Jumat, 11 Oktober 2019

Pornos dan Moichos (49): Hawa Nafsu Percabulan yang Memabukkan Segala Bangsa


Sabtu, 12 Oktober 2019
Bacaan Alkitab: Wahyu 14:6-12
Dan seorang malaikat lain, malaikat kedua, menyusul dia dan berkata: "Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya." (Why 14:8)


Pornos dan Moichos (49): Hawa Nafsu Percabulan yang Memabukkan Segala Bangsa


Dalam bagian pertengahan dari kitab Wahyu, Rasul Yohanes menulis suatu penglihatan mengenai tiga malaikat yang terbang dan memberitakan firman Allah. Disini ditulis bahwa malaikat pertama terbang di tengah-tengah langit dengan membawa Injil yang kekal untuk diberitakan kepada semua orang yang ada di atas bumi (ay. 6). Dan malaikat tersebut berseru dengan suara nyaring: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan semuanya” (ay. 7).

Ini adalah suara Tuhan yang disampaikan kepada semua bangsa, tidak hanya kepada orang Kristen atau orang Yahudi saja. Injil itu harus diberitakan kepada segala bangsa. Pertanyaannya, apakah Injil itu? Injil adalah berita keselamatan di dalam Yesus Kristus. Tetapi di dalam ayat 6 dan 7 ini sama sekali tidak ada kata Yesus Kristus. Jadi apakah ini adalah Injil yang salah?

Tentu tidak. Injil adalah kabar baik. Kabar bagi bagi semua orang adalah ketika kita menyadari akan adanya Allah yang Maha Kuasa, dan kita hidup dalam ketakutan dan kegentaran di hadapan Allah. Tentu ketakutan ini adalah ketakutan yang positif, antara lain kita berhati-hati supaya kita tidak berbuat dosa, supaya kita berhati-hati dalam berkata-kata maupun berbuat keputusan dalam hidup ini. Selain ketakutan yang proporsional, kita tentu harus memiliki motivasi yang benar untuk memuliakan Allah. Jadi tidak hanya bersifat “defensif”, yaitu tidak berbuat dosa saja, tetapi juga bersifat “ofensif” yaitu apapun yang kita lakukan, kita melakukannya untuk memuliakan Tuhan.

Inilah inti keselamatan yang sebenarnya, karena Allah ingin manusia dikembalikan kepada rancangan-Nya yang semula, sehingga manusia tidak berbuat dosa lagi dan manusia harus melakukan apa yang Allah kehendaki. Itulah penyembahan yang sejati. Ingat bahwa penyembahan dalam arti luas berarti memberi nilai tinggi (bahkan nilai tertinggi) bagi obyek yang kita sembah. Kita hanya dapat  menyembah Allah secara proporsional jika kita menjauhi dosa dan melakukan kehendak-Nya. Sebenarnya dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Jika kita berjuang melakukan kehendak-Nya dengan benar, maka kita tidak akan memiliki keinginan untuk berbuat dosa lagi. Justru dalam segala hal kita akan mencoba memperkarakan, hal apakah dalam hidup kita yang dapat memuliakan Dia? Tidak hanya di gereja saja, tetapi juga dalam segala hal.

Ketika kita memiliki keinginan dan gairah yang benar seperti ini, maka kita sebenarnya sedang menggelar “penghakiman” diri kita di hadapan-Nya. Kalau seseorang ingat akan masa penghakiman Tuhan, maka kita pasti akan berusaha menjaga diri kita supaya kita tidak berbuat dosa, dan dalam segala hal menyenangkan hatinya. Sama seperti seseorang jika mengingat pengadilan korupsi oleh KPK misalnya, maka orang yang memiliki hati yang benar pasti akan berjuang untuk tidak melakukan korupsi sekecil apapun, karena ia menyadari betapa mengerikannya jika ia sampai ditangkap KPK dan ditahan karena kasus korupsi. Namun iman yang benar haruslah jauh lebih berkualitas daripada itu. Kita melakukan apa yang benar bukan hanya karena kita takut akan penghukuman, tetapi karena kita ingin menyenangkan hati Allah Bapa di surga, sehingga kita memuliakan nama-Nya melalui kehidupan kita sepanjang waktu yang berbau harum di hadapan-Nya.

Jika itu adalah pesan yang disampaikan oleh malaikat pertama, maka malaikat kedua membawa pesan bahwa “Sudah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya” (ay. 8). Apakah yang dimaksud dengan hal ini? Kata Babel dalam Alkitab tidak hanya merujuk kepada kerajaan menara Babel atau kerajaan Babel yang dipimpin oleh Nebukadnezar yaitu Babel secara historis. Khususnya di kitab Wahyu, kata Babel ini selalu diikuti dengan kata “besar” (bandingkan Why 16:19, 17:5, 18:2, 18:10, 18:21). Jelas bahwa kata Babel di sini lebih menunjuk kepada suatu kiasan yang menyimbolkan atau melambangkan hal lain.

Perlu diingat, bahwa Rasul Yohanes kemungkinan menulis kitab Wahuk penuh dengan simbol dan kiasan supaya tidak dimengerti oleh orang lain yang tidak berhak (misalnya: pasukan Romawi), tetapi pastilah simbol-simbol ini sudah dimengerti oleh jemaat yang membacanya. Oleh karena itu, beberapa teolog menyimpulkan bahwa kata Babel di sini merujuk kepada kota Roma atau bangsa Romawi, karena kata Babel selalu digambarkan sebagai hal yang besar, dan merujuk kepada kota Roma yang merupakan salah satu kota terbesar pada saat itu dan bangsa Romawi yang merupakan bangsa yang besar dan menjajah bangsa Yahudi dan juga menindas orang percaya.

Namun saya melihat bahwa di ayat ini, kota Babel selain digambarkan sebagai sesuatu yang besar, tetapi juga memiliki satu ciri lain yaitu memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya (ay. 8b). Karena ciri ini, saya pun mencoba berpikir, apakah bangsa Romawi sampai memabukkan segala bangsa dengan hawa nafsu cabul? Ada beberapa kata penting di sini yang harus kita coba lihat supaya paling tidak kita memperoleh pemahaman yang memadai untuk dapat mengerti ayat ini.

Ada kata “memabukkan” di ayat ini yang menggunakan kata pepotiken (πεπότικεν) dari akar kata potizó (ποτίζω). Kata potizó di sini dapat bermakna to cause to drink, to give to drink, to furnish drink, to irrigate, to water (menyebabkan seseorang minum, memberi minum, menyediakan minum, mengairi, menyirami/meminumkan/mengairi). Inti dari perkataan ini adalah Babel (sebagai suatu simbol atau lambang) memberikan minum kepada bangsa-bangsa dan mereka pun minum dari anggur yang diberikan oleh Babel itu. Jadi bangsa-bangsa di sini seakan-akan tunduk dan tidak berdaya menolak tawaran minum yang diberikan oleh Babel.

Kata kedua yang kita harus lihat adalah kata “segala bangsa” yang dalam bahasa aslinya menggunakan kata ethnos (ἔθνος) yang walaupun berarti ras, bangsa atau bangsa-bangsa, namun pada umumnya merujuk kepada bangsa-bangsa lain di luar bangsa Yahudi. Dalam konteks jemaat mula-mula, kata ini juga sering digunakan untuk merujuk bangsa-bangsa lain selain orang percaya atau bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Oleh karena makna kata itu yang sangat luas, hampir semua terjemahan Alkitab (termasuk bahasa Indonesia) menerjemahkan kata ethnos sebagai bangsa-bangsa atau segala bangsa. Kata yang sama juga digunakan di ayat 6. Jadi saya sangat setuju bahwa Babel ini sudah mempengaruhi semua bangsa, termasuk juga orang Yahudi dan sangat mungkin termasuk jemaat dan orang percaya (khususnya mereka yang “hanya” beragama Kristen tanpa memahami prinsip kekristenan yang benar).

