Selasa, 25 Februari 2020

Sebuah Hipotesis tentang Motif Yudas Menjual Yesus


Selasa, 25 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Markus 14:1-11
Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka. Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. (Mrk 14:10-11)


Sebuah Hipotesis tentang Motif Yudas Menjual Yesus


Jika kita adalah orang Kristen sejak kecil, maka sejak masa sekolah minggu kita pasti sering mendengar bagaimana Tuhan Yesus dikhianati oleh salah satu murid-Nya yang bernama Yudas Iskariot. Itulah sebabnya hampir tidak pernah ada orang tua yang menamai anaknya dengan sebutan Yudas, meskipun sebenarnya ada salah satu kitab dalam Alkitab yang ditulis oleh Yudas (yang bukan Iskariot). Nama Yudas identik dengan pengkhianatan dan kejahatan, apalagi ia telah membuat Yesus mati. Saya pun juga memiliki pemikiran yang kurang lebih sama sejak kecil. Dalam cerita guru sekolah minggu, khotbah pendeta, bahkan dalam lukisan-lukisan dan ilustrasi sekalipun, Yudas pasti diibaratkan sebagai orang yang sangat jahat, bengis, dan keji. Itulah penggambaran Yudas yang selama ini kita kenal.

Namun seiring dengan pertumbuhan rohani saya, saya kemudian mulai mencoba untuk mempertanyakan sesuatu: Benarkah Yudas begitu jahatnya hingga ingin membunuh gurunya sendiri? Jika ia ingin membunuh gurunya sendiri, mengapa ia tidak melakukannya secara langsung? Mengapa ia harus menggunakan imam-imam kepala untuk kemudian menangkap Yesus? Jawaban paling simpel atas pertanyaan ini adalah: “Ya karena Yudas sudah ditentukan untuk binasa, makanya kemudian Yudas memang harus menjual Yesus supaya Yesus bisa disalib”. Namun dari jawaban itu muncul satu pertanyaan lagi: “Jika memang Yesus harus mati disalib, berarti Yudas sangat ‘berjasa’ dong dalam anugerah keselamatan. Coba kalau Yudas tidak menyerahkan Yesus, bagaimana Yesus bisa mati? Jangan-jangan kita tidak dapat diselamatkan kalua Yudas tidak menyerahkan Yesus”. Lalu muncul pula pemikiran “liar” lainnya: “Jika demikian, Kira-kira Yudas masuk surga atau neraka ya?”.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sulit untuk dijawab karena selama ini kita sudah memiliki praduga bahwa Yudas itu pengkhianat. Pola pikir ini membuat kita kemudian juga berdampak pada pemikiran lainnya, misalnya: Apakah Tuhan Yesus tahu bahwa Yudas akan berkhianat? Apakah Tuhan sengaja memilih Yudas sebagai muridnya supaya ia binasa? Hal ini tidak mudah, tetapi izinkan saya untuk mencoba membahas hal ini dari suatu sudut pandang yang mungkin agak berbeda dari kebanyakan orang, tanpa bermaksud untuk merendahkan Tuhan Yesus yang sangat saya hormati sebagai Tuhan dan Raja kita semua.

Dalam ayat bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat bagaimana tensi yang tinggi antara Yesus dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka mencoba untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat (ay. 1-2). Ketika keputusan ini diambil oleh mereka, artinya mereka sudah siap untuk melakukan apapun demi membunuh Yesus. Mereka sudah tidak mempedulikan lagi hukum Taurat yang berbunyi: “Jangan membunuh”. Yang ada di pikiran mereka adalah bagaimana Yesus dapat mati supaya posisi mereka sebagai ahli-ahli agama Yahudi tidak terusik. Sangat mungkin bahwa mereka merasa sedang membela agama mereka (agama Yahudi atau Yudaisme) dan dengan cara apapun. Bahkan mungkin saja waktu itu ada fatwa yang mereka keluarkan bahwa Yesus halal untuk dibunuh (mungkin dengan alasan menista agama Yahudi atau menghujat Allah).

Sebelum Yesus ke Yerusalem, kita tahu bahwa ada peristiwa yang terjadi, yaitu ketika ada seorang wanita yang mengurapi Yesus dengan minyak (ay. 3). Hal ini juga dicatat dalam ayat paralel lainnya meskipun ada beberapa perbedaan karena perbedaan penitikberatan oleh masing-masing penulis Injil (Mat 26:6-13, Yoh 12:1-8). Setelah Yesus diurapi oleh wanita tersebut, ada orang yang menjadi gusar karena menganggap apa yang dilakukan adalah suatu pemborosan (ay. 4). Dikatakan bahwa ada orang yang menjadi gusar dan berkata bahwa minyak ini dapat dijual 300 dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin (ay. 5). Jika kita memperhatikan ayat paralelnya, maka kita akan mengerti bahwa yang mengucapkan ini adalah Yudas Iskariot, salah seorang murid Yesus. Yudas mengatakan ini karena ia adalah bendahara dalam pelayanan Yesus dan ia sering mencuri uang kas yang dipegangnya (Yoh 12:4-6).

Yudas seakan-akan ingin tampil sebagai pahlawan dan menyalahkan wanita tersebut. Ia tentu berharap Tuhan Yesus membenarkan argumen Yudas tersebut. Namun Tuhan Yesus justru menjawab dengan jawaban yang tidak disangka-sangka oleh Yudas. Tuhan Yesus meminta agar Yudas tidak menyusahkan wanita tersebut karena wanita itu telah melakukan suatu perbuatan baik bagi Yesus (ay. 6). Terkait orang miskin, Yesus memberikan penjelasan bahwa orang miskin akan selalu ada dan murid-murid-Nya (termasuk Yudas) dapat menolong mereka kapanpun, tetapi Yesus tidak akan selalu ada bagi mereka (ay. 7). Dengan jalan demikian Yesus menekankan bahwa tak lama lagi Ia akan mati, dan wanita itu telah melakukan sesuatu yang pantas untuk persiapan penguburan diri-Nya (ay. 8). Bahkan suatu saat nanti apa yang dilakukan wanita tersebut akan selalu diingat terus sepanjang zaman (ay. 9).

Setelah Tuhan Yesus menjawab demikian, maka Yudas langsung pergi kepada imam-imam kepala untuk menyerahkan Yesus kepada mereka (ay. 10). Tentu saja imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat sangat senang dan berjanji akan menyerahkan uang kepada Yudas. Sejak itu Yudas kemudian mencari waktu yang baik untuk menyerahkan Yesus (ay. 11). Peristiwa dimana Yudas langsung pergi kepada imam-imam kepala setelah jawaban Tuhan Yesus itu juga dicatat dalam Injil Matius (Mat 26:14-16).
Perhatikan jawaban Tuhan Yesus, kira-kira bagian mana yang membuat Yudas mengambil keputusan untuk menyarahkan Yesus kepada imam-imam kepala? Apakah karena ia merasa ditegur Tuhan Yesus kemudian ia marah? Apakah karena marahnya itu lalu Yudas hendak membunuh Yesus? JIka demikian mengapa ia harus menyerahkan kepada imam-imam kepala? Bukankah ia bisa saja membunuh Yesus dengan cara lain?

Untuk menjawab pertanyaan ini tidak mudah, tetapi melalui renungan ini saya hendak mengusulkan suatu hipotesis bahwa Yudas sebenarnya tidak ingin membunuh Yesus. Ada 2 hal utama yang dapat menjadi alasan atas hipotesis saya tersebut. Pertama, dikatakan bahwa Yudas hendak menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala. Kata “menyerahkan” dalam bahasa aslinya adalah paradidómi (παραδίδωμι) yang bermakna to hand over, to give or deliver over, to betray (menyerahkan, memberikan/mengantarkan, mengkhianati). Sebenarnya makna to betray tidak secara langsung mengkhianati, melainkan to expose someone to danger by treacherously giving information to an enemy (membuat seseorang terancam bahaya dengan cara memberikan informasi kepada musuh/pihak yang berlawanan dengan curang). Dalam makna ini tentu belum sampai pada motivasi untuk membunuh Yesus. Tentu hal ini kemudian memunculkan pertanyaan: Lalu apa alasan Yudas untuk menyerahkan Tuhan Yesus? Hal ini akan kita bahas kemudian.

