Jumat, 27 Januari 2012

Makanan Rohani


Sabtu, 28 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Matius 4:1-4
Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat 4:4)


Makanan Rohani


Setiap orang pasti perlu makan setiap harinya. Bahkan, kebanyakan di antara kita minimal harus tiga kali makan pada pagi, siang, dan malam hari. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika cobaan pertama yang Iblis lakukan kepada Yesus adalah mencobai dalam hal makanan. Ya, cobaan apa lagi yang paling baik untuk dilakukan Iblis terhadap Yesus ketika Yesus telah berpuasa tidak makan selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun (ay. 1-2). Bayangkan jika kita tidak makan sesuatu apapun selama satu hari saja, pastilah kita sudah merasa sangat lapar, dan pasti pikiran kita tidak akan dapat fokus dan pasti pekerjaan kita akan terganggu. Bayangkan jika kita berada dalam posisi Tuhan Yesus, dimana kondisi kita sangat lapar dan mungkin saja sudah tidak dapat berpikir jernih.

Saya rasa, pada kondisi seperti itu, Iblis datang kepada Yesus pada saat yang tepat. Iblis tidak meminta Tuhan Yesus untuk menyembahnya, bukan itu, tetapi Iblis meminta Tuhan Yesus untuk memerintahkan batu-batu ini menjadi roti (ay. 3). Ya, itulah cobaan pertama yang dilakukan Iblis kepada Yesus. Saya berpikir, jika saya berada dalam posisi Tuhan Yesus, mungkin tanpa pikir panjang saya akan mengubah batu menjadi roti. Atau jika saya mau, bisa saja saya meminta malaikat untuk datang dan membawakan makanan kepada saya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan Yesus jika Ia mau melakukannya.

Jawaban Tuhan Yesus di ayat 4 sesungguhnya memiliki makna yang dalam. Tidak hanya menolak tawaran Iblis, Yesus juga mengutip ayat Firman Tuhan di dalam Perjanjian Lama yaitu di Ulangan 8:3. Walaupun demikian, kebenaran yang terkandung pada jawaban Yesus patut kita renungkan pada hari ini. Dalam jawabanNya, Yesus mengatakan bahwa manusia tidak hanya hidup dari roti (makanan jasmani) saja, tetapi juga dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (makanan rohani). Dengan kata lain, makanan jasmani itu berguna bagi tubuh jasmani, sedangkan makanan rohani bermanfaat untuk tubuh rohani kita.

Sebagaimana kita memerlukan makanan jasmani setiap hari, demikian juga kita memerlukan makanan rohani yaitu Firman Tuhan setiap hari pula. Kita tidak dapat merapel makanan jasmani kita, misalkan jatah tiga hari kita makan sekaligus kemudian kita tidak makan selama tiga hari ke depan. Sama seperti itu, kita pun butuh Firman Tuhan setiap hari, bahkan mungkin sebaiknya kita mengkonsumsi makanan rohani kita sebanyak tiga kali sehari, sama dengan makanan jasmani yang kita makan setiap harinya.

Memang ketika kita memutuskan untuk membaca Firman Tuhan secara rutin setiap harinya, kita kadang-kadang mendapatkan Firman Tuhan yang gampang dimengerti atau sesuai dengan kondisi kita saat membacanya. Namun seringkali Firman yang kita baca justru sulit untuk dimengerti. Jikalaupun kita dapat mengertinya, seringkali apa yang kita baca belum tentu cocok dengan kondisi yang kita alami. Terkait dengan hal itu, menurut pendapat saya kita harus memperlakukan Firman Tuhan seperti makanan jasmani kita. Pernahkah kita mengingat apa yang kita makan seminggu yang lalu? Tentu kebanyakan di antara kita akan menjawab tidak. Namun walaupun kita tidak ingat akan makanan yang kita makan seminggu yang lalu, tapi makanan tersebut pastilah memberikan tenaga dan membuat kita masih hidup hingga hari ini.

