Selasa, 23 Desember 2014

Hari Natal dan Kedewasaan Rohani



Jumat, 26 Desember 2014
Bacaan Alkitab: 2 Timotius 2:7-8


Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.(2 Tim 2:8)


Hari Natal dan Kedewasaan Rohani


Siapa tak kenal hari Natal? Bahkan orang non Kristiani pun mengerti bahwa hari Natal adalah hari dimana Yesus Kristus lahir. Dan kita sendiri dapat melihat bahwa pada hari Natal dan sekitar hari Natal, suasana di rumah bahkan di gereja selalu meriah. Tidak kurang dari lagu-lagu bernuansa natal yang diputar, memasang pohon natal dan segala pernak-pernik natal lainnya, akan membuat suasana natal terlihat begitu hidup.

Sayangnya, masih banyak orang Kristen yang menganggap Natal sebagai hari terbesar umat Kristiani, dan menganggap bahwa di hari Natal mereka harus habis-habisan  menghias rumah dan gereja dan menyambut kelahiran Sang Juruselamat.

Masalahnya adalah ketika seseorang menganggap bahwa Natal adalah hari yang paling penting dalam sejarah kekristenan, sesungguhnya orang tersebut adalah orang yang sulit untttuk move on. Natal memang hari yang penting karena merupakan hari lahirnya Juruselamat, tetapi Juruselamat itu pun tidak hanya cukup lahir di dunia ini, Ia harus menyampaikan kebenaran Firman Tuhan, menderita, mati di atas kayu salib, bangkit dan kemudian naik ke surga. Natal hanyalah awal dari rentetan rencana keselamatan yang dirancang Allah bagi manusia.

Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus pun menegaskan bahwa adalah sangat penting bagi Timotius untuk mendapatkan pengertian dalam segala sesuatu (ay. 7). Maksud Paulus adalah agar Timotius semakin hari semakin mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan. Paulus ingin Timotius bertumbuh secara rohani dan semakin hari semakin memiliki kualitas rohani yang semakin tinggi. Itulah mengapa menarik melihat ayat selanjutnya bahwa Paulus mengingatkan kembali Timotius bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati (ay. 8a), yaitu Ia yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud (ay. 8b).

Paulus menekankan bahwa walaupun kelahiran Yesus adalah hal yang penting (karena Paulus menjelaskan  tentang kelahiran Yesus sebagai keturunan Daud untuk memenuhi nubuatan Kitab Suci di Perjanjian Lama), namun Paulus lebih menekankan tentang kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Karena kematian dan kebangkitanNyalah kita memperoleh keselamatan kekal. Meskipun begitu, kelahiranNya juga tidak dapat kita lupakan karena kematian dan kebangkitan Kristus pun harus didahului oleh kelahiranNya yang kita peringati setiap hari Natal.

Namun demikian, ingat bahwa Injil bukan hanya berbicara tentang kelahiran Yesus. Injil berbicara tentang seluruh proses penyelamatan manusia di dalam nama Tuhan Yesus Kristus (ay. 8c). Oleh karena itu, sangat tepat jika kita tidak hanya berhenti pada momen Natal saja, tetapi harus terus melangkah dan bertumbuh. Saya teringat sebuah lagu Natal yang menurut saya adalah salah satu yang terindah:

Waktu kecil kita merindukan Natal
Hadiah yang indah dan menawan
Namun tak menyadari seorang Bayi t'lah lahir
Nawa keselamatan 'tuk manusia

Reff:
Karena kita dia menderita
Karena kita dia disalibkan
Agar dunia yang hilang diselamatkan
Dari hukuman kekal

Waktu pun berlalu dan kita pun tahu
Anugerah yang ajaib dari Bapa
Yang relakan Anak-Nya disiksa dan disalibkan
Di bukit kalvari kar'na kasih

Lagu tersebut adalah salah satu lagu Natal yang mendewasakan, karena berbicara tentang seseorang yang ketika kecil merindukan Natal karena hadiah-hadiah dan hal-hal yang menawan hati. Namun semakin ia beranjak dewasa, maka ia pun semakin menyadari bahwa Natal adalah suatu peristiwa yang tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa lain termasuk Paskah. Oleh karena itu, ini mungkin adalah salah satu lagu yang dapat dinyanyikan ketika Natal dan juga Paskah. Dan saya sendiri menyukai fakta bahwa lirik lagu tersebut lebih banyak berbicara tentang peristiwa Paskah dibanding Natal, meskipun lagu ini sering dinyanyikan pada saat Natal.

