yang kita lakukan pasti tidak akan sia-sia, selama kita melakukannya dengan tulus, dan dengan motivasi yang benar. Firman Tuhan berkata, “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Mat 10:42).


Bacaan Alkitab: 3 Yohanes 1:1-6

1:1 Dari penatua kepada Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran.

1:2 Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.

1:3 Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran.

1:4 Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.

1:5 Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.

1:6 Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Pergilah dan Jangan Berbuat Dosa Lagi

Selasa, 25 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Yohanes 8:2-11

“…Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8:11b)


Pergilah dan Jangan Berbuat Dosa Lagi


Dalam bacaan Kitab Suci kita kali ini, kita melihat bagaimana perbedaan antara Yesus dan para ahli Taurat serta orang Farisi. Ketika Yesus sedang mengajar dalam Bait Allah, ahli Taurat dan orang Farisi datang kepadaNya sambil membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah (ay. 3). Dalam hukum Taurat, memang dikatakan bahwa orang yang berzinah memang harus dihukum mati (Ul 22:22-24). Saat itu ahli Taurat dan orang Farisi bisa saja langsung menghukum mati perempuan tersebut, namun mereka justru membawanya kepada Yesus untuk meminta pendapat Yesus mengenai hal ini (ay. 5). Mereka berharap dengan demikian, mereka dapat memperoleh sesuatu untuk menyalahkan Yesus (ay. 6).

Tetapi Yesus tidak menghiraukan mereka karena Yesus tahu bahwa mereka hanya bermaksud untuk mencobainya. Yesus pun hanya membungkuk sambil menulis dengan jariNya di tanah. Alkitab memang tidak menceritakan apa yang Yesus tulis saat itu. Ketika mereka terus menerus bertanya kepadanya, akhirnya Yesus berdiri dan berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Setelah itu Yesus pun kembali membungkuk dan menulis di tanah.

Alkitab mencatat bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi pun mulai meninggalkan Yesus dan perempuan itu satu persatu mulai dari yang tertua. Mereka sadar, bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang tidak berdosa. Perempuan tersebut pun tetap diam di tempatnya. Mungkin perempuan itu sudah pasrah, karena ia sudah ditangkap oleh para ahli Taurat dan orang Farisi, dan kemudian juga dibawa kepada Yesus. Mungkin perempuan ini pun sudah menyiapkan dirinya andaikan ia akhirnya dilempari batu sampai mati. Ia tidak pernah menyangka bahwa ketika dirinya dibawa kepada Yesus, justru di situ ada kesempatan kedua bagi hidupnya.

Tuhan Yesus pun bertanya, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?". Perempuan itu pun menjawab “Tidak ada, Tuhan”. Saya yakin perempuan itu mungkin masih berpikir bahwa Yesus juga adalah sama dengan para ahli Taurat dan orang Farisi lainnya yang akan menghukum dirinya. Tetapi Tuhan Yesus memang penuh dengan kasih, Ia pun akhirnya berkata “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”.

Saya yakin perempuan itu pasti terkejut, ia diselamatkan dari hukuman mati. Ia lolos dari lubang jarum. Alkitab memang tidak menceritakan lagi kisah selanjutnya, apakah perempuan tersebut akhirnya pergi dan benar-benar bertobat, ataukah akhirnya pergi dan kembali lagi berbuat zinah. Tetapi sangat keterlaluan apabila perempuan tersebut yang telah diselamatkan dari kematian masih berani melakukan dosa lagi.

Demikian juga dengan kita, mungkin kita pernah mengalami masa-masa jauh dari Tuhan. Mungkin kita sudah jatuh di dalam dosa. Tetapi Tuhan kita adalah Tuhan yang masih memberi kesempatan kepada kita. Sejauh apapun kita telah menyimpang, Tuhan masih mau memberikan pengampunan sepanjang kita mau benar-benar bertobat. Sama seperti bapa dalam perumpamaan anak yang hilang, Bapa kita yang di surga selalu menerima kita dengan tangan terbuka kapanpun kita mau kembali kepadaNya (Luk 15:20). Yang terpenting bagi kita, jika kita ingin bertobat kita harus mau mengikuti apa yang Tuhan katakan yaitu “Pergi dan jangan berbuat dosa lagi”.