Kata “anggur” dalam ayat ini menggunakan kata oinos (οἶνος). Kata ini dapat bermakna minuman anggur yang biasa diminum oleh orang Yahudi dan orang Romawi pada waktu itu. Minuman anggur adalah minuman dari buah anggur yang difermentasi, sehingga mengandung sejumlah alkohol. Memang ada beberapa kata dalam bahasa Yunani yang bisa diterjemahkan sebagai “anggur”.  Tetapi perlu dipahami bahwa apa yang diminum di dalam Perjamuan Terakhir oleh Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya, sama sekali tidak menggunakan kata oinos melainkan menggunakan kata genematos tes ampelou (γενήματος τῆς ἀμπέλου) yang diterjemahkan sebagai “hasil pokok anggur”. Ada kemungkinan bahwa hasil pokok anggur yang dimaksud adalah minuman anggur yang tidak memabukkan (tidak beralkohol), atau minuman anggur yang tidak ditujukan untuk mabuk. Dengan demikian, penggunaan kata oinos ini menunjuk kepada tujuan pemberian minuman anggur itu supaya orang yang meminumnya menjadi mabuk. Mengingat salah satu ciri minuman beralkohol adalah rasa ketagihan/kecanduan, hal ini menggambarkan bahwa apa yang diberikan oleh Babel ini adalah supaya orang yang meminumnya menjadi ketagihan dan terikat dengan hawa nafsu cabul, yang akan kita bahas pada paragraph di bawah ini.

Kata “hawa nafsu” dalam ayat ini menggunakan kata thumos (θυμός) yang dapat memiliki makna berupa passion, angry heat, glow, ardor, outburst of passion, wrath (gairah, nafsu/hawa nafsu, panas marah, gelora, semangat/Hasrat, ledakan gairah, kemarahan). Jadi jelas bahwa kata thumos ini tidak sekedar berupa hawa nafsu secara umum (seperti nafsu makan), tetapi lebih menekankan pada ledakan perasaan atau ledakan amarah yang timbul dengan segera (seperti jika seseorang emosi dan langsung marah dengan meledak-ledak). Jika kata ini dikaitkan dengan kata-kata lainnya seperti di ayat 8 ini, maka dapat kita lihat bahwa tujuan pemberian anggur itu adalah supaya orang yang meminumnya tidak memiliki kendali atas dirinya dan dapat dengan mudah “meluapkan/meledakkan” percabulan yang ada di dalam dirinya.

Kata terakhir yang kita bahas di ayat ini yaitu kata “cabul” di sini menggunakan kata porneia (πορνεία) yang dapat diartikan sebagai perzinahan/percabulan secara jasmani, dan juga penyembahan berhala (perzinahan secara rohani). Dalam pembahasan kita di renungan-renungan sebelumnya, kita melihat bagaimana pada umumnya tindakan percabulan/perzinahan dimulai dari taraf atau tingkatan moicheuó. Ketika orang tersebut tidak segera bertobat, maka tindakan moicheuó akan dapat mencapai tingkatan porneia. Hampir tidak ada orang yang bisa berzinah jika tidak dimulai dari hal-hal kecil seperti menonton film porno, masturbasi, chat porno, dan lain sebagainya.

Tetapi dalam ayat ini, kita melihat bagaimana Babel dengan segala tipu dayanya mencoba untuk memberi anggur yang memabukkan kepada bangsa-bangsa supaya mereka meminum anggur itu dan kemudian mereka meluapkan percabulan mereka. Ini menunjukkan semangat Babel pada akhir zaman yang sangat berbahaya karena mereka ingin membuat bangsa-bangsa meledakkan nafsu percabulan mereka. Percabulan yang dimaksud di sini bisa jadi percabulan rohani (menyembah berhala, tidak menyembah Allah yang benar, mencintai dunia), namun juga dapat diartikan sebagai percabulan jasmani (pornografi, perzinahan, dan lain sebagainya). Jika kita mau jujur, spirit percabulan ini semakin nyata terlihat di akhir zaman ini. Berita-berita mengenai percabulan, perzinahan, pemerkosaan, dan lain-lain sangat marak terjadi. Pornografi juga semakin mudah diakses oleh masyarakat, termasuk anak-anak di bawah umur. Belum lagi para selebritis yang menunjukkan gaya hidup yang penuh percabulan (hamil di luar nikah, kawin cerai, dan sebagainya) yang juga sudah mulai merambat masuk ke dalam gereja dan jemaat. Bahkan tidak jarang justru para pelayan gereja atau para pendeta yang jatuh ke dalam dosa ini dan memberi contoh buruk kepada jemaat pada umumnya.

Setelah malaikat kedua menyampaikan beritanya, maka muncullah malaikat ketiga yang berkata bahwa jika seseorang menyembah binatang dan patungnya itu dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya, maka ia akan minum dari anggur murka Allah dan disiksa dengan api dan belerang selama-lamanya (ay. 9-11). Jelas bahwa penyembahan terhadap binatang dan patungnya itu disejajarkan dengan menerima tanda pada dahi dan pada tangan. Artinya tanda di dahi dan tanda di tangan ini menunjukkan penyembahan terhadap oknum yang salah. Banyak orang berpendapat bahwa tanda itu adalah semacam barcode atau chip yang akan ditanamkan ke dalam tangan dan dahi seseorang, sebagai tanda penyembahan. Saya tidak dapat menyimpulkan apakah ini benar atau tidak, tetapi kita akan mencoba melihat dari kata aslinya.

Kata “tanda” dalam ayat 9 dan 11 menggunakan kata charagma (χάραγμα). Kata charagma tersebut memiliki makna a stamp, a sign, an imprinted mark, impress, sculpture, engraving (sebuah stempel, sebuah tanda, tanda yang dicetak, hasil cetakan, patung/pahatan, ukiran). Selain di kitab Wahyu, kata ini hanya muncul 1 kali dalam kitab lain yaitu dalam Kis 17:29 yang justru di dalam Alkitab Terjemahan Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “ciptaan kesenian” meskipun di Alkitab terjemahan lain kata itu diterjemahkan sebagai “an image formed by art”, “something shaped by art” dan “graven by art” (suatu seni patung, seni pahat, seni ukiran). Jadi di sini yang terpenting bukan makna “seni”-nya tetapi cara membuatnya yaitu melalui pahatan maupun ukiran.

Sementara kata “binatang” menggunakan kata thérion (θηρίον) yang dapat berarti binatang liar, binatang buas, binatang yang berbahaya, dan binatang yang tidak dapat dijadikan persembahan kurban. Dari 46 kali kemunculan kata thérion ini di Perjanjian Baru, sebanyak 39 kali kata ini muncul di kitab Wahyu. Dan jika kita membaca kitab Wahyu dengan teliti, kita akan melihat bahwa kata ini hampir selalu merujuk kepada suatu kekuatan jahat yang memerangi orang-orang percaya dan kerajaan Tuhan. Ini merujuk kepada kerajaan kegelapan dengan segala manifestasinya, termasuk mengadakan tanda-tanda heran yang justru menyesatkan banyak orang (bandingkan Why 13:11-14).