Jika tubuh kita memerlukan makanan jasmani setiap harinya, sudahkah kita memenuhi kebutuhan tubuh rohani atau jiwa kita? Jangan sampai jiwa kita kering karena kita tidak pernah memberikan makanan rohani kepada jiwa kita tersebut. Tidak ada kata terlambat, mulailah dari sekarang. Pasti tidak akan sulit untuk membaca satu pasal Alkitab setiap harinya. Kita bisa membaca Alkitab secara urut dari awal sampai akhir, kita bisa mendengarkan siaran di radio atau televisi, atau kita juga dapat membaca Firman Tuhan melalui sarana renungan harian yang bisa kita dapatkan dengan mudah. Apapun pilihan kita, mari kita berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan makanan rohani jiwa kita. Baca Firman Tuhan, renungkan, dan aplikasikan dalam kehidupan kita, niscaya kita akan menjadi orang-orang yang sehat secara rohani.


Bacaan Alkitab: Matius 4:1-4
4:1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
4:3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Rabu, 25 Januari 2012

Tetap Bersukacita dalam Kondisi Apapun


Jumat, 27 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Habakuk 3:17-19
Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Hab 3:18)


Tetap Bersukacita dalam Kondisi Apapun


Pernahkah kita mengalami sesuatu masalah atau pergumulan yang sangat berat, hingga rasa-rasanya kita sudah tidak mampu lagi untuk menjalani hidup ini? Bagaimana perasaan kita saat itu? Lalu apakah yang kita lakukan? Ketika kita membawa pergumulan atau masalah tersebut kepada Tuhan, apakah kita masih dapat mengucap syukur kepada Tuhan?

Seringkali masalah atau pergumulan hidup membuat kita tidak dapat lagi mengucap syukur kepada Tuhan. Hal tersebut juga dapat terjadi bukan hanya kepada kita, tetapi juga dapat dialami oleh para hamba-hamba Tuhan yang cukup terkenal. Tidak ada orang yang tidak memiliki masalah atau pergumulan. Semua orang pasti pernah mengalami permasalahan yang sulit dan menekan hidupnya. Tetapi justru ketika menghadapi masalah itulah terlihat bagaimana iman dari orang yang mengalami masalah tersebut. Orang yang memiliki iman pasti masih dapat mengucap syukur kepada Tuhan, sementara orang yang kurang beriman pastilah juga kurang dapat mengucap syukur kepada Tuhan. Orang yang tidak punya iman justru akan menyalahkan dan mengutuk Tuhan atas masalah yang ia hadapi.

Bacaan Alkitab kita pada hari ini menulis tentang kondisi ekstrim yang mungkin dialami oleh semua orang. Pada saat kitab Habakuk ini ditulis, kebanyakan masyarakat yang tinggal di Kanaan hidup dari kegiatan agraris, yaitu bercocok tanam dan berternak. Jadi, bayangkan ayat 17 sebagai suatu kondisi dimana seluruh tanaman yang sedang ditanam tiba-tiba habis begitu saja. Pohon ara, pohon anggur, pohon zaitun tidak berbuah, serta hasil ladang pada saat itu tidak menghasilkan apapun, entah karena hama, banjir, atau justru karena kekeringan. Jika semua tanaman saja tidak menghasilkan, tentu saja tidak ada bahan makanan bagi ternak-ternak. Kambing dan domba yang membutuhkan banyak rumput terhalau dari kandang, apalagi lembu dan sapi yang membutuhkan lebih banyak rumput daripada kambing dan domba. Jika diibaratkan dengan peribahasa, hal tersebut sama saja dengan sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Bagaimana jika kita berada di dalam kondisi seperti itu? Nabi Habakuk sendiri berkata bahwa ia akan tetap bersorak-sorak dan bersukacita di dalam Tuhan (ay. 18). Bagaimana mungkin seseorang yang berada dalam kondisi seperti itu masih dapat bersukacita? Saya sendiri juga masih meragukan apakah saya dapat tetap bersukacita seperti itu ketika menghadapi sejumlah masalah dalam kehidupan saya.

