Selasa, 03 Januari 2012

Jangan Menjadi Batu Sandungan


Selasa, 3 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Roma 14:13-18
“Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (Rm 14:13)


Jangan Menjadi Batu Sandungan


Beberapa hari yang lalu, isteri saya harus masuk rumah sakit karena demam. Usut punya usut, ternyata hal tersebut disebabkan karena ia terlalu banyak minum es. Sebenarnya ia tahu bahwa minum es tidak baik untuk kesehatannya, tetapi karena dalam beberapa kesempatan saat kami sedang makan baik di rumah maupun di luar rumah saya sering kali memesan es juga, sehingga akhirnya isteri saya tergoda juga untuk meminum es. Apa dampaknya? Hanya gara-gara es teh yang seharga dua ribu rupiah saja, isteri saya harus diopname dan menghabiskan biaya lebih dari seribu kali lipatnya.

Seringkali apa yang kita lakukan, walaupun hal tersebut tidak berdampak negatif kepada kita, tetapi sesungguhnya hal tersebut memiliki dampak negatif kepada orang lain yang ada di sekeliling kita. Dalam hal-hal rohani, mungkin saja kita telah memiliki tingkat iman yang dewasa dan tinggi, tetapi belum tentu orang lain memiliki tingkat iman seperti kita. Barangkali masih banyak orang-orang yang belum dewasa secara rohani sehingga apa yang kita lakukan, walau sebenarnya kita yakin bahwa hal tersebut tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, tetapi hal tersebut dapat menjadi batu sandungan bagi saudara-saudara kita yang lemah.

Oleh karena itu Firman Tuhan pada bacaan Alkitab kita hari ini berbicara agar kita tidak membuat saudara kita jatuh atau tersandung (ay. 13). Dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus menulis kepada jemaat Roma agar tidak saling menghakimi satu sama lain. Jika definisi menghakimi lebih condong melihat ke apa yang orang lain lakukan, definisi menjadi batu sandungan justru lebih condong melihat ke apa yang kita lakukan dan dampaknya kepada orang lain. Pada saat surat Roma ini ditulis, pada jemaat di kota Roma terjadi perselisihan mengenai makanan apa yang dapat dimakan oleh orang-orang percaya. Kemungkinan besar terdapat beberapa golongan yang mengutarakan pendapat berbeda. Golongan yang satu menyatakan bahwa orang percaya harus makan sayuran saja, golongan lain menyatakan bahwa semua makanan adalah halal (Rm 14:2), sementara golongan lainnya menyatakan bahwa anggur yang memabukkan tidak boleh diminum (Rm 14:21). Di sisi lain juga ada golongan yang menyatakan bahwa semua makanan yang telah dipersembahkan ke dewa-dewa tidak boleh dimakan oleh orang percaya (1 Kor 8:4-13). Semua ini akhirnya menimbulkan kebingungan dan perselisihan di antara orang percaya lainnya.

Apa reaksi Paulus terhadap perselisihan tersebut? Paulus tidak secara tegas menyatakan golongan mana yang benar. Sepertinya Paulus berpendapat bahwa makanan bukan sesuatu yang harus diatur secara ketat dalam doktrin jemaat mula-mula. Paulus berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hal ini mungkin didasari ucapan Tuhan Yesus yang menyatakan bahwa semua makanan adalah halal (Mrk 7:19). Oleh karena sebenarnya bagi orang-orang percaya tidak ada sesuatu larangan pun terhadap apa yang akan kita makan. Walaupun demikian, Paulus menasihatkan agar dalam hal makanan, jangan apa yang kita makan menjadi batu sandungan bagi orang lain (ay. 15).

Saya rasa hal ini pun masih terjadi di zaman sekarang ini, walaupun mungkin bukan dalam bentuk makanan, tetapi dalam banyak hal lainnya masih ada yang sering menjadi batu sandungan. Sebagai contoh, dalam hal berpakaian ketika beribadah di gereja, mungkin saja ada beberapa jemaat yang suka memakai baju yang agak “minim” saat pergi ke gereja. Bahkan suatu waktu di sebuah kota di pulau Jawa, saya pernah melihat suatu gereja dimana terdapat beberapa jemaat gadis yang masih muda menggunakan celana hotpants saat pergi ke gereja pada ibadah minggu. Memang dalam Alkitab tidak ada aturan yang mengharuskan seseorang menggunakan pakaian dengan warna khusus atau dengan seragam khusus, namun alangkah baiknya jika kita juga menggunakan pakaian yang rapi dan sopan. Saya yakin jika kita pergi ke gereja dan orang di depan kita menggunakan pakaian yang minim, entah itu tanktop atau rok mini pada saat ibadah, sekuat apapun iman kita, tetap saja kita akan cukup terganggu dengan pakaian orang di depan kita tersebut. Saya yakin, selain masalah pakaian, pasti cukup banyak hal yang dapat menjadi batu sandungan dalam kehidupan berjemaat.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Pertama kita pun harus sadar bahwa hal Kerajaan Allah bukan terletak pada hal-hal duniawi seperti makanan, minuman, pakaian, dan sebagainya, tetapi justru terletak pada hal-hal rohani yaitu kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (ay. 17). Saat kita memfokuskan diri kepada hal-hal rohani, maka Roh Kudus akan menuntun kehidupan kita sehingga apa yang kita lakukan akan menjadi hal-hal yang berkenan kepada Allah dan juga kepada manusia (ay. 18). Hal tersebut berarti semakin kita memfokuskan diri terhadap apa yang Allah inginkan dalam kehidupan kita, dan bukan kepada hal-hal duniawi dalam pelayanan maupun kehidupan berjemaat kita, maka kita pun tidak akan membuat orang lain tersandung.

