Kamis, 03 November 2011

Jangan Sampai Hilang dari Ingatan

Sabtu, 5 November 2011

Bacaan Alkitab: Ulangan 4:5-9

“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu” (Ul 4:9)


Jangan Sampai Hilang dari Ingatan


Saat saya menulis renungan ini, saya sedang membuka Alkitab lama saya yang saya sering gunakan sejak saya kecil hingga lulus kuliah, karena setelah saya bekerja memang saya akhirnya membeli Alkitab baru lagi. Di Alkitab lama, saya suka menyelipkan pembatas-pembatas Alkitab, dan bahkan beberapa kartu ucapan terima kasih yang saya terima ketika melakukan pelayanan di kampus. Ada juga beberapa kartu spesial dari teman-teman terdekat saya. Ketika saya melihat-lihat kembali berbagai macam pembatas serta kartu-kartu tersebut, ingatan saya seakan kembali kepada masa-masa kuliah, karena pelayanan yang saya lakukan semasa saya kuliah begitu berkesan dan melekat di kenangan saya.

Memang sesuatu yang baik sudah seharusnya saya ingat. Demikian juga Musa yang mengingatkan bangsa Israel agar tidak melupakan segala ketetapan dan peraturan yang telah disampaikan oleh dirinya. Apa yang Musa harapkan adalah agar bangsa Israel tetap mengingat segala ketetapan dan peraturan tersebut, dan tidak hanya sekedar mengingat, tetapi juga melakukannya ketika nantinya bangsa Israel telah masuk ke dalam tanah perjanjian (ay. 5).

Musa pun mengingatkan bangsa Israel untuk melakukan segala ketetapan dan peraturan tersebut dengan setia (ay. 6a). Mungkin Musa merasa bahwa ajalnya sudah dekat, sehingga Musa ingin agar bangsa Israel tetap setia mengikut Tuhan walaupun sudah tidak dipimpin oleh dirinya lagi. Mungkin juga Musa khawatir bahwa kondisi tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madunya akan sedikit demi sedikit mempengaruhi bangsa Israel untuk tetap mengingat Tuhan. Terlebih dengan banyaknya suku-suku yang mendiami tanah Kanaan pada waktu itu yang masih belum mengenal Tuhan. Musa ingin agar bangsa Israel tidak terpengaruh dengan kondisi dan tradisi yang ada di sekitar mereka.

Segala ketetapan dan peraturan Tuhan tersebut akan menjadi dasar bagi bangsa Israel untuk menjalani hidup mereka sehari-hari. Sesungguhnya segala perintah-perintah Tuhan pun akan mampu membuat hidup kita menjadi lebih bijaksana dibanding orang lain (Mzm 119:98). Oleh karena itu, Musa mengingatkan bangsa Israel untuk terus menerus memegang ketetapan Tuhan tersebut agar bangsa Israel bisa menjadi bangsa yang bijaksana dan berakal budi (ay. 6b).

Sebenarnya bangsa Israel menjadi bangsa yang luar biasa karena mereka memiliki Allah yang sangat dekat dengan mereka (ay. 7), bahkan Allah pun menampakkan diri dalam bentuk tiang awan dan tiang api, dan bahkan beberapa kali pun berbicara secara langsung kepada mereka. Allah pun banyak membuat mujizat selama bangsa Israel ada di padang gurun, termasuk memberi makan manna setiap hari dengan caraNya yang ajaib. Selain itu bangsa Israel pun diberikan ketetapan dan peraturan oleh Allah sendiri (ay. 8). Bangsa-bangsa lain mungkin menyusun hukum-hukum mereka berdasarkan tradisi atau kesepakatan bersama, tetapi hukum yang digunakan bangsa Israel adalah hukum Taurat yang berasal dari surga, karena Allah sendirilah yang memberikan hukum Taurat kepada bangsa Israel.

Musa mengingatkan bangsa Israel agar tidak melupakan hal-hal yang telah mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Selama di padang gurun, Allah telah membuat banyak mujizat yang luar biasa. Musa tidak ingin bahwa bukti penyertaan Tuhan tersebut hilang dari ingatan generasi yang akan datang. Oleh karena itu Musa menasehatkan bangsa Israel agar mereka tetap memberitahukan kasih setia Tuhan yang telah dialami oleh generasi pertama yang masuk ke tanah Kanaan kepada anak-anak mereka, bahkan sampai cucu dan cicit mereka (ay. 9).

Apa yang kita dapat tarik dari bacaan Alkitab kita hari ini adalah bagaimana kita bisa meninggalkan sesuatu yang nantinya akan berguna bagi generasi yang akan datang. Jika kita hanya menikmati mujizat Tuhan dalam kehidupan kita tanpa membaginya kepada orang lain, maka bisa-bisa segala mujizat Tuhan itu hanya akan menjadi sejarah kita, tanpa ada orang lain yang mengetahuinya. Tetapi jika kita mau membaginya, mungkin itu akan menjadi berkat bagi orang lain. Apa yang kita bisa bagi mungkin adalah pengalaman hidup kita di mana Tuhan telah menolong kita dari masalah yang kita alami, atau hal apapun yang dapat mengingatkan orang lain akan Tuhan.

