Sabtu, 29 Februari 2020

Kesalahan Memaknai Frasa “Semuanya Itu Akan Ditambahkan Kepadamu”


Sabtu, 29 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Matius 6:31-34
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)


Kesalahan Memaknai Frasa “Semuanya Itu Akan Ditambahkan Kepadamu”


Tidak bisa dipungkiri bahwa sudah terlalu banyak orang Kristen yang menjadikan Matius 6:33 sebagai ayat favoritnya. Tidak hanya jemaat umum yang menyukai ayat ini, bahkan banyak pendeta pun sangat menyukai ayat ini. Tidak jarang ayat ini juga ditulis di spanduk, banner, atau dijadikan salah satu slogan di dalam gereja. Tentu tidak mengherankan, mengingat ayat ini seperti suatu janji yang luar biasa, yang dapat dengan mudah “diklaim” oleh orang Kristen. Mereka berpikir bahwa jika Tuhan baik, tentu Ia akan memberikan apa yang kita perlukan. Apalagi jika mereka menggunakan ayat ini, dimana jika kita mencari Tuhan, maka semuanya akan ditambahkan. Hanya orang aneh yang tidak mau ditambahkan semuanya ke dalam hidupnya bukan?

Tetapi menarik bahwa banyak orang tidak teliti membaca ayat 33 ini sesuai konteksnya. Bahkan sebenarnya hanya dibutuhkan konteks sempit (membaca sedikit ayat sebelum dan sesudahnya) untuk dapat memahami ayat ini dengan benar. Sudah terlalu lama ayat ini seakan-akan “diperkosa” oleh para pendeta dalam khotbahnya dan juga oleh para jemaat dalam doa-doanya. Saya pun dahulu juga termasuk salah satu pelaku yang “memperkosa” ayat ini dengan menggunakannya secara sembarangan ketika berdoa kepada Tuhan. Namun setelah saya belajar lebih dalam lagi, saya menyadari bahwa hampir semua doa saya yang didasarkan pada ayat ini sebenarnya adalah doa yang salah.

Sebelum membahas ayat 33, mari kita membaca beberapa ayat sebelumnya. Dalam ayat 31 Tuhan Yesus berkata: “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?” (ay. 31). Perhatikan penggunaan kata “sebab itu” yang merujuk pada ayat-ayat sebelumnya, setidaknya mulai dari ayat 25. Sebenarnya ayat 25 juga menggunakan kata “karena itu” yang merujuk ke ayat sebelumnya lagi. Supaya kita tidak terlalu jauh membahas, maka ayat dalam renungan kita hari ini kita batasi mulai ayat 31. Tetapi jelas bahwa ayat 31 berbicara mengenai apa yang diucapkan di ayat 25-30 dimana Tuhan Yesus berkata bahwa burung di langit diberi makan oleh Allah, serta bunga bakung di ladang pun didandani Allah dengan luar biasa.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang memiliki hati nurani serta roh yang berasal dari Allah, tentu jauh lebih mulia dari binatang maupun tumbuhan. Bahkan Tuhan Yesus menggunakan ilustrasi burung pipit maupun bunga bakung yang sebenarnya adalah gambaran binatang serta tumbuhan yang termasuk kelompok paling kecil dan lemah. Jika binatang dan tumbuhan yang lemah dan jarang diperhitungkan saja dipelihara dengan luar biasa oleh Allah, apalagi kita manusia. Apalagi jika manusia tersebut adalah manusia yang memiliki karakter baik, berusaha hidup benar dan menyenangkan hati Allah. Pastilah Allah akan menjaga manusia tersebut selayaknya biji mata-Nya.

Manusia yang benar seharusnya tidak lagi mempersoalkan apakah yang akan ia makan atau apakah yang akan ia pakai. Memang di masa modern ini pada umumnya kita memiliki 3 kebutuhan pokok: sandang (pakaian), pangan (makanan), papan (rumah/tempat tinggal). Namun di dalam Perjanjian Baru rata-rata yang dipersoalkan hanyalah makanan dan pakaian (bandingkan dengan 1 Tim 6:8). Mengapa rumah tidak dijadikan hal yang perlu dipersoalkan? Menurut saya masyarakat di zaman Perjanjian Baru tidak mempersoalkan tempat tinggal karena mereka juga dapat berkeliling untuk memberitakan Injil (seperti Paulus dan para penginjil lain). Lagipula jemaat mula-mula mungkin saja meneladani ucapan Tuhan Yesus yang berkata bahwa meskipun serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, namun Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat 8:20). Alasan lain yang mungkin adalah ketika jemaat seharusnya menyadari bahwa dunia ini hanyalah tempat tinggal sementara. Tidak ada rumah pun tidak apa-apa, karena mereka memiliki pengharapan yang luar biasa terhadap rumah Bapa yang akan disediakan bagi mereka.

Sebenarnya, manusia yang benar pun tidak perlu mempersoalkan mengenai makanan dan pakaian. Selama mereka bekerja keras untuk mencari nafkah, rasa-rasanya pasti akan cukup untuk makan dan pakaian (tentu makanan dan pakaian yang selayaknya, bukan makanan atau pakaian yang mewah). Namun jika ada orang yang malas, maka tentu tidak akan dapat memperoleh makanan. Orang malas seperti ini seharusnya tidak layak dibantu oleh gereja (2 Tes 3:10). Namun memang ada juga orang-orang yang menyusahkan dirinya dengan mengingini makanan yang mewah (meskipun sebenarnya uangnya hanya cukup untuk makan sederhana) atau mengingini pakaian yang bermerk (meskipun tujuan pakaian sebenarnya adalah menutupi tubuh). Orang-orang yang menyusahkan hidupnya ini tentu bisa saja akan terus hidup dalam kekuatiran, yaitu kuatir jika ia tidak dapat makan makanan yang enak maupun tidak dapat memakai pakaian bermerk.

Jika urusannya hanyalah makanan dan pakaian yang secukupnya, maka semua itu pun dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (ay. 32a). Perhatikan kata “semua itu” yang awalnya digunakan dalam ayat 32a ini. Maksud dari hal ini adalah bahwa semuanya itu (makanan, minuman, dan pakaian yang dibutuhkan untuk hidup) itu pun dicari oleh semua orang, termasuk bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (yaitu Allah Abraham Ishak dan Yakub). Bahkan jika mau jujur, orang atheis juga pasti mencari makanan dan pakaian dengan bekerja keras dalam pekerjaan maupun usaha mereka. Allah menciptakan dunia ini dengan suatu tatanan, yaitu manusia harus bekerja untuk makan. Bahkan Adam dan Hawa pun diperintahkan Allah untuk mengusahakan bumi ini (Kej 1:28).

Allah Bapa tentu tahu bahwa umat-Nya membutuhkan semuanya itu (ay. 32b). Apakah yang dimaksud dengan semuanya itu? Tentu kata ini merujuk pada makanan dan pakaian yang memang dibutuhkan oleh manusia untuk dapat bertahan hidup. Jika itu adalah kebutuhan dasar, maka selama umat-Nya juga melakukan usaha dan kerja keras sesuai dengan tatanan yang Allah tentukan, maka Allah pasti akan memberikan apa yang diperlukan oleh orang tersebut. Jika tatanan itu berlaku untuk orang lain (termasuk bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah), apalagi untuk umat Allah.

Dalam konteks inilah Tuhan Yesus berkata supaya kita mencari terlebih dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada kita (ay. 33). Ini adalah tatanan yang luar biasa dari Tuhan Yesus. Jika kebanyakan manusia berfokus pada mencari uang (untuk membeli makanan dan pakaian), maka Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk terlebih dahulu mencari kerajaan Allah dan kebenarannya. Kata “kebenaran” dalam ayat ini bukanlah aletheia melainkan dikaiosuné, yang artinya kebenaran yang berhubungan dengan perbuatan secara praktikal (bukan hanya sekedar konsep semata).

Artinya adalah ketika seseorang mencari kerajaan Allah dengan benar, maka ia akan menemukan kebenaran (dikaiosuné) tersebut yang akan terpancar dari hidupnya sehari-hari. Dalam hal ini orang yang mencari kerajaan Allah dengan benar pastilah akan memiliki karakter anak-anak Allah yang benar pula. Ia tidak akan suka berbohong, tidak mencuri, bekerja keras, jujur, dan segala macam karakter baik yang harusnya ada dalam diri orang tersebut. Itulah sebabnya, orang yang mencari kerajaan Allah dengan benar tahu bahwa semuanya itu akan ditambahkan kepada dirinya.