Apapun tingkat iman kita saat ini, mari kita sama-sama belajar untuk tidak tersandung dan tidak menjadi batu sandungan. Jika saat ini kita pun masih belum terlalu dewasa dalam iman, mari kita belajar untuk tidak mempermasalahkan hal-hal yang tidak esensial. Mari kita belajar untuk terus bertumbuh dan mengikuti teladan Yesus Kristus tanpa mempermasalahkan hal-hal duniawi. Jika saat ini kita sudah cukup dewasa dalam iman, mari kita pun juga ikut belajar agar kita tidak membuat orang lain tersandung. Kita harus belajar bagaimana agar kehidupan kita sungguh-sungguh menjadi menjadi teladan bagi orang lain, seperti Paulus yang dapat berkata kepada jemaat di Korintus, “Turutilah teladanku!” (1 Kor 4:16).


Bacaan Alkitab: Roma 14:13-18
14:13 Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!
14:14 Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis.
14:15 Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.
14:16 Apa yang baik, yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah.
14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
14:18 Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.

Tuhan dapat Membuat Awal yang Kurang Baik Menjadi Akhir yang Baik


Senin, 2 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Matius 2:19-23
“Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.” (Mat 2:23)


Tuhan dapat Membuat Awal yang Kurang Baik Menjadi Akhir yang Baik


Saya melihat ada beberapa tren di antara para orang tua pada masa-masa belakangan ini. Mereka akan memberikan nama-nama yang “modern” dan tidak berbau “ndeso”. Bahkan di daerah desa saat ini sudah muncul nama-nama seperti “Robert”, “Michael”, dan nama-nama yang berbau kebarat-baratan, sedangkan nama-nama seperti “Mulyadi”, “Mulyono” dan sebagainya sepertinya semakin lama semakin ditinggalkan. Padahal nama “Mulyadi” dan “Mulyono” sesungguhnya merupakan harapan orang tua agar anaknya nanti menjadi orang yang “mulia”. Hanya karena gengsi, anak-anak zaman sekarang mulai diberikan nama-nama yang “go international”. Demikian juga dengan tempat kelahirannya, walaupun kedua orangtuanya berasal dari desa atau kota kecil, tetapi mereka mau bersusah payah untuk membawa isteri yang sedang melahirkan itu ke kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, atau bahkan mungkin sekalian ke luar negeri supaya di akta kelahiran anak tersebut, tertulis bahwa anak tersebut dilahirkan di kota Jakarta, Surabaya, Denpasar, atau mungkin di Singapura, London, atau bahkan di New York.

Ada apa di balik tren ini? Untuk masalah nama, saya rasa wajar karena semua orang juga pasti menginginkan anaknya mempunyai nama yang bagus. Tetapi untuk urusan kelahiran di kota-kota besar, jika memang alasan utamanya adalah untuk mencari rumah sakit bersalin yang bagus sehingga anaknya mendapatkan perawatan yang terbaik, menurut saya memang tidak masalah. Semua orang tua pasti menginginkan anaknya mendapatkan yang terbaik, termasuk pada saat kelahirannya. Tetapi jika orang tua tersebut hanya mendasarkan dirinya pada gengsi semata agar dalam akta kelahirannya, sang anak tercatat lahir di kota besar, saya rasa hal tersebut sudah menyimpang dari tujuan semula. Mungkin saja sang orang tua memiliki uang yang cukup untuk melahirkan di kelas 1 atau VIP pada rumah sakit terbaik di kotanya, tetapi karena ingin agar anaknya lahir di Jakarta, orang tua tersebut rela menghabiskan biaya untuk transportasi ke Jakarta (dengan resiko sang ibu harus menempuh perjalanan jauh), dan ternyata ketika sampai Jakarta, ternyata uang yang mereka siapkan hanya cukup untuk melahirkan di kelas 3 pada rumah sakit di Jakarta (karena biaya melahirkan di Jakarta pasti jauh lebih besar daripada biaya melahirkan di kota asal orang tua tersebut). Saya sendiri berpendapat, walau tempat kelahiran memang penting, tetapi menurut saya jauh lebih penting bagaimana orang tua menyiapkan langkah selanjutnya dari sang anak.

Ketika saya membaca Alkitab, saya melihat Tuhan Yesus saja dilahirkan bukan di Yerusalem (yang merupakan ibukota bangsa Israel pada saat itu), tetapi Tuhan Yesus dilahirkan di Betlehem, yang merupakan kota kecil pada saat itu, bahkan Nabi Mikha mengatakan bahwa Betlehem merupakan yang terkecil daripada kaum-kaum Yehuda (Mi 5:1), tetapi dari Betlehem itulah akhirnya lahir Yesus, Sang Juruselamat Dunia. Allah telah memilih Betlehem yang sebenarnya adalah kota kecil sebagai tempat di mana Yesus akan dilahirkan. Bahkan Tuhan Yesus sendiri pernah harus mengungsi ke Mesir (Mat 2:14), hingga akhirnya setelah Herodes mati, malaikat Tuhan menampakkan diri ke Yusuf agar membawa Yesus kembali ke tanah Israel (ay. 19-20). Walaupun demikian, Yusuf pun takut kembali ke Yudea karena Arkhelaus telah naik menjadi raja menggantikan Herodes, ayahnya. Sehingga malaikat Tuhan pun kembali menasehati Yusuf melalui mimpi untuk pergi dan tinggal di daerah Galilea, tepatnya di kota Nazaret (ay. 22-23).

Saya cukup heran juga mengapa Allah memilih Yesus untuk lahir di Betlehem, kemudian sempat pergi ke Mesir, dan tinggal di Nazaret sebelum akhirnya Yesus memulai tugas pelayananNya. Nazaret saat itu digambarkan sebagai suatu kota yang “kurang baik”. Hingga Natanael, orang yang dipanggil Yesus pun berkata bahwa “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Yesus sendiri (dan bahkan Tuhan Allah sendiri) tidak mempermasalahkan di mana Yesus lahir, di mana Yesus harus mengungsi, dan di mana Yesus bertambah besar. Sejelek apapun kota tempat tinggal Yesus di Nazaret, yang terpenting adalah bagaimana Yesus mengambil bagian dalam pelayanan setelah Ia menjadi dewasa.

Demikian juga dengan kita. Saya tidak tahu bagaimana kehidupan kita sebelumnya. Apakah kita berasal dari keluarga yang broken home? Apakah masa lalu kita adalah masa lalu yang sangat kelam dan kita bahkan ingin menghapus masa lalu tersebut dari kehidupan kita? Apapun latar belakang kita, saya sungguh percaya bahwa yang terpenting adalah saat ini kita tetap berjalan dalam Tuhan dan melakukan apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita.



Bacaan Alkitab: Matius 2:19-23
2:19 Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya:
2:20 "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati."
2:21 Lalu Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel.
2:22 Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea.
2:23 Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.


Awal yang Baik


Minggu, 1 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Kejadian 1:1-5
“Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.” (Kej 1:4)


Awal yang Baik


Kita seharusnya bersyukur bahwa hari pertama di tahun 2012 ini jatuh di hari minggu. Ini artinya kita dapat beribadah kepada Tuhan dalam ibadah di Gereja pada hari pertama di tahun ini. Saya sungguh bersyukur bahwa kita dapat mengawali tahun ini dan menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan. Bandingkan dengan apa yang kita lakukan setiap hari sebelum berangkat kerja, kita pasti menyerahkan seluruh hari yang akan kita jalani ke dalam tangan Tuhan, demikian juga pada tahun ini kita bersyukur bahwa di awal tahun, kita dapat menyerahkan seluruh tahun yang akan kita jalani ke dalam tangan Tuhan.

Jika kita melihat bagaimana kisah penciptaan langit dan bumi oleh Tuhan, kita dapat melihat sesuatu yang menarik dalam kisah penciptaan itu. Jika kita memposisikan diri kita sebagai Tuhan, kira-kira apa yang pertama kali kita ciptakan? Bumi, matahari, bintang-bintang, atau alam semesta? Ya sebagian besar di antara kita pasti akan menciptakan benda-benda di atas, tetapi tidak dengan Tuhan. Dikatakan bahwa ketika Allah menciptakan langit dan bumi (ay. 1), awalnya bumi belum berbentuk dan kosong (ay. 2). Kemudian Allah menciptakan hal yang pertama kali melalui Firman Allah, “Jadilah terang”. Ya, terang adalah hal pertama yang diciptakan oleh Tuhan Allah. Agak aneh memang ketika Allah menciptakan terang, namun sebenarnya benda-benda penerang di langit seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang diciptakan pada hari keempat (Kej 1:16 & 19). Walaupun banyak penafsiran tentang hal ini, tetapi menurut saya hal ini berarti bahwa terang itu adalah terang ilahi yang tercipta jauh sebelum terciptanya matahari, bulan, dan bintang. Artinya adalah bahwa terciptanya terang itu akan menjadi dasar dari segala hal yang akan diciptakan selanjutnya.

Apa yang terjadi setelah penciptaan pada hari pertama? Allah melihat bahwa terang itu baik, sehingga Allah kemudian memisahkan terang itu dari pada kegelapan (ay. 4). Sebenarnya, definisi terang dan gelap itu bukan sesuatu yang saling berlawanan. Kita dapat mengukur besarnya terang, tetapi kita tidak dapat mengukur besarnya gelap. Gelap adalah suatu kondisi dimana tidak ada terang. Alkitab tidak pernah menceritakan bahwa Allah menciptakan kegelapan, tetapi Allah menciptakan terang untuk mengusir kegelapan. Allah menciptakan terang agar dunia tidak lagi berada dalam kegelapan, tetapi agar dunia dapat melihat terang dan kegelapan tidak dapat lagi menguasai terang itu (Yoh 1:5).

Ketika Allah selesai menciptakan terang, maka jadilah hari pertama dalam proses penciptaan oleh Allah (ay. 5). Kita dapat melihat bahwa hari-hari penciptaan yang seluruhnya berjumlah 7 hari diawali oleh penciptaan terang pada hari pertama. Proses penciptaan terang ini memakan waktu satu hari penuh, bandingkan dengan penciptaan pada hari keenam di mana Allah menciptakan seluruh binatang dan manusia pada hari keenam (Kej 1:24-27). Itu berarti dalam penciptaan, Allah benar-benar mengawali penciptaan dengan sesuatu yang penting. Terang diciptakan terlebih dahulu sebelum hal-hal lainnya. Dengan diciptakannya terang pada hari pertama, segala sesuatu yang diciptakan kemudian akan tetap berada dalam terang itu sendiri. Apa yang Allah ciptakan pada hari kedua hingga keenam, bukan diciptakan dalam kegelapan, tetapi diciptakan dalam terang.

Jika Allah saja begitu mementingkan awal penciptaan langit dan bumi, bukankah kita sebagai manusian ciptaanNya juga harus mementingkan awal dari kehidupan kita? Memang kita sendiri tidak dapat mengatur bagaimana kita diciptakan, dan bagaimana kita dilahirkan di dunia ini. Tetapi ketika saat ini kita telah menyadari tentang kehidupan kita, bukankah kita seharusnya mengawali kehidupan kita dengan awal yang benar? Setiap hari sebelum kita beraktivitas, sudahkah kita mengawali hari kita dengan baik? Sudahkah kita berdoa kepada Tuhan sebelum kita beraktivitas di hari itu? Demikian juga pada setiap awal minggu, awal bulan, dan juga awal tahun 2012 ini, sudahkah kita mengawalinya dengan awal yang baik? Jika Tuhan saja mengawali hari-hari pelayanannya dengan berdoa kepada Tuhan pada pagi hari (Mrk 1:35), bukankah kita juga seharusnya bersikap seperti itu. Saya sungguh mengucap syukur jika semua di antara kita pada awal tahun tanggal 1 Januari 2012 memulai tahun tersebut dengan beribadah kepada Tuhan, memuji dan memuliakan nama Tuhan serta meminta Tuhan menuntun langkah kita. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, kita akan memiliki hidup yang berkemenangan, dengan tuntunan dari Tuhan dalam kehidupan kita. Kita akan menjadi seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, yang tidak layu daunnya, dan pa saja yang kita perbuat akan berhasil (Mzm 1:3).



Bacaan Alkitab: Kejadian 1:1-5
1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
1:3 Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.
1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Kamis, 29 Desember 2011

Jangan Kuatir akan Masa Depan


Sabtu, 31 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Matius 6:25-34
Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? (Mat 6:25)


Jangan Kuatir akan Masa Depan


Jika kita membaca di surat kabar atau mendengar di televisi, kita akan mendengar banyak kabar-kabar yang menakutkan yang akan terjadi di tahun 2012. Ada yang mengatakan bahwa tahun 2012 akan terjadi kiamat, ada yang mengatakan bahwa tahun 2012 akan terjadi resesi, dan lain sebagainya. Tentunya hal-hal tersebut dapat membuat kita takut dan kuatir, termasuk saya. Tetapi saya merasa sangat dikuatkan dengan satu syair lagu lama yang berbunyi demikian:

“Tak ku tahu kan hari esok, namun langkahku tegap
Bukan surya kuharapkan, karena surya kan lenyap
Oh tiada ku gelisah akan masa menjelang
Ku berjalan serta Yesus maka hatiku tenang
Reff:
Banyak hal tak kupahami dalam masa menjelang
Tapi terang bagiku ini, tangan Tuhan yang pegang”

Lirik lagu di atas memang merupakan lirik lagu lama, tetapi kata demi kata tertulis benar-benar mengena dalam hati saya. Ketika saya kuatir, saya suka menyanyikan lagu ini. Ketika saya takut, saya suka menyanyikan lagu ini, baik dalam bahasa Indonesia terlebih dalam bahasa Inggris. Kata-kata dalam lagu tersebut menguatkan saya bahwa dalam kondisi seburuk apapun, ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tetapi kita dapat melangkah maju karena Tuhan memegang tangan kita.