Banyak cara yang bisa kita lakukan. Kita bisa bersaksi ke orang-orang terdekat kita, keluarga kita, ataupun dalam jemaat, atau bisa juga kita menuliskan segala pengalaman kita agar orang lain dapat membacanya dan mengerti akan kasih Tuhan, atau apapun juga yang dapat membuat orang lain dan kita sendiri tidak melupakan Tuhan. Pepatah mengatakan bahwa salah satu ciri bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya sendiri. Akan tetapi bagaimana suatu bangsa tidak melupakan sejarah jika tidak ada yang mengusahakan sejarah tersebut agar tidak sampai hilang? Tugas kita, anda dan saya, adalah untuk selalu mengingat dan melakukan Firman Tuhan dengan setia, dan juga menjaganya agar Firman tersebut tidak sampai hilang dari ingatan kita, bahkan kita pun harus terus meneruskan Firman Tuhan itu dari generasi ke generasi.


Bacaan Alkitab: Ulangan 4:5-9

4:5 Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya.

4:6 Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.

4:7 Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya?

4:8 Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?

4:9 Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu,

Selasa, 01 November 2011

Memberi dengan Tulus

Jumat, 4 November 2011

Bacaan Alkitab: Matius 5:1-4

“Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (Mat 6:3)


Memberi dengan Tulus



Pada saat ada bencana alam di negeri kita, tentunya banyak sekali bantuan-bantuan yang mengalir ke daerah bencana tersebut, entah dari perorangan, perusahaan, bahkan mungkin dari negara-negara lain. Barangkali perusahaan tempat anda bekerja juga saat itu memberi bantuan kepada mereka yang mengalami musibah. Tapi jika diperhatikan dengan sungguh-sungguh, banyak perusahaan yang membantu dengan berkedok promosi. Dalam urusan bisnis, dikenal adanya istilah “no free lunch”, yang artinya secara harafiah adalah “tidak ada makan siang yang gratis”, atau dalam konteks ini dapat berarti “tidak ada bantuan yang benar-benar tulus”. Saya mengamati, memang benar perusahaan tersebut memberikan bantuan secara nyata entah itu berupa makanan, atau pembangunan sarana dan prasarana. Tetapi kembali lagi, saat penyerahan bantuan tentu ada acara foto-foto dengan latar belakang logo perusahaan tersebut, yang kemudian dimasukkan ke dalam iklan di surat kabar, majalah atau televisi. Ya, hitung-hitung beramal sambil promosi barangkali.

Dalam hal ini saya tidak mempermasalahkan tentang hal tersebut. Sah-sah saja jika sebuah perusahaan yang berorientasi bisnis bertindak seperti itu. Tentunya mereka pun berharap dengan memberikan bantuan tersebut, maka orang lain akan melihat bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan yang peduli dengan masyarakat, walau mungkin apa yang disumbangkan hanyalah sebagian kecil dari keuntungan perusahaan. Tetapi dalam bacaan ini Tuhan ingin mengingatkan kita bahwa sebenarnya ketika kita membantu orang lain atau memberi sedekah kepada orang lain, Tuhan ingin agar kita memberi dengan motivasi yang tulus dan bukan hanya agar diketahui orang lain.

Tuhan Yesus berkata agar kita tidak boleh memiliki motivasi untuk dilihat dan dipuji orang lain, bukan hanya dalam memberi sedekah, tetapi dalam melakukan semua kewajiban agama kita (ay. 1). Tentunya termasuk di dalamnya memberikan persembahan kepada Tuhan, melakukan pelayanan di Gereja, atau hal-hal lainnya. Motivasi kita haruslah karena kita mengasihi Tuhan, bukan karena kita ingin dilihat orang lain. Ketika kita melakukannya karena ingin dilihat orang lain, sesungguhnya kita telah menerima upah kita, yaitu pujian dan pandangan positif dari orang lain (ay. 2). Tetapi ketika kita melakukannya karena kita mengasihi Tuhan, maka Bapa kita yang di surga juga akan membalasnya kepada kita.

Tidak mudah memang memberi dengan tulus. Dalam Gereja misalnya, saya sering melihat bahwa orang-orang memberikan persembahan perpuluhan atau persembahan lainnya dengan menuliskan nama hingga gelar di amplop persembahan mereka. Saya berpikir, apa tujuannya? Apakah supaya orang lain tahu bahwa mereka telah memberikan perpuluhan sekian rupiah (yang berarti orang lain pun akan mengerti berapa penghasilan yang mereka terima)? Ataukah supaya para pendeta dapat melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang rajin menyumbang di Gereja sehingga mereka bisa mendapatkan perhatian khusus dari parra pendeta? Ataukah hanya supaya sebagai alat kontrol agar persembahan mereka benar-benar tercatat di Gereja dan tidak diselewengkan oleh bendahara Gereja? Menurut saya, apapun alasannya, sebaiknya kita tidak perlu mencantumkan nama lengkap bahkan beserta gelar pada amplop persembahan kita. Jika memang kita takut persembahan kita tidak tercatat, mungkin kita cukup memberikan inisial saja yang tidak mencerminkan nama kita.