Perhatikan penggunaan kata “semuanya itu” yang seharusnya merujuk pada kata yang sama di ayat 32, yang sebenarnya adalah makanan dan pakaian yang secukupnya (untuk hidup). Artinya adalah secara sederhana, orang yang mencari kerajaan Allah dengan benar pasti: 1) memiliki karakter yang unggul; 2) tidak mungkin sampai jatuh miskin (minimal berkecukupan); dan 3) tidak akan kuatir akan hari esok (karena ia tahu bahwa ia memiliki karakter yang unggul dan penyertaan Allah). Dalam hal ini tepatlah yang dikatakan Tuhan Yesus dalam ayat 34 bahwa kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Orang yang mencari kerajaan Allah dengan benar bukannya tidak pernah hidup susah. Ia tentu mengalami kesulitan dan kesukaran karena mengikut Tuhan itu sama saja dengan masuk ke dalam pintu yang sesak dan jalan yang sempit (Mat 7:13-14). Namun ia tahu bahwa kesusahan itu adalah ibarat “ampelas” yang menggosok batu mulia sehingga menjadi lebih indah lagi di pemandangan Bapa.

Jadi, mengapa banyak jemaat suka ayat 33 tersebut? Karena mereka selama ini merasa sudah mencari Tuhan dan kebenarannya. Kata “kebenarannya” disini dianggap sama seperti aletheia yang juga digunakan oleh Tuhan Yesus: “Akulah Jalan dan Kebenaran (aletheia) dan Hidup” (Yoh 14:6). Mereka berpikir dengan dangkal bahwa ketika mereka mencari Tuhan Yesus dalam doa maupun ibadah di gereja (dan biasanya ditambah dengan memberi persembahan), maka mereka sudah merasa mencari Tuhan. Karena mereka merasa mencari Tuhan. Tidak heran mereka pun merasa sudah berhak untuk menerima semuanya itu yang akan ditambahkan kepada hidup mereka (seakan-akan mengklaim janji Tuhan).

Persoalannya lagi, kata “semuanya itu” mereka pandang sebagai benar-benar sebagai “semua hal yang mereka inginkan”. Tidak heran bahwa ada banyak orang Kristen yang ketika berdoa meminta banyak hal seakan-akan mereka meminta kepada jin lampu (seperti dalam film Alladin). Mereka merasa berhak untuk meminta “semuanya itu” karena mereka merasa sudah mencari Tuhan. Tidak heran doa orang-orang seperti ini pasti isinya penuh dengan permintaan: mulai dari berkat jasmani (uang, harta, kekayaan), kesuksesan, karir yang baik, perlindungan Tuhan atas hidupnya dan keluarganya, dan segala macam hal lainnya. Memang tidak salah meminta uang dan perlindungan. Tetapi sadarkah kita bahwa ketika kita benar-benar mencari Tuhan dengan proporsional, kita lambat laun akan semakin selektif dalam berdoa. Kita tidak akan sembarangan saja mengumbar keinginan kita dalam doa, melainkan akan menanyakan dahulu apakah Tuhan berkenan atas keinginan kita?

Mencari Tuhan bukanlah hal yang sederhana. Jangan berpikir bahwa karena kita sudah berdoa 5 kali sehari (bangun tidur, makan 3 kali, dan sebelum tidur) maka kita sudah mencari Tuhan. Jangan berpikir bahwa karena kita sudah membaca Alkitab atau bahkan menghafal ayat Alkitab maka kita sudah mencari Tuhan. Jangan berpikir bahwa ketika kita datang ke gereja maka kita sudah mencari Tuhan. Jangan berpikir bahwa ketika kita memberikan persembahan ke gereja maka kita sudah mencari Tuhan. Perkarakan benar-benar apakah kita sudah mencari Tuhan secara benar atau sebenarnya kita masih belum mencari Tuhan. Jangan-jangan setiap kita datang ke gereja kita tidak mencari Tuhan, tetapi mencari uang, harta, kekayaan, jawaban doa, dan lain sebagainya melalui Tuhan. Tuhan hanya kita jadikan sarana untuk memuaskan tujuan kita. Dengan kata lain, orang-orang seperti ini sebenarnya menjadikan Tuhan sebagai semacam “jin lampu” yang hanya bertugas mengabulkan doa dan permintaan mereka.

Masalahnya, sebagian pendeta juga mengajarkan hal yang salah. Para pendeta dan pengkhotbah semangat sekali mengajarkan ayat 33 ini dan berkata bahwa gereja itu adalah kerajaan Allah dan kebenarannya, karena pendeta adalah wakil Allah dan pasti menyampaikan kebenaran di atas mimbar. Kenyataannya tentu ada pendeta yang bukan wakil Allah atau juru bicara Allah. Tidak semua pendeta juga menyampaikan kebenaran yang benar-benar benar. Banyak khotbah yang sebenarnya bukan kebenaran, tetapi hanya sebatas kata-kata yang tidak membangun iman, atau kalaupun bermanfaat, hanya menjadikan orang baik sebagaimana agama pada umumnya. Salah satu ciri khotbah yang mengandung kebenaran adalah ketika orang yang menyampaikannya dan orang yang mendengarnya mengalami perubahan dan pertobatan yang nampak nyata dalam kehidupan orang tersebut.

Kalau ayat 33 ini hanya dikhotbahkan kepada jemaat supaya jemaat mencari Tuhan dengan cara rajin beribadah, rajin pelayanan, rajin persembahan, tanpa mencari pribadi-Nya dengan sungguh-sungguh, maka jemaat akan menjadi kerdil karena memandang segala sesuatunya dari sudut pandang duniawi. Apalagi jika jemaat juga dijanjikan bahwa semuanya bisa ditambahkan kepada mereka jika mereka memberikan kepada “Tuhan” (yang diwakili oleh gereja, sinode, bahkan pribadi pendeta itu sendiri). Tidak heran banyak jemaat rela memberi banyak uang kepada gereja karena menginginkan semua hal lain yang mereka inginkan. Seakan-akan mereka rela memberi uang puluhan juta ke gereja karena berharap bahwa Tuhan akan memberikan tender bernilai milyaran bahkan puluhan milyar kepada mereka.

Kita telah belajar bahwa kata “semuanya itu” tidaklah berarti semua hal yang kita inginkan. Ayat 33 tidak boleh menjadi dasar bagi kita untuk berdoa meminta apa saja yang kita inginkan. Ayat 33 sebenarnya adalah pengingat bagi kita untuk mempersoalkan apakah kita sudah mencari-Nya dengan benar, dimana orang yang sudah mencari Tuhan dan kerajaan-Nya dengan benar pasti memiliki karakter yang unggul dan tidak lagi mempersoalkan makanan dan pakaian. Mereka tahu bahwa selama mereka bekerja keras, Tuhan akan memberkati mereka. Ketika orang sudah dapat merdeka dari kekuatiran (dengan sadar bahwa hidup ini sebenarnya dapat dicukupkan dengan makanan dan pakaian), maka mereka dapat memfokuskan diri pada perkara-perkara yang di atas. Hal ini tentu sejajar dengan mengumpulkan harta di surga dan bukan di bumi, yang sebenarnya tidak berbicara mengenai uang atau materi, tetapi lebih bicara kepada perubahan karakter kita yang semakin menyerupai Tuhan Yesus, saudara sulung kita.



Bacaan Alkitab: Matius 6:31-34
6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Jumat, 28 Februari 2020

Zakheus, Pemungut Cukai yang Benar


Jumat, 28 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Lukas 19:1-10
Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." (Luk 19:8)


Zakheus, Pemungut Cukai yang Benar


Ketika mendengar kata Zakheus, apakah yang terlintas dalam pikiran kita? Mungkin ada di antara kita yang langsung terpikir mengenai fisiknya yang pendek, sehingga harus memanjat pohon ara untuk dapat melihat Yesus. Mungkin ada yang terpikir mengenai pekerjaannya sebagai pemungut cukai. Ada juga yang terpikir mengenai pertobatannya yang dipuji oleh Tuhan Yesus. Ya, peristiwa ini walaupun hanya dicatat dalam Injil Lukas, dapat dibahas dari banyak sudut pandang dengan tingkat kedalaman yang berbeda pula. Namun hari ini kita akan mencoba melihat apakah Zakheus adalah orang jahat yang bertobat? Mengapa orang banyak pada waktu itu bersungut-sungut? Dosa apakah yang dilakukan Zakheus sehingga ia harus bertobat?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat siapakah Zakheus seperti yang dijelaskan dalam Injil Lukas ini. Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai, dan seseorang yang kaya (ay. 2). Karena konteks perikop ini adalah ketika Tuhan Yesus masuk ke dalam kota Yerikho (ay. 1), maka besar kemungkinan ia tinggal dan bekerja di kota itu. Karena ia adalah kepala pemungut cukai, tentu ia dikenal oleh banyak orang di kota Yerikho, termasuk oleh orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi. Jika kita membaca kamus Alkitab di bagian belakang Alkitab Bahasa Indonesia terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), kita akan menemukan keterangan bahwa pemungut cukai bertugas untuk memungut bea dan cukai (atau secara sederhananya adalah pajak) dari para penduduk untuk diserahkan kepada pemerintah Romawi yang saat itu menguasai tanah Palestina. Sebenarnya pemungut cukai tidak hanya ada di daerah Palestina (Yerusalem dan sekitarnya, dimana orang Yahudi tinggal), tetapi tentu ada di seluruh wilayah kekaisaran Romawi.