Pergi di sini artinya pergi menjauhi dosa. Mungkin kita berada di lingkungan orang-orang fasik yang membuat kita jatuh ke dalam dosa. Untuk itu kita perlu pergi dari lingkungan pencemooh dan orang-orang berdosa, dan kembali mengikuti jalan Tuhan serta merenungkan Firman Tuhan siang dan malam (Mzm 1:1). Jangan berbuat dosa lagi berarti kita harus meninggalkan apa yang dahulu kita anggap sebagai keuntungan, tetapi sekarang kita harus hidup mengikuti kehendak Yesus Kristus (Flp 3:8-13). Jadi, sudahkah kita pergi dari dosa dan tidak berbuat dosa lagi?



Bacaan Alkitab: Yohanes 8:2-11

8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.

8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.

8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"

8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.

8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.

8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.

8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"

8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Meminta kepada Tuhan, Bukan kepada yang Lain

Senin, 24 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Zakharia 10:1-2

“Mintalah hujan dari pada TUHAN pada akhir musim semi! TUHANlah yang membuat awan-awan pembawa hujan deras, dan hujan lebat akan diberikanNya kepada mereka dan tumbuh-tumbuhan di padang kepada setiap orang.” (Za 10:1)


Meminta kepada Tuhan, Bukan kepada yang Lain


Beberapa waktu yang lalu, Indonesia dilanda kekeringan yang luar biasa. Biasanya menjelang bulan yang diakhiri dengan suku kata “ber”, kita sudah memasuki musim hujan. Tetapi sampai dengan saat ini, hujan pun rasanya masih menjadi hal yang langka di tempat kita. Saya membaca di surat kabar, beberapa waktu yang lalu di beberapa daerah diadakan semacam upacara atau ritual untuk memanggil hujan. Saya berpikir, kalau kita mengadakan ritual tersebut, sebenarnya kita sedang meminta hujan kepada siapa ya?

Hal tersebut hampir mirip dengan apa yang kita baca dalam Alkitab kita pada hari ini. Kita di Indonesia memang hanya mengenal dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Akan tetapi di Israel dan di kebanyakan negara beriklim sub tropis, terdapat empat musim yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Pada musim semi, tentunya tanaman mulai bersemi dan biasanya banyak hujan di musim semi, sedangkan memasuki musim panas, hujan biasanya akan mulai berkurang, serta suhu pun menjadi lebih panas daripada musim semi. Logikanya, banyak orang akan mengharapkan hujan di akhir musim semi sebagai persiapan untuk memasuki musim panas.

Nah, masalahnya kepada siapa kita meminta hujan tersebut? Firman Tuhan jelas berkata bahwa kita seharusnya meminta hujan kepada Tuhan, dan memang seharusnya hanya kepada Tuhan (ay. 1a). Mengapa demikian? Tentunya karena Tuhan sendirilah yang menciptakan alam semesta beserta isinya (Kej 1:1-31). Jika Tuhan adalah pencipta alam semesta, maka Ia juga berkuasa penuh atas alam semesta, termasuk dengan iklim dan musim. Tuhan bisa menurunkan kemarau berkepanjangan hingga tiga tahun tidak turun hujan (Yak 5:17, 1 Raj 18:1), tetapi Tuhan juga bisa menurunkan hujan deras untuk mengakhiri kemarau tersebut (1 Raj 18:45). Terlebih lagi, Tuhan juga sanggup menurunkan hujan selama 40 hari dan 40 malam sehingga air memenuhi bumi dan membinasakan seluruh makhluk hidup kecuali yang ada di bahtera Nuh (Kej 7:12).