Jangan hanya terpaku dan terpukau pada momen Natal. Ingatlah bahwa Yesus pun mati dan bangkit bagi kita. Yesus pun naik ke surga dan akan datang kembali ke bumi ini bagi kita, anak-anakNya yang mau hidup kudus sesuai dengan kehendak Tuhan. Jadikan momen Natal ini sebagai momen pertobatan, bukan hanya sekedar momen pesta pora dan momen untuk berhura-hura semata.


Bacaan Alkitab: 2 Timotius 2:7-8
2:7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.
2:8 Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.

Isteri Uria, Bukan Batsyeba



Kamis, 25 Desember 2014
Bacaan Alkitab: Matius 1:1-6
Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria. (Mat 1:6)


Isteri Uria, Bukan Batsyeba


Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis renungan tentang empat nama wanita yang ada di dalam silsilah Yesus Kristus. Dalam Matius 1, yang adalah pasal pertama di dalam Perjanjian Baru, ditulis tentang silsilah Yesus Kristus yang dirunut hingga kepada Daud dan hingga kepada Abraham, bapa leluhur bangsa Yahudi (ay. 1). Di lima ayat pertama, setidaknya ada tiga nama wanita yang disebut yaitu Tamar (ay. 3), Rahab (ay. 5a) dan Rut (ay. 5b). Satu lagi nama wanita yang disebut adalah Maria ibu Yesus pada ayat ke-16 dari pasal ini. 

Yang menarik adalah bahwa dalam perikop ini sebenarnya ada lima nama wanita yang disebut, empat orang menggunakan nama asli mereka (Tamar, Rahab, Rut dan Maria), sedamgkan satu orang lagi disebut dengan nama isteri Uria (ay. 6). Sebenarnya isteri Uria mempunyai nama asli yaitu Batsyeba (2 Sam 11:3). Menjadi menarik untuk melihat mengapa Alkitab menggunakan nama Isteri Uria dan bukannya Batsyeba?

Jika dilihat dari nama wanita-wanita yang ada di dalam perikop ini,  tidak semuanya adalah wanita baik-baik. Tamar sendiri adalah seorang menantu yang “kurang ajar”, karena ia sampai menyamar menjadi seorang perempuan sundal agar dapat tidur dengan mertuanya (Kej 38:1-30). Meskipun memang ia memiliki iman dengan melakukan itu semua, tetapi saya harus berani menegaskan bahwa caranya salah dan tidak untuk ditiru oleh kita semua. 

Jika dibandingkan, Batsyeba pun juga tidak kalah “kurang ajar”, karena ketika ia masih berstatus isteri Uria, tetapi ia membiarkan orang lain (Daud) melihat dirinya sedang mandi, bahkan ia tidak menolak ketika raja Daud mengajaknya tidur. Bahkan ia tidak memberitahukan kepada suaminya (Uria) bahwa ia sudah berzinah. Keputusannya tersebut berdampak pada matinya Uria, dan juga hukuman Tuhan bagi anak hasil perzinahannya tersebut yang mati karena tulah Tuhan (2 Sam 11:1-12:23). 