Dalam kamus Alkitab LAI ini juga ditambahkan keterangan bahwa seringkali para pemungut cukai ini memeras rakyat untuk menguntungkan diri mereka sendiri, sehingga mereka sering disamakan dengan kelompok orang berdosa. Akan tetapi kita melihat bahwa pada dasarnya, pekerjaan sebagai pemungut cukai ini sama halnya dengan petugas pajak atau petugas bea cukai pada masa modern ini. Mereka memang bertugas mengumpulkan pajak, bea, cukai, dan hal sejenisnya sebagai salah satu bentuk kewajiban dari warga negara yang taat pajak. Oleh karena itu, mungkin saja mereka dibenci karena: 1) Pada umumnya, orang tidak suka harus membayar pajak, meskipun ironisnya mereka justru sering menuntut pemerintah untuk memenuhi kebutuhannya; dan 2) Jika pemungut cukai adalah orang yang kaya, maka anggapan orang pada umumnya adalah bahwa mereka telah melakukan kecurangan yang memperkaya diri mereka sendiri. Memang benar bahwa ada oknum-oknum pemungut cukai yang tidak bertanggung jawab. Mungkin karena segelintir oknum itulah maka profesi sebagai pemungut cukai dipandang hina oleh banyak orang.

Selain alasan umum sebagaimana dibahas di atas, bangsa Yahudi sangat membenci pemungut cukai setidaknya karena: 1) Bangsa Yahudi merasa sedang dijajah oleh bangsa Romawi, sehingga mereka sangat membenci siapapun yang ada di pihak penjajah Romawi (meskipun sebenarnya bangsa Yahudi juga memperoleh fasilitas yang baik seperti jalan raya dan sistem pengairan yang baik di zaman Romawi. Bahkan Bait Allah di Yerusalem dipugar dan diperindah secara luar biasa oleh Raja Herodes sebagai perpanjangan tangan kekaisaran Romawi); 2) Bangsa Yahudi merasa bahwa seharusnya mereka hanya membayar pajak kepada raja dan imam karena mereka menganut sistem theokrasi. Namun, karena mereka dijajah, mau tidak mau mereka harus membayar pajak kepada penjajah Romawi; 3) Bangsa Yahudi merasa bahwa bangsa Romawi adalah bangsa yang kafir, karena mereka menyembah banyak dewa, serta makan makanan yang dipandang haram oleh bangsa Yahudi. Oleh karena itu mereka sangat tidak ikhlas membayar pajak yang nantinya akan digunakan oleh bangsa Romawi untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan hukum Taurat; dan 4) Sebagian pemungut cukai adalah bangsa Yahudi, dan para pemungut cukai ini dianggap sebagai pengkhianat bangsa/agama karena bekerja bagi penjajah kafir. Dalam hal ini Zakheus hampir pasti adalah seorang Yahudi, karena pada waktu itu sangat besar larangan bagi orang Yahudi untuk masuk ke dalam rumah orang yang bukan Yahudi. Nanti kita akan membahas bukti lainnya yang menunjukkan dengan kuat bahwa Zakheus adalah orang Yahudi.

Kembali kepada perikop mengenai Zakheus tadi, kita melihat bagaimana Zakheus sangat ingin untuk melihat seperti apakah Yesus itu (ay. 3a). Ia tentu telah mendengar berita mengenai Yesus dari Nazaret yang membawa pengajaran yang berbeda dari kebanyakan ahli Taurat. Ia tentu juga telah mendengar bagaimana Yesus membuat banyak mujizat dalam pelayanan-Nya. Mungkin juga ia pernah mendengar bagaimana Yesus dekat dengan orang-orang berdosa. Sebagai orang yang “terasingkan” dalam masyarakat, tentu dalam hatinya ia sangat berharap dapat menjadi salah satu dari orang-orang yang beruntung untuk dapat bertemu bahkan berbicara dengan Yesus. Namun, karena badannya pendek, ia tidak berhasil melihat karena kerumunan orang banyak di depannya (ay. 3b).

Namun Zakheus tidak hilang akal. Ia berusaha mendahului orang banyak (dengan memperhitungkan kira-kira ke arah mana nanti Tuhan Yesus berjalan) dan kemudian memanjat pohon ara untuk dapat melihat Yesus (ay. 4). Menariknya ketika Tuhan Yesus berjalan dan melihat tempat dimana Zakheus memanjat pohon, Ia pun melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu" (ay. 5). Perhatikan bahwa Tuhan Yesus menggunakan kata “harus” bukan hanya sekedar “akan”. Dalam Alkitab Terjemahan Lama, digunakan kata “tak dapat tiada” yang kira-kira “tidak bisa tidak”. Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus memang harus makan dan menumpang di rumah Zakheus.

Bayangkan perasaan Zakheus pada saat itu. Ia mungkin awalnya hanya berharap dapat melihat wajah Yesus, atau mendengar-Nya berkhotbah. Namun ketika Tuhan melihat Zakheus (dan tentu Ia dapat melihat kesungguhan hati Zakheus dari tindakannya tersebut), maka Tuhan berkata bahwa Ia harus datang dan menumpang di rumah Zakheus. Tentu Zakheus sangat gembira, bahkan mungkin perasaannya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Meskipun ia adalah seorang yang kaya, namun apa yang ia rasakan saat itu mungkin jauh lebih bahagia daripada ketika ia memperoleh uang dalam jumlah banyak.

Zakheus pun segera turun, menemani Yesus dan rombongan menuju rumahnya, dan menyiapkan segala sesuatu supaya ia dapat menerima dan melayani Tuhan Yesus rumahnya dengan sebaik-baiknya (ay. 6). Apa yang dilakukan oleh orang banyak yang sebelumnya sangat antusias menyambut kedatangan Tuhan Yesus di kota Yerikho? Mereka justru bersungut-sungut karena menganggap bahwa Tuhan Yesus menumpang di rumah orang berdosa (ay. 7). Besar kemungkinan bahwa ada orang Farisi dan ahli Taurat yang ada di situ. Mereka tentu tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan berusaha untuk memprovokasi orang banyak untuk juga menjadi tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.

Kita bayangkan situasi saat itu yang mulai memanas, karena orang banyak mulai mencemooh Tuhan Yesus dan tentunya Zakheus yang menyediakan rumahnya bagi Yesus. Bisa jadi sudah ada cemoohan, umpatan bahkan kata-kata kasar yang ditujukan kepada Zakheus. Melihat kondisi yang sudah tidak enak, akhirnya Zakheus berkata dengan lantang kepada Tuhan Yesus (dengan didengar orang banyak tersebut): “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (ay. 8).

Perhatikan fakta dalam kalimat yang diucapkan oleh Zakheus: 1) Setengah hartanya akan diberikan kepada orang miskin; dan 2) Jika ada orang yang pernah dia peras, maka kepada orang itu akan dikembalikan empat kali lipat. Mengingat Tuhan Yesus kemudian memuji apa yang diucapkan Zakheus, maka besar kemungkinan bahwa Zakheus tentu akan melakukan apa yang diucapkannya. Lagipula ia mengucapkannya di depan orang banyak yang juga sama-sama mendengarnya. Apa maksud dari perkataan Zakheus ini?

Terkait setengah hartanya yang akan diserahkan kepada orang miskin, tentu itu adalah sesuatu yang baik. Saya sendiri juga rasanya belum sanggup untuk melakukan sampai ke level itu. Namun yang lebih hebat lagi adalah ucapannya yang berkata bahwa jika ada orang yang pernah ia peras, maka kepada orang itu akan dikembalikan sebesar 4 kali lipat. Bayangkan kalau saya adalah orang yang hobi korupsi atau memeras orang lain. Beranikah saya berkata seperti itu? Tentu tidak mungkin, karena saya tentu tidak punya uang sebanyak itu (kecuali jika uang hasil korupsi itu saya investasikan dengan imbal hasil yang tinggi). Zakheus berani berkata seperti itu karena ia tahu bahwa ia tidak pernah memeras orang dengan sengaja. Ia selalu menjalankan tugasnya dengan baik dan benar sesuai prosedur. Namun karena pandangan orang yang sudah apriori terlebih dahulu kepada pekerjaan pemungut cukai, maka stigma perampok, koruptor, serakah dan lain sebagainya sudah melekat kepada Zakheus. Dengan ucapan ini setidaknya ia berkata: “Saya kaya bukan karena hasil korupsi dan memeras orang. Saya bekerja dengan benar. Kalau ada orang yang (tidak sengaja) kuperas, maka akan kukembalikan 4 kali lipat”. Ini menunjukkan bahwa Zakheus kaya bukan karena ia memeras orang lain. Ia mungkin kaya karena lahir dari keluarga yang kaya, atau kaya karena kerja kerasnya dalam bekerja. Namun ketika Tuhan Yesus datang ke rumahnya, ia langsung mengambil keputusan untuk menjadi orang yang dermawan. Baginya kesempatan sekali seumur hidup untuk bertemu dan menjamu Tuhan Yesus di rumahnya jauh lebih berharga daripada seluruh harta kekayaan yang selama ini ia miliki.