Tuhan menjanjikan hujan lebat kepada setiap orang yang meminta kepadanya (ay. 1b). Bukankah dalam Alkitab, Tuhan Yesus juga pernah berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Mat 7:7). Tuhan ingin kita meminta kepadaNya, apapun permintaan kita. Walau mungkin tidak semua permintaan kita akan dijawab Tuhan dengan jawaban “ya”, tetapi paling tidak ketika kita meminta kepada Tuhan, itu menunjukkan bahwa kita memang mengakui Tuhan sebagai Tuhan yang berkuasa atas kehidupan kita. Sama seperti seorang anak yang meminta sesuatu kepada bapanya, tentunya bapa manapun tidak akan memberikan batu ketika anaknya meminta roti (Mat 7:9-11).

Tuhan melarang kita untuk meminta selain kepada Tuhan. Dalam konteks penulisan kitab Nabi Zakharia ini, orang Israel lebih suka meminta petunjuk atau meminta berkat kepada para terafim, juru tenung, dan para peramal-peramal. Mereka tidak bertanya kepada Tuhan yang adalah Tuhannya orang Israel. Mereka lebih percaya kepada perkataan para juru tenung dan peramal. Padahal apa yang dikatakan oleh mereka adalah hampa dan sia-sia. Tidak ada gunanya meminta sesuatu kepada para juru tenung dan peramal. Justru dengan berbuat demikian, akhirnya bangsa Israel pun semakin jauh dari Tuhan, dan semakin terserak seperti domba yang tidak bergembala. Ya, bagaimana mungkin Tuhan mau menggembalakan orang Israel ketika orang Israel sendiri tidak mau digembalakan oleh Tuhan? Malah mereka lebih suka mencari apa yang menyenangkan hati mereka melalui perkataan juru tenung.

Saya tidak tahu apakah anda pernah meminta sesuatu melalui dukun, peramal, ataupun “orang-orang pintar” lainnya. Tapi seharusnya ketika kita memutuskan untuk percaya kepada Tuhan, itu berarti kita harus percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam kondisi apapun, kita harus berserah dalam tuntunan Tuhan. Sekalipun kita melewati lembah kekelaman, ataupun melewati padang rumput dan air yang tenang, kita harus tetap berserah kepada Tuhan. Jangan pernah sekalipun kita berpaling dari Tuhan dan bertanya atau meminta sesuatu kepada orang lain, juru tenung atau apapun namanya. Kita harus percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang berkuasa, dan Ia pun akan memberikan yang terbaik kepada kita.



Bacaan Alkitab: Zakharia 10:1-2

10:1 Mintalah hujan dari pada TUHAN pada akhir musim semi! TUHANlah yang membuat awan-awan pembawa hujan deras, dan hujan lebat akan diberikanNya kepada mereka dan tumbuh-tumbuhan di padang kepada setiap orang.

10:2 Sebab apa yang dikatakan oleh terafim adalah jahat, dan yang dilihat oleh juru-juru tenung adalah dusta, dan mimpi-mimpi yang disebutkan mereka adalah hampa, serta hiburan yang diberikan mereka adalah kesia-siaan. Oleh sebab itu bangsa itu berkeliaran seperti kawanan domba dan menderita sengsara sebab tidak ada gembala.

Bukan Siapa, tetapi Mengapa

Minggu, 23 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Yohanes 9:1-7

“Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yoh 9:3)


Bukan Siapa, tetapi Mengapa


Saya suka memberi ilustrasi dari pengalaman-pengalaman pribadi saya, termasuk pada hari ini saya akan menceritakan pengalaman saya dulu sewaktu masih bekerja di pabrik sepeda motor. Seperti yang saya ceritakan beberapa waktu yang lalu, saya bekerja di bagian Production Control, yang artinya saya bertanggung jawab terhadap pencapaian produksi sepeda motor setiap harinya. Ketika produksi sepeda motor tidak sesuai dengan target atau rencana atau adanya minus produksi, berarti ada sesuatu yang salah. Pernah ada masa-masa sulit di perusahaan saya, sehingga saat itu setiap ada minus produksi, harus dicari tahu siapa pihak yang salah sehingga menyebabkan minus produksi. Kondisi saat itu menurut saya sangat tidak mengenakkan. Saat itu, orang lebih suka mencari siapa yang menyebabkan minus produksi daripada mencari mengapa minus produksi tersebut dapat terjadi. Tapi syukurlah berdasarkan informasi setelah saya keluar dari perusahaan tersebut, kondisi menjadi lebih baik dan kondusif, bahkan sekarang rasanya perusahaan tersebut sudah jauh berkembang lebih baik dari sebelumnya.