Alasan kedua yaitu fakta bahwa setelah Yudas mengetahui bahwa Yesus akan dihukum mati, ia kemudian sangat menyesal, bahkan kemudian Yudas melemparkan kembali 30 keping perak yang diterimanya sebagai upah menyerahkan Yesus kepada para imam kepala (Mat 27:3). Ini menunjukkan bahwa Yudas tidak menjual Yesus hanya karena ingin memperoleh uang dari imam-imam kepala. Lagipula jumlah 30 keping perak itu juga bukanlah suatu jumlah yang besar. Beberapa ahli Alkitab menghitung keeping perak itu sebagai keping dinar (yaitu upah seorang pekerja dalam sehari), jadi kira-kira nilai 30 keping perak tersebut adalah sebesar gaji 30 hari seorang pekerja pada waktu itu (atau sekitar 1 bulan lebih sedikit, dengan asumsi 6 hari kerja dalam seminggu). Ini juga didukung oleh ayat-ayat mengenai pekerjaan nabi Zakaria sebagai penggembala domba selama 1 bulan yang diupah 30 keping perak (Za 11:7-13). Ada pula ahli Alkitab yang merujuk jumlah ini kepada nilai seorang budak dalam Alkitab (Kel 21:32), meskipun konteks ayat itu sebenarnya merujuk kepada nilai ganti rugi jika ada budak yang mati karena ditanduk lembu orang lain.

Ada pula ahli Alkitab yang menghitung dengan asumsi atas berat perak dalam koin tersebut, dimana kemudian total berat perak pada 30 keping itu itu tidaklah sampai 500 gram. Per tanggal tulisan ini dibuat, total nilai 500 gram perak adalah sekitar Rp6 juta. Ada ahli yang berpendapat bahwa harga 30 keping perak itu sejajar dengan Ada pula yang berpendapat berbeda karena ternyata uang itu dapat digunakan untuk membeli suatu tanah ladang yang akan dijadikan pekuburan bagi orang asing (Mat 27:6-9). Namun sepertinya tanah itu bukanlah tanah di dalam kota Yerusalem, melainkan sangat mungkin ada di luar kota Yerusalem sehingga nilainya juga tidak terlalu mahal (tidak bisa dibandingkan dengan harga tanah yang meroket sangat tinggi pada zaman modern). Namun apapun jawabannya jelas bahwa nilai 30 keping perak itu bukanlah sesuatu yang nilainya sangat tinggi, bahkan dibandingkan dengan nilai minyak wangi senilai 300 dinar yang dipermasalahkan Yudas. Tidak mungkin ia mau menjual Yesus dengan harga 30 keping perak jika memang motivasinya adalah untuk mencari uang.

Lalu apakah alasan atau motif Yudas menjual Yesus kepada imam-imam kepala? Pendapat saya saat ini adalah bahwa Yudas sangat ingin Yesus tampil sebagai Raja yang kemudian akan mengalahkan bangsa Romawi dan membawa kejayaan kembali bagi bangsa Yahudi. Itulah yang pada umumnya orang harapkan dari kehadiran seorang Mesias. Mereka mengharapkan Mesias akan memimpin orang Israel/Yahudi melawan musuh-musuh mereka dan menegakkan kembali kejayaan kerajaan Israel di dunia ini. Oleh karena itu kita dapat memahami bagaimana Petrus dengan tegas berkata bahwa Yesus adalah Mesias, tetapi ia tidak mau Yesus mati (Mat 16:13-23). Atau bagaimana murid-murid Yesus berebut ingin menjadi yang terbesar (Luk 9:46), atau ingin duduk di samping kanan dan kiri Tuhan Yesus (Mat 20:20-21). Jelas bahwa pemikiran murid-murid Yesus pada saat itu adalah dengan segala mujizat dan kuasa yang dimiliki-Nya, maka Yesus akan membawa Israel kepada kejayaannya kembali. Mungkin inilah salah satu motivasi mereka mengiring Yesus pada waktu itu, karena mereka berharap akan menjadi menteri-menteri jika Yesus menjadi raja di Israel (secara duniawi). Bahkan setelah kebangkitan-Nya dari kematian, murid Yesus masih bertanya kapan Yesus akan memulihkan kerajaan Israel (Kis 1:6). Mereka belum dapat memahami bahwa Yesus adalah Anak Allah yang turun ke dunia ini, dan kerajaan-Nya bukan di bumi ini, tetapi kelak ada di langit yang baru dan bumi yang baru.

Dengan keinginan yang kuat agar Yesus menjadi raja Israel secara duniawi, maka ada kemungkinan bahwa murid-murid-Nya pun “gregetan” menanti kapan Yesus tampil di depan umum sebagai Mesias. Di hadapan keduabelas murid-Nya memang mereka sudah tahu bahwa Yesus adalah Mesias tapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada orang banyak. Lagi pula konsep Mesias yang mereka miliki ternyata masih salah, apalagi pemahaman mengenai Mesias yang dimiliki oleh kebanyakan orang Israel pada waktu itu. Itulah sebabnya ketika Yesus datang ke Yerusalem, ada banyak kebingungan mengenai Yesus, apakah Ia benar-benar Mesias atau bukan. Bahkan orang-orang Yahudi berusaha bertanya dan mendapat jawaban langsung dari Yesus (Yoh 10:24).

Jika orang Yahudi saja menjadi bingung, tentu murid-murid Yesus juga semakin bingung melihat apa yang dilakukan Guru mereka tersebut. Apalagi Tuhan Yesus banyak berbicara mengenai kematian-Nya, padahal pemahaman mereka Mesias itu akan hidup selama-lamanya, dan akan menjadi raja bagi orang Israel/Yahudi (Yoh 12:34). Kebingungan yang dialami murid-murid Yesus ini kemudian sangat mungkin menjadi alasan bagi Yudas untuk menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala, dengan harapan bahwa mungkin saja pada waktu terdesak, maka Yesus akan menyatakan diri-Nya sebagai Mesias dengan kuasa ilahinya. Yudas ingin tampil sebagai seorang pahlawan yang berhasil mengeluarkan sisi superhero dari diri Yesus untuk tampil sebagai Mesias di depan orang banyak.

Tentu Yudas melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus membuat mujizat menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, berjalan di atas air, mengusir roh jahat, dan banyak mujizat lainnya. Ia tentu membayangkan betapa hebatnya jika dapat menjadi bendahara atau menteri keuangan jika Yesus menjadi Raja. Namun dalam hatinya, ia pun bingung mengapa Yesus tidak segera tampil dan menyatakan diri sebagai Raja? Ia berharap bahwa jika imam-imam kepala hendak menangkapnya bersama dengan para prajurit Romawi, maka Yesus akan “kepepet” dan akan mengeluarkan kuasa-Nya yang dahsyat untuk dapat tampil sebagai Raja.

Itulah sebabnya, dari yang saya pahami, Yesus tidak pernah berniat membuat Yesus mati terbunuh. Ia hanya berniat menyerahkan Yesus supaya kemudian Yesus bisa menyatakan diri-Nya sebagai Mesias. Tentulah ia sudah memperhitungkan kuasa Yesus yang luar biasa, yang tidak mungkin sanggup dilawan oleh imam-imam kepala dan para prajurit Romawi sekalipun. Ia memikirkan suatu saat dimana Yesus pada akhirnya akan berubah menjadi semacam superhero dengan kekuatan super/kekuatan ilahi yang kemudian membawa bangsa Yahudi menuju kejayaan.