Jika kita mau mencoba merunut mundur lagi, Tuhan telah memberikan hukum Taurat kepada bangsa Israel di gunung Sinai ketika mereka sedang dalam perjalanan (eksodus) dari Mesir ke tanah Kanaan, yaitu tanah yang dijanjikan Tuhan Allah sendiri kepada mereka. Dalam hukum Taurat jelas disebutkan bahwa bangsa Israel tidak boleh mengingini isteri sesamanya (Kel 20:17), apalagi tidur (bersetubuh) dengan isteri sesamanya (Im 18:20). Hukuman bagi pelanggaran seperti ini adalah hukuman mati (Im 20:10). Memang ada yang berpendapat bahwa ayat-ayat di atas hanya berlaku jika bangsa Israel melakukannya dengan sesama bangsa Israel, sementara Uria adalah orang Het (2 Sam 11:3). Namun di mata Tuhan, yang dimaksud dengan sesama adalah sesama manusia dan bukan sesama bangsa Israel saja (Im 20:10, yang kemudian ditekankan kembali oleh Yesus dalam Perjanjian Baru (Luk 10:29-37).

Oleh karena itu, kita dapat melihat bahwa apa yang dilakukan Tamar memang salah, tetapi karena pada waktu itu hukum Taurat belum diturunkan oleh Tuhan kepada bangsa Israel, maka Tamar hanya melanggar hukum atau aturan adat istiadat yang berlaku umum, meskipun saya yakin di seluruh dunia setiap manusia punya hati nurani yang mengingatkan bahwa apa yang dilakukan Tamar (tidur dengan orang lain yang bukan suaminya, apalagi tidur dengan mertuanya sendiri) adalah salah. Dengan demikian Tamar salah, tetapi ia tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum Taurat.

Rahab sendiri juga salah karena ia adalah perempuan sundal, tetapi ia setidaknya sudah menunjukkan pertobatan ketika bangsa Israel mengintai dan mengepung Yerikho. Setidaknya Rahab pun memang belum mengenal hukum Taurat sebelumnya dan baru mengenal hukum Taurat setelah ia sekeluarganya diselamatkan oleh bangsa Israel yang menyerang kota Yerikho, dan sejak itu ia masuk ke dalam jemaah bangsa Israel.
Hukum Taurat baru berlaku pada era Rut, Batsyeba dan Maria. Sementara itu Rut dan Maria tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum Taurat. Hanya Batsyeba yang jelas-jelas melanggar hukum Taurat yang ia ketahui, bahkan melakukan pelanggaran bersama-sama dengan pemimpin (raja) bangsa Israel yaitu Raja Daud. Oleh karena itu, Matius tidak menulis Batsyeba dengan nama aslinya tetapi menggunakan istilah “isteri Uria” karena memang Batsyeba adalah isteri Uria. Bahkan jika menggunakan standar Perjanjian Baru (Mrk 10:1-12), bagaimanapun juga Batsyeba tetap adalah isteri Uria, karena ia melakukan perzinahan ketika masih berstatus sebagai isteri Uria, dan walaupun Uria mati, tetapi kematian Uria secara tidak langsung disebabkan karena perzinahan Batsyeba dengan Raja Daud.
Alkitab adalah buku yang paling jujur, karena menulis segala kesalahan maupun dosa yang dilakukan oleh para tokoh-tokoh Alkitab, termasuk raja Daud. Alkitab tidak segan-segan menulis orang-orang yang melakukan kesalahan dalam silsilah Yesus Kristus. Namun Alkitab pun tetap jujur menulis Batsyeba sebagai isteri Uria karena kesalahan yang ia lakukan tetap adalah sebuah kesalahan.

Apa aplikasinya bagi kita? Saya hanya mengingatkan bahwa Tuhan menginginkan kita hidup kudus dan benar sesuai dengan standar Tuhan. Di mata Tuhan, sebuah dosa tetaplah sebuah dosa. Memang benar Tuhan mengampuni dosa kita, tetapi setiap dosa pasti memiliki konsekuensi tersendiri. Dalam hal ini, Batsyeba telah mendapatkan konsekuensinya yaitu namanya tidak termuat di dalam Silsilah Yesus Kristus. Dan ini menjadi pelajaran yang sangat penting bagi kita di hari Natal ini, yaitu agar kita mencoba hidup kudus, sehingga ketika suatu saat keturunan kita merunut nenek moyangnya hingga kepada diri kita, mereka akan menemukan hal-hal positif tentang kita. Jangan sampai ketika anak kita, cucu kita, atau generasi selanjutnya mencari nama kita di Internet atau di perpustakaan (atau dengan metode apapun di masa depan), justru hal-hal negatif yang ditemukan dari diri kita. Belajarlah dari Batsyeba, sehingga nama kita pun tetap menjadi nama yang baik hingga melintasi generasi-generasi sesudah kita.