Sama seperti bacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan mengingatkan kita untuk tidak kuatir akan hidup kita. Sesungguhnya dalam hidup itu ada 2 hal yang penting, yaitu makanan dan minuman, serta pakaian (ay. 25 & 31). Jika ada makanan dan pakaian, maka seseorang pun akan dapat hidup. Makanan, pakaian, serta tempat tinggal, merupakan kebutuhan pokok manusia. Dan Tuhan Yesus pun mengatakan bahwa jika hanya untuk urusan makanan dan pakaian (kebutuhan pokok kita), Tuhan pasti akan menyediakan (ay. 32). Jika burung-burung di langit saja Tuhan berikan makanan (ay. 26), dan juga bunga bakung di ladang saja Tuhan dandani sedemikian indah (ay. 28-30), pastilah Tuhan akan menyediakan berkat-berkatNya kepada kita.

Segala kekuatiran kita tidak akan menambah umur kita, tetapi justru akan mengurangi umur kita (ay. 27). Orang yang hidupnya selalu kuatir pasti akan mengalami stress dan depresi yang otomatis akan mempengaruhi kesehatannya. Oleh karena itu, Tuhan berfirman agar kita tidak kuatir akan hari esok, karena hari esok pun memiliki kesusahannya sendiri (ay. 34). Tuhan mengajarkan kepada kita agar kita mencari dahulu kerajaan Allah, maka hal-hal lain akan ditambahkan kepada kita (ay. 33).

Suatu ketika saya dan isteri saya pernah hitung-hitungan mengenai penghasilan saya dan kebutuhan keluarga. Semua orang tahu bahwa penghasilan PNS tidaklah besar, kecuali jika saya mau korupsi. Dan ketika kami menghitung, rasa-rasanya kebutuhan tersebut jauh lebih besar daripada penghasilan saya, belum lagi jika menghitung biaya jika kami nanti memiliki anak, biaya pendidikan anak, dan segala kebutuhan-kebutuhan rumah tangga yang begitu banyak. Tetapi saat itu saya ingat saya berkata bahwa, “Jika Tuhan sudah mempercayakan kepada kita, maka Tuhan pasti akan mencukupkan segala sesuatunya”. Dan saat ini, ucapan saya pun sungguh-sungguh terbukti. Tuhan memberikan berkat kepada saya melalui banyak sumber (tentunya bukan dari hasil korupsi atau dari sumber yang tidak halal). Dan saat ini pun Tuhan telah mencukupi minimal kebutuhan untuk  biaya kelahiran anak saya.

Ketika di hari terakhir di tahun 2011 ini saya merenung, betapa Tuhan telah memberikan berkat-berkat yang luar biasa kepada keluarga saya, dan saya yakin pasti Tuhan pun telah memberikan berkat yang luar biasa juga kepada anda semua. Jika kita sungguh-sungguh mencari Tuhan, maka Tuhan sendirilah yang akan menambahkan hal-hal lain kepada kita. Jika Tuhan telah memberkati kita dengan luar biasa di tahun 2011 ini, mengapakah kita kuatir akan masa depan kita di tahun 2012? Mari kita melangkah menuju tahun 2012 dengan langkah yang tegap dan hati yang percaya bahwa Tuhan pasti tetap akan menyertai dan memberkati kehidupan kita di tahun yang akan datang, karena Tuhan sendiri telah berfirman bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita (Ibr. 13:5). Sungguh, masa depan kita telah ada di tangan Tuhan, di dalam Tuhan masa depan kita sungguh ada dan harapan kita tidak akan hilang (Ams 23:18).


Bacaan Alkitab: Matius 6:25-34
6:25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Janji Berkat Tuhan


Jumat, 30 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Bilangan 6:22-27
TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;” (Bil 6:24)


Janji Berkat Tuhan


Tidak terasa dua hari lagi kita akan memasuki tahun yang baru. Pernahkah kita sedikit melihat ke belakang bagaimana berkat Tuhan yang telah kita terima di tahun 2011 ini? Saya sendiri merasakan bagaimana di tahun 2011 ini berkat Tuhan begitu luar biasa dalam kehidupan saya. Memang perjalanan hidup saya di tahun 2011 sangat berliku, bahkan penuh dengan batu-batu besar yang menghalangi, tetapi justru di dalam kondisi yang sulit itu, saya dapat merasakan berkat Tuhan dan penyertaan Tuhan yang luar biasa.

Menyambut tahun 2012 yang akan kita masuki sebentar lagi, kita semakin membutuhkan berkat dan kasih Tuhan. Banyak orang memprediksi bahwa tahun 2012 akan menjadi tahun yang sukar, tetapi saya percaya, selama ada Tuhan di dekat kita, Tuhan mampu mengubah kesukaran itu menjadi sukacita, Tuhan mampu mengubah krisis menjadi sesuatu yang positif. Sama seperti bacaan Alkitab kita hari ini, dimana Tuhan memerintahkan Musa untuk menyampaikan kata-kata berkat yang harus diucapkan Harun sebagai imam kepada bangsa Israel (ay. 22-23). Berkat Tuhan tersebut dapat dibagi dalam beberapa hal penting, yaitu:

Pertama, Tuhan memberkati kita dan melindungi kita (ay. 24). Tidak hanya memberikan kita berkat, Tuhan pun memberikan perlindungan kepada kita. Berkat dan perlindungan adalah dua hal yang esensial dalam kehidupan orang percaya. Berkat yang Tuhan berikan kepada kita tidak akan hilang begitu saja, tetapi akan mendapatkan proteksi dan perlindungan dari Tuhan sehingga berkat tersebut akan semakin banyak dan melimpah dalam kehidupan kita.