Namun apa dikata, ternyata ketika Yesus ditangkap, Ia sama sekali tidak melawan. Bukan karena Ia tidak berkuasa (Yesus masih menyembuhkan telinga orang yang terluka karena pedang Petrus (Luk 22:50-51, Yoh 18:10)). Pada waktu itu Yudas mungkin masih berpikir bahwa nanti Yesus akan menyatakan diri-Nya secara lebih spektakuler. Namun harapan itu sirna ketika ia mendengar Yesus telah dijatuhi hukuman mati dan sama sekali tidak melawan. Ia sangat malu karena telah menjual Yesus (meskipun salah satu alasannya mungkin adalah untuk memicu Yesus supaya segera tampil sebagai Mesias). Ia juga tidak mungkin lagi kembali kepada kelompok murid-murid. Oleh karena itu dalam penyesalannya tersebut ia memilih untuk melakukan bunuh diri (Mat 27:5). Apakah Yudas menyesal dengan keputusannya? Ya Alkitab menulis bahwa Yudas menyesal. Apakah Yudas kemudian bertobat? Saya rasa sulit untuk menjawab hal ini. Jika Yudas bertobat, ia seharusnya tidak melakukan bunuh diri. Ia tentu mengenal pribadi Yesus yang penuh kasih. Sebenarnya Yudas dan Petrus juga sama-sama melakukan kesalahan yang fatal (yang satu menjual Yesus, yang satu lagi menyangkal Yesus sampai 3 kali). Namun bedanya Yudas melakukan bunuh diri, sementara Petrus tidak, dan pada akhirnya ia pun mendapatkan pengampunan dari Tuhan Yesus, serta kemudian menjadi salah satu rasul dengan pelayanan yang luar biasa di masa-masa awal kekristenan.

Hipotesis yang saya ajukan ini mungkin saja sulit untuk dimengerti, dan tentu ada beberapa orang yang mempertanyakan validitasnya. Saya tidak berkata bahwa inilah yang paling benar, tetapi patut dipertimbangkan dan diperkarakan mengapa Yudas sampai menyerahkan Yesus dan kemudian menyesal? Apakah karena uang? Apakah karena memang Yudas ditentukan dari semula untuk berkhianat? Ataukah hal itu sebenarnya karena Yudas ingin Yesus segera tampil, tapi tanpa sadari dengan ia menjual Yesus maka itu membuka jalan bagi kematian Yesus di atas kayu salib. Meskipun demikian, memang ada ayat yang patut kita cermati bahwa “Yesus tahu dari semula siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan diri-Nya” (Yoh 6:64). Mengenai ayat tersebut, akan kita bahas lebih dalam pada renungan selanjutnya.





Bacaan Alkitab: Markus 14:1-11
14:1 Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat,
14:2 sebab mereka berkata: "Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat."
14:3 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.
14:4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?
14:5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin." Lalu mereka memarahi perempuan itu.
14:6 Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.
14:7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.
14:8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.
14:9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."
14:10 Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka.
14:11 Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Senin, 24 Februari 2020

Tidak Hanya Tidak Menerima Upah


Senin, 24 Februari 2020
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 9:13-18
Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. (1 Kor 9:18)


Tidak Hanya Tidak Menerima Upah


Sejak saya masih kecil, saya punya komitmen yang cukup baik, bahwa saya memiliki tekad jika saya mengambil suatu pelayanan di gereja atau di tempat lain, saya tidak akan menerima upah yang pada umumnya berupa suatu amplop berisi uang yang lebih dikenal dengan nama persembahan kasih (PK). Saya mulai melayani di gereja secara serius dan formal ketika menjadi bagian dari tim pelayanan musik di gereja lokal saya. Saat itu saya sangat senang jika harus berkorban pergi ke gereja untuk latihan pada hari Sabtu malam, dengan harus mengorbankan uang jajan saya. Pada waktu itu untuk menuju ke gereja, saya harus naik kendaraan umum 2 kali dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Namun hati saya bahagia karena saya menganggap saya sudah berkorban demi Tuhan melalui pelayanan saya tersebut. Namun keadaan mulai berubah ketika ada perubahan dalam tim pelayanan. Gembala sidang saya menunjuk seorang profesional yang waktu itu bekerja sebagai suatu manajer (atau jabatan lebih tinggi di suatu perusahaan internasional) untuk menjadi ketua tim pelayanan khusus di bidang musik (termasuk worship leader, singer, dan pemusik). Sejak saat itu, tim pelayanan musik dikenal sebagai “Bani Asaf”, merujuk pada istilah dalam Perjanjian Lama.

Memang saya akui bahwa waktu itu, jemaat gereja kami bukanlah orang yang terlalu kaya. Terkadang meskipun sudah dijadwalkan, ada saja orang yang tidak mau latihan sebelum ibadah. Oleh karena itu, ketua Bani Asaf kami kemudian membuat kebijakan bahwa setiap pelayan Bani Asaf akan diberikan suatu amplop ucapan terima kasih. Seingat saya waktu itu jumlahnya Rp10.000. Uang itu bukan berasal dari kas gereja, tapi dari kantong pribadi orang tersebut. Jumlah itu cukup besar pada waktu itu. Namun konsekuensinya, seluruh pelayan harus tunduk kepada ketua tim itu dan harus mau ikut doa sebelum pelayanan, latihan rutin, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Memang niat orang tersebut baik, karena mencoba meningkatkan motivasi pelayan gereja. Namun di sisi lain saya melihat itu sebagai salah satu “cara halus” supaya orang tersebut dapat “menguasai” para pelayan di gereja dan memperoleh posisi yang dihormati.

Namun saya mungkin adalah satu-satunya orang yang tidak mau menerima amplop PK tersebut. Biasanya amplop diberikan setelah selesai pelayanan. Tapi biasanya saya tinggalkan begitu saja. Kalau tidak memungkinkan, amplop itu saya terima namun kemudian saya masukkan lagi ke dalam kantong persembahan. Saya tidak mau pelayanan saya “dibayar” karena saya merasa seharusnya pelayanan adalah memberi kepada Tuhan (tenaga, waktu, pikiran, dan uang), bukannya justru ketika pelayanan kita mendapatkan sesuatu dari Tuhan.

Saya kemudian juga mengambil bagian di suatu persekutuan kampus di mana saya berkuliah. Persekutuan kampus ini pada waktu itu membuat kebijakan yang sangat radikal: Jika pelayan adalah seorang full timer, maka akan diberikan semacam amplop PK yang diambil dari kas persekutuan. Namun jika pelayan bukan seorang full timer, entah itu melayani sebagai pemusik, singer, atau bahkan pembicara dalam retreat yang berhari-hari pun tidak akan diberikan amplop PK, melainkan diberikan semacam kartu ucapan terima kasih atas nama persekutuan tersebut. Saat itu saya sudah mengumpulkan banyak sekali kartu ucapan terima kasih dari segala pelayanan saya di persekutuan kampus tersebut. Saat itu saya merasa, inilah model yang benar.

Singkat cerita, Tuhan menambahkan pelayanan saya. Saya melayani suatu gereja di luar kota, dimana saya biasanya harus berangkat hari Jumat malam, sampai pada hari Sabtu pagi, hari Sabtu malam melayani ibadah pemuda remaja, belum merangkap sebagai pemusik pada ibadah hari Minggu (sehingga juga harus latihan musik hari Sabtu malam), dan hari Minggu sore saya kembali ke kota tempat saya bekerja. Saya juga dipercaya beberapa kali mengisi khotbah di gereja tersebut. Pernah pada suatu waktu, saya harus memimpin ibadah pemuda remaja sekaligus latihan musik di hari Sabtu malam, langsung menjadi pemusik dan sekaligus menjadi pengkhotbah dan menutup ibadah dalam doa. Dengan kondisi yang demikian, saya memang juga tidak mau menerima amplop PK dari gereja tersebut. Bahkan tidak terhitung uang yang sudah saya berikan ke gereja tersebut (yang mungkin nilainya lebih dari 10% penghasilan saya setiap bulannya).