Tuhan Yesus merespon bahwa pada hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini (dan seisinya) karena orang ini pun adalah anak Abraham (ay. 9). Maksud dari perkataan ini adalah, seringkali pada masa itu pemungut cukai sudah dicap sebagai orang berdosa, dan tidak layak lagi menjadi bagian dari bangsa Yahudi. Siapa yang memberi cap atau stempel tersebut? Tentu saja diberikan oleh para pemuka agama Yahudi pada waktu itu. Dengan segala pengetahuan teologis dan ayat-ayat dalam hukum Taurat yang mereka miliki, serta “posisi dan kekuasaan” yang mereka punyai, mereka dapat dengan mudah berkata kepada orang lain: “kafir”, “berdosa”, bahkan “sesat”.

Namun Tuhan Yesus berkata bahwa Zakheus pun adalah anak Abraham (yang merujuk bahwa pasti Zakheus pun adalah orang Yahudi, karena tidak mungkin orang non Yahudi dikatakan sebagai anak Abraham, bisa-bisa Tuhan Yesus dilempari batu karena dianggap menghujat agama Yahudi). Oleh karena itu Zakheus berhak juga untuk menerima keselamatan. Mengapa Tuhan Yesus dengan mudah berkata bahwa Zakheus telah menerima keselamatan? Semudah itukah keselamatan? Dalam hal ini kita harus melihat bagaimana Zakheus bekerja sebagai pemungut cukai namun ia tidak melakukan kejahatan dalam pekerjaannya. Ia tidak menjadi tamak dan kemudian memeras orang lain dengan sengaja. Kalau boleh menggunakan bahasa saya sendiri, Zakheus adalah seorang pemungut cukai yang benar, yang takut akan Allah. Tentu ia juga sudah selamat, apalagi ditambah dengan sikapnya yang berani untuk memberikan setengah hartanya kepada orang miskin.

Sebenarnya apa yang diucapkan oleh Tuhan Yesus ini juga dapat merupakan bentuk sindiran kepada orang banyak, khususnya orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka menjalankan kewajiban ibadah mereka dengan ketat, tetapi tidak memiliki hati yang mengasihi orang lain. Mereka bahkan seakan-akan membangun pagar dari orang lain yang mereka pandang berdosa. Mereka rajin beribadah tetapi tidak memiliki hati yang penuh belas kasihan kepada orang-orang berdosa. Bukankah seharusnya sebagai ahli-ahli agama mereka harus menjangkau orang banyak, khususnya orang yang berdosa yang akan binasa? Nyatanya mereka hanya bisa berteori, berteologi, berapologetika/berdebat, dan lain sebagainya tanpa tindakan nyata. Itulah mengapa Tuhan Yesus berkata dalam ayat terakhir: Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (ay. 10). Dalam bahasa lain, Tuhan Yesus seakan-akan sedang berkata kepada para pemuka agama tersebut: apakah yang kamu lakukan kepada orang-orang berdosa dan terhilang?

Sebetulnya inilah yang harus menjadi bahan perenungan kita dari membaca kisah Zakheus ini. Jangan hanya fokus kepada badannya yang pendek, cara Zakheus naik ke atas pohon, dan lain sebagainya. Intinya adalah bagaimana kita bisa menarik pelajaran yang mengubah diri kita menjadi lebih baik lagi. Kalau kita belum seperti Zakheus yang dapat hidup dengan jujur di marketplace, tentu kita harus belajar menjadi professional di bidang kita masing-masing, tetapi dengan tetap memegang teguh kebenaran yang menjaga kita supaya tidak berbuat kesalahan. Jika kita saat ini masih seperti orang banyak yang mencemooh orang berdosa, maka mari kita berusaha melakukan sesuatu supaya mereka juga dapat menerima anugerah keselamatan. Tentu dosa adalah tetap dosa, dan kita harus menolak dosa itu. Tetapi di sisi lain, kita harus merangkul dan menerima orang berdosa, apalagi mereka yang benar-benar telah bertobat (dalam hal ini dibutuhkan kepekaan rohani untuk mengetahui apakah orang tersebut sudah sungguh-sungguh bertobat atau hanya ucapan manis di bibir saja). Belajarlah dari Zakheus, supaya kita dapat menjadi pribadi yang benar, dan tetap mengerjakan keselamatan kita masing-masing.



Bacaan Alkitab: Lukas 19:1-10
19:1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
19:9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.
19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Kamis, 27 Februari 2020

Apakah Tuhan Yesus Tahu dari Awal bahwa Yudas Pasti akan Berkhianat? (2)


Kamis, 27 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Yohanes 6:67-71
Jawab Yesus kepada mereka: "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis". Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu. (Yoh 6:70-71)


Apakah Tuhan Yesus Tahu dari Awal bahwa Yudas Pasti akan Berkhianat? (2)


Salah satu ayat yang juga sering digunakan kelompok yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus tahu dari awal bahwa Yudas akan berkhianat adalah ayat nats kita pada renungan hari ini. Dalam ayat tersebut tertulis bahwa Tuhan Yesus sendiri berkata Dia sendirilah yang memilih kedua belas murid-Nya, akan tetapi seorang di antara mereka adalah Iblis (ay. 70). Itulah perkataan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Baru pada ayat selanjutnya ditambahkan keterangan yang ditulis oleh Rasul Yohanes bahwa yang dimaksudkan Tuhan Yesus sebagai Iblis itu adalah Yudas Iskariot, karena dialah orang di antara kedua belas murid yang akan menyerahkan Yesus (ay. 71).

Sekilas memang kalimat ini mengindikasikan bahwa Tuhan Yesus sudah tahu bahwa Yudas akan berkhianat. Namun mari kita lihat konteks perikop ini dan sedikit melihat lebih dalam mengenai ayat-ayat dalam perikop ini. Perikop ini adalah kelanjutan perikop yang telah kita baca pada renungan hari sebelumnya, dimana ada orang-orang yang akhirnya memutuskan untuk mengkhianati Yesus dengan cara tidak lagi mau mengikuti-Nya/ Mereka meninggalkan Tuhan Yesus dan tidak mau lagi menjadi murid-Nya karena perkataan-perkataan-Nya yang keras menurut mereka, khususnya terkait memakan daging-Nya dan meminum darah-Nya.

Setelah melihat banyak murid-murid-Nya yang pergi, kemudian Tuhan Yesus bertanya kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (ay. 67). Tentu jumlah murid yang pergi jauh lebih banyak daripada jumlah dua belas murid utama Tuhan Yesus. Namun Simon Petrus, seorang murid yang paling berani menjawab bahwa mereka tidak mau dan tidak dapat pergi. Kalaupun mereka harus pergi, mereka sudah meninggalkan segala sesuatu. Tidak ada alternatif lagi bagi mereka untuk pergi meninggalkan Yesus dan mencari guru lain (atau kembali ke pekerjaan lama mereka). Petrus mewakili murid-murid yang lain berkata bahwa perkataan yang disampaikan Yesus adalah perkataan yang membawa hidup kekal (ay. 68). Mereka juga tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah, Mesias yang datang dari Allah (ay. 69).

Hal itu adalah perkataan yang luar biasa yang keluar dari mulut Petrus, salah seorang murid Yesus yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi karena ia hanyalah seorang nelayan atau penjala ikan. Dalam konteks inilah, Tuhan Yesus memuji kedua belas murid-Nya karena mereka tidak meninggalkan Yesus meskipun murid-murid lain pergi meninggalkan-Nya. Dalam kalimat lain, seakan-akan Tuhan Yesus hendak mengatakan bahwa tidak sia-sia Ia bergumul keras untuk memilih siapa yang akan menjadi 12 murid utama-Nya (ay. 70).

Peristiwa pemilihan kedua belas murid tersebut tercatat dalam tiga dari empat Injil yaitu Matius, Markus dan Lukas. Dalam kitab Lukas tercatat bahwa sebelum Tuhan Yesus memanggil dan menetapkan 12 orang tersebut, Ia pergi ke bukit dan berdoa semalam-malaman kepada Allah Bapa (Luk 6:12). Dalam Alkitab, kita menemukan bahwa Tuhan Yesus sangat sering berdoa, karena doa yang merupakan cara berhubungan dengan Allah adalah hal yang sangat penting (misalnya: Mrk 1:35). Namun biasanya ketika Tuhan Yesus harus berdoa pada malam hari (atau sepanjang malam), biasanya hal itu terkait akan suatu hal yang harus Ia pergumulkan dengan sungguh-sungguh, misalnya saja ketika Yesus berdoa di taman Getsemani sebelum ditangkap (Mrk 14:32-42). Jelaslah bahwa kedua belas murid Yesus ini bukanlah orang-orang yang dipilih dengan sembarangan, tetapi tentu dengan pergumulan yang sangat dalam sebelum Ia mengambil keputusan.