Kedua, Tuhan menyinari kita dengan wajahNya dan memberi kita kasih karunia (ay. 25). Dalam beberapa ayat Alkitab, disebutkan bahwa kemuliaan Tuhan sangat luar biasa sehingga orang-orang yang bertemu muka dengan muka dengan Tuhan, tidak sanggup melihat Tuhan, seperti Elia (1 Raj 19:13). Musa yang bertemu muka dengan muka dengan Tuhan pun wajahnya menjadi bersinar karena kemuliaan Tuhan (Kel 34:35). Kemuliaan Tuhan adalah kemuliaan yang sempurna yang akan menyinari kehidupan kita. Kasih karunia secara ringkas dapat berarti kasih Tuhan yang memampukan kita untuk menjalani kehidupan kita. Jika jalan kehidupan kita saja sudah disinari oleh kemuliaan Tuhan dan sudah diberikan kasih karunia, maka kehidupan kita pun akan menjadi kehidupan yang luar biasa, yang memancarkan kasih Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita.

Ketiga, Tuhan menghadapkan wajahNya kepada kita dan memberi kita damai sejahtera (ay. 26). Ketika kita berdoa kepada Tuhan, Tuhan berjanji tidak akan memalingkan wajahNya tetapi akan menghadapkan wajahNya kepada kita. Hal tersebut berarti Tuhan akan mendengarkan doa-doa kita kepada Tuhan. Selain itu hal tersebut juga dapat berarti bahwa  hidup kita selalu ada dalam pengawasan Tuhan. Segala yang terjadi dalam kehidupan kita tidak lepas dari pandangan Tuhan. Kehidupan kita pun selalu penuh dengan damai sejahtera, sehingga dalam kondisi apapun, kita dapat tetap memiliki damai sejahtera dari Tuhan, karena kita tahu bahwa Tuhan selalu memperhatikan kehidupan kita.

Ini adalah janji-janji berkat yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel, yang tentunya juga berlaku bagi semua kita yang adalah orang percaya. Ketika kita membaca janji-janji ini, masihkah kita menjadi kuatir menghadapt tahun 2012? Tuhan sendiri berjanji bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita hingga akhir zaman (Mat 28:20). Kalaupun ada yang meramalkan bahwa tahun 2012 akan terjadi kiamat dan hal tersebut memang benar-benar terjadi, janji dan penyertaan Tuhan pun tetap berlaku atas kita karena Tuhan sendiri telah berjanji tetap menyertai kita hingga akhir zaman. Tidak akan ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Rm 8:35). Menyambut tahun 2012 yang akan datang, mari kita bersyukur kepada Tuhan atas berkat-berkatNya yang telah kita terima di tahun 2011, dan sebagaimana Tuhan telah menyertai kita di tahun 2011, maka kita pun tetap harus percaya bahwa berkat-berkat Tuhan akan tetap tercurah kepada kita di tahun 2012 yang akan datang.


Bacaan Alkitab: Bilangan 6:22-27
6:22 TUHAN berfirman kepada Musa:
6:23 "Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka:
6:24 TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
6:25 TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
6:26 TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
6:27 Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka."

Tetap Membangun Walau Banyak Kritikan


Kamis, 29 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Nehemia 4:1-6
Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati. (Neh 4:6)


Tetap Membangun Walau Banyak Kritikan


Beberapa waktu yang lalu, gereja tempat saya dulu pernah berjemaat berencana untuk membangun gerejanya menjadi lebih besar lagi. Awalnya gereja tersebut hanya terdiri dari satu lantai, tetapi kemudian Gembala Sidang memiliki visi untuk mengembangkan gereja menjadi empat lantai. Dari berita yang saya dengar, awalnya saya pun cukup heran mengapa kok gereja mau ditambah lantainya, sementara saat ini kondisi jemaat yang ada pun masih belum terlalu banyak. Awalnya saya berpikir, seharusnya pembangunan itu masih belum diperlukan, karena saat ini pun jumlah ibadah Minggu hanya dua kali saja. Menurut saya, andaikata jemaat bertambah pun masih dapat diantisipasi dengan penambahan jam ibadah Minggu.