Dalam beberapa ayat, kata “binatang” ini disandingkan dengan kata “patung” (eikon/εἰκών). Kata eikon ini memang dapat merujuk kata patung atau gambar (figure) secara harafiah (Mat 22:20, Mrk 12:16, Luk 20:24), namun dalam Perjanjian Baru kata ini lebih sering diartikan sebagai suatu gambaran (image) atau suatu keserupaan (likeness). Dalam penggunaannya, kata ini bersifat netral, sehingga kata ini juga digunakan untuk menunjuk gambaran ilahi (Rm 8:29, 1 Kor 11:7, Kol 1, 15, dan lain sebagainya). Namun di dalam kitab Wahyu, kata ini sangat sering digunakan berpasangan dengan binatang tadi. Saya berpikir bahwa ada kemungkinan binatang itu merujuk kepada kuasa kegelapan atau kuasa antikristus yang digambarkan oleh iblis, dan “patung” (eikon) itu adalah gambaran dari orang-orang yang memiliki spirit antikristus tersebut (jadi bukan patung secara harafiah).

Hal ini saya dasarkan pada fakta bahwa hampir semua ayat di dalam Perjanjian Baru yang menggunakan kata eikon ini tidak merujuk pada patung, tetapi lebih kepada gambaran sesuatu (bisa gambaran Kaisar pada uang logam maupun gambaran Allah). Lagipula saat ini hampir tidak ada orang-orang yang cukup bodoh yang mau menyembah patung iblis dan mengaku sebagai pengikut iblis. Pastilah iblis menyamarkan “patung” tersebut sehingga mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka menyembah iblis, karena mereka menyangka mereka sudah menyembah “gambaran” (eikon) yang benar. Ingat bahwa kitab Wahyu penuh dengan simbol-simbol yang yang tidak mudah dimengerti oleh orang awam, tetapi justru sudah dimengerti oleh jemaat pada waktu itu.

Kita dapat melihat bahwa “patung/gambaran” (eikon) itu memiliki kuasa antikristus yang sangat dahsyat, sehingga banyak orang menyembah “patung” itu dan bahkan mereka berani bertindak, bahwa siapapun yang tidak menyembah patung itu akan dibunuh (Why 13:14). Siapakah yang membunuh? Dalam hal ini saya memahami bahwa yang membunuh bukanlah binatang itu, melainkan orang-orang yang sudah terkontaminasi dengan semangat kuasa kegelapan itu, yaitu para pengikut binatang dan penyembah “patung” itu, dimana mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka sedang menyembah iblis. Orang-orang ini adalah mereka yang merasa pantas membunuh orang-orang yang tidak menyembah “patung/gambaran” itu karena mereka berpikir mereka sedang membela apa yang mereka pandang benar.

Jelas bahwa penyembahan/pengagungan kepada “patung/gambaran” tersebut adalah penyembahan kepada iblis (binatang/kuasa kegelapan). Terkait dengan tanda di dahi dan tanda di tangan, kita dapat melihat bahwa tanda itu adalah seperti suatu pahatan/ukiran, artinya sesuatu yang diukir di dahi dan di tangan dan seharusnya terlihat jelas oleh orang lain. Apakah ini barcode atau chip? Bisa jadi juga begitu. Atau hal ini juga dapat berarti hal lain yang membekas dan permanen di dahi dan tangan sebagai tanda bahwa mereka menyembah kuasa antikristus (meskipun kebanyakan mereka tidak sadar karena mereka menganggap bahwa mereka sudah menyembah Allah yang benar).

Tanda di tangan dan di dahi ini berbeda dengan nama Tuhan yang tertulis di dahi orang-orang percaya (bandingkan Why 14:1). Dalam Wahyu 14:1 misalnya, ada tulisan nama-Nya pada dahi orang-orang percaya. Kata tulisan di sini menggunakan kata graphó (γράφω) dan bukan eikon. Dari kata graphó inilah muncul istilah graph (graf) yang bermakna tulisan (telegraph, seismograf, dan lain sebagainya). Sebaliknya dari kata eikon muncul istilah icon (ikon) yang selain berarti gambaran, tetapi juga dapat berarti a person or thing regarded as a representative symbol (seseorang atau suatu benda yang dipandang sebagai suatu simbol yang mewakili) atau a very famous person or thing considered as representing a set of beliefs or a way of life (seseorang yang sangat terkenal atau suatu benda yang dihormati sebagai suatu perwakilan atas seperangkat keyakinan atau suatu jalan hidup).

Jadi tanda yang diberikan di tangan dan dahi seseorang yang menyembah binatang itu, ibarat suatu hal yang mewakili keyakinan atau jalan hidup seseorang, dalam hal ini adalah jalan hidup di luar jalan Tuhan. Seseorang tidak mungkin menerima tanda pada dahi dan tangan jika ia tidak menyembah binatang dan “patungnya” tersebut. Bagi orang-orang yang menyembah binatang dan “patungnya” itu, maka mereka akan minum dari anggur murka Allah, yang tanpa campuran dalam cawan murka-Nya (ay. 10a). Dalam ayat 10 ini ada kata “anggur” yang menggunakan kata oinos (οἶνος) dan kata “murka” yang menggunakan kata thumos (θυμός), sama dengan yang digunakan di ayat 8. Jelas bahwa barang siapa yang mabuk karena anggur hawa nafsu percabulan seperti dijelaskan di ayat 8, akan menerima anggur murka Allah di ayat 10 ini. Penggunaan kata yang serupa menunjukkan kesejajaran pilihan yang diambil dengan hukuman yang akan diterima oleh manusia.

Anggur di ayat 10 ini adalah anggur yang dikatakan “tanpa campuran”. Dalam bahasa aslinya, ada dua kata yang digunakan di sini yaitu kekerasmenou akratou (κεκερασμένου ἀκράτου). Kata kekerasmenou berasal dari kata dasar kerannumi (κεράννυμι) yang berarti to mix, to mingle, to mix wine and water, to pour out for drinking (mencampur, mengaduk, mencampur anggur dengan air, mencurahkan/menuangkan minuman untuk diminum). Sementara kata akratou berasal dari kata dasar akratos (ἄκρατος) yang bermakna unmixed, undiluted, pure (tidak tercampur, tidak diencerkan, murni). Penggunaan kedua kata ini agak kontradiktif, karena kata pertama berbicara mengenai mencampur atau mengencerkan (mencampur anggur dan air), tetapi kata kedua berbicara mengenai kondisi yang tidak dicampur dan tidak diencerkan.

Oleh karena itu, saya secara pribadi berpendapat bahwa kata kekerasmenou/kerannumi di atas lebih tepat diartikan sebagai menuangkan suatu minuman (bisa dari gentong/kendi ke tempat yang lebih kecil lagi) namun tanpa campuran sehingga minuman itu adalah minuman yang murni. Jika minuman yang dimaksud adalah alkohol, maka alkohol yang dituang adalah alkohol yang murni yang tidak dicampur/diencerkan dengan air. Dalam konteks ayat 10 ini dimana minuman yang dimaksud adalah anggur yang melambangkan murka (ledakan perasaan) dari Allah sendiri, hal ini dapat dimengerti sebagai suatu murka Allah yang murni, tanpa adanya suatu “diskon/potongan/pengurangan” sama sekali.