Dalam doa dan pergumulan-Nya sebelum memilih kedua belas murid-Nya, tentu Tuhan Yesus sudah mengerti dari nats kitab suci di Perjanjian Lama bahwa akan ada salah seorang murid-Nya yang nantinya akan berkhianat kepada-Nya. Namun jika kita mau jujur, hampir semua murid-murid Yesus adalah mereka yang sebenarnya masih belum mengerti bahwa kerajaan yang ditawarkan Yesus bukanlah kerajaan di dunia ini, melainkan di surga. Mereka memang percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Namun saat itu mereka masih berpikir bahwa ketika mereka mengiring Yesus, maka mereka nanti akan mendapatkan kedudukan yang terhormat jika Yesus naik tahta menjadi Raja orang Yahudi.

Kita dapat melihat bagaimana kedua belas murid Yesus memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Kekurangan ini sebenarnya dapat berpotensi juga bagi murid-murid Yesus untuk nantinya berkhianat kepada-Nya. Yudas memang sangat materialistis dan cinta uang, bahkan sampai mencuri uang kas yang dipegang-Nya. Namun kita harus melihat bagaimana Tomas juga memiliki kelemahan yang tidak mudah percaya, atau Yakobus dan Yohanes yang ingin mendapat tempat terhormat di kerajaan-Nya sehingga juga menggunakan ibu mereka dengan harapan dapat mempengaruhi Tuhan Yesus. Simon orang Zelot juga adalah seorang pejuang yang tak segan-segan melawan penjajah Romawi dengan kekerasan. Namun mungkin alternative pengkhianat lain yang paling kuat adalah Petrus, karena karakternya yang meledak-ledak. Bahkan Tuhan Yesus sempat menghardik-Nya dengan ucapan: “Enyahlah Iblis!” (Mrk 8:33), sesuatu yang bahkan tidak Ia ucapkan secara langsung kepada Yudas Iskariot.

Karena saya berpendapat bahwa ada kemungkinan besar Tuhan Yesus di awal tidak tahu siapa yang akan mengkhianati-Nya. Seiring berjalannya waktu, dari 12 murid tersebut mungkin mengerucut kepada Petrus dan Yudas. Tidak heran bahwa Tuhan Yesus berkata bahwa seorang di antara mereka adalah Iblis (ay. 70). Jika merujuk pada keempat kitab Injil, jelas bahwa dari kedua belas murid-Nya, hanya sekali saja Tuhan Yesus menyebut salah satu murid-Nya dengan sebutan “Iblis”, yaitu kepada Petrus. Ini artinya bisa jadi Petrus yang akan berkhianat kepada Tuhan Yesus. Kita dapat melihat bagaimana Petrus sangat berambisi supaya Yesus menjadi Raja secara duniawi, sehingga ia tidak setuju jika Tuhan Yesus berkata bahwa Ia harus mati. Namun ternyata seiring berjalannya waktu, Petrus memilih untuk mulai bertobat, sementara Yudas justru sebaliknya. Karena Yudas tidak bertobat, akhirnya Yesus pun membiarkan Yudas untuk melakukan apa yang ia akan lakukan, yaitu mengkhianati diri-Nya (Yoh 13:27).

Tentu pendapat saya ini memang didasarkan pada peristiwa awal ketika Tuhan Yesus memilih kedua belas murid-Nya, dimana saat itu ada banyak sekali calon pengkhianat yang mungkin akan berkhianat kepada Yesus. Tuhan Yesus juga pasti mengingatkan murid-murid-Nya tersebut supaya jangan sampai menjadi pengkhianat tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, tentu Tuhan Yesus dapat melihat siapa yang mau mendengar nasehat dan siapa yang tidak mau mendengar nasehat. Yudas adalah orang yang tidak mau mendengar nasehat sehingga pada akhirnya ia membinasakan dirinya sendiri.

Dalam hal ini, statement saya bahwa Tuhan Yesus tidak tahu di awal bukan berarti meragukan kemahatahuan Tuhan Yesus. Akan tetapi saya ingin menekankan bahwa kedua belas murid Yesus sama-sama memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pengkhianat, dan bukan salah seorang ditentukan untuk menjadi pengkhianat dari awalnya dan sengaja dipilih oleh Tuhan Yesus untuk menggenapi nats di Perjanjian Lama. Adalah Tuhan yang sangat jahat jika sudah menentukan seseorang akan menjadi pengkhianat, seakan-akan tidak ada kesempatan lagi baginya untuk bertobat. Akan tetapi semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memilih apa yang benar dan apa yang salah. Itulah sebabnya ada penghakiman Allah yang akan diadakan suatu saat nanti ketika semua orang akan dihakimi menurut perbuatan mereka (bukan hanya sekedar iman mereka). Jika Yudas sudah “dipilih” untuk menjadi pengkhianat, maka Yudas dapat protes: “Untuk apa ada pengadilan jika saya tidak mendapat kesempatan untuk memilih apa yang benar”. Namun menurut pendapat saya, karena setiap orang memiliki kehendak bebas untuk memilih apa yang benar dan yang salah, maka semua orang harus mempertanggungjawabkan pilihan yang diambil.

Untuk Yudas, ia telah mendapatkan kesempatan dan anugerah yang luar biasa dapat melihat, mendengar, bahkan berbicara dengan Tuhan Yesus. Namun sayangnya ia menyia-nyiakan kesempatan yang berharga hanya karena didorong nafsu duniawinya, yang ingin Yesus segera memproklamirkan diri sebagai Mesias, yang akan menjadi Raja orang Yahudi secara duniawi (supaya Yudas dapat pula segera menjadi menteri di kerajaan tersebut). Nafsu yang salah inilah yang membinasakan dirinya. Demikian pula kita harus belajar untuk hidup dalam tuntunan Roh Kudus supaya kita mengerti kehendak-Nya, dan tidak terjebak pada hawa nafsu duniawi yang membuat kita berpikir kerdil dan salah mengambil keputusan seperti Yudas.



Bacaan Alkitab: Yohanes 6:67-71
6:67 Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"
6:68 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;
6:69 dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."
6:70 Jawab Yesus kepada mereka: "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis."
6:71 Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu.

Rabu, 26 Februari 2020

Apakah Tuhan Yesus Tahu dari Awal bahwa Yudas Pasti akan Berkhianat? (1)


Rabu, 26 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Yohanes 6:60-66
Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. (Yoh 6:64)


Apakah Tuhan Yesus Tahu dari Awal bahwa Yudas Pasti akan Berkhianat? (1)


Judul renungan hari ini terdengar agak kontroversial. Namun tentu saya perlu membahas hal ini terkait renungan hari sebelumnya mengenai motif Yudas menjual Yesus. Hal ini tentu adalah topik yang cukup sensitif bagi beberapa orang maupun kalangan. Mereka yang selama ini berpendapat bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, pasti beralasan bahwa karena Ia Tuhan, pasti Ia Maha Tahu. Dalam hal ini pastilah Tuhan tahu bahwa Yudas pasti berkhianat, oleh karena itu kemudian Ia tetap memilih Yudas sebagai salah satu dari 12 orang murid-Nya.

Namun hari ini saya akan mencoba untuk membahas hal ini dari sudut pandang yang mungkin agak berbeda dari kebanyakan orang. Dalam hal ini saya bukan tidak menghormati Yesus sebagai Tuhan. Saya justru sangat menghormati Yesus sebagai Tuhan saya, Juruselamat dan Penebus umat manusia. Namun perlu saya saya sampaikan juga bahwa ketika berinkarnasi menjadi manusia, Yesus juga adalah manusia seutuhnya. Ia dapat merasakan emosi, lapar, dahaga, dan dalam segala hal dipersamakan dengan kita (manusia), supaya Ia pun dapat merasakan pencobaan-pencobaan yang dialami manusia (Ibr 2:17-18).

Dalam hal ini, saya bukan meragukan bahwa Tuhan Yesus kemudian bukan Tuhan. Tentu harus dibedah dahulu apa yang dimaksud dengan Tuhan, apa definisi Tuhan dalam hal ini. Tuhan Yesus tentu juga dapat mengetahui banyak hal yang tidak diketahui oleh orang lain. Contohnya, Ia tahu bahwa perempuan Samaria tersebut sudah memiliki lima suami (Yoh 4:17-18). Namun dalam hal pemilihan kedua belas murid-Nya, apakah Tuhan Yesus sudah tahu bahwa Yudas nanti akan berkhianat? Sebenarnya hal ini sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan Tuhan Yesus atau membuat Ia seakan-akan “tidak Maha Tahu”. Namun pertanyaan ini harus dipersoalkan untuk menjawab hipotesis yang saya ajukan sebelumnya. Oleh karena itu, mari kita sepakat mengenai konteks dari pertanyaan ini, yang hanya spesifik dalam kaitan pengkhianatan Yudas kepada Tuhan Yesus.