Saat ini saya sudah tidak melayani di gereja tersebut. Saya bukannya mencoba mengingat-ingat jasa saya terhadap gereja tersebut, tapi yang saya ingat adalah setiap selesai pelayanan (umumnya ketika selesai berkhotbah), pendeta atau istri pendeta pasti menyalami saya dan berkata: “PK nya minta sama Tuhan sendiri ya”. Ya, saya memang tidak mencari uang di gereja tersebut. Tapi ucapan kalimat tersebut ternyata mengganggu saya. Ya, karena saya merasa tidak berhak untuk meminta PK kepada Tuhan. Bisa diberi kesempatan melayani saja saya sudah sangat bersyukur karena itu adalah suatu anugerah. Namun belakangan saya tahu bahwa pengelolaan keuangan di gereja tersebut tidak transparan. Bahkan kepada orang-orang tertentu yang melayani dan lebih membutuhkan dari saya, pendeta tersebut tidak pernah memberi PK dengan alasan satu dan lain hal. Pernah juga saya mendengar dari sumbernya secara langsung bahwa ada seorang mahasiswi sekolah tinggi teologi yang magang di gereja itu, dengan pekerjaan yang sangat berat (tidak hanya membersihkan gereja dan menyiapkan segala sesuatu, tetapi juga membersihkan rumah pendeta itu, bahkan mencuci baju pendeta dan keluarga setiap akhir pekan), kemudian hanya diberikan uang Rp2.000 untuk membeli satu bungkus mie instan baginya untuk makan malam (Kejadian ini baru tejadi beberapa tahun yang lalu dimana harga sebungkus mie instan di warung memang pas Rp2.000). Padahal saya tahu bahwa uang yang masuk setiap minggunya jauh lebih banyak, belum termasuk persembahan persepuluhan dan persembahan khusus lainnya.

Saya tidak sedang menyalahkan pendeta tersebut atas kebijakan yang ia lakukan, atau membuat saya terlihat lebih benar. Memang Alkitab pun menekankan bahwa mereka yang melayani dalam pelayanan tempat kudus/mezbah/pemberitaan Injil (dalam hal ini: gereja atau persekutuan), berhak hidup dari pelayanannya (ay. 13-14). Apalagi jika orang tersebut adalah seorang full timer dimana ia tidak mendapatkan sumber penghasilan lain selain penghasilan dari pelayanannya (berkhotbah dan lain sebagainya).

Namun demikian, penulis prinsip ini, yaitu Rasul Paulus (yang kualitas pelayanannya dan komitmen pelayannya sudah tidak perlu diragukan lagi), tidak pernah mengambil haknya tersebut (ay. 15). Paulus merasa bahwa adalah suatu kehormatan baginya untuk dapat memberitakan Injil, sehingga tidak pernah memikirkan upah yang diterima atas pemberitaan Injil yang dilakukannya (ay. 16-17). Rasul Paulus meninggalkan jabatannya yang cemerlang sebagai orang Farisi, dan menjadi pemberita Injil. Seharusnya, ia pun berhak untuk menerima uang dari jemaat yang dilayaninya, terlebih ia telah sudah sangat berjerih lelah dalam pelayanannya.

Paulus berkata bahwa apakah upah dari pelayanannya tersebut? Upahnya adalah ketika ia diperkanankan untuk melayani tanpa upah, dan boleh tidak menggunakan haknya sebagai pelayan Tuhan yang benar (ay. 18). Dalam hal ini, Paulus memberi suatu contoh dan teladan hidup yang luar biasa. Meskipun ia sebenarnya berhak menerima upah dari jemaat yang dilayaninya, ia masih tetap bekerja sebagai pembuat kemah, dan uang yang dihasilkannya itu digunakan untuk menghidupi dirinya (Kis 18:3). Sangat mungkin Paulus tidak lahir dari keluarga pembuat kemah. Ketika menjadi orang Farisi, ia mungkin mendapatkan banyak uang dari hasil “pelayanannya” dalam agama Yahudi. Oleh karena itu, ketika memutuskan menjadi full timer, Paulus sangat mungkin harus belajar teknik membuat kemah untuk mendapatkan uang. Tentu ia mencari peluang usaha dimana kebanyakan orang Romawi atau Yunani tidak memiliki skill yang memadai dalam hal tersebut.

Meskipun Paulus telah menunjukkan suatu keteladanan hidup, ia tidak memaksa atau mewajibkan pelayan lainnya untuk menjadi seperti dia. Baginya, memang ia harus memiliki teladan hidup supaya hidupnya dapat berbicara lebih keras daripada khotbahnya. Lagipula, dengan tidak menerima uang dari jemaat yang ia layani, ia dapat melayani dengan lebih independen, suatu hal yang sangat sulit dilakukan pada masa itu (dan mungkin juga masa sekarang).

Tentu sikap seperti Paulus ini tidak bisa langsung dikenakan menjadi standar para pendeta saat ini. Saya memiliki prinsip itu sejak kecil karena saya memang bekerja di bidang lain, memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang cukup, sehingga saya dapat menopang pelayanan bagi orang-orang yang lebih membutuhkan. Sayangnya, saya melihat bahwa ada beberapa oknum pendeta yang merasa diri lebih miskin, khususnya yang ada di gereja-gereja di pedalaman atau desa-desa (bukan di kota-kota besar). Akibatnya, mereka sering mengharapkan gereja besar di kota untuk membantu mereka dalam hal finansial, atau bantuan lainnya. Mereka sering playing victim dengan membandingkan penghasilan mereka dengan penghasilan pendeta di kota besar. Namun tanpa mereka sadari, untuk ukuran di daerah, sebenarnya penghasilan mereka itu jauh lebih besar daripada upah minimum regional di daerahnya.

Memang tidak semua pendeta seperti itu. Ada pendeta yang memang hidup dalam garis kemiskinan, karena jemaatnya juga adalah orang-orang miskin. Terhadap pendeta semacam itu kita harus bersedia membantu. Tapi alangkah baiknya jika seorang pelayan Tuhan (entah pendeta, pengkhotbah, penginjil, pemain musik, atau apapun) memiliki prinsip ini: bahwa jika memungkinkan kita tidak mengharapkan upah ketika melayani. Ada amplop PK atau tidak ada amplop PK pun tidak menjadi masalah. Dan seharusnya prinsip ini ditanamkan ke jemaat sejak dini, serta harus ada teladan nyata dari pelayan Tuhan tersebut dalam kehidupannya.

Menurut saya, tidak menerima upah saat melayani adalah hal yang bagus. Tetapi itu saja pun belum cukup. Jangan kemudian dijadikan semacam aturan baku bahwa “pelayan di gereja tidak berhak menerima upah”. Yang terpenting adalah pemahaman terhadap pelayanan itu sendiri. Semua kita adalah pelayan Tuhan di bidang dan area kita masing-masing. Seorang pegawai adalah pelayan Tuhan di kantor. Seorang pengusaha/businessman adalah pelayan Tuhan di bidang usahanya. Seorang tenaga medis adalah pelayan Tuhan di rumah sakit. Seorang ibu rumah tangga pun adalah pelayan Tuhan di keluarganya. Pelayanan haruslah dipandang jauh lebih luas dari tembok-tembok gereja. Jika seseorang banyak melayani di gereja sampai larut malam tapi keluarganya berantakan, itu bukanlah pelayanan yang benar.