Kita dapat melihat dalam sambungan ayat 10 tadi dimana orang-orang yang menyembah binatang dan “patungnya” ini (yang sejajar dengan mereka yang memiliki “tanda” di dahi dan di tangan) akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba (ay. 10b). Ini menunjukkan suatu hukuman yang luar biasa atas orang-orang jahat tersebut. Dalam Alkitab, penggunaan api dan belerang menunjukkan suatu hukuman yang dahsyat dan luar biasa (bandingkan dengan Kej 19:24, Yeh 38:22, Luk 17:29). Kata api dan belerang juga dipakai di kitab Wahyu sebanyak enam kali, dan semuanya menunjukkan bencana atau hukuman yang dahsyat kepada manusia yang berdosa. Bahkan lautan api dan belerang ini menunjukkan suatu tempat dimana binatang dan nabi palsu akan dihukum selama-lamanya (bandingkan Why 20:10, Why 21:8). Hal yang sama digambarkan di dalam ayat selanjutnya dimana dikatakan bahwa asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya (ay. 11).

Begitu mengerikan hukuman yang diberikan Allah kepada orang-orang yang mabuk dari anggur yang dberikan oleh Babel, yaitu anggur yang membangkitkan hawa nafsu percabulan. Oleh karena itu kita harus senantiasa berjaga-jaga karena penyesatan yang dibuat oleh iblis sangatlah halus dan rapi. Banyak orang yang tidak hati-hati akan terpikat dan terjebak dalam penyembahan kepada iblis tanpa mereka sadari. Karena ketika seseorang tidak menyembah Allah yang benar, maka sesungguhnya mereka sedang menyembah obyek lain, yang kemungkinan besar adalah kuasa kegelapan, bukan kuasa kerajaan surga. Oleh karena itu Rasul Yohanes menuliskan bahwa yang terpenting adalah ketekunan dari orang-orang kudus yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus (ay. 12)

Dalam ayat 12 itu, beberapa terjemahan bahasa Inggris menulis Here is the patience/endurance of the saints yang dapat diterjemahkan “inilah ketekunan atau daya tahan yang dimiliki oleh orang-orang kudus/orang percaya” atau “hal inilah yang menjadi daya tahan bagi orang-orang kudus untuk dapat bertahan”. Ada hal-hal yang membuat kita dapat bertahan dari segala macam tipu daya iblis yaitu melalui penurutan terhadap perintah Allah dan iman yang benar kepada Tuhan Yesus. Tanpa penurutan terhadap perintah Allah dan iman yang benar, maka kita akan mudah terombang-ambing. Dalam hal ini tanpa iman yang benar di dalam tuntunan Roh Kudus, kita akan menjadi sasaran empuk penyesatan yang dilakukan oleh kerajaan kegelapan. Tanpa kita sadari kita mungkin sedang mengecap anggur percabulan dari Babel, dan jika kita tidak berhati-hati, kita akan terseret ke dalam hukuman kekal.





Bacaan Alkitab: Wahyu 14:6-12
14:6 Dan aku melihat seorang malaikat lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum,
14:7 dan ia berseru dengan suara nyaring: "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air."
14:8 Dan seorang malaikat lain, malaikat kedua, menyusul dia dan berkata: "Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya."
14:9 Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: "Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya,
14:10 maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba.
14:11 Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya."
14:12 Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.

Senin, 07 Oktober 2019

Pornos dan Moichos (48): Kondisi Manusia di Akhir Zaman yang Sulit untuk Bertobat


Senin, 7 Oktober 2019
Bacaan Alkitab: Wahyu 9:20-21
Dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian. (Why 9:21)


Pornos dan Moichos (48): Kondisi Manusia di Akhir Zaman yang Sulit untuk Bertobat


Kitab Wahyu dipercaya sebagai salah satu kitab yang menubuatkan masa depan dan akhir dari kehidupan manusia di dunia ini, sebelum datangnya kerajaan Allah yang kekal. Dalam bahasa Inggris, nama kitab ini adalah Revelation, yang berarti penyingkapan atau pengungkapan. Jadi kitab Wahyu seharusnya menyingkap dan mengungkap hal-hal yang belum diketahui pada saat itu (pada saat kitab Wahyu ditulis). Banyak pasal dalam kitab Wahyu yang berbicara mengenai masa yang akan datang, baik ditinjau dari sudut pandang Yohanes (sekitar abad 1 masehi) dan juga bagi kita yang hidup saat ini. Paling tidak, dalam Wahyu 9 ini yang berbicara mengenai sangkakala kelima dan keenam, banyak dipandang oleh ahli Alkitab masih belum terjadi dan merujuk kepada kejadian di masa yang akan datang.

Berbicara mengenai ketujuh sangkakala di kitab Wahyu, maka sangkakala keenam yang menjadi konteks ayat-ayat bacaan kita hari ini, tentu tidak dapat dipisahkan dari sangkakala-sangkakala sebelumnya. Dalam ayat-ayat sebelumnya, Rasul Yohanes menuliskan bencana yang akan menimpa sepertiga dari bumi dan langit ini ketika sangkakala pertama hingga keempat ditiup (Why 8:1-13). Selanjutnya sangkakala kelima berbicara mengenai penyiksaan terhadap manusia, dan sangkakala keenam berbicara mengenai perang yang akan membunuh sepertiga manusia (Why 9:1-19). Kira-kira, apa yang akan terjadi ketika malapetaka ini dialami oleh manusia di muka bumi ini. Apakah mereka akan bertobat melihat bencana yang ada di depan mata mereka?

Dulu saya berpikir bahwa manusia jika diberikan bencana maka mereka akan bertobat, menginstropeksi diri, dan ke depannya akan berubah menjadi lebih baik lagi karena diingatkan mengenai kematian yang bisa datang kapan saja. Ternyata pemikiran saya selama ini salah. Kita ambil contoh saja di negeri kita tercinta, Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, sudah banyak bencana yang menimpa Indonesia dan menewaskan ratusan bahkan mungkin ribuan korban jiwa. Apakah penduduk Indonesia kemudian melakukan pertobatan massal dan berbalik dari jalan-jalan mereka yang jahat? Saya piker tidak. Justru bencana-bencana yang ada tidak membuat orang Indonesia menjadi lebih baik secara moral. Mereka justru sibuk mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain, bahkan tidak segan-segan menggunakan membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain, bahkan membangun opini untuk menjatuhkan orang lain. Tidak hanya di Indonesia tetapi hal ini juga terjadi di hampir semua belahan bumi. Akibatnya, semakin hari kondisi dunia ini semakin mengkhawatirkan bagi mereka yang hidup benar.

Hal ini ternyata juga sudah tertulis dalam nubuatan di kitab Wahyu. Dengan segala bencana yang terjadi atas bumi ini sejak sangkakala pertama hingga keenam, ternyata manusia lain yang tidak mati oleh malapetaka tersebut, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka yang jahat (ay. 20a). Ini adalah gambaran orang-orang yang sudah sangat jahat di akhir zaman ini. Hati nurani mereka sudah tumpul dan sudah tidak dapat diperbaiki meskipun bencana yang hebat ada di depan mata mereka sendiri. Mereka sudah tidak memikirkan kekekalan secara proporsional, karena hati mereka sudah terikat dengan hal-hal yang duniawi.