Tetapi kemudian saya sadar, bahwa mungkin pandangan saya juga salah. Jika memang Tuhan yang berkehendak untuk membangun gereja tersebut, maka jika saya masih berpandangan seperti itu, saya akan menjadi lawan Tuhan. Berdasarkan informasi, dari jemaat yang cukup kecil, saat ini sudah terkumpul dana sebesar hampir setengah miliar rupiah. Memang masih jauh dari anggaran pembangunan, tetapi uang sebesar itu rasa-rasanya mustahil apabila dikumpulkan sendiri oleh jemaat yang menurut saya adalah jemaat-jemaat yang sederhana. Saya kemudian merubah pandangan saya akan rencana pembangunan tersebut. Menurut saya, jika memang itu adalah visi dari Tuhan, maka pasti akan terlaksana karena Tuhan sendiri yang menjadi pemimpin proyek. Tetapi jika itu hanyalah ambisi dari manusia saja (mungkin karena ingin memiliki gedung gereja yang besar seperti gereja-gereja lain), maka pastilah rencana itu tidak akan dapat terlaksana.

Apa yang saya alami hampir sama dengan apa yang dialami Nehemia ketika membangun tembok Yerusalem. Nehemia melihat keadaan kota Yerusalem yang tanpa tembok dan sangat prihatin, akibatnya Nehemia pun memutuskan untuk membangun tembok Yerusalem (Neh 2:17). Memang saat itu pembangunan tembok Yerusalem sangat mendesak untuk melindungi kota Yerusalem. Tetapi pada zaman dahulu pun, sudah ada pengkritik-pengkritik yang mencoba mengkritik usaha Nehemia tersebut. Salah satunya adalah Sanbalat (ay. 1) dan Tobia (ay. 3). Ketika Sanbalat mendengar rencana pembangunan tembok tersebut, ia pun mencoba mengolok-olok rencana tersebut, dan mencoba untuk melemahkan kondisi rakyat yang sedang membangun (ay. 2).

Kita tidak tahu apa motivasi Sanbalat dan Tobia melakukan hal tersebut, mungkin saja didasari oleh kepentingan politik atau kepentingan lain. Nehemia pun mendapat tekanan luar biasa dari kedua orang tersebut. Terkait sikap Sanbalat dan Tobia, Nehemia pun hanya menyerahkan kepada Tuhan. Nehemia tidak mengangkat tangan atas kedua orang tersebut, melainkan menyerahkan pembalasan kepada Tuhan (Rm 12:19). Nehemia tidak mau ikut campur terhadap ucapan-ucapan kedua orang tersebut, Tetapi Nehemia dan orang-orangnya tetap membangun tembok tersebut hingga akhirnya ujung tembok tersebut bertemu.

Apa yang menyebabkan akhirnya tembok Yerusalem dapat dibangun sempurna? Alkitab mengatakan bahwa hal tersebut dapat terjadi karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati (ay. 6). Ketika seseorang bekerja dengan sepenuh hati, terlebih apa yang dilakukannya itu memang adalah kehendak Tuhan, maka apa yang dikerjakannya pasti akan berhasil. Sedangkan jika orang mengerjakan sesuatu dengan tidak sepenuh hati atau mendua hati, maka ia pun tidak akan dapat tenang (Yak 1:8) sehingga apa yang dikerjakannya pun tidak akan maksimal.

Saya sendiri pernah berdiri di posisi orang-orang seperti Sanbalat dan Tobia, yang suka mengkritik orang lain, termasuk rencana-rencana dan program gereja. Tetapi saya kemudian berprinsip bahwa selama Tuhan yang punya visi, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, visi dan rencana Tuhan pasti akan terlaksana. Memang kadangkala gereja pun tetap perlu kritik yang membangun. Tetapi jika kritik tersebut hanya didasarkan atas iri hati maupun sikap hati yang tidak baik, maka kritik tersebut tidak akan membangun melainkan justru akan merugikan gereja itu sendiri. Oleh karena itu, saya rindu kita semua, dimanapun kita berjemaat, untuk tetap mendukung gereja kita masing-masing. Jika bukan kita, siapa lagi yang mau mendukungnya?


Bacaan Alkitab: Nehemia 4:1-6
4:1 Ketika Sanbalat mendengar, bahwa kami sedang membangun kembali tembok, bangkitlah amarahnya dan ia sangat sakit hati. Ia mengolok-olokkan orang Yahudi
4:2 dan berkata di hadapan saudara-saudaranya dan tentara Samaria: "Apa gerangan yang dilakukan orang-orang Yahudi yang lemah ini? Apakah mereka memperkokoh sesuatu? Apakah mereka hendak membawa persembahan? Apakah mereka akan selesai dalam sehari? Apakah mereka akan menghidupkan kembali batu-batu dari timbunan puing yang sudah terbakar habis seperti ini?"
4:3 Lalu berkatalah Tobia, orang Amon itu, yang ada di dekatnya: "Sekalipun mereka membangun kembali, kalau seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka."
4:4 Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan.
4:5 Jangan Kaututupi kesalahan mereka, dan dosa mereka jangan Kauhapus dari hadapan-Mu, karena mereka menyakiti hati-Mu dengan sikap mereka terhadap orang-orang yang sedang membangun.
4:6 Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.