Kita harus menanamkan prinsip bahwa kita harus siap tidak menggunakan hak kita, atau lebih tepatnya lagi: Rela kehilangan hak ketika memutuskan untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Dengan hal ini, kita tidak akan tergoda untuk menuntut Tuhan mengabulkan doa kita hanya karena alasan bahwa kita sudah berjerih Lelah dalam pelayanan. Bahkan seorang pelayan Tuhan yang sudah dewasa akan sangat berhati-hati dalam meminta sesuatu kepada Tuhan dalam doa. Seorang pelayan Tuhan yang benar harus rela kehilangan hak, dalam artian siap difitnah, diperlakukan tidak adil, dicaci maki bahkan dianiaya, karena Tuhan kita dahulu juga mengalami hal yang demikian. Tapi dalam keadaan yang sesulit apapun, jika kita memiliki prinsip rela kehilangan hak, maka kita akan memperoleh manfaatnya: 1) Kita tidak akan terikat dengan dunia (uang, kekayaan, kedudukan, dan lain sebaginya); 2) Kita semakin menghayati bahwa dunia bukanlah rumah permanen kita; 3) Kita akan semakin berjuang lebih keras untuk berkenan kepada Tuhan; dan 4) Hidup kita akan menjadi suatu “catatan yang terbuka” yang siap dilihat siapa saja. Kalaupun ada upah yang berhak kita terima, seharusnya upah tersebut tidak kita terima di bumi ini, tetapi kita terima nanti di kekekalan.



Bacaan Alkitab: 1 Korintus 9:13-18
9:13 Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?
9:14 Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.
9:15 Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada ...! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!
9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
9:17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
9:18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.

Minggu, 23 Februari 2020

Jangan Mengusik yang Diurapi?


Minggu, 23 Februari 2020
Bacaan Alkitab: 1 Tawarikh 16:19-22
"Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat terhadap nabi-nabi-Ku!" (1 Taw 16:22)


Jangan Mengusik yang Diurapi?


Sebagai seorang yang beragama Kristen sejak kecil, saya sudah cukup sering mendengar ayat ini diucapkan oleh pengkhotbah atau pembicara atau pendeta di atas mimbar gereja. Biasanya ayat ini digunakan untuk melegitimasi status seseorang sebagai pengkhotbah atau pendeta. Tentu alasan yang disampaikan adalah karena seorang pendeta itu pasti adalah orang yang diurapi. Bahkan dalam praktik di sejumlah gereja, ada semacam “pentahbisan” terhadap para pendeta atau pejabat-pejabat yang diangkat oleh suatu sinode gereja dalam suatu “upacara” dimana para pendeta tersebut akan diurapi dengan minyak oleh pendeta-pendeta yang lebih senior atau ketua sinode gereja. Dengan pengurapan tersebut, maka mereka pun sah menjadi semacam pembicara dan berhak berbicara di atas mimbar gereja.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan praktik pengurapan itu, meskipun sebenarnya praktik pengurapan semacam itu tidak ada dalam ayat-ayat Perjanjian Baru (hanya ada dalam praktik bangsa Israel di Perjanjian Lama, itu pun terbatas pada jabatan imam dan raja). Menurut saya, jika itu dijadikan semacam lambang atau simbol dalam gereja, itu tidaklah terlalu masalah. Akan tetapi menjadi masalah jika kemudian praktik pengurapan pendeta/pengkhotah itu dikaitkan dengan ayat-ayat lainnya, khususnya ayat-ayat di Perjanjian Lama yang konteksnya sangat jauh berbeda dengan konteks masa kini.

Jika kita hanya membaca ayat 22 saja, maka kita seakan-akan telah didoktrin bahwa: 1) Pendeta adalah orang yang diurapi Tuhan; 2) Jemaat awam bukanlah orang yang diurapi; 3) Oleh karena itu pendeta tidak boleh diusik oleh siapapun, khususnya oleh jemaat; 4) Pendeta/pengkhotbah adalah nabi yang menyampaikan suara Tuhan; dan 5) Jika ada orang (khususnya jemaat) yang tidak sependapat dengan pendeta, apalagi berani bersuara cukup vokal, maka itu masuk dalam kategori mengganggu nabi Tuhan bahkan berbuat jahat terhadap nabi Tuhan. Oleh karena itu, jabatan pendeta adalah jabatan yang paling aman karena seakan-akan: 1) Pendeta adalah orang yang paling benar; 2) Jemaat harus tunduk kepada pendeta; dan 3) Jika pendeta salah, maka lihat kembali poin nomor 1.

Kelihatannya ini lucu, tetapi kenyataannya hal ini pasti pernah terjadi (atau mungkin memang masih terjadi) di sejumlah gereja. Oleh karena itu, tanpa bermaksud menghakimi para pendeta dan pengkohtbah/pembicara, mari kita melihat dengan jelas konteks mengapa ayat tersebut ditulis. Kita sebaiknya tidak boleh suka-suka mencomot suatu ayat Alkitab suka-suka kita sendiri demi membela kepentingan kita sendiri. Jika memungkinkan kita harus melihat konteks ayat tersebut sehingga dapat  mengerti makna sebenarnya dari ayat itu.

Konteks pasal 16 dari kitab 1 Tawarikh ini sebenarnya berbicara tentang peristiwa dimana Tabut Perjanjian dibawa masuk kembali ke kota Yerusalem. Saat itulah dimana Daud menari-nari karena bersukacita melihat Tabut Allah kembali ke kota Yerusalem (1 Taw 15:29). Ayat mengenai Daud yang menari-nari ini juga sering dijadikan lirik lagu bahkan khutbah, dimana Tuhan senang jika Daud menari-nari, jadi kita harus menari-nari. Padahal dalam kehidupan Daud, hanya tercatat sekali saja Daud menari-nari (ketika Tabut Allah dibawa masuk kota Yerusalem). Selebihnya, Daud sibuk menjalankan tugas memimpin sebagai raja Israel, berperang, mengatur negara, dan lain sebagainya. Adalah hal yang sangat “gila” jika yang ditekankan hanyalah peristiwa Daud menari-nari dan itu harus dicontoh oleh jemaat Tuhan di masa kini dengan selalu menari-nari dalam ibadahnya.

Kembali ke konteks peristiwa tersebut, Daud kemudian menggubah suatu nyanyian pujian yang dinyanyikan oleh orang-orang yang bertugas dalam hal musik dan pujian di kemah Allah (dapat kita lihat mulai pasal 16 dari ayat 7 hingga ayat 36). Dalam bagian awal dari nyanyian pujian tersebut, Daud menuliskan kisah perjalanan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah sejak awal, keluar dari Mesir, mengikat perjanjian dengan Allah di gunung Sinai, janji akan tanah Kanaan, dan proses masuknya bangsa Israel ke tanah Kanaan dengan mengalahkan bangsa-bangsa yang kemungkinan jauh lebih kuat dari mereka. Tentu itu adalah campur tangan Allah yang Maha Kuasa karena tanpa Allah maka tidak mungkin bangsa Israel dapat keluar dari Mesir dan tinggal di tanah Kanaan hingga saat itu (yaitu zaman Daud).

Oleh karena itu kita dapat melihat bahwa Daud menulis peristiwa ketika jumlah bangsa Israel masih belum seberapa, sebagai suatu kumpulan orang yang dulunya diperbudak selama 430 tahun sebagai orang asing (ay. 19). Dikatakan pula bahwa mereka mengembara dari satu tempat ke tempat lain dan perlahan-lahan mengalahkan bangsa-bangsa, dari satu bangsa ke bangsa yang lain, dari satu kota ke kota yang lain (ay. 20). Tentu jika suatu bangsa yang jumlahnya sedikit, dengan mental budak (karena terbiasa diperbudak di Mesir selama ratusan tahun), namun mampu mengalahkan bangsa-bangsa lain yang sudah lebih settle di tanah Kanaan, maka itu adalah akibat penyertaan Allah yang Maha Kuasa.

Memang adalah rencana Allah untuk mengembalikan mereka ke tanah Kanaan sebagaimana janji-Nya kepada para leluhur bangsa Israel (Abraham, Ishak, dan Yakub). Oleh karena itu, setiap bangsa yang kemudian bersepakat untuk melawan bangsa Israel, pasti mengalami kekalahan. Allah tidak membiarkan siapapun melawan bangsa Israel, bahkan raja-raja mereka pun banyak yang mati karena melawan bangsa Israel (ay. 21). Hal ini terjadi hingga bangsa Israel dapat menduduki tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian.