Tuhan ingin agar kita sebagai anak-anakNya sungguh-sungguh memiliki motivasi yang benar dalam melakukan apapun. Saya sering melihat ketika ada orang yang memberikan kesaksian pujian, biasanya setelah kesaksian pujian itu selesai, jemaat pun memberikan tepuk tangan yang meriah, terlebih jika memang lagu yang dinyanyikan memang bagus. Saya berpikir, sebenarnya jemaat itu memberikan tepuk tangan kepada siapa? Kepada orang yang telah bernyanyi tersebut karena suaranya bagus, atau kepada Tuhan karena Tuhan telah memberikan talenta kepada orang tersebut? Kalau kita memberikan tepuk tangan karena orang itu telah menyanyi dengan bagus, apa bedanya pelayanan Tuhan dengan konser musik? Dalam konser musik para penonton bertepuk tangan atas penampilan band atau penyanyi pujaan mereka karena band atau penyanyi tersebut telah menghibur para penonton. Samakah Gereja dengan konser musik? Menurut saya, sah-sah saja kita bertepuk tangan setelah kita mendengar kesaksian orang lain di gereja, tetapi kita harus mengerti terlebih dahulu kepada siapa kita seharusnya bertepuk tangan.

Saya rindu kita semua mencoba belajar dari hal-hal yang kecil untuk belajar melakukan segala sesuatu tanpa mengharapkan pujian dari manusia. Kita harus bersikap seperti Rasul Paulus yang melakukan pelayanan dengan tidak mencari pujian dari manusia, tetapi untuk menyukakan hati Allah (1 Tes 2:4-6). Tidak mudah memang, karena pada dasarnya manusia memiliki naluri untuk menerima pujian dari orang lain. Tetapi saya rasa kita mungkin bisa belajar dari hal kecil seperti memberikan persembahan tanpa menulis nama kita di amplop persembahan, atau misal memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan tanpa perlu menceritakan kepada orang lain. Tuhan Yesus sendiri berfirman, ketika kita bisa memberi secara tersembunyi, maka Bapa kita akan membalasnya kepada kita (ay. 4). Manakah yang kita pilih? Pujian dari manusia, ataukah pujian dari Allah kita?


Bacaan Alkitab: Matius 5:1-4

6:1 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Tuhan yang Meninggikan Orang PilihanNya

Kamis, 3 November 2011

Bacaan Alkitab: 1 Samuel 2:6-8

“Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan…” (1 Sam 2:8a)


Tuhan yang Meninggikan Orang PilihanNya


Siapa yang masih meragukan kuasa Tuhan? Tuhan kita adalah Tuhan yang maha kuasa. Ia adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta termasuk kita, dan juga berkuasa atas alam semesta sebagai ciptaanya. Dengan kata lain Tuhan juga berkuasa dalam kehidupan kita. Tuhan punya kuasa dan kewenangan mutlak atas kehidupan kita. Ia dapat memberi kehidupan kepada seseorang, tetapi juga dapat mengambil kehidupan itu jika Tuhan menghendaki (ay. 6). Perkara hidup dan mati itu adalah perkara mudah bagi Tuhan. Dalam Alkitab disebutkan beberapa kali orang mati dapat dibangkitkan kembali oleh para tokoh di dalam Alkitab, di antaranya oleh Elia, oleh Tuhan Yesus, bahkan oleh Rasul Paulus.

Selanjutnya, Tuhan adakah Tuhan yang berkuasa atas segala berkat dan rejeki (ay. 7a). Kalau Tuhan saja berkuasa atas kematian dan juga kehidupan, apalagi terhadap segala berkat dan rejeki. Tuhan adalah Tuhan yang berkuasa atas emas dan perak (Hag 2:9), bahkan Tuhan sendiri memegang kunci dari tingkap-tingkap langit dan berkuasa untuk menurunkan berkat kepada orang-orang yang berkenan kepadaNya (Mal 3:10).

Tuhan kita juga adalah Tuhan yang berkuasa atas segala posisi (ay. 7b). Artinya, Tuhan mampu menjadikan kita sebagai kepala dan bukan ekor, bahkan Tuhan pun mampu membuat kita naik terus dan tidak turun selama kita sungguh-sungguh melakukan perintah Tuhan (Ul 28:13). Tuhan adalah Tuhan yang mengasihi orang-orang yang rendah hati (Yak 4:6), sehingga Bahkan, ketika kita mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, maka Tuhan akan meninggikan kita (1 Pet 5:16).

Dalam ayat 8 dikatakan pula bahwa Tuhan pun adalah Tuhan yang sanggup mengangkat orang-orang yang hina di hadapan manusia, namun mulia di hadapan Tuhan. Ia mampu mengangkat orang yang miskin dan bahkan mendudukkannya bersama-sama dengan para bangsawan. Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak memandang status yang diberikan manusia. Mungkin orang memandang kita sebagai orang yang miskin atau orang yang hina, tetapi selama kita berkenan di hadapan Tuhan, pasti Tuhan akan membela orang-orang pilihanNya.

Beberapa waktu yang lalu ada teman saya yang berkata kepada saya, “Kenapa ya si A itu kok sepertinya hidupnya enak-enak saja ya? Kerjaannya bagus terus, ia dimutasi ke bagian yang enak, terus hidupnya juga sepertinya lancar-lancar saja, tahu-tahu dia sudah beli rumah, eh tahu-tahu sudah beli mobil, terus sebentar lagi dapat fasilitas mobil dari kantor. Terus ketika ada tugas ke luar daerah atau ke luar negeri, ia selalu jadi pilihan utama oleh bossnya, padahal mungkin masih banyak orang-orang lain yang kerjanya lebih keras dari dia, tapi dia beruntung banget ya, ditempatkan di posisi yang enak, coba kaya orang lain, mereka nggak bisa menonjol karena mereka ada di tempat dan bagian yang nggak strategis”.

Mendengar hal tersebut, saya hanya tersenyum, kemudian mencoba mengamat-amati. Sebenarnya si A juga memiliki kinerja yang bagus juga sih, hanya saja memang ia seperti selalu berada di posisi dan bagian yang tepat. Dan memang ia adalah seorang yang benar-benar takut akan Tuhan. Ia juga mengambil bagian dalam banyak pelayanan Tuhan. Bahkan waktu saya ingin sekali-sekali jalan-jalan dan kumpul bareng dengan teman-teman saya yang lain, si A ini selalu menjadi orang yang paling susah menyesuaikan jadwal, dikarenakan memang jadwal pelayanannya sudah sangat padat. Kemudian saya berpikir, ya tentu saja si A sangat diberkati Tuhan dalam segala hal, karena ia telah membayar harga untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Saya rasa, mungkin masih banyak contoh lainnya, atau barangkali Anda sendiri adalah salah satu contoh nyata bagaimana Tuhan mampu memberkati orang-orang yang berkenan kepadaNya. Jika dalam kisah Alkitab diceritakan bagaimana Tuhan mampu mengangkat Yusuf dari posisi seorang budak dan seorang tahanan namun selanjutnya mampu menjadi orang nomor dua di Mesir, atau kisah tentang bagaimana Tuhan mengangkat Daud dari seorang gembala hingga menjadi raja Israel, atau kisah tentang Ester yang adalah orang buangan namun akhirnnya mampu menjadi permaisuri di kerajaan Media Persia, dan mungkin masih banyak hal lainnya. Mungkin kita berpikir, “Ah Tuhan, mana mungkin saya bisa menduduki posisi itu, kan saya hanya orang biasa-biasa saja”. Tetapi saya percaya bahwa janji-janji Tuhan tetap berlaku sampai dengan saat ini, dan Tuhan pasti akan menggenapi janjiNya selama kita mau hidup berkenan kepadaNya. Barangkali bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu adalah mungkin (Mat 19:26).


Bacaan Alkitab: 1 Samuel 2:6-8

2:6 TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana.

2:7 TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga.

2:8 Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan.

Tanpa Bunga

Rabu, 2 November 2011

Bacaan Alkitab: Imamat 25:35-38

“Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.” (Im 25:36)


Tanpa Bunga


Pernahkah kita tiba-tiba didatangi orang yang hendak meminjam uang kepada kita karena ada keperluan mendesak? Apa yang biasanya kita lakukan? Apakah kita langsung menghindar dengan memberi banyak alasan? Ataukah kita tanpa pikir panjang langsung memberi pinjaman tanpa bunga? Ataukah kita memberi pinjaman dengan syarat orang tersebut harus memberi jaminan, mengisi surat di atas meterai, dan lain sebagainya?

Tidak ada jawaban yang pasti karena apa yang kita lakukan memang tergantung dari siapa orang yang ingin meminjam uang dari kita, dan juga tergantung dari kondisi finansial kita pada saat itu. Andai orang yang meminjam itu adalah keluarga dekat kita yang sedang mengalami musibah, atau salah satu dari sahabat dekat kita yang benar-benar membutuhkan uang, tentunya kita akan memberikan pinjaman tersebut. Tetapi jika yang meminjam adalah orang yang tidak kita kenal, atau orang yang biasa meminjam tanpa ada niat untuk mengembalikan, maka bisa saja kita akan menolak memberikan pinjaman kepada orang itu.

Hari ini kita membaca Firman Tuhan tentang memberi bantuan kepada sesama saudara. Memang konteks awal dari Firman Tuhan pada bacaan kita hari ini berbicara tentang apa yang harus dilakukan oleh bangsa Israel jika ada salah seorang dari bangsanya yang jatuh miskin dan membutuhkan uang untuk hidup (ay. 35a). Dalam kondisi seperti itu, Tuhan berfirman agar bangsa Israel mau membantu saudara sebangsanya yang jatuh miskin tersebut sehingga ia dapat hidup (ay. 35b). Bahkan Tuhan juga berfirman agar dalam memberi bantuan tersebut, bangsa Israel dilarang untuk meminta bunga atau riba (ay. 37).

Apakah Firman Tuhan yang ditulis ribuan tahun yang lalu masih relevan sampai dengan saat ini? Jawabannya adalah ya, tentu saja masih relevan. Alkitab baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengatakan bahwa Firman Allah tetap untuk selama-lamanya (Yes 40:8 dan 1 Pet 1:25). Tentu saja, kita juga perlu mengerti relevansi dari Firman Tuhan tersebut dalam konteks kita di saat ini.

Pertama-tama, kita harus mengerti siapa yang dimaksud dengan saudara dalam bacaan kita hari ini. Jika dalam konteks aslinya saudara berarti saudara sebangsa Israel, tentunya saudara dalam konteks kita saat ini bermakna saudara seiman kita yang telah sama-sama percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Memang Tuhan Yesus pun pernah berkata dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati (Luk 10:25-37) bahwa semua orang pun adalah sesama kita, tanpa memandang suku, golongan, maupun agama mereka. Namun alangkah baiknya jika kita juga mengutamakan untuk berbuat baik kepada saudara seiman kita (Gal 6:10).

Selanjutnya, bantuan kita pun harus memiliki tujuan. Dalam konteks aslinya, Tuhan berfirman kepada bangsa Israel agar mereka menolong saudaranya yang jatuh miskin agar orang tersebut dapat hidup (ay. 35). Jelas bahwa tujuan kita membantu bukan untuk memenuhi hawa nafsu dari orang lain, tetapi memang untuk menolong agar mereka dapat hidup. Kita harus memiliki motivasi yang benar dalam menolong saudara kita. Bukan karena kita ingin sombong, bukan karena kita ingin dipuji orang lain, tetapi karena kita memang tulus untuk membantu. Kita pun harus meminta hikmat dari Tuhan agar kita dapat memberi pinjaman kepada orang lain yang benar-benar membutuhkan, bukan memberi untuk memenuhi hawa nafsu duniawi dari orang tersebut.

Terakhir, Tuhan berfirman agar kita tidak memungut bunga kepada orang yang kita bantu. Ketika saya membaca Firman Tuhan ini, saya sempat berpikir, bukankah dalam bisnis memang wajar ada yang namanya bunga? Kalau misal kita memberikan pinjaman tanpa bunga, apa kita tidak menjadi rugi? Namun setelah saya merenungkan lebih jauh, ternyata dalam ayat ini Tuhan ingin menunjukkan bahwa prinsip ekonomi Tuhan berbeda dengan prinsip ekonomi manusia. Dengan tidak memberi bunga kepada saudara kita yang benar-benar membutuhkan, berarti kita membantu saudara kita tersebut, dan saya percaya bahwa Tuhan pun pasti akan membalas perbuatan baik kita tersebut selama hal itu dilakukan dengan motivasi yang tulus. Firman Tuhan berkata bahwa ada orang yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, namun ada pula orang yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan (Ams 11:24).

Tidaklah sulit bagi Tuhan untuk memberkati kita dengan cara-cara yang ajaib, selama kita juga mau menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan mampu memberkati kita dengan berlimpah selama kita mau mengikuti Firman Tuhan. Mari kita belajar untuk memberi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, dan biarlah Firman Tuhan yang berkata “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk 6:38) akan digenapi dalam kehidupan kita.


Bacaan Alkitab: Imamat 25:35-38

25:35 "Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu.

25:36 Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.

25:37 Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba.

25:38 Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, untuk memberikan kepadamu tanah Kanaan, supaya Aku menjadi Allahmu.

Rabu, 26 Oktober 2011

Maria dan Marta

Selasa, 1 November 2011

Bacaan Alkitab: Lukas 10:38-42

“Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya” (Luk 10:39)


Maria dan Marta


Dahulu, ketika pacar saya (yang sekarang tentunya sudah menjadi isteri saya) masih berkuliah di kota Semarang, saya pernah datang menjumpainya tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Pokoknya, saya merahasiakan kedatangan saya dan tiba-tiba saja pacar saya sudah melihat saya sudah berada di depan pintu kos-kosannya. Apa yang terjadi saat itu adalah pacar saya terkejut luar biasa. Mungkin karena terlalu terkejut, ia sampai sibuk menyiapkan minuman, bahkan memasak makanan (karena ia tahu bahwa saya belum makan siang padahal saat saya datang sudah hampir pukul 13.00 WIB), dan melakukan segala hal lainnya. Berapa kali ia bolak balik dari ruang tamu (tempat saya duduk), ke kamar kos, kemudian ke dapur, dan kembali lagi ke ruang tamu, dan begitu seterusnya untuk beberapa saat. Mungkin saat itu ia lupa bahwa tujuan utama saya datang ke tempatnya adalah untuk bertemu dengannya.

Demikian juga apa yang dilakukan Marta ketika Tuhan Yesus datang ke rumahnya. Ketika Marta menerima Yesus di rumahnya, Marta sibuk sekali melayani. Mungkin saja Marta menyiapkan makanan dan minuman bagi Yesus dan murid-muridnya, dan tentunya hal tersebut sangat merepotkan Marta dan menyita waktunya. Hingga akhirnya Marta kesal dan berkata kepada Tuhan Yesus untuk meminta Maria membantunya untuk melayani Tuhan (ay. 40).

Menurut saya, apa yang Marta lakukan memang tidak salah, karena memang dibutuhkan orang-orang yang mau melayani Tuhan seperti Marta. Misalkan pada saat ada persekutuan, komsel, ataupun dalam ibadah di Gereja, kita pasti memerlukan orang-orang yang mau membantu menyiapkan alat musik, menyiapkan makanan, atau mengurus hal-hal sederhana seperti merapikan kursi-kursi dan lain sebagainya. Tetapi dalam melakukan pelayanan seperti itu, kita juga tidak boleh lupa akan hal yang penting, yaitu duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan Firman Tuhan, seperti apa yang Maria lakukan (ay. 39).

Duduk dekat kaki Tuhan artinya kita memiliki hubungan yang intim dan dekat dengan Tuhan, serta memiliki waktu khusus bersama Tuhan. Jika Tuhan Yesus saja mau untuk bangun pagi-pagi benar untuk berdoa kepada Allah Bapa (Mrk 1:35), bukankah kita juga harus melakukan hal yang demikian? Kita pun harus memiliki waktu khusus kita dengan Tuhan yang tidak terganggu oleh kesibukan kita sehari-hari.

Mendengarkan Firman Tuhan tentunya dapat dilakukan dengan cara menghadiri ibadah-ibadah yang ada, ataupun mungkin mendengarkan khotbah melalui media televisi, radio, kaset, atau CD, ataupun dengan membaca Firman Tuhan sendiri. Apapun caranya, Firman Tuhan harus menjadi santapan rohani kita setiap hari, karena manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat 4:4).

Hal ini harus menjadi perhatian bagi kita, terutama bagi kita yang saat ini sudah banyak melakukan pelayanan di Gereja maupun di tempat-tempat lain. Jangan sampai karena kita terlalu terfokus kepada pelayanan kita, akibatnya kita waktu pribadi kita dengan Tuhan pun menjadi tersita. Sebagai contoh, misalkan kita adalah guru sekolah minggu, jangan sampai kita sibuk mengajar anak-anak sekolah minggu di berbagai jam kebaktian sekolah minggu, tetapi kita sendiri lupa untuk mendengarkan khotbah Firman Tuhan. Atau misalkan kita adalah pengkhotbah, tetapi kita hanya membaca Firman saat menyiapkan khotbah kita. Kita harus mengerti dan mengutamakan hal-hal apa saja yang penting bagi kita, sama seperti Tuhan Yesus memuji Maria karena Maria telah mengambil bagian yang terbaik bagi dirinya (ay. 42).

Hal tersebut bukan berarti sibuk melayani Tuhan itu tidak penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita mengenal Tuhan yang kita layani. Jangan sampai pelayanan kita hanya sekedar pelayanan biasa, tanpa kita mengenal Tuhan yang kita layani. Ingat, dalam Matius 7:21-23, dikatakan bahwa akan banyak orang yang telah melayani Tuhan tetapi justru Tuhan mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah mengenal mereka. Lalu, siapakah yang selama ini mereka layani?

Marilah kita belajar dari Marta dan Maria dalam kisah yang kita baca. Tuhan tidak pernah melarang kita untuk melakukan pelayanan bagi Tuhan, melainkan Tuhan akan sangat senang ketika kita mau melayaniNya. Tetapi kita harus mengingat satu hal, yaitu bagaimanapun sibuknya kita dalam pelayanan, tentunya kita harus memiliki waktu khusus dengan Tuhan. Selain itu kita pun harus tetap memiliki kerendahan hati untuk mendengar Firman Tuhan, dan melakukannya juga dalam kehidupan kita sehari-hari.


Bacaan Alkitab: Lukas 10:38-42

10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.

10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,

10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."

10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,

10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Menjangkau Seluruh Dunia

Senin, 31 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Markus 16:15-20

“Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:15)


Menjangkau Seluruh Dunia


Siapa yang belum pernah mendengar perintah agung Tuhan Yesus? Pastinya minimal kita pernah mendengar perintah agung tersebut dalam Matius 28:18-20 yang berbunyi, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Ini adalah perintah terakhir Tuhan Yesus sebelum Ia naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Sama seperti kita pasti melakukan permintaan terakhir seseorang yang akan meninggal, tentunya kita harus melakukan apa yang Tuhan Yesus inginkan kepada kita untuk kita lakukan, terlebih hal tersebut adalah permintaan terakhir Tuhan Yesus.

Demikian juga dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil kepada segala makhluk (ay. 15). Jadi, bagaimana cara kita untuk pergi ke seluruh dunia? Haruskah kita menjadi seorang misionaris? Haruskah kita menjadi seorang penginjil yang pergi ke daerah-daerah terpencil di Afrika misalnya? Atau kita pergi ke suku-suku terpencil di Papua, di mana mungkin mereka masih menggunakan koteka, atau malah masih suka memakan daging manusia?

Jika itu memang benar-benar panggilan Tuhan bagi kita, mau tak mau kita harus menurut kepada kehendak Tuhan. Atau mungkin saja kita belum bisa meninggalkan pekerjaan dan keluarga kita saat ini, kita dapat membantu pelayanan pengabaran Injil melalui dukungan doa dan dana. Tetapi menurut saya, jika kita benar-benar ingin menjangkau ke seluruh dunia, saat ini ada sebuah metode yang menurut saya sangat bermanfaat untuk keperluan pengabaran Injil, yaitu dengan menggunakan internet.

Internet saat ini sudah sangat umum digunakan, bahkan menjangkau ke desa-desa di Indonesia. Kita dapat dengan mudah mengetahui berita terbaru hanya dengan membuka situs di internet, entah menggunakan komputer atau menggunakan handphone kita. Banyak contoh orang yang menjadi terkenal akibat internet, sebut saja video klip “Keong racun”, “Udin sedunia”, dan “Briptu Norman” yang populer lewat situs Youtube, belum lagi hal-hal lain yang populer melalui situs seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya. Tapi, pernahkah kita membayangkan untuk misalnya mengupload video khotbah di Youtube, atau jika kita berbakan dalam hal musik, kita memainkan lagu-lagu rohani dan menguploadnya di Youtube? Atau misalnya kita menulis kesaksian kita di akun Facebook dan Twitter kita atau menulisnya di blog kita? Dengan internet kita dapat menjangkau banyak jiwa bukan? Memang masih ada keterbatasan, tetapi coba kita pikirkan, jika Sinta dan Jojo, Udin, maupun Briptu Norman bisa terkenal lewat internet, mengapa kita juga tidak memikirkan dan melakukan sesuatu paling tidak supaya orang lain juga dapat mengenal keselamatan dari Tuhan Yesus? Bukankah itu sama saja dengan pengabaran injil?

Tuhan sendiri telah berjanji kepada murid-muridNya bahwa Tuhan akan memberikan tanda-tanda kepada orang percaya yang mau melakukan pekerjaanNya. Tuhan akan membuat kita mampu mengusir setan, berbicara dalam bahasa baru, selamat dari marabahaya, maupun menyembuhkan orang sakit (ay. 17-18). Jika tanda-tanda heran seperti ini saja telah dijanjikan oleh Tuhan, apalagi alasan kita untuk tidak mau mengabarkan Injil? Kita harus mengabarkan Injil agar orang lain yang kita kasihi juga diselamatkan dan tidak dihukum (ay. 16). Inilah motivasi utama kita, bukan untuk kepentingan kita sendiri, tetapi karena kita ingin agar orang lain juga dapat mengerti maksud Tuhan. Kita pun harus dapat mengikuti teladan murid-murid Yesus yang langsung mengerjakan perintah Tuhan tersebut setelah Tuhan Yesus terangkat ke surga (ay. 20).

Saya tidak mempermasalahkan bagaimana cara kita mengabarkan Injil, apakah menjadi misionaris, menjadi pendeta atau pengkhotbah, ataukah membagi kehidupan kita ke orang-orang terdekat kita, ataukah mendukung doa dan dana bagi pekerjaan pengabaran Injil, ataukah membagi ayat-ayat maupun tulisan-tulisan yang mengandung kebenaran Firman Tuhan melalui media internet, apapun yang anda dan saya pilih, selama kita lakukan dengan motivasi yang benar pasti berkenan di hadapan Tuhan. Mari kita memberitakan Firman Tuhan ke seluruh penjuru dunia, selagi masih ada kesempatan, karena akan ada waktunya di mana manusia tidak akan mau menerima Firman Tuhan karena mereka lebih memilih menuruti hawa nafsu mereka untuk mendengarkan hal-hal yang menyenangkan telinga mereka (2 Tim 4:2-3).