Selasa, 27 Desember 2011

Berdoa Ketika Sakit


Rabu, 28 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Yakobus 5:3-18
Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. (Yak 5:14)


Berdoa Ketika Sakit


Saat saya menulis renungan ini, isteri saya sedang sakit yang saya sendiri tidak tahu sakitnya apa. Hanya gejalanya badan demam, batuk berdahak dan kemudian nafas terasa sesak. Sakitnya memang tidak parah, sehingga isteri saya pun tidak perlu dirawat ke rumah sakit. Dokter yang memeriksa isteri saya pun hanya meresepkan obat untuk rawat jalan.

Dalam Alkitab, sering dikisahkan bagaimana Tuhan Yesus maupun para muridnya, serta para rasul dan pemimpin jemaat di saat itu menyembuhkan orang-orang sakit dengan cara yang ajaib. Jika kita baca di Perjanjian Lama pun, banyak nabi-nabi Tuhan yang dapat menyembuhkan orang sakit dengan kuasa Tuhan. Memang tidak dapat dipungkiri, mujizat kesembuhan itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan jemaat dan orang-orang percaya. Banyak orang pasti akan menjadi percaya kepada kuasa Tuhan ketika mereka melihat ada kesembuhan yang terjadi.

Lalu bagaimana jika yang sakit adalah jemaat atau orang percaya? Dalam kitab Yakobus, kita menemukan bagaimana Yakobus memberikan saran-saran yang sederhana kepada orang percaya. Dikatakan bahwa ketika seseorang sedang mengalami penderitaan, Yakobus menyarankan agar sebaiknya orang tersebut berdoa (ay. 13). Berdoa di sini berarti meminta pertolongan Tuhan dalam penderitaannya tersebut. Khususnya bagi orang percaya yang sakit, Yakobus menyarankan agar sebaiknya orang tersebut memanggil para penatua jemaat agar mereka mendoakannya dan mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan (ay. 14).

Apa yang tertulis dalam ayat 14 ini memang tidak mutlak, terlihat dari kata “baiklah” yang juga digunakan di ayat 13. Hal ini berarti bahwa ini sebenarnya memang tindakan yang sebaiknya dilakukan orang percaya, yaitu:

Pertama, memanggil para penatua jemaat untuk mendoakannya. Tidak salah memang berdoa bagi diri sendiri. Tetapi para penatua jemaat memang memiliki tugas untuk memperhatikan jemaat-jemaat yang membutuhkan mereka. Untuk itulah tidak ada salahnya ketika kita sakit kita pun memberitahu orang-orang terdekat kita dalam jemaat. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah agar mereka dapat memperhatikan kita, dan juga dapat membantu mendoakan kita. Bukankah doa yang dinaikkan oleh beberapa orang akan lebih besar dampaknya dibandingkan dengan doa yang dinaikkan oleh kita seorang diri?

Kedua, mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Apa yang dimaksud dengan minyak di sini memang mengandung dua makna. Ada yang mengatakan bahwa minyak ini adalah minyak dalam artian obat (yang berarti bahwa doa disertai dengan tindakan nyata (minum obat) akan menyembuhkan orang percaya dari sakitnya), namun bisa juga minyak dalam artian memang minyak biasa sebagai simbol bahwa minyak itulah yang menjadi sarana penyembuhan orang percaya. Saya sendiri tidak dapat mengambil kesimpulan manakah makna yang benar, tetapi kita sebagai orang percaya pun harus lebih memfokuskan diri kepada Tuhan yang menyembuhkan kita dan bukan memperdebatkan definisi minyak dalam ayat ini.

Dalam ayat selanjutnya lebih banyak membahas tentang doa. Dikatakan bahwa doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu (ay. 15). Bahkan tidak hanya sakit jasmani yang disembuhkan, tetapi juga sakit rohani (dosa) pun dapat diampuni ketika doa tersebut sungguh-sungguh lahir dari iman. Oleh karena itu Yakobus menasihatkan agar orang percaya saling mengaku dosa dan saling mendoakan agar menjadi sembuh (ay. 16a). Memang dosa dan juga pun dapat menjadi penghalang doa kita (Yes 59:1-2). Oleh karena itu Yakobus mengingatkan orang percaya akan doa Elia, yang sebetulnya adalah orang biasa namun karena ia sungguh-sungguh berdoa, hujan pun tidak turun selama 3,5 tahun dan ketika ia berdoa lagi, hujan pun dapat turun kembali (ay. 17-18).

Yakobus memberikan satu bagian ayat yang sangat luar biasa bagi kita, yaitu di ayat 16b yang berbunyi “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya”. Apapun masalah yang kita hadapi, apakah itu sakit penyakit, atau masalah pribadi dan keluarga, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kita adalah orang-orang yang telah dibenarkan Tuhan (Rm 5:1, 8:30), sehingga bagian kita adalah berdoa dengan yakin agar kita dapat mengalami kuasa Tuhan. Jika ada di antara kita yang saat ini mengalami sakit, ingatlah bahwa bilur-bilur Yesus telah menyembuhkan kita (1 Pet 2:24), sehingga kita pun dapat berdoa dengan yakin dan penuh iman bahwa kita pasti sembuh.


Bacaan Alkitab: Yakobus 5:3-18
5:13 Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!
5:14 Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.
5:15 Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.
5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
5:17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.
5:18 Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.