Dalam konteks peristiwa sejarah inilah kemudian Daud menulis kalimat yang kemudian sering disalahartikan itu: “Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat terhadap nabi-nabi-Ku” (ay. 22). Jika kita teliti membaca ayat ini, maka yang dimaksud dengan orang-orang yang diurapi Tuhan adalah bangsa Israel secara kolektif, dan dalam konteks ketika bangsa Israel hendak masuk ke dalam tanah Kanaan. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan nabi-nabi Tuhan tentu kemungkinan besar adalah para pemimpin bangsa Israel pada masa itu, dimana Musa dianggap sebagai nabi, atau Miriam yang juga dianggap sebagai nabiah (Kel 15:20).

Nah, jika demikian, maka kita tentu mengerti bahwa konteks ayat 22 ini sama sekali tidak dapat digunakan pada konteks kehidupan umat Perjanjian Baru. Jangankan untuk dikenakan pada umat Kristen, ayat itu sebenarnya juga sudah tidak tepat digunakan terhadap Raja Daud sendiri. Mengapa demikian? Meskipun Daud adalah seorang raja yang diurapi oleh Tuhan, ia bukanlah seorang nabi. Itulah mengapa Raja Daud pun tidak marah ketika ia ditegur oleh Nabi Natan (2 Sam 12:1-25). Daud tidak menggunakan ayat 22 ini (meskipun ia sendiri yang menulisnya) kepada Nabi Natan karena tidak suka dengan teguran yang disampaikan. Sama juga ketika anaknya, Absalom berencana menduduki tahta kerajaannya, Daud tidak menggunakan ayat 22 tersebut kepada anaknya: “Hai Absalom, jangan kamu mengusik orang-orang yang diurapi Tuhan, dan jangan berbuat jahat terhadapnya”. Pada waktu itu Daud justru mengalah dengan menyingkir dari kota Yerusalem dan menjadi pelarian (2 Sam 15:13-37). Ketika dalam pelarian itu kemudian ada seseorang yang bernama Simei melempari batu dan mengutuki dirinya, Daud tidak menggunakan ayat 22 yang ditulisnya itu kepada Simei. Ia tetap diam dan bahkan berkata “Biarlah ia mengutuk, siapa tahu Tuhan berfirman kepadanya demikian” (2 Sam 16:10).

Jadi sebenarnya untuk konteks ayat 22 ini, Daud sudah memberikan contoh dan teladan yang baik, bahwa konteks tulisan nyanyian yang digubahnya itu adalah konteks pada masa bangsa Israel hendak masuk ke tanah Kanaan. Daud tidak menggunakan ayat 22 itu (meskipun ia sendiri yang menulisnya) sebagai alasan untuk melindungi tahtanya sendiri dari orang-orang yang melawannya, dari kritik orang lain, bahkan dari kutukan dan lemparan batu dari orang yang tak dikenalnya, meskipun sebenarnya ia adalah seorang raja yang sah, diurapi Tuhan, menggubah banyak lagu dan mazmur, dan banyak lagi hal yang telah ia lakukan.

Jika demikian, maka orang-orang yang menggunakan ayat 22 ini di luar konteks yang seharusnya, apalagi dengan tujuan untuk “melindungi” jabatannya di gereja, “mempertahankan dinasti” keluarganya di gereja, atau dengan alasan lain apapun, harus malu kepada Daud. Dan ayat ini sebenarnya sudah tidak relevan lagi dengan konteks jemaat di Perjanjian Baru, karena kita semua adalah orang-orang yang diurapi oleh Tuhan. Petrus (Kefas) sebagai rasul saja pernah ditegur oleh Paulus karena tidak memberikan teladan hidup yang baik (sedikit bersifat munafik) (Gal 2:11-14). Pendeta, pembicara/pengkhotbah atau orang-orang yang sudah ditahbiskan oleh sinode gereja sebagai pejabat gereja tidak boleh semena-mena dan sembarangan menggunakan ayat 22 ini. Jemaat harus dicerdaskan, bukannya ditakut-takuti dan diancam dengan cara yang salah.

Di sisi lain, kita sebagai jemaat (yang tidak menjadi pendeta atau pejabat gereja) juga harus belajar kebenaran dengan lengkap dan utuh. Tentu kita harus menghormati para pendeta dengan patut, apalagi mereka yang sudah bekerja keras hidup untuk kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya. Namun jika ada oknum-oknum yang menyalahgunakan jabatan mereka untuk kepentingan diri mereka sendiri dan “kerajaan” mereka sendiri, maka kita harus berhati-hati dengan orang seperti itu. Jangan sampai kita terlalu percaya dengan perkataan mereka apalagi 100% menaati apa yang diucapkan oleh oknum tersebut. Kita harus lebih taat kepada Tuhan, kita harus belajar lebih mendengar suara Tuhan dan menaatinya, dan kita harus menjaga diri supaya jangan sampai disesatkan dengan perkataan atau khutbah yang tidak benar. Pada umumnya, oknum-oknum seperti ini akan memilih-milih ayat yang melindungi kepentingannya sendiri. Ia menetapkan standar yang berbeda antara dirinya dan jemaat, misalnya jemaat tidak boleh mengkritik pendeta, tetapi pendeta boleh mengkritik jemaat suka-sukanya sendiri (dan jemaat tentu tidak boleh membalas). Berhati-hatilah dengan oknum-oknum seperti itu.



Bacaan Alkitab: 1 Tawarikh 16:19-22
16:19 Ketika jumlah mereka tidak seberapa, sedikit saja, dan mereka orang-orang asing di sana,
16:20 dan mengembara dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain, dan dari kerajaan yang satu ke suku bangsa yang lain,
16:21 Ia tidak membiarkan siapa pun memeras mereka; dihukum-Nya raja-raja oleh karena mereka:
16:22 "Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat terhadap nabi-nabi-Ku!"

Sabtu, 22 Februari 2020

Pornos dan Moichos (57): Tidak Dapat Masuk ke dalam Yerusalem Baru


Sabtu, 22 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 22:12-15
Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar. (Why 22:15)


Pornos dan Moichos (57): Tidak Dapat Masuk ke dalam Yerusalem Baru


Akhirnya kita sampai pada akhir dari serial renungan yang membahas mengenai kata pornos dan moichos. Renungan terakhir dalam seri ini menggunakan ayat dari kitab terakhir dan pasal terakhir dalam Alkitab yaitu kitab Wahyu pasal 22. Ini pun berbicara mengenai Yerusalem Baru, “ibukota” dari kerajaan Allah yang nyata dalam langit yang baru dan bumi yang baru. Kita tentu sudah membahas panjang lebar mengenai siapa-siapa saja orang-orang yang diperkenankan masuk ke dalam langit dan bumi yang baru pada renungan hari sebelumnya. Di dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita akan membahas mengapa orang-orang sundal tidak diperkenankan masuk ke dalam Yerusalem Baru (meskipun secara logika, jika mereka saja tidak dapat masuk ke dalam langit dan bumi yang baru, pastilah mereka juga tidak akan dapat masuk ke dalam Yerusalem Baru).