Salah satu kunci untuk tetap bersukacita ketika masalah datang adalah mencari hal yang dapat kita jadikan alasan untuk bersyukur. Mungkin saja semua kekayaan kita habis, tetapi kita tetap masih dapat bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesehatan. Mungkin juga kita akhirnya mengalami sakit penyakit yang parah, tetapi kita tetap masih dapat bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kita untuk tetap hidup. Contohlah Ayub yang dalam ujian kehidupan yang dialami, masih tetap dapat berkata “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (Ayb 1:21). Alkitab dua kali mengatakan bahwa dalam ujian yang dihadapi, ketika Ayub kehilangan seluruh kekayaannya, anak-anaknya, bahkan ketika ia menderita penyakit, Ayub tidak berdosa dengan bibirnya (Ayb 1:22 & 2:10).

Kita harus percaya bahwa Allah itu adalah Allah yang selalu memberikan kekuatan kepada kita bahkan ketika kita menghadapi hal-hal yang sulit sekalipun (ay. 19). Ketika kita mengalami masalah yang begitu berat, di situ kita harus sadar bahwa kita tidak mungkin mengatasi masalah sendirian dengan kekuatan kita. Kita membutuhkan Tuhan untuk menyelesaikan masalah kita. Seringkali kita melihat masalah begitu besar hingga kita tidak melihat Tuhan yang jauh lebih besar dari masalah kita, bahkan lebih besar dari apapun yang dapat kita bayangkan (Ef 3:20). Jadi, masihkah kita meragukan Tuhan ketika kita menghadapi masalah? Bukankah masalah itu seharusnya tidak dapat merampas sukacita yang telah diberikan Tuhan kepada kita?


Bacaan Alkitab: Habakuk 3:17-19
3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
3:19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

Bagaimana Seharusnya Perempuan Berdandan


Kamis, 26 Januari 2012
Bacaan Alkitab: 1 Timotius 2:9-10
Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana ...” (1 Tim 2:9a)


Bagaimana Seharusnya Perempuan Berdandan


Pernahkah kita melihat penampilan artis-artis atau selebritis ketika mereka tampil di atas panggung atau sedang bermain film? Tentu mereka terlihat cantik bukan? Tetapi pernahkah kita melihat mereka pada saat bangun tidur atau pada saat tidak memakai make-up? Apakah mereka memang benar-benar cantik atau hanya cantik karena polesan bedak dan lipstik?

Seringkali manusia, terutama kaum hawa, sangat mementingkan penampilan fisik mereka. Masalahnya, di Indonesia ini, banyak wanita yang melihat penampilan orang lain yang kelihatannya lebih baik atau lebih menarik dan ingin menjadi sama dengan mereka. Contohnya saja, orang Indonesia yang memiliki rambut hitam justru mengecat rambutnya dengan warna coklat dan pirang. Padahal orang luar negeri yang berambut pirang justru sangat menginginkan mereka berambut hitam. Produk pemutih kulit sangat laku di Indonesia, karena orang-orang yang berkulit lebih gelap ingin memiliki kulit yang lebih putih. Padahal, orang bule yang berkulit putih justru senang berjemur di pantai agar kulit mereka menjadi lebih hitam. Dan banyak lagi hal lain yang dapat dijadikan contoh betapa banyak orang yang lebih suka memperbaiki penampilan fisik mereka.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius sekitar dua ribu tahun yang lalu, menasehatkan para perempuan untuk berdandan dengan pantas, sopan, dan sederhana (ay. 9a). Ketiga prinsip tersebut yaitu pantas, sopan, dan sederhana menjadi kunci bagaimana seorang perempuan berdandan. Tidak salah seorang perempuan berdandan, tetapi harus juga memperhatikan kepantasan. Jangan sampai misalnya seseorang datang ke Gereja hanya menggunakan piyama. Selain itu, dalam berdandan juga harus memperhatikan kesopanan. Jangan sampai misalnya seseorang yang menjadi worship leader memakai pakaian yang minim atau memakai rok mini. Terakhir, mengenai keserhanaan, Paulus dengan jelas menekankan beberapa contoh praktis dandanan perempuan yang sederhana: tidak berkepang-kepang (dalam konteks ini berarti tidak memakai dandanan atau perhiasan yang berlebihan pada rambut), dan tidak memakai aksesoris atau pakaian yang mahal-mahal (ay. 9b).