Sebagian besar orang Kristen tentu berpendapat: “Ya pastilah Tuhan tahu kalau Yudas berkhianat. Itulah sebabnya Ia memilih Yudas”. Dahulu saya pun juga berpikir seperti ini. Tetapi kemudian saya berpikir keras, apakah Tuhan sejahat itu karena Tuhan sekaan-akan “menjebak” Yudas untuk “diarahkan” agar ia berkhianat kepada-Nya. Tentu hal ini terkait dengan pemahaman mengenai takdir. Jika memang Tuhan tahu bahwa Yudas pasti berkhianat, maka seakan-akan Yudas sudah “ditakdirkan” untuk berbuat jahat, berkhianat, mati, lalu masuk neraka. Sementara orang-orang lain seperti Petrus, Yohanes, Tomas, dan lain sebagainya, sudah ditakdirkan untuk selamat.

Ayat yang digunakan oleh kelompok ini antara lain adalah ayat nats renungan kita hari ini: “Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia” (ay. 64). Mereka juga menggunakan ayat-ayat nubuatan di Perjanjian Lama yang digenapi dalam peristiwa kematian Yesus. Misalnya saja mengenai 30 uang perak (Mat 27:9), orang yang makan roti bersama kemudian mengangkat tumit melawan Yesus (Yoh 13:18), atau orang yang berkhianat adalah bagian dari pelayanan kedua belas murid Yesus (Kis 1:16-17). Memang dari ayat-ayat tersebut jelas bahwa salah satu dari murid yang dipilih Tuhan Yesus, yang bahkan pernah makan roti bersama-sama akan berkhianat kepada-Nya, dan menjualnya dengan nilai 30 uang perak. Namun menjadi pertanyaan, apakah memang hal itu sejak awal sudah merujuk pada Yudas atau sebenarnya secara umum berlaku kepada murid-murid yang lain dan seiring berjalannya waktu, ternyata memang Yudas yang akhirnya berkhianat? Jika mau jujur, ketiga ayat perjanjian Lama di atas juga tidak secara langsung merujuk kepada Yudas, tapi lebih berbicara secara umum. Namun bagaimana dengan pernyataan Yesus dalam ayat 64 tersebut?

Untuk membahas hal ini tentu kita harus melihat konteks dari ayat tersebut. Perikop dimana ayat ini berada berbicara mengenai apa yang terjadi setelah Tuhan Yesus menyampaikan salah satu khotbah-Nya yang paling keras, yaitu tentang memakan daging Anak Manusia dan meminum darah-Nya (Yoh 6:60-59). Setelah peristiwa tersebut dikatakan bahwa banyak dari murid-murid Yesus yang bersungut-sungut dan mengundurkan diri karena perkataan Yesus yang dipandang terlalu keras bagi mereka saat itu (ay. 60). Kita harus memahami bahwa yang dimaksud dengan murid-murid Yesus di sini adalah selain kedua belas murid utama, mengingat mereka tidak ikut mengundurkan diri (Yoh 6:67-71).

Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut karena khotbah yang disampaikan-Nya. Ia kemudian menantang mereka. Jika hanya mendengar khotbah tersebut iman mereka sudah goncang, bagaimana jika mereka melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? (ay. 61-62). Jelas bahwa Tuhan Yesus ingin menegaskan bahwa apa yang mereka dengar ini mungkin masih belum ada apa-apanya ketimbang melihat rentetan karya keselamatan Kristus, yang dimulai sejak penangkapan-Nya, penyiksaan-Nya, penyaliban-Nya, kematian-Nya, hingga kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke surga. Nyatanya, murid-murid utama Yesus saja tercerai berai ketika Tuhan Yesus ditangkap. Tuhan Yesus pun melanjutkan bahwa karena manusia hidup karena roh yang memberi hidup (bukan daging/tubuh jasmani), maka mereka harus mulai berpikir dengan sudut pandang rohani (ay. 63). Mereka harus mulai memberi makan manusia rohani mereka ketimbang manusia jasmani mereka. Dalam konteks khotbah sebelumnya, Tuhan Yesus sebenarnya tidak sedang berbicara mengenai daging dan darah secara jasmani, tetapi itu hanyalah kiasan/lambang/simbol yang memiliki makna rohani (dalam hal ini merujuk kepada perjamuan kudus yang melambangkan keikutsertaan kita dalam penderitaan Tuhan Yesus).

Setelah ayat-ayat tersebut, barulah Tuhan Yesus berkata bahwa “Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya” (ay. 64a). Kepada siapakah kalimat ini ditujukan? Kepada murid-murid yang mundur atau kepada kedua belas murid Yesus (dimana ada Yudas di dalamnya)? Jika kita mau jujur, kita dapat melihat bahwa pertanyaan ini ditujukan kepada murid-murid yang mengundurkan diri (di luar kedua belas murid utama). Oleh karena itu, kalimat selanjutnya juga seharusnya tidak terkait dengan 12 murid Yesus, melainkan masih terkait dengan murid-murid yang lain (yang mengundurkan diri).

Lalu bagaimana dengan kalimat selanjutnya yang tertulis “Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia” (ay. 64b)? Bukankah ada kata-kata “menyerahkan” di situ? Memang benar bahwa ada kata-kata “menyerahkan” di ayat itu, dan kata yang digunakan pun sama persis dengan kata “mengkhianati” yaitu menggunakan kata paradidómi (παραδίδωμι) yang kita telah bahas di renungan hari sebelumnya. Memang kata itu pun dapat berarti mengkhianati atau menyerahkan (seperti Yudas yang menyerahkan Yesus). Namun mengkhianati atau menyerahkan juga dapat bermakna luas. Ketika seorang murid sudah meninggalkan gurunya, bukankah itu sama artinya dengan mengkhianati? Dalam sebagian besar Alkitab Bahasa Inggris, digunakan kata “betray Him” pada ayat ini. Sementara pada ayat lainnya, misalnya Mrk 14:10 yang telah kita bahas pada renungan hari sebelumnya, rata-rata menggunakan kata “betray Him to them” atau “betray Jesus into their hands”. Ini berarti ada pengkhianatan dengan menyerahkan seseorang kepada pihak lain (melibatkan pihak lain), dan ada pula pengkhianatan yang tidak melibatkan pihak lain.

Jadi jelas bahwa ayat 64 ini tidaklah ditujukan kepada Yudas, melainkan kepada murid-murid-Nya secara umum. Tuhan Yesus juga tidak menyebut dengan spesifik siapa-siapa saja yang tidak percaya dan yang akan mengkhianati diri-Nya. Itulah sebabnya Tuhan kemudian berkata: “Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya” (ay. 65). Jika hari ini kita dapat percaya kepada Yesus, itu adalah karena Bapa telah memberikan anugerah supaya kita beroleh kesempatan mendengar Injil. Bayangkan jika kita lahir di pedalaman hutan yang belum terjangkau, mungkin kita akan menganut agama adat dan tidak akan pernah menjadi Kristen. Bayangkan jika kita lahir sekitar 3.000 tahun yang lalu, mungkin kita akan menganut agama kuno lain dan tidak mengenal karya keselamatan.

Murid-murid Yesus adalah mereka yang mendapatkan kesempatan dan anugerah yang luar biasa untuk dapat melihat, mendengar, bahkan mengikut Yesus secara langsung. Ini adalah kesempatan yang luar biasa yang bahkan kita tidak dapatkan. Namun kesempatan dan anugerah itu mereka buang dengan percuma ketika mereka tidak sanggup mendengar khotbah Yesus yang keras. Pada akhirnya mereka pun mundur dan tidak lagi mengikut Yesus (ay. 66). Ini menunjukkan bahwa ayat 64 telah “gugur” jika dijadikan alasan bahwa Yesus tahu bahwa Yudas yang akan berkhianat kepada-Nya.

Jika demikian, apakah Tuhan Yesus tidak Maha Tahu? Tentu Tuhan Yesus adalah Tuhan yang Maha Tahu. Namun Kemahatahuan yang dimiliki Tuhan Yesus pun berbeda dengan Kemahatahuan yang dimiliki Allah Bapa. Misalnya, Tuhan Yesus tidak tahu kapan waktu kedatangan-Nya untuk kedua kalinya, hanya Bapa yang tahu (Mat 24:36). Jelas bahwa hal ini menunjukkan adanya semacam “hirarki” dalam pribadi-pribadi pada Allah Tritunggal. Secara kesatuan, tentu Allah adalah Allah yang Maha Tahu. Namun kemahatahuan antara Tuhan Yesus dan Allah Bapa bisa jadi berbeda. Sangat mungkin bahwa hal ini juga terkait dengan peristiwa pengkhianatan Yudas.



Bacaan Alkitab: Yohanes 6:60-66
6:60 Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"
6:61 Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?
6:62 Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?
6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
6:64 Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.
6:65 Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."
6:66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Selasa, 25 Februari 2020

Sebuah Hipotesis tentang Motif Yudas Menjual Yesus


Selasa, 25 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Markus 14:1-11
Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka. Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. (Mrk 14:10-11)


Sebuah Hipotesis tentang Motif Yudas Menjual Yesus


Jika kita adalah orang Kristen sejak kecil, maka sejak masa sekolah minggu kita pasti sering mendengar bagaimana Tuhan Yesus dikhianati oleh salah satu murid-Nya yang bernama Yudas Iskariot. Itulah sebabnya hampir tidak pernah ada orang tua yang menamai anaknya dengan sebutan Yudas, meskipun sebenarnya ada salah satu kitab dalam Alkitab yang ditulis oleh Yudas (yang bukan Iskariot). Nama Yudas identik dengan pengkhianatan dan kejahatan, apalagi ia telah membuat Yesus mati. Saya pun juga memiliki pemikiran yang kurang lebih sama sejak kecil. Dalam cerita guru sekolah minggu, khotbah pendeta, bahkan dalam lukisan-lukisan dan ilustrasi sekalipun, Yudas pasti diibaratkan sebagai orang yang sangat jahat, bengis, dan keji. Itulah penggambaran Yudas yang selama ini kita kenal.

Namun seiring dengan pertumbuhan rohani saya, saya kemudian mulai mencoba untuk mempertanyakan sesuatu: Benarkah Yudas begitu jahatnya hingga ingin membunuh gurunya sendiri? Jika ia ingin membunuh gurunya sendiri, mengapa ia tidak melakukannya secara langsung? Mengapa ia harus menggunakan imam-imam kepala untuk kemudian menangkap Yesus? Jawaban paling simpel atas pertanyaan ini adalah: “Ya karena Yudas sudah ditentukan untuk binasa, makanya kemudian Yudas memang harus menjual Yesus supaya Yesus bisa disalib”. Namun dari jawaban itu muncul satu pertanyaan lagi: “Jika memang Yesus harus mati disalib, berarti Yudas sangat ‘berjasa’ dong dalam anugerah keselamatan. Coba kalau Yudas tidak menyerahkan Yesus, bagaimana Yesus bisa mati? Jangan-jangan kita tidak dapat diselamatkan kalua Yudas tidak menyerahkan Yesus”. Lalu muncul pula pemikiran “liar” lainnya: “Jika demikian, Kira-kira Yudas masuk surga atau neraka ya?”.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sulit untuk dijawab karena selama ini kita sudah memiliki praduga bahwa Yudas itu pengkhianat. Pola pikir ini membuat kita kemudian juga berdampak pada pemikiran lainnya, misalnya: Apakah Tuhan Yesus tahu bahwa Yudas akan berkhianat? Apakah Tuhan sengaja memilih Yudas sebagai muridnya supaya ia binasa? Hal ini tidak mudah, tetapi izinkan saya untuk mencoba membahas hal ini dari suatu sudut pandang yang mungkin agak berbeda dari kebanyakan orang, tanpa bermaksud untuk merendahkan Tuhan Yesus yang sangat saya hormati sebagai Tuhan dan Raja kita semua.

Dalam ayat bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat bagaimana tensi yang tinggi antara Yesus dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka mencoba untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat (ay. 1-2). Ketika keputusan ini diambil oleh mereka, artinya mereka sudah siap untuk melakukan apapun demi membunuh Yesus. Mereka sudah tidak mempedulikan lagi hukum Taurat yang berbunyi: “Jangan membunuh”. Yang ada di pikiran mereka adalah bagaimana Yesus dapat mati supaya posisi mereka sebagai ahli-ahli agama Yahudi tidak terusik. Sangat mungkin bahwa mereka merasa sedang membela agama mereka (agama Yahudi atau Yudaisme) dan dengan cara apapun. Bahkan mungkin saja waktu itu ada fatwa yang mereka keluarkan bahwa Yesus halal untuk dibunuh (mungkin dengan alasan menista agama Yahudi atau menghujat Allah).

Sebelum Yesus ke Yerusalem, kita tahu bahwa ada peristiwa yang terjadi, yaitu ketika ada seorang wanita yang mengurapi Yesus dengan minyak (ay. 3). Hal ini juga dicatat dalam ayat paralel lainnya meskipun ada beberapa perbedaan karena perbedaan penitikberatan oleh masing-masing penulis Injil (Mat 26:6-13, Yoh 12:1-8). Setelah Yesus diurapi oleh wanita tersebut, ada orang yang menjadi gusar karena menganggap apa yang dilakukan adalah suatu pemborosan (ay. 4). Dikatakan bahwa ada orang yang menjadi gusar dan berkata bahwa minyak ini dapat dijual 300 dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin (ay. 5). Jika kita memperhatikan ayat paralelnya, maka kita akan mengerti bahwa yang mengucapkan ini adalah Yudas Iskariot, salah seorang murid Yesus. Yudas mengatakan ini karena ia adalah bendahara dalam pelayanan Yesus dan ia sering mencuri uang kas yang dipegangnya (Yoh 12:4-6).

Yudas seakan-akan ingin tampil sebagai pahlawan dan menyalahkan wanita tersebut. Ia tentu berharap Tuhan Yesus membenarkan argumen Yudas tersebut. Namun Tuhan Yesus justru menjawab dengan jawaban yang tidak disangka-sangka oleh Yudas. Tuhan Yesus meminta agar Yudas tidak menyusahkan wanita tersebut karena wanita itu telah melakukan suatu perbuatan baik bagi Yesus (ay. 6). Terkait orang miskin, Yesus memberikan penjelasan bahwa orang miskin akan selalu ada dan murid-murid-Nya (termasuk Yudas) dapat menolong mereka kapanpun, tetapi Yesus tidak akan selalu ada bagi mereka (ay. 7). Dengan jalan demikian Yesus menekankan bahwa tak lama lagi Ia akan mati, dan wanita itu telah melakukan sesuatu yang pantas untuk persiapan penguburan diri-Nya (ay. 8). Bahkan suatu saat nanti apa yang dilakukan wanita tersebut akan selalu diingat terus sepanjang zaman (ay. 9).

Setelah Tuhan Yesus menjawab demikian, maka Yudas langsung pergi kepada imam-imam kepala untuk menyerahkan Yesus kepada mereka (ay. 10). Tentu saja imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat sangat senang dan berjanji akan menyerahkan uang kepada Yudas. Sejak itu Yudas kemudian mencari waktu yang baik untuk menyerahkan Yesus (ay. 11). Peristiwa dimana Yudas langsung pergi kepada imam-imam kepala setelah jawaban Tuhan Yesus itu juga dicatat dalam Injil Matius (Mat 26:14-16).
Perhatikan jawaban Tuhan Yesus, kira-kira bagian mana yang membuat Yudas mengambil keputusan untuk menyarahkan Yesus kepada imam-imam kepala? Apakah karena ia merasa ditegur Tuhan Yesus kemudian ia marah? Apakah karena marahnya itu lalu Yudas hendak membunuh Yesus? JIka demikian mengapa ia harus menyerahkan kepada imam-imam kepala? Bukankah ia bisa saja membunuh Yesus dengan cara lain?

Untuk menjawab pertanyaan ini tidak mudah, tetapi melalui renungan ini saya hendak mengusulkan suatu hipotesis bahwa Yudas sebenarnya tidak ingin membunuh Yesus. Ada 2 hal utama yang dapat menjadi alasan atas hipotesis saya tersebut. Pertama, dikatakan bahwa Yudas hendak menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala. Kata “menyerahkan” dalam bahasa aslinya adalah paradidómi (παραδίδωμι) yang bermakna to hand over, to give or deliver over, to betray (menyerahkan, memberikan/mengantarkan, mengkhianati). Sebenarnya makna to betray tidak secara langsung mengkhianati, melainkan to expose someone to danger by treacherously giving information to an enemy (membuat seseorang terancam bahaya dengan cara memberikan informasi kepada musuh/pihak yang berlawanan dengan curang). Dalam makna ini tentu belum sampai pada motivasi untuk membunuh Yesus. Tentu hal ini kemudian memunculkan pertanyaan: Lalu apa alasan Yudas untuk menyerahkan Tuhan Yesus? Hal ini akan kita bahas kemudian.

Alasan kedua yaitu fakta bahwa setelah Yudas mengetahui bahwa Yesus akan dihukum mati, ia kemudian sangat menyesal, bahkan kemudian Yudas melemparkan kembali 30 keping perak yang diterimanya sebagai upah menyerahkan Yesus kepada para imam kepala (Mat 27:3). Ini menunjukkan bahwa Yudas tidak menjual Yesus hanya karena ingin memperoleh uang dari imam-imam kepala. Lagipula jumlah 30 keping perak itu juga bukanlah suatu jumlah yang besar. Beberapa ahli Alkitab menghitung keeping perak itu sebagai keping dinar (yaitu upah seorang pekerja dalam sehari), jadi kira-kira nilai 30 keping perak tersebut adalah sebesar gaji 30 hari seorang pekerja pada waktu itu (atau sekitar 1 bulan lebih sedikit, dengan asumsi 6 hari kerja dalam seminggu). Ini juga didukung oleh ayat-ayat mengenai pekerjaan nabi Zakaria sebagai penggembala domba selama 1 bulan yang diupah 30 keping perak (Za 11:7-13). Ada pula ahli Alkitab yang merujuk jumlah ini kepada nilai seorang budak dalam Alkitab (Kel 21:32), meskipun konteks ayat itu sebenarnya merujuk kepada nilai ganti rugi jika ada budak yang mati karena ditanduk lembu orang lain.

Ada pula ahli Alkitab yang menghitung dengan asumsi atas berat perak dalam koin tersebut, dimana kemudian total berat perak pada 30 keping itu itu tidaklah sampai 500 gram. Per tanggal tulisan ini dibuat, total nilai 500 gram perak adalah sekitar Rp6 juta. Ada ahli yang berpendapat bahwa harga 30 keping perak itu sejajar dengan Ada pula yang berpendapat berbeda karena ternyata uang itu dapat digunakan untuk membeli suatu tanah ladang yang akan dijadikan pekuburan bagi orang asing (Mat 27:6-9). Namun sepertinya tanah itu bukanlah tanah di dalam kota Yerusalem, melainkan sangat mungkin ada di luar kota Yerusalem sehingga nilainya juga tidak terlalu mahal (tidak bisa dibandingkan dengan harga tanah yang meroket sangat tinggi pada zaman modern). Namun apapun jawabannya jelas bahwa nilai 30 keping perak itu bukanlah sesuatu yang nilainya sangat tinggi, bahkan dibandingkan dengan nilai minyak wangi senilai 300 dinar yang dipermasalahkan Yudas. Tidak mungkin ia mau menjual Yesus dengan harga 30 keping perak jika memang motivasinya adalah untuk mencari uang.

Lalu apakah alasan atau motif Yudas menjual Yesus kepada imam-imam kepala? Pendapat saya saat ini adalah bahwa Yudas sangat ingin Yesus tampil sebagai Raja yang kemudian akan mengalahkan bangsa Romawi dan membawa kejayaan kembali bagi bangsa Yahudi. Itulah yang pada umumnya orang harapkan dari kehadiran seorang Mesias. Mereka mengharapkan Mesias akan memimpin orang Israel/Yahudi melawan musuh-musuh mereka dan menegakkan kembali kejayaan kerajaan Israel di dunia ini. Oleh karena itu kita dapat memahami bagaimana Petrus dengan tegas berkata bahwa Yesus adalah Mesias, tetapi ia tidak mau Yesus mati (Mat 16:13-23). Atau bagaimana murid-murid Yesus berebut ingin menjadi yang terbesar (Luk 9:46), atau ingin duduk di samping kanan dan kiri Tuhan Yesus (Mat 20:20-21). Jelas bahwa pemikiran murid-murid Yesus pada saat itu adalah dengan segala mujizat dan kuasa yang dimiliki-Nya, maka Yesus akan membawa Israel kepada kejayaannya kembali. Mungkin inilah salah satu motivasi mereka mengiring Yesus pada waktu itu, karena mereka berharap akan menjadi menteri-menteri jika Yesus menjadi raja di Israel (secara duniawi). Bahkan setelah kebangkitan-Nya dari kematian, murid Yesus masih bertanya kapan Yesus akan memulihkan kerajaan Israel (Kis 1:6). Mereka belum dapat memahami bahwa Yesus adalah Anak Allah yang turun ke dunia ini, dan kerajaan-Nya bukan di bumi ini, tetapi kelak ada di langit yang baru dan bumi yang baru.

Dengan keinginan yang kuat agar Yesus menjadi raja Israel secara duniawi, maka ada kemungkinan bahwa murid-murid-Nya pun “gregetan” menanti kapan Yesus tampil di depan umum sebagai Mesias. Di hadapan keduabelas murid-Nya memang mereka sudah tahu bahwa Yesus adalah Mesias tapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada orang banyak. Lagi pula konsep Mesias yang mereka miliki ternyata masih salah, apalagi pemahaman mengenai Mesias yang dimiliki oleh kebanyakan orang Israel pada waktu itu. Itulah sebabnya ketika Yesus datang ke Yerusalem, ada banyak kebingungan mengenai Yesus, apakah Ia benar-benar Mesias atau bukan. Bahkan orang-orang Yahudi berusaha bertanya dan mendapat jawaban langsung dari Yesus (Yoh 10:24).

Jika orang Yahudi saja menjadi bingung, tentu murid-murid Yesus juga semakin bingung melihat apa yang dilakukan Guru mereka tersebut. Apalagi Tuhan Yesus banyak berbicara mengenai kematian-Nya, padahal pemahaman mereka Mesias itu akan hidup selama-lamanya, dan akan menjadi raja bagi orang Israel/Yahudi (Yoh 12:34). Kebingungan yang dialami murid-murid Yesus ini kemudian sangat mungkin menjadi alasan bagi Yudas untuk menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala, dengan harapan bahwa mungkin saja pada waktu terdesak, maka Yesus akan menyatakan diri-Nya sebagai Mesias dengan kuasa ilahinya. Yudas ingin tampil sebagai seorang pahlawan yang berhasil mengeluarkan sisi superhero dari diri Yesus untuk tampil sebagai Mesias di depan orang banyak.

Tentu Yudas melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus membuat mujizat menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, berjalan di atas air, mengusir roh jahat, dan banyak mujizat lainnya. Ia tentu membayangkan betapa hebatnya jika dapat menjadi bendahara atau menteri keuangan jika Yesus menjadi Raja. Namun dalam hatinya, ia pun bingung mengapa Yesus tidak segera tampil dan menyatakan diri sebagai Raja? Ia berharap bahwa jika imam-imam kepala hendak menangkapnya bersama dengan para prajurit Romawi, maka Yesus akan “kepepet” dan akan mengeluarkan kuasa-Nya yang dahsyat untuk dapat tampil sebagai Raja.

Itulah sebabnya, dari yang saya pahami, Yesus tidak pernah berniat membuat Yesus mati terbunuh. Ia hanya berniat menyerahkan Yesus supaya kemudian Yesus bisa menyatakan diri-Nya sebagai Mesias. Tentulah ia sudah memperhitungkan kuasa Yesus yang luar biasa, yang tidak mungkin sanggup dilawan oleh imam-imam kepala dan para prajurit Romawi sekalipun. Ia memikirkan suatu saat dimana Yesus pada akhirnya akan berubah menjadi semacam superhero dengan kekuatan super/kekuatan ilahi yang kemudian membawa bangsa Yahudi menuju kejayaan.

Namun apa dikata, ternyata ketika Yesus ditangkap, Ia sama sekali tidak melawan. Bukan karena Ia tidak berkuasa (Yesus masih menyembuhkan telinga orang yang terluka karena pedang Petrus (Luk 22:50-51, Yoh 18:10)). Pada waktu itu Yudas mungkin masih berpikir bahwa nanti Yesus akan menyatakan diri-Nya secara lebih spektakuler. Namun harapan itu sirna ketika ia mendengar Yesus telah dijatuhi hukuman mati dan sama sekali tidak melawan. Ia sangat malu karena telah menjual Yesus (meskipun salah satu alasannya mungkin adalah untuk memicu Yesus supaya segera tampil sebagai Mesias). Ia juga tidak mungkin lagi kembali kepada kelompok murid-murid. Oleh karena itu dalam penyesalannya tersebut ia memilih untuk melakukan bunuh diri (Mat 27:5). Apakah Yudas menyesal dengan keputusannya? Ya Alkitab menulis bahwa Yudas menyesal. Apakah Yudas kemudian bertobat? Saya rasa sulit untuk menjawab hal ini. Jika Yudas bertobat, ia seharusnya tidak melakukan bunuh diri. Ia tentu mengenal pribadi Yesus yang penuh kasih. Sebenarnya Yudas dan Petrus juga sama-sama melakukan kesalahan yang fatal (yang satu menjual Yesus, yang satu lagi menyangkal Yesus sampai 3 kali). Namun bedanya Yudas melakukan bunuh diri, sementara Petrus tidak, dan pada akhirnya ia pun mendapatkan pengampunan dari Tuhan Yesus, serta kemudian menjadi salah satu rasul dengan pelayanan yang luar biasa di masa-masa awal kekristenan.

Hipotesis yang saya ajukan ini mungkin saja sulit untuk dimengerti, dan tentu ada beberapa orang yang mempertanyakan validitasnya. Saya tidak berkata bahwa inilah yang paling benar, tetapi patut dipertimbangkan dan diperkarakan mengapa Yudas sampai menyerahkan Yesus dan kemudian menyesal? Apakah karena uang? Apakah karena memang Yudas ditentukan dari semula untuk berkhianat? Ataukah hal itu sebenarnya karena Yudas ingin Yesus segera tampil, tapi tanpa sadari dengan ia menjual Yesus maka itu membuka jalan bagi kematian Yesus di atas kayu salib. Meskipun demikian, memang ada ayat yang patut kita cermati bahwa “Yesus tahu dari semula siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan diri-Nya” (Yoh 6:64). Mengenai ayat tersebut, akan kita bahas lebih dalam pada renungan selanjutnya.





Bacaan Alkitab: Markus 14:1-11
14:1 Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat,
14:2 sebab mereka berkata: "Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat."
14:3 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.
14:4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?
14:5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin." Lalu mereka memarahi perempuan itu.
14:6 Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.
14:7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.
14:8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.
14:9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."
14:10 Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka.
14:11 Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.