Bacaan Alkitab kita hari ini dimulai dengan perkataan Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan bahwa Ia akan datang segera (ay. 12a). Mungkin ada beberapa orang di antara para pembaca yang berkata: “Ah kapan Tuhan mau datang? Pada waktu 2.000 tahun yang lalu, Tuhan bilang sudah mau datang segera, sekarang sudah tahun 2.000 sekian kok masih belum datang?”. Kita harus paham bahwa tentu dibandingkan kekekalan yang tak berujung, 2.000 tahun (bahkan jutaan tahun) pun pasti terhitung cepat atau segera. Bagi Yesus yang adalah Alfa dan Omega, yang Pertama dan yang Terkemudian, yang Awal dan yang Akhir, 2.000 tahun itu sangatlah singkat (ay. 13). Di hadapan Tuhan, 1 hari sama seperti 1.000 tahun dan 1.000 tahun itu sama seperti 1 hari (2 Ptr 3:8). maka tidak Lagipula, justru ini menjadi suatu penyemangat bagi kita untuk terus hidup kudus dan meletakkan semua pengharapan kita pada hari kedatangan Tuhan Yesus tersebut (1 Ptr 1:13). Anggaplah ini sebagai kesempatan bagi kita untuk bertobat dan berusaha hidup tak bercacat dan tak bercela (2 Ptr 3:14-15). Lagipula tidak usah menunggu Tuhan Yesus datang, setiap saat kita pun bisa mati, dimana waktu hidup kita akan berakhir dan semua yang kita lakukan dalam hidup harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali harus dipandang sebagai penggenapan janji-Nya untuk membawa upah bagi mereka yang telah bekerja keras di lading Tuhan, termasuk “upah” (dalam konotasi negatif) kepada mereka yang berbuat jahat. Perhatikan ucapan Tuhan Yesus di ayat 12 ini, yaitu Ia datang untuk membawa upah-Nya untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya (ay. 12b). Perhatikan bahwa penghakiman Tuhan ini didasarkan atas perbuatan yang dilakukan seseorang, bukan hanya sekedar “iman” (dalam konteks ini, iman yang hanya dimaknai sebagai keyakinan di dalam pikiran tanpa perbuatan yang nyata seperti yang ditulis di kitab Yakobus). Oleh karena itu, kita akan mengerti mengapa Tuhan Yesus kemudian menyebutkan sejumlah kelompok orang-orang yang tidak dapat masuk Yerusalem Baru, yang didasarkan pada karakter orang tersebut (yang terkait dengan perbuatan jahat dalam hidupnya), dan tidak didasarkan pada kelompok iman yang dimiliki orang tersebut.

Terdapat pula kalimat yang menyatakan bahwa orang yang berbahagia adalah mereka yang membasuh jubahnya (ay. 14a). Apa yang dimaksud dengan kalimat ini? Kata “jubah” dalam ayat ini menggunakan kata stole (στολή). Kata stole ini menggambarkan suatu status social tertentu, yang antara lain dipakai oleh ahli Taurat (Mrk 12:38, Luk 20:46). Kata ini juga digunakan oleh sebagai simbol seorang bapa yang telah mengangkat kembali anak bungsunya yang pernah hilang dengan memberikan sebuah jubah (Luk 15:22). Di kitab Wahyu, jubah sangat umum diberikan kepada orang-orang percaya yang telah mengikut Yesus (Why 7:9), antara lain mereka yang telah menyerahkan jiwanya demi nama Tuhan Yesus (Why 6:11). Dalam hal ini, orang-orang yang mencuci atau membasuh jubah diartikan sebagai mereka yang telah berhasil melewati kesusahan atau kesukaran yang besar (Why 7:13-14). Bisa jadi ini menggambarkan aniaya hebat yang dialami oleh jemaat mula-mula. Sejumlah jemaat di tempat dan waktu tertentu juga mengalami aniaya yang hebat, dan juga tentu termasuk dalam kelompok ini. Tentu mereka bisa melewati kesulitan itu dengan tetap hidup karena perlindungan Tuhan, tetapi sangat mungkin bahwa ada dari mereka yang sampai harus teraniaya bahkan mati karena iman mereka. Inilah yang dimaksud dengan membasuh jubah, yaitu tindakan yang berani menyerahkan nyawa (baik secara harafiah maupun secara ungkapan) bagi Tuhan dan kerajaan-Nya. Mungkin kita tidak perlu mati bagi Tuhan (apalagi mati konyol), tetapi kita harus mau mematikan diri kita sendiri demi melakukan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan demi kerajaan-Nya.

Bagi mereka yang sudah “mati” bagi Tuhan, maka mereka pasti akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk ke dalam kota Yerusalem Baru (ay. 14b). Jika pada langit dan bumi yang pertama, Tuhan menyediakan pohon kehidupan di tengah-tengah Taman Eden (Kej 2:9), supaya jika manusia memakannya mereka akan hidup selamanya, maka pada langit dan bumi yang baru, Tuhan menyediakan pohon-pohon kehidupan untuk dapat dinikmati oleh orang-orang yang telah membasuh jubahnya. Inilah hak istimewa yang diberikan kepada mereka yang sudah membuktikan iman mereka dengan tindakan hidup mereka, bahkan telah menyerahkan nyawa bagi Tuhan.

Di sisi yang lain, akan ada kelompok orang-orang yang tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam Yerusalem Baru. Dikatakan bahwa mereka akan tinggal di luar (ay. 15b). Pada akhirnya, hanya ada 2 pilihan: masuk ke dalam kerajaan Allah (yaitu langit dan bumi yang baru serta Yerusalem baru), atau tidak masuk (tinggal di luar). Namun pilihan yang kedua bukan berarti kita akan tetap tinggal di bumi ini, karena bumi ini akan menjadi lautan api, yang menggambarkan neraka dan hukuman kekal (Why 20:15). Oleh karena itu kita akan melihat kelompok orang-orang yang tidak dapat masuk ke dalam Yerusalem Baru (ay. 15a):

Pertama, kelompok orang-orang yang disimbolkan sebagai anjing-anjing. Dalam bahasa aslinya digunakan kata kynes (κύνες) dari akar kata kuón (κύων). Kata “anjing” ini sudah pernah saya bahas dalam seri renungan khusus, tapi pada intinya menggambarkan binatang buas yang suka menggonggong, menggigit, bahkan menyerang orang lain. Anjing juga adalah gambaran kenajisan (termasuk dalam binatang haram dalam adat istiadat Yahudi), serta juga menggambarkan guru-guru palsu dalam jemaat (2 Ptr 2:22). Kata “anjing” ini tidak terdapat dalam kelompok orang-orang yang tidak dapat masuk ke langit dan bumi yang baru sebagaimana telah kita bahas sebelumnya. Ini sebenarnya merupakan salah satu penekanan khusus bahwa mereka yang suka menjahati orang lain, bahkan tentu termasuk guru-guru palsu, pengajar-pengajar palsu, yang tidak mengajarkan kebenaran yang utuh. Kebenaran yang sejati pasti akan mengubah orang yang mendengarnya. Namun guru-guru palsu ini memilih untuk "menyunat” kebenaran yang disampaikan (bisa jadi karena memang ada kepentingan pribadi, atau karena takut dituntut untuk menyampaikan keteladanan) dan bisa saja tidak membawa jemaatnya mencapai standar yang seharusnya. Oleh karena itulah maka guru-guru palsu seperti ini tentu tidak akan diperkenankan masuk ke dalam kerajaan surga, meskipun mungkin saja mereka sudah berkhotbah, bernubuat, bahkan mengusir setan dalam nama Tuhan Yesus (Mat 7:21-23).

Kedua, kelompok orang-orang yang merupakan tukang-tukang sihir. Dalam bahasa aslinya digunakan kata pharmakoi (φαρμακοὶ) dari akar kata pharmakos (φάρμακος). Kata sama persis dengan yang digunakan dalam kitab Wahyu pasal 21 (sebagaimana telah kita bahas dalam renungan hari sebelumnya). Kata ini dapat diartikan sebagai orang-orang yang melakukan sihir-sihir tertentu (dengan bantuan kuasa kegelapan), atau mungkin saja mereka yang “membohongi” orang-orang dengan mempertontonkan suatu “penyembahan” yang hebat, tetapi pada kenyataannya itu hanyalah “penyembahan” yang semu, karena hanya bersifat lahiriah semata tanpa membawa orang-orang menyembah Allah secara benar sebagaimana telah kita bahas sebelumnya.