Demikian juga yang kita baca dalam bacaan Kitab Suci kita kali ini. Saat rombongan Yesus dan murid-muridNya melewati seorang yang buta sejak lahir, murid-muridnya bertanya “Siapa yang berdosa sehingga orang ini dilahirkan buta? Apakah orang ini sendiri ataukah orang tuanya?” (ay. 2). Murid-muridnya masih berpandangan bahwa ketika ada suatu hal yang kelihatannya salah, berarti ada pihak-pihak yang menyebabkan salah. Mereka ingin mencari kambing hitam, siapa yang bertanggung jawab atas butanya orang ini sejak lahir. Mungkin jika ditarik lagi, bisa-bisa murid-murid Yesus akhirnya menyalahkan Allah yang membuat orang tersebut buta sejak lahirnya.

Tapi Yesus menjawab dengan bijaksana. Ketika sudut pandang murid-murid Yesus adalah “siapa”, Tuhan Yesus melihat dari sudut pandang “Mengapa” dan “Bagaimana”. Yesus menjawab bahwa bukan dia yang berdosa, dan juga bukan orang tuanya yang berdosa sehingga orang tersebut buta sejak lahir. Yesus mengatakan bahwa melalui orang buta tersebut, pekerjaan Allah akan dinyatakan dalam dirinya (ay. 3). Perhatikan kata “karena” yang dipergunakan Yesus untuk menjawab pertanyaan murid-muridNya. Yesus tidak melihat suatu permasalahan sebagai ajang untuk saling menyalahkan, tetapi Yesus melihat suatu permasalahan sebagai kesempatan untuk melakukan pekerjaan Allah. Ketika murid-murid Yesus hanya sibuk mendiskusikan siapa yang salah, Tuhan Yesus datang untuk memberi solusi yaitu menyembuhkan orang buta tersebut (ay. 6-7).

Demikian juga kita, mungkin ada di antara kita yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, atau suka membicarakan kejadian buruk yang dialami oleh orang lain, bahkan mungkin di antara sesama jemaat. Tapi kita seharusnya belajar dari teladan Tuhan Yesus yang tidak pernah menyalahkan orang lain, tetapi langsung bertindak dan dengan demikian memuliakan nama Tuhan. Kita harus berusaha mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Tuhan mau, selagi masih ada kesempatan bagi kita (ay. 4). Ketika ada sesama kita yang mengalami masalah, bukankah seharusnya kita langsung berinisiatif untuk menolongnya, tanpa harus berdebat terlebih dahulu siapa yang salah sehingga masalah ini bisa terjadi.

Yesus berkata di dalam ayat 5 bahwa selama Yesus di dalam dunia, Yesuslah terang dunia. Lalu bagaimana setelah Yesus telah naik ke surga dan sudah tidak ada di dalam dunia lagi? Tentunya kita sebagai murid-muridNya memiliki tanggung jawab untuk menjadi terang dunia itu sendiri. Yesus sendiri juga berkata bahwa kita adalah terang dunia (Mat 5:14). Kita pun memiliki tanggung jawab untuk menerangi dunia ini dengan kasih Kristus. Kalau kita adalah terang dunia, tentunya kita harus belajar untuk memiliki sudut pandang “mengapa” dan “bagaimana” seperti Tuhan Yesus, bukan “siapa” seperti sudut pandang murid-murid. Tujuan kita yang utama sebagai terang dunia adalah agar terang kita bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa yang di surga (Mat 5:16).



Bacaan Alkitab: Yohanes 9:1-7

9:1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.

9:2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"

9:3 Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.

9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.

9:5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."

9:6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi

9:7 dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.