Apa yang disampaikan Paulus dalam Alkitab tersebut tentunya masih relevan sampai saat ini, bahkan sebetulnya tidak hanya bagi kaum perempuan, tetapi juga bagi kaum pria. Kita semua tidak boleh hanya fokus terhadap dandanan yang terllihat dari luar atau dandanan jasmani saja. Kita semua perlu mendandani diri kita masing-masing agar ketika beribadah, Tuhan dapat melihat kita beribadah sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Tuhan (Rm 12:1).

Tuhan ingin agar kita sebagai anak-anakNya tidak hanya mementingkan penampilan luar saja. Tetapi justru Tuhan ingin kita berdandan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang menyenangkan hati Tuhan (ay. 10). Ingat, Tuhan kita bukanlah Tuhan yang melihat apa yang dilakukan orang di luar saja, tetapi Tuhan kita adalah Tuhan yang melihat hati (1 Sam 6:17). Ia tahu motivasi kita ketika kita melayani, apakah untuk memuliakan Tuhan atau hanya untuk mencari kesenangan pribadi saja. Sudahkah kita mendandani diri kita agar kita tampil menarik di hadapan Tuhan? Ingatlah bahwa kita semua adalah mempelai perempuan Kristus. Kita pun harus selalu siap sedia menyambut kedatangan Kristus sebagai mempelai pria kita.


Bacaan Alkitab: 1 Timotius 2:9-10
2:9 Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal,
2:10 tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.

Senin, 23 Januari 2012

Peringatan kepada Orang-orang Kaya


Rabu, 25 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Yakobus 5:1-6
Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka [Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi] ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” (Mat 23:3)


Peringatan kepada Orang-orang Kaya


Saya rasa tidak ada seorangpun di antara kita yang tidak ingin menjadi orang yang kaya, sukses dan berhasil. Seingat saya, tidak ada buku di toko buku yang mengajarkan dan mengajak pembacanya untuk menjadi miskin dan gagal. Semua orang ingin kaya, bahkan beberapa orang rela melakukan apa saja demi menjadi kaya. Mereka mencuri, merampok, melakukan korupsi agar menjadi kaya, bahkan ada juga yang sampai meminta kekayaan dari Iblis dengan mendatangi tempat-tempat pesugihan. Alkitab sendiri tidak melarang anak-anak Tuhan menjadi kaya, tetapi Alkitab memberi peringatan kepada orang-orang kaya, yang salah satunya akan kita pelajari pada hari ini.

Ketika saya membaca bacaan Alkitab kita pada hari ini, saya tertegun, mengapa sampai Tuhan melalui Yakobus yang menulis kitab ini mengatakan kepada orang kaya untuk menangis dan meratap atas sengsara yang akan menimpa mereka (ay. 1)? Apakah menjadi orang kaya adalah sesuatu dosa di hadapan Tuhan? Tentu saja tidak. Tuhan tentu juga ingin memberkati kita dan membuat kita berhasil. Tetapi yang Tuhan tidak sukai adalah ketika orang kaya tersebut lebih terfokus kepada kekayaannya daripada Tuhan. Orang-orang yang seperti itu, kekayaannya sudah busuk (ay. 2), dan bahkan emas dan perak yang dikumpulkannya pun akan menjadi berkarat (ay. 3). Orang-orang yang seperti ini tentu lebih memilih mengumpulkan harta di dunia daripada mengumpulkan harta di surga (Mat 6:19-20).

Terlebih lagi, Yakobus mengecam orang-orang kaya yang menjadi kaya dengan menginjak-injak orang lain, termasuk orang-orang di bawahnya dan orang-orang miskin. Mereka menahan upah dari buruh-buruh yang bekerja pada mereka (ay. 4). Jika ditarik ke konteks saat ini, mungkin saja mereka memberikan upah yang tidak memadai atau dibawah standar kepada para pekerja mereka. Tentunya orang yang dibayar dengan tidak memadai akan berkata negatif kepada orang yang mempekerjakan mereka bukan? Tuhan berkata bahwa Tuhan mendengar setiap keluhan orang-orang yang dizalimi, orang-orang yang dibayar dengan tidak pantas, dan orang-orang yang ditahan upahnya.

Yakobus juga mengecam orang-orang kaya yang berfoya-foya di tengah kondisi orang lain yang memprihatinkan (ay. 5). Kita patut memperhatikan hal ini, terutama kondisi di bangsa ini dimana orang bisa mengadakan pesta pernikahan hingga memakan biaya hingga bermiliar-miliar namun tidak pernah membantu orang-orang miskin yang ada di sekitarnya. Ingatlah akan cerita tentang orang kaya yang berpakaian serba ungu dan Lazarus, sang pengemis dalam Alkitab, bagaimana pada hari penghakiman, orang kaya tersebut akhirnya masuk ke dalam neraka karena ia hidup berfoya-foya tanpa memperhatikan orang-orang miskin di sekitarnya (Luk 16:19-31).

Tidak ada yang salah dengan menjadi kaya, yang salah adalah ketika hati kita terfokus pada kekayaan itu sendiri dan bukan kepada Tuhan yang memberikan kekayaan kepada kita. Mungkin saja kita pun tetap beribadah kepada Tuhan, tetapi hati kita lebih terfokus kepada berkat-berkat dari Tuhan dan bukan kepada Tuhan yang memberi berkat tersebut. Alkitab mengatakan bahwa di mana harta kita berada, di situ juga hati kita berada (Luk 12:34). Oleh karena itu, jika Tuhan memberkati kita sehingga kita menjadi orang yang kaya dan berhasil, kita juga perlu menempatkan kekayaan kita itu dalam kerajaan surga, sehingga hati kita pun tetap terfokus kepada hal-hal yang surgawi dan bukan hal-hal duniawi. Jadilah orang kaya di dunia, dan juga orang kaya di surga. Muliakanlah Tuhan dengan harta kita dan kekayaan kita (Ams 3:9a).


Bacaan Alkitab: Yakobus 5:1-6
5:1 Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!
5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!
5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.
5:4 Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu.
5:5 Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.
5:6 Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.

Menguji Integritas


Selasa, 24 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Matius 23:1-4
Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka [Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi] ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” (Mat 23:3)


Menguji Integritas


Suatu hari ketika bensin di motor saya akan habis, saya pun mengisi bensin di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang mengklaim bahwa takaran di sana adalah takaran yang pas. Lokasi SPBU tersebut terletak di tempat yang strategis di daerah tempat saya tinggal. Memang beberapa tahun yang lalu saya pernah mengisi bensin di situ namun hasilnya mengecewakan karena saya merasa bahwa takarannya kurang pas, oleh karena itu saya tidak pernah mengisi bensin di SPBU itu lagi selama beberapa tahun. Tetapi ketika saat itu bensin motor saya memang sangat kritis dan saya melihat bahwa SPBU tersebut sudah berani memasang logo yang menyatakan bahwa takarannya pasti pas, tentunya saya berharap bahwa SPBU tersebut memang sudah benar-benar pas.

Apa yang tejadi, ternyata saat itu cukup banyak sepeda motor yang mengisi bensin di sana. Saat itu saya berpikir tentu SPBU ini sudah menjadi lebih baik lagi sampai-sampai cukup banyak motor yang mengisi bensin di sana. Tetapi ternyata saya tertipu. Setelah saya perhatikan lagi, banyak motor yang mengisi di sana meminta kuitansi tertentu dari petugas SPBU tersebut. Setelah saya perhatikan, mereka umumnya mengisi bensin sebesar Rp10.000,00 namun mengambil kuitansi yang bertuliskan Rp15.000,00. Saya berpikir, wah ini  tentunya tidak benar. Ternyata walaupun SPBU tersebut mengklaim bahwa takarannya sudah pasti pas, namun dalam kenyataannya tidak seperti itu. Ternyata integritas memang sudah sulit ditemukan sekarang ini terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

Bicara tentang integritas, ada banyak yang membuat definisi tentang integritas itu sendiri. Tetapi menurut saya, secara sederhana integritas berarti melakukan apa yang kita katakan dan mengatakan apa yang kita lakukan. Dengan kata lain, ada kesatuan (integrity) antara perkataan dan perbuatan kita. Contoh paling sederhana dalam kasus SPBU di atas, seharusnya jika SPBU tersebut mengklaim bahwa takarannya sudah pasti pas, SPBU itu tidak mungkin membuat kuitansi dengan jumlah yang tidak seharusnya. Saya berpendapat, bahwa jika SPBU tersebut berani memberi kuitansi Rp15.000,00 kepada pembeli yang mengisi Rp10.000,00, tentunya saya tidak dapat menjamin bahwa ketika saya mengisi Rp10.000,00, saya akan mendapatkan bensin senilai Rp10.000,00. Bagaimana saya bisa percaya lagi dengan SPBU tersebut ketika saya sudah meragukan integritas dari SPBU tersebut?

Sama seperti Tuhan Yesus yang mengkritik sikap dari ahli-ahli Taurat dan orang Farisi di zamanNya. Mereka ini adalah orang-orang yang berprofesi sebagai imam dan pelayan-pelayan Tuhan (ay. 2). Seharusnya mereka pun menjadi teladan bagi umat atau bangsa Israel dalam segala hal, terutama dalam hal-hal rohani seperti ibadah dan ajaran-ajaran mereka. Tetapi kenyataannya, Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya dan kepada orang banyak untuk melakukan apa yang ahli-ahli Taurat dan orang Farisi ajarkan kepada mereka, tapi jangan menuruti perbuatan-perbuatan ahli Taurat dan orang Farisi tersebut (ay. 3). Dengan kata lain, tidak ada integritas antara perkataan dan perbuatan dari ahli Taurat dan orang Farisi tersebut.

Apa yang Yesus kritik dari sikap ahli Taurat dan orang Farisi tersebut adalah bahwa mereka meletakkan beban berat kepada bangsa Israel, tetapi mereka sendiri tidak mau menanggung beban tersebut (ay. 4). Mereka membuat begitu banyak peraturan-peraturan yang njelimet, namun sebenarnya peraturan-peraturan tersebut tidak ada hubungannya dengan ajaran Musa atau ajaran Yahudi. Mereka membuat peraturan-peraturan baru demi keuntungan mereka sendiri. Mereka memberatkan kehidupan umat dan bangsa Israel demi kesenangan diri mereka sendiri.

Saya akui memang susah mencari orang-orang yang berintegritas belakangan ini. Saya sendiripun masih dalam tahap belajar dan terus belajar untuk menjadi orang yang memiliki integritas dalam kehidupan saya. Saya merasa bahwa sebagai penulis renungan, hidup saya pun harus sesuai dengan apa yang saya tulis. Jangan sampai saya menulis sesuatu yang tidak bisa saya lakukan. Tuhan nanti akan menghakimi saya berdasarkan apa yang saya tulis dan apa yang saya lakukan. Tetapi terlepas dari semuanya itu, Tuhan kita menghendaki anak-anakNya memiliki integritas dalam kehidupannya. Tuhan ingin agar kita tidak hanya menjadi pendengar Firman ataupun pemberita Firman, tetapi Tuhan ingin agar kita semua menajdi pelaku-pelaku Firman Tuhan (Yak 1:22). Jadi, marilah hari ini kita mengambil komitmen untuk memiliki hidup yang berintegritas dalam Firman Tuhan, sehingga hidup kita tersebut menjadi kesaksian yang hidup bagi siapa saja yang melihatnya.


Bacaan Alkitab: Matius 23:1-4
23:1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:
23:2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.
23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.
23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Tahun Naga


Senin, 23 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Wahyu 12:7-9
Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.” (Why 12:9)


Tahun Naga


Hari ini adalah Tahun Baru Cina atau Imlek bagi mereka yang merayakannya. Dalam suasana Imlek ini, hampir seluruh pusat perbelanjaan terutama yang berada di kota-kota besar seperti Jakarta penuh dengan suasana merah yang meriah. Ada lampion di mana-mana, ada barongsai, dan juga ada amplop-amplop angpao yang biasanya digantung di pohon-pohon. Tidak ada salahnya memang menyambut Tahun Baru Cina dimana saat ini menurut perhitungan Cina kita akan memasuki Tahun Naga Air. Di beberapa tempat, malah banyak pernak-pernik berbentuk atau bergambar naga yang dijual dalam rangka menyambut Tahun Baru Cina ini.

Saya sendiri mencoba mencari apakah yang dikatakan Alkitab tentang Naga? Tentunya saya di sini bukan mencampuradukkan antara ajaran Alkitab dengan tradisi Cina. Tetapi saya akan lebih berfokus kepada apa yang dikatakan Alkitab. Ketika saya membaca Alkitab, sebagian besar kata “naga” merujuk ke hal-hal yang negatif, yaitu kepada Iblis. Saya sendiri masih belum mengerti mengapa Alkitab selalu merujuk “naga” kepada hal-hal yang negatif, tetapi tradisi Cina sendiri lebih melihat “naga” sebagai hal yang positif, penuh dengan kekuatan dan kekuasaan.

Saya sendiri mencoba melihat beberapa ayat di Alkitab yang menyebut tentang naga, yaitu dalam bacaan Alkitab kita hari ini. Dikatakan bahwa muncullah peperangan di surga, dimana Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga dan malaikat-malaikat dari naga tersebut (ay. 7), dan akhirnya naga dan malaikat-malaikat dari naga tersebut tidak dapat bertahan dan tidak mendapat tempat di surga lagi (ay. 8). Saya penasaran, apa yang dimaksud dengan naga dalam ayat 7 ini? Dalam ayat 3 dan 4 dari pasal ini disebutkan bahwa muncul seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota, dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Naga itu ingin menelan anak dari perempuan yang akan melahirkan. Lebih lanjut lagi, jika kita baca di ayat 9, naga besar itu merupakan gambaran dari Iblis atau Satan, yang tujuannya menyesatkan seluruh dunia.

Ketika kalah dalam peperangan melawan Mikhael dan malaikat-malaikat Tuhan, akhirnya Iblis beserta malaikat-malaikatnya dilemparkan ke bawah, yaitu ke bumi dengan tujuan untuk menyesatkan seluruh dunia. Oleh karena itu, tanpa berpikir negatif tentang tradisi Cina yang menyatakan bahwa naga adalah gambaran kekuatan dan kekuasaan, kita pun perlu waspada menyambut Tahun Naga Air ini. Bisa jadi itu adalah gambaran dari apa yang akan terjadi di tahun 2012 ini. Naga atau Iblis akan muncul dan menyesatkan orang-orang yang tidak waspada dan tidak berjaga-jaga.

Saya sendiri bukan ahli dalam menafsirkan kitab Wahyu atau terkait ajaran tentang akhir zaman. Tetapi kita perlu waspada karena seringkali Iblis mencoba memberi gambaran yang palsu mengenai dirinya. Iblis yang digambarkan sebagai naga dalam Alkitab, kemudian mencoba menjadikan naga sebagai gambaran dari sesuatu yang baik. Bisa jadi melalui shio dalam tradisi Cina dimana naga digambarkan sebagai makhluk yang kuat dan berkuasa, atau melalui film-film yang menggambarkan naga sebagai sosok yang baik. Kita patut waspada karena Iblis pun dapat menyamar menjadi malaikat terang (2 Kor 11:14).

Walaupun demikian, saya berpendapat tidak ada salahnya kita menyambut Tahun Baru Cina ini dengan penuh sukacita, sepanjang memang apa yang kita lakukan itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan. Tradisi seperti makan bersama ketika Imlek, memberi angpao, dan sebagainya rasa-rasanya bukan sesuatu yang salah. Kita perlu tetap optimis menyambut tahun ini, kita perlu tetap mengandalkan Tuhan dalam menyambut tahun yang dikatakan orang sebagai “Tahun Naga” ini, agar jangan sampai kita lebih terfokus kepada “Naga” tapi bukan kepada Tuhan. Akan lebih bahaya lagi jika fokus kita justru kepada “Naga” yang adalah “Iblis”. Justru di saat memasuki tahun ini, kita harus lebih dekat dan berfokus kepada Tuhan, yang nantinya akan mengalahkan “Naga” alias Iblis itu (Why 20:2).


Bacaan Alkitab: Wahyu 12:7-9
12:7 Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu  dibantu oleh malaikat-malaikatnya,
12:8 tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga.
12:9 Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Menjadi Orang yang Berhasil Dimanapun Berada


Minggu, 22 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Kejadian 39:21-23
Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.” (Kej 39:23)


Menjadi Orang yang Berhasil Dimanapun Berada


Saya memperhatikan tren belakangan ini, seringkali bahwa seseorang yang telah sukses di suatu posisi tertentu, belum tentu dapat sukses di posisi atau di tempat lain. Sebagai contoh, sejumlah pemain sepakbola yang cukup sukses di klub lamanya, ketika pindah ke klub baru ternyata mengalami kesulitan dalam beradaptasi dan akhirnya justru tampil buruk. Atau sejumlah orang yang terlihat hebat di posisi tertentu di sebuah perusahaan atau instansi, ketika dimutasi ke bagian yang sulit atau ke daerah terpencil, justru tidak dapat bersinar lagi.

Tetapi lain halnya dengan Yusuf. Yusuf adalah orang yang berasal dari keluarga Yakub yang kaya raya. Ia adalah anak kesayangan Yakub, dan tentu saja ia mendapatkan fasilitas yang luar biasa mewah dari Yakub. Tetapi hal itu seakan berubah ketika saudara-saudara Yusuf menangkapnya dan menjualnya sebagai budak. Dari anak kesayangan orang kaya menjadi budak, suatu kondisi yang sangat jauh sekali. Tetapi Yusuf pun berhasil mengatasinya saat menjadi budak di rumah Potifar, kepala pengawal Firaun. Yusuf pun akhirnya selalu berhasil dalam mengerjakan segala sesuatu di rumah Potifar tersebut sehingga Potifar pun mengangkat Yusuf sebagai kepala atas segala sesuatu di rumahnya (Kej 39:1-6).

Tapi setelah sepertinya semua berjalan sesuai dengan rencana, terjadi sesuatu yang akhirnya membuat hidup Yusuf berantakan. Karena tidak mau menuruti ajakan isteri Potifar, akhirnya Yusuf pun dijebloskan ke dalam penjara. Baru saja kondisi Yusuf berangsur-angsur membaik, ia akhirnya harus jatuh lebih dalam lagi dari sebelumnya. Jika sebelumnya ia hanya menjadi budak, sekarang ia pun harus menjadi tahanan di penjara. Tetapi ternyata itu bukanlah akhir dari kisah hidup Yusuf. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan senantiasa menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setiaNya kepada Yusuf. Bahkan Yusuf menjadi kesayangan bagi kepala penjara itu (ay. 21).

Menjadi kesayangan kepala penjara tentunya bukan dalam konteks negatif, melainkan lebih ke arah positif. Tentunya kepala penjara melihat bahwa Yusuf dapat dipercaya dan memiliki hikmat dari Tuhan dalam segala hal, sehingga kepala penjara pun akhirnya mempercayakan semua tahan dalam penjara itu kepada Yusuf (ay. 22). Bayangkan, adakah pernah terjadi seorang kepala penjara mempercayakan tahanan-tahanannya kepada seorang tahanan lain? Saya rasa tidak pernah ada kisah di dunia ini yang menyerupai kisah Yusuf. Yusuf mampu mengemban tugas sebagai kepala penjara walau sebenarnya ia berstatus sebagai tahanan. Bahkan bagian selanjutnya dari ayat 22 dan 23 menyebutkan bahwa segala pekerjaan kepala penjara tersebut sudah diurus oleh Yusuf. Kepala penjara tersebut tidak mencampuri apa yang sudah dipercayakannya kepada Yusuf. Yusuf mampu mengemban tugas dan kepercayaan yang sudah diberikan kepala penjara kepadanya.

Bukankah luar biasa apa yang dilakukan Yusuf? Ia memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa dari Tuhan. Ia memiliki hikmat yang luar biasa dari Tuhan juga. Begitulah seharusnya orang yang mengandalkan Tuhan. Tidak peduli dimanapun ia ditempatkan, ia akan selalu bersinar dan berhasil. Kunci keberhasilan Yusuf dan juga kita adalah meminta penyertaan Tuhan senantiasa. Dengan penyertaan Tuhan, tidak masalah kita ditempatkan di mana, selama ada Tuhan di sisi kita, kita pasti kan menjadi orang-orang yang berhasil. Kita akan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya dan apa saja yang diperbuatnya berhasil (Mzm 1:3).


Bacaan Alkitab: Kejadian 39:21-23
39:21 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.
39:22 Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.
39:23 Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.