Ketiga, kelompok orang-orang sundal. Dalam bahasa aslinya digunakan kata pornoi (πόρνοι) dari akar kata pornos (πόρνος). Seperti kita telah bahas dalam seri renungan ini, kata pornos dapat bermakna orang yang terlibat dalam hubungan seksual yang tidak sah (termasuk dengan orang yang masih menjadi suami/istri dari orang lain), atau orang yang melacurkan dirinya sendiri demi kepuasan hawa nafsu atau materi. Sebagaimana telah kita bahas dalam renungan hari sebelumnya, kelompok ini dapat merupakan orang-orang yang melakukan percabulan secara fisik atau jasmani, atau mereka yang melakukan “percabulan” secara rohani (karena tidak sungguh-sungguh menjadikan Tuhan Yesus sebagai “mempelai” kita).

Keempat, kelompok orang-orang pembunuh. Dalam bahasa aslinya digunakan kata phoneis (φονεῖς) dari akar kata phoneus (φονεύς). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang tentu saja membunuh orang secara fisik dengan sengaja dan niat yang tidak baik (seperti pembunuh bayaran). Namun perhatikan pula bahwa Tuhan Yesus pernah berkata bahwa orang yang marah kepada sesamanya sudah membunuhnya. Redefinisi pembunuhan dalam Perjanjian Baru tidak lagi hanya dipandang secara fisik, tetapi juga secara spirit atau rohani (Mat 5:21). Bahkan dalam contoh yang disampaikan Tuhan Yesus di ayat tersebut, ketika kita menyampaikan kata-kata yang membunuh karakter (semisal menyampaikan kabar bohong yang merugikan orang lain), maka itu sudah masuk ke dalam kategori “pembunuhan” dan akan mendapat hukumannya. Hukumannya adalah tidak dapat masuk ke dalam Yerusalem Baru atau masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala (Mat 5:22).

Kelima, kelompok orang-orang yang merupakan penyembah berhala. Dalam bahasa aslinya digunakan kata eidōlolatrai (εἰδωλολάτραι) dari akar kata eidólolatrés (εἰδωλολάτρης). Sebagaimana telah kita bahas pada renungan hari sebelumnya, penyembah berhala di sini dapat berarti penyembahan berhala secara fisik (khususnya pada masa jemaat mula-mula), namun juga dapat berarti mereka yang menyembah suatu “obyek” lain selain Allah Yang Maha Kudus. Kata “menyembah” dalam hal ini bukan saja menyembah secara fisik (misal: sujud kepada patung), tetapi juga menyembah secara hati. Mungkin kita merasa sudah menyembah Tuhan karena rajin datang beribadah di gereja, menyanyi dan berdoa. Tapi jangan-jangan dalam hati kita, kita lebih memberikan prioritas atas harta dan kekayaan dunia, atau kehormatan dan kedudukan. Itu tandanya kita masih belum menyembah Allah dengan benar dan dapat masuk ke dalam kategori penyembah berhala (karena tidak menyembah Allah sebagai satu-satunya “entitas” yang patut disembah).

Keenam, kelompok orang-orang yang mencintai dusta dan melakukannya. Dalam bahasa aslinya digunakan kata philōn kai poiōn pseudos (φιλῶν καὶ ποιῶν ψεῦδος). Kata yang digunakan dalam ayat ini agak sedikit berbeda dengan kata yang digunakan dalam kitab Wahyu pasal 21, dimana digunakan kata pseudesin (ψευδέσιν) dari akar kata pseudés (ψευδής). Di pasal 22 ini, ditambahkan kata-kata “mencintai dan melakukan dusta/kepalsuan/kebohongan”. Kata “dusta” dalam ayat ini menggunakan kata pseudos (ψεῦδος) yang bermakna a lie, falsehood, untruth, false religion (dusta, kebohongan/pernyataan bohong, ketidakbenaran/kebenaran yang tidak benar, agama yang palsu/salah). Ada makna yang menarik dari kata ini yaitu untruth, yang saya terjemahkan sebagai kebenaran yang tidak benar. Dalam konteks umum, hoax bisa saja masuk dalam kategori ini, dimana seakan-akan yang disampaikan adalah kebenaran, padahal kebenaran itu sudah “dipotong dan disesuaikan”. Berapapun besarnya “potongan” yang dilakukan, meskipun hanya 1%, tetapi 99% kebenaran bukanlah kebenaran. Itu adalah kebenaran yang tidak benar.

Betapa berbahayanya jika ada orang-orang yang suka sekali mencintai untruth seperti ini, bahkan mereka yang suka sekali melakukannya (atau menyebarkannya). Betapa berbahayanya juga jika ada orang-orang seperti ini di gereja, khususnya mereka yang berprofesi sebagai para pengkhotbah dan pembicara di atas mimbar. Mengingat mereka yang menyampaikan khotbah tidak dapat diinterupsi, maka pengaruh para pembicara ini sangat besar terhadap kualitas rohani dan pertumbuhan jemaat yang mendengarkannya. Jika orang-orang yang berdiri di atas mimbar gereja adalah orang-orang yang suka menyampaikan dusta (kebenaran yang tidak benar/untruth), maka dapat dibayangkan suatu saat nanti Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban dari mereka, karena dampaknya bukan hanya bagi diri orang itu sendiri, tetapi juga bagi banyak orang. Dalam konteks lain, mereka yang suka menggunakan mimbar untuk menyebarkan kabar bohong/dusta tentang orang lain, misalnya menyatakan orang lain sesat (padahal belum pernah melakukan kroscek atau dalam bahasa Arab dikenal sebagai tabayyun). Betapa berbahayanya informasi yang keliru tersebut terlebih di zaman digital dimana sangat mudah menyebarkan kabar bohong melalui sekali klik atau sentuhan jari. Kalau dahulu melakukan dusta pada umumnya diartikan dengan mengucapkan dusta melalui mulut, maka sekarang ini melakukan dusta dapat dengan mudah dilakukan melalui tulisan di media sosial atau internet. Tentu hal ini juga berlaku bagi saya sendiri yang menulis renungan di internet. Jika saya dengan menulis dengan niat menyampaikan kabar yang tidak benar, maka saya pun terancam hukuman Allah. Oleh karena itu, saya dan kita semua harus sangat berhati-hati untuk menyampaikan sesuatu. Ingatlah bahwa semua perkataan kita (dalam konteks modern termasuk juga setiap tulisan kita di media sosial/internet) harus kita pertanggungjawabkan pada hari penghakiman (Mat 12:36).

Dalam akhir renungan kita mengenai pornos dan moichos, saya kembali mengingatkan kita semua untuk menjaga kekudusan hidup di hadapan Tuhan. Tentu konteks secara khusus adalah menjaga kekudusan pernikahan (bagi yang sudah menikah), kekudusan tubuh kita (bagi yang belum menikah dan juga sudah menikah). Dan tidak hanya terkait percabulan saja, kita harus berusaha hidup kudus, tak bercacat dan tak bercela di hadapan Tuhan dalam segala hal, mulai dari pikiran (tidak menyembah “obyek” lain selain Allah), dalam perkataan (tidak mengucapkan kata-kata dusta, menyebarkan kabar bohong) dan juga dalam tindakan kita (tidak membunuh, tidak berbuat cabul). Tidak ada kemalangan yang lebih besar daripada kenyataan ditolak Allah untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya yang kekal. Karena Allah adalah Allah yang fair, yang memiliki tatanan yang sempurna, sebenarnya Allah sudah memberi “kisi-kisi” agar kita dapat masuk ke dalam kerajaan-Nya. Namun, persoalannya, mana yang kita pilih? Apakah kita memilih untuk berusaha hidup kudus di hadapan-Nya sehingga kita layak masuk ke dalam Yerusalem Baru, atau kita memilih untuk menikmati hidup di dunia, hidup suka-suka sendiri, namun pada akhirnya ditolak untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya?

  


Bacaan Alkitab: Wahyu 22:12-15
22:12 "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.
22:13 Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir."
22:14 Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.
22:15 Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar.