Selasa, 27 Agustus 2013

Iblis Itu Tidak Bodoh



Rabu, 28 Agustus 2013
Bacaan Alkitab: Efesus 6:11-13
Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Ef 6:12)


Iblis Itu Tidak Bodoh


Belakangan ini, ada semacam kebiasaan yang sudah umum di antara orang Kristen untuk “mengusir” iblis di dalam doa kita. Memang Alkitab pun mengatakan agar kita harus melawan iblis dan iblis akan lari dari kita (Yak 4:7). Akan tetapi, apa benar iblis begitu mudah untuk pergi dan tidak akan kembali lagi? Apa iya hanya dengan “mengusir” iblis kemudian hidup kita akan tenang-tenang saja?

Tidak. Iblis bukanlah musuh yang bodoh. Iblis bukanlah musuh yang sekali diusir lalu tidak akan mencoba untuk datang lagi. Jika iblis itu adalah musuh yang bodoh, tentu saja Paulus tidak akan meminta jemaat Tuhan untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (ay. 11a). Jika iblis hanya musuh yang mudah untuk dikalahkan, tentu kita cukup mengenakan 1 atau 2 senjata saja bukan?

Tetapi perhatikan kalimat selanjutnya dari ayat ini. Kita mengenakan seluruh perlengkapan senjata untuk bertahan melawan tipu muslihat iblis (ay. 11b). Apa Paulus tidak salah menulis? Seluruh perlengkapan senjata hanya untuk bertahan dari tipu muslihat iblis? Ya. Ini adalah kebenaran yang mengejutkan. Seringkali kita berpikir bahwa iblis ini cukup mudah diusir begitu saja. Memang benar kuasa Tuhan Yesus jauh lebih besar daripada kuasa apapun di dunia ini, termasuk kuasa iblis. Ketika kita melawan atau mengusir iblis di dalam nama Yesus, tentu iblis akan pergi. Akan tetapi ingatlah bahwa iblis tidak pergi begitu saja, ia akan mencari waktu yang tepat untuk datang kembali (1 Ptr 5:8).

Sekali lagi saya katakan bahwa iblis tidak bodoh. Ayat selanjutnya dari bacaan Alkitab kita hari ini menyatakan bahwa iblis memiliki “struktur organisasi” yang luar biasa. Bahkan dikatakan bahwa lawan kita (iblis) adalah para pemerintah, penguasa, penghulu dan roh-roh jahat di udara (ay. 12). Ini bukan musuh yang sembarangan. Musuh yang teroganisir dengan rapi akan lebih sulit dikalahkan dibandingkan dengan musuh yang  berdiri sendiri. Oleh karena itu Paulus pun kembali lagi menyarankan agar kita mengambil dan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah agar kita dapat melawan iblis dan dapat tetap berdiri setelahnya (ay. 13).

Jadi, apakah iblis lawan yang tidak dapat dikalahkan atau dapat dikalahkan? Jawaban saya sebenarnya sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Iblis sudah dikalahkan oleh  Yesus Kristus, akan tetapi iblis itu bukan lawan yang bodoh, sehingga kita tidak boleh menganggap remeh atau menganggap enteng iblis. Kita harus melawan iblis dengan sungguh-sungguh. Jangan main-main dengan iblis jika kita belum siap melawannya. Bahkan seorang hamba Tuhan atau pendeta yang sudah senior sekalipun bisa jadi sasaran iblis. Kita mungkin pernah mendengar ada pendeta yang berselingkuh, atau ada lulusan sekolah theologi yang hidupnya tidak benar, dan lain sebagainya. Mengapa bisa terjadi hal-hal seperti itu? Karena iblis pintar mencari celah dalam kehidupan kita dan memanfaatkan kelengahan kita. Peperangan rohani melawan iblis bukan hanya terjadi sekali saja, tetapi setiap hari dan setiap saat kita sebenarnya sedang berperang melawan iblis. Di saat kita merasa kita sudah menang dan kita merasa jumawa, di saat itulah iblis akan datang menyerang kita tanpa kita sadari.