Bacaan Alkitab: Matius 1:1-6
1:1 Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
1:2 Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,
1:3 Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram,
1:4 Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon,
1:5 Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai,
1:6 Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,

Senin, 22 Desember 2014

Makna Kekudusan Menyambut Malam yang Kudus



Rabu, 24 Desember 2014
Bacaan Alkitab: Matius 1:18-25
Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus. (Mat 1:24-25)


Makna Kekudusan Menyambut Malam yang Kudus


Tidak terasa sebentar lagi kita akan merayakan hari Natal. Tentu beberapa minggu terakhir ini kita sudah cukup familiar dengan lagu-lagu bertema natal yang terdengar di televisi, radio, di gereja, bahkan di pusat-pusat perbelanjaan. Apa lagu natal kesukaan kita? Dengan jawaban yang beragam, saya berani mengatakan bahwa salah satu lagu natal favorit umat Kristiani adalah lagu “Malam Kudus”. Kita tentu sering menyanyikan lirik lagu Malam Kudus ini bukan? Akan tetapi pernahkah kita berpikir mengapa malam tersebut disebut malam (yang) kudus? Dimana letak kekudusannya?

Pertama-tama kita perlu mengerti arti kata kudus. Jika kita melihat di kamus Alkitab di bagian belakang Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, salah satu penjelasan terhadap kata kudus adalah “dipilih dan dijadikan sebagai miliknya”. Lalu apa hubungannya antara kudus/kekudusan dengan hari Natal?

Dalam bacaan Kitab Suci kita hari ini, yang saya yakin bahwa kita sudah sangat sering membaca atau mendengarnya, terlebih di masa-masa Natal ini, kita melihat bahwa paling tidak ada tiga hal terkait kekudusan yang dapat kita pelajari.

Pertama, kita melihat bagaimana Maria menjaga kekudusan dengan menjaga keperawanannya dalam masa tunangannya dengan Yusuf (ay. 18). Hal ini dapat kita lihat lebih jauh lagi dalam Lukas 1:26-38, dimana dikatakan bahwa Maria adalah seorang perawan (Luk 1:27). Tentu saja Allah tidak akan sembarangan memilih orang yang akan mengandung dan melahirkan bayi Yesus di dunia ini. Saya yakin bahwa Maria adalah pilihan terbaik karena memang Maria adalah seorang gadis yang sangat menjaga kekudusan, dan juga memiliki ketaatan dan keberanian untuk menjadi “ibu jasmani” Yesus di dunia ini. Itulah salah satu sebab mengapa  Gereja Katolik Roma pun sangat menghargai peran dan jasa Maria sehingga menempatkkannya sebagai salah satu figur sentral dalam agama Katolik.

Kedua, kita melihat bagaimana Yusuf menjaga kekudusan dengan berencana untuk menceraikan Maria secara diam-diam (ay. 19). Pada masa itu, di masyarakat Yahudi ada tiga tingkatan sebelum menikah, yaitu: 1) pacaran; 2) bertunangan; dan 3) pernikahan. Posisi Maria dan Yusuf saat itu adalah pada tahap bertunangan, dan jika dalam masa pertunangan itu diketahui bahwa si wanita sudah hamil, maka pihak pria dapat mengadukannya kepada tua-tua dan jika memang si wanita hamil bukan karena pria yang telah menjadi tunangannya, si wanita itu akan dijatuhi hukuman yaitu dilempari denga batu. 