Bacaan Alkitab: Markus 16:15-20

16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

16:16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

16:17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,

16:18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."

16:19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.

16:20 Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Cemburu

Minggu, 30 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Keluaran 20:1-6

“…sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu…” (Kel 20:5)


Cemburu


Siapa yang sudah menikah atau minimal pernah pacaran pasti pernah mengalami cemburu. Kalau bukan kita yang cemburu kepada pasangan kita, mungkin justru pasangan atau pacar kita yang cemburu kepada kita. Sebagian orang yang menganggap cemburu itu adalah hal yang wajar, sebagian lagi menganggap cemburu adalah hal yang tidak wajar, bahkan mungkin beberapa orang yang menganggap cemburu adalah dosa. Sebenarnya apa sih yang Alkitab katakan tentang cemburu ini? Memang jika kita baca dalam 1 Korintus 13:4 dikatakan bahwa kasih itu tidak cemburu. Tetapi di dalam bacaan Alkitab kita pada hari ini justru dikatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang cemburu. Jadi mana yang harus kita ikuti?

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami dulu arti cemburu itu sendiri. Cemburu adalah salah satu tanda bahwa seseorang ingin selalu menjadi yang terutama bagi orang lain. Jika ada seorang suami yang lebih mengutamakan wanita lain ketimbang isterinya sendiri, tentunya wajar sang isteri cemburu kepada suaminya. Tetapi kalau dibalik, jika ada seorang wanita yang cemburu kepada suami dari orang lain, menurut saya hal tersebut adalah salah alamat. Demikian juga, dalam 1 Korintus 13 memang Rasul Paulus sedang menjelaskan tentang prinsip dasar kasih. Dalam kasih yang sempurna memang seharusnya tidak ada cemburu. Mengapa demikian? Karena jika ada dua pihak yang saling mengasihi dengan sempurna, maka masing-masing pihak akan mengutamakan pasangannya tersebut dan tidak akan terdistraksi dengan adanya orang lain selain pasangannya. Dalam kasih yang sempurna tidak ada cemburu, tetapi kalau kita baca dalam kitab Keluaran pasal 20 ini, Tuhan menegaskan bahwa ia adalah Tuhan yang cemburu, karena Tuhan tidak ingin bangsa Israel menomorduakan Tuhan dan berpaling kepada berhala-berhala lainnya.

Dalam ayat 2, Tuhan menegaskan bahwa Dialah yang telah membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Perbuatan Tuhan yang melepaskan bangsa Israel tersebut sesungguhnya telah dikatakan Tuhan kepada Abraham jauh sebelum bangsa Israel diperbudak di tanah Mesir (Kej 15:13-14). Perkataan Tuhan tersebut merupakan bagian dari perjanjian Tuhan dengan Abraham, sehingga dengan menegaskan bahwa Tuhan telah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, sesungguhnya Tuhan sedang menegaskan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang menepati janjiNya kepada Abraham.

Tuhan mengasihi bangsa Israel karena merekalah umat perjanjian yang telah dipilih Tuhan. Oleh karena itu Tuhan ingin menegaskan agar bangsa Israel tidak memiliki allah-allah lain (ay. 3). Tuhan ingin bangsa Israel juga mengasihi Tuhan dengan segenap hati mereka. Tuhan melarang bangsa Israel untuk membuat patung atau berhala-berhala lain apalagi untuk beribadah kepada patung dan berhala tersebut (ay. 4-5). Di mata Tuhan, ketika Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abraham yang selanjutnya diwakili oleh bangsa Israel sebagai keturunan Abraham, Tuhan ingin bangsa Israel menjadikan Tuhan sebagai Tuhan yang paling utama dalam kehidupan bangsa Israel. Tuhan, Allah kita adalah Allah yang cemburu. Jangan sampai membuat Tuhan kita cemburu dan marah. Ketika Tuhan sampai marah, maka Tuhan pun dapat membalaskan kesalahan kita hingga keturunan keempat kita (ay. 5). Akan tetapi bagi orang-orang yang setia, Tuhan berjanji akan menunjukkan kasih setianya kepada kita (ay. 6).

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadikan Tuhan sebagai yang utama dalam kehidupan kita? Atau mungkin kita masih menjadikan kepintaran kita, harta kita, keluarga kita, atau hal-hal lain sebagai yang utama dalam hidup kita? Segala sesuatu yang menggeser Tuhan dari kedudukan yang utama dalam kehidupan kita adalah berhala bagi Tuhan. Tuhan hanya ingin menjadi yang utama dalam kehidupan kita, entah kita dalam keadaan senang maupun sedih, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, Tuhan harus tetap menjadi yang terutama. Tuhan Yesus sendiri mengatakan hukum yang paling utama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37)




Bacaan Alkitab: Keluaran 20:1-6

20:1 Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

20:2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

20:6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.