Berjaga-jagalah dengan lawan kita tersebut. Jangan sekali-kali menganggap bahwa iblis itu begitu mudah dikalahkan, hanya dengan sekali mengusir maka iblis tidak akan datang lagi. Mintalah Tuhan menjaga kehidupan kita dan memagari kita, sehingga kita bisa bertahan melawan segala tipu muslihat iblis. Jangan lupa pula untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah agar kita boleh bersenjata lengkap melawan iblis.


Bacaan Alkitab: Efesus 6:11-13
6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;
6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

Senin, 26 Agustus 2013

Ketika Gambar dan Rupa Allah Menjadi Rusak



Selasa, 27 Agustus 2013
Bacaan Alkitab: Kejadian 5:1-3
Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya.” (Kej 5:3)


Ketika Gambar dan Rupa Allah Menjadi Rusak


Masihkah kita ingat dengan penciptaan manusia? Kita (manusia) diciptakan Allah dari debu tanah yang kemudian dihembuskan Roh Tuhan ke dalamnya (Kej 2:7). Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26-27). Ini berarti manusia pertama (Adam dan Hawa) memiliki gambar dan rupa Allah dalam diri mereka. Saya membayangkan jika Adam dan Hawa adalah manusia yang diciptakan Tuhan secara langsung, berarti mereka adalah salah satu manusia yang paling sempurna yang pernah ada karena terdapat cerminan gambar dan rupa Allah dalam diri mereka.

Namun karena dosa, gambar dan rupa Allah itu telah menjadi rusak. Darimana kita bisa tahu? Bacaan Alkitab kita hari ini yang mengatakannya. Ketika Adam dan Hawa diciptakan oleh Allah, Alkitab menulis bahwa Adam dan Hawa diciptakan Tuhan menurut rupa Allah (ay. 1). Bahkan Allah memberkati Adam dan Hawa sebagai ciptaanNya yang paling sempurna (ay. 2). Jika kita ingat perintah Allah yang pertama kepada Adam dan Hawa, maka kita akan mengerti bahwa Allah menyuruh Adam dan Hawa beranak cucu dan bertambah banyak agar gambar dan rupa Allah tersebut semakin memenuhi bumi sehingga bumi pun penuh dengan kemuliaanNya (Kej 1:28).

Namun ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka gambar dan rupa Allah itu telah rusak. Ketika Hawa melahirkan anak dari Adam, maka Alkitab menulis bahwa Adam memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya (ay. 3). Perhatikan akhiran “nya” di ayat 3 ini merujuk kepada Adam, sementara di ayat 1 dengan jelas disebutkan bahwa Adam diciptakan menurut rupa Allah. Hanya dalam 1 generasi saja, gambar dan rupa Allah itu tidak diturunkan lagi kepada keturunan Adam. Bayangkan ada berapa generasi dari Adam sampai kepada kita? Puluhan? Ratusan? Atau mungkin ribuan? Ya, sekian generasi itu pun menghasilkan keturunan Adam yang tidak jauh lebih baik daripada Adam. Manusia semakin jatuh ke dalam dosa, gambar dan rupa Allah yang ada di dalam diri manusia pun semakin rusak dan terhilang.

Namun Allah mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia untuk memulihkan gambar dan rupa Allah tersebut. Allah tidak ingin manusia semakin jatuh dalam dosa. Dengan percaya kepada Yesus Kristus, maka manusia akan dapat diselamatkan serta dipulihkan kembali hubungannya dengan Allah Sang Pencipta. Itulah mengapa Alkitab kita diawali dengan penciptaan langit dan bumi di kitab Kejadian, serta diakhiri dengan Adam mepenciptaan langit dan bumi yang baru di kitab Wahyu.