Tentu Yusuf memiliki pilihan untuk membawa perkara hamilnya Maria kepada tua-tua Yahudi. Akan tetapi kita melihat bagaimana Yusuf bertindak dengan bijaksana yaitu bermaksud untuk “menceraikan” Maria dengan diam-diam (ay. 19). Arti menceraikan di sini berbeda dengan cerai yang kita kenal saat ini. Istilah yang lebih tepat adalah membatalkan pertunangan, tetapi Yusuf bermaksud melakukannya dengan diam-diam untuk menjaga nama baik Maria. Tentu Maria sudah bercerita kepada Yusuf bahwa ia hamil karena Roh Kudus, tetapi ingatlah bahwa pada masa itu tidak ada yang tahu apa itu Roh Kudus, dan Yusuf sebagai seorang manusia pun tentu mengalami kebimbangan tentang apakah yang dikatakan Maria adalah benar atau hanya kebohongan semata. 

Tetapi Alkitab mengatakan bahwa ketika Yusuf sedang merencanakan untuk membatalkan pertunangannya dengan Maria secara diam-diam, seorang malaikat Tuhan datang kepada Yusuf dalam mimpi dan menjelaskan bahwa Maria memang mengandung dari Roh Kudus (ay. 20-23). Setelah mendapat penglihatan melalui mimpi tersebut, Yusuf pun segera mengambil Maria untuk menjadi isterinya (ay. 24). Hal ini berarti Yusuf segera “melegalkan” pertunangan mereka menjadi pernikahan yang sah secara adat dan agama Yahudi pada waktu itu.

Ini adalah sebuah keputusan yang besar yang diambil oleh Yusuf. Yusuf memilih untuk menikahi Maria dengan segala pertanyaan yang mungkin masih tersisa di benaknya. Yusuf memilih untuk taat kepada perintah Tuhan. Yusuf memilih untuk melindungi Maria dan bayi Yesus yang ada dalam kandungan Maria. Tanpa peran Yusuf, mungkin tidak akan ada bayi Yesus yang lahir ke dunia. Yusuf mampu memilih apa yang benar dan melakukan bagiannya untuk mendatangkan kerajaan Allah di dunia ini.

Ketiga, Yusuf dan Maria secara bersama-sama menjaga kekudusan mereka setelah mereka resmi hidup sebagai suami dan isteri (ay. 25). Ketika Yusuf mengambil Maria sebagai isterinya yang sah dalam ikatan pernikahan Yahudi pada saat itu, tentu saja Yusuf dan Maria memiliki hak penuh untuk melakukan apa  yang boleh mereka lakukan sebagai suami dan isteri, yaitu bersetubuh. Akan tetapi Yusuf dan Maria memilih untuk tetap menjaga kekudusan dengan tidak bersetubuh sampai Maria melahirkan Yesus di kota Betlehem. Alkitab memang tidak mengatakan berapa lama mereka menunda untuk melakukan hubungan suami isteri, tetapi saya yakin bahwa hal tersebut adalah hal yang sulit untuk mereka lakukan, karena mereka sudah tinggal serumah, bahkan sekamar, tetapi tetap menjaga dan menahan diri untuk menjaga kekudusan demi bayi Yesus. 

Inilah makna kekudusan yang sangat luar biasa di hari Natal ini. Tidak hanya malam kelahiran Yesus yang merupakan malam yang kudus, tetapi jauh sebelum itu, berbulan-bulan sebelumnya, sudah ada kekudusan yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria sebagai “ayah dan ibu jasmani” Yesus. 

Sebentar lagi Natal akan datang. Jika 2.000 tahun yang lalu saja ada kekudusan yang luar biasa di balik makna Natal, bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita menyambut Natal dengan segala pesta pora, kemabukan, dan justru dengan segala ketidakkudusan hidup kita? Apakah kita mau berkorban menjaga kekudusan kita menyambut hari Natal ini? Bahkan seharusnya kita tetap  hidup kudus dan menjaga kekudusan dalam setiap hari kehidupan kita. Jika umat Islam saja benar-benar bertobat dan menjaga kekudusan menyongsong hari raya mereka, bukankah kita sebagai umat Kristiani juga perlu memiliki sikap seperti itu? Mari kita menjaga dan memelihara kekudusan menyambut malam yang kudus di hari Natal ini, bahkan seterusnya kita akan berusaha untuk hidup lebih kudus lagi untuk menyenangkan hati Allah.