Dikatakan bahwa mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala (ay. 20b). Kata menyembah dalam ayat ini adalah proskynēsousin (προσκυνήσουσιν) dari akar kata proskuneó (προσκυνέω). Kata proskuneó ini sebenarnya lebih banyak digunakan untuk menunjukkan penyembahan kepada Tuhan, namun dalam beberapa ayat kata ini digunakan juga untuk menunjuk penyembahan kepada obyek lain, yang dalam ayat ini merujuk kepada roh-roh jahat dan berhala-berhala. Kata menyembah sendiri dalam arti sempit berarti tunduk, dan dalam arti luas berarti memberi nilai tinggi. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa manusia akhir zaman sudah tidak lagi memberi nilai tinggi kepada Tuhan, tetapi justru kepada obyek lain, dalam hal ini adalah roh jahat dan berhala-berhala.

Orang-orang ini akan menyembah roh-roh jahat yang secara tidak langsung menyembah iblis, dan juga menyembah berhala. Beberapa orang Kristen berpikir, kalau begitu aman jika kita masih menyembah Tuhan dalam ibadah-ibadah di gereja. Persoalannya tidak sesederhana itu, karena penyembahan sendiri tidak hanya boleh dipandang sebagai penyembahan di gereja, tetapi siapa yang kita berikan nilai tinggi dalam hidup kita. Kita bisa berkata “Oh Tuhan, aku menyembah-Mu” selama ibadah selama dua jam di gereja. Namun apakah dalam 22 jam lainnya, atau bahkan dalam enam hari lainnya kita sudah menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya pribadi yang kita beri nilai tinggi?

Itulah sebabnya ayat 20 ini juga harus dimaknai bahwa jika kita tidak menjadikan Tuhan sebagai pribadi yang kita beri nilai tinggi setiap saat, maka sesungguhnya ada hal lain yang kita berikan nilai tinggi, dan itulah penyembahan kita yang sebenarnya. Jadi orang dapat dikatakan menyembah roh-roh jahat atau berhala bukan karena dia berkata “Oh roh jahat, aku menyembahmu” atau “Oh berhala, aku menyembahmu”, tetapi bisa juga karena ia tidak menjadikan Tuhan sebagai obyek penyembahan yang benar dan satu-satunya dalam hidupnya.

Orang yang menyembah roh-roh jahat, berarti ia tidak menjadikan Tuhan sebagai prioritas hidupnya, dan pola pikirnya dikuasai oleh hal-hal yang bersifat jahat. Orang ini tidak segan-segan mencuri, berbohong, atau korupsi ketika ada kesempatan, selama hal itu dipandang akan menguntungkan dirinya. Melanggar hukum-hukum umum atau norma-norma sosial sudah dianggap sebagai suatu hal yang wajar dalam hidupnya, selama apa yang ia inginkan bisa tercapai meskipun harus melakukan pelanggaran moral atau pelanggaran hukum.

Sedangkan orang-orang yang menyembah berhala adalah mereka yang terikat dengan harta duniawi dan kekayaan yang bersifat fana. Tidak heran bahwa Yohanes menulis berhala-berhala yang disembah adalah berhala-berhala yang terbuat dari emas dan perak, tembaga, batu, dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan. Ayat ini memang bisa juga merujuk kepada orang-orang yang melakukan penyembahan terhadap benda-benda mati (patung-patung atau berhala-berhala) secara harafiah. Namun ayat ini juga memiliki makna figurative dimana yang diberi nilai tinggi oleh manusia akhir zaman adalah segala harta benda dunia, baik itu emas, perak, tembaga, batu maupun kayu. Semua hal akan diukur dengan ukuran harta kekayaan dunia, meskipun itu bukanlah obyek penyembahan yang benar, karena semua itu hanyalah benda mati yang fana dan tidak memiliki pribadi. Inti dari ayat 20 ini adalah bahwa manusia akhir zaman sudah tidak lagi mengerti siapa yang pantas menjadi obyek penyembahan yang benar, dan mereka akan menyembah apapun dan siapapun yang menurut mereka layak untuk disembah, sesuai dengan pola pikir mereka yang sudah rusak.

Dampak dari penyembahan yang salah ini kemudian membuat mereka juga tidak bertobat dari hal-hal jahat yang mereka lakukan. Setidaknya ada empat perbuatan jahat yang disebutkan dalam ayat ini: Pembunuhan, sihir, percabulan, dan pencurian. Inilah ciri-ciri manusia akhir zaman yang tidak segan-segan untuk membunuh, terpikat bahkan mempraktikkan hal-hal gaib dan juga sihir, hidup dalam percabulan, serta tidak segan-segan untuk mencuri atau mengambil apa yang bukan merupakan haknya atau miliknya (ay. 21). Terkait dengan percabulan yang kita bahas dalam serial renungan kita beberapa waktu belakangan ini, kita dapat melihat bahwa kata “percabulan” dalam ayat 21 ini menggunakan kata porneia (πορνεία) yang merujuk pada tindakan percabulan yang jauh lebih parah daripada hanya sekedar tindakan moicheuo. Secara tidak langsung, hal ini berarti bahwa manusia akhir zaman memang memiliki moral yang sangat rendah, di mana tindakan percabulan yang masuk kategori porneia pun sudah menjadi hal yang wajar untuk dilakukan.

Dari keempat tindakan jahat yang disebutkan di ayat 21, kita dapat melihat bahwa tindakan percabulan itu disejajarkan dengan tindakan pencurian, praktik sihir, bahkan pembunuhan. Bisa dibayangkan ada orang-orang yang memiliki moral yang sangat rendah dan dengan mudah mencuri milik orang lain (korupsi), atau dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain karena masalah sepele, atau dengan mudah pula melakukan percabulan yang merusak hakikat pernikahan (misal: mempunyai selingkuhan, atau suka melakukan hubungan seksual dengan para pelacur). Ini adalah gambaran manusia akhir zaman seperti yang ditulis dalam Alkitab. Dan jika kita mau jujur, berita surat kabar belakangan ini pun sudah mengarah kepada ciri-ciri manusia akhir zaman. Ini menunjukkan bahwa kita sudah berada di bagian akhir dari sejarah dunia ini. Suka atau tidak suka, akan terjadi pemisahan yang hebat, dimana orang benar akan berjuang untuk semakin benar, dan orang jahat akan menjadi semakin jahat. Ketika itu terjadi, bersiap-siaplah dalam pengharapan yang benar akan kerajaan Allah, supaya kita diperkenan untuk masuk ke dalam kemuliaan bersama dengan Bapa di surga.



Bacaan Alkitab: Wahyu 9:20-21
9:20 Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka: mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala dari emas dan perak, dari tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan,
9:21 dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian.

Minggu, 06 Oktober 2019

Pornos dan Moichos (48): Hukuman kepada “Wanita Izebel” dan Orang-orang yang Mengikutinya


Minggu, 6 Oktober 2019
Bacaan Alkitab: Wahyu 2:21-23
Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya. Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu. (Why 2:21-22)


Pornos dan Moichos (48): Hukuman kepada “Wanita Izebel” dan Orang-orang yang Mengikutinya


Pada renungan sebelumnya kita telah belajar mengenai ajaran “wanita Izebel” yang sudah masuk ke dalam jemaat Tiatira bahkan telah menyesatkan hamba-hamba Tuhan di sana. Hari ini kita akan belajar mengenai apa yang akan terjadi pada “Wanita Izebel” dan juga orang-orang yang mengikutinya tersebut.