Lalu siapa orang-orang yang mengisi langit dan bumi yang baru itu? Jika kita membaca kitab Kejadian, kita akan menemukan bahwa pada mulanya, manusia yang mengisi bumi adalah Adam dan Hawa. Mereka adalah orang-orang yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Hanya orang-orang yang memiliki gambar dan rupa Allah itulah yang dapat masuk ke dalam langit dan bumi yang baru. Dan hanya orang-orang yang memiliki percaya kepada Kristus dan memiliki kerinduan untuk menjadi semakin serupa denganNya, merekalah yang akan dibentuk menjadi semakin serupa dengan gambar Allah (2 Kor 3:18).

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita sudah sungguh-sungguh memiliki kerinduan untuk menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Gambar dan rupa Allah yang sudah rusak tersebut hanya bisa dipulihkan melalui Yesus, karena Yesus adalah gambar Allah sendiri, yang sulung (artinya yang pertama di dunia setelah manusia jatuh dalam dosa), untuk kita kemudian mengikuti jejakNya (Kol 1:15). Serupa dengan Yesus Kristus bukan berarti kita harus berwajah seperti Yesus (dalam banyak gambar, Yesus digambarkan sebagai seseorang dengan rambut agak  gondrong, memakai pakaian terusan warna putih, dan lain sebagainya), atau pergi kemana-mana berjalan kaki, naik keledai atau naik perahu (karena di Alkitab disebutkan hanya itu moda transportasi yang digunakan Yesus), atau lain sebagainya. Bukan! Menjadi serupa dengan Yesus Kristus itu adalah menjadi serupa dalam Roh. Jika hidup kita sudah memiliki Roh yang sama dengan Roh di dalam Yesus, maka kehidupan kita seharusnya memancarkan kasih Tuhan yang luar biasa kepada orang-orang di sekitar kita, dan mereka pun akan memuliakan nama Tuhan.




Bacaan Alkitab: Kejadian 5:1-3
5:1 Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah;
5:2 laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama "Manusia" kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan.
5:3 Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya.

Menanggalkan Beban Supaya Dapat Maju



Senin, 26 Agustus 2013
Bacaan Alkitab: Ibrani 12:1-2
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibr 12:1)


Menanggalkan Beban Supaya Dapat Maju


Suatu saat, ketika saya sedang mengendarai sepeda motor saya menuju kantor, karena lalu lintas yang tidak terlalu padat saat itu, saya mengendarai sepeda motor saya dengan santai. Mungkin saat itu kecepatan saya sekitar 50 kilometer per jam saja. Cukup pelan untuk ukuran kota Jakarta. Di suatu jalan, saya yang merasa berjalan cukup pelan dan santai mengambil jalur sebelah kiri. Akan tetapi di depan saya, ada sepeda motor matic yang berjalan tidak lebih cepat dari saya, namun berada di tengah-tengah (di garis putus-putus pemisah jalur cepat dan lambat) namun dengan lampu rem yang menyala merah. Saya heran melihat sepeda motor ini, mengapa ia berjalan begitu lambat di tengah, dengan lampu rem yang menyala?

Namun ketika mendahului sepeda motor tersebut, saya memperhatikan sesuatu yang menarik. Si pengendara motor tersebut memang menarik throttle gas dengan tangan kanannya dengan cukup kencang, tetapi ia lupa melepas tuas rem di tangan kirinya (jika para pembaca pernah memperhatikan sepeda motor matic maka tuas rem depan ada di sebelah handle sebelah kanan dan tuas rem belakang ada di handle sebelah kiri). Jadi bisa dibayangkan bahwa motor itu seperti berjalan dengan beban berat. Di satu sisi ia “disuruh” melaju dengan cepat, tetapi di sisi lain, ia masih harus menahan beban rem yang menghambatnya. Saya tidak bisa membayangkan kondisi sepeda motor tersebut jika si pengguna melakukan hal yang sama setiap kali ia mengendarai sepeda motor tersebut.

Hal yang sama ternyata tanpa kita sadari juga sering kita lakukan dalam kehidupan kita. Paulus menggambarkan kehidupan kita sebagai suatu perlombaan (ay. 1b). Suatu perlombaan akan kita akhiri ketika kita menuju garis akhir. Oleh karena itu kita harus berusaha sungguh-sungguh dan memfokuskan segala energi kita agar kita dapat berlari sekencang-kencangnya menuju garis akhir. Namun, tanpa kita sadari, mungkin saja kita sudah merasa mengerahkan seluruh energi kita untuk “berlari” tetapi pada kenyataannya kita masih “berjalan di tempat” atau hanya “maju” sedikit saja. Apa yang salah dengan hal ini?

Salah satu faktor yang mungkin kita lupakan adalah faktor beban yang merintangi kita untuk dapat berlari lebih jauh. Paulus menulis bahwa beban tersebut salah satunya adalah dosa-dosa kita (ay. 1a). Dosa-dosa kita tanpa kita sadari membuat kita tidak dapat maju karena dosa itu begitu berat membebani kita. Ketika kita mencoba untuk bangkit kembali, dosa-dosa yang kita lakukan itu seakan-akan “menyeret” kita untuk kembali melakukan dosa lagi, dan jatuh di dalam dosa. Lalu apa yang harus kita lakukan dalam kondisi seperti ini?

Saya yakin setiap orang pasti pernah berbuat dosa. Namun ada 2 kemungkinan setelahnya, apakah kita mau belajar dari dosa kita dan bertobat serta tidak mengulangi dosa yang sama? Atau kita justru menikmati dosa kita tersebut dan malas keluar dari dosa dan tetap “berkubang” di dalam dosa itu? Pilihan ada pada kita. Tetapi hari ini saya mau sampaikan, bahwa kita sebagai manusia memiliki potensi untuk dapat lepas dari ikatan dosa. Satu-satunya jalan bagi kita untuk dapat lepas dari dosa adalah dengan memandang Yesus senantiasa (ay. 2). Karena upah dosa adalah maut (Rm 6:23) dan Yesus telah menang atas maut (1 Kor 15:26), maka satu-satunya jalan kita bisa lepas dari dosa adalah dengan iman di dalam Yesus Kristus.

Ketika kita menyatakan diri kita beriman kepada Yesus Kristus, maka kita pun adalah Kristus, dan kita pun harus hidup seperti Kristus hidup (1 Yoh 2:6). Yesus Kristus tidak pernah sekalipun berbuat dosa dalam hidupnya, dan inilah yang harus kita teladani. Mungkin kita masih belum dapat 100% hidup seperti Kristus, tetapi minimal ketika kita dihadapkan pada pilihan: mau memilih untuk berbuat dosa atau memilih untuk tidak berbuat dosa, kita harus lebih sering memilih untuk tidak berbuat dosa alias menang terhadap dosa. Ketika dalam pilihan itu kita masih lebih sering memilih untuk tetap berbuat dosa, saya berani katakan hari ini bahwa mungkin saja kita masih belum sungguh-sungguh mengikut Yesus Kristus, atau mungkin saja kita memang belum mengikut Yesus Kristus.

Apa yang menjadi beban kita saat ini yang masih membebani kita? Saya tidak tahu. Yang tahu adalah diri kita sendiri. Namun saya berharap ketika kita membaca renungan hari ini, kita diingatkan kembali, bahwa hampir mustahil untuk maju dan memenangkan “perlombaan” dalam hidup kita ketika kita masih menarik “tuas rem” kita. Apapun dosa kita itu, tanggalkanlah dan buanglah, sehingga tidak menjadi beban bagi kita, dan kita dapat lebih mudah lagi untuk berlomba dalam perlombaan yang memang diwajibkan bagi kita.


Bacaan Alkitab: Ibrani 12:1-2
12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Rabu, 21 Agustus 2013

Nasehat bagi Orang yang Lebih Muda



Jumat, 23 Agustus 2013
Bacaan Alkitab: Titus 2:6-8
Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal.” (Tit 2:6)


Nasehat bagi Orang yang Lebih Muda


Jika kemarin saya menulis tentang nasehat Paulus bagi orang yang lebih tua, maka hari ini saya akan menulis mengenai nasehat Paulus (melalui Titus) bagi orang-orang yang lebih muda. Memang sebenarnya apa yang disampaikan Paulus di kitab Titus ini sangat sederhana sekali, yaitu agar orang-orang yang lebih muda dapat menguasai diri dalam segala hal (ay. 6). Ini jauh lebih sederhana daripada nasehat Petrus dalam suratnya (1 Ptr 5:5-9). Akan tetapi, jika kita mau sungguh-sungguh merenungkan, mungkin memang inilah hal yang paling utama yang harus dilakukan oleh orang yang lebih muda, yaitu menguasai diri.

Mengapa demikian? Orang yang lebih muda pada umumnya belum terlalu berpengalaman dan masih mengikuti hawa nafsunya. Ini menyebabkan banyak masalah-masalah besar yang sangat mungkin dihadapi oleh orang-orang yang lebih muda.

Contoh yang paling sederhana saja, saat ini banyak pemuda atau remaja yang kesulitan untuk mengendalikan hawa nafsunya dan mereka tergoda untuk mencoba hal-hal yang salah, seperti merokok, narkoba, tawuran, seks bebas dan lain sebagainya. Ketika mereka melakukan hal-hal tersebut, mereka tidak sadar bahwa akan muncul masalah-masalah yang jauh lebih besar karena kesalahan mereka yang tidak dapat menguasai diri. Jika mereka melakukan seks bebas, maka bisa saja mereka akhirnya hamil di luar nikah dan “terpaksa menikah” atau membesarkan bayi seorang diri. Masalah besar seperti Ini muncul dari “kesalahan” yang sepele, yaitu karena tidak dapat mengendalikan hawa nafsu.

Memang orang yang lebih tua pun juga memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan kesalahan yang sama seperti orang yang lebih muda. Akan tetapi orang yang lebih muda cenderung kurang berpengalaman sehingga ia ingin mencoba-coba hal yang baru dan seringkali hal yang baru itu adalah hal yang salah.

Oleh karena itu karena Titus juga termasuk orang yang muda (lebih muda daripada Paulus), maka Paulus pun juga memberikan sejumlah nasehat kepada Titus sebelum ia juga menyampaikan nasehat Paulus kepada orang lain. Nasehat Paulus kepada Titus pun cukup sederhana: Menjadi teladan, jujur, sungguh-sungguh (ay. 7), serta tidak bercela alias tidak membuka celah sehingga menjadi batu sandungan dan membuat malu nama gereja serta nama Tuhan (ay. 8). Di mata Paulus, Titus pun termasuk orang yang muda dan ia pun harus mampu melakukan Firman Tuhan di ketiga ayat bacaan Alkitab kita pada hari ini. Walaupun Titus adalah orang yang ditunjuk Paulus untuk mengatur jemaat di daerah Kreta (Tit 1:5), sehingga kita pun bisa mengatakan bahwa Titus adalah salah satu hamba Tuhan muda yang sangat dipercaya oleh Paulus dalam pelayanan gereja, akan tetapi Titus pun wajib taat dan melakuakan Firman Tuhan ini, agar nama Tuhan tetap dimuliakan.

Bagi kita yang saat ini masih merasa muda, justru pada masa muda kita inilah kita harus benar-benar belajar sebaik-baiknya dari teladan generasi di atas kita. Ambillah apa yang baik dan hindari yang jahat. Kendalikan hawa nafsu kita agar kita pun bisa mengerti apa maksud Tuhan dan bukan hanya sekedar menuruti keinginan daging kita. Ingat bahwa dalam segala hal, apapun yang kita lakukan, kita harus memiliki motivasi yang benar, yaitu agar nama Tuhan dipermuliakan.



Bacaan Alkitab: Titus 2:6-8
2:6 Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal
2:7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,
2:8 sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.