Bacaan Alkitab: Matius 1:18-25
1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.
1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,
1:25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Seperti Seorang Ibu



Selasa, 23 Desember 2014
Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 2:5-7
“Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.” (1 Tes 2:7)


Seperti Seorang Ibu

Setiap tanggal 22 Desember, kita memperingati hari ibu. Tentu sudah banyak sekali renungan tentang ibu, bagaimana seorang ibu berkorban bagi anak-anaknya, dan lain sebagainya. Hari ini saya pun mencoba menulis sebuah renungan tentang ibu, tetapi tentu saja saya mencoba melihat dari sisi yang jarang dilihat oleh orang lain. 

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Paulus menulis kepada jemaat Tesalonika tentang sikap yang ditunjukkan Paulus kepada mereka. Paulus menekankan bahwa dalam pelayanannya maupun dalam khotbah-khotbahnya, Paulus tidak pernah bermulut manis (ay. 5a). Fakta tersebut pun sudah diketahui benar oleh jemaat Tesalonika. Paulus dalam khotbah-khotbahnya tidak pernah bermulut manis demi kepentingan sendiri, atau memiliki maksud loba yang tersembunyi (ay. 5b). Bahkan Paulus mengatakan bahwa Allah adalah saksi atas pernyataannya tersebut.

Sungguh hebat apa yang dilakukan Paulus, Ia tidak pernah mencari pujian dari manusia, baik dari jemaat, dari hamba Tuhan lain, bahkan dari orang lain (ay. 6a). Baginya, jauh lebih baik bagi Paulus untuk mencari pujian dari Tuhan. Paulus berkata bahwa sudah seharusnya ia bersikap demikian sebagai seorang rasul Kristus (ay. 6b). Seorang hamba Tuhan apalagi seorang rasul tentu harus memiliki standar yang demikian. Tidak sekedar berkata-kata manis, tidak sekedar mengkhotbahkan hal-hal yang enak-enak saja, tidak sekedar mengkhotbahkan hal-hal yang memberi kenyamanan, tetapi jika perlu mengkhotbahkan teguran yang keras, asalkan sesuai dengan Firman Tuhan. Firman Tuhan juga mengatakan bahwa lebih baik teguran yang nyata daripada kasih yang tersembunyi (Ams 27:5).

Namun di balik itu semua, Paulus memposisikan dirinya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya, yaitu antara lain jemaat di kota Tesalonika. Paulus tetap berlaku ramah, dan mengasuh serta merawat jemaat Tesalonika (ay. 7). Ia mungkin bukan seperti seorang ibu yang selalu mengabulkan apa yang diminta anaknya, tetapi ia bertindak seperti seorang ibu yang sabar mendidik anak-anaknya di dalam kebenaran. Inilah terkadang perbedaan seorang ibu dan nenek, dimana seorang nenek pada umumnya lebih memanjakan cucunya dibanding seorang ibu kepada anaknya. Jika hal ini kurang diantisipasi, seorang anak bisa menjadi manja karena terbiasa dimanja oleh neneknya. 

Menyambut hari ibu di tahun ini, kita kembali diingatkan bahwa terkadang kita memiliki seorang gembala sidang, pendeta, atau pemimpin rohani yang mengajar dengan tegas dan tidak bermulut manis. Mungkin seringkali kita kesal dengan perkataan mereka yang seakan-akan membuat kita tidak nyaman. Tetapi saya percaya bahwa mungkin itulah yang kita butuhkan, yaitu seorang pemimpin rohani yang berani mengatakan kebenaran dengan maksud yang baik. Sama seperti seorang ibu yang tetap mendidik dan merawat anak-anaknya dalam kasih. Mungkin saat ini kita tidak mengerti mengapa kita seakan-akan dididik dengan keras, tetapi seiring berjalannya waktu, ketika kita sudah semakin dewasa, kita akan mengerti bahwa semua itu adalah bagi kebaikan kita, yaitu agar kita menjadi seseorang yang memiliki kepribadian yang tangguh.


Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 2:5-7
2:5 Karena kami tidak pernah bermulut manis -- hal itu kamu ketahui -- dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi -- Allah adalah saksi --
2:6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.
2:7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.