Dalam ayat 21, Tuhan berkata bahwa Ia telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya. Siapa yang dimaksud dengan dia dalam ayat ini? Dalam bahasa aslinya, digunakan kata autē (αὐτῇ) yang merupakan bentuk feminim dari kata orang ketiga tunggal. Jelas bahwa ini sebenarnya merujuk pada sosok nabiah palsu atau “wanita Izebel” yang dimaksud dalam ayat-ayat sebelumnya. Dalam konteks jemaat Tiatira pada waktu itu, bisa jadi ini merujuk pada nama salah satu nabiah palsu yang ada di kota tersebut. Tapi mengingat bahwa ketujuh jemaat ini adalah gambaran perwakilan jemaat yang ada di berbagai tempat dan waktu, maka ini bisa juga adalah menggambarkan Iblis dengan spiritnya yang mencoba menyesatkan orang percaya.

Dalam hal ini Tuhan sudah memberikan waktu kepadanya untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya. Kata zinah di sini menggunakan kata porneias (πορνείας) dari akar kata porneia (πορνεία) yang dapat berarti  fornication, whoredom (perzinahan, persetubuhan di luar nikah, persetubuhan yang dilakukan atas rasa suka sama suka dan saling membutuhkan tanpa paksaan dan tanpa bayaran antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat pernikahan atau perkawinan, persundalan, pelacuran atau aktivitas seksual lain tanpa memilih-milih). Kata ini juga dapat bermakna metafora sebagai idolatry (pemujaan berhala atau menyembah dewa lain selain Allah yang benar).

Karena konteks ayat 21 ini dapat dimaknai secara historis (yaitu merujuk kepada nabiah palsu di Tiatira pada zaman surat ini ditulis), secara futuris (yaitu merujuk kepada orang-orang yang mirip seperti nabiah palsu tersebut pada jemaat lain yang memiliki ciri-ciri seperti jemaat Tiatira), dan juga secara metaforis (merujuk kepada Iblis yang tidak mau bertobat). Oleh karena itu, kita tidak bisa memaksakan bahwa ayat ini lebih tepat ditujukan kepada satu obyek tertentu. Tetapi kita harus melihat ciri dari obyek yang dimaksud yaitu bahwa meskipun sudah diberi kesempatan oleh Allah, tetapi nyatanya ia tetap tidak mau bertobat dari perzinahan yang ia lakukan.

Oleh karena itu, ada hukuman bagi mereka yang tidak mau bertobat, yaitu akan dilemparkan Tuhan ke atas ranjang orang sakit (ay. 22a). Kata ranjang orang sakit ini menggunakan kata kline (κλίνη) yang dapat  berarti  a couch, bed, portable bed or mat, a couch for reclining at meals, possibly also a bier (dipan, ranjang, tilam, tempat tidur, tempat tidur/tikar yang dapat dibawa-bawa, semacam sofa/kursi malas yang digunakan untuk berbaring pada saat perjamuan, kemungkinan juga adalah sebuah tandu/usungan). Kata ini cukup umum digunakan dalam Alkitab di Perjanjian Baru, pada umumnya merujuk kepada tempat tidur yang digunakan oleh orang sakit (Mat 9:2, Mat 9:6, Luk 5:18), tempat tidur secara umum (Mrk 4:21, Mrk 7:30, Luk 8:16, Luk 17:34). Dalam penggunaannya di ayat 22, saya belum dapat menyimpulkan dengan pasti apakah kata kline ini bermakna tempat tidur/ranjang/tandu untuk orang sakit, ataukah hanya bermakna tempa tidur secara umum, yang dapat digunakan untuk melakukan perzinahan. Frasa “melemparkan dia ke atas ranjang” bisa bermakna untuk memberi hukuman berupa sakit kepada orang yang bersalah, tetapi bisa juga bermakna konotatif seperti mempersilahkan orang lain untuk berzinah dengan orang tersebut.

Namun terlepas dari pembahasan kita di paragraf di atas, kita harus tahu bahwa setiap kesalahan yang kita lakukan pasti memiliki konsekuensi. “Wanita Izebel” tersebut (apapun makna yang kita pahami) telah menerima hukuman yaitu dilemparkan ke ranjang (bisa bermakna ranjang orang sakit yang menunjuk hukuman Tuhan). Dan orang-orang yang juga berbuat zinah dengan dia akan dilemparkan pula ke dalam kesukaran besar. Kata “berbuat zinah” dalam ayat 22 ini menggunakan kata yang berbeda dengan ayat 21. Dalam ayat 22, digunakan kata moicheuontas (μοιχεύοντας) dari akar kata moicheuó (μοιχεύω) yang merupakan percabulan tetapi dengan tingkatan yang dipandang lebih rendah daripada porneia.

Namun jangan salah menyangka bahwa orang yang melakukan moicheuó lebih “aman”. Jangan sampai ada pemikiran bahwa “Oh, kalau begitu kita melakukan sampai tingkatan moicheuó saja, kan tidak sampai mencapai tingkat porneia”. Kenyataannya, porneia pun dimulai dari tindakan moicheuó yang tidak segera dihilangkan, sehingga lambat laun bertambah dan bertumpuk-tumpuk hingga mencapai level porneia. Bahkan dalam ayat ini juga ditulis bahwa mereka (merujuk kepada orang-orang Kristen/jemaat Tuhan bahkan mungkin hamba-hamba Tuhan) yang berbuat zinah dengan “wanita Izebel” itu akan dilemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan “wanita Izebel” itu (ay. 22b).

Jelas bahwa jemaat di Tiatira ini sudah mencapai taraf yang mengkhawatirkan. Hamba-hamba Tuhan di sana sudah mengikuti ajaran “wanita Izebel” ini dan bahkan sudah dipandang melakukan zinah (moicheuó) dengan “wanita Izebel” ini. Akibatnya, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu, maka mereka akan dilemparkan Tuhan ke dalam kesukaran besar. Kesukaran yang besar ini juga dapat merujuk kepada kesukaran sebagai konsekuensi atas kesalahan orang-orang percaya itu, atau juga dapat merujuk kepada waktu kesukaran atau waktu yang sukar secara umum. Selain itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ini merujuk pada hukuman kekal di neraka. Karena memang kitab Wahyu ini penuh dengan symbol, maka semua kemungkinan tersebut bisa saja benar. Sehingga poin yang harus kita ambil di ayat ini adalah pentingnya pertobatan supaya kita tidak terkena hukuman dari Allah berupa kesukaran besar itu.

Bahkan jika melihat di ayat selanjutnya, ada hukuman yang lebih dahsyat lagi yaitu anak-anaknya akan dimatikan oleh Tuhan (ay. 23a). Jika kita membaca sekilas, kita akan berpikir bahwa ini masih merupakan sambungan dari ayat sebelumnya (ayat 22) yang menunjuk kepada hukuman bagi orang-orang yang berzinah dengan wanita Izebel itu, dimana anaknya kemudian akan mati. Oleh sebab itu, ada sebagian kecil orang Kristen yang kemudian berkata: “Tuh buktinya orang itu anaknya tidak mati, berarti dia tidak berdosa dong”.

Sebenarnya dalam ayat 23 ini, akhiran “-nya” yang dimaksud di sini merujuk kepada “wanita Izebel” itu. Jadi anak-anaknya yang dimaksud dalam ayat ini merujuk kepada anak-anak dari “wanita Izebel” tersebut. Kata anak-anak di sini juga tidak menggunakan kata huios atau nothos tetapi menggunakan kata teknon (τέκνον) yang selain bermakna children (anak-anak), namun juga lebih sering diartikan sebagai descendent, inhabitans (keturunan, penduduk/penghuni/warga). Jadi anak-anaknya disini berarti adalah orang-orang yang mewarisi karakter dari “wanita Izebel” ini. Ketika Tuhan berkata bahwa Ia akan mematikan anak-anak Izebel, maka itu juga bisa bermakna kematian jasmani maupun kematian rohani. Namun demikian, dalam tulisannya lebih lanjut dikatakan bahwa semua jemaat akan mengetahui bahwa Allah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Ia akan membalaskan perbuatan dari setiap orang (ay. 23b).

Dalam bahasa aslinya, kata mengetahui menggunakan kata gnōsontai (γνώσονται) dari akar kata ginóskó (γινώσκω). Dalam bahasa Yunani, ada dua kata yang umum diterjemahkan sebagai kata “tahu”, yaitu kata eidó dan ginóskó. Kata eidó ini lebih bermakna sebagai “tahu karena melihat dengan mata”. Sementara kata ginóskó lebih bermakna sebagai “tahu karena mengalami sendiri”. Itulah sebabnya kata ginóskó juga cukup sering diterjemahkan sebagai “mengenal”, karena membutuhkan suatu pengalaman pribadi terhadap obyek yang dimaksud.

Ketika kata ginóskó ini digunakan di ayat 23 ini, maka kita akan mengerti bahwa jemaat yang dimaksud oleh Tuhan akan mengalami sendiri fakta bagaimana orang-orang yang mewarisi ajaran “wanita Izebel” itu menerima hukuman dari Allah. Ingat bahwa hukuman itu tidak boleh hanya dipandang bahwa mereka akan menerima azab di dunia ini, hidupnya susah, miskin, sakit-sakitan, dan lain sebagainya. Tetapi jemaat akan mengalami sendiri bahwa orang-orang seperti ini tidak memiliki keagungan sebagai anak-anak Allah yang sah. Mereka bisa jadi adalah orang-orang yang sukses, kaya, terhormat di mata manusia, dan sebagainya. Namun dalam pengalaman dan interaksi dengan orang-orang seperti ini, orang percaya yang peka akan suara Tuhan akan mengerti bahwa orang-orang tersebut mungkin sudah memiliki kerohanian yang sudah mati, dan sangat mungkin juga sudah melihat bagaimana nantinya akhir hidup dari orang-orang yang jahat di mata Tuhan.

Memang Allah adalah pribadi yang menguji (memeriksa) batin dan hati orang, dan kedua hal ini cukup sulit untuk dapat dilihat oleh orang lain, khususnya orang yang tidak cukup sering berinteraksi. Namun bagi jemaat yang memang berinteraksi dengan orang-orang ini (karena memang para pengikut “wanita Izebel” ini, maka mereka pasti mengalami banyak momen dimana isi batin dan hati seseorang akan nampak keluar dari perbuatannya maupun perkataannya. Meskipun memang dikatakan Allah menguji batin dan hati orang, tetapi pembalasan Allah adalah terhadap perbuatannya (bukan terhadap iman, yaitu keyakinan dalam pikiran saja).

Jelas bahwa seseorang bisa saja berkata “Oh, saya percaya kepada Yesus kok” atau “Oh saya sih beriman kepada Yesus”. Akan tetapi, membuktikan iman percaya itu dalam perbuatan sehari-hari adalah suatu hal yang sangat sukar. Dan persoalannya adalah Tuhan tidak menghakimi iman (dalam hal ini iman berupa keyakinan pikiran saja), tetapi Ia menghakimi iman yang benar (yaitu iman yang tercermin dalam perbuatan manusia). Betapa menakutkannya jika selama ini kita sudah merasa yakin dan “sok tahu” bahwa kita akan masuk surga hanya karena percaya dalam nalar atau memiliki keyakinan pikiran kita sudah diselamatkan, sedangkan perbuatan hidup kita masih jauh dari kekudusan. Betapa berbahayanya jika tanpa kita sadari ternyata kita pun sudah mengikuti dan mewarisi ajaran “wanita Izebel” itu dan bahkan juga sudah mengajarkannya kepada orang lain. Jika kita tidak bertobat, kita akan dilemparkan ke dalam kesukaran besar, bahkan akan dimatikan oleh Tuhan, sebagai balasan atas perbuatan kita yang jahat di mata-Nya.



Bacaan Alkitab: Wahyu 2:21-23
2:21 Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya.
2:22 Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu.
2:23 Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.

Jumat, 04 Oktober 2019

Pornos dan Moichos (47): Wanita Izebel yang Menyesatkan Hamba-Hamba Tuhan


Sabtu, 5 Oktober 2019
Bacaan Alkitab: Wahyu 2:18-20
Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala. (Why 2:20)


Pornos dan Moichos (47): Wanita Izebel yang Menyesatkan Hamba-Hamba Tuhan


Setelah kemarin kita belajar dari jemaat Pergamus, maka hari ini dan setelahnya kita akan belajar dari jemaat di Tiatira. Pesan Tuhan kepada jemaat di Tiatira dimulai dengan tulisan bahwa ini adalah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga (ay. 18). Tuhan tentu tahu segala pekerjaan dan apa yang kita lakukan. Demikian pula dengan jemaat di Tiatira, dimana Tuhan tahu segala pekerjaan mereka, kasih mereka, iman mereka, pelayanan mereka, dan ketekunan mereka (ay. 19a). Dalam hal ini Tuhan tahu bahwa pekerjaan mereka yang terakhir lebih banyak atau lebih besar daripada yang pertama (ay. 19b).

Jelas bahwa jemaat Tiatira ini adalah jemaat yang sangat rajin, karena pekerjaan (ergon/ἔργον) yang mereka lakukan dipuji karena semakin hari pekerjaan mereka semakin banyak atau semakin besar. Ini dapat berarti bahwa mereka mungkin saja punya banyak pekerjaan atau pelayanan di dalam jemaat yang semakin hari semakin bertambah banyak. Apakah ini salah? Dari satu sisi, ini adalah hal yang baik karena dengan demikian ada banyak orang yang dapat menerima pelayanan mereka, baik jemaat maupun orang-orang di luar jemaat. Namun demikian, di sisi lain juga masih ada potensi kemelesetan karena mereka hanya fokus pada apa yang kelihatan dan terlihat baik dari luar tanpa memperhatikan apa yang ada di dalam.

Meskipun dalam hal pekerjaan dan pelayanan ini jemaat Tiatira patut menerima pujian, namun ternyata Tuhan juga mencela mereka, karena mereka membiarkan wanita Izebel untuk mengajar dan menyesatkan hamba-hamba Tuhan (ay. 20). Karena kitab Wahyu ini penuh dengan simbol-simbol, maka untuk mengerti dengan lebih dalam lagi maka kita harus menyelidiki apa yang dimaksud dengan wanita Izebel di dalam ayat ini. Kita juga harus menyelidiki mengapa wanita Izebel ini berbahaya dan apa yang dilakukan oleh wanita Izebel ini terhadap jemaat Tuhan.

Kata Izebel (Iezabel/ Ἰεζάβελ) ini hanya muncul satu kali dalam Alkitab Perjanjian Baru yaitu di ayat 20 ini. Jika merujuk pada Perjanjian Lama, kita akan mengerti bahwa Izebel ini adalah istri raja Ahab (1 Raj 16:31). Izebel adalah wanita yang sangat jahat, bahkan mungkin salah satu yang terjahat yang tercatat dalam Alkitab. Setidaknya Alkitab mencatat bagaimana Izebel membujuk Ahab untuk menyembah dewa-dewa lain (1 Raj 16:31), bagaimana Izebel membunuhi nabi-nabi Tuhan (1 Raj 18:4 & 13), bagaimana Izebel mengancam akan membunuh Elia hingga Elia takut (1 Raj 19:2-3), dan bagaimana Izebel merancang pembunuhan Nabot hanya supaya Ahab dapat menikmati kebun anggurnya (1 Raj 21:5-16).

Jelaslah jika Tuhan menggunakan istilah “wanita Izebel” dalam pesan kepada jemaat di Tiatira, maka ada suatu masalah yang luar biasa yang mengancam iman jemaat tersebut. Alkitab menulis bahwa apa yang diajarkan oleh wanita Izebel ini adalah supaya hamba-hamba Tuhan berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala (ay. 20b). Sebenarnya apa yang dilakukan Izebel ini hampir sama dengan yang dilakukan oleh Bileam, karena mempengaruhi jemaat untuk berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala (bandingkan dengan Why 2:14). Kata “zinah” di ayat 20 ini menggunakan kata porneusai (πορνεῦσαι) dari akar kata porneuó (πορνεύω), kata yang sama persis dengan yang digunakan di ayat 14. Hal ini bisa merujuk kepada perzinahan jasmani maupun perzinahan rohani.

Namun jika mau jujur, menurut pendapat saya “ajaran wanita Izebel” di jemaat Tiatira ini jauh lebih berbahaya daripada “ajaran Bileam” di jemaat Pergamus. Mengapa saya berkata demikian?

Pertama, dari target penyesatannya. Pada jemaat Pergamus, ajaran Bileam “hanya” menargetkan jemaat untuk mengikuti ajaran tersebut. Namun pada jemaat Tiatira, wanita Izebel ini menyebut dirinya sebagai nabiah (nabi perempuan) dan kemudian mengajar dan meyesatkan hamba-hamba Tuhan. Walaupun sebenarnya semua orang percaya juga adalah hamba Tuhan, tetapi dalam konteks ayat ini kata hamba-hamba (doulos/δοῦλος) lebih merujuk kepada orang-orang yang memegang posisi tertentu dalam jemaat. Bayangkan adanya 2 musuh, yang satu mengincar orang biasa tetapi yang satu mengincar para pemimpin, jelas bahwa musuh yang mengincar atau menargetkan para pemimpin adalah jauh lebih berbahaya.

Kedua, dari dampaknya terhadap jemaat. Pada jemaat Pergamus, ajaran Bileam ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam ini. Beberapa orang itu saja sudah cukup memberi pengaruh negatif kepada jemaat. Bayangkan jika di jemaat Tiatira, justru hamba-hamba Tuhan yang seharusnya menyampaikan kebenaran tetapi justru mereka sudah terkontaminasi dengan “wanita Izebel”. Kira-kira pengajaran macam apa yang akan disampaikan oleh para hamba-hamba Tuhan kepada jemaat? Dampak dari penyesatan ini sudah sangat masif dan berbahaya bagi jemaat Tuhan.

Ketiga, dari dampaknya terhadap para pemimpin jemaat. Karena target penyesatan “wanita Izebel” ini adalah para hamba-hamba Tuhan yang notabene adalah pemimpin jemaat, maka kita akan melihat  bagaimana jemaat Tiatira membiarkan wanita Izebel ini mengajar dan menyesatkan. Kira-kira, mungkinkah jemaat biasa memiliki wewenang untuk membiarkan wanita Izebel ini menyesatkan? Bukankah yang seharusnya memiliki wewenang adalah para pemimpin jemaat? Kita dapat melihat bagaimana para pemimpin yang sudah terkontaminasi ajaran wanita Izebel ini pada akhirnya membiarkan ajaran itu dalam pengajaran yang kemudian menyesatkan hamba-hamba Tuhan dan tentunya juga jemaat Tuhan.

Kata “membiarkan” dalam ayat 20 ini menggunakan kata aphiémi (ἀφίημι), yang dapat berarti “to send away, to let go, to release, to permit, to tolerate” (mengutus, melepaskan, membiarkan, mengizinkan, membolehkan, mentolerir). Jadi hamba-hamba Tuhan di jemaat Tiatira tentu sudah mengerti standar kebenaran, tetapi pada akhirnya mereka membiarkan dan menoleransi ajaran wanita Izebel ini masuk ke dalam jemaat. Kita telah membahas dalam renungan hari sebelumnya bahwa ajaran Bileam kemungkinan besar merujuk kepada percintaan dunia dan juga hawa nafsu. Ini berarti bahwa ajaran “wanita Izebel” juga memiliki kemiripan, tetapi dengan dosis atau dampak yang lebih besar lagi karena dapat mempengaruhi hamba-hamba Tuhan.

Jika boleh mengibaratkan dan menganalogikan, jika ajaran Bileam mengajarkan jemaat untuk cinta uang, mencari uang dengan sebanyak-banyaknya supaya kaya, bahkan jika perlu melakukan tindakan yang melawan hukum, maka ajaran “wanita Izebel” jauh lebih dahsyat dari itu. Ajaran “wanita Izebel” yang ditujukan kepada hamba-hamba Tuhan mungkin adalah percintaan dunia dengan barang-barang bermerek, keterikatan dengan rumah, mobil, dan perhiasan (kalau tidak menggunakan mobil merek ini dan tipe ini, atau menggunakan jam tangan merk ini maka ada sesuatu yang kurang). Ajaran “wanita Izebel” mungkin juga akan nampak dalam keserakahan dan ketamakan, sehingga hamba-hamba Tuhan menuntut jemaat untuk memberikan persembahan lebih banyak, bahkan mengadakan banyak jam-jam ibadah supaya dengan demikian semakin banyak kolekte yang masuk, atau mungkin mengadakan perbedaan antara orang-orang yang rajin memberi persembahan (antara lain persembahan persepuluhan) kepada pendeta dan yang bukan, dan mendorong orang-orang berlomba-lomba untuk memberi lebih banyak supaya dapat memperoleh tempat istimewa di hati pendeta.

Saya yakin bahwa hamba-hamba Tuhan di kota Tiatira bukannya tidak mengerti bahwa hal itu salah, tetapi mereka sudah terikat dan tidak dapat melepaskan diri dari ikatan tersebut. Lebih bahaya lagi jika ajaran “wanita Izebel” ini menyerang istri-istri pendeta sehingga para pendeta mau tidak mau harus menyampaikan ajaran ini supaya dapat memuaskan gaya hidup istri-istri pendeta. Hal ini sangat mungkin dapat terjadi karena pada kenyataannya, di dalam Perjanjian Lama Izebel pun mempengaruhi raja Ahab (yang merupakan pemimpin umat Israel) dan membuat Ahab mengambil banyak keputusan yang salah, bahkan hingga mengorbankan nyawa rakyatnya sendiri. Raja Ahab yang seharusnya melindungi rakyatnya justru membiarkan rakyatnya mati hanya karena hasutan Izebel yang ada di sampingnya.

Karena ketujuh jemaat di kitab Wahyu adalah gambaran mengenai jemaat Tuhan di segala tempat dan waktu hingga saat ini, jadi sangatlah mungkin kalau ada beberapa jemaat Tuhan yang mengalami tantangan seperti ini. Iblis mungkin tidak menyerang jemaat secara langsung, tetapi mencoba menyerang jemaat dengan menguasai para pemimpinnya. Betapa berbahayanya jika hal ini terjadi. Jika sampai hamba-hamba Tuhan didapati tersesat oleh pengajaran “wanita Izebel” tersebut, maka jemaat tersebut sebenarnya sudah berada di ambang kehancuran.



Bacaan Alkitab: Wahyu 2:18-20
2:18 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga:
2:19 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama.
2:20 Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.